LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI
1. Definisi
Risiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat mengancam
kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku
untuk mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang
tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme
koping yang digunakan dalam mengatasi masalah.
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi. Risiko bunuh diri dapat diartikan sebagai resiko
individu untuk menyakiti diri sendiri, mencederai diri, serta mengancam jiwa.
Perilaku bunuh diri terbagi menjadi tiga kategori yaitu :
a. Ancaman bunuh diri yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwa seseorang
tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang yang ingin bunuh diri
mungkin mengungkapkan secara verbal bahwa ia tidak akan berada di sekitar kita
lebih lama lagi atau mengomunikasikan secara non verbal.
b. Upaya bunuh diri yaitu semua tindakan terhadap diri sendiri yang dilakukan oleh
individu yang dapat menyebabkan kematian jika tidak dicegah.
c. Bunuh diri yaitu mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau
diabaikan. Orang yang melakukan bunuh diri dan yang tidak bunuh diri akan
terjadi jika tidak ditemukan tepat pada waktunya
2. Etiologi
A. Faktor Predisposisi
menyebutkan bahwa faktor predisposisi yang menunjang perilaku resiko bunuh
diri meliputi:
a) Diagnosis psikiatri
Tiga gangguan jiwa yang membuat klien berisiko untuk bunuh diri yaitu
gangguan alam perasaan, penyalahgunaan obat, dan skizofrenia.
b) Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan peningkatan resiko bunuh
diri adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi.
c) Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian,kehilangan yang dini,
dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang
berhubungan dengan bunuh diri.
d) Biologis
Banyak penelitian telah dilakukan untuk menemukan penjelasan biologis yang
tepat untuk perilaku bunuh diri. Beberapa peneliti percaya bahwa ada
gangguan pada level serotonin di otak, dimana serotonin diasosiasikan dengan
perilaku agresif dan kecemasan. Penelitian lain mengatakan bahwa perilaku
bunuh diri merupakan bawaan lahir, dimana orang yang suicidal mempunyai
keluarga yang juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Walaupun
demikian, hingga saat ini belum ada faktor biologis yang ditemukan
berhubungan secara langsung dengan perilaku bunuh diri.
e) Psikologis
Tiga bentuk penjelasan psikologis mengenai bunuh diri. Penjelasan yang
pertama didasarkan pada Freud yang menyatakan bahwa “suicide is murder
turned around 180 degrees”, dimana dia mengaitkan antara bunuh diri dengan
kehilangan seseorang atau objek yang diinginkan. Secara psikologis, individu
yang beresiko melakukan bunuh diri mengidentifikasi dirinya dengan orang
yang hilang tersebut. Dia merasa marah terhadap objek kasih sayang ini dan
berharap untuk menghukum atau bahkan membunuh orang yang hilang
tersebut. Meskipun individu mengidentifikasi dirinya dengan objek kasih
sayang, perasaan marah dan harapan untuk menghukum juga ditujukan pada
diri. Oleh karena itu, perilaku destruktif diri terjadi.
f) Sosiokultural
Penjelasan yang terbaik datang dari sosiolog Durkheim yang memandang
perilaku bunuh diri sebagai hasil dari hubungan individu dengan
masyarakatnya, yang menekankan apakah individu terintegrasi dan teratur
atau tidak dengan masyarakatnya.
B. Faktor Presipitasi
Pencetus dapat berupa kejadian yang memalukan, seperti masalah interpersonal,
dipermalukan di depan umum,kehilangan pekerjaan, atau ancaman pengurungan.
Selain itu, mengetahui seseorang yang mencoba atau melakukan bunuh diri atau
terpengaruh media untuk bunuh diri, juga membuat individu semakin rentan
untukmelakukan perilaku bunuh diri. Faktor pencetus seseorang melakukan
percobaan bunuh diri adalah perasaan terisolasi karena kehilangan hubungan
interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti, kegagalan beradaptasi
sehingga tidak dapat menghadapi stres, perasaan marah/bermusuhan dan bunuh
diri sebagai hukuman pada diri sendiri, serta cara utuk mengakhiri keputusasaan.
3. Faktor Resiko
Faktor risiko bunuh diri terjadi karena yaitu :
a. Depresi
b. Bipolar disorder
c. Autisme Spectrum Disorders
d. Schizophrenia
e. Personality Disorders
f. Anxiety Disorders
g. Penggunaan obat obat terlarang
h. Keluarga yang memiliki riwayat bunuh diri
i. Perasaan terasingkan, terpisahkan
j. Ketidakmampuan mencari bantuan dikarenakan stigma.
4. Tanda dan Gejala
Mayor
Subjektif:
1. Mengungkapkan kata kata seperti “tolong jaga anak- anak karena saya akan pergi
jauh!”
2. Mengungkapkan kata- kata “saya mau mati”, jangan tolong saya, saya tidak mau
ditolong
3. Memberikan ancaman akan melakukan bunuh diri
4. Mengungkapkan ingin mati
5. Mengungkapkan rencana ingin mengakhiri hidup
Objektif
1. Murung, tidak bergairah
2. Banyak diam
3. Menyiapkan alat untuk bunuh diri
4. Membenturkan kepala
5. Menjatuhkan kepala dari tempat tinggi
6. Melakukan percobaan bunuh diri secara aktif dengan berusaha memotong nadi,
menggantung diri, minum racun
Minor
Subjektif
1. Mengungkapkan isyarat untuk melakukan bunuh diri, tetapi tidak disertai dengan
ancaman melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri
2. Mengungkapkan perasaan bersalah, sedih, marah, putus asa, atau tidak berdaya
3. Mengungkapkan hal hal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan harga
diri rendah
Objektif
1. Kontak mata kurang
2. Tidur kurang
3. Mondar – mandir
4. Banyak melamun
5. Terlihat sedih
6. Menangis terus menerus
5. Rentang Respon
Keterangan:
a. Peningkatan diri: seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahan diri secara
wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahan diri.
b. Beresiko destruktif: seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami
perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya
dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja
ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan
pekerjaan secara optimal.
c. Destruktif diri tidak langsung: seseorang telahmengambil sikap yang kurang tepat
terhadap situasi yangmembutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri.
d. Pencederaan Diri: seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan
diri akibat hilangnya harapan terhadapsituasi yang ada.
e. Bunuh diri: seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang.
6. Mekanisme Koping
Seorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping yang
berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization, regression,
dan magical thinking. Mekanisme pertahanan diri yang ada seharusnya tidak
ditentang tanpa memberikan koping alternatif. kegagalan mungkin mendapatkan
pertolongan agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan
kegagalan koping dan mekanisme adaptif Perilaku bunuh diri menunjukkan
mekanisme koping. Ancaman bunuh diri menunjukkan upaya terakhir untuk pada diri
seseorang.
7. Penatalaksanaan
a. Farmakoterapi
b. Terapi modalitas
8. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1. Data subjektif
a. Mengungkapkan keinginan untuk bunuh diri
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
d. Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya dari keluarga
e. Berbicara kematian, menanyakan tentang dosis obat yang mematikan
f. Mengungkapkan adanya konflik interpersonal
2. Data objektif
a. Impulsif
b. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan
c. Ada riwayat penyakit mental
d. Ada riwayat penyakit fisik
e. pengangguran
b. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan hasil pengkajian rumusan diagnosis keperawatan yaitu : Risiko Bunuh
Diri
c. Pohon Masalah
Resiko perilaku kekerasan
Akibat
Resiko Bunuh Diri
Core Problem
Isolasi Sosial
Penyebab
Harga Diri Rendah
d. Rencana Intervensi
1. Ancaman percobaan bunuh diri dengan diagnosis : Risiko Bunuh Diri
a. Tindakan keperawatan klien yang mengancam atau mencoba bunuh diri
1). Tujuan : klien tetap aman bunuh diri
2). Tindakan : melindungi klien
Perawat dapat melakukan hal – hal berikut yaitu :
1) Tetap menemani klien sampai dipindahkan ke tempat yanh lebih aman
2) Menjauhkan semua benda yang berbahaya missal (pisau, silet, gelas, ikat
pinggang, dan lain – lain)
3) Memastikan bahwa klien benar – benar telah meminum obatnya, jika
klien mendapatkan obat
4) Menjelaskan dengan lembut pada klien melupakan keinginan untuk
bunuh diri
b. Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan klien percobaan bunuh diri
1). Tujuan : keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang
mengancam atau mencoba bunuh diri
Tindakan meliputi :
1) Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi klien serta jangan pernah
meninggalkan klien sendirian
2) Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barang –
barang berbahaya disekitar klien
3) Mendiskusikan dengan keluarga untuk menjaga klien agar tidak sering
melamun sendiri
4) Menjelaskan kepada keluarga pentingnya klien minum obat secara
teratur
e. Evaluasi
1. Penurunan tanda dan gejala
2. Peningkatan kemampuan pasien mengendalikan isolasi sosial
3. Peningkatan kemampuan keluarga dalam merawat pasien
Daftar Pustaka
Slametningsih, Ninik Y, Nuraenah. (2019). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Program
Studi Keperawatan. Universitas Muhammadiyah Jakarta.