0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Pembangunan Pagar Kantor Kelurahan Sidorejo

Diunggah oleh

danasadyconsultant
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Pembangunan Pagar Kantor Kelurahan Sidorejo

Diunggah oleh

danasadyconsultant
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

KEGIATAN
Pemeliharaan Barang Milik Daerah Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah

PEKERJAAN
Pembangunan Pagar Kantor Kelurahan Sidorejo

1. Latar Belakang
Seiring dengan berkembangnya laju era globalisasi dan peningkatan fasilitas utama
guna pemenuhan sarana dan prasarana Pembangunan Pagar. Pemerintah daerah
berupaya untuk menjadikan tercapainya pembangunan prasarana Pagar Kantor
Klurahan yang layak. Maka salah satu program pemerintah daerah Kecamatan Arut
Selatan, yaitu melalui kegiatan Pemeliharaan Barang Milik Daerah Penunjang
Urusan Pemerintahan Daerah.

Pada Tahun 2023 ini, Pemerintah Daerah telah menganggarkan dana untuk
pembangunan prasarana pembangunan pagar dan program ini termasuk dalam
kegiatan Pemeliharaan Barang Milik Daerah Penunjang Urusan Pemerintahan
Daerah. untuk pekerjaan Pembangunan Pagar Kantor Kelurahan Sidorejo.
Pembangunan tersebut bertujuan untuk penambahan dan peningkatan prasarana,

2. Maksud dan Tujuan


Maksud Pekerjaan Rehabilitasi Sedang Gedung Sembaga Mas Kelurahan Raja ini
adalah:
a. Melaksanakan Program dari Kecamatan Arut Selatan, khususnya dalam hal
pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan peraturan yang berlaku.
b. Memaksimalkan fungsi gedung sehingga dapat berjalan dengan baik dan optimal.

Sedangkan tujuan dari kegiatan dan pekerjaan ini adalah :


a. Melaksanakan rancang bangun/konstruksi khususnya yang berhubungan dengan
pekerjaan pembangunan sarana dan prasarana dengan mengikuti standar-
standar/ketentuan yang diberikan.

3. Sasaran
a. Terlaksananya Pekerjaan Pembangunan Pagar Kantor Kelurahan Sidorejo
sebagai batas area kantor kelurahan.
b. Memperbaiki/menambah/merubah/memperluas bangunan yang sudah ada.
4. Lokasi Kegiatan
Lokasi Pekerjaan ini adalah : Kantor Kelurahan Sidorejo

5. Nama dan Organisasi Pejabat Pembuat Komitmen


5.1. K/L/D/I : Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat
5.2. SKPD : Kecamatan Arut Selatan
5.3. Nama PA : Indra Wardana, [Link].,M.A.P
5.4. Program : Program Penunjang Urusan Pemerintahan
Daerah Kabupaten/Kota
5.5. Kegiatan : Pemeliharaan Barang Milik Daerah Penunjang Urusan
Pemerintahan Daerah
5.6. Pekerjaan : Rehabilitasi Sedang Gedung Sembaga Mas Kelurahan
Raja Data Penunjang

6. Data Dasar
6.1. Data perencanaan Teknis

7. Standar Teknis
7.1 Peraturan Beton Indonesia 1971
7.2 Tata cara Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang untuk
rumah dan gedung SNI 1734-1989-F
7.3 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018 tentang
pengadaan barang/jasa pemerintah

Ruang Lingkup
9. Lingkup Kegiatan
9.1. Penyusunan HPS oleh Pengguna Anggaran berdasarkan harga pasar +
ongkos angkut + over head dan keuntungan + PPN
9.2. Penyusunan Dokumen Pengadaan mengacu kepada standar yang
dikeluarkan oleh LKPP
9.3. Proses Pelelangan Umum Secara Pascakualifikasi Metode Satu Sampul
Evaluasi Sistem Gugur dengan system LPSE untuk nilai paket diatas
Rp.200.000.000,00 dan Pengadaan Langsung untuk nilai paket sampai dengan
Rp.200.000.000,00
9.4. Penandatangan Kontrak antara penyedia jasa dengan Kuasa Pengguna
Anggaran, setelah ada jaminan Pelaksanaan yang diberikan oleh penyedia
jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran untuk nilai kontrak diatas
Rp200.000.000,00dan untuk nilai pekerjaan diatas Rp. [Link],00
penandatangan Kontrak antara penyedia jasa dengan Kuasa Pengguna
Anggaran setelah ada jaminan Penawaran.
9.5. Pelaksanaan fisik Pembangunan Pagar Kantor Kelurahan Sidorejo sesuai
dengan dokumen kontrak
9.6. Pelaksanaan Kontrak
a. Pelaksanaan Fisik oleh Penyedia Jasa
a) Pengukuran awal pekerjaan, melibatkan Penyedia Jasa, Pengguna
Anggaran, Konsultan Pengawas pekerjaan, Tim Teknis Kegiatan dan
Pejabat Pemerintahan setempat yang berdekatan dengan lokasi
pekerjaan.
b) Penyedia Jasa mendatangkan material yang diperlukan, setelah
melalui pengujian dan mendapat persetujuan konsultan pengawas dan
Pengguna Anggaran/Tim Teknis.
c) Penyedia Jasa mendatangkan peralatan kerja yang sesuai dengan
keperluan pekerjaan.
d) Penyedia Jasa mendatangkan tenaga kerja yang sesuai dengan
keperluan
e) Penyedia Jasa melaksanakan pekerjaan konstruksi sesuai volume
pekerjaan yang tercantum dalam kontrak.
f) Penyedia Jasa bersama-sama dengan konsultan pengawas dan
Pengguna Anggaran melaksanakan pengukuran kuantitas pekerjaan.
g) Penyedia Jasa bersama-sama dengan Konsultan Pengawas dan
Pengguna Anggaran/Tim Teknis melaksanakan pengetesan kualitas
pekerjaan untuk jumlah volume pekerjaan sama dengan atau lebih
besar dari yang dipersyaratkan dalam spesifikasi teknis.
h) Melaksanakan serah terima pekerjaan oleh penyedia jasa kepada
Pengguna Anggaran.
i) Penyedia Jasa melaksanakan pemeliharaan hasil pekerjaan dengan
melaksanakan perbaikan bagian pekerjaan yang rusak pada masa
pemeliharaan selama 180 hari untuk pekerjaan permanen dan 90 hari
untuk pekerjaan semi permanen.
b. Pengawasan teknis oleh konsultan pengawas
Konsultan Pengawas teknis secara terus menerus melakukan
pengawasan setiap tahapan pekerjaan sebagaimana tersebut dalam
nomor 9.6 huruf a. poin a) s/d j).
9.7. Spesifikasi teknis pekerjaan yang digunakan sesuai dengan jenis pekerjaan
yang direncanakan.
A. PEKERJAAN PERSIAPAN
B. PEKERJAAN TANAH DAN PONDASI
C. PEKERJAAN STRUKTUR
D. PEKERJAAN DINDING PAGAR, PAPAN NAMA, DAN PINTU GERBANG

9.8. Besarnya total perkiraan biaya pekerjaan adalah : Rp. 94.374.198,-


10. Keluaran
10.1. Pekerjaan Pembangunan Pagar Kantor Kelurahan Sidorejo.

11. Peralatan, Material, Personil dan Fasilitas Dari Pejabat Pembuat Komitmen
11.1. Pengguna Anggaran tidak menyiapkan peralatan, material dan fasilitas untuk
pelaksanaan pekerjaan.

12. Peralatan dan Material dari Penyedia Jasa Konstruksi


12.1. Peralatan yang disediakan oleh penyedia jasa dengan jumlah dan jenis
disesuaikan dengan kebutuhan yang tercantum dalam analisa pekerjaan
yaitu : Peralatan Utama :
No Nama Alat Spesifikasi Unit
1 Peralatan Tukang Rupa – Rupa 1 Set

12.2. Material bahan bangunan disediakan oleh penyedia jasa dengan jumlah dan
jenis disesuaikan dengan kebutuhan yaitu :
a) Pasir Pasang
b) Batu pecah 1 - 2 cm
c) Besi beton polos
d) Bata Merah
e) Balok kayu kelas II
f) Papan kayu kelas I (ulin)
g) Kayu Perancah/Papan bekisting

13. Lingkup Kewenangan Penyedia Jasa


Pengguna Jasa menyerahkan sepenuhnya kepada Penyedia Jasa atas penyelesian
pekerjaan konstruksi, yang mengacu kepada volume pekerjaan, spesifikasi
pekerjaan, jangka waktu pelaksanaan sebagaimana tercantum dalam kontrak

14. Jangka Waktu Penyelesaian Kegiatan


Untuk menyelesaikan pekerjaan Rehabilitasi Sedang Gedung Sembaga Mas
Kelurahan Raja. pengguna jasa menyediakan waktu selama 120 (Seratus Dua
Puluh) hari kalender. Jangka Waktu Pemeliharaan adalah 120 (Seratus Dua Puluh)
hari kalender.

15. Personil

Jabatan Dalam Pengalaman Kerja


No Sertifikat Kompetensi Kerja
Pekerjaan (Tahun)

1 Pelaksana 0 Tahun SKT Pelaksana Bangunan Gedung

Petugas Keselamatan
2 0 Tahun Sertifikat Petugas K3
Konstruksi
16. Identifikasi Bahaya

Tingkat
No. Jenis /tipe Pekerjaan Indentifikasi Jenis Bahaya & Risiko K3
Resiko
 Kecelakaan pembersihan
1 PEKERJAAN PERSIAPAN  Kecelakaan terkena alat pemukul 2

 Terluka akibat benda tajam


2 PEKERJAAN TANAH DAN PONDASI (cangkul) 2
 Terluka akibat percikan tanah/pasir

 Terluka akibat serpihan batu pecah/pasir,


3 PEKERJAAN STRUKTUR gangguan penglihatan/ sesak nafas
 Terluka akibat pembesian (pemotongan
dan perakitan
 Terluka akibat menginjak kawat beton
 Terluka akibat menginjak kawat beton
 Tertimpa kayu perancah dan papan 2
bekisting
 Terluka akibat serpihan batu pecah
 Terluka saat pencampuran beton
 Terkena alat pertukangan
 Terluka saat penuangan beton
 Terluka akibat serpihan batu pecah/pasir,
4 PEKERJAAN DINDING PAGAR, gangguan penglihatan/ sesak nafas
PAPAN NAMA, DAN PINTU  Terluka akibat benda tajam
GERBANG (cangkul)
 Terluka akibat percikan tanah/pasir
 Tertimpa kayu perancah dan papan 2
bekisting
 Terluka saat pencampuran adukan
semen dan pasir
 Terkena alat pertukangan

17. Kualifikasi Badan Usaha


Sub Kualifikasi Jasa Pelaksana Konstruksi :
17.1 Badan usaha memiliki Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional (IUJK) Bidang
bangunan Sipil yang masih berlaku, tidak habis masa berlakunya pada masa
evaluasi dan tidak sedang dalam proses perpanjangan (Kualifikasi Usaha
Kecil)
17.2 SBU Bidang Bangunan Sipil Sub Klasifikasi Jasa Pelaksana Konstruksi
Bangunan Komersial yang masih berlaku, dan memiliki surat keterangan
divalidasi dari LPJK jika sedang dalam proses perpanjangan.
17.3 TDP/NIB yang masih berlaku, tidak habis masa berlakunya pada masa
evaluasi dan tidak sedang dalam proses perpanjangan.

18. Jadwal Tahapan Pelaksanaan Kegiatan


18.1. Tahap mobilisasi dan demobilisasi personil inti, dan peralatan
18.2. Tahap Pelaksanaan Fisik
18.3. Tahapan Waktu Pemeliharaan

19. Laporan
Penyedia jasa membuat laporan yang disusun kedalam :
19.1. Laporan Harian
19.2. Laporan Mingguan
19.3. Laporan Bulanan
19.4. Laporan Hasil Pemeriksaan Kemajuan Pekerjaan
19.5. Foto dokumentasi pelaksanaan pekerjaan 0 %, foto pada saat pelaksanaan
dan foto selesai pelaksanaan 100 %

20. Produksi Dalam Negeri


Semua kegiatan jasa konstruksi berdasarkan Spesifikasi Teknis ini harus dilakukan di
dalam wilayah Negara Republik Indonesia, kecuali ditetapkan lain dengan
pertimbangan keterbatasan kompetensi dalam negeri

21. Persyaratan Kerjasama


Jika kerjasama dengan penyedia jasa konstruksi lain diperlukan untuk pelaksanaan
kegiatan jasa konstruksi ini maka persyaratan harus sesuai dengan ketentuan.

22. Pedoman Pengumpulan Data Lapangan


Pengumpulan data lapangan harus memenuhi persyaratan berikut :
Pengumpulan data lapangan dilakukan oleh penyedia jasa konstruksi, disaksikan
oleh konsultan pengawas dan personil yang ditugaskan oleh Pengguna Anggaran

23. Alih Pengetahuan


Jika diperlukan, penyedia jasa konstruksi berkewajiban untuk menyelenggarakan
pertemuan dan pembahasan dalam rangka alih pengetahuan kepada personil
Pengguna Anggaran.

Pangkalan Bun, Juli 2023


Pengguna Anggaran (PA)
Kegiatan Pemeliharaan Barang Milik Daerah
Penunjang Urusan Pemerintah Daerah
Kecamatan Arut Selatan
Kabupaten Kotawaringin Barat

INDRA WARDANA, [Link].,M.A.P


NIP. 19840716 200212 1 004
SPESIFIKASI TEKNIS

KEGIATAN
Pemeliharaan Barang Milik Daerah Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah

PEKERJAAN
Pembangunan Pagar Kantor Kelurahan Sidorejo

1. LINGKUP PEKERJAAN
1.1. Pekerjaan yang dilakukan adalah “Pembangunan Pagar Kantor Kelurahan
Sidorejo” Perincian bagian- bagian pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai
dengan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
1.2. Lingkup pekerjaan adalah :
a. Pekerjaan Persiapan
b. Pekerjaan Galian dan Urugan
c. Pekerjaan Batu Belah
d. Pekerjaan Beton Bertulang
e. Pekerjaan Dinding
f. Pekerjaan Pengecatan

2. PEKERJAAN PERSIAPAN
2.1. Sebelum pekerjaan konstruksi di mulai Pelaksana harus melakukan hal-hal
sebagai berikut :
a. Mobilitas alat, bahan, tenaga kerja
b. Membuat gudang dan bangsal kerja
c. Mempersiapkan dokumen-dokumen penunjang untuk kelengkapan
administrasi pekerjaan dilapangan
2.2. Pekerjaan Pengukuran
a. Pengukuran titik dengan patok untuk titik nol ditentukan oleh Penyedia
bersama-sama dengan Pelaksana di lapangan sesuai dengan arahan dan
petunjuk gambar.
b. Penentuan titik siku harus dengan alat ukur yang baik seperti Waterpass

3. PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN


3.1. Pekerjaan galian
a. Galian tanah yang dibuat sesuai dengan arahan dan rencana gambar
b. Hasil galian yang dapat digunakan agar ditimbun sesuai dengan arahan
dan petunjuk Kontraktor dan yang tidak dapat terpakai agar dibuang dari
lapangan.
c. Penggalian pondasi dilakukan dengan terlebih dahulu menetapkan layout,
titik As pondasi tersebut dan ditentukan dengan teliti sesuai dengan arahan
dan petunjuk gambar.
3.2. Pekerjaan Urugan dan Penimbunan Tanah
a. Bila akan dilakukan penimbunan tanah, terlebih dahulu harus dilakukan
pengupasan lapisan atas tanah minimal setebal 30 cm dengan tujuan untuk
menghilangkan lapisan rumput sisa sisa akar tanaman, tanah humus dan
benda benda lainnya yang dapat mengganggu kekuatan tanah.
b. Tanah urug harus bebas dari kotoran . Hasil dari pengurugan harus padat
dan mencapai peil yang dibutuhkan.
c. Galian dan urugan pada tapak harus dilakukan secermat mungkin untuk
menghindari adanya pekerjaan ulang.
d. Setelah seluruh pengurugan selesai, hasil pengurugan harus berada dalam
kondisi baik, padat dan stabil. Apabila hasul urugan belum baik, maka
pengurugan harus diulang sampai mendapat persetujuan Direksi.
3.3. Pekerjaan Urugan Pasir dan urugan kembali
a. Pasir.
Bahan urugan pasir adalah pasir urug atau pasang sesuai dengan
kebutuhan. Pasir urug harus bebas dari kotoran dengan biji-bijian yang
dapat tumbuh. Urugan pasir digunakan untuk menguatkan lapisan tanah
dibawah pondasi dan lantai, pemadatan pasir urug dengan alat pemadat
dan penyiraman secukupnya.
b. Urugan kembali
Pekerjaan mengurug kembali adalah pekerjaan mengurug sisa galian
pondasi, bekas saluran dan meninggikan peil lantai. Tanah untuk urugan
kembali ini adalah tanah yang bersih dari kotoran dan biji-bijian.

4. PEKERJAAN BATU BELAH


a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, kontraktor pelaksana melakukan pengukuran
lebih dulu kepada Konsultan Pengawas jika akan dimulai.
b. Pemborong harus selalu berkonsultasi apabila mendapatkan perbedaan antara
gambar konstruksi dan gambar arsitektur atau hal-hal yang kurang jelas.
Jenis batu belah yang dipergunakan
a. Bahan yang dipergunakan :
1. Batu belah yang tidak poros, keras dengan permukaan tanpa cacat/retak dan
belum pernah dipakai, serta harus dimintakan persetujuan terlebih dulu kepada
Konsultan Pengawas.
2. Perekat yang dipergunakan dalam komposisi adukan dengan perbandingan 1 PC
: 6 PS dan trassram (1 PC : 3 PS).
3. Pasangan Aanstamping dari batu belah yang disusun padat celah celahnya diisi
pasir dan disiram air.
4. Pasir urug digunakan untuk alas pondasi sebelum dipasang aanstamping dengan
tebal urugan 10 cm padat dan dipadatkan dengan alt timbris tangan terbuat dari
logam atau stamper.
b. Diatas pondasi dipasang balok sloof untuk meratakan bahan diatasnya.
c. Ukuran balok sloof disesuaikan dengan gambar konstruksi untuk masing
masingkeperluan pondasi.
d. Bentuk galian untuk pondasi harus disesuaikan dengan gambar rencana, dan
kemiringan disesuaikan dengan keadaan serta sifat tanah setempat agar lobang
galian tidak mudah longsor.
e. Lobang galian untuk pondasi harus dihindarkan dari genangan air, karena
pemborong harus menghisap keluar genangan air yang terjadi.

Pemasangan
a. Batu Kosong
Batu tanpa adukan (aanstamping) setinggi 15 cm, harus dipasang tegak lurus, rapat
dan diisi pada rongga-rongga batu.
b. Pondasi Batu Kali
1. Pekerjaan pasangan batu dilakukan sesuai dengan ukuran dan bentuk-bentuk yang
ditunjukkan dalam gambar. Tiap-tiap batu harus dipasang penuh dengan adukan
sehingga semua hubungan batu melekat satu sama lain dengan sempurna.
2. Setiap batu harus dipasang diatas lapisan adukan dan diketok ke tempatnya hingga
teguh.
3. Adukan harus mengisi penuh rongga-rongga antar batu untuk mendapatkan massa
yang kuat dan integral di beberapa sisi luar dan dalam
4. Batu yang akan dipasang dibasahi dahulu, lalu dibentuk menjadi bidang luar yang
harus sesuai dengan gambar rencana atau petunjuk Ahli. Anker/stek dipasang
dengan cara dibungkus campuran batu kali dengan adukan 10 cm di sekelilingnya,
sedalam 20 cm tiap 1 m’ dengan diameter anker/stek minimum 10 mm.

Pelaksanaan
Untuk mengaduk campuran baik pasangan menggunakan mesin-mesin pengaduk
(molen). Apabila terpaksa mencampur dengan tangan (cangkul dan sekrop), maka
landasan tempat adukan harus kuat. Tidak dibenarkan memakai adukan yang telah
mengering. Pekerjaan pasangan dinding harus terkontrol waterpass baik arah vertikal
maupun horisontal. Semua voeg (siar) diantara pasangan bata pada hari pemasangan
harus dikeruk sedalam 1 cm pada bagian luar dan dalam. Tidak diperbolehkan dipasang
bata yang pernah dipakai (bekas) atau batu bata yang pecah-pecah. Pasangan bata yang
selesai harus terus menerus dibasahi selama 14 hari. Untuk itu plesteran trasraam
dilakukan pada kedua sisi luar dan dalam.

5. PEKERJAAN BETON BERTULANG


5.1. Spesifikasi
Spesifikasi ini meliputi semua pekerjaan beton bertulang dan tak bertulang yang
diperlukan. Semua pekerjaan ini harus mengikuti Peraturan Beton Indonesia
(PBI) 1971. Sepanjang tidak diatur dalam spesifikasi ini.
a. Kelas dan mutu beton Untuk pekerjaan ini dipakai kelas dan mutu Beton
Bertulang mutu f’c = 19,3 Mpa. (K225).
b. Kelas dan mutu baja Untuk pekerjaan baja tulangan harus dipakai baja
tulangan U-24.
c. Bahan-bahan.
 Semen yang digunakan adalah semen yang berkualitas baik, bukan
dari jenis Masonry dan memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-
syarat yang ditentukan dalam NI-8.
 Semen Portland yang harus sesuai dengan yang dicantumkan dalam
spesifikasi ini.
 Apabila diperlukan persyaratan-persyaratn khusus mengenai sifat
betonnya, maka dapat dipakai jenis-jenis semen lain dari pada yang
ditentukan dalam NI-8. Dalam hal ini, pelaksana diharuskan untuk
meminta pertimbanganpertimbangan dari lembaga pemeriksa bahan-
bahan yang diakui.
 Semua agregat halus dan kasar yang dipakai harus sesuai dengan
spesifikasi ini.
 Air yang dipakai harus sesuai ketentuan-ketentuan yang ditetapkan
dalam spesifikasi ini.
 Air yang dipakai untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh
mengandung minyak, asam, alkali, garam-garam, bahan-bahan organis
atau bahan-bahan lain yang merusak beton dan/atau bajan tulangan.
Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.
 Apabila terdapat keraguan mengenai air, dianjurkan untuk mengirim
contoh air itu kelaboratorium pemeriksa bahan-bahan.
 Semua besi tulangan harus sesuai dengan ketentuan-Ketentuan yang
ditetapkan dalam spesifikasi ini.
d. Semen
 Semua semen yang dipakai harus semen Portland kelas I yang sesuai
dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standard NI-8 atau
ASTMC-150 type I.
e. Jika dianggap perlu oleh direksi, pemborong harus melakukan pemeriksa-
an dan pengujian dibawah pengawasan direksi atau semen harus sesuai
dengan NI-18 atau ASTMC-150 atau standar lain yang dapat disetujui.
Pemeriksaan dan “SPESIFIKASI TEKNIS” pengujian semen dapat
diserahkan kepad alaboratori-um pemeriksaan bahan yang disetujui.
Semen yang dapat digunakan adalah semen yang belum lewat 3 (tiga)
bulan dalam kantong. Pemeriksaan dengan tangan dapat dilakukan pada
semen untuk memeriksa adanya gumpalan-gumpalan, yang berarti sudah
adanya proses hidrasi dengan uap air. Semen semacam ini tidak dapat
untuk beton struktural.
f. Penyimpanan.
Pemborong harus membuat gudang-gudang penyimpanan semen yang
baik dan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
 Harus menjamin semen terlindung dari pengaruh iklim dan kelembab-
an gudang harus cukup ventilasi.
 Lantai harus dibuat paling sedikit 30 cm di atas tanah.  Harus dibuat
cukup besar, untuk menyimpan stock yang menjamin kontinuitas
pekerjaan.
 Semen-semen di atas harus diatur sedemikian rupa sehingga semen-
semen yang datang lebih dulu dalam gudang dapat dipakai lebih dulu.
 Sebaiknya semen jangan ditumpuk lebih dari 2 m.
 Apabila semen telah disimpan lama dan atau mutunya diragukan,
maka sebelum boleh dipakai harus diuji dulu dilaboratoium.
 Agergat harus ditimbun ditempat pekerjaan sedemikian rupa hingga
pengotoran oleh bahan-bahan lain dan pencampuran satu sama lain
dapat dicegah. Penggunaan bak-bak bahan yang berlantai sangat
dianjurkan, untuk mencegah terbawanya tanah bawah pada waktu
pengambilan bahan. Ditempat-tempat diman tanahnya gembut dan
atau becek pada waktu hujan, penggunaan bak bahan yang berlantai
menjadi keharusan.
 Batang-batang tulangan harus disimpan dengan tidak menyentuh
tanah. Batang-batang tulangan dari berbagai jenis baja harus diberi
tanda-tanda yang jelas dan ditimbun terpisah jenis yang satu dari jenis
yang lainnya, sehingga tidak mungkin saling bertukar.
 Penimbunan batang-batang tulangan diudara terbuka untuk jangka
waktu yang panjang harus dicegah.
g. Agregat halus dan kasar
Agregat halus yang dipakai dapat terdiri dari :
 Pasir alam, yaitu: pasir yang disediakan pemborong dari sungai atau
sumber lainnya yang disetujui oleh Direksi.
 Pasir buatan, yaitu : material yang dihasilkan oleh alat pemecah batu.
 Pasir dan Split halus yang dipakai harus bersih dan bebas dari tanah
liat, karang, serpihan-serpihan maka, bahan - bahan organik dan
alkalis, jumlah bahan-bahan yang merugikan tersebut tidak boleh 5%.
Pasir yang akan dipakai hendaknya mempunyai gradasi yang baik
sesuai dengan PBI 1971, apabila kadar lumpur melampui 5%, maka
agregat halus harus dicuci.
 Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organik terlalu
banyak yang harus dibuktikan dengan uji coba laboratorium.
 Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam
besarnya dan apbila diayak harus memenuhi syarat-syarat :  Bisa
diatas ayakan 4 mm, harus min. 2% berat  Bisa diatas ayakan 1 mm,
harus min. 10% berat  Sisa diatas ayakan 0,25% mm, harus berkisar
antara 80% dan 95% berat
 Pasir laut tidak boleh diapaki sebagai agregat halus untuk semua mutu
beton, kecuali dengan petunjuk-petunjuk dari lembaga pemeriksaan
bahan - bahan yang diakui.
Agregat Kasar yang akan digunakan : “SPESIFIKASI TEKNIS”
 Yang akan dipakai dapat terdiri dari koral, batu pecah atau kombinasi
keduanya.
 Agregat kasar yang digunakan adalah agregat dengan besar butir lebih
dari 5 mm.
 Agregat kasar harus tidak berpori. Agregat kasar yang mengandung
butirbutir pipih hanya dapat dipakai, apabila jumlah butir-buutir pipih
tersebut tidak melalmpui 20% dari berat agregat seluruhnya. Butir-butir
agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah/hancur oleh
pengaruhpengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
 Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1%
(ditentukan terhadap berat kering). Yang diartikan dengan lumpur
adalah bagian-bagian yang dapat melalu ayakan 0,063 mm. Apabila
kadar lumpur melampui 1 %, maka agergat kasar harus dicuci.
 Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak
beton seperti zat-zat yang reaktif-alkali.
 Kekerasan dari butir-butir agregat kasar harus diperiksa dalam
laboratorium pengujian, dengan syarat-syarat minimum :  Tidak terjadi
pembubukan sampai fraksi 9,5 - 19 mm lebih dari 24% berat ;  Tidak
terjadi pembubukan sampai fraksi 19 - 30 mm lebih dari 22% ;  Tidak
boleh terjadi kehilangan berat lebih dari 50%;
 Agergat kasar harus terdiri dari butir - butir yang beraneka ragam
besarnya dan memenuhi persyaratan :  Sisa ayakan 31,5 mm, harus
0% berat  Sisa ayakan 4 mm, harus berkisar antara 90% dan berat
98% berat  Selisih antara sisa-sisa kumulatif diatas dua ayakan yang
berurutan, adalah maksimum 10% berat.
 Berat butri agregat maksimum tidak boleh lebih raripada seperlima
jarak terkecil antar bidang-bidang samping cetakan, sepertiga dari tebal
pelat atau seperempat dari jarak bersih minimum diantara batang-
batang atau berkasberkas tulangan. Penyimpangan dari pembatasan
ini diijinkan, apabila menurut pengawas ahli cara-cara penegcoran
beton adalah sedemikian rupa sehingga menjamin tidak terjadinya
sarang-sarang kerikil.
 Semua material harus sesuai dengan persyaratan beton PBI ‘71 h.
h. Air
 Air yang dipakai untuk pekerjaan beton harus bebas dari lumpur,
minyak asam garam, bahan-bahan organik dan kotoran-kotoran lain
dalam jumlah yang dapat merusak. Sebelum dipakai untuk pekerjaan
beton, air dan sumbernya harus diperiksa dan diuji apakah sesuai atau
tidak dengan ketentuan ini.
i. Besi Tulangan.
 Semua Besi tulangan yang dipakai harus baru.
 Mutu baja harus sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar -
gambar detail dan sesuai dengan standard Indonesia SNI-2, PBI 1971
dan mendapat persetujuan dari direksi.
 Jika diperlukan Direksi, Pemborong harus dapat memberikan sertifikat
dari baja tulangan yang dipakai dari Laboratorium pengujian bahan
dan/atau dari pabrik. Sebelum baja-baja tulangan didatangkan ke site,
pemborong harus menyerahkan dulu contoh-contoh besi.
 Jika ternyata Besi tulangan tidak sesuai dengan spesifikasi, tidak
sesuai dengan contoh-contoh yang dimaksudkan. Direksi dapat
mengapkhir besibesi tersebut. Segala kerugian menjadi tanggung
jawab pemborong.
 Besi tulangan harus dibengkok/dibentuk dengan teliti sesuai dengan
bentuk dan ukuran-ukuran yang tertera dalam gambar - gambar beton.
Besi harus dibengkok dalam keadaan dingin.
 Sebelum dipasang Besi tulangan harus bersih dari serpihan-serpihan,
karat, minyak, gemuk, yang dapat mengurangi daya lekatan.
 Besi beton harus dipasang dengan teliti sesuai dengan gambar. Besi
beton harus diikat pada tempatnya dengan kawat-kawat pengikat, klem-
klem yang khusus diganjal dengan blok-blok beton atau kesisi besi,
spaces atau gantungan-gantungan sehingga dijamin tidak terjadi
penggeseran pada waktu pengecoran beton.
 Tahu beton harus dibuat dengan adukan 1Pc : 2 Psr.
 Tulangan-tulangan beton harus disambung pada tempat-tempat sesuai
dengan gambar konstruksi, jika diperlukan dapat disambung pada
tempattempat lain tetapi harus mendapat persetujuan dari Direksi.
j. Komposisi/Campuran Beton
 Beton harus dari semen Portland, pasir, kerikil/batu pecah dan air,
semuanya dicampur dalam perbandingan yang serasi sehingga didapat
kekentalan yang baik (mudah dikerjakan) dan kekuatan yang
diinginkan.
Campuran beton adalah :
 Untuk Campuran/perbandingan volume paling sedikit 1Pc : 2Psr :
3Split dan 1Pc : 2Psr : 3Krl.
 Ukuran maksimum dari agregat kasar dari masing-masing bagian
pekerjaan tidak boleh melebihi ukuran maksimum yang ditetapkan.
k. Pengujian Beton Banyaknya air yang dipakai harus diatur sedemikian rupa
dan disesuaikan dengan kadar air dan gradasi dari agregat sehingga
kubus- kubus percobaan harus dibuat dan diuji sesuai dengan PBI 1971.
Pemborong harus menyediakan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk
melakukan pengujian dan dikerjakan oleh petugas-petugas yang terlatih.
Frekwensi pemeriksaan disesuaikan dengan PBI 1971 dan penetapan
Direksi di lapangan.
l. Pengadukan Beton.
 Alat pengukur bahan-bahan beton harus disediakan dan mempunyai
ketelitian yang cukup untuk mengukur dari masing-masing bahan
pembentuk beton.
 Bahan-bahan pembentuk harus dicampur dan diaduk dengan
menggunakan Mesin Beton Mollen paling sedikit 1,5 menit sesudah
semua bahan masuk ke dalam mesin beton mollen.
 Pengadukan yang berlebih-lebihan dan membutuhkan penambahan air
untuk mendapatkan konsistensi beton yang dikehendaki, tidak
diperbolehkan.
 Beton tidak boleh dicampur dan diaduk dengan tangan (hand mixing).
m. Pengecoran Beton
 Sebelum pekerjaan pengecoran beton dilakukan, semua pekerjaan
cetakan (bekisting) , baja-baja tulangan instalasi yang harus ditanam
dalam beton sudah harus selesai dulu dan mendapat persetujuan dari
Direksi.
 Pengecoran hanya boleh dilakukan jika Direksi atau wakilnya yang
ditunjuk serta wakil Pemborong yang setingkat ada di tempat
pekerjaan.
 Cetakan-cetakan harus dibersihkan dulu dengan jalan penyemprot-an
air tawar atau compressor sihingga segala kotoran hilang dari cetakan.
 Beton harus dicor pada tempat pekerjaan secepat mungkin setelah
pencampuran dan pengadukan dipadatkan dengan mechanical vibrator
terus-menerus.
 Sambungan-sambungan pengecoran harus dibersihkan dan harus
dilapisi dahulu dengan air semua sebelum dilakukan pengecoran baru.
Beton harus dicor pada adukan yang baru (fresh).
 Pencampuran / penumpukan kembali beton tidak diperkenankan. Beton
yang sudah mengeras tidak boleh digunakan lagi. Pada waktu
pengecoran yang mana air campuran beton itu terjadi pemisahan
antara air dan specinya, maka beton inipun tak boleh digunakan,
adapun beton tidak boleh dituangkan terlalu tinggi sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya pemisahan/agregasi dari agregat. Tinggi
maksimum pengecoran 1.5 meter.
 Pada penyetopan/pemotongan oleh hubungan semua penuangan
beton harus membentuk suatu sudut (leping dan terjal) dan tidak boleh
vertikal supaya luasnya tetap minim.
 Setiap lapisan beton harus dipadatkan dengan alat penggetar atau
vibrator. Dalam pemadatan setiap lapisan dari beton kepala, alat
penggetar harus dapat menembus dan menggetarkan kembali beton
pada bagian atas dari lapisan yang terletak di bawah.
 Semua material yang akan digunakan dalam pembuatan beton harus
mendapat persetujuan dari pihak direksi.
n. Bekisting
 Cetakan/bekisting untuk beton harus disesuaikan dengan gambar-
gambar rencananya sehingga bidang batasnya seperti yang diinginkan.
Bahan yang akan digunakan untuk rencana cetakan harus mendapat
persetujuan dari Direksi papan kayu Pontoh 3/20.
 Cetakan dibuat sedemikian rupa sehingga mendapatkan cetakan
dengan permukaan yang rata dari beton serta harus berkekuatan dan
mempunyai kekuatan yang tetap pada tempat dan bentuknya selama
pembebanan dan berlangsungnya pekerjaan pemadatan beton.
 Sebelum beton dicor, permukaan dari cetakan - cetakan harus dilumuri
dengan minyak atau bahan lain yang disetujui untuk mencegah
melekatnya beton dengan cetakan-cetakan tersebut.
 Sebelum pengecoran dilaksanakan, kedudukan cetakan harus dicek
kembali, sehingga pada pengecoran nanti kedudukan bekisting tidak
berubah.
o. Pemeliharaan Beton
 Waktu dan cara pembukaan cetakan harus sesuai dengan petunjuk
Direksi. Pekerjaan ini harus dikerjakan dengan hati-hati untuk
menghindari kerusakan pada beton, pada permukaan-permukaan beton
yang tidak beraturan harus segera diperbaiki disetujui oleh Direksi dan
harus dilaksanakan oleh tukang yang ahli.
 Pembongkaran bekisting dapat dilakukan setelah beton berumur tiga
minggu, sedang untuk cetakan samping, boleh dibongkar setelah
empat belas hari.
 Pembongkaran bekisting tak boleh mempengaruhi keadaan konstruksi,
oleh sebab itu pembongkaran bekisting harus memenuhi syarat-syarat
yang ada dalam PBI.
 Selama paling sedikit dua minggu, bidang-bidang beton harus dibasahi
terus menerus antara lain dengan karung-karung basah. Selama
proses pengerasan ini, lantai tidak boleh dibebani.
p. Perbaikan Permukaan Beton
 Permukaan-permukaan beton akan diuji oleh Direksi guna menentukan
apakah ketidakteraturan permukaan berada dalam batas-batas yang
ditentukan di sini.
 Kerusakan yang memerlukan pembongkaran dan perbaikan ialah yang
terdiri dari sarang kerikil, kerusakan karena cetakan, lubang-lubang
karena keropos ketidakrataan oleh pengaruh sambungan-sambungan
cetakan dan bergeraknya cetakan.

6. PEKERJAAN DINDING
6.1. Hal yang termasuk Lingkup Pekerjaan Dinding dan Plesteran Meliputi :
a. Pasangan dinding bata merah
b. Plesteran dan Acian dinding
6.2. Bahan/ Material
a. bata merah
bata merah bermutu baik,dengan pembakaran sempurna dan merata,bebas
dari cacat dan retak minimum telah menjadi dua bagian ,produk lokal dan
memenuhi standar
b. Pasir
Pasir dari kualitas baik,bersih dan bebas dari Lumpur,bahan organis,batu-
batuan harus diayak. Khusus untuk pekerjaan plesteran pasir harus dicuci
terlebih dahulu.
c. Semen
Semen yang digunakan PC (Portland Cement) Tipe I keluaran segala merk
yang beredar di Indonesia (Standart SNI) dan harus dipakai satu macam
merk semen untuk pekerjaan ini.

7. PEKERJAAN PENGECATAN
7.1. Ketentuan Umum
a. Sebelum memulai pekerjaan , bidang-bidang yang akan dilapisi/ dicat
terlebih dahulu disiapkan dengan baik.
Bidang harus mempunyai permukaan yang rata dan lurus atau
mempunyai kemiringan sesuai dengan gambar rencana, bebas dari segal
macam kotoran, tidak retak atau pecah dan tidak lembab.
b. Pelaksanaan pekerjaan baru dapat dilaksanakan setelah bagian tersebut
diperiksa oleh Pengawas dan diizinkan pelaksanaannya.
c. Pelaksana harus mengajukan contoh-contoh bahan untuk disetujui oleh
Pengawas. Bahan yang digunakan harus sesuai dengan contoh yang telah
disetujui dan dalam keadaan baru, dikemas dalam kaleng-kaleng yang masih
disegel serta tidak pecah atau bocor.
Penggunaan bahan-bahan harus sepengetahuan pengawas dan
pelaksana bertanggung jawab atas keaslian dari warna dan bahan yang
digunakan.
d. Pelaksana harus memberikan jaminan tertulis bahwa hasil pekerjaan
pengecatan tidak menggelembung, mengelupas dan cacat-cacat lainnya
selama 2 tahun sesudah penyerahan pekerjaan.
7.2. Pengecatan Kayu
a. Semua sambungan-sambungan kayu, penampang ujung balok bagian
yang akan melekat pada tembok, harus dicat meni dengan kualitas
setara dengan produksi Glotex.
b. Cat kayu mengkilat digunakan merk Glotex., Avian atau berkualitas
setara dan sebelumnya harus menggunakan cat Dasar, Palmur dan
Dempul. Tata laksana pengecatan harus mengikuti patent atau petunjuk
dari Pabrik.
c. Bagian-bagian yang akan di cat Kayu adalah :
 List-list profil kayu plafon
 Lesplank papan, konsol-konsol dan segala pekerjaan yang nampak.
 Realing tangga

d. Pelapisan cat dasar dilakukan minimal 2 (dua) kali jalan, kemudian


diplamur dan di ampelas lagi sampai rata sehingga lubang-lubang serat
kayu sudah tertutup. Pe n- gecatan akhir dilakukan minimal 3 (tiga) kali
dengan s elang waktu minimal 6 (enam) jam sampai didapat permukaan
yang halus dan warna yang rata tanpa cacat.
7.3. Pengecatan Tembok
a. Cat tembok yang dapat dipergunakan adalah jenis cat bekualitas setara
dengan No Drop dan tata laksana pengecatan harus mengikuti patent atau
petunjuk Pabrik.
b. Sebelum dinding dicat, terlebih dahulu harus diplamur dengan plamur
tembok kemudian diamplas hingga halus, selanjutnya dilakukan
pengecatan.
c. Bagian yang akan dicat tembok adalah :
 Seluruh permukaan tembok yang nampak dan telah diaci dengan rata .
 Seluruh permukaan beton yang nampak (kolom, balok, sunscreen,
bagian bawah plat lantai, ring balk) dan lain – lain
d. Pengecatan 2 atau 3 kali sampai merata, warna yang digunakan harus
disetujui oleh Direksi atau Pengawas Lapangan.
e. Warna akan ditentukan kemudian oleh Direksi atau Bouwheer.
8. PEKERJAAN PEMBERSIHAN
8.1. Lingkup Pekerjaan :
Lingkup Pekerjaannya adalah pembersihan seluruh Bagian dari sampah
sampah hasil pekerjaan setelah pekerjaan selesai, Pelaksana diwajibkan
membersihkan kembali lokasi pekerjaan dari sisa – sisa material yang tidak
terpakai, agak lokasi pekerjaan tampak bersih dan indah Setelah dilaksanakan.

Anda mungkin juga menyukai