0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan62 halaman

Perencanaan Sumur Resapan Lamteh

Diunggah oleh

dayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan62 halaman

Perencanaan Sumur Resapan Lamteh

Diunggah oleh

dayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERENCANAAN SUMUR RESAPAN PADA GAMPONG

LAMTEH BANDA ACEH

TUGAS AKHIR

Diajukan kepada Fakultas Sains dan Teknologi


Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Sebagai Beban Studi Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Teknik
Lingkungan

Diajukan Oleh:
Salsabila Hasanah Balqis
NIM. 190702013
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi
Program Studi Teknik Lingkungan

Dosen:
Aulia Rohendi, S.T., [Link].
NIDN. 2010048202

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM - BANDA ACEH
2023 M/ 1444 H
PERENCANAAN SUMUR RESAPAN PADA GAMPONG
LAMTEH BANDA ACEH

TUGAS AKHIR

Diajukan kepada Fakultas Sains dan Teknologi


UIN Ar – Raniry Sebagai Salah Satu Persyaratan
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Prodi Teknik Lingkungan

Disusun Oleh:

SALSABILA HASANAH BALQIS


NIM. 190702013
Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry – Banda Aceh

Disetujui Oleh:
Pembimbing I Pembimbing II

Aulia Rohendi, S.T., [Link]. Ir. Juliansyah Harahap, S.T., [Link].


NIDN. 2010048202 NIP. 198207312014031001

Ketua Program Studi

Husnawati Yahya, [Link]., [Link].


NIP. 197806162005012009

i
ii

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Salsabila Hasanah Balqis
NIM : 190702013
Program Studi : Teknik Lingkungan
Fakultas : Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Judul Skripsi : Perencanaan Sumur Resapan pada Gampong Lamteh Banda Aceh

Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya:


1. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas karya ini;
2. Karya tulis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar
akademik apapun, baik di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh maupun di
perguruan tinggi lainnya;
3. Karya tulis ini adalah merupakan gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri, tanpa
bantuan pihak lain kecuali arahan Dosen Pembimbing;
4. Tidak melakukan plagiasi terhadap naskah karya orang lain;
5. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli atau tanpa izin
pemilik karya; dan
6. Tidak memanipulasi dan memalsukan data.
Bila kemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah melalui
pembuktian yang dapat dipertanggung jawabkan dan ternyata memang
ditemukan bukti bahwa saya melanggar pernyataan ini, maka saya siap dikenai
sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-
Raniry Banda Aceh.

Banda Aceh, 10 April 2023


Yang Menyatakan,

Salsabila Hasanah Balqis


NIM 190702013

ii
iii

ABSTRAK
Nama : Salsabila Hasanah Balqis
NIM : 190702013
Program Studi : Teknik Lingkungan
Judul : Perencanaan Sumur Resapan pada Gampong Lamteh Banda
Aceh
Tanggal Sidang :
Jumlah Halaman :
Pembimbing I : Aulia Rohendi, S.T.,[Link]
Pembimbing II : Ir. Juliansyah Harahap, S.T., [Link].
Kata Kunci : Banjir, Drainase, Perencanaan Sumur Resapan, Debit
Resapan, Volume Tampung Total
Konversi lahan pada perkotaan meningkat secara drastis, perubahan tata
guna lahan dari fungsi semula menjadi fungsi yang lain dan biasanya dialih
fungsikan ke sektor pembangunan. Provinsi Aceh termasuk salah satu daerah
yang belum memiliki peraturan teknis yang sudah diterapkan dalam hal
peningkatan peresapan air. Hal ini merupakan salah satu penyebab penanganan
banjir belum maksimal. Di perkotaan, misalnya di ibukota Provinsi Aceh yaitu
Banda Aceh, masih sering terjadi banjir apabila terjadi intensitas hujan yang
tinggi dan durasi hujan yang lama. Salah satu gampong yang mengalami
genangan adalah Gampong Lamteh, Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh. Salah
satu solusi terhadap permasalahan ini adalah pembangunan drainase berwawasan
lingkungan berupa sumur resapan yang dikombinasikan dengan jaringan drainase
konvensional yang sudah ada.
Saluran drainase yang ada di Gampong Lamteh Banda Aceh saat ini hanya
terletak di beberapa titik saja untuk mengalirkan kelebihan air ke badan air
sementara sisanya masih berupa saluran tanah. Penyebab terjadinya genangan
dikarenakan belum tersedianya tempat peresapan air hujan, Setelah perencanaan
didapatkan nilai debit resapan yang ditampung oleh sumur resapan adalah sebesar
0.000006594 m3/detik dan volume tampung total sebesar 70.650 m3 dan Desain

iii
iv

sumur resapan yang direncanakan berbentuk lingkaran dengan tinggi sumur 3 m,


jari-jari 0.5 m dan jumlah sumur yang 30 sumur.

iv
v

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah
menganugerahkan petunjuk serta ilmu pengetahuan kepada seluruh umat manusia,
sehingga dengan pertolongan dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan
Proposal Tugas Akhir ini.
Tugas Akhir yang berjudul “Perencanaan Sumur Resapan pada Gampong
Lamteh Banda Aceh” diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan baik bagi
penulis maupun pembaca dan dapat dipergunakan sebaik mungkin. Penulis juga
mengucapkan banyak terimakasih kepada Ayahanda Husaini serta Ibunda Suharni
[Link]., selaku Orang Tua dari penulis yang telah mendukung dalam pembuatan
Proposal Tugas Akhir.
Dengan demikian, penulis menyampaikan terima kasih atas bimbingannya
sehingga proposal ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Maka pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada:
1) Prof. Dr. Mujiburrahman, [Link]., selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Ar-raniry.

v
vi

2) Ibu Husnawati Yahya, [Link]., [Link]., selaku ketua Program Studi Teknik
Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Ar-
Raniry.
3) Bapak Aulia Rohendi, S.T., [Link]., selaku Dosen Pembimbing Proposal
Tugas Akhir Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Negeri
Ar-raniry.
4) Dr. Eng. Nur Aida, [Link]., selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis
5) Kedua Orang Tua beserta keluarga yang telah memberikan dukungan dan
doa terhadap Proposal Tugas Akhir Program Studi Teknik Lingkungan
Universitas Islam Negeri Ar-raniry
6) Teman teman seperjuangan yang telah membantu,mendukung dan
memberi semangat dalam penyusunan Proposal Tugas Akhir Prodi Teknik
Lingkungan Universitas Islam Negeri Ar-raniry

Penulis berharap proposal ini dapat memberikan manfaat serta menambah


wawasan berbagai pihak, khususnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan di
Teknik Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Ar-
Raniry. Penulis menyadari proposal ini masih banyak terdapat kekurangan. Maka
dari itu, kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan proposal ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Banda Aceh, Juli 2022


Penulis
Salsabila Hasanah Balqis

vi
vii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL...................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................2
1.3 Tujuan penelitian......................................................................................................2
1.4 Manfaat Penelitian...................................................................................................2
1.5 Batasan Penelitian....................................................................................................1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................2


2.1 Banjir...........................................................................................................................2
2.2 Drainase.......................................................................................................................2
2.3 Drainase Berwawasan Lingkungan.....................................................................4
2.4 Sumur Resapan.........................................................................................................5
2.5 Analisis Hidrologi...................................................................................................6
2.6 Analisis Periode Ulang Hujan..............................................................................7
2.7 Koefisien Limpasan Permukaan (C)..................................................................7
2.8 Penelitian Terdahulu...............................................................................................9

BAB III METODOLOGI PENELITIAN..........................................................16


3.1 Metode Penelitian...................................................................................................16
3.2 Waktu Dan Lokasi Penelitian..............................................................................16
3.3 Tahapan Penelitian.................................................................................................17
3.4 Analisis Data...........................................................................................................18
3.4.1 Analisis hidrologi........................................................................................18
3.4.2 Analisis hidrolika........................................................................................21

vii
viii

[Link] Faktor Geometrik sumur resapan.........................................................21


[Link] Penempatan sumur resapan..................................................................22
[Link] Penentuan volume tampung sumur.....................................................22
[Link] Penentuan debit resapan.........................................................................23
[Link] Limpasan.....................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................24
LAMPIRAN A......................................................................................................27

viii
ix

DAFTAR TABEL

TABEL 3.1 Tabel Jadwal Penelitian……………………………………………17

ix
x

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 3.1 Peta Lokasi Penelitian…………………………………………...16


GAMBAR 3.2 Diagram Alir Penelitian………………………………………....20
GAMBAR 4.1 Kondisi Eksisting Drainase ……………………………………....
GAMBAR 4.2 Kondisi Eksisting Drainase……………………………………....
GAMBAR 4.3 Desain Sumur Resapan………………………………………....

x
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui
yang ada di bumi karena adanya siklus hidrologi (Antara, 2021). Konservasi air
merupakan upaya pemanfaatan kuantitas serta kualitas air agar mencukupi
ketersediaan kuantitas dan kualitas air dalam jangka waktu panjang. Pengelolaan
sumber daya air terpadu dengan baik akan menjaga sumber daya air untuk bisa
digunakan pada saat ini dan di masa depan (berkelanjutan). Pengelolaan sumber
daya air terpadu juga dapat mencegah dampak buruk dari krisis air, yang bisa
terjadi akibat daya rusak air, misal kekeringan atau banjir. Salah satu yang
menyebabkan hal negatif terkait sumber daya air adalah perubahan alih fungsi
lahan(Suni, 2021).
Konversi lahan pada perkotaan meningkat secara drastis, perubahan tata
guna lahan dari fungsi semula menjadi fungsi yang lain dan biasanya dialih
fungsikan ke sektor pembangunan. Dampak yang diakibatkan ialah banjir hingga
kekeringan. Perubahan penggunaan lahan menyebabkan resapan air berkurang,
padahal resapan air ini sangat diperlukan untuk cadangan air di periode
kekeringan dan untuk pencegahan banjir. Pengelolaan sumberdaya air menjadi
suatu hal penting yang harus mendapat perhatian serius, karena akan berakibat
nyata terhadap berbagai aspek kehidupan manusia (Ayu dan Heriawanto, 2018).
Permasalahan banjir juga diperparah dengan penggunaan drainase
konvesional yang bertujuan mengalirkan air secepat-cepatnya ke badan air agar
lahan tidak terjadi genangan (banjir). Penanganan yang tepat adalah dengan
meningkatan peresapan air ke dalam tanah, solusi yang efektif adalah
pembangunan sumur resapan. Hal ini bisa diterapkan dengan kombinasi drainase
konvensional dengan yang berwawasan lingkungan, misalnya pembangunan
sumur resapan.

1
2

Sebenarnya dalam Al-Quran juga sudah diisyaratkan bahwa hujan itu


adalah rahmat dan yang sudah dijelaskan dalam surah Asy-syura ayat 28 yang
artinya “Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan
menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah yang maha pelindung lagi maha terpuji."
(QS. Asy-Syura: 28). Sejalan dengan ayat tersebut, Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2009 juga menyebutkan bahwa hujan harus
dimanfaatkan. Amanat peraturan tersebut seharusnya bisa dirincikan dalam
hukum dan peraturan di bawahnya sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Contoh peraturan yang sudah ada terkait ini adalah Peraturan
Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 109 Tahun 2021 yang
menyebutkan bahwa sumur resapan adalah sistem resapan buatan yang dapat
menampung dan meresapkan air ke dalam tanah. Sementara peraturan seperti ini
belum merata di seluruh Indonesia.
Provinsi Aceh termasuk salah satu daerah yang belum memiliki peraturan
teknis yang sudah diterapkan dalam hal peningkatan peresapan air. Hal ini adalah
satu hal yang menyebabkan penanganan banjir belum maksimal. Di perkotaan,
misalnya di ibukota Provinsi Aceh yaitu Banda Aceh, masih sering terjadi banjir
bila terjadi intensitas hujan yang tinggi dan durasi hujan yang lama. Salah satu
gampong yang mengalami genangan adalah Gampong Lamteh, Kecamatan Ulee
Kareng. Berdasarkan obeservasi banjir di daerah ini sering terjadi ketika musim
penghujan dan apabila intensitas hujan yang tinggi dalam durasi yang lama.
Selain permasalahan banjir pada musim hujan, di Gampong Lamteh juga
sudah banyak terjadi konversi lahan terbuka contohnya sawah dan kebun menjadi
kompleks perumahan yang menyebabkan permasalahan genangan air menjadi
lebih sering terjadi. Berdasarkan hasil observasi drainase yang ada di gampong
tersebut adalah drainase konvensional. Salah satu solusi terhadap permasalahan
banjir di gampong ini adalah pembangunan drainase berwawasan lingkungan
berupa sumur resapan yang dikombinasikan dengan jaringan drainase
konvensional yang sudah ada.
2

Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti tertarik melakukan


penelitian berjudul “Perencanaan Sumur Resapan Pada Gampong Lamteh Banda
Aceh”. Adapun konteks dari penelitian ini adalah diharapkan bermanfaat dan
dapat diterapkan sebagai rujukan untuk menyelesaikan permasalahan banjir yang
terdapat di lingkungan Gampong Lamteh Banda Aceh dan juga untuk
memperbaiki sistem drainase biasa menjadi drainase berwawasan lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan pemaparan dari latar belakang, maka rumusan masalah dari pada
penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kondisi eksisting drainase dan permasalahan banjir yang terjadi di
Gampong Lamteh Banda Aceh?
2. Berapa besar debit resapan dan volume yang ditampung sumur resapan yang
direncanakan di Gampong Lamteh Banda Aceh?
3. Bagaimana desain sumur resapan yang direncanakan sehingga dapat
mengatasi permasalahan banjir di Gampong Lamteh Banda Aceh?

1.3 Tujuan penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk memberi informasi tentang kondisi eksiting sistem drainase sehingga
bisa dirumuskan hal-hal yang harus diperhatikan untuk perbaikan kondisi
sistem drainase.
2. Mengetahui debit resapan dan volume yang ditampung sumur resapan di
Gampong Lamteh Banda Aceh.
3. Mengetahui desain sumur resapan yang direncanakan sehingga dapat
dijadikan acuan untuk meminimalisir permasalahan banjir dan genangan yang
terjadi.

1.4 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan bermanfaat dan dapat diterapkan sebagai rujukan
untuk menyelesaikan permasalahan banjir yang terdapat di lingkungan Jalan
Flamboyan Gampong Lamteh Banda Aceh.

2
4

1.5 Batasan Penelitian


Memperhatikan masalah yang terjadi, mengingat waktu, kemampuan dan
prasarana pendukung, maka penulis membatasi permasalahan hanya meliputi
kawasan lingkungan Jalan Flamboyan Gampong Lamteh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Banjir
Banjir merupakan suatu peristiwa tertutupnya daratan kering disebabkan
volume air yang meningkat. Terdapat dua peristiwa dalam banjir. Pertama banjir
sering terjadi di daerah yang umumnya bebas banjir. Kedua banjir tersebut
disebabkan oleh limpasan air dari sungai karena debit air lebih besar dari
kapasitas arus sungai (Imamuddin dan Antoni, 2019). Limpasan permukaan
adalah aliran air yang mengalir di atas permukaan karena penuhnya kapasitas
infiltrasi tanah yang tidak bisa menampung aliran air lebih banyak lagi sehingga
air mengalir ke tempat yang lebih rendah menuju ke sungai, danau dan lautan.
Limpasan terjadi ketika hujan turun melebihi kapasitas untuk menembus tanah.
(Sempana dkk., 2018).
Musim hujan sebagai faktor utama penyebab daerah yang berpotensi
terkena bencana banjir terkhususnya pada badan air yang landai. Intensitas hujan
yang lebih daripada biasanya, suhu yang berubah, rusaknya tanggul maupun
terjadinya obstruksi aliran air di lokasi yang lain akan menyebabkan terjadinya
banjir. Sedangkan genangan merupakan sekumpulan air yang diam di tempat yang
bukan merupakan badan air. Daerah genangan merupakan lahan yang digenangi
oleh air yang disebabkan karena drainase eksisting tidak berfungsi sesuai sistem
yang dirancang sehingga menjadi gangguan maupun kerugian bagi sekitar
(Matthew dkk., 2021).

2.2 Drainase
Drainase merupakan suatu sarana yang dirancang untuk memenuhi
kebutuhan dalam perencanaan infastruktur yang berfungsi untuk meminalisir
kelebihan air dalam suatu daerah. Umumnya dibutuhkan masyarakat untuk
kehidupan yang lebih aman dan nyaman (Pratiwi dkk., 2020). Sistem drainase
perkotaan adalah satu kesatuan sistem teknis dan non teknis dari prasarana dan
sarana drainase perkotaan(Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12, 2014)

5
6

Klasifikasi Drainase:
a) Jenis drainase berdasarkan sejarah terbentuknya:
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Drainase alami merupakan drainase yang terbentuk secara alami tanpa
campur tangan manusia. Drainase alami terbentuk dampak erosi air
yang berlangsung lama, dan terbentuk dalam kondisi tanah dengan
kemiringan yang cukup, sebagai akibatnya air mengalir ke sungai
secara otomatis.
2. Drainase buatan (artificial drainage).
Drainase buatan merupakan hasil rekayasa yang dibuat berdasarkan
hasil perhitungan dan bertujuan untuk memperbaiki atau melengkapi
kekurangan dari sistem drainase alami. Sistem drainase yang
dihasilkan membutuhkan struktur spesifik misalnya parit, drainase
batu, gorong-gorong, dan pipa.
b) Jenis drainase berdasarkan letak bangunan:
1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Drainase permukaan tanah merupakan sistem drainase yang salurannya
berada di atas permukaan tanah yang pengaliran air terjadi karena
adanya beda tinggi permukaan saluran.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Drainase bawah permukaan tanah merupakan sistem drainase yang
dialirkan di bawah tanah umumnya karena dalam suatu area yang tidak
memungkinkan untuk mengalirkan air di atas permukaan tanah.
c) Jenis drainase berdasarkan fungsi:
1. Single purpose
Drainase single purpose adalah saluran drainase yang berfungsi untuk
mengalirkan hanya satu jenis air buangan.
2. Multipurpose
Drainase multipurpose adalah saluran drainase yang berfungsi untuk
mengalirkan lebih dari satu jenis air buangan secara bercampur
maupun bergantian(Mulyadi, 2018).
8

Salah satu faktor yang dapat menyebabkan penurunan fungsi drainase


adalah kerusakan fisik sistem drainase. Kerusakan fasilitas drainase ini biasanya
disebabkan oleh air yang mengalir saat hujan, dengan air yang berasal dari
pemukiman ke selokan dan kapasitas yang lebih besar, sehingga terjadinya banjir.
Hal ini erat kaitannya dengan jumlah air yang masuk, karena dimensi bangunan
drainase yang dibangun kecil, sedangkan air yang masuk besar. Selain itu,
kapasitas drainase ini tidak maksimal, yang pada akhirnya menyebabkan air hujan
mengalir keluar, yang membawa tanah ke dalam struktur drainase dan
menyebabkan sedimentasi dan lumpur (Febrianti dan Silvia, 2019). Kelebihan air
atau genangan tercipta karena keseimbangan air di kawasan tersebut terganggu.
Karena air yang masuk ke daerah tersebut bahkan lebih besar dari air yang keluar.
Kelebihan air disebabkan oleh air hujan (Ardiansyah dan Gasali M., 2020).

2.3 Drainase Berwawasan Lingkungan


Sistem drainase yang berwawasan lingkungan dapat mengurangi risiko
banjir, memungkinkan lebih banyak air yang dibuang secara alamiah (contoh
infiltrasi) dan dapat mengurangi tingkat polusi aliran air (Putranto dan Kalsum,
2020). Dibutuhkan suatu sistem drainase yang berwawasan lingkungan
(environment friendly) untuk menanggulangi banjir. Prinsip sistem drainase
adalah air akan secepatnya dibuang agar tidak terjadi banjir pada suatu kawasan,
akan tetapi prinsip drainase berwawasan lingkungan adalah mengendalikan air di
permukaan sehingga dapat meningkatan peresapan air ke dalam tanah (Bogor
dkk.,2018).
Adapun beberapa metode drainase berwawasan lingkungan adalah sebagai
berikut ((Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12, 2014):
1. Metode kolam konservasi
Metode ini dilakukan dengan membuat kolam-kolam air baik di perkotaan,
pedesaan, dan pemukiman. Kolam ini dapat dibuat untuk menampung air hujan
dengan diresapkan terlebih dahulu dan sisanya dialirkan ke sungai.
2. Metode River side polder
8

Metode ini menahan kelebihan air hujan di sepanjang bantaran sungai


dengan pembuatan polder secara alamiah. Sebagian air akan mengalir ke polder
pada saat terjadi banjir dan akan keluar jika banjir reda sehingga banjir di hilir
dapat dikurangi.
3. Area perlindungan air tanah (Ground water protection area).
Metode ini dilakukan dengan menetapkan kawasan lindung untuk air
tanah, area tersebut dikhususkan untuk meresapkan air kedalam tanah dan tidak
boleh dibangun bangunan apa pun.
4. Sumur resapan
Metode ini merupakan metode praktis dengan cara membuat sumur-sumur.
Sumur resapan hanya digunakan untuk menapung air hujan, bukan untuk limbah
rumah tangga. Sumur resapan merupakan sarana untuk menampung air hujan dan
meresapkannya ke dalam tanah. Air hujan yang jatuh ke atas atap rumah tidak
dialirkan ke selokan atau halaman rumah, tetapi dialirkan dengan menggunakan
pipa atau saluran air ke dalam sumur sehingga dapat mengurangi jumlah limpasan
yang terjadi. meresapkan air. Hal ini mengingat semakin banyak tanah yang
tertutupi oleh tembok, beton, aspal, dan bangunan lainnya yang tentunya
berdampak meningkatnya laju aliran permukaan. (Pattiruhu dkk., 2019).
Sumur resapan merupakan upaya memperbesar resapan air hujan kedalam
tanah dan memperkecil aliran permukaan sebagai penyebab banjir. Manfaat sumur
resapan adalah mengurangi aliran permukaan sehingga dapat mencegah atau
mengurangi terjadinya banjir dan genangan air. Berdasarkan SK-SNI S-14-1990-
F, bentuk dan ukuran sumur resapan sebagai berikut:
1. Sumur resapan air hujan berbentuk lingkaran atau segiempat
2. Ukuran minimum sisi penampang atau diameter adalah 0,8 meter,
sedangkan ukuran maksimumnya adalah 1,4 meter
3. Ukuran kedalaman minimum adalah 1,5 meter. Kedalaman maksimum
adalah sampai batas kedalaman permukaan air tanah.
8
9

2.5 Analisis Hidrologi


Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan sistem air dari
permukaan ke bumi. Faktor yang paling berpengaruh adalah faktor curah hujan.
Faktor-faktor yang menentukan terjadinya banjir di suatu daerah dapat dilihat
pada curah hujan (Rurung dkk., 2019). Analisis Hidrologi adalah prosedur awal
dalam menentukan besar debit banjir rencana daripada perencanaan suatu
bangunan hidrolik. Proses ini berupa pengolahan data curah hujan, data luas dan
bentuk daerah pengaliran (catchment area), data kemiringan lahan atau beda
tinggi, dan data tata guna lahan yang semuanya itu digunakan untuk mengetahui
besarnya curah hujan maksimum, koefisien pengaliran, waktu konsentrasi,
intensitas curah hujan, dan debit banjir rencana.
Hujan merupakan faktor terpenting analisis hidrologi. Dalam analisis
hidrologi dilakukan beberapa tahap untuk memperoleh debit sampai pada tahun
rencana yaitu:
a. Pengumpulan data curah hujan
b. Analisis frekuensi hujan
c. Pemilihan jenis metode distribusi
d. Analisis curah hujan rencana dengan periode ulang tertentu
e. Analisis intensitas hujan.
10

2.6 Analisis Periode Ulang Hujan


Dalam mendesain drainase dibutuhkan informasi curah hujan maksimum
dengan periode ulang tertentu. Besarnya curah hujan maksimum untuk setiap
rancangan bangunan air tergantung pada usia penggunaan dan kapasitas tampung,
sebagai contoh untuk bangunan waduk yang besar dibutuhkan informasi hujan
maksimum dengan periode ulang yang besar dengan periode ulang 50, 100
tahunan. Sedangkan untuk saluran irigasi membutuhkan informasi curah hujan
maksimum dengan periode ulang yang pendek dengan periode ulang antara 2, 5,
10 tahunan.
Kriteria desain hidrologi sistem drainase perkotaan dijelaskan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Kriteria Desain Hidrologi Sistem Drainase Perkotaan
Daerah Periode Ulang Metode Perhitungan Debit
Tangkapan Air (Tahun) Hujan
(Ha)
<10 2 Rasional
10 – 100 2–5 Rasional
101 – 500 5 – 20 Rasional
>500 10 - 25 Rasional
Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum, 2012.

2.7 Koefisien Limpasan Permukaan (C)


Dalam suatu siklus hidrologi, aliran permukaan adalah bagian dari curah
hujan yang tidak terinfiltrasi oleh tanah ataupun terintersepsi oleh akar tanaman,
yang mengalir di atas permukaan tanah untuk selanjutnya mencapai sungai.
Koefisien aliran (C) merupakan perbandingan antara volume aliran permukaan
dengan volume hujan yang jatuh. Akhirnya C dapat dijadikan sebagai indikator
11

gangguan fisik dalam suatu DAS. Nilai C semakin besar menunjukkan


bahwa semakin banyak air hujan yang menjadi aliran permukaan. Faktor utama
yang mempengaruhi C adalah laju infiltrasi tanah atau prosentase lahan kedap air,
kemiringan lahan.
Dalam perhitungan koefisien aliran /limpasan dari suatu DAS, data hujan
yang diperlukan adalah tinggi curah hujan rata-rata DAS dengan durasi hujan
(jam-jaman, harian, bulanan, tahunan) yang sangat tergantung pada durasi
koefisien aliran yang mengakibatkan teradinya aliran /limpasan. Nilai koefisien
limpasan berdasarkan karakter permukaan dijelaskan pada Table 2.2.
Tabel 2.2 Nilai Koefisien Limpasan Berdasarkan Karakter Permukaan
Karakter Permukaan Koefisien C

Rerumputan
 Tanah Pasir, datar, 2% 0.50 - 0.10
 Tanah Pasir, sedang, 2–7% 0.10 - 0.15
 Tanah Pasir, curam, 7% 0.15 – 0.20

 Tanah Gemuk, datar, 2% 0.13 – 0.17

 Tanah Gemuk, sedang, 2–7% 0.18 – 0.22


0. 25 – 0.35
 Tanah Gemuk, curam, 7%
Perdagangan
 Daerah Kota Lama 0.75 – 0.95
 Daerah Pinggiran 0.50 – 0.70
Perumahan
 Daerah Single Family 0.30 – 0.50
 Multi Unit Terpisah 0.40 – 0.60
 Multi Unit Terpisah 0.60 – 0.75

 Suburban 0.25 – 0.40

 Daerah Apartemen 0.50 – 0.70

Industri
 Daerah Ringan 0.50 – 0.80
 Daerah Berat 0.60 – 0.90
Taman, Kuburan 0.10 – 0.25
12

Tempat Bermain 0.20 – 0.35

Halaman Kereta Api 0.20 – 040

Daerah Tidak Dikerjakan 0.10 – 0,30

Jalan
 Beraspal 0.70 – 0.95
 Beton 0.80 – 0.95
 Batu 0.70 – 0.85

Atap 0.75 – 0.95

Sumber: Noviana Dian Utami, 2012.

2.8 Penelitian Terdahulu


Kajian penelitian terdahulu sangat penting sebagai bahan pertimbangan
dengan hasil yang nantinya akan disajikan. Peneliti mengkaji jurnal-jurnal yang
terkait dengan judul penelitian tugas akhir ini. Peneliti telah mengkaji penelitian
dari (Bahunta dan Waspodo, 2019) tentang rancangan sumur resapan air hujan
sebagai upaya pengurangan limpasan di Kampung Babakan, Cibinong, Kabupaten
Bogor. Keadaan perubahan penggunaan lahan akibat pembangunan perumahan,
secara tidak langsung dapat merusak kawasan resapan air di Kampung Babakan.
Hal ini mengakibatkan semakin berkurangnya daerah resapan air hujan yang
menyebabkan air hujan terkumpul pada saluran drainase yang ada. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis jumlah dan dimensi sumur resapan dalam volume
genangan dan menentukan nilai efektivitas pengurangan limpasan. Metode yang
digunakan dalam perencanaan ini adalah perhitungan analisis hidrologi, analisis
hidrolika, dan metode perhitungan sumur resapan. Berdasarkan perhitungan
volume andil banjir total di wilayah Kampung Babakan seluas 2.42 ha dengan
koefisien limpasan sebesar 0.4 untuk karakter perkampungan dan curah hujan
rencana 97.36 mm/hari sebesar 805790.30liter atau setara dengan 805.79 m3.
Berdasarkan hasil perhitungan, total sumur resapan yang perlu dibuat sebanyak
115 buah serta parit berorak sebanyak 76 buah.
Peneliti juga mengkaji penelitian dari (Muliawati dan Mardyanto,
2015)tentang perencanaan penerapan sistem drainase berwawasan lingkungan
13

(eko-drainase) menggunakan sumur resapan di Kawasan Rungkut Dea.


Pertambahan penduduk yang semakin pesat dan pertambahan pembangunan
permukiman yang tidak diimbangi dengan perkembangan sistem drainase. Metode
yang digunakan dalam perencanaan ini adalah perhitungan analisis hidrologi,
analisis hidrolika, dan metode perhitungan sumur resapan. Dimensi sumur
direncanakan secara tipikal dengan kedalaman air di sumur 1 m, dengan luas 4 m²,
kapasitas resapan 1 buah sumur sebesar 0,0032 m3/detik - 0,044 m³/detik,
sehingga dibutuhkan sebanyak 282 buah sumur resapan yang direncanakan
ditempatkan di wilayah tangkapan air dari saluran drainase yang terjadi genangan.
Dana yang dibutuhkan dalam pembuatan 1 sumur resapan adalah sebesar Rp
6.700.000,00.
Peneliti juga mengkaji penelitian dari (Rurung dkk., 2019) tentang
perencanaan sistem drainase berwawasan lingkungan dengan sumur resapan di
lahan Perumahan Wenwin-Sea Tumpengan Kabupaten Minahasa. Keadaan
perumahan yang relatif padat menyebabkan salah satu sarana pembangunan tidak
berfungsi dengan efektif. Dampak yang di akibatkan adalah terjadi limpasan
permukaan dan menurunnya kuantitas air yang meresap ke dalam tanah, sehingga
menyebabkan terjadinya genangan air ataupun banjir pada waktu curah hujan
tinggi. Diperlukan adanya penataan kembali sistem drainase pada perumahan
tersebut berupa sistem drainase berwawasan lingkungan (eko-drainase) dengan
menggunakan sumur resapan. Sistem drainase berwawasan lingkungan dengan
sumur resapan dihitung dengan menggunakan perhitungan analisis hidrologi,
analisis hidrolika dan Metode Sunjoto untuk mengetahui debit resapan, dan
banyaknya sumur resapan yang diperlukan. Dimensi sumur direncanakan
berbentuk silinder dengan diameter yang sama yaitu 1 m dan kedalaman sumur 1
m. Pada penutup sumur, akan diberikan penutup setebal 10 cm yang terbuat dari
beton yang diberi celah agar air dapat masuk. Kapasitas resapan 1 buah sumur
adalah 0,1356 m3 /det, sehingga diperlukan 5 sumur resapan yang direncanakan di
saluran yang mengalami genangan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif
dilakukan pada pengumpulan dan pengolahan data curah hujan, menentukan
faktor geometrik sumur resapan, uji permeabilitas tanah, penentuan tinggi sumur
resapan, penempatan sumur resapan, penentuan volume tampung sumur,
penentuan debit resapan dan limpasan.

3.2 Waktu Dan Lokasi Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan selama 6 bulan mulai dari November
2022 hingga April tahun 2023. Adapun jadwal penelitian dapat dilihat pada Tabel
3.1.
Lokasi penelitian adalah di Jalan Flamboyan Gampong Lamteh,
Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Pada daerah ini rawan terjadi banjir
saat musim penghujan. Jalan Flamboyan terletak dalam Gampong Lamteh yang
berada di Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh dengan luas wilayah kurang
lebih 542m2 . Gampong Lamteh memiliki empat dusun yaitu Dusun Blang
Karieng, Dusun Bahagia, Dusun Mawar dan Dusun Cot Lilip. Penelitian ini akan
menghasilkan perencanaan drainase berwawasan lingkungan berupa sumur
resapan di Jalan Flamboyan. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.1

14
15

Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian


16

No Kegiatan Waktu Penelitian (2022-2023)


Juli Agustus September Oktober November Desember Januari

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Konsultasi
Proposal

2 Seminar
Proposal dan
Perbaikan
3 Pengumpul-
an Data

4 Pengolahan
Data

5 Penyusunan
Laporan
Tugas Akhir
6 Sidang
Tugas Akhir
7 Perbaikan
Hasil Sidang
Tugas Akhir

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian


16

3.3 Tahapan Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahap berikut (Gambar 3.2):
a. Tahap persiapan
Tahap persiapan ini dilakukan untuk melihat kebutuhan data dan informasi
yang terdapat pada lapangan, tahapan ini meliputi:
1) Observasi lapangan terhadap masalah banjir yang terjadi.
2) Melakukan studi literatur dari referensi yang sesuai
b. Tahap pengambilan data
Tahapan pengambilan data pada penelitian ini berupa data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data hasil observasi di lapangan, berupa hasil
wawancara dengan warga sekitar yang mengalami langsung dampak banjir. Data
sekunder dalam penelitian ini adalah data curah hujan yang diperoleh dari BMKG
Stasiun Klimatologi IV Aceh Besar.
1. Data primer
Data-data primer yang harus dikumpulkan sebagai berikut:
1) Hasil observasi kondisi pada lokasi penelitian.
2) Dokumentasi lokasi penelitian
3) Hasil wawancara dari masyarakat terkait
2. Data sekunder
Adapun data yang dibutuhkan pada data ini berupa literatur, serta
laporan-laporan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Data
sekunder yang dibutuhkan meliputi data aspek dasar yaitu:
1. Data hidrologi, data ini berupa data curah hujan yang berasal dari
BMKG Stasiun Klimatologi IV Aceh Besar untuk tahun 2012-2021.
2. Peta Topografi yang berasal dari data DEM Nas dan data Shp (format
data vektor yang digunakan untuk menyimpan lokasi, bentuk, dan atribut dari fitur
geografis)
c. Tahapan Analisis Data dan Desain
Analisis hidrologi (data curah hujan) dilakukan untuk mengetahui debit banjir
rencana yang akan digunakan untuk desain sistem drainase berupa sumur resapan.
Analisis hidrolika digunakan untuk perencanaan sumur resapan.
18

d. Tahapan penulisan laporan


Dalam tahap ini semua hasil analisis dibahas sampai dengan pengambilan
kesimpulan dan merumuskan saran.
19

Gambar 3.2 Diagram Alir Penelitia


20

3.4 Analisis Data


3.4.1 Analisis hidrologi
Analisis hidrologi dilakukan guna menghitung limpasan permukaan yang
ada di lokasi penelitian. Tahapan-tahapan analisis hidrologi adalah sebagai
berikut:
1. Pengambilan data curah hujan untuk tahun 2012-2021. Data yang diambil
adalah data maksimum setiap bulan yang dirata-ratakan. Pengolahan data
curah hujan dapat diperoleh dengan menggunakan Distribusi Normal, Log
Normal, Log Pearson III dan Gumbell.
a. Distribusi Normal menggunakan rumus sebagai berikut:

Pers (3.1)
XT = X + KTS

Keterangan:
XT : Hujan rencana
X : Nilai rata-rata dari hujan
S : Standar deviasi dari data hujan
KT : Faktor frekuensi
b. Distribusi Log Normal menggunakan rumus sebagai berikut:

YT = Y + KTS
Pers (3.2)

Keterangan:
YT : Periode nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T
Y : Nilai rata-rata hitung varian
S : Standar deviasi dari data hujan
KT : Faktor frekuensi
20
21

c. Distribusi Log Pearson III menggunakan rumus sebagai berikut:

Per (3.3)
Log XT = Log X + (KT x S Log X)

Keterangan:
Log XT: Nilai logaritma hujan rencana dengan periode ulang T
Σ log Xi
Log XT : Nilai rata-rata dari log X ¿
n
2 0.5
S log X=Σ ( log Xi – LogX )
S Log X: Deviasi standar dari Log X=
10−1
KT: Variabel standar, besarnya tergantung koefisien kepencengan (Cs atau
G pada tabel frekuensi KT untuk Distribusi Log Pearson III)
d. Distribusi Gumbel menggunakan rumus sebagai berikut:

Pers (3.4)
XT = X + S x K

Keterangan:
XT : Hujan rencana (mm)
X : Nilai rata-rata dari hujan
S : Standar deviasi dari data hujan
K : Faktor frekuensi Gumbel: K = (Yt – Yn)/Sn
Yt : Reduced variate (lampiran tabel)
Sn : Reduced standar (lampiran tabel)
Yn : Reduced mean
2. Analisis frekuensi hujan. Sebelum menentukan metode distribusi
probabilitas yang dipilih maka terlebih dahulu dilakukan perhitungan
parameter statistik dari data curah hujan yaitu menghitung Nilai rata-rata,
standar deviasi, koefisien kemencengan, koefisien kurtosis dan koefisien
21

variasi untuk menentukan metode apa yang paling sesuai dengan


karakteristik hujan di lokasi penelitian.
22

3. Analisis metode distribusi probabilitas yang sesuai dilakukan dengan


membandingkan persyaratan masing-masing jenis distribusi dengan
parameter yang sudah dihitung pada poin 2. Hasil dari perbandingan
parameter data curah hujan dengan persyaratan masing-masing jenis
distribusi akan menghasilkan kesimpulan sementara metode-metode apa
yang paling cocok.
4. Selanjutnya, uji kecocokan data dilanjutkan dengan menggunakan 2
pengujian yaitu uji Chi-Kuadrat dan uji Smirnov-Kolmogorov. Hasil dari
pengujian metode di uraian nomor 3 dan di poin ini, maka akan dipilih satu
metode yang paling sesuai untuk perhitungan debit banjir.
5. Analisis intensitas hujan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan
Mononobe dan selanjutnya dibuat kurva IDF (Intensitas Durasi Frekuensi).
Persamaan Mononobe sebagai berikut:

( )
R 24 24 2
I= 3
Pers (3.5)
24 t
Keterangan:
I = intensitas hujan (mm/jam)
R24= curah hujan maksimum harian dalam 24 jam (mm/jam)
t = lama hujan (jam)
6. Analisis debit rencana yaitu menentukan debit banjir rencana, metode yang
digunakan adalah metode Rasional. Pada metode ini dibutuhkan nilai
Koefisien limpasan, intensitas hujan (dari kurva IDF) dan luas area
tangkapan hujan.

𝑄r = 0, 278.𝐶.𝐼.𝐴
Pers (3.6)

Keterangan:
Qr = Debit rencana dalam saluran (m3)
V = Kecepatan aliran dalam saluran (m/det)
A = Luas penampang basah saluran (m2)
23

3.4.2 Analisis hidrolika


Untuk merencananakan sumur resapan, perlu perhitungan dan analisis
hidrolika yaitu menentukan faktor geometrik sumur resapan, uji permeabilitas
tanah, penentuan tinggi sumur resapan, penempatan sumur resapan, penentuan
volume tampung sumur, penentuan debit resapan dan limpasan.

[Link] Faktor Geometrik sumur resapan


Penentuan faktor geometrik sumur resapan menggunakan rumus sebagai
berikut(Pattiruhu dkk., 2019):
2 πl+2 πR ln 2
F 5 b=

{ √( ) }
2
l+2 R l (Pers 3.7)
ln + +2
R R

Keterangan:
F: Faktor geometrik (m)
l: Ketinggian dinding (m)
R: Jari-jari sumur resapan (m)
[Link] Uji Permeabilitas Tanah
Uji permeabilitas tanah dilakukan di laboratorium Teknik sipil Universitas
Syiah Kuala. Uji permeabilitas di laboratorium menggunakan pengujian tinggi
energi tetap (constant head) menggunakan rumus sebagai berikut:
QL (Pers 3.8)
k=
¿^ ¿

Keterangan:
k : Permeabilitas tanah
Q : Debit resapan dikali waktu
L : Panjang benda uji
∆ h : Kehilangan tinggi energi
A : Luas penampang benda uji
T : Lama waktu pengujian
23
24

[Link] Penentuan tinggi sumur resapan


Penentuan tinggi sumur resapan dihitung dengan menggunakan rumah
dengan tipe atap terbanyak dengan menggunakan persamaan Sunjoto(Pattiruhu
dkk., 2019).

Q −FKT
H= (1- ) 2
FK e πR
(Pers 3.9)

Keterangan:
H : Tinggi muka air dalam sumur (m)
Q : Debit masuk (m3/detik)
F : Faktor geometric (m)
K : Permeabilitas tanah (m/dt)
R : Radius sumur
T : Durasi aliran (dt)

[Link] Penempatan sumur resapan


Penempatan sumur yang direncanakan disesuaikan dengan keadaan
bangunan dan dengan keadaan lahan yag tersedia.

[Link] Penentuan volume tampung sumur


Volume tampung sumur ditentukan menggunakan rumus sebagai
berikut(Bunganaen dkk., 2016):

V sumur =¿ πR x H ¿
2 (Pers 3.10)

Keterangan:
R: Radius sumur
H: Tinggi muka air dalam sumur
25

Volume tampung total keseluruhan sumur diperoleh dari volume 1 sumur x


jumlah sumur.
V tampungtotal=¿¿Volume 1 sumur x jumlah sumur

[Link] Penentuan debit resapan


Debit resapan yang terserap ke dalam tanah dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut(Bunganaen dkk., 2016):

Q0=¿ F x K x H (Pers 3.11)

Keterangan:
F : Faktor geometric
K : Nilai permeabilitas tanah
H : Tinggi air dalam sumur
Debit resapan seluruh sumur dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Q0 total=Q0 x jumlah sumur yang ditempatkan pada rumah

[Link] Limpasan
Limpasan terbagi menjadi 2 yaitu limpasan sebelum adanya sumur
resapan dan limpasan setelah adanya sumur resapan hal ini juga diperkuat oleh
Pattiruhu dkk.( 2019). Persamaan yang digunakan adalah:

Limpasan – (V resap +V tampung ) (Pers 3.12)


25

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Eksisting Sistem Drainase


Drainase merupakan suatu sarana yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan
dalam perencanaan infastruktur yang berfungsi untuk meminalisir kelebihan air di
dalam suatu daerah. Umumnya dibutuhkan masyarakat untuk kehidupan yang
lebih aman dan nyaman. Sistem drainase pada lingkungan Jalan Flamboyan
Gampong Lamteh sudah menggunakan drainase buatan yang hanya terletak di
beberapa titik saja untuk mengalirkan kelebihan air ke badan air sementara
sisanya masih berupa saluran tanah.

Berdasarkan hasil observasi awal, kawasan yang sering mengalami


genangan pada saat terjadi hujan di Gampong Lamteh adalah Jalan Flamboyan.
Faktor-faktor penyebab terjadinya genangan dikarenakan belum tersedianya
tempat peresapan air hujan, kondisi aspal yang semakin bertambah tinggi juga
menjadi salah satu faktor penyebab genangan masuk ke rumah warga ketika
musim penghujan tiba. Selain itu, kebiasaan masyarakat dalam membuang
sampah yang bukan pada tempatnya dan tidak jarang juga masih ditemukan
sampah-sampah didalam saluran drainase yang mengakibatkan penumpukan pada
saluran. Kondisi umum saluran drainase didapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Kondisi saluran drainase eksisting


25

(Sumber: Pengamatan lapangan)

Pada saat hujan turun kondisi Jalan Flamboyan terjadi genangan.


Genangan terjadi karena air rembasan tidak dapat mengalir dengan lancar dan
belum adanya tempat peresapan air yang tersedia. Untuk genangan yang terjadi
sekitar di Jalan Flamboyan dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Genangan pada Jalan Flamboyan
(Sumber: Pengamatan lapangan)

4.2 Pengolahan Data Curah Hujan


Penentuan distribusi dilakukan untuk mendapatkan hujan rencana tahunan
yang akan datang dan untuk menentukan besarnya hujan rencana yang akan
dianalisis limpasan permukaan dan frekuensi banjir pada suatu daerah. Curah
hujan yang digunakan pada penelitian ini adalah rata-rata curah hujan bulanan
maksimum selama 10 tahun yaitu mulai dari tahun 2012 sampai 2021 (Tabel 4.4)
untuk lengkapnya dapat dilihat pada (Lampiranbrp?). Penentuan distribusi
dilakukan menggunakan beberapa metode, diantaranya:
1. Distribusi Normal
2. Log Normal
3. Log Pearson Tipe III
4. Ditribusi Gumbel.
25

Tabel 4.4 Data rata-rata curah hujan bulanan maksimum 10 tahun


Sumber: BMKG Kelas IV Indrapuri, Aceh Besar

a. Distribusi Probabilitas Normal


Berdasarkan perhitungan periode ulang hujan menggunakan distribusi
Probabilitas Normal, maka diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.5. Untuk
perhitungan lebih lengkap nya dapat dilihat pada lampiran …
Tabel 4.5 Rekaptulasi Distribusi Probabilitas Normal

Sumber: (Perhitungan Pribadi)


25

b. Distribusi Probabilitas Log Normal


Berdasarkan perhitungan periode ulang hujan menggunakan distribusi
Probabilitas Normal, maka diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.6. Untuk
perhitungan lebih lengkap nya dapat dilihat pada lampiran …
Tabel 4.6 Rekaptulasi Distribusi Probabilitas Log Normal

Sumber: (Perhitungan Pribadi)

c. Distribusi Probabilitas Log Pearson Tipe III


Berdasarkan perhitungan periode ulang hujan menggunakan distribusi
Probabilitas Normal, maka diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.7. Untuk
perhitungan lebih lengkap nya dapat dilihat pada lampiran …
Tabel 4.7 Rekaptulasi Distribusi Probabilitas Log Pearson Tipe III

Sumber: (Perhitungan Pribadi)

d. Distribusi Probabilitas Gumbel


Berdasarkan perhitungan periode ulang hujan menggunakan distribusi
Probabilitas Normal, maka diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.8. Untuk
perhitungan lebih lengkap nya dapat dilihat pada lampiran …
Tabel 4.8 Rekaptulasi Distribusi Probabilitas Gumbel

Sumber: (Perhitungan Pribadi)


25

e. Uji Distribusi Probabilitas


Uji distribusi dilakukan untuk mengetahui distribusi probabilitas yang telah
dihitung apakah dapat mewakili distribusi statistik yang akan dianalisa lebih
lanjut.
a. Metode Chi-Kuadrat ( x 2)
Dari perhitungan Metode Chi-Kuadrat Distribusi yang memenuhi
untuk menganalisis data curah hujan pada penelitian ini adalah Distribusi
Probabilitas Normal, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran, dan
hasil dari rekapitulasi uji distribusi Chi-Kuadrat dapat dilihat pada Tabel
4.9.
Tabel 4.9 Rekaptulasi uji distribusi Chi-Kuadrat

Sumber: (Perhitungan Pribadi)

b. Metode Smirnov-Kolmogorov ( x 2)
Dari perhitungan Metode Smirnov-Kolmogorov atau uji dengan
persyaratan ΔP kritis kurang dari 0.41. Distribusi yang memenuhi untuk
menganalisis data curah hujan pada penelitian ini adalah Distribusi
Probabilitas Normal,dan Distribusi Log Pearson III untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada lampiran, dan hasil dari rekapitulasi uji distribusi
Smirnov-Kolmogorv dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Rekaptulasi uji distribusi Smirnov-Kolmogorv
25

Sumber: (Perhitungan Pribadi)


Berdasarkan hasil dari pengujian 2 metode, yaitu: metode Chi-Kuadrat ( x 2)
dan metode Smirnov-Kolmogorof, maka dapat di simpulkan distribusi yang
paling baik untuk menganalisis data curah hujan pada penelitian ini adalah
Distribusi Probabilitas Normal.

4.3 Analisis Intensitas Durasi Frekuensi (IDF)


Perhitungan intensitas hujan bertujuan untuk menganalisis intensitas curah
hujan dan menggambarkan kurva IDF. Perhitungan intensitas curah hujan
menggunakan Metode Mononobe. Metode Mononobe merupakan rumus untuk
menghitung intensitas hujan setiap waktu berdasarkan data hujan bulanan.
2
R 24
Rumus Metode Mononobe I = ( ) × ( 24 )3
24 T
Hitungan dengan persamaan tersebut dilanjutkan untuk durasi dan
kedalaman hujan, nilai intensitas hujan untuk berbagai durasi hujan menggunakan
metode Mononobe. Semakin lama durasi hujan maka nilai intensitas hujan akan
semakin kecil, ini memprediksikan bahwa semakin pendek jangka waktu curah
hujan makin besar intensitasnya karena hujan tidak selalu kontinu. Hitungan
dilakukan dengan durasi sampai 720 menitan (12 jam). Hasil perhitungan lebih
lengkap terdapat pada Tabel 4.11.

Durasi(menit) 2 Tahun 5 Tahun 10 Tahun


5 454,8979692 628,0695617 718,7802217
10 286,5677635 395,6590308 452,8031658
20 180,5263787 249,2495707 285,24812
40 113,7244923 157,0173904 179,6950554
60 86,78803071 119,8266954 137,1329928
90 66,23166322 91,44488327 104,65206
120 54,67303339 75,48608796 86,38837216
150 47,11579189 65,0519386 74,44724232
180 41,72333333 57,60666667 65,92666667
210 37,64851099 51,9806317 59,48807625
240 34,44185281 47,5532556 54,42126427
270 31,84086261 43,96211453 50,31146286
300 29,68108899 40,98015339 46,89882385
25

360 26,28405297 36,28992597 41,53119754


390 24,9182533 34,40419058 39,37310967
420 23,71707575 32,74574603 37,47513974
450 22,6509102 31,27371017 35,79050108
480 21,69700768 29,95667386 34,28324821
510 20,83757696 28,7700731 32,9252694
540 20,05848652 27,69439675 31,69423556
570 19,34835723 26,71393382 30,57216659
600 18,6979144 25,81587894 29,54440769
630 18,09951627 24,98968124 28,59888414
660 17,54680476 24,22656227 27,72554962
690 17,03444312 23,51915363 26,91597156
720 16,55791581 22,86122082 26,163015
Tabel 4.11 Hasil perhitungan Metode Mononobe
Sumber: (Perhitungan Pribadi)

Gambar 4.4 Kurva Identitas Durasi Frekuensi

4.4 Analisis Intensitas Curah Hujan


Intensitas curah hujan adalah besarnya jumlah hujan yang turun yang
dinyatakan dalam tinggi curah hujan atau volume hujan tiap satuan waktu.
Besarnya intensitas hujan berbeda-beda, tergantung dari lamanya curah hujan
dan frekuensi kejadiannya. Untuk perhitungan intensitas curah hujan digunakan
rumus Mononobe sebagai berikut.
2
250 ,34 24
I2 = (
24
) × ( )3
60
25

= 86,78803 mm / jam
2
345 ,64
I5 = (
24
) × ( 24 )3
60
= 119,82669 mm / jam
2
395 ,56
I 10 = (
24
) × ( 24 )3
60
= 137,13299 mm / jam
Hasil perhitungan menggunakan Metode Mononobe diketahui intensitas
hujan periode ulang 2 tahun 86,78803 mm/jam, periode ulang 5 tahun 119,82669
mm/jam dan periode ulang 10 tahun 137,13299 mm/jam. Setelah diketahui hasil
intensitas curah hujan, selanjutnya menentukan debit untuk tiap tipe rumah
menggunakan Metode Rasional.

4.5 Perhitungan Debit


a. Perhitungan debit untuk rumah
Perhitungan debit rumah menggunakan Metode Rasional untuk mencari
nilai debit periode ulang 2 tahun, 5 tahun dan 10 tahun, dengan nilai C kawasan
yang digukanan sebesar 0,95 dikarekan lokasi penelitian termasuk kawasan
perkotaan. Untuk nilai A digunakan nilai keseluruhan dari luas tanah rumah
menurut tipe. Berikut contoh perhitungan menguunakan rumah tipe 45.
Periode ulang 2 tahun
Q2 = 0.278.C.I.A
= 0.278 x 0.95 x 86,78803 x 9·10-5
= 0,002062865 mm/jam
Periode ulang 5 tahun
Q5 = 0.278.C.I.A
= 0.278 x 0.95 x 119,82669 x 9·10-5
= 0,002848161 mm/jam
Periode ulang 10 tahun
Q10 = 0.278.C.I.A
= 0.278 x 0.95 x 137,13299 x 9·10-5
25

= 0,003259514 mm/jam
Perhitungan rumah tipe 45 diketahui hasil debit periode ulang 2 tahun
0,002062865 mm/jam, periode ulang 5 tahun 0,002848161 mm/jam dan periode
ulang 10 tahun 0,003259514 mm/jam. Tipe rumah lainnya dihitung seperti
perhitungan di atas dan hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12 Debit Untuk Tipe Rumah
Tipe 2 Tahun 5 Tahun 10 Tahun
Rumah
45 0,002062865 0,002848161 0,003259514
60 0,002979693 0,00411401 0,004708187
70 0,003208901 0,004430472 0,005070355
120 0,003438108 0,004746934 0,005432523

b. Perhitungan debit untuk kawasan


Perhitungan debit untuk kawasan menggunakan koefisien pengaliran (C)
dikawasan Lamteh Ulee Kareng. Untuk nilai catchment area (A) yang digunakan
merupakan hasil jumlah keseluruhan catchment area baik rumah maupun jalan.
Selanjutnya, untuk Hasil dari perhitungan debit kawasan sebesar 0.95.
Tabel 4.13 Debit Kawasan Pada Jalan Flamboyan
Tipe Penutupan Lahan A C A.C
Rumah 4.140 0.95 3.933
Jalan 715 0.95 679,3
Jumlah 4.855 4.612,3

C=
∑ A .C =
4.612 , 3
= 0.95
∑A 4.855
Q = 0.278.C.I.A
Q2 =0,278 x 0,95 x 86,78803 x 56,8
= 0,1301 m3/dt
Q5 =0,278 x 0,95 x 119,82669 x 56,8
= 0,1797 m3/dt
Q10 =0,278 x 0,95 x 137,13299 x 56,8
= 0,2057 m3/dt
Berdasarkan hasil perhitungan debit di atas, maka didapatkan hasil debit
untuk rumah tipe 45 periode ulang 2 tahun = 0,002062865 mm/jam, periode ulang
25

5 tahun = 0,002848161 mm/jam, periode ulang 10 tahun = 0,003259514 mm/jam.


Rumah tipe 60 periode ulang 2 tahun = 0,002979693 mm/jam, periode ulang 5
tahun = 0,00411401 mm/jam, periode ulang 10 tahun = 0,004708187 mm/jam.
Rumah tipe 70 periode ulang 2 tahun = 0,003208901 mm/jam, periode ulang 5
tahun = 0,004430472mm/jam, periode ulang 10 = 0,005070355mm/jam. Rumah
tipe 120 periode ulang 2 tahun = 0,003438108 mm/jam, periode ulang 5 tahun =
0,004746934 mm/jam, periode ulang 10 = 0,005432523 mm/jam.
Perhitungan debit kawasan menggunakan perhitungan nilai (C) kawasan
didapat hasil periode ulang 2 tahun = 0,130m3 /d , periode ulang 5 tahun = 0,179
3 3
m /d dan periode ulang 10 tahun = 0,205 m /d .

4.6 Faktor Geometrik Sumur Resapan


Faktor geometrik (bentuk) adalah faktor yang memasukkan pengaruh
bentuk sumur, jari-jari sumur, ketebalan dinding sumur dan letaknya terhadap
lapisan tanah. Pada penelitian ini kondisi sumur resapan yang direncanakan yaitu
terletak pada tanah yang porus dengan dinding sumur resapan kedap air dan dasar
sumur rata bersifat permeable, untuk jari-jari sumur resapan sebesar 0,5 m. Nilai
faktor geometrik dapat dihitung seperti berikut:
F = 2..R
F = 2 x 3,14 x 0,5
= 3,14 m

4.7 Permeabilitas Tanah


Permeabilitas dinyatakan sebagai kecepatan zat cair mengalir melalui
suatu bahan (tanah, bebatuan) Uji permeabilitas tanah dilakukan di Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Banda Aceh yang didapatkan hasil uji pemeabilitas
tanah 10-7 cm/dt, dari hasil nilai yang didapat maka diketahui tanah di lokasi
penelitian termasuk tanah lempung berlanau.
25

4.8 Tinggi Sumur Resapan


Jalan Flamboyan Desa Lamteh Kecamatan Ulee Kareng terdapat 30
rumah. Perhitungan tinggi sumur resapan dilakukan untuk menetukan tinggi
sumur disetiap tipe rumah. Perhitungan tinggi sumur untuk tipe rumah dihitung
dengan menggunakan persamaan Sunjoto 1988 dengan hasil lebih lengkap dapat
dilihat pada tabel 4.14.
Tabel 4.14 Tinggi Sumur Resapan untuk rumah
Tipe Jumlah Tinggi(m)
rumah 2 tahun 5 tahun 10 tahun
45 2 1,38 1,91 2,1
60 6 2 2,7 3,17
70 12 2,1 2,9 3,4
120 10 2,3 3,1 3,6

Hasil perhitungan tinggi sumur resapan didapatkan 3 m. Sesuai dengan


kriteria sumur resapan yang ditetapkan oleh Dirjen Cipta Karya PU bahwa
kedalaman sumur resapan paling rendah 1,5 m dan paling dalam 3 m.
4.9 Debit Resapan
Debit resapan adalah debit yang akan diserapkan ke dalam tanah. Debit
resapan dihitung dengan perhitungan Q0 = F x K x H dengan nilai permeabilitas
tanah (K) 10−7 dan tinggi sumur (H) sedalam 3 m sehingga didapatkan hasil untuk
debit resapan sebesar 0.000006594 m3/detik. Selanjutnya, hasil yang didapat
dikalikan dengan total jumlah sumur yang direncanakan dan didapatkan hasil
untuk debit resapan sebesar 0.0001977 m3/detik. Untuk hasil volume air yang
diresapkan didapatkan hasil sebesar 0,71172 m3
Q0 = F x K x H
= 3,14 x 10−7 x 3
= 0.000006594 m3/detik.
Qt = Q0 x jumlah sumur yang ditempatkan pada rumah
Qt = 0.000001143 x 30
= 0.0001977 m3/detik.

Vresap = Qt x Tc
25

= 0,0001977 x 3600
= 0,71172 m3

4.10 Penempatan Sumur Resapan


Jumlah perumahan Jalan Flamboyan Lamteh adalah sebanyak 30 rumah.
Penempatan sumur resapan yang direncanakan ditempatkan di masing-masing
rumah dengan jumlah keseluruhan 30 sumur resapan. Selanjutnya dihitung
volume tampung sumur resapan.

4.11 Volume Tampung Sumur


Volume sumur resapan harus dapat menampung besarnya volume air yang
akan diresapkan untuk tinggi sumur sebesar 3 m dan jari-jari sebesar 0,5 m
sehingga didapatkan hasil sebesar 2.355 m3,sedangkan volume tampung sumur
untuk keseluhuran didapatkan hasil sebesar 70.650 m3 .
2
V =π R xH
= 3,14 x 0,52 x 3
=2.355 m3
Vt = V x jumlah sumur
= 2.355 x 30
= 70.650 m3

4.12 Waktu Pengisian Sumur Resapan


Perhitungan waktu pengisian sumur resapan menggunakan nilai volume
tampung sumur dibagikan dengan nilai debit menurut atap rumah pada Tabel
4.12.
Tp = Volume tampung sumur
Debit menurut atap
Hasil perhitungan waktu pengisian sumur resapan lebih lengkapnya dapat
dilihat pada Tabel 4.15.
Tipe Rumah Tahun Waktu(jam)
45 2 1,85
5 1,34
25

10 1,17
2 2,13
60 5 1,54
10 1,35
2 1,98
70 5 1,43
10 46446
2 68497
120 5 49611
10 43350
Tabel 4.15 Hasil Perhitungan Waktu Pengisian Sumur Resapan

4.13 Limpasan
Limpasan aliran air di suatu kawasan dapat dihitung dengan mengalikan
nilai debit kawasan dan durasi hujan rata-rata pada kawasan tersebut. Perhitungan
limpasan untuk menghitung sisa limpasan setelah adanya sumur resapan dan
presentasi resapan sumur dalam jangka waktu 2, 5 dan 10 tahun.
Lk = Qkawasan x durasi hujan
Hasil perhitungan limpasan kawasan lebih lengkapnya dapat dilihat pada
Tabel 4.16.
Periode Limpasan Resapan (m3) Sisa Presentasi
Ulang (m3) Limpasan Resapan
(m3)
2 7,806 7,065 0,741 90%
5 10,782 7,065 3,717 65%
10 12,342 7,065 5,277 58%
Tabel 4.16 Hasil Perhitungan Limpasan Kawasan

4.14 Desain Sumur Resapan


Sumur resapan yang direncanakan pada Jalan Flamboyan Lamteh Banda
Aceh sebanyak 30 sumur dengan diameter 1 meter, jari-jari 0,5 meter dan
ketinggian sumur 3 meter. Debit resapan per-sumur sebesar 0.000006594 m3/detik
dan debit resapan keseluruhan sumur sebesar 0.0001977 m3/detik. Untuk desain
sumur dapat dilihat pada Gambar 4.3. Persentasi sumur resapan dapat mengurangi
limpasan dalam jangka waktu 2 tahun sebesar (90%) dengan sisa limpasan sebesar
25

0,741, untuk jangka waktu 5 tahun sebesar sisa limpasan sebesar 3,717 persentasi
(65%) dan jangka waktu 10 tahun sisa limpasan sebesar 5,277 persentasi (58%).
Untuk menjaga sumur resapan agar tetap berfungsi dengan maksimal, hal yang
perlu diperhatikan yaitu pipa atau saluran air agar terhindar dari sampah-sampah
yang akan berpotensi besar mengambat atau mengganggu dalam proses peresapan
air.
Gambar 4.3 Desain Sumur Resapan
25

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan penelitian, maka dapat disimpulkan simpulkan sebagai berikut .
1. Kondisi eksisting drainase yang ada di Jalan Flamboyan Lamteh Banda Aceh
saat ini drainase hanya terletak di beberapa titik saja untuk mengalirkan
kelebihan air ke badan air sementara sisanya masih berupa saluran tanah.
Penyebab terjadinya genangan dikarenakan belum tersedianya tempat
peresapan air hujan,
2. Debit resapan yang ditampung oleh sumur resapan adalah sebesar
0.000006594 m3/detik dan volume tampung total sebesar 70.650 m3.
3. Desain sumur resapan yang direncanakan berbentuk lingkaran dengan tinggi
sumur 3 m, jari-jari 0.5 m dan jumlah sumur yang ditempatkan 30 sumur

5.2 Saran
Saran pada tugas akhir ini adalah sebagai berikut.
1. Diharapkan adanya partisipasi dari masyarakat dalam menjaga kebersihan di
saluran drainase yang sudah ada.
25

DAFTAR PUSTAKA

Andrianto, A., Junaidi, A., dan Irawan, B. B. (2021). Evaluasi Jaringan Drainase
Kampus Universitas Dharma Andalas (UNIDHA) Menggunakan Software
Storm Water Management Model (SWMM). Jurnal Rivet, 1(01), 13–25.
Antara, I. G. M. Y. (2021). Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pengelolaan
Sumber Daya Air Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Sistem Informasi Dan
Komputer Terapan Indonesia (JSIKTI), 4(2), 112–121.
Ardiansyah, A., dan Gasali M., M. (2020). Perencanaan Sistem Drainase Studi
Kasus jalan Sungai Beringin Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri
Hilir. Jurnal Ilmiah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten
Indragiri Hilir, 6(3), 135–144.
Ayu, I. K., dan Heriawanto, B. K. (2018). Perlindungan Hukum Terhadap Lahan
Pertanian Akibat Terjadinya Alih Fungsi Lahan di Indonesia. Jurnal
Ketahanan Pangan, 2(2), 122–130.
Bahunta, L., dan Waspodo, R. S. B. (2019). Rancangan Sumur Resapan Air Hujan
sebagai Upaya Pengurangan. Jurnal Teknik Sipil Dan Lingkungan, 04(01),
37–48.
Bunganaen, W., Sir, T. M., dan Penna, C. (2016). Pemanfaatan Sumur Resapan
Untuk Meminimalisir Genangan Di Sekitar Jalan Cak Doko. Jurnal Teknik
Sipil, 5(1), 67–78.
Febrianti, D., dan Silvia, C. S. (2019). Optimalisasi Pemeliharaan Drainase
Berdasarkan Persepsi Masyarakat. Jurnal CIVILA, 4(2), 300–309.
Imamuddin, M., dan Antoni, H. (2019). Analisis Kapasitas Drainase Jalan
Panjang Sampai Dengan Rumah Pompa Kedoya Utara. Prosiding Semnastek,
1–6.
Isma, F., Irwansyah, dan Ismida, Y. (2018). Sistem Informasi Geografis (Sig)
Sebagai Evaluasi Jaringan Drainase Di Gampong Sungai Pauh Kota Langsa.
Jurnal Ilmiah Jurutera Universitas Samudra, 05(December), 12.
Kustamar. (2008). Konsep, Strategi, Dan Contoh Pemodelan Hidrologi Daerah
25

Aliran Sungai. In E-Book: Vol. vii + 23cm (p. 114).


Matthew, R., Kaurow, J., Andajani, S., dan Hidayat, D. P. A. (2021). Penerapan
Sistem Ekodrainase Di Perumahan Tataka Puri , Kabupaten Tangerang. JURNAL
SAINSTEK STT PEKANBARU, 9(2).
Muliawati, D. N., dan Mardyanto, M. A. (2015). Perencanaan Penerapan Sistem
Drainase . Jurnal Teknik Its, 4(1), 16–20.
Mulyadi, A. (2018). Kajian Jaringan Drainase Pada Kawasan Permukiman Kota
Sanggau. Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura Pontianak, 2(1), 102–
112.
Nurhikmawaty, I. (2019). Analisis Kapasitas Saluran Drainase Pada Sub Daerah.
Jurnal Teknik Sipil UNPAL, 9(1), 32–46.
Pattiruhu, W., Sakliressy, A., dan Tiwery, C. (2019). Analisis Sumur Resapan
Guna Mengurangi Aliran Permukaan untuk Upaya Pencegahan Banjir.
Manumata Journal, 5(1), 9–16.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12. (2014). Tentang
Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. 12(2007), 703–712.
Pratiwi, D., Sinia, R. O., dan Fitri, A. (2020). Peningkatan Pengetahuan
Masyarakat Terhadap Drainase Berporus Yang Difungsikan Sebagai Tempat
Peresapan Air Hujan. Journal of Social Sciences and Technology for
Community Service (JSSTCS), 1(2), 17–23.
Putranto, A., dan Kalsum, U. (2020). Rekayasa Sistem Drainase Yang
Berwawasan Lingkungan Di Kampus Politeknik Negeri Ketapang. Jurnal
Teknik Sipil, 16(1), 24–29.
Riogilang, M. A. R. H. (2019). Perencanaan Sistem Drainase Berwawasan
Lingkungan Dengan Sumur Resapan Di Lahan Perumahan Wenwin-Sea
Tumpengan Kabupaten Minasa. 7(2), 189–200.
Sempana, R. V. L. D. M. G.-Ampt., Putri, W., dan Ayu, D. S. (2018). Analisis
Volume Limpasan Dengan Metode Green-Ampt. Jurnal Nasional Teknologi
Terapan, 02, 163–181.
Suni, Y. P. K. D. L. (2021). “Manajemen Sumber Daya Air Terpadu dalam Skala
Global, Nasional, dan Regional.” Jurnal Teknik Sipil, 10(1), 77–88.
25

Supriyani, E., Bisri, M., dan Dermawan, V. (2012). Studi Pengembangan Sistem
Drainase Perkotaan Berwawasan Lingkungan. 3, 112–121.

Sutomo, E. (2017). Efektifitas Drainase Ramah Lingkungan Dalam Mereduksi


Genangan Pada Kawasan Perumahan (Ciampea Kabupaten Bogor). Jurnal
Desain Konstruks, 16(1), 101–111.
Tahmid, M. (2020). Pemetaan Karakteristik Periode Ulang Curah Hujan
Maksimum Di Kota Manado. Journal Megasains, 11(2), 13–19.
28
LAMPIRAN A

29
LAMPIRAN B

Lampiran B 1. SNI 8456:2017

B.1 Langkah Pembuatan Sumur Resapan

29
Lampiran B.2 Dirjen Cipta Karya PU

B.2 Persyaratan Umum Sumur Resapan

29

Common questions

Didukung oleh AI

Infiltration wells can mitigate urban flooding in Gampong Lamteh by capturing excess rainwater and allowing it to percolate into the ground, thereby reducing surface runoff. This method enhances groundwater recharge and lowers the volume of water that contributes to flooding during heavy rainfalls .

Integrating hydrological analysis into urban planning improves infiltration well design by accurately determining appropriate locations, dimensions, and capacities based on rainfall patterns and groundwater levels. This ensures optimal rainwater capture and infiltration, reducing urban flooding .

Environmental drainage systems, unlike traditional systems, focus on controlling water on the surface and enhancing infiltration into the ground, thus reducing runoff volumes and flood risks. They incorporate methods such as infiltration wells and conservation ponds, which facilitate natural water management and decrease pollution levels in stormwater .

Suitability of probability distributions for rainfall data can be assessed using statistical parameters like mean, standard deviation, skewness, and kurtosis. This is followed by tests like Chi-square or Smirnov-Kolmogorov to determine which distribution best fits the observed data, ensuring accurate flood risk predictions .

Understanding rainfall distribution is crucial for designing effective drainage systems because it helps determine the intensity, duration, and frequency of rain events. This knowledge allows for accurate predictions of peak flows and capacities required to manage stormwater effectively, reducing the risk of system overload and flooding .

Drainage system reversals can dynamically manage excess water during heavy rainfall by temporarily redirecting flows to areas designed to absorb overflow, such as ponds or wetlands, and then returning to normal operation post-event. This adaptive strategy can absorb shock loads and prevent overtaxing of primary drains .

Single-purpose drainage systems are designed to handle only one type of water runoff, such as stormwater, whereas multipurpose drainage systems are designed to handle multiple types of water runoff simultaneously or alternately .

Community behavior significantly influences drainage effectiveness, as improper waste disposal can clog drains, reducing their capacity to handle stormwater. Moreover, societal neglect of water management practices, such as ignoring the need for adequate infiltration areas, exacerbates flooding issues .

Implementing drainage regulations across Indonesian provinces is challenged by inconsistent regulation applications, local governance issues, varying climatic conditions, and differing levels of urban development. Some areas, like Jakarta, have regulations supporting infiltration systems, while others, such as Aceh, lack technical guidelines, leading to ineffective flood management .

The conversion of open land, such as rice fields and gardens, into residential complexes in Banda Aceh has led to increased instances of waterlogging and flooding. This change reduces the land's natural ability to absorb rainwater, resulting in higher surface runoff, which can overwhelm existing drainage systems and heighten flood risks .

Anda mungkin juga menyukai