PENGARUH PADAT TEBAR TINGGI TERHADAP KUALITAS AIR DAN
PERTUMBUHAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) DENGAN PENAMBAHAN
NITROBACTER
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikan mas (Cyprinus carpio) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang disukai oleh
masyarakat karena rasanya yang enak dan memiliki nilai gizi yang tinggi. Seiring
berkembangnya pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya sumber protein yang berasal dari
ikan, maka dari itu kebutuhan ikan konsumsi dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring
bertambahnya jumlah penduduk (Rudiyanti and Ekasari 2009). Budidaya ikan mas memiliki
peranan penting dalam meningkatkan produksi perikanan untuk memenuhi kebutuhan pangan
dan gizi, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani
ikan. Dikalangan petani maupun masyarakat, ikan mas telah banyak dibudidayakan karena
tempatnya lebih mudah dijangkau yaitu pada sawah, kolam, dan air deras. Ikan mas juga dapat
dikembangbiakkan hanya dengan perbaikan lingkungan atau manipulasi lingkungan (Tilahwati,
2015).
Ekskresi ikan berasal dari katabolisme protein pakan dan dikeluarkan dalam bentuk
amonia dan urea yang berbahaya bagi ikan. Secara biologis, dialam dapat terjadi perombakan
amonia menjadi nitrat (NO3), suatu bentuk yang tidak berbahaya dalam proses nirifikasi,
terutama bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter (Kordi, 2012). Nitrobakter merupakan bakteri
nitrifikasi karena merupakan bakteri yang mengubah nitrit menjadi nitrat. Nitrobakter memiliki
pH optimum antara 7,3-7,5, tumbuh pada optimal pada suhu 38°C. Nitrobacter termasuk bakteri
aerob, pada umumnya berbentuk batang, seperti pir atau pleomorfhic dan berkembang biak
dengan budding (Grundman et al. 2000). Peranan bakteri Nitrobacter pada lingkungan
akuakultur yaitu sebagai pengelolaan senyawa amoniak, biodegradasi limbah tambak, dan
penambahan pada pakan ikan. Adapun tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh
padat tebar tinggi terhadap pertumbuhan ikan mas dengan penambahan Nitrobacter.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh padat tebar tinggi terhadap kualitas air dan pertumbuhan ikan mas
(cyprinus carpio) dengan penambahan nitrobacter?
C. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh padat tebar tinggi terhadap kualitas air dan pertumbuhan ikan mas
(cyprinus carpio) dengan penambahan nitrobacter.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Metodologi
Penelitian ini dilaksanakan selama 40 hari di Green House, Fakultas Pertanian, Universitas
Samudra. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat
perlakuan. Dan masing-masing perlakuan menggunakan 5 kali pengulangan Perlakuan A: padat
tebar 15 ekor/30 L; Perlakuan B: padat tebar 20 ekor/30 L; Perlakuan C: padat tebar 25 ekor/30
L dan Perlakuan D: padat tebar 30 ekor/30 L. Pengamatan ikan yang mati dilakukan setiap hari
dengan mencatat jumlahnya. Derajat kelangsungan hidup dihitung menggunakan rumus (Effendi,
1979), sebagai berikut :
SR = Nt x 100%
No
Keterangan : SR : derajat kelangsungan hidup (survival rate) (%)
Nt : jumlah ikan yang hidup pada akhir pemeliharaan (ekor)
No : jumlah ikan yang hidup pada awal pemeliharaan (ekor)
Pertumbuhan mutlak yaitu selisih dari bobot awal dengan bobot akhir. Pertumbuhan bobot
dilakukan dengan mengambil seluruh benih ikan mas setiap wadah dan kemudian hasilnya
dimasukkan ke dalam rumus (Huisman, 1987), sebagai berikut :
W = Wt –Wo
Keterangan : W : Pertumbuhan bobot mutlak (gram)
Wt : Bobot rata-rata pada akhir perlakuan (gram)
Wo: Bobot rata-rata pada awal perlakuan (gram)
Pertumbuhan panjang dilakukan dengan metode pengambilan sampling dengan mengambil
seluruh benih ikan mas dari setiap wadah dan hasilnya dimasukkan dalam rumus (Zonneveld et
al, 1991), sebagai berikut :
L = Lt – Lo
Keterangan :
L : Pertumbuhan panjang mutlak (m)
Lt : Panjang rata-rata ikan pada akhir perlakuan (m)
Lo : Panjang rata-rata pada awal perlakuan (m)
Menurut Takeuchi (1988), perhitungan laju pertumbuhan harian dapat dihitung dengan rumus :
LPH = LnWt-LnWo x 100%
Keterangan :
Wt : Bobot biomassa ikan uji pada akhir penelitian (g)
Wo: Bobot biomassa ikan uji pada awal penelitian (g)
t : Lama Penelitian (hari)
Parameter kualitas air media pemeliharaan ditentukan dengan mengukur parameter kualitas air
selama penelitian yang terdiri daari parameter fisika dan kimia yang ditentukan yaitu pH,
amoniak, nitrit, nitrat, DO dan suhu. Pengukuran kualitas air akan dilakukan setiap 7 hari sekali.
Data ini digunakan untuk menentukan kelayakan kualitas air media pemeliharaan selama
penelitian.
B. Hasil
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh padat tebar tinggi memberikan
pengaruh yang sangat nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan mas. Hasil uji jarak
berganda Duncan tersaji pada tabel 2.
Tabel 2. Rata-rata Kelangsungan Hidup Ikan Mas
Perlakuan Kelangsungan Hidup
A1 96,0 ± 2,62c
A2 95,0 ± 2,23c
A3 86,4± 2,99b
A4 75,8 ± 2,43a
Ket: Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut
uji jarak berganda Duncan (DMRT) pada α = 5%
Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil dari uji jarak berganda Duncan (DMRT) kelangsungan
hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan A1 yaitu sebesar 96,0 %,disusul oleh perlakuan A2 (95
%) kemudian diikuti perlakuan A3 (86,4%) dan paling rendah pada perlakuan A4 (75,8%).
Antara perlakuan A1 dan A2 secara statistik tidak berbeda nyata tetapi keduanya berbeda nyata
dengan perlakuan A3 dan A4.
1. Laju Pertumbuhan Bobot Mutlak
Hasil analisis yang dilakukan pada data penelitian menunjukkan bahwa pengaruh padat
tebar tinggi terhadap pertumbuhan ikan mas (Cyprinus carpio) dengan penambahan nitrobacter
pada media pemeliharaan memberikan pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan bobot
mutlak ikan mas (Cyprinus carpio).
Tabel 3. Rata-rata Laju Pertumbuhan Bobot Mutlak Ikan mas
Pertumbuhan Bobot Mutlak
Perlakuan
(gram)
A1 7,4± 0,50b
A2 6,6± 0,60ab
A3 5,8± 0,20a
A4 5,4± 0,24a
Ket: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut
uji jarak berganda Duncan (DMRT) pada α = 5%
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa hasil uji jarak berganda Duncan (DMRT) pertumbuhan
bobot tertinggi yaitu pada perlakuan A1 sebesar 7,4 gram diikuti oleh perlakuan A2 (6,6 gram),
kemudian perlakuan A3 (5,8 gram) dan yang terendah pada perlakuan A4 yaitu sebesar 5,4.
Perbedaan pertumbuhan ikan mas dari masing –masing perlakuan diduga karena jumlah
padat tebar benih ikan. Semakin tinggi jumlah padat tebar ikan, maka semakin lambat
pertumbuhan ikan. Menurut Handjani dan Hastuti (2002) dalam Telaumbana (2018) yang
menyatakan bahwa semakin tinggi kepadatan ikan maka akan mempengaruhi tingkah laku dan
fisiologi ikan terhadap ruang gerak yang menyebabkan pertumbuhan, pemanfaatan makanan
dan kelulus hidupan mengalami penurunan.
2. Laju Pertumbuhan Harian
Laju Pertumbuhan Harian (LPH) Hasil analisis sidik ragam pada penelitian menunjukkan
bahwa perbedaan padat tebar ikan mas memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju
pertumbuhan harian ikan mas dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rata-rata Laju Pertumbuhan Harian Ikan Mas
Perlakuan Laju Pertumbuhan Spesifik (gr)
A1 1,07 ± 0,08b
A2 1,00 ± 0,16b
A3 0,59± 0,19a
A4 0,46 ± 0,20a
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata
menurut uji jarak berganda Duncan (DMRT) pada α = 5%
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa hasil dari uji jarak berganda Duncan (DMRT)
menunjukkan bahwa pertumbuhan bobot harian tertinggi terdapat pada perlakuan A1 yaitu
sebesar 1,07 gram, diikuti oleh perlakuan A2 sebesar 1,00 gram, dan perlakuan A3 sebesar
0,59 gram dan pertumbuhan terendah terdapat pada perlakuan A4 sebesar 0,46 gram.
Kepadatan yang berbeda pada setiap perlakuan memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju
pertumbuhan harian ikan mas, diduga karena adanya kompetisi ruang gerak dan pakan
sehingga mengganggu proses pertumbuhan. Sesuai dengan pendapat Rahmat (2010), Anuar et
al, (2011) dan Agus et al (2014) bahwa pada padat tebar yang tinggi, akan mengakibatkan ikan
mempunyai daya saing yang tinggi dalam memanfaatkan makanan dan ruang gerak, sehingga
akan mempengaruhi laju pertumbuhan harian ikan tersebut.
3. Kualitas Air
Kualitas air merupakan faktor penting yang menunjang keberhasilan suatu usaha budidaya.
Selama penelitian pengukuran kualitas air meliputi suhu, pH, DO, nitrit, nitrat dan amoniak.
Hasil nilai rata-rata kualitas air selama penelitian dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 5. Rata-rata Kisaran Kualitas Air Selama Penelitian.
Perlakuan
Parameter Sumber Kelayakan
A1 A2 A3 A4
Suhu (OC) 29,7 29,6 29,7 29,7 14-38 0C (Santoso,1992)
DO (mg/L) 6,9 6,8 6,7 6,8 >3 mg/L (Kartamihardja, 1981)
Ph 6,7 6,5 6,6 6,7 6,5-8,5 (Pescod, 1973)
0,2 mg/L (Perkasa dan
Nitrit (mg/L) 0,001 0,001 0,001 0,001
Hisomudin, 2003)
Nitrat (mg/L) 3,5 4 6,7 7,5 <50 mg/L (Boham, 2004)
Amonia
0,25 0,67 2,0 2,25 <2,4 ppm (Chervinsky, 1982)
(ppm)
Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata suhu pada masa penelitian yaitu berkisar antara
29,6 oC - 29,7 oC. Kisaran suhu tersebut masih tergolong masih sesuai dan baik untuk budidaya
ikan mas, hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Makaminan (2011), bahwa kisaran suhu
optimum bagi kehidupan ikan adalah antara 25-32 0C.
C. Pembahasan
Tabel 2 menunjukkan bahwa kelangsungan hidup terendah terdapat pada perlakuan A4 yaitu
75,8 %, disebabkan karena pada perlakuan A4 memiliki padat tebar yang lebih tinggi yang
menyebabkan kurangnya ruang gerak pada ikan di dalam wadah penelitian sehingga tingkat
kematian ikan lebih besar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wedemeyer (1996), peningkatan
padat penebaran akan mengganggu proses fisiologi dan tingkah laku ikan terhadap ruang gerak
yang akhirnya menurunkan kondisi kesehatan dan fisiologis, pemanfaatan makanan,
pertumbuhan dan kelangsungan hidup.
Kematian ikan selama penelitian juga disebabkan karena keadaan habitat ikan yang kurang
cocok dengan wadah penelitian yang hanya menggunakan sistem airasi. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Saputra (2011), ikan mas dapat berkembang pesat di kolam dengan sistem
pengairannya yang mengalir, sawah, kakaban, dan sungai air deras.
Kisaran pH yang diperoleh selama penelitian untuk semua perlakuan berkisar antara 6,5 -
6,7. Nilai pH pada kisaran tersebut tergolong baik untuk budidaya ikan mas. Nilai pH yang baik
untuk budidaya ikan mas berkisar 6,5 – 8,5 Kisaran pH yang diperoleh selama penelitian untuk
semua perlakuan berkisar antara 6,5 - 6,7 (Wihardy, 2014).
Berdasarkan hasil pengukuran selama melakukan penelitian, kadar oksigen terlarut yang
didapatkan yaitu berkisar antara 6,7 – 6,9 mg/L. Menurut Swingle, (1968) yang menyatakan
bahwa kandungan oksigen dalam suatu perairan minimum sebesar 2 mg/L, sudah cukup
mendukung terhadap organisme perairan secara normal. Kandungan amonia pada setiap
perlakuan mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 0,25 – 2,25 ppm.
Kandungan amonia tersebut masih dalam kisaran yang dapat ditoleransi untuk budidaya ikan
mas. Hal ini sesuai dengan pendapat Chervinsky, (1982) kisaran konsentrasi amonia yang baik
untuk kehidupan ikan adalah kurang dari 2,4 mg/L. Kandungan nitrit dan nitrat yang diperoleh
selama pemeliharaan benih, yaitu nitrit sebasar 0,001 mg/L dan nitrat berkisar antara 3,5 – 7,5
mg/L. Kandungan nitrit selama pemeliharaan tersebut masih dalam kisaran yang baik. Hal ini
sesuai dengan pendapat Perkasa dan Hisomudin (2003) yang menyatakan bahwa normalnya
kandungan nitrit terlarut di dalam air adalah 0,2 mg/L sedangkan kandungan nitrat yang baik
yaitu 40 mg/L.
Konsentrasi amonia, nitrit dan nitrat pada media pemeliharaan untuk setiap perlakuan selama
penelitian relatif stabil pada kisaran yang dapat ditolerir oleh ikan. Resiko peningkatan
konsentrasi amonia dalam air dapat dihindari dengan adanya penambahan nitrobacter pada media
pemeliharaan. Dimana bakteri Nitrobacter akan mengubah nitrat menjadi nitrit sehingga
lingkungan menjadi stabil (Taufik et al.2005).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perbedaan padat
penebaran ikan mas memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap tingkat kelangsungan
hidup (Survival Rate), laju pertumbuhan harian (LPH), berpengaruh nyata terhadap laju
pertumbuhan bobot mutlak dan berpengaruh tidak nyata terhadap laju pertumbuhan panjang
mutlak ikan mas (Cyprinus carpio). Padat penebaran optimal untuk budidaya ikan mas pada
media pemeliharan adalah sebanyak 15 – 20 ekor/30 liter karena memberikan pertumbuhan dan
sintasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan padat tebar 30 – 35 ekor/30 liter.
B. Saran
Untuk itu perlu adanya pengetahuan terkait dengan padat penebaran tinggi ini dikalangan
masyarakat yang melakukan budidaya tambak ikan mas atau semcamnya, agar dapat pelaku
tambak bisa melakukan perhitungan yang cermat dan tepat sehingga perkembangan budidaya
tambaknya lebih berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M., F. Iqbal, A. Salam, S. Iram & M. Athar, 2005. Comparative study of body composition
of different fish speciesm from brackish water pond. int. J. Environ. Sci. Tech. 2(3): 229-
232.
Agus Putra A Samad, Nan Fan Hua, Lee Meng Chou. 2014. Effects of stocking density on
growth and feed utilization of grouper (Epinephelus coioides) reared in recirculation and
flow-through water system. African Journal of Agricultural Research. 9 (9): 812-822.
Anuar Hassan, Mohd Azmi Ambak, Agus Putra A Samad. 2011. Crossbreeding of
Pangasianodon hypophthalmus (Sauvage, 1878) and Pangasius nasutus (Bleeker, 1863)
and their larval development. Journal of Sustainability Science and Management. 6 (1):
28-35.
Chervinsky, J. 1982. Enviromental Physiology of Tilapia. In R. S. V. Pullin and R. H. Lowe. Mc
Connel (Editors) The Biology and Culture of Tilapias. ICLARM Manila
Effendi, M.I. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. Hal : 112
Grundmann, G.L., M. Neyra, and P. Normand. 2000. High-resolution phylogenetic analysis of
NO2 oxidizing Nitrobacter species using the rrs-rrl IGS sequence and rrl genes.
International Journal Systematic and Evolutionay Microbiology 50: 1893- 1898
Rahmat, F. 2010. Pembenihan Ikan Koi (Cyprinus carpio) Di Kelompok Tani Sumber Harapan,
Kabupaten Bliter, Provinsi Jawa Timur. Program Studi. Teknologi dan Manajemen
Perikanan Budidaya Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Rudiyanti, Siti, and Diana Ekasari. 2009. “Pertumbuhan Dan Survival Rate Ikan Mas ( Cyprinus
Carpio Linn ) Pada Berbagai Konsentrasi Pestisida Regent 0 , 3 G Growth and Survival
Rate of Cyprinus Carpio Linn Juvenile on Different Concentration of Regent 0 . 3 g
Pesticide .” Jurnal Saintek Perikanan 5(1): 49–54.