Rencana Tata Ruang Sumatera Selatan 2023-2043
Rencana Tata Ruang Sumatera Selatan 2023-2043
RANCANGAN
PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN
NOMOR … TAHUN …
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI SUMATERA SELATAN
TAHUN 2023 – 2043
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNUR SUMATERA SELATAN,
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian/ Definisi
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan kehidupannya.
2. Tata Ruang adalah wujud Struktur Ruang dan Pola Ruang.
3. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem
jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung
kegiatan sosial ekonomi Masyarakat yang secara hierarkis memiliki
hubungan fungsional.
4. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah
yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan
ruang untuk fungsi budi daya.
5. Rencana Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RTR adalah hasil
perencanaan tata ruang.
6. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses Perencanaan Tata Ruang,
Pemanfaatan Ruang, dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang.
7. Penyelenggaraan Penataan Ruang adalah kegiatan yang meliputi
pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan Penataan
Ruang.
8. Pengaturan Penataan Ruang adalah upaya pembentukan landasan
hukum bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat
dalam Penataan Ruang.
9. Pembinaan Penataan Ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja
Penataan Ruang yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, dan Masyarakat.
10. Pelaksanaan Penataan Ruang adalah upaya pencapaian tujuan
Penataan Ruang melalui pelaksanaan Perencanaan Tata Ruang,
Pemanfaatan Ruang, dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang.
11. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan
Struktur Ruang dan Pola Ruang yang meliputi penyusunan dan
penetapan RTR.
12. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan Struktur Ruang
dan Pola Ruang sesuai dengan RTR melalui penyusunan dan
pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
13. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan
tertib Tata Ruang.
14. Pengawasan Penataan Ruang adalah upaya agar Penyelenggaraan
Penataan Ruang dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
15. Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang yang selanjutnya disingkat
KKPR adalah kesesuaian antara rencana kegiatan Pemanfaatan Ruang
dengan RTR.
16. Konfirmasi Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang yang selanjutnya
disingkat konfirmasi KKPR adalah dokumen yang menyatakan
kesesuaian antara rencana kegiatan Pemanfaatan Ruang dengan RDTR.
17. Persetujuan KKPR yang selanjutnya disingkat persetujuan KKPR adalah
dokumen yang menyatakan kesesuaian antara rencana kegiatan
Pemanfaatan Ruang dengan RTR selain RDTR.
18. Rekomendasi Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang yang
selanjutnya disingkat rekomendasi KKPR adalah dokumen yang
menyatakan kesesuaian rencana kegiatan Pemanfaatan Ruang yang
didasarkan pada kebijakan nasional yang bersifat strategis dan belum
diatur dalam RTR dengan mempertimbangkan asas dan tujuan
Penyelenggaraan Penataan Ruang.
19. Wilayah adalah Ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta
segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
20. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi
daya.
21. Kawasan Lindung adalah Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya
alam dan sumber daya buatan.
22. Kawasan Budi Daya adalah Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi
utama untuk dibudi dayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber
daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan.
23. Kawasan Perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan
fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan
jasa, pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
24. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan
pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
25. Kawasan Strategis Nasional yang selanjutnya disingkat KSN adalah
wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai
pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara,
pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau
lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan
dunia.
26. Kawasan Strategis Provinsi yang selanjutnya disingkat KSP adalah
wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai
pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi,
sosial, budaya, dan/atau lingkungan serta merupakan bagian tidak
terpisahkan dari rencana tata ruang wilayah provinsi.
27. Pemangku Kepentingan adalah Orang atau pihak yang memiliki
kepentingan dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang yang meliputi
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah
kabupaten/ kota, dan Masyarakat.
28. Orang adalah perseorangan dan/atau korporasi.
29. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia yang dibantu oleh
Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
30. Daerah Provinsi adalah Daerah Provinsi Sumatera Selatan.
31. Pemerintah Daerah adalah Gubernur sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
32. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD
adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Selatan.
33. Gubernur adalah Gubernur Sumatera Selatan.
34. Daerah Kabupaten/Kota adalah Daerah Kabupaten/Kota dalam wilayah
Provinsi Sumatera Selatan.
35. Pemerintah Kabupaten/Kota adalah Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Selatan.
36. Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok orang termasuk
masyarakat hukum adat, korporasi, dan/atau Pemangku Kepentingan
non pemerintah lain dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang.
37. Forum Penataan Ruang adalah wadah di tingkat pusat dan daerah yang
bertugas untuk membantu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
dengan memberikan pertimbangan dalam Penyelenggaraan Penataan
Ruang.
38. Kawasan Hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau
ditetapkan oleh Pemerintah Pusat untuk dipertahankan keberadaannya
sebagai hutan tetap.
39. Laut adalah ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan
daratan dengan daratan dan bentuk-bentuk alamiah lainnya, yang
merupakan kesatuan geografis dan ekologis beserta segenap unsur
terkait, dan yang batas dan sistemnya ditentukan oleh peraturan
perundang-undangan dan hukum internasional.
40. Kawasan Konseryasi adalah kawasan yang mempunyai ciri khas tertentu
sebagai satu kesatuan ekosistem yang dilindungi, dilestarikan, dan
dimanfaatkan secara berkelanjutan.
41. Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut
yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan di laut.
42. Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut yang selanjutnya
disingkat KKPRL adalah kesesuaian antara rencana Kegiatan
Pemanfaatan Ruang Laut dengan RTR dan/atau RZ.
43. Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disingkat PKN adalah
Kawasan Perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala
internasional, Nasional, atau beberapa provinsi.
44. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disingkat PKW adalah
Kawasan Perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala
Provinsi atau beberapa Kabupaten/Kota.
45. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disingkat PKL adalah Kawasan
Perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala
Kabupaten/Kota atau beberapa kecamatan.
Bagian Kedua
Ruang Lingkup
Pasal 2
(1) Wilayah perencanaan RTRW Provinsi meliputi wilayah administrasi
Provinsi Sumatera Selatan yang terletak antara 102° 3’ 52” - 106° 19’
45” BT dan 1° 25’ 13” - 4° 55’ 17” LS.
(2) Wilayah perencanaan RTRW Provinsi mempunyai luas sebesar kurang
lebih 9.515.096 (sembilan juta lima ratus lima belas ribu sembilan puluh
enam) hektar meliputi:
a. Wilayah darat termasuk Pulau Kecil, dengan luas kurang lebih
8.715.490 (delapan juta tujuh ratus lima belas ribu empat ratus
sembilan puluh) hektar; dan
b. Wilayah laut sejauh 12 mil laut diukur dari garis pantai, dengan luas
kurang lebih 799.606 (tujuh ratus sembilan puluh sembilan ribu enam
ratus enam) hektar.
(3) Wilayah perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi 13
(tiga belas) kabupaten dan 4 (empat) kota yaitu:
a. Kabupaten Ogan Komering Ulu;
b. Kabupaten Ogan Komering Ilir;
c. Kabupaten Muara Enim;
d. Kabupaten Lahat;
e. Kabupaten Musi Rawas;
f. Kabupaten Musi Banyuasin;
g. Kabupaten Banyuasin;
h. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur;
i. Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan;
j. Kabupaten Ogan Ilir;
k. Kabupaten Empat Lawang;
l. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir;
m. Kabupaten Musi Rawas Utara;
n. Kota Palembang;
o. Kota Pagar Alam;
p. Kota Lubuk Linggau; dan
q. Kota Prabumulih.
(4) Batas wilayah perencanaan RTRW Provinsi meliputi:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Jambi;
b. Sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung;
c. Sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Lampung; dan
d. Sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Bengkulu.
Pasal 3
Muatan RTRW Provinsi meliputi:
a. Tujuan, kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah provinsi;
b. Rencana struktur ruang wilayah;
c. Rencana pola ruang wilayah;
d. Kawasan strategis provinsi;
e. Arahan pemanfaatan ruang wilayah;
f. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang;
g. Kelembagaan; dan
h. Peran serta masyarakat.
BAB II
TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI
PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI
Bagian Kesatu
Tujuan Penataan Ruang Wilayah Provinsi
Pasal 4
Tujuan Penataan Ruang Wilayah Provinsi adalah mewujudkan ruang wilayah
provinsi yang produktif, berkualitas dan harmonis berbasis potensi
sumberdaya lokal menuju provinsi unggul dan terdepan secara
berkelanjutan
Bagian Kedua
Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Provinsi
Pasal 5
Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Provinsi meliputi:
a. Pengembangan sistem pusat permukiman secara berhierarki, terpadu
dan berkualitas;
b. Pengembangan dan peningkatan konektivitas serta aksesibilitas sistem
jaringan prasarana wilayah yang berkualitas secara terpadu;
c. Pemantapan kawasan berfungsi lindung secara berkelanjutan;
d. Pengembangan fungsi budidaya secara produktif, terpadu dan
berkelanjutan berbasis potensi wilayah;
e. Pengembangan kawasan strategis berbasis potensi wilayah;
f. Pemanfaatan ruang secara produktif, harmonis dan berkelanjutan; dan
g. Pengendalian fungsi lindung dan fungsi budidaya secara berkelanjutan.
Bagian Ketiga
Strategi Penataan Ruang Wilayah Provinsi
Pasal 6
(1) Strategi kebijakan pengembangan sistem pusat permukiman secara
berhierarki, terpadu dan berkualitas, sebagaimana dimaksud dalam pasal
5 huruf a, meliputi:
a. Memantapkan dan meningkatkan fungsi PKN dan PKW;
b. Mengembangkan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dan sentra-sentra
produksi komoditas unggulan sumber daya alam dengan
memperhatikan keanekaragaman hayati;
c. Meningkatkan peran Pusat Kegiatan Lokal (PKL) sebagai kawasan
perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala
kabupaten/kota atau beberapa kecamatan;
d. Meningkatkan keterkaitan antar kawasan perkotaan dan antar
kawasan perkotaan dengan sentra produksi komoditas unggulan
sumber daya alam serta antar kawasan perkotaan dengan wilayah
sekitarnya, termasuk pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
e. Mengembangkan prasarana permukiman secara berkelanjutan yang
dapat memfasilitasi kegiatan ekonomi di wilayah sekitarnya.
(2) Strategi kebijakan pengembangan dan peningkatan konektivitas serta
aksesibilitas sistem jaringan prasarana wilayah yang berkualitas secara
terpadu, sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf b, meliputi:
a. Mengembangkan keterkaitan sarana dan prasarana transportasi darat,
laut, dan udara yang menghubungkan antar kawasan perkotaan;
b. Mengembangkan dan memantapkan jaringan transportasi dan akses
sarana dan prasarana transportasi darat antar pusat kegiatan
pelayanan perkotaan dan antar pusat kegiatan dengan masing-masing
wilayah pelayanan;
c. Mengembangkan dan memantapkan pelabuhan untuk mendukung
pelayaran regional, nasional, dan internasional;
d. Mengembangkan dan memantapkan bandar udara untuk mendukung
konektivitas regional, nasional, dan internasional;
e. Mengembangkan dan meningkatkan sistem jaringan energi secara
optimal serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan tenaga
listrik dalam mewujudkan provinsi sebagai lumbung energi nasional;
f. Mengembangkan jaringan telekomunikasi di kawasan perkotaan,
kawasan perdesaan dan kawasan pesisir;
g. Mengembangkan jaringan prasarana sumber daya air pada kawasan
permukiman dan kawasan pertanian yang terlayani; dan
h. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan jaringan prasarana
lainnya di seluruh kawasan perkotaan, kawasan perdesaan dan
kawasan pesisir.
(3) Strategi kebijakan pemantapan kawasan berfungsi lindung secara
berkelanjutan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf c, meliputi:
a. Menetapkan kawasan berfungsi lindung darat dan perairan sesuai
dengan kondisi ekosistemnya;
b. Mempertahankan luasan kawasan bervegetasi hutan tetap yang
memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;
c. Melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati tumbuhan dan
satwa pada kawasan berfungsi lindung;
d. Memulihkan dan memelihara kawasan berfungsi lindung yang
terdegradasi serta menjaga keseimbangan ekosistem wilayah; dan
e. Menetapkan kawasan konservasi perairan sesuai potensi luas wilayah
perairan.
(4) Strategi kebijakan pengembangan fungsi budidaya secara produktif,
terpadu dan berkelanjutan berbasis potensi wilayah, sebagaimana
dimaksud dalam pasal 5 huruf d, meliputi:
a. Mengembangkan dan meningkatkan kawasan pertanian serta
mempertahankan kawasan pertanian pangan berkelanjutan
mendukung ketahanan pangan nasional;
b. Mengembangkan potensi sektor perikanan yang didukung teknologi
tepat guna dan ramah lingkungan;
c. Mengembangkan potensi sektor pertambangan dan energi dengan
memperhatikan daya dukung lingkungan;
d. Mengembangkan kawasan peruntukan industri didukung teknologi
tepat guna dan ramah lingkungan;
e. Mengembangkan kawasan pariwisata unggulan termasuk obyek
wisata bahari yang berwawasan lingkungan dan berciri lokal; dan
f. Meningkatkan produktivitas sumber daya alam dan komoditas
unggulan serta pengembangan keterkaitan hulu dan hilir.
(5) Strategi kebijakan pengembangan kawasan strategis berbasis potensi
wilayah, sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf e, meliputi:
a. Menetapkan dan mengembangkan kawasan strategis sudut
kepentingan pertumbuhan ekonomi berbasis klaster pengembangan
wilayah;
b. Menetapkan dan mengembangkan kawasan strategis sudut
kepentingan pertumbuhan ekonomi pada koridor pusat industri
pengolahan dan pusat industri jasa hasil pengolahan komoditas
unggulan sumber daya alam; dan
c. Menetapkan dan mengembangkan kawasan strategis sudut
kepentingan fungsi lingkungan hidup pada wilayah yang perlu dijaga
kelestarianya.
(6) Strategi kebijakan pemanfaatan ruang secara produktif, harmonis dan
berkelanjutan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf f, meliputi:
a. Memanfaatkan, mengoptimalkan, dan membatasi pemanfaatan ruang
pada kawasan berfungsi lindung;
b. Memanfaatkan dan mengoptimalkan pemanfaatan ruang pada
kawasan berfungsi budidaya; dan
c. Menguatkan nilai-nilai budaya lokal masyarakat dalam pengelolaan
dan pemanfaatan sumber daya termasuk di pesisir dan pulau-pulau
kecil;
(7) Strategi kebijakan pengendalian fungsi lindung dan fungsi budi daya
secara berkelanjutan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf g,
meliputi:
a. Mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan di kawasan rawan
bencana dan kawasan pertanian pangan berkelanjutan;
b. Menata kembali kawasan permukiman dan kawasan permukiman
masyarakat adat yang berada di kawasan berfungsi lindung;
c. Mengendalikan kegiatan pemanfaatan ruang di bagian hulu wilayah
sungai, kawasan hutan lindung, kawasan resapan air, dan kawasan
konservasi;
d. Mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya tidak
terbangun di sekitar kawasan strategis nasional sebagai zona
penyangga yang memisahkan kawasan strategis nasional dengan
kawasan budidaya terbangun; dan
e. Membatasi pengembangan prasarana wilayah di sekitar kawasan
lindung untuk menghindari tumbuhnya kegiatan perkotaan yang
mendorong alih fungsi lahan kawasan lindung.
BAB III
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 7
(1) Rencana Struktur Ruang Wilayah meliputi:
a. sistem pusat permukiman;
b. sistem jaringan transportasi;
c. sistem jaringan energi;
d. sistem jaringan telekomunikasi;
e. sistem jaringan sumber daya air; dan
f. sistem jaringan prasarana lainnya.
(2) Rencana Struktur Ruang Wilayah digambarkan dalam peta dengan
tingkat ketelitian 1:250.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I
yang merupakan satu kesatuan dan sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Sistem Pusat Permukiman
Pasal 8
(1) Sistem pusat permukiman sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat (1)
huruf a meliputi:
a. PKN:
b. PKW; dan
c. PKL.
(2) PKN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa PKN
Patungraya Agung (Palembang – Betung – Indralaya – Kayu Agung);
(3) PKW sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. PKW Prabumulih;
b. PKW Muara Enim;
c. PKW Lubuklinggau;
d. PKW Sekayu;
e. PKW Baturaja; dan
f. PKW Lahat.
(4) PKL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. PKL Kayu Agung;
b. PKL Indralaya;
c. PKL Pagar Alam;
d. PKL Martapura;
e. PKL Tebingtinggi;
f. PKL Muara Beliti;
g. PKL Muaradua;
h. PKL Pangkalan Balai;
i. PKL Talang Ubi/Pendopo;
j. PKL Muara Rupit;
k. PKL Gumawang;
l. PKL Tanjung Lago;
m. PKL Sungsang;
n. PKL Sungai Lilin;
o. PKL Tugumulyo;
p. PKL Peninjauan;
q. PKL Air Sugihan;
r. PKL Ulu Musi;
s. PKL Bayung Lencir;
t. PKL Muara Lakitan;
u. PKL Pengandonan; dan
v. PKL Sungai Lumpur.
(5) Sistem pusat permukiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terintegrasi dengan pusat pertumbuhan kelautan dan perikanan meliputi:
a. PKL Sungsang terintegrasi dengan Kawasan Pariwisata Banyuasin II,
Kabupaten Banyuasin dan PKL Sungai Lumpur terintegrasi dengan
kawasan Pariwisata Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir;
b. PKL Sungsang terintegrasi dengan Kawasan Peti Kemas dan
Pergudangan Tanjung Api-api;
c. PKL Sungsang terintegrasi dengan Kawasan terpadu industri,
perdagangan dan jasa, dan simpul transportasi Tanjung Api-Api;
d. PKN Patungraya Agung terintegrasi dengan Kawasan pelabuhan
perikanan meliputi:
1. Pelabuhan Perikanan Jakabaring;
2. Pelabuhan Perikanan Sungsang; dan
3. Pelabuhan Perikanan Tanjung Carat.
e. PKL Sungai Lumpur terintegrasi dengan Kawasan pelabuhan perikanan
Pelabuhan Perikanan Sungai Lumpur;
(3) Sistem pusat permukiman digambarkan dalam peta dengan tingkat
ketelitian 1:250.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I.A yang
merupakan satu kesatuan dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Ketiga
Sistem Jaringan Transportasi
Paragraf 1
Umum
Pasal 9
(1) Sistem jaringan transportasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat
(1) huruf b meliputi:
a. sistem jaringan jalan;
b. sistem jaringan kereta api;
c. sistem jaringan sungai, danau, dan penyeberangan;
d. sistem jaringan transportasi laut; dan
e. bandar udara umum dan bandar udara khusus
(2) Sistem jaringan transportasi digambarkan dalam peta dengan tingkat
ketelitian 1:250.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I.B yang
merupakan satu kesatuan dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 2
Sistem Jaringan Jalan
Pasal 10
(1) Sistem jaringan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a
meliputi:
a. Jalan umum;
b. Jalan tol;
c. Terminal penumpang;
d. Terminal barang; dan
e. Jembatan timbang.
(2) Jalan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Jalan arteri primer;
b. Jalan kolektor primer 1; dan
c. Jalan kolekor primer 2.
(3) Jalan arteri primer sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a meliputi:
1. Ruas Bts. Prov. Jambi – Peninggalan;
2. Ruas Peninggalan – Sei Lilin;
3. Ruas Sei Lilin – Betung;
4. Ruas Betung – Bts. Kota Palembang;
5. Ruas Jln. Kolonel H. Burlian (Palembang);
6. Ruas Jln. Sutan Mahmud Badarudin (Palembang);
7. Ruas Jln. Jenderal Sudirman (Palembang);
8. Ruas Jln. Veteran (Palembang);
9. Ruas Jln. Perintis Kemerdekaan (Palembang)
10. Ruas Jln. Kolonel Nur Amin (Palembang)
11. Ruas Jln. Laksamana Yos Sudarso (Palembang)
12. Ruas Jln. R.E. Martadinata (Palembang)
13. Ruas Jln. H. Abdul Rozak / Patal Pusri / Monginsidi (Palembang)
14. Ruas Jln. R. Sukamto (Palembang)
15. Ruas Jln. Basuki Rahmat (Palembang)
16. Ruas Jln. Demang Lebar Daun (Palembang)
17. Ruas Jln. Prameswara (Palembang)
18. Ruas Jln. Slamet Riyadi (Palembang) (Akses Pelabuhan Laut Boom
Baru)
19. Ruas Bts. Kota Palembang - Simpang Indralaya
20. Ruas Jln. Riacudu (Palembang)
21. Ruas Jln. Rasid Sidik (Palembang)
22. Ruas Jln. Ki Wahid Hasyim (Palembang)
23. Ruas Jln. Ki Merogan (Palembang)
24. Ruas Jln. Sri Jaya Raya (Palembang)
25. Ruas Jln. H.A. Bastari (Palembang)
26. Ruas Jln. Akses Bandara (Palembang)
27. Ruas Jln. Letjen. Harun Sohar (Palembang)
28. Ruas Jln. Soekarno-Hatta (Palembang)
29. Ruas Jln. Letjen. H. Alamsyah Ratu Perwiranegara (Palembang)
30. Ruas Jln. Mayjen. Yusuf Singadekane (Palembang)
31. Ruas Jln. Lingkar Selatan (Palembang)
32. Ruas Simpang Indralaya - Meranjat
33. Ruas Meranjat - Bts. Kota Kayu Agung
34. Ruas Bts. Kota Kayu Agung - Sp. Penyandingan
35. Ruas Sp. Penyandingan - Bts. Prov. Lampung
36. Ruas Bts. Prov. Jambi - Maur
37. Ruas Maur - Terawas
38. Ruas Terawas - Bts. Kota Lubuk Linggau
39. Ruas Jln. Jend. A. Yani / Jln. Lintas Sumatera (Lb. Linggau)
40. Ruas Jln. Yos Sudarso (Lb. Linggau) (Sp. Periuk - Lb. Linggau)
41. Ruas Simpang Periuk - Muara Beliti
42. Ruas Jln. Yos Sudarso / Jln. Ke Muara Beliti (Lb. Linggau)
43. Ruas Muara Beliti - Bts. Kab. Musi Rawas
44. Ruas Bts. Kab. Musi Rawas - Tebing Tinggi
45. Ruas Tebing Tinggi - Jembatan Kikim Besar/Km. 256
46. Ruas Jembatan Kikim Besar/Km. 256 - Bts. Kota Lahat
47. Ruas Jln. Jend. Ahmad Yani (Lahat)
48. Ruas Jln. Letnan Marzuki (Lahat)
49. Ruas Bts. Kota Lahat - Muara Enim
50. Ruas Jln. Kol. Burlian (Lahat)
51. Ruas Jln. Muhammad Nuh (Lahat)
52. Ruas Jln. Prof. Emil Salim (Lahat)
53. Ruas Jln. Harun Sohar (Lahat)
54. Ruas Bts. Kota Muara Enim - Simpang Sugih Waras
55. Ruas Jln. Ahmad Yani (Muara Enim)
56. Ruas Simpang Sugih Waras - Bts. Kota Baturaja
57. Ruas By Pass II / Jl. Garuda (Baturaja)
58. Ruas By Pass I / Jl. Garuda (Baturaja)
59. Ruas Bts. Kota Baturaja - Sungai Tuha
60. Ruas Sungai Tuha-Tanjung Kemala (Martapura)
61. Ruas Tanjung Kemala (Martapura) - Batas Prov. Lampung
62. Ruas Simpang Indralaya - Bts. Kab. Ogan Ilir/[Link]. Muara Enim
63. Ruas Bts. Kab. Ogan Ilir/Bts. Kab. Muara Enim - Bts. Kota Prabumulih
64. Ruas Jln. Sudirman 1 (Prabumulih)
65. Ruas Bts. Kota Prabumulih - Sp. Belimbing
66. Ruas Jln. Sudirman 2 (Prabumulih)
67. Ruas Sp. Belimbing - Bts. Kota Muara Enim
68. Ruas Jln. Sudirman (Muara Enim)
69. Ruas Jln. Sultan Mahmud Badarudin II (Muara Enim)
70. Ruas Jln. Garuda (Lb. Linggau) (Lb. Linggau - Bts. Prov. Bengkulu)
71. Ruas Betung – Bts Kota Sekayu
72. Ruas Jln Arah Ke Betung (Sekayu)
73. Ruas Jln Lingkar Sekayu (Sekayu)
74. Ruas Bts. Kota Palembang/Bts. Kab. Banyuasin - Tj. Api-Api
75. Ruas Sp. Bandara SMB II - Bts. Kota Palembang/Bts. Kab. Banyuasin
76. Ruas Akses Terminal Alang-Alang Lebar
77. Ruas Jln. Lingkar Kemelak (Baturaja)
78. Ruas Celikah - Kayu Agung
79. Ruas Jln. A. Yani (Palembang)
80. Ruas Jln. Lingkar Timur Kota Prabumulih
(4) Jalan kolektor primer 1 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b
meliputi:
1. Ruas Bts. Kota Sekayu - Mangunjaya
2. Ruas Mangun Jaya - Bts. Kab. Muba/Bts. Kab. Mura
3. Ruas Bts. Kab. Muba/Bts. Kab. Mura - Muara Beliti
4. Ruas Bts. Kota Lahat - Simpang Air Dingin
5. Ruas Jln. Mayor Ruslan I (Lahat)
6. Ruas Simpang Air Dingin - Pagar Alam
7. Ruas Pagar Alam - Tanjung Sakti - Bts. Prov. Bengkulu
8. Ruas Prabumulih - Beringin
9. Ruas Beringin - Bts. Kab. Oku
10. Ruas Bts. Kab. Oku - Baturaja
(5) Jalan kolektor primer 2 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c
meliputi:
1. Ruas Plaju - Sp. Sungai Pinang. Bts. Kab OKI
2. Ruas Jln. DI Panjaitan (Palembang)
3. Ruas Jln. Kapt. Abdullah - Jln. Robani Kadir
4. Ruas Bts. Kab. Banyuasin - Kayuagung
5. Ruas Jln. Kapten A. Rivai (Palembang)
6. Ruas Jln. Angkatan 45 (Palembang)
7. Ruas Jln. Jaksa Agung R Suprapto (Palembang)
8. Ruas Jln. Srijaya Negara (Palembang)
9. Ruas Jln. Radial (Palembang)
10. Ruas Jln. Sultan M. Mansyur (Palembang)
11. Ruas Jln. Kol. Atmo (Palembang)
12. Ruas Jln. Merdeka (Palembang)
13. Ruas Jln. Diponegoro (Palembang)
14. Ruas Jln. Psw. Subekti (Palembang)
15. Ruas Jln. Letkol Iskandar (Palembang)
16. Ruas Jln. Lingkar Masjid Agung / Jln. Cik Agus Kemas (Palembang)
17. Ruas Jln. Lettu Karim Kadir (Gandus) - Bts. Kab. Banyuasin
18. Ruas Jln. Pangeran Ratu - Pasar Induk - Sp. Jl. Pendidikan
19. Ruas Jl Pendidikan - Jln. Lingkar Selatan (Palembang)
20. Ruas Jln. M. Isa (Palembang)
21. Ruas Jln. AKBP Cek Agus (Palembang)
22. Ruas Jln. MP. Mangkunegara (Palembang)
23. Ruas [Link] Ayin (Kota Palembang) - Bts. Banyuasin
24. Ruas Bts. Kota Palembang - Kenten Laut (Banyuasin)
25. Ruas Jln. Talang Keramat (Banyuasin)
26. Ruas Jln. Mayor Zen (Palembang)
27. Ruas Jln. Adi Sucipto - Bts. Kab. Banyuasin (Palembang)
28. Ruas Jln. Noerdin Pandji (Palembang)
29. Ruas Sp. Meranjat - Bts Kab. Muara Enim
30. Ruas Bts. Kab. Ogan Ilir - Beringin
31. Ruas Jln. Soetomo (Batu Raja)
32. Ruas Tanjung Raja - Sp. Tambang Rambang
33. Ruas Sp. Tambang Rambang - Bts. Kab. OKI
34. Ruas Bts. Kab. Ogan Ilir - Lubuk Batang
35. Ruas Sp. Penyandingan - Bts. Kab. OKUT
36. Ruas Bts. Kab. OKI - Sp. Kepuh
37. Ruas Sp. Kepuh - Kurungan Nyawa
38. Ruas Kurungan Nyawa - Martapura
39. Ruas Kurungan Nyawa-Gumawang
40. Ruas Gumawang - Pettanggan
41. Ruas Petanggan - Tj. Kemuning - Bts. Kab. OKI
42. Ruas Dabuk Rejo - Bts. Kab. OKUT
43. Ruas Baturaja - Bts. Kab. OKUT
44. Ruas Bts. Kab. OKU - Sp. Martapura
45. Ruas Martapura - Sp. Martapura
46. Ruas Sp. Martapura - Muara Dua
47. Ruas Muara Dua - Kota Batu - Bts. Prov. Lampung
48. Ruas Muara Dua - Sp. Aji
49. Ruas Sp. Aji - Sp. Campang
50. Ruas Sp. Campang - Ujan Mas - Bts. Prov. Bengkulu
51. Ruas Sekayu - Bts. Kab. PALI
52. Ruas Bts. Kab. MUBA - Sp. Air Itam
53. Ruas Sp. Air Itam - Sp. Talang Bulang
54. Ruas Sp. Sugi Waras - Bts. Kab. Lahat
55. Ruas Bts. Kab. Muara Enim - Sp. Air Dingin
56. Ruas Tebing Tinggi - Tanjung Raya
57. Ruas Tanjung Raya - Bts. Bts. Prov. Bengkulu
58. Ruas Pagar Alam - Tanjung Raya
59. Ruas Muara Siban - Sp. Embacang
60. Ruas Sp. Periuk - Tugu Mulyo - Terawas
61. Ruas Terawas - Tabatinggi - Maur
62. Ruas Bts. Kab. Muara Enim - Payaraman
63. Ruas Lembak - Bts. Kab. Ogan Ilir
64. Ruas Jln. Saung Naga - Tugu Batu Kuning
65. Ruas Jln. KTM Rambutan - Bts. Kab. Muara Enim
66. Ruas Jln. Akses Menuju Kebun Raya Sriwijaya - Bts. Kab. Ogan Ilir
67. Ruas Jln. Prabumulih - Sp. Meo
68. Ruas Jln. Sp. Belimbing - Pendopo (Pali)
69. Ruas Jln. Akses Menuju TPI Sungsang (Banyuasin)
70. Ruas Bts. Kota Palembang - Sukomoro (Banyuasin)
71. Ruas Bts. Kota Palembang - Sukajadi (Banyuasin)
72. Ruas Tebing Tinggi - Pendopo
73. Ruas Tj. Cermin - Pengandonan
74. Ruas Keban Agung - Sp. Tj. Aro
75. Ruas Muara Rupit - Karang Dapo - Sp.4 Kelinci IV/A (Bts. MURA)
76. Ruas Jln. Handayani - Tugumulyo
77. Ruas Bts. Kab. PALI -Sp. Semambang
78. Ruas Sp. 3 Marga Baru (Bts. Muratara) - Muara Lakitan
79. Ruas Sp. Lima Pendopo (Kab. PALI) - Bts. Kab. Mura
80. Ruas Sp. Raja -Modong
81. Ruas Lembak - Gelumbang
82. Ruas Sungai Dua - Sp. Inpres RSA - Muara Sugihan
83. Ruas Sp. Inpres RSA - Muara Padang
84. Ruas Muara Padang - Muara Sugihan
85. Ruas Sp. OPI - Babatan Saudagar - Srijabo
86. Ruas Trans Sp. 2 Tanah Abang - Sp. Tanah Abang
87. Ruas Sumbu Sari - Surya Adi
88. Ruas Lubuk Seberuk - Sumbu Sari
89. Ruas Betung - Petanggan
90. Ruas Gumawang - Rasuan (Sp. Kepuh)
91. Ruas Jl Akses Jembatan Cempaka - Trans Sp. 2 Tanah Abang
92. Ruas Jl Mata Merah (Kota Palembang) - Jl Merah Mata (Kab.
Banyuasin)
93. Ruas Akses Jalan Pesisir Timur Kabupaten OKI (Lempuing Jaya –
Cengal – Tulung Selapan – Sungsang) (Pembangunan Jalan Baru)
94. Akses Bandara Atung Bungsu (Peningkatan)
95. Akses Bandara Silampari (Peningkatan Status)
96. Akses KI Muara Enim (Peningkatan Status)
97. Babat – Keluang (Peningkatan Status)
98. Sekayu – Keluang – Peninggalan (Peningkatan Status)
99. Jl Sukarami – Jl Tanah Abang Keluang (Peningkatan Status);
(6) Jalan tol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
1. Jalan Tol Palembang – SP. Indralaya – Muara Enim – Lahat –
Lubuklinggau – Bengkulu;
2. Jalan Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung –
Palembang – Betung (Sp. Sekayu) – Tempino – Jambi;
3. Jalan Tol Palembang – Tanjung Api-Api/ Tanjung Carat; dan
4. Jalan Tol Muara Enim – Baturaja – Kota Bumi (Provinsi Lampung).
(7) Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
meliputi:
a. Terminal penumpang Tipe A yang berlokasi di Kota Palembang, Kota
Lubuklinggau, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kabupaten Ogan
Komering Ulu, Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten Lahat; dan
b. Terminal penumpang Tipe B yang berlokasi di seluruh wilayah
kabupaten/kota.
(8) Terminal Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d berlokasi
di Kota Pagar Alam, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten OKU Timur,
Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Lahat, Kabupaten Banyuasin, dan
Kota Palembang.
(9) Jembatan timbang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e,
meliputi:
a. Jembatan timbang yang berada pada jalan nasional berlokasi di Kota
Lubuklinggau, Kabupaten OKI, Kabupaten OKU Timur, Kabupaten
Lahat, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Kabupaten Mus Rawas Utara.
b. Jembatan timbang yang berada pada jalan provinsi berlokasi di
seluruh Kabupaten/ Kota.
Pasal 11
(1) jaringan jalan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2)
dapat berubah status dan fungsinya.
(2) Perubahan status dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan oleh Menteri yang membidangi urusan jalan dan Gubernur
sesuai kewenangan masing-masing
Paragraf 3
Sistem Jaringan Kereta Api
Pasal 12
(1) Sistem jaringan kereta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1)
huruf b meliputi:
a. Jaringan jalur kereta api; dan
b. Stasiun kereta api.
(2) Jaringan jalur kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
meliputi:
a. Kertapati – Prabumulih;
b. Prabumulih – Lubuklinggau;
c. Prabumulih – Tarahan/Lampung;
d. Jambi – Betung – Simpang;
e. Simpang – Kayu Agung – Lampung;
f. Tanjung Enim – Tanjung Api-Api/ Tanjung Carat;
g. Simpang – Tanjung Carat;
h. Simpang – Perajen;
i. Shortcut Tanjung Enim – Baturaja;
j. Kereta api regional Palembang – Betung – Indralaya (Patungraya)
k. Kereta api Light Rail Transit (LRT) Sumatera Selatan (Metro
Palembang);
(3) Stasiun kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b yang
akan mendukung sistem jaringan perkeretaapian meliputi:
a. Stasiun KA di daerah Kabupaten Empat Lawang, Kota Lubuk Linggau,
Kota Palembang, Kota Prabumulih, Kabupaten Lahat, Kabupaten
Muara Enim, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu, dan
Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.
b. stasiun penumpang angkutan umum masal berbasis rel (Light Rail
Transit) di Kota Palembang dan stasiun lainnya sesuai hasil kajian
serta peraturan perundang-undangan.
(4) Penambahan dan penetapan sistem jaringan kereta api lainnya diatur
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 4
Sistem Jaringan Sungai, Danau, dan Penyeberangan
Pasal 13
(1) Sistem jaringan sungai, danau dan penyeberangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c meliputi:
a. Alur pelayaran sungai dan alur pelayaran danau;
b. Lintas penyeberangan antar provinsi;
c. Lintas penyeberangan antar kabupaten/kota dalam provinsi;
d. Pelabuhan sungai dan danau; dan
e. Pelabuhan penyeberangan.
(2) Alur Pelayaran Sungai dan Alur Pelayaran Danau sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a, yaitu alur pelayaran pada sungai Banyuasin,
Sungai Telang, Sungai Lumpur, Sungai Musi, Sungai Mesuji, Danau
Ranau, dan Danau Rayo.
(3) Lintas Penyeberangan Antar Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b, yaitu Pelabuhan Tanjung Api-api - Tj. Kelian (Babel) dan
Pelabuhan Sungai Lumpur - Toboali (Babel).
(4) Lintas Penyeberangan Antar Kabupaten/ Kota dalam Provinsi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi:
a. Pelabuhan Desa Srimenanti -Pelabuhan Karang Baru;
b. Pelabuhan Delta Upang - Pelabuhan Air Saleh; dan
c. Pelabuhan Mesuji (Sumsel) - Pelabuhan Tanjung Tapa.
(5) Pelabuhan Sungai dan Danau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
d berada di Kabupaten Banyuasin, Kota Palembang, Kabupaten Lahat,
Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Musi
Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten
OKI, Kabupaten OKU, Kabupaten OKU Selatan, Kabupaten OKU Timur,
dan Kabupaten Penukal Adab Lematang Ilir.
(6) Pelabuhan Penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e
berada di Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten OKI.
(7) Penambahan dan penetapan sistem jaringan sungai, danau, dan
penyeberangan lainnya diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(8) pelabuhan sungai, danau dan penyeberangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (5) dan ayat (6) di wilayah provinsi, tercantum dalam Lampiran
I.C yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 5
Sistem Jaringan Transportasi Laut
Pasal 14
(1) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
ayat (1) huruf d meliputi:
a. Pelabuhan laut; dan
b. Alur pelayaran laut.
(2) Pelabuhan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pelabuhan utama terletak di daerah Kota Palembang (Pelabuhan
Boom Baru) dan Kabupaten Banyuasin (Pelabuhan Tanjung Carat);
b. Pelabuhan pengumpul terletak di daerah Kabupaten Banyuasin
(Pelabuhan Tanjung Api-Api),
c. Pelabuhan pengumpan berupa pelabuhan pengumpan regional,
meliputi:
1. Pelabuhan di daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir (Pelabuhan
Sungai Lumpur);
2. Pelabuhan di daerah Kota Palembang (Pelabuhan Kertapati); dan
3. Pelabuhan di daerah Kabupaten MUBA (Pelabuhan Sungai Lilin).
d. Pelabuhan pengumpan berupa pelabuhan pengumpan lokal, meliputi:
1. Pelabuhan di daerah Kabupaten Banyuasin meliputi Pelabuhan
Sungsang, Pelabuhan Karang Agung, Pelabuhan Gasing,
Pelabuhan Penuguan, Pelabuhan Sungai Sembilang, dan
Pelabuhan Tanjung Lago.
2. Pelabuhan di daerah Kabupaten Musi rawas yaitu Pelabuhan Musi
Rawas.
3. Pelabuhan di daerah Kabupaten Musi Banyuasin meliputi
Pelabuhan Bayung Lencir.
4. Pelabuhan di daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir meliputi
Pelabuhan Mesuji dan Pelabuhan Sugihan.
5. Pelabuhan di daerah Kota Palembang meliputi Pelabuhan Gandus,
Pelabuhan Jakabaring, dan Pelabuhan Prambatan.
e. Terminal umum terdapat di daerah Kabupaten Banyuasin (Pelabuhan
Tanjung Carat) dan Kota Palembang (Pelabuhan Sungai Lais);
f. Terminal khusus terdapat di daerah Kabupaten Banyuasin, Kabupaten
Muara Enim, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas,
Kabupaten Musi Rawas Utara, Kabupaten Ogan Komering Ilir,
Kabupaten PALI, dan Kota Palembang; dan
g. Pelabuhan Perikanan berupa Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI),
meliputi:
1. Pelabuhan Perikanan di daerah Kabupaten Banyuasin yaitu PPI
Sungsang dan PPI Tanjung Carat;
2. Pelabuhan Perikanan di daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir
yaitu PPI Sungai Lumpur.
3. Pelabuhan Perikanan di daerah Kota Palembang yaitu PPI
Jakabaring.
(3) Alur Pelayaran Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
meliputi:
a. Alur pelayaran umum dan perlintasan terdapat di perairan Sumatera
Selatan meliputi:
1. Alur Pelayaran Internasional berupa alur laut kepulauan indonesia
2. Alur Pelayaran Nasional (Banyuasin - Bangka Belitung)
b. Alur pelayaran masuk pelabuhan meliputi alur pelayaran masuk
Pelabuhan Tanjung Api-Api, Pelabuhan Tanjung Carat, Pelabuhan Air
Sugihan, dan Pelabuhan Tulung Selapan.
(4) Penambahan dan penetapan sistem jaringan transportasi laut lainnya
diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 6
Bandar Udara Umum dan Bandar Udara Khusus
Pasal 15
(1) Bandar udara umum dan bandar udara khusus sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1) huruf e meliputi:
a. Bandar udara pengumpul;
b. Bandar udara pengumpan; dan
c. Bandar udara khusus.
(2) Bandar udara pengumpul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
terletak di daerah Kota Palembang yaitu Bandar Udara Sultan Mahmud
Badarudin II.
(3) Bandar udara pengumpan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
meliputi:
a. Bandar Udara Silampari di Kota Lubuklinggau;
b. Bandar Udara Atung Bungsu di Kota Pagar Alam; dan
c. Bandar Udara Banding Agung di Kabupaten Ogan Komering Ulu
Selatan.
(4) Bandar udara khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
meliputi:
a. Bandar Udara Abdul Hamid, Sekayu, Musi Banyuasin
b. Bandar Udara Ex Stanvac Pendopo, PALI
c. Bandar Udara Tanjung Enim, Muara Enim
(5) Penambahan dan penetapan bandar udara umum dan bandar udara
khusus lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Pengaturan ruang udara untuk penerbangan, diatur lebih lanjut pada
ketentuan khusus.
Bagian Keempat
Sistem Jaringan Energi
Paragraf 1
Umum
Pasal 16
Sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf
c meliputi:
a. Jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi; dan
b. Jaringan infrastruktur ketenagalistrikan
Paragraf 2
Jaringan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi
Pasal 17
(1) Jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 huruf a meliputi:
a. Infrastruktur minyak dan gas bumi; dan
b. Jaringan minyak dan gas bumi.
(2) Infrastruktur minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a meliputi:
a. Kilang LPG berada di Kota Prabumulih dan Kabupaten Ogan Ilir;
b. Kilang Minyak berada di Kota Palembang, Kabupaten Musi Banyuasin
dan Kabupaten Banyuasin;
c. Sumur Gas Bumi berada di Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Musi
Rawas dan Kabupaten Musi Banyuasin;
d. Terminal CNG berada di Kota Palembang;
e. Depot LPG berada di Kota Palembang; dan
f. Terminal BBM berada di Kota Palembang, Kabupaten Ogan Komering
Ulu, Kabupaten Lahat dan Kota Lubuk Linggau.
(3) Jaringan minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b meliputi:
a. Jaringan transmisi minyak dan gas bumi nasional antar provinsi
meliputi ruas Grissik - Batam - Singapura, Grissik - Duri, Grissik - Pagar
Dewa - Labuan Maringgai, Aurcina – Sumsel - Cilegon dan Gelam -
Jambi;
b. Jaringan transmisi minyak dan gas bumi nasional di dalam wilayah
provinsi meliputi ruas Musi - Teras - Prabumulih, Prabumulih - Pagar
Dewa, Prabumulih Palembang, Koridor Dalam Kota Palembang, Koridor
Grisik dan Koridor Pagar Dewa;
c. Jaringan distribusi minyak dan gas bumi meliputi Area Distribusi Kota
Palembang, Area Distribusi Kota Prabumulih, Area Distribusi Muara
Enim, Jaringan Distribusi Gunung Megang - Jaringan Distribusi Stasiun
Singa dan Jaringan Distribusi Musi - Pagar Dewa.
Paragraf 3
Jaringan Infrastruktur Ketenagalistrikan
Pasal 18
(1) Jaringan infrastruktur ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16 huruf b meliputi:
a. Infrastruktur pembangkitan tenaga listrik dan sarana pendukung; dan
b. Jaringan infrastruktur penyaluran tenaga listrik dan sarana
pendukung.
(2) Infrastruktur pembangkitan tenaga listrik dan sarana pendukung
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di daerah Kabupaten Lahat;
b. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di daerah Kabupaten Muara
Enim, Kabupaten Lahat, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi
Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu;
c. Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan/ atau Uap (PLTGU) berada di
Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi
Banyuasin, Kota Palembang, dan Kabupaten Ogan Ilir;
d. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berada di Kabupaten
Muara Enim, Kabupaten Lahat dan Kabupaten Ogan Komering Ulu
Selatan;
e. Pembangkit Listrik Tenaga Bio Gas berada di Kabupaten Muara Enim,
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan dan Kabupaten Ogan
Komering Ilir;
f. Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa berada di Kabupaten Ogan
Komering Ilir, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas, dan
Kabupaten Ogan Ilir;
g. Pembangkit Listrik Tenaga Mini Dan Mikro Hidro berada di Kabupaten
Ogan Komering Ulu Selatan, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten
Lahat, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur;
h. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berada di Kota Palembang;
i. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berada di Kota
Palembang; dan
j. pembangkit listrik lainnya sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
(3) Jaringan infrastruktur penyaluran tenaga listrik dan sarana pendukung
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. jaringan transmisi tenaga listrik antarsistem, meliputi:
1. Jaringan transmisi udara tegangan 500 kV meliputi Jalur New Aur
Duri (Jambi) – Muara Enim – PLTU MT Sumsel -8;
2. Jaringan transmisi udara tegangan 275 kV meliputi Jalur Bangko
(Jambi) – Lubuk Linggau – Lahat – Lumut Balai, Aur Duri (Jambi) –
Bayung Lencir – Sungai Lilin – Betung – Kenten, Betung – PLTU MT
Sumsel-1, dan Lumut Balai – Muara Enim – Gumawang – Lampung-
1 (Lampung);
3. Jaringan transmisi udara tegangan 150 kV meliputi Jalur Lubuk
Linggau – Pekalongan (Bengkulu), Lubuk Linggau – Tebing Tinggi,
Sarolangun (Jambi) – Muara Rupit, Manna – Pagar Alam – Lahat –
Bukit Asam – Gunung Megang – Prabumulih – Simpang Tiga –
Kramasan, Sekayu – Betung – Talang Kelapa, Betung – Talang
Duku, Kenten – Tanjung Api-Api, Keramasan – Gandus – Talang
Kelapa – Kenten – Borang – Mariana – Jakabaring, Mariana –
Kayuagung – Gumawang – Menggala (Lampung), Gumawang –
Mesuji (Lampung), Bukit Asam – Baturaja – Martapura –
Blambangan Umpu (Lampung), Martapura – Muara Dua; dan
Gumawang – Tugumulyo.
b. jaringan distribusi tenaga listrik tersebar di seluruh Kabupaten/ Kota
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. Jaringan Pipa/ kabel bawah laut penyaluran tenaga listrik meliputi
jaringan transmisi tegangan 150 kV jalur Tanjung Api-api – Muntok
(Kep. Bangka Belitung); dan
d. gardu listrik tersebar di seluruh Kabupaten/ Kota.
Bagian Kelima
Sistem Jaringan Telekomunikasi
Pasal 19
(1) Sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (1) huruf d meliputi:
a. Jaringan tetap; dan
b. Jaringan bergerak.
(2) Jaringan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Jaringan kabel serat optik meliputi ruas Menggala (Lampung) – Tugu
Mulyo – Kayu Agung – Indralaya – Palembang – Betung – Sungai Lilin –
Bayung Lencir – Kota Jambi (Jambi), Palembang – Talang Kelapa –
Tanjung Api-Api – Muntok (Kep. Bangka Belitung), Betung – Sekayu –
Pendopo – Muara Enim, Indralaya – Prabumulih – Tanjung Enim – Lahat
– Pagar Alam – Tebing Tinggi – Lubuk Linggau – Muara Rupit –
Sarolangun (Jambi), Pagar Alam – Manna (Bengkulu), Tanjung Enim –
Pengandonan – Baturaja dan Prabumulih – Baturaja – Martapura –
Kotabumi (Lampung);
b. Jaringan pipa/ kabel bawah laut telekomunikasi meliputi ruas
Banyuasin – Kuala Tungkal – Sungailiat, Palembang – Sungailiat dan
Banyuasin – Belitung.
(3) Jaringan bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa
jaringan seluler dan satelit meliputi:
a. pengembangan jaringan seluler dalam penanganan area blankspot di
seluruh kabupaten/kota di Daerah Provinsi;
b. pengembangan jaringan satelit dalam penanganan area blankspot di
seluruh kabupaten/kota di Daerah Provinsi;
c. pengembangan cakupan dan kualitas layanan melalui pengaturan
lokasi dan ketentuan teknis layanan jaringan nirkabel; dan
d. mengarahkan penataan dan pengaturan menara telekomunikasi
bersama.
Bagian Keenam
Sistem Jaringan Sumber Daya Air
Paragraf 1
umum
Pasal 20
Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat
(1) huruf e meliputi:
a. sistem jaringan irigasi;
b. sistem jaringan air bersih;
c. sistem pengendalian banjir; dan
d. bangunan sumber daya air.
Paragraf 2
Sistem Jaringan Irigasi
Pasal 21
(1) Sistem jaringan irigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf a
meliputi:
a. jaringan irigasi kewenangan Pemerintah Pusat; dan
b. jaringan irigasi kewenangan Pemerintah Provinsi;
(2) Sistem jaringan irigasi kewenangan Pemerintah Pusat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a diatur sesuai dengan kebijakan
pemerintah yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, terletak di:
a. Kabupaten OKI;
b. Kabupaten OKU Timur;
c. Kabupaten Musi Rawas;
d. Kota Lubuklinggau;
e. Kabupaten Empat Lawang;
f. Kota Pagar Alam;
g. Kabupaten Banyuasin;
h. Kabupaten Musi Banyuasin; dan
i. Kabupaten Ogan Ilir.
(3) Sistem jaringan irigasi kewenangan Pemerintah Provinsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa pengembangan dan/atau
pembangunan irigasi yang mencakup irigasi teknis, irigasi rawa/pasang
surut dan irigasi non teknis pada wilayah yang memiliki potensi pertanian
pangan, meliputi:
a. Kabupaten Empat Lawang;
b. Kabupaten Lahat;
c. Kabupaten Muara Enim;
d. Kabupaten Musi Banyuasin;
e. Kabupaten Musi Rawas;
f. Kabupaten Ogan Ilir;
g. Kabupaten Ogan Komering Ilir;
h. Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan;
i. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur; dan
j. Kota Pagar Alam.
Paragraf 3
Sistem Jaringan Air Bersih
Pasal 22
Sistem jaringan air bersih sebagaimana dimaksud pada pasal 20 huruf b
meliputi pengembangan atau pengelolaan sungai untuk sistem jaringan
sumber daya air pada jaringan sungai besar di Provinsi yang diperuntukkan
sebagai pemenuhan air baku, industri dan irigasi, meliputi :
a. Sungai Musi;
b. Sungai Banyuasin;
c. Sungai Batanghari Leko;
d. Sungai Ogan;
e. Sungai Enim;
f. Sungai Kelingi;
g. Sungai Kikim;
h. Sungai Komering;
i. Sungai Lematang;
j. Sungai Lintang;
k. Sungai Mesuji
l. Sungai Semangus;
m. Sungai Sugihan;
n. Sungai Rawas;
o. Sungai Rupit;
p. Sungai Calik;
q. Sungai Lalan;
r. Sungai Lilin;
s. Sungai Lumpur;
t. Sungai Saleh; dan
u. Sungai Telang.
Paragraf 4
Bangunan Sumber Daya Air
Pasal 23
Bangunan Sumber Daya Air sebagaimana dimaksud pada pasal 20 huruf c
meliputi pengembangan dan/atau pembangunan bendungan, bendung, dan
waduk untuk sistem jaringan sumber daya air terdapat di:
a. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur;
b. Kabupaten Lahat;
c. Kabupaten Muara Enim;
d. Kabupaten Musi Rawas;
e. Kabupaten Empat Lawang;
f. Kabupaten Banyuasin;
g. Kabupaten Ogan Komering Ulu;
h. Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan;
i. Kota Palembang;
j. Kota Pagar Alam; dan
k. Kota Lubuklinggau
Bagian Ketujuh
Sistem Jaringan Prasarana Lainnya
Pasal 24
(1) Sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (1) huruf f meliputi:
a. Sistem penyediaan air minum (SPAM);
b. Sistem pengelolaan air limbah (SPAL);
c. Sistem pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3); dan
d. Sistem jaringan persampahan.
(2) SPAM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. SPAM Regional Prabumulih - Muara Enim yang melayani Kota
Prabumulih dan Kabupaten Muara Enim;
b. SPAM Regional OKU Selatan - OKU Timur yang melayani Kabupaten
Ogan Komering Ulu Selatan dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur;
c. SPAM kawasan perkotaan Palembang yang melayani Kota Palembang,
Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir; dan
d. SPAM lainnya sesuai dokumen Rencana Induk SPAM (RISPAM)
(3) SPAL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. SPAL kawasan perkotaan Palembang yang melayani Kota Palembang,
Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir;
b. SPAL kawasan perkotaan Baturaja, Lubuk Linggau, Lahat, Muara Enim,
Prabumulih, Sekayu dan Kayu Agung; dan
c. Pengembangan SPAL Domestik Terpusat dan Stempat di Kabupaten/
Kota.
(4) Sistem pengelolaan limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c meliputi:
a. sistem pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun kawasan
perkotaan Palembang yang melayani Kota Palembang, Kabupaten
Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir; dan
b. Sistem pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun kawasan
perkotaan Baturaja, Lubuk Linggau, Lahat, Muara Enim, Prabumulih,
Sekayu dan Kayu Agung.
(5) Sistem jaringan persampahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf d meliputi:
a. tempat pemrosesan akhir sampah regional Rantau Tenang di
Kabupaten Empat Lawang dan tempat pemrosesan akhir sampah
regional Palemraya di Kabupaten Ogan Ilir;
b. pengembangan sistem jaringan persampahan kawasan perkotaan
Palembang yang melayani Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin
dan Kabupaten Ogan Komering Ilir; dan
c. pengembangan sistem jaringan persampahan kawasan perkotaan
Baturaja, Lubuk Linggau, Lahat, Muara Enim, Prabumulih, Sekayu dan
Kayu Agung.
(6) Rencana sistem jaringan prasarana lainnya digambarkan dalam peta
dengan ketelitian skala 1:250.000 (satu banding dua ratus lima puluh
ribu) sebagaimana tercantum dalam Lampiran I.D yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB IV
RENCANA POLA RUANG WILAYAH PROVINSI
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 25
(1) Rencana Pola Ruang Wilayah Provinsi meliputi:
a. Kawasan Lindung; dan
b. Kawasan Budidaya
(2) Rencana pola ruang wilayah provinsi digambarkan dalam peta dengan
tingkat ketelitian 1:250.000 (satu banding dua ratus lima puluh ribu)
sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Kawasan Lindung
Pasal 26
Kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) huruf a
seluas kurang lebih 1.767.770,98 (satu juta tujuh ratus enam puluh tujuh
ribu tujuh ratus tujuh puluh koma sembilan delapan) hektar meliputi:
a. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan
bawahannya;
b. Kawasan perlindungan setempat;
c. Kawasan konservasi;
d. Kawasan pencadangan konservasi di laut; dan
e. Kawasan ekosistem mangrove.
Pasal 27
(1) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf a dengan luas kurang lebih
991.674,44 (sembilan ratus sembilan puluh satu ribu enam ratus tujuh
puluh empat koma empat empat) hektar, mencakup kawasan hutan
lindung dan kawasan lindung gambut.
(2) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berupa hutan lindung
terdapat di:
a. Kabupaten Banyuasin;
b. Kabupaten Empat Lawang;
c. Kabupaten Lahat;
d. Kabupaten Muara Enim;
e. Kabupaten Musi Banyuasin;
f. Kabupaten Musi Rawas;
g. Kabupaten Musi Rawas Utara;
h. Kabupaten Ogan Komering Ilir;
i. Kabupaten Ogan Komering Ulu;
j. Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan;
k. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur;
l. Kota Lubuklinggau; dan
m. Kota Pagar Alam.
(3) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berupa lindung gambut
terdapat di:
a. Kabupaten Banyuasin;
b. Kabupaten Muara Enim;
c. Kabupaten Musi Banyuasin;
d. Kabupaten Musi Rawas;
e. Kabupaten Musi Rawas Utara;
f. Kabupaten Ogan Komering Ilir; dan
g. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir.
Pasal 28
Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
huruf b dengan luas kurang lebih 3.401,91 (tiga ribu empat ratus satu koma
sembilan satu) hektar, meliputi:
a. Kawasan sempadan pantai terletak di daerah Kabupaten Banyuasin dan
Kabupaten Ogan Komering Ilir.
b. Kawasan sempadan sungai berada di semua wilayah Kabupaten/ Kota
yang dilewati oleh sungai.
c. Kawasan sekitar situ, danau, embung, dan waduk berada di semua
wilayah Kabupaten/ Kota yang memiliki situ, danau, embung, dan waduk.
Pasal 29
Kawasan konservasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf c dengan
luas kurang lebih 768.218,77 (tujuh ratus enam puluh delapan ribu dua ratus
delapan belas koma tujuh tujuh) hektar, meliputi:
a. Suaka Margasatwa Gunung Raya terletak di daerah Kabupaten OKU
Selatan;
b. Suaka Margasatwa Isau-Isau Pasemah terletak di daerah Kabupaten
Lahat dan Kabupaten Muara Enim;
c. Suaka Margasatwa Bentayan terletak di daerah Kabupaten Musi
Banyuasin dan Kabupaten Banyuasi;
d. Suaka Margasatwa Dangku terletak di daerah Kabupaten Musi Banyuasin;
e. Suaka Margasatwa Padang Sugihan terletak di daerah Kabupaten
Banyuasin da Kabupaten OKI;
f. Suaka Margasatwa Gumay Pasemah terletak di daerah Kabupaten Lahat
dan Kabupaten Empat Lawang;
g. Taman Nasional Kerinci Seblat terletak di daerah Kota Lubuklinggau,
Kabupaten Musi Rawas, dan Kaupaten Musi Rawas Utara;
h. Taman Nasional Sembilang terletak di daerah Kabupaten Banyuasin dan
Kabupaten Musi Banyuasin;
i. Taman Nasional Laut Sembilang terletak di daerah Kabupaten Banyuasin
dan Kabupaten Musi Banyuasin;
j. Taman Wisata Alam PLG Bukit Serelo terletak di daerah Kabupaten Lahat;
dan
k. Taman Wisata Alam Punti Kayu terletak di daerah Kota Palembang.
Pasal 30
Kawasan pencadangan konservasi di laut sebagaimana dimaksud dalam
pasal 26 huruf d dengan luas kurang lebih 976,37 (sembilan ratus tujuh
puluh enam koma tiga tujuh) hektar yang terdapat di Pulau Maspari,
Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Pasal 31
Kawasan ekosistem mangrove sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 huruf
e dengan luas kurang lebih 3.499,49 (tiga ribu empat ratus sembilan puluh
sembilan koma empat sembilan) hektar yang terdapat di Kabupaten
Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Bagian Ketiga
Kawasan Budi Daya
Pasal 32
Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) huruf b
dengan luas kurang lebih 7.709.243,85 (tujuh juta tujuh ratus sembilan ribu
dua ratus empat puluh tiga koma delapan lima) hektar meliputi:
a. Kawasan hutan produksi;
b. Kawasan pertanian;
c. Kawasan perikanan;
d. Kawasan pertambangan dan energi;
e. Kawasan peruntukan industri;
f. Kawasan pariwisata;
g. Kawasan permukiman;
h. Kawasan transportasi; dan
i. Kawasan pertahanan dan keamanan.
Pasal 33
Kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf a
dengan luas kurang lebih 2.052.655,36 (dua juta lima puluh dua ribu enam
ratus lima puluh lima koma tiga enam) hektar yang terdapat di:
a. Kabupaten Banyuasin;
b. Kabupaten Empat Lawang;
c. Kabupaten Lahat;
d. Kabupaten Muara Enim;
e. Kabupaten Musi Banyuasin;
f. Kabupaten Musi Rawas;
g. Kabupaten Musi Rawas Utara;
h. Kabupaten Ogan Ilir;
i. Kabupaten Ogan Komering Ilir;
j. Kabupaten Ogan Komering Ulu;
k. Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan;
l. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur;
m. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir;
n. Kota Prabumulih; dan
o. Kota Lubuk Linggau.
Pasal 34
(1) Kawasan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf b
dengan luas kurang lebih 4.437.263,98 (empat juta empat ratus tiga
puluh tujuh ribu dua ratus enam puluh tiga koma sembilan delapan)
hektar meliputi kawasan tanaman pangan, kawasan hortikultura,
kawasan perkebunan, dan kawasan peternakan yang tersebar di seluruh
kabupaten/kota.
(2) Dalam kawasan pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan KP2B seluas kurang lebih 440.696,29 (empat ratus empat
puluh ribu enam ratus sembilan puluh enam koma dua sembilan) hektar
tersebar di seluruh kabupaten/kota.
Pasal 35
(1) Kawasan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf c
dengan luas kurang lebih 724.747,30 (tujuh ratus dua puluh empat ribu
tujuh ratus empat puluh tujuh koma tiga) hektar terdiri dari:
a. Kawasan perikanan tangkap; dan
b. Kawasan perikanan budi daya laut.
(2) Kawasan perikanan tangkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a tersebar di perairan daerah Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan
Komering Ilir.
(3) Kawasan perikanan budi daya laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b tersebar di perairan daerah Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten
Ogan Komering Ilir.
Pasal 36
(1) Kawasan pertambangan dan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
32 huruf d dengan luas kurang lebih 29.499,70 (dua puluh sembilan ribu
empat ratus sembilan puluh sembilan koma tujuh nol) hektar terdiri dari:
a. Kawasan pertambangan dan energi di wilayah darat; dan
b. Kawasan pertambangan dan energi di wilayah laut.
(2) Kawasan pertambangan dan energi di wilayah darat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a terletak di:
a. Kabupaten Banyuasin;
b. Kabupaten Lahat;
c. Kabupaten Muara Enim;
d. Kabupaten Musi Banyuasin;
e. Kabupaten Musi Rawas;
f. Kabupaten Musi Rawas Utara;
g. Kabupaten Ogan Ilir;
h. Kabupaten Ogan Komering Ulu;
i. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir; dan
j. Kota Prabumulih.
(3) Kawasan pertambangan dan energi di wilayah laut sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b terletak di Kabupaten Banyuasin.
(4) Potensi pertambangan dapat ditetapkan pada kabupaten/kota sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 37
(1) Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud dalam pasal 32
huruf e dengan luas kurang lebih 30.617,27 (tiga puluh ribu enam ratus
tujuh belas koma dua tujuh) hektar yang terdapat di Kabupaten
Banyuasin, Kabupaten Empat Lawang, Kabupaten Lahat, Kabupaten
Muara Enim, Kabupaten Musi Rawas Utara, Kabupaten Ogan Ilir,
Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu,
Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Kabupaten Penukal Abab
Lematang Ilir, Kota Lubuk Linggau, Kota Pagar Alam, Kota Palembang,
dan Kota Prabumulih.
(2) Pengembangan kawasan peruntukan industri dapat ditetapkan pada
kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Pasal 38
Kawasan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 huruf f dengan
luas kurang lebih 2.856,34 (dua ribu delapan ratus lima puluh enam koma
tiga empat) hektar berupa kawasan pariwisata di laut yang terdapat di
Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir dan kawasan
pariwisata di darat yang terdapat di Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Lahat,
Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Timur, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Kota Lubuk Linggau, Kota
Pagar Alam, Kota Palembang dan Kota Prabumulih.
Pasal 39
Kawasan permukiman sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 huruf g
memiliki luasan seluas kurang lebih 365.537,34 (tiga ratus enam puluh lima
lima ratus tiga puluh tujuh koma tiga empat) hektar, terdapat di seluruh
wilayah kabupaten/ kota.
Pasal 40
Kawasan transportasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 huruf h
dengan luas kurang lebih 21.077 (dua puluh satu ribu tujuh puluh tujuh)
hektar, meliputi:
a. Kawasan transportasi di wilayah laut terdapat di Kabupaten Banyuasin
dan Kabupaten Ogan Komering Ilir; dan
b. Kawasan transportasi di wilayah darat terdapat di Kota Palembang, Kota
Pagar Alam dan Kota Lubuk Linggau.
Pasal 41
Kawasan pertahanan dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 32
huruf i dengan luas kurang lebih 44.989,56 (empat puluh empat ribu
sembilan ratus delapan puluh sembilan koma lima enam) hektar, terdapat di
Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, dan
Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.
BAB V
KAWASAN STRATEGIS PROVINSI
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 42
(1) Kawasan strategis yang berada pada wilayah provinsi meliputi:
a. KSN; dan
b. KSP.
(2) KSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. KSN Kawasan Lingkungan Hidup Taman Nasional Kerinci Seblat;
b. KSN Kawasan Taman Nasional Sembilang;
c. KSN Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan; dan
d. KSN Kawasan Perkotaan Palembang – Betung – Indralaya –
Kayuagung.
(3) KSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Koridor Sekayu - Tanjung Api-api meliputi wilayah daerah Kabupaten
Musi Banyuasin (Kecamatan Babat Supat, Kecamatan Keluang,
Kecamatan Lais, Kecamatan Sekayu dan Kecamatan Sungai Lilin), dan
Kabupaten Banyuasin (Kecamatan Banyuasin II, Kecamatan Banyuasin
III, Kecamatan Betung, Kecamatan Sembawa, Kecamatan Suak Tapeh,
Kecamatan Sumber Marga Telang, Kecamatan Talang Kelapa dan
Kecamatan Tanjung Lago);
b. Kawasan Lubuk Linggau dan Sekitarnya meliputi wilayah daerah Kota
Lubuk Linggau (seluruh kecamatan), Kabupaten Musi Rawas
(Kecamatan Muara Beliti, Kecamatan Selangit, Kecamatan STL Ulu
Terawas dan Kecamatan Tugumulyo), dan Kabupaten Musi Rawas
Utara (Kecamatan Karang Jaya dan Kecamatan Rupit);
c. Kawasan Pagar Alam dan Sekitarnya meliputi wilayah daerah Kota
Pagar Alam (seluruh kecamatan), Kabupaten Lahat (Kecamayan
Gumay Talang, Kecamatan Gumay Ulu, Kecamatan Jarai, Kecamatan
Lahat, Kecamatan Lahat Selatan, Kecamatan Muarapayang,
Kecamatan Pajar Bulan, Kecamatan Pulaupinang, Kecamatan
Sukamerindu, Kecamatan Tanjung Skti Pumi, dan Kecamatan Tanjung
Sakti Pumu), dan Kabupaten Empat Lawang (Kecamatan Lintang
Kanan dan Kecamatan Muara Pinang);
d. Kawasan Prabumulih dan Sekitarnya meliputi wilayah daerah Kota
Prabumulih (seluruh kecamatan), Kabupaten Muara Enim (Kecamatan
Belimbing, Kecamatan Empat Petulai Dangku, Kecamatan Gunung
Megang, Kecamatan Lawang Kidul, Kecamatan Muara Enim,
Kecamatan Rambang Niru, Kecamatan Tanjung Agung dan Kecamatan
Ujan Mas), Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Kecamatan Talang
Ubi dan Kecamatan Tanah Abang), dan Kabupaten Lahat (Kecamatan
Merapi Barat, Kecamatan Merapi Selatan dan Kecamatan Merapi
Timur);
e. Kawasan Martapura dan Sekitarnya meliputi wilayah daerah
Kabupaten Ogan Komering Ulu (Kecamatan Baturaja Barat,
Kecamatan Baturaja Timur dan Kecamatan Semidang Aji), Kabupaten
Ogan Komering Ulu Selatan (Kecamatan Buana Pemaca, Kecamatan
Buay Sandang Aji, Kecamatan Muara Dua, Kecamatan Simpang dan
Kecamatan Tiga Dihaji) dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
(Kecamatan Belitang, Kecamatan Belitang Madang Raya, Kecamatan
Buay Madang, Kecamatan Buay Madang Timur, Kecamatan Bunga
Mayang, Kecamatan Jayapura dan Kecamatan Martapura); dan
f. Kawasan Pesisir Timur Sumatera Selatan meliputi wilayah daerah
Kabupaten Banyuasin (Kecamatan Air Salek, Kecamatan Makarti Jaya,
Kecamata Muara Padang dan Kecamatan Muara Sugihan), dan
Kabupaten Ogan Komering Ilir (Kecamatan Air Sugihan, Kecamatan
Cengal, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kecamatan Sungai Menang
dan Kecamatan Tulung Selapan.
(4) KSP sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digambarkan dalam peta
dengan tingkat ketelitian 1:250.000 sebagaimana tercantum dalam
Lampiran III yang merupakan satu kesatuan dan sebagai bagian yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Tujuan dan Arah Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi
Pasal 42.A
(1) KSP Koridor Sekayu - Tanjung Api-api sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 42 ayat (3) huruf a, memiliki sudut kepentingan Pertumbuhan
Ekonomi.
(2) Tujuan pengembangan KSP Koridor Sekayu - Tanjung Api-api adalah
mengembangkan pusat kegiatan ekonomi berbasis hilirisasi sumber daya
alam sebagai pendukung KSN Patungraya Agung yang terintegrasi
dengan Pelabuhan Tanjung Carat.
(3) Arah pengembangan KSP Koridor Sekayu - Tanjung Api-api adalah
sebagai berikut:
a. pengembangan kawasan-kawasan yang dapat mendukung fungsi PKN
Patungraya Agung dan PKW di sekitarnya;
b. peningkatan konektivitas ke Pelabuhan Tanjung Carat dari dalam dan
luar Kawasan;
c. penyediaan dan peningkatan ketersediaan serta kualitas sarana dan
prasarana wilayah untuk mendukung pergerakan serta pelayanan
publik;
d. menjaga keterpaduan fungsi Kawasan di darat dan pesisir;
e. mencegah dan mengendalikan kemungkinan dampak pencemaran
dari aktivitas di sekitar kawasan yang dapat mengganggu fungsi pusat
kegiatan di sekitarnya; dan
f. menjaga kawasan yang berfungsi lindung.
Pasal 42.B
(1) KSP Lubuk Linggau dan Sekitarnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
42 ayat (3) huruf b, memiliki sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi.
(2) Tujuan pengembangan KSP Lubuk Linggau dan Sekitarnya adalah untuk
mendukung percepatan peningkatan ekonomi untuk mendorong
pertumbuhan kawasan tertinggal
(3) Arah pengembangan KSP Lubuk Linggau dan Sekitarnya adalah sebagai
berikut:
a. pengembangan Kawasan yang dapat mendukung percepatan
peningkatan ekonomi dengan memperhatikan daya dukung dan daya
tampung ruang;
b. pengembangan kawasan yang mendukung PKW Lubuk Linggau untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi pusat kegiatan di sekitarnya;
c. peningkatan konektivitas antar dan inter Kawasan, terutama ke simpul
transportasi untuk mendukung fungsi Kawasan;
d. penyediaan dan peningkatan ketersediaan serta kualitas sarana dan
prasarana wilayah untuk mendukung pengembangan Kawasan serta
pelayanan publik;
e. menjaga Kawasan yang berfungsi lindung; dan
f. peningkatan kerjasama Kawasan perbatasan provinsi.
Pasal 42.C
(1) KSP Pagar Alam dan Sekitarnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42
ayat (3) huruf c, memiliki sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi.
(2) Tujuan pengembangan KSP Pagar Alam dan Sekitarnya adalah untuk
mengembangkan pusat kegiatan ekonomi baru berbasis pariwisata
sejarah, budaya dan serta pemanfaatan jasa lingkungan dengan
memperhatikan daya dukung dan daya tampung ruang.
(3) Arah pengembangan KSP Pagar Alam dan Sekitarnya adalah sebagai
berikut:
a. pengembangan potensi wisata minat khusus sejarah dan budaya yang
dipadukan dengan pemanfaatan jasa lingkungan yang seimbang;
b. pengembangan objek daya tarik wisata dan penyediaan sarana dan
prasarana wilayah yang mendukung pengembangan kawasan;
c. peningkatan konektivitas antar dan inter Kawasan, terutama ke simpul
transportasi untuk mendukung fungsi Kawasan;
d. penyediaan dan peningkatan ketersediaan serta kualitas sarana dan
prasarana wilayah untuk mendukung pusat pertumbuhan kawasan di
sekitar kawasan; dan
e. menjaga Kawasan yang berfungsi lindung.
Pasal 42.D
(1) KSP Prabumulih dan Sekitarnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42
ayat (3) huruf d, memiliki sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi.
(2) Tujuan pengembangan KSP Prabumulih dan Sekitarnya adalah untuk
mengembangkan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan
dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung ruang
(3) Arah pengembangan KSP Prabumulih dan Sekitarnya adalah sebagai
berikut:
a. pengembangan potensi kawasan melalui pemanfaatan sumber daya
alam yang berwawasan lingkungan;
b. pengembangan Kawasan-kawasan yang dapat mendukung
operasionalisasi pusat pertumbuhan kawasan dengan memperhatikan
daya dukung dan daya tampung ruang;
c. pengembangan pemanfaatan sumber energi berwawasan lingkungan
yang mendukung keberlanjutan energi nasional;
d. peningkatan konektivitas antar dan inter Kawasan, terutama ke simpul
transportasi untuk mendukung fungsi Kawasan;
e. penyediaan dan peningkatan ketersediaan serta kualitas sarana dan
prasarana wilayah untuk mendukung pusat pertumbuhan kawasan di
sekitar kawasan;
f. mencegah dan mengendalikan kemungkinan dampak pencemaran
yang ditimbulkan dari aktivitas pemanfaatan sumber daya alam.
Pasal 42.F
(1) KSP Pesisir Timur Sumatera Selatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
42 ayat (3) huruf f, memiliki sudut kepentingan fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup.
(2) Tujuan pengembangan KSP Pesisir Timur Sumatera Selatan adalah untuk
mengendalikan ruang di Pesisir Timur Sumatera Selatan sehingga
terjamin pembangunan yang berkelanjutan.
(3) Arah pengembangan KSP Pesisir Timur Sumatera Selatan adalah sebagai
berikut:
g. perwujudan Kawasan Lindung untuk mendukung fungsi konservasi,
keanekaragaman hayati, dan menjaga iklim makro, serta mencegah
dan/atau mengurangi resiko bencana;
h. menerapkan kaidah konservasi lahan dan kegiatan budi daya ramah
lingkungan, khususnya pada daerah budi daya pertanian, perkebunan
dan kehutanan;
i. pengendalian dan pembatasan pembangunan guna mempertahankan
fungsi hidroorologis pada lahan dengan kondisi normal dan baik, serta
memiliki keterbatasan luas;
j. melindungi Kawasan pesisir dan pantai;
k. menjaga keterpaduan fungsi Kawasan di darat dan pesisir; dan
l. peningkatan kerjasama Kawasan perbatasan provinsi.
BAB VI
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PROVINSI
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 43
Arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi meliputi:
a. Kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang (KKPR);
b. Indikasi program utama jangka menengah 5 (lima) tahunan; dan
c. Pelaksanaan sinkronisasi program pemanfaatan ruang (SPPR).
Bagian Kedua
Kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang (KKPR)
Paragraf 1
Umum
Pasal 44
(1) Setiap Orang yang melakukan kegiatan pemanfaatan ruang, wajib
memperoleh KKPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 huruf a sesuai
ketentuan perundang-undangan.
(2) KKPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
a. KKPR Darat; dan
b. KKPR Laut.
Paragraf 2
KKPR Darat
Pasal 45
(1) KKPR Darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2) huruf a
dilaksanakan untuk:
a. kegiatan berusaha;
b. kegiatan non berusaha; dan
c. kegiatan yang bersifat strategis nasional.
(2) Pelaksanaan KKPR Darat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
melalui:
a. konfirmasi KKPR;
b. persetujuan KKPR; dan
c. rekomendasi KKPR.
(3) Pelaksanaan KKPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) KKPR Darat menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan revisi RTRW
Provnsi.
Paragraf 3
KKPR Laut
Pasal 46
(1) Dalam rangka pemberian KKPR Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal
44 ayat (2) huruf b, dijabarkan ke dalam kegiatan.
(2) Penjabaran kegiatan pada KKPR Laut sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:
a. Persetujuan untuk kegiatan berusaha; atau
b. Persetujuan atau Konfirmasi untuk kegiatan nonberusaha.
(3) Rincian lokasi, luasan dan aturan pemanfaatan ruang pada masing-
masing kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum pada
tabel KKPR Laut dalam Lampiran IV.
(4) Pelaksanaan KKPR Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Ketiga
Indikasi Program Utama Jangka Menengah Lima Tahunan
Pasal 47
(1) Indikasi program utama jangka menengah lima tahunan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 43 huruf b, meliputi:
a. Perwujudan rencana struktur ruang wilayah provinsi;
b. Perwujudan rencana pola ruang wilayah provinsi; dan
c. Perwujudan kawasan strategis provinsi.
(2) Indikasi program Perwujudan rencana struktur ruang wilayah provinsi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri dari:
a. perwujudan sistem pusat permukiman;
b. perwujudan sistem jaringan transportasi;
c. perwujudan sistem energi;
d. perwujudan sistem telekomunikasi;
e. perwujudan sistem sumber daya air; dan
f. perwujudan sistem prasarana lainnya.
(3) Indikasi program Perwujudan rencana pola ruang wilayah provinsi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri dari:
a. indikasi program perwujudan Kawasan Lindung; dan
b. indikasi program perwujudan Kawasan Budi Daya.
Pasal 48
(1) Indikasi program utama jangka menengah 5 (lima) tahunan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 47, meliputi::
a. Indikasi program utama;
b. Indikasi lokasi;
c. Indikasi sumber pendanaan;
d. Indikasi instansi pelaksana; dan
e. Indikasi waktu pelaksanaan.
(2) Indikasi lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, berisikan
tempat dimana usulan program utama akan dilaksanakan.
(3) Indikasi sumber pendanaan sebagaimana dimaksud ada ayat (1) huruf c
meliputi;
a. Dana pemerintah pusat;
b. Dana pemerintah provinsi;
c. Dana pemerintah kabupaten/kota;
d. Dana badan usaha milik negara;
e. Dana swasta;
f. Dana masyarakat; dan
g. Kerja sama pendanaan investasi dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan.
(4) Indikasi instansi pelaksana kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf d, meliputi Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota, swasta dan/atau masyarakat.
(5) Indikasi waktu pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e
merupakan dasar bagi instansi pelaksana, baik pusat maupun daerah
dalam menetapkan prioritas pembangunan, dibagi ke dalam 5 (lima)
tahapan meliputi:
a. Tahap I (2023 – 2027);
b. Tahap II (2028 – 2032);
c. Tahap III (2033 – 2037); dan
d. Tahap IV (2038 – 2042).
Pasal 49
indikasi program utama jangka menengah lima tahunan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 47 dan Pasal 48 tercantum dalam Lampiran V yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Keempat
Pelaksanaan Sinkronisasi Program Pemanfaatan Ruang
Pasal 50
(1) Pelaksanaan sinkronisasi program pemanfaatan ruang (SPPR)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 huruf c dilaksanakan oleh
pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
(2) Pelaksanaan sinkronisasi program pemanfaatan ruang yang dilaksanakan
oleh pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
terhadap:
a. RTR wilayah provinsi;
b. RTR wilayah kabupaten; dan
c. RTR wilayah kota.
(3) Pelaksanaan sinkronisasi program pemanfaatan ruang dilakukan
berdasarkan indikasi program utama yang termuat dalam RTR
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, huruf b dan huruf c.
(4) Pelaksanaan sinkronisasi program pemanfaatan ruang dilakukan dengan
menyelaraskan indikasi program utama dengan program sektoral dan
kewilayahan dalam dokumen rencana pembangunan secara terpadu
yang menghasilkan dokumen, meliputi:
a. SPPR jangka menengah 5 (lima) tahunan; dan
b. SPPR jangka pendek 1 (satu) tahunan.
(5) Dokumen SPPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi masukan
untuk penyusunan rencana pembangunan dan pelaksanaan peninjauan
kembali dalam rangka revisi RTRW Provinsi.
BAB VII
ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PROVINSI
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 51
Arahan pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Provinsi meliputi:
a. indikasi arahan zonasi sistem provinsi;
b. penilaian pelaksanaan Pemanfaatan Ruang;
c. arahan Insentif dan Disinsentif; dan
d. arahan sanksi.
Bagian Kedua
Indikasi Arahan Zonasi Sistem Provinsi
Paragraf 1
Umum
Pasal 52
Indikasi arahan zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 huruf a
meliputi:
a. indikasi arahan zonasi Struktur Ruang;
b. indikasi arahan zonasi Pola Ruang; dan
c. ketentuan khusus.
Paragraf 2
Indikasi Arahan Zonasi Struktur Ruang
Pasal 53
(1) Indikasi arahan zonasi Struktur Ruang sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 52 huruf a meliputi:
a. indikasi arahan zonasi sistem pusat permukiman;
b. indikasi arahan zonasi jaringan transportasi;
c. indikasi arahan zonasi jaringan energi;
d. indikasi arahan zonasi jaringan telekomunikasi;
e. indikasi arahan zonasi jaringan sumber daya air; dan
f. indikasi arahan zonasi prasarana lainnya.
(2) indikasi arahan zonasi Struktur Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 3
Indikasi Arahan Zonasi Pola Ruang
Pasal 54
(1) Indikasi arahan zonasi Pola Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal
52 huruf b meliputi:
a. indikasi arahan zonasi kawasan lindung; dan
b. indikasi arahan zonasi kawasan budi daya.
(2) indikasi arahan zonasi Pola Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 4
Ketentuan Khusus
Pasal 55
Ketentuan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 huruf c meliputi:
a. KKOP;
b. KP2B;
c. Kawasan Rawan Bencana;
d. Kawasan Sempadan;
e. Kawasan Gambut Budi Daya;
f. Kawasan Pertambangan Mineral dan Batubara; dan
g. Kawasan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 56
(1) Ketentuan khusus KKOP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf a,
dengan ketentuan pembatasan tinggi bangunan dan jenis kegiatan
sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan.
(2) Peta ketentuan khusus KKOP tercantum dalam Lampiran VIII bagian 1,
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 57
(1) Ketentuan khusus KP2B sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf b,
dengan ketentuan sebagai berikut:
a. pemanfaatan ruang diarahkan untuk kegiatan tanaman pangan
berkelanjutan;
b. lahan KP2B yang telah ditetapkan sebagai LP2B dapat beralih fungsi
dalam rangka pengadaan tanah untuk kepentingan umum atau
terjadi bencana yang pelaksanaannya sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
c. penggantian lahan KP2B yang telah ditetapkan sebagai LP2B dalam
rangka pengadaan tanah untuk kepentingan umum sebagaimana
dimaksud pada huruf b dilakukan dengan ketentuan:
1. pembukaan lahan baru pada Lahan Cadangan Pertanian Pangan
Berkelanjutan (LCP2B);
2. pengalihfungsian lahan dari lahan bukan pertanian ke pertanian
(LP2B), terutama dari tanah terlantar dan/atau tanah bekas
kawasan hutan; atau
3. penetapan lahan pertanian pangan sebagai LP2B.
d. penggantian lahan KP2B yang telah ditetapkan sebagai LP2B dalam
rangka terjadi bencana sebagaimana dimaksud pada huruf b wajib
disediakan oleh Pemerintah dan dilakukan dengan ketentuan:
1. membebaskan kepemilikan hak atas tanah; dan
2. menyediakan lahan pengganti terhadap LP2B yang dialihfungsikan
paling lama 24 (dua puluh empat) bulan setelah alih fungsi
dilakukan.
e. persyaratan dan ketentuan teknis penggantian lahan LP2B yang
beralih fungsi dalam rangka pengadaan tanah untuk kepentingan
umum atau terjadi bencana sebagaimana dimaksud pada huruf b
mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Dalam hal terdapat penyesuaian KP2B di kabupaten/kota, maka
penyelenggaraan penataan ruang provinsi menyesuaikan dengan
perubahan tersebut sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
(3) Dalam hal terdapat lahan sawah yang dilindungi ditetapkan menjadi
KP2B, pemanfaatannya memperhatikan kelestarian ekosistem lahan
sawah yang dilindungi agar dapat berkelanjutan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(4) Pengaturan pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur
lebih lanjut dalam RTR Kabupaten/Kota
(5) Peta ketentuan khusus KP2B tercantum dalam Lampiran VIII bagian 2,
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 58
(1) Ketentuan khusus Kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 55 huruf c, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. ketentuan khusus pembangunan untuk Kawasan rawan tanah
longsor;
b. ketentuan khusus pembangunan untuk Kawasan rawan gunung api;
dan
c. ketentuan khusus pembangunan untuk Kawasan rawan bencana
banjir.
(2) Kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebar
di:
a. Kawasan rawan tanah longsor kelas bahaya tinggi tersebar di daerah
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Kabupaten Ogan Komering
Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten
Muara Enim, Kabupaten Lahat, Empat Lawang dan Kota Pagar Alam;
b. Kawasan rawan gunung api kelas bahaya tinggi, meliputi:
1. kawasan rawan letusan gunung api Dempo di daerah Lahat,
Empat Lawang dan Pagar Alam; dan
2. kawasan rawan letusan gunung api bukit Lumut Balai di
Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu.
c. Kawasan rawan banjir kelas bahaya tinggi, tersebar di seluruh
kabupaten dan kota.
(3) Ketentuan khusus pembangunan untuk Kawasan rawan tanah longsor
tinggi, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, sebagai berikut:
a. Pemanfaatan Ruang diarahkan untuk Kawasan Lindung;
b. pembangunan atau pengembangan pusat hunian beserta sarana dan
prasarana pendukung kegiatan sosial ekonomi pada Kawasan rawan
tanah longsor tinggi dihindarkan;
c. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat adalah prasarana pengelolaan
lingkungan yang langsung memberikan dampak pada peningkatan
kualitas lingkungan (sistem jaringan drainase) dan jaringan prasarana
pada tingkat pelayanan wilayah yang melintas zona tersebut;
d. disarankan untuk relokasi bangunan, tidak melakukan perluasan atau
penambahan bangunan, melakukan kajian geologi teknik,
membangun dinding penahan longsor pada daerah rawan longsor
tinggi atau sering mengalami kejadian longsor; dan
e. penyediaan sistem peringatan dini, pemasangan papan informasi
bahaya, rambu bahaya, dan jalur evakuasi.
(4) Ketentuan khusus pembangunan untuk Kawasan rawan bencana gunung
api, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, sebagai berikut:
a. Pemanfaatan Ruang pada Kawasan rawan bencana kategori rendah
masih dapat dimanfaatkan untuk permukiman dengan ketentuan
mengikuti aturan mitigasi bencana erupsi gunung api;
b. Pemanfaatan Ruang pada Kawasan rawan bencana kategori sedang
diarahkan untuk pertanian dan perkebunan;
c. Pemanfaatan Ruang di kategori rendah dan sedang wajib melakukan
analisa risiko bencana gunung api;
d. Pemanfaatan Ruang pada Kawasan rawan bencana kategori tinggi
tidak boleh dilakukan pembangunan atau pengembangan
pembangunan, pemanfaatan ruang diarahkan untuk kawasan lindung,
hutan, perkebunan, dan ruang terbuka hijau;
e. penyediaan sistem peringatan dini, pemasangan papan info bahaya,
rambu, dan jalur evakuasi;
f. penetapan tempat evakuasi yang aman dan mudah diakses; dan
g. diperbolehkan kegiatan yang bersifat pengamatan, bangunan
pengendali bencana, dan sarana prasarana penangulangan bencana
atau infrstruktur jaringan listrik, energi, air bersih, jalan, jembatan,
dan untuk kepentingan umum sesuai hasil kajian risiko bencana.
(5) Kegiatan mitigasi bencana pada kawasan rawan bencana sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan dengan melibatkan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota dan/atau Masyarakat.
(6) Kegiatan mitigasi bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat
diatur lebih lanjut dalam RTRW Kabupaten/Kota dan RDTR
Kabupaten/Kota.
(7) Peta ketentuan khusus kawasan rawan bencana tercantum dalam
Lampiran VIII bagian 3, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
Pasal 59
(1) Ketentuan khusus Kawasan Sempadan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 55 huruf d, dengan ketentuan meliputi :
a. Ketentuan khusus sempadan kawasan konservasi; dan
b. Ketentuan khusus sempadan kawasan hutan lindung.
Pasal 60
(2) Ketentuan khusus Kawasan gambut budi daya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 55 huruf e, dengan ketentuan persyaratan kewajiban untuk
menjaga fungsi hidrologis gambut sesuai ketentuan peraturan
perundangan-undangan.
(3) Peta ketentuan khusus kawasan gambut budi daya tercantum dalam
Lampiran VIII bagian 5, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
Pasal 62
(1) Ketentuan khusus Kawasan Pertambangan Mineral dan Batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf f merupakan Wilayah
Usaha Pertambagan (WUP), dengan ketentuan sebagai berikut:
a. penerbitan perizinan kegiatan pertambangan, termasuk Wilayah
Pertambangan Rakyat (WPR) diperbolehkan;
b. ketentuan pelarangan kegiatan pertambangan terbuka di dalam
Kawasan Lindung;
c. ketentuan pelarangan kegiatan pertambangan dan energi di Kawasan
dengan tingkat kerentanan tinggi;
d. ketentuan pelarangan kegiatan pertambangan dan energi yang
menimbulkan kerusakan lingkungan;
e. ketentuan pelarangan lokasi pertambangan pada Kawasan Perkotaan;
f. penetapan lokasi pertambangan dan energi yang berada pada
kawasan perdesaan harus mematuhi ketentuan mengenai radius
minimum terhadap permukiman.
(2) Peta ketentuan khusus kawasan Pertambangan Mineral dan Batubara
tercantum dalam Lampiran VIII bagian 6, yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 63
(1) Ketentuan khusus Kawasan Pertambangan minyak dan gas bumi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf g merupakan pengaturan
Wilayah kerja pertambangan untuk pelaksanaan eksplorasi dan
eksploitasi yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
(2) Peta ketentuan khusus kawasan Pertambangan minyak dan gas bumi
tercantum dalam Lampiran VIII bagian 7, yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Ketiga
Penilaian Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang
Paragraf 1
Umum
Pasal 62
(1) Penilaian pelaksanaan pemanfaatan ruang, sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 51 huruf b, meliputi:
a. penilaian pelaksanaan KKPR; dan
b. penilaian perwujudan RTR.
(2) Penilaian pelaksanaan KKPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a dilaksanakan untuk memastikan:
a. kepatuhan pelaksanaan ketentuan KKPR; dan
b. pemenuhan prosedur perolehan KKPR
(3) Penilaian perwujudan RTR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
dilakukan dengan penilaian perwujudan rencana Struktur Ruang dan
rencana Pola Ruang dilakukan terhadap:
a. kesesuaian program;
b. kesesuaian lokasi; dan
c. kesesuaian waktu pelaksanaan kegiatan pemanfaatan.
Paragraf 2
Penilaian Pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang
Pasal 63
(1) Penilaian pelaksanaan KKPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat
(1) huruf a dilaksanakan untuk memastikan:
a. kepatuhan pelaksanaan ketentuan KKPR; dan
b. pemenuhan prosedur perolehan KKPR.
(2) Penilaian kepatuhan pelaksanaan ketentuan KKPR sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan pada periode:
a. selama pembangunan; dan
b. pasca pembangunan.
(3) Penilaian pada periode selama pembangunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a dilakukan untuk memastikan kepatuhan
pelaksanaan dalam memenuhi ketentuan KKPR dan dilakukan paling
lambat 2 (dua) tahun sejak diterbitkannya KKPR.
(4) Penilaian pada periode pasca pembangunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b dilakukan untuk memastikan kepatuhan hasil
pembangunan dengan ketentuan dokumen KKPR.
(5) Dalam hal hasil penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
ditemukan ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang tertuang dalam
dokumen KKPR, pelaku kegiatan Pemanfaatan Ruang diharuskan
melakukan penyesuaian.
(6) Dalam hal hasil penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
ditemukan ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang tertuang dalam
dokumen KKPR, dilakukan pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 64
Penilaian pelaksanaan ketentuan dalam dokumen KKPR sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Bagian Keempat
Arahan Insentif dan Disinsentif
Pasal 65
(1) Arahan insentif dan disinsentif, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51
huruf c, merupakan ketentuan yang diterapkan untuk mendorong
pelaksanaan Pemanfaatan Ruang sesuai dengan RTR dan untuk
mencegah Pemanfaatan Ruang yang tidak sesuai RTR,
(2) Ketentuan Insentif dan Disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berfungsi untuk:
a. meningkatkan upaya pengendalian Pemanfaatan Ruang dalam rangka
mewujudkan Tata Ruang sesuai dengan RTR;
b. memfasilitasi kegiatan pemanfaatan ruang agar sejalan dengan RTR;
dan
c. meningkatkan kemitraan semua masyarakat dalam rangka
pemanfaatan ruang yang sejalan dengan RTR.
Bagian Kelima
Arahan Sanksi
Pasal 66
(1) Arahan sanksi, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 huruf d, berupa
sanksi administratif yaitu arahan untuk memberikan sanksi bagi siapa
saja yang melakukan pelanggaran ketentuan kewajiban pemanfaatan
ruang sesuai dengan RTR yang berlaku.
(2) Arahan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
perangkat atau upaya pengenaan sanksi yang diberikan kepada
pelanggar pemanfaatan ruang.
(3) Arahan sanksi admistratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berfungsi:
a. untuk mewujudkan tertib tata ruang dan tegaknya peraturan
perundang-undangan bidang penataan ruang; dan
b. sebagai acuan dalam pengenaan sanksi administratif terhadap:
1. Pemanfaatan Ruang yang tidak sesuai dengan RTRWP;
2. Pemanfaatan Ruang yang tidak sesuai dengan KKPR yang
diberikan oleh pejabat yang berwenang;
3. Pemanfaatan Ruang yang tidak sesuai dengan persyaratan KKPR
yang diberikan oleh pejabat yang berwenang;
4. Pemanfaatan Ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan
yang dinyatakan oleh peraturan perundang-undangan sebagai
milik umum;
5. penggunaan dokumen persetujuan KKPRL atau konfirmasi
kesesuaian ruang laut yang tidak sah;
6. tindakan tidak melaporkan pendirian dan/atau penempatan
bangunan dan instalasi di laut kepada menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan;
7. tindakan tidak menyampaikan laporan tertulis pelaksanaan KKPRL
secara berkala tiap 1 (satu) tahun sekali kepada menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan;
8. pelaksanaan persetujuan KKPRL yang tidak sesuai dengan RTR,
Rencana Zonasi Antar Wilayah (RZ KAW), dan/atau (Rencana
Zonasi Kawasan Strategis Nasional Tertentu) RZ KSNT; dan/atau
9. pelaksanaan persetujuan KKPR Laut yang mengganggu ruang
penghidupan dan akses nelayan kecil, nelayan tradisional, dan
pembudidaya ikan kecil.
(4) Arahan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
ditetapkan berdasarkan:
a. besar atau kecilnya dampak yang ditimbulkan akibat pelanggaran
Pemanfaatan Ruang;
b. nilai manfaat pengenaan sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran
Pemanfaatan Ruang; dan/atau
c. kerugian publik yang ditimbulkan akibat pelanggaran Pemanfaatan
Ruang.
BAB VIII
PERAN MASYARAKAT DAN KELEMBAGAAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 67
Peran masyarakat dan kelembagaan meliputi:
a. Hak dan kewajiban masyarakat;
b. Peran masyarakat; dan
c. kelembagaan
Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban Masyarakat
Pasal 68
Dalam penataan ruang, setiap orang berhak untuk:
a. mengetahui RTR;
b. menikmati pertambahan nilai Ruang sebagai akibat Penataan Ruang;
c. mengajukan usulan Pemanfaatan Ruang;
d. memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat
pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan RTR;
e. mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang terhadap
pembangunan yang tidak sesuai dengan RTR di wilayahnya;
f. mengajukan tuntutan pembatalan persetujuan kegiatan Penataan Ruang
dan penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan RTR kepada
pejabat berwenang;
g. mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah dan/atau
pelaksana kegiatan Pemanfaatan Ruang apabila kegiatan pembangunan
yang tidak sesuai dengan RTR menimbulkan kerugian; dan
h. mendapatkan pendampingan dan bantuan hukum terhadap
permasaahan yang dihadapi dalam pelaksanaan Pemanfaatan Ruang.
Pasal 69
Dalam Pemanfaatan Ruang, setiap orang wajib:
a. mentaati RTR yang telah ditetapkan;
b. memanfaatkan ruang sesuai dengan RTR;
c. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan KKPR;
d. memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan
perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum;
e. menyampaikan laporan terjadinya permasalahan pelaksanaan
Pemanfaatan Ruang; dan
f. menjaga, melindungi, dan memelihara kelestarian Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil.
Bagian Ketiga
Peran Masyarakat
Pasal 70
(1) Penyelenggaraan Penataan Ruang dilakukan oleh Pemerintah Daerah
Provinsi dengan melibatkan peran aktif masyarakat dan dunia usaha.
(2) Peran masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan, antara lain, melalui partisipasi dalam:
a. penyusunan RTR;
b. Pemanfaatan Ruang;
c. pengendalian Pemanfaatan Ruang;
d. pengelolaan resiko bencana; dan
e. rehabilitasi kerusakan lingkungan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan bentuk peran masyarakat
dalam penataan ruang mengacu pada peraturan perundangan.
Pasal 71
(1) Pemerintah Daerah Provinsi menyelenggarakan pemberdayaan
masyarakat dalam pelaksanaan Pemanfaatan Ruang.
(2) Pemberdayaan masyarakat sebagaiamana dimaksud pada ayat (1),
meliputi:
a. melakukan fasilitasi peningkatan kapasitas, pemberian akses
teknologi dan informasi, permodalan, dan ases ekonomi produktif
lainnya;
b. mendorong kemitraan antara masyarakat, dunia usaha, dan
Pemerintah Daerah Provinsi, berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat,
dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota.
Bagian Keempat
Kelembagaan
Pasal 72
(1) Dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang secara partisipatif,
Gubernur dapat membentuk Forum Penataan Ruang.
(2) Anggota Forum Penataan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi instansi vertikal bidang pertanahan, perangkat daerah, asosiasi
profesi, asosiasi akademisi, dan tokoh masyarakat.
(3) Forum Penataan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas
untuk memberikan masukan dan pertimbangan dalam penyelenggaraan
penataan ruang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Forum Penataan Ruang mengacu pada
peraturan perundang-undangan.
BAB IX
PENEGAKAN PERATURAN DAERAH
Pasal 73
(1) Penegakan Peraturan Daerah ini dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong
Praja dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan kewenangannya,
berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten/Kota dan
Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Dalam hal terdapat pelanggaran yang dikenakan sanksi, Satuan Polisi
Pamong Praja berkoordinasi dalam tahapan pelaksanaan penindakan
perkara kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang pengangkatannya
ditetapkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, untuk
mendapat penanganan lebih lanjut.
(3) Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah
berkoordinasi dengan Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia untuk
melaksanakan penyidikan.
(4) Dalam pelaksanaan tugas penyidikan, Pejabat Penyidik sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) berwenang:
a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya
tindak pidana;
b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;
c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda
pengenal diri tersangka;
d. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan;
e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f. mengambil sidik jari dan memotret seorang;
g. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka
atau saksi;
h. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya
dengan pemeriksaan perkara;
i. mengadakan penghentian penyidikan; dan
j. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
BAB X
KETENTUAN SANKSI
Pasal 74
Setiap Orang yang melakukan kegiatan yang dilarang sebagaimana
dimaksud dalam ketentuan indikasi arahan zonasi dikenakan sanksi sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan per sektor.
Pasal 75
(1) Setiap orang yang:
a. melanggar ketentuan dalam Pasal 44 ayat (1) dan Pasal 69 huruf a
dan huruf b;
b. tidak mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan KKPR;
c. tidak memberikan akses terhadap kawasan yang oleh peraturan
perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum; dan/atau
d. memperoleh KKPR dengan prosedur yang tidak benar, dikenakan
sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. paksaan pemerintah, berupa:
1. biaya paksaan penegakan hukum;
2. penggantian atau kompensasi lahan; dan/atau
3. pembongkaran bangunan.
c. denda administratif;
d. penghentian sementara kegiatan;
e. penghentian sementara pelayanan umum;
f. penutupan lokasi;
g. pencabutan KKPR;
h. pembatalan KKPR; dan/atau
i. pemulihan fungsi ruang.
Pasal 76
(1) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75
dapat dilaksanakan secara:
a. bertahap;
b. langsung; dan/atau
c. kumulatif, meliputi:
1. internal; dan
2. eksternal.
(2) Untuk menentukan pengenaan sanksi administratif secara bertahap atau
kumulatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dengan
mempertimbangkan:
a. tingkat atau berat-ringannya jenis pelanggaran yang dilakukan oleh
penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan;
b. tingkat penaatan penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan
terhadap pemenuhan perintah atau kewajiban yang ditentukan dalam
sanksi administratif;
c. rekam jejak ketaatan penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan;
dan/atau
d. tingkat pengaruh atau implikasi pelanggaran terhadap lingkungan
hidup.
(3) Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Gubernur.
Pasal 77
(1) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75,
tidak membebaskan pelanggar ketentuan sanksi dari tanggung jawab
pemulihan dan sanksi pidana.
(2) Setiap Orang yang dalam melakukan usaha dan/atau kegiatannya
memanfaatkan ruang yang telah ditetapkan tanpa memiliki persetujuan
kesesuaian pemanfaatan ruang, mengakibatkan kerugian terhadap harta
benda atau kerusakan barang, atau mengakibatkan kematian orang,
dikenakan sanksi pidana sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(3) Setiap Orang yang memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan rencana
tata ruang yang mengakibatkan perubahan fungsi ruang atau
mengakibatkan kerugian terhadap harta benda atau kerusakan barang,
dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 78
(1) Setiap Pejabat Pemerintah yang berwenang yang menerbitkan izin tidak
sesuai dengan rencana tata ruang dikenakan sanksi pidana sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Selain sanksi pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaku dapat
dikenakan pidana tambahan berupa pemberhentian secara tidak dengan
hormat dari jabatannya.
BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 79
(1) Pada saat Peraturan Daerah ini ditetapkan, semua Pemanfaatan Ruang
yang tidak sesuai dengan RTR harus disesuaikan dengan RTR melalui
kegiatan penyesuaian Pemanfaatan Ruang.
(2) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka:
a. terhadap proses pelaksanaannya perizinan yang masih berlangsung,
maka prosesnya disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan
serta dikoordinasikan dalam Forum Penataan Ruang Daerah;
b. izin Pemanfaatan Ruang dan kesesuaian kegiatan Pemanfaatan
Ruang yang telah dikeluarkan tetap berlaku sesuai dengan masa
berlakunya;
c. Pemanfaatan Ruang di Daerah Provinsi yang diselenggarakan tanpa
izin Pemanfaatan Ruang atau KKPR dan tidak sesuai dengan KKPR
serta ketentuan peraturan daerah ini, akan ditertibkan dan
disesuaikan dengan peraturan daerah ini; dan
d. izin pemanfaatan ruang yang telah habis masa berlakunya dan akan
diperpanjang, ditindaklanjuti melalui mekanisme penerbitan KKPR.
BAB XII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 80
(1) Jangka waktu RTRW Provinsi adalah 20 (dua puluh) tahun.
(2) RTRW Provinsi ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam setiap periode 5 (lima)
tahunan.
(3) Peninjauan kembali RTRW Provinsi dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali
dalam 5 (lima) tahun apabila terjadi perubahan lingkungan strategis
berupa:
a. bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan
perundang-undangan;
b. perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan dengan undang-
undang;
c. perubahan batas daerah yang ditetapkan dengan undang-undang;
dan
d. perubahan kebijakan nasional yang bersifat strategis.
Pasal 81
(1) Sengketa pemanfaatan Ruang dapat diselesaikan melalui pengadilan
dan/atau di luar pengadilan.
(2) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dilakukan secara musyawarah mufakat dan/atau
menggunakan jasa pihak ketiga, baik yang memiliki kewenangan dalam
mengambil keputusan maupun yang tidak memiliki kewenangan
mengambil keputusan.
(3) Hasil kesepakatan penyelesaian sengketa di luar pengadilan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dinyatakan secara tertulis dan
bersifat mengikat para pihak.
(4) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan dilakukan para pihak sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Sengketa akibat adanya perubahan kebijakan dapat diselesaikan melalui
fasilitasi Forum Penataan Ruang Daerah.
Pasal 82
(1) Tanah timbul merupakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara.
(2) Tanah timbul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tanah yang
timbul pada pesisir laut, tepian sungai, tepian danau dan pulau.
(3) Tanah timbul dengan luasan paling luas 100 m2 (seratus meter persegi)
merupakan milik dari pemilik tanah yang berbatasan langsung dengan
tanah timbul dimaksud
(4) Tanah timbul dengan luasan lebih dari 100 m2 (seratus meter persegi)
dapat diberikan hak atas tanah dengan ketentuan sesuai peraturan
perundang-undangan.
Pasal 83
(1) Tanah yang berasal dari hasil reklamasi di Wilayah perairan pantai,
pasang surut, rawa, danau, dan bekas sungai dikuasai langsung oleh
Negara.
(2) Tanah reklamasi dapat diberikan hak atas tanah dengan ketentuan
sesuai peraturan perundang-undangan.
(3) Pelaksanaan reklamasi wajib menjaga dan memperhatikan:
a. keberlanjutan kehidupan dan penghidupan masyarakat;
b. keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan kepentingan
pelestarian fungsi lingkungan pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
c. persyaratan teknis pengambilan, pengerukan, dan penimbunan/
pengurugan material.
(4) Gubernur berwenang menerbitkan izin pelaksanaan reklamasi pada
perairan laut paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai
ke arah laut bebas dan/atau ke arah perairan kepulauan dengan
ketentuan sesuai peraturan perundang-undangan.
Pasal 84
Pengaturan Ruang Dalam Bumi diarahkan untuk:
a. Kegiatan yang diperbolehkan pada ruang bawah tanah dangkal yaitu
akses stasiun kereta api perkotaan, sistem jaringan prasarana jalan,
sistem jaringan utilitas, kawasan perkantoran, fasilitas parkir,
perdagangan dan jasa, pendukung kegiatan gedung di atasnya dan
pondasi bangunan gedung di atasnya.
b. Kegiatan yang diperbolehkan pada ruang bawah tanah dalam yaitu
sistem angkutan massal berbasis rel (kereta api perkotaan), sistem
jaringan prasarana jalan, sistem jaringan utilitas dan pondasi bangunan
gedung di atasnya.
c. Pelaksanaan pemanfaatan ruang dalam bumi sebagaimana dimaksud
pada huruf a dan huruf b mengacu kepada peraturan perundang-
undangan.
d. Pemanfaatan ruang bawah bumi diatur lebih lanjut dalam Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten/Kota dan Rencana Detail Tata Ruang
Kabupaten/Kota.
BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 85
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, semua peraturan pelaksanaan
yang berkaitan dengan penataan ruang daerah, dinyatakan masih tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini.
Pasal 86
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku:
a. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 11 Tahun 2016
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Selatan Tahun
2016-2036 (Lembaran Daerah Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016
Nomor 04); dan
b. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 2 Tahun 2020
tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi
Sumatera Selatan Tahun 2020-2040 (Lembar Daerah Provinsi Sumatera
Selatan Tahun 2020 Nomor 02); dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 87
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Diundangkan di Palembang
Pada tanggal.................................
SEKRETARIS DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN
ttd