0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan24 halaman

Hakikat Belajar dan Perubahan Tingkah Laku

Diunggah oleh

Ali Dodoy Wardoyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan24 halaman

Hakikat Belajar dan Perubahan Tingkah Laku

Diunggah oleh

Ali Dodoy Wardoyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Hakikat Belajar

Salah satu kata kunci dalam pendidikan adalah belajar, sesuai dengan

pendapat Sya’rodi (2008) bahwa belajar adalah key term (istilah kunci) dalam

setiap usaha pendidikan. Karena pendidikan merupakan salah satu tolok ukur bagi

peradaban manusia, maka dapat dikatakan bahwa belajar mampu menentukan

masa depan peradapan manusia itu sendiri.

Belajar juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan

berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Belajar juga

dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk

memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan sebagai hasil dari

pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada

sebagian orang yang berpendapat bahwa belajar itu adalah suatu kegiatan yang

bisa dilaksanakan di sekolah ataupun yang berhubungan dengan sekolah.

Pendapat seperti itu memang ada benarnya juga tetapi ada pengertian belajar tidak

sesederhana itu.

Banyak para ahli yang mendefinisikan belajar dengan pendapat yang

berbeda-beda namun mengarah pada hal yang sama yaitu terjadinya perubahan

tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya satu respon. [Link] (Sukmara

17
18

,2007: 49) meramalkan jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi

setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang itu tidak akan berguna bagi

generasi mendatang. Bahkan mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan

zaman. Oleh karena itu belajar memiliki peranan penting dalam mempertahankan

kelangsungan hidup manusia, yaitu melalui system pengetahuan, sikap dan

keterampilan yang dipelohnya karena manusia mempertahankan dan

melangsungkan hidupnya dengan belajar.

Suherman (2002: 2) berpendapat bahwa hakekat adalah mencari

kebenaran yang sebenar-benarnya. Jadi kalau berbicara hakekat belajar maka yang

akan dibahas adalah pengertian belajar menurut para ahli maupun berbagai aspek

disiplin ilmu.

Sukmara (2007: 50) mengungkapkan beberapa pandangan dan paham

tentang makna belajar dari beberapa pakar yaitu:

a. Skinner
Belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku)
yang berlangsung secara progressif.
b. Chaplin
Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif
menetap sebagai latihan dan pengalaman.
c. Hintzman
Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme,
manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat
mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
d. Wittig
19

Belajar adalah perubahan yang relative menetap yang terjadi


dalam segala macam/ keseluruhan tingkah laku suatu organisasi
sebagai hasil pengalaman.
e. Reber
Proses memperoleh suatu pengetahuan dan atau suatu perubahan
kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan
yang diperkuat.
f. Biggs
Belajar adalah kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan
kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya dan atau pengabsahan
terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah dipelajari.

Gunawan (2009) mengatakan bahwa belajar adalah aktivitas yang

mengharapkan perubahan tingkah laku pada individu yang belajar. Menurut

Sudrajat (2008) belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan

berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu.

Sebagai landasan mengenai apa yang dimaksud dengan belajar, Wartini


(dalam Iis 2010: 13) memaparkan pendapat beberapa ahli:

1. Morgan mengemukakan, “Belajar adalah setiap perubahan yang


relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil
dari latihan atau pengalaman”.
2. Menurut James O. mengemukakan bahwa, ”Belajar dapat
didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau
diubah melalui latihan atau pengalaman”.
3. Higard dan Bower mengemukakan “Belajar berhubungan dengan
perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu
yang disebabkan oleh pengalamanya yang berulang-ulang dalam
situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan
atau dasar kecenderungan respon pembawaan kematangan, atau
keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan-kelelahan,
pengaruh obat dan sebagainya”.
4. Witherington mengemukakan, “Belajar adalah suatu perubahan
didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru
daripada, reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan,
kepandaian dan suatu pengertian”.
20

5. Thorndike mengemukakan “Belajar adalah hubungan antara stimulus


dan respon”.
6. Menurut pengertian secara psikologis, Setiawati dan Usman
mendefinisikan.“Belajar adalah suatu proses usaha untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang terjadi karena adanya
interaksi baik antara individu dengan lingkungannya, perubahan.
Tingkah laku tersebut meliputi perubahan dalam kebiasaan (habbit).
Kecakapan-kecakapan (skil), ataupun tiga aspek yaitu pengetahuan
(kognitif), sikap (efektif), dan keterampilan (psikomotor)”.
7. Mursell dan Nasution mendefinisikan , “Belajar adalah usaha
mencari dan menemukan makna atau pengertian belajar selalu
dimulai dengan suatu problem dengan merangkap atau menemukan
makna problem dengan merangkap atau memahami hubungan antara
bagian-bagian masalah itu. Belajar itu bertujuan dan proses atas
merupakan wawasan batas permasalahan. Hasil belajar tidak hanya
terbatas pada situasi dimana hasil itu diperoleh tetapi, dapat
ditransfer atau digunakan dalam situasi-situasi lain”.

Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada dua kata

kunci dari belajar yaitu “perubahan” dan “tingkah laku”. Dari pengertian di atas

juga secara umum belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku baik

aspek pengetahuan keterampilan maupun aspek sikapnya. Apabila seseorang

telah mengalami suatu proses belajar, maka akan terlihat suatu perubahan pada

tingkah lakunya dalam mengatasi masalah. Belajar juga dapat diartikan sebagai

tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai

hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses

kognitif. Berdasarkan konsep-konsep di atas belajar pada hakekatnya adalah suatu

proses. Jadi, dengan perkataan lain dalam proses atau interaksi belajar yang

menjadi persoalan utama ialah adanya proses belajar pada siswa yakni proses

berubahnya tingkah laku siswa melalui berbagai pengalaman yang diperolehnya.

Menurut Surya (1997) ciri-ciri perubahan perilaku adalah sebagai

berikut:
21

1. perubahan yang disadari dan disengaja (internasional). Misalnya


pengetahuannya bertambah, keterampilannya semakin meningkat
dibanding sebelum dia mengikuti proses pembelajaran
2. perubahan yang berkesinambungan (kontinu). Pada dasarnya
merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang
telah diperoleh sebelumnya.
3. perubahan yang fungsional, setiap perubahan yang terjadi dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang
bersangkutan, baik untuk kepentingan sekarang maupun masa yang
akan datang.
4. perubahan yang bersifat positif. Perubahan perilaku yang terjadi
bersifat normatif dan menunjukkan kemajuan.
5. perubahan yang bersifat aktif. Untuk memperoleh perilaku baru,
individu yang bersangkutan aktif berusaha/ berupaya melakukan
perubahan.
6. perubahan yang bersifat permanen. Perubahan perilaku yang
diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi
bagian yang melekat dalam dirinya.
7. perubahan yang bertujuan dan terarah. Individu melakukan
kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan
jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.
8. perubahan perilaku secara keseluruhan.
Salah satu faktor penunjang belajar adalah sarana dan sumber
belajar.

Sukmara (2007: 87) mengatakan ”Kondisi sarana sangat berpengaruh

pada keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.” Sarana

pembelajaran yang membantu proses pembelajaran adalah sarana berupa media

dan alat peraga. Sebaiknya guru menggunakan berbagai jenis media pembelajaran

dan memanfaatkannya secara tepat, yakni disesuaikan dengan pengalaman belajar

yang yang akan ditempuh siswa, sehingga dapat memperjelas informasi dan

konsep yang sedang dipelajari.

Beberapa karakteristik sarana yang efektif menurut Puskur (Sukmara,

2007: 87) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:


22

1. menarik perhatian dan minat siswa.


2. meletakkan dasar-dasar untuk memahami sesuatu hal secara
konkrit yang sekaligus mencegah atau mengurangi verbalisme.
3. merangsang tumbuhnya pengertian dan atau usaha pembangunan
nilai-nilai.
4. berguna dan multifungsi.
5. sederhana, mudah digunakan dan dirawat, dapat dibuat sendiri oleh
guru atau diambil dari lingkungan sekitar.

Sumber belajar harus mampu memperkaya pengalaman belajar siswa.

Oleh karena itu perlu dipilih dengan mempertimbangkan kesesuaiannya dengan

materi dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Sumber belajar utama yang dapat digunakan antara lain sarana cetak,

seperti buku, brosur, majalah, surat kabar, poster, lembar informasi lepas, naskah,

peta foto, dan lingkungan sekitar.

Lingkungan sebagai sumber belajar dapat dibedakan menjadi:

1. lingkungan sosial, yakni kondisi masyarakat tempat dimana siswa berada.

2. lingkungan alam, yakni segala sesuatu yang tersedia dan terjadi di alam.

3. lingkungan budaya, yakni hasil-hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi yang dikembangkan masyarakat.

Sarana dan sumber belajar harus benar-benar dimanfaatkan untuk menciptakan

kegiatan belajar mengajar yang lebih efektif dan menunjang penguasaan suatu

kompetensi. PP No.19 tahun 2005 tentang Standar Sarana dan Prasaran

diantaranya menjelaskan:

1. setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi


perabot, peralatan pendidikan, media pendiddikan, buku dan sumber
belajar lainnya, bahan habis pakai serta perlengkapan lain yang
23

diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan


berkelanjutan.
2. setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi
lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang
pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustkaan, ruang labolatorium,
bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan
jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat
berkreasi, dan ruang/ tempat lain yang diperlukan untuk menunjang
proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Setiap manusia membutuhkan lingkungan untuk mengembangkan

dirinya. Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada diluar diri seseorang.

Lingkungn sangat berpengaruh bagi proses belajar karena lingkungan merupakan

salah satu sumber belajar yang sangat penting. Lingkungan juga dapat

memperkaya bahan dan kegiatan belajar.

Setiap manusia dilahirkan dengan dianugerahi potensi kodrati dari Illahi.

Potensi tersebut merupakan modal dasar manusia belajar. Maka secara sederhana

belajar diartikan sebagai suatu proses perubahan pada diri seseorang sebagai

pengembangan potensi kodrati yang dimilikinya berupa pengalaman yang dapat

mempengaruhi tingkah laku dengan tujuan yang jelas dan terarah.

Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas dapat dikemukakan


adanya elemen yang penting yang mencerminkan pengertian tentang belajar yaitu
bahwa :

1. untuk bisa disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap ;
2. tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut
berbagai aspek kepribadian baik fisik maupun psikis.
3. belajar merupakan suatu perubahan dan tingkah laku yang baik, tetapi
juga akan kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih
buruk.
24

Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau

pengalaman atau dengan kata lain belajar itu akan terjadi jika si subjek itu

melakukan atau menggalinya sendiri.

2.2 Hakikat Menulis

Menurut Tarigan (2008: 1) keterampilan berbahasa meliputi empat

keterampilan dasar, yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap

keterampilan mempunyai hubungan erat dengan keterampilan lainnya.

Keterampilan-keterampilan tersebut dapat dikuasai dengan cara sering latihan.

Dalam hakikat menulis akan dijelaskan: (1) pengertian menulis, (2) tujuan

menulis, dan (3) manfaat menulis. Penjelasan secara rinci akan dijelaskan di

bawah ini:

2.2.1 Pengertian Menulis

Menurut Kristiantari (2010: 99), menulis dapat didefinisikan sebagai

suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa

tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung

dalam tulisan. Tulisan merupakan sebuah simbol atau bahasa yang dapat dilihat

dan disepakati pemakainya. Dengan demikian, dalam komunikasi tulis paling

tidak terdapat empat unsur yang terlibat yaitu penulis sebagai penyampai pesan,

pesan atau isi tulis, media berupa tulisan dan pembaca sebagai penerima pesan.

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan

untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang

lain (Tarigan 2008: 3). Sedangkan menurut Effendy (2012) menulis adalah
25

keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan

menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca seperti yang dimaksud

oleh pengarang (Effendy 2012).

Menurut peneliti, menulis adalah kegiatan mencurahkan maksud pribadi

melalui tulisan sebagai medianya. Peneliti menyimpulkan bahwa pengertian

menulis adalah suatu keterampilan yang dipergunakan untuk berkomunikasi

secara tidak langsung kepada pembaca dengan menggunakan bahasa tulis sebagai

alat atau medianya.

2.2.2 Tujuan Menulis

Tujuan yang jelas akan membimbing seseorang dalam usahanya

membuat tulisan yang baik. Menulis untuk sekedar menyelesaikan tugas atau

memenuhi kewajiban, tidak dapat dikatakan sebagai tujuan menulis yang nyata.

Ada tiga tujuan menulis yang dikemukakan oleh O’Malley dan Pieres (1996)

dalam Kristiantari (2010: 101) yaitu: (1) informatif, (2) ekspresif, dan (3)

persuasif. Seseorang akan menggunakan tujuan informatif untuk berbagi

pengetahuan dan informasi, memberi petunjuk atau mengungkapkan gagasan.

Tujuan ekspresif digunakan seseorang jika ingin menulis sebuah cerita atau esai.

Tujuan persuasif ketika seseorang berusaha untuk mempengaruhi orang lain atau

memprakarsai suatu aksi atau perubahan.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis bertujuan untuk berbagi informasi

dan mengungkapkan gagasan setelah melaksanakan penelitian tentang menulis

deskripsi di siswa kelas IV.


26

2.2.3 Manfaat Menulis

Suparno (2008: 1.4) menyebutkan, menulis banyak memberikan manfaat

bagi penulis antara lain: (1) Peningkatan kecerdasan, seseorang yang rajin menulis

akan semakin mudah dalam mentransfer gagasan yang diperoleh ke dalam bentuk

tulisan. Sehingga daya ingat akan terus berkembang dan dapat meningkatkan

pengetahuan dan kecerdasan. (2) Pengembangan daya inisiatif dan kreativitas,

karena dengan menulis kita diajak untuk menggali ide yang kita miliki. Semakin

sering menulis kita akan terlatih untuk menemukan ide-ide atau gagasan yang

baru tentang hal-hal yang akan ditulis. (3) Penumbuhan keberanian, karena hasil

tulisan kita akan dibaca dan dinilai orang lain, maka dibutuhkan keberanian untuk

menulis. (4) Pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

Seseorang yang gemar menulis akan berupaya mengumpulkan

informasiinformasi atau gagasan, karena tulisan dihasilkan dari gagasan atau

informasi. Semakin banyak informasi yang diperoleh hasil tulisan semakin baik

dan relevan.

2.3 Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima

pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses

pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi

kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan

belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat
27

menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk

keseluruhan kelas maupun individu.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (dalam Nana Sudjana, 2004: 18), hasil

belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi

guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang

lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar.

Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah

kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar

merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran.

Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar

akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu

menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai

melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya

adalah sebagai berikut:

a. Ranah Kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu

pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.

b. Ranah Afektif
28

Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang

kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan

karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.

c. Ranah Psikomotor

Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi

neuromuscular (menghubungkan, mengamati).

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah

ia menerima pengalaman belajarnya.

Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria

dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa

sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih

baik lagi. Hasil belajar dibagi menjadi tiga macam hasil belajar yaitu :

a. Keterampilan dan kebiasaan

b. Pengetahuan dan pengertian

c. Sikap dan cita-cita

Ketiga Hasil belajar tersebut dapat diisi dengan bahan yang ada pada

kurikulum sekolah, (Nana Sudjana, 2004:22). Hasil belajar ini akan melekat terus

pada diri siswa karena sudah menjadi bagian dalam kehidupan siswa tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil belajar yaitu :

a. Faktor internal (dari dalam individu yang belajar).

Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada

faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi
29

kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain yaitu : motivasi, perhatian,

pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.

b. Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar).

Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan

belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa.

Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman

konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap.

Hasil belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses

belajar yang dilakukan oleh siswa, harus semakin tinggi hasil belajar yang

diperoleh siswa. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai

siswa, (Nana Sudjana, 1989:111)

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa hasil

belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah

dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau

bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam

membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi

sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih

baik.

2.4 Prestasi Belajar

Di dalam menyelenggarakan pendidikan, berhasilnya suatu proses belajar

mengajar dapat dilihat dari terjadinya perubahan yang diharapkan sesuai dengan

tujuan yang dirumuskan. Tujuan yang dimaksud tersebut dapat hasil belajar siswa.
30

Prestasi belajar siswa adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi

pelajaran di sekolah yang dapat dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari

bentuk hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa tidak terlepas

dari faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa itu sendiri. Faktor-faktor

yang mempengaruhi belajar siswa antara lain faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor intern terdiri dari faktor-faktor jasmaniah, psikologi, minat, motivasi dan

cara belajar. Faktor ekstern yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah

faktor sekolah yang mencakup model pembelajaran, kurikulum, guru, siswa,

sarana, dan sebagainya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa seperti yang

yang diungkapkan oleh Soeryabrata (dalam Tjundjing, 2001), yaitu:

1. Faktor Internal

Faktor Internal adalah faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa

yang bersifat dari dalam. Faktor ini merupakan hal-hal dalam diri individu yang

mempengaruhi prestasi belajar yang dimiliki. Faktor ini dapat di golongkan ke

dalam dua kelompok, yaitu:

a. Faktor Fisiologis

Faktor fisiologis mengacu pada keadaan fisik, khususnya sistem

penglihatan dan pendengaran, kedua sistem penginderaan tersebut dianggap

sebagai faktor yang paling bermanfaat di antara kelima indera yang dimiliki
31

manusia. Untuk dapat menempuh pelajaran dengan baik seseorang perlu

memperhatikan dan memelihara kesehatan tubuhnya. Keadaan fisik yang lemah

merupakan suatu penghalang yang sangat besar bagi seseorang dalam

menyelesaikan program studinya.

Untuk memelihara kesehatan fisiknya, seseorang perlu memperhatikan

pola makan dan pola tidurnya, hal ini di perlukan untuk memperlancar

metabolisme dalam tubuhnya. Selain itu untuk memelihara kesehatan, bahkan

juga dapat meningkatkan ketangkasan fisik, juga di perlukan olahraga secara

teratur.

b. Faktor Psikologis

Faktor psikologis meliputi faktor non fisik, seperti minat, motivasi,

intelegensi, perilaku dan sikap.

Intelegensi cenderung mengacu pada kecerdasan intelektual. Kecerdasan

intelektual yang tinggi akan mempermudah seseorang untuk memahami suatu

permasalahan. Orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, pada umumnya

memiliki potensi dan kesempatan yang lebih besar untuk meraih prestasi belajar

yang baik dibandingkan dengan mereka yang memiliki kecerdasan intelektual

biasa-biasa saja. Apalagi bila di bandingkan mereka yang tergolong memiliki

kecerdasan intelektual rendah.

Menurut The (dalam Tjundjing, 2001), seorang siswa perlu memiliki sikap

mental dan perilaku tertentu yang dianggap perlu agar dapat bertahan terhadap
32

berbagai kesukaran dan jerih payah di perguruan tinggi. Sikap mental seseorang

meliputi hal-hal berikut:

1. Tujuan belajar

2. Minat Terhadap pelajaran

3. Kepercayaan terhadap diri sendiri

4. Keuletan

5. Perilaku siswa

2. Faktor Eksternal

Selain faktor-faktor dalam diri individu, masih ada hal-hal lain di luar diri

yang dapat mempengaruhi prestasi yang diraih, yang di golongkan sebagai faktor

eksternal, seperti lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

a. Faktor Keluarga

Faktor lingkungan keluarga dapat mempengaruhi prestasi siswa. Berikut

ini di jelaskan faktor-faktor lingkungan keluarga tersebut diantaranya :

1. Sosial ekonomi keluarga

2. Pendidikan orang tua

3. Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga

b. Faktor Lingkungan Sekolah

Faktor lingkungan sekolah diantaranya adalah sebagai berikut :


33

1. Sarana dan prasarana

2. Kompetensi guru dan siswa

3. Kurikulum dan metode mengajar

c. Faktor Lingkungan Masyarakat

Faktor Lingkungan Masyarakat diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Sosial budaya

b. Partisipasi terhadap pendidkan

2.5 Aktifitas Belajar

Aktivitas belajar terdiri dari dua kata penting aktivitas dan belajar,

sehingga untuk memahami pengertian dari aktivitas belajar perlu memahami

terlebih dahulu pengertian aktivitas dan [Link] aktivitas berasal dari bahasa

Inggris yaitu berasal dari activity yang artinya [Link] Kamus Besar

Bahasa Indonesia (Supianah, 2011: 23), “Aktivitas yaitu kesibukan atau keaktifan.

Pengertian belajar menurut pandangan B.F Skiner (Sagala, 2009: 14), “Belajar

adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung

secara progresif”.

Dengan melihat pengertian dari aktivitas dan belajar, aktivitas belajar

dapat diartikan sebagai suatu kegiatan, kesibukan atau keaktifan siswa dalam

suatu proses adaptasi dan penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara

progresif. Aktivitas siswa dalam belajar merupakan kebiasan belajar yang sering

dilakukan siswa yang dikembangkan secara positif dan negatif sesuai dengan
34

motif yang dimiliki siswa tersebut. Jadi, setiap orang berbuat berdasarkan

kekuatan atau kebiasaan sekalipun mengetahui ada cara lain mungkin

menguntungkan baginya.

Aktivitas belajar siswa merupakan salah satu faktor yang ikut

mempengaruhi keberhasilan dalam [Link] dengan aktivitas siswa yang

harus dikembangkan untuk mencapai hasil belajar yang baik dan efisien. Berikut

merupakan saran-saran yang dikemukakan Crow and Crow supaya terjadi

aktivitas belajar yang mampu menciptakan hasil belajar yang efektif dan efisien

(Supianah, 2011: 24):

1. miliki dahulu tujuan belajar yang pasti;


2. usahakan adanya tempat belajar yang memadai;
3. jaga kondisi fisik jangan sampai menggangu konsentrasi dan
keaktivan mental;
4. rencanakan dan ikuti jadwal waktu belajar;
5. selingilah belajar dengan waktu istiirahat yang teratur;
6. carilah kalimat-kalimat topik atau inti pengertian dari setiap paragrap;
7. selama belajar itu gunakan metoda pengulangan dalam hati;
8. lakukan metoda keseluruhan (whole menthod) bilamana mungkin;
9. usahakan agar dapat membaca cepat tetapi cermat;
10. buatlah catatan-catatan atau ragkuman yang tersusun rapi;
11. adakan penilaian terhadap kesulitan bahan untuk dipelajarii lebih
lanjut;
12. susun dan uatlah pertanyaan-pertanyaan yang tepat, dan usahakan/
cobalah untuk menemukan jawabannya;
13. pusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh pada waktu belajar;
14. pelajari dengan teliti tabel-tabel, grafik-grafik, dan bahan ilustrasi
lainnya;
15. biasakan memuat rangkuman atau kesimpulan;
16. buatlah kepastian untuk melengkapi tugas-tugas itu;
17. pelajari dengan baik-baik pertanyaan (statement) yang dikemukakan
oleh pengarang tentanglah jika diragukan kebenarannya;
18. teliti pendapat beberapa pengarang;
19. belajarlah dengan menggunakan kamus dengan sebaik-baiknya; dan
20. analisalah kebiasaan dan aktivitas belajar yang dilakukan, dan cobalah
untuk memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
35

Banyak sekali jenis aktivitas yang harus dilakukan siswa pada saat

belajar, berikut merupakan beberapa jenis aktivitas.

1. Memperhatikan

Perhatian merupakan suatu faktor psikologis yang dapat membantu

interaksi dalam proses belajar mengajar. Ramayulis (Bunyamin, 2007: 20)

menyatakan, “Langkah pertama yang harus ditempuh siswa untuk mencapai

sukses dalam belajar ialah memperhatikan apa yang sedang disampaikan oleh

[Link] hal ini Kartono (Bunyamin, 2007: 20) menyatakan, “Perhatian adalah

reaksi umum organisme dan kesadaran yang menyebabkan bertambahnya

kreativitas, daya konsentrasi, dan pembatasan kesadaran terhadap suatu objek.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, memperhatikan dapat diartikan

sebagai pemusatan semua organ tubuh serta kesadaran terhadap suatu [Link]

karena itu, dalam memperhatikan itu termasuk mendengarkan, melihat,

memikirkan dan mengerjakan.

2. Mencatat

Mencatat/merangkum adalah mengumpulkan hasil dari suatu pekerjaan

dalam bentuk tulisan. Hal ini dapat memperkuat daya ingat atau membantu siswa

untuk mengingat kembali proses belajar yang sudah lupa. Merangkum tidak kalah

pentingnya dari aktiviitas-aktivitas yang lain seperti mencatat yang termasuk

dalam kegiatan menulis.

3. Bertanya

Banyak cara atau metode yang dapat digunakan untuk menyampaikan

materi pembelajaran. Salah satunya metode tanya jawab, dalam metode ini materi
36

disajikan dengan tanya jawab. Dengan menggunakan metode ini siswa akan

terlibat secara aktif dalam proses pelajaran, karena apa yang ditanyakan guru

harus dijawab oleh siswa walaupun salah. Dalam metode pertanyaan, siswa

sengaja dirangsang, karena adanya siswa yang bertanya atau menjawab, itu

merupakan pertanda siswa berperan aktif dalam proses belajar.

Pengertian bertanya menurut Depdikbud yaitu, “Meminta keterangan

(penjelasan) meminta supaya diberitahu”.Berdasarkan pengertian tersebut, berarti

bila ada siswa yang bertanya itu menandakan bahwa anak ingin tahu, ingin

mendapat penjelasan tentang hal yang belum jelas atau tidak tahu.

2.6 Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guna

membangkitkan siswa untuk belajar. Pembelajaran berbeda dengan pengajaran.

Pada proses pengajaran guru selalu berhadapan dengan siswa, sedangkan dalam

pembelajaran siswa dalam belajar tidak harus dengan guru bisa dengan media atau

bahan ajar. Pembelajaran bahasa adalah proses memberi rangsangan belajar

berbahasa kepada siswa dalam upaya siswa mencapai kemampuan berbahasa

(Santosa 2008: 5.18).

Secara universal pengertian bahasa adalah suatu bentuk ungkapan yang


bentuk dasarnya ujaran. Santosa (2008: 1.2) menyatakan bahwa : Bahasa
merupakan alat komunikasi yang mengandung beberapa sifat yakni
sistematis, mana suka, ujar, manusiawi, dan komunikatif. Disebut
sistematis karena bahasa diatur oleh sebuah sistem yaitu sistem bunyi dan
sistem makna. Bahasa disebut mana suka karena unsur-unsur bahasa
yang dipilih secara acak tanpa dasar. Bahasa disebut juga ujaran karena
media bahasa yang terpenting adalah bunyi walaupun kadang ada juga
dalam bentuk media tulisan. Disebut manusiawi karena bahasa digunakan
oleh manusia bukan digunakan oleh makhluk lain. Bahasa disebut
sebagai alat komunikasi karena berfungsi sebagai penyatu keluarga,
masyarakat, bangsa dalam segala kegiatan dan pergaulan sehari-hari
37

Bahasa merupakan salah satu alat pergaulan dan komunikasi terdiri atas

simbol-simbol seperti huruf-huruf yang disusun menjadi kata-kata yang

mengandung arti tertentu. Kata-kata kemudian disusun menjadi kalimat-kalimat

mempunyai pengertian dan makna yang jelas dan lengkap, utuh dan sempurna

(Sutarno 2008: 74-75). Pembelajaran berbahasa di SD dimulai dari kalimat-

kalimat minim, kalimat inti, kalimat sederhana, kalimat tunggal di kelas rendah

kemudian meningkat mempelajari kalimat luas, kalimat majemuk, kalimat

transformasi sampai anak merangkai kalimat menjadi sebuah wacana sederhana

(Santosa 2008: 5.19).

Menurut Tarigan (2008, 1) pembelajaran bahasa Indonesia di SD memuat

empat keterampilan dasar yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan

menulis. Pembelajaran bahasa Indonesia dimaksudkan untuk membekali

kemampuan belajar siswa dan pengalaman berbahasa siswa.

2.7 Model Pembelajaran Problem Centered Learning (PCL)

2.7.1 Pengertian Model Pembelaaran Poblem Centered Learning (PCL)

PCL ini awalnya dikembangkan pada tahun 1986 disekolah dasar dan

pada saat itu pendekatan ini disebut dengan Problem Centered Mathematics atau

Prblem Centered Classroom, kemudian pada awal tahun 90-an Wheatley

mengembangkan pendekatan ini di sekolah menengah dan disebut PCL.

Untuk menciptakan suatu kelas yang efektif, guruharus mendesain

pengalaman yang memungkinkan para siswa dapat mencapai tujuan yang sudah

direncanakan dan harus mengantarkan siswa sehingga siswa dapat belajar dari

pengalaman tersebut. Pengalaman ini harus ditemukan pada saat proses di mana
38

para siswa mengembangkan pemahaman matematika. Para siswa

mengembangkan pemahaman matematika ketika mereka diminta untuk

memunculkan pengetahuan baru dengan cara mempertimbangkan, menciptakan

dan berargumen tentang matematika.

Para siswa harus mengalami permasalahan yang memerlukan

penggunaan pengetahuan yang fleksibel bukan sekedar pekerjaan matematika

yang rutin [Link] yang diarahkan dan dipusatkan harus memberikan

tantangan bagi para siswa untuk menggunakan berbagai strategi. Para siswa harus

meneliti permasalahan, menentukan informasi apa yang diperlukan untukk

memecahkannya, dan merancang solusi. Untuk hal itu sudah seharusnya guru

melibatkan semua siswa sehingga ada kemungkinan terjadinya pengembangan-

pengembanagan yang boleh jadi akan mendorong para siswa mengerahkan

seluruh kemampuannya sehingga pembelajaran menjadi optimal. Guru di sini

berperan sebagai pelatih yang memudahkan penyelidikan siswa terhadap masalah

itu atau dengan kata lain guru berperan sebagai fasilitator.

Terkait peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran, maka soal

yang akan diberikan kepada siswa harus lebih dari soal rutin sehingga peran guru

di sini akan benar-benar optimal. Pemecahan masalah harus dipandang sebagai

suatu prosedur yang penting untuk menuju kepada pemahaman matematika.

Melibatkan para siswa di dalam pembelajaran berpusat pada masalah akan

memberikan kemungkinan bagi para siswa akan mengembangkan kemampuan itu

untuk itu menyelesaikan dan memilih bermacam-macam strategi yang cocok

untuk merancang solusi. PCL menciptakan suatu model dengan situasi di mana
39

siswa biasa menjadi pemikir dan sibuk dengan penyelidikan untuk menciptakan

solusi.

Jadi, model pembelajaran Problem Centered Learning (PCL) dapat

diartikan sebagai serangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada

proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah.

Terdapat 3 ciri utama dari model pembelajaran PCL, yaitu :

a. Model PCL merupakan rangkaian kegiatan aktivitas pembelajaran , artinya

dalam implementasi model PCL ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan

oleh siswa. Kegiatan tersebut adalah siswa aktif berfikir, berkomunikasi,

mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkan.

b. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Pemecahan

masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah.

Proses berfikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya

berfikir melalui tahapan-tahapan tertentu sedangkan empiris artinya proses

penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.

2.7.2 Mekanisme Problem Centered Learning (PCL)

Menurut Wheatley (Kurniawan, 2008: 23) bahwa, “Mekanisme PCL

menerapakan tiga metode belajar yaitu, cooperative learning, collaborative dan

tutorial learning karena PCL yang dikembangkan merupakan pembelajaran yang

mengutamakan aktivitas pemecahan masalah matemaika”. PCL ini meliputi

mengerjakan tugas, belajar kelompok kecil, dan sharing yang mendiskusikan agar

pembelajaran yang dilakukan guru didalam kelas lebih ditekankan terhadap proses

mengkonstruksi konsep oleh siswa berdasarkan pengertiannya sendiri.


40

Cooperatif Learning adalah kegiatan siswa dikumpulkan dalam satu

[Link] Learning adalah kegiatan siswa saling memberi ide dalam

kelompok untuk satu tujuan yang sama. Selanjutnya siswa mengkonstruksinya

menjadi pengetahuan baru, jadi konsep baru tidak diberitahukan. Sedangkan

Tutorial Learning berarti siswa bekerjasama dengan orang lain untuk belajar,

Collaboratif Learning berarti peran serta individu dalam belajar dan Tutorial

Learning berarti saling mengajarkan.

Common questions

Didukung oleh AI

Adapting learning environments is crucial as it addresses the diverse psychological and physical needs of learners, which are pivotal for learning success. The document highlights that creating a conducive and individualized learning setting maximizes motivation, engagement, and information assimilation . Such environments account for internal factors like cognitive preferences and external factors like physical settings, ensuring all learners can benefit from personalized and context-sensitive educational experiences .

Problem Centered Learning (PCL) supports learning by engaging students in problem-solving activities, which involve considering, creating, and arguing about solutions. This method fosters flexible use of knowledge as students are immersed in challenging situations that require systematic and empirical thinking . PCL emphasizes active participation, making students critical thinkers and problem-solvers, which leads to a deeper understanding as they construct their knowledge through cooperative, collaborative, and tutorial learning .

Experts provide various definitions of learning, converging on the idea of behavior change due to experiences. Skinner views learning as a progressive behavior adaptation . Chaplin and Hintzman describe it as a relatively permanent change in behavior due to experience . Wittig and Reber reinforce the permanency and results of learning, while Biggs focuses on cognitive development . Overall, learning is consistently linked to a change in behavior as a result of interaction with the environment .

Learning is considered a key term in education and is fundamental in influencing civilization as it shapes the future of human culture and behavior. This is supported by Thorndike's prediction that if human learning ability were halved, current civilization would become useless or might even disappear . Learning enables individuals to acquire knowledge, attitudes, and skills necessary for survival, thus playing a crucial role in the continuation and development of human society .

Integrating cooperative, collaborative, and tutorial learning strategies in PCL enhances problem-solving skills by allowing students to share ideas, construct new knowledge collaboratively, and engage in discussions that deepen understanding . Cooperative learning groups students, fostering a shared learning experience, while collaborative learning promotes idea exchange for collective goals. Tutorial learning emphasizes teaching and learning collaboratively, which strengthens conceptual understanding and problem-solving agility .

Behavior change resulting from learning is characterized as intentional, continuous, functional, positive, active, permanent, and goal-directed . These changes result in increased knowledge and skills, are utilized for individual benefit, demonstrate improvement, require active effort, become a lasting part of the individual, and are aimed at achieving certain objectives .

The document identifies three main types of learning outcomes: skills and habits, knowledge and understanding, and attitudes and ambitions . These outcomes contribute to personal development by enhancing cognitive abilities, cultivating useful habits, increasing knowledge retention, and shaping individual attitudes towards future goals. Learning results in a comprehensive change in behavior that is enduring and functional for personal growth .

Internal factors, such as psychological states including motivation and attention, directly influence an individual's ability to learn . External factors involve the learning environment, including conducive conditions and available resources, which set the context for learning success . A supportive environment enhances the assimilation of knowledge and development of behaviors, suggesting a crucial role in facilitating learning outcomes .

The document suggests enhancing learning efficiency and effectiveness by setting clear learning goals, maintaining a conducive study environment, protecting against physical distractions, and implementing structured study schedules . Practical steps include summarizing key concepts, organizing summaries, using repetitive internalization, focusing on comprehension and problem-solving, and collaborating with peers to reinforce understanding . These steps ensure a focused and active learning process that maximizes retention and application of knowledge .

Experts describe the learning process as an interaction between individuals and their environment, leading to behavior change. Experience plays a critical role as it helps internalize new responses and skills. For example, Morgan and James O. highlight learning as a process where behavior is induced or altered through training and experience . Higard and Bower emphasize that repeated exposure to situations results in behavior changes unrelated to innate response tendencies .

Anda mungkin juga menyukai