0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan128 halaman

Pengaruh CAR, FDR, NPF, BOPO, ROA pada Financial Distress

Diunggah oleh

Jamiatul Khoirina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan128 halaman

Pengaruh CAR, FDR, NPF, BOPO, ROA pada Financial Distress

Diunggah oleh

Jamiatul Khoirina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR),

FINANCING DEPOSIT RATIO (FDR), NON PERFORMING


FINANCING (NPF), BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN
OPERASIONAL (BOPO), DAN PROFITABILITAS (ROA)
TERHADAP FINANCIAL DISTRESS

(Studi Kasus pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode 2015-2019)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna


Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)

Disusun oleh:

Siti Wulandari (63010160030)

PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH (S-1)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

2020
ANALISIS PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR),
FINANCING DEPOSIT RATIO (FDR), NON PERFORMING
FINANCING (NPF), BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN
OPERASIONAL (BOPO), DAN PROFITABILITAS (ROA)
TERHADAP FINANCIAL DISTRESS
Studi Kasus pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode 2015-2019

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna


Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)

Disusun oleh:

Siti Wulandari (63010160030)

PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH (S-1)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

2020
ii
iii
iv
v
vi
MOTO

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

(Q.S. Asy Syarh ayat 5)

“Waktu bagaikan pedang. Jika engkau tidak memanfaatkannya dengan baik


(untuk memotong), maka ia akan memanfaatkanmu (dipotong)”

(HR. Muslim)

”Sejatining Urip Eling Marang Gusti”

(K.H. Mahfud Ridwan)

vii
PERSEMBAHAN
Skripsi ini Penulis persembahkan untuk:
Puji Syukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan kekuatan, membekali
dengan ilmu serta kemudahan dan kelancaran atas terselesainya skripsi yang
sederhana ini. Sholawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Baginda
Rasulullah Muhammad SAW.
Kedua orang tua Bapak Sayuto Utomo dan Ibu Siti Rokanah yang senantiasa
memberikan doa, semangat serta kasih sayang kepada penulis. Terimakasih juga
kepada adik-adik tercinta Asih Setyaningrum dan Dina Nur laila Rahma yang
selalu menemani berjuang untuk membahagiakan kedua orangtua.
Dosen, ustad ustadzah dan guru-guru semua, siapapun dimanapun berada,
terutama kepada Ibu Yusvita Nena Arinta, [Link]. yang senantiasa memberikan
semangat dan saran dalam penyelesaian skripsi ini.
Keluarga besar Pondok Pesantren Edi Mancoro, terimakasih telah menjadi
keluarga kedua yang senantiasa mendoakan dan mendukung dalam menuntut
ilmu.
Keluarga besar Institut Agama Islam Negeri Salatiga, terutama teman-teman
angkatan 2016 terimakasih telah mendukung dan menemani dalam menuntut ilmu
di kampus tercinta.
Teman-teman seperjuangan terutama Dwi Wahyuningsih, Maftuhah, Indah Dwi
Risniyanti, Nazun Afifah, Siti Qoniah, Yesi Asriyati, Nur Afifah, Anisa
Masruroh, Putri Lusiana Bela, Nurul Ermawati, Evi Rifqoh, Aprilia Nur
Ardhianticha, dan teman-teman yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu,
terimakasih telah mendukung dan meberikan semangat serta saran selama ini.
Teman-teman sejak kecil terutama Dyah Septiani, Juliana Nur Laili, Puput
Wijayanti, Abdul Maulana Haq, dan Dedi Lugiantoro yang senantiasa menjadi
teman terbaik yang senantiasa memberikan doa dan dukungannya.
Teman-teman tercinta dari kamar 9 tahun 2019 dan kamar 20 tahun 2020 Pondok
Pesantren Edi Mancoro yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terimakasih
telah mendampingi dalam suka maupun duka, dan yang senantiasa memberikan
semangat dan doanya.
Teman-teman Koperasi Pondok Pesantren Edi Mancoro, terimakasih telah
memberikan semangat serta mendoakan untuk kelancaran skripsi ini dan
pengalaman yang sangat berharga.

viii
KATA PENGANTAR
Tiada kata terindah yang dapat penulis sampaikan, selain ucapan
Alhamdulillah hirrobil’alamin dengan penuh rasa syukur Kehadirat Allah SWT,
karena dengan rahmat, hidayat serta pertolongan-Nya penulis dapat
menyelesaikan penelitian yang berjudul “Analisis Pengaruh Capital Adequacy
Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF),
Biaya Operasional Pendapatan Operasional dan Return On Assets (ROA)
terhadap Financial Distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2015-
2019” dengan lancar. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, yang selalu kita nantikan syafaat-Nya.

Penelitian ini disusun sebagai salah satu tugas mahasiswa dalam


mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu berupa penelitian. Ucapan
terimakasih sebesar-besarnya peneliti ucapkan kepada semua pihak yang telah
memberikan pengarahan, bimbingan dan bantuan dalam berbagai bentuk. Ucapan
terimakasih terutama penulis sampaikan kepada:

1) Prof. Dr. Zakiyuddin, [Link]. selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri
Salatiga.
2) Dr. Anton Bawono, [Link]. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Islam IAIN Salatiga.
3) Ari Setiawan, M.M. selaku Ketua Program Studi S1 Perbankan Syariah.
4) Yusvita Nena Arinta, [Link]. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
membimbing penulis, memberikan pengarahan, saran sehingga penulis
dapat menyelesaikan penelitian ini.
5) Segenap dosen dan staff Program Studi S1 Perbankan Syariah yang telah
memberikan bekal berbagai teori, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang
sangat bermanfaat bagi Penulis.
6) KH. Muhammad Hanif, [Link]. dan segenap keluarga besar Pondok
Pesantren Edi Mancoro yang senantiasa mendoakan, membimbing dan
memberikan dukungannya.

ix
7) Teman-teman seperjuangan Program Studi S1 Perbankan Syariah tahun
angkatan 2016 yang penulis banggakan.
8) Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata


sempurna, maka penulis sangat mengharapkan saran maupun kritikan
demi sempurnanya skripsi ini. Mudah-mudahan skripsi ini dapat
memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca bagi
umumnya, dan kiranya skripsi ini dapat menjadi salah satu bentuk
sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang
ekonomi Islam.

Salatiga, 01 Oktober 2020


Penulis

Siti Wulandari
NIM. 63010160030

x
ABSTRAK
Wulandari, Siti. 2020. Analisis Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR),
Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Biaya
Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Profitabilitas (ROA)
terhadap Financial Distress Studi Kasus pada Bank Umum Syariah di
Indonesia Periode 2015-2019. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Strata Satu Perbankan Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Salatiga. Dosen Pembimbing: Yusvita Nena Arinta, [Link].
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Capital Adequacy
Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF),
Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Profitabilitas (ROA)
terhadap Financial Distress Studi Kasus pada Bank Umum Syariah di Indonesia
Periode 2015-2019. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif data
sekunder berbentuk data panel dengan teknik purposive sampling. Sampel yang
digunakan sebanyak 13 Bank Umum Syariah yang terdaftar di Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) pada periode 2015-2019. Metode pengumpulan data dilakukan
dengan mengakses laporan tahunan yang telah dipublikasikan oleh masing-masing
BUS pada websitenya masing-masing. Data yang diperoleh kemudian diolah
dengan menggunakan aplikasi Eviews 10. Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi uji deskriptif, uji stasioner, uji regresi, uji asumsi klasik,
dan uji regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan variabel Capital
Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif signifikan terhadap Financial Distress,
variabel Financing Deposit Ratio (FDR) dan Return On Assets (ROA)
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Financial Distress, sedangkan Non
Performing Financing (NPF), dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional
(BOPO) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Financial Distress.
Kata Kunci: Capital Adequacy Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR),
Non Performing Financing (NPF), Biaya Operasional Pendapatan
Operasional (BOPO), Return On Assets (ROA) dan Financial
Distress.

xi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i

PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................................... ii

PENGESAHAN SKRIPSI ..................................................................................... iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ............................................................. iv

PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT.......................................................................v

PERNYATAAN PUBLIKASI SKRIPSI ............................................................... vi

MOTTO ................................................................................................................ vii

PERSEMBAHAN ................................................................................................ viii

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix

ABSTRAK ............................................................................................................. xi

DAFTAR ISI ......................................................................................................... xii

DAFTAR TABEL ..................................................................................................xv

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1

A. LATAR BELAKANG ................................................................................. 1

B. RUMUSAN MASALAH ........................................................................... 10

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN .......................................... 11

1. TUJUAN PENELITIAN ........................................................................ 11

2. KEGUNAAN PENELITIAN ................................................................. 12

D. SISTEMATIKA PENULISAN .................................................................. 13

BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................14

1. Teori Sinyal ............................................................................................ 14

xii
2. Teori Kebangkrutan Islami ..................................................................... 15

3. Financial Distress .................................................................................. 17

4. Model Altman Z-Score Modifikasi ........................................................ 23

5. Perbankan Syariah .................................................................................. 24

6. Laporan Keuangan.................................................................................. 27

7. Rasio Keuangan ...................................................................................... 28

8. Capital Adequacy Ratio (CAR) .............................................................. 29

9. Financing Deposit Ratio (FDR) ............................................................. 30

10. Non Performing Financing (NPF) ...................................................... 32

11. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) ......................... 34

12. Return on Assets (ROA) ..................................................................... 35

B. Telaah Pustaka ........................................................................................... 37

C. Kerangka Pemikiran ................................................................................... 43

D. HIPOTESIS ................................................................................................ 45

BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................50

A. Jenis Penelitian ........................................................................................... 50

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................... 50

C. Populasi dan Sampel .................................................................................. 50

D. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................... 53

E. Definisi Konsep dan Operasional............................................................... 54

1. Variabel Independen............................................................................... 54

2. Variabel dependen .................................................................................. 56

F. Teknik Analisis Data .................................................................................. 59

1. Analisis Statistik Deskriptif.................................................................... 59

2. Uji Stasioneritas...................................................................................... 59
xiii
3. Uji Regresi .............................................................................................. 59

4. Uji Asumsi Klasik .................................................................................. 61

5. Uji Regresi Data Panel ........................................................................... 62

6. Alat Analisis ........................................................................................... 63

BAB IV ANALISIS DATA ...................................................................................64

A. Deskriptif Objek Penelitian ........................................................................ 64

1. Deskripsi Data ........................................................................................ 64

2. Deskriptif Statistik .................................................................................. 64

B. Analisis Data .............................................................................................. 71

1. Uji Stasioneritas...................................................................................... 71

2. Uji Model Regresi .................................................................................. 72

3. Uji Statistik ............................................................................................. 76

4. Uji Asumsi Klasik .................................................................................. 76

5. Pembahasan Hipotesis ............................................................................ 81

BAB V PENUTUP.................................................................................................89

A. Kesimpulan ................................................................................................ 89

B. Keterbatasan Penelitian .............................................................................. 90

C. Saran........................................................................................................... 91

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................92

LAMPIRAN ...........................................................................................................95

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Kriteria Penilaian Peringkat CAR ..........................................................30

Tabel 1.2 Kriteria Penilaian Peringkat LDR ..........................................................32

Tabel 1.3 Kriteria Penilaian Peringkat NPL ..........................................................34

Tabel 1.4 Kriteria Penilaian Peringkat BOPO .......................................................35

Tabel 1.5 Kriteria Penilaian ROA ..........................................................................36

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ..............................................................................37

Tabel 3.1 Hasil Penentuan Sampel ........................................................................52

Tabel 3.2 Daftar BUS yang dijadikan Sampel .......................................................52

Tabel 4.1 Deskriptif Statistik CAR ........................................................................65

Tabel 4.2 Deskriptif Statistik FDR ........................................................................66

Tabel 4.3 Deskriptif Statistik NPF .........................................................................67

Tabel 4.4 Deskriptif Statistik BOPO......................................................................68

Tabel 4.5 Deskriptif Statistik ROA ........................................................................69

Tabel 4.6 Deskriptif Statistik Financial Distress ...................................................70

Tabel 4.7 Rangkuman Uji Stasioner .....................................................................71

Tabel 4.8 Hasil Uji Chow ......................................................................................72

Tabel 4.9 Hasil Uji Hausman .................................................................................73

Tabel 4.10 Hasil Uji LM ........................................................................................73

Tabel 4.11 Hasil Uji Regresi Data Panel ...............................................................74

Tabel 4.12 Hasil Uji Multikolonieritas ..................................................................79

Tabel 4.13 Hasil Uji Heteroskedastisitas ...............................................................80

Tabel 4.14 Hasil Uji Autokorelasi .........................................................................81

Tabel 4.15 Hasil Penelitian ....................................................................................88


xv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Grafik Diagram Kinerja Keuangan 2

Gambar 2.1 Kerangka Penelitian 43

Gambar 3.1 Hasil Uji Normalitas 78

xvi
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Perbankan memiliki peranan yang penting dikehidupan

masyarakat, hampir semua aktivitas ekonomi dilakukan melalui lembaga

perbankan. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang

perbankan, yang dimaksud dengan Bank adalah badan usaha yang

menghimpun dana dalam masyarakat dalam bentuk simpanan dan

menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-

bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Dapat disimpulkan bahwa bank merupakan lembaga intermediasi antara

pihak surplus dana dengan pihak defisit dana dengan memberikan jasa

keuangan yaitu berupa menghimpun dana dan menyalurkan dana.

Kegiatan menghimpun dana dapat berbentuk giro, tabungan, sertifikat

deposito dan deposito berjangka. Sedangkan kegiatan menyalurkan dana

dapat berbentuk pinjaman atau kredit (Kasmir, 2014).

Selain perbankan konvensional, juga ada perbankan syariah yang

ikut serta dalam membangun perekonomian di Indonesia. Bank syariah

dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang

perbankan syariah, bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan

usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri dari

Bank Umum, Unit Usaha Syariah, dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, bank syariah tidak menerapkan

1
2

sistem bunga, tetapi menerapkan aturan bagi hasil atas imbalan yang bank

berikan kepada nasabah yang telah menghimpun dan menyalurkan

dananya sesuai dengan kesepakatan.

Gambar 1.1 Grafik Diagram Batang Kinerja Keuangan


Bank Syariah dengan Bank Konvensional

Dilihat dari gambar 1.1 bahwa perbankan syariah masih kesulitan

dalam bersaing dengan bank konvensional. Berdasarkan data Statistik

Perbankan Syariah (SPS) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kondisi

pembiayaan bermasalah (NPF) pada bank syariah memang jauh lebih

tinggi dari bank konvensional. NPF bank syariah pada akhir Maret berada

3,44%, sedangkan kredit bermasalah perbankan konvensional (NPL)

berada pada level 2,5%. Pada periode sebelumnya, NPF bank syariah lebih

besar lagi yaitu terjadi pada akhir 2017 NPF nya mencapai 4,76% dan

2016 yang mencapai 4,42%. Hal tersebut dapat mempengaruhi

profitabilitas perbankan syariah yang tercatat hanya Rp 5,12 triliun pada


3

periode 2018. Dengan tingkat aset sebesar Rp 316,691 triliun, maka

Return On Assets (ROA) tercatat hanya 1,28%. Sedangkan ROA

perbankan konvensional 2,55% di akhir Desember 2018. Menurut ketua

Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengatakan

perlambatan kinerja keuangan perbankan syariah ini terjadi karena adanya

masalah penguatan modal, likuiditas dan efisiensi (CNBC Indonesia

2019).

Dengan kondisi kinerja keuangan bank syariah yang mengalami

perlambatan maka akan mengakibatkan risiko yang akan ditanggung oleh

bank syariah. Dalam Kasmir (2009:343) risiko adalah potensi kerugian

akibat terjadinya suatu peristiwa (events), tertentu. Risiko dalam konteks

perbankan merupakan kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan

(expected) maupun yang tidak dapat diperkirakan (unexpected) yang

berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank. Salah satu

risiko yang akan dihadapi oleh bank syariah yaitu terkait risiko

kebangkrutan. Menurut Oktarina (2017) risiko kebangkrutan adalah

kegagalan yang dialami perusahaan yang dalam menjalankan aktivitas

operasi perusahaan untuk menghasilkan laba.

Sebelum mengalami kebangkrutan, bank terlebih dahulu akan

mengalami kesulitan keuangan atau yang biasa disebut dengan financial

distress. Financial distress adalah suatu kondisi dimana arus kas operasi

perusahaan tidak memadai untuk melunasi kewajiban-kewajiban lancar

seperti hutang dagang atau beban bunga dan perusahaan terpaksa


4

melakukan tindakan perbaikan. Financial distress merupakan suatu

kondisi dimana keuangan perusahaan dalam keadaan tidak sehat atau

krisis (Hapsari, 2012).

Menurut Abrori (2015) salah satu cara yang dapat digunakan

untuk menghindari risiko financial distress hingga terjadinya

kebangkrutan adalah dengan cara menganalisis laporan keuangan yang

dimiliki perusahaan. Analisis laporan keuangan tersebut dapat dilakukan

dengan berbagai model. Beberapa model yang digunakan untuk

memprediksi financial distress telah dikembangkan oleh para peneliti

terdahulu, diantaranya diperkenalkan oleh Edward Altman pada tahun

1968, Springate pada tahun 1978, Ohlson pada tahun 1980, dan Zmijewski

pada tahun 1983 (Zahronyana dan Mahardika, 2018). Tetapi dalam

penelitian ini financial distress pada bank syariah akan diukur dengan

metode Altman Z-score Modifikasi yang mengacu pada rasio-rasio

keuangan yang dimiliki perbankan yang diperoleh dari laporan neraca dan

laporan laba rugi. Rasio tersebut adalah Working Capital to Total Assets,

Retained Earning to Total Assets, Earning Before Interest and Taxes to

Total Assets,dan Book Value of Equity to Book Value of Total Liabilities.

Menurut Lukviarman dkk (2009) model Altman Z-score merupakan salah

satu pengukuran kinerja kebangkrutan bersifat tidak stagnan melainkan

berkembang dari waktu ke waktu, seiring dengan kondisi di mana metode

tersebut diterapkan. Metode Altman Z-score Modifikasi merupakan

metode terbaru dari Altman Z-score yang dapat digunakan untuk


5

menentukan risiko kebangkrutan pada perusahaan di bidang jasa, sehingga

metode ini lebih efektif untuk menghitung risiko kebangkrutan pada bank

(Afiqoh dan Laila: 2018).

Penanganan sejak dini terhadap risiko sangat perlu dilakukan. Oleh

sebab itu selain mengukur potensi terjadinya kebangkrutan, bank syariah

juga harus mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi

terjadinya kebangkrutan. Sehingga bank syariah dapat mengetahui upaya

yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya potensi kebangkrutan

tersebut. Menurut Ben dkk (2015) dalam Afiqoh dan Laila (2018) faktor

penyebab kebangkrutan terbagi menjadi dua faktor yaitu, faktor eksternal

meliputi kondisi ekonomi, politik, bencana alam serta faktor internal

meliputi kinerja perusahaan, kebijakan perusahaan, dan budaya

perusahaan.

Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi financial

distress sudah dilakukan beberapa peneliti, akan tetapi dari penelitian yang

sudah dilakukan masih terdapat perbedaan hasil penelitian. Dalam

penelitian ini faktor-faktor rasio keuangan yang diduga berpengaruh

terhadap financial distress pada bank syariah yaitu Capital Adequacy

Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing

(NPF), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Return

On Assets (ROA).

Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah nisbah antara modal dengan

aset. CAR bank syariah mengalami kenaikan dari 20,39 % pada akhir
6

tahun 2018 menjadi 20,59 % diakhir tahun 2019. CAR digunakan

mengukur tingkat kecukupan modal atau stabilitas keuangan bank.

Semakin tinggi nilai CAR maka semakin baik keadaan suatu bank

(Hidayat, 2014:70). Dengan kata lain jika keadaan CAR pada bank baik

maka bank akan dapat menanggulangi terjadinya risiko financial distress.

Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Zahronyana dan

Mahardika (2018) bahwa CAR memiliki pengaruh negatif terhadap

financial distress. sedangkan penelitian yang dilakukan Maisarah dkk

(2018) bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif

terhadap financial distress.

Financing Deposit Ratio (FDR) merupakan kemampuan bank

syariah dalam melaksanakan fungsi perantara perbankan syariah diantara

pihak yang kelebihan modal dengan pihak kekurangan modal. FDR bank

syariah yang tinggi menunjukkan bahwa bank syariah telah melaksanakan

fungsi perantara secara optimum. Dengan kata lain bahwa seluruh dana

yang dihimpun dari masyarakat dapat disalurkan oleh bank syariah

(Hidayat, 2014:121). FDR bank syariah mengalami penurunan dari

78,53% diakhir tahun 2018 menjadi 77,91%. Bank Indonesia menetapkan

FDR yang ideal berkisar antara 78% sampai 100%. Semakin tinggi dana

yang disalurkan oleh bank dalam bentuk pembiayaan,maka semakin tinggi

juga kemampuan suatu bank dalam memberikan pinjaman. Hal ini

mempunyai dampak pada peningkatan pendapatan bank, jadi keuntungan

perbankan syariah semakin meningkat. Tetapi, apabila pembiayaan yang


7

disalurkan oleh bank rendah, maka dapat dikatakan bahwa tingkat

likuiditasnya terlalu tinggi sehingga hal ini dapat menimbulkan

menimbulkan kesulitan keuangan pada bank (Rahim, 2008). Hasil

penelitian dari Maisarah dkk (2018) bahwa LDR memiliki pengaruh

negatif terhadap financial distress. Hasil penelitian ini juga didukung dari

hasil penelitian Haq dan Harto (2019). Sedangkan penelitian dari Afiqoh

dan Laila (2018) bahwa FDR memiliki pengaruh positif terhadap financial

distress. Hal ini didukung dari hasil penelitian Zahronyana dan Mahardika

(2018).

Non Performing Financing (NPF) atau Non Performing Loan

(NPL) adalah pembiayaan non lancar mulai dari kurang lancar sampai

dengan macet (Wangsawidjaja, 2012:90). Menurut Haq dan Harto (2019)

semakin kecil nilai NPL maka semakin kecil juga risiko kredit yang

ditanggung oleh bank. NPF bank syariah mengalami penurunan dari

3,26% diakhir tahun 2018 menjadi 3,23% diakhir 2019. Bank Indonesia

menetapkan rasio NPL net dibawah 5%. Semakin tinggi rasio ini maka

semakin rendah kualitas kredit bank yang menyebabkan kredit bermasalah

semakin besar dan bank akan mengalami penurunan kesehatan keuangan

(financial distress). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari Afriyeni

dan Jumyetti (2015) bahwa NPL memiliki pengaruh positif dan signifikan

terhadap financial distress. hal ini juga didukung dari hasil penelitian

Wijayanti dkk (2018). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Effendi


8

dan Haryanto (2016) bahwa NPL memiliki pengaruh negatif terhadap

financial distress pada bank.

Menurut Yusuf (2017) Biaya Opeasional Pendapatan Operasional

(BOPO) digunakan untuk mengatur perbandingan biaya operasional

terhadap pendapatan operasional yang diperoleh bank. Rasio BOPO bank

syariah mengalami penurunan dari 89,18% diakhir tahun 2018 menjadi

84,85% diakhir tahun 2019. Semakin kecil rasio BOPO, maka semakin

baik kondisi suatu bank. Jika suatu bank memiliki rasio BOPO yang tinggi

maka bank tersebut tidak dapat beroperasi dengan efisien karena tingginya

rasio ini menunjukkan besarnya jumlah biaya operasional yang harus

dikeluarkan oleh pihak bank untuk memperoleh pendapatan operasional.

Jumlah operasional yang besar akan memperkecil keuntungan yang akan

menjadikan kesulitan keuangan pada bank. Hal ini sesuai dengan hasil

penelitian Maisarah dkk (2018) bahwa BOPO memiliki pengaruh positif

terhadap financial distress. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh

Zahronyana dan Mahardika (2018) bahwa BOPO tidak berpengaruh

terhadap financial distress.

Return On Assets (ROA) merupakan perbandingan kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah seluruh aktiva

harta yang dimiliki suatu perusahaan dalam periode tertentu (Kasmir,

2012: 119). ROA bank syariah mengalami peningkatan dari 1,28% diakhir

tahun 2018 menjadi 1,73% diakhir tahun 2019. Menurut Meilani dan

Bagus (2017) semakin besar nilai ROA, maka semakin rendah suatu bank
9

mengalami financial distress. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari

Afriyeni dan Jumyetti (2015) bahwa ROA memiliki pengaruh negatif

terhadap financial distress. hasil penelitian ini juga didukung oleh

penelitian Haq dan Harto (2019). Sedangkan penelitian yang dilakukan

oleh Afiqoh dan Laila (2018) bahwa ROA tidak berpengaruh terhadap

financial distress. hal ini didukung oleh hasil penelitian dari Rahmat

(2019) dan Wijayanti dkk (2018).

Berdasarkan latarbelakang di atas terdapat perbedaan hasil

penelitian mengenai pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Financing

Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Biaya

Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Return On Assets

(ROA) terhadap financial distress pada bank. Maka penulis tertarik

melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Pengaruh Capital

Adequacy Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non

Performing Financing (NPF), Biaya Operasional Pendapatan

Operasional (BOPO) dan Profitabilitas (ROA) terhadap Financial

Distress (Studi Kasus pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode

2015-2019)”
10

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana analisis pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR)

terhadap Financial Distress pada Bank Umum Syariah di

Indonesia pada tahun 2015-2019 ?

2. Bagaimana analisis pengaruh Financing Deposit Ratio (FDR)

terhadap Financial Distress pada Bank Umum Syariah di

Indonesia pada tahun 2015-2019 ?

3. Bagaimana analisis pengaruh Non Performing Financing (NPF)

terhadap Financial Distress pada Bank Umum Syariah di

Indonesia pada tahun 2015-2019 ?

4. Bagaimana analisis pengaruh Biaya Operasional Pendapatan

Operasional (BOPO) terhadap Financial Distress pada Bank

Umum Syariah di Indonesia pada tahun 2015-2019 ?

5. Bagaimana analisis pengaruh profitabilitas (ROA) terhadap

Financial Distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia pada

tahun 2015-2019 ?
11

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN

1. TUJUAN PENELITIAN

a. Untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio

(CAR) terhadap Financial Distress pada Bank Umum

Syariah di Indonesia pada tahun 2015-2019.

b. Untuk mengetahui pengaruh Financing Deposit Ratio

(FDR) terhadap Financial Distress pada Bank Umum

Syariah di Indonesia pada tahun 2015-2019.

c. Untuk mengetahui pengaruh Non Performing Financing

(NPF) terhadap Financial Distress pada Bank Umum

Syariah di Indonesia pada tahun 2015-2019.

d. Untuk mengetahui pengaruh Biaya Operasional Pendapatan

Operasional (BOPO) terhadap Financial Distress pada

Bank Umum Syariah di Indonesia pada tahun 2015-2019.

e. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas (ROA) terhadap

Financial Distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia

pada tahun 2015-2019.


12

2. KEGUNAAN PENELITIAN

a. Bagi Perbankan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi koreksi dan

pertimbangan dalam mengambil keputusan oleh pihak bank

untuk meningkatkan kinerja keuangannya sehingga tidak

terjadi kebangkrutan.

b. Bagi Peneliti

Peneliti dapat menanbah ilmu pengetahuan dan

wawasan dalam memprediksi financial distress pada Bank

Umum Syariah di Indonesia.

c. Bagi Lembaga Institut Agama Islam Negeri Salatiga

Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan bacaan

untuk menambah pengetahuan mengenai Financial Distress

serta dapat menambah daftar kepustakaan IAIN Salatiga.

d. Bagi pihak lain

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan

pertimbangan dan referensi bagi penelitian berikutnya yang

tertarik untuk meneliti kajian yang sama diwaktu yang akan

datang.
13

D. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan bertujuan untuk menggambarkan alur

pemikiran penulis dari awal sampai akhir. Adapun rencana sistematika

penulisan dalam penelitian ini adalah:

BAB I PENDAHULUAN, dalam bab ini akan diuraikan tentang

latarbelakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, dan diakhiri dengan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI, merupakan uraian tentang teori-teori

yang melandasi penelitian, hasil penelitian terdahulu, kerangka penelitian,

dan hipotesis.

BAB III METODE PENELITIAN, berisi tentang definisi

operasional variabel penelitian yang digunakan, populasi dan sampel, jenis

dan sumber data, metode pengumpulan data, dan metode analisis data

yang digunakan untuk menguji kebenaran penelitian.

BAB IV ANALISIS DATA, bab ini akan digambarkan dan

dijelaskan tentang deskripsi objek penelitian, analisis data penelitian, dan

interpretasi dari hasil analisis data penelitian.

BAB V PENUTUP, dalam bab ini akan diuraikan kesimpulan dan

keterbatasan penelitian serta saran untuk penelitian berikutnya.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kerangka Teori

1. Teori Sinyal

Teori yang menjelaskan pentingnya pengukuran kinerja

adalah teori sinyal (signalling theory) (Sumarlin: 2016). Teori

sinyal pertama kali diperkenalkan oleh Spence di dalam

penelitiannya Job Marke Signaling. Spence mengatakan bahwa

isyarat atau signal memberikan suatu sinyal, pihak pengirim

(pemilik informasi) berusaha memberikan potongan informasi

releven yang dapat dimanfaatkan oleh pihak penerima. Pihak

penerima kemudian akan menyesuaikan perilakunya sesuai dengan

yang dipahami terhadap sinyal tersebut.

Signalling theory mengemukakan tentang bagaimana

seharusnya suatu perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna

laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang

sudah dilakukan oleh manajemen untuk mewujudkan keinginan

pemilik, sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang

menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada

perusahaan lain.

Dalam kerangka teori sinyal disebutkan bahwa dorongan

perusahaan untuk memberikan informasi yaitu karena adanya

asimetri informasi antara manajer perusahaan dengan pihak luar.

14
15

Kurangnya informasi bagi pihak luar mengenai perusahaan dapat

mengakibatkan mereka melindungi diri mereka dengan

memberikan harga yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan

dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi

informasi asimetri. Salah satu cara untuk mengurangi informasi

asimetri yaitu dengan memberikan sinyal pada pihak luar

(Arifin:2002).

Para investor sangat membutuhkan informasi sebagai alat

analisis secara lengkap, jelas, akurat dan tepat waktu untuk

mengambil keputusan investasi dengan cara perusahaan

mempublikasikan laporankeuangan. Jika laporan yang

dipublikasikan perusahaan tersebut mendapat nilai positif, maka

pasar akan memiliki reaksi seiring dengan apa yang sudah

dipublikasikan oleh perusahaan tersebut (Suhadi dan

Kusumaningtias: 2019).

2. Teori Kebangkrutan Islami

Risiko kebangkrutan harus dapat dicegah dan dihindari oleh

bank syariah agar bank syariah tetap survive dan berkembang di

Indonesia. Bank syariah harus mengetahui seberapa besar risiko

kebangkrutan yang mungkin harus dihadapi dan mengetahui

faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya risiko

kebangkrutan. Oleh sebab itu bank syariah harus mempunyai

manajemen yang efektif dan efisien serta mampu mencegah risiko


16

terjadinya kebangkrutan sebaik mungkin. Hal ini tercantum dalam

surah Al-Yusuf ayat 46-49 yang berbunyi:

ِّ‫سبْع‬
َ ََّّ ‫اف‬ َ ‫ان يَّأ ْ ُكلُ ُه َّن‬
ٌ ‫س ْب ٌع ِّع َج‬ ٍ ‫ت ِّس َم‬ َ ‫الص ِّدي ُْق أ َ ْفتِّنَا فِّ ْي‬
ٍ ‫سب ِّْع بَقَ ٰر‬ ِّ ‫ف أَيُّ َها‬
ُ ‫س‬
ُ ‫ي ُْو‬

٦٤ َ‫اس لَعَلَّ ُه ْم يَ ْعلَ ُم ْون‬ ٍ ٍۙ ٰ‫ت ُخض ٍْر ََّّأُخ ََر ٰي ِّبس‬
ِّ َّ‫ت لَّعَ ِّل ْي أَ ْر ِّج ُع ِّإلَى الن‬ ٍ ‫س ْنب ُٰل‬
ُ

‫س ْنبُ ِّل ٖه ِّإ ََّّل قَ ِّل ْي ًل‬ َ ‫س ْب َع ِّس ِّنيْنَ دَأَب ًۚا فَ َما َح‬
ُ ‫صدْت ُّ ْم فَذَ ُر َّْهُ ِّف ْي‬ ُ ‫قَا َل ت َْز َر‬
َ َ‫ع ْون‬

٦٤ َ‫ِّم َّما ت َأ ْ ُكلُ ْون‬

ِّ ‫س ْب ٌع ِّشدَاد ٌ يَّأ ْ ُك ْلنَ َما قَد َّْمت ُ ْم لَ ُه َّن إِّ ََّّل قَ ِّلي ًْل ِّم َّما تُح‬
٦٤ َ‫ْصنُ ْون‬ َ ‫ث ُ َّم يَأْتِّ ْي ِّم ْن بَعْ ِّد ٰذ ِّل َك‬

٦٤ؑ َ‫ص ُر َّْن‬ ُ َّ‫َاث الن‬


ِّ ‫اس ََّفِّ ْي ِّه يَ ْع‬ َ ‫ث ُ َّم يَأْتِّ ْي ِّم ْن بَعْ ِّد ٰذ ِّل َك‬
ُ ‫عا ٌم فِّ ْي ِّه يُغ‬

Artinya: “(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia

berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah

kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk

yang dimakanoleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan

tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering

agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka

mengetahuinya. Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh

tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai

hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu

makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat

sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk

menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum)

yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang
17

padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu

mereka memeras anggur.” (QS. 12:46-49)

Menurut Shihab (2002) berdasarkan Surah Yusuf ayat 46-

49 menjelaskan mengenai kisah Nabi Yusuf yang mengisahkan

pada tujuh tahun kedua pada zaman beliau akan terjadi kekeringan

yang dahsyat. Ini merupakan risiko yang menimpa negeri Yusuf

tersebut. Namun Nabi Yusuf telah melakukan pengukuran dan

pengendalian atas risiko yang akan terjadi pada tujuh tahun kedua

tersebut melalui mimpinya. Oleh karena itu, umat manusia

diperintahkan agar selalu berusaha untuk mempersiapkan apa yang

mungkin terjadi dimasa yang akan datang yang menimbulkan

dampak kerugian. Karena manusia tidak dapat mengetahui secara

pasti apa yang akan terjadi kedepannya.

3. Financial Distress

a. Pengertian Financial Distress

Financial distress terjadi sebelum kebangkrutan. Yang

dimaksud kebangkrutan yaitu suatu keadaan dimana

perusahaan mengalami kegagalan atau tidak mampu dalam

memenuhi kewajiban-kewajiban debitur karena perusahaan

mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk

menjalankan usahanya (Rahmaniah dan Wibowo:2015).

Sedangkan menurut Haq dan Harto (2019) Kebangkrutan

merupakan kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi


18

perusahaan untuk menghasilkan keuntungan atau laba.

Menurut Martin (1995) dalam Haq dan Harto (2019)

kebangkrutan dapat didefinisikan menjadi beberapa pengertian

yaitu:

1) Kegagalan Ekonomi (economic distressed)

Kegagalan dalam arti ekonomi yaitu perusahaan

kehilangan uang atau pendapatan, perusahaan tidak mampu

menutupi biayanya sendiri, ini menunjukan bahwa tingkat

labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang

dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban.

Kegagalan terjadi jika arus kas sebenarnya dariperusahaan

tersebut jauh dibawah arus kas yang diharapkan. Bahkan

kegagalan juga dapat diartikan bahwa tingkat pendapatn

atas biaya historis dari investasinya lebih kecil daripada

biaya modal perusahaan yang dikeluarkan untuk sebuah

investasi tersebut.

2) Kegagalan Keuangan (financial distressed)

Financial distressed adalah kesulitan dana baik

dalam arti dana dalam pengertian kas atau dalam

pengertian modal kerja. Sebagian asset liability

management sangat berperan dalam pengaturan untuk

menjaga agar tidak terjadi financial distressed.


19

Menurut Plat dan Plat (2002) dalam Zulaikah

(2016) Financial distress merupakan sebagai tahap

penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum

terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi. Dapat

disimpulkan bahwa financial distress merupakan suatu

kondisi dimana keuangan suatu perusahan dalam keadaan

tidak sehat.

Ramadhani dan Lukviarman (2009) bahwa financial

distress merupakan ketidakmampuan perusahaan dalam

memenuhi kewajiban-kewajibannya. Ada dua kriteria yang

digunakan yaitu :

a) Stock-base insolvency adalah suatu keadaan dimana

laporan posisi keuangan perusahaan mengalami

ekuitas negatif.

b) Flow-base insolvency adalah suatu keadaan dimana

arus kas operasi tidak dapat memenuhi kewajiban-

kewajiban lancar perusahaan.

b. Kategori Financial Distress

Financial distress dibagi menjagi empat kategori,

(Fahmi, 2013:170) yaitu sebagai berikut:

1) Financial distress kategori A atau sangat tinggi dan hal

ini sangat membahayakan. Dalam kategori ini


20

memungkinkan suatu perusahaan dinyatakan berada

dalam posisi bangkrut.

2) Financial distress kategori B atau tinggi dan dianggap

berbahaya. Dalam posisi ini suatu perusahaan harus

memikirkan solusi untuk menyelamatkan berbagai aset

yang dimiliki.

3) Financial distress kategori C atau sedang, dalam posisi

ini suatu perusahaan dianggap masih mampu

menyelamatkan diri dengan tindakan tambahan dana

yang sumbernya dari internal dan eksternal.

4) Financial distress kategori D atau rendah, dalam posisi

ini suatu perusahaan dianggap hanya mengalami

fluktuasi finansial temporer yang disebabkan oleh

kondisi internal dan eksternal.

c. Penyebab Financial Distress

Financial distress dapat terjadi pada semua jenis

perusahaan. Penyebab terjadinya financial distress itu

bermacam-macam. Lizal (2002) mengelompokkan

penyebab kesulitan keuangan yang disebut dengan Model

Dasar Kebangkrutan (Trinitas Penyebab Kesulitan

Keuangan). Perusahaan dapat mengalami financial distress

karena ada tiga penyebab utama yaitu:

1) Neoclassical Model
21

Financial distress dan kebangkrutan dapat terjadi

jika alokasi sumberdaya disuatu perusahaan tidak tepat.

2) Financial Model

Financial distress dapat terjadi karena percampuran

aset benar struktur keuangannya salah dengan liquidity

contraints. Dalam hal ini perusahaan dapat bertahan

hidup dalam jangka panjang, tetapi perusahaan juga

dapat bangkrut dalam jangka pendek.

3) Corporate Governance Model

Dalam model ini, kebangkrutan memiliki campuran

aset dan struktur keuangan yang benar tetapi dikelola

oleh manajemen dengan buruk. Ketidakefisienan ini

dapat mendorong perusahaan menjadi out of the market

sebagai konsekuensi dari permasalahan dalam tata

kelola perusahaan yang tidak dapat terselesaikan.

d. Cara Memprediksi Financial Distress

Dalam Dwijayanti (2010) ada berbagai cara untuk

memprediksi financial distrees hingga terjadi

kebangkrutan,yaitu:

1) Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio keuangan merupakan cara yang

paling sering digunakan dalam memprediksi financial

distress. Banyak penelitian dilakukan untuk menemukan


22

rasio keuangan yang dapat digunakan untuk

memprediksi financial distress. Ada berbagai model

untuk memprediksi financial distress, model prediksi

tersebut disusun dari berbagai rasio keuangan yaitu

Model Z-score, Model Zeta, Model O-score, Model

Zmijewski dan rasio Camel.

2) Analisis Arus Kas

3) Prediksi melalui Corporate Governance Perusahaan

4) Prediksi melalui Kondisi Makro Ekonomi

5) Credit Cycle Index

6) Artificial Neural Network

7) Prediksi melalui Opini Auditor Independen

8) Rough Set Theory (RST) dan Support Vector Machine

(SVM)

e. Solusi Perusahaan yang Mengalami Financial Distress

Kondisi financial distress dapat memberikan

dampak yang buruk terhadap perusahaan karena

melemahnya kepercayaan investor dan kreditor serta pihak

eksternal lainnya. Oleh karena itu, manajemen harus

melakukan tidakan untuk mengatasi financial distress dan

untuk mencegah terjadinya kebangkrutan. Perusahaan yang

mengalami financial distress biasanya mempunyai arus kas

yang negatif sehingga perusahaan tidak dapat membayar


23

kewajiban yang jatuh tempo. Ada dua solusi yang diberikan

kepada perusahaan yang memiliki arus kas negatif

(pustylnick:2012) dalam Dwijayanti (2010) yaitu:

1) Restrukturisasi Hutang

Manajemen dapat melakukan restrukturisasi hutang

yaitu dengan meminta perpanjangan waktu dari kreditor

untuk pelunasan hutang hingga perusahaan memiliki kas

yang cukup untuk pelunasan hutang tersebut.

2) Perubahan dalam Manajemen

Jika diperlukan, perusahaan dapat melakukan

penggantian manajemen dengan orang yang lebih

kompeten. Dengan begitu, mungkin saja kepercayaan

stakeholder dapat kembali pada perusahaan. Hal ini

bertujuan untuk menghindari larinya investor potensial

perusahaan pada keadaan financial distress.

4. Model Altman Z-Score Modifikasi

Dalam analisis Altman Z-Score Modifikasi ini Altman

mengeliminasi variabel X5 (sales/total assets), karena rasio ini

sangat bervariatif pada industri dengan ukuran aset yang berbeda-

beda. Formula persamaan Z-Score yang telah dimodifikasi oleh

Altman menunjukkan fungsi diskriminan sebagai berikut

(Maisarah, dkk: 2018):


24

Keterangan :

Z” = Bankruptcy

X1 = Working Capital to Total Asset

X2 = Retained Earning to Total Asset

X3 = Earning Before Interest and Taxes to Total Asset

X4 = Book Value of Equity to Total Liability

Klasifikasi perusahaan yang bangkrut, grey area dan tidak

bangkrut didasarkan pada nilai Z-Score Modifikasi yaitu sebagai

berikut:

a. Nilai Z < 1,23 dikategorikan dalam perusahaan yang bangkrut.

b. Nilai 1,23 < Z < 2,90 dikategorikan dalam grey area,

perusahaan tersebut tidak dapat dikatakan bangkrut tapi juga

tidak dapat dikatakan sehat.

c. Nilai Z > 2,90 dikategorikan perusahaan yang tidak bangkrut.

5. Perbankan Syariah

a. Definisi Perbankan Syariah

Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari

masyarakat dalam bentuk simpanan dan di salurkan kembali


25

kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya

yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat

(Wangsawidjaja, 2012:1).

Kata syariah berasal dari bahasa arab yaitu dari kata

syara’a yang artinya adalah jalan, cara dan aturan. Dalam arti

luas syariah merupakan sebagai seluruh ajaran dan norma-

norma yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., yang

mengatur kehidupan manusia baik dari aspek kepercayaan

maupun perilaku. Dapat disimpulkan bahwa syariah adalah

ajaran-ajaran agama islam itu sendiri yang dibagi menjadi 2

bagian yaitu ajaran kepercayaan (akidah) dan ajaran perilaku

(amaliah).

Dapat disimpulkan bahwa bank syariah adalah bank yang

melakukan kegiatan usaha perbankan yang berdasarkankan

dengan prinsip-prinsip [Link] ini sesuai yang tercantum

dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang

perbankan syariah, bank syariah adalah bank yang menjalankan

kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut

jenisnya terdiri dari Bank Umum, Unit Usaha Syariah, dan

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (Soemitra, 2009:58).

1) Bank Umum Syariah (BUS) adalah bank syariah yang

dalam kegiatan usahanya memberikan jasa dalam hal lalu

lintas pembayaran. BUS dapat berbentuk bank devisa dan


26

bank non devisa. Bank devisa adalah bank yang dapat

melakukan transaksi ke luar negeri yang menyangkut mata

uang asing secara keseluruhan, seperti pembukaan letter of

credit, transfer ke luar negeri, inkaso ke luar negeri dan

sebagainya.

2) Unit Usaha Syariah (UUS) adalah unit kerja di kantor

cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri

yang melakukan usaha secara konvensional yang fungsinya

sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah

atau unit syariah.

3) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah bank

syariah yang kegiatan usahanya tidak memberikan jasa

dalam lalu lintas pembayaran.

b. Prinsip Dasar Bank Syariah

Dalam Arifin (2002:11) Prinsip-prinsip dasar bank syariah

yaitu sebagai berikut :

1) Prinsip At Ta’awun

Prinsip At Ta’awun yaitu saling membantu dan

saling bekerja sama diantara anggota masyarakat yang

bertujuan untuk kebaikan, sebagaimana yang sudah

tercantum dalam Al Qur’an:


27

Yang artinya “Dan tolong menolonglah kamu dalam

(mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong

menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”(QS 5:2).

2) Prinsip Menghindari Al Ihtinaz

Prinsip menghindari Al Ihtinaz yaitu menahan uang

atau dana dan membiarkannya menganggur dan tidak

berputar dalam transaksi yang bermanfaat bagi masyarakat

umum, sebagaimana yang sudah tercantum dalam Al

Qur’an :

Yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah

kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan batil,

kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka

sama suka diantara kamu” (QS 4:29).

6. Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan sesuatu yang penting bagi

perusahaan dan para pemakai laporan keuangan. Laporan keuangan

dapat menghasilkan informasi mengenai kinerja perusahaan pada

periode tertentu. Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

(PSAK) No. 1 (Revisi 2009) tujuan dari penyusunan laporan

keuangan yaitu memberikan informasi mengenai bagaimana posisi

keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas yang berguna bagi

pegguna laporan keuangan.


28

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009), laporan keuangan

bertujuan untuk:

a. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi

keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu

perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar

pemakai keuangan.

b. Laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi

yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam mengambil

keputusan ekonomi karena secara umum

menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian

masalalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan

informasi non-keuangan.

c. Laporan keuangan dapat menunjukkan apa yang sudah

dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban

manajemen atas sumber daya yang dipercayakan

kepadanya.

7. Rasio Keuangan

Analisis rasio keuangan adalah angka yang diperoleh

dengan cara menghubungkan satu pos laporan keuangan dengan

pos yang lainnya dimana pos-pos tersebut memiliki hubungan yang

relevan dan signifikan (Yuliastary dan Wirakusuma: 2014).

Analisis rasio keuangan juga dijadikan sebagai alat ukur untuk

membantu manajemen dalam pengevaluasian kinerja suatu


29

perusahaan. Semakin awal tanda-tanda kebangkrutan dapat

diketahui, maka semakin baik bagi manajemen, karena manajemen

dapat melakukan pencegahan dengan perbaikan sejak dini, hal

tersebut membuat perusahaan dapat terhindar dari financial

distress (Sari: 2018).

8. Capital Adequacy Ratio (CAR)

CAR adalah nisbah antara modal dengan aset. CAR

mengukur tingkat kecukupan (adequacy) modal atau stabilitas

keuangan bank. Semakin tinggi CAR maka bank tersebut semakin

baik (Hidayat, 2014: 70). Capital Adequacy Ratio (CAR)

merupakan rasio kinerja suatu bank untuk mengukur kecukupan

modal yang dimiliki oleh modal untuk menunjang aktiva yang

mengandung atau menghasilkan risiko. Semakin besar CAR maka

semangat besar kesempatan bank dalam menghasilkan laba karena

dengan modal yang besar maka manajemen bank dapat

menempatkan dananya ke dalam aktivitas investasi yang

menguntungkan (Romdhoni dan Chateradi: 2018).

Dalam Yusuf (2017) Salah satu faktor yang penting dalam

rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung risiko

kerugian adalah modal. Semakin tinggi nilai CAR maka semakin

kuat kemampuan suatu bank untuk menanggung risiko dari setiap

kredit atau aktiva produktif yang berisiko. Jika nilai CAR tinggi

sesuai dengan ketentuan BI yaitu 8% maka bank tersebut mampu


30

membiayai operasi bank, dalam hal ini sangat menguntungkan bagi

bank karena dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap

profitabilitas. Hal ini juga didukung oleh Sholikati (2018) rasio

CAR yang tinggi pada suatu bank dapat membiayai kegiatan

operasional serta profitabilitas yang meningkat dapat

mengantisipasi terjadinya financial distress.

Rumus rasio CAR yaitu:

Tabel 1.1
Kriteria Penilaian Peringkat CAR
Kriteria Peringkat Nilai

CAR > 12% 1 Sangat Baik

9% < CAR < 12% 2 Baik

8% < CAR < 9% 3 Cukup Baik

6% < CAR < 8% 4 Kurang Baik

CAR < 6% 5 Tidak Baik

Sumber: (Maisarah dkk, 2018)

9. Financing Deposit Ratio (FDR)

Financing Deposit Ratio (FDR) atau Nisbah at-Tanwil wa

al- Wada’i adalah rasio pembiayaan bank syariah dengan dana

pihak ketiga; rasio penyaluran dan penghimpunan dana

(Wangsawidjaja, 2012:117). FDR merupakan kemampuan bank

syariah dalam melaksanakan fungsi perantara perbankan syariah

diantara pihak kelebihan modal (surplus unit) dengan pihak

kekurangan modal (defisit unit). FDR perbankan syariah yang


31

tinggi menunjukkan bahwa bank syariah telah melaksanakan

fungsi perantara secara optimum. Dengan kata lain bahwa seluruh

dana yang dihimpun dari masyarakat dapat disalurkan oleh bank

syariah (Hidayat, 2014: 121). Dalam bank syariah rasio ini

dinamakan Financing Deposit Ratio (FDR), sedangkan dalam bank

konvensional rasio ini dinamakan Loan Deposit Ratio (LDR).

Menurut Sumarlin (2016) FDR merupakan rasio jumlah

modal yang disalurkan oleh perbankan terhadap modal yang

dimiliki oleh perbankan. Dapat disimpulkan bahwa FDR

menunjukkan kemampuan suatu bank dalam menyalurkan dana

kepada debitur sekaligus membayarkan kembali kepada deposan

dengan mengandalkan kredit yang disalurkan sebagai sumber dari

likuiditas.

Bank Indonesia menetapkan FDR yang ideal berkisar

antara 78% sampai 100%. Semakin tinggi dana yang disalurkan

oleh bank dalam bentuk pembiayaan,maka semakin tinggi juga

kemampuan suatu bank dalam memberikan pinjaman. Hal ini

mempunyai dampak pada peningkatan pendapatan bank, jadi

keuntungan perbankan syariah semakin meningkat. Tetapi, apabila

pembiayaan yang disalurkan oleh bank rendah, maka dapat

dikatakan bahwa tingkat likuiditasnya terlalu tinggi sehingga hal

ini menimbulkan tekanan terhadap pendapatan bank yaitu berupa


32

tingginya biaya pemeliharaan kas yang menganggur (Rahim,

2008).

Rumus rasio FDR yaitu:

Tabel 1.2
Kriteria Penilaian Peringkat LDR
Kriteria Peringkat Nilai

LDR < 75% 1 Sangat Baik

75% < LDR < 85% 2 Baik

85% < LDR < 100% 3 Cukup Baik

100% < LDR < 120% 4 Kurang Baik

LDR > 120% 5 Tidak Baik

Sumber: (Maisarah dkk, 2018)

10. Non Performing Financing (NPF)

Risiko bagi bank syariah dalam memberikan fasilitas

pembiayaan yaitu tidak kembalinya pokok pembiayaan dan tidak

mendapatkan imbalan sebagaimana yang telah disepakati dalam

akad pembiayaan antara bank syariah dengan nasabah. Disamping

itu juga terdapat risiko bertambah besarnya biaya yang dikeluarkan

oleh bank dan bertambahnya waktu untuk penyelesaian Non

Performing Financing, serta turunnya kesehatan pembiayaan bank.

(Wangsawidjaja, 2012:89)

Dalam Statistika Perbankan Syariah yang diterbitkan oleh

direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, istilah Non

Performing Financing (NPF) atau dalam Kamus Perbankan


33

Syariah disebut duyumun ma’dumah yang artinya sebagai

pembiayaan non lancar mulai dari kurang lancar sampai dengan

macet. Dapat disimpulkan bahwa pembiayaan bermasalah adalah

pembiayaan yang kualitasnya berada pada golongan kurang lancar

(III), diragukan pada golongan (IV), dan macet pada golongan

(V).(Wangsawidjaja, 2012:90). Rasio NonPerforming Financing

(NPF) terdapat pada bank syariah sedangkan pada bank

konvensional rasio ini dinamakan Non Permorming Loan (NPL).

Menurut Yusuf (2017) Semakin tinggi nilai NPF pada suatu

bank,maka risiko pembiayaan bermasalah pada bank tersebut akan

semakin tinggi. Hal ini dapat mempengaruhi pendapatan bank

sehingga laba bank mengalami penurunan.

Menurut Haq dan Harto (2019) NPL merupakan risiko

kredit, semakin kecil nilai NPL maka semakin kecil risiko kredit

yang ditanggung oleh bank. Bank Indonesia menetapkan kriteria

rasio NPL net di bawah 5% . Semakin tinggi nilai rasio ini, maka

semakin rendah kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah

kredit bermasalah semakin besar dan bank akan mengalami

penurunan tingkat kesehatan. Maka hal ini akan memungkinkan

bank mengalami financial distress.

Rumus rasio NPF yaitu:


34

Tabel 1.3
Kriteria Penilaian Peringkat NPL
Kriteria Peringkat Nilai

NPL < 2% 1 Sangat Baik

2% < NPL < 5% 2 Baik

5% < NPL < 8% 3 Cukup Baik

8% < NPL < 12% 4 Kurang Baik

NPL > 12% 5 Tidak Baik

Sumber: (Maisarah dkk, 2018)

11. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

Rasio BOPO digunakan untuk mengatur perbandingan

biaya operasi terhadap pendapatan operasi yang diperoleh bank.

Semakin kecil rasio BOPO, maka semakin baik kondisi suatu bank.

Jika suatu bank memiliki rasio BOPO yang tinggi maka bank

tersebut tidak dapat beroperasi dengan efisien karena tingginya

rasio ini menunjukkan besarnya jumlah biaya operasional yang

harus dikeluarkan oleh pihak bank untuk memperoleh pendapatan

operasional. Jumlah operasional yang besar akan memperkecil

keuntungan atau laba perusahaan karena biaya atau beban

operasional bertindak sebagai faktor pengurang pada laporan laba

rugi (Yusuf: 2017).

Rumus rasio BOPO yaitu:


35

Tabel 1.4
Kriteria Penilaian Peringkat BOPO
Kriteria Peringkat Nilai

BOPO < 94% 1 Sangat Baik

94% < BOPO < 95% 2 Baik

95% < BOPO < 96% 3 Cukup Baik

96% < BOPO < 97% 4 Kurang Baik

BOPO > 97% 5 Tidak Baik

Sumber: (Maisarah dkk, 2018)

12. Return On Assets (ROA)

Menurut Hidayat (2014: 69) ROA adalah nisbah antara

pendapatan (earning) dengan aset. Teknik ini untuk mengukur

tingkat pendapatan (earning) bank dalam kaitannya dengan

penggunaan seluruh sumber daya yang dimiliki bank. Semakin

tinggi nilai ROA maka bank tersebut semakin efisien.

Menurut Kasmir (2012: 119) Return on Assets merupakan

perbandingan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan

keuntungan dengan jumlah seluruh aktiva harta yang dimiliki suatu

perusahaan pada periode tertentu. Dalam Yusuf (2017) ROA

mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba dan efisiensi

secara keseluruhan. Rasio ini mampu mengukur kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan keuntungan pada masalalu yang

kemudian diproyeksikan dimasa yang akan datang. Aktiva yang

dimaksud yaitu keseluruhan harta perusahaan, yang diperoleh dari

modal sendiri maupun dari modal asing yang sudah diubah oleh

perusahaan menjadi aktiva-aktiva perusahaan yang digunakan


36

untuk kelangsungan hidup perusahaan. Meliani dan Bagus (2017)

menyatakan bahwa semakin besar nilai ROA, maka semakin

rendah suatu bank mengalami financial distress.

Rumus rasio ROA yaitu:

Tabel 1.5
Kriteria Penilaian Peringkat ROA
Kriteria Peringkat Nilai

ROA < 1,5 % 1 Sangat Baik

1,25% < ROA < 1,5 % 2 Baik

0,5% < ROA < 1,25% 3 Cukup Baik

0% < ROA < 0,5% 4 Kurang Baik

ROA < 0% 5 Tidak Baik

Sumber: (Maisarah dkk, 2018)


37

B. Telaah Pustaka

Penelitian ini menggunakan variabel dependen Financial Distress,

variabel independen Capital Adequacy Ratio (CAR), Financing

Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Biaya

Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) dan Return On Assets

(ROA).

Berikut ini merupakan ringkasan penelitian terdahulu yang

berkaitan dengan penelitian ini:

Tabel 2.1
Tabel Penelitian terdahulu
No Peneliti Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
(Tahun)

1 Kristina 1) Mengguna 1) Tidak 1) LDR


Nimas kan LDR, terdapat berpengaruh
Wijayant NPL, ROA BOPO positif tidak
i, Inayah dan CAR sebagai signifikan
Adi Sari, sebagai variabel terhadap
dan Dewi variabel independe financial
Indriasih independe n distress
(2018) n
2) Terdapat 2) NPL
2) Mengguna perbedaan berpengaruh
kan Obyek positif
financial penelitian signifikan
distress terhadap
sebagai 3) Terdapat financial
variabel perbedaan distress
dependen Periode
penelitian 3) ROA
berpengaruh
4) Terdapat positif tidak
perbedaan signifikan
pengukura terhadap
n financial financial
distress distress

4) CAR
berpengaruh
negatif dan
tidak
signifikan
terhadap
financial
38

distress

2 Satrio 1) Mengguna 1) Tidak 1) NPL


Arga kan CAR, terdapat berpengaruh
Effendi NPL, FDR, negatif
dan A sebagai BOPO, terhadap Z-
Mulyo variabel dan ROA Score
Haryanto independe sebagai
(2016) n variabel 2) CAR tidak
independe berpengaruh
2) Mengguna n terhadap Z-
kan Score
Financial 2) Terdapat
distress perbedaan
sebagai obyek
variabel penelitian
dependen
3) Terdapat
perbedaan
periode
penelitian

3 Habbi 1) Mengguka 1) Tidak 1) NPL


Irsyada n NPL, terdapat berpengaruh
Haq dan LDR, BOPO positif
Puji CAR, dan sebagai signifikan
Harto ROA variabel terhadap
(2019) sebagai independe financial
variabel n distress
independe
n 2) Terdapat 2) LDR
perbedaan berpengaruh
2) Mengguna Obyek negatif
kan penelitian signifikan
financial terhadap
distress 3) Terdapat financial
sebagai perbedaan distress
variabel periode
dependen penelitian 3) ROA
berpengaruh
3) Mengguna negatif
kan signifikan
metode terhadap
Altman Z- financial
Score distress
Modifikasi
sebagai 4) CAR tidak
alat ukur berpengaruh
financial signifikan
distress terhadap
financial
distress

4 Maisarah 1) Mengguna 1) Terdapat 1) CAR


, kan CAR, perbedaan berpengaruh
Zamzami NPF, periode positif
39

, dan ROA, penelitian signifikan


Enggar BOPO, terhadap
Diah P.A dan FDR 2) Terdapat financial
(2018) sebagai perbedaan distress
variabel metode
independe penelitian 2) BOPO
n berpengaruh
positif
2) Mengguna signifikan
kan terhadap
financial financial
distress distress
sebagai
variabel 3) NPF
dependen berpengaruh
positif
3) Mengguna terhadap
kan financial
perbankan distress
syariah di
Indonesia 4) ROA
sebagai berpengaruh
obyek positif tetapi
penelitian tidak
signifikan
4) Mengguna terhadap
kan financial
metode distress
Altman Z-
Score 5) LDR
Modifikasi berpengaruh
untuk negatif dan
mengukur signifikan
financialdi terhadap
stress financial
distress

5 Baiq 1) Mengguna 1) Tidak 1) CAR


Defika k CAR, terdapat berpengaruh
Zahronya NPL, ROA negatif
na dan BOPO, sebagai signifikan
Dewa dan LDR variabel terhadap
P.K sebagai independe financial
Mahardi variabel n distress
ka (2018) independe
n 2) Terdapat 2) NPL tidak
perbedaan berpengaruh
2) Mengguna obyek terhadap
kan penelitian financial
Altman Z- distress
Score 3) Terdapat
Modifikasi perbedaan 3) BOPO tidak
sebagai periode berpengaruh
alat ukur penelitian terhadap
financial financial
40

distress distress

4) LDR
berpengaruh
positif
signifikan
terhadap
financial
distress

6 Endang 1) Mengguna 1) Tidak 1) CAR tidak


Afriyeni kan CAR, terdapat berpengaruh
dan NPL dan BOPO dan signifikan
Jumyetti ROA FDR terhadap
(2015) sebagai sebagai financial
variabel variabel distress
independe independe
n n 2) NPL
berpengaruh
2) Mengguna 2) Terdapat positif dan
kan perbedaan signifikan
financial obyek terhadap
distress penelitian financial
sebagai distress
variabel 3) Terdapat
dependen perbedaan 3) ROA
periode berpengaruh
penelitian negatif dan
signifikan
terhadap
financial
distress

7 Luluk 1) Mengguna 1) Tidak 1) CAR


Afiqoh kan CAR, terdapat berpengaruh
dan FDR dan NPF dan positif
Nisful ROA BOPO signifikan
Laila sebagai sebagai terhadap
(2018) variabel variabel financial
independe independe distress
n n
2) FDR
2) Mengguna 2) Terdapat berpengaruh
kan perbedaan positif
financial periode signifikan
distress penelitian terhadap
sebagai financial
variabel distress
dependen
3) ROA
3) Mengguna berpengaruh
kan Bank positif tidak
Umum signifikan
Syariah di terhadap
Indonesia financial
sebagai
41

obyek distress
penelitian

4) Mengguna
kan
Altman Z-
Score
Modifikasi
sebagai
alat ukur
financial
distress

8 Arinna 1) Mengguna 1) Tidak 1) CAR


Suhadi kan NPF, terdapat memiliki
dan ROA dan FDR dan pengaruh
Rohmaw CAR BOPO positif
ati sebagai sebagai terhadap
Kusuman variabel variabel financial
ingtias independe independe distress
n n
2) ROA tidak
2) Mengguna 2) Terdapat memiliki
kan perbedaan pengaruh
financial periode terhadap
distress penelitian financial
sebagai distress
variabel
dependen 3) NPF tidak
memiliki
3) Mengguna pengaruh
kan Bank terhadap
Umum financial
Syariah distress
sebagai
obyek
penelitian

4) Mengguna
kan
metode
Altman Z-
Score
Modifikasi
sebagai
alat ukur
financial
distress

9 Didi 1) Mengguna 1) Tidak 1) ROA


Rahmat kan ROA terdapat berpengaruh
(2019) sebagai CAR, positif tidak
variabel FDR, NPF signifikan
independe dan BOPO terhadap
n sebagai financial
variabel
42

2) Mengguna independe distress


kan n
financial
distress 2) Terdapat
sebagai perbedaan
variabel obyek
dependen penelitian

3) Terdapat
perbedaan
periode
penelitian

4) Terdapat
perbedaan
metode
pengukura
n

10 Nurcahy 1) Mengguna 1) Tidak 1) ROA


ono dan kan ROA terdapat berpengaruh
Ketut sebagai CAR, negatif
Sudharm variabel FDR, NPF signifikan
a (2014) independe dan BOPO terhadap
n sebagai financial
variabel distress pada
2) Mengguna independe perusahaan
kan n manufaktur
financial
distress 2) Terdapat
sebagai perbedaan
variabel obyek
dependen penelitian

3) Terdapat
perbedaan
periode
penelitian
43

C. Kerangka Pemikiran

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji permasalahan mengenai

financial distress pada bank syariah. Penelitian ini menggunakan

variabel independen (X) yaitu : Capital Adequacy Ratio (X1),

Financing Deposit Ratio (X2), Non Performing Financing (X3), Biaya

Operasional Pendapatan Operasional (X4) dan Return On Assets (X5).

Financial Distress (Y) sebagai variabel dependen.

CAR (X1)
H1

H2
FDR (X2)

H3
NPF (X3) FINANCIAL DISTRESS
(Y)

H4
BOPO (X4)

Metode Altman Z-Score


H5
ROA (X5) Modifikasi

1. WCTA

2. RETA

3. EBITTA

4. BVETL

Gambar 2.1
Kerangka Penelitian

Sumber: (Maisarah, dkk: 2018)


44

Model penelitian yang disajikan di atas menjelaskan bahwa

variabel X1 (Capital Adequacy Ratio), X2 (Financing Deposit Ratio),

X3 (Non Performing Financing), X4 (Biaya Operasional Pendapatan

Operasional), dan X5 (Return On Assets) berpengaruh terhadap Y

(Financial Distress). Dimana variabel Y (Financial Distress) dihitung

dengan menggunakan metode Altman Z-Score Modifikasi.


45

D. HIPOTESIS

Dalam Romdhoni dan Chateradi (2018) Hipotesis adalah dugaan

sementara atau kesimpulan sementara atas masalah yang hendak

diteliti. Perumusan hipotesis dilakukan berdasarkan pada literatur yang

telah ada. Hipotesis yang dibentuk dalam penelitian ini didasarkan

pada penelitian sebelumnya, sehingga diharapkan hipotesis tersebut

cukup valid untuk diuji. Berdasarkan dari hasil penelitian-penelitian

terdahulu, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Financial

Distress

CAR mengukur tingkat kecukupan (adequacy) modal atau

stabilitas keuangan bank. Semakin tinggi CAR maka bank tersebut

semakin baik (Hidayat, 2014: 70). Menurut Sholikati (2018) rasio

CAR yang tinggi pada suatu bank dapat membiayai kegiatan

operasional serta profitabilitas yang meningkat dapat

mengantisipasi terjadinya financial distress.

Penelitian dari Zahronyana dan Mahardika (2018) bahwa

CAR berpengaruh negatif terhadap financial distress. Sedangkan

penelitian dari Wijayanti dkk (2018) CAR tidak berpengaruh

terhadap financial distress. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian

dari Afiqoh dan Laila (2018) bahwa CAR berpengaruh positif

terhadap financial distress.


46

H1: Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh negatif

terhadap financial distress

2. Pengaruh Financing Deposit Ratio (FDR) terhadap Financial

Distress

FDR perbankan syariah yang tinggi menunjukkan bahwa

bank syariah telah melaksanakan fungsi perantara secara optimum.

Dengan kata lain bahwa seluruh dana yang dihimpun dari

masyarakat dapat disalurkan oleh bank syariah (Hidayat, 2014:

121). Semakin tinggi dana yang disalurkan oleh bank dalam bentuk

pembiayaan,maka semakin tinggi juga kemampuan suatu bank

dalam memberikan pinjaman. Hal ini mempunyai dampak pada

peningkatan pendapatan bank, jadi keuntungan perbankan syariah

semakin meningkat dan kinerja keuangan semakin baik (Rahim:

2008).

Penelitian dari Maisarah dkk (2018) bahwa LDR

berpengaruh negatif terhadap financial distrees, hasil penelitian ini

sejalan dengan penelitian Haq dan Harto (2019). Sedangkan

penelitian dari Zahronyana dan Mahardika (2018) bahwa FDR

memiliki pengaruh positif terhadap financial distress, penelitian ini

didukung oleh Afiqoh dan Laila (2018)

H2: Financing Deposit Ratio (FDR) berpengaruh negatif

terhadap financial distrees.


47

3. Pengaruh Non Performing Financing (NPF) terhadap Financial

Distress

Semakin kecil nilai NPF maka semakin kecil risiko

pembiayaan yang ditanggung oleh bank. Bank Indonesia

menetapkan kriteria rasio NPF net di bawah 5% . Semakin tinggi

nilai rasio ini, maka semakin rendah kualitas pembiayaan bank

yang menyebabkan jumlah pembiayaan bermasalah semakin besar

dan bank akan mengalami penurunan tingkat kesehatan. Maka hal

ini akan memungkinkan bank mengalami financial distress.

Hasil penelitian dari Maisarah dkk (2018) bahwa NPF

berpengaruh positif terhadap financial distress, hasil penelitian ini

didukung oleh Wijayanti dkk (2018), Afriyeni dan Jumyetti (2015)

dan Haq dan Harto (2019). Hasil penelitian tersebut tidak sejalan

dengan Effendi dan Haryanto (2016) bahwa NPL memiliki

pengaruh negatif terhadap financial distress.

H3 : Non Performing Financing (NPF) berpengaruh positif

terhadap financial distress.

4. Pengaruh Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

terhadap Financial Distress

Dalam Yusuf (2017) Rasio BOPO digunakan untuk

mengatur perbandingan biaya operasi terhadap pendapatan operasi

yang diperoleh bank. Semakin kecil rasio BOPO, maka semakin

baik kondisi suatu bank. Jika suatu bank memiliki rasio BOPO
48

yang tinggi maka bank tersebut tidak dapat beroperasi dengan

efisien karena tingginya rasio ini menunjukkan besarnya jumlah

biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh pihak bank untuk

memperoleh pendapatan operasional, hal ini akan menurunkan

tingkat kesehatan keuangan bank.

Hasil penelitian dari Maisarah dkk (2018) bahwa BOPO

memiliki pengaruh positif terhadap financial distress. Sedangkan

hasil penelitian dari Zahronyana dan Mahardika (2018) BOPO

tidak berpengaruh terhadap financial distress.

H4: Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

berpengaruh positif terhadap financial distress.

5. Pengaruh Return On Assets (ROA) terhadap Financial Distress

ROA digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam

memperoleh keuntungan secara keseluruhan. Semakin tinggi nilai

ROA maka bank tersebut semakin efisien dan kinerja keuangan

semakin baik. Meliani dan Bagus (2017) menyatakan bahwa

semakin besar nilai ROA, maka semakin rendah suatu bank

mengalami financial distress.

Hasil Penelitian dari Nurcahyono dan Sudharma (2014)

bahwa ROA berpengaruh negatif terhadap financial distress, hal

ini sejalan dengan hasil penelitian dari Afriyeni dan Jumyetti

(2015) dan Haq dan Harto (2019). Sedangkan hasil penelitian dari

Rahmat (2019) ROA tidak berpengaruh terhadap financial distress,


49

hal ini didukung oleh penelitian Afiqoh dan Laila (2018) dan

Wijayanti dkk (2018)

H5 : Return On Assets berpengaruh negatif terhadap financial

distress.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian

kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan analisis data yang

berbentuk nemerik atau angka (Suryani, 2016:109). Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR),

Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF),

Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) dan Return On

Assets (ROA) terhadap Financial distress pada Bank Umum Syariah

(BUS) di Indonesia.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Objek penelitian ini yaitu perbankan syariah yang termasuk dalam

Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia yang sudah listing dalam

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama 5 periode dari tahun 2015

sampai 2019.

C. Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari suatu objek

atau subjek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang

telah ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulan (Sugiyono, 2019: 126). Populasi yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu perbankan yang ada di Indonesia yang

dikategorikan sebagai Bank Umum Syariah (BUS) dan yang sudah

50
51

listing di Otoritas Jasa Keuangan (0JK). Jumlah BUS yang tercatat

yaitu sebanyak 14 bank yaitu PT Bank Muamalat Indonesia, PT Bank

BTPN Syariah, PT Bank Victoria Syariah, PT Bank BRI Syariah, PT

Bank Jabar Banten Syariah, PT Bank Aceh Syariah, PT Bank BNI

Syariah, PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mega Syariah, PT Bank

Panin Syariah, PT Bank Syariah Bukopin, PT BCA Syariah, PT

Maybank Syariah Indonesia, dan PT BPD Nusa Tenggara Barat

Syariah.

Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik

yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2019: 127). Sampel

dalam penelitian ini diambil dengan teknik purposive sampling.

Teknik purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan

pertimbangan atau kriteria tertentu (Sugiyono, 2019: 133). Kriteria

yang digunakan yaitu sebagai berikut:

a. Bank Umum Syariah yang beroperasi di Indonesia dan yang sudah

listing di OJK pada periode 2015-2019.

b. Bank yang mempublikasikan annual report secara berturut-turut

pada periode 2015-2019.

c. Bank yang mengungkapkan informasi mengenai CAR, FDR, NPF,

BOPO dan ROA.


52

Tabel 3.1
Hasil Penentuan Sampel
Kriteria Jumlah

BUS yang beroperasi secara nasional di Indonesia 14


dan listing di OJK selama periode 2015-2019

BUS yang tidak mempublikasikan laporan tahunan 0


secara lengkap selama periode 2015-2019

BUS yang tidak mengungkapkan variabel yang 1


terkait dengan penelitian

Jumlah sampel yang memenuhi kriteria 13

Tahun pengamatan 5

Jumlah total sampel 65

Sumber: Data diolah peneliti, 2020

Berdasarkan metode purposive sampling yang telah dilakukan,

maka terdapat sampel untuk penelitian ini yaitu sebanyak 13 bank

umum syariah. Bank yang tidak termasuk sampel adalah Bank Jabar

Banten Syariah, karena dalam laporan Bank Jabar Banten Syariah

tidak lengkap dalam mengungkapkan variabel yang berkaitan dengan

penelitian ini. Bank Umum Syariah yang dijadikan sampel pada

penelitian ini yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.2
Daftar Bank Umum Syariah yang dijadikan sampel
No Nama Bank Umum Syariah Kode

1 PT Bank Muamalat Indonesia BMI

2 PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah BTPNS

3 PT Bank Victoria Syariah BVS

4 PT Bank BRI Syariah BRIS

5 PT Bank Aceh Syariah BAS

6 PT Bank BNI Syariah BNIS

7 PT Bank Syariah Mandiri BSM


53

8 PT Bank Panin Syariah BPS

9 PT Bank Syariah Bukopin BSB

10 PT BCA Syariah BCAS

11 PT Maybank Syariah Indonesia MS

12 PT BPD NTB Syariah BPDNTBS

13 PT Bank Mega Syariah BMS

Sumber: Data diolah peneliti, 2020

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara yang dilakukan

peneliti untuk mendapatkan data yang akan dianalisis atau diolah

untuk menghasilkan kesimpulan (Bawono, 2006). Dalam penelitian ini

menggunakan jenis data sekunder. Data sekunder adalah data yang

diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan

diolah pihak lain, dan biasanya sudah dipublikasikan (Suryani,

2016:171). Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari

laporan keuangan (annual report) tahunan yang sudah dipublikasikan

di website masing-masing BUS.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu sebagai

berikut:

1. Library Research

Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan

dengan cara membaca, mempelajari dan menganalisis literatur

yang bersumber dari buku-buku dan jurnal-jurnal yang

berkaitan dengan penelitian ini untuk memperoleh data yang

valid.
54

2. Internet Research

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan

cara menggunakan teknologi yang cukup berkembang yaitu

melalui akses internet, sehingga data yang diperoleh

merupakan data yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Memperoleh sumber data sekunder dengan cara mendownload

laporan keuangan yang sudah dipublikasikan dimasing-masing

Web Bank Umum Syariah.

E. Definisi Konsep dan Operasional

1. Variabel Independen atau variabel bebas adalah variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau

timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2019:69). Dalam

penelitian ini menggunakan 5 variabel independen yaitu Capital

Adequacy Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non

Performing Financing (NPF), Biaya Operasional Pendapatan

Operasional (BOPO), dan Return On Assets (ROA).

a. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal

adalah perbandingan antara modal bersih yang dimiliki bank

dengan total asetnya. Bank Indonesia menetapkan batas

minimal CAR sebesar 8% (Suryani, 2016:165).


55

Rumus rasio CAR yaitu:

b. Financial Deposit Ratio (FDR)

Financial Deposit Ratio (FDR) digunakan untuk mengukur

kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka

pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo. Rasio ini

menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar

kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan

mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber

likuiditasnya (Lemiyana dan Litriani: 2016).

Rumus rasio FDR yaitu:

c. Non Performing Financing (NPF)

Non Performing Financing (NPF) yaitu menunjukkan

kemampuan manajemen suatu bank dalam mengatasi

pembiayaan bermasalah, diantaranya yaitu pembiayaan

diragukan, kurang lancar dan macet (Suhadi dan

Kusumaningtias).

Rumus rasio NPF yaitu:


56

d. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

disebut juga dengan rasio efisiensi yang digunakan untuk

mengukur kemampuan manajemen suatu bank dalam

mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan

operasional (Lemiyana dan Litriani: 2016).

Rumus rasio BOPO yaitu:

e. Return On Assets (ROA)

Return on Assets merupakan perbandingan kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah

seluruh aktiva harta yang dimiliki suatu perusahaan pada

periode tertentu (Kasmir, 2012:119).

Rumus rasio ROA yaitu:

2. Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel

bebas (Sugiyono, 2019:69). Dalam penelitian ini variabel

dependennya yaitu financial distress. Menurut Plat dan Plat (2002)

dalam Zulaikah (2016) Financial distress merupakan sebagai tahap

penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum terjadinya

kebangkrutan ataupun likuidasi. Dapat disimpulkan bahwa


57

financial distress merupakan suatu kondisi dimana keuangan suatu

perusahan dalam keadaan tidak sehat. Dalam penelitian ini

financial distress diukur menggunakan Model Altman Z-Score

Modifikasi. Rumus Altman Z-Score Modifikasi (Maisarah, dkk:

2018) :

Keterangan :

Z” = Bankruptcy

X1 = Working Capital to Total Asset

X2 = Retained Earning to Total Asset

X3 = Earning Before Interest and Taxes to Total Asset

X4 = Book Value of Equity to Total Liability

a. Working Capital to Total Asset (WCTA)

Working Capital to Total Asset adalah indikator untuk

mengukur besarnya aset likuid apabila dibandingkan dengan

keseluruhan aset yang dimiliki. Working Capital to Total Asset

merupakan selisih dari current asset dan current liabilities

(Zulaikah dan Laila:2016).

Rumus WCTA yaitu sebagai berikut:

b. Retained Earning to Total Asset (RETA)


58

Retained Earning to Total Asset adalah indikator untuk

mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan

laba ditahan dari total aktiva yang dimiliki perusahaan.

(Zulaikah dan Laila: 2016).

Rumus RETA yaitu sebagai berikut:

c. Earning Before Interest and Taxes to Total Asset (EBITTA)

Menurut Riyanto (1995) yang dikutip oleh Zulaikah dan

Laila (2016) Eaning Before Interest and Taxes to Total Asset

adalah indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan

dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk

menghasilkan keuntungan bagi investor termasuk pemegang

saham dan obligasi.

Rumus EBITTA yaitu sebagai berikut :

d. Book Value of Equity to Total of Liability (BVETL)

Menurut Nugrogo (2012) Yang dikutip oleh Zulaikah dan

Laila (2016) Book Value of Equity to Total of Liability adalah

indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat leverage dari

suatu perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengukur sejauh

mana aktiva perusahaan dibiayai dari hutang.

Rumus BVETL yaitu sebagai berikut:


59

F. Teknik Analisis Data

1. Analisis Statistik Deskriptif

Menurut Ghozali (2011) statistik deskriptif yaitu

memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari

nilai rata-rata (mean), standar deviasi (standard deviation),

maksimum dan minimum.

2. Uji Stasioneritas

Uji ini untuk menganalisis data time series untuk melihat

ada tidaknya unit root yang terkandung diantara variabel sehingga

hubungan antar variabel antar persamaan menjadi lebih valid

(Arifin, 2016). Sebuah data dikatakan stasioner jika memenuhi

asumsi bahwa rata-rata dan variannya konstan sepanjang waktu

serta kovarian antar dua data runtut waktu tergantung pada

kelambanan anatara dua periode tersebut. Pengambilan keputusan

pada uji stasioner adalah jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05

maka data tersebut bersifat stasioner (Winarno, 2015).

3. Uji Regresi

Sebelum melakukan uji regresi, terlebih dahulu dilakukan

spesifikasi model kecocokan model regresi. Dalam penelitian ini

menggunakan metode sebagai berikut:

a. Regresi dengan Common Effect


60

Regresi ini mengasumsikan bahwa data gabungan yang ada

menunjukkan kondisi yang sesungguhnya dan hasil analisis

regresi dianggap berlaku pada semua objek pada semua waktu

(Winarno, 2015). Regresi ini dapat dijelaskan melalui uji

Lagrange-Multiplier Test. Pengambilan keputusannya yaitu

jika nilai Breusch-Pagan lebih besardari 0,05, maka regresi

yang digunakan adalah common dan berlaku sebaliknya.

b. Regresi Menggunakan Fixed Effect

Regresi ini mengasumsikan bahwa data gabungan yang ada

memiliki efek tetap. Yang dimaksud dengan efek tetap yaitu

satu objek memiliki konstanta dan koefisien regresi yang tetap

diberbagai periode waktu (Winarno, 2015). Regresi Fixed

Effect dapat dilakukan dengan uji Chow-test dengan likelihood

ratio. Pengambilan keputusannya yaitu dengan melihat nilai

cross-section chisquare lebih besar dari 0,05, sehingga regresi

yang digunakan yaitu regresi Common dan berlaku sebaliknya.

c. Regresi dengan Random Effect

Regresi ini digunakan untuk mengatasi kelemahan metode efek

tetap yang menggunakan variabel semu. Metode rondom

menggunakan residual yang diduga memiliki hubungan antar

waktu dan antar objek (Winarno,2015). Uji regresi dengan

rondom effect dapat dilakukan jika objek data silang harus

lebih besar dari banyaknya koefisien. Regresi ini dapat


61

dijelaskan melalui uji Hausman test. Pengambilan keputusan

pada uji ini adalah jika nilai cross-section rondom memiliki

nilai lebih besar dari 0,05 maka regresi yang digunakan yaitu

regresi dengan rondom effect.

4. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah nilai

residual yang dihasilkan dari regresi terdistribusi secara normal

atau tidak. Model regresi yang baik yaitu yang memiliki nilai

residual yang terdistribusi secara normal (Purnomo, 2017:174).

b. Uji Multikolinieritas

Pada analisis regresi linier berganda dilakukan uji

multikolinieritas karena variabel independennya lebih dari satu

dalam satu model regresi. Multikolinieritas yaitu antar variabel

independen yang terdapat dalam model regresi memiliki

hubungan linier yang sempurna atau mendekati sempurna

(koefisien korelasinya tinggi) bahkan model regresi yang baik

seharusnya tidak terjadi korelasi sempurna atau mendekati

sempurna diantara variabel bebasnya (Purnomo, 2017:175).

c. Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas adalah varian residual yang tidak sama

pada semua pengamatan di dalam model regresi. Regresi yang


62

baik seharusnya tidak terjadi heteroskedastisitas (Purnomo,

2017:159)

d. Uji Autokorelasi

Autokorelasi merupakan korelasi antara anggota observasi

yang disusun menurut waktu atau tempat. Model regresi yang

baik seharusnya tidak terjadi autokorelasi. Metode pengujian

menggunakan uji Durbin-Watson (DW test) (Purnomo,

2017:175).

5. Uji Regresi Data Panel

Di dalam teori ekonometri, proses penyatuan data antar

waktu (time series) dan data antar individu (cross-section) disebut

dengan pooling (Ekananda, 2015). Data panel berbeda dengan data

time series maupun data cross section. Data panel menggunakan

double subscript (subscript i dan t) dalam penulisannya. Dalam

analisis data panel terdapat 3 pilihan model estimasi yaitu common

effect, fixed effect, dan random effect.

Model Pooled Least Square mengansumsikan bahwa semua

individu memiliki koefisien regresi yang sama (α) (Gujarti,2012).

Persamaan dalam Fixed Effect Model (FEM) adalah sebagai

berikut:

Yit = αi+ βXit + uit ; uit = µi + v it

Dimana:

Y it : Financial Distress
63

αi : Konstanta

β : Koefisien Regresi

X it : Variabel Independen

µi : Efek individu yang tidak teramati

v it : Gangguan sisa

6. Alat Analisis

Alat analisis dalam penelitian ini yaitu menggunakan

analisis regresi data panel yang diolah menggunakan aplikasi

Eviews versi 10. Eviews adalah program komputer yang digunakan

untuk mengolah data statistik dan data ekonometrika.


BAB IV

ANALISIS DATA

A. Deskriptif Objek Penelitian

1. Deskripsi Data

Objek penelitian ini yaitu Bank Umum Syariah di Indonesia

yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Data yang

digunakan dalam penelitian ini berupa data Annual Report dari

masing-masing Bank Umum Syariah pada tahun 2015 sampai tahun

2019. Sampel penelitian ini terdiri dari 13 bank yaitu Bank Muamalat

Indonesia, BTPN Syariah, Bank Victoria Syariah, BRI Syariah, Bank

Aceh Syariah, BNI Syariah, Bank Syariah Mandiri, Bank Panin

Syariah, Bank Syariah Bukopin, BCA Syariah, Maybank Syariah

Indonesia, BPD NTB Syariah dan Bank Mega Syariah. Variabel –

variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Capital Adequacy

Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing

Financing (NPF), Biaya Operasional Pendapatan Operasional

(BOPO), Return On Assets (ROA), dan Financial Distress.

2. Deskriptif Statistik

Menurut Ghozali (2011) statistik deskriptif yaitu memberikan

gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata

(mean), standar deviasi (standard deviation), maksimum dan

minimum.

64
65

a. Variabel Capital Adequacy Ratio (CAR)

Tabel 4.1

Deskriptif Statistik CAR

CAR

Mean 28,67738

Median 19,96000

Maximum 241,8400

Minimum 11,51000

Standar Devisiasi 33,80908

Observations 65

Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan data di atas, dari 65 data pengamatan

nilai rata-rata (mean) CAR adalah 28,67738 dengan

standar devisiasi 33,80908 dengan nilai rata-rata CAR

28,67738 berarti tergolong sangat baik karena CAR >

12%. Nilai median CAR yaitu 19,96000. Nilai CAR

tertinggi (maximum) 241,8400 yang dimiliki oleh

Maybank Syariah Indonesia di tahun 2019, ini

menunjukkan nilai CAR yang sangat baik karena CAR >

12% dan nilai CAR terendah (minimum) 11,51000 yang

dimiliki oleh Bank Panin Syariah di tahun 2017,ini

menunjukkan nilai CAR yang baik karena berada

diperingkat 2 yaitu 9% < CAR < 12%.


66

b. Variabel Financing Deposit Ratio (FDR)

Tabel 4.2

Deskriptif Statistik FDR

FDR

Mean 101,2203

Median 89,00000

Maximum 506,6000

Minimum 68,64000

Standar Devisiasi 67,75546

Observations 65

Sumber: Data Sekunder diolah, 2020

Berdasarkan data di atas, dari 65 data pengamatan

nilai rata-rata (mean) FDR adalah 101,2203 dengan standar

devisiasi 67,75546, dengan nilai rata-rata FDR 101,2203

maka tergolong kurang baik karena digolongan peringkat 4

yaitu 100% < FDR < 120%. Nilai median FDR yaitu

89,00000. Nilai tertinggi (maxsimum) FDR 506,6000 yang

dimiliki Maybank Syariah Indonesia di tahun 2019, ini

menunjukkan FDR tidak baik karena diperingkat 5 yaitu

FDR > 120%. Nilai terendah (minimum) FDR 68,64000

yang dimiliki oleh Bank Aceh Syariah di tahun 2019, ini

menunjukkan FDR sangat baik karena digolongan peringkat

1 yaitu FDR < 75%.


67

c. Non Performing Financing (NPF)

Tabel 4.3
Deskriptif Statistik NPF
a. NPF

Mean 2,134769

Median 1,860000

Maximum 4,970000

Minimum 0,000000

Standar Devisiasi 1,678474

Observations 65

Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan data di atas, dari 65 data pengamatan

Nilai rata-rata (mean) NPF adalah 2,134769 dengan standar

devisiasi 1,678474, dengan nilai rat-rata NPF 2,134769

maka tergolong baik karena diperingkat 2 yaitu 2% < NPL

< 5%. Nilai median NPF yaitu 1,860000. Nilai tertinggi

(maxsimum) NPF 4,970000 yang dimiliki BRI Syariah di

tahun 2018, hal ini munjukkan NPF yang baik karena

digolongan 2 yaitu 2% < NPL < 5% dan nilai terendah

(minimum) NPF 0,000000 yang dimiliki Maybank Syariah

Indonesia dari tahun 2017 sampai 2019, hal ini

menunjukkan bahwa tidak ada pembiayaan bermasalah di

tahun 2017 sampai 2019 di Maybank Syariah Indonesia.


68

d. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

Tabel 4.4
Deskriptif Statistik BOPO
e. BOPO

Mean 96,10431

Median 92,20000

Maximum 217,4000

Minimum 58,10000

Standar Devisiasi 28,03188

Observations 65

Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan data di atas, dari 65 data pengamatan

nilai rata-rata (mean) BOPO adalah 96,10431 dengan

standar devisiasi 28,03188, dengan rata-rata BOPO

96,10431 maka tergolong baik karena berada diperingkat 4

yaitu 96% < BOPO < 97%. Nilai median BOPO yaitu

92,20000. Nilai tertinggi (maxsimum) BOPO 217,4000

yang dimiliki oleh Bank Panin Syariah di tahun 2017, hal

ini menunjukkan BOPO yang tidak baik karena BOPO

lebih dari 97%. Dan nilai terendah (minimum) BOPO

58,10000 yang dimiliki oleh BTPN Syariah di tahun 2019,

hal ini menunjukkan BOPO yang sangat baik karena tidak

lebih dari 94%.


69

e. Return On Assets (ROA)

Tabel 4.5

Deskriptif Statistik ROA

ROA

Mean 1,136769

Median 0,930000

Maximum 13,60000

Minimum -20,13000

Standar Devisiasi 4,732943

Observations 65

Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan data di atas,dari 65 data pengamatan

nilai rata-rata (mean) ROA adalah 1,136769 dengan standar

devisiasi 4,732943, dengan rata-rata ROA 1,136769 maka

cukup baik karena digolongan 3 yaitu 0,5% < ROA <

1,25%. Nilai median ROA yaitu 0,930000. Nilai tertinggi

(maxsimum) ROA 13,60000 yang dimiliki BTPN Syariah di

tahun 2019, hal ini menunjukkan ROA yang sangat baik

karena lebih dari 1,5 % dan nilai terendah (minimum) ROA

-20,13000 yang dimiliki oleh Maybank Syariah Indonesia di

tahun 2015, hal ini menunjukkan ROA yang tidak baik

karena dibawah 0%.


70

f. Financial Distress

Tabel 4.6

Deskriptif Statistik Financial distress

a. Z-Score

Mean 6,373385

Median 6,230000

Maximum 11,08000

Minimum 1,140000

Standar Devisiasi 1,794642

Observations 65

Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

Berdasarkan data di atas, dari 65 data pengamatan

nilai rata-rata (mean) z-score financial distress adalah

6,373385 dengan standar devisiasi 1,794642, dengan rata-

rata z-score 6,373385, maka BUS Indonesia ditahun 2015

sampai 2019 tidak mengalami Financial Distress (tidak

bangkrut) karena nilai z-score lebih dari 2,90. Nilai median

z-score financial distress yaitu 6,220000, Nilai tertinggi

(maxsimum) z-score financial distress 11,08000 yang terjadi

pada Maybank Syariah Indonesia di tahun 2019, hal ini

menujukkan z-score yang baik dan tidak mengalami

kebangkrutan. Dan nilai terendah (minimum) z-score

financial distress 1,140000 yang terjadi pada Bank Aceh

Syariah di tahun 2015, hal ini menunjukkan bahwa bank


71

tersebut dalam kategori bangkrut karena z-score kurang dari

1,23.

B. Analisis Data

Analisis data yang digunakan yaitu sebagai berikut:

1. Uji Stasioneritas

Uji stasioneritas yang digunakan dalam penelitian ini

adalah Unit Root. Berikut dari hasil uji stasioneritas dengan tingkat

level:

Tabel 4.7
Rangkuman Uji Stasioner
No Variabel Prob. Keterangan

1 CAR 0,0109 Data Stasioner pada Level

2 FDR 0,0003 Data Stasioner pada Level

3 NPF 0,0000 Data Stasioner pada Level

4 BOPO 0,0000 Data Stasioner pada Level

5 ROA 0,0000 Data Stasioner pada Level

6 Z-Score FD 0,0000 Data Stasioner pada Level

Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2020.

Berdasarkan Tabel 4.7 di atas, dapat disimpulkan bahwa

nilai probability unit root test dengan uji Levin, Lin, Chu

menunjukkan nilai dibawah 0,05. Dengan demikian variabel

independen (CAR, FDR, NPF, BOPO, ROA) dan variabel

dependen financial distress memenuhi ketentuan uji stasioneritas

dan layak untuk dilanjutkan dengan pengujian data selanjutnya.


72

2. Uji Model Regresi

Sebeum melanjutkan ke uji multikolinearitas,

heteroskedastisitas dan autokorelasi, terlebih dahulu dilakukan uji

model untuk menentukkan model regresi sebagai acuan uji yang

lain.

a. Memilih Common Effect atau Fixed Effect

Tabel 4.8. Uji Chow

Redundant Fixed Effects Tests


Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects

Effects Test Statistic d.f. Prob.

Cross-section F 2.792681 (12,47) 0.0059


Cross-section Chi-square 34.986952 12 0.0005

Sumber: Data sekunder yang diolah, 2020

Tahap pertama adalah melakukan uji chow untuk

menentukan model regresi antara Common Effect Model atau

Fixed Effect Model. Dari hasil uji chow diperoleh nilai

koefisien Cross-section Chi-square adalah 0,0005 < 0,05 , jadi

model yang dipilih yaitu Fixed Effect Model.

b. Memilih Fixed Effect atau Random Effect

Pengujian model pertama diperoleh Fixed Effect Model,

tahap selanjutnya dilakukan uji hausman untuk menentukan

model Fixed Effect Model atau Rondom Effect Model.


73

Tabel 4.9 Uji Hausman

Correlated Random Effects - Hausman Test


Equation: Untitled
Test cross-section random effects

Chi-Sq.
Test Summary Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.

Cross-section random 23.958683 5 0.0002

Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2020

Dari uji hausman diperoleh nilai koefisien Cross-section

rondom adalah 0,0002 < 0,05 sehingga model yang dipilih

yaitu model Fixed Effect Model.

c. Memilih Common Effect atau Random Effect

Tabel 4.10 Uji LM

Lagrange multiplier (LM) test for panel data


Date: 10/15/20 Time: 18:10
Sample: 2015 2019
Total panel observations: 65
Probability in ()

Null (no rand. effect) Cross-section Period Both


Alternative One-sided One-sided

Breusch-Pagan 0.073495 0.016111 0.089606


(0.7863) (0.8990) (0.7647)
Honda 0.271100 0.126929 0.281449
(0.3932) (0.4495) (0.3892)
King-Wu 0.271100 0.126929 0.245474
(0.3932) (0.4495) (0.4030)
GHM -- -- 0.089606
-- -- (0.6214)

Tahap selanjutnya adalah melakukan uji LM untuk

menentukan model regresi apakah Common Effect Model


74

atau Rondom Effect Model. Dari uji LM ini diperoleh nilai

Breusch-Pagan sebesar 0,7863 yang artinya lebih besar dari

0,05 , maka dari uji LM ini diperoleh model Common

Effect.

Dari uji model regresi yang sudah dilakukan diperoleh

uji chow menghasilkan Fixed Effect Model, uji hausman

juga menghasilkan Fixed Effect Model, dan uji LM

menghasilkan Common Effect Model. Dapat disimpulkan

bahwa model regresi terbaik dalam penelitian ini yaitu

menggunakan Fixed Effect Model.

Berikut hasil regresi data panel dengan Fixed Effect

Model:

Tabel 4.11. Hasil Uji Regresi Data Panel


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 10.24991 2.059018 4.978056 0.0000


CAR 0.148716 0.030828 4.824085 0.0000
FDR -0.042378 0.010648 -3.979977 0.0002
NPF -0.376399 0.239642 -1.570674 0.1230
BOPO -0.026598 0.020818 -1.277681 0.2076
ROA -0.432914 0.166777 -2.595769 0.0126

Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.583523 Mean dependent var 6.373385


Adjusted R-squared 0.532883 S.D. dependent var 1.794642
S.E. of regression 1.351495 Akaike info criterion 3.669906
Sum squared resid 85.84726 Schwarz criterion 4.272044
Log likelihood -101.2719 Hannan-Quinn criter. 3.907488
F-statistic 3.873617 Durbin-Watson stat 1.838451
Prob(F-statistic) 0.000119

Sumber: Data Sekunder yang di olah, 2020


75

Model regresi data panel dengan FEM yang diperoleh dari

hasil pengujian dapat ditulis sebagai berikut:

Y(Financial Distress)=10,24991+0,148716(X1)-0,042378(X2)

-0,376399(X3)-0,026598(X4)-0,432914(X5)

Persamaan model regresi tersebut dapat dijelaskan

sebagai berikut:

1) Konstanta diperoleh sebesar 10,24991 yang berarti

bahwa jika variabel independen sama dengan nol atau

konstanta, maka financial distress sebesar 10,24991.

2) Variabel CAR memiliki nilai koefisien 0,148716 yang

menyatakan bahwa setiap kenaikan satu satuan rasio

CAR akan menaikan tingkat financial distress sebesar

0,148716.

3) Variabel FDR memiliki nilai koefisien negatif

0,042378 yang menyatakan bahwa setiap kenaikan satu

satuan rasio FDR akan menurunkan tingkat financial

distress sebesar 0,042378.

4) Variabel NPF memiliki nilai koefisien negatif 0,376399

yang menyatakan bahwa setiap kenaikan satu satuan

rasio NPF maka tidak menurunkan atau menaikkan

tingkat financial distress sebesar 0,376399.

5) Variabel BOPO memiliki koefisien negatif 0,026598

menyatakan bahwa setiap kenaikan satu satuan rasio


76

BOPO maka tidak menurunkan atau menaikkan tingkat

financial distress sebesar 0,026598.

6) Variabel ROA memiliki koefisien negatif 0,432914

yang menyatakan bahwa setiap kenaikan satu satuan

rasio ROA akan menurunkan financial distress sebesar

0,432914.

3. Uji Statistik

a. Uji T (T test)

Uji T statistik yaitu untuk menentukan seberapa jauh

pengaruh antara variabel independen secara parsial dalam

menerangkan variabel dependen. Jika probabilitas value lebih

kecil dari 0,05, maka variabel tersebut memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap variabel dependen. Berdasarkan tabel 4.11

di atas, terdapat 3 variabel independen yang memiliki nilai

signifikan, yaitu variabel CAR, FDR dan ROA. Variabel CAR

memiliki signifikan sebesar 0,0000. Variabel FDR memiliki

signifikansi sebesar 0,0002. Variabel ROA memiliki

signifikansi sebesar 0,0126. Sedangkan variabel NPF dan

BOPO tidak signifikan karena probabilitasnya lebih besar dari

0,05. Dapat disimpulkan bahwa hanya ada 3 variabel yang

memiliki pengaruh signifikan secara parsial terhadap variabel

dependen (financial distress).


77

b. Uji F (F test)

Uji F digunakan untuk menentukan pengaruh variabel

independen secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel

dependen. Untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh dapat

dilihat dari Prob (F-Statistic) pada tabel 4.11. Jika nilainya

lebih kecil dari 0,05 maka variabel independen memiliki

pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. Dari

regresi diatas, nilai prob (F-Statistic) yaitu 0,000119 maka

variabel independen (CAR, FDR, NPF, BOPO dan ROA) pada

penelitian ini memiliki pengaruh secara simultan terhadap

variabel dependen (financial distress).

c. Uji Koefisien Determinasi

Uji Koefisien Determinasi digunakan untuk mengukur

seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi

variabel dependen. Pada tabel 4.11 nilai koefisien determinasi

untuk model regresi antara variabel independen dan dependen

pada Adjusted R-Square adalah 0,532883, hal ini menunjukkan

bahwa variasi variabel independen dapat mempengaruhi

variabel dependen financial distress sebesar 53,2883%,

sedangkan 46,7117% financial distress dipengaruhi oleh

variasi variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian ini.


78

4. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Menurut Purnomo (2017) Uji normalitas residual

digunakan untuk menguji apakah nilai residual yang dihasilkan

dari regresi terdistribusi secara normal atau tidak. Dalam

penelitian ini, uji normalitas menggunakan Jarque-Bera

dengan variabel normalitas > 0,05.

20
Series: Standardized Residuals
Sample 2015 2019
16 Observations 65

12 Mean 8.39e-17
Median -0.072450
Maximum 3.638109
8 Minimum -3.723402
Std. Dev. 1.158172
4
Skewness -0.242724
Kurtosis 5.380354

0 Jarque-Bera 15.98389
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4
Probability 0.067338

Gambar 3.1 Hasil Uji Normalitas

Sumber: Data Sekunder diolah, 2020

Dari gambar 3.1 dapat disimpulkan bahwa variabel

independen dan dependen telah memenuhi syarat uji normalitas

dengan nilai probability 0,067338 yang mana nilai probability

Jarque-Bera lebih dari taraf signifikansi 0,05. Maka dapat

disimpulkan bahwa data tersebut terdistribusi secara normal.


79

b. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah

model regresi ditemukan adanya korelasi anatara variabel-

variabel independen, dan uji ini digunakan untuk penelitian

yang variabel independennya lebih dari satu. Model regresi

yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel

independen.

Tabel 4.12 Hasil Uji Multikolonieritas

DX1 DX2 DX3 DX4 DX5

DX1 1.000000 0.755171 -0.081885 -0.092424 0.231295


DX2 0.755171 1.000000 0.061306 0.361220 -0.284789
DX3 -0.081885 0.061306 1.000000 0.439955 -0.453038
DX4 -0.092424 0.361220 0.439955 1.000000 -0.737775
DX5 0.231295 -0.284789 -0.453038 -0.737775 1.000000

Sumber: Data sekunder diolah, 2020

Berdasarkan Tabel 4.12 menunjukkan bahwa hubungan

antar variabel independen tidak lebih dari 0,8, maka dapat

disimpulkan bahwa data tersebut tidak terjadi

multikolonieritas.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah

dalam suatu model regresi terjadi kediksamaan variance dari

residual satu pengamatan yang lain. Model regresi yang baik

seharusnya tidak terjadi heteroskedastisitas.


80

Tabel 4.13. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -0.478834 0.993029 -0.482196 0.6319


X1 0.009124 0.014868 0.613668 0.5424
X2 -0.005735 0.005135 -1.116838 0.2697
X3 0.125033 0.115575 1.081831 0.2848
X4 0.013282 0.010040 1.322963 0.1922
X5 0.073637 0.080434 0.915500 0.3646

Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.514534 Mean dependent var 0.829422


Adjusted R-squared 0.338939 S.D. dependent var 0.801669
S.E. of regression 0.651802 Akaike info criterion 2.211456
Sum squared resid 19.96778 Schwarz criterion 2.813594
Log likelihood -53.87231 Hannan-Quinn criter. 2.449038
F-statistic 2.930242 Durbin-Watson stat 2.152893
Prob(F-statistic) 0.001845

Sumber: Data sekunder diolah, 2020

Berdasarkan Tabel 4.13 nilai profitabilitas dari semua

variabel lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa

dalam penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas.

d. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi digunakan untuk menguji apakah apakah

model regresi linier ada korelasi antara kesalahan penganggu

pada periode (t) dengan kesalahan penganggu pada periode (t-

1). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi


81

autokorelasi. Metode pengujian menggunakan uji Durbin-

Watson (DW test).

Tabel 4.14. Hasil Uji Autokorelasi

R-squared 0.583523 Mean dependent var 6.373385


Adjusted R-squared 0.532883 S.D. dependent var 1.794642
S.E. of regression 1.351495 Akaike info criterion 3.669906
Sum squared resid 85.84726 Schwarz criterion 4.272044
Log likelihood -101.2719 Hannan-Quinn criter. 3.907488
F-statistic 3.873617 Durbin-Watson stat 1.838451
Prob(F-statistic) 0.000119

Sumber: Data sekunder diolah, 2020

Berdasarkan Tabel 4.14 bahwa nilai Durbin Watson (DW)

sebesar 1,838451. Nilai du 1,7673 dan nilai dl 1,4378, nilai 4-

du 2,2327,nilai 4-dl 2,5622. Maka nilai DW berada di tengah

du dan 4 du (1,7673 < 1,838451 < 2,2327). Sehingga dalam

penelitian ini tidak terjadi autokorelasi.

5. Pembahasan Hipotesis

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat

disimpulkan hasil pengujian hipotesis sebagai berikut:

a. Pengaruh CAR terhadap Financial Distress

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan indikator

terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan

aktivanya sebagai akibat dari kegiatan kerugian-kerugian bank

yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko. Semakin rendah

rasio CAR maka semakin besar potensi bank dalam mengalami


82

kesulitan keuangan,dan sebaliknya. Dalam penelitian ini, hasil

pengujian menunjukkan nilai koefisien CAR sebesar 0,148716

dengan probabilitas 0,000 yang mana lebih kecil dari 0,05.

Dapat disimpulkan bahwa variabel CAR memiliki pengaruh

positif terhadap financial distress. hal ini tidak mendukung H1,

sehingga hipotesis H1 ditolak.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian dari Maisarah

dkk (2018), dan Afiqoh dan Laila (2018) dimana Capital

Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif terhadap financial

distress. Dapat disimpulkan bahwa semakin kecil nilai CAR

atau semakin kecil modal bank dalam menanggung aktiva

berisiko tidak berarti memungkinkan terjadinya financial

distress yang semakin tinggi begitu pula sebaliknya, semakin

tinggi CAR atau semakin tinggi modal bank untuk

menanggung aktiva berisiko tidak berarti memungkinkan

terjadinya financial distress semakin rendah. Namun CAR

sangat tinggi tidak selalu memberikan hasil yang baik terhadap

pengelolaan yang berisiko yang nantinya berpengaruh pada

kesehatan bank dikarenakan manajemen bank yang tidak dapat

mengelola aktiva yang berisiko selain itu bank tersebut dapat

diindikasikan tidak cukup melakukan perluasan dalam hal

investasi pada aktiva yang berisiko dalam memperoleh

pendapatan bagi bank tersebut. Hasil ini tidak mendukung


83

penelitian dari Wijayanti dkk (2018), Effendi dan Haryanto

(2016), Haq dan Harto (2019), dan Afriyeni dan Jumyetti

(2015) yang menyatakan CAR tidak berpengaruh terhadap

financial distress.

b. Pengaruh FDR terhadap Financial Distress

Financing Deposit Ratio adalah rasio pembiayaan bank

syariah dengan dana pihak ketiga; rasio penyaluran dan

penghimpunan dana. Dalam penelitian ini, hasil pengujian

menunjukkan variabel FDR memiliki koefisien regresi negatif

sebesar 0,042378 dengan probabilitasnya sebesar 0,0002 yang

mana tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05. Dapat

disimpulkan bahwa variabel FDR berpengaruh negatif terhadap

financial distress. Hasil ini mendukung H2, maka hipotesis H2

diterima.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian Haq dan Harto

(2019), dan Maisarah dkk (2018) bahwa FDR berpengaruh

negatif terhadap financial distress. Hal ini menunjukkan bahwa

nilai FDR yang tinggi dapat menurunkan kemungkinan

terjadinya financial distress. FDR perbankan syariah yang

tinggi menunjukkan bahwa bank syariah telah melaksanakan

fungsi perantara secara optimum. Dengan kata lain bahwa

seluruh dana yang dihimpun dari masyarakat dapat disalurkan

oleh bank syariah dan tidak terjadi pembiayaan bermasalah


84

yang kemudian akan meningkatkan laba dan probabilitas

terjadinya financial distress semakin kecil (Hidayat, 2014:

121). Sedangkan hasil penelitian ini tidak mendukung

penelitian dari Wijayanti dkk yang menyatakan bahwa FDR

tidak berpengaruh terhadap financial distress.

c. Pengaruh NPF terhadap Financial Distress

Non Performing Financing (NPF) menunjukkan risiko

pembiayaan bermasalah, semakin kecil rasio NPF maka

semakin kecil pula risiko pembiayaan bermasalah yang

ditanggung pihak bank syariah. Dalam penelitian ini, hasil

pengujian menunjukkan variabel NPF memiliki koefisien

regresi negatif 0,376399 dengan probabilitas sebesar 0,1230

yang mana tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05. Maka

dapat disimpulkan bahwa variabel NPF tidak berpengaruh

terhadap financial distress. Hal ini tidak mendukung H3,

sehingga hipotesis H3 ditolak.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian Zahronya dan

Mahardika (2018) bahwa NPF tidak berpengaruh terhadap

financial distress. Hal ini menunjukkan bahwa belum tentu

besarnya nilai NPF dapat mengakibatkan terjadinya financial

distress, karena pembiayaan yang diberikan ialah pembiayaan

kepada dana pihak ketiga (nasabah) dan tidak termasuk pada

pembiayaan kepada bank lain (Susanto dan Njit, 2012). Selain


85

itu apabila terjadi pembiayaan bermasalah, maka bank

mempunyai manajemeen pembiayaan yang baik yang dapat

menanggung pembiayaan bermasalah dengan kecukupan modal

bank tersebut. Bahwa bank Umum syariah yang memiliki nilai

NPF tinggi belum tentu mengalami potensi financial distress

seperti halnya pada bank BRI Syariah di tahun 2018 memiliki

rasio NPF tertinggi 4,97 dan NPF rendah yaitu 0,000 pada

Maybank Indonesia ditahun 2017, 2018 dan 2019 dimana

bank-bank tersebut masih di Zona tidak bangkrut. Sedangkan

hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian dari Wijayanti

dkk (2018), Haq dan Harto (2019), dan Afriyeni dan Jumyetti

(2015), bahwa NPF berpengaruh positif terhadap financial

distress.

d. Pengaruh BOPO terhadap Financial Distress

Rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional

digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen suatu bank

dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan

operasional. Apabila rasio BOPO kecil maka menunjukkan

tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan

kegiatan operasinya dikarenakan biaya operasional yang lebih

kecil dibanding pendapatan operasional bank dan semakin kecil

pula kemungkinan bank mengalami financial distress. Dalam

penelitian ini hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel


86

BOPO memiliki koefisien regresi negatif 0,026598 dengan

probabilitasnya 0,2076 yang mana tingkat signifikansi lebih

besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel BOPO

tidak berpengaruh terhadap financial distress. Hal ini tidak

mendukung H4,maka hipotesis H4 ditolak.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian dari Zahronya

dan Mahardika (2018) bahwa BOPO tidak berpengaruh pada

financial distress. Ketidaksesuaian dari hasil penelitian ini yang

mana BOPO tidak berpengaruh terhadap financial distress

disebabkan karena Bank Umum Syariah masih memiliki

tingkat efisiensi yang cukup baik dan masih mampu menutup

biaya operasional dengan pendapatan operasionalnya. Dapat

dilihat di tabel 4.4 bahwa rata-rata rasio BOPO BUS pada

tahun penelitian ini yaitu dikarenakan memiliki nilai rata rata

96 % yang mana rasio ini tergolong cukup baik. Hasil

penelitian ini tidak mendukung penelitian dari Maisarah dkk

(2018) bahwa BOPO berpengaruh positif terhadap financial

distress.

e. Pengaruh ROA terhadap Financial Distress

Return On Assets (ROA) digunakan untuk mengukur

kemampuan manajemen bank untuk memperoleh keuntungan

atau laba secara keseluruhan. Semakin rendah ROA, maka

semakin rendah pula keuntungan yang akan dicapai dan potensi


87

bank mengalami financial distress semakin besar. Hasil

pengujian menunjukkan bahwa variabel ROA memiliki

koefisien regresi negatif 0,432914 dengan probabilitas 0,0126

yang mana tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05. Maka

dapat disimpulkan bahwa variabel ROA berpengaruh negatif

terhadap financial distress. Hal ini mendukung H5, maka

hipotesis H5 diterima.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian Haq dan Harto

(2019), Afriyeni dan Jumyetti (2015) dan Nurcahyo dan

Sudharma (2014) bahwa ROA berpengaruh negatif terhadap

financial distress. Dapat disimpulkan bahwa nilai ROA yang

tinggi maka potensi financial distress tidak akan terjadi, begitu

sebaliknya, apabila nilai ROA rendah maka akan

mengakibatkan bank berpotensi mengalami financial distress.

tinggi rendahnya pendapatan bank dapat dilihat dengan rasio

ROA. Apabila perolehan laba mengalami peningkatan maka

hal tersebut dapat menunjukkan baiknya operasional suatu

perbankan dalam menjalankan usahanya sehingga

profitabilitas ROA akan meningkat dan kemungkinan

terjadinya financial distress akan semakin kecil. Hasil

penelitian ini tidak mendukung penelitian dari Wijayanti dkk

(2018), Maisarah dkk (2018), Afiqoh dan Laila (2018) bahwa

ROA tidak berpengaruh terhadap financial distress.


88

Berdasarkan deskripsi pembahasan di atas, dapat

dirangkum dalam tabel berikut ini:

Tabel 4.15
Hasil Penelitian
No Hipotesis Signifikansi Hasil

H1 Capital Adequacy Ratio 0,0000 Ditolak


(CAR) berpengaruh negatif
terhadap Financial Distress

H2 Financing Deposit Ratio 0,0002 Diterima


(FDR) berpengaruh negatif
terhadap Financial Distress

H3 Non Performing Financing 0,1230 Ditolak


(NPF) berpengaruh positif
terhadap Financial Distress

H4 Biaya Operasional Pendapatan 0,2076 Ditolak


Operasional berpengaruh
positif terhadap Financial
Distress

H5 Return On Assets (ROA) 0,0126 Diterima


berpengaruh negatif terhadap
Financial Distress

Sumber: Data yang diolah, 2020


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil analisis dan pembahasan penelitian, maka

dapat ditarik kesimpulan mengenai pengaruh Capital Adequacy Ratio

(CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing

(NPF), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan

Return On Assets (ROA) adalah sebagai berikut:

1. Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif terhadap

financial distress. Hal tersebut menunjukkan bahwa tinggi

rendahnya CAR memiliki pengaruh secara signifikan terhadap

financial distress.

2. Financing Deposit Ratio (FDR) berpengaruh negatif dan signifikan

terhadap financial distress. Hal tersebut menunjukkan bahwa tinggi

rendahnya FDR memiliki pengaruh secara signifikan terhadap

financial distress.

3. Non Performing Financing (NPF) tidak berpengaruh terhadap

financial distress. Hal ini menunjukkan tinggi rendahnya NPF

tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap financial

distress.

4. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) tidak

berpengaruh terhadap financial distress. Hal ini menunjukkan

89
90

bahwa tinggi rendahnya BOPO tidak memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap financial distress.

5. Return On Assets (ROA) berpengaruh negatif terhadap financial

distress. Hal ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya ROA

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap financial distress.

B. Keterbatasan Penelitian

Dalam penyusunan skripsi ini, terdapat beberapa keterbatasan,

antara lain:

1. Penelitian terdahulu yang mendukung penelitian ini masih terbatas.

2. Dalam penelitian ini belum terdapat variabel intervening ataupun

moderating.

3. Sampel dalam penelitian ini hanya menggunakan 13 Bank Umum

Syariah.

4. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder,

sehingga peneliti tidak bisa mengawasi kemungkinan terjadinya

kesalahan dalam penghitungan.

5. Keterbatasan ilmu pengetahuan peneliti dalam bidang perbankan,

khususnya perbankan syariah, sehingga belum dapat menggali

lebih dalam informasi yang berhubungan dengan financial distress.


91

C. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti berdasarkan hasil dari

penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator harus mampu

memantau setiap kinerja keuangan Bank Umum Syariah di seluruh

Indonesia agar Bank Umum Syariah di Indonesia semakin baik

dan berkembang.

2. Bagi Bank Umum Syariah di Indonesia harus memiliki manajemen

bank yang baik, efektif dan efisien agar bank tidak mengalami

Financial Distress yang nantinya menjadikan kebangkrutan.

3. Bagi penelitian selanjutnya, sebaiknya menggunakan variabel

tambahan seperti intervening ataupun moderating dan

memperbanyak sampel penelitian.


DAFTAR PUSTAKA

Afiqoh, Luluk dan Nisful Laila. 2018. Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap
Risiko Kebangkrutan Bank Umum Syariah di Indonesia (Metode Altman Z-
Score Modifikasi). Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam. Vol.4. No.2.
Afriyeni, Endang dan Jumyetti. 2015. Pengaruh Rasio NPL dan Rasio ROA dalam
Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Perbankan yang
terdaftar di BEI. Jurnal Polibisnis. Vol.7. No.2.
Arifin, Zainul. 2002. Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah. Jakarta: AlvaBet.
Bawono, Anton dan Arya Fendha Ibnu Shina. 2018. Ekonometrika Terapan untuk
Ekonomi dan Bisnis Islam Aplikasi dengan Eviews.
Dwijayanti, S. P. F. 2010. Penyebab, Dampak, dan Prediksi dari Financial
Distress serta Solusi untuk Mengatasi Financial Distress. Jurnal Akuntansi
Kontemporer. Vol.2. No.2.
Effendi, Satrio Arga dan A Mulyo Haryanto. 2016. Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kondisi Financial Distress Bank Perkreditan Rakyat.
Diponegoro Journal Of Management. Vol.5. No.4.
Ekananda, M. 2006. Analisis Data Panel: Estimasi dengan Struktur Varian
Covarian Residual. Jakarta: Universitas Indonesia.
Fahmi, Irham. 2013. Pengantar Manajemen Keuangan. Bandung: CV Alfabeta.
Gujarati, D. 2012. Dasar-Dasar Ekonometrik. Jakarta: Salemba Empat.
Haq, Habbi Irsyada dan Puji Harto. 2019. Pengaruh Tingkat Kesehatan Bank
Berbasis RGEC terhadap Financial Distress. Diponegoro Journal Of
Accounting. Vol.8. No.3.
Hapsari, Evanny Indri. 2012. Kekuatan Rasio Keuangan dalam Memprediksi
Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur di BEI. Jurnal Dinamika
Manajemen. Vol.3. No.2.
Hidayat, Rahmat. 2014. Efisiensi Perbankan Syariah Teori dan Praktik. Bekasi:
Gramata Publishing.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2009. Standar Akuntansi Keuangan revisi 2009.
Jakarta:Selemba Empat
Kasmir. 2009. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Kasmir. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Kasmir. 2014. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: Rajawali Pers
Lemiyana dan Erdah Litriani. 2016. Pengaruh NPF, FDR, BOPO terhadap Return
on Assets Pada Bank Umum Syariah. Jurnal I-Economic. Vol.2. No.1.
Lukviarman, Niki dan Ayu Suci Ramdhani. 2009. Perbandingan Analisis Prediksi
Kebangkrutan menggunakan Model Altman Pertama, Altman Revisi, dan
Altman Modifikasi dengan Ukuran dan Umur Perusahaan sebagai Variabel
Penjelas. Jurnal Siasat Bisnis. Vol.13. No.1.
Maisarah,dkk. 2018. Analisis Rasio Keuangan untuk Memprediksi Kondisi
Financial Distress Perbankan Syariah di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan
Keuangan Unja. Vol.3. No.4.
Meliani, N.M. dan Bagus. 2017. RGEC sebagai Determinasi dalam
Menanggulangi Financial Distress pada Perusahaan Perbankan di BEI.
Jurnal Manajemen. Vol.6. No.1.
Nurcahyono dan Ketut Sudharma. 2014. Analisis Rasio Keuangan untuk
Memprediksi Kondisi Financial Distress. Management Analysis Journal.
Vol.1. No.3.
Oktarina, Eka. 2017. Analisis Prediksi Kebangkrutan dengan Metode Altman Z-
Score pada PT BRI Syariah. Skripsi diterbitkan. Palembang: Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Raden Patah.
Purnomo, Rochmat Aldy. 2017. Analisis Statistik Ekonomi dan Bisnis dengan
SPSS. Ponorogo: CV. Wade Group.
Rahmaniah, Melan dan Hendro Wibowo. 2015. Analisis Potensi Terjadinya
Financial Distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia. Jurnal Ekonomi
dan Perbankan Syariah. Vol.3. No.1.
Rahmat, Didi. 2019. Profitability Index dalam Financial Distress Mitigation Studi
pada Bank BUMN di Indonesia. Jurnal Integra Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi Indonesia Pontianak. Vol.9. No.2.
Ramadhani dan Lukviarman. 2009. Perbandingan Analisis Prediksi Kebangkrutan
Menggunakan Model Altman Pertama, Altman Revisi, dan Altman
Modifikasi dengan Ukuran dan Umur Perusahaan sebagai Variabel Penjelas
pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI. Jurnal Siasat Bisnis.
Vol.13. No.1.
Romdhoni, Abdul Haris dan Bunga Chairunisa Chateradi. 2018. Pengaruh CAR,
NPF dan FDR terhadap Profitabilitas Bank Syariah. Jurnal Edunomika.
Vol.2. No.2.
Sari, Eka Ratna. 2018. Akurasi Pengukuran Financial Distress Menggunakan
Metode Springate dan Zmijewski pada Perusahaan Property dan Real Estate
di BEI. Jurnal Manajemen Bisnis Indonesia. Vol.5. No.2.
Shihab, Quraish. 2002. Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al
Quran. Jakarta: Lentera Hati.
Soemitra, Andri. 2018. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana
(Devisi dari Prenada Media Group).
Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Suhadi, Arinna dan Rohmawati Kusumaningtias (2019). Pengaruh Rasio
Keuangan terhadap Kondisi Financial Distress Bank Umum Syariah di
Indonesia
Sumarlin. 2016. Analisis Pengaruh Inflasi, CAR, FDR, BOPO, Dan NPF terhadap
Profitabilitas Perbankan Syariah. Jurnal ASSETS. Vol.6. No.2.
Suryani dan Hendryadi. 2016. Metode Riset Kuantitatif Teori dan Aplikasi pada
Penelitian Bidang Manajemen dan Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana (Divisi
dari Prenada Media Group).
Wangsawidjaja. 2012. Pembiayaan Bank Syariah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Wijayanti, Kristina Nimas, dkk. 2018. Pengaruh Risk Profile, Good Corporate
Governance, Earnings, dan Capital terhadap Prediksi Financial Distress
pada Bank Perkreditan Rakyat.
Winarno,W. W. 2015. Analisis Ekonometrika dan Statistik dengan Eviews. Edisi
4. Yogyakarta: UPP STI YKPN.
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Yuliastary, Etta Citrawati dan Made Gede Wirakusuma. 2014. Analisis Financial
Distress dengan Metode Z-Score Altman, Springate, Zmijewski. Jurnal
Akuntansi Universitas Udayana. Vol.6. No.3.
Yusuf, Muhammad. 2017. Dampak Indikator Rasio Keuangan terhadap
Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia. Jurnal Keuangan dan
Perbankan. Vol.13. No.2.
Zahronyana, Baiq Defika, dan Dewa P.K. Mahardika. 2018. Capital Adequacy
Ratio, Non Performing Loan, Net Interest Margin, Biaya Operasional
Pendapatan Operasional dan Loan to Deposit Ratio terhadap Financial
Distress. Jurnal Riset Akuntansi Kotemporer. Vol.10. No.2.
Zulaikah, Siti dan Nisful Laila. 2016. Perbandingan Financial Distress Bank
Syariah di Indonesia dan Bank Islam di Malaysia sebelum dan sesudah
Krisis Global 2008 Menggunakan Model Altman Z-Score. Jurnal Ekonomi
Syariah Teori dan [Link].3. No.11.
LAMPIRAN

Z-Score BRI Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,73733132 0,014407199 0,006977601 0,364369465 5,313338345
2016 0,732618712 0,018755931 0,008618029 0,296536754 5,236399832
2017 0,752794183 0,018307833 0,004785695 0,286012183 5,330486039
2018 0,732487471 0,002811546 0,00399614 0,422587263 5,284854137
2019 0,762444031 0,00369395 0,002710008 0,428284561 5,481585163

Z-Score Muamalat

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,763691954 0,00508275 0,001904931 0,396618112 5,455639137
2016 0,749049645 0,004359845 0,00208759 0,381854988 5,342955108
2017 0,706362951 0,004562922 0,000976844 0,555339332 5,238286775
2018 0,753521325 0,007709579 0,00080042 0,414777108 5,409127905
2019 0,71034928 0,01017423 0,000517577 0,409147443 5,126142199

Z-Score BCA Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,892651082 0,015644242 0,007332233 2,67401087 8,763775346
2016 0,897766557 0,020990889 0,009856889 2,619736381 8,774740406
2017 0,858283125 0,025619524 0,010432959 1,522225389 7,382303091
2018 0,854700091 0,029882401 0,010248212 1,630503436 7,485145817
2019 0,780995103 0,032229674 0,009646985 1,63497692 7,009950118

Z-Score Bank Panin Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,86910074 0,021089359 0,010564926 1,373380389 7,283097876
2016 0,851723007 0,019410604 0,003168685 1,165639415 6,895796444
2017 0,887383028 -0,092574861 -0,112964613 0,419247768 5,200526574
2018 0,824450722 -0,088708309 0,002441255 1,952557594 7,185798356
2019 0,857809771 -0,068681818 0,001995944 2,903139932 8,465039043
Z-Score Bank Bukopin Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,823969265 -0,020865644 0,006978652 0,722501131 6,142739108
2016 0,777140691 -0,012661318 0,006814318 0,607593008 5,740531912
2017 0,721065523 -0,028737246 0,000185924 0,574444494 5,240922537
2018 0,698361297 -0,032186951 0,000240988 0,692985403 5,205574761
2019 0,812212476 -0,02996621 0,00037205 0,647919331 5,913239472

Z-Score BNI Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,854724069 0,026372134 0,013370947 0,669280971 6,485560833
2016 0,831369658 0,030428116 0,013180571 0,530777897 6,198870844
2017 0,804629555 0,031902875 0,011738034 0,575754395 6,065794957
2018 0,763233898 0,034764107 0,013404568 0,433440208 5,665336275
2019 0,733090651 0,036873236 0,016005307 0,362224514 5,417172823

Z-Score Mandiri Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,82688108 0,046078093 0,005316577 0,568013581 6,206696125
2016 0,830979475 0,045259902 0,005514328 0,569086895 6,23337016
2017 0,821966554 0,044737316 0,005540123 0,541527634 6,143777887
2018 0,830418805 0,0461485 0,008294933 0,555295953 6,236794171
2019 0,821270609 0,051769813 0,015272753 0,485287002 6,168489038

Z-Score BPD NTB Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,166983701 0,083382392 0,048122231 0,218554688 1,920103491
2016 0,153227269 0,079254791 0,040301172 0,196749814 1,740952684
2017 0,130718453 0,067214231 0,025509552 0,167715885 1,424157313
2018 0,932076407 0,089317552 0,007581008 3,505322438 10,13712938
2019 0,935173005 0,079417292 0,025968513 2,953170823 9,668973056
Z-Score Bank Victoria Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,888603639 0,001922957 -0,02318984 1,462597928 7,215400811
2016 0,823050712 -0,00953255 -0,017157558 0,837429787 6,132139044
2017 0,870095319 -0,0053098 0,003044736 1,436397016 7,219192837
2018 0,801558616 -0,001535581 0,002980149 1,051253762 6,377061578
2019 0,840615885 -0,00117606 0,000472357 1,606420317 7,200521822

Z-Score Maybank Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,790832372 -0,037602119 -0,224470716 2,739535306 6,433346312
2016 0,701344518 -0,170515051 -0,107492266 1,831816902 5,246000691
2017 0,732043636 -0,187418473 0,056044457 1,440069283 6,079913528
2018 0,940671872 -0,458973398 -0,097018939 4,02785437 8,251834021
2019 0,940812411 -0,316501845 0,107562222 4,96820009 11,07936163

Z-Score Bank Aceh Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,099565607 0,051331985 0,029872578 0,117378438 1,144483737
2016 0,846256019 0,058626804 0,005564584 0,700349839 6,515324201
2017 0,874381349 0,054375672 0,023557714 0,758824115 6,868279499
2018 0,847859359 0,059195616 0,023393697 0,642256969 6,586510564
2019 0,876578273 0,060234814 0,021728761 0,783244479 6,915142941

Z-Score BTPN Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,79096121 0,053356582 0,048264285 1,194376691 6,941079516
2016 0,768456827 0,094779341 0,075886476 1,192226763 7,111852657
2017 0,804887271 0,147436549 0,099240519 1,36328929 7,85905369
2018 0,824540514 0,195447566 0,107898441 1,950214761 8,81894786
2019 0,839036606 0,244544153 0,122098704 2,211234356 9,443593439
Z-Score Bank Mega Syariah

Tahun WCTA (X1) RETA (X2) EBITTA (X3) BVETL (X4) Z-SCORE
2015 0,756421541 0,004495542 0,003008618 0,935541884 5,979317667
2016 0,827531571 0,022270622 0,024000317 1,623603963 7,367275625
2017 0,751088501 0,029868329 0,013708854 0,924151405 6,086993793
2018 0,812135237 0,035111751 0,008275647 1,284192358 6,846085787
2019 0,82056798 0,038500982 0,008060456 1,286959074 6,913912442

Data Bank Umum Syariah Periode 2015-2019

No Nama Bank Tahun (X1) (X2) (X3) (X4) (X5) (Y)


1 Bank Muamalat Indonesia 2015 12,36 90,3 4,2 97,41 0,2 5,46
2016 12,74 95,13 1,4 97,76 0,22 5,34
2017 13,62 84,41 2,75 97,68 0,11 5,24
2018 12,34 73,18 2,58 98,24 0,08 5,41
2019 12,42 73,51 4,3 99,5 0,05 5,13
2 BTPN Syariah 2015 19,96 95,54 0,17 85,82 5,24 6,94
2016 23,8 92,75 0,2 75,14 8,98 7,11
2017 28,9 92,5 0,1 68,8 11,2 7,86
2018 40,9 95,6 0,02 62,4 12,4 8,82
2019 44,6 95,3 0,26 58,1 13,6 9,44
3 Bank Victoria Syariah 2015 16,14 95,29 4,82 119,19 -2,36 7,22
2016 15,98 100,67 4,35 131,34 -2,19 6,13
2017 19,29 83,59 4,08 96,02 0,36 7,22
2018 22,07 82,78 3,46 96,38 0,32 6,38
2019 19,44 80,52 2,64 99,8 0,05 7,2
4 BRI Syariah 2015 13,94 84,16 3,89 93,79 0,76 5,31
2016 20,63 81,42 3,19 91,33 0,95 5,24
2017 20,29 71,87 4,72 95,24 0,51 5,33
2018 29,72 75,49 4,97 95,32 0,43 5,28
2019 25,26 80,12 3,38 96,8 0,31 5,48
5 Bank Aceh Syariah 2015 19,44 84,05 0,81 76,07 2,83 1,14
2016 20,74 84,59 0,07 83,05 2,48 6,52
2017 21,5 69,44 0,04 78 2,51 6,87
2018 19,67 71,98 0,04 79,09 2,38 6,59
2019 18,9 68,64 0,04 76,95 2,33 6,92
6 BNI Syariah 2015 15,48 91,94 1,46 89,63 1,43 6,49
2016 14,92 84,57 1,64 86,88 1,44 6,2
2017 20,14 80,21 1,5 87,62 1,31 6,07
2018 19,31 79,62 1,52 85,37 1,42 5,67
2019 18,88 74,31 1,44 81,26 1,82 5,42
7 Bank Syariah Mandiri 2015 12,85 81,99 4,05 94,78 0,56 6,21
2016 14,01 79,19 3,13 94,12 0,59 6,23
2017 15,89 77,66 2,71 94,44 0,59 6,14
2018 16,26 77,25 1,56 90,68 0,88 6,24
2019 16,15 75,54 1 82,89 1,69 6,17
8 Bank Panin Syariah 2015 20,3 96,43 1,94 89,29 1,14 7,28
2016 18,17 91,99 1,86 96,17 0,37 6,9
-
2017 11,51 86,95 4,83 217,4 10,77 5,2
2018 23,15 88,82 3,84 99,57 0,26 7,19
2019 14,46 96,23 2,8 97,74 0,25 8,47
9 Bank Syariah Bukopin 2015 16,31 90,56 2,74 91,99 0,79 6,14
2016 15,15 88,18 4,66 109,62 -1,12 5,74
2017 19,2 82,44 4,18 99,2 0,02 5,24
2018 19,31 93,4 3,65 99,45 0,02 5,2
2019 15,25 93,48 4,05 99,6 0,04 5,91
10 BCA Syariah 2015 34,3 91,4 0,5 92,5 1 8,76
2016 36,7 90,1 0,2 92,2 1,1 8,77
2017 29,4 88,5 0,04 87,2 1,2 7,38
2018 24,3 89 0,28 87,4 1,2 7,49
2019 38,3 91 0,26 87,6 1,2 7,01
-
11 Maybank Syariah Indonesia 2015 38,4 110,54 4,93 192,6 20,13 6,43
2016 55,06 134,73 4,6 160,28 -9,51 5,25
2017 75,83 85,94 0 83,36 5,5 6,08
2018 163,07 424,92 0 199,97 -6,86 8,25
2019 241,84 506,6 0 84,7 11,15 11,08
12 BPD NTB Syariah 2015 27,59 117,62 1,33 67,19 4,37 1,92
2016 31,17 103,95 1,06 68,69 3,95 1,74
2017 30,87 180,42 0,55 78,1 2,45 1,42
2018 35,42 98,93 0,57 86,86 1,92 10,14
2019 35,47 81,89 0,61 76,83 2,56 9,67
13 Bank Mega Syariah 2015 18,74 98,49 3,16 99,51 0,3 5,98
2016 23,53 95,24 2,81 88,16 2,63 7,37
2017 22,19 91,05 2,95 89,16 1,56 6,09
2018 20,54 90,88 2,15 93,84 0,93 6,84
2019 19,96 94,53 1,72 93,71 0,89 6,91
HASIL OUTPUT

Hasil Uji Deskriptif

Date: 09/29/20
Time: 21:01
Sample: 2015 2019

X1 X2 X3 X4 X5 Y

Mean 28.67738 101.2203 2.134769 96.10431 1.136769 6.373385


Median 19.96000 89.00000 1.860000 92.20000 0.930000 6.230000
Maximum 241.8400 506.6000 4.970000 217.4000 13.60000 11.08000
Minimum 11.51000 68.64000 0.000000 58.10000 -20.13000 1.140000
Std. Dev. 33.80908 67.75546 1.678474 28.03188 4.732943 1.794642
Skewness 4.958427 5.097453 0.191805 2.788384 -1.044099 -0.493079
Kurtosis 29.11826 28.63872 1.630967 11.42944 9.710975 5.004320

Jarque-Bera 2113.874 2061.800 5.474650 276.6721 133.7856 13.51406


Probability 0.000000 0.000000 0.064743 0.000000 0.000000 0.001163

Sum 1864.030 6579.320 138.7600 6246.780 73.89000 414.2700


Sum Sq. Dev. 73155.47 293811.3 180.3056 50290.32 1433.648 206.1275

Observations 65 65 65 65 65 65

Hasil Uji Stasioneritas

Panel unit root test: Summary


Series: X1
Date: 09/29/20 Time: 21:02
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test

Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -2.29504 0.0109 13 52

Null: Unit root (assumes individual unit root process)


Im, Pesaran and Shin W-stat -0.19741 0.4218 13 52
ADF - Fisher Chi-square 22.6652 0.6518 13 52
PP - Fisher Chi-square 30.2014 0.2593 13 52

Panel unit root test: Summary


Series: X2
Date: 09/29/20 Time: 21:04
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test

Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -3.39471 0.0003 13 52

Null: Unit root (assumes individual unit root process)


Im, Pesaran and Shin W-stat -0.10555 0.4580 13 52
ADF - Fisher Chi-square 18.7513 0.8468 13 52
PP - Fisher Chi-square 22.8095 0.6437 13 52

Panel unit root test: Summary


Series: X3
Date: 09/29/20 Time: 21:05
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test

Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -738.957 0.0000 13 52

Null: Unit root (assumes individual unit root process)


Im, Pesaran and Shin W-stat -176.998 0.0000 13 52
ADF - Fisher Chi-square 45.9166 0.0093 13 52
PP - Fisher Chi-square 31.3770 0.2145 13 52

Panel unit root test: Summary


Series: X4
Date: 09/29/20 Time: 21:06
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test

Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -4.91057 0.0000 13 52

Null: Unit root (assumes individual unit root process)


Im, Pesaran and Shin W-stat -1.03162 0.1511 13 52
ADF - Fisher Chi-square 35.4660 0.1019 13 52
PP - Fisher Chi-square 44.9020 0.0121 13 52

Panel unit root test: Summary


Series: X5
Date: 09/29/20 Time: 21:06
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test

Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -8.73597 0.0000 13 52

Null: Unit root (assumes individual unit root process)


Im, Pesaran and Shin W-stat -1.57522 0.0576 13 52
ADF - Fisher Chi-square 38.0794 0.0595 13 52
PP - Fisher Chi-square 50.7643 0.0025 13 52
Panel unit root test: Summary
Series: Y
Date: 09/29/20 Time: 21:07
Sample: 2015 2019
Exogenous variables: Individual effects
Automatic selection of maximum lags
Automatic lag length selection based on SIC: 0
Newey-West automatic bandwidth selection and Bartlett kernel
Balanced observations for each test

Cross-
Method Statistic Prob.** sections Obs
Null: Unit root (assumes common unit root process)
Levin, Lin & Chu t* -18.7408 0.0000 13 52

Null: Unit root (assumes individual unit root process)


Im, Pesaran and Shin W-stat -6.71822 0.0000 13 52
ADF - Fisher Chi-square 57.1935 0.0004 13 52
PP - Fisher Chi-square 61.3067 0.0001 13 52

Hasil Uji Model Regresi

Uji LM

Lagrange multiplier (LM) test for panel data


Date: 10/15/20 Time: 18:10
Sample: 2015 2019
Total panel observations: 65
Probability in ()

Null (no rand. effect) Cross-section Period Both


Alternative One-sided One-sided

Breusch-Pagan 0.073495 0.016111 0.089606


(0.7863) (0.8990) (0.7647)
Honda 0.271100 0.126929 0.281449
(0.3932) (0.4495) (0.3892)
King-Wu 0.271100 0.126929 0.245474
(0.3932) (0.4495) (0.4030)
GHM -- -- 0.089606
-- -- (0.6214)

Uji Chow

Redundant Fixed Effects Tests


Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects

Effects Test Statistic d.f. Prob.

Cross-section F 2.792681 (12,47) 0.0059


Cross-section Chi-square 34.986952 12 0.0005

Uji Hausman

Correlated Random Effects - Hausman Test


Equation: Untitled
Test cross-section random effects

Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.

Cross-section random 23.958683 5 0.0002

Uji Regresi Linier Berganda

Dependent Variable: Y
Method: Panel Least Squares
Date: 09/29/20 Time: 21:12
Sample: 2015 2019
Periods included: 5
Cross-sections included: 13
Total panel (balanced) observations: 65

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 10.24991 2.059018 4.978056 0.0000


X1 0.148716 0.030828 4.824085 0.0000
X2 -0.042378 0.010648 -3.979977 0.0002
X3 -0.376399 0.239642 -1.570674 0.1230
X4 -0.026598 0.020818 -1.277681 0.2076
X5 -0.432914 0.166777 -2.595769 0.0126

Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.583523 Mean dependent var 6.373385


Adjusted R-squared 0.532883 S.D. dependent var 1.794642
S.E. of regression 1.351495 Akaike info criterion 3.669906
Sum squared resid 85.84726 Schwarz criterion 4.272044
Log likelihood -101.2719 Hannan-Quinn criter. 3.907488
F-statistic 3.873617 Durbin-Watson stat 1.838451
Prob(F-statistic) 0.000119

Uji Asumsi Klasik

Uji Normalitas
20
Series: Standardized Residuals
Sample 2015 2019
16 Observations 65

12 Mean 8.39e-17
Median -0.072450
Maximum 3.638109
8 Minimum -3.723402
Std. Dev. 1.158172
4
Skewness -0.242724
Kurtosis 5.380354

0 Jarque-Bera 15.98389
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4
Probability 0.067338
Uji Multikolonieritas

X1 X2 X3 X4 X5

X1 1.000000 0.939296 -0.318874 0.179314 0.147543


X2 0.939296 1.000000 -0.227444 0.277013 0.047668
X3 -0.318874 -0.227444 1.000000 0.476725 -0.577117
X4 0.179314 0.277013 0.476725 1.000000 -0.843106
X5 0.147543 0.047668 -0.577117 -0.843106 1.000000

DX1 DX2 DX3 DX4 DX5

DX1 1.000000 0.755171 -0.081885 -0.092424 0.231295


DX2 0.755171 1.000000 0.061306 0.361220 -0.284789
DX3 -0.081885 0.061306 1.000000 0.439955 -0.453038
DX4 -0.092424 0.361220 0.439955 1.000000 -0.737775
DX5 0.231295 -0.284789 -0.453038 -0.737775 1.000000

Uji Heteroskedastisitas

Dependent Variable: RESABS


Method: Panel Least Squares
Date: 09/29/20 Time: 21:17
Sample: 2015 2019
Periods included: 5
Cross-sections included: 13
Total panel (balanced) observations: 65

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -0.478834 0.993029 -0.482196 0.6319


X1 0.009124 0.014868 0.613668 0.5424
X2 -0.005735 0.005135 -1.116838 0.2697
X3 0.125033 0.115575 1.081831 0.2848
X4 0.013282 0.010040 1.322963 0.1922
X5 0.073637 0.080434 0.915500 0.3646
Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.514534 Mean dependent var 0.829422


Adjusted R-squared 0.338939 S.D. dependent var 0.801669
S.E. of regression 0.651802 Akaike info criterion 2.211456
Sum squared resid 19.96778 Schwarz criterion 2.813594
Log likelihood -53.87231 Hannan-Quinn criter. 2.449038
F-statistic 2.930242 Durbin-Watson stat 2.152893
Prob(F-statistic) 0.001845

Uji Autokorelasi

R-squared 0.583523 Mean dependent var 6.373385


Adjusted R-squared 0.532883 S.D. dependent var 1.794642
S.E. of regression 1.351495 Akaike info criterion 3.669906
Sum squared resid 85.84726 Schwarz criterion 4.272044
Log likelihood -101.2719 Hannan-Quinn criter. 3.907488
F-statistic 3.873617 Durbin-Watson stat 1.838451
Prob(F-statistic) 0.000119
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Siti Wulandari


Tempat, Tanggal Lahir : Grobogan, 15 November 1997
Fakultas/Prodi : FEBI/ S1 Perbankan Syariah
NIM : 63010160030
Alamat : Desa Karangpasar Rt 01 Rw 02, Kec. Tegowanu,
Kab. Grobogan, Jawa Tengah
Agama : Islam
Warga Negara : Indonesia
Orang Tua
Ayah : Sayuto Utomo
Ibu : Siti Rokanah
e-mail : sitiwulandari619@[Link]
No. Telp : 085866069689
Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri 1 Karangpasar (Lulus Tahun 2010)
2. SMP Negeri 1 Tegowanu (Lulus Tahun 2013)
3. SMA Negeri 1 Gubug (Lulus Tahun 2016)
4. IAIN Salatiga (Lulus Tahun 2020)
Pengalaman Organisasi :
1. 2018- Manager Loundry Koperasi Pondok Pesantren Edi
Mancoro
2. 2019- Sekretaris Koperasi Pondok Pesantren Edi Mancoro
Pelatihan :
1. 2018- Peserta Pelatihan Desaign Grafis dan Microsoft Office
yang diselenggarakan oleh Balai Latihan Kerja Pondok
Pesantren Edi Mancoro.

Salatiga,01 Oktober 2020


Penulis,

Siti Wulandari
NIM 63010160030

Anda mungkin juga menyukai