0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan21 halaman

Asuhan Keperawatan Keluarga Berencana

Diunggah oleh

lantaiarrahman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan21 halaman

Asuhan Keperawatan Keluarga Berencana

Diunggah oleh

lantaiarrahman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BERENCANA

Untuk Memenuhi tugas Keperawatan Kesehatan Reproduksi yang di bimbing oleh

Luthfiah Nur Aini, [Link],Ns.,[Link]

Agustin Triningtyas (0123001B)


Farid Wahyu W (0123012B)
Ferit Sutrisno (0123013B)
Indraini (0123019B)
Nurlely Dinda (0123031B)
Retno Indah Novianti (0123034B)
Rizwan (0123037B)
Wiwit Syifa’ur Rahma (0123047B)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


DIAN HUSADAMOJOKERTO
2024
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya kepada kita semua. Syukur Alhamdulillah kami dapat mengerjakan tugas Asuhan
keperawatan dari mata kuliah Keperawatan Kesehatan Reproduksi.

Kami mohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan
didalamnya. Karena kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna
menyempurnakan laporan kami selanjutnya. Kami berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi
kami umumnya dan khususnya kepada pembaca.

Mojokerto, April 2024

Penulis
A. KONSEP DASAR KB
1. DEFINISI
Pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu strategi untuk mendukung
percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dengan mengaturwaktu, jarak, jumlah
kehamilan, sehingga dapat mencegah atau memperkecil kemungkinan ibu hamil
mengalami komplikasi yang membahayakan jiwa atau janin (Kemenkes RI, 2014).
Keluarga berencana adalah upaya mewujudkan keluarga berkualitas melalui promosi,
perlindungan dan bantuan dalam hak-hak reproduksi untuk membentuk keluarga dengan usia
kawin yang ideal, mengatur jumlah, jarak kehamilan, membina ketahanan serta
kesejahteraan anak.
Keluarga Berencana (Family Planning) dapat memungkinkan pasangan usia subur
(PUS) untuk mengantisipasi kelahiran, mengatur jumlah anak yang diinginkan, dan
mengatur jarak serta waktu kelahiran. Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan metode
kontrasepsi dan tindakan infertilitas. Jadi, Keluarga Berencana (Family Planning) adalah
suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan
menggunakan alat kontrasepsi yang bertujuan untuk mewujudkan keluarga kecil, Bahagia
sejahtera.

2. TUJUAN KONTRASEPSI
Menurut Kemenkes, tujuan dari program keluarga berencana dan pelayanan kontrasepsi
adalah :
1) Mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan cara menekan Laju Pertumbuhan
Penduduk (LPP). Pertambahan penduduk yang tidak terkendali akan mengakibatkan
kesenjangan bahan pagan kaena perbandingan yang tidak sesuai dengan jumlah
penduduk
2) Mengatur kehamilan dengan cara menunda usia perkawinan hingga benar-benar
matang, menunda kehamilan, menjarangkan kehamilan. Serta untuk menghentikan
kehamilan bila dirasakan telah memiliki cukup anak.
3) Membantu dan mengobati kemandulan atau infertilisasi bagi pasangan yang telah
menikah lebih dari satu tahun dan ingin memiliki anak tetapibelum mendapat
keturunan.
4) Sebagai married conseling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan yang
akan menikah. Dengan harapan nantinya pasangan tersebut memiliki pengetahuan
untuk membentuk keluarga yang sejahtera dan berkualitas
5) Tercapainya norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera serta membentuk
keluarga yang berkualitas.

3. RUANG LINGKUP PROGRAM KB


Dalam Panduan BKKBN (2010) Ruang lingkup program KB secara umum adalah sebagai
berikut :
a. Keluarga berencana
b. Kesehatan reproduksi remaja
c. Ketahanan dan pemberdayaan keluarga
d. Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas
e. Keserasian kebijakan kependudukan
f. Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM)
g. Penyelenggaraan pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan

4. SASARAN PROGRAM KB
a. Sasaran langsung yaitu: Pasangan Usia Subur (PUS) yaitu pasangan yang wanitanya
berusia antara 15–44 tahun
b. Sasaran tidak langsung yaitu :
1) Pelaksana dan pengelola KB, dengan cara menurunkan tingkat kelahiran melalui
pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai
keluarga yang berkualitas, keluarga sejahtera (Handayani, 2010).
2) Organisasi–organisasi, lembaga kemasyarakatan serta instansi pemerintah
maupun swasta serta tokoh masyarakat dan pemuka agama yang diharapkan dapat
memberikan dukungan dalam melembagakan NKKBS (Suratun, 2008).

5. AKSEPTOR KB
Akseptor KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang salah seorang dari padanya
menggunakan salah satu cara atau alat kontrasepsi dengan tujuan untuk pencegahan
kehamilan baik melalui program maupun non program. Sedangkan menurut kamus besar
bahasa Indonesia (2001) dalam Setiawan dan Saryono (2010). Akseptor adalah orang
yang menerima serta mengikuti dan melaksanakan program keluarga berencana. Jenis-
jenis Akseptor KB Menurut Handayani (2010) jenis akseptor KB sebagai berikut
a. Akseptor KB baru Akseptor KB baru adalah Pasangan Usia Subur
(PUS) yang pertama kali menggunakan kontrasepsi setelah mengalami
kehamilan yang berakhir dengan keguguran atau kelahiran.
b. Akseptor KB lama Akseptor KB lama adalah Pasangan Usia Subur
(PUS) yang melakukan kunjungan ulang termasuk pasangan usia subur yang
menggunakan alat kontrasepsi kemudian pindah atau ganti ke cara atau
alat yang lain atau mereka yang pindah klinik baik menggunakan cara
yang sama atau cara (alat) yang berbeda.
c. Akseptor KB aktif Peserta KB aktif adalah Pasangan Usia Subur
(PUS) yang pada saat ini masih menggunakan salah satu cara atau alat
kontrasepsi.
d. Akseptor KB aktif kembali Perserta KB aktif kembali adalah Pasangan
Usia Subur (PUS) yang telah berhenti menggunakan selam tiga bulan
atau lebih yang tidak diselingi oleh suatu kehamilan dan kembali
menggunakan alat kontrasepsi baik dengan cara yang sama maupun
berganti cara setelah berhenti atau istirahat paling kurang tiga bulan
berturutturut dan bukan karena hamil.

6. KLASIFIKASI
a. Kontrasepsi Kontrasepsi Sederhana
1) Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet tipis yang dipasang pada penissebagai
tempat penampungan sperma yang dikeluarkan pria pada saat senggama sehingga
tidak tercurah pada vagina. Cara kerja kondom yaitu mencegah pertemuan
ovum dan sperma atau mencegah spermatozoa mencapai saluran genital wanita.
Sekarang sudah ada jenis kondom untukwanita, angka kegagalan dari
penggunaan kondom ini 5- 21%
2) Coitus interruptus
atau senggama terputus adalah menghentikan senggama dengan mencabut
penis dari vagina pada saat suami menjelang ejakulasi. Kelebihan dari cara
ini adalah tidak memerlukan alat/obat sehingga relatif sehat untuk digunakan
wanita dibandingkan dengan metode kontrasepsi lain, risiko kegagalan dari
metode ini cukup tinggi
3) KB Alami
KB alami berdasarkan pada siklus masa subur dan tidak masa subur,
dasarutamanya yaitu saat terjadinya ovulasi. Untuk menentukan saat ovulasi
ada 3 cara, yaitu : metode kalender, suhu basal, dan metode lendir serviks.
4) Diafragma
Diafragma merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mencegah sperma
mencapai serviks sehingga sperma tidak memperoleh akses ke saluran
alatreproduksi bagian atas (uterus dan tuba fallopi). Angka kegagalan
diafragma 4-8% kehamilan.
5) Spermicida
Spermicida adalah suatu zat atau bahan kimia yang dapat
mematikan dan menghentikan gerak atau melumpuhkan spermatozoa di dalam
vagina, sehingga tidak dapat membuahi sel telur. Spermicida dapat berbentuk
tablet vagina, krim dan jelly, aerosol (busa/foam), atau tisu KB. Cukup
efektif apabila dipakai dengan kontrasepsi lain seperti kondom dan
diafragma.
b. Kontrasepsi hormonal
1) Pil KB
Suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk pil atau tablet yang
berisi gabungan hormon estrogen dan progesteron (Pil Kombinasi) atau hanya
terdiri dari hormon progesteron saja (Mini Pil). Cara kerja pil KB
menekan ovulasi untuk mencegah lepasnya sel telur wanita dari indung telur,
mengentalkan lendir mulut rahim sehingga sperma sukar untuk masuk kedalam
rahim, dan menipiskan lapisan endometrium. Mini pil dapat dikonsumsi saat
menyusui. Efektifitas pil sangat tinggi, angka kegagalannya berkisar 1-8%
untuk pil kombinasi, dan 3-10% untuk minipil.
Manfaat Pil KB :
a) Memiliki efektifitas yang tinggi (hampir mempunyai efektifitas
tubektomi), bila digunakan tiap hari.
b) Risiko terhadap kesehatan sangat kecil.
c) Tidak mengganggu hubungan seksual.
d) Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid
berkurang (mencegahanemia), tidak terjadi nyeri haid.
e) Dapat digunakan jangka panjang selama masih ingin menggunakannya
untuk mencegah kehamilan.
f) Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause.
g) Mudah dihentikan setiap saat.
h) Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan.
i) Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.
j) Membantu mencegah: kehamilan ektopik, kanker ovarium dan
endometrium, kista ovarium, penyakit radang panggul.
Efek Samping :
a) Gangguan siklus haid.
b) Tekanan darah tinggi
c) Kenaikan berat badan
d) Jerawat
e) Bercak bercak coklat pada wajah
2) Suntik KB
Suntik KB ada dua jenis yaitu, suntik KB 1 bulan (cyclofem) dan suntik KB
3 bulan (DMPA). Cara kerjanya sama dengan pil KB. Efek sampingnya
dapat terjadi gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat, perubahan berat
badan, pemakaian jangka panjang bisa terjadi penurunanlibido, dan densitas
tulang. Jenis Kontrasepsi Suntik KB :
a) Depo Mendroksi Progesteron (DMPA), mengandung 150 mg
DMPA yangdiberikan setiap tiga bulan dengan cara di suntik (di
daerah pantat).
b) Depo Noretisteron Enantat (Depo Noristerat), mengandung
200 mg Noretindron Enantat, diberikan setiap dua bulan dengan cara di
suntik. Cara Kerja Kontrasepsi Suntik KB :
1. Mencegah embuahan sel telur
2. Mengentalkan lendir pada leher rahim sehingga
menurunkan kemampuansperma dapat membuahi sel telur
3. Menjadikan selaput lendir rahim tipis
4. Menghambat transportasi sel telur.
Keuntungan Suntik KB :
Keuntungan pengguna KB suntik yaitu sangat efektif, pencegah kehamilan
jangka panjang, tidak berpengaruh pada hubungan seksual, tidak
mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap
penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah, tidak mempengaruhi
ASI, efek samping sangat kecil, klien tidak perlu menyimpan obat suntik,
dapat digunakan oleh perempuan usia lebih 35 tahun sampai perimenopause,
membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik,
menurunkan kejadian tumor jinak payudara, dan mencegah
beberapa penyebab penyakit radang panggul. Kerugian Suntik KB :
1. Gangguan haid
2. Leukorhea atau Keputihan
3. Galaktorea/mengeluarkan ASI mesti tidak sedang menyusui
4. Jerawat
5. Rambut Rontok
6. Perubahan Berat Badan
7. Perubahan libido atau keinginan untuk berhubungan seksual
3) Implant
Implant adalah alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit, biasanya di
lengan atas. Cara kerjanya sama dengan pil, implant mengandung
levonogestrel. Keuntungan dari metode implant ini antara lain tahan sampai 5
tahun, kesuburan akan kembali segera setelah pengangkatan. Efektifitasnya
sangat tinggi, angka kegagalannya 1-3%.
Jenis Implant :
a) Norplant: terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan
panjang 3,4cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 3,6 mg
levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun.
b) Implanon: terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-
kira 40 mm, dan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3-
Ketodesogestrel danlama kerjanya 3 tahun.
c) Jadena dan indoplant: terdiri dari 2 batang yang diisi dengan
75 [Link] dengan lama kerja 3 tahun.
Cara Kerja Kontrasepsi Implant :
1. Lendir leher rahim menjadi kental
2. Mengganggu proses pembentukan Rahim yang menebal sehingga sulit
hamil
3. Mengurangi transportasi sperma
4. Menekan terjadinya pembuahan oleh sperma
Keuntungan Kontrasepsi Implant :
1. Perlindungan jangka Panjang
2. Efektif 5 tahun untuk norplant, 3 tahun untuk jenis Implan
Jedena,Indoplant, atau Implanon
3. Nyaman dan daya guna tinggi
4. Dapat dipakai oleh semua ibu dalam usia reproduksi
5. Kesuburan segera kembali setelah implan dicabut
6. Aman dipakai pada masa laktasi.
7. Tidak memerlukan pemeriksaan dalam saat pemasangan.
8. Tidak mengganggu dari kegiatan senggama
9. Mengurangi nyeri dan jumlah darah saat haid
Kerugian Kontrasepsi Implant :
1. Perubahan pola haid berupa perdarahan bercak (spooting)
2. Hipermenorea atau meningkatnya jumlah darah haid
3. Amenorrhea/tidak mens selama >3 bulan.
Wanita yang tidak boleh menggunakan Implant, antara lain :
1. Hamil atau diduga hamil
2. Perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya
3. Tidak dapat menerima perubahan pola haid
4. Gangguan penyerapan gula oleh tubuh
5. Benjolan/karsinoma payudara atau riwayat karsinoma payudara
6. Mempunyai Mioma pada rahim dan kanker payudara
c. Kontrasepsi non hormonal
1) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / IUD AKDR
IUD AKDR adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim yang
bentuknya bermacam-macam, terdiri dari plastik (polyethyline), ada yang dililit
tembaga (Cu), dililit tembaga bercampur perak (Ag) dan ada pula yang
batangnya hanya berisi hormon progesteron. Cara kerjanya, meninggikan
getaran saluran telur sehingga pada waktu blastokista sampai ke rahim
endometrium belum siap menerima nidasi, menimbulkan reaksi mikro infeksi
sehinggaterjadi penumpukan sel darah putih yang melarutkan blastokista, dan
lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas. Efektifitasnya tinggi, angka
kegagalannya 1%.
Cara kerja IUD adalah mencegah terjadinya pembuahan dengan
penghambatan bersatunya ovum dengan sperma, mengurangi jumlah sperma
yang mencapai tuba fallopi dan menonaktifkan sperma. Selain itu, IUD
dapat menimbulkan infeksi benda asing sehingga akan terjadi
migrasileokosit, makrofag dan menimbulkan perubahan susunan cairan
endometrium yang akan menimbulkan gangguan terhadap spermatozoa
sehingga gerakannya menjadi lambat dan akan mati dengan sendirinya.
Keuntungan Pemakaian Kontrasepsi IUD :
a) Dapat segera aktif setelah pemasangan
b) Metode jangka panjang (5-10 tahun), tidak mempengaruhi produksi dan
jumlah ASI
c) Kesuburan cepat kembali setelah IUD dilepas.
d) Dapat di pasang segera setelah melahirkan.
e) Meningkatkan kenyamanan hubungan suami istri karena rasa aman
terhadap resiko kehamilan Sangat efektif 0,6 – 0,8 kehamilan / 100
perempuan dalam 1tahun pertama pemakaian.
f) Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
g) Tidak ada efek samping hormonal.
h) Dapat digunakan hingga menopause.
i) Tidak ada interaksi dengan obat-obatan.
Kerugian Pemakaian Kontrasepsi IUD :
a) Haid lebih banyak dan lama
b) Nyeri saat haid
c) Perdarahan berupa bercak/spoting
d) Kehamilan In Situ
e) Infeksi dapat terjadi saat pemasangan yang tidak steril
2) Metoda Kontrasepsi Mantap (Kontap)
Kontrasepsi mantap adalah suatu tindakan untuk membatasi kehamilan
dalam jangka waktu yang tidak terbatas, yang dilakukan terhadap salah
seorang dari pasangan suami istri atas permintaan oleh yang
bersangkutan,secara mantap dan sukarela. Kontap dapat diikuti oleh pria
maupun wanitayang yang sehat tanpa adanya kontra indikasi. Metode
Kontrasepsi Mantap (Kontap) dibagi menjadi:
1. Metode Operatif Wanita (MOW) sering dikenal dengan tubektomi
karena prinsip metode ini adalah memotong atau mengikat saluran
tuba/tuba falopii sehingga mencegah pertemuan antara ovum dan sperma.
2. Metode Operatif Pria (MOP) sering dikenal dengan nama vasektomi,
vasektomi yaitu memotong atau mengikat saluran sperma vas
deferens,sehingga cairan sperma tidak dapat keluar atau ejakulasi.

b. Tubektomi
Suatu kontrasepsi permanen untuk mencegah keluarnya ovum
dengan caramengikat atau memotong pada kedua saluran tuba
fallopi (pembawa sel telur ke rahim), efektivitasnya mencapai
99 %. Tubektomi atau Tubal Ligation adalah tindakan
memotong kedua saluran sel telur (tuba palupi) dan menutup
kedua- duanya sehingga sel telur tidak dapat keluar dan sel sperma
tidak dapat pula masuk bertemu dengan sel telur, sehingga tidak
terjadi kehamilan. Sebelum melakukan operasi tubektomi,
dokter akan memeriksa kesehatan lebih dahulu, untuk
memastikan cocok atau tidak, kemudian operasi dilakukan oleh
dokter, saluran telur yang membawa sel telur dalam rahim akan
dipotong atau diikat. Setelah operasi yang dihasilkan akan
diserap kemabali oleh tubuh tanpa menimbulkan penyakit.
Perawatan tubektomi hanya 6 jam setelah operasi untuk menunggu
reaksi anti bius saja. Luka yang diakibatkan sebaiknya tidak
kena air selama 3-4 hari. Pemeriksaan ulang dilakukan oleh
dokter, setelah 1 minggu, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun
setelah operasi dilakukan.
Kelebihan Tubektomi :
a) Tidak mengganggu ASI
b) Jarang menimbulka keluhan sampingan
c) Angka kegagalan hampir tidak ada
d) Tidak mengganggu gairah seksual.
Kekurangan Tubektomi :
a) Tindakan operatif seringkali menakutkan
b) Kesuburan tidak dapat kembali lagi dengan cepat.
c) Nyeri setelah dioperasi
d) Pasangannya harus memakai metode kontrasepsi yang lain.
c. Vasektomi
Vasektomi merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk menghalangi
keluarnya sperma dengan cara mengikat dan memotong saluran mani
(vasdefferent) sehingga sel sperma tidak keluar pada saat senggama,
efektifitasnya 99%.
Kelebihan Vasektomi :
a) Termasuk dalam kategori operasi ringan
b) Tidak perlu rawat inap di Rumah Sakit
c) Tidak mengganggu kehidupan seksual. Nafsu seks dan
potensi lelaki tetap,dan waktu melakukan koitus, terjadi
pula ejakulasi, tetapi yang keluar hanya semacam lendir
(cairan semen) yang tidak mengandung sperma.
d) Termasuk dalam metode kontrasepsi yang sangat aman,
sederhana, dansangat efektif. Dalam pelaksanaan
operasi sangat singkat dan tidak memerlukan anestesi
umum.
e) Jarang ada keluhan sampingan untuk seterusnya
f) Pasangan terhindar dari kehamilan
Kekurangan Vasektomi :
a) Tindakan operatif seringkali menakutkan
b) Nyeri setelah dioperasi
c) Pasangannya harus memakai metode kontrasepsi yang
lain.
7. MANFAAT PROGRAM KB
Program Keluarga Berencana (KB) mempunyai banyak keuntungan. Salah satunya
adalah dengan mengkonsumsi pil kontrasepsi dapat mencegah terjadinya kanker uterus
dan [Link] dengan perencanaan kehamilan yang aman, sehat dan diinginkan
merupakan salah satu faktor penting dalam upaya menurunkan angka kematian maternal.
Pengaturan kelahiran memiliki benefit (keuntungan) kesehatan yang nyata salah
satu contoh pil kontrasepsi dapat mencegah terjadinya kanker uterus dan ovarium,
penggunaan kondom dapat mencegah penularan penyakit menular seksual, seperti HIV.
Meskipun penggunaan alat/obat kontrasepsi mempunyai efek samping dan risiko yang
kadang-kadang merugikan kesehatan, namun demikian keuntungan penggunaan alat/obat
kontrasepsi tersebut akan lebih besar dibanding tidak menggunakan kontrasepsi yang
memberikan risiko kesakitan dan kematian maternal.
Program KB menentukan kualitas keluarga, karena program ini dapat
menyelamatkan kehidupan perempuan serta meningkatkan status kesehatan ibu terutama
dalam mencegah kehamilan tak diinginkan, menjarangkan jarak kelahiran mengurangi
risiko kematian bayi.

Program KB, bisa meningkatkan pria untuk ikut bertanggung jawab dalam
kesehatan reproduksi mereka dan keluarganya. Ini merupakan keuntungan seseorang
mengikuti program KB.

8. KEKURANGAN KB
Program KB ini dirasa dianggap kurang memadai, karena tidak semua
Posyandu di pedesaan dibekali dengan infrastruktur dan keahlian pemeriksaan KB,
ditambah lagi dengan kurangnya presentasi tentang pengetahuan KB di daerah pedesaan,
sehingga kebanyakan masyarakat indonesia yang berdomisili di pedesaan masih
kurang pengetahuaannya tentang Program KB dan manfaatnya, mereka masih
beranggapan bahwa banyak anak banyak rezeki, padahal zaman semakin maju dan harus
diimbangi dengan pemikiran yang semakin maju pula.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN (menggunakan 3S: SDKI, SLKI,
SIKI)

1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu
diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat
memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan
sangat bergantung pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
a. Biodata klien
Biodata klien berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama,
Alamat, No. Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan , Suku,
Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian.
b. Keluhan utama
Hal-hal yang dikeluhkan saat ini dan alasan meminta pertolongan.
c. Riwayat haid
Umur Menarche pertama kali, Lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi,
siklus haid, hari pertama haid terakhir, perkiraan tanggal partus.
d. Riwayat obstetri
1) Riwayat kehamilan
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, Hasil Laboratorium : USG, Darah,
Urine, keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi,
upaya mengatasi keluhan, tindakan dan pengobatan yang diperoleh.
2) Riwayat persalinan lalu
Riwayat persalinan lalu : Jumlah Gravida, jumlah partal, dan jumlah abortus,
umur kehamilan saat bersalin, jenis persalinan, penolong persalinan, BB bayi,
kelainan fisik, kondisi anak saat ini.
e. Riwayat KB & perencanaan keluarga
Kaji pengetahuan klien dan pasangannya tentang kontrasepsi, jenis kontrasepsi yang
pernah digunakan, kebutuhan kontrasepsi yang akan datang atau rencana
penambahan anggota keluarga dimasa mendatang.
f. Kebiasaan sehari-hari
1) Pola nutrisi : pola menu makanan yang dikonsumsi, jumlah, jenis makanan
(Kalori, protein, vitamin, tinggi serat), freguensi, konsumsi snack (makanan
ringan), nafsu makan, pola minum, jumlah, freguensi,.
2) Pola istirahat dan tidur : Lamanya, kapan (malam, siang), rasa tidak nyaman yang
mengganggu istirahat, penggunaan selimut, lampu atau remang-remang atau gelap,
apakah mudah terganggu dengan suarasuara, posisi saat tidur (penekanan pada
perineum).
3) Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah inkontinensia
(hilangnya infolunter pengeluaran urin), hilangnya kontrol blas, terjadi over
distensi blass atau tidak atau retensi urine karena rasa talut luka episiotomi,
apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi, rasa takut
BAB karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
4) Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan
pembalut dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tatarias rambut dan wajah.
5) Aktifitas : Kemampuan mobilisasi beberapa saat setelah melahirkan,
kemampuan merawat diri dan melakukan eliminasi, kemampuan bekerja dan
menyusui.
6) Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang
membuat fresh dan relaks.
g. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum : Tingkat energi, self esteem, tingkat kesadaran.
2) BB, TB, LLA, Tanda Vital normal (RR konsisten, Nadi cenderung bradi cardy,
suhu 36,2-38, Respirasi 16-24)
3) Kepala : Rambut, Wajah, Mata (conjunctiva), hidung, Mulut,
Fungsi pengecapan; pendengaran, dan leher.
4) Breast : Pembesaran, simetris, pigmentasi, warna kulit, keadaan areola dan
puting susu, stimulation nepple erexi. Kepenuhan atau pembengkakan,
benjolan, nyeri, produksi laktasi/kolostrum. Perabaan pembesaran kelenjar getah
bening diketiak.
5) Abdomen : teraba lembut , tekstur Doughy (kenyal), musculus rectus abdominal utuh
(intact) atau terdapat diastasis, distensi, striae. Tinggi fundus uterus, konsistensi
(keras, lunak, boggy), lokasi, kontraksi uterus, nyeri, perabaan distensi blas.
6) Anogenital : Lihat struktur, regangan, udema vagina, keadaan liang vagina (licin,
kendur/lemah) adakah hematom, nyeri, tegang.
7) Perineum : Keadaan luka episiotomy, echimosis, edema, kemerahan, eritema,
drainage. Lochia (warna, jumlah, bau, bekuan darah atau konsistensi , 1-3 hr
rubra, 4-10 hr serosa, > 10 hr alba), Anus : hemoroid dan trombosis pada anus.
8) Muskoloskeletal : Tanda Homan, edema, tekstur kulit, nyeri bila dipalpasi,
kekuatan otot.

2. DIAGNOSIS KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (D.0077)
b. Risiko infeksi dibuktikan dengan peningkatan paparan organisme pathogen
lingkungan (D.0142)
c. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi (D.0111)

3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan
sebagai pedoman untuk mengarahkan tindakan keperawatan dalam usaha membantu,
meringankan, memecahkan masalah atau untuk memenuhi kebutuhan klien (Setiadi,
2012). Rencana keperawatan disesuaikan dengan kondisi pasien dan label pada buku
SDKI, SLKI dan SIKI dengan diagnosis keperawatan antara lain:

Intervensi
Diagnosis Tujuan dan Kriteria
Keperawatan Hasil
Nyeri Akut (D.0077) Setelah diberikan asuhan Manajemen Nyeri
Penyebab: keperawatan selama ..... x ..... (I.08238) Observasi
1) Agen pencedera diharapkan tingkat nyeri ▪ Identifikasi lokasi,
fisiologis (mis. (L.08066) menurun dengan karakteristik,
inflamasi,iskemia, kriteria hasil: durasi, frekuensi, kualitas,
neoplasma) • Kemampuan menuntaskan intensitas nyeri
2) Agen pencedera aktivitas meningkat ▪ Identifikasi skala nyeri
kimiawi (mis. • Keluhan nyeri menurun ▪ Identifikasi faktor yang
terbakar, bahan • Meringis menurun memperberat dan memperingan
kimia iritan) • Sikap protektif menurun nyeri
3) Agen pencedera • Gelisah menurun ▪ Identifikasi pengetahuan dan
fisik (mis. abses, • Kesulitan tidur menurun keyakinan tentang nyeri
amputasi,
• Menarik diri menurun Identifikasi pengaruh
terbakar, ▪

budaya terhadap respon


• Berfokus pada diri sendiri
terpotong, nyeri
menurun
mengangkat Identifikasi pengaruh nyeri
Diaforesis menurun

berat, •
terhadap kualitas hidup
prosedur Perasaan depresi
Monitor keberhasilan terapi

(tertekan) menurun

operasi, trauma, komplementer yang sudah


latihan fisik Perasaan takut mengalami
diberikan

berlebihan) cedera berulang menurun ▪ Monitor efek samping


• Anoreksia menurun penggunaan analgetik
• Perineum terasa tertekan
menurun Terapeutik
• Uterus terasa membulat ▪ Berikan tehnik
menurun nonfarmakologis untuk
• Ketegangan otot menurun mengurangi rasa nyeri (mis.
• Pupil dilatasi menurun musik, terapi pijat,aromaterapi,
• Muntah menurun teknik imajinasi terbimbing,
• Mual menurun kompres hangat/dingin, terapi
• Frekuensi nadi membaik bermain)
• Pola napas membaik ▪ Kontrol lingkungan yang
• Tekanan darah membaik memperberat rasa nyeri
• Proses berpikir membaik (mis. Suhu rungan,
• Fokus membaik pencahyaan, kebisingan)
• Fungsi berkemih membaik ▪ Fasilitasi istirahat dan tidur
▪ Pertimbangkan jenis dan
sumber nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri

edukasi
▪ Jelaskan penyebab, periode dan
pemicu nyeri
▪ Jelaskan strategi meredakan
nyeri
▪ Anjurkan memonitr nyeri
secara mandiri
▪ Anjurkan menggunakan
analgetic secara tepat
▪ Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian analgetic jika


perlu

Diagnosis Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


Risiko Infeksi (D.0142) Setelah diberikan asuhan Pencegahan Infeksi
Faktor Risiko: keperawatan selama ..... x ..... (I.14539) Observasi
1) Penyakit kronis (mis. diharapkan tingkat infeksi ▪ Monitor tanda dan
diabetes melitus) (L.14137) menurun dengan gejala
2) Efek prosedur invasif kriteria hasil:
3) Malnutrisi • Kebersihan tangan infeksi lokal dansistemik
4) Peningkatan paparan meningkat Terapeutik
organisme patogen • Kebersihanbada ▪ Batasi jumlah pengunjung
lingkungan n meningkat ▪ Berikan perawatan kulit
Demam menurun pada area edema
5) Ketidakadekuatan •

Kemerahan menurun Cuci tangan sebelum dan


pertahanan tubuh

primer: 1. • Nyeri menurun sesudah kontak dengan


Gangguan • Bengkak menurun pasien dan lingkungan
peristaltik • Vesikel menurun pasien
2. Kerusakan • Cairan berbau busuk ▪ Pertahankan teknik
integritas kulit • Drainase puluren menurun aseptic pada pasien berisiko
3. Perubahan • Piuna menurun tinggi
Edukasi
sekresi pH • Periode malaise menurun
Jelaskan tanda dan gejala
4. Perubahan kerja Periode menggigil menurun

infeksi
siliaris • Letargi menurun
Gangguan kognitif menurun Ajarkan cara cuci tangan

5. Ketuban pecah lama •

Kadar sel darah putih dengan benar


6. Ketuban pecah •

Ajarkan etika batuk


membaik ▪

sebelum waktunya Ajarkan cara memeriksa


Kultur darah membaik ▪

7. Merokok

kondisi luka atau luka


• Kultur urin membaik
8. Statis cairan tubuh operasi
• Kultur sputum membaik
6) Ketidakadekuatan Anjurkan meningkatkan
• Kultur area luka membaik ▪

pertahanan tubuh • Kultur feses membaik asupan nutrisi


sekunder: • Nafsu makan membaik ▪ Anjurkan meningkatkan asupan
1. penurunan cairan
hemoglobin Kolaborasi
2. imunosuspresi Kolaborasi pemberian
3. leukopenia imunisasi, jika perlu
4. supresi respon
inflamasi
5. vaksinasi tidak
adekuat

Diagnosis Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


Defisit Pengetahuan Setelah diberikan asuhan Intervensi Standar Intervensi
(D.0111) keperawatan selama ..... x ..... Keperawatan Indonesia (SIKI)
Penyebab: diharapkan tingkat Intervensi utama :
1) Keterbatasan pengetahuan (L.12111) Edukasi Kesehatan (I.12383)
kognitif meningkat dengan kriteria hasil: Observasi
2) Gangguan fungsi • Perilaku sesuai anjuran ▪ Identifikasi kesiapan dan
kognitif meningkat kemampuan menerima
3) Kekeliruan • Verbalisasi minat dalam informasi
mengikuti anjuran belajar meningkat ▪ Identifikasi faktor-faktor yang
4) Kurang terpapar • Kemampuan menjelaskan dapat meningkatkan dan
informasi pengetahuan tentang suatu menurunkan motivasi perilaku
5) Kurang minat dalam topik meningkat hidup bersih dan sehat
belajar • Kemampuan
6) Kurang mampu menggambarkan Terapeutik
mengingat pengalaman sebelumnya ▪ Sediakan materi dan media
7) Ketidaktahuan yang sesuai dengan topik pendidikan kesehatan
menemukan Jadwalkan Pendidikan
meningkat ▪

sumber kesehatan sesuai kesepakatan


Perilaku sesuai dengan
informasi

pengetahuan meningkat ▪ Berikan kesempatan untuk


• Pertanyaan yang sesuai bertanya
dengan masalah yang
dihadapi menurun Edukasi
Jelaskan faktor risiko yang
Menjalani pemeriksaan


dapat mempengaruhi
yang tidak tepat menurun
kesehatan
• Perilaku membaik
▪ Ajarkan perilaku hidup bersih
dan sehat
▪ Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat

DAFTAR PUSTAKA

AD Ardyani. (2017). Teori Medis Kontrasepsi . Jurnal Keperawatan Universitas Muhammadiyah


Semarang : Jawa Tengah

Ningsih, Anox. -. Laporan Pendahuluan KB . [Link]

Diakses pada 19 april 2024


Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2018. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Edisi I. Jakarta Selatan.
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Edisi I . Jakarta
Selatan. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi I. Jakarta Selatan.
Dewan Pengurus Pusat persatuan Perawat Nasional Indonesia

Anda mungkin juga menyukai