ANALISIS PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR),
FINANCING DEPOSIT RATIO (FDR), NON PERFORMING
FINANCING (NPF), BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN
OPERASIONAL (BOPO), DAN PROFITABILITAS (ROA)
TERHADAP FINANCIAL DISTRESS
(Studi Kasus pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode 2015-2019)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
Disusun oleh:
Siti Wulandari (63010160030)
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH (S-1)
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
2020
ANALISIS PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR),
FINANCING DEPOSIT RATIO (FDR), NON PERFORMING
FINANCING (NPF), BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN
OPERASIONAL (BOPO), DAN PROFITABILITAS (ROA)
TERHADAP FINANCIAL DISTRESS
Studi Kasus pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode 2015-2019
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
Disusun oleh:
Siti Wulandari (63010160030)
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH (S-1)
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
2020
ii
iii
iv
v
vi
MOTO
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
(Q.S. Asy Syarh ayat 5)
“Waktu bagaikan pedang. Jika engkau tidak memanfaatkannya dengan baik
(untuk memotong), maka ia akan memanfaatkanmu (dipotong)”
(HR. Muslim)
”Sejatining Urip Eling Marang Gusti”
(K.H. Mahfud Ridwan)
vii
PERSEMBAHAN
Skripsi ini Penulis persembahkan untuk:
Puji Syukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan kekuatan, membekali
dengan ilmu serta kemudahan dan kelancaran atas terselesainya skripsi yang
sederhana ini. Sholawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Baginda
Rasulullah Muhammad SAW.
Kedua orang tua Bapak Sayuto Utomo dan Ibu Siti Rokanah yang senantiasa
memberikan doa, semangat serta kasih sayang kepada penulis. Terimakasih juga
kepada adik-adik tercinta Asih Setyaningrum dan Dina Nur laila Rahma yang
selalu menemani berjuang untuk membahagiakan kedua orangtua.
Dosen, ustad ustadzah dan guru-guru semua, siapapun dimanapun berada,
terutama kepada Ibu Yusvita Nena Arinta, [Link]. yang senantiasa memberikan
semangat dan saran dalam penyelesaian skripsi ini.
Keluarga besar Pondok Pesantren Edi Mancoro, terimakasih telah menjadi
keluarga kedua yang senantiasa mendoakan dan mendukung dalam menuntut
ilmu.
Keluarga besar Institut Agama Islam Negeri Salatiga, terutama teman-teman
angkatan 2016 terimakasih telah mendukung dan menemani dalam menuntut ilmu
di kampus tercinta.
Teman-teman seperjuangan terutama Dwi Wahyuningsih, Maftuhah, Indah Dwi
Risniyanti, Nazun Afifah, Siti Qoniah, Yesi Asriyati, Nur Afifah, Anisa
Masruroh, Putri Lusiana Bela, Nurul Ermawati, Evi Rifqoh, Aprilia Nur
Ardhianticha, dan teman-teman yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu,
terimakasih telah mendukung dan meberikan semangat serta saran selama ini.
Teman-teman sejak kecil terutama Dyah Septiani, Juliana Nur Laili, Puput
Wijayanti, Abdul Maulana Haq, dan Dedi Lugiantoro yang senantiasa menjadi
teman terbaik yang senantiasa memberikan doa dan dukungannya.
Teman-teman tercinta dari kamar 9 tahun 2019 dan kamar 20 tahun 2020 Pondok
Pesantren Edi Mancoro yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terimakasih
telah mendampingi dalam suka maupun duka, dan yang senantiasa memberikan
semangat dan doanya.
Teman-teman Koperasi Pondok Pesantren Edi Mancoro, terimakasih telah
memberikan semangat serta mendoakan untuk kelancaran skripsi ini dan
pengalaman yang sangat berharga.
viii
KATA PENGANTAR
Tiada kata terindah yang dapat penulis sampaikan, selain ucapan
Alhamdulillah hirrobil’alamin dengan penuh rasa syukur Kehadirat Allah SWT,
karena dengan rahmat, hidayat serta pertolongan-Nya penulis dapat
menyelesaikan penelitian yang berjudul “Analisis Pengaruh Capital Adequacy
Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF),
Biaya Operasional Pendapatan Operasional dan Return On Assets (ROA)
terhadap Financial Distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2015-
2019” dengan lancar. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, yang selalu kita nantikan syafaat-Nya.
Penelitian ini disusun sebagai salah satu tugas mahasiswa dalam
mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu berupa penelitian. Ucapan
terimakasih sebesar-besarnya peneliti ucapkan kepada semua pihak yang telah
memberikan pengarahan, bimbingan dan bantuan dalam berbagai bentuk. Ucapan
terimakasih terutama penulis sampaikan kepada:
1) Prof. Dr. Zakiyuddin, [Link]. selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri
Salatiga.
2) Dr. Anton Bawono, [Link]. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Islam IAIN Salatiga.
3) Ari Setiawan, M.M. selaku Ketua Program Studi S1 Perbankan Syariah.
4) Yusvita Nena Arinta, [Link]. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
membimbing penulis, memberikan pengarahan, saran sehingga penulis
dapat menyelesaikan penelitian ini.
5) Segenap dosen dan staff Program Studi S1 Perbankan Syariah yang telah
memberikan bekal berbagai teori, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang
sangat bermanfaat bagi Penulis.
6) KH. Muhammad Hanif, [Link]. dan segenap keluarga besar Pondok
Pesantren Edi Mancoro yang senantiasa mendoakan, membimbing dan
memberikan dukungannya.
ix
7) Teman-teman seperjuangan Program Studi S1 Perbankan Syariah tahun
angkatan 2016 yang penulis banggakan.
8) Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata
sempurna, maka penulis sangat mengharapkan saran maupun kritikan
demi sempurnanya skripsi ini. Mudah-mudahan skripsi ini dapat
memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca bagi
umumnya, dan kiranya skripsi ini dapat menjadi salah satu bentuk
sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang
ekonomi Islam.
Salatiga, 01 Oktober 2020
Penulis
Siti Wulandari
NIM. 63010160030
x
ABSTRAK
Wulandari, Siti. 2020. Analisis Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR),
Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Biaya
Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Profitabilitas (ROA)
terhadap Financial Distress Studi Kasus pada Bank Umum Syariah di
Indonesia Periode 2015-2019. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Strata Satu Perbankan Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Salatiga. Dosen Pembimbing: Yusvita Nena Arinta, [Link].
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Capital Adequacy
Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF),
Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Profitabilitas (ROA)
terhadap Financial Distress Studi Kasus pada Bank Umum Syariah di Indonesia
Periode 2015-2019. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif data
sekunder berbentuk data panel dengan teknik purposive sampling. Sampel yang
digunakan sebanyak 13 Bank Umum Syariah yang terdaftar di Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) pada periode 2015-2019. Metode pengumpulan data dilakukan
dengan mengakses laporan tahunan yang telah dipublikasikan oleh masing-masing
BUS pada websitenya masing-masing. Data yang diperoleh kemudian diolah
dengan menggunakan aplikasi Eviews 10. Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi uji deskriptif, uji stasioner, uji regresi, uji asumsi klasik,
dan uji regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan variabel Capital
Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif signifikan terhadap Financial Distress,
variabel Financing Deposit Ratio (FDR) dan Return On Assets (ROA)
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Financial Distress, sedangkan Non
Performing Financing (NPF), dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional
(BOPO) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Financial Distress.
Kata Kunci: Capital Adequacy Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR),
Non Performing Financing (NPF), Biaya Operasional Pendapatan
Operasional (BOPO), Return On Assets (ROA) dan Financial
Distress.
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................................... ii
PENGESAHAN SKRIPSI ..................................................................................... iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ............................................................. iv
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT.......................................................................v
PERNYATAAN PUBLIKASI SKRIPSI ............................................................... vi
MOTTO ................................................................................................................ vii
PERSEMBAHAN ................................................................................................ viii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix
ABSTRAK ............................................................................................................. xi
DAFTAR ISI ......................................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ..................................................................................................xv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
A. LATAR BELAKANG ................................................................................. 1
B. RUMUSAN MASALAH ........................................................................... 10
C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN .......................................... 11
1. TUJUAN PENELITIAN ........................................................................ 11
2. KEGUNAAN PENELITIAN ................................................................. 12
D. SISTEMATIKA PENULISAN .................................................................. 13
BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................14
1. Teori Sinyal ............................................................................................ 14
xii
2. Teori Kebangkrutan Islami ..................................................................... 15
3. Financial Distress .................................................................................. 17
4. Model Altman Z-Score Modifikasi ........................................................ 23
5. Perbankan Syariah .................................................................................. 24
6. Laporan Keuangan.................................................................................. 27
7. Rasio Keuangan ...................................................................................... 28
8. Capital Adequacy Ratio (CAR) .............................................................. 29
9. Financing Deposit Ratio (FDR) ............................................................. 30
10. Non Performing Financing (NPF) ...................................................... 32
11. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) ......................... 34
12. Return on Assets (ROA) ..................................................................... 35
B. Telaah Pustaka ........................................................................................... 37
C. Kerangka Pemikiran ................................................................................... 43
D. HIPOTESIS ................................................................................................ 45
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................50
A. Jenis Penelitian ........................................................................................... 50
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................... 50
C. Populasi dan Sampel .................................................................................. 50
D. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................... 53
E. Definisi Konsep dan Operasional............................................................... 54
1. Variabel Independen............................................................................... 54
2. Variabel dependen .................................................................................. 56
F. Teknik Analisis Data .................................................................................. 59
1. Analisis Statistik Deskriptif.................................................................... 59
2. Uji Stasioneritas...................................................................................... 59
xiii
3. Uji Regresi .............................................................................................. 59
4. Uji Asumsi Klasik .................................................................................. 61
5. Uji Regresi Data Panel ........................................................................... 62
6. Alat Analisis ........................................................................................... 63
BAB IV ANALISIS DATA ...................................................................................64
A. Deskriptif Objek Penelitian ........................................................................ 64
1. Deskripsi Data ........................................................................................ 64
2. Deskriptif Statistik .................................................................................. 64
B. Analisis Data .............................................................................................. 71
1. Uji Stasioneritas...................................................................................... 71
2. Uji Model Regresi .................................................................................. 72
3. Uji Statistik ............................................................................................. 76
4. Uji Asumsi Klasik .................................................................................. 76
5. Pembahasan Hipotesis ............................................................................ 81
BAB V PENUTUP.................................................................................................89
A. Kesimpulan ................................................................................................ 89
B. Keterbatasan Penelitian .............................................................................. 90
C. Saran........................................................................................................... 91
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................92
LAMPIRAN ...........................................................................................................95
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Kriteria Penilaian Peringkat CAR ..........................................................30
Tabel 1.2 Kriteria Penilaian Peringkat LDR ..........................................................32
Tabel 1.3 Kriteria Penilaian Peringkat NPL ..........................................................34
Tabel 1.4 Kriteria Penilaian Peringkat BOPO .......................................................35
Tabel 1.5 Kriteria Penilaian ROA ..........................................................................36
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ..............................................................................37
Tabel 3.1 Hasil Penentuan Sampel ........................................................................52
Tabel 3.2 Daftar BUS yang dijadikan Sampel .......................................................52
Tabel 4.1 Deskriptif Statistik CAR ........................................................................65
Tabel 4.2 Deskriptif Statistik FDR ........................................................................66
Tabel 4.3 Deskriptif Statistik NPF .........................................................................67
Tabel 4.4 Deskriptif Statistik BOPO......................................................................68
Tabel 4.5 Deskriptif Statistik ROA ........................................................................69
Tabel 4.6 Deskriptif Statistik Financial Distress ...................................................70
Tabel 4.7 Rangkuman Uji Stasioner .....................................................................71
Tabel 4.8 Hasil Uji Chow ......................................................................................72
Tabel 4.9 Hasil Uji Hausman .................................................................................73
Tabel 4.10 Hasil Uji LM ........................................................................................73
Tabel 4.11 Hasil Uji Regresi Data Panel ...............................................................74
Tabel 4.12 Hasil Uji Multikolonieritas ..................................................................79
Tabel 4.13 Hasil Uji Heteroskedastisitas ...............................................................80
Tabel 4.14 Hasil Uji Autokorelasi .........................................................................81
Tabel 4.15 Hasil Penelitian ....................................................................................88
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Grafik Diagram Kinerja Keuangan 2
Gambar 2.1 Kerangka Penelitian 43
Gambar 3.1 Hasil Uji Normalitas 78
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perbankan memiliki peranan yang penting dikehidupan
masyarakat, hampir semua aktivitas ekonomi dilakukan melalui lembaga
perbankan. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
perbankan, yang dimaksud dengan Bank adalah badan usaha yang
menghimpun dana dalam masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-
bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Dapat disimpulkan bahwa bank merupakan lembaga intermediasi antara
pihak surplus dana dengan pihak defisit dana dengan memberikan jasa
keuangan yaitu berupa menghimpun dana dan menyalurkan dana.
Kegiatan menghimpun dana dapat berbentuk giro, tabungan, sertifikat
deposito dan deposito berjangka. Sedangkan kegiatan menyalurkan dana
dapat berbentuk pinjaman atau kredit (Kasmir, 2014).
Selain perbankan konvensional, juga ada perbankan syariah yang
ikut serta dalam membangun perekonomian di Indonesia. Bank syariah
dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang
perbankan syariah, bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan
usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri dari
Bank Umum, Unit Usaha Syariah, dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, bank syariah tidak menerapkan
1
2
sistem bunga, tetapi menerapkan aturan bagi hasil atas imbalan yang bank
berikan kepada nasabah yang telah menghimpun dan menyalurkan
dananya sesuai dengan kesepakatan.
Gambar 1.1 Grafik Diagram Batang Kinerja Keuangan
Bank Syariah dengan Bank Konvensional
Dilihat dari gambar 1.1 bahwa perbankan syariah masih kesulitan
dalam bersaing dengan bank konvensional. Berdasarkan data Statistik
Perbankan Syariah (SPS) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kondisi
pembiayaan bermasalah (NPF) pada bank syariah memang jauh lebih
tinggi dari bank konvensional. NPF bank syariah pada akhir Maret berada
3,44%, sedangkan kredit bermasalah perbankan konvensional (NPL)
berada pada level 2,5%. Pada periode sebelumnya, NPF bank syariah lebih
besar lagi yaitu terjadi pada akhir 2017 NPF nya mencapai 4,76% dan
2016 yang mencapai 4,42%. Hal tersebut dapat mempengaruhi
profitabilitas perbankan syariah yang tercatat hanya Rp 5,12 triliun pada
3
periode 2018. Dengan tingkat aset sebesar Rp 316,691 triliun, maka
Return On Assets (ROA) tercatat hanya 1,28%. Sedangkan ROA
perbankan konvensional 2,55% di akhir Desember 2018. Menurut ketua
Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengatakan
perlambatan kinerja keuangan perbankan syariah ini terjadi karena adanya
masalah penguatan modal, likuiditas dan efisiensi (CNBC Indonesia
2019).
Dengan kondisi kinerja keuangan bank syariah yang mengalami
perlambatan maka akan mengakibatkan risiko yang akan ditanggung oleh
bank syariah. Dalam Kasmir (2009:343) risiko adalah potensi kerugian
akibat terjadinya suatu peristiwa (events), tertentu. Risiko dalam konteks
perbankan merupakan kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan
(expected) maupun yang tidak dapat diperkirakan (unexpected) yang
berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank. Salah satu
risiko yang akan dihadapi oleh bank syariah yaitu terkait risiko
kebangkrutan. Menurut Oktarina (2017) risiko kebangkrutan adalah
kegagalan yang dialami perusahaan yang dalam menjalankan aktivitas
operasi perusahaan untuk menghasilkan laba.
Sebelum mengalami kebangkrutan, bank terlebih dahulu akan
mengalami kesulitan keuangan atau yang biasa disebut dengan financial
distress. Financial distress adalah suatu kondisi dimana arus kas operasi
perusahaan tidak memadai untuk melunasi kewajiban-kewajiban lancar
seperti hutang dagang atau beban bunga dan perusahaan terpaksa
4
melakukan tindakan perbaikan. Financial distress merupakan suatu
kondisi dimana keuangan perusahaan dalam keadaan tidak sehat atau
krisis (Hapsari, 2012).
Menurut Abrori (2015) salah satu cara yang dapat digunakan
untuk menghindari risiko financial distress hingga terjadinya
kebangkrutan adalah dengan cara menganalisis laporan keuangan yang
dimiliki perusahaan. Analisis laporan keuangan tersebut dapat dilakukan
dengan berbagai model. Beberapa model yang digunakan untuk
memprediksi financial distress telah dikembangkan oleh para peneliti
terdahulu, diantaranya diperkenalkan oleh Edward Altman pada tahun
1968, Springate pada tahun 1978, Ohlson pada tahun 1980, dan Zmijewski
pada tahun 1983 (Zahronyana dan Mahardika, 2018). Tetapi dalam
penelitian ini financial distress pada bank syariah akan diukur dengan
metode Altman Z-score Modifikasi yang mengacu pada rasio-rasio
keuangan yang dimiliki perbankan yang diperoleh dari laporan neraca dan
laporan laba rugi. Rasio tersebut adalah Working Capital to Total Assets,
Retained Earning to Total Assets, Earning Before Interest and Taxes to
Total Assets,dan Book Value of Equity to Book Value of Total Liabilities.
Menurut Lukviarman dkk (2009) model Altman Z-score merupakan salah
satu pengukuran kinerja kebangkrutan bersifat tidak stagnan melainkan
berkembang dari waktu ke waktu, seiring dengan kondisi di mana metode
tersebut diterapkan. Metode Altman Z-score Modifikasi merupakan
metode terbaru dari Altman Z-score yang dapat digunakan untuk
5
menentukan risiko kebangkrutan pada perusahaan di bidang jasa, sehingga
metode ini lebih efektif untuk menghitung risiko kebangkrutan pada bank
(Afiqoh dan Laila: 2018).
Penanganan sejak dini terhadap risiko sangat perlu dilakukan. Oleh
sebab itu selain mengukur potensi terjadinya kebangkrutan, bank syariah
juga harus mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi
terjadinya kebangkrutan. Sehingga bank syariah dapat mengetahui upaya
yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya potensi kebangkrutan
tersebut. Menurut Ben dkk (2015) dalam Afiqoh dan Laila (2018) faktor
penyebab kebangkrutan terbagi menjadi dua faktor yaitu, faktor eksternal
meliputi kondisi ekonomi, politik, bencana alam serta faktor internal
meliputi kinerja perusahaan, kebijakan perusahaan, dan budaya
perusahaan.
Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi financial
distress sudah dilakukan beberapa peneliti, akan tetapi dari penelitian yang
sudah dilakukan masih terdapat perbedaan hasil penelitian. Dalam
penelitian ini faktor-faktor rasio keuangan yang diduga berpengaruh
terhadap financial distress pada bank syariah yaitu Capital Adequacy
Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing
(NPF), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Return
On Assets (ROA).
Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah nisbah antara modal dengan
aset. CAR bank syariah mengalami kenaikan dari 20,39 % pada akhir
6
tahun 2018 menjadi 20,59 % diakhir tahun 2019. CAR digunakan
mengukur tingkat kecukupan modal atau stabilitas keuangan bank.
Semakin tinggi nilai CAR maka semakin baik keadaan suatu bank
(Hidayat, 2014:70). Dengan kata lain jika keadaan CAR pada bank baik
maka bank akan dapat menanggulangi terjadinya risiko financial distress.
Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Zahronyana dan
Mahardika (2018) bahwa CAR memiliki pengaruh negatif terhadap
financial distress. sedangkan penelitian yang dilakukan Maisarah dkk
(2018) bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif
terhadap financial distress.
Financing Deposit Ratio (FDR) merupakan kemampuan bank
syariah dalam melaksanakan fungsi perantara perbankan syariah diantara
pihak yang kelebihan modal dengan pihak kekurangan modal. FDR bank
syariah yang tinggi menunjukkan bahwa bank syariah telah melaksanakan
fungsi perantara secara optimum. Dengan kata lain bahwa seluruh dana
yang dihimpun dari masyarakat dapat disalurkan oleh bank syariah
(Hidayat, 2014:121). FDR bank syariah mengalami penurunan dari
78,53% diakhir tahun 2018 menjadi 77,91%. Bank Indonesia menetapkan
FDR yang ideal berkisar antara 78% sampai 100%. Semakin tinggi dana
yang disalurkan oleh bank dalam bentuk pembiayaan,maka semakin tinggi
juga kemampuan suatu bank dalam memberikan pinjaman. Hal ini
mempunyai dampak pada peningkatan pendapatan bank, jadi keuntungan
perbankan syariah semakin meningkat. Tetapi, apabila pembiayaan yang
7
disalurkan oleh bank rendah, maka dapat dikatakan bahwa tingkat
likuiditasnya terlalu tinggi sehingga hal ini dapat menimbulkan
menimbulkan kesulitan keuangan pada bank (Rahim, 2008). Hasil
penelitian dari Maisarah dkk (2018) bahwa LDR memiliki pengaruh
negatif terhadap financial distress. Hasil penelitian ini juga didukung dari
hasil penelitian Haq dan Harto (2019). Sedangkan penelitian dari Afiqoh
dan Laila (2018) bahwa FDR memiliki pengaruh positif terhadap financial
distress. Hal ini didukung dari hasil penelitian Zahronyana dan Mahardika
(2018).
Non Performing Financing (NPF) atau Non Performing Loan
(NPL) adalah pembiayaan non lancar mulai dari kurang lancar sampai
dengan macet (Wangsawidjaja, 2012:90). Menurut Haq dan Harto (2019)
semakin kecil nilai NPL maka semakin kecil juga risiko kredit yang
ditanggung oleh bank. NPF bank syariah mengalami penurunan dari
3,26% diakhir tahun 2018 menjadi 3,23% diakhir 2019. Bank Indonesia
menetapkan rasio NPL net dibawah 5%. Semakin tinggi rasio ini maka
semakin rendah kualitas kredit bank yang menyebabkan kredit bermasalah
semakin besar dan bank akan mengalami penurunan kesehatan keuangan
(financial distress). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari Afriyeni
dan Jumyetti (2015) bahwa NPL memiliki pengaruh positif dan signifikan
terhadap financial distress. hal ini juga didukung dari hasil penelitian
Wijayanti dkk (2018). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Effendi
8
dan Haryanto (2016) bahwa NPL memiliki pengaruh negatif terhadap
financial distress pada bank.
Menurut Yusuf (2017) Biaya Opeasional Pendapatan Operasional
(BOPO) digunakan untuk mengatur perbandingan biaya operasional
terhadap pendapatan operasional yang diperoleh bank. Rasio BOPO bank
syariah mengalami penurunan dari 89,18% diakhir tahun 2018 menjadi
84,85% diakhir tahun 2019. Semakin kecil rasio BOPO, maka semakin
baik kondisi suatu bank. Jika suatu bank memiliki rasio BOPO yang tinggi
maka bank tersebut tidak dapat beroperasi dengan efisien karena tingginya
rasio ini menunjukkan besarnya jumlah biaya operasional yang harus
dikeluarkan oleh pihak bank untuk memperoleh pendapatan operasional.
Jumlah operasional yang besar akan memperkecil keuntungan yang akan
menjadikan kesulitan keuangan pada bank. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian Maisarah dkk (2018) bahwa BOPO memiliki pengaruh positif
terhadap financial distress. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
Zahronyana dan Mahardika (2018) bahwa BOPO tidak berpengaruh
terhadap financial distress.
Return On Assets (ROA) merupakan perbandingan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah seluruh aktiva
harta yang dimiliki suatu perusahaan dalam periode tertentu (Kasmir,
2012: 119). ROA bank syariah mengalami peningkatan dari 1,28% diakhir
tahun 2018 menjadi 1,73% diakhir tahun 2019. Menurut Meilani dan
Bagus (2017) semakin besar nilai ROA, maka semakin rendah suatu bank
9
mengalami financial distress. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari
Afriyeni dan Jumyetti (2015) bahwa ROA memiliki pengaruh negatif
terhadap financial distress. hasil penelitian ini juga didukung oleh
penelitian Haq dan Harto (2019). Sedangkan penelitian yang dilakukan
oleh Afiqoh dan Laila (2018) bahwa ROA tidak berpengaruh terhadap
financial distress. hal ini didukung oleh hasil penelitian dari Rahmat
(2019) dan Wijayanti dkk (2018).
Berdasarkan latarbelakang di atas terdapat perbedaan hasil
penelitian mengenai pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Financing
Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Biaya
Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Return On Assets
(ROA) terhadap financial distress pada bank. Maka penulis tertarik
melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Pengaruh Capital
Adequacy Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non
Performing Financing (NPF), Biaya Operasional Pendapatan
Operasional (BOPO) dan Profitabilitas (ROA) terhadap Financial
Distress (Studi Kasus pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode
2015-2019)”
10
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana analisis pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR)
terhadap Financial Distress pada Bank Umum Syariah di
Indonesia pada tahun 2015-2019 ?
2. Bagaimana analisis pengaruh Financing Deposit Ratio (FDR)
terhadap Financial Distress pada Bank Umum Syariah di
Indonesia pada tahun 2015-2019 ?
3. Bagaimana analisis pengaruh Non Performing Financing (NPF)
terhadap Financial Distress pada Bank Umum Syariah di
Indonesia pada tahun 2015-2019 ?
4. Bagaimana analisis pengaruh Biaya Operasional Pendapatan
Operasional (BOPO) terhadap Financial Distress pada Bank
Umum Syariah di Indonesia pada tahun 2015-2019 ?
5. Bagaimana analisis pengaruh profitabilitas (ROA) terhadap
Financial Distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia pada
tahun 2015-2019 ?
11
C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN
1. TUJUAN PENELITIAN
a. Untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio
(CAR) terhadap Financial Distress pada Bank Umum
Syariah di Indonesia pada tahun 2015-2019.
b. Untuk mengetahui pengaruh Financing Deposit Ratio
(FDR) terhadap Financial Distress pada Bank Umum
Syariah di Indonesia pada tahun 2015-2019.
c. Untuk mengetahui pengaruh Non Performing Financing
(NPF) terhadap Financial Distress pada Bank Umum
Syariah di Indonesia pada tahun 2015-2019.
d. Untuk mengetahui pengaruh Biaya Operasional Pendapatan
Operasional (BOPO) terhadap Financial Distress pada
Bank Umum Syariah di Indonesia pada tahun 2015-2019.
e. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas (ROA) terhadap
Financial Distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia
pada tahun 2015-2019.
12
2. KEGUNAAN PENELITIAN
a. Bagi Perbankan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi koreksi dan
pertimbangan dalam mengambil keputusan oleh pihak bank
untuk meningkatkan kinerja keuangannya sehingga tidak
terjadi kebangkrutan.
b. Bagi Peneliti
Peneliti dapat menanbah ilmu pengetahuan dan
wawasan dalam memprediksi financial distress pada Bank
Umum Syariah di Indonesia.
c. Bagi Lembaga Institut Agama Islam Negeri Salatiga
Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan bacaan
untuk menambah pengetahuan mengenai Financial Distress
serta dapat menambah daftar kepustakaan IAIN Salatiga.
d. Bagi pihak lain
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan
pertimbangan dan referensi bagi penelitian berikutnya yang
tertarik untuk meneliti kajian yang sama diwaktu yang akan
datang.
13
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan bertujuan untuk menggambarkan alur
pemikiran penulis dari awal sampai akhir. Adapun rencana sistematika
penulisan dalam penelitian ini adalah:
BAB I PENDAHULUAN, dalam bab ini akan diuraikan tentang
latarbelakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, dan diakhiri dengan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI, merupakan uraian tentang teori-teori
yang melandasi penelitian, hasil penelitian terdahulu, kerangka penelitian,
dan hipotesis.
BAB III METODE PENELITIAN, berisi tentang definisi
operasional variabel penelitian yang digunakan, populasi dan sampel, jenis
dan sumber data, metode pengumpulan data, dan metode analisis data
yang digunakan untuk menguji kebenaran penelitian.
BAB IV ANALISIS DATA, bab ini akan digambarkan dan
dijelaskan tentang deskripsi objek penelitian, analisis data penelitian, dan
interpretasi dari hasil analisis data penelitian.
BAB V PENUTUP, dalam bab ini akan diuraikan kesimpulan dan
keterbatasan penelitian serta saran untuk penelitian berikutnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kerangka Teori
1. Teori Sinyal
Teori yang menjelaskan pentingnya pengukuran kinerja
adalah teori sinyal (signalling theory) (Sumarlin: 2016). Teori
sinyal pertama kali diperkenalkan oleh Spence di dalam
penelitiannya Job Marke Signaling. Spence mengatakan bahwa
isyarat atau signal memberikan suatu sinyal, pihak pengirim
(pemilik informasi) berusaha memberikan potongan informasi
releven yang dapat dimanfaatkan oleh pihak penerima. Pihak
penerima kemudian akan menyesuaikan perilakunya sesuai dengan
yang dipahami terhadap sinyal tersebut.
Signalling theory mengemukakan tentang bagaimana
seharusnya suatu perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna
laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang
sudah dilakukan oleh manajemen untuk mewujudkan keinginan
pemilik, sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang
menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada
perusahaan lain.
Dalam kerangka teori sinyal disebutkan bahwa dorongan
perusahaan untuk memberikan informasi yaitu karena adanya
asimetri informasi antara manajer perusahaan dengan pihak luar.
14
15
Kurangnya informasi bagi pihak luar mengenai perusahaan dapat
mengakibatkan mereka melindungi diri mereka dengan
memberikan harga yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan
dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi
informasi asimetri. Salah satu cara untuk mengurangi informasi
asimetri yaitu dengan memberikan sinyal pada pihak luar
(Arifin:2002).
Para investor sangat membutuhkan informasi sebagai alat
analisis secara lengkap, jelas, akurat dan tepat waktu untuk
mengambil keputusan investasi dengan cara perusahaan
mempublikasikan laporankeuangan. Jika laporan yang
dipublikasikan perusahaan tersebut mendapat nilai positif, maka
pasar akan memiliki reaksi seiring dengan apa yang sudah
dipublikasikan oleh perusahaan tersebut (Suhadi dan
Kusumaningtias: 2019).
2. Teori Kebangkrutan Islami
Risiko kebangkrutan harus dapat dicegah dan dihindari oleh
bank syariah agar bank syariah tetap survive dan berkembang di
Indonesia. Bank syariah harus mengetahui seberapa besar risiko
kebangkrutan yang mungkin harus dihadapi dan mengetahui
faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya risiko
kebangkrutan. Oleh sebab itu bank syariah harus mempunyai
manajemen yang efektif dan efisien serta mampu mencegah risiko
16
terjadinya kebangkrutan sebaik mungkin. Hal ini tercantum dalam
surah Al-Yusuf ayat 46-49 yang berbunyi:
ِّسبْع
َ ََّّ اف َ ان يَّأ ْ ُكلُ ُه َّن
ٌ س ْب ٌع ِّع َج ٍ ت ِّس َم َ الص ِّدي ُْق أ َ ْفتِّنَا فِّ ْي
ٍ سب ِّْع بَقَ ٰر ِّ ف أَيُّ َها
ُ س
ُ ي ُْو
٦٤ َاس لَعَلَّ ُه ْم يَ ْعلَ ُم ْون ٍ ٍۙ ٰت ُخض ٍْر ََّّأُخ ََر ٰي ِّبس
ِّ َّت لَّعَ ِّل ْي أَ ْر ِّج ُع ِّإلَى الن ٍ س ْنب ُٰل
ُ
س ْنبُ ِّل ٖه ِّإ ََّّل قَ ِّل ْي ًل َ س ْب َع ِّس ِّنيْنَ دَأَب ًۚا فَ َما َح
ُ صدْت ُّ ْم فَذَ ُر َّْهُ ِّف ْي ُ قَا َل ت َْز َر
َ َع ْون
٦٤ َِّم َّما ت َأ ْ ُكلُ ْون
ِّ س ْب ٌع ِّشدَاد ٌ يَّأ ْ ُك ْلنَ َما قَد َّْمت ُ ْم لَ ُه َّن إِّ ََّّل قَ ِّلي ًْل ِّم َّما تُح
٦٤ َْصنُ ْون َ ث ُ َّم يَأْتِّ ْي ِّم ْن بَعْ ِّد ٰذ ِّل َك
٦٤ؑ َص ُر َّْن ُ ََّاث الن
ِّ اس ََّفِّ ْي ِّه يَ ْع َ ث ُ َّم يَأْتِّ ْي ِّم ْن بَعْ ِّد ٰذ ِّل َك
ُ عا ٌم فِّ ْي ِّه يُغ
Artinya: “(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia
berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah
kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk
yang dimakanoleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan
tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering
agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka
mengetahuinya. Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh
tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai
hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu
makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat
sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk
menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum)
yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang
17
padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu
mereka memeras anggur.” (QS. 12:46-49)
Menurut Shihab (2002) berdasarkan Surah Yusuf ayat 46-
49 menjelaskan mengenai kisah Nabi Yusuf yang mengisahkan
pada tujuh tahun kedua pada zaman beliau akan terjadi kekeringan
yang dahsyat. Ini merupakan risiko yang menimpa negeri Yusuf
tersebut. Namun Nabi Yusuf telah melakukan pengukuran dan
pengendalian atas risiko yang akan terjadi pada tujuh tahun kedua
tersebut melalui mimpinya. Oleh karena itu, umat manusia
diperintahkan agar selalu berusaha untuk mempersiapkan apa yang
mungkin terjadi dimasa yang akan datang yang menimbulkan
dampak kerugian. Karena manusia tidak dapat mengetahui secara
pasti apa yang akan terjadi kedepannya.
3. Financial Distress
a. Pengertian Financial Distress
Financial distress terjadi sebelum kebangkrutan. Yang
dimaksud kebangkrutan yaitu suatu keadaan dimana
perusahaan mengalami kegagalan atau tidak mampu dalam
memenuhi kewajiban-kewajiban debitur karena perusahaan
mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk
menjalankan usahanya (Rahmaniah dan Wibowo:2015).
Sedangkan menurut Haq dan Harto (2019) Kebangkrutan
merupakan kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi
18
perusahaan untuk menghasilkan keuntungan atau laba.
Menurut Martin (1995) dalam Haq dan Harto (2019)
kebangkrutan dapat didefinisikan menjadi beberapa pengertian
yaitu:
1) Kegagalan Ekonomi (economic distressed)
Kegagalan dalam arti ekonomi yaitu perusahaan
kehilangan uang atau pendapatan, perusahaan tidak mampu
menutupi biayanya sendiri, ini menunjukan bahwa tingkat
labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang
dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban.
Kegagalan terjadi jika arus kas sebenarnya dariperusahaan
tersebut jauh dibawah arus kas yang diharapkan. Bahkan
kegagalan juga dapat diartikan bahwa tingkat pendapatn
atas biaya historis dari investasinya lebih kecil daripada
biaya modal perusahaan yang dikeluarkan untuk sebuah
investasi tersebut.
2) Kegagalan Keuangan (financial distressed)
Financial distressed adalah kesulitan dana baik
dalam arti dana dalam pengertian kas atau dalam
pengertian modal kerja. Sebagian asset liability
management sangat berperan dalam pengaturan untuk
menjaga agar tidak terjadi financial distressed.
19
Menurut Plat dan Plat (2002) dalam Zulaikah
(2016) Financial distress merupakan sebagai tahap
penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum
terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi. Dapat
disimpulkan bahwa financial distress merupakan suatu
kondisi dimana keuangan suatu perusahan dalam keadaan
tidak sehat.
Ramadhani dan Lukviarman (2009) bahwa financial
distress merupakan ketidakmampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban-kewajibannya. Ada dua kriteria yang
digunakan yaitu :
a) Stock-base insolvency adalah suatu keadaan dimana
laporan posisi keuangan perusahaan mengalami
ekuitas negatif.
b) Flow-base insolvency adalah suatu keadaan dimana
arus kas operasi tidak dapat memenuhi kewajiban-
kewajiban lancar perusahaan.
b. Kategori Financial Distress
Financial distress dibagi menjagi empat kategori,
(Fahmi, 2013:170) yaitu sebagai berikut:
1) Financial distress kategori A atau sangat tinggi dan hal
ini sangat membahayakan. Dalam kategori ini
20
memungkinkan suatu perusahaan dinyatakan berada
dalam posisi bangkrut.
2) Financial distress kategori B atau tinggi dan dianggap
berbahaya. Dalam posisi ini suatu perusahaan harus
memikirkan solusi untuk menyelamatkan berbagai aset
yang dimiliki.
3) Financial distress kategori C atau sedang, dalam posisi
ini suatu perusahaan dianggap masih mampu
menyelamatkan diri dengan tindakan tambahan dana
yang sumbernya dari internal dan eksternal.
4) Financial distress kategori D atau rendah, dalam posisi
ini suatu perusahaan dianggap hanya mengalami
fluktuasi finansial temporer yang disebabkan oleh
kondisi internal dan eksternal.
c. Penyebab Financial Distress
Financial distress dapat terjadi pada semua jenis
perusahaan. Penyebab terjadinya financial distress itu
bermacam-macam. Lizal (2002) mengelompokkan
penyebab kesulitan keuangan yang disebut dengan Model
Dasar Kebangkrutan (Trinitas Penyebab Kesulitan
Keuangan). Perusahaan dapat mengalami financial distress
karena ada tiga penyebab utama yaitu:
1) Neoclassical Model
21
Financial distress dan kebangkrutan dapat terjadi
jika alokasi sumberdaya disuatu perusahaan tidak tepat.
2) Financial Model
Financial distress dapat terjadi karena percampuran
aset benar struktur keuangannya salah dengan liquidity
contraints. Dalam hal ini perusahaan dapat bertahan
hidup dalam jangka panjang, tetapi perusahaan juga
dapat bangkrut dalam jangka pendek.
3) Corporate Governance Model
Dalam model ini, kebangkrutan memiliki campuran
aset dan struktur keuangan yang benar tetapi dikelola
oleh manajemen dengan buruk. Ketidakefisienan ini
dapat mendorong perusahaan menjadi out of the market
sebagai konsekuensi dari permasalahan dalam tata
kelola perusahaan yang tidak dapat terselesaikan.
d. Cara Memprediksi Financial Distress
Dalam Dwijayanti (2010) ada berbagai cara untuk
memprediksi financial distrees hingga terjadi
kebangkrutan,yaitu:
1) Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan merupakan cara yang
paling sering digunakan dalam memprediksi financial
distress. Banyak penelitian dilakukan untuk menemukan
22
rasio keuangan yang dapat digunakan untuk
memprediksi financial distress. Ada berbagai model
untuk memprediksi financial distress, model prediksi
tersebut disusun dari berbagai rasio keuangan yaitu
Model Z-score, Model Zeta, Model O-score, Model
Zmijewski dan rasio Camel.
2) Analisis Arus Kas
3) Prediksi melalui Corporate Governance Perusahaan
4) Prediksi melalui Kondisi Makro Ekonomi
5) Credit Cycle Index
6) Artificial Neural Network
7) Prediksi melalui Opini Auditor Independen
8) Rough Set Theory (RST) dan Support Vector Machine
(SVM)
e. Solusi Perusahaan yang Mengalami Financial Distress
Kondisi financial distress dapat memberikan
dampak yang buruk terhadap perusahaan karena
melemahnya kepercayaan investor dan kreditor serta pihak
eksternal lainnya. Oleh karena itu, manajemen harus
melakukan tidakan untuk mengatasi financial distress dan
untuk mencegah terjadinya kebangkrutan. Perusahaan yang
mengalami financial distress biasanya mempunyai arus kas
yang negatif sehingga perusahaan tidak dapat membayar
23
kewajiban yang jatuh tempo. Ada dua solusi yang diberikan
kepada perusahaan yang memiliki arus kas negatif
(pustylnick:2012) dalam Dwijayanti (2010) yaitu:
1) Restrukturisasi Hutang
Manajemen dapat melakukan restrukturisasi hutang
yaitu dengan meminta perpanjangan waktu dari kreditor
untuk pelunasan hutang hingga perusahaan memiliki kas
yang cukup untuk pelunasan hutang tersebut.
2) Perubahan dalam Manajemen
Jika diperlukan, perusahaan dapat melakukan
penggantian manajemen dengan orang yang lebih
kompeten. Dengan begitu, mungkin saja kepercayaan
stakeholder dapat kembali pada perusahaan. Hal ini
bertujuan untuk menghindari larinya investor potensial
perusahaan pada keadaan financial distress.
4. Model Altman Z-Score Modifikasi
Dalam analisis Altman Z-Score Modifikasi ini Altman
mengeliminasi variabel X5 (sales/total assets), karena rasio ini
sangat bervariatif pada industri dengan ukuran aset yang berbeda-
beda. Formula persamaan Z-Score yang telah dimodifikasi oleh
Altman menunjukkan fungsi diskriminan sebagai berikut
(Maisarah, dkk: 2018):
24
Keterangan :
Z” = Bankruptcy
X1 = Working Capital to Total Asset
X2 = Retained Earning to Total Asset
X3 = Earning Before Interest and Taxes to Total Asset
X4 = Book Value of Equity to Total Liability
Klasifikasi perusahaan yang bangkrut, grey area dan tidak
bangkrut didasarkan pada nilai Z-Score Modifikasi yaitu sebagai
berikut:
a. Nilai Z < 1,23 dikategorikan dalam perusahaan yang bangkrut.
b. Nilai 1,23 < Z < 2,90 dikategorikan dalam grey area,
perusahaan tersebut tidak dapat dikatakan bangkrut tapi juga
tidak dapat dikatakan sehat.
c. Nilai Z > 2,90 dikategorikan perusahaan yang tidak bangkrut.
5. Perbankan Syariah
a. Definisi Perbankan Syariah
Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan di salurkan kembali
25
kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya
yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat
(Wangsawidjaja, 2012:1).
Kata syariah berasal dari bahasa arab yaitu dari kata
syara’a yang artinya adalah jalan, cara dan aturan. Dalam arti
luas syariah merupakan sebagai seluruh ajaran dan norma-
norma yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., yang
mengatur kehidupan manusia baik dari aspek kepercayaan
maupun perilaku. Dapat disimpulkan bahwa syariah adalah
ajaran-ajaran agama islam itu sendiri yang dibagi menjadi 2
bagian yaitu ajaran kepercayaan (akidah) dan ajaran perilaku
(amaliah).
Dapat disimpulkan bahwa bank syariah adalah bank yang
melakukan kegiatan usaha perbankan yang berdasarkankan
dengan prinsip-prinsip [Link] ini sesuai yang tercantum
dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang
perbankan syariah, bank syariah adalah bank yang menjalankan
kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut
jenisnya terdiri dari Bank Umum, Unit Usaha Syariah, dan
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (Soemitra, 2009:58).
1) Bank Umum Syariah (BUS) adalah bank syariah yang
dalam kegiatan usahanya memberikan jasa dalam hal lalu
lintas pembayaran. BUS dapat berbentuk bank devisa dan
26
bank non devisa. Bank devisa adalah bank yang dapat
melakukan transaksi ke luar negeri yang menyangkut mata
uang asing secara keseluruhan, seperti pembukaan letter of
credit, transfer ke luar negeri, inkaso ke luar negeri dan
sebagainya.
2) Unit Usaha Syariah (UUS) adalah unit kerja di kantor
cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri
yang melakukan usaha secara konvensional yang fungsinya
sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah
atau unit syariah.
3) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah bank
syariah yang kegiatan usahanya tidak memberikan jasa
dalam lalu lintas pembayaran.
b. Prinsip Dasar Bank Syariah
Dalam Arifin (2002:11) Prinsip-prinsip dasar bank syariah
yaitu sebagai berikut :
1) Prinsip At Ta’awun
Prinsip At Ta’awun yaitu saling membantu dan
saling bekerja sama diantara anggota masyarakat yang
bertujuan untuk kebaikan, sebagaimana yang sudah
tercantum dalam Al Qur’an:
27
Yang artinya “Dan tolong menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”(QS 5:2).
2) Prinsip Menghindari Al Ihtinaz
Prinsip menghindari Al Ihtinaz yaitu menahan uang
atau dana dan membiarkannya menganggur dan tidak
berputar dalam transaksi yang bermanfaat bagi masyarakat
umum, sebagaimana yang sudah tercantum dalam Al
Qur’an :
Yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan batil,
kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka
sama suka diantara kamu” (QS 4:29).
6. Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan sesuatu yang penting bagi
perusahaan dan para pemakai laporan keuangan. Laporan keuangan
dapat menghasilkan informasi mengenai kinerja perusahaan pada
periode tertentu. Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) No. 1 (Revisi 2009) tujuan dari penyusunan laporan
keuangan yaitu memberikan informasi mengenai bagaimana posisi
keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas yang berguna bagi
pegguna laporan keuangan.
28
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009), laporan keuangan
bertujuan untuk:
a. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi
keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai keuangan.
b. Laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi
yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam mengambil
keputusan ekonomi karena secara umum
menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian
masalalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan
informasi non-keuangan.
c. Laporan keuangan dapat menunjukkan apa yang sudah
dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban
manajemen atas sumber daya yang dipercayakan
kepadanya.
7. Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan adalah angka yang diperoleh
dengan cara menghubungkan satu pos laporan keuangan dengan
pos yang lainnya dimana pos-pos tersebut memiliki hubungan yang
relevan dan signifikan (Yuliastary dan Wirakusuma: 2014).
Analisis rasio keuangan juga dijadikan sebagai alat ukur untuk
membantu manajemen dalam pengevaluasian kinerja suatu
29
perusahaan. Semakin awal tanda-tanda kebangkrutan dapat
diketahui, maka semakin baik bagi manajemen, karena manajemen
dapat melakukan pencegahan dengan perbaikan sejak dini, hal
tersebut membuat perusahaan dapat terhindar dari financial
distress (Sari: 2018).
8. Capital Adequacy Ratio (CAR)
CAR adalah nisbah antara modal dengan aset. CAR
mengukur tingkat kecukupan (adequacy) modal atau stabilitas
keuangan bank. Semakin tinggi CAR maka bank tersebut semakin
baik (Hidayat, 2014: 70). Capital Adequacy Ratio (CAR)
merupakan rasio kinerja suatu bank untuk mengukur kecukupan
modal yang dimiliki oleh modal untuk menunjang aktiva yang
mengandung atau menghasilkan risiko. Semakin besar CAR maka
semangat besar kesempatan bank dalam menghasilkan laba karena
dengan modal yang besar maka manajemen bank dapat
menempatkan dananya ke dalam aktivitas investasi yang
menguntungkan (Romdhoni dan Chateradi: 2018).
Dalam Yusuf (2017) Salah satu faktor yang penting dalam
rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung risiko
kerugian adalah modal. Semakin tinggi nilai CAR maka semakin
kuat kemampuan suatu bank untuk menanggung risiko dari setiap
kredit atau aktiva produktif yang berisiko. Jika nilai CAR tinggi
sesuai dengan ketentuan BI yaitu 8% maka bank tersebut mampu
30
membiayai operasi bank, dalam hal ini sangat menguntungkan bagi
bank karena dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap
profitabilitas. Hal ini juga didukung oleh Sholikati (2018) rasio
CAR yang tinggi pada suatu bank dapat membiayai kegiatan
operasional serta profitabilitas yang meningkat dapat
mengantisipasi terjadinya financial distress.
Rumus rasio CAR yaitu:
Tabel 1.1
Kriteria Penilaian Peringkat CAR
Kriteria Peringkat Nilai
CAR > 12% 1 Sangat Baik
9% < CAR < 12% 2 Baik
8% < CAR < 9% 3 Cukup Baik
6% < CAR < 8% 4 Kurang Baik
CAR < 6% 5 Tidak Baik
Sumber: (Maisarah dkk, 2018)
9. Financing Deposit Ratio (FDR)
Financing Deposit Ratio (FDR) atau Nisbah at-Tanwil wa
al- Wada’i adalah rasio pembiayaan bank syariah dengan dana
pihak ketiga; rasio penyaluran dan penghimpunan dana
(Wangsawidjaja, 2012:117). FDR merupakan kemampuan bank
syariah dalam melaksanakan fungsi perantara perbankan syariah
diantara pihak kelebihan modal (surplus unit) dengan pihak
kekurangan modal (defisit unit). FDR perbankan syariah yang
31
tinggi menunjukkan bahwa bank syariah telah melaksanakan
fungsi perantara secara optimum. Dengan kata lain bahwa seluruh
dana yang dihimpun dari masyarakat dapat disalurkan oleh bank
syariah (Hidayat, 2014: 121). Dalam bank syariah rasio ini
dinamakan Financing Deposit Ratio (FDR), sedangkan dalam bank
konvensional rasio ini dinamakan Loan Deposit Ratio (LDR).
Menurut Sumarlin (2016) FDR merupakan rasio jumlah
modal yang disalurkan oleh perbankan terhadap modal yang
dimiliki oleh perbankan. Dapat disimpulkan bahwa FDR
menunjukkan kemampuan suatu bank dalam menyalurkan dana
kepada debitur sekaligus membayarkan kembali kepada deposan
dengan mengandalkan kredit yang disalurkan sebagai sumber dari
likuiditas.
Bank Indonesia menetapkan FDR yang ideal berkisar
antara 78% sampai 100%. Semakin tinggi dana yang disalurkan
oleh bank dalam bentuk pembiayaan,maka semakin tinggi juga
kemampuan suatu bank dalam memberikan pinjaman. Hal ini
mempunyai dampak pada peningkatan pendapatan bank, jadi
keuntungan perbankan syariah semakin meningkat. Tetapi, apabila
pembiayaan yang disalurkan oleh bank rendah, maka dapat
dikatakan bahwa tingkat likuiditasnya terlalu tinggi sehingga hal
ini menimbulkan tekanan terhadap pendapatan bank yaitu berupa
32
tingginya biaya pemeliharaan kas yang menganggur (Rahim,
2008).
Rumus rasio FDR yaitu:
Tabel 1.2
Kriteria Penilaian Peringkat LDR
Kriteria Peringkat Nilai
LDR < 75% 1 Sangat Baik
75% < LDR < 85% 2 Baik
85% < LDR < 100% 3 Cukup Baik
100% < LDR < 120% 4 Kurang Baik
LDR > 120% 5 Tidak Baik
Sumber: (Maisarah dkk, 2018)
10. Non Performing Financing (NPF)
Risiko bagi bank syariah dalam memberikan fasilitas
pembiayaan yaitu tidak kembalinya pokok pembiayaan dan tidak
mendapatkan imbalan sebagaimana yang telah disepakati dalam
akad pembiayaan antara bank syariah dengan nasabah. Disamping
itu juga terdapat risiko bertambah besarnya biaya yang dikeluarkan
oleh bank dan bertambahnya waktu untuk penyelesaian Non
Performing Financing, serta turunnya kesehatan pembiayaan bank.
(Wangsawidjaja, 2012:89)
Dalam Statistika Perbankan Syariah yang diterbitkan oleh
direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, istilah Non
Performing Financing (NPF) atau dalam Kamus Perbankan
33
Syariah disebut duyumun ma’dumah yang artinya sebagai
pembiayaan non lancar mulai dari kurang lancar sampai dengan
macet. Dapat disimpulkan bahwa pembiayaan bermasalah adalah
pembiayaan yang kualitasnya berada pada golongan kurang lancar
(III), diragukan pada golongan (IV), dan macet pada golongan
(V).(Wangsawidjaja, 2012:90). Rasio NonPerforming Financing
(NPF) terdapat pada bank syariah sedangkan pada bank
konvensional rasio ini dinamakan Non Permorming Loan (NPL).
Menurut Yusuf (2017) Semakin tinggi nilai NPF pada suatu
bank,maka risiko pembiayaan bermasalah pada bank tersebut akan
semakin tinggi. Hal ini dapat mempengaruhi pendapatan bank
sehingga laba bank mengalami penurunan.
Menurut Haq dan Harto (2019) NPL merupakan risiko
kredit, semakin kecil nilai NPL maka semakin kecil risiko kredit
yang ditanggung oleh bank. Bank Indonesia menetapkan kriteria
rasio NPL net di bawah 5% . Semakin tinggi nilai rasio ini, maka
semakin rendah kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah
kredit bermasalah semakin besar dan bank akan mengalami
penurunan tingkat kesehatan. Maka hal ini akan memungkinkan
bank mengalami financial distress.
Rumus rasio NPF yaitu:
34
Tabel 1.3
Kriteria Penilaian Peringkat NPL
Kriteria Peringkat Nilai
NPL < 2% 1 Sangat Baik
2% < NPL < 5% 2 Baik
5% < NPL < 8% 3 Cukup Baik
8% < NPL < 12% 4 Kurang Baik
NPL > 12% 5 Tidak Baik
Sumber: (Maisarah dkk, 2018)
11. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)
Rasio BOPO digunakan untuk mengatur perbandingan
biaya operasi terhadap pendapatan operasi yang diperoleh bank.
Semakin kecil rasio BOPO, maka semakin baik kondisi suatu bank.
Jika suatu bank memiliki rasio BOPO yang tinggi maka bank
tersebut tidak dapat beroperasi dengan efisien karena tingginya
rasio ini menunjukkan besarnya jumlah biaya operasional yang
harus dikeluarkan oleh pihak bank untuk memperoleh pendapatan
operasional. Jumlah operasional yang besar akan memperkecil
keuntungan atau laba perusahaan karena biaya atau beban
operasional bertindak sebagai faktor pengurang pada laporan laba
rugi (Yusuf: 2017).
Rumus rasio BOPO yaitu:
35
Tabel 1.4
Kriteria Penilaian Peringkat BOPO
Kriteria Peringkat Nilai
BOPO < 94% 1 Sangat Baik
94% < BOPO < 95% 2 Baik
95% < BOPO < 96% 3 Cukup Baik
96% < BOPO < 97% 4 Kurang Baik
BOPO > 97% 5 Tidak Baik
Sumber: (Maisarah dkk, 2018)
12. Return On Assets (ROA)
Menurut Hidayat (2014: 69) ROA adalah nisbah antara
pendapatan (earning) dengan aset. Teknik ini untuk mengukur
tingkat pendapatan (earning) bank dalam kaitannya dengan
penggunaan seluruh sumber daya yang dimiliki bank. Semakin
tinggi nilai ROA maka bank tersebut semakin efisien.
Menurut Kasmir (2012: 119) Return on Assets merupakan
perbandingan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan dengan jumlah seluruh aktiva harta yang dimiliki suatu
perusahaan pada periode tertentu. Dalam Yusuf (2017) ROA
mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba dan efisiensi
secara keseluruhan. Rasio ini mampu mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan pada masalalu yang
kemudian diproyeksikan dimasa yang akan datang. Aktiva yang
dimaksud yaitu keseluruhan harta perusahaan, yang diperoleh dari
modal sendiri maupun dari modal asing yang sudah diubah oleh
perusahaan menjadi aktiva-aktiva perusahaan yang digunakan
36
untuk kelangsungan hidup perusahaan. Meliani dan Bagus (2017)
menyatakan bahwa semakin besar nilai ROA, maka semakin
rendah suatu bank mengalami financial distress.
Rumus rasio ROA yaitu:
Tabel 1.5
Kriteria Penilaian Peringkat ROA
Kriteria Peringkat Nilai
ROA < 1,5 % 1 Sangat Baik
1,25% < ROA < 1,5 % 2 Baik
0,5% < ROA < 1,25% 3 Cukup Baik
0% < ROA < 0,5% 4 Kurang Baik
ROA < 0% 5 Tidak Baik
Sumber: (Maisarah dkk, 2018)
37
B. Telaah Pustaka
Penelitian ini menggunakan variabel dependen Financial Distress,
variabel independen Capital Adequacy Ratio (CAR), Financing
Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Biaya
Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) dan Return On Assets
(ROA).
Berikut ini merupakan ringkasan penelitian terdahulu yang
berkaitan dengan penelitian ini:
Tabel 2.1
Tabel Penelitian terdahulu
No Peneliti Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
(Tahun)
1 Kristina 1) Mengguna 1) Tidak 1) LDR
Nimas kan LDR, terdapat berpengaruh
Wijayant NPL, ROA BOPO positif tidak
i, Inayah dan CAR sebagai signifikan
Adi Sari, sebagai variabel terhadap
dan Dewi variabel independe financial
Indriasih independe n distress
(2018) n
2) Terdapat 2) NPL
2) Mengguna perbedaan berpengaruh
kan Obyek positif
financial penelitian signifikan
distress terhadap
sebagai 3) Terdapat financial
variabel perbedaan distress
dependen Periode
penelitian 3) ROA
berpengaruh
4) Terdapat positif tidak
perbedaan signifikan
pengukura terhadap
n financial financial
distress distress
4) CAR
berpengaruh
negatif dan
tidak
signifikan
terhadap
financial
38
distress
2 Satrio 1) Mengguna 1) Tidak 1) NPL
Arga kan CAR, terdapat berpengaruh
Effendi NPL, FDR, negatif
dan A sebagai BOPO, terhadap Z-
Mulyo variabel dan ROA Score
Haryanto independe sebagai
(2016) n variabel 2) CAR tidak
independe berpengaruh
2) Mengguna n terhadap Z-
kan Score
Financial 2) Terdapat
distress perbedaan
sebagai obyek
variabel penelitian
dependen
3) Terdapat
perbedaan
periode
penelitian
3 Habbi 1) Mengguka 1) Tidak 1) NPL
Irsyada n NPL, terdapat berpengaruh
Haq dan LDR, BOPO positif
Puji CAR, dan sebagai signifikan
Harto ROA variabel terhadap
(2019) sebagai independe financial
variabel n distress
independe
n 2) Terdapat 2) LDR
perbedaan berpengaruh
2) Mengguna Obyek negatif
kan penelitian signifikan
financial terhadap
distress 3) Terdapat financial
sebagai perbedaan distress
variabel periode
dependen penelitian 3) ROA
berpengaruh
3) Mengguna negatif
kan signifikan
metode terhadap
Altman Z- financial
Score distress
Modifikasi
sebagai 4) CAR tidak
alat ukur berpengaruh
financial signifikan
distress terhadap
financial
distress
4 Maisarah 1) Mengguna 1) Terdapat 1) CAR
, kan CAR, perbedaan berpengaruh
Zamzami NPF, periode positif
39
, dan ROA, penelitian signifikan
Enggar BOPO, terhadap
Diah P.A dan FDR 2) Terdapat financial
(2018) sebagai perbedaan distress
variabel metode
independe penelitian 2) BOPO
n berpengaruh
positif
2) Mengguna signifikan
kan terhadap
financial financial
distress distress
sebagai
variabel 3) NPF
dependen berpengaruh
positif
3) Mengguna terhadap
kan financial
perbankan distress
syariah di
Indonesia 4) ROA
sebagai berpengaruh
obyek positif tetapi
penelitian tidak
signifikan
4) Mengguna terhadap
kan financial
metode distress
Altman Z-
Score 5) LDR
Modifikasi berpengaruh
untuk negatif dan
mengukur signifikan
financialdi terhadap
stress financial
distress
5 Baiq 1) Mengguna 1) Tidak 1) CAR
Defika k CAR, terdapat berpengaruh
Zahronya NPL, ROA negatif
na dan BOPO, sebagai signifikan
Dewa dan LDR variabel terhadap
P.K sebagai independe financial
Mahardi variabel n distress
ka (2018) independe
n 2) Terdapat 2) NPL tidak
perbedaan berpengaruh
2) Mengguna obyek terhadap
kan penelitian financial
Altman Z- distress
Score 3) Terdapat
Modifikasi perbedaan 3) BOPO tidak
sebagai periode berpengaruh
alat ukur penelitian terhadap
financial financial
40
distress distress
4) LDR
berpengaruh
positif
signifikan
terhadap
financial
distress
6 Endang 1) Mengguna 1) Tidak 1) CAR tidak
Afriyeni kan CAR, terdapat berpengaruh
dan NPL dan BOPO dan signifikan
Jumyetti ROA FDR terhadap
(2015) sebagai sebagai financial
variabel variabel distress
independe independe
n n 2) NPL
berpengaruh
2) Mengguna 2) Terdapat positif dan
kan perbedaan signifikan
financial obyek terhadap
distress penelitian financial
sebagai distress
variabel 3) Terdapat
dependen perbedaan 3) ROA
periode berpengaruh
penelitian negatif dan
signifikan
terhadap
financial
distress
7 Luluk 1) Mengguna 1) Tidak 1) CAR
Afiqoh kan CAR, terdapat berpengaruh
dan FDR dan NPF dan positif
Nisful ROA BOPO signifikan
Laila sebagai sebagai terhadap
(2018) variabel variabel financial
independe independe distress
n n
2) FDR
2) Mengguna 2) Terdapat berpengaruh
kan perbedaan positif
financial periode signifikan
distress penelitian terhadap
sebagai financial
variabel distress
dependen
3) ROA
3) Mengguna berpengaruh
kan Bank positif tidak
Umum signifikan
Syariah di terhadap
Indonesia financial
sebagai
41
obyek distress
penelitian
4) Mengguna
kan
Altman Z-
Score
Modifikasi
sebagai
alat ukur
financial
distress
8 Arinna 1) Mengguna 1) Tidak 1) CAR
Suhadi kan NPF, terdapat memiliki
dan ROA dan FDR dan pengaruh
Rohmaw CAR BOPO positif
ati sebagai sebagai terhadap
Kusuman variabel variabel financial
ingtias independe independe distress
n n
2) ROA tidak
2) Mengguna 2) Terdapat memiliki
kan perbedaan pengaruh
financial periode terhadap
distress penelitian financial
sebagai distress
variabel
dependen 3) NPF tidak
memiliki
3) Mengguna pengaruh
kan Bank terhadap
Umum financial
Syariah distress
sebagai
obyek
penelitian
4) Mengguna
kan
metode
Altman Z-
Score
Modifikasi
sebagai
alat ukur
financial
distress
9 Didi 1) Mengguna 1) Tidak 1) ROA
Rahmat kan ROA terdapat berpengaruh
(2019) sebagai CAR, positif tidak
variabel FDR, NPF signifikan
independe dan BOPO terhadap
n sebagai financial
variabel
42
2) Mengguna independe distress
kan n
financial
distress 2) Terdapat
sebagai perbedaan
variabel obyek
dependen penelitian
3) Terdapat
perbedaan
periode
penelitian
4) Terdapat
perbedaan
metode
pengukura
n
10 Nurcahy 1) Mengguna 1) Tidak 1) ROA
ono dan kan ROA terdapat berpengaruh
Ketut sebagai CAR, negatif
Sudharm variabel FDR, NPF signifikan
a (2014) independe dan BOPO terhadap
n sebagai financial
variabel distress pada
2) Mengguna independe perusahaan
kan n manufaktur
financial
distress 2) Terdapat
sebagai perbedaan
variabel obyek
dependen penelitian
3) Terdapat
perbedaan
periode
penelitian
43
C. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji permasalahan mengenai
financial distress pada bank syariah. Penelitian ini menggunakan
variabel independen (X) yaitu : Capital Adequacy Ratio (X1),
Financing Deposit Ratio (X2), Non Performing Financing (X3), Biaya
Operasional Pendapatan Operasional (X4) dan Return On Assets (X5).
Financial Distress (Y) sebagai variabel dependen.
CAR (X1)
H1
H2
FDR (X2)
H3
NPF (X3) FINANCIAL DISTRESS
(Y)
H4
BOPO (X4)
Metode Altman Z-Score
H5
ROA (X5) Modifikasi
1. WCTA
2. RETA
3. EBITTA
4. BVETL
Gambar 2.1
Kerangka Penelitian
Sumber: (Maisarah, dkk: 2018)
44
Model penelitian yang disajikan di atas menjelaskan bahwa
variabel X1 (Capital Adequacy Ratio), X2 (Financing Deposit Ratio),
X3 (Non Performing Financing), X4 (Biaya Operasional Pendapatan
Operasional), dan X5 (Return On Assets) berpengaruh terhadap Y
(Financial Distress). Dimana variabel Y (Financial Distress) dihitung
dengan menggunakan metode Altman Z-Score Modifikasi.
45
D. HIPOTESIS
Dalam Romdhoni dan Chateradi (2018) Hipotesis adalah dugaan
sementara atau kesimpulan sementara atas masalah yang hendak
diteliti. Perumusan hipotesis dilakukan berdasarkan pada literatur yang
telah ada. Hipotesis yang dibentuk dalam penelitian ini didasarkan
pada penelitian sebelumnya, sehingga diharapkan hipotesis tersebut
cukup valid untuk diuji. Berdasarkan dari hasil penelitian-penelitian
terdahulu, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Financial
Distress
CAR mengukur tingkat kecukupan (adequacy) modal atau
stabilitas keuangan bank. Semakin tinggi CAR maka bank tersebut
semakin baik (Hidayat, 2014: 70). Menurut Sholikati (2018) rasio
CAR yang tinggi pada suatu bank dapat membiayai kegiatan
operasional serta profitabilitas yang meningkat dapat
mengantisipasi terjadinya financial distress.
Penelitian dari Zahronyana dan Mahardika (2018) bahwa
CAR berpengaruh negatif terhadap financial distress. Sedangkan
penelitian dari Wijayanti dkk (2018) CAR tidak berpengaruh
terhadap financial distress. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian
dari Afiqoh dan Laila (2018) bahwa CAR berpengaruh positif
terhadap financial distress.
46
H1: Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh negatif
terhadap financial distress
2. Pengaruh Financing Deposit Ratio (FDR) terhadap Financial
Distress
FDR perbankan syariah yang tinggi menunjukkan bahwa
bank syariah telah melaksanakan fungsi perantara secara optimum.
Dengan kata lain bahwa seluruh dana yang dihimpun dari
masyarakat dapat disalurkan oleh bank syariah (Hidayat, 2014:
121). Semakin tinggi dana yang disalurkan oleh bank dalam bentuk
pembiayaan,maka semakin tinggi juga kemampuan suatu bank
dalam memberikan pinjaman. Hal ini mempunyai dampak pada
peningkatan pendapatan bank, jadi keuntungan perbankan syariah
semakin meningkat dan kinerja keuangan semakin baik (Rahim:
2008).
Penelitian dari Maisarah dkk (2018) bahwa LDR
berpengaruh negatif terhadap financial distrees, hasil penelitian ini
sejalan dengan penelitian Haq dan Harto (2019). Sedangkan
penelitian dari Zahronyana dan Mahardika (2018) bahwa FDR
memiliki pengaruh positif terhadap financial distress, penelitian ini
didukung oleh Afiqoh dan Laila (2018)
H2: Financing Deposit Ratio (FDR) berpengaruh negatif
terhadap financial distrees.
47
3. Pengaruh Non Performing Financing (NPF) terhadap Financial
Distress
Semakin kecil nilai NPF maka semakin kecil risiko
pembiayaan yang ditanggung oleh bank. Bank Indonesia
menetapkan kriteria rasio NPF net di bawah 5% . Semakin tinggi
nilai rasio ini, maka semakin rendah kualitas pembiayaan bank
yang menyebabkan jumlah pembiayaan bermasalah semakin besar
dan bank akan mengalami penurunan tingkat kesehatan. Maka hal
ini akan memungkinkan bank mengalami financial distress.
Hasil penelitian dari Maisarah dkk (2018) bahwa NPF
berpengaruh positif terhadap financial distress, hasil penelitian ini
didukung oleh Wijayanti dkk (2018), Afriyeni dan Jumyetti (2015)
dan Haq dan Harto (2019). Hasil penelitian tersebut tidak sejalan
dengan Effendi dan Haryanto (2016) bahwa NPL memiliki
pengaruh negatif terhadap financial distress.
H3 : Non Performing Financing (NPF) berpengaruh positif
terhadap financial distress.
4. Pengaruh Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)
terhadap Financial Distress
Dalam Yusuf (2017) Rasio BOPO digunakan untuk
mengatur perbandingan biaya operasi terhadap pendapatan operasi
yang diperoleh bank. Semakin kecil rasio BOPO, maka semakin
baik kondisi suatu bank. Jika suatu bank memiliki rasio BOPO
48
yang tinggi maka bank tersebut tidak dapat beroperasi dengan
efisien karena tingginya rasio ini menunjukkan besarnya jumlah
biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh pihak bank untuk
memperoleh pendapatan operasional, hal ini akan menurunkan
tingkat kesehatan keuangan bank.
Hasil penelitian dari Maisarah dkk (2018) bahwa BOPO
memiliki pengaruh positif terhadap financial distress. Sedangkan
hasil penelitian dari Zahronyana dan Mahardika (2018) BOPO
tidak berpengaruh terhadap financial distress.
H4: Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)
berpengaruh positif terhadap financial distress.
5. Pengaruh Return On Assets (ROA) terhadap Financial Distress
ROA digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam
memperoleh keuntungan secara keseluruhan. Semakin tinggi nilai
ROA maka bank tersebut semakin efisien dan kinerja keuangan
semakin baik. Meliani dan Bagus (2017) menyatakan bahwa
semakin besar nilai ROA, maka semakin rendah suatu bank
mengalami financial distress.
Hasil Penelitian dari Nurcahyono dan Sudharma (2014)
bahwa ROA berpengaruh negatif terhadap financial distress, hal
ini sejalan dengan hasil penelitian dari Afriyeni dan Jumyetti
(2015) dan Haq dan Harto (2019). Sedangkan hasil penelitian dari
Rahmat (2019) ROA tidak berpengaruh terhadap financial distress,
49
hal ini didukung oleh penelitian Afiqoh dan Laila (2018) dan
Wijayanti dkk (2018)
H5 : Return On Assets berpengaruh negatif terhadap financial
distress.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian
kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan analisis data yang
berbentuk nemerik atau angka (Suryani, 2016:109). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR),
Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF),
Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) dan Return On
Assets (ROA) terhadap Financial distress pada Bank Umum Syariah
(BUS) di Indonesia.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Objek penelitian ini yaitu perbankan syariah yang termasuk dalam
Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia yang sudah listing dalam
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama 5 periode dari tahun 2015
sampai 2019.
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari suatu objek
atau subjek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang
telah ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulan (Sugiyono, 2019: 126). Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu perbankan yang ada di Indonesia yang
dikategorikan sebagai Bank Umum Syariah (BUS) dan yang sudah
50
51
listing di Otoritas Jasa Keuangan (0JK). Jumlah BUS yang tercatat
yaitu sebanyak 14 bank yaitu PT Bank Muamalat Indonesia, PT Bank
BTPN Syariah, PT Bank Victoria Syariah, PT Bank BRI Syariah, PT
Bank Jabar Banten Syariah, PT Bank Aceh Syariah, PT Bank BNI
Syariah, PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mega Syariah, PT Bank
Panin Syariah, PT Bank Syariah Bukopin, PT BCA Syariah, PT
Maybank Syariah Indonesia, dan PT BPD Nusa Tenggara Barat
Syariah.
Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2019: 127). Sampel
dalam penelitian ini diambil dengan teknik purposive sampling.
Teknik purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan atau kriteria tertentu (Sugiyono, 2019: 133). Kriteria
yang digunakan yaitu sebagai berikut:
a. Bank Umum Syariah yang beroperasi di Indonesia dan yang sudah
listing di OJK pada periode 2015-2019.
b. Bank yang mempublikasikan annual report secara berturut-turut
pada periode 2015-2019.
c. Bank yang mengungkapkan informasi mengenai CAR, FDR, NPF,
BOPO dan ROA.
52
Tabel 3.1
Hasil Penentuan Sampel
Kriteria Jumlah
BUS yang beroperasi secara nasional di Indonesia 14
dan listing di OJK selama periode 2015-2019
BUS yang tidak mempublikasikan laporan tahunan 0
secara lengkap selama periode 2015-2019
BUS yang tidak mengungkapkan variabel yang 1
terkait dengan penelitian
Jumlah sampel yang memenuhi kriteria 13
Tahun pengamatan 5
Jumlah total sampel 65
Sumber: Data diolah peneliti, 2020
Berdasarkan metode purposive sampling yang telah dilakukan,
maka terdapat sampel untuk penelitian ini yaitu sebanyak 13 bank
umum syariah. Bank yang tidak termasuk sampel adalah Bank Jabar
Banten Syariah, karena dalam laporan Bank Jabar Banten Syariah
tidak lengkap dalam mengungkapkan variabel yang berkaitan dengan
penelitian ini. Bank Umum Syariah yang dijadikan sampel pada
penelitian ini yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.2
Daftar Bank Umum Syariah yang dijadikan sampel
No Nama Bank Umum Syariah Kode
1 PT Bank Muamalat Indonesia BMI
2 PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah BTPNS
3 PT Bank Victoria Syariah BVS
4 PT Bank BRI Syariah BRIS
5 PT Bank Aceh Syariah BAS
6 PT Bank BNI Syariah BNIS
7 PT Bank Syariah Mandiri BSM
53
8 PT Bank Panin Syariah BPS
9 PT Bank Syariah Bukopin BSB
10 PT BCA Syariah BCAS
11 PT Maybank Syariah Indonesia MS
12 PT BPD NTB Syariah BPDNTBS
13 PT Bank Mega Syariah BMS
Sumber: Data diolah peneliti, 2020
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara yang dilakukan
peneliti untuk mendapatkan data yang akan dianalisis atau diolah
untuk menghasilkan kesimpulan (Bawono, 2006). Dalam penelitian ini
menggunakan jenis data sekunder. Data sekunder adalah data yang
diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan
diolah pihak lain, dan biasanya sudah dipublikasikan (Suryani,
2016:171). Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari
laporan keuangan (annual report) tahunan yang sudah dipublikasikan
di website masing-masing BUS.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu sebagai
berikut:
1. Library Research
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara membaca, mempelajari dan menganalisis literatur
yang bersumber dari buku-buku dan jurnal-jurnal yang
berkaitan dengan penelitian ini untuk memperoleh data yang
valid.
54
2. Internet Research
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan
cara menggunakan teknologi yang cukup berkembang yaitu
melalui akses internet, sehingga data yang diperoleh
merupakan data yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Memperoleh sumber data sekunder dengan cara mendownload
laporan keuangan yang sudah dipublikasikan dimasing-masing
Web Bank Umum Syariah.
E. Definisi Konsep dan Operasional
1. Variabel Independen atau variabel bebas adalah variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau
timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2019:69). Dalam
penelitian ini menggunakan 5 variabel independen yaitu Capital
Adequacy Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non
Performing Financing (NPF), Biaya Operasional Pendapatan
Operasional (BOPO), dan Return On Assets (ROA).
a. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal
adalah perbandingan antara modal bersih yang dimiliki bank
dengan total asetnya. Bank Indonesia menetapkan batas
minimal CAR sebesar 8% (Suryani, 2016:165).
55
Rumus rasio CAR yaitu:
b. Financial Deposit Ratio (FDR)
Financial Deposit Ratio (FDR) digunakan untuk mengukur
kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo. Rasio ini
menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar
kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan
mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber
likuiditasnya (Lemiyana dan Litriani: 2016).
Rumus rasio FDR yaitu:
c. Non Performing Financing (NPF)
Non Performing Financing (NPF) yaitu menunjukkan
kemampuan manajemen suatu bank dalam mengatasi
pembiayaan bermasalah, diantaranya yaitu pembiayaan
diragukan, kurang lancar dan macet (Suhadi dan
Kusumaningtias).
Rumus rasio NPF yaitu:
56
d. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)
Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)
disebut juga dengan rasio efisiensi yang digunakan untuk
mengukur kemampuan manajemen suatu bank dalam
mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan
operasional (Lemiyana dan Litriani: 2016).
Rumus rasio BOPO yaitu:
e. Return On Assets (ROA)
Return on Assets merupakan perbandingan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah
seluruh aktiva harta yang dimiliki suatu perusahaan pada
periode tertentu (Kasmir, 2012:119).
Rumus rasio ROA yaitu:
2. Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel
bebas (Sugiyono, 2019:69). Dalam penelitian ini variabel
dependennya yaitu financial distress. Menurut Plat dan Plat (2002)
dalam Zulaikah (2016) Financial distress merupakan sebagai tahap
penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum terjadinya
kebangkrutan ataupun likuidasi. Dapat disimpulkan bahwa
57
financial distress merupakan suatu kondisi dimana keuangan suatu
perusahan dalam keadaan tidak sehat. Dalam penelitian ini
financial distress diukur menggunakan Model Altman Z-Score
Modifikasi. Rumus Altman Z-Score Modifikasi (Maisarah, dkk:
2018) :
Keterangan :
Z” = Bankruptcy
X1 = Working Capital to Total Asset
X2 = Retained Earning to Total Asset
X3 = Earning Before Interest and Taxes to Total Asset
X4 = Book Value of Equity to Total Liability
a. Working Capital to Total Asset (WCTA)
Working Capital to Total Asset adalah indikator untuk
mengukur besarnya aset likuid apabila dibandingkan dengan
keseluruhan aset yang dimiliki. Working Capital to Total Asset
merupakan selisih dari current asset dan current liabilities
(Zulaikah dan Laila:2016).
Rumus WCTA yaitu sebagai berikut:
b. Retained Earning to Total Asset (RETA)
58
Retained Earning to Total Asset adalah indikator untuk
mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan
laba ditahan dari total aktiva yang dimiliki perusahaan.
(Zulaikah dan Laila: 2016).
Rumus RETA yaitu sebagai berikut:
c. Earning Before Interest and Taxes to Total Asset (EBITTA)
Menurut Riyanto (1995) yang dikutip oleh Zulaikah dan
Laila (2016) Eaning Before Interest and Taxes to Total Asset
adalah indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan
dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk
menghasilkan keuntungan bagi investor termasuk pemegang
saham dan obligasi.
Rumus EBITTA yaitu sebagai berikut :
d. Book Value of Equity to Total of Liability (BVETL)
Menurut Nugrogo (2012) Yang dikutip oleh Zulaikah dan
Laila (2016) Book Value of Equity to Total of Liability adalah
indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat leverage dari
suatu perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengukur sejauh
mana aktiva perusahaan dibiayai dari hutang.
Rumus BVETL yaitu sebagai berikut:
59
F. Teknik Analisis Data
1. Analisis Statistik Deskriptif
Menurut Ghozali (2011) statistik deskriptif yaitu
memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari
nilai rata-rata (mean), standar deviasi (standard deviation),
maksimum dan minimum.
2. Uji Stasioneritas
Uji ini untuk menganalisis data time series untuk melihat
ada tidaknya unit root yang terkandung diantara variabel sehingga
hubungan antar variabel antar persamaan menjadi lebih valid
(Arifin, 2016). Sebuah data dikatakan stasioner jika memenuhi
asumsi bahwa rata-rata dan variannya konstan sepanjang waktu
serta kovarian antar dua data runtut waktu tergantung pada
kelambanan anatara dua periode tersebut. Pengambilan keputusan
pada uji stasioner adalah jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05
maka data tersebut bersifat stasioner (Winarno, 2015).
3. Uji Regresi
Sebelum melakukan uji regresi, terlebih dahulu dilakukan
spesifikasi model kecocokan model regresi. Dalam penelitian ini
menggunakan metode sebagai berikut:
a. Regresi dengan Common Effect
60
Regresi ini mengasumsikan bahwa data gabungan yang ada
menunjukkan kondisi yang sesungguhnya dan hasil analisis
regresi dianggap berlaku pada semua objek pada semua waktu
(Winarno, 2015). Regresi ini dapat dijelaskan melalui uji
Lagrange-Multiplier Test. Pengambilan keputusannya yaitu
jika nilai Breusch-Pagan lebih besardari 0,05, maka regresi
yang digunakan adalah common dan berlaku sebaliknya.
b. Regresi Menggunakan Fixed Effect
Regresi ini mengasumsikan bahwa data gabungan yang ada
memiliki efek tetap. Yang dimaksud dengan efek tetap yaitu
satu objek memiliki konstanta dan koefisien regresi yang tetap
diberbagai periode waktu (Winarno, 2015). Regresi Fixed
Effect dapat dilakukan dengan uji Chow-test dengan likelihood
ratio. Pengambilan keputusannya yaitu dengan melihat nilai
cross-section chisquare lebih besar dari 0,05, sehingga regresi
yang digunakan yaitu regresi Common dan berlaku sebaliknya.
c. Regresi dengan Random Effect
Regresi ini digunakan untuk mengatasi kelemahan metode efek
tetap yang menggunakan variabel semu. Metode rondom
menggunakan residual yang diduga memiliki hubungan antar
waktu dan antar objek (Winarno,2015). Uji regresi dengan
rondom effect dapat dilakukan jika objek data silang harus
lebih besar dari banyaknya koefisien. Regresi ini dapat
61
dijelaskan melalui uji Hausman test. Pengambilan keputusan
pada uji ini adalah jika nilai cross-section rondom memiliki
nilai lebih besar dari 0,05 maka regresi yang digunakan yaitu
regresi dengan rondom effect.
4. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah nilai
residual yang dihasilkan dari regresi terdistribusi secara normal
atau tidak. Model regresi yang baik yaitu yang memiliki nilai
residual yang terdistribusi secara normal (Purnomo, 2017:174).
b. Uji Multikolinieritas
Pada analisis regresi linier berganda dilakukan uji
multikolinieritas karena variabel independennya lebih dari satu
dalam satu model regresi. Multikolinieritas yaitu antar variabel
independen yang terdapat dalam model regresi memiliki
hubungan linier yang sempurna atau mendekati sempurna
(koefisien korelasinya tinggi) bahkan model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi sempurna atau mendekati
sempurna diantara variabel bebasnya (Purnomo, 2017:175).
c. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah varian residual yang tidak sama
pada semua pengamatan di dalam model regresi. Regresi yang
62
baik seharusnya tidak terjadi heteroskedastisitas (Purnomo,
2017:159)
d. Uji Autokorelasi
Autokorelasi merupakan korelasi antara anggota observasi
yang disusun menurut waktu atau tempat. Model regresi yang
baik seharusnya tidak terjadi autokorelasi. Metode pengujian
menggunakan uji Durbin-Watson (DW test) (Purnomo,
2017:175).
5. Uji Regresi Data Panel
Di dalam teori ekonometri, proses penyatuan data antar
waktu (time series) dan data antar individu (cross-section) disebut
dengan pooling (Ekananda, 2015). Data panel berbeda dengan data
time series maupun data cross section. Data panel menggunakan
double subscript (subscript i dan t) dalam penulisannya. Dalam
analisis data panel terdapat 3 pilihan model estimasi yaitu common
effect, fixed effect, dan random effect.
Model Pooled Least Square mengansumsikan bahwa semua
individu memiliki koefisien regresi yang sama (α) (Gujarti,2012).
Persamaan dalam Fixed Effect Model (FEM) adalah sebagai
berikut:
Yit = αi+ βXit + uit ; uit = µi + v it
Dimana:
Y it : Financial Distress
63
αi : Konstanta
β : Koefisien Regresi
X it : Variabel Independen
µi : Efek individu yang tidak teramati
v it : Gangguan sisa
6. Alat Analisis
Alat analisis dalam penelitian ini yaitu menggunakan
analisis regresi data panel yang diolah menggunakan aplikasi
Eviews versi 10. Eviews adalah program komputer yang digunakan
untuk mengolah data statistik dan data ekonometrika.
BAB IV
ANALISIS DATA
A. Deskriptif Objek Penelitian
1. Deskripsi Data
Objek penelitian ini yaitu Bank Umum Syariah di Indonesia
yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Data yang
digunakan dalam penelitian ini berupa data Annual Report dari
masing-masing Bank Umum Syariah pada tahun 2015 sampai tahun
2019. Sampel penelitian ini terdiri dari 13 bank yaitu Bank Muamalat
Indonesia, BTPN Syariah, Bank Victoria Syariah, BRI Syariah, Bank
Aceh Syariah, BNI Syariah, Bank Syariah Mandiri, Bank Panin
Syariah, Bank Syariah Bukopin, BCA Syariah, Maybank Syariah
Indonesia, BPD NTB Syariah dan Bank Mega Syariah. Variabel –
variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Capital Adequacy
Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing
Financing (NPF), Biaya Operasional Pendapatan Operasional
(BOPO), Return On Assets (ROA), dan Financial Distress.
2. Deskriptif Statistik
Menurut Ghozali (2011) statistik deskriptif yaitu memberikan
gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata
(mean), standar deviasi (standard deviation), maksimum dan
minimum.
64
65
a. Variabel Capital Adequacy Ratio (CAR)
Tabel 4.1
Deskriptif Statistik CAR
CAR
Mean 28,67738
Median 19,96000
Maximum 241,8400
Minimum 11,51000
Standar Devisiasi 33,80908
Observations 65
Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2020
Berdasarkan data di atas, dari 65 data pengamatan
nilai rata-rata (mean) CAR adalah 28,67738 dengan
standar devisiasi 33,80908 dengan nilai rata-rata CAR
28,67738 berarti tergolong sangat baik karena CAR >
12%. Nilai median CAR yaitu 19,96000. Nilai CAR
tertinggi (maximum) 241,8400 yang dimiliki oleh
Maybank Syariah Indonesia di tahun 2019, ini
menunjukkan nilai CAR yang sangat baik karena CAR >
12% dan nilai CAR terendah (minimum) 11,51000 yang
dimiliki oleh Bank Panin Syariah di tahun 2017,ini
menunjukkan nilai CAR yang baik karena berada
diperingkat 2 yaitu 9% < CAR < 12%.
66
b. Variabel Financing Deposit Ratio (FDR)
Tabel 4.2
Deskriptif Statistik FDR
FDR
Mean 101,2203
Median 89,00000
Maximum 506,6000
Minimum 68,64000
Standar Devisiasi 67,75546
Observations 65
Sumber: Data Sekunder diolah, 2020
Berdasarkan data di atas, dari 65 data pengamatan
nilai rata-rata (mean) FDR adalah 101,2203 dengan standar
devisiasi 67,75546, dengan nilai rata-rata FDR 101,2203
maka tergolong kurang baik karena digolongan peringkat 4
yaitu 100% < FDR < 120%. Nilai median FDR yaitu
89,00000. Nilai tertinggi (maxsimum) FDR 506,6000 yang
dimiliki Maybank Syariah Indonesia di tahun 2019, ini
menunjukkan FDR tidak baik karena diperingkat 5 yaitu
FDR > 120%. Nilai terendah (minimum) FDR 68,64000
yang dimiliki oleh Bank Aceh Syariah di tahun 2019, ini
menunjukkan FDR sangat baik karena digolongan peringkat
1 yaitu FDR < 75%.
67
c. Non Performing Financing (NPF)
Tabel 4.3
Deskriptif Statistik NPF
a. NPF
Mean 2,134769
Median 1,860000
Maximum 4,970000
Minimum 0,000000
Standar Devisiasi 1,678474
Observations 65
Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2020
Berdasarkan data di atas, dari 65 data pengamatan
Nilai rata-rata (mean) NPF adalah 2,134769 dengan standar
devisiasi 1,678474, dengan nilai rat-rata NPF 2,134769
maka tergolong baik karena diperingkat 2 yaitu 2% < NPL
< 5%. Nilai median NPF yaitu 1,860000. Nilai tertinggi
(maxsimum) NPF 4,970000 yang dimiliki BRI Syariah di
tahun 2018, hal ini munjukkan NPF yang baik karena
digolongan 2 yaitu 2% < NPL < 5% dan nilai terendah
(minimum) NPF 0,000000 yang dimiliki Maybank Syariah
Indonesia dari tahun 2017 sampai 2019, hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada pembiayaan bermasalah di
tahun 2017 sampai 2019 di Maybank Syariah Indonesia.
68
d. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)
Tabel 4.4
Deskriptif Statistik BOPO
e. BOPO
Mean 96,10431
Median 92,20000
Maximum 217,4000
Minimum 58,10000
Standar Devisiasi 28,03188
Observations 65
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020
Berdasarkan data di atas, dari 65 data pengamatan
nilai rata-rata (mean) BOPO adalah 96,10431 dengan
standar devisiasi 28,03188, dengan rata-rata BOPO
96,10431 maka tergolong baik karena berada diperingkat 4
yaitu 96% < BOPO < 97%. Nilai median BOPO yaitu
92,20000. Nilai tertinggi (maxsimum) BOPO 217,4000
yang dimiliki oleh Bank Panin Syariah di tahun 2017, hal
ini menunjukkan BOPO yang tidak baik karena BOPO
lebih dari 97%. Dan nilai terendah (minimum) BOPO
58,10000 yang dimiliki oleh BTPN Syariah di tahun 2019,
hal ini menunjukkan BOPO yang sangat baik karena tidak
lebih dari 94%.
69
e. Return On Assets (ROA)
Tabel 4.5
Deskriptif Statistik ROA
ROA
Mean 1,136769
Median 0,930000
Maximum 13,60000
Minimum -20,13000
Standar Devisiasi 4,732943
Observations 65
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020
Berdasarkan data di atas,dari 65 data pengamatan
nilai rata-rata (mean) ROA adalah 1,136769 dengan standar
devisiasi 4,732943, dengan rata-rata ROA 1,136769 maka
cukup baik karena digolongan 3 yaitu 0,5% < ROA <
1,25%. Nilai median ROA yaitu 0,930000. Nilai tertinggi
(maxsimum) ROA 13,60000 yang dimiliki BTPN Syariah di
tahun 2019, hal ini menunjukkan ROA yang sangat baik
karena lebih dari 1,5 % dan nilai terendah (minimum) ROA
-20,13000 yang dimiliki oleh Maybank Syariah Indonesia di
tahun 2015, hal ini menunjukkan ROA yang tidak baik
karena dibawah 0%.
70
f. Financial Distress
Tabel 4.6
Deskriptif Statistik Financial distress
a. Z-Score
Mean 6,373385
Median 6,230000
Maximum 11,08000
Minimum 1,140000
Standar Devisiasi 1,794642
Observations 65
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020
Berdasarkan data di atas, dari 65 data pengamatan
nilai rata-rata (mean) z-score financial distress adalah
6,373385 dengan standar devisiasi 1,794642, dengan rata-
rata z-score 6,373385, maka BUS Indonesia ditahun 2015
sampai 2019 tidak mengalami Financial Distress (tidak
bangkrut) karena nilai z-score lebih dari 2,90. Nilai median
z-score financial distress yaitu 6,220000, Nilai tertinggi
(maxsimum) z-score financial distress 11,08000 yang terjadi
pada Maybank Syariah Indonesia di tahun 2019, hal ini
menujukkan z-score yang baik dan tidak mengalami
kebangkrutan. Dan nilai terendah (minimum) z-score
financial distress 1,140000 yang terjadi pada Bank Aceh
Syariah di tahun 2015, hal ini menunjukkan bahwa bank
71
tersebut dalam kategori bangkrut karena z-score kurang dari
1,23.
B. Analisis Data
Analisis data yang digunakan yaitu sebagai berikut:
1. Uji Stasioneritas
Uji stasioneritas yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Unit Root. Berikut dari hasil uji stasioneritas dengan tingkat
level:
Tabel 4.7
Rangkuman Uji Stasioner
No Variabel Prob. Keterangan
1 CAR 0,0109 Data Stasioner pada Level
2 FDR 0,0003 Data Stasioner pada Level
3 NPF 0,0000 Data Stasioner pada Level
4 BOPO 0,0000 Data Stasioner pada Level
5 ROA 0,0000 Data Stasioner pada Level
6 Z-Score FD 0,0000 Data Stasioner pada Level
Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2020.
Berdasarkan Tabel 4.7 di atas, dapat disimpulkan bahwa
nilai probability unit root test dengan uji Levin, Lin, Chu
menunjukkan nilai dibawah 0,05. Dengan demikian variabel
independen (CAR, FDR, NPF, BOPO, ROA) dan variabel
dependen financial distress memenuhi ketentuan uji stasioneritas
dan layak untuk dilanjutkan dengan pengujian data selanjutnya.
72
2. Uji Model Regresi
Sebeum melanjutkan ke uji multikolinearitas,
heteroskedastisitas dan autokorelasi, terlebih dahulu dilakukan uji
model untuk menentukkan model regresi sebagai acuan uji yang
lain.
a. Memilih Common Effect atau Fixed Effect
Tabel 4.8. Uji Chow
Redundant Fixed Effects Tests
Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 2.792681 (12,47) 0.0059
Cross-section Chi-square 34.986952 12 0.0005
Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020
Tahap pertama adalah melakukan uji chow untuk
menentukan model regresi antara Common Effect Model atau
Fixed Effect Model. Dari hasil uji chow diperoleh nilai
koefisien Cross-section Chi-square adalah 0,0005 < 0,05 , jadi
model yang dipilih yaitu Fixed Effect Model.
b. Memilih Fixed Effect atau Random Effect
Pengujian model pertama diperoleh Fixed Effect Model,
tahap selanjutnya dilakukan uji hausman untuk menentukan
model Fixed Effect Model atau Rondom Effect Model.
73
Tabel 4.9 Uji Hausman
Correlated Random Effects - Hausman Test
Equation: Untitled
Test cross-section random effects
Chi-Sq.
Test Summary Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 23.958683 5 0.0002
Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2020
Dari uji hausman diperoleh nilai koefisien Cross-section
rondom adalah 0,0002 < 0,05 sehingga model yang dipilih
yaitu model Fixed Effect Model.
c. Memilih Common Effect atau Random Effect
Tabel 4.10 Uji LM
Lagrange multiplier (LM) test for panel data
Date: 10/15/20 Time: 18:10
Sample: 2015 2019
Total panel observations: 65
Probability in ()
Null (no rand. effect) Cross-section Period Both
Alternative One-sided One-sided
Breusch-Pagan 0.073495 0.016111 0.089606
(0.7863) (0.8990) (0.7647)
Honda 0.271100 0.126929 0.281449
(0.3932) (0.4495) (0.3892)
King-Wu 0.271100 0.126929 0.245474
(0.3932) (0.4495) (0.4030)
GHM -- -- 0.089606
-- -- (0.6214)
Tahap selanjutnya adalah melakukan uji LM untuk
menentukan model regresi apakah Common Effect Model
74
atau Rondom Effect Model. Dari uji LM ini diperoleh nilai
Breusch-Pagan sebesar 0,7863 yang artinya lebih besar dari
0,05 , maka dari uji LM ini diperoleh model Common
Effect.
Dari uji model regresi yang sudah dilakukan diperoleh
uji chow menghasilkan Fixed Effect Model, uji hausman
juga menghasilkan Fixed Effect Model, dan uji LM
menghasilkan Common Effect Model. Dapat disimpulkan
bahwa model regresi terbaik dalam penelitian ini yaitu
menggunakan Fixed Effect Model.
Berikut hasil regresi data panel dengan Fixed Effect
Model:
Tabel 4.11. Hasil Uji Regresi Data Panel
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 10.24991 2.059018 4.978056 0.0000
CAR 0.148716 0.030828 4.824085 0.0000
FDR -0.042378 0.010648 -3.979977 0.0002
NPF -0.376399 0.239642 -1.570674 0.1230
BOPO -0.026598 0.020818 -1.277681 0.2076
ROA -0.432914 0.166777 -2.595769 0.0126
Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
R-squared 0.583523 Mean dependent var 6.373385
Adjusted R-squared 0.532883 S.D. dependent var 1.794642
S.E. of regression 1.351495 Akaike info criterion 3.669906
Sum squared resid 85.84726 Schwarz criterion 4.272044
Log likelihood -101.2719 Hannan-Quinn criter. 3.907488
F-statistic 3.873617 Durbin-Watson stat 1.838451
Prob(F-statistic) 0.000119
Sumber: Data Sekunder yang di olah, 2020
75
Model regresi data panel dengan FEM yang diperoleh dari
hasil pengujian dapat ditulis sebagai berikut:
Y(Financial Distress)=10,24991+0,148716(X1)-0,042378(X2)
-0,376399(X3)-0,026598(X4)-0,432914(X5)
Persamaan model regresi tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1) Konstanta diperoleh sebesar 10,24991 yang berarti
bahwa jika variabel independen sama dengan nol atau
konstanta, maka financial distress sebesar 10,24991.
2) Variabel CAR memiliki nilai koefisien 0,148716 yang
menyatakan bahwa setiap kenaikan satu satuan rasio
CAR akan menaikan tingkat financial distress sebesar
0,148716.
3) Variabel FDR memiliki nilai koefisien negatif
0,042378 yang menyatakan bahwa setiap kenaikan satu
satuan rasio FDR akan menurunkan tingkat financial
distress sebesar 0,042378.
4) Variabel NPF memiliki nilai koefisien negatif 0,376399
yang menyatakan bahwa setiap kenaikan satu satuan
rasio NPF maka tidak menurunkan atau menaikkan
tingkat financial distress sebesar 0,376399.
5) Variabel BOPO memiliki koefisien negatif 0,026598
menyatakan bahwa setiap kenaikan satu satuan rasio
76
BOPO maka tidak menurunkan atau menaikkan tingkat
financial distress sebesar 0,026598.
6) Variabel ROA memiliki koefisien negatif 0,432914
yang menyatakan bahwa setiap kenaikan satu satuan
rasio ROA akan menurunkan financial distress sebesar
0,432914.
3. Uji Statistik
a. Uji T (T test)
Uji T statistik yaitu untuk menentukan seberapa jauh
pengaruh antara variabel independen secara parsial dalam
menerangkan variabel dependen. Jika probabilitas value lebih
kecil dari 0,05, maka variabel tersebut memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap variabel dependen. Berdasarkan tabel 4.11
di atas, terdapat 3 variabel independen yang memiliki nilai
signifikan, yaitu variabel CAR, FDR dan ROA. Variabel CAR
memiliki signifikan sebesar 0,0000. Variabel FDR memiliki
signifikansi sebesar 0,0002. Variabel ROA memiliki
signifikansi sebesar 0,0126. Sedangkan variabel NPF dan
BOPO tidak signifikan karena probabilitasnya lebih besar dari
0,05. Dapat disimpulkan bahwa hanya ada 3 variabel yang
memiliki pengaruh signifikan secara parsial terhadap variabel
dependen (financial distress).
77
b. Uji F (F test)
Uji F digunakan untuk menentukan pengaruh variabel
independen secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel
dependen. Untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh dapat
dilihat dari Prob (F-Statistic) pada tabel 4.11. Jika nilainya
lebih kecil dari 0,05 maka variabel independen memiliki
pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. Dari
regresi diatas, nilai prob (F-Statistic) yaitu 0,000119 maka
variabel independen (CAR, FDR, NPF, BOPO dan ROA) pada
penelitian ini memiliki pengaruh secara simultan terhadap
variabel dependen (financial distress).
c. Uji Koefisien Determinasi
Uji Koefisien Determinasi digunakan untuk mengukur
seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi
variabel dependen. Pada tabel 4.11 nilai koefisien determinasi
untuk model regresi antara variabel independen dan dependen
pada Adjusted R-Square adalah 0,532883, hal ini menunjukkan
bahwa variasi variabel independen dapat mempengaruhi
variabel dependen financial distress sebesar 53,2883%,
sedangkan 46,7117% financial distress dipengaruhi oleh
variasi variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian ini.
78
4. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Menurut Purnomo (2017) Uji normalitas residual
digunakan untuk menguji apakah nilai residual yang dihasilkan
dari regresi terdistribusi secara normal atau tidak. Dalam
penelitian ini, uji normalitas menggunakan Jarque-Bera
dengan variabel normalitas > 0,05.
20
Series: Standardized Residuals
Sample 2015 2019
16 Observations 65
12 Mean 8.39e-17
Median -0.072450
Maximum 3.638109
8 Minimum -3.723402
Std. Dev. 1.158172
4
Skewness -0.242724
Kurtosis 5.380354
0 Jarque-Bera 15.98389
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4
Probability 0.067338
Gambar 3.1 Hasil Uji Normalitas
Sumber: Data Sekunder diolah, 2020
Dari gambar 3.1 dapat disimpulkan bahwa variabel
independen dan dependen telah memenuhi syarat uji normalitas
dengan nilai probability 0,067338 yang mana nilai probability
Jarque-Bera lebih dari taraf signifikansi 0,05. Maka dapat
disimpulkan bahwa data tersebut terdistribusi secara normal.
79
b. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah
model regresi ditemukan adanya korelasi anatara variabel-
variabel independen, dan uji ini digunakan untuk penelitian
yang variabel independennya lebih dari satu. Model regresi
yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel
independen.
Tabel 4.12 Hasil Uji Multikolonieritas
DX1 DX2 DX3 DX4 DX5
DX1 1.000000 0.755171 -0.081885 -0.092424 0.231295
DX2 0.755171 1.000000 0.061306 0.361220 -0.284789
DX3 -0.081885 0.061306 1.000000 0.439955 -0.453038
DX4 -0.092424 0.361220 0.439955 1.000000 -0.737775
DX5 0.231295 -0.284789 -0.453038 -0.737775 1.000000
Sumber: Data sekunder diolah, 2020
Berdasarkan Tabel 4.12 menunjukkan bahwa hubungan
antar variabel independen tidak lebih dari 0,8, maka dapat
disimpulkan bahwa data tersebut tidak terjadi
multikolonieritas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah
dalam suatu model regresi terjadi kediksamaan variance dari
residual satu pengamatan yang lain. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi heteroskedastisitas.
80
Tabel 4.13. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.478834 0.993029 -0.482196 0.6319
X1 0.009124 0.014868 0.613668 0.5424
X2 -0.005735 0.005135 -1.116838 0.2697
X3 0.125033 0.115575 1.081831 0.2848
X4 0.013282 0.010040 1.322963 0.1922
X5 0.073637 0.080434 0.915500 0.3646
Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
R-squared 0.514534 Mean dependent var 0.829422
Adjusted R-squared 0.338939 S.D. dependent var 0.801669
S.E. of regression 0.651802 Akaike info criterion 2.211456
Sum squared resid 19.96778 Schwarz criterion 2.813594
Log likelihood -53.87231 Hannan-Quinn criter. 2.449038
F-statistic 2.930242 Durbin-Watson stat 2.152893
Prob(F-statistic) 0.001845
Sumber: Data sekunder diolah, 2020
Berdasarkan Tabel 4.13 nilai profitabilitas dari semua
variabel lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa
dalam penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi digunakan untuk menguji apakah apakah
model regresi linier ada korelasi antara kesalahan penganggu
pada periode (t) dengan kesalahan penganggu pada periode (t-
1). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
81
autokorelasi. Metode pengujian menggunakan uji Durbin-
Watson (DW test).
Tabel 4.14. Hasil Uji Autokorelasi
R-squared 0.583523 Mean dependent var 6.373385
Adjusted R-squared 0.532883 S.D. dependent var 1.794642
S.E. of regression 1.351495 Akaike info criterion 3.669906
Sum squared resid 85.84726 Schwarz criterion 4.272044
Log likelihood -101.2719 Hannan-Quinn criter. 3.907488
F-statistic 3.873617 Durbin-Watson stat 1.838451
Prob(F-statistic) 0.000119
Sumber: Data sekunder diolah, 2020
Berdasarkan Tabel 4.14 bahwa nilai Durbin Watson (DW)
sebesar 1,838451. Nilai du 1,7673 dan nilai dl 1,4378, nilai 4-
du 2,2327,nilai 4-dl 2,5622. Maka nilai DW berada di tengah
du dan 4 du (1,7673 < 1,838451 < 2,2327). Sehingga dalam
penelitian ini tidak terjadi autokorelasi.
5. Pembahasan Hipotesis
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan hasil pengujian hipotesis sebagai berikut:
a. Pengaruh CAR terhadap Financial Distress
Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan indikator
terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan
aktivanya sebagai akibat dari kegiatan kerugian-kerugian bank
yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko. Semakin rendah
rasio CAR maka semakin besar potensi bank dalam mengalami
82
kesulitan keuangan,dan sebaliknya. Dalam penelitian ini, hasil
pengujian menunjukkan nilai koefisien CAR sebesar 0,148716
dengan probabilitas 0,000 yang mana lebih kecil dari 0,05.
Dapat disimpulkan bahwa variabel CAR memiliki pengaruh
positif terhadap financial distress. hal ini tidak mendukung H1,
sehingga hipotesis H1 ditolak.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian dari Maisarah
dkk (2018), dan Afiqoh dan Laila (2018) dimana Capital
Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif terhadap financial
distress. Dapat disimpulkan bahwa semakin kecil nilai CAR
atau semakin kecil modal bank dalam menanggung aktiva
berisiko tidak berarti memungkinkan terjadinya financial
distress yang semakin tinggi begitu pula sebaliknya, semakin
tinggi CAR atau semakin tinggi modal bank untuk
menanggung aktiva berisiko tidak berarti memungkinkan
terjadinya financial distress semakin rendah. Namun CAR
sangat tinggi tidak selalu memberikan hasil yang baik terhadap
pengelolaan yang berisiko yang nantinya berpengaruh pada
kesehatan bank dikarenakan manajemen bank yang tidak dapat
mengelola aktiva yang berisiko selain itu bank tersebut dapat
diindikasikan tidak cukup melakukan perluasan dalam hal
investasi pada aktiva yang berisiko dalam memperoleh
pendapatan bagi bank tersebut. Hasil ini tidak mendukung
83
penelitian dari Wijayanti dkk (2018), Effendi dan Haryanto
(2016), Haq dan Harto (2019), dan Afriyeni dan Jumyetti
(2015) yang menyatakan CAR tidak berpengaruh terhadap
financial distress.
b. Pengaruh FDR terhadap Financial Distress
Financing Deposit Ratio adalah rasio pembiayaan bank
syariah dengan dana pihak ketiga; rasio penyaluran dan
penghimpunan dana. Dalam penelitian ini, hasil pengujian
menunjukkan variabel FDR memiliki koefisien regresi negatif
sebesar 0,042378 dengan probabilitasnya sebesar 0,0002 yang
mana tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05. Dapat
disimpulkan bahwa variabel FDR berpengaruh negatif terhadap
financial distress. Hasil ini mendukung H2, maka hipotesis H2
diterima.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Haq dan Harto
(2019), dan Maisarah dkk (2018) bahwa FDR berpengaruh
negatif terhadap financial distress. Hal ini menunjukkan bahwa
nilai FDR yang tinggi dapat menurunkan kemungkinan
terjadinya financial distress. FDR perbankan syariah yang
tinggi menunjukkan bahwa bank syariah telah melaksanakan
fungsi perantara secara optimum. Dengan kata lain bahwa
seluruh dana yang dihimpun dari masyarakat dapat disalurkan
oleh bank syariah dan tidak terjadi pembiayaan bermasalah
84
yang kemudian akan meningkatkan laba dan probabilitas
terjadinya financial distress semakin kecil (Hidayat, 2014:
121). Sedangkan hasil penelitian ini tidak mendukung
penelitian dari Wijayanti dkk yang menyatakan bahwa FDR
tidak berpengaruh terhadap financial distress.
c. Pengaruh NPF terhadap Financial Distress
Non Performing Financing (NPF) menunjukkan risiko
pembiayaan bermasalah, semakin kecil rasio NPF maka
semakin kecil pula risiko pembiayaan bermasalah yang
ditanggung pihak bank syariah. Dalam penelitian ini, hasil
pengujian menunjukkan variabel NPF memiliki koefisien
regresi negatif 0,376399 dengan probabilitas sebesar 0,1230
yang mana tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05. Maka
dapat disimpulkan bahwa variabel NPF tidak berpengaruh
terhadap financial distress. Hal ini tidak mendukung H3,
sehingga hipotesis H3 ditolak.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Zahronya dan
Mahardika (2018) bahwa NPF tidak berpengaruh terhadap
financial distress. Hal ini menunjukkan bahwa belum tentu
besarnya nilai NPF dapat mengakibatkan terjadinya financial
distress, karena pembiayaan yang diberikan ialah pembiayaan
kepada dana pihak ketiga (nasabah) dan tidak termasuk pada
pembiayaan kepada bank lain (Susanto dan Njit, 2012). Selain
85
itu apabila terjadi pembiayaan bermasalah, maka bank
mempunyai manajemeen pembiayaan yang baik yang dapat
menanggung pembiayaan bermasalah dengan kecukupan modal
bank tersebut. Bahwa bank Umum syariah yang memiliki nilai
NPF tinggi belum tentu mengalami potensi financial distress
seperti halnya pada bank BRI Syariah di tahun 2018 memiliki
rasio NPF tertinggi 4,97 dan NPF rendah yaitu 0,000 pada
Maybank Indonesia ditahun 2017, 2018 dan 2019 dimana
bank-bank tersebut masih di Zona tidak bangkrut. Sedangkan
hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian dari Wijayanti
dkk (2018), Haq dan Harto (2019), dan Afriyeni dan Jumyetti
(2015), bahwa NPF berpengaruh positif terhadap financial
distress.
d. Pengaruh BOPO terhadap Financial Distress
Rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional
digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen suatu bank
dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan
operasional. Apabila rasio BOPO kecil maka menunjukkan
tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan
kegiatan operasinya dikarenakan biaya operasional yang lebih
kecil dibanding pendapatan operasional bank dan semakin kecil
pula kemungkinan bank mengalami financial distress. Dalam
penelitian ini hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel
86
BOPO memiliki koefisien regresi negatif 0,026598 dengan
probabilitasnya 0,2076 yang mana tingkat signifikansi lebih
besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel BOPO
tidak berpengaruh terhadap financial distress. Hal ini tidak
mendukung H4,maka hipotesis H4 ditolak.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian dari Zahronya
dan Mahardika (2018) bahwa BOPO tidak berpengaruh pada
financial distress. Ketidaksesuaian dari hasil penelitian ini yang
mana BOPO tidak berpengaruh terhadap financial distress
disebabkan karena Bank Umum Syariah masih memiliki
tingkat efisiensi yang cukup baik dan masih mampu menutup
biaya operasional dengan pendapatan operasionalnya. Dapat
dilihat di tabel 4.4 bahwa rata-rata rasio BOPO BUS pada
tahun penelitian ini yaitu dikarenakan memiliki nilai rata rata
96 % yang mana rasio ini tergolong cukup baik. Hasil
penelitian ini tidak mendukung penelitian dari Maisarah dkk
(2018) bahwa BOPO berpengaruh positif terhadap financial
distress.
e. Pengaruh ROA terhadap Financial Distress
Return On Assets (ROA) digunakan untuk mengukur
kemampuan manajemen bank untuk memperoleh keuntungan
atau laba secara keseluruhan. Semakin rendah ROA, maka
semakin rendah pula keuntungan yang akan dicapai dan potensi
87
bank mengalami financial distress semakin besar. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa variabel ROA memiliki
koefisien regresi negatif 0,432914 dengan probabilitas 0,0126
yang mana tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05. Maka
dapat disimpulkan bahwa variabel ROA berpengaruh negatif
terhadap financial distress. Hal ini mendukung H5, maka
hipotesis H5 diterima.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Haq dan Harto
(2019), Afriyeni dan Jumyetti (2015) dan Nurcahyo dan
Sudharma (2014) bahwa ROA berpengaruh negatif terhadap
financial distress. Dapat disimpulkan bahwa nilai ROA yang
tinggi maka potensi financial distress tidak akan terjadi, begitu
sebaliknya, apabila nilai ROA rendah maka akan
mengakibatkan bank berpotensi mengalami financial distress.
tinggi rendahnya pendapatan bank dapat dilihat dengan rasio
ROA. Apabila perolehan laba mengalami peningkatan maka
hal tersebut dapat menunjukkan baiknya operasional suatu
perbankan dalam menjalankan usahanya sehingga
profitabilitas ROA akan meningkat dan kemungkinan
terjadinya financial distress akan semakin kecil. Hasil
penelitian ini tidak mendukung penelitian dari Wijayanti dkk
(2018), Maisarah dkk (2018), Afiqoh dan Laila (2018) bahwa
ROA tidak berpengaruh terhadap financial distress.
88
Berdasarkan deskripsi pembahasan di atas, dapat
dirangkum dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.15
Hasil Penelitian
No Hipotesis Signifikansi Hasil
H1 Capital Adequacy Ratio 0,0000 Ditolak
(CAR) berpengaruh negatif
terhadap Financial Distress
H2 Financing Deposit Ratio 0,0002 Diterima
(FDR) berpengaruh negatif
terhadap Financial Distress
H3 Non Performing Financing 0,1230 Ditolak
(NPF) berpengaruh positif
terhadap Financial Distress
H4 Biaya Operasional Pendapatan 0,2076 Ditolak
Operasional berpengaruh
positif terhadap Financial
Distress
H5 Return On Assets (ROA) 0,0126 Diterima
berpengaruh negatif terhadap
Financial Distress
Sumber: Data yang diolah, 2020
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil analisis dan pembahasan penelitian, maka
dapat ditarik kesimpulan mengenai pengaruh Capital Adequacy Ratio
(CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing
(NPF), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan
Return On Assets (ROA) adalah sebagai berikut:
1. Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif terhadap
financial distress. Hal tersebut menunjukkan bahwa tinggi
rendahnya CAR memiliki pengaruh secara signifikan terhadap
financial distress.
2. Financing Deposit Ratio (FDR) berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap financial distress. Hal tersebut menunjukkan bahwa tinggi
rendahnya FDR memiliki pengaruh secara signifikan terhadap
financial distress.
3. Non Performing Financing (NPF) tidak berpengaruh terhadap
financial distress. Hal ini menunjukkan tinggi rendahnya NPF
tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap financial
distress.
4. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) tidak
berpengaruh terhadap financial distress. Hal ini menunjukkan
89
90
bahwa tinggi rendahnya BOPO tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap financial distress.
5. Return On Assets (ROA) berpengaruh negatif terhadap financial
distress. Hal ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya ROA
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap financial distress.
B. Keterbatasan Penelitian
Dalam penyusunan skripsi ini, terdapat beberapa keterbatasan,
antara lain:
1. Penelitian terdahulu yang mendukung penelitian ini masih terbatas.
2. Dalam penelitian ini belum terdapat variabel intervening ataupun
moderating.
3. Sampel dalam penelitian ini hanya menggunakan 13 Bank Umum
Syariah.
4. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder,
sehingga peneliti tidak bisa mengawasi kemungkinan terjadinya
kesalahan dalam penghitungan.
5. Keterbatasan ilmu pengetahuan peneliti dalam bidang perbankan,
khususnya perbankan syariah, sehingga belum dapat menggali
lebih dalam informasi yang berhubungan dengan financial distress.
91
C. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti berdasarkan hasil dari
penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator harus mampu
memantau setiap kinerja keuangan Bank Umum Syariah di seluruh
Indonesia agar Bank Umum Syariah di Indonesia semakin baik
dan berkembang.
2. Bagi Bank Umum Syariah di Indonesia harus memiliki manajemen
bank yang baik, efektif dan efisien agar bank tidak mengalami
Financial Distress yang nantinya menjadikan kebangkrutan.
3. Bagi penelitian selanjutnya, sebaiknya menggunakan variabel
tambahan seperti intervening ataupun moderating dan
memperbanyak sampel penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Afiqoh, Luluk dan Nisful Laila. 2018. Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap
Risiko Kebangkrutan Bank Umum Syariah di Indonesia (Metode Altman Z-
Score Modifikasi). Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam. Vol.4. No.2.
Afriyeni, Endang dan Jumyetti. 2015. Pengaruh Rasio NPL dan Rasio ROA dalam
Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Perbankan yang
terdaftar di BEI. Jurnal Polibisnis. Vol.7. No.2.
Arifin, Zainul. 2002. Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah. Jakarta: AlvaBet.
Bawono, Anton dan Arya Fendha Ibnu Shina. 2018. Ekonometrika Terapan untuk
Ekonomi dan Bisnis Islam Aplikasi dengan Eviews.
Dwijayanti, S. P. F. 2010. Penyebab, Dampak, dan Prediksi dari Financial
Distress serta Solusi untuk Mengatasi Financial Distress. Jurnal Akuntansi
Kontemporer. Vol.2. No.2.
Effendi, Satrio Arga dan A Mulyo Haryanto. 2016. Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kondisi Financial Distress Bank Perkreditan Rakyat.
Diponegoro Journal Of Management. Vol.5. No.4.
Ekananda, M. 2006. Analisis Data Panel: Estimasi dengan Struktur Varian
Covarian Residual. Jakarta: Universitas Indonesia.
Fahmi, Irham. 2013. Pengantar Manajemen Keuangan. Bandung: CV Alfabeta.
Gujarati, D. 2012. Dasar-Dasar Ekonometrik. Jakarta: Salemba Empat.
Haq, Habbi Irsyada dan Puji Harto. 2019. Pengaruh Tingkat Kesehatan Bank
Berbasis RGEC terhadap Financial Distress. Diponegoro Journal Of
Accounting. Vol.8. No.3.
Hapsari, Evanny Indri. 2012. Kekuatan Rasio Keuangan dalam Memprediksi
Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur di BEI. Jurnal Dinamika
Manajemen. Vol.3. No.2.
Hidayat, Rahmat. 2014. Efisiensi Perbankan Syariah Teori dan Praktik. Bekasi:
Gramata Publishing.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2009. Standar Akuntansi Keuangan revisi 2009.
Jakarta:Selemba Empat
Kasmir. 2009. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Kasmir. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Kasmir. 2014. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: Rajawali Pers
Lemiyana dan Erdah Litriani. 2016. Pengaruh NPF, FDR, BOPO terhadap Return
on Assets Pada Bank Umum Syariah. Jurnal I-Economic. Vol.2. No.1.
Lukviarman, Niki dan Ayu Suci Ramdhani. 2009. Perbandingan Analisis Prediksi
Kebangkrutan menggunakan Model Altman Pertama, Altman Revisi, dan
Altman Modifikasi dengan Ukuran dan Umur Perusahaan sebagai Variabel
Penjelas. Jurnal Siasat Bisnis. Vol.13. No.1.
Maisarah,dkk. 2018. Analisis Rasio Keuangan untuk Memprediksi Kondisi
Financial Distress Perbankan Syariah di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan
Keuangan Unja. Vol.3. No.4.
Meliani, N.M. dan Bagus. 2017. RGEC sebagai Determinasi dalam
Menanggulangi Financial Distress pada Perusahaan Perbankan di BEI.
Jurnal Manajemen. Vol.6. No.1.
Nurcahyono dan Ketut Sudharma. 2014. Analisis Rasio Keuangan untuk
Memprediksi Kondisi Financial Distress. Management Analysis Journal.
Vol.1. No.3.
Oktarina, Eka. 2017. Analisis Prediksi Kebangkrutan dengan Metode Altman Z-
Score pada PT BRI Syariah. Skripsi diterbitkan. Palembang: Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Raden Patah.
Purnomo, Rochmat Aldy. 2017. Analisis Statistik Ekonomi dan Bisnis dengan
SPSS. Ponorogo: CV. Wade Group.
Rahmaniah, Melan dan Hendro Wibowo. 2015. Analisis Potensi Terjadinya
Financial Distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia. Jurnal Ekonomi
dan Perbankan Syariah. Vol.3. No.1.
Rahmat, Didi. 2019. Profitability Index dalam Financial Distress Mitigation Studi
pada Bank BUMN di Indonesia. Jurnal Integra Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi Indonesia Pontianak. Vol.9. No.2.
Ramadhani dan Lukviarman. 2009. Perbandingan Analisis Prediksi Kebangkrutan
Menggunakan Model Altman Pertama, Altman Revisi, dan Altman
Modifikasi dengan Ukuran dan Umur Perusahaan sebagai Variabel Penjelas
pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI. Jurnal Siasat Bisnis.
Vol.13. No.1.
Romdhoni, Abdul Haris dan Bunga Chairunisa Chateradi. 2018. Pengaruh CAR,
NPF dan FDR terhadap Profitabilitas Bank Syariah. Jurnal Edunomika.
Vol.2. No.2.
Sari, Eka Ratna. 2018. Akurasi Pengukuran Financial Distress Menggunakan
Metode Springate dan Zmijewski pada Perusahaan Property dan Real Estate
di BEI. Jurnal Manajemen Bisnis Indonesia. Vol.5. No.2.
Shihab, Quraish. 2002. Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al
Quran. Jakarta: Lentera Hati.
Soemitra, Andri. 2018. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana
(Devisi dari Prenada Media Group).
Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Suhadi, Arinna dan Rohmawati Kusumaningtias (2019). Pengaruh Rasio
Keuangan terhadap Kondisi Financial Distress Bank Umum Syariah di
Indonesia
Sumarlin. 2016. Analisis Pengaruh Inflasi, CAR, FDR, BOPO, Dan NPF terhadap
Profitabilitas Perbankan Syariah. Jurnal ASSETS. Vol.6. No.2.
Suryani dan Hendryadi. 2016. Metode Riset Kuantitatif Teori dan Aplikasi pada
Penelitian Bidang Manajemen dan Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana (Divisi
dari Prenada Media Group).
Wangsawidjaja. 2012. Pembiayaan Bank Syariah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Wijayanti, Kristina Nimas, dkk. 2018. Pengaruh Risk Profile, Good Corporate
Governance, Earnings, dan Capital terhadap Prediksi Financial Distress
pada Bank Perkreditan Rakyat.
Winarno,W. W. 2015. Analisis Ekonometrika dan Statistik dengan Eviews. Edisi
4. Yogyakarta: UPP STI YKPN.
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Yuliastary, Etta Citrawati dan Made Gede Wirakusuma. 2014. Analisis Financial
Distress dengan Metode Z-Score Altman, Springate, Zmijewski. Jurnal
Akuntansi Universitas Udayana. Vol.6. No.3.
Yusuf, Muhammad. 2017. Dampak Indikator Rasio Keuangan terhadap
Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia. Jurnal Keuangan dan
Perbankan. Vol.13. No.2.
Zahronyana, Baiq Defika, dan Dewa P.K. Mahardika. 2018. Capital Adequacy
Ratio, Non Performing Loan, Net Interest Margin, Biaya Operasional
Pendapatan Operasional dan Loan to Deposit Ratio terhadap Financial
Distress. Jurnal Riset Akuntansi Kotemporer. Vol.10. No.2.
Zulaikah, Siti dan Nisful Laila. 2016. Perbandingan Financial Distress Bank
Syariah di Indonesia dan Bank Islam di Malaysia sebelum dan sesudah
Krisis Global 2008 Menggunakan Model Altman Z-Score. Jurnal Ekonomi
Syariah Teori dan [Link].3. No.11.
LAMPIRAN
Z-Score BRI Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,73733132 0,014407199 0,006977601 0,364369465 5,313338345
2016 0,732618712 0,018755931 0,008618029 0,296536754 5,236399832
2017 0,752794183 0,018307833 0,004785695 0,286012183 5,330486039
2018 0,732487471 0,002811546 0,00399614 0,422587263 5,284854137
2019 0,762444031 0,00369395 0,002710008 0,428284561 5,481585163
Z-Score Muamalat
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,763691954 0,00508275 0,001904931 0,396618112 5,455639137
2016 0,749049645 0,004359845 0,00208759 0,381854988 5,342955108
2017 0,706362951 0,004562922 0,000976844 0,555339332 5,238286775
2018 0,753521325 0,007709579 0,00080042 0,414777108 5,409127905
2019 0,71034928 0,01017423 0,000517577 0,409147443 5,126142199
Z-Score BCA Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,892651082 0,015644242 0,007332233 2,67401087 8,763775346
2016 0,897766557 0,020990889 0,009856889 2,619736381 8,774740406
2017 0,858283125 0,025619524 0,010432959 1,522225389 7,382303091
2018 0,854700091 0,029882401 0,010248212 1,630503436 7,485145817
2019 0,780995103 0,032229674 0,009646985 1,63497692 7,009950118
Z-Score Bank Panin Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,86910074 0,021089359 0,010564926 1,373380389 7,283097876
2016 0,851723007 0,019410604 0,003168685 1,165639415 6,895796444
2017 0,887383028 -0,092574861 -0,112964613 0,419247768 5,200526574
2018 0,824450722 -0,088708309 0,002441255 1,952557594 7,185798356
2019 0,857809771 -0,068681818 0,001995944 2,903139932 8,465039043
Z-Score Bank Bukopin Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,823969265 -0,020865644 0,006978652 0,722501131 6,142739108
2016 0,777140691 -0,012661318 0,006814318 0,607593008 5,740531912
2017 0,721065523 -0,028737246 0,000185924 0,574444494 5,240922537
2018 0,698361297 -0,032186951 0,000240988 0,692985403 5,205574761
2019 0,812212476 -0,02996621 0,00037205 0,647919331 5,913239472
Z-Score BNI Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,854724069 0,026372134 0,013370947 0,669280971 6,485560833
2016 0,831369658 0,030428116 0,013180571 0,530777897 6,198870844
2017 0,804629555 0,031902875 0,011738034 0,575754395 6,065794957
2018 0,763233898 0,034764107 0,013404568 0,433440208 5,665336275
2019 0,733090651 0,036873236 0,016005307 0,362224514 5,417172823
Z-Score Mandiri Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,82688108 0,046078093 0,005316577 0,568013581 6,206696125
2016 0,830979475 0,045259902 0,005514328 0,569086895 6,23337016
2017 0,821966554 0,044737316 0,005540123 0,541527634 6,143777887
2018 0,830418805 0,0461485 0,008294933 0,555295953 6,236794171
2019 0,821270609 0,051769813 0,015272753 0,485287002 6,168489038
Z-Score BPD NTB Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,166983701 0,083382392 0,048122231 0,218554688 1,920103491
2016 0,153227269 0,079254791 0,040301172 0,196749814 1,740952684
2017 0,130718453 0,067214231 0,025509552 0,167715885 1,424157313
2018 0,932076407 0,089317552 0,007581008 3,505322438 10,13712938
2019 0,935173005 0,079417292 0,025968513 2,953170823 9,668973056
Z-Score Bank Victoria Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,888603639 0,001922957 -0,02318984 1,462597928 7,215400811
2016 0,823050712 -0,00953255 -0,017157558 0,837429787 6,132139044
2017 0,870095319 -0,0053098 0,003044736 1,436397016 7,219192837
2018 0,801558616 -0,001535581 0,002980149 1,051253762 6,377061578
2019 0,840615885 -0,00117606 0,000472357 1,606420317 7,200521822
Z-Score Maybank Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,790832372 -0,037602119 -0,224470716 2,739535306 6,433346312
2016 0,701344518 -0,170515051 -0,107492266 1,831816902 5,246000691
2017 0,732043636 -0,187418473 0,056044457 1,440069283 6,079913528
2018 0,940671872 -0,458973398 -0,097018939 4,02785437 8,251834021
2019 0,940812411 -0,316501845 0,107562222 4,96820009 11,07936163
Z-Score Bank Aceh Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,099565607 0,051331985 0,029872578 0,117378438 1,144483737
2016 0,846256019 0,058626804 0,005564584 0,700349839 6,515324201
2017 0,874381349 0,054375672 0,023557714 0,758824115 6,868279499
2018 0,847859359 0,059195616 0,023393697 0,642256969 6,586510564
2019 0,876578273 0,060234814 0,021728761 0,783244479 6,915142941
Z-Score BTPN Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,79096121 0,053356582 0,048264285 1,194376691 6,941079516
2016 0,768456827 0,094779341 0,075886476 1,192226763 7,111852657
2017 0,804887271 0,147436549 0,099240519 1,36328929 7,85905369
2018 0,824540514 0,195447566 0,107898441 1,950214761 8,81894786
2019 0,839036606 0,244544153 0,122098704 2,211234356 9,443593439
Z-Score Bank Mega Syariah
Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,756421541 0,004495542 0,003008618 0,935541884 5,979317667
2016 0,827531571 0,022270622 0,024000317 1,623603963 7,367275625
2017 0,751088501 0,029868329 0,013708854 0,924151405 6,086993793
2018 0,812135237 0,035111751 0,008275647 1,284192358 6,846085787
2019 0,82056798 0,038500982 0,008060456 1,286959074 6,913912442
Data Bank Umum Syariah Periode 2015-2019
No Nama Bank Tahun (X1) (X2) (X3) (X4) (X5) (Y)
1 Bank Muamalat Indonesia 2015 12,36 90,3 4,2 97,41 0,2 5,46
2016 12,74 95,13 1,4 97,76 0,22 5,34
2017 13,62 84,41 2,75 97,68 0,11 5,24
2018 12,34 73,18 2,58 98,24 0,08 5,41
2019 12,42 73,51 4,3 99,5 0,05 5,13
2 BTPN Syariah 2015 19,96 95,54 0,17 85,82 5,24 6,94
2016 23,8 92,75 0,2 75,14 8,98 7,11
2017 28,9 92,5 0,1 68,8 11,2 7,86
2018 40,9 95,6 0,02 62,4 12,4 8,82
2019 44,6 95,3 0,26 58,1 13,6 9,44
3 Bank Victoria Syariah 2015 16,14 95,29 4,82 119,19 -2,36 7,22
2016 15,98 100,67 4,35 131,34 -2,19 6,13
2017 19,29 83,59 4,08 96,02 0,36 7,22
2018 22,07 82,78 3,46 96,38 0,32 6,38
2019 19,44 80,52 2,64 99,8 0,05 7,2
4 BRI Syariah 2015 13,94 84,16 3,89 93,79 0,76 5,31
2016 20,63 81,42 3,19 91,33 0,95 5,24
2017 20,29 71,87 4,72 95,24 0,51 5,33
2018 29,72 75,49 4,97 95,32 0,43 5,28
2019 25,26 80,12 3,38 96,8 0,31 5,48
5 Bank Aceh Syariah 2015 19,44 84,05 0,81 76,07 2,83 1,14
2016 20,74 84,59 0,07 83,05 2,48 6,52
2017 21,5 69,44 0,04 78 2,51 6,87
2018 19,67 71,98 0,04 79,09 2,38 6,59
2019 18,9 68,64 0,04 76,95 2,33 6,92
6 BNI Syariah 2015 15,48 91,94 1,46 89,63 1,43 6,49
2016 14,92 84,57 1,64 86,88 1,44 6,2
2017 20,14 80,21 1,5 87,62 1,31 6,07
2018 19,31 79,62 1,52 85,37 1,42 5,67
2019 18,88 74,31 1,44 81,26 1,82 5,42
7 Bank Syariah Mandiri 2015 12,85 81,99 4,05 94,78 0,56 6,21
2016 14,01 79,19 3,13 94,12 0,59 6,23
2017 15,89 77,66 2,71 94,44 0,59 6,14
2018 16,26 77,25 1,56 90,68 0,88 6,24
2019 16,15 75,54 1 82,89 1,69 6,17
8 Bank Panin Syariah 2015 20,3 96,43 1,94 89,29 1,14 7,28
2016 18,17 91,99 1,86 96,17 0,37 6,9
-
2017 11,51 86,95 4,83 217,4 10,77 5,2
2018 23,15 88,82 3,84 99,57 0,26 7,19
2019 14,46 96,23 2,8 97,74 0,25 8,47
9 Bank Syariah Bukopin 2015 16,31 90,56 2,74 91,99 0,79 6,14
2016 15,15 88,18 4,66 109,62 -1,12 5,74
2017 19,2 82,44 4,18 99,2 0,02 5,24
2018 19,31 93,4 3,65 99,45 0,02 5,2
2019 15,25 93,48 4,05 99,6 0,04 5,91
10 BCA Syariah 2015 34,3 91,4 0,5 92,5 1 8,76
2016 36,7 90,1 0,2 92,2 1,1 8,77
2017 29,4 88,5 0,04 87,2 1,2 7,38
2018 24,3 89 0,28 87,4 1,2 7,49
2019 38,3 91 0,26 87,6 1,2 7,01
-
11 Maybank Syariah Indonesia 2015 38,4 110,54 4,93 192,6 20,13 6,43
2016 55,06 134,73 4,6 160,28 -9,51 5,25
2017 75,83 85,94 0 83,36 5,5 6,08
2018 163,07 424,92 0 199,97 -6,86 8,25
2019 241,84 506,6 0 84,7 11,15 11,08
12 BPD NTB Syariah 2015 27,59 117,62 1,33 67,19 4,37 1,92
2016 31,17 103,95 1,06 68,69 3,95 1,74
2017 30,87 180,42 0,55 78,1 2,45 1,42
2018 35,42 98,93 0,57 86,86 1,92 10,14
2019 35,47 81,89 0,61 76,83 2,56 9,67
13 Bank Mega Syariah 2015 18,74 98,49 3,16 99,51 0,3 5,98
2016 23,53 95,24 2,81 88,16 2,63 7,37
2017 22,19 91,05 2,95 89,16 1,56 6,09
2018 20,54 90,88 2,15 93,84 0,93 6,84
2019 19,96 94,53 1,72 93,71 0,89 6,91
HASIL OUTPUT
Hasil Uji Deskriptif
Date: 09/29/20
Time: 21:01
Sample: 2015 2019
X1 X2 X3 X4 X5 Y
Mean 28.67738 101.2203 2.134769 96.10431 1.136769 6.373385
Median 19.96000 89.00000 1.860000 92.20000 0.930000 6.230000
Maximum 241.8400 506.6000 4.970000 217.4000 13.60000 11.08000
Minimum 11.51000 68.64000 0.000000 58.10000 -20.13000 1.140000
Std. Dev. 33.80908 67.75546 1.678474 28.03188 4.732943 1.794642
Skewness 4.958427 5.097453 0.191805 2.788384 -1.044099 -0.493079
Kurtosis 29.11826 28.63872 1.630967 11.42944 9.710975 5.004320
Jarque-Bera 2113.874 2061.800 5.474650 276.6721 133.7856 13.51406
Probability 0.000000 0.000000 0.064743 0.000000 0.000000 0.001163
Sum 1864.030 6579.320 138.7600 6246.780 73.89000 414.2700
Sum Sq. Dev. 73155.47 293811.3 180.3056 50290.32 1433.648 206.1275
Observations 65 65 65 65 65 65
Hasil Uji Stasioneritas
Panel unit root test: Summary
Series: X1
Date: 09/29/20 Time: 21:02
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test
Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -2.29504 0.0109 13 52
Null: Unit root (assumes individual unit root process)
Im, Pesaran and Shin W-stat -0.19741 0.4218 13 52
ADF - Fisher Chi-square 22.6652 0.6518 13 52
PP - Fisher Chi-square 30.2014 0.2593 13 52
Panel unit root test: Summary
Series: X2
Date: 09/29/20 Time: 21:04
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test
Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -3.39471 0.0003 13 52
Null: Unit root (assumes individual unit root process)
Im, Pesaran and Shin W-stat -0.10555 0.4580 13 52
ADF - Fisher Chi-square 18.7513 0.8468 13 52
PP - Fisher Chi-square 22.8095 0.6437 13 52
Panel unit root test: Summary
Series: X3
Date: 09/29/20 Time: 21:05
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test
Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -738.957 0.0000 13 52
Null: Unit root (assumes individual unit root process)
Im, Pesaran and Shin W-stat -176.998 0.0000 13 52
ADF - Fisher Chi-square 45.9166 0.0093 13 52
PP - Fisher Chi-square 31.3770 0.2145 13 52
Panel unit root test: Summary
Series: X4
Date: 09/29/20 Time: 21:06
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test
Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -4.91057 0.0000 13 52
Null: Unit root (assumes individual unit root process)
Im, Pesaran and Shin W-stat -1.03162 0.1511 13 52
ADF - Fisher Chi-square 35.4660 0.1019 13 52
PP - Fisher Chi-square 44.9020 0.0121 13 52
Panel unit root test: Summary
Series: X5
Date: 09/29/20 Time: 21:06
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test
Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -8.73597 0.0000 13 52
Null: Unit root (assumes individual unit root process)
Im, Pesaran and Shin W-stat -1.57522 0.0576 13 52
ADF - Fisher Chi-square 38.0794 0.0595 13 52
PP - Fisher Chi-square 50.7643 0.0025 13 52
Panel unit root test: Summary
Series: Y
Date: 09/29/20 Time: 21:07
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test
Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -18.7408 0.0000 13 52
Null: Unit root (assumes individual unit root process)
Im, Pesaran and Shin W-stat -6.71822 0.0000 13 52
ADF - Fisher Chi-square 57.1935 0.0004 13 52
PP - Fisher Chi-square 61.3067 0.0001 13 52
Hasil Uji Model Regresi
Uji LM
Lagrange multiplier (LM) test for panel data
Date: 10/15/20 Time: 18:10
Sample: 2015 2019
Total panel observations: 65
Probability in ()
Null (no rand. effect) Cross-section Period Both
Alternative One-sided One-sided
Breusch-Pagan 0.073495 0.016111 0.089606
(0.7863) (0.8990) (0.7647)
Honda 0.271100 0.126929 0.281449
(0.3932) (0.4495) (0.3892)
King-Wu 0.271100 0.126929 0.245474
(0.3932) (0.4495) (0.4030)
GHM -- -- 0.089606
-- -- (0.6214)
Uji Chow
Redundant Fixed Effects Tests
Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 2.792681 (12,47) 0.0059
Cross-section Chi-square 34.986952 12 0.0005
Uji Hausman
Correlated Random Effects - Hausman Test
Equation: Untitled
Test cross-section random effects
Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 23.958683 5 0.0002
Uji Regresi Linier Berganda
Dependent Variable: Y
Method: Panel Least Squares
Date: 09/29/20 Time: 21:12
Sample: 2015 2019
Periods included: 5
Cross-sections included: 13
Total panel (balanced) observations: 65
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 10.24991 2.059018 4.978056 0.0000
X1 0.148716 0.030828 4.824085 0.0000
X2 -0.042378 0.010648 -3.979977 0.0002
X3 -0.376399 0.239642 -1.570674 0.1230
X4 -0.026598 0.020818 -1.277681 0.2076
X5 -0.432914 0.166777 -2.595769 0.0126
Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
R-squared 0.583523 Mean dependent var 6.373385
Adjusted R-squared 0.532883 S.D. dependent var 1.794642
S.E. of regression 1.351495 Akaike info criterion 3.669906
Sum squared resid 85.84726 Schwarz criterion 4.272044
Log likelihood -101.2719 Hannan-Quinn criter. 3.907488
F-statistic 3.873617 Durbin-Watson stat 1.838451
Prob(F-statistic) 0.000119
Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
20
Series: Standardized Residuals
Sample 2015 2019
16 Observations 65
12 Mean 8.39e-17
Median -0.072450
Maximum 3.638109
8 Minimum -3.723402
Std. Dev. 1.158172
4
Skewness -0.242724
Kurtosis 5.380354
0 Jarque-Bera 15.98389
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4
Probability 0.067338
Uji Multikolonieritas
X1 X2 X3 X4 X5
X1 1.000000 0.939296 -0.318874 0.179314 0.147543
X2 0.939296 1.000000 -0.227444 0.277013 0.047668
X3 -0.318874 -0.227444 1.000000 0.476725 -0.577117
X4 0.179314 0.277013 0.476725 1.000000 -0.843106
X5 0.147543 0.047668 -0.577117 -0.843106 1.000000
DX1 DX2 DX3 DX4 DX5
DX1 1.000000 0.755171 -0.081885 -0.092424 0.231295
DX2 0.755171 1.000000 0.061306 0.361220 -0.284789
DX3 -0.081885 0.061306 1.000000 0.439955 -0.453038
DX4 -0.092424 0.361220 0.439955 1.000000 -0.737775
DX5 0.231295 -0.284789 -0.453038 -0.737775 1.000000
Uji Heteroskedastisitas
Dependent Variable: RESABS
Method: Panel Least Squares
Date: 09/29/20 Time: 21:17
Sample: 2015 2019
Periods included: 5
Cross-sections included: 13
Total panel (balanced) observations: 65
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.478834 0.993029 -0.482196 0.6319
X1 0.009124 0.014868 0.613668 0.5424
X2 -0.005735 0.005135 -1.116838 0.2697
X3 0.125033 0.115575 1.081831 0.2848
X4 0.013282 0.010040 1.322963 0.1922
X5 0.073637 0.080434 0.915500 0.3646
Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
R-squared 0.514534 Mean dependent var 0.829422
Adjusted R-squared 0.338939 S.D. dependent var 0.801669
S.E. of regression 0.651802 Akaike info criterion 2.211456
Sum squared resid 19.96778 Schwarz criterion 2.813594
Log likelihood -53.87231 Hannan-Quinn criter. 2.449038
F-statistic 2.930242 Durbin-Watson stat 2.152893
Prob(F-statistic) 0.001845
Uji Autokorelasi
R-squared 0.583523 Mean dependent var 6.373385
Adjusted R-squared 0.532883 S.D. dependent var 1.794642
S.E. of regression 1.351495 Akaike info criterion 3.669906
Sum squared resid 85.84726 Schwarz criterion 4.272044
Log likelihood -101.2719 Hannan-Quinn criter. 3.907488
F-statistic 3.873617 Durbin-Watson stat 1.838451
Prob(F-statistic) 0.000119
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Siti Wulandari
Tempat, Tanggal Lahir : Grobogan, 15 November 1997
Fakultas/Prodi : FEBI/ S1 Perbankan Syariah
NIM : 63010160030
Alamat : Desa Karangpasar Rt 01 Rw 02, Kec. Tegowanu,
Kab. Grobogan, Jawa Tengah
Agama : Islam
Warga Negara : Indonesia
Orang Tua
Ayah : Sayuto Utomo
Ibu : Siti Rokanah
e-mail : sitiwulandari619@[Link]
No. Telp : 085866069689
Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri 1 Karangpasar (Lulus Tahun 2010)
2. SMP Negeri 1 Tegowanu (Lulus Tahun 2013)
3. SMA Negeri 1 Gubug (Lulus Tahun 2016)
4. IAIN Salatiga (Lulus Tahun 2020)
Pengalaman Organisasi :
1. 2018- Manager Loundry Koperasi Pondok Pesantren Edi
Mancoro
2. 2019- Sekretaris Koperasi Pondok Pesantren Edi Mancoro
Pelatihan :
1. 2018- Peserta Pelatihan Desaign Grafis dan Microsoft Office
yang diselenggarakan oleh Balai Latihan Kerja Pondok
Pesantren Edi Mancoro.
Salatiga,01 Oktober 2020
Penulis,
Siti Wulandari
NIM 63010160030