BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain di dunia baik
dari segi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun pembangunan
lainnya, bangsa Indonesia sangat membutuhkan tenaga-tenaga kreatif dan
inovatif khususnya tenaga guru yang mampu memberikan sumbangan
bermakna kepada negaranya, serta kepada kesejahteraan bangsa pada
umumnya. Untuk menciptakan tenaga-tenaga yang kreatif dan inovatif, dapat
dilakukan melalui salah satunya guru yang berkualitas yang dapat
menciptakan insan-insan yang handal.
Dalam proses peningkatan mutu guru, kualitas dan kompetensi guru
merupakan salah satu syarat mutlak. Posisi dan peranan guru sebagai
penggerak dalam guru (proses belajar mengajar) mempunyai pengaruh kuat
terhadap keberhasilan peserta didik. Dapat dikatakan bahwa peningkatan
kualitas guru tidak bisa dipisahkan dari peningkatan kompetensi guru itu
sendiri dalam mengajar.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang
guru dan dosen, Pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah.
1
2
Menurut Syarif Hidayat (2013:1):
Pendidikan adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap
insan sebagai salah satu modal agar dapat berhasil dan meraih
kesuksesan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha
sadar manusia dalam menciptakan diri dan masyarakat agar
mempertahankan hidup dalam arus perkembangan zaman.
Kebutuhan insani, baik yang bersifat jasmani maupun rohani.
Hakikat guru ini dapat terwujud melalui proses pengajaran,
pembelajaran dengan memperhatikan kompetensi-
kompetensipedagogik berupa profesi, kepribadian dan sosial.
Pendidikan dan menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin,
karakter, pikiran dan tubuh peserta didik yang dilakukan secara
integral tanpa dipisah-pisahkan antararanah-ranah tersebut.
Peran guru sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu guru
formal. Sebagai pendidik profesional, guru tentu wajib memiliki kompetensi,
yakni seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus
dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan (UU RI No. 14 Tahun 2006, tentang Guru dan Dosen, pasal 1
ayat 10). Untuk itu guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu
menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam
kerangka pembangunan guru. Guru mempunyai fungsi dan peran yang sangat
strategis dalam pembangunan bidang guru. Setiap guru perlu memiliki
kemampuan memantau atas hasil belajar peserta didiknya dalam halini mata
pelajaran Bahasa Indonesia sebagai bagian dari kompetensi guru dengan
menggunakan berbagai teknik.
Prestasi belajar Bahasa Indonesia yang diharapkan dimiliki oleh peserta
didiknya yaitu peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan, nilai dan
sikap serta keterampilan sosialnya untuk dapat menelaah kehidupan sosial
3
yang dihadapi sehari-hari serta menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap
perkembangan masyarakat Indonesia dari masa lalu sampai masa kini.
Pembelajaran Bahasa Indonesia adalah proses penting dalam
membentuk komunikasi yang efektif, pemahaman budaya, dan
pengembangan kemampuan berpikir kritis. Sebagai bahasa resmi
negaraIndonesia, Bahasa Indonesia memegang peranan utama dalam
kehidupan sosial, budaya, dan politik. Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak
hanya berkaitan dengan penguasaan tata bahasa dan kosakata, tetapi juga
mencakup pemahaman mendalam tentang konteks sosial, sejarah, dan
kebudayaan yangmelekat pada bahasa tersebut. Dalam era globalisasi ini,
pembelajaran BahasaIndonesia tidak hanya relevan bagi masyarakat
Indonesia sendiri, tetapi juga bagi mereka yang tertarik memahami dan
berinteraksi dengan budaya Indonesia. Proses pembelajaran ini melibatkan
berbagai metode dan pendekatan, termasuk pengajaran langsung, penggunaan
media digital, interaksi antarbudaya, dan pengalaman praktis dalam
berkomunikasi. Pentingnya pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya
tercermin dalam kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, tetapi juga
dalam meningkatkan pemahaman tentang pluralitas budaya, sejarah, dan
identitas nasional.
Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia, individu dapat
mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan beragam lapisan
masyarakat, memperdalam pemahaman tentang keberagaman budaya, dan
memperluas wawasan tentang peran bahasa dalam membangun hubungan
4
antar manusia. Dalam konteks pendidikan, pembelajaran Bahasa Indonesia
juga berperan dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, analitis, dan
reflektif. Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya mengajarkan
keterampilan berbicara dan menulis, tetapi juga melibatkan interpretasi teks,
analisis struktur bahasa, dan penafsiran makna dalam konteks budaya yang
luas.
Bahasa Indonesia, yang mencakup di dalamnya pelajaran menyimak,
membaca dan menulis, merupakan mata pelajaran yang secara umum
mengkaji kehidupan masyarakat dalam sebuah lingkungan. Pemahaman
terhadap kehidupan tidak bisa dipahami secara terpisah-pisah. Berbagai aspek
kehidupan seperti ekonomi, sosial dan kebudayaan memiliki hubungan yang
sangat erat. Fenomena kehidupan yang timbul merupakan integrasi dariaspek-
aspek kehidupan tersebut. Dengan demikian, pembelajaran BahasaIndonesia
merupakan bagian integral dari pendidikan yang holistik dan berkelanjutan,
yang bertujuan untuk membentuk individu yang kompeten secara linguistik,
kultural, dan sosial.
Pengamatan peneliti kendala yang dihadapi peserta didik Sekolah
Menengah Pertama (SMP) dalam mempelajari Bahasa Indonesia adalah pada
saat proses belajar mengajar. Kondisi di lapangan saat ini menunjukkan
bahwa masih dilatarbelakangi cara pendekatan konvensional yang tidak
efektif dan menimbulkan kejenuhan siswa dalam kelas serta pendekatan
keterampilan proses dengan pembelajaran teoritis.
Upaya untuk mengatasi masalah guru dengan kondisi di lapangan saat
5
ini seperti tersebut di atas, sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah
(Depdiknas) dengan berbagai pembaharuan, antara lain dengan pelatihan dan
peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan
sarana dan prasarana, serta meningkatkan sistem manajemen sekolah, agar
guru selanjutnya berorientasi lokal, berwawasan nasional dan global.
Dari semua upaya meningkatkan kualitas guru tersebut, menunjukkan
bahwa guru merupakan faktor penting dan sekaligus ujung tombak
pencapaian misi pembaharuan keguru, mereka berada di titik sentral untuk
mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar
untuk mencapai tujuan dan misi guru nasional yang dimaksud. Oleh
karenanya guru dituntut untuk lebih profesional, inovatif, perspektif, dan
proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran.
Sebagai tenaga profesi, guru memiliki tugas yang begitu kompleks,
yaitu tugas profesi, tugas kemanusiaan, tugas kemasyarakatan. Tugas profesi
yaitu mendidik, mengajar dan melatih. Tugas kemanusiaan diantaranya
menjadi orang tua, sebagai partner yang baik, sebagai tempat memecahkan
masalah bagi peserta didik. Sedangkan tugas kemasyarakatan profesi guru
diantaranya adalah mendidik dan mengajar masyarakat agar menjadi warga
negara yang baik.
Di lembaga guru formal seperti sekolah, guru berperan sebagai
pemimpin kegiatan kerja yang berkaitan dengan proses belajar mengajar
dimana ia harus merencanakan, melaksanakan, mengorganisasi dan
mengawasi kegiatan proses belajar mengajar, guru harus dapat memilih dan
6
menetapkan metode mengajar yang tepat sesuai dengan lingkungan
dankondisi yang ada pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Bantuan dan bimbingan guru baik secara individual maupun kelompok
kepada peserta didiknya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
merupakan bagian terpenting dari tugas guru sebagai pemimpin. Hal
demikian karena pada hakikatnya mengajar adalah membimbing kegiatan
peserta didik yang sesuai dengan pernyataan “teaching is guidance of
learning activities”.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28, disebutkan
bahwa guru adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis
kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, professional dan
sosial. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran
peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan
dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan
peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi kepribadian adalah kepribadian guru yang mantap, stabil,
dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak
mulia. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru berkomunikasi dan
berinteraksi secara efektif dengan peserta didik, sesama guru, tenaga
keguruan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat. Kompetensi
professional adalah kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran
secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta
didik memperoleh kompetensi yang ditetapkan.
7
Sardiman A. M. (2008:125) menyatakan bahwa “guru adalah salah satu
komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan
dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensisal di bidang
pembangunan”. Oleh karena itu guru sebagai sumber daya manusia yang
memiliki peran sangat strategis dan menentukan keberhasilan program guru.
Pendidik sebagai human faktor merupakan unsur penting yang sangat
dekat hubungannya dengan anak didik dalam pelaksanaan guru dan interaksi
sehari- hari disekolah.
Profesi guru membutuhkan kemampuan khusus seperti penguasaan
ilmu, seni dan keterampilan. Ilmu pengetahuan tentang dasar-dasar keguru
dan materi bidang studi sangat perlu dikuasai oleh guru agar ia dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik, dengan demikian ia akan menjadi guru
yang professional.
Dari berbagai faktor yang dapat kerhasilan guru adalah guru dan peserta
didik sebagai pelakunya. Dari sisi guru, artinya adanya kemampuan dan
professionalitas yang sangat dibutuhkan guna mentransfer pengetahuan.
Sedangkan dari sisi peserta didik dibutuhkannya kemauan dan kegigihan
dalam melakukan aktivitas belajar. Pendidik yang professional akan
menciptakan persepsi positif peserta didiknya. Sedangkan peserta didik yang
memiliki persepsi positif terhadap gurunya akan cenderung taat dan patuh
terhadap gurunya. Sehingga siswa tersebut dengan senang hati akan
melakukan aktivitas belajarnya dengan gigih dan sungguh-sungguh.
8
Belajar pada dasarnya merupakan proses perubahan secara positif
menuju kedewasaan. Adanya proses belajar, menyebabkan manusia
senantiasa dapat mengembangkan dirinya serta mengaktualisasikan segala
kemampuan yang dimilikinya. Baik yang diperoleh melalui lingkungan guru
yang terdapat dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Sebagaimana diketahui, kegiatan belajar merupakan kegiatan pertama
dalam keseluruhan proses guru. Hal ini berarti berhasil tidaknyapencapaian
tujuan guru banyak ditentukan oleh bagaimana proses belajar yang dialami
peserta didik. Belajar merupakan proses perubahan dalam tingkah laku
seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya, yang perubahan-perubahan tersebut akan dinyatakan
dalam seluruh aspek tingkah laku. Kegiatan belajar terjadi jika pengalaman
mengakibatkan perubahan yang relatif permanen pada tingkah laku serta
pengetahuan seseorang. Seseorang dinyatakan telah memiliki pengalaman
belajar apabila adanya perubahan tingkah laku sebagai akibat dari hasil proses
pembelajaran.
Hakekatnya kegiatan pembelajaran bertujuan menghasilkan perubahan-
perubahan yang bersifat positif sehingga seseorang dapat menuju
kedewasaan. Perubahan positif tersebut menunjukkan adanya hasil positif,
yaitu hasil belajar yang menjadi inti dari proses pembelajaran. Dengan kata
lain hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan belajar uang ditujukkan
seseorang setelah mendapatkan bimbingan dan latihan yang diberikan oleh
9
guru sebagai fasilitatornya.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru memiliki peran krusial
dalam membimbing siswa melalui pemahaman tata bahasa, pengembangan
kosa kata, dan penerapan prinsip-prinsip komunikasi yang efektif. Selain itu,
guru juga berperan sebagai fasilitator dalam menciptakan lingkungan belajar
yang menyenangkan dan mendukung, di mana siswa merasa nyaman untuk
berekspresi dan belajar dari pengalaman bersama.
Sementara itu, siswa memainkan peran aktif dalam proses pembelajaran
dengan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dalam Bahasa
Indonesia. Mereka diajak untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan
pembelajaran yang menantang, seperti permainan peran, diskusi kelompok,
presentasi, dan proyek kolaboratif, yang semuanya bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan komunikasi mereka dalam Bahasa Indonesia.
Proses pembelajaran Bahasa Indonesia juga melibatkan penggunaan
teknologi dan sumber daya digital sebagai sarana untuk memperkaya
pengalaman belajar siswa. Dengan memanfaatkan platform daring, aplikasi
pembelajaran, dan sumber daya multimedia lainnya, siswa dapat mengakses
beragam materi pembelajaran, berlatih keterampilan bahasa, dan berinteraksi
dengan konten yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Pentingnya proses pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya terletak
pada penguasaan struktur dan konvensi bahasa, tetapi juga dalam
pengembangan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, menganalisis teks,
dan memahami konteks budaya yang melekat pada bahasa tersebut. Melalui
10
proses pembelajaran yang holistik dan berbasis pengalaman, siswa dapat
memperoleh pemahaman yang mendalam tentang Bahasa Indonesia serta
mengembangkan keterampilan yang relevan dan bermanfaat dalam kehidupan
mereka. Dalam proses pembelajarannya, prestasi belajar yang dicapai
dipengaruhi oleh faktor lain, baik yang terdapat dalam dirinya ataupundari
luar dirinya. Faktor dari dalam yang mempengaruhi hasil belajarnya adalah
tingkat IQ, besarnya minat, motivasi, bakat atau kepribadian yang
terdapat dalam setiap individu-individu tersebut. Sedangkan faktor dari luar
yang mempengaruhinya dapat disebabkan dari lingkungannya, sarana dan
prasarana yang ada, termasuk sistem dan proses belajar dalam
kegiatanpembelajarannya. Minat adalah keinginan atau dorongan untuk
mengejat potensi diri.
Biasanya minat siswa sangat dipengaruhi oleh situasi di sekitarnya atau
tren yang sedang berlaku di lingkungan tertentu. Minat yang dimiliki oleh
siswa sebenarnya mencerminkan bakat yang mereka miliki. Semakin dini
usia seorang siswa, semakin mudah untuk mengidentifikasi bakat siswa
melalui minatnyakarena bayangan bakat masi jelas terlihat. Namun, semakin
tumbuh dewasa semakin sulit untuk mengenali bakat siswa karena minat atau
motivasinya menjadi lebih rutin dan terbiasa. Secara esensial, minat dan bakat
memiliki peran yang sama dalam membantu mengidentifikasi tujuan dan misi
dalam hidup. Minat menunjukan dinamika khusus siswa yang
mengindikasikan keterlibatan dalam tren yang ada disekitar lingkungan
siswa. (Novianti, 2014 : 12-16)
11
Menurut Sukardi, minat adalah ketertarikan, kegemaran, atau
kesenangan seseorang terhadap suatu hal. Sementara menurut Sadirman,
minat adalah kondisi yang muncul saat seseorang melihat ciri-ciri atau makna
suatu situasi yang berkaitan dengan keinginan atau kebutuhan pribadi. Oleh
karena itu, apapun yang dilihat seseorang akan membangkitkan minatnya jika
hal tersebut relevan dengan kepentingannya sendiri. Ini menunjukan bahwa
minat adalah kecenderungan batin seseorang terhadap objek tertentu yang
sering kali disertai dengan perasaan senang karena ada kaitan dengan
kepentingan pribadi.
Minat belajar adalah kecenderungan atau ketertarikan seseorang
terhadap suatu materi atau aktivitas pembelajaran. Ini mencakup keinginan,
motivasi, dan antusiasme individu untuk terlibat dalam proses belajar dan
mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang subjek [Link]
belajar mencerminkan sejauh mana seseorang merasa tertarik, terlibat, dan
terdorong untuk mengeksplorasi dan memahami suatu topik atau subjek.
Seseorang yang memiliki minat belajar yang tinggi cenderung lebih
termotivasi untuk mencari informasi, berpartisipasi aktif dalam diskusi, dan
melakukan upaya tambahan untuk memahami materi. Sebaliknya, individu
dengan minat belajar yang rendah mungkin merasa enggan atau kurang
termotivasi untuk terlibat dalam proses pembelajaran
Minat belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengalaman
sebelumnya, kebutuhan dan minat pribadi, lingkungan belajar, serta cara
materi disajikan. Membangun minat belajar yang kuat membutuhkan
12
pendekatan pembelajaran yang relevan, menarik, dan sesuai
dengankebutuhan individu. Dalam konteks pendidikan, memahami minat
belajar siswa merupakan langkah penting bagi pendidik untuk merancang
strategi pembelajaran yang efektif dan memotivasi. Dengan mengakomodasi
minat belajar siswa, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang
lebih menyenangkan, menantang, dan memuaskan, yang pada gilirannya
dapat meningkatkan prestasi akademik dan motivasi intrinsik siswa.
Minat belajar merupakan faktor penting yang memengaruhi proses
pembelajaran seseorang. Konsep minat belajar mencakup ketertarikan,
motivasi, dan keinginan seseorang untuk terlibat dalam aktivitas
pembelajaran. Dalam konteks pendidikan, minat belajar menjadi faktor
yangmempengaruhi seberapa efektif seseorang dalam menyerap pengetahuan
dan keterampilan baru.
Pentingnya minat belajar dalam konteks pendidikan menunjukkan
bahwa para pendidik perlu memperhatikan cara untuk membangkitkan dan
memelihara minat belajar siswa. Pendekatan pembelajaran yang menarik,
relevan, dan memperhatikan kebutuhan serta minat individual siswa dapat
membantu meningkatkan tingkat partisipasi dan pencapaian akademik
mereka. Dalam era di mana akses terhadap informasi sangat luas, memahami
dan memanfaatkan minat belajar menjadi semakin penting.
Dengan memahami minat belajar siswa, pendidik
dapatmengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan
menyajikan materi secara menarik dan relevan bagi siswa mereka. Oleh
13
karena itu, pemahaman yang mendalam tentang minat belajar menjadi kunci
untukmenciptakan lingkungan pembelajaran yang memadai dan membangun
motivasi intrinsik yang kuat pada setiap individu.
Menurut Sutrisno (2020:10) menyatakan bahwa “minat adalah sebagai
sebab, yaitu kekuatan pendorong yang memaksa seseorang menaruh
perhatian pada orang situasi atau aktifitas tertentu dan bukan pada yang lain,
atau minat sebagai akibat”. Menurut Rahmat (2018:161) menyatakn bahwa
“minat adalah suatu keadaan ketika seseorang menaruh perhatian
pada sesuatu, yang disertai dengan keinginan untuk mengetahui,
memiliki, mempelajari, dan membuktikan”. Dan menurut
Supatminingsih, dkk (2020:89) menyatakan bahwa : minat
mempengaruhi proses dan hasil belajaranak didik.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri minat adalah
kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang
dipelajari secara terus menerus, minat tumbuh bersamaan dengan fisik dan
mental. Memperoleh kebanggan dan kepuasan terhadap hal yang diminati,
berpartisipasi pada pembelajaran, dan minat belajar di pengaruhi oleh budaya.
Ketika siswa ada minat dalam belajar maka siswa akan senantiasa aktif
berpartisipasi dalam pembelajaran dan mempengaruhi nilai hasil belajar yang
baik.
Memperhatikan fakta dilapangan, sebagian siswa SMP Negeri dan
Swasta pada umumnya masih memiliki persepsi kurang baik terhadap guru
Bahasa Indonesia. Hal ini kemungkinan terjadi kurangnya interaksi kondusif
dan menyenangkan antara guru dengan peserta didik sehingga berdampak
pada terciptanya persepsi negatif pada mata pelajaran Bahasa Indonesia
14
termasuk kepada gurunya. Disisi lain lain minat belajar belum tercipta dengan
baik. sehingga kurang mendukung terjadinya proses pembelajaran yang
kondusif. Atas dasar pemikiran tersebut penulis merasa tertarik untuk
melakukan penelitian tentang “Pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik
guru dan minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia”.
Dalam minat belajar Bahasa Indonesia yang ideal, terdapat atmosfer
yang ramah dan inklusif di mana siswa merasa dihargai dan didukung untuk
berekspresi serta mengembangkan kemampuan bahasa mereka.
Minat belajar Bahasa Indonesia juga memfasilitasi kolaborasi dan
interaksi antar siswa, baik dalam bentuk diskusi kelompok, proyek
kolaboratif, atau kegiatan berbasis permainan yang merangsang interaksi
sosial dan pemecahan masalah. Melalui interaksi ini, siswa memiliki
kesempatan untuk mengasah kemampuan berkomunikasi mereka dalam
Bahasa Indonesia dan belajar dari pengalaman dan sudut pandang orang lain.
Dengan demikian, minat belajar Bahasa Indonesia bukan hanya
tempatdi mana pengetahuan tentang bahasa dipindahkan dari guru ke siswa,
tetapi juga merupakan arena di mana siswa dapat aktif terlibat dalam proses
pembelajaran, bereksplorasi dengan beragam sumber daya, dan
mengembangkan kemampuan bahasa mereka dalam konteks yang relevan dan
bermakna. Lingkungan belajar yang efektif dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia memungkinkan siswa untuk mencapai potensi maksimal mereka
dalam memahami, menggunakan, dan menghargai keindahan serta
kompleksitas bahasa dan budaya Indonesia .
15
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan dapat diidentifikasi
sebagai berikut.
1. Rendahnya minat belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa indonesia.
2. Adanya pengaruh persepsi siswa terhadap kompetensi pedagogik guru.
3. Adanya pengaruh cara mengajar yang efektif terhadap prestasi belajar
siswa yang optimal.
4. Adanaya pengaruh persepsi siswa berdasarkan pengalaman belajar dalam
pelajaran bahasa indonesia.
5. Suasana pembelajaran yang kondusif dapat memengaruhi prestasi belajar
bahasa indonesia
6. Cara mengajar guru berpengaruh terhadap prestasi belajar Bahasa
Indonesia siswa.
7. Adanya faktor internal siswa yang mempengaruhi minat belajar bahasa
indonesia.
8. Kompetensi pedagogik guru mempengaruhi prestasi belajar Bahasa
Indonesia.
9. Pendidikan guru yang memadai dapat mempengaruhi prestasi belajar
Siswa.
10. Metode pembelajaran yang digunakan guru dapat mempengaruhi minat
belajar dan hasil belajar siswa dalam pelajarn bahasa indonesia
C. Batasan Masalah
Mengingat luasnya masalah, maka penelitian ini dibatasi pada hal-hal
16
sebagai berikut.
1. Persepsi tentang kompetensi guru yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah tanggapan peserta didik tentang guru Bahasa Indonesia mengenai
kompetensinya.
2. Minat belajar dapat didasari dari dua faktor yakni faktor internal dan faktor
eksternal.
3. Prestasi belajar Bahasa Indonesia berdasarkan nilai PTS dan PAS semester
ganjil tahun pelajaran 2024/2025.
4. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri dan Swasta di
wilayah Karawang .
D. Rumusan Masalah
Dengan demikian, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Apakah terdapat pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan
minat belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Bahasa
Indonesia siswa SMP Negeri dan Swasta di Karawang ?
2. Apakah terdapat pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru
terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa SMP Negeri dan Swasta
di Karawang ?
3. Apakah terdapat pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa
Indonesia siswa SMP Negeri dan Swasta di Karawang ?
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan
17
untuk mengetahui:
1. Pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan minat belajar
secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa
SMP Negeri dan Swasta di Karawang .
2. Pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru terhadap prestasi
belajar Bahasa Indonesia siswa SMP Negeri dan Swasta di Karawang .
3. Pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa
SMP Negeri dan Swasta di Karawang.
F. Kegunaan Penelitian
1. Secara teoritis
a. Untuk mengembangkan pengetahuan tentang kompetensi pedagogik
guru, minat belajar siswa dan prestasi belajar Bahasa Indonesia .
b. Untuk dijadikan rujukan teori bagi penelitian-penelitian lanjutan,
khususnya yang terkait dengan penelitian ini.
2. Secara praktis
a. Sebagai bahan masukan bagi sekolah agar mampu mengambil langkah-
langkah yang tepat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar peserta
didik melalui kompetensi pedagogik guru dan minat belajar.
b. Memberi dorongan kepada para peserta didik untuk meningkatkan
prestasi belajarnya dengan melalui kompetensi guru dan minat belajar
peserta didik yang nantinya dapat meningkatkan mutu guru.
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Landasan Teori
1. Hakikat Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Sebelum membahas tentang Bahasa Indonesia itu sendiri, penulis
membahas pengertian prestasi belajar terlebih dulu. Prestasi belajar adalah
sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar. Antara
kata prestasi dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Oleh karena itu,
sebelum pengertian prestasi belajar , ada baiknya pembahasan ini
diarahkan pada masing-masing permasalahan terlebih dahulu untuk
mendapatkan pemahaman lebih komprehensif mengenai makna kata
prestasi dan belajar. Hal ini juga untuk memudahkan dalam memahami
lebih mendalam tentang pengertian prestasi belajar itu sendiri itu
sendiri.
a. Pengertian belajar
Banyak para ahli yang mengemukakan pendapat mengenai
belajar,diantaranya adalah Humalik (2003:52), menurutnya pengertian
belajar adalah modifikasi untuk memperkuat tingkah laku melalui
pengalaman dan latihan serta suatu proses perubahan tingkah laku
individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Perubahan itu bersifat
secara relatif konsisten dan berbekas. Menurut Nasution (2002:78),
belajar adalah sebagian perubahan kelakuan, pengalaman dan latihan.
Jadi belajar membawa suatu perubahan pada dari individu yang belajar.
19
Gagne & Briggs (2008:7) menjelaskan bahwa belajar merupakan
hasil pasangan stimulus dan respons, kemudian diadakan penguatan
kembali (reinforcement) yang dilakukan terus menerus. Reinforcement
inidimaksudkan untuk menguatkan tingkah laku yang diinternalisasikan
dalam proses belajar. Proses belajar setiap orang akan menghasilkan
hasil belajar yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlunya
reinforcement secara terus menerus sampai mengalami perubahan
tingkah laku kearah yang lebih baik.
Dan Mustaqin (2010:60), bahwa belajar adalah usaha untuk
membentuk hubungan antara perangsang dan reaksi perubahan itu tidak
hanya mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, melainkan juga
membentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, minat,
penyesuaian [Link] hal ini meliputi segala aspek organisasi atau
pribadi individu yang belajar. Belajar disimpulkan proses perubahan
tingkah laku di dalam kepribadian yang terjadi pada seorang peserta
didik atau orang yang belajar bila menghadapi stimulus dan kondisi.
1).Jenis-jenis belajar
Menurut Nasution (2000:57) ada beberapa jenis belajar yang
berhubungan dengan hal yang harus di pelajari antara lain:
a) Belajar berdasarkan pengamatan
Pengamatan sangat penting sebagai dasar untuk
memperoleh pengertian dan tanggapan yang sangat jelas
tentang sesuatu misalnya tanggapan visual dalam ilmu hayat,
20
ilmu alam, kimia, geografi dan sebagainya yang banyak
memerlukan pengamatan langsung.
b) Belajar berdasarkan gerak
Belajar berdasarkan gerak ini membutuhkan gerakan fisik
seperti menulis, membaca, gerakan olah raga. Oleh karena itu
dalam belajar berdasarkan gerak ini ada hal-hal yang perlu
diperhatikan peserta didik yaitu mengetahui tujuan, mempunyai
tanggapan yang jelas tentang kecakapan, pelaksanaan yang tepat
pada taraf kecakapan itudan latihan untuk mempertinggi
kecepatan.
c) Belajar berdasarkan menghafal
Belajar yang bersifat menghafal ini yang paling banyak
digunakan di sekolah, baik di sekolah dasar maupun di sekolah
yang lebih tinggisebab belajar adalah menempuh ujian dan untuk
itu diperlukanpenguasaan sejumlah pengetahuan.
d) Belajar berdasarkan pemecahan masalah
Metode pemecahan masalah dapat digunakan untuk
memecahkan masalah-masalah dalam berbagai mata pelajaran
seperti matematika, fisika, sejarah, biologi dan sebagainya. Selain
itu, metode pemecahan masalah ini diperlukan juga untuk
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi peserta didik dalam
kehidupan sehari-hari.
21
e) Belajar berdasarkan emosi
segi-segi pribadi seperti ketekunan, ketabahan menghadapi
masalah, ketelitian, kebersihan, kecakapan dalam bergaul dengan
orang lain dan sering dipelajari dalam setiap pelajaran sebab
selalu tersimpul di dalamnya, akan tetapi belajar berdasarkan
emosi ini sangat kurang mendapat perhatian guru karena belajar
jenis ini sukar sifatnya dan pelaksanaanya yang tidak mudah.
2).Prinsip-prinsip belajar
Ada beberapa prinsip belajar yang berlaku umum yang dipakai
sebagai dasar dalam upaya pembelajaran baik bagi peserta didik
yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam
upaya meningkatkan mengajarnya (Abu dan Supriyono, 2004:42),
prinsip-prinsip itu antara lain:
a) Perhatian dan motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang sangat penting dalam
kegiatan belajar. perhatian terhadap pelajaran akan dimulai pada
peserta didik apabila bahan pelajaran sesuai dengan
kebutuhannya. Apabila bahanpelajaran itu dirasakan sebagai
sesuatu yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari akan
membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.
b) Keaktifan
Belajar hanya mungkin terjadi apabila peserta didik
aktif
22
mengalami sendiri. John Dewey misalnya mengemukakan
bahwa belajar adalahmenyangkut apa yang harus dikerjakan
peserta didik untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang
dari peserta didik itu sendiri, guru sekedar pembimbing dan
pengarah (Murray, 2007:31).
c) Keterlibatan langsung dan pengalaman
Keterlibatan peserta didik di dalam belajar jangan diartikan
keterlibatan fisik semata namun lebih dari itu terutama adalah
keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan
kognitifdalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam
penghayatan dan juga pada saat mengadakan latihan dalam
pembentukanketerampilan.
b. Pengertian Prestasi
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,
diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok (Djamarah,
1994:19). Sedangkan menurut Dahar dalam Djamarah (1994:21) bahwa
prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil
yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Dari pengertian yang dikemukakan tersebut di atas, jelas terlihat
perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya
sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu, dapat
dipahami bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah
dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh
23
dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara
kelompok dalam bidangkegiatan tertentu.
c. Hakikat Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang dipergunakan oleh
masyarakat Indonesia untuk keperluan sehari-hari, misalnya belajar,
bekerja sama, dan berinteraksi. Bahasa Indonesia merupakan bahasa
nasional dan bahasa resmi di Indonesia. Bahasa nasional adalah bahasa
yang menjadi standar di negara Indonesia. Sebagai bahasa nasional,
Bahasa Indonesia tidakmengikat pemakainya untuk sesuai dengan
kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara non resmi, santai dan
bebas. Dalam pergaulan sehari – hari antar warga yang
dipentingkan adalah makna yang disampaikan. Pemakai Bahasa
Indonesia dalam konteks bahasa nasional dapat menggunakan dengan
bebas menggunakan ujarannya baik lisan maupun tulis.
Adapun bahasa resmi adalah bahasa yang digunakan dalam
komunikasi resmi seperti dalam perundang-undangan dan surat
menyurat dinas. Dalam hal ini, Bahasa Indonesia harus digunakan
sesuai dengan kaidah, tertib, cermat dan masuk akal. Bahasa Indonesia
yang dipakai harus lengkap dan baku. Tingkat kebakuannya diukur oleh
aturan kebahasaan dan logika pemakaian. Bahasa Indonesia memiliki
fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan
pemakainya, yaitu:
24
1) Alat ekspresi diri
Pada awalnya, seseorang (anak-anak) berbahasa untuk
mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya dan pikirannya
pada sasaran yang tetap, yakni ibu bapaknya atau masyarakat di
sekitar tempat tinggalnya. Dalam perkembangannya, tidak lagi
menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya tetapi
untuk berkomunikasi dengan lingkungan yang lebih luas di
sekitarnya. Setelah dewasa, kita menggunakanbahasa, baik untuk
mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi.
2) Alat komunikasi
Ketika kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita
sudah maksud dan tujuan yaitu ingin dipahami orang lain. Kita ingin
menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, harapan, perasaan, dan
lain-lain yang dapat diterima orang lain. Bahasa sebagai alat ekspresi
diri dan sebagaialat komunikasi sekligus merupakan alat untuk
menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan
sudut pandang kita, pemahaman kitaatas suatu hal, asal usul bangsa,
budaya, dan negara kita, guru dan latar sosial kita, bahkan
sifat/temperamen/karakter kita. Fungsi bahasa disini sebagai cermin
dari diri kita, baik sebagai bangsa, budaya, maupun sebagaidiri
sendiri/pribadi.
25
3) Alat integrasi dan adaptasi sosial
Bahasa Indonesia mampu mempersatukan beratus-ratus
kelompoketnis di tanah air kita. Sebagai alat integrasi bangsa, ada
beberapa sifat potensial yang dimiliki Bahasa Indonesia: (1) Bahasa
Indonesia telah terbukti dapat mempersatukan bangsa Indonesia
yang multikultural, (2) Bahasa Indonesia bersifat demokratis dan
egaliter, (3) Bahasa Indonesia bersifat terbuka/ transparan, dan (4)
Bahasa Indonesia sudah mengglobal.
4) Alat kontrol sosial
Sebagai alat kontrol sosial, Bahasa Indonesia sangat efektif.
Kontrolsosial dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada
masyarakatpemakainya. Berbagai penerangan, informasi, atau guru
disampaikan melalui bahasa. Buku –buku pelajaran di sekolah
sampai universitas, buku- buku instruksi, perundang-undangan serta
peraturan pemerintah lainnya adalah salah satu contoh penggunaan
Bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Ceramah agama,
dakwah, dan wujud pembinaan rohani, sebagai peredam rasa emosi
dan marah adalah contoh Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat
kontrol sosial.
Fungsi Bahasa Indonesia sebagai guru yaitu membekali peserta
didik dengan pengetahuan sosial yang berguba untuk masa
depannya, keterampilan sosial dan inteletual dalam membina
perhatian serta kepeduliansosialnya sebagai sumber daya manusia
26
(SDM) yang bertanggungjawabdalam merealisasikan tujuan guru
nasional. (Iif Khoiru, 2011:9)
Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang mengkaji
seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan
dengan isu sosial. Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan
masyarakatdan lingkungannya.
2) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa
ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan
dalam kehidupansosial,
3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan
kemanusiaan,
4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan
berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal,
nasional dan global.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah jenjang SMP / MTs
merupakan salah satu pelajaran yang diwajibkan. Hal ini
dikarenakan pembelajaran Bahasa Indonesia mempunyai fungsi
untuk mempersiapkan peserta didik agar menguasai kompetensi
untuk mampu merefleksikan pengalamannya sendiri dan pengalaman
orang lain, mengungkapkan gagasandan perasaan, dan memahami
beragam nuansa makna dalam bahasa yang diajarkan (Depdiknas,
27
2004: 5).
Menurut Feby Inggriyani (2019) pelajaran Bahasa Indonesia
diharapkan membantu peserta didik untuk mengenal dirinya,
budayanya danbudaya orang lain serta diharapkan mampu
meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi
dalam berbahasa dengan baik dan benar. Aspek keterampilan yang
mencakup 4 (empat) aspek yaitu terampil mendengarkan, berbicara,
membaca, dan menulis, biasanya akan dimiliki seseorang apabila ia
rajin berlatih. Berdasarkan asumsi tersebut, konsekuensi
pembelajaran Bahasa Indonesia lebih berorientasi pada praktik
berbahasa dari pada teori pengetahuan bahasa. Hal itu dilakukan agar
tujuan terampil berbahasa Indonesia di kalangan peserta didik dapat
terwujud. Selainhal di atas, ada sesuatu yang sangat unik dan
berbeda dalam pembelajaran Bahasa Indonesia , yaitu “yang
diajarkan” dan “media ajarnya” sama, BahasaIndonesia . Hal ini
berbeda kasusnya dengan pembelajaran pada mata pelajaran-mata
pelajaran lain (kecuali bahasa Inggris?). Kondisi tersebut akan
membawa pada sebuah konsekuensi bagi guru. Konsekuensi tersebut
adalah bahwa guru harus bisa menjadi teladan atau figur pemakai
Bahasa Indonesia yang baik, baik dalam bentuk lisan maupun
tulisan.
Karakteristik mata pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah
Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) sesuai
28
dengan urairan sebagai berikut:
1) Pembelajaran dilakukan secara terintegrasi atau terpadu,
mengingatbahasa merupakan sistem yang harus dipelajari dan
dipraktekan.
2) Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan
komunikatif.
3) Kegiatan pembelajaran mendasarkan diri pada teori pemerolehan
bahasa.
4) Pelaksanaan pembelajaran lebih menekankan pada komponen
praktik berbahasa daripada teori kebahasaan.
5) Pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual.
6) Dalam pembelajaran, baik “yang diajarkan” maupun “media
ajarnya” sama, yaitu Bahasa Indonesia
Tujuan utama pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) adalah untuk
mengembangkan pemahaman dan kemampuan peserta didik dalam
menggunakan Bahasa Indonesia secara efektif dan berbagai konteks.
Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
1) Menguasai keterampilan berbahasa yakni peserta didik dapat
mengembangkan kemampuan mendengarkan, berbicara,
membaca, dan menulis dalam Bahasa Indonesia dengan lancar
dan efektif.
29
2) Memahami dan menggunakan kaidah bahasa yakni peserta didik
dapat memahami dan menggunakan kaidah Bahasa Indonesia,
termasuk tata bahasa, ejaan, dan tanda baca, untuk menghasilkan
tulisan yang benar dan baku.
3) Mengembangkan kosakata dan pemahaman makna kata yakni
peserta didik dapat mengembangkan kosakata mereka dan
memahami makna kata-kata dalam berbagai konteks, serta
menerapkannya dalam komunikasi mereka.
4) Menghargai dan memahami mastra dan mudaya Indonesia yakni
peserta didik dapat menghargai dan memahami karya sastra
Indonesia serta budaya bangsa, serta mampu menganalisis nilai-
nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
5) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif yakni
peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis
dalam menganalisis teks-teks yang mereka baca dan menyusun
argumen yang logis dan terbukti. Mereka juga diharapkan dapat
mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dalam
mengekspresikan ide-ide merekadengan cara yang orisinal.
6) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi yang Efektif yakni
pesertadidik dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi
yang efektif dalam Bahasa Indonesia , baik secara lisan maupun
tulisan, dengan memperhatikan konteks dan audiensnya.
30
Dari beberapa definisi tentang Bahasa Indonesia di atas,
peneliti menyimpulkan diharapkan siswa dapat menjadi individu
yang kompeten dalam menggunakan Bahasa Indonesia , memiliki
pemahaman yang mendalam tentang budaya dan sastra Indonesia ,
serta mampu berpikir secara kritis dan kreatif dan lebih menjiwai
dan menghargai budaya Indonesia.
d. Pengertian Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Setiap bidang studi mempunyai karakteristik yang khas.
Demikian juga dengan pelajaran Bahasa Indonesia . Berdasarkan
struktur keilmuannya Bahasa Indonesia adalah disiplin ilmu yang
mengkaji tentang berbahasa yang baik dan mengamalkan nilai-nilai
budaya.
Prestasi belajar dalam konteks Bahasa Indonesia mengacu pada
pencapaian siswa dalam memahami, menggunakan, dan menguasai
Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran. Ini mencakup berbagai aspek,
seperti pemahaman teks, kemampuan menulis, berbicara,
mendengarkan, pemahaman tata bahasa, dan pemahaman kaidah ejaan
serta tanda baca dalamBahasa Indonesia .
Prestasi belajar Bahasa Indonesia tidak hanya terbatas pada
pengetahuan siswa tentang struktur bahasa, tetapi juga pada
kemampuan mereka untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut
dalam situasi komunikatif yang berbeda. Dengan kata lain, prestasi
31
belajar Bahasa Indonesia mencakup kemampuan siswa untuk
berkomunikasi secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis, serta
kemampuan mereka untuk memahami dan menganalisis teks-teks dalam
Bahasa Indonesia .
Prestasi belajar Bahasa Indonesia juga bisa diukur melalui
berbagaijenis evaluasi, seperti tes tulis, tes lisan, penugasan proyek, dan
penilaian keterampilan presentasi. Selain itu, prestasi belajar Bahasa
Indonesia juga dapat tercermin dalam partisipasi siswa dalam diskusi
kelas, kegiatan membaca, dan karya tulis yang mereka hasilkan.
Prestasi menurut Djamarah (2011 : 20-21) adalah apa yang telah
dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang
diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Prestasi menurut Depdiknas
(2008 : 1012) prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah
dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Prestasi menurut Syah (2009 :
141) prestasi adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan
yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Berdasarkan pendapat
tersebut, maka prestasi adalah sebuah penghargaan yang diciptakan
dari usaha sendiri baik.
dari kerjanya, ataupun perkembangan dan kemajuan yang
dihasilkan dalam bekerja atau dalam guru. Prestasi akan menambah
semangat dan motivasi seseorang untuk melakukan aktivitas baik
bekerja, belajar dengan sungguh- sungguh. Prestasi itu sendiri tidak
akan dicapai dan dihasilkan oleh seseorangyang malas dan melakukan
32
kegiatan dengan tidak sungguh- sungguh.
Belajar menurut Syah (2009 : 63) adalah kegiatan yang berproses
dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan
setiap jenis dan jenjang guru. Belajar menurut Slameto (2013 : 2)
belajarialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungan. Belajar menurut Hamalik (2008 : 106) merupakan
suatu proses, dan bukan hasil yang hendakdicapai semata. Proses itu
sendiri berlangsung melalui serangkaian pengalaman, sehingga terjadi
modifikasi pada tingkah laku yang telah dimilikinya sebelumnya.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka belajar adalah usaha yang
dilakukan untuk merubah tingkah laku yang diperoleh dari pengalaman
hidupnya. Pengalaman merupakan guru yang terbaik untuk belajar
mengenal bagaimana kehidupan yang sebenarnya. Pengalaman
bisadidapatkan dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Keluarga akan mengajarkan dan membimbing anggota keluarga
terutama anak dengan baik. Begitu pula dengan adanya masyarakat
yang baik akan memberikan peluang untuk belajar mengenal dan
memberikan wawasan, pengalaman agar dapat bersosialisasi dan
bagaimana menunjukan sikap yang baik di lingkungan masyarakat. Di
lingkungan sekolah merupakan tempat khusus yang telah disediakan
33
pemerintah untuk membawa masyarakat menjadi lebih baik dan
berprestasi dengan belajar menambah wawasan dan pengalaman yang
didapatnya di sekolah.
Pemberian indikator dalam pembelajaran mengacu pada hasil
belajar yang harus dikuasai peserta didik. Dalam pencapaian hasil
belajar peserta didik, guru dituntut untuk memadukan ranah kognitif,
afektif, dan psikomotor secara proporsional. Horward Kingsly membagi
tiga macam hasilbelajar, yakni: (a). ketrampilan dan kebiasaan, (b).
pengetahuan dan pengertian, (c). sikap dan cita-cita. Masing-masing
jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam
kurikulum.
Sedangkan Gagne membagi lima hasil belajar, yakni (a) informasi
verbal, (b) keterampilan verbal, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e)
ketrampilan motoris. Dalam sistem guru nasional rumusan tujuan
guruan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instraksional,
menggunakan klasikfikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang
secara garis besarmembaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif,
ranah efektif, dan ranah pisikmotoris (Nana Sudjana, 2002:22).
Ranah kognitif berkenan dengan hasil belajar intelektual yang
terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman,
aplikasi, analisis sintensis, dan evaluasi. Ranah efektif berkenan dengan
sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau
reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah psikomotoris
34
berkenan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak.
Ada enam aspek ranah psikmotoris: (a) gerakan refleks, (b)
keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perseptual, (d)
keharmonisan atau ketepataan, (e) gerakan keterampilan, (f) gerakan
ekspresif dan interpretatif.
Berdasarkan konsep di atas maka dapat diperoleh suatu
pengertianbahwa prestasi belajar Bahasa Indonesia adalah kemampuan
yang dimiliki oleh peserta didik setelah belajar, yang wujudnya berupa
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Derajat kemampuan
yang diperoleh peserta didik diwujudkan dalam bentuk nilai hasil
belajar Bahasa Indonesia
2. Hakikat Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru
a. Pengertian Persepsi
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga
makhlukindividual. Terdapat perbedaan antara individu yang satu
dengan yang lainnya, sehingga setiap informasi yang datang akan diberi
makna yang berlainan oleh orang yang berbeda. Adanya perbedaan ini
merupakan suatu alasan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek,
sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut.
Hal ini sangat bergantung bagaimana individu menanggapi obyek
tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian sikap,
tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.
Menurut Suharman (2005:23) mengutip pendapat Matlin dan
35
Solso, mengemukakan bahwa “persepsi merupakan tahap paling awal
dari serangkaian pemprosesan informasi. Persepsi adalah suatu
prosespenggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan
dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan interpretasi
stimulus (rangsangan) yang diterima oleh kepala indera manusia”.
Berdasarkan pemahaman tersebut persepsi merupakan proses
menginterpretasikan atau menafsirkan informasi yang diperoleh melalui
sistem alat indera manusia yang mencakup dua proses yang berlangsung
secara serempak antara keterlibatan dunia luar
(stimulius-informasi/pengalaman) dengan dunia di dalam diri seseorang
(pengetahuan yang relevan dan telah disimpan dalam ingatan).
Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan aktifitas mengindera,
mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada objek-objek fisik
maupunobjek sosial, dan penginderan tersebut tergantung pada stimulus
fisik dan stimulus sosial yang ada dilingkungannya. Sensasi-sensasi
dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah
dipelajari sebelumnya, baik berupa harapan-harapan, nilai-nilai, sikap,
ingatan dan lain- lain.
Rakhmat. J. (1999:51) menyebutkan bahwa “persepsi dipengaruhi
oleh faktor-faktor personal dan situasional”. Sementara Krech dan
Crutchfield yang dikutip Rakhmat (1999:51) menyebutkan “faktor
yang mempengaruhi persepsi adalah faktor fungsional (yaitu faktor-
faktor yang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan lain-lain
36
dalam faktor personal) dan struktural (yaitu faktor stimlus dan kondisi
dalam diri individu/sistem persyarafan)”.
Berdasarkan keterangan diatas persepsi seseorang dalam
menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa dipengaruhi oleh tiga
faktor, yaitu:
1) Orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi
intern (kebutuhan, kelelehan, sikap, minat, motivasi, harapan,
pengalaman masa lalu dan kepribadian),
2) Stimulus yang berupa objek maupun peristiwa tertentu (benda,
orang, proses dan lain-lain).
3) Stimulus dimana pembetukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu,
suasana (sedih, gembira dan lain-lain).
Senada dengan prinsip tersebut maka prinsip dasar dalam persepsi
adalah:
1) Persepsi bersifat relative
2) Persepsi bersifat selektif.
3) Persepsi terorganisasi.
Dari masing-masing karakteristik tersebut memberikan petunjuk
bagi pengambilan keputusan untuk menghindari adanya salah persepsi
antar individu yang bersangkutan dengan objek yang dipersepsikan.
Dalam prosespenelitian ini yang termasuk dalam faktor pengamat
(perseptor) adalah individu/peserta didik atau perserta didik, dan faktor
yang dipersepsi adalah kompetensi pedagogik guru.
37
Berdasarkan pengertian diatas disimpulkan, persepsi adalah suatu
proses yang kompleks dimana individu menerima dan menyadap
informasi dari lingkungan, mengintegrasikan atau mengorganisasikan
dan menginterpretasikan suatu obyek, dengan adanya keterlibatan
aspek-aspek dunia luar (stimulus-informasi/pengalaman) dengan dunia
di dalam diri seseorang (pengetahuan yang relevan dan telah disimpan
dalam ingatan), sehingga mampu memahami obyek yang ada dihadapan
kita.
b. Pengertian Kompetensi Guru
Kompetensi adalah kumpulan pengetahuan, perilaku, dan
keterampilan yang harus dimiliki guru untuk mencapai tujuan
pembelajaran dan guru. Kompetensi diperoleh melalui guruan,
pelatihan, dan belajar mandiri dengan memanfaatkan sumber belajar.
Menurut Mulyasa, kompetensi guru merupakan perpaduan antara
kemampuan personal,keilmuan, teknologi, sosial, dan spiritual yang
secara kafah membentuk kompetensi standar profesi guru, yang
mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik,
pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan
profesionalitas. Kompetensi terkait dengan kemampuan beradaptasi
terhadap lingkungan kerja baru, dimana seseorang dapat menjalankan
tugasnya dengan baik berdasarkan kemampuan yangdimilikinya.
38
Lain tentang kompetensi guru merujuk pada hasil kerja (out put)
individu maupun kelompok. Kompetensi berarti kemampuan
mewujudkan sesuatu sesuai dengan tugas yang diberikan kepada
seseorang. Kompetensi berkaitan erat dengan standar. Seseorang
disebut kompeten dalam bidangnya jika pengetahuan, keterampilan dan
sikapnya, serta hasil kerjanya sesuai dengan standar (ukuran) yang
ditetapkan dan atau diakui oleh lembaga atau pemerintah. Disisi lain
kompetensi merupakan tugas khusus yang berarti hanya dapat
dilakukan oleh orang-orang special atau tertentu. Artinya tidak bisa
sembarang orang dapat melakukan tugas tersebut.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi
merupakan kemampuan seseorang yang meliputi pengetahuan,
keterampilan,dan sikap, yang dapat diwujudkan dalam hasil kerja nyata
yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Ketiga aspek
kemampuan ini saling terkait dan memengaruhi satu sama lain. Kondisi
fisik dan mental serta spiritual seseorang besar pengaruhnya terhadap
produktivitas kerja seseorang, maka tiga spek ini harus dijaga pula
sesuai standar yang disepakati. Sudjana (1989:18) membagi kompetensi
guru dalam tiga bagian, yaitu “bidang kognitif, sikap, dan perilaku
(performance). Ketiga kompetensi ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling
berhubungan dan memengaruhi satu sama lain.
Kemampuan individu dapat berkembang dengan cara pelatihan,
praktik, kerja kelompok, dan belajar mandiri. Pelatihan menyediakan
39
kesempatan seseorang mempelajari keterampilan khusus. Pengalaman
kerja dapat membuat orang semakin kompeten dibidangnya. Littrell
(1984: 310) menjelaskan hakikat kompetensi adalah, “kekuatan mental
dan fisik untuk melakukan tugas atau keterampilan yang dipelajari
melalui latihan paktis.” 1). Macam- macam kompetensi guru
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
(Permendiknas) Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang
Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, yakni dijelaskan
bahwa standarkompetensi dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi
utama, yaitu : (a) komptensi pedagogik, (b) kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, (d) komptensi professional (Munadi, 2010). (a).
Kompetensi Pedagogik
Seorang guru dituntut untuk memberikan pengetahuan,
keterampilan dan sikap umum kepada muridnya untuk menghadapi
hidup dimasa depan. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan
(2006:88), yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah
“kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi (1)
pemahaman wawan atau landasan keguruan; (2) pemahaman tentang
peserta didik; (3) pengembangan kurikulum atau silabus; (4)
perencanaan pembelajaran; (5) pelaksanaan pembelajaran yang
mendidik dan dialogis; (6) evaluasi hasil belajar; dan (7) pengembangan
peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yangdimiliki.
40
Dengan demikian tampak bahwa kemampuan pedagodik bagi
seorang guru bukanlah hal yang sederhana, karena kualitas guru
haruslah diatas rata-rata. Kualitas ini dapat dilihat dari aspek intelektual
meliputi aspek (1) logika sebagai pengembangan kognitif mencakup
kemampuan intelektual mengenai lingkungan yang terdiri dari enam
macam yang disusun secara hierarkis dari yang sederhana sampai yang
kompleks, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis,
dan penilaian; (2) etika sebagai pengembang afektif mencakup
kemampuan emosional dalam mengalami dan menghayati sesuatu hal
meliputi lima macam kemampuan emosional disusun secara hierarkis,
yaitu kesabaran, partisipasi, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai,
dan karakteristik diri; (3) estetika sebagai pengembang spikomotorik
yaitu kemampuan motoric menggiatkan dan mengkoordinasi gerakan.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, guru perlu berfikir secara
antisipatif dan proaktif. Guru secara terus menerus belajar sebagai
upaya melakukan pembaharuan atas ilmu pengetahuan yang
dimilikinya. Caranya sering melakukan penelitian baik melalui kajian
pustaka, maupun melakukan penelitian tindakan kelas.
Kompetensi guru menurut Undang - undang Republik Indonesia
No. 14 Tahun 2005 pasal 10 ayat 1 tentang guru dan dosen terdiri dari:
kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional yang
diperoleh melalui guru profesi. Kompetensi pedagogik (kemampuan
dalam pengelolaan peserta didik) yang meliputi:
41
1) Pemahaman wawasan atau landasan keguruan
2) Pemahaman terhadap peserta didik
3) Pengembangan kurikulum/silabus
4) Perancangan pembelajaran
5) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
6) Hasil belajar
7) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi
yang dimilikinya.
a) Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian, yaitu “kemampuan kepribadian
yang:
(a)berakhlak mulia; (b) mantap, stabil dan dewasa; (c) arif dan
bijaksana; (d) menjadi teladan; (d) mengevaluasi kinerja sendiri;
(e) mengembangkan diri; dan (f) religius.” Dikatakan sia-sia jika
seorang guru mengajarkan kebaikan jika ia sendiri bukan sosok
pribadi yang baik. Pribadi guru yang baik, mengajar dan mendidik
dengan perkataan dan perilakunya dihadapan murid, disengaja
maupun tidak disengaja. Disadari atau tidak, peserta didik selalu
belajar dari figure guru dan orang-orang yang dianggapnya baik.
Dengan demikian, harus ada banyak sosok guru, kepala
sekolah, orang tua, yang benar-benar baik dan saleh, sehingga
mereka selalu belajar nilai-nilai dan perilaku baik dari sebanyak
mungkin figur. Anak-anak membutuhkan contoh yang nyata
42
tentang apa itu yang baik melalui sikap dan perilaku orang dewasa.
Hal ini lebih mudah dan efektif bagi anak-anak dibanding sekedar
ucapan atau tulisan.
Kemajuan dan produktivitas seseorang sangat terkait dengan
tingkat religiositas dan moral seseorang. Sebab kesadaran religius
dan moral akan mendorong seseorang untuk menjadi manusia yang
bermanfaat bagi yang lain, yang ditunjukan dengan aktivitas dan
kreativitasnya dalam bekerjadan beramal. Seorang guru yang
berperilaku tidak baik, padahal di kelas selalu menyampaikan nilai-
nilai kebaikan kepada peserta didiknya, akan menghilangkan
perannya sebagai guru, karena kepercayaan dari pesertadidik, wali
murid, dan masyarakat akan luntur bahkan hilang. Guru
semacamini tidak akan dapat menjadi teladan bagi peserta didik.
Padahal mereka mengharapkan guru berhasil menanamkan nilai-
nilai kepada peserta didik
Sebagai seorang guru harus mempunyai kemampuan yang
berkaitan dengan kemantapan dan integritas kepribadian seorang
guru. Di sini guru dituntut untuk mampu membelajarkan peserta
didiknya tentang disiplin dalam melaksanakan tugas dan
kewajibannya.
b) Kompetensi Sosial
Seorang guru sama seperti manusia lainnya, sebagai makhluk
sosial, yang dalam hidupnya berdampingan dengan manusia
43
lainnya. Guru diharapkan memberi contoh baik terhadap
lingkungannya, dengan menjalankan hak dan kewajibannya sebagai
bagian dari masyarakat sekitar. Guru harus berjiwa sosial tinggi,
mudah bergaul, dan suka menolong.
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai
bagian dari masyarakat untuk: (a) berkomunikasi lisan dan tulisan;
(b) menggunakan tekhnologi komunikasi dan informasi secara
fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama
guru, tenaga keguruan, orang tua/wali peserta didik; dan (d)
bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
Menurut Sukmadinata (2006: 193), “diantara kemampuan
sosial dan professional yang paling mendasar yang harus dikuasai
guru adalah idealism, yaitu cita-cita luhur yang ingin dicapai
dengan guruan.” Cita-cita semacam ini dapat diwujudkan guru
melalui: kesungguhan mengajar dan mendidik peserta didik;
pembelajaran masyarakat melalui interaksi atau komunikasi
langsung dengan mereka dibeberapa tempat seperti masjid, majelis
taklim, musola, pesantren, balai desa dan posyandu; dan guru
menuangkan dan mengekspresikan pemikiran dan idenya melalui
tulisan.
c) Kompetensi Profesional
Sebagai pendidik profesional, guru tentu wajib memiliki
kompetensi, yakni seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan
44
perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru
dalam melaksanakan tugas keprofesionalan (UU RI No. 14
Tahun2006, tentang guru dan Dosen, Pasal 1ayat 10). Tugas guru
ialah mengajar pengetahuan kepada murid. Guru tidak sekedar
mengetahui materi yang akan diajarkan, tetapi memahaminya
secara luas dan mendalam. Oleh karena itu, guru harus selalu
belajar untuk memperdalam pengetahuannya terkait mata pelajaran
yang diampunya. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan
(2006:88) kompetensi pedagodik adalah “kemampuan penguasaan
materi secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep,
struktur dan metode keilmuan/ tekhnologi/ seni yang menaungi/
koherensi dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam
kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran
terkait; (d) penerapan konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-
hari; dan (e) kompetisi secara professional dalam konteks global
dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.
Seorang guru harus menjadi orang spesial, namun lebih baik
lagi jika menjadi spesial bagi semua peserta didiknya. Guru harus
merupakan kumpulan orang-orang yang pintar dibidang masing-
masing dan juga dewasa dalam bersikap. Namun yang lebih
penting lagi adalah bagaimana caranya guru tersebut dapat
menularkan kepintaran dan kedewasaannya tersebut pada peserta
didiknya. Sebab guru adalah jembatan bagi lahirnya anak-anak
45
cerdas dan dewasa di masa mendatang.
Guru harus selalu meningkatkan pengetahuan dan
keterampilannya, karena ilmu pengetahuan dan keterampilan itu
berkembang seiring perjalanan waktu. Maka, pengetahuan dan
keterampilan yang diajari guru saat dibangku kuliah bisa jadi sudah
tidak relevan lagi dengan kondisi saat ia mulai mengajar. Sebagai
contoh penemuan multiple- intelligence, kecerdasan emosi dan
kecerdasan sosial, serta kecerdasan spiritual. Dari penemuan
tersebut kesuksesan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh
kecerdasan intelektual, tetapi juga dipengaruhi oleh kecerdasan
emosional dan spiritual. Bahkan pengaruh keduanya lebih besar
dibanding kecerdasan intelektual.
Praktik guru di sekolah harus mencakup berbagai hal yang
melatih peserta didik menjadi problem solver; peserta didik kelak
dapat bertahan hidup dalam segala macam kondisi; memahami
kelebihan dan kekurangan; guru semacam ini akan mampu
bertahan terhadap segala tantangan zaman, dan melahirkan
generasi yang bermutu. Gardner (200:18) menyatakan, “kita
membutuhkan guru yang benar-benar berakar pada dua halyang
kelihatannya kontras namun sesungguhnya saling melengkapi; apa
yang diketahui tentang kondisi kemanusiaan, dalam aspek- aspek
yang bersifat abadi; dan apa yang diketahui tentang tekanan,
tantangan dan peluang pada kondisi saat ini (dan masa depan).
46
Tanpa dua hal ini, kita akan mengalami guru yang mati, parsial,
naïf, dan tidak memuaskan.”
Jadi persepsi tentang kompetensi guru diartikan sebagai
penerimaan, pengorganisasian dan penginterpretasian peserta didik
terhadap kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan perilaku
gurunya, baik pada saatmengajar di dalam kelas maupun di luar
kelas. Melalui persepsi tersebut,jiks peserta didik merasa gurunya
tidak mempunyai komptensi yang bias diandalkan, maka
berdampak pada tumbuhnya keraguan pada diri peserta didik. Hal
tersebut akan mempengaruhi bagaimana sikap peserta didik
terhadap gurunya, yang nantinya juga akan berpengaruh pada
kelancaran jalannya proses belajar mengajar.
d) Kompetensi Pedagogik Guru
Profesi guru memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan
dengan profesi-profesi lainnya. Walaupun tugas guru sebagai
profesi adalah mendidik, mengajar, dan melatih anak didik, tetapi
secara perilaku yang mencerminkan keprofesionalan, seorang guru
memiliki tugas yang lebih luas, tidak hanya tugas profesi tetapi
juga tugas kemanusiaan dan tugas kemasyarakatan. Oleh sebab itu,
tugas dan kedudukan guru dilihat dari aspek profesionalisme lebih
luas dan lebih terhormat dibandingkan dengan tugas dan
kedudukan guru dilihat dari aspek profesi. Hal tersebut, sesuai
dengan motto yang dicetuskan oleh tokoh guru kita “Ki Hajar
47
Dewantara” yaitu Ingngarso sung tulodo, ing madyo mangun
karso, tut wuri handayani, yang berarti didepan memberi suri
tauladan, ditengah-tengah membangun, dibelakang member
dorongan dan motivasi.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang
StandarNasional Pendidikan pasal 28, dinyatakan bahwa guru
adalah agenpembelajaran yang harus memiliki empat jenis
kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, professional
dan sosial. Dalam konteks itu, maka kompetensi guru dapat
diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, ketrampilan,dan sikap
yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan
penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru untuk
memangku jabatan guru sebagai profesi.
Mengajar merupakan tugas menantang dan kompleks karena
yang dihadapi adalah manusia yang masing-masing memiliki
karakteristik berbedatetapi tetap harus dijamin mencapai
keberhasilan. Oleh karena itu, seorang guru memiliki peran
supermulti, yaitu sebagai guru, pengajar, pelindung, dan lain-lain
yang secara rinci dikatakan bahwa profesi guru harusmemiliki
kemampuan sebagai berikut:
1) Menguasai bahan ajar
Kelas merupakan suatu organisasi yang semestinya
dikelola dengan baik, mengacu pada fungsi-fungsi administrasi
48
yang ada, maka berlakuperencanaan, pengorganisasian,
pembagian tugas, penentuan staf, pengarahan,
pengkoordinasian, pengkomunikasian dan penilaian. Apa yang
dilakukan guru mengacu pada tujuan organisasi, yaitu tujuan
sekolah yang merupakan penjabaran dari tujuan guru nasional.
Berdasarkan tujuan tersebut, guru merancang kegiatannya
dengan baik dan rinci, mulai merumuskan tujuan khusus
pembelajaran, memilih metode dan sarana pencapaian, memilih
alat untuk mengevaluasi pekerjaannya.
2) Memahami secara mendalam peserta didik yang dilayani
Guru diharapkan bukan sebagai penyampai materi
belaka, tetapi sebagai sosok yang mengenali secara detail peserta
didik didiknya baikyang normal maupun sisi kelainannya,
menguasai teori-teori perkembangan anak, struktur dan
dinamikanya.
3) Menguasai teori dan ketrampilan keguruan
Siswa adalah manusia yang memiliki potensi untuk
berkembang dan terus berubah, oleh karena itu guru diharuskan
menguasai teori-teori yang berkaitan dengan bidang keguruan
seperti pemahaman yang berkaitan dengan falsafah dan ilmu
guru, penguasaan prinsip dan prosedur keguruan yang berkaitan
dengan materi yang dibina.
49
4) Memiliki kemampuan memperagakan unjuk kerja
Guru sebagai agen pembelajaran dituntut mampu
mengelola kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien
baik secara individu maupunkelompok sehingga tujuan guru
dapat dicapai dengan optimal.
5) Memiliki sikap, nilai dan kecenderungan kepribadian yang
menunjangpelaksanaan tugas-tugas sebagai guru.
6) Memiliki kemampuan melaksanakan tugas-tugas profesional
dan tugas-tugas administratif rutin dalam rangka pengoperasian
sekolah di samping kemampuan untuk mengambil bagian dalam
kehidupan di lingkungan sekolah.
Kini, sebagai dampak sinergi dari perkembangan
teknologi komunikasi dan informasi serta perubahan yang lebih
demokratis dan terbuka menghasilkan suatu tekanan dan
tuntutan terhadap kompetensi guru dalam mendayagunakan
teknologi komunikasi tersebut dan pertanggung jawabannya.
Oleh karena itu, guru dituntut siap berkompetisi dalam
membelajarkan peserta didik mulai menganalisis,
merencanakan, mengembangkan, dan menilai pembelajaran
yang berbasis pada penerapan teknologi guru. Di samping
kemampuan tersebut di atas, juga diperlukan kemampuan guru
dalam hal: merencanakan pembelajaran, mengelola kegiatan
individu, menggunakan multimetode dan memanfaatkan media,
50
berkomunikasi interaktif dengan peserta didik, memotivasi dan
memberikan respon, melibatkan peserta didik dalam aktivitas
belajar, mengadakan penyesuaian dengan kondisi peserta didik,
melaksanakan dan mengelola pembelajaran menguasai materi
pelajaran, memperbaiki dan mengevaluasi pembelajaran,
memberikan bimbingan dan mampu melaksanakan penelitian
(Purwanto, 2001:1).
Terkait dengan hal diatas, menurut Arifiin, guru di
Indonesia harusmemiliki syarat berikut :
1) Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap
masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengetahuan.
2) Penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis
guru yaitu ilmu guru sebagai ilmu praksis bukan hanya
merupakan konsep- konsep belaka. Pendidikan merupakan
proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah.
3) Pengembangan kemampuan professional berkesinambungan,
profesi guru merupakan profesi yang terus berkembang dan
berkesinambungan. (Hasan, 2003:5).
Dengan memfokuskan pandangan bahwa guru
merupakan pelaksana proses belajar mengajar, guru dituntut
mengorganisasikan dan mengatur lingkungan kelas sedemikian
rupa sehingga terjadi proses belajar. Guru yang
mengorganisasikan dan mengatur lingkungan sehingga terjadi
51
proses belajar pada peserta didik, menurut Darmodihardjo
memiliki peran sebagai motivator, fasilitator, pembimbing,
evaluator, pengembang materi pelajaran, pengelola proses
belajar mengajar dan agen pembaharuan. Menurut
Darmodihardjo juga, terdapat tiga tugas pokok guru dalam
guruan.
Guru sebagai kunci keberhasilan guru memiliki tugas,
peranan dan tanggung jawab yang besar. Keberhasilan dalam
menjalankan peranan, tugas, dan tanggung jawab tidak saja
ditentukan oleh kecakapannya dalam mengajar, tetapi yang lebih
penting adalah kepribadian guru. Kepribadian guru lebih penting
dari pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya, karena
kepribadian guru merupakan dasar bagi perilakunya.
Kecenderungan guru dalam menggunakan model mengajar,
kepemimpinan dan sikapnya terhadap peserta didik akan
diwarnai oleh kepribadiannya. Hal ini seperti diungkapkan oleh
Bernard mengungkapkan bahwa iklim kelas dipengaruhi oleh
berbagai faktor diantaranya kurikulum, metode, bangunan,
bahan pengajaran, masyarakat dan peserta didik. Tetapi yang
terpenting adalah guru,yang dalam hal ini adalah
kepribadiannya.
Kepribadian merupakan faktor yang paling penting dari
guru dalam menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif
52
bagi perkembangan diri peserta didik. Kepribadian guru yang
tidak matang, tidak stabil akan menimbulkan suasana yang
tegang, kaku dan mengancam. Suasana yang demikian akan
menimbulkan reaksi yang negatif dari peserta didikdi antaranya
menentang guru.
Menurut Loree ada tiga komponen yang terlibat dalam
proses belajar mengajar, yaitu komponen stimulus, organisme
dan respon. Komponen stimulus adalah faktor-faktor yang
merangsang terjadinya perilaku belajar.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa
kompetensi pedagogik guru adalah ketrampilan guru dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan
indikator sebagai berikut: 1) Kemampuan guru dalam membuat
persiapan dan desain pembelajaran, 2) Kemampuan guru dalam
menyampaikan pelajaran, 3) Kemampuan guru membuat variasi
pengajaran, 4) Kemampuan guru menguasai media dan
teknologi pembelajaran, 5) Interaksi guru dengan peserta didik.
c. Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru
Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan yang harus dimiliki
guru yang berkenaan dengan karakteristik peserta didik dilihat dari
berbagai aspekseperti moral, emosional dan intelektual. Hal tersebut
berimplikasi bahwaseorang guru harus mampu menguasai teori belajar
dan prinsip- prinsipbelajar, karena peserta didik memiliki karakter, sifat
53
dan interes yang berbeda.
Berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum, seorang guru
harusmampu mengembangkan kurikulum tingkat satuan guru masing-
masing dan disesuaikan dengan guru lokal. Guru harus mampu
mengoptimalkan potensi peserta didik untuk melakukan kegiatan
penilaian terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan aspek-
aspek yang diamati yaitu:
1) Penguasaan karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,
sosial,kultural, emosional dan intelektual.
2) Penguasaan terhadap teori belajar dan prinsip-prinsip
pembelajaranyang mendidik.
3) Mampu mengembangkan kurikulum yang berkaitan dengan
bidangpengembangan yang diampu.
4) Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.
5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang
mendidik.
6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
7) Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta
didik.
8) Melakukan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar,
54
memanfaatkan penilaian dan evaluasi untuk kepentingan
pembelajaran.
9) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas
pembelajaran.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi
peserta didik atas kompetensi pedagogik guru adalah pendapat peserta
didik mengenai ketrampilan guru dalam melaksanakan kegiatan
belajarmengajar di sekolah.
3. Hakikat Minat Belajar
a. Pengertian Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu
hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya
adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan
sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat dengan hubungan tersebut,
semakin besar minat. Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu
pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal
dari pada hal lainnya. Mengembangkan minat terhadap sesuatu pada
dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara
materi yang diharapkan untuk dipelajarinya dengan dirinya sendiri
sebagai individu. Menurut Sukardi (2024: 2) minat adalah ketertarikan,
kegemaran, atau kesenangan seseorang terhadap suatu hal. Menurut
Trygu (2021:5) menyatakan bahwa “minat merupakan suatu hal yang
harus dimiliki oleh seseorang sebelum mereka melakukan segala
55
sesuatu. Entah itu para guru, siswa, maupun yang lainnya. Dengan
minat, seseorang yang melakukan sesuatu akan lebih fokus karena
memberikan perhatian, serta merasa lebihbersemangat dalam
melakukan hal tersebut”.
Menurut Suparman 2021: 18 mendefinisikan minat belajar
sebagai kombinasi dari bagaimana seorang menyerap, kemampuan
mengatur dan mengolah informasi dalam belajar. Sutrisno (2020:10)
menyatakan bahwa “minat adalah sebagai sebab, yaitu kekuatan
pendorong yang memaksa seseorang menaruh perhatian pada orang
situasi atau aktifitas tertentu danbukan pada yang lain, atau minat
sebagai akibat”. Menurut Slameto (1995:180) mengartikan minat
sebagai rasa kesukaan dan rasa ketertarikanterhadap sesuatu atau
kegiatan tertentu, tanpa ada permintaan dari siapa pun. Menurut Rahmat
(2018:161) menyatakan bahwa “minat adalah suatukeadaan ketika
seseorang menaruh perhatian pada sesuatu, yang disertai dengan
keinginan untuk mengetahui, memiliki, mempelajari, dan
membuktikan”. Dan menurut Supatminingsih, dkk (2020:89)
menyatakanbahwa :minat mempengaruhi proses dan hasil belajar anak
didik”.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa minat merupakan dorongan dari dalam diri seseorang atau faktor
yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian terhadap suatu kegiatan
tanpa ada yang menyuruh.
56
b. Jenis-jenis Minat
Menurut Rochajati (2020:17) menyatakan bahwa ada beberapa
jenis minat sebagai berikut :
1) Minat yang diekspresikan (expressed interest) yaitu seseorang dapat
mengungkapkan minat atau pilihan dengan kata-kata tertentu.
2) Minat diwujudkan (manifest interest) yaitu seseorang yang
mengungkapkan minat bahkan kata-kata melainkan dengan tindakan
atauperbuatan, yaitu ikut serta dan berperan aktif dalam suatu
bagian, misalnya kegiatan olahraga, pramuka, dan sebagainya yang
menarik perhatian
3) Minat yang diinventarisikan (inventorized interst). Yaitu seseorang
yang menilai minatnya agar dapat diukur dengan menjawab terhadap
sejumlahpertanyaan tertentu atau urutan pilihannya untuk aktivitas
tertentu.
Dari beberapa jenis-jenis minat di atas dapat disimpulkan bahwa
jenis jenis minat ada 3 yaitu diekspresikan, diwujudkan, diinventasikan.
c. Ciri-ciri Minat Belajar
Dalam minat belajar memiliki beberapa ciri-ciri. Menurut
Darmadi (2019:150-) menyebutkan ada enam ciri minat belajar sebagai
berikut :
1. Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental.
57
2. Minat memerlukan kesiapan
3. Minat bergantung pada kesempatan belajar
4. Perkembangan minat mengandung keterbatasan
5. Minat dipengaruhi oleh budaya
6. Minat berbobot emosional
Menurut Slameto (2015:57) siswa yang berminat dalam belajar
adalah sebagai berikut :
1. Memiliki kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus-menerus.
2. Ada rasa suka dan senang terhadap sesuatu yang diminatinya.
3. Memperoleh sesuatu kebanggan dan kepuasan pada suatu
yangdiminati.
4. Lebih menyukai hal yang lebih menjadi minatnya dari pada
halyang lainnya.
5. Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri minat
adalahkecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang
sesuatu yangdipelajari secara terus menerus, minat tumbuh bersamaan
dengan fisik dan mental. Memperoleh kebanggan dan kepuasan
terhadap hal yang diminati, berpartisipasi pada pembelajaran, dan minat
belajar di pengaruhi oleh [Link] siswa ada minat dalam belajar
maka siswa akan senantiasa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran dan
mempengaruhi nilai hasil belajar yangbaik.
58
d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Minat Belajar
Menurut Kumari (2021:11) menyatakan bahwa “minat belajar
seseorang tidaklah selalu stabil, melainkan selalu berubah. Oleh karena
itu perlu diarahkan dan dikembangkan kepada sesuatu pilihan yang
telah ditentukan melalui faktor yang mempengaruhi minat itu. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa sebagai
berikut:
1) Faktor internal meliputi dua hal, yaitu faktor jasmani maupun rohani,
fisik maupun psikis. Faktor jasmani merupakan kesehatan dan
kesiapan fisik seseorang untuk belajar. Sesorang yang belajar yang
sedang sakit tentu hasilnya akan berbeda saat ia belajar dalam
keadaan sehat. Faktor psikis meliputi intelegensi, konsentrasi,
kepribadian, dan gaya belajar.
2) Faktor ekternal adalah meliputi beberapa hal yaitu lingkungan
keluarga,lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan waktu
lingkungan keluarga yang memiliki sifat positif terhadap sekolah,
dukungan orang tua, pola pengasuhan orang tua juga mempengaruhi
keberhasilan anak dalam belajar. Lingkungan sekolah sebagai
lembaga pendidikan pormal memegang peranan penting dalam hasil
belajar siswa. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan dalam melihat
faktor sekolah antara lain lokasi sekolah, kualitas lulusan, fasilitas
yang disediakan disekolah , guru sertatata tertib sekolah.
Lingkungan masyarakat seperti tetangga, teman sebaya, media,
59
budaya, dan sebagainya secara tidak langsung mempengaruhi norma,
kebiasaan, adat, pandangan perilaku anak yang akhirnya juga
mempengaruhi kebiasaan belajar yang ia miliki.
Berdasarkan pendapat ahli di atas bahwasannya terdapat dua
faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar yaitu (1) faktor internal
meliputi faktor jasmani dan fisik (2) faktor ekternal meliputi beberapa
hal yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan
masyarakat, dan waktu lingkungan keluarga yang memiliki sifat positif
terhadap sekolah, dukungan orang tua, pola pengasuhan orang tua juga
mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar.
B. Kerangka Berpikir
1. Pengaruh Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru dan Minat
Belajar secara bersama-sama Terhadap Prestasi Belajar Bahasa
Indonesia .
Agar pembelajaran Bahasa Indonesia berhasil guna, diperlukan
upaya guru dalam mengajar ilmu tersebut. Mengingat kesan Bahasa
Indonesia yang sering dimarginalkan dengan pelajaran menghafal dan
mempelajari konsep-konsep, maka diperlukan pengajara yang menarik dan
menyenangkan. Dengan pengajaran yang menyenangkan diharapkan
peserta didik dapat termotivasi untuk menguasai ilmu pengetahuan Bahasa
Indonesia. Untuk menciptakan proses pembelajaran yang menarik,
menyenangkan dan berhasil guna diperlukan kompetensi pedagogik guru
yang memadai. Disamping kompetensi pedagogik guru, proses
60
pembelajaran perlu didukung oleh minat belajar yang kondusif. Secara
umum dalam mengajarkan suatu subjek, seorang guru harus menerapkan
strategi yang tepat sesuai dengan materi yang disajikan. Strategi tersebut
meliputi metode dan teknik pengajaran, perlakukan yang objektif, serta
mampu menciptakan pembelajaran yang kondusif. Dengan pengajaran
yang baik dan professional akan menciptakan persepsi positif pada diri
peserta didik.
Disisi lain minat belajar seperti mendengarkan guru, mengamati
guru dengan baik, dan suasana pembelajaran yang menyenangkan akan
membuat peserta didik betah dan belajar pada semua mata pelajaran
termasukBahasa Indonesia . Dari uraian tersebut patut diduga bahwa
persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan minat belajar berpengaruh
terhadap prestasibelajar Bahasa Indonesia.
2. Pengaruh Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru Terhadap
PrestasiBahasa Indonesia
Untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi termasuk prestasi
belajar Bahasa Indonesia perlu usaha yang cukup baik dan dukungan dari
pihak peserta didik maupun guru. Dari pihak peserta didik, semestinya
para peserta didik memiliki persepsi yang positif terhadap pelajaran
Bahasa Indonesia tersebut. Dengan pengajaran yang menyenangkan, maka
respon peserta didik pada Bahasa Indonesia dan pada gurunya akan lebih
baik dan pada akhirnya menciptakan persepsi positif.
Nilai dan opini sangat berhubungan erat dengan sikap, bahkan
61
konsep keduanya sering digunakan dalam definisi-definisi mengenai sikap.
Persepsi sering berisi kepercayaan seseorang mengenai suatu obyek.
Seringkali dalam isu tertentu, apa yang dipercayai seseorang sering kali
menjadi streotipe atau sesuatu yang terpolakan dalam pikirannya.
Kepercayaan datang dari apa yang telah dilihat atau diketahui.
Berdasarkan apa yang telah dilihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau
gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu obyek. Sekali
kepercayaan itu terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan
seseorang mengenai apayang dapat diharapkan dan apa yang tidak dapat
diharapkan dari obyek tertentu.
Dengan demikian interaksi serta prediksi kita akan pengalaman
dimasa datang akan lebih mempunyai arti dan keteraturan. Begitu pula
dengan interkasi, nilai, dan persepsi peserta didik atas kompetensi guru
akanmembentuk suatu ide, gagasan atau pola tertentu yang berpengaruh
perilaku belajarnya. Berdasarkan pemikiran tersebut, diduga terdapat
pengaruh erat persepsi peserta didik atas kompetensi pedagogik guru
terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia .
3. Pengaruh Minat Belajar Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Disamping persepsi atas kompetensi pedagogik berpengaruh
terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia seperti yang telah dijelaskan di
atas, pembelajaran Bahasa Indonesia juga perlu didukung dengan minat
yangbesar. Pelajaran Bahasa Indonesia yang sering dianggap pelajaran
yang membosankan, jika didukung dengan minat dan semangat yang
62
tinggi untuk belajar yang menyenangkan seperti sarana prasarana, cara
mengajar, pemilihan materi yang cocok, dan sistem sekolah akan
mendorong peserta didik untuk belajar lebih semangat.
Pentingnya minat belajar peserta didik sangat mempengaruhi
padaprestasi peserta didik, karena minat belajar yang tinggi peserta didik
dapat melakukan tugas dan kewajibannya dengan rasa penuh tanggung
jawab dan senang hati, sehingga mereka dapat meraih prestasi yang
diinginkannya. Minat belajar adalah suatu hal yang dapat merubah dan
memperbaiki perilakuseseorang, untuk itu minat belajar diciptakan setinggi
mungkin sehingga prestasi yang lebih baik dan tinggi dapat diproleh.
Pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia
juga tercermin dalam keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran,
seperti partisipasi aktif dalam diskusi kelas, kemauan untuk melakukan
latihantambahan, dan minat terhadap bahan bacaan atau karya sastra dalam
Bahasa Indonesia . Minat yang tinggi juga dapat meningkatkan tingkat
pemahaman siswa terhadap materi, karena mereka lebih cenderung untuk
secara aktif terlibat dalam proses belajar. Namun, sebaliknya, ketika minat
belajar terhadap Bahasa Indonesia rendah, siswa mungkin merasa enggan
atau kurang termotivasi untuk terlibat dalam pembelajaran. Hal ini dapat
mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap materi, penurunan
partisipasi dalam kelas, dan kesulitan dalam memahami konsep atau
kaidah bahasa yangdiajarkan.
Dalam konteks pendidikan, memahami pengaruh minat belajar
63
terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia menjadi penting bagi para
pendidik untuk merancang strategi pembelajaran yang efektif dan
memotivasi. Dengan mengakomodasi minat belajar siswa, pendidik dapat
menciptakan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan, menantang,
dan memuaskan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar
BahasaIndonesia serta motivasi intrinsik siswa terhadap pembelajaran
bahasa.
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis penelitian
disusun sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh yang signifikan persepsi atas kompetensi pedagogik
guru dan minat belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar
Bahasa Indonesia .
2. Terdapat pengaruh yang signifikan persepsi atas kompetensi pedagogik
guru terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia .
3. Terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar terhadap prestasi
belajarBahasa Indonesia .
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri dan Swasta di
wilayah Karawang, yang terdiri dari (1) SMPN 1 Cikampek, (2) SMPN 2
Cikampek, (3) SMPN 3 Cikampek, (4) SMP PGRI Cikampek. Sedangkan
objek penelitiannya adalah parapeserta didik kelas VIII semester ganjil
tahun pelajaran 2024/2025. Jumlahpeserta didik kelas VIII pada keempat
sekolah tersebut sebanyak 588 orang.
Tabel 3.1
Daftar nama sekolah dan jumlah peserta didik kelas VIII
No. Nama Sekolah Alamat Sekolah Jumlah
Siswa
Jalan Raya Cikampek, Cikampek
SMPN 1 Cikampek,
1 selatan 144
NPSN : 20217934
Jl. Babakan Bogor, dauan barat
SMPN 2 Cikampek,
2 112
NPSN : 20217864
SMPN 3 Cikampek, Kp. Kamuning, kalihurip
3 209
NPSN : 69966497
SMPN 2 Jl. Jendral A. Yani Kp. Poponcol
4 TIRTAMULYA 123
NPSN : 20237323
Jumlah 588
Sumber : Dokumen Pribadi
65
2. Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian hingga pembuatan laporan diperkirakan
akanberlangsung selama 6 (enam) bulan terhitung mulai bulan Maret 2024
sampai bulan Agustus 2024. Rencana penelitian dilaksanakan dalam
empattahapan: 1) Penentuan masalah/judul dan penyusunan proposal,
2)Pengambilan data, 3) Pengolahan, analisis data sampai pada penyusunan
kesimpulan, dan 4) pembuatan laporan penelitian, yang alokasi waktunya
diatur dalam jadwal terlampir sebagai pedoman peneliti dalam
melaksanakan penelitian. Jadwal rencana penelitian dapat dilihat dalam
tabel 3.2 berikut:
Tabel 3.2
Jadwal Kegiatan Penelitian
No Kegiatan Juli-24 Agust- Septe- Okto-24 Nope- Desem-
24 24 24 24
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengajuan Judul
1
Penyusunan bab
2
1-3
Penyusunan
3
instrumen
Penyebaran dan
4 validasi instrumen
Pengumpulan data
5
Pengolahan data
6 dan analisis data
Penyusunanbab 4
7
dan 5
Asumsisidang
8
9 Revisi tesis
Sumber : Dokumen Pribadi
B. Metode Penelitian
66
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei
deskriptif dengan teknik regresi linear berganda yaitu dengan cara
memberikan instrumen penelitian berupa kuesioner kepada obyek penelitian
dengan cara daring. Menurut Sugiyono (2008:6) metode penelitian
pendidikan dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang
valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu
pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk
memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang
pendidikan.
Menurut Sudjana (1996:367): “dalam analisa korelasional, hal utama
yang dianalisa adalah koefisien korealsi, yaitu bilangan yang menunjukkan
derajat hubungan antara dua variabel yang mempunyai hubungan sebab
akibat dan saling mengadakan perubahan”. Variabel penelitian ini yaitu
variabel terikat (dependent variable) adalah prestasi belajar Bahasa Indonesia
(Y) dan variabel bebas (independent variable) adalah persepsi atas
kompetensipedagogik guru (X1), dan minat belajar (X2). Menurut kerangka
berpikir dan hipotesis penelitian diduga antara variabel bebas dan terikat
tersebut adahubungan sebab akibat dan saling mengadakan perubahan. Untuk
itu maka teknik analisis pembuktian hipotesis tersebut digunakan teknik
korelasional. Adapun model konstelasi hubungan antar variabel dalam
penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1 di bawah ini :
67
X1
X2
Gambar 3.1 Hubungan antar variabel
X1 : Persepsi atas kompetensi pedagogik guru
X2 : Minat belajar
Y : Prestasi belajar Bahasa Indonesia Sumber : Dokumen Pribadi
C. Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Supardi, dkk. (2011:25) mengemukakan bahwa dalam penelitian
kuantitatif populasi adalah subyek yang berada pada suatu wilayah dan
memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah atau objek
penelitian.
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta
didik kelas VIII SMP Negeri dan Swasta di Karawang, tahun pelajaran
2024/[Link] kemudian diperkecil menjadi populasi yang terdapat dari
dari (1) SMPN 1 Cikampek, (2) SMPN 2 Cikampek (3) SMPN 3
Cikampek, (4) SMP PGRI Cikampek dengan jumlah peserta didik adalah
588 peserta didik.
68
2.
Sampel
Sampel (bahasa inggris sample) merupakan bagian dari populasi
yang ingin diteliti, dipandang sebagai suatu pendugaan terhadap populasi,
namun bukan populasi itu sendiri. Sampel adalah sebagian dari jumlah
dankarakter yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono, 2010:118).
Sampeldalam penelitian kuantitatif merupakan subyek penelitian yang
dianggap mewakili populasi, dan biasanya disebut responden penelitian.
Sampeldianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili
keseluruhan gejala yang diamati. Ukuran dan keragaman sampel menjadi
penentu baik tidaknya sampel yang diambil
Menurut Arikunto, (2006:134), pengertian sampel adalah wakil dari
populasi yang akan diteliti yang dimaksudkan untuk menggeneralisasikan
hasil penelitian. Dikatakannya juga sebagai acuan dapat diambil 10 %
sampai 15% atau 20% sampai dengan 25% dari jumlah populasi data yang
ada. Jika subyek yang akan diteliti terlalu besar, maka harus
dipertimbangkan masalah efisiensi dan efektivitas pelaksanaan penelitian
itu (Arikunto, 2006:107).
Teknik pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
gabungan antara cluster dan random. Teknik cluster digunakan dalam
mengelompokan calon responden menurut kelas/grade, sedangkan teknik
random digunakan dalam memilih anggota sampel dari setiap cluster yang
ada.
69
Dengan memperhatikan uraian teori tentang penentuan jumlah
sampeldi atas, peneliti tertarik untuk menerapkan teorinya Arikunto yaitu
dalam menentukan jumlah sampel peneliti menetapkan ukuran sebesar
10% dari seluruh populasi dengan demikian diperoleh sebanyak 60 sampel
yang secara proposal terdiri dari 4 SMP Negeri dan 1 SMP Swasta yang
telah ditetapkan sebagai populasi. Populasi penelitian ini adalah seluruh
peserta didik kelas VIII tahun pelajaran 2024/2025 yang berjumlah 588
peserta [Link] penetapan anggota sampel seperti tampak pada
Tabel 3.3berikut:
Tabel 3.3
Jumlah sampel penelitian
Jumlah Siswa Perhitungan
No. Nama Sekolah
Kelas VIII Proporsi (10%)
SMPN 1 CIKAMPEK
1 144 14
NPSN : 20217934
SMPN 2 CIKAMPEK
2 112 11
NPSN : 20217864
SMPN 3 CIKAMPEK
3 209 23
NPSN: 69966497
SMPN 2
4
TIRTAMULYA 123 12
NPSN: 20237323
Jumlah 588 60
Sumber : Dokumen Pribadi
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Sesuai dengan variabel penelitian, ada 3 jenis data
2. Persepsi atas kompetensi pedagogik guru
3. Minat belajar
4. Prestasi belajar Bahasa Indonesia
70
Data persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan minat belajar
peserta didik diperoleh melalui angket/quesioner yang disusun oleh
peneliti. Pengisian kuesioner dilakukan dengan cara daring sedangkan data
prestasi belajar Bahasa Indonesia diperoleh dari hasil tes tengah semester
dan nilai tes akhir semester dan data nilai diperoleh dari masing-masing
sekolah tempat penelitian.
E. Instrumen Penelitian
1. Variabel Prestasi Belajar Bahasa Indonesia (Y)
a. Definisi Konseptual
Secara konseptual prestasi belajar adalah hasil belajar yaitu
perubahan yang terjadi pada peserta didik sebagai hasil dari proses
belajar yang dinyatakan dengan angka atau lambang.
b. Definisi Operasional
Secara operasional yang dimaksud dengan prestasi belajar dalam
penelitian ini adalah yang berisi pertanyaan sebanyak 10 item yang
mengungkapkan penilaian peserta didik pada nilai hasil belajar selama
1 (satu) semester untuk 60 peserta didik yang dijadikan sampel
penelitian.
2.
Variabel Persepsi atas kompetensi pedagogik guru.
a. Definisi Konseptual
Persepsi pada kompetensi pedagogik guru dalam penelitian ini
didefinisikan sebagai penilaian peserta didik atas kemampuan seorang
71
guru dalam mengelola proses pembelajaran peserta didik yang
terintegrasi dan terorganisir, selain itu juga kemampuan pedagogik
ditunjukkan dalam membantu, membimbing dan memimpin peserta
didik, serta untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya,
sertamemahami peserta didik secara mendalam.
b. Definisi Operasional
Persepsi atas kompetensi pedagogik guru adalah skor total yang
diperoleh peserta didik yang berisi pertanyaan sebanyak 30 item yang
mengungkapkan penilaian peserta didik pada kompetensi
pedagogikguru mengajar di ruang kelas. Instrumen disusun dengan
menggunakan skala Likert sebagai acuan penelitian, yaitu 5 SL (Selalu),
4 SR (Sering), 3 KD (Kadang-kadang), 2 P (Pernah) dan 1 TP (Tidak
Pernah). Pemberian skor untuk pernyataan positif : (SL) diberi skor 5,
(SR) diberiskor 4, (KD) diberi skor 3, (P) diberi skor 2, dan (TP) diberi
skor 1, UntukPernyataan negatif adalah sebaliknya (SL) diberi skor 1,
(SR) diberi skor2, (KD) diberi skor 3, (P) diberi skor 4, dan (TP) diberi
skor 5.
c. Kisi-kisi Instrumen Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru
Instrumen penelitian persepsi atas kompetensi pedagogik guru
disusun berdasarkan beberapa indikator di atas. Berdasarkan indikator
tersebut disusun pertanyaan yang berhubungan dengan variabel persepsi
atas kompetensi pedagogik guru. Untuk instrumennya dalam penelitian
ini direncanakan disusun 30 butir pertanyaan selanjutnya diuji validitas
72
butir dan realibilitas instrumen sehingga digunakan sebagai instrumen
penelitian.
3. Variabel Minat belajar
a. Definisi Konseptual
Secara konseptual, minat belajar juga bisa dilihat sebagai hasil
dari interaksi antara faktor internal dan eksternal. Faktor internal
meliputi minat alami individu terhadap topik tertentu, tingkat
keterlibatan emosional, dan kebutuhan pribadi. Sedangkan faktor
eksternal melibatkan lingkungan belajar, metode pengajaran, dan
kualitas interaksi antara guru dan siswa. Dalam konteks pendidikan,
pemahamankonseptual minat belajar penting karena dapat membantu
para pendidik merancang pengalaman belajar yang lebih menarik dan
relevan bagi siswa. Dengan memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi minat belajar, pendidik dapat menciptakan lingkungan
pembelajaran yang memotivasi dan memfasilitasi pertumbuhan
akademik serta pengembangan pribadi siswa.
b. Definisi Operasional
Secara operasional minat belajar adalah skor total yang diperoleh
dari hasil angket. Pengukurannya dengan menggunakan skala likert.
Adapun instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data minat
belajarsiswa digunakan koesioner skala Likert dengan jumlah item 30
butir.
73
4. Kalibrasi Instrumen
a. Uji Validitas
Sebelum melakukan pengumpulan data berupa penyebaran
instrumen terhadap sampel, instrumen akan diuji terlebih dahulu
validitasnya. Uji Validitas bertujuan untuk mengukur instrumen yang
telah disusun dan dapat dikatakan valid jika instrumen dapat mengukur
sesuatu dengan tepat apa yang hendak diukur. Instrumen persepsi
pesertadidik atas kompetensi pedagogik guru dan minat belajardisusun
berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetapkan
sehinggamenghasilkan 60 pernyataan untuk persepsi atas kompetensi
pedagogik dan minat belajar. Untuk menguji validitas butir instrumen,
dilakukan ujicoba instrumen kepada 10 orang peserta didik di luar
sampel penelitian.
Validitas yang diukur adalah validity internal consistency dengan
menggunakan rumus product-moment. Hasil perhitungan, kemudian
dibandingkan dengan rtabel product-moment. Bilamana rhitung lebih
besar dari rtabel, maka butir instrumen tersebut dapat dinyatakan valid.
Adapun validitas, berdasarkan hasil perhitungan, selain diolah data
dianalisis lalu disajikan secara lengkap sebagaimana layaknya
perhitungan statistik. Untuk kedua instrumen dalam Penelitian,
Kesahihan atau Validitas butir angket diuji dengan menggunakan
koefisien product moment (r) dengan rumus:
74
Keterangan:
rxy = Koefisien korelasi
n = jumlah responden
X = Skor butir angket yang dihitung validitasnya
Y = Skor total
b. Uji Reliabilitas
Instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data, selain
harus valid juga harus reliabel. Artinya, instrumen tersebut harus
bersifat ajeg dan memiliki hasil yang sama jika dilakukan pengujian
[Link] perhitungan reliabilitas instrumen ini, menurut Djaali
(2000: 145) disajikan secara lengkap sebagaimana reliabilitas instrumen
pada umumnya, yaitu dengan cara menghitung reliabilitas dengan
menggunakan rumus Alpha- Cronbach, sebagai berikut:
Apabila koefisien reliabilitas instrumen yang dihasilkan lebih
besar dari 0,7, berarti bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang
cukup baik dan dapat digunakan sebagai instrumen penelitian.
75
F. Teknik Analisa Data
1. Teknik Analisis Data Deskriptif
Data yang diperoleh dari hasil penelitian selanjutnya ditabulasikan
untuk dianalisis sesuai dengan arah dan tujuan penelitian. Tabulasi
tersebut terdiri dari tabel deskriptif Bahasa Indonesia data persepsi peserta
didik atas kompetensi pedagogik, minat belajar, dan prestasi belajar
Bahasa Indonesia .Tabel dianalisis dengan menghitung rata-rata, median
dan modus, simpangan baku, interval, dan tabel frekuensi data. Menurut
Nana Sudjana (1990: 114), sebagai berikut:
a. Rata-rata (mean) = dan ∑X = jumlah nilai frekuensi sedangka
n = jumlah sampel
b. Modus dan b = batas kelas interval dan frekuensi
terbanyak
p = panjang kelas interval
b1 = frekuensi pada kelas modus (frekuensi pada kelas terbanyak)
dikurangi frekuensi kelas interval terdekat sebelumnya
b2 = frekuensi kelas modus dikurangi kelas interval berikutnya.
c. Median dan
b = batas bawah, dimana median akan terletak
n = banyak data atau sampel
F = jumlah semua frekuensi sebelum kelas median
f = frekuensi kelas median.
76
d. Simpangan baku =
∑fd = jumlah nilai dari frekuensi dikalikan dengan hasil pengurangan
interval.
∑fd2 = jumlah nilai dari frekuensi dikalikan dengan hasil
pengurangan interval.
n = jumlah sampel
2. Teknik pengujian persyaratan data
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data hasil
pengumpulan berdistribusi normal atau tidak. Hal ini akan berpengaruh
pada proses lanjutan analisis statistik, jika data berdistribusi normal,
maka analisis dilanjutkan menggunakan statistik parametrik, sedangkan
jika data tidak berdistribusi normal, maka analisis dilanjutkan
menggunakan statistik non parametrik. “Uji normalitas dapat dilakukan
menggunakan analisis Kolmogorov Smirnov dalam SPSS 22.0”
(Abdullah, Suparman: 2014: 50). Distribusi data dikatakan normal jika
nilai sig KS > 0,05. Perhitungan normalitas akan dilakukan
menggunakan bantuan program komputer SPSS 22.0.
b. Uji Linearitas
“Pengujian linieritas garis regresi dalam penelitian ini digunakan
UjiF”, rumusnya adalah sebagai berikut (Sudjana, 1996:327):
77
Dimana :
JK(TC) = JKres – JK(E), disebut jumlah kuadrat ketidak cocokan (tuna
cocok).
disebut sebagai jumlah kuadrat kesalahan, sedangkan k adalah
pengelompokan ulang untuk data X. disebut sebagai jumlah kuadrat
residu,disebut jumlah kuadrat regresi dan,
disebut sebagai jumlah kuadrat regresi (a). Nilai F yang diperoleh disebut
Fhitung dan akan dibandingkan dengannilai F dari tabel (Ftabel) untuk α= 5%.
Kriteria pengujian linieritasnya adalah "jika Fhitung < Ftabel maka garisregresi
tersebut linier".
c. Uji Multikolieniritas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model
regesi ditemukan adanya korelasi yang sempurna antar variabel bebas
(independent). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
78
korelasiyang sempurna diantara variabel bebas. Salah satu cara untuk
untuk mendeteksi adanya multikolinieritas adalah dengan melihat
tolerance atau varian inflation factor (VIF). Apabila tolerance > 0,1
atau nilai VIF < 10 maka terjadi multikolinearitas.
d. Uji Heteroskedastisitas
Pengertian heteroskedastisitas adalah apabila kesalahan atau
residual yang diamati tidak memiliki varian yang konstan. Kondisi
heteroskedastisitas sering terjadi pada data cross section, atau data
yangdiambil dari beberapa responden pada suatu waktu tertentu. Salah
satu metode untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas adalah
dengan membuat scatter-plot antara standardized Residual (ZRESID)
dan Standardized Predicted Value (Y topi).
e. Uji Normalitas Galat
Uji normalitas galat digunakan untuk mengetahui apakah galat
pada regresi ganda mengikuti distrinusi normal. Ketentuan menurut
Suparman, I.A. (2016:149) dikatakan normal jika nilai semua sig >
0.054
3. Uji hipotesis penelitian
Setelah keseluruhan uji persyaratan analisis data dipenuhi dan
diketahui data layak untuk diolah lebih lanjut, maka langkah berikutnya
adalah menguji masing-masing hipotesis yang telah diajukan. Pengujian
hipotesis menggunakan teknik korelasi partial dan korelasi ganda, serta
regresi liniersederhana dan regresi linier ganda. Dalam praktiknya, untuk
79
perhitungan dan pengujian korelasi dan regresi akan dipergunakan bantuan
SPSS 22.0 Adapun kriteria pengujiannya adalahsebagai berikut:
a. Analisis Korelasi
Hasil perhitungan koefisien korelasi ganda dapat dilihat dari
output program SPSS melalui analisis regresi yakni pada tabel Model
Summaryb. Signifikasi dari koefisien korelasi tersebut diuji secara
manual atau dengan bantuan komputer melalui program aplikasi
Microsoft Excel. Adapun rumus pengujiannya adalah:
dimana:
F hitung : nilai F yang dihitung
R : nilai koefisien korelasi ganda
K : jumlah variabel bebas (independent)
N : jumlah sampel
b. Analisis Regresi
1) Perhitungan Persamaan Garis Regresi
Hasil perhitungan garis regresi bisa dilihat dari output program
SPSSmelalui analisis regresi yakni pada tabel Coefficients.
Koefisien- koefisien persamaan garis regresi ditunjukkan oleh
bilangan- bilangan yang ada pada kolom B untuk Unstandardized
80
Coefficients. Tabel 3.4 Coefficientsa
Unstandardized Standardize t Sig.
Model Coefficients d
Coefficients
B Std. Error Beta
1 (Constant)X1 X2
a. Dependent Variable: Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Sumber Dokumen Pribadi
2) Pengujian Signifikan Regresi
a) Untuk Regresi Partial
Untuk pengujian signifikan regresi partial dilakukan dengan
memperhatikan nilai pada kolom t atau kolom Sig. Untuk
regresipartial pengaruh X1 terhadap Y digunakan baris nilai t
dan Sig pada baris Variabel X1, sedangkan untuk regresi partial
pengaruh X2 terhadap Y digunakan baris nilai t dan Sig pada
barisvariabel X2.
• Jika digunakan Kolom Sig, maka kriteria signifikansinya
adalah: "jika Sig<0,05 maka regresi tersebut signifikan"
• Jika digunakan Kolom t, maka kriteria signifikansinya adalah:
"jika thitung >ttabel maka regresi tersebut signifikan"
ttabel dipilih sesuai dengan ketentuan pengujian statistik pada
distribusi ttabel, yaitu taraf nyata α dan dk = n - 2, dimana n
81
adalahbanyaknya anggota sampel.
b) Untuk Regresi Ganda
Hasil pengujian signifikansi regresi ganda bisa dilihat dari
output program SPSS melalui analisis regresi. Kriteria
signifikansinya adalah:
Tabel 3.5 ANOVAa
Sum of Squares
Model df Mean Square F Sig.
1 Regression
Residual
Total
a. Dependent Variable: Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
b. Predictors: (Constant), Minat Belajar, Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru
Sumber : Dokumen Pribadi
• Jika digunakan Kolom Sig, maka kriteria signifikansinya
adalah: ''jika Sig <0,05 maka regresi tersebut signifikan"
• Jika digunakan Kolom t, maka kriteria signifikansinya adalah:
''jika thitung >ttabel maka regresi tersebutsignifikan"
Ftabel dipilih sesuai dengan ketentuan pengujian statistik pada
distribusi F, yaitu pada taraf nyata αderajat (dk) pembilang = k
dan derajat (dk) penyebut = n- k -1, dimana n adalah banyaknya
anggotasampel dan k adalah banyaknya variabel bebas.
G. Hipotesis Statistik
Berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskan di atas, maka hipotesis
82
statistik dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.
HO : β У1 = βy2 = 0 H1 : βy1 ≠ 0; βy2 ≠ 0
Artinya :
HO : tidak terdapat pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan
minat belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Bahasa
Indonesia .
HI : terdapat pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan minat
belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Bahasa
Indonesia .
2.
HO : βy1 = 0 H1 : βy1 ≠ 0
Artinya:
Ho : tidak terdapat pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru
terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia .
Hi : terdapat pengaruh persepsi peserta didik atas kompetensi pedagogik
guru terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia .
3.
HO: βy2 = 0 Hi : βy2≠0
Artinya:
HO : tidak terdapat pengaruh minat belajar terhadap prestasi
belajarBahasa Indonesia .
H1 : terdapat pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa
Indonesia .
83
Keterangan:
β 1 = Koefisien regresi persepsi peserta didik atas kompetensi pedagogik
guru terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia .
β2 = Koefisien regresi minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa
Indonesia
β1,2 = Koefisien regresi secara bersama-sama persepsi peserta didik atas
kompetensi pedagogik guru dan minat belajar terhadap prestasi belajar
Bahasa Indonesia.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Deskripsi data statistik secara keseluruhan dari hasil perhitungan dan
pengujian yang dilakukan dengan bantuan komputer melalui program aplikasi
SPSS 22, serta analisis dan intepretasinya.
Tabel 4.1.
Deskripsi Data Penelitian
Statistics
Prestasi Belajar
Kompetensi Bahasa
Pedagogik Guru Indonesia
Minat Belajar
N Valid 60 60 60
Missing 0 0 0
Mean 118.55 117.82 37.73
Std. Error of Mean .928 .935 .356
Median 117.00 116.00 38.00
Mode 116 114 a
38
Std. Deviation 7.189 7.240 2.755
Variance 51.675 52.423 7.589
Range 29 31 11
Minimum 105 103 33
Maximum 134 134 44
Sum 7113 7069 2264
a. Multiple modes exist. The smallest value is shown
Sumber : Dokumen Pribadi
85
1.
Analisis Data Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru (X1)
Skor persepsi siswa atas kompetensi pedagogik guru yang diperoleh
dari responden mempunyai rata-rata 118,55 dengan simpangan baku 7,189
median 117,00 skor minimum 105 dan skor maksimum 134.
Hal ini menunjukkan bahwa data kompetensi pedagogik guru yang
diperoleh pada penelitian ini cukup representatif. Sedangkan skor yang
berada di atas rata-rata lebih banyak dibanding yang berada di bawah rata-
rata menunjukkanbahwa yang mempunyai kompetensi pedagogik guru
lebih banyak dibanding yangnegatif. deskripsi data tersebut dapat dilihat
dari histogram di bawah ini.
Gambar 4.1.
Histogram Data Skor Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru
Sumber : Dokumen Pribadi
86
Dari histrogram dan poligon frekwensi dapat disimpulkan bahwa
data skor skala kompetensi pedagogik guru dalam penelitian ini memiliki
sebaran yang cenderung normal.
2.
Analisis Data Variabel Minat Belajar (X2)
Skor minat belajar yang diperoleh dari para responden mempunyai
rata- rata117,82, dengan simpangan baku 7,240, median sebesar 116,00
skor minimum 103,dan skor maksimum 134.
Hal ini menunjukkan bahwa data skor minat belajar pada penelitian
ini cukuprepresentatif. Sedangkan skor yang berada di atas rata-rata lebih
banyak dibanding yang berada di bawah rata-rata menunjukkan bahwa
minat belajar yang tinggi lebihbanyak dibanding yang rendah. deskripsi
data tersebut bisa dilihat dari Histogram dibawah ini.
Gambar 4.2.
Histogram Data Skor Minat Belajar
Sumber : Dokumen Pribadi
87
Dari histrogram dan poligon frekwensi dapat disimpulkan bahwa
data skor skala minat belajar dalam penelitian ini memiliki sebaran yang
cenderung normal.
3.
Analisa Data Prestasi Belajar Bahasa Indonesia (Y)
Data prestasi belajar Bahasa Indonesia yang diperoleh dari para
responden mempunyai rata-rata 37,73, dengan simpangan baku 2,755,
median sebesar 38,00 skor minimum 33 dan skor maksimum 44. Hal ini
menunjukkan bahwa rata-rata prestasi belajar Bahasa Indonesia dari
responden termasuk tinggi. Skor simpanganbaku 2,755 menunjukkan
perbedaan jawaban antar responden termasuk tinggi. Hal ini menunjukkan
bahwa prestasi belajar Bahasa Indonesia dari responden cukup beragam.
Hal ini menunjukkan bahwa data skor prestasi belajar Bahasa
Indonesia padapenelitian ini cukup representatif.
Gambar 4.3.
Histogram Data Skor Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Sumber : Dokumen Pribadi
88
Dari histrogram dapat disimpulkan bahwa data skor skala prestasi
belajar BahasaIndonesia dalam penelitian ini memiliki sebaran yang
cenderung normal.
B. Pengujian Persyaratan Analisis
Pengujian persyaratan analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini
adalah pengujian normalitas, homogenitas, dan linieritas garis regresi partial
antaravariabel bebas dan variabel terikat.
1. Pengujian Normalitas Data
Pengujian normalitas data masing-masing sampel diuji melalui
hipotesis berikut:
H0 : data pada sampel tersebut berdistribusi normal
H1 : data pada sampel tersebut tidak berdistribusi normal
Perhitungan dilakukan dengan bantuan komputer melalui program
aplikasiSPSS 22. Menurut ketentuan yang ada pada program tersebut maka
kriteria dari normalitas data adalah “jika p value (sig) > 0.05 maka H0
diterima”, yang berarti data pada sampel tersebut berdistribusi normal. Nilai
p value (sig) adalah bilanganyang tertera pada kolom sig dalam tabel
hasil/output perhitungan pengujian normalitas oleh program SPSS. Dalam
hal ini digunakan metode Kolmogorov- Smirnov.
89
Hasil perhitungan bisa dilihat pada Tabel 4.2
Tabel 4.2.
Rekapitulasi Hasil Pengujian Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kompetensi
Pedagogik Minat Belajar Prestasi Belajar
Guru Bahasa
Indonesia
N 60 60 60
Normal Parametersa,b Mean 118.55 117.82 37.73
Std. 7.189 7.240 2.755
Deviation
Most Extreme Differences Absolute .150 .145 .245
Positive .150 .145 .245
Negative .103 .092 .127
Test Statistic .150 .145 .245
Asymp. Sig. (2-tailed) .077c .131c .088c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Sumber : Dokumen Pribadi
Pada tabel di atas terlihat bahwa nilai pada kolom Sig pada metode
Kolmogorov-Smirnov untuk semua sampel lebih besar dari 0,05, sehingga
H0 diterima, dengan kata lain bahwa data dari semua sampel pada penelitian
ini berdistribusi normal.
Untuk memperkuat hasil pengujian tersebut maka ditampilkan
Histogram Normalitas Galat Baku, Grafik Normal P-P Plot Galat Baku, dan
Grafik Normal Q-Q Plot untuk setiap sampel.
90
Gambar 4.4.
Histogram Normalitas Galat Baku
Sumber : Dokumen Pribadi
Gambar 4.4.
Normalitas Grafik P-P Plot Galat Baku
Sumber : Dokumen Pribadi
91
Gambar 4.6.
Grafik Normal Q-Q Plot Data Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru
Sumber : Dokumen Pribadi
Gambar 4.7.
Garif Normal Q-Q Plot Data Minat Belajar
Sumber : Dokumen Pribadi
92
Gambar 4.8.
Garif Normal Q-Q Plot Data Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Sumber : Dokumen Pribadi
2. Pengujian Linieritas Garis Regresi
Pengujian linieritas dalam penelitian ini digunakan hipotesis berikut: H0
: garis regresi hubungan antara varibel X dan variabel Y linier H1 : garis
regresi hubungan antara varibel X dan variabel Y tidak linier Perhitungan
dilakukan dengan bantuan komputer melalui program aplikasi SPSS 22.
Menurut ketentuan yang ada pada program tersebut maka kriteria dari
normalitas data adalah “jika p value (sig) < 0,05 maka H0 diterima”, yang
berarti bahwa sampel-sampel tersebut berasal dari populasi yang homogen.
Nilai p value (sig) adalah bilangan yang tertera pada kolom sig baris
Linierity dalam tabel ANOVA hasil perhitungan pengujian linieritas garis
regresi oleh program SPSS.
a.
Linieritas Garis Regresi Hubungan Antara Variabel X1 dengan
Variabel Y
Hasil perhitungan pengujian linieritas garis regresi hubungan
antaravariabel X1 dengan variabel Y bisa dilihat pada Tabel 4.3.
93
Tabel 4.3.
Rekapitulasi Hasil Pengujian Linieritas Garis Regresi Hubungan Antara Variabel
X1 dengan Variabel Y
ANOVA Table
Sum of Mean
Squares Squar
df F Sig.
e
Prestasi Between 372.467 21 17.737 8.955 .00
(Combined)Group 0
Belajar s Linearity
Bahasa 279.911 1 279.911 141.319 .00
Deviation
0
Indonesia * from
Linearit 92.556 20 4.628 2.336 .01
Kompetensi y 2
Pedagogik
Within Groups 75.26 3 1.98
Guru
7 8 1
Total 447.733 59
Sumber : Dokumen Pribadi
Pada tabel di atas diketahui baris Deviation from linearity memiliki
nilai Sig sebesar 0,012 lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan
bahwa bentuk persamaan regresi persepsi atas kompetensi pedagogik
guru dan prestasi belajar Bahasa Indonesia adalah linier.
b.
Linieritas Garis Regresi Hubungan Antara Variabel X2 dengan
Variabel Y
Hasil perhitungan pengujian linieritas garis regresi hubungan antara
variabel X2 dengan variabel Y bisa dilihat pada Tabel 4.4.
94
Tabel 4.4.
Rekapitulasi Hasil Pengujian Linieritas Garis Regresi Hubungan Antara
Variabel X2 dengan Variabel Y
ANOVA Table
Sum of Mean
Squares Squar
df e F Sig.
Prestasi Between 342.517 22 15.569 5.475 .00
(Combined) Groups 5
Belajar Linearity
Bahasa Deviatio 264.255 1 264.255 92.927 .00
n from 0
Indonesia *
Linearity
Minat 78.262 21 3.727 1.311 .23
1
Belajar
Within Groups 105.217 37 2.844
Total 447.733 59
Sumber : Dokumen Pribadi
Pada tabel di atas terlihat bahwa nilai pada kolom Sig untuk Minat
Belajar (X2) terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y) adalah
sebesar 0.231 lebih besar dari0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa
untuk persamaan regresi pengaruh MinatBelajar (X2) terhadap prestasi
belajar Bahasa Indonesia (Y) adalah linier.
C. Pengujian Hipotesis Penelitian
Pengujian hipotesis dilakukan seperti ketentuan yang tertulis pada
akhirBab III. Hasil perhitungan dan pengujian bisa dilihat pada tabel dibawah
ini:
95
Tabel 4.5.
Hasil Perhitungan Koefisien Korelasi Pengaruh Variabel X1 dan X2 terhadap Variabel Y
Model Summary
Adjusted Std. Error of the
R Square Estimate
Model R R
Square
1 .791a .626 .612 1.715
a. Predictors: (Constant), Minat Belajar, Kompetensi Pedagogik Guru
Sumber : Dokumen Pribadi
Tabel 4.6.
Data Anova Variabel X1 dan X2 terhadap Variabel Y ANOVAa
Sum of Mean
Squares Squar
Model df e F Sig.
1 Regression 280.06 2 140.031 47.604 .000b
Residual 2 57 2.942
167.67
2
Total 447.73 59
3
a. Dependent Variable: Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
b. Predictors: (Constant), Minat Belajar, Kompetensi Pedagogik Guru
Sumber : Dokumen Pribadi
Tabel 4.7.
Rekapitulasi Hasil Perhitungan Pengujian Signifikasi Koefisien Regresi Pengaruh
Variabel X1 dan X2 dengan Variabel Y
Coefficientsa
Unstandardized Standardize
Coefficients d
t Sig.
Coefficient
Model s
B Std. Beta
Error
1 (Constant) 1.85 3.69 .50 .61
Kompetensi 2 3 1 8
.87
Pedagogik Guru .33 .14 4 2.31 .00
96
Minat Belajar 5 4 0
.80 8
.03 .14 5 .01
2.226
2 3 2
[Link] Variable: Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
b. Sumber : Dokumen Pribadi
Dari ketiga tabel di atas, akan di uji tiga hipotesis sekaligus yaitu:
1. Pengaruh Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru (X1)
danMinat Belajar (X2) secara bersama-sama terhadap Prestasi
Belajar Bahasa Indonesia (Y)
Hipotesis pengaruh ini adalah :
H0 : β.1 = 0 atau β2 = 0
H1 : β.1 ≠ 0 atau β.2 ≠ 0;
artinya:
H0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan Persepsi Siswa atas
Kompetensi pedagogik guru (X1) dan minat belajar (X2) dansecara
bersama-sama terhadap Prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y)
H1 : terdapat pengaruh yang signifikan persepsi siswa atas kompetensi
pedagogik guru (X1) dan minat belajar (X2) dan secara bersama-
sama terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y)
Dari tabel 4.15. di atas terlihat bahwa koefisien korelasi ganda
pengaruh variabel bebas persepsi siswa atas kompetensi pedagogik guru
(X1) dan minat belajar (X2) dan secara bersama-sama terhadap prestasi
belajar Bahasa Indonesia (Y) adalah sebesar 1,852.
97
Sedangkan koefisien determinasinya sebesar 0,618 menunjukkan
bahwa besarnya kontribusi persepsi siswa atas Kompetensi pedagogik guru
(X1) minat belajar (X2) dan secara bersama-sama terhadap prestasi belajar
Bahasa Indonesia (Y) adalah sebesar 65,5%, sisanya (34,5%) karena
pengaruh faktor lain.
Sedangkan untuk pengujian hipotesis melalui analisis regresi
diperoleh hasilperhitungan terlihat pada Tabel 4.7. diperoleh persamaan
garis regresi yang merepresentasikan pengaruh variabel X 1 dan X2 terdahap
variabel Y, yaitu = 1,852 + 0,335 X1 + 0,032 X2.
Sedangkan pengujian signifikansi garis regresi tersebut adalah
dengan memperhatikan hasil perhitungan yang ada pada Tabel 4.7.
Menurut ketentuan yangada, kriteria signifikansi regresi tersebut adalah
“jika Sig > 0.05 maka H1 diterima”atau “jika Fhitung < Ftabel maka H1
diterima”, yang berarti bahwa koefisien regresi tersebut signifikan,
dengan kata lain terdapat pengaruh yang signifikan variabel bebas X1 dan
X2 terhadap variabel terikat Y. Nilai Sig adalah bilangan yang terterapada
kolom Sig dalam Tabel 4.7.. Nilai Fhitung adalah bilangan yang tertera
pada kolom F dalam Tabel 4.7.. Sedangkan nilai Ftabel adalah nilai tabel
distribusi F untuk taraf nyata 5% dengan derajat pembilang (k) = 2 dan
derajat penyebut (n – k – 1) = 58 dimana n adalah banyaknya responden,
dan k adalah banyaknya variabelbebas.
Dari Tabel 4.7. terlihat bahwa nilai Sig = 0.618 > 0,05 dan Fhitung =
98
47,604, maka H1 di terima yang berarti bahwa koefisien regresi tersebut
signifikan. Dengan kata lain bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
variabel bebas persepsi siswa atas Kompetensi pedagogik guru (X1) dan
Minat belajar (X2) dan secara bersama- sama terhadap Variabel terikat
Prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y).
Dari hasil pengujian regresi tersebut maka bisa disimpulkan bahwa
terdapatpengaruh yang signifikan variabel bebas persepsi siswa atas
Kompetensi pedagogikguru (X1) dan minat belajar (X2) dan secara
bersama-sama terhadap prestasi belajarBahasa Indonesia (Y).
2. Pengaruh Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru (X1)
terhadapPrestasi Belajar Bahasa Indonesia (Y)
Hipotesis pengaruh ini adalah :
H0 : β1 = 0
H1 : β1 ≠ 0 ;
artinya:
H0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan Kompetensi pedagogikguru
terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia
H1 : terdapat pengaruh yang signifikan Kompetensi pedagogik gurut
erhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia
Untuk membuktikan hipotesis tersebut adalah dengan
memperhatikan nilai/bilangan yang tertera pada kolom t atau kolom Sig
99
untuk baris kompetensi pedagogik guru (Variabel X1) pada Tabel 4.3.
Menurut ketentuan yang ada, kriteria signifikansi regresi tersebut adalah
“jika thitung < ttabel maka H1 diterima” atau “jika Sig > 0,05 maka H1
diterima”, yang berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan variabel
bebas X1 terhadap variabel terikat Y. Nilai Sig adalah bilangan yang
tertera pada kolom Sig untuk baris Kompetensi pedagogik guru
(Variabel X1) dalam Tabel 4.3.. Nilai thitung adalah bilangan yang tertera
pada kolom t untuk baris Kompetensi pedagogik guru (Variabel X1)
dalam Tabel 4.3.. Sedangkan nilai ttabel adalah nilai tabel distribusi t untuk
taraf nyata 5% dengan derajatkepercayaan (df = n – 2) = 58 dimana n
adalah banyaknya responden.
Dari Tabel 4.3. terlihat bahwa nilai Sig = 0.4024 > 0,05 dan thitung =
2,318, maka H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan
variabel bebas X1 (Kompetensi pedagogik guru) terhadap variabel terikat
Y (Prestasi belajar Bahasa Indonesia ).
Dari hasil pengujian regresi tersebut maka bisa disimpulkan bahwa
terdapatpengaruh yang signifikan variabel bebas Kompetensi pedagogik
guru terhadap variabel terikat Prestasi belajar Bahasa Indonesia.
3. Pengaruh Minat Belajar (X2) terhadap Prestasi Belajar Bahasa
Indonesia (Y)
Hipotesis pengaruh ini adalah :
H0 : β2 = 0
100
H1 : β2 ≠ 0 ;
artinya:
H0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar
terhadapPrestasi belajar Bahasa Indonesia
H1 : terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar terhadap prestasi
belajar Bahasa Indonesia
Untuk membuktikan hipotesis tersebut adalah dengan
memperhatikan nilai/bilangan yang tertera pada kolom t atau kolom Sig
untuk baris minat belajar(Variabel X2) pada Tabel 4.4. Menurut
ketentuan yang ada, kriteria signifikansi regresi tersebut adalah “jika thitung
< ttabel maka H1 diterima” atau “jika Sig > 0,05 maka H1 diterima”, yang
berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan variabelbebas X 2 terhadap
variabel terikat Y. Nilai Sig adalah bilangan yang tertera pada kolom Sig
untuk baris minat belajar (Variabel X2) dalam Tabel 4.4.. Nilai thitung
adalah bilangan yang tertera pada kolom t untuk baris minat belajar
(Variabel X2) dalam Tabel 4.4.. Sedangkan nilai ttabel adalah nilai tabel
distribusi t untuk taraf nyata 5% dengan derajat kepercayaan (df = n – 2) =
58 dimana n adalah banyaknya responden.
Dari Tabel 4.4. terlihat bahwa nilai Sig = 0,822 > 0,05 dan thitung =
0,226, maka H1 di terima yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan
variabel bebas minat belajar terhadap variabel terikat prestasi belajar
Bahasa Indonesia . Dari hasil pengujian regresi tersebut maka bisa
101
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan variabel bebas X2
(minat belajar) terhadap variabel terikat Y (Prestasi belajar Bahasa
Indonesia ).
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh minat belajar dan kompetensi
pedagogik guru terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia
1. Pengaruh Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru dan
Minat Belajar secara bersama-sama terhadap Prestasi Belajar
Bahasa Indonesia
Dari deskripsi data setelah dilakukan analisis korelasi diperoleh
koefisien korelasi sebesar 0,225, setelah dilakukan pengujian dengan
program SPSS terbuktibahwa koefisien korelasi tersebut signifikan. Hal
ini berarti bahwa terdapat pengaruh variabel bebas persepsi siswa atas
kompetensi pedagogik guru dan minatbelajar dan secara bersama-sama
terhadap variabel terikat prestasi belajar Bahasa Indonesia. Sedangkan
dari analisis regresi diperoleh persamaan garis regresi = 1,852 + 0,335
X1 + 0,032 X2.. Nilai konstanta = 1,852 menunjukkan bahwa dengan
minatbelajar dan Kompetensi pedagogik guru paling rendah sulit untuk
bisa meraih prestasi belajar yang baik, sedangkan nilai koefisien regresi
102
sebesar 0,024 dan 0,822menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif
variabel bebas persepsi siswa atas kompetensi pedagogik guru dan minat
belajar secara bersama- sama terhadapvariabel terikat prestasi belajar
Bahasa Indonesia . Setelah dilakukan pengujian linieritas garis regresi
dengan menggunakan program SPSS diperoleh bahwa garis regresi
tersebut linier.
Dari pengujian signifikansi koefisien regresi yang juga dilakukan
dengan program SPSS 22 diperoleh bahwa koefisien regresi tersebut
signifikan, yaitu ditunjukkan oleh nilai Sig = 0.065 > 0,05 dan Fhitung =
47,604, yang berarti trbukti bahwa terdapat pengaruh yang positif
variabel bebas persespi siswa atas kompetensi pedagogik guru dan minat
belajar secara bersama-sama terhadap variabel terikat prestasi belajar
Bahasa Indonesia .
Menurut sintesis teori yang ada di Bab II, Kepentingan pengukuran
tidak hanya bermakna bagi proses belajar siswa, tetapi juga memberikan
umpan balik bagi pencapaian tujuan-tujuan yang diharapkan. Selain itu
dapat digunakanuntuk mengukur sampai sejauh mana keefektifan
pengalaman mengajar, kegiatan belajar, serta metode mengajar yang
digunakan. Dalam praktek disekolah atau lembaga pendidikan terdapat
dua cara pengukuran hasil belajaryaitu formative evaluation dan
summative evaluation.
Formative evaluation adalah kegiatan yang bertujuan mencari
umpan balik yang selanjutnya hasil tersebut digunakan untuk
103
memperbaiki proses pembelajaran baik yang sedang berlangsung
maupun yang akan datang. Pelaksanaannya tidak hanya dilakukan pada
akhir pembelajaran, tetapi dapat juga ketika proses pembelajaran
berlangsung, seperti dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa, selain
itu juga dengan menggunakan metode observasi.
Summative evaluation dilakukan guna memperoleh data atau
informasisejauh mana tingkat penguasaan atau pencapaian belajar siswa
atas bahan ajar ataumateri yang telah dipelajarinya dalam jangka waktu
tertentu. Sehinggga dengan angka atau nilai yang diperoleh siswa dalam
summative evaluationnya, siswa tersebut dapat dinyatakan berprestasi
atau berhasil atau tidak.
Keberhasilan siswa dalam mencapai suatu prestasi tertentu
merupakan keberhasilan juga atas kegiatan guru dalam mengajar.
Kemampuan profesional guru sangatlah penting karena berhubungan
secara signifikan dengan kualitas pendidikan. Oleh sebab itu, seluruh
pihak terkait termasuk guru itu sendiri haruslah berusaha untuk
meningkatkan kemampuannya. Yang dimaksud dengan profesi dalam hal
ini adalah suatu bidang pekerjaan yang dilandasi denganpendidikan
keahlian tertentu (ketrampilan, kejujuran dan sebagainya).
Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian
khusus. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak
memiliki keahlian untukmelakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru,
yaitu keahlian mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada siswanya
104
juga memberikan keteladan budi pekerti dan kejujuran.
Kemampuan mengajar itu tidaklah dapat dilakukan oleh semua
orang,meskipun secara teoritik ilmu pendidikan dapat dipelajari akan
tetapi memerlukanpengetahuan yang luas baik yang menyangkut isi
materi maupun pemahaman strateginya.
2. Pengaruh Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru terhadap
Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Dari pengujian hipotesis diperoleh bahwa nilai Sig = 0,024 > 0,05
dan thitung = 2,318, maka H1 di terima yang berarti terdapat pengaruh
yang signifikan variabel bebas kompetensi pedagogik guru terhadap
variabel terikat prestasi belajar BahasaIndonesia.
Menurut sintesis teori yang ada di Bab II, lembaga pendidikan,
terdiri atas sekelompok orang yang secara bersama- sama bertekad untuk
mencapai tujuan bersama. Dengan adanya tujuan tersebut, akan
menghasilkan kemauan dan dorongan bagi tingkat usaha yang ingin
dicapai. Untuk itu, demi tercapainya tujuan tersebut diperlukan adanya
kesamaan ciri, nilai, norma, perilaku dan tata aturan operasional yang
disepakati sehingga kemauan dan dorongan anggota kelompok tetap
terkait dengan interaksi yang saling menguntungkan dan membutuhkan
tersebut.
Nilai dan opini sangat berhubungan erat dengan sikap, bahkan
konsepkeduanya sering digunakan dalam definisi-definisi mengenai
sikap. Persepsi sering berisi kepercayaan seseorang mengenai suatu
105
obyek. Seringkali dalam isu tertentu, apa yang dipercayai seseorang
sering kali menjadi streotipe atau sesuatu yang terpolakan dalam
pikirannya. Kepercayaan datang dari apa yang telah dilihatatau diketahui.
Berdasarkan apa yang telah dilihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau
gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu obyek. Sekali
kepercayaan itu terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan
seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dan apa yang tidak dapat
diharapkan dari obyek tertentu.
Dengan demikian interaksi serta prediksi kita akan pengalaman
dimasa datang akan lebih mempunyai arti dan keteraturan. Begitu pula
dengan interkasi, nilai, dan persepsi guru akan membentuk suatu ide,
gagasan atau pola tertentu yang berpengaruh dengan kemampuannya
dalam melakukan kegiatannya yaitu belajar mengajar.
3. Pengaruh Minat Belajar terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Dari pengujian hipotesis diperoleh bahwa nilai Sig = 0.822 > 0,05
dan thitung = 0,226, maka H1 di terima yang berarti terdapat pengaruh
yang signifikan variabelbebas minat belajar terhadap variabel terikat
prestasi belajar Bahasa Indonesia .
Menurut sintesis teori yang ada di Bab II, terdapat faktor yang
mempengaruhiprestasi belajar siswa, yaitu faktor minat belajar yang
seharusnya di kembangkan dengan motivasi-motivasi baik dari diri
sendiri maupun dari orang lain.
Pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mengukur dalam arti
106
memberi angka terhadap sesuatu yang disebut obyek unsur. Dalam
bidang pendidikan, pengukuran hasil belajar memiliki arti penting baik
bagi sekolah, lembaga pendidikan, guru, siswa mau pun orang tua atau
masyarakat. Secara konseptual, angka-angka hasil pengukuran pada
dasarnya adalah bersifat kuantitatif. Sedangkan alat yang dipergunakan
dapat berupa alat yang baku secara internasional atau berupa alat yang
dibuat atau dikembangkan sendiri dengan mengikuti proses
perkembangan atau pembakuan instrumen.
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Simpulan
Pada bagian kesimpulan ini, penulis uraikan secara singkat hasil
penelitianyang diperoleh di lapangan. Setelah diadakan penelitian dan analisis
data tentang “Persepsi siswa atas Kompetensi pedagogik guru dan Minat
belajar terhadap Prestasi belajar Bahasa Indonesia “ dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh yang signifikan persepsi siswa atas kompetensi
pedagogik guru dan minat belajar secara bersama-sama terhadap prestasi
belajar Bahasa Indonesia siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di
Karawang, hal ini dibuktikan dengan nilai Sig = 0,000 < 0,05 dan Fhitung
47,604.
2. Terdapat pengaruh yang signifikan persepsi siswa atas kompetensi
pedagogik guru terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa Sekolah
Menengah Pertama Negeri di Karawang, hal ini dibuktikan dengan nilai
Sig = 0.000 < 0,05 dan thitung = 2,336.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar terhadap prestasi belajar
Bahasa Indonesia siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Karawang,
hal ini dibuktikan dengan nilai Sig = 0,012 < 0,05 dan thitung = 1,311.
Berdasarkan temuan penelitian di atas yang didasarkan pada
analisis data penelitian, bahwa prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa
108
dapat
109
ditingkatkan dengan cara memperhatikan persepsi siswa atas kompetensi
pedagogik guru dan minat belajar yang lebih baik lagi.
B. Implikasi
Pada implikasi penelitian ini, ada beberapa hal yang menjadi temuan
penelitianyang bersifat praktik dan juga sebagai gambaran agar dapat di
terapkan dan dimanfaatkan untuk penelitian lanjutan dan sebagai dasar agar
terciptanya sebuah tujuan, yaitu:
1. Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru
a. Kurikulum dan Pelatihan: Berdasarkan persepsi siswa, kompetensi
pedagogik guru yang tinggi sangat mempengaruhi minat belajar dan
prestasi akademik. Maka, perlu adanya program pelatihan dan
pengembangan profesional yang berkelanjutan bagi para guru untuk
meningkatkan kemampuan pedagogik mereka.
b. Metode Pengajaran yang Inovatif: Guru perlu mengadopsi metode
pengajaran yang interaktif dan inovatif untuk membuat proses
pembelajaran lebih menarik dan efektif. Penggunaan teknologi dan
pendekatan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan
keterlibatan siswa.
2. Peningkatan Minat Belajar Siswa
a. Lingkungan Belajar yang Mendukung: Menyediakan lingkungan
belajar yang kondusif dan mendukung dapat meningkatkan minat
belajar siswa. Fasilitas yang memadai, suasana kelas yang nyaman, dan
110
hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa sangat penting.
b. Pengembangan Kurikulum yang Relevan: Kurikulum yang relevan
dengan kehidupan sehari-hari dan minat siswa dapat meningkatkan
keterlibatan dan motivasi belajar. Mengintegrasikan materi pelajaran
dengan konteks nyata atau kebutuhan siswa dapat membantu mereka
melihat relevansi dan manfaat dari pembelajaran Bahasa Indonesia
3. Hubungan Antara Kompetensi Pedagogik dan Minat Belajar dengan
Prestasi Belajar
a. Pendekatan Holistik: Kombinasi antara kompetensi pedagogik guru
yang tinggi dan minat belajar siswa yang kuat secara s ignifikan
meningkatkan prestasi belajar. Oleh karena itu, pendekatan holistik
yang mencakup peningkatan kualitas pengajaran serta
peningkatanminat belajar siswa sangat dianjurkan.
b. Evaluasi dan Feedback: Sistem evaluasi yang teratur dan pemberian
umpan balik konstruktif dapat membantu siswa memahami kekuatan
dan kelemahan mereka. Guru harus mampu memberikan feedback
yang memotivasi dan mengarahkan siswa untuk memperbaiki prestasi
mereka.
4. Kebijakan Pendidikan dan Implementasi
a. Kebijakan Pelatihan Guru: Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu
menetapkan kebijakan yang mendukung pelatihan berkelanjutan bagi
guru, khususnya dalam pengembangan kompetensi pedagogik.
111
b. Program Peningkatan Minat Belajar: Program-program yang
bertujuanuntuk meningkatkan minat belajar, seperti klub literasi, lomba
membaca, dan kegiatan ekstrakurikuler berbasis Bahasa Indonesia , dapat
diimplementasikan untuk meningkatkan minat dan keterlibatan siswa dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia .
5. Penelitian dan Pengembangan
a. Penelitian Lanjutan: Penelitian lebih lanjut mengenai hubungan
antarakompetensi pedagogik guru, minat belajar siswa, dan prestasi
belajar perlu dilakukan untuk memperoleh data yang lebih
komprehensif dan spesifik. Hasil penelitian tersebut dapat digunakan
untuk menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif.
Dengan mengimplementasikan poin-poin di atas, diharapkan kualitas
pembelajaranBahasa Indonesia dapat ditingkatkan, yang pada akhirnya akan
meningkatkanprestasi belajar siswa secara keseluruhan.
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas peneliti mengusulkan beberapa saran
sebagai berikut:
1. Prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa seyogianya akan
meningkatkan dengan memperhatikan persepsi siswa atas kompetensi
pedagogik guru
2. Prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa seyogianya akan meningkatkan
melalui minat belajar yang baik.
112
3. Hendaknya dilakukan penelitian lebih lanjut dalam mengembangkan teori
dan konsep tentang minat belajar, kompetensi pedagogik guru dan prestasi
belajar Bahasa Indonesia serta menelitinya secara empirik di
lapangansecara komprehensip
113
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S.I (2014). Aplikasi computer dalam penyusunan karya
[Link]: Pustaka Mandiri
Ahmadi A.S. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Akrim. (2021). Strategi peningkatan daya minat belajar siswa. Yogyakarta:
Pustaka Ilmu.
Arikunto, S. (2008). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta:
RinekaCipta.
DePorter, B., & Hernacki, M. (2016). Cet VIII. Quantum learning membiasakan
belajar nyaman dan menyenangkan, Bandung: Mizan Media Utama (MMU
Dalyono. (2009). Psikologi pendidikan. Yogyakarta: Ar- ruzz Media.
Djaali. (2008). Psikologi pendidikan. Cetakan Ke-3, Jakarta: Penerbit Bumi
Aksara
Djamarah, S.B. (1994). Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha
Nasional.
Djamarah. (2011). Psikologi belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Hasan, A. M.(2008). Pengembangan profesionalisme guru di abad pengetahuan,
Malang.
Hidayat, S. (2013). Teori dan prinsip pendidikan. Jakarta : Pustaka Mandiri.
Humalik, U. (2010). Kurikulum dan pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Humalik, U. (2005). Perencanaan pengajaran berdasarkan pendekatan
sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Kartono. (2008). Perilaku manusia, Jakarta: ISBN
Makmun, A.S. (2000). Psikologi pendidikan. Bandung: Remaja Rosda karya.
Muhajir A.R. (2006). Kompetensi Pedagogik Dan Profesional Guru. Sleman: CV
Budi Utama.
Muhibbin Syah. (2009). Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Mustaqin & Abdul W.(2010). Psikologi pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Nasution, S. (2001). Kurikulum dan pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
114
Nasution, S.(2008). Metode research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Penerbit
Aksara. (2000).Cara membentuk pribadi. Surabaya: Bintang Remaja.
Irwantoro, N., Suryana, Y. (2016). Kompetensi Pedagogik. Surabaya: Genta
Group Production.
Oemar, H. (2009). Metodologi pengajaran ilmu pendidikan berdasarkan
pendekatan kompetensi. Bandung: CV Mandar Maju.
Purwanto. (2009). Psikologi pendidikan. Bandung: Remaja Rosda karya, (2001).
Profesionalisme guru. Teknodik No/IV/Oktober.
Rakhmat, J.(2008). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosda karya.
Riduwan. (2009).Skala pengukuran variabel-variabel penelitian. Cetakan kedua.
Bandung : Alfabeta. (2009).
Pengantar statistika untuk penelitian pendidikan, sosial, komunikasi, ekonomi,
dan bisnis. Cetakankedua. Bandung :Alfabeta
Sabri, A.(2007). Psikologi pendidikan berdasarkan kurikulum nasional. Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya
Safari. (2005). Teknik analisis butir soal instrument test dan non test dengan
manual, kalkulator, dan komputer. Cetakan kedua. Jakarta: APSI Pusat.
Sajono, T.(1986). Kesulitan belajar. Jakarta: Gramedia.
Sardiman, A.M. (2009). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: Raja
Graindo Persada
Saroni, M. (2008). Manajemen sekolah kita menjadi pendidik yang kompeten.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Syah, M. (1997). Psikologi pendidikan suatu pendekatan baru, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Singarimbun, M.,& Sopian, E di (Ed).(2008). Metode penelitian survei. Cetakan
10, Jakarta: LP3ES.
Slameto. (1995). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sudjana, N. (2010). Teknik analisis regresi dan korelasi. Bandung:
Tarsiti., (2002). Dasar-dasar proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Sugiyono, (1999) Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiono. (2008).Metode penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi, A. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
115
Sukmadinata, N.S. (2005). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung:
Remaja Rosda karya.
Syah, M.(1997). Psikologi pendidikan suatu pendekatan baru. Bandung: Remaja
Rosda karya.
Rakhmat. (1999). Psikologi komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Risnanosanti. (2002). Pengembangan minat dan bakat belajar siswa. Malang: CV
Literasi Nusantara Abadi.
Roro K. N. R. (2024). Minat belajar. Malang : CV. Literasi Nusantara Abadi.
Tarigan, H.G. (2008). Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung:
Angkasa
Tim Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2010). Kamus Besar Bahasa
Indonesia . Jakarta: Balai Pustaka.
Tu’u, T.(2008). Peran disiplin pada perilaku dan prestasi siswa. Jakarta: PT.
Grasindo
Trygu. (2021). Menggagas konsep minat belajar matematika. Indonesia :
Guepedia. Usman, M. U.(2009). Menjadi guru professional. Bandung:
RemajaRosdakarya.
Winkel, WS. (2005). Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi
Mustaqin & Abdul W.(2010). Psikologi pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Nasution, S. (2001). Kurikulum dan pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution, S.(2008). Metode research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Penerbit
Aksara. (2000).
Cara membentuk pribadi. Surabaya: Bintang Remaja.
Irwantoro, N., Suryana, Y. (2016). Kompetensi Pedagogik. Surabaya: Genta
Group Production.
Oemar, H. (2009). Metodologi pengajaran ilmu pendidikan berdasarkan
pendekatan kompetensi. Bandung: CV Mandar Maju.
Purwanto. (2009). Psikologi pendidikan. Bandung: Remaja Rosda karya.,
(2001).Profesionalisme guru. Teknodik No/IV/Oktober. Rakhmat, J.(2008). Psikologi
komunikasi. Bandung: Remaja Rosda karya.
Riduwan. (2009). Skala pengukuran variabel-variabel penelitian. Cetakan kedua.
Bandung : Alfabeta.
(2009).Pengantar statistika untuk penelitian pendidikan, sosial, komunikasi, ekonomi, dan
bisnis. Cetakankedua. Bandung :Alfabeta
Sabri, A.(2007). Psikologi pendidikan berdasarkan kurikulum nasional.
Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya
116
Safari. (2005). Teknik analisis butir soal instrument test dan non test
dengan manual, kalkulator, dan komputer. Cetakan kedua. Jakarta:
APSI Pusat.
Sajono, T.(1986). Kesulitan belajar. Jakarta: Gramedia.
Sardiman, A.M. (2009). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta:
Raja Graindo Persada
Saroni, M. (2008). Manajemen sekolah kita menjadi pendidik yang kompeten.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Syah, M. (1997). Psikologi pendidikan suatu pendekatan baru, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Singarimbun, M.,& Sopian, E di (Ed).(2008). Metode penelitian survei. Cetakan
10, Jakarta: LP3ES.
Slameto. (1995). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta.
Sudjana, N. (2010). Teknik analisis regresi dan korelasi. Bandung:
Tarsiti., (2002). Dasar-dasar proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Sugiyono, (1999). Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiono. (2008).Metode penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi, A. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sukmadinata, N.S. (2005). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung:
Remaja Rosda karya.
Syah, M.(1997). Psikologi pendidikan suatu pendekatan baru. Bandung: Remaja
Rosda karya.
Rakhmat. (1999). Psikologi komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Risnanosanti. (2002). Pengembangan minat dan bakat belajar siswa. Malang: CV
Literasi Nusantara Abadi.
Roro K. N. R. (2024). Minat belajar. Malang : CV. Literasi Nusantara Abadi.
Tarigan, H.G. (2008). Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung:
Angkasa
Tim Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2010). Kamus Besar Bahasa
Indonesia . Jakarta: Balai Pustaka.
Tu’u, T.(2008). Peran disiplin pada perilaku dan prestasi siswa. Jakarta: PT.
Grasindo.
Trygu. (2021). Menggagas konsep minat belajar matematika. Indonesia :
Guepedia.
Usman, M. U.(2009). Menjadi guru professional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Winkel, WS. (2005). Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.
DATA INSTRUMEN ANGKET PERSEPSI ATAS KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU
(X1)
Kode Nomor Butir Soal
No Responde 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 TOTAL
1 R-01 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 97
2 R-02 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 118
3 R-03 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 3 5 144
4 R-04 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 4 5 5 4 4 4 5 4 5 4 4 4 3 4 5 3 4 3 3 4 122
5 R-05 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 97
6 R-06 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 5 5 3 4 5 5 4 3 4 120
7 R-07 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 5 146
8 R-08 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 4 5 5 4 4 4 5 4 5 4 4 4 3 4 5 3 4 4 3 4 123
9 R-09 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 3 5 144
10 R-10 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 97
11 R-11 3 5 3 3 3 5 5 3 5 4 3 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 119
12 R-12 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 5 146
13 R-13 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 4 5 5 4 4 4 5 4 5 4 4 4 4 4 5 3 4 3 3 4 123
14 R-14 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 3 5 144
15 R-15 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 98
16 R-16 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 118
17 R-17 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 5 146
18 R-18 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 4 5 5 4 4 4 5 4 5 4 4 4 4 4 5 3 4 4 3 4 124
19 R-19 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 3 5 144
20 R-20 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 98
21 R-21 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 5 4 3 4 5 5 4 3 4 119
22 R-22 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 5 146
23 R-23 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 4 5 5 4 4 4 5 4 5 4 4 4 3 4 5 3 4 4 3 4 123
24 R-24 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 3 5 144
25 R-25 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 98
26 R-26 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 112
27 R-27 4 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 5 4 3 5 4 4 5 4 5 5 5 4 4 4 5 4 4 5 134
28 R-28 5 4 5 5 4 4 5 5 5 3 5 5 3 5 3 4 5 5 3 5 4 4 3 5 5 4 4 4 3 4 128
29 R-29 3 5 3 3 5 5 5 3 5 5 3 5 5 3 3 5 3 3 5 3 4 5 4 3 4 5 5 4 3 4 121
30 R-30 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 96
31 R-31 4 5 4 4 4 5 5 4 5 3 4 5 3 4 3 5 4 4 3 4 4 5 3 4 4 5 5 4 3 3 122
32 R-32 3 5 3 3 5 5 5 3 5 5 3 5 5 3 3 5 3 3 5 3 5 5 5 3 4 4 5 4 4 4 123
33 R-33 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 5 3 3 4 3 110
34 R-34 5 4 5 5 4 4 5 5 5 3 5 5 3 5 4 4 5 5 3 5 4 4 3 5 5 3 4 4 3 4 128
35 R-35 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 98
36 R-36 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 112
37 R-37 3 5 3 3 5 5 5 3 5 4 3 5 4 3 3 5 3 3 4 3 4 5 4 3 4 4 5 4 3 5 118
38 R-38 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 3 4 3 109
39 R-39 3 5 3 3 5 5 5 3 5 5 3 5 5 3 3 5 3 3 5 3 4 5 4 3 4 5 5 4 3 4 121
40 R-40 4 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 5 3 3 4 3 5 3 4 3 3 112
41 R-41 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3 3 4 5 4 3 4 5 5 4 3 4 113
42 R-42 4 3 4 4 5 3 5 4 5 5 4 5 5 4 3 3 4 4 5 4 5 3 5 4 4 4 3 4 4 5 124
43 R-43 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 4 3 98
44 R-44 5 4 5 5 4 4 5 5 5 3 5 5 3 5 3 4 5 5 3 5 4 4 3 5 5 4 4 3 3 4 127
45 R-45 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 97
46 R-46 5 5 5 5 3 5 5 5 5 3 5 5 3 5 3 5 5 5 3 5 4 5 3 5 4 5 5 4 3 4 132
47 R-47 4 5 4 4 4 5 2 4 2 4 4 2 4 4 3 5 4 4 4 4 3 5 4 4 4 4 5 4 4 5 118
48 R-48 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 4 3 108
49 R-49 5 4 5 5 4 4 5 5 5 3 5 5 3 5 4 4 5 5 3 5 4 4 3 5 5 4 4 3 3 4 128
50 R-50 3 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 103
51 R-51 4 5 4 4 3 5 5 4 5 3 4 5 3 4 3 5 4 4 3 4 4 5 3 4 4 5 5 4 3 4 122
52 R-52 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4 5 3 5 5 5 4 5 4 5 5 5 4 4 5 4 4 5 140
53 R-53 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 3 3 4 3 111
54 R-54 4 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 4 4 5 5 3 4 3 4 4 5 4 4 4 5 5 4 3 5 130
55 R-55 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 97
56 R-56 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 4 3 5 5 3 3 3 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 115
57 R-57 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 4 5 4 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 5 143
58 R-58 4 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 4 4 5 5 3 4 3 4 4 5 4 4 4 5 5 4 3 5 130
59 R-59 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 4 3 5 5 3 3 3 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 115
60 R-60 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 95
r Hitung 0,8 0,7 0,8 0,8 0,7 0,7 0,6 0,8 0,6 0,4 0,8 0,6 0,4 0,8 0,5 0,7 0,5 0,8 0,4 0,8 0,7 0,7 0,5 0,8 0, 0,4 0,7 0, 0,2 0,8
2 26 2 2 6 3 4 2 4 2 2 4 5 2 2 3 9 2 1 2 3 26 8 2 54 4 3 65 6 40
r tabel 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2
14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14
Valid/Tidak V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V
Valid
Semua perhitungan dilakukan dengan fasilitas yang ada pada Ms. Excel Jumlah variansi dari setiap soal ( no. 1 sd no. 30 )
Hasil perhitungan dengan rumus Korelasi Alfa Cronbach = 0,214 Nilai r tabel untuk df = n - 2 (n= jumlah responden)
DATA INSTRUMEN ANGKET MINAT BELAJAR (X2)
Kode Nomor Butir
Soal
No Responde
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 TAL
n
1 R-01 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127
2 R-02 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 5 3 3 4 5 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 112
3 R-03 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 109
4 R-04 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 131
5 R-05 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127
6 R-06 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 5 3 3 4 5 3 4 5 5 4 3 5 4 4 4 114
7 R-07 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 149
8 R-08 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 131
9 R-09 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 109
10 R-10 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127
11 R-11 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 5 3 3 4 5 4 4 5 3 4 3 5 4 4 4 113
12 R-12 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 149
13 R-13 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 4 4 5 4 4 5 4 132
14 R-14 3 3 3 5 3 3 5 3 3 4 3 5 3 5 3 3 4 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 111
15 R-15 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127
16 R-16 5 5 5 4 5 5 4 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 5 4 5 3 4 5 3 4 5 5 4 4 4 134
17 R-17 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 149
18 R-18 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 4 4 5 4 4 5 4 132
19 R-19 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 109
20 R-20 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127
21 R-21 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 5 4 3 4 5 3 4 5 4 4 3 5 4 4 4 115
22 R-22 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 149
23 R-23 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 131
24 R-24 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 110
25 R-25 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127
26 R-26 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 3 3 3 3 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 109
27 R-27 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 145
28 R-28 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 3 3 5 3 5 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 128
29 R-29 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 110
30 R-30 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 3 4 5 4 3 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 123
31 R-31 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 3 3 3 3 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 108
32 R-32 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 145
33 R-33 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 105
34 R-34 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 3 4 5 3 5 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 129
35 R-35 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 3 4 5 4 3 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 123
36 R-36 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 3 3 3 3 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 109
37 R-37 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 3 5 5 4 3 5 4 4 4 4 3 4 5 5 3 5 4 5 133
38 R-38 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 105
39 R-39 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 110
40 R-40 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 3 4 5 4 3 4 5 5 3 3 5 5 3 3 3 125
41 R-41 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 4 3 3 3 4 3 4 5 4 4 3 5 4 4 4 111
42 R-42 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 3 5 5 5 3 5 2 3 5 5 3 5 5 5 3 5 3 5 133
43 R-43 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 3 4 3 4 112
44 R-44 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 3 3 5 3 5 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 128
45 R-45 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 4 5 4 3 4 3 5 3 5 5 5 5 3 5 137
46 R-46 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 3 3 3 3 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 109
47 R-47 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 3 5 4 4 4 3 5 4 5 5 5 5 4 5 140
48 R-48 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 105
49 R-49 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 3 4 5 3 5 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 129
50 R-50 5 5 5 4 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 4 4 5 4 3 4 3 5 4 4 5 5 4 3 4 132
51 R-51 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 3 3 3 5 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 110
52 R-52 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 4 5 143
53 R-53 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 105
54 R-54 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 3 5 3 4 5 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 113
55 R-55 5 5 5 4 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 5 4 5 3 3 4 3 5 3 4 5 5 4 3 4 131
56 R-56 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 3 4 3 4 5 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 112
57 R-57 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 148
58 R-58 3 4 4 5 4 3 5 4 4 5 4 5 3 5 4 4 5 4 4 5 5 4 3 4 5 4 3 5 3 5 125
59 R-59 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 3 4 3 4 5 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 111
60 R-60 5 5 5 4 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 5 4 5 5 4 4 3 5 3 4 5 5 4 3 4 134
r Hitung 0,81 0,82 0,82 0,31 0,82 0,42 0,31 0,82 0,82 0,78 0,82 0,31 0,42 0,31 0,82 0,5 0,52 0,82 0,25 0,33 0,34 0,22 0,42 0,35 0,31 0,82 0,42 0,31 0,32 0,30
r tabel 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21
Valid/Tidak Valid V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V
Semua perhitungan dilakukan dengan fasilitas yang ada pada Ms. Excel Jumlah variansi dari setiap soal ( no. 1 sd no. 20 )
Hasil perhitungan dengan rumus Korelasi Alfa Cronbach = 0,214 Nilai r tabel untuk df = n - 2 (n= jumlah responden)
DATA INSTRUMEN ANGKET PRESTASI BELAJAR BAHASA
INDONESIA (Y)
Kode Nomor Butir Soal
No Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TOTAL
1 R-01 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
2 R-02 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
3 R-03 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21
4 R-04 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16
5 R-05 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
6 R-06 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
7 R-07 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22
8 R-08 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16
9 R-09 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21
10 R-10 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
11 R-11 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
12 R-12 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22
13 R-13 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16
14 R-14 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21
15 R-15 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
16 R-16 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
17 R-17 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22
18 R-18 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16
19 R-19 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21
20 R-20 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
21 R-21 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
22 R-22 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22
23 R-23 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16
24 R-24 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21
25 R-25 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
26 R-26 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
27 R-27 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22
28 R-28 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16
29 R-29 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21
30 R-30 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
31 R-31 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
32 R-32 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22
33 R-33 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 17
34 R-34 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16
35 R-35 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
36 R-36 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
37 R-37 4 4 4 4 4 4 4 4 3 5 20
38 R-38 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 17
39 R-39 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21
40 R-40 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
41 R-41 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
42 R-42 3 4 3 4 4 4 3 4 4 5 20
43 R-43 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 17
44 R-44 4 4 3 4 5 4 3 3 3 4 17
45 R-45 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
46 R-46 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
47 R-47 3 4 4 4 4 4 4 4 4 5 21
48 R-48 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 17
49 R-49 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16
50 R-50 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 16
51 R-51 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
52 R-52 4 3 5 3 3 3 5 4 4 3 19
53 R-53 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 18
54 R-54 4 5 3 5 4 5 3 4 3 5 20
55 R-55 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 16
56 R-56 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
57 R-57 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22
58 R-58 4 3 4 3 4 3 4 4 3 5 19
59 R-59 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19
60 R-60 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
r Hitung 0,723 0,6943 0,7022 0,6943 0,2274 0,6943 0,7022 0,8965 0,4176 0,8569
r tabel 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214
Valid/Tidak Valid V V V V V V V V V V
REKAP DATA HASIL
PENELITIAN
Nomor Menulis Artikel Motivasi Belajar Budaya Positif
NO
Responden Populer (Y) (X1) (X2)
1 R-01 15 97 127
2 R-02 19 118 112
3 R-03 21 144 109
4 R-04 16 122 131
5 R-05 15 97 127
6 R-06 19 120 114
7 R-07 22 146 149
8 R-08 16 123 131
9 R-09 21 144 109
10 R-10 15 97 127
11 R-11 19 119 113
12 R-12 22 146 149
13 R-13 16 123 132
14 R-14 21 144 111
15 R-15 15 98 127
16 R-16 19 118 134
17 R-17 22 146 149
18 R-18 16 124 132
19 R-19 21 144 109
20 R-20 15 98 127
21 R-21 19 119 115
22 R-22 22 146 149
23 R-23 16 123 131
24 R-24 21 144 110
25 R-25 15 98 127
26 R-26 19 112 109
27 R-27 22 134 145
28 R-28 16 128 128
29 R-29 21 121 110
30 R-30 15 96 123
31 R-31 19 122 108
32 R-32 22 123 145
33 R-33 17 110 105
34 R-34 16 128 129
35 R-35 15 98 123
36 R-36 19 112 109
37 R-37 20 118 133
38 R-38 17 109 105
39 R-39 21 121 110
40 R-40 15 112 125
41 R-41 19 113 111
42 R-42 20 124 133
43 R-43 17 98 112
44 R-44 17 127 128
45 R-45 15 97 137
46 R-46 19 132 109
47 R-47 21 118 140
48 R-48 17 108 105
49 R-49 16 128 129
50 R-50 16 103 132
51 R-51 19 122 110
52 R-52 19 140 143
53 R-53 18 111 105
54 R-54 20 130 113
55 R-55 16 97 131
56 R-56 19 115 112
57 R-57 22 143 148
58 R-58 19 130 125
59 R-59 19 115 111
60 R-60 15 95 134
LAMPIRAN : OUTPUT SPSS
INVENTARISASI KUTIPAN
Nama :
NPM :
Halam an
No. Halaman
Nama Pengarang Buku Bunyi Kutipan Sumber Kutipan
Urut Tesis
1 Nur Irwantoro, M. Pd. 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1 Nur Irwantoro, M. Pd. & Yusuf
2005 tentang guru dan dosen, Pasal 1 ayat 2 Suryana, M. Pd. (2016).
menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional Kompetensi Pedagogik.
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, Surabaya: GentaGroup
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi Production.
peserta didik pada pendidikan anak usiadini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah.
2 Nur Irwantoro, M. Pd.& 1 Peran guru sangat menentukan dalam usaha 1 Nur Irwantoro, M. Pd. & Yusuf
Yusuf Suryana, M. Pd. peningkatan mutu guru formal. Sebagai pendidik Suryana, M. Pd. (2016).
profesional, guru tentu wajib memiliki kompetensi, Kompetensi Pedagogik.
yakni seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan Surabaya: GentaGroup
perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh Production.
guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan(UU RI
No. 14 Tahun 2006, tentang Guru dan Dosen,
pasal 1 ayat 10).
3 Dr. H. Syarif Hidayat 2 Pendidikan adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh 2 Dr. H. Syarif Hidayat (2022).
setiap insan sebagai salah satu modal agar dapat Teori dan
berhasil dan meraih kesuksesan dalam kehidupannya. PrinsipPendidikan. Jakarta:
Pendidikan merupakan usaha sadar manusia dalam Pustaka Mandiri.
menciptakan diri dan masyarakat agar mempertahankan
hidup dalam arus perkembangan zaman. Kebutuhan
insani, baik yang bersifat jasmani maupun rohani.
Hakikat guru ini dapat terwujud
melalui proses pengajaran, pembelajaran dengan
memperhatikan kompetensi- kompetensi pedagogik
berupa profesi, kepribadian dan sosial. Pendidikan
dan menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin,
karakter, pikiran dan tubuh peserta didik yang
dilakukan secara integral tanpa dipisah-pisahkan
antara ranah-ranah tersebut.
4 Sardiman A. M. 125 Sardiman menyatakan bahwa “guru adalah salah satu 7 Sardiman A. M. (2020).
komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, Interaksi dan motivasi
yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber belajar mengajar. Jakarta:
daya manusia yang potensisal di bidang pembangunan”. Rajawali Pers.
5 Roro Kurnia Nofita v Minat belajar adalah kecenderungan atau ketertarikan 10 Roro Kurnia Nofita
Rahmawati, M. Psi. seseorang terhadap suatu materi atau aktivitas Rahmawati, M. Psi. (2024).
pembelajaran. Ini mencakup keinginan, motivasi, dan Minat belajar. Malang : CV.
antusiasme individu untuk terlibat dalam proses Literasi Nusantara Abadi.
belajar dan mengembangkan pemahaman yang lebih
dalam tentang subjek tersebut. Minat belajar
mencerminkan sejauh mana seseorang merasa tertarik,
terlibat, dan terdorong untuk mengeksplorasi dan
memahami suatu
topik atau subjek.
6 Roro Kurnia Nofita 1-2 Minat adalah keinginan atau dorongan untuk mengejat 10 Roro Kurnia Nofita
Rahmawati, M. Psi. potensi diri. Biasanya minat siswa sangat dipengaruhi Rahmawati, M. Psi. (2024).
oleh situasi di sekitarnya atau tren yang sedang berlaku Minat belajar. Malang : CV.
di lingkungan tertentu. Minat yang dimiliki oleh siswa Literasi Nusantara Abadi.
sebenarnya mencerminkan bakat yang mereka miliki.
Semakin dini usia seorang siswa, semakin mudah untuk
mengidentifikasi bakat siswa melalui minatnyakarena
bayangan bakat masi jelas terlihat.
Namun, semakin tumbuh dewasa semakin sulit untuk
mengenali bakat siswa karena minat atau motivasinya
menjadi lebih rutin dan terbiasa. Secara esensial, minat
dan bakat memiliki peran yang sama dalam membantu
mengidentifikasi tujuan dan misi dalam hidup. Minat
menunjukan dinamika khusus siswa yang
mengindikasikan keterlibatan dalam tren yang ada
disekitar lingkungan siswa. (Novianti, 2014 : 12-16)
7 Roro Kurnia Nofita 2 Menurut Sukardi, minat adalah ketertarikan, 11 Roro Kurnia Nofita
Rahmawati, M. Psi. kegemaran, atau kesenangan seseorang terhadap suatu Rahmawati, M. Psi. (2024).
hal. Sementara menurut Sadirman, minat adalah kondisi Minat belajar. Malang : CV.
yang muncul saat seseorang melihat ciri-ciri atau makna Literasi Nusantara Abadi.
suatu situasi yang berkaitan dengan keinginan atau
kebutuhan pribadi. Oleh karena itu, apapun yang dilihat
seseorang akan membangkitkan minatnya jika hal
tersebut relevan dengan kepentingannya sendiri. Ini
menunjukan bahwa minatadalah kecenderungan batin
seseorang terhadap objektertentu yang sering kali
disertai dengan perasaan
senang karena ada kaitan dengan kepentingan pribadi.
8 Roro Kurnia Nofita 1-3 Menurut Sutrisno (2020:10) menyatakan bahwa “minat 13 Roro Kurnia Nofita
Rahmawati, M. Psi. adalah sebagai sebab, yaitu kekuatan pendorong yang Rahmawati, M. Psi. (2024).
memaksa seseorang menaruh perhatian pada orang Minat belajar. Malang : CV.
situasi atau aktifitas tertentu danbukan pada yang lain, Literasi Nusantara Abadi.
atau minat sebagai akibat”.
Menurut Rahmat (2018:161) menyatakn bahwa “minat
adalah suatu keadaan ketika seseorang menaruh
perhatian pada sesuatu, yang disertai dengan keinginan
untuk mengetahui, memiliki, mempelajari, dan
membuktikan”. Dan menurut Supatminingsih, dkk
(2020:89) menyatakan bahwa : minat mempengaruhi
proses dan hasil belajar anak didik.
9 Oemar Humalik 52 Belajar adalah modifikasi untuk memperkuat tingkah 16 Oemar Humalik. (2003).
laku melalui pengalaman dan latihan serta suatu proses Proses belajar
perubahan tingkah laku individu melalui interaksi mengajar. Jakarta: Bumi
dengan lingkungannya. Perubahan itu bersifat secara Aksara.
relatif konsten dan berbekas.
10 Nasution, S. 78 Belajar adalah sebagian perubahan kelakuan, 16-17 Nasution, S. (2001).
pengalaman dan latihan. Jadi belajar membawa Kurikulum dan pengajaran.
suatu perubahan pada dari individu yang belajar. Jakarta: Bumi Aksara.
11 Risnanosanti dkk 7-8 Belajar merupakan hasil pasangan stimulus dan 17 Risnanosanti. (2002).
respons, kemudian diadakan penguatan kembali Pengembangan minat
(reinforcement) yang dilakukan terus menerus. dan bakat belajar siswa.
Reinforcement ini dimaksudkan untuk menguatkan Malang: CV
tingkah laku yang diinternalisasikan dalam proses Literasi Nusantara
belajar. Proses belajar setiap orang akan Abadi.
menghasilkan hasil belajar yang berbeda-beda. Oleh
karena itu, perlunya reinforcement secara terus
menerus sampai mengalami perubahan tingkah laku
kearah yang lebih baik.
12 Mustaqin 60 Belajar adalah usaha untuk membentuk hubungan 17 Drs. H. Mustaqim . (2008).
antara perangsang dan reaksi perubahan itu tidak hanya Psikologi Pendidikan.
mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, Yogyakarta: PustakaPelajar.
melainkan juga membentuk kecakapan, kebiasaan,
sikap, pengertian, minat, penyesuaian diri. Dalam
halini meliputi segala aspek organisasi atau pribadi
individu yang belajar.
13 Nasution dalam buku 57 Menurut Nasution ada beberapa jenis belajar yang 18 Nasution. (2000).
didaktik asas-asas berhubungan dengan hal yang harus di pelajari Didaktif asas-asas
mengajar antara lain: mengajar.
(a). Belajar berdasarkan pengamatan(b). Jakarta: Bumi Aksara.
Belajar berdasarkan gerak
(c). Belajar berdasarkan menghafal (d).Belajar
berdasarkan pemecahan masalah(e). Belajar
berdasarkan emosi
14 Abu dan Supriyono 42 Prinsip-prinsip belajar itu antara lain:(a). Perhatian 19-20 H. Abu Ahmadi,
dan motivasi Supriyono. (2004).
(b). Keaktifan Psikologi Belajar. Jakarta:
(c). Keterlibatan langsung dan pengalaman Rineka Cipta.
15 Kusumaningsih 19 Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah 20 Syaiful Bahri Djamarah.
dikerjakan, diciptakan baik secara individu (1994). Prestasi Belajar
maupun secara kelompok. dan Kompetensi Guru.
Surabaya: Usaha Nasional.
16 Iif Khoiru 9 Fungsi Bahasa Indonesia sebagai guru yaitu membekali 23 Prof. Dr. Mahsun, M.S.
peserta didik dengan pengetahuan sosial yang berguba (2013). Teks dalam
untuk masa depannya, keterampilan sosial dan pembelajaran Bahasa
inteletual dalam membina perhatian serta kepedulian Indonesia . Jakarta :
sosialnya sebagai sumber daya manusia (SDM) yang Rajawali.
bertanggungjawab dalam merealisasikantujuan guru
nasional.
17 Depdiknas, 2004: 5). 5 Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah jenjang SMP 24 Tim Pusat Bahasa
/ MTs merupakan salah satu pelajaran yang diwajibkan. Departemen Pendidikan
Hal ini dikarenakan pembelajaran BahasaIndonesia Nasional. (2004). Kamus
mempunyai fungsi untuk mempersiapkan peserta didik Besar Bahasa Indonesia .
agar menguasai kompetensi untuk mampu Jakarta: Balai Pustaka.
merefleksikan pengalamannya sendiri dan pengalaman
orang lain, mengungkapkan gagasan danperasaan, dan
memahami beragam nuansa makna
dalam bahasa yang diajarkan.
18 Djamarah 20-21 Prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, 28 Djamarah. (2011).
hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang Psikologi belajar. Jakarta:
diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Rineka Cipta.
19 Muhibbin Syah 141 Prestasi adalah tingkat keberhasilan siswa dalam 28 Muhibbin Syah. (2009).
mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam Psikologi Belajar. Jakarta:
sebuah program. Rajawali Pers.
20 Muhibbin Syah 63 Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan 28 Muhibbin Syah. (2009).
unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan Psikologi Belajar. Jakarta:
setiap jenis dan jenjang guruan. Rajawali Pers.
21 Slameto 2 Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan 28-29 Slameto. (2008). Belajar dan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan faktor-faktor yang
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai mempengaruhinya. Jakarta:
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan Rineka Cipta.
lingkungan.
22 Humalik 106 Belajar merupakan suatu proses, dan bukan hasil 29 Oemar Humalik. (2008).
yang hendak dicapai semata. Proses itu sendiri Proses belajar
berlangsung melalui serangkaian pengalaman, mengajar. Jakarta: Bumi
sehingga terjadi modifikasi pada tingkah laku yang Aksara.
telah dimilikinya
sebelumnya.
23 Dirman & Cici Juarsih 23 Ada lima hasil belajar, yakni 30 Dirman & Cici Juarsih.
(a) informasi verbal, (b) keterampilan verbal, (2005). Seri Peningkatan
(c)strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) ketrampilan Kompetensi dan Kinerja
motoris. Guru: Teori Belajar dan
Prinsip-Prinsip Pembelajar
yang Mendidik. Jakarta:
Rineka Cipta.
24 Hamalik, Oemar. 23 Persepsi merupakan tahap paling awal dari serangkaian 31 Hamalik, Oemar. (2005).
pemprosesan informasi. Persepsi adalah suatu proses Perencanaan pengajaran
penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang berdasarkan pendekatan
disimpan dalam ingatan) untuk mendeteksi atau sistem. Jakarta: PT Bumi
memperoleh dan interpretasi stimulus(rangsangan) yang Aksara.
diterima oleh kepala indera manusia”.
25 Rakhmat 51 Faktor yang mempengaruhi persepsi adalah faktor 32 Rakhmat. (1999).
fungsional (yaitu faktor-faktor yang berasal dari Psikologi komunikasi.
kebutuhan, pengalaman masa lalu dan lain-lain dalam Bandung: Simbiosa
faktor personal) dan struktural (yaitu faktor stimlus dan Rekatama Media.
kondisi dalam diri individu/sistem persyarafan)”.
27 Tim Pusat Bahasa 16 Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 35 Tim Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan (Permendiknas) Republik Indonesia Nomor 16 Departemen Pendidikan
Nasional Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik Nasional. (2010). Kamus
dan Kompetensi Guru, yakni dijelaskan bahwa Besar Bahasa Indonesia .
standar kompetensi dikembangkan secara utuh dari 4 Jakarta: Balai Pustaka.
kompetensi utama, yaitu : (a) komptensi pedagogik,
(b) kompetensi kepribadian, (c) kompetensi sosial, (d)
komptensi professional (Munadi, 2010).
28 Muhajir Abd. Rahman 88 Kompetensi pedagodik adalah “kemampuan dalam 35-36 Muhajir Abd. Rahman.
pengelolaan peserta didik yang meliputi (1) pemahaman (2006). Kompetensi
wawan atau landasan keguruan; (2) pemahaman tentang Pedagogik Dan Profesional
peserta didik; (3) pengembangan kurikulum atau Guru. Sleman: CV Budi
silabus; (4) perencanaan pembelajaran; Utama.
(5) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan
dialogis; (6) evaluasi hasil belajar; dan (7)
pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimiliki.
29 Nur Irwantoro, M. Pd., 1 Sebagai pendidik profesional, guru tentu wajib 39-40 Nur Irwantoro, M. Pd., Yusuf
Yusuf Suryana, M. Pd. memiliki kompetensi, yakni seperangkat Suryana, M. Pd. (2006).
pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus Kompetensi pedagogik.
dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam Surabaya: GentaGroup
melaksanakan tugas keprofesionalan (UU RI No. 14 Production.
Tahun2006, tentang guru dan Dosen, Pasal 1 ayat 10).
30 [Link] 18 Gardner (200:18) menyatakan, “kita membutuhkan 41 [Link]
2021/12/07/1372/ guru yang benar-benar berakar pada dua hal yang 1/12/07/1372/
kelihatannya kontras namun sesungguhnya saling
melengkapi; apa yang diketahui tentang kondisi
kemanusiaan, dalam aspek-aspek yang bersifat abadi;
dan apa yang diketahui tentang tekanan, tantangan dan
peluang pada kondisi saat ini (dan masa depan). Tanpa
dua hal ini, kita akan mengalami guru yang mati,
parsial, naïf, dan tidak memuaskan.”
31 Trygu 5 Menurut Trygu (2021:5) menyatakan bahwa “minat 49 Trygu. (2021).
merupakan suatu hal yang harus dimiliki oleh seseorang Menggagas konsep minat
sebelum mereka melakukan segala [Link] itu belajar matematika.
para guru, siswa, maupun yang lainnya. Indonesia : Guepedia.
Dengan minat, seseorang yang melakukan sesuatu akan
lebih fokus karena memberikan perhatian, sertamerasa
lebih bersemangat dalam melakukan hal tersebut”.
32 Roro Kurnia Nofita 2 minat adalah ketertarikan, kegemaran, atau kesenangan 49-50 Roro Kurnia Nofita
Rahmawati, M. Psi. seseorang terhadap suatu hal. Rahmawati, M. Psi. (2024).
Minat belajar. Malang : CV.
Literasi Nusantara Abadi.
33 Slameto 180 Menurut Slameto (1995:180) mengartikan minat 50 Slameto. (1995). Belajar dan
sebagai rasa kesukaan dan rasa ketertarikan terhadap faktor-faktor yang
sesuatu atau kegiatan tertentu, tanpa ada permintaandari mempengaruhinya. Jakarta:
siapa pun. Rineka Cipta.
34 Dr. Akrim, S. Pd., [Link]. 18 Menurut Suparman 2021: 18 mendefinisikan 50 Dr. Akrim, S. Pd., M. Pd.
minat belajar sebagai kombinasi dari bagaimana (2021). Strategi peningkatan
seorang menyerap, kemampuan mengatur dan daya minat belajar siswa.
mengolah informasi dalam belajar. Yogyakarta:Pustaka Ilmu.
35 Risnanosanti dkk 11 Minat belajar seseorang tidaklah selalu stabil, 52 Risnanosanti. (2021).
melainkan selalu berubah. Oleh karena itu perlu Pengembangan minat
diarahkan dan dikembangkan kepada sesuatu dan bakat belajar siswa.
pilihan yang telah ditentukan melalui faktor yang Malang: CV
mempengaruhi minat itu. Literasi Nusantara
Abadi.
36 Sugiyono 6 Menurut Sugiyono (2008:6) metode penelitian 65 Sugiyono. (2008). Metode
pendidikan dapat diartikan sebagai cara ilmiah penelitian pendidikan.
untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan Bandung: Alfabeta
dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan,
suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya
dapat digunakan untuk memahami, memecahkan,
dan mengantisipasi masalah dalam bidang
pendidikan.
37 Sudjana dalamArikunto 367 Menurut Sudjana (2010:367): “dalam analisa 65 Suharsimi, Arikunto. (2010).
korelasional, hal utama yang dianalisa adalah Prosedur PenelitianSuatu
koefisien korealsi, yaitu bilangan yang menunjukkan Pendekatan Praktik. Jakarta:
derajat hubungan antara dua variabel yang mempunyai Rineka Cipta.
hubungan sebab akibat dan saling mengadakan
perubahan”.
38 Sugiyono 118 (Sugiono, 2010:118). Sampel dalam penelitian 67 Sugiyono. (2010).
kuantitatif merupakan subyek penelitian yang dianggap Metode penelitian
mewakili populasi, dan biasanya disebutresponden pendidikan.
penelitian. Sampel dianggap sebagai perwakilan dari Bandung: Alfabeta
populasi yang hasilnya mewakili keseluruhan gejala
yang diamati. Ukuran dan keragaman sampel menjadi
penentu baik tidaknya
sampel yang diambil.
39 Arikunto 134 Menurut Arikunto, (2006:134), pengertian sampel 67 Suharsimi, Arikunto.
adalah wakil dari populasi yang akan diteliti yang (2010). Prosedur Penelitian
dimaksudkan untuk menggeneralisasikan hasil Suatu Pendekatan Praktik.
penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.