Perencanaan Sumur Resapan Lamteh
Perencanaan Sumur Resapan Lamteh
TUGAS AKHIR
Diajukan Oleh:
Salsabila Hasanah Balqis
NIM. 190702013
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi
Program Studi Teknik Lingkungan
Dosen:
Aulia Rohendi, S.T., [Link].
NIDN. 2010048202
TUGAS AKHIR
Disusun Oleh:
Disetujui Oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
i
ii
ii
iii
ABSTRAK
Nama : Salsabila Hasanah Balqis
NIM : 190702013
Program Studi : Teknik Lingkungan
Judul : Perencanaan Sumur Resapan pada Gampong Lamteh Banda
Aceh
Tanggal Sidang :
Jumlah Halaman :
Pembimbing I : Aulia Rohendi, S.T.,[Link]
Pembimbing II : Ir. Juliansyah Harahap, S.T., [Link].
Kata Kunci : Banjir, Drainase, Perencanaan Sumur Resapan, Debit
Resapan, Volume Tampung Total
Konversi lahan pada perkotaan meningkat secara drastis, perubahan tata
guna lahan dari fungsi semula menjadi fungsi yang lain dan biasanya dialih
fungsikan ke sektor pembangunan. Provinsi Aceh termasuk salah satu daerah
yang belum memiliki peraturan teknis yang sudah diterapkan dalam hal
peningkatan peresapan air. Hal ini merupakan salah satu penyebab penanganan
banjir belum maksimal. Di perkotaan, misalnya di ibukota Provinsi Aceh yaitu
Banda Aceh, masih sering terjadi banjir apabila terjadi intensitas hujan yang
tinggi dan durasi hujan yang lama. Salah satu gampong yang mengalami
genangan adalah Gampong Lamteh, Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh. Salah
satu solusi terhadap permasalahan ini adalah pembangunan drainase berwawasan
lingkungan berupa sumur resapan yang dikombinasikan dengan jaringan drainase
konvensional yang sudah ada.
Saluran drainase yang ada di Gampong Lamteh Banda Aceh saat ini hanya
terletak di beberapa titik saja untuk mengalirkan kelebihan air ke badan air
sementara sisanya masih berupa saluran tanah. Penyebab terjadinya genangan
dikarenakan belum tersedianya tempat peresapan air hujan, Setelah perencanaan
didapatkan nilai debit resapan yang ditampung oleh sumur resapan adalah sebesar
0.000006594 m3/detik dan volume tampung total sebesar 70.650 m3 dan Desain
iii
iv
iv
v
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah
menganugerahkan petunjuk serta ilmu pengetahuan kepada seluruh umat manusia,
sehingga dengan pertolongan dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan
Proposal Tugas Akhir ini.
Tugas Akhir yang berjudul “Perencanaan Sumur Resapan pada Gampong
Lamteh Banda Aceh” diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan baik bagi
penulis maupun pembaca dan dapat dipergunakan sebaik mungkin. Penulis juga
mengucapkan banyak terimakasih kepada Ayahanda Husaini serta Ibunda Suharni
[Link]., selaku Orang Tua dari penulis yang telah mendukung dalam pembuatan
Proposal Tugas Akhir.
Dengan demikian, penulis menyampaikan terima kasih atas bimbingannya
sehingga proposal ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Maka pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada:
1) Prof. Dr. Mujiburrahman, [Link]., selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Ar-raniry.
v
vi
2) Ibu Husnawati Yahya, [Link]., [Link]., selaku ketua Program Studi Teknik
Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Ar-
Raniry.
3) Bapak Aulia Rohendi, S.T., [Link]., selaku Dosen Pembimbing Proposal
Tugas Akhir Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Negeri
Ar-raniry.
4) Dr. Eng. Nur Aida, [Link]., selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis
5) Kedua Orang Tua beserta keluarga yang telah memberikan dukungan dan
doa terhadap Proposal Tugas Akhir Program Studi Teknik Lingkungan
Universitas Islam Negeri Ar-raniry
6) Teman teman seperjuangan yang telah membantu,mendukung dan
memberi semangat dalam penyusunan Proposal Tugas Akhir Prodi Teknik
Lingkungan Universitas Islam Negeri Ar-raniry
vi
vii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL...................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................2
1.3 Tujuan penelitian......................................................................................................2
1.4 Manfaat Penelitian...................................................................................................2
1.5 Batasan Penelitian....................................................................................................1
vii
viii
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................24
LAMPIRAN A......................................................................................................27
viii
ix
DAFTAR TABEL
ix
x
DAFTAR GAMBAR
x
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui
yang ada di bumi karena adanya siklus hidrologi (Antara, 2021). Konservasi air
merupakan upaya pemanfaatan kuantitas serta kualitas air agar mencukupi
ketersediaan kuantitas dan kualitas air dalam jangka waktu panjang. Pengelolaan
sumber daya air terpadu dengan baik akan menjaga sumber daya air untuk bisa
digunakan pada saat ini dan di masa depan (berkelanjutan). Pengelolaan sumber
daya air terpadu juga dapat mencegah dampak buruk dari krisis air, yang bisa
terjadi akibat daya rusak air, misal kekeringan atau banjir. Salah satu yang
menyebabkan hal negatif terkait sumber daya air adalah perubahan alih fungsi
lahan(Suni, 2021).
Konversi lahan pada perkotaan meningkat secara drastis, perubahan tata
guna lahan dari fungsi semula menjadi fungsi yang lain dan biasanya dialih
fungsikan ke sektor pembangunan. Dampak yang diakibatkan ialah banjir hingga
kekeringan. Perubahan penggunaan lahan menyebabkan resapan air berkurang,
padahal resapan air ini sangat diperlukan untuk cadangan air di periode
kekeringan dan untuk pencegahan banjir. Pengelolaan sumberdaya air menjadi
suatu hal penting yang harus mendapat perhatian serius, karena akan berakibat
nyata terhadap berbagai aspek kehidupan manusia (Ayu dan Heriawanto, 2018).
Permasalahan banjir juga diperparah dengan penggunaan drainase
konvesional yang bertujuan mengalirkan air secepat-cepatnya ke badan air agar
lahan tidak terjadi genangan (banjir). Penanganan yang tepat adalah dengan
meningkatan peresapan air ke dalam tanah, solusi yang efektif adalah
pembangunan sumur resapan. Hal ini bisa diterapkan dengan kombinasi drainase
konvensional dengan yang berwawasan lingkungan, misalnya pembangunan
sumur resapan.
1
2
2
4
2.2 Drainase
Drainase merupakan suatu sarana yang dirancang untuk memenuhi
kebutuhan dalam perencanaan infastruktur yang berfungsi untuk meminalisir
kelebihan air dalam suatu daerah. Umumnya dibutuhkan masyarakat untuk
kehidupan yang lebih aman dan nyaman (Pratiwi dkk., 2020). Sistem drainase
perkotaan adalah satu kesatuan sistem teknis dan non teknis dari prasarana dan
sarana drainase perkotaan(Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12, 2014)
5
6
Klasifikasi Drainase:
a) Jenis drainase berdasarkan sejarah terbentuknya:
1. Drainase alamiah (natural drainage)
Drainase alami merupakan drainase yang terbentuk secara alami tanpa
campur tangan manusia. Drainase alami terbentuk dampak erosi air
yang berlangsung lama, dan terbentuk dalam kondisi tanah dengan
kemiringan yang cukup, sebagai akibatnya air mengalir ke sungai
secara otomatis.
2. Drainase buatan (artificial drainage).
Drainase buatan merupakan hasil rekayasa yang dibuat berdasarkan
hasil perhitungan dan bertujuan untuk memperbaiki atau melengkapi
kekurangan dari sistem drainase alami. Sistem drainase yang
dihasilkan membutuhkan struktur spesifik misalnya parit, drainase
batu, gorong-gorong, dan pipa.
b) Jenis drainase berdasarkan letak bangunan:
1. Drainase permukaan tanah (surface drainage)
Drainase permukaan tanah merupakan sistem drainase yang salurannya
berada di atas permukaan tanah yang pengaliran air terjadi karena
adanya beda tinggi permukaan saluran.
2. Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)
Drainase bawah permukaan tanah merupakan sistem drainase yang
dialirkan di bawah tanah umumnya karena dalam suatu area yang tidak
memungkinkan untuk mengalirkan air di atas permukaan tanah.
c) Jenis drainase berdasarkan fungsi:
1. Single purpose
Drainase single purpose adalah saluran drainase yang berfungsi untuk
mengalirkan hanya satu jenis air buangan.
2. Multipurpose
Drainase multipurpose adalah saluran drainase yang berfungsi untuk
mengalirkan lebih dari satu jenis air buangan secara bercampur
maupun bergantian(Mulyadi, 2018).
8
Rerumputan
Tanah Pasir, datar, 2% 0.50 - 0.10
Tanah Pasir, sedang, 2–7% 0.10 - 0.15
Tanah Pasir, curam, 7% 0.15 – 0.20
Industri
Daerah Ringan 0.50 – 0.80
Daerah Berat 0.60 – 0.90
Taman, Kuburan 0.10 – 0.25
12
Jalan
Beraspal 0.70 – 0.95
Beton 0.80 – 0.95
Batu 0.70 – 0.85
14
15
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Konsultasi
Proposal
2 Seminar
Proposal dan
Perbaikan
3 Pengumpul-
an Data
4 Pengolahan
Data
5 Penyusunan
Laporan
Tugas Akhir
6 Sidang
Tugas Akhir
7 Perbaikan
Hasil Sidang
Tugas Akhir
Pers (3.1)
XT = X + KTS
Keterangan:
XT : Hujan rencana
X : Nilai rata-rata dari hujan
S : Standar deviasi dari data hujan
KT : Faktor frekuensi
b. Distribusi Log Normal menggunakan rumus sebagai berikut:
YT = Y + KTS
Pers (3.2)
Keterangan:
YT : Periode nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T
Y : Nilai rata-rata hitung varian
S : Standar deviasi dari data hujan
KT : Faktor frekuensi
20
21
Per (3.3)
Log XT = Log X + (KT x S Log X)
Keterangan:
Log XT: Nilai logaritma hujan rencana dengan periode ulang T
Σ log Xi
Log XT : Nilai rata-rata dari log X ¿
n
2 0.5
S log X=Σ ( log Xi – LogX )
S Log X: Deviasi standar dari Log X=
10−1
KT: Variabel standar, besarnya tergantung koefisien kepencengan (Cs atau
G pada tabel frekuensi KT untuk Distribusi Log Pearson III)
d. Distribusi Gumbel menggunakan rumus sebagai berikut:
Pers (3.4)
XT = X + S x K
Keterangan:
XT : Hujan rencana (mm)
X : Nilai rata-rata dari hujan
S : Standar deviasi dari data hujan
K : Faktor frekuensi Gumbel: K = (Yt – Yn)/Sn
Yt : Reduced variate (lampiran tabel)
Sn : Reduced standar (lampiran tabel)
Yn : Reduced mean
2. Analisis frekuensi hujan. Sebelum menentukan metode distribusi
probabilitas yang dipilih maka terlebih dahulu dilakukan perhitungan
parameter statistik dari data curah hujan yaitu menghitung Nilai rata-rata,
standar deviasi, koefisien kemencengan, koefisien kurtosis dan koefisien
21
( )
R 24 24 2
I= 3
Pers (3.5)
24 t
Keterangan:
I = intensitas hujan (mm/jam)
R24= curah hujan maksimum harian dalam 24 jam (mm/jam)
t = lama hujan (jam)
6. Analisis debit rencana yaitu menentukan debit banjir rencana, metode yang
digunakan adalah metode Rasional. Pada metode ini dibutuhkan nilai
Koefisien limpasan, intensitas hujan (dari kurva IDF) dan luas area
tangkapan hujan.
𝑄r = 0, 278.𝐶.𝐼.𝐴
Pers (3.6)
Keterangan:
Qr = Debit rencana dalam saluran (m3)
V = Kecepatan aliran dalam saluran (m/det)
A = Luas penampang basah saluran (m2)
23
{ √( ) }
2
l+2 R l (Pers 3.7)
ln + +2
R R
Keterangan:
F: Faktor geometrik (m)
l: Ketinggian dinding (m)
R: Jari-jari sumur resapan (m)
[Link] Uji Permeabilitas Tanah
Uji permeabilitas tanah dilakukan di laboratorium Teknik sipil Universitas
Syiah Kuala. Uji permeabilitas di laboratorium menggunakan pengujian tinggi
energi tetap (constant head) menggunakan rumus sebagai berikut:
QL (Pers 3.8)
k=
¿^ ¿
Keterangan:
k : Permeabilitas tanah
Q : Debit resapan dikali waktu
L : Panjang benda uji
∆ h : Kehilangan tinggi energi
A : Luas penampang benda uji
T : Lama waktu pengujian
23
24
Q −FKT
H= (1- ) 2
FK e πR
(Pers 3.9)
Keterangan:
H : Tinggi muka air dalam sumur (m)
Q : Debit masuk (m3/detik)
F : Faktor geometric (m)
K : Permeabilitas tanah (m/dt)
R : Radius sumur
T : Durasi aliran (dt)
V sumur =¿ πR x H ¿
2 (Pers 3.10)
Keterangan:
R: Radius sumur
H: Tinggi muka air dalam sumur
25
Keterangan:
F : Faktor geometric
K : Nilai permeabilitas tanah
H : Tinggi air dalam sumur
Debit resapan seluruh sumur dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Q0 total=Q0 x jumlah sumur yang ditempatkan pada rumah
[Link] Limpasan
Limpasan terbagi menjadi 2 yaitu limpasan sebelum adanya sumur
resapan dan limpasan setelah adanya sumur resapan hal ini juga diperkuat oleh
Pattiruhu dkk.( 2019). Persamaan yang digunakan adalah:
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
b. Metode Smirnov-Kolmogorov ( x 2)
Dari perhitungan Metode Smirnov-Kolmogorov atau uji dengan
persyaratan ΔP kritis kurang dari 0.41. Distribusi yang memenuhi untuk
menganalisis data curah hujan pada penelitian ini adalah Distribusi
Probabilitas Normal,dan Distribusi Log Pearson III untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada lampiran, dan hasil dari rekapitulasi uji distribusi
Smirnov-Kolmogorv dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Rekaptulasi uji distribusi Smirnov-Kolmogorv
25
= 86,78803 mm / jam
2
345 ,64
I5 = (
24
) × ( 24 )3
60
= 119,82669 mm / jam
2
395 ,56
I 10 = (
24
) × ( 24 )3
60
= 137,13299 mm / jam
Hasil perhitungan menggunakan Metode Mononobe diketahui intensitas
hujan periode ulang 2 tahun 86,78803 mm/jam, periode ulang 5 tahun 119,82669
mm/jam dan periode ulang 10 tahun 137,13299 mm/jam. Setelah diketahui hasil
intensitas curah hujan, selanjutnya menentukan debit untuk tiap tipe rumah
menggunakan Metode Rasional.
= 0,003259514 mm/jam
Perhitungan rumah tipe 45 diketahui hasil debit periode ulang 2 tahun
0,002062865 mm/jam, periode ulang 5 tahun 0,002848161 mm/jam dan periode
ulang 10 tahun 0,003259514 mm/jam. Tipe rumah lainnya dihitung seperti
perhitungan di atas dan hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12 Debit Untuk Tipe Rumah
Tipe 2 Tahun 5 Tahun 10 Tahun
Rumah
45 0,002062865 0,002848161 0,003259514
60 0,002979693 0,00411401 0,004708187
70 0,003208901 0,004430472 0,005070355
120 0,003438108 0,004746934 0,005432523
C=
∑ A .C =
4.612 , 3
= 0.95
∑A 4.855
Q = 0.278.C.I.A
Q2 =0,278 x 0,95 x 86,78803 x 56,8
= 0,1301 m3/dt
Q5 =0,278 x 0,95 x 119,82669 x 56,8
= 0,1797 m3/dt
Q10 =0,278 x 0,95 x 137,13299 x 56,8
= 0,2057 m3/dt
Berdasarkan hasil perhitungan debit di atas, maka didapatkan hasil debit
untuk rumah tipe 45 periode ulang 2 tahun = 0,002062865 mm/jam, periode ulang
25
Vresap = Qt x Tc
25
= 0,0001977 x 3600
= 0,71172 m3
10 1,17
2 2,13
60 5 1,54
10 1,35
2 1,98
70 5 1,43
10 46446
2 68497
120 5 49611
10 43350
Tabel 4.15 Hasil Perhitungan Waktu Pengisian Sumur Resapan
4.13 Limpasan
Limpasan aliran air di suatu kawasan dapat dihitung dengan mengalikan
nilai debit kawasan dan durasi hujan rata-rata pada kawasan tersebut. Perhitungan
limpasan untuk menghitung sisa limpasan setelah adanya sumur resapan dan
presentasi resapan sumur dalam jangka waktu 2, 5 dan 10 tahun.
Lk = Qkawasan x durasi hujan
Hasil perhitungan limpasan kawasan lebih lengkapnya dapat dilihat pada
Tabel 4.16.
Periode Limpasan Resapan (m3) Sisa Presentasi
Ulang (m3) Limpasan Resapan
(m3)
2 7,806 7,065 0,741 90%
5 10,782 7,065 3,717 65%
10 12,342 7,065 5,277 58%
Tabel 4.16 Hasil Perhitungan Limpasan Kawasan
0,741, untuk jangka waktu 5 tahun sebesar sisa limpasan sebesar 3,717 persentasi
(65%) dan jangka waktu 10 tahun sisa limpasan sebesar 5,277 persentasi (58%).
Untuk menjaga sumur resapan agar tetap berfungsi dengan maksimal, hal yang
perlu diperhatikan yaitu pipa atau saluran air agar terhindar dari sampah-sampah
yang akan berpotensi besar mengambat atau mengganggu dalam proses peresapan
air.
Gambar 4.3 Desain Sumur Resapan
25
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan penelitian, maka dapat disimpulkan simpulkan sebagai berikut .
1. Kondisi eksisting drainase yang ada di Jalan Flamboyan Lamteh Banda Aceh
saat ini drainase hanya terletak di beberapa titik saja untuk mengalirkan
kelebihan air ke badan air sementara sisanya masih berupa saluran tanah.
Penyebab terjadinya genangan dikarenakan belum tersedianya tempat
peresapan air hujan,
2. Debit resapan yang ditampung oleh sumur resapan adalah sebesar
0.000006594 m3/detik dan volume tampung total sebesar 70.650 m3.
3. Desain sumur resapan yang direncanakan berbentuk lingkaran dengan tinggi
sumur 3 m, jari-jari 0.5 m dan jumlah sumur yang ditempatkan 30 sumur
5.2 Saran
Saran pada tugas akhir ini adalah sebagai berikut.
1. Diharapkan adanya partisipasi dari masyarakat dalam menjaga kebersihan di
saluran drainase yang sudah ada.
25
DAFTAR PUSTAKA
Andrianto, A., Junaidi, A., dan Irawan, B. B. (2021). Evaluasi Jaringan Drainase
Kampus Universitas Dharma Andalas (UNIDHA) Menggunakan Software
Storm Water Management Model (SWMM). Jurnal Rivet, 1(01), 13–25.
Antara, I. G. M. Y. (2021). Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pengelolaan
Sumber Daya Air Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Sistem Informasi Dan
Komputer Terapan Indonesia (JSIKTI), 4(2), 112–121.
Ardiansyah, A., dan Gasali M., M. (2020). Perencanaan Sistem Drainase Studi
Kasus jalan Sungai Beringin Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri
Hilir. Jurnal Ilmiah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten
Indragiri Hilir, 6(3), 135–144.
Ayu, I. K., dan Heriawanto, B. K. (2018). Perlindungan Hukum Terhadap Lahan
Pertanian Akibat Terjadinya Alih Fungsi Lahan di Indonesia. Jurnal
Ketahanan Pangan, 2(2), 122–130.
Bahunta, L., dan Waspodo, R. S. B. (2019). Rancangan Sumur Resapan Air Hujan
sebagai Upaya Pengurangan. Jurnal Teknik Sipil Dan Lingkungan, 04(01),
37–48.
Bunganaen, W., Sir, T. M., dan Penna, C. (2016). Pemanfaatan Sumur Resapan
Untuk Meminimalisir Genangan Di Sekitar Jalan Cak Doko. Jurnal Teknik
Sipil, 5(1), 67–78.
Febrianti, D., dan Silvia, C. S. (2019). Optimalisasi Pemeliharaan Drainase
Berdasarkan Persepsi Masyarakat. Jurnal CIVILA, 4(2), 300–309.
Imamuddin, M., dan Antoni, H. (2019). Analisis Kapasitas Drainase Jalan
Panjang Sampai Dengan Rumah Pompa Kedoya Utara. Prosiding Semnastek,
1–6.
Isma, F., Irwansyah, dan Ismida, Y. (2018). Sistem Informasi Geografis (Sig)
Sebagai Evaluasi Jaringan Drainase Di Gampong Sungai Pauh Kota Langsa.
Jurnal Ilmiah Jurutera Universitas Samudra, 05(December), 12.
Kustamar. (2008). Konsep, Strategi, Dan Contoh Pemodelan Hidrologi Daerah
25
Supriyani, E., Bisri, M., dan Dermawan, V. (2012). Studi Pengembangan Sistem
Drainase Perkotaan Berwawasan Lingkungan. 3, 112–121.
29
LAMPIRAN B
29
Lampiran B.2 Dirjen Cipta Karya PU
29
Infiltration wells can mitigate urban flooding in Gampong Lamteh by capturing excess rainwater and allowing it to percolate into the ground, thereby reducing surface runoff. This method enhances groundwater recharge and lowers the volume of water that contributes to flooding during heavy rainfalls .
Integrating hydrological analysis into urban planning improves infiltration well design by accurately determining appropriate locations, dimensions, and capacities based on rainfall patterns and groundwater levels. This ensures optimal rainwater capture and infiltration, reducing urban flooding .
Environmental drainage systems, unlike traditional systems, focus on controlling water on the surface and enhancing infiltration into the ground, thus reducing runoff volumes and flood risks. They incorporate methods such as infiltration wells and conservation ponds, which facilitate natural water management and decrease pollution levels in stormwater .
Suitability of probability distributions for rainfall data can be assessed using statistical parameters like mean, standard deviation, skewness, and kurtosis. This is followed by tests like Chi-square or Smirnov-Kolmogorov to determine which distribution best fits the observed data, ensuring accurate flood risk predictions .
Understanding rainfall distribution is crucial for designing effective drainage systems because it helps determine the intensity, duration, and frequency of rain events. This knowledge allows for accurate predictions of peak flows and capacities required to manage stormwater effectively, reducing the risk of system overload and flooding .
Drainage system reversals can dynamically manage excess water during heavy rainfall by temporarily redirecting flows to areas designed to absorb overflow, such as ponds or wetlands, and then returning to normal operation post-event. This adaptive strategy can absorb shock loads and prevent overtaxing of primary drains .
Single-purpose drainage systems are designed to handle only one type of water runoff, such as stormwater, whereas multipurpose drainage systems are designed to handle multiple types of water runoff simultaneously or alternately .
Community behavior significantly influences drainage effectiveness, as improper waste disposal can clog drains, reducing their capacity to handle stormwater. Moreover, societal neglect of water management practices, such as ignoring the need for adequate infiltration areas, exacerbates flooding issues .
Implementing drainage regulations across Indonesian provinces is challenged by inconsistent regulation applications, local governance issues, varying climatic conditions, and differing levels of urban development. Some areas, like Jakarta, have regulations supporting infiltration systems, while others, such as Aceh, lack technical guidelines, leading to ineffective flood management .
The conversion of open land, such as rice fields and gardens, into residential complexes in Banda Aceh has led to increased instances of waterlogging and flooding. This change reduces the land's natural ability to absorb rainwater, resulting in higher surface runoff, which can overwhelm existing drainage systems and heighten flood risks .