Memahami Esensi Matematika
Memahami Esensi Matematika
“Apa itu matematika?” Pertanyaan ini sering diajukan, dan banyak pula orang yang telah
menjawabnya. Ada yang menganggap matematika sebagai ilmu, tetapi ada juga yang tidak
setuju menggolongkannya sebagai ilmu (sains). Namun banyak orang sepakat bahwa yang
dipelajari dalam matematika adalah hal-hal yang berkaitan dengan kuantitas dan bentuk.
Untuk bisa memaknai apa matematika itu, kita perlu mendalaminya — bercengkerama
dengannya terlebih dahulu. Kalau Adik-adik hanya baru ‘berjumpa’ dengan satu atau dua soal
matematika dan mengerjakannya (dengan mudah atau sebaliknya, dengan susah-payah),
barangkali Adik-adik belum bisa menjelaskan apa matematika itu — kecuali sebagai sesuatu
yang membuat Adik-adik suka atau sebaliknya, benci.
Saya yang sudah menekuni matematika beberapa puluh tahun pun masih belum bisa
‘mendefinisikan’ apa matematika itu. Namun, belakangan ini, saya merasakan matematika itu
mirip dengan ‘hantu’, dan berpendapat bahwa orang yang bisa menguasai matematika
seperti orang yang bisa melihat hantu.
Seorang ahli matematika seolah bisa masuk ke alam matematika, asyik bermain di sana, tetapi
ketika kembali ke alam fisis dan menceritakannya kepada orang lain, tidak ada yang
memahaminya (duh!). Walau menurutnya ‘hantu’ matematika itu cantik, orang tidak percaya,
bahkan banyak yang bertanya: “apa gunanya mempelajari matematika itu?”
Namun, berbeda dengan hantu yang menghuni rumah angker, matematika berkembang
sebagai ‘ilmu’ atau sistem pengetahuan, khususnya sejak era Yunani Kuno. Berawal dari
geometri dan aritmetika, cabang-cabang matematika lainnya, seperti aljabar, kalkulus, dan
statistika pun lahir.
Seperti halnya fisika dan kimia, matematika juga merupakan himpunan pengetahuan dan
temuan manusia, yang diperoleh dengan metode yang solid, disepakati oleh para pakar dalam
bidangnya masing-masing, dan telah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi, berbeda dengan fisika, kimia, dan ilmu lainnya yang berbasis alam (empiris), materi
yang dipelajari dalam matematika tidak terindera (oleh panca indera kita). Matematikawan
bercengkerama dengan ide (gagasan) atau konsep di alam pikiran, yang dibahas, dikupas, dan
didalami dari waktu ke waktu. Kegiatan bermatematika sarat dengan olah pikir atau bernalar.
Matematikawan acap kali mencari pola atau struktur, sebelum akhirnya sampai pada suatu
kesimpulan: a-ha!
Adik-adik mungkin tidak bisa melihat hantu di rumah angker, tapi bisa loh bersahabat dengan
‘hantu’ matematika. Kemampuan dan kepekaan matematika bisa diasah. Bukan dengan
bertapa atau bersemedi di kuburan, tetapi dengan belajar dan berlatih.
Sumber : [Link]
Komentar:
✓ Matematika itu awalnya adalah ilmu hitung untuk perdagangan kuno kemudian berkembang
menjadi ilmu ukur tanah dan bangunan dan sekarang berkembang menjadi rumus/ algoritma
untuk segala sesuatu yang bisa diotomatiskan oleh mesin, di masa depan matematika masih
berkembang lagi menjadi teori terhadap segala sesuatu.
✓ Untuk anak SMA saya katakan bahwa “matematika itu seni”, kemudian saya tunjukkan
‘keindahan’ matematika melalui pola-pola, rumus, dan keteraturan di alam.
-----end-----
Dik Freya ini pasti pintar dan cerdas karena mempunyai pertanyaan yang menarik saat
usianya masih 9 tahun. Sebenarnya jawabannya juga sederhana, yaitu di dunia ini ada
matematika karena setiap orang butuh matematika.
Coba Adik ingat-ingat waktu masih belajar bicara, pasti pertama-tama orangtua akan
mengajari kata-kata yang sederhana dahulu sebagai bagian dari belajar bahasa, seperti kata
Ibu, Bapak, mama, papa, bunda, ayah, kakak, adik, nenek, kakek, dan lain-lainnya. Setelah itu
orangtua pasti mengajari angka satu, dua, tiga, dan seterusnya.
Jadi pertama-tama bahasa dan angka, itu merupakan Anugerah Yang Maha Kuasa, dan
menjadi satu kesatuan dengan anugerah lainnya yaitu Akal dan Pikiran. Nah, ketika kita sudah
belajar mengenai angka, pasti kita akan belajar berhitung. Angka dan berhitung ini merupakan
bagian dari ilmu Matematika.
Kita semua nantinya tidak akan bisa terlepas dari berhitung ini, karena di kehidupan ini kita
pasti akan menghitung. Misalnya hal yang sederhana, berapa banyak teman Dik Freya di
kelas? Berapa banyak anggota keluarga Dik Freya? Berapa banyak warna pada pelangi? Dan
pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan menghitung lainnya.
Setelah itu akan ada penjumlahan, pengurangan, pembagian, perkalian, dan hubungan-
hubungan antar angka serta berbagai pola, yang muncul dalam kehidupan di dunia ini.
Alat-alat teknologi yang sekarang dilihat dan dipakai Dik Freya juga tak lepas dari matematika.
Teknologi diperlukan untuk mempermudah hidup kita. Seperti roda ban sepeda yang
Sebagian anak ada yang menganggap matematika itu momok atau hantu, tapi Adik-Adik
nggak perlu takut karena hantunya cakep, asalkan Adik-Adik sering belajar dan berlatih soal-
soal matematika.
*Arif Gumantia meraih gelar Sarjana Matematika dari Universitas Brawijaya, Malang, dan
sekarang mengelola bimbingan belajar “Bunda Smart” untuk Matematika, IPA, dan Bahasa,
di Saradan Madiun, Jawa Timur, serta aktif sebagai ketua di Komunitas Majelis Sastra
Madiun.
Sumber: [Link]
-----end-----
Tentu tidak. Bisa saja kamu tak berminat dan mungkin tak berbakat di bidang matematika.
Tapi bukan berarti kamu tak punya minat dan tak berbakat di bidang lain kan?
Tapi nanti dulu. Belum tentu juga karena nilai matematikamu jelek, terus kamu tak berbakat
di bidang matematika loh. Bisa saja karena selama ini kamu belum menemukan cara
mempelajari matematika yang mengasyikkan atau kamu belum menemukan orang yang bisa
membimbingmu untuk menemukan asyiknya mempelajari matematika.
Anak dianggap bodoh kalau nilai matematikanya jelek adalah pandangan yang tak berdasar,
pandangan yang keliru. Saya yakin tak ada anak bodoh. Hanya saja masing-masing anak
memiliki minat dan bakat yang berbeda.
*Sulistyanto Soejoso adalah anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur yang juga aktif sebagai
penasihat “Bincang Edukasi” dan kurator kuliah “Bung Karno untuk Kemandirian Teknologi”.
Ia tinggal di Surabaya.
Sumber: [Link]
matematikanya-jelek-g/
-----end-----
Saya Belajar Matematika dengan Cara Mengerjakan Soal Dahulu, Setelah itu Belajar
Teorinya. Apakah Cara Belajar Matematika saya Salah?
Oleh: Hendra Gunawan
Hmm.. dulu waktu saya masih di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, bagaimana
ya saya belajar matematika? Terus terang saya sudah lupa persisnya bagaimana. Mungkin,
seperti kamu, saya juga belajar melalui soal-soal. Tetapi, sebelum mengerjakan soal, tentunya
kita harus tahu terlebih dahulu beberapa prinsip dasar kan?. Misalnya, untuk mengerjakan
soal-soal perkalian antara dua bilangan, kita harus tahu terlebih dahulu dalam hal apa dan
bagaimana kita menghitung m × n.
Nah, setelah kita mengerjakan banyak soal perkalian, kita bisa mencoba memahami teori atau
konsep perkalian antara dua bilangan dan mempelajari sifat-sifat dasarnya, lalu mengerjakan
soal-soal yang lebih sulit, hingga akhirnya kita menguasai betul apa perkalian itu.
Matematika merupakan ilmu tua, banyak fakta dan konsep matematika yang sudah dipelajari,
terutama sejak zaman Yunani Kuno (kira-kira 2500 tahun yang lalu), dan terus berkembang
hingga saat ini. Beberapa fakta dan konsep tersebut kemudian diajarkan di sekolah, supaya
Adik-adik dapat menguasai matematika dengan terstruktur dan bertahap. Soal-soal
membantu Adik-adik memahami berbagai konsep yang dipelajari.
Pemahaman dan penguasaan matematika bersifat kumulatif. Artinya, apa yang dipelajari
sekarang kelak diperlukan untuk memahami konsep berikutnya. Karena itu, kuasailah dengan
baik apa yang diajarkan di sekolah dasar dan sekolah menengah (atau yang setara). Ibarat
mendirikan gedung, fondasinya harus dibangun terlebih dahulu. Kalau ingin mendirikan
gedung yang tinggi, fondasinya harus dalam dan kokoh.
Sumber: [Link]
soal-dahulu-setelah-itu-belajar-teorinya-salahkah-cara-belajar-matematika-saya/
Berdasarkan temuan arkeologi, kita mengetahui bahwa bangsa Mesir Kuno dan Babilonia
(Mesopotamia) telah mengenal dan menggunakan fakta-fakta matematika, khususnya
tentang bilangan dan bangun geometri, untuk berbagai keperluan — misalnya untuk
membangun piramida. Namun, berdasarkan naskah-naskah kuno yang ada, bangsa Yunani
Kuno lah yang mengembangkan matematika sebagai ilmu secara sistematis, seperti yang kita
kenal saat ini.
Bila Adik-adik sudah mempelajari Dalil Pythagoras terkait segitiga siku-siku, Adik-adik
tentunya ingin tahu siapa Pythagoras itu ya.. Ia adalah matematikawan Yunani Kuno yang
hidup pada tahun 570–495 SM. Ia dilahirkan di Samos, sebuah pulau kecil dekat Turki.
Hidup di era kejayaan Babilonia, Pythagoras belajar dari orang Babilonia tentang tripel
bilangan bulat a, b, dan c yang memenuhi persamaan a2 + b2 = c2, yang sekarang dikenal
sebagai Tripel Pythagoras. Contoh Tripel Pythagoras yang sering diajarkan di sekolah adalah
3, 4, dan 5. Contoh lainnya adalah 5, 12, dan 13.
Nah, tahukah Adik-adik bahwa istri Pythagoras yang bernama Theano adalah juga seorang
matematikawan? Kalau Adik-adik bertanya siapa matematikawan wanita pertama, maka
jawabannya adalah Theano. Lalu siapa matematikawan pertama? Pythagoras kah? Ternyata
bukan. Sebelum Pythagoras, ada Thales (624–546 SM) yang mengembangkan Matematika
Deduktif, menekuni Astronomi, dan membuat kalender.
Thales membuktikan bahwa sudut keliling lingkaran yang menghadap diameter selalu
merupakan sudut siku-siku. Hingga saat ini, Thales dianggap sebagai matematikawan
pertama.
Sumber: [Link]
Seperti halnya apa yang dikerjakan pelukis adalah melukis, apa yang dikerjakan petani adalah
bertani, atau apa yang dikerjakan pemain bola adalah bermain bola, tentu saja apa yang
dikerjakan matematikawan adalah bermatematika. Akan tetapi, apa itu bermatematika jelas
bukan sesederhana menghitung atau mengutak-atik rumus-rumus, karena fisikawan,
ekonom, insinyur, atau beragam pekerjaan lainnya juga menghitung dan mengotak-atik
rumus-rumus.
Bermatematika secara sederhana adalah melihat pola yang ada di segala sesuatu, untuk
kemudian mencari aturan-aturan atau hubungan-hubungan secara logis sehingga pola itu bisa
diterapkan dengan lebih umum.
Untuk mengilustrasikan dengan sangat sederhana, ambillah contoh bagaimana kita mencoba
mengetahui berapa banyaknya apel yang ada di dua piring terpisah. Kita bisa melihat pola
bahwa banyaknya apel di kedua piring adalah banyaknya apel di piring pertama ditambah
dengan banyaknya apel di piring kedua. Bagaimana jika pola itu tidak hanya berlaku untuk
apel, tapi juga untuk pulpen, daun, atau bahkan segala sesuatu? Dari situlah muncul aturan
penjumlahan.
Dalam contoh yang lebih rumit, kita tentu bisa melihat bahwa untuk suatu lingkaran apapun,
ketika lebar diameter lingkaran diperbesar, maka kelilingnya pun pasti lah juga membesar.
Dengan mencoba membandingkan dari lingkaran satu ke lingkaran lainnya, ternyata
perbesaran keliling seiring dengan perbesaran diameter sama untuk semua lingkaran. Dari
situlah muncul angka π (baca: pi) dan rumus bahwa keliling lingkaran adalah π kali diameter
lingkaran.
Dengan prinsip yang serupa, semua rumus-rumus yang kita ketahui saat ini terbentuk, dari
rumus luas bangun datar, trigonometri, hingga semua rumus yang dipakai oleh para fisikawan
dan profesi lainnya. Semua bermula dari melihat pola, untuk kemudian mencari keterkaitan
yang ada sehingga bisa menciptakan aturan yang lebih abstrak dan umum.
Pada dasarnya setiap orang selalu bermatematika, paling tidak secara sederhana, dari
bagaimana kita mengenali bahwa senar gitar yang berbeda menghasilkan nada yang berbeda,
hingga bagaimana kita mengenali bahwa siang hari selalu digantikan dengan malam hari pada
sekitar jam 18.00. Ketika kita melihat sesuatu dan mendeteksi adanya pola disana, kemudian
secara tidak langsung mengajukan pertanyaan, “bagaimana jika…?”, maka kita sedang
bermatematika.
Jadi apa yang yang dikerjakan matematikawan? Menemukan aturan dari berbagai pola yang
ada.
*Aditya Firman Ihsan meraih gelar Sarjana Matematika dari Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, pada tahun 2016. Saat ini, ia sedang
menempuh program studi magister dalam bidang Matematika di FMIPA-ITB juga.
Sumber: [Link]
Wahh, ini pertanyaan yang sangat menarik.. Mungkin di benak Adik-adik, matematikawan itu
kerjanya mengajar, berhitung, dan mencari rumus-rumus baru, yaa?
Pertama, matematika tentu tidak terlepas dari proses menghitung, namun jika adik-adik
bercengkrama dengan matematika secara lebih mendalam, maka intensitas menghitung
justru akan semakin berkurang. Selain itu, proses berhitung yang dilakukan matematikawan
tidak lagi seperti halnya menghitung banyaknya anak di dalam kelas atau banyaknya apel
dalam suatu keranjang. Pada teori himpunan, dikenal istilah “proses berhitung tanpa
menghitung” dalam mencari banyaknya anggota dari suatu himpunan.
Selanjutnya, berlogika dan berimajinasi tentu bukanlah suatu hal yang membingungkan lagi.
Kedua hal ini sangat diperlukan matematikawan dalam memahami apa yang mereka kerjakan,
terutama ketika hal-hal yang dikerjakan semakin abstrak.
Yang terakhir adalah berbahasa. Ketika matematikawan menghasilkan berbagai hasil, maka
hasil tersebut harus ditulis dengan baik dan benar, sesuai dengan aturan dalam matematika,
sehingga para pembaca bisa memahami apa yang dimaksud oleh tulisan tersebut.
Nah, apakah sekarang Adik-adik ingin menjadi matematikawan? Mulailah untuk melatih rasa
penasaran kalian terhadap matematika yaa…. Salam!
Sumber: [Link]
Pertanyaan Melkianus Selly (12 tahun) asal Kupang ini sangat menarik: Apakah matematika
ada bersamaan dengan adanya manusia?
Menurut catatan sejarah, pengetahuan tentang bilangan dan geometri telah dimiliki oleh
bangsa Babilonia dan Mesir Kuno 8000 hingga 7000 tahun yang lalu. Tetapi, matematika baru
dipelajari secara terstruktur oleh bangsa Yunani Kuno sekitar 2500 tahun yang lalu.
Adik-adik tahu kan, bahwa manusia seperti kita sekarang ini, yang dikenal sebagai Homo
sapiens, sudah ada di muka Bumi kira-kira sejak 315.000 tahun yang lalu. Nah, ketika itu, para
Homo sapiens tentunya belum mengenal Dalil Pythagoras seperti bangsa Yunani Kuno.
Namun, itu tidak berarti bahwa Dalil Pythagoras tidak ada pada saat itu. Dalil Pythagoras ada,
tetapi para Homo sapiens belum menemukannya hingga 300.000 tahun kemudian.
Saya berani menyatakan bahwa Dalil Pythagoras bahkan ada sebelum Homo sapiens ada,
namun para Homo erectus dan makhluk hidup lainnya ketika itu tidak cukup cerdas untuk
mengungkapnya. Bagaimana saya bisa sampai pada kesimpulan tersebut?
Bayangkan Bumi ini hancur dihajar asteroid raksasa. Lalu kehidupan di muka Bumi punah,
atau katakanlah seluruh mamalia (termasuk manusia), reptilia, dan unggas punah. Jadi tidak
ada lagi yang mempelajari ataupun mengingat Dalil Pythagoras, ya kan? Sementara itu, ikan
dan amfibi yang masih hidup (katakanlah mereka selamat) tidak tahu apa-apa tentang Dalil
Pythagoras — walau ini hanya asumsi kita saja. Apakah Dalil Pythagoras punah?
Menurut saya, Dalil Pythagoras tetap ada, menunggu seekor ikan atau amfibi
menemukannya, kalau ada ikan atau amfibi yang cukup cerdas. Barangkali perlu ratusan ribu
atau jutaan tahun hingga ada ikan atau amfibi yang cukup cerdas, dan ujudnya mungkin sudah
berubah — tidak seperti ikan atau amfibi yang ada sekarang.
Di ‘bumi’ lain, kalau ada makhluk hidup yang cukup cerdas di sana, Dalil Pythagoras mungkin
telah ditemukan dan dipelajari juga — tetapi dengan nama berbeda, Dalil Jedi, misalnya.
Walau notasi dan istilahnya mungkin berbeda, pernyataannya ya itu-itu juga: pada segitiga
siku-siku dengan alas, tinggi, dan sisi miring a, b, dan c, berlaku a2 + b2 = c2.
Sumber: [Link]
manusia/
Di sekolah, dalam matapelajaran matematika, adik-adik belajar banyak tentang angka dan
rumus. Tetapi adik-adik bertanya, mengapa angka dan rumus yang adik-adik pelajari dalam
matematika tidak ada dalam kehidupan nyata? Hmm… coba adik-adik pejamkan mata, dan
bayangkan benda-benda yang pernah adik-adik lihat dalam kehidupan nyata.
Adik-adik pernah melihat sepeda ‘kan? Sepeda punya roda, ya ‘kan? Roda sepeda berbentuk
bundar. Nah, dalam matematika, sesuatu yang bundar disebut sebagai lingkaran. Apakah
adik-adik melihat ada angka atau rumus pada roda tersebut? Secara fisik, adik-adik mungkin
tidak melihat angka ataupun rumus pada roda tersebut. Tetapi, bila adik-adik ingin tahu
seberapa besar roda tersebut, maka adik-adik perlu mengukur jari-jari atau diameter roda
tersebut. Jadi, kita bisa mengatakan bahwa terkait dengan roda tersebut ada sebuah angka,
yaitu jari-jari roda tersebut. (Mungkin angka itu tertera pada ban roda tersebut.)
Lalu di mana kita bisa menemukan rumus? Hmm… bila adik-adik telah belajar bagaimana
menghitung luas dan keliling lingkaran, maka pada roda sepeda tadi pun ada rumus luas dan
keliling lingkaran. Adik-adik tahu rumusnya ‘kan?
Bila adik-adik juga pernah melihat sesuatu yang berbentuk segitiga siku-siku, maka pada
segitiga tersebut ada rumus loh.. yaitu rumus atau dalil Pythagoras a^2 + b^2 = c^2, dengan
a dan b menyatakan panjang alas dan tinggi segitiga tersebut, dan c menyatakan panjang sisi
miringnya.
Jadi, adik-adik, dalam kehidupan nyata, sebetulnya banyak angka dan rumus matematika.
Banyak di antaranya sudah diketahui oleh manusia sejak 2500 tahun yang lalu, tetapi banyak
juga yang belum ditemukan. Bila adik-adik mengasah kemampuan matematika dengan tekun,
maka pada suatu saat nanti siapa tahu adik-adik menemukan sebuah rumus matematika yang
akan membuat adik-adik menjadi terkenal, seperti Pythagoras atau Archimedes, dan nama
adik-adik pun akan abadi bersama rumus yang adik-adik temukan. Keren ‘kan?
Sumber: [Link]
ada-dalam-kehidupan-nyata/
Dalam bahasa Inggris, padanan kata angka adalah “digit”, yang berasal dari bahasa Latin
“digiti”. Nah, “digiti” berarti “jari tangan”, dan Adik-adik tahu dong bahwa manusia memiliki
sepuluh jari tangan, lima jari di tangan kiri dan lima jari di tangan kanan.
Kesepuluh angka tadi digunakan untuk menyatakan berbagai bilangan dalam sistem bilangan
desimal. Sebagai contoh, 12 menyatakan bilangan dua belas dan 123 menyatakan bilangan
seratus dua puluh tiga. (Sebuah bilangan bisa menyatakan banyaknya benda, misalnya
banyaknya kelereng atau boneka yang Adik-adik miliki.)
Nah, selain sistem bilangan desimal, sebetulnya dalam matematika (dan juga dalam
kehidupan sehari-hari) dikenal sistem bilangan lainnya, misalnya sistem bilangan biner yang
hanya menggunakan dua angka, yaitu 0 dan 1. Sistem bilangan biner dipakai dalam komputer
dan alat-alat elektronika yang berbasis komputer, seperti televisi dan kamera digital, untuk
membaca dan mengolah ‘data’ yang disimpan di dalamnya.
Sumber: [Link]
Nah, apakah matematika diciptakan atau ditemukan? Sebagai contoh, apakah bilangan
ditemukan atau diciptakan?
Pengertian tentang bilangan yang menyatakan, misalnya, banyaknya buah apel, memang
sudah dikenal sejak lama. Jadi, pengertian ini bisa kita anggap “ditemukan”. Tapi pengertian
tentang bilangan tidaklah cukup untuk bermatematika; perlu adanya “sebuah bahasa” untuk
bisa melambangkan semua pengertian ini.
Sebuah ukiran dari Kuil Karnak di Mesir (sekitar tahun 1500 SM, Sebelum Masehi) telah
melambangkan bilangan 276 sebagai dua ratusan, tujuh puluhan dan enam satuan. Cara yang
berbeda dilakukan orang Romawi Kuno (sekitar 800 SM); mereka menggunakan lambang I, II,
III, IV dan seterusnya untuk menyatakan bilangan.
Setelah berabad-abad lamanya menggunakan bilangan Romawi, baru mulai abad ke-14 orang
Eropa menggunakan lambang bilangan Hindu-Arab seperti yang kita kenal sekarang.
Lambang bilangan ini dicetuskan antara abad pertama dan keempat di India dan
dipergunakan sejak abad kesembilan oleh orang Arab.
Jadi, pengertian tentang bilangan “ditemukan”, tetapi lambang bilangan “diciptakan”. Ada
beberapa sistem ciptaan manusia untuk lambang bilangan. Namun akhirnya ciptaan bangsa
India, yang kemudian dikenal sebagai sistem bilangan Hindu-Arab, yang bertahan.
Sumber: [Link]
Pertanyaan ini sangat klasik dan sering ditanyakan sejak dahulu. Saya akan mencoba untuk
menjawab pertanyaan yang tidak gampang ini.
Matematika adalah pelajaran yang sangat ditakuti sebagian siswa dari belahan dunia
manapun. Pelajaran ini dahulunya terbagi menjadi ilmu hitung, ilmu ukur, dan aljabar.
Matematika banyak digunakan di berbagai bidang disiplin lain, misalnya fisika, kimia, biologi,
teknik, komputer, industri, ekonomi, kedokteran, dan pertanian. Untuk itulah mengapa
matematika diajarkan sejak awal kita sekolah.
Untuk tingkat taman kanak-kanak, siswa diajarkan mengenal bilangan yang sangat dasar
yaitu, bilangan asli, dan belajar mengurutkan bilangan tersebut. Ini bertujuan agar di sekolah
dasar siswa bisa menghitung bilangan tersebut.
Untuk tingkat sekolah dasar, siswa diharapkan bisa menghitung dengan berbagai macam
operasi bilangan seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Lalu siswa
dikenalkan dengan soal cerita sederhana dan membuatnya ke dalam kalimat matematika
kemudian menyelesaikannya. Ini bertujuan untuk melatih nalar kita dalam menghadapi
masalah sehari-hari, seperti menghitung kembalian saat kita jajan di sekolah atau di rumah.
Saat di sekolah menengah pertama dan atas, siswa dikenalkan dengan matematika yang
cukup kompleks dan diharapkan bisa mencari solusi dari permasalahan tersebut.
Apakah kita sudah melalui proses bermatematika dengan benar? Jika benar, kita bisa
mengikuti setiap materi yang kita terima dengan baik. Jika tidak, kita selalu kesulitan dengan
pelajaran ini dan bertanya kenapa kita harus belajar materi yang sulit ini?
Tahukah kita kenapa seorang penulis bisa menulis buku yang sukses? Atau seseorang bisa
menjadi pengacara yang sukses? Kedua profesi tersebut tidak membutuhkan matematika
saat mereka kuliah, tapi apakah matematika jadi tidak penting bagi mereka?
Kalau kita telurusi lebih jauh, sebenarnya mereka menggunakan konsep bermatematika yang
benar. Seorang penulis bisa menyusun sebuah kata-kata dan kalimat-kalimat menjadi tulisan
yang bagus itu membutuhkan strategi; begitu juga seorang pengacara bisa memenangkan
sebuah kasus hukum yang dia tangani membutuhkan strategi. Strategi tersebut mereka
peroleh dari penalaran saat mereka mencoba menyelesaikan masalah dalam belajar
matematika.
Begitu juga ketika seorang dokter dihadapkan pada pasien yang sekarat dan membutuhkan
pertolongan secepatnya, matematika akan menuntun dokter tersebut mengambil keputusan
dengan menghitung resiko terkecil dari yang terburuk. Tanpa matematika seorang dokter
akan kesulitan dalam pengambilan keputusan.
Kalian tahu Mr. Bean (Rowan Atkinson)? Dia adalah aktor dari Inggris yang mempunyai
karakter seperti orang bodoh padahal tidak bodoh. Rowan adalah lulusan Teknik Elektro.
Untuk bisa berakting seperti itu dibutuhkan kemampuan matematika yang sangat tinggi.
Tidak semua orang bisa seperti dia.
Bagi dunia keilmuan matematika berperan untuk menciptakan komunikasi yang cermat dan
tepat. Matematika memberikan kontribusi yang begitu besar dalam dunia keilmuan. Maka
dari itu matematika adalah pelajaran yang sangat penting dan sangat bermanfaat untuk kita.
*Isra Nurhadi adalah sarjana Matematika lulusan Universitas Negeri Jakarta. Sejak tahun
2002, ia menjadi guru privat Matematika, dan kemudian mendirikan “Istana Matematika”
dan “Istana Mengajar.” Pada tahun 2013, Istana Mengajar meraih penghargaan “5 Aksi
Sosial Terbaik Klik Hati Merck 2013” dari PT Merck Tbk. Saat ini ia sedang menyusun buku
Matematika yang menjelaskan konsep dan meminimalkan rumus.
Sumber: [Link]
manfaatnya-g-ii/
Di Indonesia dan juga di dunia, banyak lomba atau kompetisi matematika. Ada kompetisi matematika
untuk mahasiswa, kompetisi matematika untuk siswa SMP dan SMA, dan bahkan kompetisi
matematika untuk siswa SD. Yang belum ada saat ini adalah kompetisi matematika untuk anak TK ya?
Lalu apakah seseorang yang sering menjadi juara kompetisi matematika dapat disebut
sebagai matematikawan? Hmm… apa sih matematikawan itu?
Secara sederhana, matematikawan adalah orang yang menekuni matematika. Sebagai bukti
bahwa ia menekuni matematika, seorang matematikawan menghasilkan karya matematika.
Karya yang dimaksud mungkin berupa dalil baru (seperti dalil Pythagoras), rumus baru
(seperti rumus volume bola), atau cara baru dalam menyelesaikan suatu masalah matematika
(seperti cara menyelesaikan suatu persamaan diferensial).
Guru matematika mengajar matematika di sekolah, tetapi bila ia tidak pernah menghasilkan
karya matematika, maka ia bukan seorang matematikawan. Demikian juga dengan seseorang
yang menjadi juara dalam kompetisi matematika.
*Hendra Gunawan tercatat sebagai dosen matematika di Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, sejak 1988. Pada tahun 2013, ia menggagas
blog [Link] dan sejak itu mengelola blog tersebut yang menerbitkan jawaban
para pakar atas berbagai pertanyaan anak-anak.
Sumber: [Link]
kompetisi-dalam-matematika-dapat-disebut-matematikawan-apakah-matematikawan-
harus-menguasai-semua-bidang-dalam-matematika/
Hmmm… kalau mau jadi pengusaha, Adik-adik perlu belajar apa ya ketika di sekolah dasar?
Kalau Adik-adik diajari matapelajaran ekonomi atau manajemen perusahaan, kan terlalu dini
ya. Apalagi cita-cita Adik-adik juga mungkin masih berubah-ubah. Karena itu, yang diajarkan
di sekolah dasar adalah pengetahuan dan kemampuan dasar, yang kelak diperlukan Adik-adik
untuk memahami matapelajaran lanjut di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Untuk
belajar ilmu ekonomi kelak, Adik-adik perlu menguasai sejumlah konsep matematika,
misalnya konsep persamaan dan fungsi (wuih, apa itu?). Nah, ketika Adik-adik menggambar
atau sedang mempelajari grafik sebuah fungsi, pemahaman akan jarak antara dua titik pada
bidang koordinat diperlukan. Pada saat itu, pengetahuan Adik-adik tentang Hukum
Pythagoras diperlukan.
Tetapi, Adik-adik mungkin berpikir, zaman sekarang kan ada komputer, apalagi ketika Adik-
adik besar nanti, entah ada alat bantu apa lagi yang tersedia. OK, Adik-adik mungkin tidak
perlu melakukan perhitungan jarak antara dua titik dan lain-lain. Lalu, apa masih perlu hukum
Pythagoras? Hmmm… secara langsung mungkin tidak perlu. Tetapi, bila Adik-adik
mempelajarinya, apalagi memahaminya dengan baik, sebetulnya ada yang bisa Adik-adik
ingat dan terapkan ketika Adik-adik berhadapan dengan masalah atau fenomena tertentu.
Seorang pengusaha tentunya akan berurusan dengan banyak hal yang harus dipahami dengan
baik, sebelum ia memutuskan sesuatu. Nah, ada kalanya, bahkan mungkin cukup sering, satu
hal terkait dengan hal lainnya. Berapa banyak barang yang harus diproduksi, misalnya, akan
bergantung pada bahan yang tersedia dan kemampuan memproduksi barang tersebut.
Walau tidak secara langsung terpakai, pelajaran tentang hukum Pythagoras melatih Adik-adik
melihat adanya hubungan antara beberapa hal dalam suatu keadaan tertentu (yaitu antara
alas, tinggi, dan sisi miring pada suatu segitiga siku-siku). Di alam ini, dan dalam kehidupan
sehari-hari, banyak hubungan yang berlaku di antara beberapa kuantitas, namun tidak
terlihat secara langsung. Nah, pengetahuan tentang hukum Pythagoras (dan hukum-hukum
lainnya) mungkin akan mengingatkan kita tentang kemungkinan adanya hubungan tersebut.
*Hendra Gunawan telah menjadi dosen Matematika di FMIPA ITB sejak 1988. Ia
mendapatkan gelar doktor dalam bidang Matematika dari UNSW Australia pada tahun
1992. Selain mengajar, ia sering memberi pelatihan pada guru, dan sejak 2013 ia juga
meluangkan waktunya bagi anak-anak melalui situs [Link].
Sumber: [Link]
hukum-pythagoras/
Pertanyaannya mungkin: “Bilangan terakhir itu berapa sih?” Dalam sistem bilangan desimal,
kita menulis bilangan dengan menggunakan sepuluh angka: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9.
Sebagai contoh, 123 = 100 + 20 + 3, yakni 1 ratus 2 puluh 3 atau seratus dua puluh tiga. Nah,
sejak kecil, Adik-adik sudah belajar menghitung atau membilang banyak benda: 1, 2, 3, 4, 5,
dan seterusnya. Ada 10 jari tangan kita, ada 26 abjad, ada 365 hari dalam setahun, ada
250.000.000 (baca: dua ratus lima puluh juta) penduduk Indonesia, ada lebih daripada
[Link] (baca: tujuh miliar) penduduk di seluruh dunia. Bilangan terakhir, atau
terbesar, itu berapa sih?
Pada tahun 1920, ada seorang anak berusia 9 tahun bernama Milton Sirotta yang menyebut
bilangan 10 pangkat 100 sebagai satu “googol”. Bila satu triliun memiliki 12 angka 0 di
belakang angka 1, satu googol memiliki 100 angka 0 di belakang angka 1. (Bilangan ini
melebihi jumlah partikel elementer di alam semesta, yang diperkirakan sama dengan 10
pangkat 80.) Milton juga mengusulkan nama “googolplex” untuk bilangan yang memiliki satu
googol angka 0 di belakang angka 1. Kalau Adik-adik menuliskannya dalam bentuk 1.000.000.
… … … 000, berapa lama waktu yang diperlukan untuk merampungkannya?
Nah, tapi googolplex bukan bilangan terakhir atau terbesar, karena kita masih bisa memiliki
bilangan yang lebih besar lagi, misalnya dengan menambahkan 1 pada bilangan tersebut, atau
mengalikan bilangan tersebut dengan 5, atau menguadratkan bilangan tersebut, atau operasi
lainnya yang dapat menghasilkan bilangan yang lebih besar lagi. Jadi, bilangan terakhir atau
terbesar itu tidak ada.
Sumber: [Link]
Bilangan prima adalah bilangan asli selain 1 yang tidak habis dibagi oleh bilangan lain, kecuali
oleh 1 dan bilangan itu sendiri. Sebagai contoh, 5 adalah bilangan prima, sedangkan 6 bukan
bilangan prima karena 6 habis dibagi oleh 2 dan 3, selain oleh 1 dan 6.
Bilangan asli yang bukan bilangan prima disebut bilangan komposit. Nah, bilangan komposit
dapat dinyatakan sebagai hasil kali dari faktor-faktor primanya, misal 6 = 2 × 3. Jadi bilangan
prima berguna antara lain untuk pemfaktoran bilangan asli. (Saya bisa membagikan 6 permen
kepada 2 orang, masing-masing mendapat 3 permen.)
Siapa ‘penemu’ bilangan prima? Ada tak terhingga banyak bilangan prima di antara bilangan
asli. Jadi kata ‘penemu’ mungkin tidak pas, karena tidak terlalu sulit bagi kita untuk
‘menemukannya’, kecuali bila kita diminta menemukan bilangan prima yang amat besar
nilainya.
Namun demikian, kalau Dik Dadang ingin tahu siapa atau bangsa mana yang lebih dahulu
mempelajari atau memanfaatkan sifat-sifat bilangan prima, maka kita mesti menelusuri
literatur.
Dari temuan arkeologi, diketahui bahwa bangsa Mesir Kuno telah mengenal bilangan prima
dan bilangan komposit, walau dalam bentuk yang berbeda. Selanjutnya, bilangan prima
dipelajari secara mendalam oleh bangsa Yunani Kuno sejak abad ke-5 SM. Pemahaman
tentang bilangan prima kemudian dituliskan oleh Euclid, matematikawan Yunani Kuno abad
ke-3 SM, dalam buku yang berjudul Elements.
Dalam buku tersebut, Euclid antara lain membuktikan bahwa di antara bilangan asli terdapat
tak terhingga banyak bilangan prima. Euclid juga membuktikan bahwa setiap bilangan asli
dapat dinyatakan sebagai hasil kali dari bilangan-bilangan prima.
Jadi, bilangan prima telah lama dikenal. Tetapi ‘penelitian’ tentang bilangan prima masih
berlanjut loh hingga saat ini. Dalam beberapa puluh tahun terakhir, bilangan prima telah
digunakan untuk persandian, yaitu untuk mengirim pesan yang dirahasiakan, seperti
mengirim data-data penting yang tidak ingin diketahui oleh orang lain melalui surat elektronik
atau Internet.
Sumber: [Link]
Dik Ines sudah tahu apa bilangan prima itu ya.. Adik-adik lainnya sudah tahu juga kan? Itu loh,
bilangan asli selain 1 yang tidak dapat dibagi oleh bilangan asli lain selain oleh 1 dan bilangan
itu sendiri. Jadi, bilangan-bilangan 2, 3, 5, 7, 11 adalah bilangan prima, sedangkan 4, 6, 8, 9,
12 bukan bilangan prima.
Lalu, Dik Ines bertanya: untuk apa mencari bilangan prima terbesar? Hmm.. Dik Ines rupanya
pernah membaca atau mungkin mendengar dari guru ya, bahwa ada bilangan prima
‘terbesar’, yaitu 277.232.917 – 1. (Adik-adik tahu kan 2n = 2 × 2 × … × 2 sebanyak n kali.)
Tetapi, Dik Ines, bilangan tersebut adalah bilangan prima terbesar yang diketahui saat ini (Juli
2018). Besok atau lusa, atau bulan depan, mungkin akan ditemukan bilangan prima yang lebih
besar lagi.
Matematikawan sudah membuktikan bahwa bilangan prima terbesar itu tidak ada. Sama
seperti bilangan asli itu sendiri — tidak ada bilangan asli yang terbesar kan?
Lalu untuk apa matematikawan mencari bilangan prima yang lebih besar dan lebih besar lagi?
Nah, jawabannya adalah karena bilangan prima yang besar itu berguna untuk kriptografi atau
persandian.
Dalam dunia kriptografi, pesan berupa teks diterjemahkan menjadi rangkaian angka, dan
rangkaian angka itu kemudian disandikan menjadi rangkaian angka lainnya, dengan
menggunakan sifat-sifat istimewa bilangan prima. Bila kita hanya menggunakan bilangan
prima yang kecil, sandi tadi mudah dipecahkan, sehingga pesan yang mestinya rahasia mudah
dibaca oleh orang lain.
Jadi, semakin besar bilangan prima yang digunakan dalam persandian, semakin sulit sandi
tersebut untuk dipecahkan.
Sumber: [Link]
Bilangan apa ya yang paling penting dalam matematika? Hmm.. saya balik bertanya, bilangan
apa sajakah yang telah Adik-adik kenal?
Dari dua bilangan bulat, kita dapat memperoleh sebuah bilangan pecahan, yang dalam
matematika dikenal sebagai bilangan rasional. Sebagai contoh, bilangan 1/2 dan 3/10
merupakan dua bilangan rasional. Bilangan pecahan atau bilangan rasional sering dipakai
untuk menyatakan ‘porsi’ suatu benda, misalnya 1/2 liter susu atau 3/10 meter pipa.
Nah, bila kita kemudian bertanya berapa panjang diagonal suatu persegi atau berapa keliling
sebuah lingkaran, jawabannya tentu adalah sebuah bilangan. Tetapi, bilangan apa?
Kemungkinan besar, bilangan tersebut bukan bilangan rasional. Bilangan seperti √2 (baca:
akar 2) merupakan contoh bilangan yang bukan merupakan bilangan rasional. Bila
kita mempunyai sebuah persegi yang panjang sisinya sama dengan 1 meter, maka panjang
diagonal persegi tersebut sama dengan √2 meter. Bilangan ini termasuk bilangan irasional.
Bilangan rasional dan bilangan irasional merupakan bilangan real, yang membentuk suatu
sistem bilangan penting dalam matematika. Bila dilanjutkan ceritanya, Adik-Adik akan
‘bertemu’ dengan bilangan kompleks, yang berperan penting antara lain dalam ilmu fisika dan
teknik elektro.
Jadi, semua bilangan penting dan mempunyai tempatnya sendiri dalam matematika. Adik-
Adik akan ‘berkenalan’ lebih jauh dengan berbagai bilangan tersebut dalam mata pelajaran
matematika, dari SD hingga di perguruan tinggi nanti.
Sumber: [Link]
Wah, Wisnu hebat ya.. sudah mengenal bilangan sempurna! Bagi Adik-adik lainnya yang
belum tahu bilangan sempurna, bilangan asli n disebut bilangan sempurna apabila n
merupakan jumlah dari faktor-faktor pembaginya selain dirinya sendiri. Sebagai contoh, 6
merupakan bilangan sempurna karena 6 mempunyai faktor 1, 2, 3, selain dirinya sendiri, dan
6 = 1 + 2 + 3.
Apakah 10 merupakan bilangan sempurna? Hmm.. mari kita periksa. Faktor-faktor dari 10
adalah 1, 2, 5, dan 10 sendiri. Karena 10 ≠ 1 + 2 + 5, kita simpulkan bahwa 10 bukan bilangan
sempurna. Jadi, tidak sembarang bilangan n dapat menjadi bilangan sempurna.
Bilangan 6 merupakan bilangan sempurna terkecil. Bila Adik-adik lacak bilangan sempurna
berikutnya, adik-adik akan mendapatkan bahwa 28 merupakan bilangan sempurna. Bilangan
sempurna berikutnya adalah 496. Bila penasaran, Adik-adik dapat mencari sendiri bilangan
sempurna keempat dan seterusnya ya..
Lalu apa kegunaan bilangan sempurna itu? Dahulu kala, orang Mesir Kuno sering
menggunakan pecahan satuan, yaitu pecahan berbentuk 1/n, untuk keperluan sehari-hari.
Pecahan lainnya dapat dinyatakan sebagai jumlah dari beberapa pecahan satuan. Sebagai
contoh, 5/6 = 1/2 + 1/3. Nah, untuk bilangan sempurna seperti 6, kita dapat menguraikan 1
sebagai jumlah dari beberapa pecahan satuan dengan mudah. Persisnya, karena 6 = 1 + 2 + 3,
kita dapat membagi kedua ruas dengan 6 untuk mendapatkan 1 = 1/6 + 1/3 + 1/2.
Lalu apa kegunaan lainnya, khususnya di masa kini? Hmm.. kadang ada konsep matematika
yang kegunaannya tidak ditemukan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, tetapi
konsep tersebut tetap dipelajari. Untuk apa? Jawabannya bisa saja karena menarik atau
menantang, seberapa jauh manusia mampu memahami suatu konsep. Siapa tahu konsep
tersebut berguna, suatu saat nanti, merupakan bonus.
Sebagai informasi, konsep bilangan sempurna terkait dengan banyak konsep bilangan lainnya,
seperti bilangan prima, bilangan Mersenne, dan bilangan Ore. Nah, dalam dunia persandian,
sifat-sifat bilangan prima telah dimanfaatkan untuk mengirim pesan rahasia. Salah satu sistem
pengkodean terkenal adalah sistem RSA yang pertama kali dicetuskan oleh Ron Rivest, Adi
Shamir, and Leonard Adleman, pada tahun 1977. (Padahal bilangan prima telah dipelajari oleh
orang Yunani Kuno sejak 2400 tahun yang lalu.)
Bila Adik-adik menyukai matematika, siapa tahu kelak ada di antara Adik-adik yang dapat
menemukan kegunaan bilangan sempurna?
Sumber: [Link]
Adik-adik sudah tahu bilangan prima ya.. Bilangan prima adalah bilangan asli selain 1 yang
tidak dapat dibagi oleh bilangan lain selain oleh 1 dan oleh bilangan itu sendiri. Sebagai
contoh, bilangan-bilangan 2, 3, 5, 7, 11, 13, adalah bilangan prima; sedangkan bilangan-
bilangan 4, 6, 8, 9, 10, 12, bukan bilangan prima.
Bilangan asli selain 1 yang bukan bilangan prima disebut sebagai bilangan komposit. Sebagai
contoh, 10 merupakan bilangan komposit, karena 10 dapat dibagi oleh 2 dan 5, selain oleh 1
dan 10 sendiri…. Lalu, ada berapa banyak bilangan prima itu? Jawabannya adalah tak
terhingga. Bagaimana kita bisa tahu ada tak terhingga banyaknya bilangan prima? Hmm…
sebetulnya ini agak di luar jangkauan Adik-adik. Tetapi baiklah Kakak akan memberikan sedikit
gambaran, bagaimana kita bisa sampai pada kesimpulan tersebut.
Misalkan kita memeriksa setiap bilangan asli selain 1, mulai dari 2, 3, 4, dan seterusnya,
apakah ia merupakan bilangan prima atau bilangan komposit. Kita sediakan dua buku untuk
mencatat hasil pemeriksaan kita. Jika bilangan yang sedang kita periksa adalah bilangan
prima, maka kita tulis bilangan tersebut di Buku I; jika bukan, kita tulis bilangan tersebut di
Buku II. Jadi, 2, 3, 5, 7, 11, dan 13 akan tercatat di Buku I, sedangkan 4, 6, 8, 10, dan 12 akan
tercatat di Buku II.
Apakah pencatatan bilangan prima di Buku I akan berhenti, setelah kita mendapatkan suatu
bilangan prima tertentu? Jawabannya tidak; setelah kita mendapatkan bilangan-bilangan
prima 2, 3, 5, 7, 11, 13, …, sampai dengan p (entah berapa p tersebut), kita akan masih akan
menemukan bilangan prima yang lebih besar daripada p.
Sumber: [Link]
bilangan-prima/
Istilah Golden Ratio atau Rasio Emas pertama kali muncul dalam buku Die reine Elementar-
Mathematik (Matematika Dasar Murni) karangan Martin Ohm, yang diterbitkan pada tahun
1815. Namun, rasio istimewa ini telah dikenal oleh Pythagoras dan sifat-sifatnya dirangkum
oleh Euclid dalam bukunya yang berjudul Elements (yang diterbitkan kira-kira pada tahun 300
SM).
Nah, Rasio Emas dapat ditemukan pada bintang beraturan bersirip lima. Dengan terlebih
dahulu menghitung besar sudut-sudutnya, kita dapat menggunakan kesebangunan dan
menemukan Rasio Emas sebagai berikut:
Rasio Emas juga muncul secara ‘tersembunyi’ pada barisan Fibonacci 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21,
34, 55, … . Perhatikan bahwa rasio antara suku ke-(n+1) dan suku ke-n, yaitu r1 = 1, r2 = 2, r3 =
3/2, r4 = 5/3, r5 = 8/5, dan seterusnya, memenuhi hubungan rn+1 = 1 + 1/rn. Ketika n semakin
besar, rn akan menuju suatu bilangan, sebutlah r, yang memenuhi persamaan r = 1 + 1/r.
Seperti pada bentuk bintang di atas, bilangan r yang memenuhi persamaan ini adalah Rasio
Emas, yaitu r = (1+√5)/2 ≈ 1,618.
Ada yang menarik pada Persegi Panjang Emas yang memiliki rasio panjang : lebar = (1+√5)/2.
Bila kita bagi persegi panjang ini menjadi dua bagian, yang pertama merupakan persegi dan
sisanya merupakan persegi panjang yang lebih kecil, maka persegi panjang yang lebih kecil
akan memiliki rasio panjang : lebar = (1+√5)/2 juga. Bila kita bagi lagi persegi panjang ini
menjadi dua bagian seperti tadi, dan kita lakukan hal ini berulang-ulang, maka kita dapat
memperoleh gambar berikut:
Mirip ya? Kalau Adik-adik melanjutkan sekolah ke SMA nanti, Adik-adik bisa mempelajari sifat-
sifat Rasio Emas lebih mendalam. So pasti seru deh!
Sumber: [Link]
Lala, kamu bertanya siapa yang menciptakan tangram, berarti kamu sudah tahu apa itu
tangram dong? Kamu juga sudah sering bermain tangram ya? Bagi adik-adik lainnya yang
belum mengenal tangram, ini loh benda yang sedang kita bicarakan sekarang:
Tangram biasanya terbuat dari kayu, atau bisa juga dari kartun yang cukup tebal bila adik-adik
mau membuatnya sendiri. Perhatikan ada berapa potong kayu/kartun pada tangram di atas.
Ada 7 potong, ya ‘kan? Ada 2 segitiga besar, 1 segitiga sedang, 2 segitiga kecil, 1 persegi, dan
1 jajar genjang. Bermain dengan tangram sama dengan menyusun ketujuh potong tersebut,
yang pada awalnya berserakan, menjadi sebuah persegi besar, seperti pada gambar di atas.
Adik-adik bisa juga menyusunnya menjadi sebuah bentuk yang menarik, seperti di bawah ini.
Siapa yang menciptakan mainan kayu ini tidak diketahui dengan pasti, namun tangram
berasal dari Tiongkok dan diperkirakan sudah ada sejak Dinasti Song (960-1279 M).
Perhatikan bahwa kata “tangram” terbentuk dari dua suku kata: “tan” dan “gram”. Menurut
cerita, mainan ini diciptakan oleh ‘seorang’ dewa Tiongkok bernama Tan sekitar 4000 tahun
yang lalu.
Nama tangram sendiri kemungkinan dicetuskan oleh orang Inggris, setelah mainan ini
menjadi populer di Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya pada awal abad ke-19. Adik-
adik mungkin tahu beberapa kata lain yang berakhir dengan suku kata “gram”, misalnya
telegram, diagram, dan lain-lain.
O ya, baru-baru ini, saya juga membuat tangram yang terdiri dari 11 potong, seperti di bawah
ini.
Perhatikan bahwa selisihnya dengan persegi semula hanya 1 persegi satuan (yang berwarna
hitam itu).
Yang kedua, tangram ini bisa disusun juga menjadi 3 buah persegi, dengan perbandingan
panjang sisi dari ketiganya 3 : 4 : 5.
Kalau adik-adik sudah belajar Dalil Pythagoras, adik-adik pasti tahu bahwa hubungan 32 + 42
= 52 berlaku pada segitiga siku-siku dengan alas = 3 satuan, tinggi = 4 satuan, dan sisi miring =
5 satuan.
Sumber: [Link]
Adik-adik tahu kan bahwa bilangan π (baca: pi) menyatakan rasio antara keliling lingkaran dan
diameternya. Nah, dahulu kala, Archimedes membuktikan bahwa luas lingkaran sama dengan
π kali jari-jari kuadrat:
L = πr2.
Jadi, tanpa mengetahui nilai π dengan persis, kita tidak akan bisa mengetahui luas lingkaran
dengan persis.
Sampai sekarang, kita sebetulnya tidak pernah mengetahui nilai π dengan persis, karena ia
merupakan bilangan irasional, yang tidak dapat dinyatakan sebagai rasio dua bilangan bulat.
Jadi, kita sebetulnya tidak pernah bisa menghitung luas lingkaran dengan persis pula.
Untungnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menerima adanya kesalahan dalam
perhitungan, asalkan kesalahannya tidak terlalu besar.
Dengan nilai taksiran π ≈ 22/7, Adik-adik dapat menaksir luas lingkaran yang diketahui jari-
jarinya. Itu salah satu pentingnya mengetahui bilangan π. Kegunaan lainnya dari bilangan π
Sumber: [Link]
Adik-adik penasaran ya, mengapa pembagian dengan nol, atau pembagian suatu bilangan
dengan nol, tidak bisa dilakukan?
Contoh: 10 : 0, 6 : 0 atau 3 : 0.
Mengapa begitu?
Jika 4 permen dibagikan kepada 2 anak, maka tiap anak mendapat berapa permen, adik-adik?
Tentu saja masing-masing mendapat 4 : 2 = 2 permen. Nah.. sekarang bagaimana kalau
anaknya tidak ada. Bisakah kita membagikan 4 permen kepada 0 anak? Jelas tidak bisa,
bagaimana bisa dibagikan, anak-anaknya saja tidak ada. Mau dibagikan ke anak tuyul?
Itulah sebabnya pembagian dengan nol tidak terdefinisi. Karena kita tidak bisa membagikan
permen-permen kepada nol anak.
Kalau pun dipaksakan, misalnya 10 : 0 = k, dengan k suatu bilangan, maka kita akan
memperoleh k × 0 = 10, sesuatu yang mustahil. Jika ada yang menuliskan 10 : 0 = ∞,
pertanyaannya ∞ itu apa? Berapa ∞ × 0?
Dengan berbagai alasan ini, pembagian dengan nol tidak didefinisikan atau tidak terdefinisi.
*Nursatria Vidya Adikrisna adalah Sarjana Matematika dari FMIPA UGM. Sejak 2008
menjadi Blogger matematika di [Link] dan telah menghasilkan
lebih daripada 500 tulisan. Saat ini ia menjadi guru Matematika di salah satu SMA swasta
di Bogor.
Sumber: [Link]
dilakukan-g/
Bumi kita berbentuk mirip bola yang amat besar. Bagaimana kita mengukur jari-jarinya ya?
Kalau kita bisa mengukur keliling garis Khatulistiwa (yang dapat kita anggap sebagai
lingkaran), maka kita bisa mengetahui jari-jarinya. Kita tahu rumus keliling lingkaran, yaitu
keliling = 2π × jari-jari. Jadi, jari-jari = keliling : 2π. Nah, untuk kalian yang masih di sekolah
dasar, bilangan π (baca: pi) ini biasanya diganti dengan 22/7. Ya, nilai π memang kira-kira
sama dengan 22/7, walau tidak sama persis loh.
Lalu bagaimana kita mengukur keliling garis Khatulistiwa? Apakah kita harus naik pesawat
terbang mengelilingi Bumi sepanjang garis Khatulistiwa, dengan kecepatan konstan, dari satu
tempat kembali ke tempat semula, dan mencatat lama perjalanannya? Wah, repot amat ya!
Masak sih harus seperti itu?
Kalau kalian punya atlas atau peta pulau Kalimantan, misalnya, kalian bisa loh menghitung
keliling garis Khatulistiwa. Bagaimana caranya? Pada peta itu, kalian perhatikan ada garis-
garis bujur yang menyatakan berapa derajat ke arah timur dari Greenwich. [Greenwich adalah
kota di Inggris yang dipakai sebagai patokan meridian, dengan garis bujur 0o.) Lalu, kalian juga
perhatikan skala peta tersebut. Nah, dengan mengetahui jarak di antara dua garis bujur
berdekatan dan selisih derajatnya, kalian bisa mengetahui keliling garis Khatulistiwa. Kalau
keliling sudah diketahui, maka jari-jarinya bisa diperoleh.
Tetapi, cara itu sebetulnya tidak sah. Loh, mengapa? Karena peta dibuat dengan asumsi
bahwa kita sudah tahu jari-jari Bumi berapa. Sebelum ada peta, Eratosthenes, orang Yunani
Kuno yang hidup pada abad ke-3 SM, bisa menghitung jari-jari Bumi dengan mengamati
Matahari dan menggunakan matematika sederhana.
Caranya bisa kita tiru sekarang. Misalkan, pada tanggal 21 Maret pukul 12.00, Matahari tepat
berada di atas Kota Bangun (dekat Samarinda), sementara di Pontianak sang Surya masih
condong 7o ke arah Timur. Jarak dari Pontianak ke Kota Bangun adalah 790 km, dan keduanya
terletak di garis Khatulistiwa. Jadi, keliling garis Khatulistiwa sama dengan 360/7 × 790 km =
40.629 km. Dari sini, kita peroleh jari-jari Bumi = 6.464 km. Hitung-hitungan kasar ini tidak
jauh berbeda dari jari-jari Bumi yang telah disepakati, yaitu 6.371 km.
Sumber: [Link]
Akar kuadrat dari sebuah bilangan tak negatif a adalah bilangan x yang memenuhi x2 = a.
Sebagai contoh, 2 dan -2 merupakan akar kuadrat dari 4, karena 22 = 4 dan demikian juga (-
2)2 = 4.
Nah, salah satu di antara akar kuadrat tersebut merupakan bilangan tak negatif.
Secara umum, setiap bilangan tak negatif a mempunyai sebuah akar kuadrat tak negatif.
Sebagai contoh, akar kuadrat tak negatif dari 4 adalah 2.
Akar kuadrat tak negatif dari bilangan tak negatif a disebut sebagai akar kuadrat utama, yang
dilambangkan dengan √a. Jadi, sebagai contoh, √4 = 2.
Perhatikan bila x1 = √a adalah akar kuadrat utama dari bilangan tak negatif a, maka x2 = -√a
adalah akar kuadrat dari a juga (tetapi bukan akar kuadrat utama), karena (-√a)2 = (√a)2 = a.
Dengan lambang akar kuadrat, kita kemudian menyatakan bahwa akar kuadrat dari bilangan
tak negatif a adalah x = ±√a. Sebagai contoh, akar kuadrat dari 4 adalah x = ±√4 = ±2.
Sumber: [Link]
Aljabar merupakan salah satu cabang matematika yang berurusan dengan objek matematika
(katakanlah bilangan yang tidak diketahui nilai persisnya), dan menggunakan lambang seperti x dan y
ketika mempelajarinya.
Dalam aljabar, sifat-sifat yang dimiliki oleh operasi yang dapat dilakukan pada objek tersebut
(bayangkan penjumlahan dan perkalian) dipelajari, dan kemudian menjadi ‘senjata’ ketika
kita berhadapan dengan suatu masalah terkait objek tersebut.
Sebagai contoh, misalkan kita ingin menemukan semua bilangan yang nilainya sama dengan
kuadratnya. Bila kita tuliskan bilangan itu sebagai x, maka kita mempunyai persamaan x = x2.
Nah, apakah persamaan ini mempunyai solusi? Bagaimana cara menemukan solusinya? Apa
saja yang dapat dilakukan untuk mendapatkan solusinya? Ini merupakan persoalan aljabar.
Orang Babilonia sudah ber-aljabar ria tiga atau empat ribu tahun yang lalu. Demikian juga
dengan orang Yunani Kuno dua ribu tahun yang lalu. Diophantus, misalnya, mempelajari
‘persamaan linear’ seperti 3x + 4y = 5, dengan x dan y bilangan bulat yang ingin dicari.
Pada abad ke-8 hingga abad ke-12 Masehi, matematika pun berkembang di Timur Tengah,
dan Al-Khwarizmi (780-850 M), seorang matematikawan asal Persia, mempelajari persamaan
linear dan persamaan kuadrat secara sistematis.
Karena karyanya itulah Al-Khwarizmi kemudian dianggap sebagai perintis bidang aljabar. Nama Al-
Khwarizmi juga diabadikan dalam kata algoritma, yang berarti langkah-langkah yang dilakukan untuk
menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan.
Sumber: [Link]
Adik-adik, Kakak berpendapat Matematika itu seperti (video) game yang sering kalian
mainkan. Dalam game pastilah terdapat aturan-aturan yang harus diikuti, begitu pula
matematika memiliki aturan-aturan dasar yang disebut aksioma.
Kalian pasti merasa puas jika mampu menyelesaikan suatu game, begitu pula dengan
mengerjakan soal matematika. Mestinya ada kepuasan jika kalian mampu mengerjakan soal
matematika. Apalagi jika soal tersebut susah, banyak teman kalian tidak mampu
mengerjakannya, wuidiih… pasti kepuasan akan berlipat ganda.
Dalam game, semakin tinggi levelnya, semakin sulit permainannya. Begitu pula dengan
matematika, soal matematika kelas 5 SD akan lebih sulit dibandingkan dengan soal
matematika kelas 4 SD. Jika matematika bagaikan game, lalu apa tujuan kita ‘bermain’
matematika? Mengapa kita harus mengerjakan soal-soal matematika?
Jawabannya: karena matematika mampu menjelaskan banyak hal. Kalian salah jika berpikir
matematika adalah berhitung. Kalau kalian belajar matematika hanya untuk bisa berhitung,
apa bedanya kalian dengan kalkulator? Tujuan kalian belajar matematika supaya kelak kalian
mampu menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita.
Kakak akan beri satu contoh. Matematika mampu menjelaskan bahwa yang namanya vampire
mustahil ada. Di film-film diceritakan bahwa vampire meminum darah manusia dan korban
gigitan vampire akan menjadi vampire pula. Misalkan hari ini tiba-tiba muncul 1 vampire dan
ia harus menggigit 1 orang tiap harinya. Jika hari ini vampire tersebut menggigit 1 orang, maka
besok (hari kedua) akan ada 2 vampire, ya kan? Jika masing-masing vampire tersebut
kemudian menggigit 1 orang, maka lusa (hari ketiga) akan ada 4 vampire, begitu seterusnya.
Jadi setiap hari jumlah vampire akan berlipatganda.
Dalam aljabar, kalian dilatih melihat pola. Ada berapa vampire pada hari ke-n? Ada 2 pangkat
n-1, ya kan? Nah, pada hari ke-33, jumlah vampire akan mencapai 2 pangkat 32, yaitu
[Link] vampire. Dalam waktu 33 hari, jumlah vampire melebihi 4 miliar, padahal total
populasi manusia di Bumi saat ini adalah 7 miliar orang. Dengan kata lain, secara matematis,
Sebagai penutup, Kakak tegaskan lagi bahwa Matematika itu bagaikan game, dan
mengerjakan soal matematika itu bagaikan bermain game matematika. Tujuannya supaya
kalian kelak mampu menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita.
Sumber: [Link]
aljabar-apa-yang-sebenarnya-dicari/
-----end-----
Wah, pertanyaan yang bagus sekali nih. Pasti Adik-adik sekarang sedang belajar materi
persentase di sekolahnya ya? Nah, untuk menambah pengetahuan Adik-adik tentang
persentase, Kakak mau cerita sedikit nih tentang sejarah pada zaman Romawi Kuno, beribu-
ribu tahun lamanya sebelum Adik-adik lahir ke dunia.
Dulu, orang-orang pada zaman Romawi Kuno belum menemukan sistem bilangan desimal,
sehingga mereka melakukan perhitungan untuk bilangan-bilangan tertentu dengan
menggunakan pecahan kelipatan 1/100 agar lebih mudah dipahami. Pada masa-masa
setelahnya, bahkan hingga saat ini, perhitungan menggunakan pecahan kelipatan 1/100
masih lazim digunakan khususnya dalam jual beli.
Nah, agar lebih mudah menyebutkan 1/100, maka lahirlah istilah per centum dari bahasa latin,
dan per cento dari bahasa Italia yang artinya “untuk seratus”. Per cento kemudian dinotasikan
dengan “per ċ” untuk menyatakan 1/100. Jadi pecahan 3/100 dituliskan sebagai “3 per ċ”,
yang kemudian di masa modern ini dituliskan sebagai , seperti yang Adik-adik pelajari saat ini.
Istilah per cento juga diserap kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi persen, yang artinya
“perseratus”. Jadi berdasarkan sejarahnya, penamaan persen ini khusus digunakan untuk
menyatakan bilangan ke dalam bentuk pecahan dari seratus.
Kalau Adik-adik ingin menyatakan bilangan ke dalam bentuk pecahan dari 10 atau 1000 atau
lainnya juga bisa kok, tapi mereka punya istilah tersendiri. Misalnya jika kita ingin menyatakan
bilangan ke dalam bentuk pecahan kelipatan 1/10, maka istilahnya adalah persepuluh.
Bilangan dalam bentuk pecahan kelipatan 1/1000 dinamakan permil dan dinotasikan dengan
‰. Contohnya 30‰ = 30/1000 (dibaca: tiga puluh permil).
Namun biasanya kita menggunakan pecahan persepuluh dan permil dalam hal lain, bukan
dalam jual beli, besar potongan harga, atau dalam masalah perbandingan. Untuk ketiga hal
ini, kita lebih sering menggunakan persen.
Kalau kita menggunakan pecahan persepuluh, maka hanya akan ada 10 kemungkinan
pecahan nantinya, yaitu 1/10, 2/10, 3/10, dan seterusnya sampai 10/10, sehingga kita punya
pecahan yang sangat terbatas untuk digunakan. Pecahan persepuluh lebih sering digunakan
Makanya orang-orang zaman dulu sampai sekarang lebih senang menggunakan perhitungan
dengan pecahan kelipatan 1/100, karena dirasa lebih ideal. Tidak terlalu kecil, juga tidak
terlalu besar.
Sumber pustaka: D.E. Smith (1951). History of Mathematics. New York: Dover Publications,
Inc.
Sumber: [Link]
“Beri saya tempat untuk bertumpu, dan saya bisa mengangkat Bumi.” Demikian ujar
Archimedes (287-212 SM) dari Sirakusa (Italia), salah seorang jebolan sekolah Museum yang
diasuh oleh Euclid di Alexandria (Mesir).
Banyak kisah menarik tentang Archimedes, misalnya ketika ia mandi di bak dan menemukan
cara menghitung volume sebuah mahkota, kemudian berlari ke jalan sambil berteriak
“Eureka!”. Lalu ada cerita tentang kematian Archimedes, yang terjadi ketika Sirakusa diserang
pasukan tentara Roma. Ketika asyik mengerjakan hitung-hitungan matematika di atas tanah,
Archimedes dihampiri oleh seorang tentara Roma yang hendak membunuhnya. Sebelum
dibunuh, Archimedes meminta waktu kepada tentara Roma tersebut untuk menyelesaikan
hitung-hitungannya terlebih dahulu.
Selain karyanya dalam matematika, Archimedes dikenal pula karena karya-karyanya dalam
fisika. Kutipan pada awal bab ini berkaitan dengan temuannya tentang tuas. Selain itu, kita
juga mengenal Hukum Archimedes yang berkaitan dengan gaya apung benda dalam air.
Archimedes juga menciptakan banyak peralatan, antara lain katapel, yang dipakai sebagai
senjata dalam perang. Ada yang mengatakan bahwa Archimedes diincar oleh tentara Roma
karena senjata ciptaannya telah banyak mencederai mereka.
Dalam matematika, kontribusi Archimedes tercatat mulai dari pemecahan masalah dengan
menggunakan kalkulus, hingga teori bilangan. Dalam geometri, nama Archimedes melekat
pada rumus luas lingkaran. Persisnya, Archimedes membuktikan bahwa luas lingkaran sama
dengan setengah keliling kali jari-jarinya. Ia menggunakan temuan Antiphon dan Eudoxus,
dua orang matematikawan Yunani Kuno pendahulunya, yang menyatakan bahwa luas
lingkaran sebanding dengan kuadrat dari diameternya.
Sebelum Archimedes, berapa nilai konstanta perbandingan antara luas lingkaran dan kuadrat
diameternya tidak diketahui dengan persis. Archimedes membuktikan bahwa luas lingkaran
sama dengan Π kali jari-jari kuadrat, dengan Π menyatakan rasio keliling terhadap diameter
lingkaran. (Pada saat itu, Archimedes tidak menggunakan lambang bilangan Π. Lambang ini
baru dipakai oleh William Jones pada tahun 1706.)
Kalian tahu ‘kan nilai bilangan Π itu kira-kira sama dengan 3,14 atau 22/7. Nilai hampiran 22/7
itu diperoleh Archimedes dengan menggunakan segi-96 beraturan. Persisnya, ia melakukan
serangkaian perhitungan dengan segi-6 beraturan, segi-12 beraturan, dan seterusnya hingga
segi-96 beraturan, dan mendapatkan bahwa 223/71 < Π < 22/7.
Ayo siapa di antara kalian yang bisa membuktikan ulang ketaksamaan ini seperti Archimedes?
Sumber: [Link]
Wah, Dik Iqbal tahu nama Aristoteles dari siapa? Aristoteles adalah seorang ahli filsafat atau
filsuf Yunani Kuno yang hidup pada tahun 384-322 SM atau kira-kira 2400 tahun yang lalu.
Ia berguru pada Plato selama 20 tahun, tetapi dalam banyak hal ia berbeda pendapat dengan
gurunya. Sebagai contoh, menurut Plato kata ‘dua’ adalah objek abstrak yang terpisah dari
objek fisis, sedangkan menurut Aristoteles kata ‘dua’ hanya merupakan kata sifat dari suatu
objek fisis, seperti pada frase ‘kendaraan beroda dua’. Kata ‘dua’ di sini melekat pada roda
yang merupakan bagian dari kendaraan tersebut.
Dalam banyak hal, Aristoteles lebih membumi dibandingkan dengan Plato. Terkait dengan itu,
Aristoteles menolak konsep ketakterhinggaan, karena menurutnya semua objek di alam
semesta ini bersifat terhingga. Bagi Aristoteles, seseorang dapat melukis sebuah garis
sepanjang-panjangnya, tetapi tidak ada garis yang tak terhingga panjangnya.
Aristoteles dikenal karena karya dan pemikirannya dalam bidang fisika, biologi, etika, politik,
musik, bahasa, dan puisi. Aristoteles juga mewariskan sistem logika yang mendasari
pengambilan kesimpulan dalam dialektika dan matematika. Pada usia 40 tahunan, ia menjadi
mentor Alexander Agung, yang kelak menjadi Raja Makedonia, Firaun Mesir, dan Raja Persia.
Sumber: [Link]
Alan Turing adalah seorang matematikawan yang juga ahli komputer. Ia lahir di London,
Inggris, pada tahun 1912, dan meninggal pada tahun 1954. Alan Turing dikenal sebagai
seorang genius. Pada usia 15 tahun, ia sudah bisa memecahkan soal matematika tingkat
universitas, padahal ia belum mengenal kalkulus. Pada usia 16 tahun (foto di bawah), ia sudah
bisa mengritik karya Albert Einstein.
Ketika Perang Dunia II, ia membantu Pemerintah Inggris Raya memecahkan kode rahasia yang
disadap dari lawan perang Inggris Raya, yaitu Jerman. Selain itu, Alan Turing juga dikenal
dengan “mesin Turing”-nya, yang mendasari bagaimana komputer bekerja. Mesin ini bukan
mesin fisik seperti yang sering kita lihat, tetapi mesin hipotetis yang memanipulasi simbol-
simbol pada suatu pita berdasarkan aturan tertentu (misal mengubah 0 menjadi 1 atau
sebaliknya).
Alan Turing juga dikenal dengan “bilangan yang dapat dihitung” (computable numbers). Ia
menunjukkan bahwa setiap bilangan real (termasuk bilangan irasional seperti π) dapat
dihitung dengan mesin ciptaannya, dalam pengertian bahwa angka desimal ke berapapun dari
bilangan tersebut dapat dihitung dalam waktu terhingga, dengan menggunakan sejumlah
terhingga pita.
Bila Adik-adik belum mengerti apa yang diceritakan di sini, tidak apa-apa. Ketika Adik-adik
beranjak besar nanti, Adik-adik dapat belajar lebih banyak tentang matematika dan semua
yang ditulis di atas akan menjadi jelas pada waktunya nanti.
Sumber: [Link]
Dik Jonas penasaran ya, ada ngga ahli matematika kelas dunia dari Indonesia? Kalau ada,
siapa dan di mana mereka bekerja?
Kalau Dik Jonas mampir ke situs [Link], di laman Sosok Panutan dalam
Pengembangan Ilmu Pengetahuan, ada nama-nama ilmuwan Indonesia yang berkiprah di
dunia. Nah, di antaranya ada beberapa matematikawan atau ahli matematika loh, misalnya
Yudi Pawitan, Fadil Santosa, dan Hadi Susanto.
Fadil Santosa adalah lulusan SMA Taruna Bakti, Bandung, yang kemudian hijrah ke Amerika
Serikat dan berkarier sebagai matematikawan di University of Minnesota sejak 1995. Sejak
awal, ia tertarik dengan penerapan matematika dalam industri. Ia pernah menjabat sebagai
direktur Minnesota Center for Industrial Mathematics — hebat kan? Tidak hanya itu, ia juga
pernah menjabat sebagai Deputy Director for Industrial Programs IMA pada periode 2001-
2004, dan kemudian diangkat sebagai Direktur IMA dari tahun 2008 hingga tahun 2017 yang
lalu.
Hadi Susanto saat ini menjabat sebagai Associate Professor dalam bidang matematika
terapan di University of Essex, Kerajaan Serikat (Eng. United Kingdom, yang sering secara
salah diterjemahkan sebagai “Inggris” saja). Ia termasuk matematikawan muda asal Indonesia
kelas dunia. Sekolah dasar dan menengahnya di Lumajang, Jawa Timur. Setelah lulus SMA, ia
kuliah di jurusan matematika, FMIPA-ITB, dan kemudian melanjutkan studi di Inggris. Sempat
menjadi dosen di University of Nottingham, ia kemudian pindah ke University of Essex hingga
sekarang. O ya, bila Dik Jonas pernah jalan-jalan ke toko buku dan melihat buku yang berjudul
“Tuhan Pasti Ahli Matematika”, itu adalah buku karangannya.
Selain ketiga matematikawan di atas, ada sejumlah matematikawan Indonesia yang berkarier
di Indonesia, tetapi kontribusinya tak kalah dengan matematikawan Indonesia yang berkarier
di luar negeri. Salah seorang di antaranya adalah Edy Tri Baskoro, yang saat ini sedang
menjabat sebagai Dekan FMIPA-ITB. Kalau Dik Jonas penasaran dengan sosok beliau, sila klik
saja namanya dan cari tahu apa yang dikerjakan olehnya.
Dik Jonas suka matematika kan? Jadi matematikawan itu keren juga loh!
Sumber: [Link]
Dulu, sebelum Indonesia merdeka, ada seorang putra Manado bernama GSSJ Ratulangi atau
Sam Ratulangi, yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Nah, ia mempunyai gelar doktor dalam bidang Matematika, yang diperolehnya dari
Universitas Zurich pada tahun 1919.
Jadi, kita mempunyai pahlawan nasional yang juga doktor matematika. Keren ya?
Sumber: [Link]