0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan152 halaman

Peningkatan Kualitas Guru di Indonesia

hhhh

Diunggah oleh

Wahyu Ramdhani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan152 halaman

Peningkatan Kualitas Guru di Indonesia

hhhh

Diunggah oleh

Wahyu Ramdhani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain di dunia baik

dari segi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun pembangunan

lainnya, bangsa Indonesia sangat membutuhkan tenaga-tenaga kreatif dan

inovatif khususnya tenaga guru yang mampu memberikan sumbangan

bermakna kepada negaranya, serta kepada kesejahteraan bangsa pada

umumnya. Untuk menciptakan tenaga-tenaga yang kreatif dan inovatif, dapat

dilakukan melalui salah satunya guru yang berkualitas yang dapat

menciptakan insan-insan yang handal.

Dalam proses peningkatan mutu guru, kualitas dan kompetensi guru

merupakan salah satu syarat mutlak. Posisi dan peranan guru sebagai

penggerak dalam guru (proses belajar mengajar) mempunyai pengaruh kuat

terhadap keberhasilan peserta didik. Dapat dikatakan bahwa peningkatan

kualitas guru tidak bisa dipisahkan dari peningkatan kompetensi guru itu

sendiri dalam mengajar.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang

guru dan dosen, Pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa guru adalah pendidik

profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,

mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada

pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan

pendidikan menengah.

1
2

Menurut Syarif Hidayat (2013:1):

Pendidikan adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap


insan sebagai salah satu modal agar dapat berhasil dan meraih
kesuksesan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha
sadar manusia dalam menciptakan diri dan masyarakat agar
mempertahankan hidup dalam arus perkembangan zaman.
Kebutuhan insani, baik yang bersifat jasmani maupun rohani.
Hakikat guru ini dapat terwujud melalui proses pengajaran,
pembelajaran dengan memperhatikan kompetensi-
kompetensipedagogik berupa profesi, kepribadian dan sosial.
Pendidikan dan menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin,
karakter, pikiran dan tubuh peserta didik yang dilakukan secara
integral tanpa dipisah-pisahkan antararanah-ranah tersebut.

Peran guru sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu guru

formal. Sebagai pendidik profesional, guru tentu wajib memiliki kompetensi,

yakni seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus

dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas

keprofesionalan (UU RI No. 14 Tahun 2006, tentang Guru dan Dosen, pasal 1

ayat 10). Untuk itu guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu

menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam

kerangka pembangunan guru. Guru mempunyai fungsi dan peran yang sangat

strategis dalam pembangunan bidang guru. Setiap guru perlu memiliki

kemampuan memantau atas hasil belajar peserta didiknya dalam halini mata

pelajaran Bahasa Indonesia sebagai bagian dari kompetensi guru dengan

menggunakan berbagai teknik.

Prestasi belajar Bahasa Indonesia yang diharapkan dimiliki oleh peserta

didiknya yaitu peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan, nilai dan

sikap serta keterampilan sosialnya untuk dapat menelaah kehidupan sosial


3

yang dihadapi sehari-hari serta menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap

perkembangan masyarakat Indonesia dari masa lalu sampai masa kini.

Pembelajaran Bahasa Indonesia adalah proses penting dalam

membentuk komunikasi yang efektif, pemahaman budaya, dan

pengembangan kemampuan berpikir kritis. Sebagai bahasa resmi

negaraIndonesia, Bahasa Indonesia memegang peranan utama dalam

kehidupan sosial, budaya, dan politik. Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak

hanya berkaitan dengan penguasaan tata bahasa dan kosakata, tetapi juga

mencakup pemahaman mendalam tentang konteks sosial, sejarah, dan

kebudayaan yangmelekat pada bahasa tersebut. Dalam era globalisasi ini,

pembelajaran BahasaIndonesia tidak hanya relevan bagi masyarakat

Indonesia sendiri, tetapi juga bagi mereka yang tertarik memahami dan

berinteraksi dengan budaya Indonesia. Proses pembelajaran ini melibatkan

berbagai metode dan pendekatan, termasuk pengajaran langsung, penggunaan

media digital, interaksi antarbudaya, dan pengalaman praktis dalam

berkomunikasi. Pentingnya pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya

tercermin dalam kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, tetapi juga

dalam meningkatkan pemahaman tentang pluralitas budaya, sejarah, dan

identitas nasional.

Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia, individu dapat

mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan beragam lapisan

masyarakat, memperdalam pemahaman tentang keberagaman budaya, dan

memperluas wawasan tentang peran bahasa dalam membangun hubungan


4

antar manusia. Dalam konteks pendidikan, pembelajaran Bahasa Indonesia

juga berperan dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, analitis, dan

reflektif. Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya mengajarkan

keterampilan berbicara dan menulis, tetapi juga melibatkan interpretasi teks,

analisis struktur bahasa, dan penafsiran makna dalam konteks budaya yang

luas.

Bahasa Indonesia, yang mencakup di dalamnya pelajaran menyimak,

membaca dan menulis, merupakan mata pelajaran yang secara umum

mengkaji kehidupan masyarakat dalam sebuah lingkungan. Pemahaman

terhadap kehidupan tidak bisa dipahami secara terpisah-pisah. Berbagai aspek

kehidupan seperti ekonomi, sosial dan kebudayaan memiliki hubungan yang

sangat erat. Fenomena kehidupan yang timbul merupakan integrasi dariaspek-

aspek kehidupan tersebut. Dengan demikian, pembelajaran BahasaIndonesia

merupakan bagian integral dari pendidikan yang holistik dan berkelanjutan,

yang bertujuan untuk membentuk individu yang kompeten secara linguistik,

kultural, dan sosial.

Pengamatan peneliti kendala yang dihadapi peserta didik Sekolah

Menengah Pertama (SMP) dalam mempelajari Bahasa Indonesia adalah pada

saat proses belajar mengajar. Kondisi di lapangan saat ini menunjukkan

bahwa masih dilatarbelakangi cara pendekatan konvensional yang tidak

efektif dan menimbulkan kejenuhan siswa dalam kelas serta pendekatan

keterampilan proses dengan pembelajaran teoritis.

Upaya untuk mengatasi masalah guru dengan kondisi di lapangan saat


5

ini seperti tersebut di atas, sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah

(Depdiknas) dengan berbagai pembaharuan, antara lain dengan pelatihan dan

peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan

sarana dan prasarana, serta meningkatkan sistem manajemen sekolah, agar

guru selanjutnya berorientasi lokal, berwawasan nasional dan global.

Dari semua upaya meningkatkan kualitas guru tersebut, menunjukkan

bahwa guru merupakan faktor penting dan sekaligus ujung tombak

pencapaian misi pembaharuan keguru, mereka berada di titik sentral untuk

mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar

untuk mencapai tujuan dan misi guru nasional yang dimaksud. Oleh

karenanya guru dituntut untuk lebih profesional, inovatif, perspektif, dan

proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

Sebagai tenaga profesi, guru memiliki tugas yang begitu kompleks,

yaitu tugas profesi, tugas kemanusiaan, tugas kemasyarakatan. Tugas profesi

yaitu mendidik, mengajar dan melatih. Tugas kemanusiaan diantaranya

menjadi orang tua, sebagai partner yang baik, sebagai tempat memecahkan

masalah bagi peserta didik. Sedangkan tugas kemasyarakatan profesi guru

diantaranya adalah mendidik dan mengajar masyarakat agar menjadi warga

negara yang baik.

Di lembaga guru formal seperti sekolah, guru berperan sebagai

pemimpin kegiatan kerja yang berkaitan dengan proses belajar mengajar

dimana ia harus merencanakan, melaksanakan, mengorganisasi dan

mengawasi kegiatan proses belajar mengajar, guru harus dapat memilih dan
6

menetapkan metode mengajar yang tepat sesuai dengan lingkungan

dankondisi yang ada pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Bantuan dan bimbingan guru baik secara individual maupun kelompok

kepada peserta didiknya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar

merupakan bagian terpenting dari tugas guru sebagai pemimpin. Hal

demikian karena pada hakikatnya mengajar adalah membimbing kegiatan

peserta didik yang sesuai dengan pernyataan “teaching is guidance of

learning activities”.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28, disebutkan

bahwa guru adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis

kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, professional dan

sosial. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran

peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan

dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan

peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi kepribadian adalah kepribadian guru yang mantap, stabil,

dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak

mulia. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru berkomunikasi dan

berinteraksi secara efektif dengan peserta didik, sesama guru, tenaga

keguruan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat. Kompetensi

professional adalah kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran

secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta

didik memperoleh kompetensi yang ditetapkan.


7

Sardiman A. M. (2008:125) menyatakan bahwa “guru adalah salah satu

komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan

dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensisal di bidang

pembangunan”. Oleh karena itu guru sebagai sumber daya manusia yang

memiliki peran sangat strategis dan menentukan keberhasilan program guru.

Pendidik sebagai human faktor merupakan unsur penting yang sangat

dekat hubungannya dengan anak didik dalam pelaksanaan guru dan interaksi

sehari- hari disekolah.

Profesi guru membutuhkan kemampuan khusus seperti penguasaan

ilmu, seni dan keterampilan. Ilmu pengetahuan tentang dasar-dasar keguru

dan materi bidang studi sangat perlu dikuasai oleh guru agar ia dapat

melaksanakan tugasnya dengan baik, dengan demikian ia akan menjadi guru

yang professional.

Dari berbagai faktor yang dapat kerhasilan guru adalah guru dan peserta

didik sebagai pelakunya. Dari sisi guru, artinya adanya kemampuan dan

professionalitas yang sangat dibutuhkan guna mentransfer pengetahuan.

Sedangkan dari sisi peserta didik dibutuhkannya kemauan dan kegigihan

dalam melakukan aktivitas belajar. Pendidik yang professional akan

menciptakan persepsi positif peserta didiknya. Sedangkan peserta didik yang

memiliki persepsi positif terhadap gurunya akan cenderung taat dan patuh

terhadap gurunya. Sehingga siswa tersebut dengan senang hati akan

melakukan aktivitas belajarnya dengan gigih dan sungguh-sungguh.


8

Belajar pada dasarnya merupakan proses perubahan secara positif

menuju kedewasaan. Adanya proses belajar, menyebabkan manusia

senantiasa dapat mengembangkan dirinya serta mengaktualisasikan segala

kemampuan yang dimilikinya. Baik yang diperoleh melalui lingkungan guru

yang terdapat dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Sebagaimana diketahui, kegiatan belajar merupakan kegiatan pertama

dalam keseluruhan proses guru. Hal ini berarti berhasil tidaknyapencapaian

tujuan guru banyak ditentukan oleh bagaimana proses belajar yang dialami

peserta didik. Belajar merupakan proses perubahan dalam tingkah laku

seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi

kebutuhan hidupnya, yang perubahan-perubahan tersebut akan dinyatakan

dalam seluruh aspek tingkah laku. Kegiatan belajar terjadi jika pengalaman

mengakibatkan perubahan yang relatif permanen pada tingkah laku serta

pengetahuan seseorang. Seseorang dinyatakan telah memiliki pengalaman

belajar apabila adanya perubahan tingkah laku sebagai akibat dari hasil proses

pembelajaran.

Hakekatnya kegiatan pembelajaran bertujuan menghasilkan perubahan-

perubahan yang bersifat positif sehingga seseorang dapat menuju

kedewasaan. Perubahan positif tersebut menunjukkan adanya hasil positif,

yaitu hasil belajar yang menjadi inti dari proses pembelajaran. Dengan kata

lain hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan belajar uang ditujukkan

seseorang setelah mendapatkan bimbingan dan latihan yang diberikan oleh


9

guru sebagai fasilitatornya.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru memiliki peran krusial

dalam membimbing siswa melalui pemahaman tata bahasa, pengembangan

kosa kata, dan penerapan prinsip-prinsip komunikasi yang efektif. Selain itu,

guru juga berperan sebagai fasilitator dalam menciptakan lingkungan belajar

yang menyenangkan dan mendukung, di mana siswa merasa nyaman untuk

berekspresi dan belajar dari pengalaman bersama.

Sementara itu, siswa memainkan peran aktif dalam proses pembelajaran

dengan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dalam Bahasa

Indonesia. Mereka diajak untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan

pembelajaran yang menantang, seperti permainan peran, diskusi kelompok,

presentasi, dan proyek kolaboratif, yang semuanya bertujuan untuk

meningkatkan kemampuan komunikasi mereka dalam Bahasa Indonesia.

Proses pembelajaran Bahasa Indonesia juga melibatkan penggunaan

teknologi dan sumber daya digital sebagai sarana untuk memperkaya

pengalaman belajar siswa. Dengan memanfaatkan platform daring, aplikasi

pembelajaran, dan sumber daya multimedia lainnya, siswa dapat mengakses

beragam materi pembelajaran, berlatih keterampilan bahasa, dan berinteraksi

dengan konten yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Pentingnya proses pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya terletak

pada penguasaan struktur dan konvensi bahasa, tetapi juga dalam

pengembangan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, menganalisis teks,

dan memahami konteks budaya yang melekat pada bahasa tersebut. Melalui
10

proses pembelajaran yang holistik dan berbasis pengalaman, siswa dapat

memperoleh pemahaman yang mendalam tentang Bahasa Indonesia serta

mengembangkan keterampilan yang relevan dan bermanfaat dalam kehidupan

mereka. Dalam proses pembelajarannya, prestasi belajar yang dicapai

dipengaruhi oleh faktor lain, baik yang terdapat dalam dirinya ataupundari

luar dirinya. Faktor dari dalam yang mempengaruhi hasil belajarnya adalah

tingkat IQ, besarnya minat, motivasi, bakat atau kepribadian yang

terdapat dalam setiap individu-individu tersebut. Sedangkan faktor dari luar

yang mempengaruhinya dapat disebabkan dari lingkungannya, sarana dan

prasarana yang ada, termasuk sistem dan proses belajar dalam

kegiatanpembelajarannya. Minat adalah keinginan atau dorongan untuk

mengejat potensi diri.

Biasanya minat siswa sangat dipengaruhi oleh situasi di sekitarnya atau

tren yang sedang berlaku di lingkungan tertentu. Minat yang dimiliki oleh

siswa sebenarnya mencerminkan bakat yang mereka miliki. Semakin dini

usia seorang siswa, semakin mudah untuk mengidentifikasi bakat siswa

melalui minatnyakarena bayangan bakat masi jelas terlihat. Namun, semakin

tumbuh dewasa semakin sulit untuk mengenali bakat siswa karena minat atau

motivasinya menjadi lebih rutin dan terbiasa. Secara esensial, minat dan bakat

memiliki peran yang sama dalam membantu mengidentifikasi tujuan dan misi

dalam hidup. Minat menunjukan dinamika khusus siswa yang

mengindikasikan keterlibatan dalam tren yang ada disekitar lingkungan

siswa. (Novianti, 2014 : 12-16)


11

Menurut Sukardi, minat adalah ketertarikan, kegemaran, atau

kesenangan seseorang terhadap suatu hal. Sementara menurut Sadirman,

minat adalah kondisi yang muncul saat seseorang melihat ciri-ciri atau makna

suatu situasi yang berkaitan dengan keinginan atau kebutuhan pribadi. Oleh

karena itu, apapun yang dilihat seseorang akan membangkitkan minatnya jika

hal tersebut relevan dengan kepentingannya sendiri. Ini menunjukan bahwa

minat adalah kecenderungan batin seseorang terhadap objek tertentu yang

sering kali disertai dengan perasaan senang karena ada kaitan dengan

kepentingan pribadi.

Minat belajar adalah kecenderungan atau ketertarikan seseorang

terhadap suatu materi atau aktivitas pembelajaran. Ini mencakup keinginan,

motivasi, dan antusiasme individu untuk terlibat dalam proses belajar dan

mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang subjek [Link]

belajar mencerminkan sejauh mana seseorang merasa tertarik, terlibat, dan

terdorong untuk mengeksplorasi dan memahami suatu topik atau subjek.

Seseorang yang memiliki minat belajar yang tinggi cenderung lebih

termotivasi untuk mencari informasi, berpartisipasi aktif dalam diskusi, dan

melakukan upaya tambahan untuk memahami materi. Sebaliknya, individu

dengan minat belajar yang rendah mungkin merasa enggan atau kurang

termotivasi untuk terlibat dalam proses pembelajaran

Minat belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengalaman

sebelumnya, kebutuhan dan minat pribadi, lingkungan belajar, serta cara

materi disajikan. Membangun minat belajar yang kuat membutuhkan


12

pendekatan pembelajaran yang relevan, menarik, dan sesuai

dengankebutuhan individu. Dalam konteks pendidikan, memahami minat

belajar siswa merupakan langkah penting bagi pendidik untuk merancang

strategi pembelajaran yang efektif dan memotivasi. Dengan mengakomodasi

minat belajar siswa, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang

lebih menyenangkan, menantang, dan memuaskan, yang pada gilirannya

dapat meningkatkan prestasi akademik dan motivasi intrinsik siswa.

Minat belajar merupakan faktor penting yang memengaruhi proses

pembelajaran seseorang. Konsep minat belajar mencakup ketertarikan,

motivasi, dan keinginan seseorang untuk terlibat dalam aktivitas

pembelajaran. Dalam konteks pendidikan, minat belajar menjadi faktor

yangmempengaruhi seberapa efektif seseorang dalam menyerap pengetahuan

dan keterampilan baru.

Pentingnya minat belajar dalam konteks pendidikan menunjukkan

bahwa para pendidik perlu memperhatikan cara untuk membangkitkan dan

memelihara minat belajar siswa. Pendekatan pembelajaran yang menarik,

relevan, dan memperhatikan kebutuhan serta minat individual siswa dapat

membantu meningkatkan tingkat partisipasi dan pencapaian akademik

mereka. Dalam era di mana akses terhadap informasi sangat luas, memahami

dan memanfaatkan minat belajar menjadi semakin penting.

Dengan memahami minat belajar siswa, pendidik

dapatmengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan

menyajikan materi secara menarik dan relevan bagi siswa mereka. Oleh
13

karena itu, pemahaman yang mendalam tentang minat belajar menjadi kunci

untukmenciptakan lingkungan pembelajaran yang memadai dan membangun

motivasi intrinsik yang kuat pada setiap individu.

Menurut Sutrisno (2020:10) menyatakan bahwa “minat adalah sebagai

sebab, yaitu kekuatan pendorong yang memaksa seseorang menaruh

perhatian pada orang situasi atau aktifitas tertentu dan bukan pada yang lain,

atau minat sebagai akibat”. Menurut Rahmat (2018:161) menyatakn bahwa

“minat adalah suatu keadaan ketika seseorang menaruh perhatian


pada sesuatu, yang disertai dengan keinginan untuk mengetahui,
memiliki, mempelajari, dan membuktikan”. Dan menurut
Supatminingsih, dkk (2020:89) menyatakan bahwa : minat
mempengaruhi proses dan hasil belajaranak didik.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri minat adalah

kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang

dipelajari secara terus menerus, minat tumbuh bersamaan dengan fisik dan

mental. Memperoleh kebanggan dan kepuasan terhadap hal yang diminati,

berpartisipasi pada pembelajaran, dan minat belajar di pengaruhi oleh budaya.

Ketika siswa ada minat dalam belajar maka siswa akan senantiasa aktif

berpartisipasi dalam pembelajaran dan mempengaruhi nilai hasil belajar yang

baik.

Memperhatikan fakta dilapangan, sebagian siswa SMP Negeri dan

Swasta pada umumnya masih memiliki persepsi kurang baik terhadap guru

Bahasa Indonesia. Hal ini kemungkinan terjadi kurangnya interaksi kondusif

dan menyenangkan antara guru dengan peserta didik sehingga berdampak

pada terciptanya persepsi negatif pada mata pelajaran Bahasa Indonesia


14

termasuk kepada gurunya. Disisi lain lain minat belajar belum tercipta dengan

baik. sehingga kurang mendukung terjadinya proses pembelajaran yang

kondusif. Atas dasar pemikiran tersebut penulis merasa tertarik untuk

melakukan penelitian tentang “Pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik

guru dan minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia”.

Dalam minat belajar Bahasa Indonesia yang ideal, terdapat atmosfer

yang ramah dan inklusif di mana siswa merasa dihargai dan didukung untuk

berekspresi serta mengembangkan kemampuan bahasa mereka.

Minat belajar Bahasa Indonesia juga memfasilitasi kolaborasi dan

interaksi antar siswa, baik dalam bentuk diskusi kelompok, proyek

kolaboratif, atau kegiatan berbasis permainan yang merangsang interaksi

sosial dan pemecahan masalah. Melalui interaksi ini, siswa memiliki

kesempatan untuk mengasah kemampuan berkomunikasi mereka dalam

Bahasa Indonesia dan belajar dari pengalaman dan sudut pandang orang lain.

Dengan demikian, minat belajar Bahasa Indonesia bukan hanya

tempatdi mana pengetahuan tentang bahasa dipindahkan dari guru ke siswa,

tetapi juga merupakan arena di mana siswa dapat aktif terlibat dalam proses

pembelajaran, bereksplorasi dengan beragam sumber daya, dan

mengembangkan kemampuan bahasa mereka dalam konteks yang relevan dan

bermakna. Lingkungan belajar yang efektif dalam pembelajaran Bahasa

Indonesia memungkinkan siswa untuk mencapai potensi maksimal mereka

dalam memahami, menggunakan, dan menghargai keindahan serta

kompleksitas bahasa dan budaya Indonesia .


15

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan dapat diidentifikasi

sebagai berikut.

1. Rendahnya minat belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa indonesia.

2. Adanya pengaruh persepsi siswa terhadap kompetensi pedagogik guru.

3. Adanya pengaruh cara mengajar yang efektif terhadap prestasi belajar

siswa yang optimal.

4. Adanaya pengaruh persepsi siswa berdasarkan pengalaman belajar dalam

pelajaran bahasa indonesia.

5. Suasana pembelajaran yang kondusif dapat memengaruhi prestasi belajar

bahasa indonesia

6. Cara mengajar guru berpengaruh terhadap prestasi belajar Bahasa

Indonesia siswa.

7. Adanya faktor internal siswa yang mempengaruhi minat belajar bahasa

indonesia.

8. Kompetensi pedagogik guru mempengaruhi prestasi belajar Bahasa

Indonesia.

9. Pendidikan guru yang memadai dapat mempengaruhi prestasi belajar

Siswa.

10. Metode pembelajaran yang digunakan guru dapat mempengaruhi minat

belajar dan hasil belajar siswa dalam pelajarn bahasa indonesia

C. Batasan Masalah

Mengingat luasnya masalah, maka penelitian ini dibatasi pada hal-hal


16

sebagai berikut.

1. Persepsi tentang kompetensi guru yang dimaksud dalam penelitian ini

adalah tanggapan peserta didik tentang guru Bahasa Indonesia mengenai

kompetensinya.

2. Minat belajar dapat didasari dari dua faktor yakni faktor internal dan faktor

eksternal.

3. Prestasi belajar Bahasa Indonesia berdasarkan nilai PTS dan PAS semester

ganjil tahun pelajaran 2024/2025.

4. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri dan Swasta di

wilayah Karawang .

D. Rumusan Masalah

Dengan demikian, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut.

1. Apakah terdapat pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan

minat belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Bahasa

Indonesia siswa SMP Negeri dan Swasta di Karawang ?

2. Apakah terdapat pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru

terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa SMP Negeri dan Swasta

di Karawang ?

3. Apakah terdapat pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa

Indonesia siswa SMP Negeri dan Swasta di Karawang ?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan


17

untuk mengetahui:

1. Pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan minat belajar

secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa

SMP Negeri dan Swasta di Karawang .

2. Pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru terhadap prestasi

belajar Bahasa Indonesia siswa SMP Negeri dan Swasta di Karawang .

3. Pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa

SMP Negeri dan Swasta di Karawang.

F. Kegunaan Penelitian

1. Secara teoritis

a. Untuk mengembangkan pengetahuan tentang kompetensi pedagogik

guru, minat belajar siswa dan prestasi belajar Bahasa Indonesia .

b. Untuk dijadikan rujukan teori bagi penelitian-penelitian lanjutan,

khususnya yang terkait dengan penelitian ini.

2. Secara praktis

a. Sebagai bahan masukan bagi sekolah agar mampu mengambil langkah-

langkah yang tepat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar peserta

didik melalui kompetensi pedagogik guru dan minat belajar.

b. Memberi dorongan kepada para peserta didik untuk meningkatkan

prestasi belajarnya dengan melalui kompetensi guru dan minat belajar

peserta didik yang nantinya dapat meningkatkan mutu guru.


BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Landasan Teori

1. Hakikat Prestasi Belajar Bahasa Indonesia

Sebelum membahas tentang Bahasa Indonesia itu sendiri, penulis

membahas pengertian prestasi belajar terlebih dulu. Prestasi belajar adalah

sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar. Antara

kata prestasi dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Oleh karena itu,

sebelum pengertian prestasi belajar , ada baiknya pembahasan ini

diarahkan pada masing-masing permasalahan terlebih dahulu untuk

mendapatkan pemahaman lebih komprehensif mengenai makna kata

prestasi dan belajar. Hal ini juga untuk memudahkan dalam memahami

lebih mendalam tentang pengertian prestasi belajar itu sendiri itu

sendiri.

a. Pengertian belajar

Banyak para ahli yang mengemukakan pendapat mengenai

belajar,diantaranya adalah Humalik (2003:52), menurutnya pengertian

belajar adalah modifikasi untuk memperkuat tingkah laku melalui

pengalaman dan latihan serta suatu proses perubahan tingkah laku

individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Perubahan itu bersifat

secara relatif konsisten dan berbekas. Menurut Nasution (2002:78),

belajar adalah sebagian perubahan kelakuan, pengalaman dan latihan.

Jadi belajar membawa suatu perubahan pada dari individu yang belajar.
19

Gagne & Briggs (2008:7) menjelaskan bahwa belajar merupakan

hasil pasangan stimulus dan respons, kemudian diadakan penguatan

kembali (reinforcement) yang dilakukan terus menerus. Reinforcement

inidimaksudkan untuk menguatkan tingkah laku yang diinternalisasikan

dalam proses belajar. Proses belajar setiap orang akan menghasilkan

hasil belajar yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlunya

reinforcement secara terus menerus sampai mengalami perubahan

tingkah laku kearah yang lebih baik.

Dan Mustaqin (2010:60), bahwa belajar adalah usaha untuk

membentuk hubungan antara perangsang dan reaksi perubahan itu tidak

hanya mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, melainkan juga

membentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, minat,

penyesuaian [Link] hal ini meliputi segala aspek organisasi atau

pribadi individu yang belajar. Belajar disimpulkan proses perubahan

tingkah laku di dalam kepribadian yang terjadi pada seorang peserta

didik atau orang yang belajar bila menghadapi stimulus dan kondisi.

1).Jenis-jenis belajar

Menurut Nasution (2000:57) ada beberapa jenis belajar yang

berhubungan dengan hal yang harus di pelajari antara lain:

a) Belajar berdasarkan pengamatan

Pengamatan sangat penting sebagai dasar untuk

memperoleh pengertian dan tanggapan yang sangat jelas

tentang sesuatu misalnya tanggapan visual dalam ilmu hayat,


20

ilmu alam, kimia, geografi dan sebagainya yang banyak

memerlukan pengamatan langsung.

b) Belajar berdasarkan gerak

Belajar berdasarkan gerak ini membutuhkan gerakan fisik

seperti menulis, membaca, gerakan olah raga. Oleh karena itu

dalam belajar berdasarkan gerak ini ada hal-hal yang perlu

diperhatikan peserta didik yaitu mengetahui tujuan, mempunyai

tanggapan yang jelas tentang kecakapan, pelaksanaan yang tepat

pada taraf kecakapan itudan latihan untuk mempertinggi

kecepatan.

c) Belajar berdasarkan menghafal

Belajar yang bersifat menghafal ini yang paling banyak

digunakan di sekolah, baik di sekolah dasar maupun di sekolah

yang lebih tinggisebab belajar adalah menempuh ujian dan untuk

itu diperlukanpenguasaan sejumlah pengetahuan.

d) Belajar berdasarkan pemecahan masalah

Metode pemecahan masalah dapat digunakan untuk

memecahkan masalah-masalah dalam berbagai mata pelajaran

seperti matematika, fisika, sejarah, biologi dan sebagainya. Selain

itu, metode pemecahan masalah ini diperlukan juga untuk

memecahkan masalah-masalah yang dihadapi peserta didik dalam

kehidupan sehari-hari.
21

e) Belajar berdasarkan emosi

segi-segi pribadi seperti ketekunan, ketabahan menghadapi

masalah, ketelitian, kebersihan, kecakapan dalam bergaul dengan

orang lain dan sering dipelajari dalam setiap pelajaran sebab

selalu tersimpul di dalamnya, akan tetapi belajar berdasarkan

emosi ini sangat kurang mendapat perhatian guru karena belajar

jenis ini sukar sifatnya dan pelaksanaanya yang tidak mudah.

2).Prinsip-prinsip belajar

Ada beberapa prinsip belajar yang berlaku umum yang dipakai

sebagai dasar dalam upaya pembelajaran baik bagi peserta didik

yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam

upaya meningkatkan mengajarnya (Abu dan Supriyono, 2004:42),

prinsip-prinsip itu antara lain:

a) Perhatian dan motivasi

Perhatian mempunyai peranan yang sangat penting dalam

kegiatan belajar. perhatian terhadap pelajaran akan dimulai pada

peserta didik apabila bahan pelajaran sesuai dengan

kebutuhannya. Apabila bahanpelajaran itu dirasakan sebagai

sesuatu yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari akan

membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.

b) Keaktifan

Belajar hanya mungkin terjadi apabila peserta didik

aktif
22

mengalami sendiri. John Dewey misalnya mengemukakan

bahwa belajar adalahmenyangkut apa yang harus dikerjakan

peserta didik untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang

dari peserta didik itu sendiri, guru sekedar pembimbing dan

pengarah (Murray, 2007:31).

c) Keterlibatan langsung dan pengalaman

Keterlibatan peserta didik di dalam belajar jangan diartikan

keterlibatan fisik semata namun lebih dari itu terutama adalah

keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan

kognitifdalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam

penghayatan dan juga pada saat mengadakan latihan dalam

pembentukanketerampilan.

b. Pengertian Prestasi

Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,

diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok (Djamarah,

1994:19). Sedangkan menurut Dahar dalam Djamarah (1994:21) bahwa

prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil

yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.

Dari pengertian yang dikemukakan tersebut di atas, jelas terlihat

perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya

sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu, dapat

dipahami bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah

dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh


23

dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara

kelompok dalam bidangkegiatan tertentu.

c. Hakikat Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang dipergunakan oleh

masyarakat Indonesia untuk keperluan sehari-hari, misalnya belajar,

bekerja sama, dan berinteraksi. Bahasa Indonesia merupakan bahasa

nasional dan bahasa resmi di Indonesia. Bahasa nasional adalah bahasa

yang menjadi standar di negara Indonesia. Sebagai bahasa nasional,

Bahasa Indonesia tidakmengikat pemakainya untuk sesuai dengan

kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara non resmi, santai dan

bebas. Dalam pergaulan sehari – hari antar warga yang

dipentingkan adalah makna yang disampaikan. Pemakai Bahasa

Indonesia dalam konteks bahasa nasional dapat menggunakan dengan

bebas menggunakan ujarannya baik lisan maupun tulis.

Adapun bahasa resmi adalah bahasa yang digunakan dalam

komunikasi resmi seperti dalam perundang-undangan dan surat

menyurat dinas. Dalam hal ini, Bahasa Indonesia harus digunakan

sesuai dengan kaidah, tertib, cermat dan masuk akal. Bahasa Indonesia

yang dipakai harus lengkap dan baku. Tingkat kebakuannya diukur oleh

aturan kebahasaan dan logika pemakaian. Bahasa Indonesia memiliki

fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan

pemakainya, yaitu:
24

1) Alat ekspresi diri

Pada awalnya, seseorang (anak-anak) berbahasa untuk

mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya dan pikirannya

pada sasaran yang tetap, yakni ibu bapaknya atau masyarakat di

sekitar tempat tinggalnya. Dalam perkembangannya, tidak lagi

menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya tetapi

untuk berkomunikasi dengan lingkungan yang lebih luas di

sekitarnya. Setelah dewasa, kita menggunakanbahasa, baik untuk

mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi.

2) Alat komunikasi

Ketika kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita

sudah maksud dan tujuan yaitu ingin dipahami orang lain. Kita ingin

menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, harapan, perasaan, dan

lain-lain yang dapat diterima orang lain. Bahasa sebagai alat ekspresi

diri dan sebagaialat komunikasi sekligus merupakan alat untuk

menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan

sudut pandang kita, pemahaman kitaatas suatu hal, asal usul bangsa,

budaya, dan negara kita, guru dan latar sosial kita, bahkan

sifat/temperamen/karakter kita. Fungsi bahasa disini sebagai cermin

dari diri kita, baik sebagai bangsa, budaya, maupun sebagaidiri

sendiri/pribadi.
25

3) Alat integrasi dan adaptasi sosial

Bahasa Indonesia mampu mempersatukan beratus-ratus

kelompoketnis di tanah air kita. Sebagai alat integrasi bangsa, ada

beberapa sifat potensial yang dimiliki Bahasa Indonesia: (1) Bahasa

Indonesia telah terbukti dapat mempersatukan bangsa Indonesia

yang multikultural, (2) Bahasa Indonesia bersifat demokratis dan

egaliter, (3) Bahasa Indonesia bersifat terbuka/ transparan, dan (4)

Bahasa Indonesia sudah mengglobal.

4) Alat kontrol sosial

Sebagai alat kontrol sosial, Bahasa Indonesia sangat efektif.

Kontrolsosial dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada

masyarakatpemakainya. Berbagai penerangan, informasi, atau guru

disampaikan melalui bahasa. Buku –buku pelajaran di sekolah

sampai universitas, buku- buku instruksi, perundang-undangan serta

peraturan pemerintah lainnya adalah salah satu contoh penggunaan

Bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Ceramah agama,

dakwah, dan wujud pembinaan rohani, sebagai peredam rasa emosi

dan marah adalah contoh Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat

kontrol sosial.

Fungsi Bahasa Indonesia sebagai guru yaitu membekali peserta

didik dengan pengetahuan sosial yang berguba untuk masa

depannya, keterampilan sosial dan inteletual dalam membina

perhatian serta kepeduliansosialnya sebagai sumber daya manusia


26

(SDM) yang bertanggungjawabdalam merealisasikan tujuan guru

nasional. (Iif Khoiru, 2011:9)

Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang mengkaji

seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan

dengan isu sosial. Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar

peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan

masyarakatdan lingkungannya.

2) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa

ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan

dalam kehidupansosial,

3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan

kemanusiaan,

4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan

berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal,

nasional dan global.

Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah jenjang SMP / MTs

merupakan salah satu pelajaran yang diwajibkan. Hal ini

dikarenakan pembelajaran Bahasa Indonesia mempunyai fungsi

untuk mempersiapkan peserta didik agar menguasai kompetensi

untuk mampu merefleksikan pengalamannya sendiri dan pengalaman

orang lain, mengungkapkan gagasandan perasaan, dan memahami

beragam nuansa makna dalam bahasa yang diajarkan (Depdiknas,


27

2004: 5).

Menurut Feby Inggriyani (2019) pelajaran Bahasa Indonesia

diharapkan membantu peserta didik untuk mengenal dirinya,

budayanya danbudaya orang lain serta diharapkan mampu

meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi

dalam berbahasa dengan baik dan benar. Aspek keterampilan yang

mencakup 4 (empat) aspek yaitu terampil mendengarkan, berbicara,

membaca, dan menulis, biasanya akan dimiliki seseorang apabila ia

rajin berlatih. Berdasarkan asumsi tersebut, konsekuensi

pembelajaran Bahasa Indonesia lebih berorientasi pada praktik

berbahasa dari pada teori pengetahuan bahasa. Hal itu dilakukan agar

tujuan terampil berbahasa Indonesia di kalangan peserta didik dapat

terwujud. Selainhal di atas, ada sesuatu yang sangat unik dan

berbeda dalam pembelajaran Bahasa Indonesia , yaitu “yang

diajarkan” dan “media ajarnya” sama, BahasaIndonesia . Hal ini

berbeda kasusnya dengan pembelajaran pada mata pelajaran-mata

pelajaran lain (kecuali bahasa Inggris?). Kondisi tersebut akan

membawa pada sebuah konsekuensi bagi guru. Konsekuensi tersebut

adalah bahwa guru harus bisa menjadi teladan atau figur pemakai

Bahasa Indonesia yang baik, baik dalam bentuk lisan maupun

tulisan.

Karakteristik mata pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah

Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) sesuai


28

dengan urairan sebagai berikut:

1) Pembelajaran dilakukan secara terintegrasi atau terpadu,

mengingatbahasa merupakan sistem yang harus dipelajari dan

dipraktekan.

2) Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan

komunikatif.

3) Kegiatan pembelajaran mendasarkan diri pada teori pemerolehan

bahasa.

4) Pelaksanaan pembelajaran lebih menekankan pada komponen

praktik berbahasa daripada teori kebahasaan.

5) Pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual.

6) Dalam pembelajaran, baik “yang diajarkan” maupun “media

ajarnya” sama, yaitu Bahasa Indonesia

Tujuan utama pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) adalah untuk

mengembangkan pemahaman dan kemampuan peserta didik dalam

menggunakan Bahasa Indonesia secara efektif dan berbagai konteks.

Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

1) Menguasai keterampilan berbahasa yakni peserta didik dapat

mengembangkan kemampuan mendengarkan, berbicara,

membaca, dan menulis dalam Bahasa Indonesia dengan lancar

dan efektif.
29

2) Memahami dan menggunakan kaidah bahasa yakni peserta didik

dapat memahami dan menggunakan kaidah Bahasa Indonesia,

termasuk tata bahasa, ejaan, dan tanda baca, untuk menghasilkan

tulisan yang benar dan baku.

3) Mengembangkan kosakata dan pemahaman makna kata yakni

peserta didik dapat mengembangkan kosakata mereka dan

memahami makna kata-kata dalam berbagai konteks, serta

menerapkannya dalam komunikasi mereka.

4) Menghargai dan memahami mastra dan mudaya Indonesia yakni

peserta didik dapat menghargai dan memahami karya sastra

Indonesia serta budaya bangsa, serta mampu menganalisis nilai-

nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

5) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif yakni

peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis

dalam menganalisis teks-teks yang mereka baca dan menyusun

argumen yang logis dan terbukti. Mereka juga diharapkan dapat

mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dalam

mengekspresikan ide-ide merekadengan cara yang orisinal.

6) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi yang Efektif yakni

pesertadidik dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi

yang efektif dalam Bahasa Indonesia , baik secara lisan maupun

tulisan, dengan memperhatikan konteks dan audiensnya.


30

Dari beberapa definisi tentang Bahasa Indonesia di atas,

peneliti menyimpulkan diharapkan siswa dapat menjadi individu

yang kompeten dalam menggunakan Bahasa Indonesia , memiliki

pemahaman yang mendalam tentang budaya dan sastra Indonesia ,

serta mampu berpikir secara kritis dan kreatif dan lebih menjiwai

dan menghargai budaya Indonesia.

d. Pengertian Prestasi Belajar Bahasa Indonesia

Setiap bidang studi mempunyai karakteristik yang khas.

Demikian juga dengan pelajaran Bahasa Indonesia . Berdasarkan

struktur keilmuannya Bahasa Indonesia adalah disiplin ilmu yang

mengkaji tentang berbahasa yang baik dan mengamalkan nilai-nilai

budaya.

Prestasi belajar dalam konteks Bahasa Indonesia mengacu pada

pencapaian siswa dalam memahami, menggunakan, dan menguasai

Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran. Ini mencakup berbagai aspek,

seperti pemahaman teks, kemampuan menulis, berbicara,

mendengarkan, pemahaman tata bahasa, dan pemahaman kaidah ejaan

serta tanda baca dalamBahasa Indonesia .

Prestasi belajar Bahasa Indonesia tidak hanya terbatas pada

pengetahuan siswa tentang struktur bahasa, tetapi juga pada

kemampuan mereka untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut

dalam situasi komunikatif yang berbeda. Dengan kata lain, prestasi


31

belajar Bahasa Indonesia mencakup kemampuan siswa untuk

berkomunikasi secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis, serta

kemampuan mereka untuk memahami dan menganalisis teks-teks dalam

Bahasa Indonesia .

Prestasi belajar Bahasa Indonesia juga bisa diukur melalui

berbagaijenis evaluasi, seperti tes tulis, tes lisan, penugasan proyek, dan

penilaian keterampilan presentasi. Selain itu, prestasi belajar Bahasa

Indonesia juga dapat tercermin dalam partisipasi siswa dalam diskusi

kelas, kegiatan membaca, dan karya tulis yang mereka hasilkan.

Prestasi menurut Djamarah (2011 : 20-21) adalah apa yang telah

dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang

diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Prestasi menurut Depdiknas

(2008 : 1012) prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah

dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Prestasi menurut Syah (2009 :

141) prestasi adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan

yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Berdasarkan pendapat

tersebut, maka prestasi adalah sebuah penghargaan yang diciptakan

dari usaha sendiri baik.

dari kerjanya, ataupun perkembangan dan kemajuan yang

dihasilkan dalam bekerja atau dalam guru. Prestasi akan menambah

semangat dan motivasi seseorang untuk melakukan aktivitas baik

bekerja, belajar dengan sungguh- sungguh. Prestasi itu sendiri tidak

akan dicapai dan dihasilkan oleh seseorangyang malas dan melakukan


32

kegiatan dengan tidak sungguh- sungguh.

Belajar menurut Syah (2009 : 63) adalah kegiatan yang berproses

dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan

setiap jenis dan jenjang guru. Belajar menurut Slameto (2013 : 2)

belajarialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara

keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi

dengan lingkungan. Belajar menurut Hamalik (2008 : 106) merupakan

suatu proses, dan bukan hasil yang hendakdicapai semata. Proses itu

sendiri berlangsung melalui serangkaian pengalaman, sehingga terjadi

modifikasi pada tingkah laku yang telah dimilikinya sebelumnya.

Berdasarkan pendapat tersebut, maka belajar adalah usaha yang

dilakukan untuk merubah tingkah laku yang diperoleh dari pengalaman

hidupnya. Pengalaman merupakan guru yang terbaik untuk belajar

mengenal bagaimana kehidupan yang sebenarnya. Pengalaman

bisadidapatkan dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.

Keluarga akan mengajarkan dan membimbing anggota keluarga

terutama anak dengan baik. Begitu pula dengan adanya masyarakat

yang baik akan memberikan peluang untuk belajar mengenal dan

memberikan wawasan, pengalaman agar dapat bersosialisasi dan

bagaimana menunjukan sikap yang baik di lingkungan masyarakat. Di

lingkungan sekolah merupakan tempat khusus yang telah disediakan


33

pemerintah untuk membawa masyarakat menjadi lebih baik dan

berprestasi dengan belajar menambah wawasan dan pengalaman yang

didapatnya di sekolah.

Pemberian indikator dalam pembelajaran mengacu pada hasil

belajar yang harus dikuasai peserta didik. Dalam pencapaian hasil

belajar peserta didik, guru dituntut untuk memadukan ranah kognitif,

afektif, dan psikomotor secara proporsional. Horward Kingsly membagi

tiga macam hasilbelajar, yakni: (a). ketrampilan dan kebiasaan, (b).

pengetahuan dan pengertian, (c). sikap dan cita-cita. Masing-masing

jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam

kurikulum.

Sedangkan Gagne membagi lima hasil belajar, yakni (a) informasi

verbal, (b) keterampilan verbal, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e)

ketrampilan motoris. Dalam sistem guru nasional rumusan tujuan

guruan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instraksional,

menggunakan klasikfikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang

secara garis besarmembaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif,

ranah efektif, dan ranah pisikmotoris (Nana Sudjana, 2002:22).

Ranah kognitif berkenan dengan hasil belajar intelektual yang

terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman,

aplikasi, analisis sintensis, dan evaluasi. Ranah efektif berkenan dengan

sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau

reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah psikomotoris


34

berkenan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak.

Ada enam aspek ranah psikmotoris: (a) gerakan refleks, (b)

keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perseptual, (d)

keharmonisan atau ketepataan, (e) gerakan keterampilan, (f) gerakan

ekspresif dan interpretatif.

Berdasarkan konsep di atas maka dapat diperoleh suatu

pengertianbahwa prestasi belajar Bahasa Indonesia adalah kemampuan

yang dimiliki oleh peserta didik setelah belajar, yang wujudnya berupa

kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Derajat kemampuan

yang diperoleh peserta didik diwujudkan dalam bentuk nilai hasil

belajar Bahasa Indonesia

2. Hakikat Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru

a. Pengertian Persepsi

Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga

makhlukindividual. Terdapat perbedaan antara individu yang satu

dengan yang lainnya, sehingga setiap informasi yang datang akan diberi

makna yang berlainan oleh orang yang berbeda. Adanya perbedaan ini

merupakan suatu alasan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek,

sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut.

Hal ini sangat bergantung bagaimana individu menanggapi obyek

tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian sikap,

tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.

Menurut Suharman (2005:23) mengutip pendapat Matlin dan


35

Solso, mengemukakan bahwa “persepsi merupakan tahap paling awal

dari serangkaian pemprosesan informasi. Persepsi adalah suatu

prosespenggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan

dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan interpretasi

stimulus (rangsangan) yang diterima oleh kepala indera manusia”.

Berdasarkan pemahaman tersebut persepsi merupakan proses

menginterpretasikan atau menafsirkan informasi yang diperoleh melalui

sistem alat indera manusia yang mencakup dua proses yang berlangsung

secara serempak antara keterlibatan dunia luar

(stimulius-informasi/pengalaman) dengan dunia di dalam diri seseorang

(pengetahuan yang relevan dan telah disimpan dalam ingatan).

Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan aktifitas mengindera,

mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada objek-objek fisik

maupunobjek sosial, dan penginderan tersebut tergantung pada stimulus

fisik dan stimulus sosial yang ada dilingkungannya. Sensasi-sensasi

dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah

dipelajari sebelumnya, baik berupa harapan-harapan, nilai-nilai, sikap,

ingatan dan lain- lain.

Rakhmat. J. (1999:51) menyebutkan bahwa “persepsi dipengaruhi

oleh faktor-faktor personal dan situasional”. Sementara Krech dan

Crutchfield yang dikutip Rakhmat (1999:51) menyebutkan “faktor

yang mempengaruhi persepsi adalah faktor fungsional (yaitu faktor-

faktor yang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan lain-lain
36

dalam faktor personal) dan struktural (yaitu faktor stimlus dan kondisi

dalam diri individu/sistem persyarafan)”.

Berdasarkan keterangan diatas persepsi seseorang dalam

menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa dipengaruhi oleh tiga

faktor, yaitu:

1) Orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi

intern (kebutuhan, kelelehan, sikap, minat, motivasi, harapan,

pengalaman masa lalu dan kepribadian),

2) Stimulus yang berupa objek maupun peristiwa tertentu (benda,

orang, proses dan lain-lain).

3) Stimulus dimana pembetukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu,

suasana (sedih, gembira dan lain-lain).

Senada dengan prinsip tersebut maka prinsip dasar dalam persepsi

adalah:

1) Persepsi bersifat relative

2) Persepsi bersifat selektif.

3) Persepsi terorganisasi.

Dari masing-masing karakteristik tersebut memberikan petunjuk

bagi pengambilan keputusan untuk menghindari adanya salah persepsi

antar individu yang bersangkutan dengan objek yang dipersepsikan.

Dalam prosespenelitian ini yang termasuk dalam faktor pengamat

(perseptor) adalah individu/peserta didik atau perserta didik, dan faktor

yang dipersepsi adalah kompetensi pedagogik guru.


37

Berdasarkan pengertian diatas disimpulkan, persepsi adalah suatu

proses yang kompleks dimana individu menerima dan menyadap

informasi dari lingkungan, mengintegrasikan atau mengorganisasikan

dan menginterpretasikan suatu obyek, dengan adanya keterlibatan

aspek-aspek dunia luar (stimulus-informasi/pengalaman) dengan dunia

di dalam diri seseorang (pengetahuan yang relevan dan telah disimpan

dalam ingatan), sehingga mampu memahami obyek yang ada dihadapan

kita.

b. Pengertian Kompetensi Guru

Kompetensi adalah kumpulan pengetahuan, perilaku, dan

keterampilan yang harus dimiliki guru untuk mencapai tujuan

pembelajaran dan guru. Kompetensi diperoleh melalui guruan,

pelatihan, dan belajar mandiri dengan memanfaatkan sumber belajar.

Menurut Mulyasa, kompetensi guru merupakan perpaduan antara

kemampuan personal,keilmuan, teknologi, sosial, dan spiritual yang

secara kafah membentuk kompetensi standar profesi guru, yang

mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik,

pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan

profesionalitas. Kompetensi terkait dengan kemampuan beradaptasi

terhadap lingkungan kerja baru, dimana seseorang dapat menjalankan

tugasnya dengan baik berdasarkan kemampuan yangdimilikinya.


38

Lain tentang kompetensi guru merujuk pada hasil kerja (out put)

individu maupun kelompok. Kompetensi berarti kemampuan

mewujudkan sesuatu sesuai dengan tugas yang diberikan kepada

seseorang. Kompetensi berkaitan erat dengan standar. Seseorang

disebut kompeten dalam bidangnya jika pengetahuan, keterampilan dan

sikapnya, serta hasil kerjanya sesuai dengan standar (ukuran) yang

ditetapkan dan atau diakui oleh lembaga atau pemerintah. Disisi lain

kompetensi merupakan tugas khusus yang berarti hanya dapat

dilakukan oleh orang-orang special atau tertentu. Artinya tidak bisa

sembarang orang dapat melakukan tugas tersebut.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi

merupakan kemampuan seseorang yang meliputi pengetahuan,

keterampilan,dan sikap, yang dapat diwujudkan dalam hasil kerja nyata

yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Ketiga aspek

kemampuan ini saling terkait dan memengaruhi satu sama lain. Kondisi

fisik dan mental serta spiritual seseorang besar pengaruhnya terhadap

produktivitas kerja seseorang, maka tiga spek ini harus dijaga pula

sesuai standar yang disepakati. Sudjana (1989:18) membagi kompetensi

guru dalam tiga bagian, yaitu “bidang kognitif, sikap, dan perilaku

(performance). Ketiga kompetensi ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling

berhubungan dan memengaruhi satu sama lain.

Kemampuan individu dapat berkembang dengan cara pelatihan,

praktik, kerja kelompok, dan belajar mandiri. Pelatihan menyediakan


39

kesempatan seseorang mempelajari keterampilan khusus. Pengalaman

kerja dapat membuat orang semakin kompeten dibidangnya. Littrell

(1984: 310) menjelaskan hakikat kompetensi adalah, “kekuatan mental

dan fisik untuk melakukan tugas atau keterampilan yang dipelajari

melalui latihan paktis.” 1). Macam- macam kompetensi guru

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional

(Permendiknas) Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang

Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, yakni dijelaskan

bahwa standarkompetensi dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi

utama, yaitu : (a) komptensi pedagogik, (b) kompetensi kepribadian,

kompetensi sosial, (d) komptensi professional (Munadi, 2010). (a).

Kompetensi Pedagogik

Seorang guru dituntut untuk memberikan pengetahuan,

keterampilan dan sikap umum kepada muridnya untuk menghadapi

hidup dimasa depan. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan

(2006:88), yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah

“kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi (1)

pemahaman wawan atau landasan keguruan; (2) pemahaman tentang

peserta didik; (3) pengembangan kurikulum atau silabus; (4)

perencanaan pembelajaran; (5) pelaksanaan pembelajaran yang

mendidik dan dialogis; (6) evaluasi hasil belajar; dan (7) pengembangan

peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yangdimiliki.


40

Dengan demikian tampak bahwa kemampuan pedagodik bagi

seorang guru bukanlah hal yang sederhana, karena kualitas guru

haruslah diatas rata-rata. Kualitas ini dapat dilihat dari aspek intelektual

meliputi aspek (1) logika sebagai pengembangan kognitif mencakup

kemampuan intelektual mengenai lingkungan yang terdiri dari enam

macam yang disusun secara hierarkis dari yang sederhana sampai yang

kompleks, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis,

dan penilaian; (2) etika sebagai pengembang afektif mencakup

kemampuan emosional dalam mengalami dan menghayati sesuatu hal

meliputi lima macam kemampuan emosional disusun secara hierarkis,

yaitu kesabaran, partisipasi, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai,

dan karakteristik diri; (3) estetika sebagai pengembang spikomotorik

yaitu kemampuan motoric menggiatkan dan mengkoordinasi gerakan.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, guru perlu berfikir secara

antisipatif dan proaktif. Guru secara terus menerus belajar sebagai

upaya melakukan pembaharuan atas ilmu pengetahuan yang

dimilikinya. Caranya sering melakukan penelitian baik melalui kajian

pustaka, maupun melakukan penelitian tindakan kelas.

Kompetensi guru menurut Undang - undang Republik Indonesia

No. 14 Tahun 2005 pasal 10 ayat 1 tentang guru dan dosen terdiri dari:

kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional yang

diperoleh melalui guru profesi. Kompetensi pedagogik (kemampuan

dalam pengelolaan peserta didik) yang meliputi:


41

1) Pemahaman wawasan atau landasan keguruan

2) Pemahaman terhadap peserta didik

3) Pengembangan kurikulum/silabus

4) Perancangan pembelajaran

5) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis

6) Hasil belajar

7) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi

yang dimilikinya.

a) Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian, yaitu “kemampuan kepribadian

yang:

(a)berakhlak mulia; (b) mantap, stabil dan dewasa; (c) arif dan

bijaksana; (d) menjadi teladan; (d) mengevaluasi kinerja sendiri;

(e) mengembangkan diri; dan (f) religius.” Dikatakan sia-sia jika

seorang guru mengajarkan kebaikan jika ia sendiri bukan sosok

pribadi yang baik. Pribadi guru yang baik, mengajar dan mendidik

dengan perkataan dan perilakunya dihadapan murid, disengaja

maupun tidak disengaja. Disadari atau tidak, peserta didik selalu

belajar dari figure guru dan orang-orang yang dianggapnya baik.

Dengan demikian, harus ada banyak sosok guru, kepala

sekolah, orang tua, yang benar-benar baik dan saleh, sehingga

mereka selalu belajar nilai-nilai dan perilaku baik dari sebanyak

mungkin figur. Anak-anak membutuhkan contoh yang nyata


42

tentang apa itu yang baik melalui sikap dan perilaku orang dewasa.

Hal ini lebih mudah dan efektif bagi anak-anak dibanding sekedar

ucapan atau tulisan.

Kemajuan dan produktivitas seseorang sangat terkait dengan

tingkat religiositas dan moral seseorang. Sebab kesadaran religius

dan moral akan mendorong seseorang untuk menjadi manusia yang

bermanfaat bagi yang lain, yang ditunjukan dengan aktivitas dan

kreativitasnya dalam bekerjadan beramal. Seorang guru yang

berperilaku tidak baik, padahal di kelas selalu menyampaikan nilai-

nilai kebaikan kepada peserta didiknya, akan menghilangkan

perannya sebagai guru, karena kepercayaan dari pesertadidik, wali

murid, dan masyarakat akan luntur bahkan hilang. Guru

semacamini tidak akan dapat menjadi teladan bagi peserta didik.

Padahal mereka mengharapkan guru berhasil menanamkan nilai-

nilai kepada peserta didik

Sebagai seorang guru harus mempunyai kemampuan yang

berkaitan dengan kemantapan dan integritas kepribadian seorang

guru. Di sini guru dituntut untuk mampu membelajarkan peserta

didiknya tentang disiplin dalam melaksanakan tugas dan

kewajibannya.

b) Kompetensi Sosial

Seorang guru sama seperti manusia lainnya, sebagai makhluk

sosial, yang dalam hidupnya berdampingan dengan manusia


43

lainnya. Guru diharapkan memberi contoh baik terhadap

lingkungannya, dengan menjalankan hak dan kewajibannya sebagai

bagian dari masyarakat sekitar. Guru harus berjiwa sosial tinggi,

mudah bergaul, dan suka menolong.

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai

bagian dari masyarakat untuk: (a) berkomunikasi lisan dan tulisan;

(b) menggunakan tekhnologi komunikasi dan informasi secara

fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama

guru, tenaga keguruan, orang tua/wali peserta didik; dan (d)

bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

Menurut Sukmadinata (2006: 193), “diantara kemampuan

sosial dan professional yang paling mendasar yang harus dikuasai

guru adalah idealism, yaitu cita-cita luhur yang ingin dicapai

dengan guruan.” Cita-cita semacam ini dapat diwujudkan guru

melalui: kesungguhan mengajar dan mendidik peserta didik;

pembelajaran masyarakat melalui interaksi atau komunikasi

langsung dengan mereka dibeberapa tempat seperti masjid, majelis

taklim, musola, pesantren, balai desa dan posyandu; dan guru

menuangkan dan mengekspresikan pemikiran dan idenya melalui

tulisan.

c) Kompetensi Profesional

Sebagai pendidik profesional, guru tentu wajib memiliki

kompetensi, yakni seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan


44

perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru

dalam melaksanakan tugas keprofesionalan (UU RI No. 14

Tahun2006, tentang guru dan Dosen, Pasal 1ayat 10). Tugas guru

ialah mengajar pengetahuan kepada murid. Guru tidak sekedar

mengetahui materi yang akan diajarkan, tetapi memahaminya

secara luas dan mendalam. Oleh karena itu, guru harus selalu

belajar untuk memperdalam pengetahuannya terkait mata pelajaran

yang diampunya. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan

(2006:88) kompetensi pedagodik adalah “kemampuan penguasaan

materi secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep,

struktur dan metode keilmuan/ tekhnologi/ seni yang menaungi/

koherensi dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam

kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran

terkait; (d) penerapan konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-

hari; dan (e) kompetisi secara professional dalam konteks global

dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

Seorang guru harus menjadi orang spesial, namun lebih baik

lagi jika menjadi spesial bagi semua peserta didiknya. Guru harus

merupakan kumpulan orang-orang yang pintar dibidang masing-

masing dan juga dewasa dalam bersikap. Namun yang lebih

penting lagi adalah bagaimana caranya guru tersebut dapat

menularkan kepintaran dan kedewasaannya tersebut pada peserta

didiknya. Sebab guru adalah jembatan bagi lahirnya anak-anak


45

cerdas dan dewasa di masa mendatang.

Guru harus selalu meningkatkan pengetahuan dan

keterampilannya, karena ilmu pengetahuan dan keterampilan itu

berkembang seiring perjalanan waktu. Maka, pengetahuan dan

keterampilan yang diajari guru saat dibangku kuliah bisa jadi sudah

tidak relevan lagi dengan kondisi saat ia mulai mengajar. Sebagai

contoh penemuan multiple- intelligence, kecerdasan emosi dan

kecerdasan sosial, serta kecerdasan spiritual. Dari penemuan

tersebut kesuksesan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh

kecerdasan intelektual, tetapi juga dipengaruhi oleh kecerdasan

emosional dan spiritual. Bahkan pengaruh keduanya lebih besar

dibanding kecerdasan intelektual.

Praktik guru di sekolah harus mencakup berbagai hal yang

melatih peserta didik menjadi problem solver; peserta didik kelak

dapat bertahan hidup dalam segala macam kondisi; memahami

kelebihan dan kekurangan; guru semacam ini akan mampu

bertahan terhadap segala tantangan zaman, dan melahirkan

generasi yang bermutu. Gardner (200:18) menyatakan, “kita

membutuhkan guru yang benar-benar berakar pada dua halyang

kelihatannya kontras namun sesungguhnya saling melengkapi; apa

yang diketahui tentang kondisi kemanusiaan, dalam aspek- aspek

yang bersifat abadi; dan apa yang diketahui tentang tekanan,

tantangan dan peluang pada kondisi saat ini (dan masa depan).
46

Tanpa dua hal ini, kita akan mengalami guru yang mati, parsial,

naïf, dan tidak memuaskan.”

Jadi persepsi tentang kompetensi guru diartikan sebagai

penerimaan, pengorganisasian dan penginterpretasian peserta didik

terhadap kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan perilaku

gurunya, baik pada saatmengajar di dalam kelas maupun di luar

kelas. Melalui persepsi tersebut,jiks peserta didik merasa gurunya

tidak mempunyai komptensi yang bias diandalkan, maka

berdampak pada tumbuhnya keraguan pada diri peserta didik. Hal

tersebut akan mempengaruhi bagaimana sikap peserta didik

terhadap gurunya, yang nantinya juga akan berpengaruh pada

kelancaran jalannya proses belajar mengajar.

d) Kompetensi Pedagogik Guru

Profesi guru memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan

dengan profesi-profesi lainnya. Walaupun tugas guru sebagai

profesi adalah mendidik, mengajar, dan melatih anak didik, tetapi

secara perilaku yang mencerminkan keprofesionalan, seorang guru

memiliki tugas yang lebih luas, tidak hanya tugas profesi tetapi

juga tugas kemanusiaan dan tugas kemasyarakatan. Oleh sebab itu,

tugas dan kedudukan guru dilihat dari aspek profesionalisme lebih

luas dan lebih terhormat dibandingkan dengan tugas dan

kedudukan guru dilihat dari aspek profesi. Hal tersebut, sesuai

dengan motto yang dicetuskan oleh tokoh guru kita “Ki Hajar
47

Dewantara” yaitu Ingngarso sung tulodo, ing madyo mangun

karso, tut wuri handayani, yang berarti didepan memberi suri

tauladan, ditengah-tengah membangun, dibelakang member

dorongan dan motivasi.

Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang

StandarNasional Pendidikan pasal 28, dinyatakan bahwa guru

adalah agenpembelajaran yang harus memiliki empat jenis

kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, professional

dan sosial. Dalam konteks itu, maka kompetensi guru dapat

diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, ketrampilan,dan sikap

yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan

penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru untuk

memangku jabatan guru sebagai profesi.

Mengajar merupakan tugas menantang dan kompleks karena

yang dihadapi adalah manusia yang masing-masing memiliki

karakteristik berbedatetapi tetap harus dijamin mencapai

keberhasilan. Oleh karena itu, seorang guru memiliki peran

supermulti, yaitu sebagai guru, pengajar, pelindung, dan lain-lain

yang secara rinci dikatakan bahwa profesi guru harusmemiliki

kemampuan sebagai berikut:

1) Menguasai bahan ajar

Kelas merupakan suatu organisasi yang semestinya

dikelola dengan baik, mengacu pada fungsi-fungsi administrasi


48

yang ada, maka berlakuperencanaan, pengorganisasian,

pembagian tugas, penentuan staf, pengarahan,

pengkoordinasian, pengkomunikasian dan penilaian. Apa yang

dilakukan guru mengacu pada tujuan organisasi, yaitu tujuan

sekolah yang merupakan penjabaran dari tujuan guru nasional.

Berdasarkan tujuan tersebut, guru merancang kegiatannya

dengan baik dan rinci, mulai merumuskan tujuan khusus

pembelajaran, memilih metode dan sarana pencapaian, memilih

alat untuk mengevaluasi pekerjaannya.

2) Memahami secara mendalam peserta didik yang dilayani

Guru diharapkan bukan sebagai penyampai materi

belaka, tetapi sebagai sosok yang mengenali secara detail peserta

didik didiknya baikyang normal maupun sisi kelainannya,

menguasai teori-teori perkembangan anak, struktur dan

dinamikanya.

3) Menguasai teori dan ketrampilan keguruan

Siswa adalah manusia yang memiliki potensi untuk

berkembang dan terus berubah, oleh karena itu guru diharuskan

menguasai teori-teori yang berkaitan dengan bidang keguruan

seperti pemahaman yang berkaitan dengan falsafah dan ilmu

guru, penguasaan prinsip dan prosedur keguruan yang berkaitan

dengan materi yang dibina.


49

4) Memiliki kemampuan memperagakan unjuk kerja

Guru sebagai agen pembelajaran dituntut mampu

mengelola kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien

baik secara individu maupunkelompok sehingga tujuan guru

dapat dicapai dengan optimal.

5) Memiliki sikap, nilai dan kecenderungan kepribadian yang

menunjangpelaksanaan tugas-tugas sebagai guru.

6) Memiliki kemampuan melaksanakan tugas-tugas profesional

dan tugas-tugas administratif rutin dalam rangka pengoperasian

sekolah di samping kemampuan untuk mengambil bagian dalam

kehidupan di lingkungan sekolah.

Kini, sebagai dampak sinergi dari perkembangan

teknologi komunikasi dan informasi serta perubahan yang lebih

demokratis dan terbuka menghasilkan suatu tekanan dan

tuntutan terhadap kompetensi guru dalam mendayagunakan

teknologi komunikasi tersebut dan pertanggung jawabannya.

Oleh karena itu, guru dituntut siap berkompetisi dalam

membelajarkan peserta didik mulai menganalisis,

merencanakan, mengembangkan, dan menilai pembelajaran

yang berbasis pada penerapan teknologi guru. Di samping

kemampuan tersebut di atas, juga diperlukan kemampuan guru

dalam hal: merencanakan pembelajaran, mengelola kegiatan

individu, menggunakan multimetode dan memanfaatkan media,


50

berkomunikasi interaktif dengan peserta didik, memotivasi dan

memberikan respon, melibatkan peserta didik dalam aktivitas

belajar, mengadakan penyesuaian dengan kondisi peserta didik,

melaksanakan dan mengelola pembelajaran menguasai materi

pelajaran, memperbaiki dan mengevaluasi pembelajaran,

memberikan bimbingan dan mampu melaksanakan penelitian

(Purwanto, 2001:1).

Terkait dengan hal diatas, menurut Arifiin, guru di

Indonesia harusmemiliki syarat berikut :

1) Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap

masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengetahuan.

2) Penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis

guru yaitu ilmu guru sebagai ilmu praksis bukan hanya

merupakan konsep- konsep belaka. Pendidikan merupakan

proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah.

3) Pengembangan kemampuan professional berkesinambungan,

profesi guru merupakan profesi yang terus berkembang dan

berkesinambungan. (Hasan, 2003:5).

Dengan memfokuskan pandangan bahwa guru

merupakan pelaksana proses belajar mengajar, guru dituntut

mengorganisasikan dan mengatur lingkungan kelas sedemikian

rupa sehingga terjadi proses belajar. Guru yang

mengorganisasikan dan mengatur lingkungan sehingga terjadi


51

proses belajar pada peserta didik, menurut Darmodihardjo

memiliki peran sebagai motivator, fasilitator, pembimbing,

evaluator, pengembang materi pelajaran, pengelola proses

belajar mengajar dan agen pembaharuan. Menurut

Darmodihardjo juga, terdapat tiga tugas pokok guru dalam

guruan.

Guru sebagai kunci keberhasilan guru memiliki tugas,

peranan dan tanggung jawab yang besar. Keberhasilan dalam

menjalankan peranan, tugas, dan tanggung jawab tidak saja

ditentukan oleh kecakapannya dalam mengajar, tetapi yang lebih

penting adalah kepribadian guru. Kepribadian guru lebih penting

dari pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya, karena

kepribadian guru merupakan dasar bagi perilakunya.

Kecenderungan guru dalam menggunakan model mengajar,

kepemimpinan dan sikapnya terhadap peserta didik akan

diwarnai oleh kepribadiannya. Hal ini seperti diungkapkan oleh

Bernard mengungkapkan bahwa iklim kelas dipengaruhi oleh

berbagai faktor diantaranya kurikulum, metode, bangunan,

bahan pengajaran, masyarakat dan peserta didik. Tetapi yang

terpenting adalah guru,yang dalam hal ini adalah

kepribadiannya.

Kepribadian merupakan faktor yang paling penting dari

guru dalam menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif


52

bagi perkembangan diri peserta didik. Kepribadian guru yang

tidak matang, tidak stabil akan menimbulkan suasana yang

tegang, kaku dan mengancam. Suasana yang demikian akan

menimbulkan reaksi yang negatif dari peserta didikdi antaranya

menentang guru.

Menurut Loree ada tiga komponen yang terlibat dalam

proses belajar mengajar, yaitu komponen stimulus, organisme

dan respon. Komponen stimulus adalah faktor-faktor yang

merangsang terjadinya perilaku belajar.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa

kompetensi pedagogik guru adalah ketrampilan guru dalam

melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan

indikator sebagai berikut: 1) Kemampuan guru dalam membuat

persiapan dan desain pembelajaran, 2) Kemampuan guru dalam

menyampaikan pelajaran, 3) Kemampuan guru membuat variasi

pengajaran, 4) Kemampuan guru menguasai media dan

teknologi pembelajaran, 5) Interaksi guru dengan peserta didik.

c. Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru

Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan yang harus dimiliki

guru yang berkenaan dengan karakteristik peserta didik dilihat dari

berbagai aspekseperti moral, emosional dan intelektual. Hal tersebut

berimplikasi bahwaseorang guru harus mampu menguasai teori belajar

dan prinsip- prinsipbelajar, karena peserta didik memiliki karakter, sifat


53

dan interes yang berbeda.

Berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum, seorang guru

harusmampu mengembangkan kurikulum tingkat satuan guru masing-

masing dan disesuaikan dengan guru lokal. Guru harus mampu

mengoptimalkan potensi peserta didik untuk melakukan kegiatan

penilaian terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

Kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan aspek-

aspek yang diamati yaitu:

1) Penguasaan karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,

sosial,kultural, emosional dan intelektual.

2) Penguasaan terhadap teori belajar dan prinsip-prinsip

pembelajaranyang mendidik.

3) Mampu mengembangkan kurikulum yang berkaitan dengan

bidangpengembangan yang diampu.

4) Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.

5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk

kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang

mendidik.

6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

7) Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta

didik.

8) Melakukan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar,


54

memanfaatkan penilaian dan evaluasi untuk kepentingan

pembelajaran.

9) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas

pembelajaran.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi

peserta didik atas kompetensi pedagogik guru adalah pendapat peserta

didik mengenai ketrampilan guru dalam melaksanakan kegiatan

belajarmengajar di sekolah.

3. Hakikat Minat Belajar

a. Pengertian Minat

Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu

hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya

adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan

sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat dengan hubungan tersebut,

semakin besar minat. Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu

pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal

dari pada hal lainnya. Mengembangkan minat terhadap sesuatu pada

dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara

materi yang diharapkan untuk dipelajarinya dengan dirinya sendiri

sebagai individu. Menurut Sukardi (2024: 2) minat adalah ketertarikan,

kegemaran, atau kesenangan seseorang terhadap suatu hal. Menurut

Trygu (2021:5) menyatakan bahwa “minat merupakan suatu hal yang

harus dimiliki oleh seseorang sebelum mereka melakukan segala


55

sesuatu. Entah itu para guru, siswa, maupun yang lainnya. Dengan

minat, seseorang yang melakukan sesuatu akan lebih fokus karena

memberikan perhatian, serta merasa lebihbersemangat dalam

melakukan hal tersebut”.

Menurut Suparman 2021: 18 mendefinisikan minat belajar

sebagai kombinasi dari bagaimana seorang menyerap, kemampuan

mengatur dan mengolah informasi dalam belajar. Sutrisno (2020:10)

menyatakan bahwa “minat adalah sebagai sebab, yaitu kekuatan

pendorong yang memaksa seseorang menaruh perhatian pada orang

situasi atau aktifitas tertentu danbukan pada yang lain, atau minat

sebagai akibat”. Menurut Slameto (1995:180) mengartikan minat

sebagai rasa kesukaan dan rasa ketertarikanterhadap sesuatu atau

kegiatan tertentu, tanpa ada permintaan dari siapa pun. Menurut Rahmat

(2018:161) menyatakan bahwa “minat adalah suatukeadaan ketika

seseorang menaruh perhatian pada sesuatu, yang disertai dengan

keinginan untuk mengetahui, memiliki, mempelajari, dan

membuktikan”. Dan menurut Supatminingsih, dkk (2020:89)

menyatakanbahwa :minat mempengaruhi proses dan hasil belajar anak

didik”.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan

bahwa minat merupakan dorongan dari dalam diri seseorang atau faktor

yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian terhadap suatu kegiatan

tanpa ada yang menyuruh.


56

b. Jenis-jenis Minat

Menurut Rochajati (2020:17) menyatakan bahwa ada beberapa

jenis minat sebagai berikut :

1) Minat yang diekspresikan (expressed interest) yaitu seseorang dapat

mengungkapkan minat atau pilihan dengan kata-kata tertentu.

2) Minat diwujudkan (manifest interest) yaitu seseorang yang

mengungkapkan minat bahkan kata-kata melainkan dengan tindakan

atauperbuatan, yaitu ikut serta dan berperan aktif dalam suatu

bagian, misalnya kegiatan olahraga, pramuka, dan sebagainya yang

menarik perhatian

3) Minat yang diinventarisikan (inventorized interst). Yaitu seseorang

yang menilai minatnya agar dapat diukur dengan menjawab terhadap

sejumlahpertanyaan tertentu atau urutan pilihannya untuk aktivitas

tertentu.

Dari beberapa jenis-jenis minat di atas dapat disimpulkan bahwa

jenis jenis minat ada 3 yaitu diekspresikan, diwujudkan, diinventasikan.

c. Ciri-ciri Minat Belajar

Dalam minat belajar memiliki beberapa ciri-ciri. Menurut

Darmadi (2019:150-) menyebutkan ada enam ciri minat belajar sebagai

berikut :

1. Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental.


57

2. Minat memerlukan kesiapan

3. Minat bergantung pada kesempatan belajar

4. Perkembangan minat mengandung keterbatasan

5. Minat dipengaruhi oleh budaya

6. Minat berbobot emosional

Menurut Slameto (2015:57) siswa yang berminat dalam belajar

adalah sebagai berikut :

1. Memiliki kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan

mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus-menerus.

2. Ada rasa suka dan senang terhadap sesuatu yang diminatinya.

3. Memperoleh sesuatu kebanggan dan kepuasan pada suatu

yangdiminati.

4. Lebih menyukai hal yang lebih menjadi minatnya dari pada

halyang lainnya.

5. Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri minat

adalahkecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang

sesuatu yangdipelajari secara terus menerus, minat tumbuh bersamaan

dengan fisik dan mental. Memperoleh kebanggan dan kepuasan

terhadap hal yang diminati, berpartisipasi pada pembelajaran, dan minat

belajar di pengaruhi oleh [Link] siswa ada minat dalam belajar

maka siswa akan senantiasa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran dan

mempengaruhi nilai hasil belajar yangbaik.


58

d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Minat Belajar

Menurut Kumari (2021:11) menyatakan bahwa “minat belajar

seseorang tidaklah selalu stabil, melainkan selalu berubah. Oleh karena

itu perlu diarahkan dan dikembangkan kepada sesuatu pilihan yang

telah ditentukan melalui faktor yang mempengaruhi minat itu. Ada

beberapa faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa sebagai

berikut:

1) Faktor internal meliputi dua hal, yaitu faktor jasmani maupun rohani,

fisik maupun psikis. Faktor jasmani merupakan kesehatan dan

kesiapan fisik seseorang untuk belajar. Sesorang yang belajar yang

sedang sakit tentu hasilnya akan berbeda saat ia belajar dalam

keadaan sehat. Faktor psikis meliputi intelegensi, konsentrasi,

kepribadian, dan gaya belajar.

2) Faktor ekternal adalah meliputi beberapa hal yaitu lingkungan

keluarga,lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan waktu

lingkungan keluarga yang memiliki sifat positif terhadap sekolah,

dukungan orang tua, pola pengasuhan orang tua juga mempengaruhi

keberhasilan anak dalam belajar. Lingkungan sekolah sebagai

lembaga pendidikan pormal memegang peranan penting dalam hasil

belajar siswa. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan dalam melihat

faktor sekolah antara lain lokasi sekolah, kualitas lulusan, fasilitas

yang disediakan disekolah , guru sertatata tertib sekolah.

Lingkungan masyarakat seperti tetangga, teman sebaya, media,


59

budaya, dan sebagainya secara tidak langsung mempengaruhi norma,

kebiasaan, adat, pandangan perilaku anak yang akhirnya juga

mempengaruhi kebiasaan belajar yang ia miliki.

Berdasarkan pendapat ahli di atas bahwasannya terdapat dua

faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar yaitu (1) faktor internal

meliputi faktor jasmani dan fisik (2) faktor ekternal meliputi beberapa

hal yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan

masyarakat, dan waktu lingkungan keluarga yang memiliki sifat positif

terhadap sekolah, dukungan orang tua, pola pengasuhan orang tua juga

mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar.

B. Kerangka Berpikir

1. Pengaruh Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru dan Minat

Belajar secara bersama-sama Terhadap Prestasi Belajar Bahasa

Indonesia .

Agar pembelajaran Bahasa Indonesia berhasil guna, diperlukan

upaya guru dalam mengajar ilmu tersebut. Mengingat kesan Bahasa

Indonesia yang sering dimarginalkan dengan pelajaran menghafal dan

mempelajari konsep-konsep, maka diperlukan pengajara yang menarik dan

menyenangkan. Dengan pengajaran yang menyenangkan diharapkan

peserta didik dapat termotivasi untuk menguasai ilmu pengetahuan Bahasa

Indonesia. Untuk menciptakan proses pembelajaran yang menarik,

menyenangkan dan berhasil guna diperlukan kompetensi pedagogik guru

yang memadai. Disamping kompetensi pedagogik guru, proses


60

pembelajaran perlu didukung oleh minat belajar yang kondusif. Secara

umum dalam mengajarkan suatu subjek, seorang guru harus menerapkan

strategi yang tepat sesuai dengan materi yang disajikan. Strategi tersebut

meliputi metode dan teknik pengajaran, perlakukan yang objektif, serta

mampu menciptakan pembelajaran yang kondusif. Dengan pengajaran

yang baik dan professional akan menciptakan persepsi positif pada diri

peserta didik.

Disisi lain minat belajar seperti mendengarkan guru, mengamati

guru dengan baik, dan suasana pembelajaran yang menyenangkan akan

membuat peserta didik betah dan belajar pada semua mata pelajaran

termasukBahasa Indonesia . Dari uraian tersebut patut diduga bahwa

persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan minat belajar berpengaruh

terhadap prestasibelajar Bahasa Indonesia.

2. Pengaruh Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru Terhadap

PrestasiBahasa Indonesia

Untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi termasuk prestasi

belajar Bahasa Indonesia perlu usaha yang cukup baik dan dukungan dari

pihak peserta didik maupun guru. Dari pihak peserta didik, semestinya

para peserta didik memiliki persepsi yang positif terhadap pelajaran

Bahasa Indonesia tersebut. Dengan pengajaran yang menyenangkan, maka

respon peserta didik pada Bahasa Indonesia dan pada gurunya akan lebih

baik dan pada akhirnya menciptakan persepsi positif.

Nilai dan opini sangat berhubungan erat dengan sikap, bahkan


61

konsep keduanya sering digunakan dalam definisi-definisi mengenai sikap.

Persepsi sering berisi kepercayaan seseorang mengenai suatu obyek.

Seringkali dalam isu tertentu, apa yang dipercayai seseorang sering kali

menjadi streotipe atau sesuatu yang terpolakan dalam pikirannya.

Kepercayaan datang dari apa yang telah dilihat atau diketahui.

Berdasarkan apa yang telah dilihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau

gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu obyek. Sekali

kepercayaan itu terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan

seseorang mengenai apayang dapat diharapkan dan apa yang tidak dapat

diharapkan dari obyek tertentu.

Dengan demikian interaksi serta prediksi kita akan pengalaman

dimasa datang akan lebih mempunyai arti dan keteraturan. Begitu pula

dengan interkasi, nilai, dan persepsi peserta didik atas kompetensi guru

akanmembentuk suatu ide, gagasan atau pola tertentu yang berpengaruh

perilaku belajarnya. Berdasarkan pemikiran tersebut, diduga terdapat

pengaruh erat persepsi peserta didik atas kompetensi pedagogik guru

terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia .

3. Pengaruh Minat Belajar Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia

Disamping persepsi atas kompetensi pedagogik berpengaruh

terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia seperti yang telah dijelaskan di

atas, pembelajaran Bahasa Indonesia juga perlu didukung dengan minat

yangbesar. Pelajaran Bahasa Indonesia yang sering dianggap pelajaran

yang membosankan, jika didukung dengan minat dan semangat yang


62

tinggi untuk belajar yang menyenangkan seperti sarana prasarana, cara

mengajar, pemilihan materi yang cocok, dan sistem sekolah akan

mendorong peserta didik untuk belajar lebih semangat.

Pentingnya minat belajar peserta didik sangat mempengaruhi

padaprestasi peserta didik, karena minat belajar yang tinggi peserta didik

dapat melakukan tugas dan kewajibannya dengan rasa penuh tanggung

jawab dan senang hati, sehingga mereka dapat meraih prestasi yang

diinginkannya. Minat belajar adalah suatu hal yang dapat merubah dan

memperbaiki perilakuseseorang, untuk itu minat belajar diciptakan setinggi

mungkin sehingga prestasi yang lebih baik dan tinggi dapat diproleh.

Pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia

juga tercermin dalam keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran,

seperti partisipasi aktif dalam diskusi kelas, kemauan untuk melakukan

latihantambahan, dan minat terhadap bahan bacaan atau karya sastra dalam

Bahasa Indonesia . Minat yang tinggi juga dapat meningkatkan tingkat

pemahaman siswa terhadap materi, karena mereka lebih cenderung untuk

secara aktif terlibat dalam proses belajar. Namun, sebaliknya, ketika minat

belajar terhadap Bahasa Indonesia rendah, siswa mungkin merasa enggan

atau kurang termotivasi untuk terlibat dalam pembelajaran. Hal ini dapat

mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap materi, penurunan

partisipasi dalam kelas, dan kesulitan dalam memahami konsep atau

kaidah bahasa yangdiajarkan.

Dalam konteks pendidikan, memahami pengaruh minat belajar


63

terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia menjadi penting bagi para

pendidik untuk merancang strategi pembelajaran yang efektif dan

memotivasi. Dengan mengakomodasi minat belajar siswa, pendidik dapat

menciptakan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan, menantang,

dan memuaskan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar

BahasaIndonesia serta motivasi intrinsik siswa terhadap pembelajaran

bahasa.

C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis penelitian

disusun sebagai berikut:

1. Terdapat pengaruh yang signifikan persepsi atas kompetensi pedagogik

guru dan minat belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar

Bahasa Indonesia .

2. Terdapat pengaruh yang signifikan persepsi atas kompetensi pedagogik

guru terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia .

3. Terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar terhadap prestasi

belajarBahasa Indonesia .
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri dan Swasta di

wilayah Karawang, yang terdiri dari (1) SMPN 1 Cikampek, (2) SMPN 2

Cikampek, (3) SMPN 3 Cikampek, (4) SMP PGRI Cikampek. Sedangkan

objek penelitiannya adalah parapeserta didik kelas VIII semester ganjil

tahun pelajaran 2024/2025. Jumlahpeserta didik kelas VIII pada keempat

sekolah tersebut sebanyak 588 orang.

Tabel 3.1
Daftar nama sekolah dan jumlah peserta didik kelas VIII

No. Nama Sekolah Alamat Sekolah Jumlah


Siswa
Jalan Raya Cikampek, Cikampek
SMPN 1 Cikampek,
1 selatan 144
NPSN : 20217934
Jl. Babakan Bogor, dauan barat
SMPN 2 Cikampek,
2 112
NPSN : 20217864

SMPN 3 Cikampek, Kp. Kamuning, kalihurip


3 209
NPSN : 69966497
SMPN 2 Jl. Jendral A. Yani Kp. Poponcol
4 TIRTAMULYA 123
NPSN : 20237323
Jumlah 588
Sumber : Dokumen Pribadi
65

2. Waktu Penelitian

Kegiatan penelitian hingga pembuatan laporan diperkirakan

akanberlangsung selama 6 (enam) bulan terhitung mulai bulan Maret 2024

sampai bulan Agustus 2024. Rencana penelitian dilaksanakan dalam

empattahapan: 1) Penentuan masalah/judul dan penyusunan proposal,

2)Pengambilan data, 3) Pengolahan, analisis data sampai pada penyusunan

kesimpulan, dan 4) pembuatan laporan penelitian, yang alokasi waktunya

diatur dalam jadwal terlampir sebagai pedoman peneliti dalam

melaksanakan penelitian. Jadwal rencana penelitian dapat dilihat dalam

tabel 3.2 berikut:

Tabel 3.2
Jadwal Kegiatan Penelitian
No Kegiatan Juli-24 Agust- Septe- Okto-24 Nope- Desem-
24 24 24 24
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengajuan Judul
1
Penyusunan bab
2
1-3
Penyusunan
3
instrumen
Penyebaran dan
4 validasi instrumen
Pengumpulan data
5
Pengolahan data
6 dan analisis data
Penyusunanbab 4
7
dan 5
Asumsisidang
8
9 Revisi tesis

Sumber : Dokumen Pribadi

B. Metode Penelitian
66

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei

deskriptif dengan teknik regresi linear berganda yaitu dengan cara

memberikan instrumen penelitian berupa kuesioner kepada obyek penelitian

dengan cara daring. Menurut Sugiyono (2008:6) metode penelitian

pendidikan dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang

valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu

pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk

memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang

pendidikan.

Menurut Sudjana (1996:367): “dalam analisa korelasional, hal utama

yang dianalisa adalah koefisien korealsi, yaitu bilangan yang menunjukkan

derajat hubungan antara dua variabel yang mempunyai hubungan sebab

akibat dan saling mengadakan perubahan”. Variabel penelitian ini yaitu

variabel terikat (dependent variable) adalah prestasi belajar Bahasa Indonesia

(Y) dan variabel bebas (independent variable) adalah persepsi atas

kompetensipedagogik guru (X1), dan minat belajar (X2). Menurut kerangka

berpikir dan hipotesis penelitian diduga antara variabel bebas dan terikat

tersebut adahubungan sebab akibat dan saling mengadakan perubahan. Untuk

itu maka teknik analisis pembuktian hipotesis tersebut digunakan teknik

korelasional. Adapun model konstelasi hubungan antar variabel dalam

penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1 di bawah ini :


67

X1

X2

Gambar 3.1 Hubungan antar variabel

X1 : Persepsi atas kompetensi pedagogik guru

X2 : Minat belajar

Y : Prestasi belajar Bahasa Indonesia Sumber : Dokumen Pribadi

C. Populasi dan Sampel


1.
Populasi

Supardi, dkk. (2011:25) mengemukakan bahwa dalam penelitian

kuantitatif populasi adalah subyek yang berada pada suatu wilayah dan

memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah atau objek

penelitian.

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta

didik kelas VIII SMP Negeri dan Swasta di Karawang, tahun pelajaran

2024/[Link] kemudian diperkecil menjadi populasi yang terdapat dari

dari (1) SMPN 1 Cikampek, (2) SMPN 2 Cikampek (3) SMPN 3

Cikampek, (4) SMP PGRI Cikampek dengan jumlah peserta didik adalah

588 peserta didik.


68

2.
Sampel

Sampel (bahasa inggris sample) merupakan bagian dari populasi

yang ingin diteliti, dipandang sebagai suatu pendugaan terhadap populasi,

namun bukan populasi itu sendiri. Sampel adalah sebagian dari jumlah

dankarakter yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono, 2010:118).

Sampeldalam penelitian kuantitatif merupakan subyek penelitian yang

dianggap mewakili populasi, dan biasanya disebut responden penelitian.

Sampeldianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili

keseluruhan gejala yang diamati. Ukuran dan keragaman sampel menjadi

penentu baik tidaknya sampel yang diambil

Menurut Arikunto, (2006:134), pengertian sampel adalah wakil dari

populasi yang akan diteliti yang dimaksudkan untuk menggeneralisasikan

hasil penelitian. Dikatakannya juga sebagai acuan dapat diambil 10 %

sampai 15% atau 20% sampai dengan 25% dari jumlah populasi data yang

ada. Jika subyek yang akan diteliti terlalu besar, maka harus

dipertimbangkan masalah efisiensi dan efektivitas pelaksanaan penelitian

itu (Arikunto, 2006:107).

Teknik pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik

gabungan antara cluster dan random. Teknik cluster digunakan dalam

mengelompokan calon responden menurut kelas/grade, sedangkan teknik

random digunakan dalam memilih anggota sampel dari setiap cluster yang

ada.
69

Dengan memperhatikan uraian teori tentang penentuan jumlah

sampeldi atas, peneliti tertarik untuk menerapkan teorinya Arikunto yaitu

dalam menentukan jumlah sampel peneliti menetapkan ukuran sebesar

10% dari seluruh populasi dengan demikian diperoleh sebanyak 60 sampel

yang secara proposal terdiri dari 4 SMP Negeri dan 1 SMP Swasta yang

telah ditetapkan sebagai populasi. Populasi penelitian ini adalah seluruh

peserta didik kelas VIII tahun pelajaran 2024/2025 yang berjumlah 588

peserta [Link] penetapan anggota sampel seperti tampak pada

Tabel 3.3berikut:

Tabel 3.3
Jumlah sampel penelitian

Jumlah Siswa Perhitungan


No. Nama Sekolah
Kelas VIII Proporsi (10%)
SMPN 1 CIKAMPEK
1 144 14
NPSN : 20217934
SMPN 2 CIKAMPEK
2 112 11
NPSN : 20217864
SMPN 3 CIKAMPEK
3 209 23
NPSN: 69966497
SMPN 2
4
TIRTAMULYA 123 12
NPSN: 20237323
Jumlah 588 60
Sumber : Dokumen Pribadi

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Sesuai dengan variabel penelitian, ada 3 jenis data

2. Persepsi atas kompetensi pedagogik guru

3. Minat belajar

4. Prestasi belajar Bahasa Indonesia


70

Data persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan minat belajar

peserta didik diperoleh melalui angket/quesioner yang disusun oleh

peneliti. Pengisian kuesioner dilakukan dengan cara daring sedangkan data

prestasi belajar Bahasa Indonesia diperoleh dari hasil tes tengah semester

dan nilai tes akhir semester dan data nilai diperoleh dari masing-masing

sekolah tempat penelitian.

E. Instrumen Penelitian

1. Variabel Prestasi Belajar Bahasa Indonesia (Y)

a. Definisi Konseptual

Secara konseptual prestasi belajar adalah hasil belajar yaitu

perubahan yang terjadi pada peserta didik sebagai hasil dari proses

belajar yang dinyatakan dengan angka atau lambang.

b. Definisi Operasional

Secara operasional yang dimaksud dengan prestasi belajar dalam

penelitian ini adalah yang berisi pertanyaan sebanyak 10 item yang

mengungkapkan penilaian peserta didik pada nilai hasil belajar selama

1 (satu) semester untuk 60 peserta didik yang dijadikan sampel

penelitian.
2.
Variabel Persepsi atas kompetensi pedagogik guru.

a. Definisi Konseptual

Persepsi pada kompetensi pedagogik guru dalam penelitian ini

didefinisikan sebagai penilaian peserta didik atas kemampuan seorang


71

guru dalam mengelola proses pembelajaran peserta didik yang

terintegrasi dan terorganisir, selain itu juga kemampuan pedagogik

ditunjukkan dalam membantu, membimbing dan memimpin peserta

didik, serta untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya,

sertamemahami peserta didik secara mendalam.

b. Definisi Operasional

Persepsi atas kompetensi pedagogik guru adalah skor total yang

diperoleh peserta didik yang berisi pertanyaan sebanyak 30 item yang

mengungkapkan penilaian peserta didik pada kompetensi

pedagogikguru mengajar di ruang kelas. Instrumen disusun dengan

menggunakan skala Likert sebagai acuan penelitian, yaitu 5 SL (Selalu),

4 SR (Sering), 3 KD (Kadang-kadang), 2 P (Pernah) dan 1 TP (Tidak

Pernah). Pemberian skor untuk pernyataan positif : (SL) diberi skor 5,

(SR) diberiskor 4, (KD) diberi skor 3, (P) diberi skor 2, dan (TP) diberi

skor 1, UntukPernyataan negatif adalah sebaliknya (SL) diberi skor 1,

(SR) diberi skor2, (KD) diberi skor 3, (P) diberi skor 4, dan (TP) diberi

skor 5.

c. Kisi-kisi Instrumen Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru

Instrumen penelitian persepsi atas kompetensi pedagogik guru

disusun berdasarkan beberapa indikator di atas. Berdasarkan indikator

tersebut disusun pertanyaan yang berhubungan dengan variabel persepsi

atas kompetensi pedagogik guru. Untuk instrumennya dalam penelitian

ini direncanakan disusun 30 butir pertanyaan selanjutnya diuji validitas


72

butir dan realibilitas instrumen sehingga digunakan sebagai instrumen

penelitian.

3. Variabel Minat belajar

a. Definisi Konseptual

Secara konseptual, minat belajar juga bisa dilihat sebagai hasil

dari interaksi antara faktor internal dan eksternal. Faktor internal

meliputi minat alami individu terhadap topik tertentu, tingkat

keterlibatan emosional, dan kebutuhan pribadi. Sedangkan faktor

eksternal melibatkan lingkungan belajar, metode pengajaran, dan

kualitas interaksi antara guru dan siswa. Dalam konteks pendidikan,

pemahamankonseptual minat belajar penting karena dapat membantu

para pendidik merancang pengalaman belajar yang lebih menarik dan

relevan bagi siswa. Dengan memahami faktor-faktor yang

mempengaruhi minat belajar, pendidik dapat menciptakan lingkungan

pembelajaran yang memotivasi dan memfasilitasi pertumbuhan

akademik serta pengembangan pribadi siswa.

b. Definisi Operasional

Secara operasional minat belajar adalah skor total yang diperoleh

dari hasil angket. Pengukurannya dengan menggunakan skala likert.

Adapun instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data minat

belajarsiswa digunakan koesioner skala Likert dengan jumlah item 30

butir.
73

4. Kalibrasi Instrumen

a. Uji Validitas

Sebelum melakukan pengumpulan data berupa penyebaran

instrumen terhadap sampel, instrumen akan diuji terlebih dahulu

validitasnya. Uji Validitas bertujuan untuk mengukur instrumen yang

telah disusun dan dapat dikatakan valid jika instrumen dapat mengukur

sesuatu dengan tepat apa yang hendak diukur. Instrumen persepsi

pesertadidik atas kompetensi pedagogik guru dan minat belajardisusun

berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetapkan

sehinggamenghasilkan 60 pernyataan untuk persepsi atas kompetensi

pedagogik dan minat belajar. Untuk menguji validitas butir instrumen,

dilakukan ujicoba instrumen kepada 10 orang peserta didik di luar

sampel penelitian.

Validitas yang diukur adalah validity internal consistency dengan

menggunakan rumus product-moment. Hasil perhitungan, kemudian

dibandingkan dengan rtabel product-moment. Bilamana rhitung lebih

besar dari rtabel, maka butir instrumen tersebut dapat dinyatakan valid.

Adapun validitas, berdasarkan hasil perhitungan, selain diolah data

dianalisis lalu disajikan secara lengkap sebagaimana layaknya

perhitungan statistik. Untuk kedua instrumen dalam Penelitian,

Kesahihan atau Validitas butir angket diuji dengan menggunakan

koefisien product moment (r) dengan rumus:


74

Keterangan:

rxy = Koefisien korelasi

n = jumlah responden

X = Skor butir angket yang dihitung validitasnya

Y = Skor total

b. Uji Reliabilitas

Instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data, selain

harus valid juga harus reliabel. Artinya, instrumen tersebut harus

bersifat ajeg dan memiliki hasil yang sama jika dilakukan pengujian

[Link] perhitungan reliabilitas instrumen ini, menurut Djaali

(2000: 145) disajikan secara lengkap sebagaimana reliabilitas instrumen

pada umumnya, yaitu dengan cara menghitung reliabilitas dengan

menggunakan rumus Alpha- Cronbach, sebagai berikut:

Apabila koefisien reliabilitas instrumen yang dihasilkan lebih

besar dari 0,7, berarti bahwa instrumen ini memiliki reliabilitas yang

cukup baik dan dapat digunakan sebagai instrumen penelitian.


75

F. Teknik Analisa Data

1. Teknik Analisis Data Deskriptif

Data yang diperoleh dari hasil penelitian selanjutnya ditabulasikan

untuk dianalisis sesuai dengan arah dan tujuan penelitian. Tabulasi

tersebut terdiri dari tabel deskriptif Bahasa Indonesia data persepsi peserta

didik atas kompetensi pedagogik, minat belajar, dan prestasi belajar

Bahasa Indonesia .Tabel dianalisis dengan menghitung rata-rata, median

dan modus, simpangan baku, interval, dan tabel frekuensi data. Menurut

Nana Sudjana (1990: 114), sebagai berikut:

a. Rata-rata (mean) = dan ∑X = jumlah nilai frekuensi sedangka

n = jumlah sampel

b. Modus dan b = batas kelas interval dan frekuensi

terbanyak

p = panjang kelas interval

b1 = frekuensi pada kelas modus (frekuensi pada kelas terbanyak)

dikurangi frekuensi kelas interval terdekat sebelumnya

b2 = frekuensi kelas modus dikurangi kelas interval berikutnya.

c. Median dan

b = batas bawah, dimana median akan terletak

n = banyak data atau sampel

F = jumlah semua frekuensi sebelum kelas median

f = frekuensi kelas median.


76

d. Simpangan baku =

∑fd = jumlah nilai dari frekuensi dikalikan dengan hasil pengurangan

interval.

∑fd2 = jumlah nilai dari frekuensi dikalikan dengan hasil

pengurangan interval.

n = jumlah sampel

2. Teknik pengujian persyaratan data

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data hasil

pengumpulan berdistribusi normal atau tidak. Hal ini akan berpengaruh

pada proses lanjutan analisis statistik, jika data berdistribusi normal,

maka analisis dilanjutkan menggunakan statistik parametrik, sedangkan

jika data tidak berdistribusi normal, maka analisis dilanjutkan

menggunakan statistik non parametrik. “Uji normalitas dapat dilakukan

menggunakan analisis Kolmogorov Smirnov dalam SPSS 22.0”

(Abdullah, Suparman: 2014: 50). Distribusi data dikatakan normal jika

nilai sig KS > 0,05. Perhitungan normalitas akan dilakukan

menggunakan bantuan program komputer SPSS 22.0.

b. Uji Linearitas

“Pengujian linieritas garis regresi dalam penelitian ini digunakan

UjiF”, rumusnya adalah sebagai berikut (Sudjana, 1996:327):


77

Dimana :

JK(TC) = JKres – JK(E), disebut jumlah kuadrat ketidak cocokan (tuna

cocok).

disebut sebagai jumlah kuadrat kesalahan, sedangkan k adalah

pengelompokan ulang untuk data X. disebut sebagai jumlah kuadrat

residu,disebut jumlah kuadrat regresi dan,

disebut sebagai jumlah kuadrat regresi (a). Nilai F yang diperoleh disebut

Fhitung dan akan dibandingkan dengannilai F dari tabel (Ftabel) untuk α= 5%.

Kriteria pengujian linieritasnya adalah "jika Fhitung < Ftabel maka garisregresi

tersebut linier".

c. Uji Multikolieniritas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model

regesi ditemukan adanya korelasi yang sempurna antar variabel bebas

(independent). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi


78

korelasiyang sempurna diantara variabel bebas. Salah satu cara untuk

untuk mendeteksi adanya multikolinieritas adalah dengan melihat

tolerance atau varian inflation factor (VIF). Apabila tolerance > 0,1

atau nilai VIF < 10 maka terjadi multikolinearitas.

d. Uji Heteroskedastisitas

Pengertian heteroskedastisitas adalah apabila kesalahan atau

residual yang diamati tidak memiliki varian yang konstan. Kondisi

heteroskedastisitas sering terjadi pada data cross section, atau data

yangdiambil dari beberapa responden pada suatu waktu tertentu. Salah

satu metode untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas adalah

dengan membuat scatter-plot antara standardized Residual (ZRESID)

dan Standardized Predicted Value (Y topi).

e. Uji Normalitas Galat

Uji normalitas galat digunakan untuk mengetahui apakah galat

pada regresi ganda mengikuti distrinusi normal. Ketentuan menurut

Suparman, I.A. (2016:149) dikatakan normal jika nilai semua sig >

0.054

3. Uji hipotesis penelitian

Setelah keseluruhan uji persyaratan analisis data dipenuhi dan

diketahui data layak untuk diolah lebih lanjut, maka langkah berikutnya

adalah menguji masing-masing hipotesis yang telah diajukan. Pengujian

hipotesis menggunakan teknik korelasi partial dan korelasi ganda, serta

regresi liniersederhana dan regresi linier ganda. Dalam praktiknya, untuk


79

perhitungan dan pengujian korelasi dan regresi akan dipergunakan bantuan

SPSS 22.0 Adapun kriteria pengujiannya adalahsebagai berikut:

a. Analisis Korelasi

Hasil perhitungan koefisien korelasi ganda dapat dilihat dari

output program SPSS melalui analisis regresi yakni pada tabel Model

Summaryb. Signifikasi dari koefisien korelasi tersebut diuji secara

manual atau dengan bantuan komputer melalui program aplikasi

Microsoft Excel. Adapun rumus pengujiannya adalah:

dimana:

F hitung : nilai F yang dihitung

R : nilai koefisien korelasi ganda

K : jumlah variabel bebas (independent)

N : jumlah sampel

b. Analisis Regresi

1) Perhitungan Persamaan Garis Regresi

Hasil perhitungan garis regresi bisa dilihat dari output program

SPSSmelalui analisis regresi yakni pada tabel Coefficients.

Koefisien- koefisien persamaan garis regresi ditunjukkan oleh

bilangan- bilangan yang ada pada kolom B untuk Unstandardized


80

Coefficients. Tabel 3.4 Coefficientsa

Unstandardized Standardize t Sig.


Model Coefficients d
Coefficients
B Std. Error Beta

1 (Constant)X1 X2

a. Dependent Variable: Prestasi Belajar Bahasa Indonesia


Sumber Dokumen Pribadi

2) Pengujian Signifikan Regresi

a) Untuk Regresi Partial

Untuk pengujian signifikan regresi partial dilakukan dengan

memperhatikan nilai pada kolom t atau kolom Sig. Untuk

regresipartial pengaruh X1 terhadap Y digunakan baris nilai t

dan Sig pada baris Variabel X1, sedangkan untuk regresi partial

pengaruh X2 terhadap Y digunakan baris nilai t dan Sig pada

barisvariabel X2.

• Jika digunakan Kolom Sig, maka kriteria signifikansinya

adalah: "jika Sig<0,05 maka regresi tersebut signifikan"

• Jika digunakan Kolom t, maka kriteria signifikansinya adalah:

"jika thitung >ttabel maka regresi tersebut signifikan"

ttabel dipilih sesuai dengan ketentuan pengujian statistik pada

distribusi ttabel, yaitu taraf nyata α dan dk = n - 2, dimana n


81

adalahbanyaknya anggota sampel.

b) Untuk Regresi Ganda

Hasil pengujian signifikansi regresi ganda bisa dilihat dari

output program SPSS melalui analisis regresi. Kriteria

signifikansinya adalah:

Tabel 3.5 ANOVAa

Sum of Squares
Model df Mean Square F Sig.
1 Regression
Residual
Total
a. Dependent Variable: Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
b. Predictors: (Constant), Minat Belajar, Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru
Sumber : Dokumen Pribadi

• Jika digunakan Kolom Sig, maka kriteria signifikansinya

adalah: ''jika Sig <0,05 maka regresi tersebut signifikan"

• Jika digunakan Kolom t, maka kriteria signifikansinya adalah:

''jika thitung >ttabel maka regresi tersebutsignifikan"

Ftabel dipilih sesuai dengan ketentuan pengujian statistik pada

distribusi F, yaitu pada taraf nyata αderajat (dk) pembilang = k

dan derajat (dk) penyebut = n- k -1, dimana n adalah banyaknya

anggotasampel dan k adalah banyaknya variabel bebas.

G. Hipotesis Statistik

Berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskan di atas, maka hipotesis


82

statistik dalam penelitian ini sebagai berikut:

1.
HO : β У1 = βy2 = 0 H1 : βy1 ≠ 0; βy2 ≠ 0

Artinya :

HO : tidak terdapat pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan

minat belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Bahasa

Indonesia .

HI : terdapat pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru dan minat

belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Bahasa

Indonesia .

2.
HO : βy1 = 0 H1 : βy1 ≠ 0

Artinya:

Ho : tidak terdapat pengaruh persepsi atas kompetensi pedagogik guru

terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia .

Hi : terdapat pengaruh persepsi peserta didik atas kompetensi pedagogik

guru terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia .


3.
HO: βy2 = 0 Hi : βy2≠0

Artinya:

HO : tidak terdapat pengaruh minat belajar terhadap prestasi

belajarBahasa Indonesia .

H1 : terdapat pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa

Indonesia .
83

Keterangan:

β 1 = Koefisien regresi persepsi peserta didik atas kompetensi pedagogik

guru terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia .

β2 = Koefisien regresi minat belajar terhadap prestasi belajar Bahasa

Indonesia

β1,2 = Koefisien regresi secara bersama-sama persepsi peserta didik atas

kompetensi pedagogik guru dan minat belajar terhadap prestasi belajar

Bahasa Indonesia.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Deskripsi data statistik secara keseluruhan dari hasil perhitungan dan

pengujian yang dilakukan dengan bantuan komputer melalui program aplikasi

SPSS 22, serta analisis dan intepretasinya.

Tabel 4.1.
Deskripsi Data Penelitian
Statistics

Prestasi Belajar
Kompetensi Bahasa
Pedagogik Guru Indonesia
Minat Belajar
N Valid 60 60 60
Missing 0 0 0
Mean 118.55 117.82 37.73
Std. Error of Mean .928 .935 .356
Median 117.00 116.00 38.00
Mode 116 114 a
38
Std. Deviation 7.189 7.240 2.755
Variance 51.675 52.423 7.589
Range 29 31 11
Minimum 105 103 33
Maximum 134 134 44
Sum 7113 7069 2264
a. Multiple modes exist. The smallest value is shown
Sumber : Dokumen Pribadi
85

1.
Analisis Data Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru (X1)

Skor persepsi siswa atas kompetensi pedagogik guru yang diperoleh

dari responden mempunyai rata-rata 118,55 dengan simpangan baku 7,189

median 117,00 skor minimum 105 dan skor maksimum 134.

Hal ini menunjukkan bahwa data kompetensi pedagogik guru yang

diperoleh pada penelitian ini cukup representatif. Sedangkan skor yang

berada di atas rata-rata lebih banyak dibanding yang berada di bawah rata-

rata menunjukkanbahwa yang mempunyai kompetensi pedagogik guru

lebih banyak dibanding yangnegatif. deskripsi data tersebut dapat dilihat

dari histogram di bawah ini.

Gambar 4.1.
Histogram Data Skor Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru
Sumber : Dokumen Pribadi
86

Dari histrogram dan poligon frekwensi dapat disimpulkan bahwa

data skor skala kompetensi pedagogik guru dalam penelitian ini memiliki

sebaran yang cenderung normal.


2.
Analisis Data Variabel Minat Belajar (X2)

Skor minat belajar yang diperoleh dari para responden mempunyai

rata- rata117,82, dengan simpangan baku 7,240, median sebesar 116,00

skor minimum 103,dan skor maksimum 134.

Hal ini menunjukkan bahwa data skor minat belajar pada penelitian

ini cukuprepresentatif. Sedangkan skor yang berada di atas rata-rata lebih

banyak dibanding yang berada di bawah rata-rata menunjukkan bahwa

minat belajar yang tinggi lebihbanyak dibanding yang rendah. deskripsi

data tersebut bisa dilihat dari Histogram dibawah ini.

Gambar 4.2.
Histogram Data Skor Minat Belajar
Sumber : Dokumen Pribadi
87

Dari histrogram dan poligon frekwensi dapat disimpulkan bahwa

data skor skala minat belajar dalam penelitian ini memiliki sebaran yang

cenderung normal.
3.
Analisa Data Prestasi Belajar Bahasa Indonesia (Y)

Data prestasi belajar Bahasa Indonesia yang diperoleh dari para

responden mempunyai rata-rata 37,73, dengan simpangan baku 2,755,

median sebesar 38,00 skor minimum 33 dan skor maksimum 44. Hal ini

menunjukkan bahwa rata-rata prestasi belajar Bahasa Indonesia dari

responden termasuk tinggi. Skor simpanganbaku 2,755 menunjukkan

perbedaan jawaban antar responden termasuk tinggi. Hal ini menunjukkan

bahwa prestasi belajar Bahasa Indonesia dari responden cukup beragam.

Hal ini menunjukkan bahwa data skor prestasi belajar Bahasa

Indonesia padapenelitian ini cukup representatif.

Gambar 4.3.
Histogram Data Skor Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Sumber : Dokumen Pribadi
88

Dari histrogram dapat disimpulkan bahwa data skor skala prestasi

belajar BahasaIndonesia dalam penelitian ini memiliki sebaran yang

cenderung normal.

B. Pengujian Persyaratan Analisis

Pengujian persyaratan analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini

adalah pengujian normalitas, homogenitas, dan linieritas garis regresi partial

antaravariabel bebas dan variabel terikat.

1. Pengujian Normalitas Data

Pengujian normalitas data masing-masing sampel diuji melalui

hipotesis berikut:

H0 : data pada sampel tersebut berdistribusi normal

H1 : data pada sampel tersebut tidak berdistribusi normal

Perhitungan dilakukan dengan bantuan komputer melalui program

aplikasiSPSS 22. Menurut ketentuan yang ada pada program tersebut maka

kriteria dari normalitas data adalah “jika p value (sig) > 0.05 maka H0

diterima”, yang berarti data pada sampel tersebut berdistribusi normal. Nilai

p value (sig) adalah bilanganyang tertera pada kolom sig dalam tabel

hasil/output perhitungan pengujian normalitas oleh program SPSS. Dalam

hal ini digunakan metode Kolmogorov- Smirnov.


89

Hasil perhitungan bisa dilihat pada Tabel 4.2

Tabel 4.2.
Rekapitulasi Hasil Pengujian Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kompetensi
Pedagogik Minat Belajar Prestasi Belajar
Guru Bahasa
Indonesia
N 60 60 60
Normal Parametersa,b Mean 118.55 117.82 37.73
Std. 7.189 7.240 2.755
Deviation
Most Extreme Differences Absolute .150 .145 .245
Positive .150 .145 .245
Negative .103 .092 .127
Test Statistic .150 .145 .245
Asymp. Sig. (2-tailed) .077c .131c .088c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Sumber : Dokumen Pribadi

Pada tabel di atas terlihat bahwa nilai pada kolom Sig pada metode

Kolmogorov-Smirnov untuk semua sampel lebih besar dari 0,05, sehingga

H0 diterima, dengan kata lain bahwa data dari semua sampel pada penelitian

ini berdistribusi normal.

Untuk memperkuat hasil pengujian tersebut maka ditampilkan

Histogram Normalitas Galat Baku, Grafik Normal P-P Plot Galat Baku, dan

Grafik Normal Q-Q Plot untuk setiap sampel.


90

Gambar 4.4.
Histogram Normalitas Galat Baku
Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 4.4.
Normalitas Grafik P-P Plot Galat Baku
Sumber : Dokumen Pribadi
91

Gambar 4.6.
Grafik Normal Q-Q Plot Data Persepsi atas Kompetensi Pedagogik Guru
Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 4.7.
Garif Normal Q-Q Plot Data Minat Belajar
Sumber : Dokumen Pribadi
92

Gambar 4.8.
Garif Normal Q-Q Plot Data Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Sumber : Dokumen Pribadi

2. Pengujian Linieritas Garis Regresi

Pengujian linieritas dalam penelitian ini digunakan hipotesis berikut: H0

: garis regresi hubungan antara varibel X dan variabel Y linier H1 : garis

regresi hubungan antara varibel X dan variabel Y tidak linier Perhitungan

dilakukan dengan bantuan komputer melalui program aplikasi SPSS 22.

Menurut ketentuan yang ada pada program tersebut maka kriteria dari

normalitas data adalah “jika p value (sig) < 0,05 maka H0 diterima”, yang

berarti bahwa sampel-sampel tersebut berasal dari populasi yang homogen.

Nilai p value (sig) adalah bilangan yang tertera pada kolom sig baris

Linierity dalam tabel ANOVA hasil perhitungan pengujian linieritas garis

regresi oleh program SPSS.


a.
Linieritas Garis Regresi Hubungan Antara Variabel X1 dengan

Variabel Y

Hasil perhitungan pengujian linieritas garis regresi hubungan

antaravariabel X1 dengan variabel Y bisa dilihat pada Tabel 4.3.


93

Tabel 4.3.
Rekapitulasi Hasil Pengujian Linieritas Garis Regresi Hubungan Antara Variabel
X1 dengan Variabel Y

ANOVA Table
Sum of Mean
Squares Squar
df F Sig.
e
Prestasi Between 372.467 21 17.737 8.955 .00
(Combined)Group 0
Belajar s Linearity
Bahasa 279.911 1 279.911 141.319 .00
Deviation
0
Indonesia * from
Linearit 92.556 20 4.628 2.336 .01
Kompetensi y 2
Pedagogik
Within Groups 75.26 3 1.98
Guru
7 8 1
Total 447.733 59
Sumber : Dokumen Pribadi

Pada tabel di atas diketahui baris Deviation from linearity memiliki

nilai Sig sebesar 0,012 lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan

bahwa bentuk persamaan regresi persepsi atas kompetensi pedagogik

guru dan prestasi belajar Bahasa Indonesia adalah linier.


b.
Linieritas Garis Regresi Hubungan Antara Variabel X2 dengan

Variabel Y

Hasil perhitungan pengujian linieritas garis regresi hubungan antara

variabel X2 dengan variabel Y bisa dilihat pada Tabel 4.4.


94

Tabel 4.4.
Rekapitulasi Hasil Pengujian Linieritas Garis Regresi Hubungan Antara
Variabel X2 dengan Variabel Y
ANOVA Table
Sum of Mean
Squares Squar
df e F Sig.
Prestasi Between 342.517 22 15.569 5.475 .00
(Combined) Groups 5
Belajar Linearity
Bahasa Deviatio 264.255 1 264.255 92.927 .00
n from 0
Indonesia *
Linearity
Minat 78.262 21 3.727 1.311 .23
1
Belajar
Within Groups 105.217 37 2.844
Total 447.733 59
Sumber : Dokumen Pribadi

Pada tabel di atas terlihat bahwa nilai pada kolom Sig untuk Minat

Belajar (X2) terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y) adalah

sebesar 0.231 lebih besar dari0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa

untuk persamaan regresi pengaruh MinatBelajar (X2) terhadap prestasi

belajar Bahasa Indonesia (Y) adalah linier.

C. Pengujian Hipotesis Penelitian

Pengujian hipotesis dilakukan seperti ketentuan yang tertulis pada

akhirBab III. Hasil perhitungan dan pengujian bisa dilihat pada tabel dibawah

ini:
95

Tabel 4.5.
Hasil Perhitungan Koefisien Korelasi Pengaruh Variabel X1 dan X2 terhadap Variabel Y
Model Summary

Adjusted Std. Error of the


R Square Estimate
Model R R
Square
1 .791a .626 .612 1.715

a. Predictors: (Constant), Minat Belajar, Kompetensi Pedagogik Guru


Sumber : Dokumen Pribadi

Tabel 4.6.
Data Anova Variabel X1 dan X2 terhadap Variabel Y ANOVAa

Sum of Mean
Squares Squar
Model df e F Sig.

1 Regression 280.06 2 140.031 47.604 .000b


Residual 2 57 2.942
167.67
2
Total 447.73 59
3
a. Dependent Variable: Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
b. Predictors: (Constant), Minat Belajar, Kompetensi Pedagogik Guru
Sumber : Dokumen Pribadi
Tabel 4.7.
Rekapitulasi Hasil Perhitungan Pengujian Signifikasi Koefisien Regresi Pengaruh
Variabel X1 dan X2 dengan Variabel Y
Coefficientsa

Unstandardized Standardize
Coefficients d
t Sig.
Coefficient
Model s
B Std. Beta
Error
1 (Constant) 1.85 3.69 .50 .61
Kompetensi 2 3 1 8
.87
Pedagogik Guru .33 .14 4 2.31 .00
96

Minat Belajar 5 4 0
.80 8
.03 .14 5 .01
2.226
2 3 2
[Link] Variable: Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
b. Sumber : Dokumen Pribadi

Dari ketiga tabel di atas, akan di uji tiga hipotesis sekaligus yaitu:

1. Pengaruh Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru (X1)

danMinat Belajar (X2) secara bersama-sama terhadap Prestasi

Belajar Bahasa Indonesia (Y)

Hipotesis pengaruh ini adalah :

H0 : β.1 = 0 atau β2 = 0

H1 : β.1 ≠ 0 atau β.2 ≠ 0;

artinya:

H0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan Persepsi Siswa atas

Kompetensi pedagogik guru (X1) dan minat belajar (X2) dansecara

bersama-sama terhadap Prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y)

H1 : terdapat pengaruh yang signifikan persepsi siswa atas kompetensi

pedagogik guru (X1) dan minat belajar (X2) dan secara bersama-

sama terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y)

Dari tabel 4.15. di atas terlihat bahwa koefisien korelasi ganda

pengaruh variabel bebas persepsi siswa atas kompetensi pedagogik guru

(X1) dan minat belajar (X2) dan secara bersama-sama terhadap prestasi

belajar Bahasa Indonesia (Y) adalah sebesar 1,852.


97

Sedangkan koefisien determinasinya sebesar 0,618 menunjukkan

bahwa besarnya kontribusi persepsi siswa atas Kompetensi pedagogik guru

(X1) minat belajar (X2) dan secara bersama-sama terhadap prestasi belajar

Bahasa Indonesia (Y) adalah sebesar 65,5%, sisanya (34,5%) karena

pengaruh faktor lain.

Sedangkan untuk pengujian hipotesis melalui analisis regresi

diperoleh hasilperhitungan terlihat pada Tabel 4.7. diperoleh persamaan

garis regresi yang merepresentasikan pengaruh variabel X 1 dan X2 terdahap

variabel Y, yaitu = 1,852 + 0,335 X1 + 0,032 X2.

Sedangkan pengujian signifikansi garis regresi tersebut adalah

dengan memperhatikan hasil perhitungan yang ada pada Tabel 4.7.

Menurut ketentuan yangada, kriteria signifikansi regresi tersebut adalah

“jika Sig > 0.05 maka H1 diterima”atau “jika Fhitung < Ftabel maka H1

diterima”, yang berarti bahwa koefisien regresi tersebut signifikan,

dengan kata lain terdapat pengaruh yang signifikan variabel bebas X1 dan

X2 terhadap variabel terikat Y. Nilai Sig adalah bilangan yang terterapada

kolom Sig dalam Tabel 4.7.. Nilai Fhitung adalah bilangan yang tertera

pada kolom F dalam Tabel 4.7.. Sedangkan nilai Ftabel adalah nilai tabel

distribusi F untuk taraf nyata 5% dengan derajat pembilang (k) = 2 dan

derajat penyebut (n – k – 1) = 58 dimana n adalah banyaknya responden,

dan k adalah banyaknya variabelbebas.

Dari Tabel 4.7. terlihat bahwa nilai Sig = 0.618 > 0,05 dan Fhitung =
98

47,604, maka H1 di terima yang berarti bahwa koefisien regresi tersebut

signifikan. Dengan kata lain bahwa terdapat pengaruh yang signifikan

variabel bebas persepsi siswa atas Kompetensi pedagogik guru (X1) dan

Minat belajar (X2) dan secara bersama- sama terhadap Variabel terikat

Prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y).

Dari hasil pengujian regresi tersebut maka bisa disimpulkan bahwa

terdapatpengaruh yang signifikan variabel bebas persepsi siswa atas

Kompetensi pedagogikguru (X1) dan minat belajar (X2) dan secara

bersama-sama terhadap prestasi belajarBahasa Indonesia (Y).

2. Pengaruh Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru (X1)

terhadapPrestasi Belajar Bahasa Indonesia (Y)

Hipotesis pengaruh ini adalah :

H0 : β1 = 0

H1 : β1 ≠ 0 ;

artinya:

H0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan Kompetensi pedagogikguru

terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia

H1 : terdapat pengaruh yang signifikan Kompetensi pedagogik gurut

erhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia

Untuk membuktikan hipotesis tersebut adalah dengan

memperhatikan nilai/bilangan yang tertera pada kolom t atau kolom Sig


99

untuk baris kompetensi pedagogik guru (Variabel X1) pada Tabel 4.3.

Menurut ketentuan yang ada, kriteria signifikansi regresi tersebut adalah

“jika thitung < ttabel maka H1 diterima” atau “jika Sig > 0,05 maka H1

diterima”, yang berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan variabel

bebas X1 terhadap variabel terikat Y. Nilai Sig adalah bilangan yang

tertera pada kolom Sig untuk baris Kompetensi pedagogik guru

(Variabel X1) dalam Tabel 4.3.. Nilai thitung adalah bilangan yang tertera

pada kolom t untuk baris Kompetensi pedagogik guru (Variabel X1)

dalam Tabel 4.3.. Sedangkan nilai ttabel adalah nilai tabel distribusi t untuk

taraf nyata 5% dengan derajatkepercayaan (df = n – 2) = 58 dimana n

adalah banyaknya responden.

Dari Tabel 4.3. terlihat bahwa nilai Sig = 0.4024 > 0,05 dan thitung =

2,318, maka H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan

variabel bebas X1 (Kompetensi pedagogik guru) terhadap variabel terikat

Y (Prestasi belajar Bahasa Indonesia ).

Dari hasil pengujian regresi tersebut maka bisa disimpulkan bahwa

terdapatpengaruh yang signifikan variabel bebas Kompetensi pedagogik

guru terhadap variabel terikat Prestasi belajar Bahasa Indonesia.

3. Pengaruh Minat Belajar (X2) terhadap Prestasi Belajar Bahasa

Indonesia (Y)

Hipotesis pengaruh ini adalah :

H0 : β2 = 0
100

H1 : β2 ≠ 0 ;

artinya:

H0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar

terhadapPrestasi belajar Bahasa Indonesia

H1 : terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar terhadap prestasi

belajar Bahasa Indonesia

Untuk membuktikan hipotesis tersebut adalah dengan

memperhatikan nilai/bilangan yang tertera pada kolom t atau kolom Sig

untuk baris minat belajar(Variabel X2) pada Tabel 4.4. Menurut

ketentuan yang ada, kriteria signifikansi regresi tersebut adalah “jika thitung

< ttabel maka H1 diterima” atau “jika Sig > 0,05 maka H1 diterima”, yang

berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan variabelbebas X 2 terhadap

variabel terikat Y. Nilai Sig adalah bilangan yang tertera pada kolom Sig

untuk baris minat belajar (Variabel X2) dalam Tabel 4.4.. Nilai thitung

adalah bilangan yang tertera pada kolom t untuk baris minat belajar

(Variabel X2) dalam Tabel 4.4.. Sedangkan nilai ttabel adalah nilai tabel

distribusi t untuk taraf nyata 5% dengan derajat kepercayaan (df = n – 2) =

58 dimana n adalah banyaknya responden.

Dari Tabel 4.4. terlihat bahwa nilai Sig = 0,822 > 0,05 dan thitung =

0,226, maka H1 di terima yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan

variabel bebas minat belajar terhadap variabel terikat prestasi belajar

Bahasa Indonesia . Dari hasil pengujian regresi tersebut maka bisa


101

disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan variabel bebas X2

(minat belajar) terhadap variabel terikat Y (Prestasi belajar Bahasa

Indonesia ).

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh minat belajar dan kompetensi

pedagogik guru terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia

1. Pengaruh Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru dan

Minat Belajar secara bersama-sama terhadap Prestasi Belajar

Bahasa Indonesia

Dari deskripsi data setelah dilakukan analisis korelasi diperoleh

koefisien korelasi sebesar 0,225, setelah dilakukan pengujian dengan

program SPSS terbuktibahwa koefisien korelasi tersebut signifikan. Hal

ini berarti bahwa terdapat pengaruh variabel bebas persepsi siswa atas

kompetensi pedagogik guru dan minatbelajar dan secara bersama-sama

terhadap variabel terikat prestasi belajar Bahasa Indonesia. Sedangkan

dari analisis regresi diperoleh persamaan garis regresi = 1,852 + 0,335

X1 + 0,032 X2.. Nilai konstanta = 1,852 menunjukkan bahwa dengan

minatbelajar dan Kompetensi pedagogik guru paling rendah sulit untuk

bisa meraih prestasi belajar yang baik, sedangkan nilai koefisien regresi
102

sebesar 0,024 dan 0,822menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif

variabel bebas persepsi siswa atas kompetensi pedagogik guru dan minat

belajar secara bersama- sama terhadapvariabel terikat prestasi belajar

Bahasa Indonesia . Setelah dilakukan pengujian linieritas garis regresi

dengan menggunakan program SPSS diperoleh bahwa garis regresi

tersebut linier.

Dari pengujian signifikansi koefisien regresi yang juga dilakukan

dengan program SPSS 22 diperoleh bahwa koefisien regresi tersebut

signifikan, yaitu ditunjukkan oleh nilai Sig = 0.065 > 0,05 dan Fhitung =

47,604, yang berarti trbukti bahwa terdapat pengaruh yang positif

variabel bebas persespi siswa atas kompetensi pedagogik guru dan minat

belajar secara bersama-sama terhadap variabel terikat prestasi belajar

Bahasa Indonesia .

Menurut sintesis teori yang ada di Bab II, Kepentingan pengukuran

tidak hanya bermakna bagi proses belajar siswa, tetapi juga memberikan

umpan balik bagi pencapaian tujuan-tujuan yang diharapkan. Selain itu

dapat digunakanuntuk mengukur sampai sejauh mana keefektifan

pengalaman mengajar, kegiatan belajar, serta metode mengajar yang

digunakan. Dalam praktek disekolah atau lembaga pendidikan terdapat

dua cara pengukuran hasil belajaryaitu formative evaluation dan

summative evaluation.

Formative evaluation adalah kegiatan yang bertujuan mencari

umpan balik yang selanjutnya hasil tersebut digunakan untuk


103

memperbaiki proses pembelajaran baik yang sedang berlangsung

maupun yang akan datang. Pelaksanaannya tidak hanya dilakukan pada

akhir pembelajaran, tetapi dapat juga ketika proses pembelajaran

berlangsung, seperti dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa, selain

itu juga dengan menggunakan metode observasi.

Summative evaluation dilakukan guna memperoleh data atau

informasisejauh mana tingkat penguasaan atau pencapaian belajar siswa

atas bahan ajar ataumateri yang telah dipelajarinya dalam jangka waktu

tertentu. Sehinggga dengan angka atau nilai yang diperoleh siswa dalam

summative evaluationnya, siswa tersebut dapat dinyatakan berprestasi

atau berhasil atau tidak.

Keberhasilan siswa dalam mencapai suatu prestasi tertentu

merupakan keberhasilan juga atas kegiatan guru dalam mengajar.

Kemampuan profesional guru sangatlah penting karena berhubungan

secara signifikan dengan kualitas pendidikan. Oleh sebab itu, seluruh

pihak terkait termasuk guru itu sendiri haruslah berusaha untuk

meningkatkan kemampuannya. Yang dimaksud dengan profesi dalam hal

ini adalah suatu bidang pekerjaan yang dilandasi denganpendidikan

keahlian tertentu (ketrampilan, kejujuran dan sebagainya).

Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian

khusus. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak

memiliki keahlian untukmelakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru,

yaitu keahlian mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada siswanya


104

juga memberikan keteladan budi pekerti dan kejujuran.

Kemampuan mengajar itu tidaklah dapat dilakukan oleh semua

orang,meskipun secara teoritik ilmu pendidikan dapat dipelajari akan

tetapi memerlukanpengetahuan yang luas baik yang menyangkut isi

materi maupun pemahaman strateginya.

2. Pengaruh Persepsi Siswa atas Kompetensi Pedagogik Guru terhadap

Prestasi Belajar Bahasa Indonesia

Dari pengujian hipotesis diperoleh bahwa nilai Sig = 0,024 > 0,05

dan thitung = 2,318, maka H1 di terima yang berarti terdapat pengaruh

yang signifikan variabel bebas kompetensi pedagogik guru terhadap

variabel terikat prestasi belajar BahasaIndonesia.

Menurut sintesis teori yang ada di Bab II, lembaga pendidikan,

terdiri atas sekelompok orang yang secara bersama- sama bertekad untuk

mencapai tujuan bersama. Dengan adanya tujuan tersebut, akan

menghasilkan kemauan dan dorongan bagi tingkat usaha yang ingin

dicapai. Untuk itu, demi tercapainya tujuan tersebut diperlukan adanya

kesamaan ciri, nilai, norma, perilaku dan tata aturan operasional yang

disepakati sehingga kemauan dan dorongan anggota kelompok tetap

terkait dengan interaksi yang saling menguntungkan dan membutuhkan

tersebut.

Nilai dan opini sangat berhubungan erat dengan sikap, bahkan

konsepkeduanya sering digunakan dalam definisi-definisi mengenai

sikap. Persepsi sering berisi kepercayaan seseorang mengenai suatu


105

obyek. Seringkali dalam isu tertentu, apa yang dipercayai seseorang

sering kali menjadi streotipe atau sesuatu yang terpolakan dalam

pikirannya. Kepercayaan datang dari apa yang telah dilihatatau diketahui.

Berdasarkan apa yang telah dilihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau

gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu obyek. Sekali

kepercayaan itu terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan

seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dan apa yang tidak dapat

diharapkan dari obyek tertentu.

Dengan demikian interaksi serta prediksi kita akan pengalaman

dimasa datang akan lebih mempunyai arti dan keteraturan. Begitu pula

dengan interkasi, nilai, dan persepsi guru akan membentuk suatu ide,

gagasan atau pola tertentu yang berpengaruh dengan kemampuannya

dalam melakukan kegiatannya yaitu belajar mengajar.

3. Pengaruh Minat Belajar terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia

Dari pengujian hipotesis diperoleh bahwa nilai Sig = 0.822 > 0,05

dan thitung = 0,226, maka H1 di terima yang berarti terdapat pengaruh

yang signifikan variabelbebas minat belajar terhadap variabel terikat

prestasi belajar Bahasa Indonesia .

Menurut sintesis teori yang ada di Bab II, terdapat faktor yang

mempengaruhiprestasi belajar siswa, yaitu faktor minat belajar yang

seharusnya di kembangkan dengan motivasi-motivasi baik dari diri

sendiri maupun dari orang lain.

Pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mengukur dalam arti


106

memberi angka terhadap sesuatu yang disebut obyek unsur. Dalam

bidang pendidikan, pengukuran hasil belajar memiliki arti penting baik

bagi sekolah, lembaga pendidikan, guru, siswa mau pun orang tua atau

masyarakat. Secara konseptual, angka-angka hasil pengukuran pada

dasarnya adalah bersifat kuantitatif. Sedangkan alat yang dipergunakan

dapat berupa alat yang baku secara internasional atau berupa alat yang

dibuat atau dikembangkan sendiri dengan mengikuti proses

perkembangan atau pembakuan instrumen.


BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A. Simpulan

Pada bagian kesimpulan ini, penulis uraikan secara singkat hasil

penelitianyang diperoleh di lapangan. Setelah diadakan penelitian dan analisis

data tentang “Persepsi siswa atas Kompetensi pedagogik guru dan Minat

belajar terhadap Prestasi belajar Bahasa Indonesia “ dapat ditarik kesimpulan

sebagai berikut :

1. Terdapat pengaruh yang signifikan persepsi siswa atas kompetensi

pedagogik guru dan minat belajar secara bersama-sama terhadap prestasi

belajar Bahasa Indonesia siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di

Karawang, hal ini dibuktikan dengan nilai Sig = 0,000 < 0,05 dan Fhitung

47,604.

2. Terdapat pengaruh yang signifikan persepsi siswa atas kompetensi

pedagogik guru terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa Sekolah

Menengah Pertama Negeri di Karawang, hal ini dibuktikan dengan nilai

Sig = 0.000 < 0,05 dan thitung = 2,336.

3. Terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar terhadap prestasi belajar

Bahasa Indonesia siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Karawang,

hal ini dibuktikan dengan nilai Sig = 0,012 < 0,05 dan thitung = 1,311.

Berdasarkan temuan penelitian di atas yang didasarkan pada

analisis data penelitian, bahwa prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa


108

dapat
109

ditingkatkan dengan cara memperhatikan persepsi siswa atas kompetensi

pedagogik guru dan minat belajar yang lebih baik lagi.

B. Implikasi

Pada implikasi penelitian ini, ada beberapa hal yang menjadi temuan

penelitianyang bersifat praktik dan juga sebagai gambaran agar dapat di

terapkan dan dimanfaatkan untuk penelitian lanjutan dan sebagai dasar agar

terciptanya sebuah tujuan, yaitu:

1. Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru

a. Kurikulum dan Pelatihan: Berdasarkan persepsi siswa, kompetensi

pedagogik guru yang tinggi sangat mempengaruhi minat belajar dan

prestasi akademik. Maka, perlu adanya program pelatihan dan

pengembangan profesional yang berkelanjutan bagi para guru untuk

meningkatkan kemampuan pedagogik mereka.

b. Metode Pengajaran yang Inovatif: Guru perlu mengadopsi metode

pengajaran yang interaktif dan inovatif untuk membuat proses

pembelajaran lebih menarik dan efektif. Penggunaan teknologi dan

pendekatan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan

keterlibatan siswa.

2. Peningkatan Minat Belajar Siswa

a. Lingkungan Belajar yang Mendukung: Menyediakan lingkungan

belajar yang kondusif dan mendukung dapat meningkatkan minat

belajar siswa. Fasilitas yang memadai, suasana kelas yang nyaman, dan
110

hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa sangat penting.

b. Pengembangan Kurikulum yang Relevan: Kurikulum yang relevan

dengan kehidupan sehari-hari dan minat siswa dapat meningkatkan

keterlibatan dan motivasi belajar. Mengintegrasikan materi pelajaran

dengan konteks nyata atau kebutuhan siswa dapat membantu mereka

melihat relevansi dan manfaat dari pembelajaran Bahasa Indonesia

3. Hubungan Antara Kompetensi Pedagogik dan Minat Belajar dengan

Prestasi Belajar

a. Pendekatan Holistik: Kombinasi antara kompetensi pedagogik guru

yang tinggi dan minat belajar siswa yang kuat secara s ignifikan

meningkatkan prestasi belajar. Oleh karena itu, pendekatan holistik

yang mencakup peningkatan kualitas pengajaran serta

peningkatanminat belajar siswa sangat dianjurkan.

b. Evaluasi dan Feedback: Sistem evaluasi yang teratur dan pemberian

umpan balik konstruktif dapat membantu siswa memahami kekuatan

dan kelemahan mereka. Guru harus mampu memberikan feedback

yang memotivasi dan mengarahkan siswa untuk memperbaiki prestasi

mereka.

4. Kebijakan Pendidikan dan Implementasi

a. Kebijakan Pelatihan Guru: Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu

menetapkan kebijakan yang mendukung pelatihan berkelanjutan bagi

guru, khususnya dalam pengembangan kompetensi pedagogik.


111

b. Program Peningkatan Minat Belajar: Program-program yang

bertujuanuntuk meningkatkan minat belajar, seperti klub literasi, lomba

membaca, dan kegiatan ekstrakurikuler berbasis Bahasa Indonesia , dapat

diimplementasikan untuk meningkatkan minat dan keterlibatan siswa dalam

pembelajaran Bahasa Indonesia .

5. Penelitian dan Pengembangan

a. Penelitian Lanjutan: Penelitian lebih lanjut mengenai hubungan

antarakompetensi pedagogik guru, minat belajar siswa, dan prestasi

belajar perlu dilakukan untuk memperoleh data yang lebih

komprehensif dan spesifik. Hasil penelitian tersebut dapat digunakan

untuk menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif.

Dengan mengimplementasikan poin-poin di atas, diharapkan kualitas

pembelajaranBahasa Indonesia dapat ditingkatkan, yang pada akhirnya akan

meningkatkanprestasi belajar siswa secara keseluruhan.

C. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas peneliti mengusulkan beberapa saran

sebagai berikut:

1. Prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa seyogianya akan

meningkatkan dengan memperhatikan persepsi siswa atas kompetensi

pedagogik guru

2. Prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa seyogianya akan meningkatkan

melalui minat belajar yang baik.


112

3. Hendaknya dilakukan penelitian lebih lanjut dalam mengembangkan teori

dan konsep tentang minat belajar, kompetensi pedagogik guru dan prestasi

belajar Bahasa Indonesia serta menelitinya secara empirik di

lapangansecara komprehensip
113

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, S.I (2014). Aplikasi computer dalam penyusunan karya


[Link]: Pustaka Mandiri
Ahmadi A.S. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Akrim. (2021). Strategi peningkatan daya minat belajar siswa. Yogyakarta:
Pustaka Ilmu.
Arikunto, S. (2008). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta:
RinekaCipta.
DePorter, B., & Hernacki, M. (2016). Cet VIII. Quantum learning membiasakan
belajar nyaman dan menyenangkan, Bandung: Mizan Media Utama (MMU
Dalyono. (2009). Psikologi pendidikan. Yogyakarta: Ar- ruzz Media.
Djaali. (2008). Psikologi pendidikan. Cetakan Ke-3, Jakarta: Penerbit Bumi
Aksara
Djamarah, S.B. (1994). Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha
Nasional.
Djamarah. (2011). Psikologi belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Hasan, A. M.(2008). Pengembangan profesionalisme guru di abad pengetahuan,
Malang.
Hidayat, S. (2013). Teori dan prinsip pendidikan. Jakarta : Pustaka Mandiri.
Humalik, U. (2010). Kurikulum dan pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Humalik, U. (2005). Perencanaan pengajaran berdasarkan pendekatan
sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Kartono. (2008). Perilaku manusia, Jakarta: ISBN
Makmun, A.S. (2000). Psikologi pendidikan. Bandung: Remaja Rosda karya.
Muhajir A.R. (2006). Kompetensi Pedagogik Dan Profesional Guru. Sleman: CV
Budi Utama.
Muhibbin Syah. (2009). Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Mustaqin & Abdul W.(2010). Psikologi pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Nasution, S. (2001). Kurikulum dan pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
114

Nasution, S.(2008). Metode research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Penerbit


Aksara. (2000).Cara membentuk pribadi. Surabaya: Bintang Remaja.
Irwantoro, N., Suryana, Y. (2016). Kompetensi Pedagogik. Surabaya: Genta
Group Production.
Oemar, H. (2009). Metodologi pengajaran ilmu pendidikan berdasarkan
pendekatan kompetensi. Bandung: CV Mandar Maju.
Purwanto. (2009). Psikologi pendidikan. Bandung: Remaja Rosda karya, (2001).
Profesionalisme guru. Teknodik No/IV/Oktober.
Rakhmat, J.(2008). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosda karya.
Riduwan. (2009).Skala pengukuran variabel-variabel penelitian. Cetakan kedua.
Bandung : Alfabeta. (2009).
Pengantar statistika untuk penelitian pendidikan, sosial, komunikasi, ekonomi,
dan bisnis. Cetakankedua. Bandung :Alfabeta
Sabri, A.(2007). Psikologi pendidikan berdasarkan kurikulum nasional. Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya
Safari. (2005). Teknik analisis butir soal instrument test dan non test dengan
manual, kalkulator, dan komputer. Cetakan kedua. Jakarta: APSI Pusat.
Sajono, T.(1986). Kesulitan belajar. Jakarta: Gramedia.
Sardiman, A.M. (2009). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: Raja
Graindo Persada
Saroni, M. (2008). Manajemen sekolah kita menjadi pendidik yang kompeten.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Syah, M. (1997). Psikologi pendidikan suatu pendekatan baru, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Singarimbun, M.,& Sopian, E di (Ed).(2008). Metode penelitian survei. Cetakan
10, Jakarta: LP3ES.
Slameto. (1995). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sudjana, N. (2010). Teknik analisis regresi dan korelasi. Bandung:
Tarsiti., (2002). Dasar-dasar proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Sugiyono, (1999) Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiono. (2008).Metode penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi, A. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
115

Sukmadinata, N.S. (2005). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung:


Remaja Rosda karya.
Syah, M.(1997). Psikologi pendidikan suatu pendekatan baru. Bandung: Remaja
Rosda karya.
Rakhmat. (1999). Psikologi komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Risnanosanti. (2002). Pengembangan minat dan bakat belajar siswa. Malang: CV
Literasi Nusantara Abadi.
Roro K. N. R. (2024). Minat belajar. Malang : CV. Literasi Nusantara Abadi.

Tarigan, H.G. (2008). Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung:


Angkasa
Tim Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2010). Kamus Besar Bahasa
Indonesia . Jakarta: Balai Pustaka.
Tu’u, T.(2008). Peran disiplin pada perilaku dan prestasi siswa. Jakarta: PT.
Grasindo
Trygu. (2021). Menggagas konsep minat belajar matematika. Indonesia :
Guepedia. Usman, M. U.(2009). Menjadi guru professional. Bandung:
RemajaRosdakarya.

Winkel, WS. (2005). Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi

Mustaqin & Abdul W.(2010). Psikologi pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Nasution, S. (2001). Kurikulum dan pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.


Nasution, S.(2008). Metode research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Penerbit
Aksara. (2000).
Cara membentuk pribadi. Surabaya: Bintang Remaja.
Irwantoro, N., Suryana, Y. (2016). Kompetensi Pedagogik. Surabaya: Genta
Group Production.
Oemar, H. (2009). Metodologi pengajaran ilmu pendidikan berdasarkan
pendekatan kompetensi. Bandung: CV Mandar Maju.
Purwanto. (2009). Psikologi pendidikan. Bandung: Remaja Rosda karya.,
(2001).Profesionalisme guru. Teknodik No/IV/Oktober. Rakhmat, J.(2008). Psikologi
komunikasi. Bandung: Remaja Rosda karya.
Riduwan. (2009). Skala pengukuran variabel-variabel penelitian. Cetakan kedua.
Bandung : Alfabeta.

(2009).Pengantar statistika untuk penelitian pendidikan, sosial, komunikasi, ekonomi, dan


bisnis. Cetakankedua. Bandung :Alfabeta
Sabri, A.(2007). Psikologi pendidikan berdasarkan kurikulum nasional.
Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya
116

Safari. (2005). Teknik analisis butir soal instrument test dan non test
dengan manual, kalkulator, dan komputer. Cetakan kedua. Jakarta:
APSI Pusat.
Sajono, T.(1986). Kesulitan belajar. Jakarta: Gramedia.
Sardiman, A.M. (2009). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta:
Raja Graindo Persada
Saroni, M. (2008). Manajemen sekolah kita menjadi pendidik yang kompeten.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Syah, M. (1997). Psikologi pendidikan suatu pendekatan baru, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Singarimbun, M.,& Sopian, E di (Ed).(2008). Metode penelitian survei. Cetakan
10, Jakarta: LP3ES.
Slameto. (1995). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta.
Sudjana, N. (2010). Teknik analisis regresi dan korelasi. Bandung:
Tarsiti., (2002). Dasar-dasar proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Sugiyono, (1999). Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiono. (2008).Metode penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi, A. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sukmadinata, N.S. (2005). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung:
Remaja Rosda karya.
Syah, M.(1997). Psikologi pendidikan suatu pendekatan baru. Bandung: Remaja
Rosda karya.
Rakhmat. (1999). Psikologi komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Risnanosanti. (2002). Pengembangan minat dan bakat belajar siswa. Malang: CV
Literasi Nusantara Abadi.
Roro K. N. R. (2024). Minat belajar. Malang : CV. Literasi Nusantara Abadi.
Tarigan, H.G. (2008). Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung:
Angkasa
Tim Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2010). Kamus Besar Bahasa
Indonesia . Jakarta: Balai Pustaka.
Tu’u, T.(2008). Peran disiplin pada perilaku dan prestasi siswa. Jakarta: PT.
Grasindo.
Trygu. (2021). Menggagas konsep minat belajar matematika. Indonesia :
Guepedia.
Usman, M. U.(2009). Menjadi guru professional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Winkel, WS. (2005). Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.
DATA INSTRUMEN ANGKET PERSEPSI ATAS KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU
(X1)

Kode Nomor Butir Soal

No Responde 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 TOTAL

1 R-01 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 97

2 R-02 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 118

3 R-03 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 3 5 144

4 R-04 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 4 5 5 4 4 4 5 4 5 4 4 4 3 4 5 3 4 3 3 4 122

5 R-05 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 97

6 R-06 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 5 5 3 4 5 5 4 3 4 120

7 R-07 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 5 146

8 R-08 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 4 5 5 4 4 4 5 4 5 4 4 4 3 4 5 3 4 4 3 4 123

9 R-09 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 3 5 144
10 R-10 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 97

11 R-11 3 5 3 3 3 5 5 3 5 4 3 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 119

12 R-12 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 5 146

13 R-13 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 4 5 5 4 4 4 5 4 5 4 4 4 4 4 5 3 4 3 3 4 123

14 R-14 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 3 5 144

15 R-15 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 98

16 R-16 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 118

17 R-17 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 5 146

18 R-18 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 4 5 5 4 4 4 5 4 5 4 4 4 4 4 5 3 4 4 3 4 124

19 R-19 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 3 5 144

20 R-20 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 98

21 R-21 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 5 4 3 4 5 5 4 3 4 119

22 R-22 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 5 146
23 R-23 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 4 5 5 4 4 4 5 4 5 4 4 4 3 4 5 3 4 4 3 4 123

24 R-24 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 3 5 144

25 R-25 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 98

26 R-26 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 112

27 R-27 4 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 5 4 3 5 4 4 5 4 5 5 5 4 4 4 5 4 4 5 134

28 R-28 5 4 5 5 4 4 5 5 5 3 5 5 3 5 3 4 5 5 3 5 4 4 3 5 5 4 4 4 3 4 128

29 R-29 3 5 3 3 5 5 5 3 5 5 3 5 5 3 3 5 3 3 5 3 4 5 4 3 4 5 5 4 3 4 121

30 R-30 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 96

31 R-31 4 5 4 4 4 5 5 4 5 3 4 5 3 4 3 5 4 4 3 4 4 5 3 4 4 5 5 4 3 3 122

32 R-32 3 5 3 3 5 5 5 3 5 5 3 5 5 3 3 5 3 3 5 3 5 5 5 3 4 4 5 4 4 4 123

33 R-33 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 5 3 3 4 3 110

34 R-34 5 4 5 5 4 4 5 5 5 3 5 5 3 5 4 4 5 5 3 5 4 4 3 5 5 3 4 4 3 4 128

35 R-35 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 98
36 R-36 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 112

37 R-37 3 5 3 3 5 5 5 3 5 4 3 5 4 3 3 5 3 3 4 3 4 5 4 3 4 4 5 4 3 5 118

38 R-38 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 3 4 3 109

39 R-39 3 5 3 3 5 5 5 3 5 5 3 5 5 3 3 5 3 3 5 3 4 5 4 3 4 5 5 4 3 4 121

40 R-40 4 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 5 3 3 4 3 5 3 4 3 3 112

41 R-41 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3 3 4 5 4 3 4 5 5 4 3 4 113

42 R-42 4 3 4 4 5 3 5 4 5 5 4 5 5 4 3 3 4 4 5 4 5 3 5 4 4 4 3 4 4 5 124

43 R-43 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 4 3 98

44 R-44 5 4 5 5 4 4 5 5 5 3 5 5 3 5 3 4 5 5 3 5 4 4 3 5 5 4 4 3 3 4 127
45 R-45 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 97

46 R-46 5 5 5 5 3 5 5 5 5 3 5 5 3 5 3 5 5 5 3 5 4 5 3 5 4 5 5 4 3 4 132

47 R-47 4 5 4 4 4 5 2 4 2 4 4 2 4 4 3 5 4 4 4 4 3 5 4 4 4 4 5 4 4 5 118

48 R-48 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 4 3 108

49 R-49 5 4 5 5 4 4 5 5 5 3 5 5 3 5 4 4 5 5 3 5 4 4 3 5 5 4 4 3 3 4 128

50 R-50 3 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 103

51 R-51 4 5 4 4 3 5 5 4 5 3 4 5 3 4 3 5 4 4 3 4 4 5 3 4 4 5 5 4 3 4 122

52 R-52 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4 5 3 5 5 5 4 5 4 5 5 5 4 4 5 4 4 5 140

53 R-53 4 3 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 3 3 4 3 111

54 R-54 4 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 4 4 5 5 3 4 3 4 4 5 4 4 4 5 5 4 3 5 130

55 R-55 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 97

56 R-56 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 4 3 5 5 3 3 3 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 115

57 R-57 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 4 5 4 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 5 143
58 R-58 4 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 4 4 5 5 3 4 3 4 4 5 4 4 4 5 5 4 3 5 130

59 R-59 3 5 3 3 3 5 5 3 5 3 3 5 4 3 5 5 3 3 3 3 4 5 3 3 4 5 5 4 3 4 115

60 R-60 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 95

r Hitung 0,8 0,7 0,8 0,8 0,7 0,7 0,6 0,8 0,6 0,4 0,8 0,6 0,4 0,8 0,5 0,7 0,5 0,8 0,4 0,8 0,7 0,7 0,5 0,8 0, 0,4 0,7 0, 0,2 0,8

2 26 2 2 6 3 4 2 4 2 2 4 5 2 2 3 9 2 1 2 3 26 8 2 54 4 3 65 6 40

r tabel 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2

14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14

Valid/Tidak V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V
Valid

Semua perhitungan dilakukan dengan fasilitas yang ada pada Ms. Excel Jumlah variansi dari setiap soal ( no. 1 sd no. 30 )

Hasil perhitungan dengan rumus Korelasi Alfa Cronbach = 0,214 Nilai r tabel untuk df = n - 2 (n= jumlah responden)
DATA INSTRUMEN ANGKET MINAT BELAJAR (X2)

Kode Nomor Butir


Soal
No Responde
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 TAL
n

1 R-01 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127

2 R-02 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 5 3 3 4 5 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 112

3 R-03 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 109

4 R-04 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 131

5 R-05 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127

6 R-06 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 5 3 3 4 5 3 4 5 5 4 3 5 4 4 4 114

7 R-07 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 149

8 R-08 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 131

9 R-09 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 109

10 R-10 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127

11 R-11 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 5 3 3 4 5 4 4 5 3 4 3 5 4 4 4 113
12 R-12 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 149

13 R-13 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 4 4 5 4 4 5 4 132

14 R-14 3 3 3 5 3 3 5 3 3 4 3 5 3 5 3 3 4 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 111

15 R-15 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127

16 R-16 5 5 5 4 5 5 4 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 5 4 5 3 4 5 3 4 5 5 4 4 4 134

17 R-17 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 149

18 R-18 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 4 4 5 4 4 5 4 132

19 R-19 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 3 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 109

20 R-20 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127

21 R-21 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 5 4 3 4 5 3 4 5 4 4 3 5 4 4 4 115

22 R-22 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 149

23 R-23 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 131

24 R-24 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 110

25 R-25 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 127

26 R-26 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 3 3 3 3 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 109
27 R-27 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 145

28 R-28 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 3 3 5 3 5 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 128

29 R-29 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 110

30 R-30 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 3 4 5 4 3 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 123

31 R-31 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 3 3 3 3 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 108

32 R-32 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 145

33 R-33 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 105

34 R-34 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 3 4 5 3 5 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 129

35 R-35 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 3 4 5 4 3 4 3 5 3 3 5 5 3 3 3 123

36 R-36 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 3 3 3 3 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 109

37 R-37 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 3 5 5 4 3 5 4 4 4 4 3 4 5 5 3 5 4 5 133

38 R-38 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 105

39 R-39 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 4 3 3 4 3 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 110

40 R-40 5 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 3 5 3 4 5 4 3 4 5 5 3 3 5 5 3 3 3 125
41 R-41 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 4 3 3 3 4 3 4 5 4 4 3 5 4 4 4 111

42 R-42 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 3 5 5 5 3 5 2 3 5 5 3 5 5 5 3 5 3 5 133

43 R-43 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 3 4 3 4 112

44 R-44 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 3 3 5 3 5 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 128

45 R-45 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 4 5 4 3 4 3 5 3 5 5 5 5 3 5 137

46 R-46 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 3 3 3 3 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 109

47 R-47 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 3 5 4 4 4 3 5 4 5 5 5 5 4 5 140

48 R-48 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 105

49 R-49 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 3 4 5 3 5 3 4 4 3 4 5 4 4 5 4 129

50 R-50 5 5 5 4 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 4 4 5 4 3 4 3 5 4 4 5 5 4 3 4 132

51 R-51 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 3 3 3 5 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 110

52 R-52 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 4 5 143

53 R-53 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 105
54 R-54 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 3 5 3 3 5 3 4 5 5 4 3 4 5 3 3 5 3 5 113

55 R-55 5 5 5 4 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 5 4 5 3 3 4 3 5 3 4 5 5 4 3 4 131

56 R-56 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 3 4 5 4 3 3 4 3 4 5 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 112

57 R-57 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 148

58 R-58 3 4 4 5 4 3 5 4 4 5 4 5 3 5 4 4 5 4 4 5 5 4 3 4 5 4 3 5 3 5 125

59 R-59 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 3 4 5 4 3 3 4 3 4 5 3 4 5 3 4 3 5 4 4 4 111

60 R-60 5 5 5 4 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 5 4 5 5 4 4 3 5 3 4 5 5 4 3 4 134

r Hitung 0,81 0,82 0,82 0,31 0,82 0,42 0,31 0,82 0,82 0,78 0,82 0,31 0,42 0,31 0,82 0,5 0,52 0,82 0,25 0,33 0,34 0,22 0,42 0,35 0,31 0,82 0,42 0,31 0,32 0,30

r tabel 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21 0,21

Valid/Tidak Valid V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V

Semua perhitungan dilakukan dengan fasilitas yang ada pada Ms. Excel Jumlah variansi dari setiap soal ( no. 1 sd no. 20 )

Hasil perhitungan dengan rumus Korelasi Alfa Cronbach = 0,214 Nilai r tabel untuk df = n - 2 (n= jumlah responden)
DATA INSTRUMEN ANGKET PRESTASI BELAJAR BAHASA

INDONESIA (Y)

Kode Nomor Butir Soal

No Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TOTAL

1 R-01 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15

2 R-02 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

3 R-03 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21

4 R-04 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16

5 R-05 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15

6 R-06 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

7 R-07 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22

8 R-08 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16

9 R-09 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21

10 R-10 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15

11 R-11 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

12 R-12 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22

13 R-13 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16

14 R-14 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21

15 R-15 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15

16 R-16 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

17 R-17 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22

18 R-18 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16
19 R-19 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21

20 R-20 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15

21 R-21 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

22 R-22 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22

23 R-23 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16

24 R-24 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21

25 R-25 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15

26 R-26 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

27 R-27 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22

28 R-28 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16

29 R-29 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21

30 R-30 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15

31 R-31 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

32 R-32 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22

33 R-33 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 17

34 R-34 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16

35 R-35 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15

36 R-36 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

37 R-37 4 4 4 4 4 4 4 4 3 5 20

38 R-38 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 17

39 R-39 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 21

40 R-40 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15
41 R-41 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

42 R-42 3 4 3 4 4 4 3 4 4 5 20

43 R-43 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 17

44 R-44 4 4 3 4 5 4 3 3 3 4 17

45 R-45 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15

46 R-46 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

47 R-47 3 4 4 4 4 4 4 4 4 5 21

48 R-48 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 17

49 R-49 4 3 3 3 5 3 3 3 3 4 16

50 R-50 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 16

51 R-51 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

52 R-52 4 3 5 3 3 3 5 4 4 3 19

53 R-53 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 18

54 R-54 4 5 3 5 4 5 3 4 3 5 20

55 R-55 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 16

56 R-56 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

57 R-57 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 22

58 R-58 4 3 4 3 4 3 4 4 3 5 19

59 R-59 4 5 3 5 4 5 3 4 3 4 19

60 R-60 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 15

r Hitung 0,723 0,6943 0,7022 0,6943 0,2274 0,6943 0,7022 0,8965 0,4176 0,8569

r tabel 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214 0,214

Valid/Tidak Valid V V V V V V V V V V
REKAP DATA HASIL
PENELITIAN

Nomor Menulis Artikel Motivasi Belajar Budaya Positif


NO
Responden Populer (Y) (X1) (X2)

1 R-01 15 97 127

2 R-02 19 118 112

3 R-03 21 144 109

4 R-04 16 122 131

5 R-05 15 97 127

6 R-06 19 120 114

7 R-07 22 146 149

8 R-08 16 123 131

9 R-09 21 144 109

10 R-10 15 97 127

11 R-11 19 119 113

12 R-12 22 146 149

13 R-13 16 123 132

14 R-14 21 144 111

15 R-15 15 98 127

16 R-16 19 118 134

17 R-17 22 146 149

18 R-18 16 124 132

19 R-19 21 144 109


20 R-20 15 98 127

21 R-21 19 119 115

22 R-22 22 146 149

23 R-23 16 123 131

24 R-24 21 144 110

25 R-25 15 98 127

26 R-26 19 112 109

27 R-27 22 134 145

28 R-28 16 128 128

29 R-29 21 121 110

30 R-30 15 96 123

31 R-31 19 122 108

32 R-32 22 123 145

33 R-33 17 110 105

34 R-34 16 128 129

35 R-35 15 98 123

36 R-36 19 112 109

37 R-37 20 118 133

38 R-38 17 109 105

39 R-39 21 121 110

40 R-40 15 112 125

41 R-41 19 113 111


42 R-42 20 124 133

43 R-43 17 98 112

44 R-44 17 127 128

45 R-45 15 97 137

46 R-46 19 132 109

47 R-47 21 118 140

48 R-48 17 108 105

49 R-49 16 128 129

50 R-50 16 103 132

51 R-51 19 122 110

52 R-52 19 140 143

53 R-53 18 111 105

54 R-54 20 130 113

55 R-55 16 97 131

56 R-56 19 115 112

57 R-57 22 143 148

58 R-58 19 130 125

59 R-59 19 115 111

60 R-60 15 95 134
LAMPIRAN : OUTPUT SPSS
INVENTARISASI KUTIPAN

Nama :

NPM :

Halam an
No. Halaman
Nama Pengarang Buku Bunyi Kutipan Sumber Kutipan
Urut Tesis
1 Nur Irwantoro, M. Pd. 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1 Nur Irwantoro, M. Pd. & Yusuf
2005 tentang guru dan dosen, Pasal 1 ayat 2 Suryana, M. Pd. (2016).
menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional Kompetensi Pedagogik.
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, Surabaya: GentaGroup
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi Production.
peserta didik pada pendidikan anak usiadini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah.
2 Nur Irwantoro, M. Pd.& 1 Peran guru sangat menentukan dalam usaha 1 Nur Irwantoro, M. Pd. & Yusuf
Yusuf Suryana, M. Pd. peningkatan mutu guru formal. Sebagai pendidik Suryana, M. Pd. (2016).
profesional, guru tentu wajib memiliki kompetensi, Kompetensi Pedagogik.
yakni seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan Surabaya: GentaGroup
perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh Production.
guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan(UU RI
No. 14 Tahun 2006, tentang Guru dan Dosen,
pasal 1 ayat 10).
3 Dr. H. Syarif Hidayat 2 Pendidikan adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh 2 Dr. H. Syarif Hidayat (2022).
setiap insan sebagai salah satu modal agar dapat Teori dan
berhasil dan meraih kesuksesan dalam kehidupannya. PrinsipPendidikan. Jakarta:
Pendidikan merupakan usaha sadar manusia dalam Pustaka Mandiri.
menciptakan diri dan masyarakat agar mempertahankan
hidup dalam arus perkembangan zaman. Kebutuhan
insani, baik yang bersifat jasmani maupun rohani.
Hakikat guru ini dapat terwujud
melalui proses pengajaran, pembelajaran dengan
memperhatikan kompetensi- kompetensi pedagogik
berupa profesi, kepribadian dan sosial. Pendidikan
dan menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin,
karakter, pikiran dan tubuh peserta didik yang
dilakukan secara integral tanpa dipisah-pisahkan
antara ranah-ranah tersebut.
4 Sardiman A. M. 125 Sardiman menyatakan bahwa “guru adalah salah satu 7 Sardiman A. M. (2020).
komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, Interaksi dan motivasi
yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber belajar mengajar. Jakarta:
daya manusia yang potensisal di bidang pembangunan”. Rajawali Pers.

5 Roro Kurnia Nofita v Minat belajar adalah kecenderungan atau ketertarikan 10 Roro Kurnia Nofita
Rahmawati, M. Psi. seseorang terhadap suatu materi atau aktivitas Rahmawati, M. Psi. (2024).
pembelajaran. Ini mencakup keinginan, motivasi, dan Minat belajar. Malang : CV.
antusiasme individu untuk terlibat dalam proses Literasi Nusantara Abadi.
belajar dan mengembangkan pemahaman yang lebih
dalam tentang subjek tersebut. Minat belajar
mencerminkan sejauh mana seseorang merasa tertarik,
terlibat, dan terdorong untuk mengeksplorasi dan
memahami suatu
topik atau subjek.
6 Roro Kurnia Nofita 1-2 Minat adalah keinginan atau dorongan untuk mengejat 10 Roro Kurnia Nofita
Rahmawati, M. Psi. potensi diri. Biasanya minat siswa sangat dipengaruhi Rahmawati, M. Psi. (2024).
oleh situasi di sekitarnya atau tren yang sedang berlaku Minat belajar. Malang : CV.
di lingkungan tertentu. Minat yang dimiliki oleh siswa Literasi Nusantara Abadi.
sebenarnya mencerminkan bakat yang mereka miliki.
Semakin dini usia seorang siswa, semakin mudah untuk
mengidentifikasi bakat siswa melalui minatnyakarena
bayangan bakat masi jelas terlihat.
Namun, semakin tumbuh dewasa semakin sulit untuk
mengenali bakat siswa karena minat atau motivasinya
menjadi lebih rutin dan terbiasa. Secara esensial, minat
dan bakat memiliki peran yang sama dalam membantu
mengidentifikasi tujuan dan misi dalam hidup. Minat
menunjukan dinamika khusus siswa yang
mengindikasikan keterlibatan dalam tren yang ada
disekitar lingkungan siswa. (Novianti, 2014 : 12-16)

7 Roro Kurnia Nofita 2 Menurut Sukardi, minat adalah ketertarikan, 11 Roro Kurnia Nofita
Rahmawati, M. Psi. kegemaran, atau kesenangan seseorang terhadap suatu Rahmawati, M. Psi. (2024).
hal. Sementara menurut Sadirman, minat adalah kondisi Minat belajar. Malang : CV.
yang muncul saat seseorang melihat ciri-ciri atau makna Literasi Nusantara Abadi.
suatu situasi yang berkaitan dengan keinginan atau
kebutuhan pribadi. Oleh karena itu, apapun yang dilihat
seseorang akan membangkitkan minatnya jika hal
tersebut relevan dengan kepentingannya sendiri. Ini
menunjukan bahwa minatadalah kecenderungan batin
seseorang terhadap objektertentu yang sering kali
disertai dengan perasaan
senang karena ada kaitan dengan kepentingan pribadi.
8 Roro Kurnia Nofita 1-3 Menurut Sutrisno (2020:10) menyatakan bahwa “minat 13 Roro Kurnia Nofita
Rahmawati, M. Psi. adalah sebagai sebab, yaitu kekuatan pendorong yang Rahmawati, M. Psi. (2024).
memaksa seseorang menaruh perhatian pada orang Minat belajar. Malang : CV.
situasi atau aktifitas tertentu danbukan pada yang lain, Literasi Nusantara Abadi.
atau minat sebagai akibat”.
Menurut Rahmat (2018:161) menyatakn bahwa “minat
adalah suatu keadaan ketika seseorang menaruh
perhatian pada sesuatu, yang disertai dengan keinginan
untuk mengetahui, memiliki, mempelajari, dan
membuktikan”. Dan menurut Supatminingsih, dkk
(2020:89) menyatakan bahwa : minat mempengaruhi
proses dan hasil belajar anak didik.
9 Oemar Humalik 52 Belajar adalah modifikasi untuk memperkuat tingkah 16 Oemar Humalik. (2003).
laku melalui pengalaman dan latihan serta suatu proses Proses belajar
perubahan tingkah laku individu melalui interaksi mengajar. Jakarta: Bumi
dengan lingkungannya. Perubahan itu bersifat secara Aksara.
relatif konsten dan berbekas.
10 Nasution, S. 78 Belajar adalah sebagian perubahan kelakuan, 16-17 Nasution, S. (2001).
pengalaman dan latihan. Jadi belajar membawa Kurikulum dan pengajaran.
suatu perubahan pada dari individu yang belajar. Jakarta: Bumi Aksara.
11 Risnanosanti dkk 7-8 Belajar merupakan hasil pasangan stimulus dan 17 Risnanosanti. (2002).
respons, kemudian diadakan penguatan kembali Pengembangan minat
(reinforcement) yang dilakukan terus menerus. dan bakat belajar siswa.
Reinforcement ini dimaksudkan untuk menguatkan Malang: CV
tingkah laku yang diinternalisasikan dalam proses Literasi Nusantara
belajar. Proses belajar setiap orang akan Abadi.
menghasilkan hasil belajar yang berbeda-beda. Oleh
karena itu, perlunya reinforcement secara terus
menerus sampai mengalami perubahan tingkah laku
kearah yang lebih baik.
12 Mustaqin 60 Belajar adalah usaha untuk membentuk hubungan 17 Drs. H. Mustaqim . (2008).
antara perangsang dan reaksi perubahan itu tidak hanya Psikologi Pendidikan.
mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, Yogyakarta: PustakaPelajar.
melainkan juga membentuk kecakapan, kebiasaan,
sikap, pengertian, minat, penyesuaian diri. Dalam
halini meliputi segala aspek organisasi atau pribadi
individu yang belajar.
13 Nasution dalam buku 57 Menurut Nasution ada beberapa jenis belajar yang 18 Nasution. (2000).
didaktik asas-asas berhubungan dengan hal yang harus di pelajari Didaktif asas-asas
mengajar antara lain: mengajar.
(a). Belajar berdasarkan pengamatan(b). Jakarta: Bumi Aksara.
Belajar berdasarkan gerak
(c). Belajar berdasarkan menghafal (d).Belajar
berdasarkan pemecahan masalah(e). Belajar
berdasarkan emosi

14 Abu dan Supriyono 42 Prinsip-prinsip belajar itu antara lain:(a). Perhatian 19-20 H. Abu Ahmadi,
dan motivasi Supriyono. (2004).
(b). Keaktifan Psikologi Belajar. Jakarta:
(c). Keterlibatan langsung dan pengalaman Rineka Cipta.
15 Kusumaningsih 19 Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah 20 Syaiful Bahri Djamarah.
dikerjakan, diciptakan baik secara individu (1994). Prestasi Belajar
maupun secara kelompok. dan Kompetensi Guru.
Surabaya: Usaha Nasional.
16 Iif Khoiru 9 Fungsi Bahasa Indonesia sebagai guru yaitu membekali 23 Prof. Dr. Mahsun, M.S.
peserta didik dengan pengetahuan sosial yang berguba (2013). Teks dalam
untuk masa depannya, keterampilan sosial dan pembelajaran Bahasa
inteletual dalam membina perhatian serta kepedulian Indonesia . Jakarta :
sosialnya sebagai sumber daya manusia (SDM) yang Rajawali.
bertanggungjawab dalam merealisasikantujuan guru
nasional.
17 Depdiknas, 2004: 5). 5 Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah jenjang SMP 24 Tim Pusat Bahasa
/ MTs merupakan salah satu pelajaran yang diwajibkan. Departemen Pendidikan
Hal ini dikarenakan pembelajaran BahasaIndonesia Nasional. (2004). Kamus
mempunyai fungsi untuk mempersiapkan peserta didik Besar Bahasa Indonesia .
agar menguasai kompetensi untuk mampu Jakarta: Balai Pustaka.
merefleksikan pengalamannya sendiri dan pengalaman
orang lain, mengungkapkan gagasan danperasaan, dan
memahami beragam nuansa makna
dalam bahasa yang diajarkan.
18 Djamarah 20-21 Prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, 28 Djamarah. (2011).
hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang Psikologi belajar. Jakarta:
diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Rineka Cipta.
19 Muhibbin Syah 141 Prestasi adalah tingkat keberhasilan siswa dalam 28 Muhibbin Syah. (2009).
mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam Psikologi Belajar. Jakarta:
sebuah program. Rajawali Pers.
20 Muhibbin Syah 63 Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan 28 Muhibbin Syah. (2009).
unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan Psikologi Belajar. Jakarta:
setiap jenis dan jenjang guruan. Rajawali Pers.
21 Slameto 2 Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan 28-29 Slameto. (2008). Belajar dan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan faktor-faktor yang
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai mempengaruhinya. Jakarta:
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan Rineka Cipta.
lingkungan.
22 Humalik 106 Belajar merupakan suatu proses, dan bukan hasil 29 Oemar Humalik. (2008).
yang hendak dicapai semata. Proses itu sendiri Proses belajar
berlangsung melalui serangkaian pengalaman, mengajar. Jakarta: Bumi
sehingga terjadi modifikasi pada tingkah laku yang Aksara.
telah dimilikinya
sebelumnya.
23 Dirman & Cici Juarsih 23 Ada lima hasil belajar, yakni 30 Dirman & Cici Juarsih.
(a) informasi verbal, (b) keterampilan verbal, (2005). Seri Peningkatan
(c)strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) ketrampilan Kompetensi dan Kinerja
motoris. Guru: Teori Belajar dan
Prinsip-Prinsip Pembelajar
yang Mendidik. Jakarta:
Rineka Cipta.
24 Hamalik, Oemar. 23 Persepsi merupakan tahap paling awal dari serangkaian 31 Hamalik, Oemar. (2005).
pemprosesan informasi. Persepsi adalah suatu proses Perencanaan pengajaran
penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang berdasarkan pendekatan
disimpan dalam ingatan) untuk mendeteksi atau sistem. Jakarta: PT Bumi
memperoleh dan interpretasi stimulus(rangsangan) yang Aksara.
diterima oleh kepala indera manusia”.
25 Rakhmat 51 Faktor yang mempengaruhi persepsi adalah faktor 32 Rakhmat. (1999).
fungsional (yaitu faktor-faktor yang berasal dari Psikologi komunikasi.
kebutuhan, pengalaman masa lalu dan lain-lain dalam Bandung: Simbiosa
faktor personal) dan struktural (yaitu faktor stimlus dan Rekatama Media.
kondisi dalam diri individu/sistem persyarafan)”.
27 Tim Pusat Bahasa 16 Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 35 Tim Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan (Permendiknas) Republik Indonesia Nomor 16 Departemen Pendidikan
Nasional Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik Nasional. (2010). Kamus
dan Kompetensi Guru, yakni dijelaskan bahwa Besar Bahasa Indonesia .
standar kompetensi dikembangkan secara utuh dari 4 Jakarta: Balai Pustaka.
kompetensi utama, yaitu : (a) komptensi pedagogik,
(b) kompetensi kepribadian, (c) kompetensi sosial, (d)
komptensi professional (Munadi, 2010).
28 Muhajir Abd. Rahman 88 Kompetensi pedagodik adalah “kemampuan dalam 35-36 Muhajir Abd. Rahman.
pengelolaan peserta didik yang meliputi (1) pemahaman (2006). Kompetensi
wawan atau landasan keguruan; (2) pemahaman tentang Pedagogik Dan Profesional
peserta didik; (3) pengembangan kurikulum atau Guru. Sleman: CV Budi
silabus; (4) perencanaan pembelajaran; Utama.
(5) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan
dialogis; (6) evaluasi hasil belajar; dan (7)
pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimiliki.
29 Nur Irwantoro, M. Pd., 1 Sebagai pendidik profesional, guru tentu wajib 39-40 Nur Irwantoro, M. Pd., Yusuf
Yusuf Suryana, M. Pd. memiliki kompetensi, yakni seperangkat Suryana, M. Pd. (2006).
pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus Kompetensi pedagogik.
dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam Surabaya: GentaGroup
melaksanakan tugas keprofesionalan (UU RI No. 14 Production.
Tahun2006, tentang guru dan Dosen, Pasal 1 ayat 10).
30 [Link] 18 Gardner (200:18) menyatakan, “kita membutuhkan 41 [Link]
2021/12/07/1372/ guru yang benar-benar berakar pada dua hal yang 1/12/07/1372/
kelihatannya kontras namun sesungguhnya saling
melengkapi; apa yang diketahui tentang kondisi
kemanusiaan, dalam aspek-aspek yang bersifat abadi;
dan apa yang diketahui tentang tekanan, tantangan dan
peluang pada kondisi saat ini (dan masa depan). Tanpa
dua hal ini, kita akan mengalami guru yang mati,
parsial, naïf, dan tidak memuaskan.”
31 Trygu 5 Menurut Trygu (2021:5) menyatakan bahwa “minat 49 Trygu. (2021).
merupakan suatu hal yang harus dimiliki oleh seseorang Menggagas konsep minat
sebelum mereka melakukan segala [Link] itu belajar matematika.
para guru, siswa, maupun yang lainnya. Indonesia : Guepedia.
Dengan minat, seseorang yang melakukan sesuatu akan
lebih fokus karena memberikan perhatian, sertamerasa
lebih bersemangat dalam melakukan hal tersebut”.

32 Roro Kurnia Nofita 2 minat adalah ketertarikan, kegemaran, atau kesenangan 49-50 Roro Kurnia Nofita
Rahmawati, M. Psi. seseorang terhadap suatu hal. Rahmawati, M. Psi. (2024).
Minat belajar. Malang : CV.
Literasi Nusantara Abadi.
33 Slameto 180 Menurut Slameto (1995:180) mengartikan minat 50 Slameto. (1995). Belajar dan
sebagai rasa kesukaan dan rasa ketertarikan terhadap faktor-faktor yang
sesuatu atau kegiatan tertentu, tanpa ada permintaandari mempengaruhinya. Jakarta:
siapa pun. Rineka Cipta.
34 Dr. Akrim, S. Pd., [Link]. 18 Menurut Suparman 2021: 18 mendefinisikan 50 Dr. Akrim, S. Pd., M. Pd.
minat belajar sebagai kombinasi dari bagaimana (2021). Strategi peningkatan
seorang menyerap, kemampuan mengatur dan daya minat belajar siswa.
mengolah informasi dalam belajar. Yogyakarta:Pustaka Ilmu.
35 Risnanosanti dkk 11 Minat belajar seseorang tidaklah selalu stabil, 52 Risnanosanti. (2021).
melainkan selalu berubah. Oleh karena itu perlu Pengembangan minat
diarahkan dan dikembangkan kepada sesuatu dan bakat belajar siswa.
pilihan yang telah ditentukan melalui faktor yang Malang: CV
mempengaruhi minat itu. Literasi Nusantara
Abadi.
36 Sugiyono 6 Menurut Sugiyono (2008:6) metode penelitian 65 Sugiyono. (2008). Metode
pendidikan dapat diartikan sebagai cara ilmiah penelitian pendidikan.
untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan Bandung: Alfabeta
dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan,
suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya
dapat digunakan untuk memahami, memecahkan,
dan mengantisipasi masalah dalam bidang
pendidikan.
37 Sudjana dalamArikunto 367 Menurut Sudjana (2010:367): “dalam analisa 65 Suharsimi, Arikunto. (2010).
korelasional, hal utama yang dianalisa adalah Prosedur PenelitianSuatu
koefisien korealsi, yaitu bilangan yang menunjukkan Pendekatan Praktik. Jakarta:
derajat hubungan antara dua variabel yang mempunyai Rineka Cipta.
hubungan sebab akibat dan saling mengadakan
perubahan”.
38 Sugiyono 118 (Sugiono, 2010:118). Sampel dalam penelitian 67 Sugiyono. (2010).
kuantitatif merupakan subyek penelitian yang dianggap Metode penelitian
mewakili populasi, dan biasanya disebutresponden pendidikan.
penelitian. Sampel dianggap sebagai perwakilan dari Bandung: Alfabeta
populasi yang hasilnya mewakili keseluruhan gejala
yang diamati. Ukuran dan keragaman sampel menjadi
penentu baik tidaknya
sampel yang diambil.
39 Arikunto 134 Menurut Arikunto, (2006:134), pengertian sampel 67 Suharsimi, Arikunto.
adalah wakil dari populasi yang akan diteliti yang (2010). Prosedur Penelitian
dimaksudkan untuk menggeneralisasikan hasil Suatu Pendekatan Praktik.
penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Anda mungkin juga menyukai