MUHAMMAD JIBRIL AL BASHIR ZEBBYARRAS
NPM : 2212241005
KELAS : MTS GANJIL 2024
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Kebutuhan tempat tinggal yang layak merupakan salah satu permasalahan bagi
masyarakat Indonesia saat ini. Jumlah perumahan yang dibangun setiap tahun belum
dapat menampung laju pertumbuhan penduduk yang berjalan sangat cepat. Menurut
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan
Kawasan Permukiman, bahwa Pemerintah menjamin terwujudnya rumah yang layak
huni dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, teratur, terencana,
terpadu dan berkelanjutan.
Salah satu tantangan besar yang dihadapi dalam menyediakan kebutuhan rumah
yang layak huni bagi masyarakat adalah masalah ketersediaan tanah yang terbatas.
Sehingga dibutuhkan penyediaan hunian dengan vertikal untuk efektivitas dan
efisiensi tanah. Salah satu pilihan rumah vertikal untuk masyarakat berpenghasilan
rendah atau MBR adalah penyediaan rumah susun sederhana sewa atau Rusunawa.
Rumah susun umum sewa sebagai salah satu pilihan untuk mencapai tahapan rumah
sejahtera teritama bagi MBR dalam pemanfaatan dan penghuniannya perlu didukung
oleh kelembagaan pengelola yang sesuai dengan kondisi rumah susun yang akan
dikelola.
Dalam Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Perumahan dan Kawasan Permukiman menyebutkan bahwa bahwa setiap orang
berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat, yang merupakan kebutuhan dasar manusia,
dan yang mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta
kepribadian bangsa sebagai salah satu upaya membangun manusia Indonesia
seutuhnya, berjati diri, mandiri, dan produktif. Pemerintah dan kawasan permukiman
diselenggarakan untuk menjamin terwujudnya rumah yang layak huni dan terjangkau
dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, teratur, terencana, terpadu dan
berkelanjutan.
Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Bandung telah berkembang sangat pesat,
hal ini menyebabkan angka kebutuhan rumah juga semakin meningkat. Lahan yang
terbatas mengakibatkan penyediaan rumah untuk masyarakat belum terpenuhi
sehingga menimbulkan kuantitas rumah yang belum tertangani atau backlog. Backlog
terjadi karena kepadatan penduduk tinggi tetapi tingkat hunian rendah.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah di Kabupaten Bandung khususnya
untuk masyarakat berpenghasilan rendah, Pemerintah Daerah bekerjasama dengan
Pemerintah Pusat membangun rumah hunian bertingkat yang disebut dengan Rumah
Susun Sewa (Rusunawa). Hal ini dikarenakan terbatasnya ketersediaan lahan di
Kabupaten Bandung sehingga dibangun hunian vertikal agar kebutuhan masyarakat
akan rumah terpenuhi.
Seiring dengan berjalannya waktu, hunian yang dibangun oleh Pemerintah untuk
masyarakat ini mengalami beberapa kendala seperti bangunan yang sudah mulai
rusak, kualitas lingkungan menurun dan kurangnya pembinaan kepada para penghuni.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kondisi pemeliharaan rusun saat ini, baik dari aspek teknis
maupun manajemen?
2. Apa saja kendala yang dihadapi dalam pemeliharaan rusun?
3. Bagaimana strategi pemeliharaan yang efektif untuk meningkatkan
keberlanjutan fungsional dan kualitas hunian?
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menganalisis kondisi pemeliharaan rusun saat ini di lokasi penelitian.
2. Mengidentifikasi kendala dalam pelaksanaan pemeliharaan rusun.
3. Merumuskan strategi pemeliharaan yang efektif untuk meningkatkan keberlanjutan
fungsional rusun.
1.4. BATASAN PENELITIAN
Penelitian ini difokuskan pada aspek pemeliharaan teknis dan manajemen rusun, dengan
batasan sebagai berikut:
1. Objek penelitian adalah rumah susun sederhana sewa (Rusunawa).
2. Penelitian ini tidak mencakup aspek pembiayaan pembangunan rusun baru.
3. Analisis dilakukan pada fasilitas bersama seperti saluran air, sistem
pembuangan, lift, dan ruang publik.
1.5. SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan tesis ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:
a. BAB I Pendahuluan: Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat
penelitian, batasan penelitian, dan sistematika penulisan.
b. BAB II Kajian Pustaka: Membahas teori-teori dan studi terdahulu yang relevan
dengan pemeliharaan rusun dan pengelolaan bangunan.
c. BAB III Metode Penelitian: Menjelaskan metode penelitian, termasuk desain
penelitian, lokasi penelitian, teknik pengumpulan data, dan analisis data.
d. BAB IV Hasil dan Pembahasan: Menyajikan hasil penelitian dan analisis
mendalam terkait strategi pemeliharaan rusun.
e. BAB V Kesimpulan dan Rekomendasi: Menyimpulkan temuan penelitian dan
memberikan rekomendasi praktis untuk pemeliharaan rusun.
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 RUMAH SUSUN
2.1.1 Definisi Rumah Susun
Menurut Undang – Undang No. 20 tahun 2011, Rumah susun adalah bangunan
gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan, yang terbagi dalam
bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horisontal maupun
vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan
digunakan secara terpisah, terutama untuk hunian, yang dilengkapi dengan bagian-
bersama, benda bersama dan tanah bersama. Rumah susun merupakan kepemilikan
perseorangan dan hak Bersama, dalam satu kesatuan sistem pembangunan. Hunian
dalam rumah susun disebut Sarusun (satuan rumah susun), yang merupakan unit
hunian dengan fungsi utamanya digunakan secara terpisah dengan fungsi utama
sebagai tempat hunian.
Rumah susun terdiri dari empat jenis yaitu rumah susun umum, rumah susun
khusus, rumah susun negara dan rumah susun komersial. Rumah susun umum
adalah rumah susun yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi
masyarakat berpenghasilan rendah. Rumah susun khusus adalah rumah susun yang
diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan khusus. Rumah susun negara adalah
rumah susun yang dimiliki negara dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian,
sarana pembinaan keluarga, serta penunjang pelaksanaan tugas pejabat dan/atau
pegawai negeri. Dan rumah susun komersial adalah rumah susun yang
diselenggarakan untuk mendapatkan keuntungan.
Rumah susun umum terbagi menjadi dua jenis, yaitu rumah susun umum milik
(Rusunami) dan Rumah susun umum sewa (Rusunawa). Rumah susun adalah
bangunan yang direncanakan dan digunakan sebagai tempat kediaman oleh beberapa
keluarga serta mempunyai tingkat minimum dua lantai dengan beberapa unit hunian.
Satuan rumah susun, bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama :
1. Satuan rumah susun adalah rumah susun yang tujuannya digunakan sebagai
tempat hunian.
2. Bagian bersama adalah bagian rumah susun yang dimiliki secara tidak terpisah
untuk pemakaian Bersama
3. Benda bersama adalah benda yang bukan merupakan bagian rumah susun tetapi
yang dimiliki secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama.
4. Tanah bersama adalah sebidang tanah yang digunakan atas dasar hak bersama
secara tidak terpisah. Yang di atasnya berdiri rumah susun dan ditetapkan
batasnya dalam persyaratan ijin bangunan.
2.1.2 Tujuan dan Sasaran Rumah Susun
Tujuan dari penyelenggaraan rumah susun adalah untuk menjamin terwujudnya
rumah susun yang layak huni dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman,
harmonis, dan berkelanjutan serta menciptakan permukiman yang terpadu guna
membangun ketahanan ekonomi, sosial, dan budaya; meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pemanfaatan ruang dan tanah, serta menyediakan ruang terbuka hijau di
kawasan perkotaan dalam menciptakan kawasan permukiman yang lengkap serta
serasi dan seimbang dengan memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan; mengurangi luasan dan mencegah timbulnya perumahan
dan permukiman kumuh; mengarahkan pengembangan kawasan perkotaan yang
serasi, seimbang, efisien, dan produktif; memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi
yang menunjang kehidupan penghuni dan masyarakat dengan tetap mengutamakan
tujuan pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak, terutama bagi
MBR; memberdayakan para pemangku kepentingan di bidang pembangunan rumah
susun; menjamin terpenuhinya kebutuhan rumah susun yang layak dan terjangkau,
terutama bagi MBR dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan
berkelanjutan dalam suatu sistem tata kelola perumahan dan permukiman yang
terpadu; dan memberikan kepastian hukum dalam penyediaan, kepenghunian,
pengelolaan, dan kepemilikan rumah susun.
2.1.3 Arah Kebijakan Pembangunan Rumah Susun
Pemenuhan hak atas rumah merupakan masalah nasional yang dampaknya
sangat dirasakan di seluruh wilayah tanah air. Hal itu dapat dilihat dari masih
banyaknya MBR yang belum dapat menghuni rumah yang layak, khususnya di
perkotaan yang mengakibatkan terbentuknya kawasan kumuh. Pemenuhan kebutuhan
perumahan tersebut salah satunya dapat dilakukan melalui pembangunan rumah
susun sebagai bagian dari pembangunan perumahan mengingat keterbatasan lahan di
perkotaan. Pembangunan rumah susun diharapkan mampu mendorong pembangunan
perkotaan yang sekaligus menjadi solusi peningkatan kualitas permukiman.
Penyelenggaraan rumah susun bertujuan untuk menjamin terwujudnya rumah
susun yang layak huni dan terjangkau, meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pemanfaatan ruang,mengurangi luasan dan mencegah timbulnya perumahan dan
permukiman kumuh, mengarahkan pengembangan kawasan perkotaan, memenuhi
kebutuhan sosial dan ekonomi, memberdayakan para pemangku kepentingan, serta
memberikan kepastian hukum dalam penyediaan, kepenghunian, pengelolaan, dan
kepemilikan rumah susun. Pengaturan dalam undang-undang ini juga menunjukkan
keberpihakan negara dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang terjangkau
bagi MBR serta partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan rumah susun.
Undang-Undang ini memberikan kewenangan yang luas kepada Pemerintah di
bidang penyelenggaraan rumah susun dan memberikan kewenangan kepada
pemerintah daerah untuk melakukan penyelenggaraan rumah susun di daerah sesuai
dengan kewenangannya. Kewenangan yang diberikan tersebut didukung oleh
pendanaan yang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara maupun
anggaran pendapatan dan belanja daerah.
Undang-Undang ini mengatur penyelenggaraan rumah susun secara
komprehensif meliputi pembinaan, perencanaan, pembangunan, penguasaan,
pemilikan, dan pemanfaatan, pengelolaan, peningkatan kualitas, pengendalian,
kelembagaan, tugas dan wewenang, hak dan kewajiban, pendanaan dan system
pembiayaan, dan peran masyarakat.
Hal mendasar yang diatur dalam Undang-Undang ini, antara lain, mengenai
jaminan kepastian hukum kepemilikan dan kepenghunian atas sarusun bagi MBR;
adanya badan yang menjamin penyediaan rumah susun umum dan rumah susun
khusus; pemanfaatan barang milik negara/daerah yang berupa tanah dan
pendayagunaan tanah wakaf; kewajiban pelaku pembangunan rumah susun komersial
untuk menyediakan rumah susun umum; pemberian insentif kepada pelaku
pembangunan rumah susun umum dan rumah susun khusus; bantuan dan kemudahan
bagi MBR; serta pelindungan konsumen.
2.1.4 Persyaratan Teknis Rumah Susun
Salah satu persyaratan bangunan yang harus dipenuhi adalah persyaratan rencana
kerja dan syarat sesuai dengan fungsi bangunan. Persyaratan teknis berupa
persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan. Dalam Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung menjelaskan bahwa
persyaratan keandalan bangunan gedung meliputi:
Keselamatan
Persyaratan keselamatan meliputi bangunan gedung yang stabil dan kokoh
dalam menahan beban muatan yang dihitung berdasarkan fungsi bangunan
gedung dengan kondisi pembebanan maksimum dalam mendukung beban
muatan hidup dan beban muatan mati, serta mampu mencegah dan
menanggulangi bahaya kebakaran melalui sistem proteksi kebakaran pasif dan
aktif dan mampu memberi keamanan terhadap bahaya petir melalui sistem
penangkal petir.
Kesehatan
Persyaratan kesehatan pada bangunan meliputi sistem penghawaan yang
dibutuhkan sebagai kebutuhan sirkulasi udara melalui ventilasi alami atau
ventilasi buatan, sistem pencahayaan yang perlu disediakan melalui pencahayaan
alami dan pencahayaan darurat, dan sistem sanitasi yang perlu disediakan untuk
memenuhi kebutuhan air bersih dan pembuangan air kotor atau limbah agar tidak
membahayakan serta tidak mengganggu lingkungan.
Kenyamanan
Persyaratan kenyamanan meliputi kenyamanan ruang gerak merupakan
tingkat kenyamanan yang diperoleh dari dimensi ruang dan tata letak ruang,
hubungan antar ruang untuk kenyamanan sirkulasi antar ruang dalam bangunan
tersebut, kondisi udara dalam ruang merupakan tingkat kenyamanan yang
diperoleh dari temperatur dan kelembaban ruangan, serta tingkat getaran dan
tingkat kebisingan yang ditentukan oleh suatu keadaan dimana pengguna
bangunan tidak terganggu oleh getaran atau kebisingan yang timbul baik dari
dalam bangunan maupun lingkungannya.
Kemudahan
Persyaratan kemudahan pada bangunan meliputi tersedianya fasilitas dan
aksesbilitas yang mudah, aman dan nyaman untuk masuk dan keluar gedung
termasuk bagi penyandang cacat dan lanjut usia serta kelengkapan prasarana dan
sarana seperti penyediaan fasilitas yang cukup untuk ruang ibadah, ruang ganti,
ruang bayi, toilet/wc, tempat parkir serta fasilitas komunikasi dan informasi.
2.1.5 Komponen Bangunan Rumah Susun
Berikut klasifikasi mengenai komponen yang terdapat pada bangunan rumah
susun dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Komponen Bangunan Gedung
(Sumber: Permen PU No. 24 Tahun 2008)
2.2 PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN BANGUNAN GEDUNG
2.2.1 Maksud dan Tujuan Pemeliharaan dan Perawatan
Supriyatna (2011) dalam Triayu (2014) menjelaskan, tujuan utama dari proses
pemeliharaan adalah :
1. Untuk memperpanjang usia bangunan.
2. Untuk menjamin ketersediaan perlengkapan yang ada dan juga mendapatkan
keuntungan dari investasi yang maksimal.
3. Untuk menjamin keselamatan manusia yang menggunakan bangunan tersebut.
4. Untuk menjamin kesiapan operasional dari setiap peralatan atau perlengkapan
dalam menghadapi situasi darurat seperti kebakaran.
2.2.2 Konsep Dasar Pemeliharaan dan Perawatan
Konsep dasar dari kegiatan pemeliharaan dan perawatan adalah sebagai berikut:
1. Suatu konstruksi atau bahan akan mengalami penurunan kualitas sesuai dengan
waktu maksimum yang akan dicapai konstruksi atau bahan tersebut.
2. Pemeliharaan direncanakan sesuai dengan spesifikasi bahan yang digunakan dan
disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi bahan tersebut
selama masa pakainya.
3. Kurangnya pemeliharaan dapat meningkatkan kerusakan bahan atau komponen
konstruksi.
4. Pemilihan mutu bahan dan metode pelaksanaan yang tepat dapat mengurangi
interval jadwal pemeliharaan karena bahan atau konstruksi tersebut memiliki umur
pakai yang lebih panjang.
5. Pekerjaan perbaikan hanya dapat dilakukan apabila telah dilaksanakan identifikasi
kerusakan sehingga didapatkan penyebab dari kerusakan tersebut.
2.2.3 Lingkup Pemeliharaan dan Perawatan
A. Lingkup Pemeliharaan
Pekerjaan pemeliharaan meliputi unsur dasar kegiatan pemeriksaan, pembersihan,
pengurasan, pengecatan dan pelumasan serta penggantian perlengkapan bangunan.
ARSITEKTURAL
Lingkup pemeliharaan komponen arsitektural yaitu meliputi pemeliharaan
sarana dan prasarana bagi penghuni bangunan, pemeliharaan lingkungan sekitar
bangunan agar tetap bersih, pemeliharaan perlengkapan ornamen arsitektural dan
dekorasi.
a. Plafon
Plafon adalah bagian konstruksi yang merupakan lapis pembatas antara
rangka bangunan dengan rangka atapnya. Plafon juga biasa disebut langit-
langit yang merupakan bidang atas bagian dalam ruangan bangunan. Fungsi
dari plafon adalah melindungi ruangan dari rembesan air yang masuk dari
atap dan juga sebagai isolasi panas yang datang dari atap. Plafon untuk
ruangan pada umumnya menggunakan papan gypsum, tripleks, metal dan
kayu. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 24 Tahun 2016
menyatakan bahwa langit-langit pada rumah sakit harus kuat, memiliki
warna terang, mudah dipelihara dan dibersihkan, tidak mengandung unsur
yang membahayakan pasien dan tidak mudah berjamur. Tinggi langit-langit
untuk ruangan minimal 2,8 meter dan untuk selasar (koridor) minimal 2,4
meter.
b. Lantai
Lantai adalah bagian dasar dari sebuah ruang yang memiliki peranan
penting untuk ruangan tersebut. Fungsi lantai adalah menunjang aktivitas
dan membentuk karakter suatu ruangan. Lantai harus terbuat dari bahan
yang tahan lama, kedap air, permukaan rata, tidak licin, mudah dibersihkan
dan berwarna netral. Pada lantai rumah sakit tidak menggunakan lapisan
permukaan lantai yang memiliki nilai porositas tinggi yang dapat
menyimpan debu. Pada umumnya lantai ditutupi oleh keramik, tetapi untuk
fungsi tertentu ada beberapa yang menggunakan kayu, batu dan marmer.
Pada bangunan rumah sakit, lantai dengan ruangan yang memiliki tingkat
kebersihan yang tinggi maka pertemuan antara lantai dengan dinding dibuat
melengkung untuk memudahkan pembersihan lantai (hospital plint). Selain
itu, pada ruangan yang terdapat peralatan medik dengan muatan listrik yang
sangat besar, lantai pada ruangan tersebut harus dapat menghilangkan
muatan listrik dari peralatan tersebut sehingga tidak membahayakan petugas
kesehatan.
c. Pintu dan Jendela
Pintu dan jendela adalah sebuah bukaan pada dinding/bidang yang
memudahkan sirkulasi antar ruang-ruang yang dilingkupi oleh dinding
tersebut. Pintu berfungsi sebagai jalan keluar masuknya manusia atau
barang. Sedangkan jendela berfungsi sebagai jalan keluar masuknya cahaya
matahari kedalam ruangan untuk membantu sirkulasi udara. Sistem
pencahayaan alami pada rumah sakit harus direncanakan sesuai fungsi
ruangan tersebut dengan mempertimbangkan efisiensi, hemat energi dan
penempatan yang tidak menimbulkan silau pada mata atau pantulan.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.24 Tahun 2016 menyebutkan
bahwa pintu utama dan pintu yang dilalui tempat tidur pasien memiliki lebar
bukaan minimal 120 cm dan pintu yang tidak dilalui tempat tidru pasien
memiliki lebar bukaan 90 cm. Disekitar pintu masuk tidak boleh ada
perbedaan ketinggian lantai dan tidak boleh ada ram. Pada pintu kamar
mandi harus dibuat terbuka ke luar dan lebar, daun pintu minimal 85 cm.
d. Dinding
Dinding merupakan salah satu elemen bangunan yang berfungsi sebagai
pembatas ruang. Dinding bangunan dapat dibuat dari beberapa jenis material
sesuai kebutuhan antara lain: dinding batu bata, dinding batu alam, dinding
kayu dan dinding beton. Pada umumnya untuk bangunan gedung pencakar
langit jenis material yang digunakan adalah dinding beton. Dinding dibuat
bertujuan untuk melindungi manusia atau harta benda terhadap gangguan
dari luar seperti: sinar matahari, isolasi terhadap suhu, air hujan, dan
hembusan angin. Selain itu, dinding juga dapat berfungsi untuk penahan
kebisingan antar ruang dan penahan radiasi sinar atau zat-zat tertentu
khususnya rumah sakit. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 24 Tahun
2016 menyebutkan bahwa dinding yang digunakan untuk rumah sakit dibuat
rata, tidak berpori, kedap air, tahan api, tahan karat, mudah dibersihkan,
tahan cuaca dan tidak berjamur. Pada area yang membutuhkan tingkat
kebersihan yang tinggi pertemuan antar dinding dibuat melengkung untuk
memudahkan pembersihan. Serta pada ruangan yang berkaitan dengan
bahan kimia atau mudah terbakar maka dinding tersebut harus dibuat dari
bahan yang mempunyai Tingkat Ketahanan Api minimal 2 jam dan tahan
terhadap bahan kimia. Untuk ruangan yang memiliki tingkat kebisingan
tinggi seperti ruang pompa atau ruang mesin genset, maka dinding harus
terbuat dari bahan yang kedap suara.
Dinding terdiri dari dua macam yaitu dinding interior dan dinding
exterior. Dinding interior adalah dinding yang digunakan sebagai penyekat
ruangan, sedangkan dinding exterior adalah dinding yang letaknya diluar
ruangan berfungsi sebagai pelindung terhadap bahaya gangguan luar.
Dinding exterior harus dibuat lebih kuat dibandingkan dinding interior,
karena dinding exterior akan mengalami kontak langsung dengan kondisi
lingkungan disekitar.
MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL
Lingkup pemeliharaan komponen mekanikal yaitu melakukan pemeriksaan
sistem tata udara agar penghawaan pada setiap ruangan didalam gedung tersebut
memenuhi persyaratan, serta air untuk sistem pemadam kebakaran, melakukan
pemeriksaan berkala sistem transportasi gedung.
Lingkup pemeliharaan komponen elektrikal yaitu melakukan pemeriksaan
perlengkapan pembangkit daya listrik, melakukan pemeriksaan instalasi listrik
dan penerangan, melakukan pemeriksaan, serta melakukan pemeriksaan jaringan
tanda bahaya.
a. Air Conditioner (AC)
Pengkondisian udara di dalam gedung rumah sakit mempunyai peranan
penting terhadap kenyamanan dan keselamatan penghuninya terutama untuk
pasien yang mengidap beberapa penyakit. Perbedaan yang paling mendasar
antara pengkondisian udara untuk rumah sakir dengan jenis bangunan lain
yaitu kebutuhan untuk membatasi pergerakan udara di dalam dan luar rumah
sakit; persyaratan khusus ventilasi dan filtrasi untuk melarutkan dan
menghilangkan kontaminasi dalam bentuk bau, mikroorganisme, virus dan
zat kimia berbahaya lainnya; dan kelembaban udara setiap ruangan berbeda
disesuaikan dengan fungsi ruangan tersebut. Air conditioner atau yang
sering disebut AC adalah alat pendingin yang dapat mensirkulasikan udara
di dalam ruangan. Selain itu AC juga berfungsi mengatur kelembaban dan
memperlancar distribusi oksigen agar mempunyai komposisi ideal bagi
pernafasan manusia. Pemilihan jenis AC dilakukan dengan memperhatikan
fungsi ruangan dan ukuran ruangan. Pada umumnya jenis AC yang
digunakan adalah AC Split. AC split yaitu AC yang evaporator dan
kondensornya berada pada 2 mesin yang berbeda. Mesin evaporator terletak
di dalam ruangan sedangkan mesin kondensor terletak di luar ruangan.
b. Kipas Angin
Kipas angin pada ruangan berfungsi sebagai penyegar udara di dalam
ruangan dan dapat meningkatkan sirkulasi udara untuk meningkatkan
kenyamanan pada sebuah ruangan. Kipas angin ini merupakan alat
penyegar tradisional yang sistem kerjanya hanya menggunakan listrik.
Motor listrik yang terdapat didalam kipas angin berfungsi untuk mengubah
energi listrik menjadi tenaga penggerak yang akan memutar baling-baling
kipas. Putaran baling-baling kipas tersebut akan menghasilkan udara yang
telah tersirkulasi sehingga ruangan yang terdapat kipas angin udaranya akan
lebih segar dan bersih.
c. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
Alat pemadam api ringan atau APAR merupakan alat yang digunakan
untuk memadamkan api atau mengendalikan kebakaran. Pada umumnya alat
pemadam api ringan ini berbentuk tabung yang diisikan dengan bahan
pemadam api yang bertekanan tinggi. Jenis alat pemadam api ringan di
sesuaikan dengan klasifikasi bahaya kebakaran yang telah ditentukan. Alat
ini merupakan peralatan yang wajib dimiliki pada setiap bangunan untuk
keselamatan para pengguna bangunan tersebut. Menurut Pedoman Teknis
Prasarana Rumah Sakit untuk Sistem Proteksi Kebakaran Aktif
menyebutkan bahwa jarak tempuh penempatan alat pemadam api ringan dari
setiap titik didalam bangunan tidak lebih dari 25 meter. Selain itu setiap
ruangan pada bangunan rumah sakit harus dilengkapi minimal sebuah alat
pemadam api ringan berukuran 2kg sesuai klasifikasi ruangan.
d. Generator Set (Genset)
Genset atau generator set merupakan suplai cadangan listrik yang dapat
membantu ketika terjadi pemadaman catu daya utama (PLN) terjadi. Sistem
kerja genset ini otomatis, sehingga apabila pada suatu waktu terjadi padam
listrik, genset ini akan otomatis menyala dan berfungsi sebagai sumber
listrik. Genset ini seringkali ditemukan pada bangunan gedung rumah sakit
dan industri yang membutuhkan pasokan daya tinggi.
e. Lampu
Lampu merupakan sumber utama penerangan buatan pada ruangan.
Lampu tersebut dapat menjadi pendukung manusia dalam menjalani
aktivitasnya di dalam ruangan. Dalam operasinya lampu menggunakan
listrik sebagai sumber utamanya. Pada lampu rumah sakit terutama pada
ruangan-ruangan yang membutuhkan tingkat kebersihan tinggi maka lampu
tersebut dipasang tertanam pada plafon.
f. Stop Kontak dan Saklar
Stop kontak berfungsi sebagai tempat sumber tegangan listrik sedangkan
saklar berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan rangkaian listrik.
Keduanya merupakan komponen instalasi listrik yang selalu digunakan pada
ruangan-ruangan.
PLUMBING
Lingkup pemeliharaan komponen plambing yaitu melakukan pemeriksaan dan
pembersihan sistem distribusi air bersih, sistem distribusi air kotor dan alat
sanitasi.
a. Instalasi Saluran Air Bersih
Instalasi pipa air bersih pada bangunan tinggi berfungsi untuk
mengalirkan air bersih ke seluruh bagian gedung. Pada umumnya instalasi
air bersih menggunakan pompa untuk menyalurkan air ke tempat yang
letaknya jauh dari permukaan tanah.
Sistem air bersih groundtank adalah system penampungan air bersih yang
menggunakan tangka air bawah tanah (ground water tank) sebagai bak
penampungan utama. Air bersi dari PDAM akan masuk ke gdeung melalu
meter utama, kemudian didistribusikan ke ground water tank yang biasanya
berada di basement. Dari ground water tank, air bersih akan dipompa ke
tower melalui transfer pump.
Berikut adalah beberapa bagian dari sistem air bersih groundtank:
Ground water tank: Bak penampungan air bersih yang terletak di
bawah permukaan tanah.
Meter utama: Tempat masuknya air bersih dari PDAM ke gedung.
Transfer pump (TP): Pompa yang memindahkan air bersih dari
ground water tank ke tower.
Roof water tank (RWT): Tempat penampungan air bersih yang
terletak di roof top.
Pressure reducer valve (PRV): Alat yang mengatur tekanan air.
Booster pump: Pompa yang digunakan untuk memompa air bersih
ke 3 lantai teratas gedung.
Gate valve: Alat yang dipasang di tiap lantai untuk mendistribusikan
air bersih ke unit-unit.
b. Instalasi Saluran Air Kotor
Sistem instalasi air kotor merupakan system pembuangan untuk air
kotor seperti grey water dan black water. Grey water adalah air buangan
hasil rumah tangga yang berasal dari wastafel, air kamar mandi dan air
cucian piring. Sedangkan black water adalah air buangan yang mengandung
kotoran manusia yang berasal dari kloset.
Ada beberapa jenis system instalasi air kotor, salah satunya adalah
intsalasi air kotor yang menggunakan system biotech septictank. System ini
merupakan system septictank yang ramah lingkungan. Sistem dari septictank
adalah system gravitasi air buangan mengalir dari tempat yang lebih tinggi
ke tempat yang lebih rendah secara gravitasi.
c. Sanitair
Alat sanitair terdiri dari wastafel untuk cuci tangan, urinor untuk
pembuangan air kecil laki-laki, kloset untuk pembuangan air besar dan keran
air untuk tempat mengalirnya air.
B. Lingkup Perawatan
Pekerjaan perawatan meliputi perbaikan dan/atau penggantian bagian bangunan,
komponen, bahan bangunan, dan/atau prasarana dan sarana berdasarkan dokumen
rencana teknis perawatan bangunan gedung, dengan mempertimbangkan dokumen
pelaksanaan konstruksi.
a. Rehabilitasi
Memperbaiki bangunan yang telah rusak sebagian dengan maksud
menggunakan sesuai dengan fungsi tertentu yang tetap, baik arsitektur maupun
struktur bangunan gedung tetap dipertahankan seperti semula, sedang utilitas
dapat berubah.
b. Renovasi
Memperbaiki bangunan yang telah rusak berat sebagian dengan maksud
menggunakan sesuai fungsi tertentu yang dapat tetap atau berubah, baik
arsitektur, struktur maupun utilitas bangunannya
c. Restorasi
Memperbaiki bangunan yang telah rusak berat sebagian dengan maksud
menggunakan untuk fungsi tertentu yang dapat tetap atau berubah dengan tetap
mempertahankan arsitektur bangunannya sedangkan struktur dan utilitas
bangunannya dapat berubah.
2.2.4 Jenis Pemeliharaan
Pekerjaan pemeliharaan dapat dilakukan ke dalam dua kondisi, yaitu:
1. Pemeliharaan Terencana (Planned Maintenance)
Pekerjaan yang dilakukan secara terorganisis untuk mengantisipasi kerusakan
yang terjadi. Pekerjaan ini dibagi menjadi dua kategori:
a. Pencegahan (Preventive)
Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya
kerusakan yang tidak terduga dan tidak terprediksi serta menentukan kondisi
atau keadaan yang menyebabkan suatu komponen mengalami kerusakan
sehingga tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Pemeliharaan ini telah
direncanakan dan akan dilakukan secara rutin atau berulang untuk setiap jangka
waktu tertentu. Kegiatan ini biasanya berupa inspeksi, pembersihan, pelumasan
untuk peralatan-peralatan dan sebagainya.
Dalam melaksanakan sistem pemeliharaan preventif, terdapat tahapan
penerapan yang harus dilakukan sebagai berikut :
1. Melakukan inventarisir daftar prasarana dan sarana
2. Menetapkan unsur kegiatan dan periode waktu pemeliharaan preventif
3. Membuat jadwal pelaksanaan pemeliharaan preventif
b. Korektif (Corrective)
Pemeliharaan ini dilakukan untuk rencana jangka pendek, termasuk reparasi
minor, misalnya untuk perawatan tahunan. Pemeliharaan ini bertujuan untuk
mempertahankan fungsi-fungsi dari utilitas dan fasilitas bangunan
2. Pemeliharaan Tanpa Perencanaan
Pekerjaan ini dilakukan apabila diperlukan untuk mencegah akibat yang lebih
besar, misalnya pemeliharaan untuk kerusakan besar peralatan atau keselamatan
kerja. Pekerjaan ini dibagi menjadi 3 kategori:
a. Servis
Merupakan kegiatan pemeliharaan kebersihan yang dilakukan secara rutin
dengan interval waktu tertentu dan biasanya disebut dengan pemeliharaan
harian.
b. Perbaikan
Merupakan kegiatan yang sering terjadi pada awal usia gedung yang
diakibatkan oleh kesalahan desain, ketidaksesuaian komponen, kerusakan pada
saat instalasi dan kesalahan pemasangan.
c. Penggantian
Merupakan kegiatan yang tidak bisa dihindari karena kondisi layan material
yang menurun pada tingkat yang berbeda.
2.2.5 Unsur Kegiatan Pemeliharaan
Beberapa program pemeliharaan dan perawatan dilakukan agar umur bangunan
sesuai dengan yang telah direncanakan. Program tersebut dilakukan sebagai berikut:
1. Pengujian
Pengujian harus dilakukan secara berkala untuk mengetahui kondisi komponen
bangunan, karena pada sepanjang pemakaiannya setiap komponen bangunan pasti
akan mengalami penurunan kualitas yang disebabkan beberapa faktor. Setiap
komponen memiliki interval pengujian yang berbeda-beda sesuai dengan
perhitungan yang telah direncanakan. Data pengujian ini akan berpengaruh pada
pelaksanaan berikutnya yaitu pengkajian dan penelitian.
2. Pengkajian dan Penelitian
Pekerjaan pengkajian dan penelitian ini dilakukan apabila terjadi hal yang
menyimpang dari perencanaan awal yang ditentukan berdasarkan hasil uji.
Pekerjaan ini dilakukan untuk mengetahui penyebab dari kerusakan yang terjadi.
Berdasarkan penyebab kerusakan yang terjadi, kemudian dilakukan penyusunan
rencana pemeliharaan untuk mengurangi kerusakan yang terjadi. Selain itu,
apabila diperlukan peningkatan fungsi bangunan dilakukan penyusunan upaya
perbaikan dan perkuatan.
3. Pemeliharaan
Pekerjaan pemeliharaan merupakan pekerjaan yang dilakukan dalam upaya
menjaga agar setiap komponen yang terdapat di dalam bangunan sesuai memiliki
umur sesuai yang telah direncanakan. Pekerjaan ini dilakukan secara rutin dan
berkala sepanjang umur bangunan, dengan ada atau tidaknya kerusakan pada
bangunan. Kegiatan yang dilakukan seperti pemeriksaan, pembersihan,
pengurasan, pengecatan, pelumasan, penyetelan, penggantian suku cadang dsb.
4. Perbaikan
Pekerjaan perbaikan dilakukan apabila terjadi penyimpangan dari rencana
semula, baik akibat kesalahan pada saat perencanaan, pelaksanaan, kurangnya
pemeliharaan dan bencana alam. Dalam pelaksanaan perbaikan perlu adanya
pemilihan metode kerja yang tepat dengan mempertimbangkan aspek ekonomi.
5. Perkuatan
Pekerjaan perkuatan dilakukan apabila komponen bangunan tidak berfungsi
sesuai yang direncanakan sehingga diperlukan perkuatan agar komponen tersebut
dapat kembali sesuai dengan fungsinya. Perkuatan tersebut harus dipertimbangkan
secara matang agar tidak merusak atau mengubah perilaku struktur yang telah ada.
2.2.6 Periode Pemeliharaan
Periode pemeliharaan adalah jangka waktu tertentu untuk melakukan aktivitas
pemeliharaan pada peralatan atau fasilitas. Tujuannya adalah untuk memastikan
keandalan peralatan dan mengurangi kemungkinan kegagalan. Pemeliharaan berkala
dilakukan berdasarkan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya, seperti harian,
mingguan, bulanan, atau tahunan. Jadwal ini ditentukan berdasarkan kebutuhan
peralatan, sumber daya tim, dan saran produsen.
2.2.7 Klasifikasi Jenis Kerusakan
Kerusakan bangunan adalah tidak berfungsinya bangunan atau komponen
bangunan akibat penyusutan/berakhirnya umur bangunan, atau akibat ulah manusia
atau perilaku alam seperti beban fungsi yang berlebih, kebakaran, gempa bumi, atau
sebab lain yang sejenis. Intensitas kerusakan bangunan dapat digolongkan atas tiga
tingkat kerusakan, yaitu:
b. Kerusakan ringan
1. Kerusakan ringan adalah kerusakan terutama pada komponen nonstruktural,
seperti penutup atap, langit-langit, penutup lantai, dan dinding pengisi.
2. Perawatan untuk tingkat kerusakan ringan, biayanya maksimum adalah
sebesar 35% dari harga satuan tertinggi pembangunan bangunan gedung baru
yang berlaku, untuk tipe/klas dan lokasi yang sama.
c. Kerusakan sedang
1. Kerusakan sedang adalah kerusakan pada sebagian komponen non-struktural,
dan atau komponen struktural seperti struktur atap, lantai, dan lain-lain.
2. Perawatan untuk tingkat kerusakan sedang, biayanya maksimum adalah
sebesar 45% dari harga satuan tertinggi pembangunan bangunan gedung baru
yang berlaku, untuk tipe/klas dan lokasi yang sama.
d. Kerusakan berat
1. Kerusakan berat adalah kerusakan pada sebagian besar komponen bangunan,
baik struktural maupun non-struktural yang apabila setelah diperbaiki masih
dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya.
2. Biayanya maksimum adalah sebesar 65% dari harga satuan tertinggi
pembangunan bangunan gedung baru yang berlaku, untuk tipe/klas dan lokasi
yang sama.
d. Perawatan Khusus
Untuk perawatan yang memerlukan penanganan khusus atau dalam usaha
meningkatkan wujud bangunan, seperti kegiatan renovasi atau restorasi (misal
yang berkaitan dengan perawatan bangunan gedung bersejarah), besarnya biaya
perawatan dihitung sesuai dengan kebutuhan nyata dan dikonsultasikan terlebih
dahulu kepada Instansi Teknis setempat.
2.2.8 Metode Kerja Pemeliharaan dan Perawatan
A. Metode Kerja Pemeliharaan
Pemeriksaan Komponen
Pemeriksaan komponen atau sering kali disebut dengan inspeksi adalah
kegiatan pemeliharaan rutin yang telah direncanakan untuk memeriksa kondisi
suatu komponen. Pemeriksaan tersebut dilakukan secara detail dan menyeluruh
disesuaikan dengan jenis dan spesifikasi komponen. Hasil inspeksi atau
pemeriksaan tersebut ditulis dalam suatu dokumen yang berbentuk form untuk
mengetahui siklus keadaan komponen sepenuhnya.
Didalam pemeriksaan atau inspeksi terdapat hal yang harus diperhatikan
yaitu jadwal pemeriksaan. Pemeriksaan dalam suatu komponen dapat
dijadwalkan pada hitungan harian, mingguan, bulanan dan tahunan.
Pemeriksaan tersebut ditentukan berdasarkan jenis dan spesifikasi komponen
serta paduan dari pedoman pemeliharaan bangunan Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum No.16 Tahun 2010. Pembuatan jadwal ini akan memberi
kemudahan kepada petugas untuk melakukan pemeliharaan secara berkala.
Pembersihan Komponen
Pembersihan komponen dilakukan secara rutin untuk membersihkan
komponen dari debu dan kotoran. Pada umumnya pembersihan ini dilakukan
oleh tim kebersihan atau sering disebut cleaning service. Dalam pembersihan
ini alat dan bahan yang sering digunakan adalah sapu, kain lap dan sabun
pembersih.
B. Metode Kerja Perawatan
Perbaikan Komponen
Perbaikan merupakan suatu kegiatan memperbaiki komponen yang
mengalami kerusakan dan tidak berfungsi sehingga dapat digunakan kembali
sebagaimana mestinya. Perbaikan ini dilakukan secara emergency atau tak
terduga sehingga tidak dapat dijadwalkan. Setiap komponen yang mengalami
kerusakan harus dengan cepat dilakukan perbaikan agar tidak mengganggu
kegiatan. Pada umumnya perbaikan dilakukan pada komponen yang mengalami
kerusakan ringan dan sedang.
Dalam hal perbaikan yang perlu diperhatikan adalah metode perbaikan
yang baik dan benar, apabila dilakukan metoda perbaikan yang tidak tepat
maka akan menimbulkan kerusakan baru. Sehingga pemilihan metode yang
tepat merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan suatu perbaikan.
Pemilihan metode dilakukan berdasarkan jenis kerusakan dan spesifikasi
komponen tersebut. Oleh karena itu, sebelum dilakukan perbaikan maka
diperlukan identifikasi kerusakan terlebih dahulu untuk mengetahui kerusakan
yang terjadi. Setelah itu, dilakukan pemilihan metode sesuai dengan hasil
identifikasi. Selain itu, hal yang harus diperhatikan pada saat perbaikan adalah
waktu pengerjaan. Dimana pada saat melakukan pekerjaan perbaikan tersebut
tidak boleh mengganggu aktivitas rumah sakit sehingga diperlukan pemilihan
waktu yang tepat.
Penggantian Komponen
Penggantian merupakan kegiatan mengganti suatu komponen yang lama
atau yang tidak berfungsi dengan yang baru. Penggantian ini dilakukan apabila
terjadi kerusakan yang signifikan atau kerusakan yang terjadi akibat umur
pemakaian yang telah melampaui batas. Setiap komponen memiliki umur
pemakaian yang berbeda-beda sesuai dengan kapasitas komponen tersebut.
Sebagai contoh komponen lampu. Pada umumnya komponen lampu hanya kuat
digunakan 1 tahun. Sehingga pada saat umur pemakaiannya telah lebih dari 1
tahun maka perlu dilakukan penggantian dengan yang baru.
Gambar 2.1 Metode Kerja Pemeliharaan dan Perawatan
2.2.9 Rancangan Anggaran Biaya Pemeliharaan dan Perawatan
Rancangan anggaran biaya ini dihitung dengan tujuan untuk membuat anggaran
biaya yang akan dikeluarkan pada saat melakukan pekerjaan pemeliharaan dan
perbaikan. Sebelum menghitung rencana anggaran biaya, ada beberapa tahap yang
harus dilakukan yaitu penguraian item pekerjaan, perhitungan volume pekerjaan dan
analisa harga satuan.
A. Identifikasi Komponen
Identifikasi komponen merupakan suatu metode pemecahan tiap item pekerjaan
menjadi lebih detail agar saat pelaksanaan menjadi lebih mudah. Pada prinsipnya
identifikasi komponen ini membagi suatu pekerjaan ke dalam bagian terkecil (sub
bagian). Identifikasi disusun berdasarkan gambar dan spesifikasi tiap komponen.
Setiap item pekerjaan diuraikan menjadi bagian-bagian dengan pola struktur dan
hirarki tertentu menjadi item pekerjaan yang terperinci. Manfaat dari penggunaan
identifikasi ini adalah mempermudah pekerjaan, menjadi dasar penjadwalan dan
anggaran biaya, serta dapat membantu mempercepat suatu pekerjaan.
B. Volume Pekerjaan
Pada umumnya volume pekerjaan merupakan banyaknya jumlah pekerjaan
dalam satu satuan. Volume pekerjaan dapat dihitung secara rinci dengan melihat
gambar rencana yang telah dibuat. Volume dapat berbentuk satuan panjang (m),
luas (m2), buah (bh) atau unit.
C. Analisa Harga Satuan
Analisa harga satuan (AHS) memiliki fungsi sebagai pedoman pemula atau
awal perhitungan rancangan anggaran biaya (RAB) yang di dalamnya terdapat
tabel yang berisikan angka koefisien alat, bahan dan tenaga kerja serta harga
satuan pekerjaan. Secara umum proses perhitungan analisa harga satuan pekerjaan
dengan metode lapangan adalah sebagai berikut:
1. Membuat daftar harga satuan material dan harga satuan upah
2. Menghitung koefisien bahan atau upah tenaga kerja dalam satu pekerjaan
3. Mengkalikan koefisien dengan daftar harga satuan yang telah dibuat
Penentuan koefisien analisa harga satuan pekerjaan dapat dilakukan dengan 2
cara yaitu melihat aturan yang berlaku (Peraturan atau SNI) dan menghitung
sendiri koefisien dengan rumus sebagai berikut:
1
Koefisien=
Produktivitas
D. Rencana Anggaran Biaya
Untuk menghitung rancangan anggaran biaya digunakan rumus sebagai berikut:
RAB = Σ(Volume Pekerjaan x Harga Satuan Pekerjaan)
Pada rekapitulasi ini semua item pekerjaan dijabarkan untuk dilakukan
perhitungan dengan mengkalikan volume pekerjaan dengan harga satuan
pekerjaan yang telah dihitung pada analisa harga satuan. Rekapitulasi ini
merupakan jumlah atau total biaya yang dikeluarkan pada suatu pekerjaan.
2.3 PENGHUNI RUMAH SUSUN
Penghunian rumah susun oleh masyarakat yang membutuhkan harus memenuhi
ketentuan dan persyaratan sebagaimana amanat yang tertuang dalam Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2011 tentang rumah susun.
Ketentuan penghunian rusun adalah sebagai berikut:
a. Masyarakat Berpenghasilan Rendah / MBR;
b. Berpenghasilan tetap maksimal Rp. 4 juta / bulan;
c. Keluarga dengan jumlah anak maksimum 2 orang, umur anak maksimum 5 tahun;
d. Belum memiliki rumah;
e. Lama tinggal di rusun 3 tahun dan dapat diperpanjang maksimum 2 tahun;
f. Warga Negara Indonesia.
2.4 PEMBINAAN PENGHUNI RUMAH SUSUN
2.4.1 Housing Careers
Housing careers adalah pergerakan seseorang untuk mendapatkan rumah,
menggambarkan seseorang atau pasangan muda mulai meninggalkan rumah orang
tua dan pindah menyewa rumah di tempat lain (Murdie et al, 1999 dan Haan, 2005).
Secara konvensional, konsep housing career digunakan untuk menjelaskan korelasi
yang kuat antara tipe hunian yang ditempati suatu rumah tangga dengan berbagai
tahapan dalam siklus kehidupannya.
Sistem housing career merupakan transisi dalam kepemilikan rumah yang
diperuntukan bagi MBR. Kepemilikan rumah harus dialihkan kepada pengembang
untuk selanjutnya dijual kembali pada penghuni MBR lainnya. Program FLPP
merupakan konsep di mana MBR di Indonesia dapat menikmati hunian yang layak
sesuai dengan perkembangan kemampuan finansialnya. Dengan konsep housing
career system diharapkan pemenuhan kebutuhan tepat sasaran terhadap MBR dan
dapat memenuhi kebutuhan rumah sesuai dengan kriteria MBR.
Dalam kontek housing career di penghunian di Rusun, maknanya adalah bahwa
Rusun bagian dari siklus hunian sementara (transit) untuk selanjutnya penghuni
menempuh siklus hidup perumahannya sesuai dengan kemampuan dan kemuannya
masing-masing. Siklus hidup perumahan masing-masing penghuni harus dibantu
disiapkan dan difasilitasi oleh pengelola Rusun melalui pendekatan pemberdayaan
penghuni. Karena tanpa bantuan dan fasilitasi dari pengelola Rusun, kesadaran akan
hunian kedepan yang lebih baik, masih terabaikan. Salah satu kegiatan
pemberdayaan yang berhubungan dengan penyiapan siklus hidup perumahan
penghuni adalah dengan mengajak penghuni memiliki tabungan untuk perumahan
masa depan.
Pada zaman sekarang, memiliki rumah sendiri adalah hal yang sulit karena
tingginya harga yang ditawarkan. Untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)
memliki rumah sendiri yang layak harus dimulai dengan menabung. Hal ini
dikarenakan harga rumah yang ditawarkan tidak sesuai dengan penghasilan yang
didapatkan.
2.4.2 Pengembangan Keahlian Penghuni Rumah Susun
Rumah susun sewa sederhana merupakan rumah transit bagi para penghuni
untuk memiliki rumah sendiri. Saat tinggal di rumah transit diperlukan karir
perumahan yang harus disiapkan. Untuk bisa menempuh karir perumahan setiap
penghuni Rusun harus menabung. Karena dengan menabung para penghuni akan
memiliki dana yang cukup untuk membayar uang muka rumah.
Adanya system menabung ini menjadi tambahan biaya bagi para penghuni
terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang pendapatannya
terbatas. Hal ini menjadi beban pengeluaran para penghuni. Oleh karena itu
dibutuhkan upaya dari pengelola Rusun untuk membantu penghuni memiliki
pendapatan lebih agar system tabungan berjalan dengan lancar.
Salah satu upaya untuk bisa membantu penghuni lancar menabung adalah
1. Menambah Pendapatan
Menambah pendapatan dapat dilakukan dengan pelatihan pengembangan
kewirausahaan dan pelatihan keterampilan.
2. Mengurangi Biaya Hidup Penghuni
Mengurangi biaya hidup penghuni dapat dilakukan dengan menyediakan
infrastruktur yang dapat mengurangi biaya hidup. Salah satunya adalah
memanfaatkan sampah/limbah rumah tangga dan memanfaatkan air hujan untuk
penghematan air.