Kelompok 4
Anggota:
- Eva Junia Putri
- Mochammad Dezan Razbani
- Nathania Nova Fitrianti
- Trias Ananta Wahyudi
DISKRIMINASI GENDER
a) Kajian Konseptual Diskriminasi Gender
A. Definisi dan Konsep Diskriminasi
Menurut KBBI, diskriminasi didefinisikan sebagai suatu tindakan atau perlakuan
berbeda terhadap sesama warga negara yang didasarkan pada karakteristik seperti ras, suku,
agama, dan status sosial. Definisi ini menekankan bahwa diskriminasi adalah bentuk
ketidakadilan, di mana individu atau kelompok diperlakukan berbeda bukan berdasarkan
kapasitas atau tindakannya, tetapi berdasarkan identitas atau latar belakang yang melekat
pada dirinya.
● Perbedaan Ras
Diskriminasi ras terjadi ketika seseorang atau kelompok diperlakukan tidak setara
karena perbedaan warna kulit atau etnis. Contohnya, dalam banyak masyarakat,
diskriminasi terhadap kelompok ras minoritas dapat terjadi dalam akses ke
pekerjaan, pendidikan, dan layanan publik.
● Perbedaan Suku
Diskriminasi suku merujuk pada perlakuan tidak adil terhadap individu yang berasal
dari suku tertentu. Di Indonesia, ini bisa terlihat dari stereotip atau bias terhadap
suku tertentu, yang terkadang berdampak pada akses mereka dalam pekerjaan atau
lingkungan sosial.
● Perbedaan Agaman
Diskriminasi agama terjadi ketika individu atau kelompok diperlakukan secara
berbeda atau tidak adil berdasarkan keyakinan atau agama yang mereka anut.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan,
tempat tinggal, atau mendapatkan layanan publik hanya karena agamanya.
● Perbedaan Status Sosial
Diskriminasi berbasis status sosial merujuk pada perbedaan perlakuan berdasarkan
kedudukan ekonomi atau kelas sosial seseorang. Misalnya, dalam beberapa kasus,
orang dengan status sosial lebih rendah mungkin mendapatkan akses layanan
kesehatan atau pendidikan yang lebih terbatas.
Diskriminasi merupakan suatu tindakan yang memberi dampak negatif baik bagi
individu maupun kelompok dengan cara memperlakukan mereka secara tidak adil. Mereka
yang menjadi korban diskriminasi seringkali mengalami trauma yang menghambat
kemampuan mereka untuk mengekspresikan diri dan berkembang secara optimal karena
merasa inferior. (Salma A., 2024)
Diskriminasi adalah perlakuan yang berbeda terhadap individu atau kelompok
berdasarkan ciri-ciri atau karakteristik tertentu, seperti asal-usul, ras, kewarganegaraan,
agama, pandangan politik, kebiasaan sosial, jenis kelamin, orientasi seksual, bahasa, usia,
dan sebagainya. Prinsip diskriminasi menganggap bahwa tidak semua orang diperlakukan
sama. Diskriminasi mencerminkan sikap dan perilaku yang melanggar hak asasi manusia,
dan pada dasarnya merupakan tindakan pembedaan perlakuan. Pembedaan ini dapat
disebabkan oleh faktor-faktor seperti warna kulit, kelas sosial, status ekonomi, atau suku
serta kasta sosial. Mereka yang berada di kasta sosial rendah sering dianggap sebagai
sampah masyarakat, dipinggirkan, atau dimiskinkan, sehingga kehilangan akses untuk
menikmati hak-hak dasar mereka. Oleh karena itu, diskriminasi adalah tindakan yang tidak
adil terhadap seseorang hanya karena mereka berasal dari kelompok sosial tertentu.
(Yulinar, dkk., 2021)
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan diskriminasi melalui Konvensi
Internasionalntentang PenghapusannSegala BentuknDiskriminasi Rasial (ICERD) yang
disahkan pada tahun 1965. PBB menggambarkan diskriminasi sebagai tindakan
pengecualian, pembatasan, ataunpreferensi yang didasarkannpada ras, warna kulit,
keturunan, atau asal etnis/nasional yang bertujuan atau berdampak pada pengurangan atau
penghilangan kesetaraan hak asasi manusia. Bentuk diskriminasi yang disebutkan oleh
ICERD meliputi beberapa aspek, seperti pengecualian atau menolak akses tertentu bagi
kelompok tertentu; pembatasan yang berarti memberi batasan atau ketentuan yang khusus
diberlakukan untuk kelompok tertentu; dan preferensi, yaitu memberikan keistimewaan
kepada satu kelompok sehingga menimbulkan ketidakadilan terhadap kelompok lain. PBB
melalui ICERD berkomitmen untuk menghapuskan semua bentuk perlakuan diskriminatif
ini, memastikan bahwa negara-negara yang meratifikasi konvensi ini menerapkan kebijakan
yang mendukung kesetaraan baginseluruh warga negara, tanpakmemandang lataribelakang
mereka.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti diskriminasi dalam konteks
pelayanan kesehatan. WHO mendefinisikan diskriminasi dalam layanan kesehatan sebagai
perbedaan dalam akses dan kualitas layanan yang diterima olehiindividu atauikelompok
tertentuiiberdasarkan faktoriisepertiiiras, gender, atau status sosial. Menurut WHO,
diskriminasi ini mencakup akses yang tidak setara terhadap fasilitas kesehatan, di
manaiiindividu atauiikelompok dariiilatar belakang tertentu sering kali kesulitan
mendapatkan layanan yang layak. Selain itu, kualitas perawatan yang diterima oleh
kelompok minoritas atau masyarakat terpinggirkan sering kali lebih rendah dibandingkan
dengan kelompok lain, yang bisa memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan mereka. WHO
juga mengidentifikasi stigma dan prasangka yang kerap dialami oleh pasien dari kelompok
sosial tertentu, seperti pengidap HIV/AIDS atau mereka yang memiliki gangguan kesehatan
mental. Diskriminasi ini menghalangi mereka dari layanan kesehatan yang seharusnya
layak diterima setiap orang. WHO terus mendorong kebijakan yang adil dan inklusif dalam
sistem kesehatan, memastikan bahwa setiap orang, tanpa kecuali, mendapatkan layanan
kesehatan yang setara dan bebas dari stigma.
Berdasarkan berbagai definisi yang telah dijelaskan sebelumnya, diskriminasi dapat
disimpulkan sebagai suatu tindakan atau sikap yang mengarah pada perlakuan yang
berbeda terhadap individu atau kelompok tertentu, yang didasarkan pada atribut atau
karakteristik tertentu seperti ras, jenis kelamin (gender), agama, orientasi seksual, status
sosial, atau faktor lainnya yang dianggap membedakan. Tindakan atau sikap diskriminatif
ini sering kali menyebabkan individu atau kelompok yang terdiskriminasi mengalami
pembatasan atau bahkan kehilangan hak-hak dasar mereka, seperti hak untuk diperlakukan
setara, hak atas kesempatan yang adil, hak untuk mengakses sumber daya atau fasilitas,
serta hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi tanpa
hambatan.
Diskriminasi tidak hanya terlihat dalam bentuk perlakuan yang tidak adil atau
merendahkan, tetapi juga dapat terjadi dalam bentuk kebijakan atau praktik sistemik yang
menghalangi atau membatasi peluang bagi kelompok tertentu. Dampak dari diskriminasi ini
sering kali sangat merugikan, tidak hanya bagi individu yang langsung terpengaruh, tetapi
juga bagi masyarakat secara keseluruhan, karena menciptakan ketidaksetaraan dan
ketegangan sosial yang lebih besar. Dalam konteks yang lebih luas, diskriminasi juga dapat
mengarah pada ketidakadilan struktural yang memperburuk ketimpangan sosial dan
memperkuat pola-pola ketidaksetaraan yang ada.
Kata "diskriminasi" berasal dari bahasa Latin "discriminare" yang berarti
"membedakan". Secara historis, istilah ini mulai digunakan dalam konteks sosial untuk
menggambarkan perbedaan perlakuan atau ketidakadilan terhadap kelompok tertentu.
Diskriminasi merupakan masalah sosial yang telah ada sejak zaman kuno, di mana
perbedaan dalam status sosial, jenis kelamin, dan ras sering kali menjadi dasar perlakuan
yang tidak adil terhadap individu atau kelompok tertentu. Di masa lalu, salah satu contoh
paling mencolok dari diskriminasi adalah sistem kasta di India, yang membagi masyarakat
menjadi kelompok-kelompok dengan status yang sangat terbatas dalam hak dan
kesempatan. Selain itu, perbudakan yang terjadi di berbagai wilayah dunia, seperti di
Amerika, Eropa, dan Afrika, juga merupakan bentuk diskriminasi yang sangat jelas, di
mana manusia diperlakukan sebagai barang dan dijadikan harta benda yang dapat
diperjualbelikan, hanya karena perbedaan ras dan asal usul mereka.
Pada abad ke-20, meskipun banyak perjuangan untuk kesetaraan dan penghapusan
diskriminasi, praktik diskriminasi masih berlangsung di beberapa bagian dunia. Salah satu
bentuknya adalah segregasi rasial yang terjadi di Amerika Serikat, di mana orang kulit
hitam dipisahkan dari orang kulit putih dalam berbagai aspek kehidupan, seperti
pendidikan, perumahan, dan fasilitas umum. Begitu juga dengan kebijakan apartheid yang
diterapkan di Afrika Selatan, yang secara sistematis memisahkan ras dan memberikan hak
istimewa kepada kelompok ras tertentu, sementara kelompok ras lainnya, terutama orang
kulit hitam, diperlakukan dengan sangat tidak adil dan diskriminatif.
Diskriminasi semakin ditentang dan banyak negara telah mengesahkan hukum untuk
melindungi hak asasi manusia, masalah ini belum sepenuhnya hilang. Diskriminasi masih
terus terjadi dalam berbagai bentuk yang lebih terselubung, terutama dalam bentuk
diskriminasi gender dan rasial. Di tempat kerja, banyak perempuan dan kelompok minoritas
rasial sering kali dihadapkan pada kesulitan untuk mendapatkan kesempatan yang sama
dalam hal pekerjaan, promosi, dan penghargaan. Selain itu, akses terhadap layanan publik
seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan juga tidak selalu adil, di mana kelompok-
kelompok tertentu mungkin diperlakukan dengan diskriminasi dalam memperoleh
pelayanan yang seharusnya mereka terima. Meskipun kesadaran terhadap diskriminasi telah
meningkat, dan banyak organisasi dan individu berjuang untuk perubahan, diskriminasi
tetap menjadi tantangan besar yang membutuhkan upaya berkelanjutan untuk diatasi secara
efektif di seluruh dunia.
Diskriminasi merupakan isu yang sangat penting untuk dibahas dan dipahami lebih
mendalam, karena meskipun telah ada kesadaran yang semakin meningkat untuk
mencegahnya, praktik diskriminasi masih terus terjadi dalam berbagai bentuk di seluruh
dunia, termasuk di Indonesia. Diskriminasi tidak hanya terjadi secara terbuka, tetapi
seringkali juga terjadi secara sistematis dan struktural, baik dalam kehidupan sehari-hari
maupun dalam kebijakan publik. Dalam berbagai sektor, seperti pendidikan, pekerjaan,
pelayanan publik, dan bahkan dalam interaksi sosial, diskriminasi masih dapat ditemui,
baik itu berbasis ras, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, atau status sosial ekonomi.
Pentingnya memahami diskriminasi adalah agar kita dapat lebih mampu mengenali
berbagai bentuk diskriminasi yang ada, yang sering kali tersembunyi atau tidak tampak
secara jelas. Diskriminasi bisa sangat halus, seperti dalam bentuk stereotip, prasangka, atau
diskriminasi tidak langsung, yang sering kali dianggap sebagai hal yang biasa atau tidak
perlu dipermasalahkan. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih mendalam mengenai
diskriminasi membantu kita untuk lebih peka terhadap ketidakadilan yang mungkin dialami
oleh individu atau kelompok tertentu, sehingga kita bisa mengambil langkah-langkah yang
lebih tepat untuk mengidentifikasinya.
Dengan memahami diskriminasi, kita bisa lebih aktif dalam melawan tindakan-
tindakan yang merugikan hak-hak individu dan kelompok tertentu. Sebagai contoh, ketika
kita mengetahui bahwa diskriminasi di tempat kerja, misalnya, terjadi dalam bentuk upah
yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama, kita bisa
mendorong perubahan kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan. Demikian pula, ketika
diskriminasi berbasis ras atau agama masih ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan,
kesadaran yang lebih besar akan pentingnya kesetaraan akan membantu mendorong
tindakan yang mendukung inklusivitas dan keberagaman.
Lebih dari sekadar mengidentifikasi dan melawan diskriminasi, pemahaman yang
mendalam tentang diskriminasi juga penting dalam mendorong terciptanya keadilan sosial
di masyarakat. Keberagaman dan kesetaraan adalah pondasi utama bagi tercapainya
masyarakat yang adil dan sejahtera. Ketika setiap individu diperlakukan dengan adil dan
diberi kesempatan yang sama tanpa adanya perlakuan yang merugikan berdasarkan
identitas atau latar belakang mereka, maka akan tercipta sebuah masyarakat yang lebih
harmonis, damai, dan maju. Dengan begitu, memahami dan melawan diskriminasi bukan
hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga merupakan langkah kolektif yang
penting untuk mewujudkan masyarakat yang lebih setara dan bebas dari ketidakadilan.
B. Definisi dan Konsep Gender
MenurutiiKamus BesariiBahasa Indonesia (KBBI), genderiidiartikan
sebagaiiiperbedaan sosialiidan budayaiiantara laki-lakiiidan perempuan, yangiilebih
merujukiipada peran, norma, danitanggung jawabiyang diatur olehimasyarakat,
bukanifaktor biologis. Konsep gender merujuk pada pembagian peran yang dibentuk oleh
norma sosial dalam suatu masyarakat, bukan berdasarkan perbedaan fisik atau biologis
antara laki-laki dan perempuan.
Gender bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh faktor alamiah atau genetika, tetapi
merupakan hasil konstruksi sosial. Dengan kata lain, gender mencakup perbedaan-
perbedaan yang diakui dan diterima dalam masyarakat tentang apa yang dianggap pantas
atau layak dilakukan oleh individu berdasarkan jenis kelamin mereka. Hal ini juga
berkaitan dengan harapan sosial terhadap individu dalam menjalankan peran yang sesuai
dengan status gender mereka.
- Peran Gender : Dalam banyak budaya, individu diharapkan menjalankan peran yang
sudah ditentukan oleh masyarakat berdasarkan jenis kelamin mereka. Laki-laki sering
dianggap harus menjadi pencari nafkah, sementara perempuan dianggap lebih cocok untuk
merawat rumah tangga dan mengurus anak-anak. Peran ini tidak bersifat alamiah,
melainkan hasil konstruksi sosial yang dibentuk oleh norma, tradisi, dan kepercayaan yang
ada dalam masyarakat.
- Norma dan Tanggung Jawab : Masyarakat memberikan aturan tidak tertulis yang
mengharuskan individu untuk memenuhi tanggung jawab tertentu berdasarkan status
gender mereka. Contohnya, perempuan sering kali diharapkan memiliki kemampuan untuk
merawat, memasak, atau mengelola rumah tangga, sementara laki-laki lebih sering
diasumsikan memiliki kemampuan untuk bekerja di luar rumah dan menyediakan nafkah.
Tanggung jawab ini sering kali membatasi pilihan dan peluang yang dimiliki individu,
tergantung pada apakah mereka dianggap memenuhi standar gender tertentu.
Misalnya, dalam banyak budaya, perempuan dianggap lebih sesuai untuk merawat
rumah tangga dan anak-anak, sementara laki-laki dianggap bertanggung jawab untuk
bekerja dan mencari nafkah. Meskipun tidak ada alasan biologis yang mendasari anggapan
ini, norma sosial ini telah diterima begitu lama hingga membentuk persepsi umum tentang
apa yang seharusnya dilakukan oleh masing-masing gender. Misalnya, dalam konteks
pekerjaan, banyak perusahaan yang secara tidak sadar menganggap perempuan sebagai
pilihan utama untuk pekerjaan administratif atau yang berhubungan dengan kesejahteraan
keluarga, sedangkan laki-laki lebih sering ditempatkan dalam posisi yang berhubungan
dengan pengambilan keputusan atau pekerjaan yang lebih dianggap prestisius.
Semakin berkembangnya pemahaman mengenai kesetaraan gender, banyak negara
dan organisasi yang berupaya mengubah atau menghapus stereotip gender tersebut dengan
memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek
kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan peran sosial. Meskipun demikian,
perubahan ini sering kali menghadapi tantangan karena konstruksi sosial dan budaya yang
telah lama tertanam dalam masyarakat. Dengan demikian, meskipun faktor biologis dapat
membedakan laki-laki dan perempuan, perbedaan gender lebih banyak dibentuk oleh
konstruksi sosial yang menciptakan harapan-harapan tertentu terhadap individu berdasarkan
jenis kelaminnya. Perubahan dalam pemahaman dan norma sosial ini berpotensi
mengurangi ketidaksetaraan yang dihasilkan oleh pandangan tradisional tentang gender.
Gender sering kali disamakan dengan jenis kelamin (sex), padahal keduanya memiliki
pengertian yang berbeda. Gender sering dipahami sebagai sesuatu yang diberikan oleh
Tuhan atau sebagai kodrat ilahi, namun sebenarnya, gender tidak semata-mata dipahami
demikian (Chotim, 2020). Secara etimologis, kata "gender" berasal dari bahasa Inggris
yang berarti jenis kelamin (Bangun, 2020). Gender dapat diartikan sebagai perbedaan yang
tampak antara laki-laki dan perempuan dalam hal nilai dan perilaku. Berdasarkan
etimologi, gender dapat dipahami sebagai harapan budaya terhadap peran laki-laki dan
perempuan. Menurut Handayani (2020), gender adalah perbedaan antara laki-laki dan
perempuan yang dilihat dari perspektif konstruksi sosial dan budaya. Pandangan lain
tentang gender diungkapkan oleh Muttaqin (2020), yang menyatakan bahwa gender adalah
pembedaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan konstruksi sosial dan budaya, dan
dapat digunakan sebagai konsep analisis untuk menjelaskan berbagai fenomena. Tupamahu
(2020) juga menjelaskan bahwa gender adalah konsep kultural yang digunakan untuk
membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan
perempuan yang berkembang dalam masyarakat.
World Health Organization (WHO) mendefinisikan gender sebagai perbedaan dalam
peran dan hubungan yang dibentuk oleh budaya dan masyarakat antara laki-laki dan
perempuan. Definisi ini menegaskan bahwa gender bukanlah aspek biologis yang melekat
sejak lahir, melainkan merupakan konstruksi sosial yang berkembang melalui norma-norma
yang ditetapkan oleh masyarakat. WHO menjelaskan bahwa peran gender mencakup
berbagai ekspektasi dan aturan budaya mengenai perilaku, sikap, dan tanggung jawab yang
dianggap sesuai untuk laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh, dalam banyak budaya,
perempuan lebih sering dianggap cocok untuk menjalankan peran domestik, seperti
merawat anak dan mengurus rumah, sedangkan laki-laki dianggap lebih tepat untuk bekerja
di luar rumah atau memimpin dalam bidang politik dan ekonomi.
Perbedaan ini tidak hanya mempengaruhi perilaku individu sehari-hari, tetapi juga
cara mereka dipandang dan diperlakukan dalam berbagai konteks sosial, seperti dalam
keluarga, dunia kerja, dan masyarakat. WHO menekankan bahwa meskipun peran gender
berbeda antar budaya, norma-norma tersebut seringkali menghalangi individu untuk meraih
potensi dan kesempatan yang setara, berdasarkan peran sosial yang telah ditentukan. Oleh
karena itu, WHO menekankan pentingnya kesetaraan gender, yang berarti memberikan hak
dan kesempatan yang setara kepada laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek
kehidupan. Kesetaraan gender, menurut WHO, mencakup hak-hak dasar yang harus
dijamin tanpa memandang jenis kelamin, seperti akses ke pendidikan, pekerjaan, dan
partisipasi dalam kehidupan politik dan sosial. WHO juga menyoroti perlunya
menghilangkan hambatan-hambatan yang dihadapi perempuan, seperti diskriminasi
berbasis gender dalam akses kesehatan, kesetaraan di tempat kerja, dan perlindungan
hukum yang adil. Untuk mencapai hal ini, WHO mendorong perubahan dalam kebijakan
global yang memperkuat hak-hak perempuan dan mendukung kesetaraan di seluruh lapisan
masyarakat.
Kesetaraan gender, menurut WHO, mencakup hak-hak dasar yang harus diakses oleh
setiap individu tanpa memandang jenis kelamin, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan
partisipasi dalam kehidupan politik serta sosial. WHO juga menyoroti pentingnya
penghapusan hambatan-hambatan yang dihadapi perempuan, seperti diskriminasi berbasis
gender yang masih ada dalam banyak aspek kehidupan, baik itu dalam hal akses terhadap
layanan kesehatan, kesetaraan dalam pekerjaan, atau perlindungan hukum yang adil. Untuk
mencapainya, WHO menyerukan perubahan dalam kebijakan global yang memperkuat hak-
hak perempuan dan mendukung kesetaraan dalam setiap lapisan masyarakat.
Di tingkat nasional, konsep gender sering dibahas dalam konteks kebijakan yang
menekankan kesetaraan hak dan peran antara laki-laki dan perempuan. Di Indonesia, isu
gender sangat terkait dengan upaya untuk mewujudkan kesetaraan antara perempuan dan
laki-laki dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk keluarga, pendidikan, politik, dan
dunia kerja. Negara Indonesia telah mengakui pentingnya pengakuan terhadap perbedaan
sosial antara laki-laki dan perempuan, dan hal ini tercermin dalam kebijakan-kebijakan
yang bertujuan untuk memajukan kesetaraan gender.
Salah satu dasar hukum yang mendukung kesetaraan gender adalah Undang-Undang
No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang menggarisbawahi perlindungan hak-
hak perempuan dan penghapusan segala bentuk diskriminasi berbasis gender. Undang-
undang ini menegaskan bahwa setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki
hak yang setara untuk mendapatkan perlakuan adil dan kesempatan yang sama dalam
mengakses hak-hak dasar. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami
bahwa gender bukanlah atribut biologis yang melekat, melainkan konstruksi sosial yang
berkaitan dengan norma-norma dan peran yang diterima oleh masyarakat.
Dalam kerangka ini, kesetaraan gender di Indonesia bertujuan untuk menciptakan
kondisi di mana laki-laki dan perempuan memiliki akses setara terhadap berbagai sumber
daya dan kesempatan. Hal ini mencakup hak atas pendidikan, pekerjaan, partisipasi dalam
kehidupan politik, dan perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender. Pemerintah
Indonesia juga telah menerapkan kebijakan afirmatif untuk mendukung pemberdayaan
perempuan, seperti program pendidikan yang mendukung kesetaraan antara anak laki-laki
dan perempuan serta kebijakan yang mendorong representasi perempuan dalam
pemerintahan dan lembaga-lembaga publik.
Namun, meskipun ada kebijakan yang mendukung kesetaraan gender, tantangan besar
masih ada, terutama dalam praktik sosial di tingkat masyarakat. Banyak norma sosial dan
budaya yang masih mengakar kuat, yang menyebabkan perempuan sering terpinggirkan
dalam berbagai bidang kehidupan, seperti dunia kerja dan politik. Oleh karena itu,
kesadaran tentang pentingnya kesetaraan gender perlu terus ditumbuhkan di seluruh lapisan
masyarakat agar perubahan yang positif dapat terjadi secara berkelanjutan.
Gender mengacu pada perbedaan peran, perilaku, dan karakteristik yang dianggap
sesuai dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan dalam suatu masyarakat. Berbeda
dengan jenis kelamin yang bersifat biologis, gender lebih mengacu pada peran yang
dibentuk oleh faktor sosial dan budaya. Dengan kata lain, gender adalah konstruksi sosial
yang membentuk pandangan kita terhadap laki-laki dan perempuan, serta bagaimana
mereka harus berperilaku, berinteraksi, dan berperan dalam masyarakat. Gender tidak
bersifat tetap dan dapat berubah tergantung pada norma-norma yang berlaku di masyarakat
dan zaman tertentu.
Kata "gender" berasal dari bahasa Latin "genus," yang berarti jenis atau kategori.
Dalam konteks sosial, kata ini digunakan untuk menggambarkan perbedaan sosial dan
budaya antara laki-laki dan perempuan, yang tidak bersifat biologis tetapi lebih kepada
peran yang dipelajari dan dibentuk oleh norma sosial.
Pada masa lampau, konsep gender umumnya didasarkan pada pandangan tradisional
yang sangat membedakan peran laki-laki dan perempuan, dengan penekanan pada
pembagian peran yang ketat dalam masyarakat. Dalam pandangan ini, laki-laki biasanya
diidentikkan sebagai pencari nafkah utama yang bertanggung jawab dalam urusan ekonomi
keluarga, sementara perempuan lebih sering ditempatkan pada peran domestik, seperti
mengurus rumah tangga dan merawat anak-anak. Peran-peran ini sangat terbatas dan
dianggap sebagai kewajiban alami berdasarkan jenis kelamin, yang membuat tidak ada
ruang untuk pergeseran peran atau fleksibilitas dalam identitas gender. Namun, seiring
berjalannya waktu, terutama pada abad ke-20, pemikiran tentang gender mulai berkembang
pesat, seiring dengan munculnya gerakan feminisme yang menuntut kesetaraan antara laki-
laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari hak suara, pendidikan,
hingga pekerjaan. Tokoh-tokoh seperti Simone de Beauvoir dan Betty Friedan memainkan
peran penting dalam mengkritik struktur sosial yang selama ini membatasi perempuan
hanya pada peran-peran tradisional mereka. Karya-karya mereka mendorong perubahan
dengan mempertanyakan dan menantang norma-norma yang mendiktekan peran gender
yang kaku. Pada masa kini, konsep gender semakin kompleks dengan pengakuan bahwa
peran dan identitas gender bukanlah sesuatu yang tetap atau terbatas pada dua kategori
tradisional, yaitu laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, banyak yang sekarang menyadari
bahwa gender dapat bersifat lebih fleksibel dan lentur, serta dapat mencakup identitas non-
biner yang tidak mengikat individu pada norma-norma konvensional. Perkembangan ini
semakin didorong oleh meningkatnya pemahaman terhadap keberagaman identitas gender,
serta peran gender yang lebih inklusif yang tidak lagi membatasi individu pada satu
identitas atau peran tertentu berdasarkan jenis kelamin biologis mereka.
Jenis kelamin (sex) merujuk pada perbedaan biologis yang jelas antara laki-laki dan
perempuan, yang mencakup karakteristik fisik, genetika, dan organ reproduksi. Secara
umum, jenis kelamin ditentukan oleh faktor-faktor biologis yang bersifat alami dan tetap.
Ini mencakup perbedaan dalam kromosom (misalnya, perempuan memiliki kromosom XX,
sedangkan laki-laki memiliki kromosom XY), organ reproduksi (seperti ovarium pada
perempuan dan testis pada laki-laki), serta sekresi hormon yang mempengaruhi
perkembangan tubuh dan karakteristik seksual sekunder, seperti pertumbuhan payudara
pada perempuan dan pertumbuhan rambut wajah pada laki-laki. Jenis kelamin adalah
kategori yang umumnya dianggap tetap dan tidak berubah seiring waktu, meskipun ada
beberapa kondisi medis, seperti interseks, di mana individu dapat memiliki karakteristik
biologis yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kategori jenis kelamin laki-laki atau
perempuan.
Gender, di sisi lain, merujuk pada perbedaan yang lebih kompleks dan bersifat sosial
serta budaya antara laki-laki dan perempuan. Konsep gender tidak hanya mencakup peran
sosial yang diharapkan dari individu berdasarkan jenis kelamin mereka, tetapi juga
melibatkan harapan, nilai-nilai, dan norma-norma yang terkait dengan perilaku, identitas,
dan ekspresi diri. Gender bukanlah kategori yang bersifat alami atau tetap, melainkan
konstruksi sosial yang bisa berubah seiring waktu, tempat, dan budaya. Misalnya, peran
gender tradisional di banyak masyarakat menganggap laki-laki sebagai pencari nafkah
utama, sementara perempuan dianggap bertanggung jawab atas pekerjaan domestik dan
perawatan anak. Namun, pandangan tentang gender dapat berubah, terutama dalam
masyarakat yang semakin menerima kesetaraan gender, sehingga perempuan dan laki-laki
dapat mengejar karier yang sama dan berbagi peran dalam keluarga.
Bahkan, identitas gender seseorang bisa lebih beragam daripada hanya sekedar laki-
laki atau perempuan. Beberapa orang mungkin merasa bahwa mereka tidak sepenuhnya
cocok dengan identitas gender yang ditetapkan oleh masyarakat, dan ini dikenal sebagai
gender non-binary atau genderqueer. Dalam beberapa budaya, seperti budaya tertentu di
Indonesia, terdapat pengakuan terhadap identitas gender yang lebih dari dua, seperti waria
(wanita-pria) atau bissu dalam masyarakat Bugis. Konsep ini menunjukkan bahwa gender
lebih fleksibel dan lebih berhubungan dengan cara individu merasa dan mengidentifikasi
diri mereka, bukan hanya berdasarkan biologis atau kategori tradisional.
Wasit dicatat bahwa perbedaan antara jenis kelamin dan gender tidak hanya
berhubungan dengan individu, tetapi juga mempengaruhi struktur sosial dan budaya.
Misalnya, peran gender yang dibentuk oleh masyarakat dapat menentukan akses individu
terhadap kekuasaan, sumber daya, dan kesempatan. Ketidaksetaraan gender sering kali
tercermin dalam diskriminasi sosial, seperti diskriminasi terhadap perempuan dalam
pekerjaan atau pembatasan hak-hak gender lainnya. Oleh karena itu, memisahkan antara
jenis kelamin dan gender memberikan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana
identitas sosial dibentuk dan bagaimana sistem-sistem sosial dapat mempengaruhi individu
secara berbeda berdasarkan konstruk sosial yang terkait dengan gender.
C. Definisi dan Konsep Diskriminasi Gender
Diskriminasi gender merupakan bentuk ketidakadilan yang dialami oleh individu
berdasarkan jenis kelamin atau identitas gendernya, hal itu sering kali merugikan
perempuan dan kelompok gender non-biner. Dalam perspektif sosiologi dan feminisme,
diskriminasi gender dilihat sebagai hasil dari sistem patriarki dan kekuasaan yang
membentuk peran dan ekspektasi gender dalam masyarakat. Teori sosiologi klasik dan teori
feminis kontemporer bersepakat bahwa diskriminasi gender tidak hanya mempengaruhi
individu secara personal tetapi juga memperkuat ketidaksetaraan struktural di berbagai
bidang seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan hak-hak politik.
Secara sosiologis, diskriminasi gender dapat didefinisikan sebagai tindakan atau
perilaku yang menghambat kesempatan, sumber daya, atau pengakuan terhadap individu
berdasarkan gender. Dalam hal ini, diskriminasi gender bukan hanya tentang perlakuan
langsung yang merugikan, tetapi juga mencakup kebijakan, budaya, dan norma sosial yang
secara sistematis merendahkan nilai atau kontribusi kelompok tertentu. Misalnya, dalam
sistem pendidikan, terdapat bias gender yang sering kali mengarahkan perempuan atau
kelompok minoritas gender ke bidang-bidang studi tertentu dan menghambat mereka dari
mengakses bidang sains, teknologi, atau bisnis yang umumnya dianggap "maskulin".
Dalam teori feminisme, diskriminasi gender dianggap sebagai bentuk penindasan
yang melekat dalam struktur sosial dan ekonomi masyarakat. Feminisme melihat bahwa
ketidaksetaraan ini terbentuk melalui sosialisasi gender sejak dini, di mana anak-anak
dididik untuk mengikuti peran tradisional berdasarkan jenis kelamin mereka. Teori feminis
radikal, misalnya, menyoroti bagaimana patriarki membentuk lembaga-lembaga sosial
seperti keluarga, agama, dan hukum untuk menempatkan perempuan pada posisi
subordinasi. Sementara itu, feminisme liberal berfokus pada upaya untuk mencapai
kesetaraan gender melalui reformasi hukum dan kebijakan, seperti undang-undang anti-
diskriminasi dan kebijakan kuota gender dalam politik atau dunia kerja.
Diskriminasi gender juga memiliki dimensi hukum yang penting. Dalam ranah
hukum, diskriminasi gender umumnya didefinisikan sebagai perlakuan yang tidak setara
atau tidak adil terhadap individu berdasarkan jenis kelamin mereka. Di banyak negara,
undang-undang anti-diskriminasi telah diberlakukan untuk melindungi hak-hak perempuan
dan kelompok minoritas gender. Meskipun demikian, penerapan hukum ini sering kali
terbatas oleh faktor-faktor budaya dan kurangnya kesadaran masyarakat. Di Indonesia,
misalnya, walaupun telah ada UU No. 7 Tahun 1984 yang meratifikasi Konvensi
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan, pelaksanaannya masih
menghadapi tantangan karena adanya bias budaya yang melekat dan pandangan konservatif
yang menghambat upaya untuk mencapai kesetaraan gender.
Dalam hal budaya, diskriminasi gender didefinisikan dan diterjemahkan melalui
praktik dan norma-norma sosial yang membedakan peran, tugas, dan tanggung jawab
antara laki-laki dan perempuan. Budaya patriarki yang kuat di banyak negara, termasuk
Indonesia, mendorong stereotip gender yang memperkuat anggapan bahwa laki-laki harus
mendominasi ruang publik dan perempuan harus terfokus pada ruang domestik. Stereotip
ini memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap peran dan posisi perempuan serta
kelompok minoritas gender, sehingga menciptakan diskriminasi yang tidak terlihat secara
langsung namun berdampak signifikan. Sebagai contoh, budaya yang menempatkan
perempuan sebagai penjaga moral dan kehormatan keluarga sering kali membatasi
kebebasan perempuan dalam hal pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi politik.
Secara historis, diskriminasi gender telah berkembang seiring dengan perubahan
sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat tradisional, diskriminasi gender mungkin lebih jelas
dalam bentuk peran-peran yang diatur secara ketat antara laki-laki dan perempuan, dengan
laki-laki biasanya memiliki akses yang lebih besar terhadap sumber daya dan kekuasaan.
Namun, dengan berkembangnya ekonomi dan meningkatnya partisipasi perempuan di
sektor publik, bentuk diskriminasi gender pun mengalami transformasi. Di dunia kerja,
misalnya, diskriminasi gender sering kali terlihat dalam bentuk kesenjangan upah, bias
dalam proses rekrutmen, dan promosi karier yang terbatas untuk perempuan.
Di Indonesia dan beberapa negara berkembang lainnya, diskriminasi gender dalam
dunia kerja dan pendidikan masih menjadi isu krusial. Diskriminasi ini tidak hanya terbatas
pada bentuk-bentuk langsung tetapi juga mencakup aspek-aspek struktural seperti
kebijakan organisasi yang tidak sensitif gender dan kurangnya akses terhadap sumber daya.
diskriminasi gender di dunia pendidikan Indonesia menemukan bahwa banyak institusi
pendidikan yang masih belum memberikan kesempatan yang sama kepada perempuan
untuk berpartisipasi dalam bidang sains dan teknologi, yang merupakan bidang dominan
laki-laki. Hal ini memperlihatkan bahwa diskriminasi gender tidak hanya ada dalam bentuk
eksplisit tetapi juga tersembunyi di dalam kebijakan dan praktik kelembagaan.
Dalam skala global, diskriminasi gender telah menjadi perhatian penting dari
lembaga-lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Salah satu
upaya PBB untuk mengatasi diskriminasi gender adalah dengan menyusun Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), di mana kesetaraan gender menjadi salah satu tujuan
utamanya. Laporan UN Women (2020) menunjukkan bahwa diskriminasi gender masih
menjadi hambatan utama dalam mencapai kesetaraan gender di seluruh dunia. Laporan ini
menggarisbawahi pentingnya reformasi kebijakan dan upaya global untuk menghapus
diskriminasi berbasis gender di berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, dan
partisipasi politik.
Dalam perkembangannya, konsep diskriminasi gender juga telah diperluas untuk
mencakup kelompok minoritas gender seperti transgender dan non-biner, yang sering kali
menghadapi diskriminasi yang lebih kompleks. Dalam konteks ini, diskriminasi gender
tidak hanya berarti ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga melibatkan
perlakuan tidak adil terhadap individu yang tidak sesuai dengan norma gender tradisional.
Banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika Utara, telah mulai mengakui hak-hak
kelompok minoritas gender melalui undang-undang anti-diskriminasi yang lebih inklusif,
namun di beberapa negara lain, diskriminasi terhadap kelompok ini masih sangat tinggi
(Stoet & Geary, 2020).
Dalam kesimpulannya, diskriminasi gender merupakan fenomena yang kompleks
dan multidimensional yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, budaya, dan hukum.
Dengan demikian, upaya untuk mengatasi diskriminasi gender memerlukan pendekatan
yang komprehensif yang melibatkan perubahan kebijakan, transformasi budaya, dan
peningkatan kesadaran masyarakat. Kajian teoritis dan empiris mengenai diskriminasi
gender, seperti yang telah dilakukan oleh para peneliti dan akademisi dalam lima tahun
terakhir, menunjukkan bahwa diskriminasi gender tetap menjadi isu utama yang
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan dan membutuhkan perhatian khusus agar tercipta
masyarakat yang lebih adil dan setara.
D. Teori dan Perspektif Gender dalam Diskriminasi Gender
Diskriminasi gender adalah fenomena sosial yang telah berlangsung lama dan
memiliki dampak yang mendalam terhadap individu dan kelompok dalam masyarakat.
Untuk memahami dan menganalisis diskriminasi gender, berbagai teori dan perspektif
dapat digunakan sebagai alat bantu. Teori-teori ini menawarkan berbagai sudut pandang
mengenai bagaimana ketimpangan gender terjadi, bagaimana ia dipertahankan, dan
bagaimana ia bisa diatasi. Beberapa teori utama yang digunakan untuk menganalisis
diskriminasi gender adalah teori feminis, teori konflik, dan perspektif sosiologis lainnya.
Melalui penggunaan teori-teori ini, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam
mengenai diskriminasi gender dan dampaknya terhadap masyarakat.
1. Teori Feminisme dan Diskriminasi Gender
Teori feminis adalah salah satu pendekatan yang paling terkenal dalam
menganalisis diskriminasi gender. Feminisme, yang pada dasarnya suatu gerakan sosial
yang memperjuangkan kesetaraan gender pada keduanya, berusaha untuk
mengungkapkan serta mengatasi ketidakadilan yang dialami oleh perempuan dalam
masyarakat patriarkal. Secara umum, teori feminis memandang diskriminasi gender
sebagai hasil dari struktur sosial yang membangun peran gender yang tidak setara,
dengan dominasi laki-laki sebagai norma yang diterima. Feminisme mengkritik cara
pandang yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dalam berbagai
dimensi kehidupan, termasuk politik, ekonomi, dan sosial.
Ada berbagai cabang dalam teori feminis yang menawarkan pendekatan berbeda
terhadap analisis diskriminasi gender. Feminisme liberal berfokus pada pencapaian
kesetaraan hak serta peluang antara keduanya, yang sering kali diterjemahkan dalam
bentuk advokasi terhadap hak-hak perempuan seperti hak suara, akses pendidikan, dan
kesempatan kerja yang setara. Feminisme liberal percaya bahwa dengan perubahan
hukum dan kebijakan, perempuan dapat mencapai kesetaraan dengan laki-laki di
masyarakat.
Di sisi lain, feminisme radikal berpendapat bahwa diskriminasi gender lebih
dalam dan sistemik. Menurut perspektif ini, patriarki bukan hanya sebuah struktur
sosial, melainkan sebuah sistem yang mengakar kuat dalam budaya dan nilai yang ada
di masyarakat. Feminisme radikal menekankan bahwa pembebasan perempuan hanya
bisa tercapai dengan mengubah struktur dasar masyarakat yang didominasi oleh
patriarki. Diskriminasi gender, dalam pandangan ini, adalah hasil dari pengaturan sosial
yang secara mendalam mengatur dan membatasi peran perempuan.
Feminisme sosialis atau feminisme Marxis menekankan bahwa diskriminasi
gender tidak dapat dipisahkan dari ketidaksetaraan kelas dan ekonomi. Feminisme jenis
ini menganggap bahwa ketidaksetaraan gender adalah bagian dari sistem kapitalisme
yang mengeksploitasi perempuan, terutama perempuan miskin. Dalam teori ini,
ketimpangan gender di tempat kerja, misalnya, norma sosial yang patriarkal, tetapi juga
oleh ketidaksetaraan ekonomi yang sistematis yang mendefinisikan perempuan sebagai
kelas pekerja yang lebih murah dibandingkan laki-laki.
Teori feminis memberikan landasan yang kuat untuk menganalisis diskriminasi
gender di berbagai tingkatan. Ia tidak hanya memperhatikan individu yang menjadi
korban diskriminasi, tetapi juga mengkritik struktur sosial dan budaya yang
memungkinkan diskriminasi tersebut berlanjut. Dengan demikian, pendekatan feminis
tidak hanya menganalisis dampak dari diskriminasi gender, tetapi juga mengusulkan
perubahan sosial yang dapat memitigasi ketimpangan gender.
2. Teori Konflik dan Diskriminasi Gender
Teori konflik adalah pendekatan sosiologis yang juga dapat digunakan untuk
memahami diskriminasi gender. Teori ini berfokus pada hubungan kuasa antara
kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat dan bagaimana ketidaksetaraan kuasa
tersebut menyebabkan eksploitasi dan dominasi. Dalam konteks gender, teori konflik
menekankan bahwa diskriminasi gender adalah bagian dari ketimpangan kekuasaan
yang ada antara laki-laki dan perempuan.
Menurut Karl Marx, yang menjadi salah satu tokoh utama dalam teori konflik,
ketidaksetaraan gender dapat dipahami sebagai bentuk pemisahan antara kelompok
yang memiliki kekuasaan dan mereka yang tidak. Dalam konteks gender, laki-laki
sebagai kelompok dominan memiliki kontrol terhadap sumber daya ekonomi, politik,
dan budaya, sementara perempuan sering kali terpinggirkan. Teori konflik Marxist
melihat hubungan gender sebagai bagian dari eksploitasi kelas, di mana perempuan,
terutama yang berasal dari kelas sosial rendah, menjadi kelompok yang rentan terhadap
diskriminasi.
Teori konflik juga dapat dilihat dari sudut pandang Max Weber, yang
mengembangkan pemikiran tentang stratifikasi sosial. Menurut Weber, selain
kekuasaan politik dan ekonomi, faktor status sosial juga memainkan peran penting
dalam menciptakan diskriminasi gender. Diskriminasi gender dalam hal ini muncul
sebagai akibat dari pembagian kerja berdasarkan gender yang telah lama terbentuk, di
mana pekerjaan-pekerjaan tertentu dianggap lebih "layak" untuk dilakukan oleh laki-
laki daripada perempuan. Perempuan, dalam kerangka ini, sering kali ditempatkan pada
pekerjaan yang dianggap kurang berharga atau tidak memberikan penghargaan yang
sama dengan pekerjaan laki-laki.
Teori konflik feminis mengadaptasi ide-ide ini untuk lebih fokus pada hubungan
antara laki-laki dan perempuan sebagai hubungan yang berbasis pada ketidaksetaraan
kekuasaan. Diskriminasi gender dianggap sebagai alat yang digunakan oleh laki-laki
untuk mempertahankan dominasi mereka atas perempuan. Dalam kerangka ini, struktur
sosial dan budaya yang ada didesain untuk memastikan bahwa perempuan tetap terjaga
dalam posisi subordinat. Melalui kontrol terhadap pendidikan, pekerjaan, dan bahkan
tubuh perempuan, struktur kekuasaan patriarkal dipertahankan.
E. Perspektif Sosiologis Lain dalam Diskriminasi Gender
Selain teori feminis dan teori konflik, ada berbagai perspektif sosiologis lainnya
yang dapat digunakan untuk menganalisis diskriminasi gender. Salah satu pendekatan yang
sering digunakan adalah perspektif fungsionalis. Dari sudut pandang fungsionalis,
diskriminasi gender bisa dipahami sebagai bagian dari pembagian peran yang ada dalam
masyarakat. Emile Durkheim, salah satu tokoh fungsionalis terkenal, berpendapat bahwa
setiap elemen dalam masyarakat memiliki fungsi tertentu yang diperlukan untuk
kelangsungan sistem sosial. Dalam konteks gender, dengan adanya perbedaan peran
diantara laki-laki dan perempuan dianggap sebagai bagian dari pembagian kerja yang
membantu menjaga kestabilan sosial.
Namun, pendekatan ini sering dikritik karena dianggap memperkuat ketimpangan
gender dengan menganggap pembagian peran tradisional antara keduanya sebagai hal yang
"normal" dan "alami". Kritik ini muncul karena pembagian peran gender yang kaku sering
kali mengarah pada pembatasan pilihan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan pribadi,
sosial, dan profesional mereka. Hal ini menjadi salah satu dasar bagi kritik feminis terhadap
perspektif fungsionalis.
Selain itu, perspektif interseksionalitas memberikan wawasan penting dalam
memahami diskriminasi gender. Interseksionalitas, yang pertama kali diperkenalkan oleh
Kimberlé Crenshaw, mengakui bahwa diskriminasi gender tidak dapat dipahami hanya
melalui satu dimensi, misalnya hanya berdasarkan jenis kelamin. Sebaliknya, diskriminasi
gender harus dianalisis dengan mempertimbangkan bagaimana faktor-faktor lain seperti ras,
kelas sosial, orientasi seksual, dan disabilitas saling berinteraksi untuk menciptakan
pengalaman diskriminasi yang unik bagi individu atau kelompok tertentu. Dengan
demikian, interseksionalitas menawarkan pandangan yang lebih holistik dan kompleks
mengenai diskriminasi gender.
F. Bentuk-bentuk Diskriminasi Gender
Diskriminasi gender merupakan ketidaksetaraan yang dialami individu berdasarkan
gender, sering kali berakar pada norma-norma patriarki yang telah mengakar kuat dalam
berbagai aspek kehidupan. Hal ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk contohnya di tempat
kerja, pendidikan, dan akses terhadap layanan kesehatan, serta dalam bentuk kekerasan
berbasis gender. Setiap bentuk diskriminasi gender ini dapat muncul baik secara langsung
maupun tidak langsung, memengaruhi perempuan, kelompok minoritas gender, dan
masyarakat secara keseluruhan. Bentuk-bentuk diskriminasi gender ini telah banyak diteliti
oleh para akademisi dan aktivis yang berfokus pada upaya-upaya menciptakan masyarakat
yang lebih setara. Penelitian terkini menunjukkan bahwa diskriminasi gender adalah
persoalan multidimensional yang memerlukan perhatian serius di seluruh dunia, termasuk
di Indonesia.
1) Diskriminasi Gender di Tempat Kerja
Diskriminasi gender di tempat kerja adalah bentuk diskriminasi yang paling
umum dan berdampak signifikan terhadap kesetaraan sosial dan ekonomi. Diskriminasi
ini muncul dalam bentuk ketidaksetaraan upah antara laki-laki dan perempuan,
terbatasnya akses perempuan ke posisi kepemimpinan, serta bias dalam proses
rekrutmen dan promosi. Di Indonesia, kesenjangan upah gender tetap menjadi isu kritis
meskipun sudah ada peraturan yang mengatur kesetaraan upah. Sebuah penelitian oleh
Maulidiyah (2019) menunjukkan bahwa perempuan di Indonesia rata-rata menerima
gaji yang lebih rendah daripada laki-laki, meskipun memiliki kualifikasi dan
pengalaman yang sama. Hal ini juga dikonfirmasi dalam penelitian Bobbitt-Zeher
(2020) yang menemukan bahwa diskriminasi gender di tempat kerja sering kali
tersembunyi dalam kebijakan organisasi yang secara tidak langsung menguntungkan
laki-laki.
Selain itu, terdapat diskriminasi dalam akses terhadap kesempatan untuk
kenaikan jabatan. Perempuan sering dianggap tidak cocok untuk posisi memimpin
karena stereotip bahwa perempuan kurang tegas dan kurang kompeten dalam membuat
keputusan dibandingkan laki-laki. Diskriminasi ini sering kali tidak disadari oleh
manajemen karena bias gender telah menjadi bagian dari budaya organisasi (Hegewisch
& Hartmann, 2019). Bentuk-bentuk diskriminasi ini secara tidak langsung menghambat
partisipasi perempuan dalam dunia kerja dan berkontribusi pada kesenjangan sosial-
ekonomi yang terus bertahan.
2) Diskriminasi Gender dalam Pendidikan
Diskriminasi gender dalam pendidikan adalah salah satu faktor yang
memperpanjang ketidaksetaraan gender di berbagai bidang kehidupan. Di Indonesia,
diskriminasi ini tampak dalam bentuk pengelompokan gender dalam mata pelajaran
atau program studi tertentu. Sebagai contoh, perempuan sering kali didorong untuk
mengambil jurusan yang dianggap "cocok" untuk mereka, seperti pendidikan, seni, atau
ilmu sosial, sedangkan laki-laki lebih diarahkan ke bidang sains, teknologi, dan teknik.
Penelitian oleh Stoet & Geary (2020) menunjukkan adanya "paradoks kesetaraan
gender" di mana perempuan kurang terwakili di bidang STEM bahkan di negara yang
tingkat kesetaraan gendernya tinggi. Di Indonesia, fenomena ini masih sangat kentara
karena budaya patriarki yang menganggap perempuan lebih cocok untuk peran-peran
yang sifatnya mendukung atau domestik.
Diskriminasi gender dalam pendidikan juga terlihat dari akses yang tidak setara
terhadap sumber daya pendidikan. Di banyak wilayah pedesaan di Indonesia, anak
perempuan masih dianggap kurang penting untuk diberikan pendidikan tinggi
dibandingkan anak laki-laki. Pandangan ini berdampak pada rendahnya angka
partisipasi pendidikan tinggi bagi perempuan, yang pada gilirannya membatasi akses
mereka terhadap pekerjaan yang lebih baik dan lebih menguntungkan. Menurut laporan
UNESCO (2020), akses perempuan ke pendidikan tinggi di Indonesia masih tertinggal
dibandingkan laki-laki, terutama di wilayah-wilayah yang kurang terjangkau.
3) Diskriminasi Gender dalam Akses terhadap Layanan Kesehatan
Layanan kesehatan juga menjadi salah satu bidang di mana diskriminasi gender
sering terjadi. Akses terhadap layanan kesehatan yang setara sangat penting untuk
kesejahteraan masyarakat, namun banyak perempuan dan kelompok minoritas gender
yang menghadapi hambatan dalam mendapatkan layanan yang mereka butuhkan.
Dalam konteks kesehatan reproduksi, perempuan sering kali mengalami diskriminasi
dalam mendapatkan akses ke layanan seperti konsultasi, perawatan, dan pengobatan.
Selain itu, banyak sistem layanan kesehatan yang tidak sensitif terhadap kebutuhan
khusus perempuan, misalnya dalam penanganan kesehatan maternal dan kebijakan cuti
melahirkan.
Di beberapa wilayah di Indonesia, diskriminasi terhadap perempuan dalam
akses kesehatan dipengaruhi oleh norma sosial dan budaya yang membatasi perempuan
dari mencari layanan kesehatan. Misalnya, perempuan di beberapa komunitas tertentu
merasa takut untuk berbicara tentang masalah kesehatan reproduksi mereka karena
dianggap tabu atau aib. Hal ini berdampak pada rendahnya kesadaran perempuan
tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan dan upaya pencegahan dini, yang pada
akhirnya meningkatkan risiko kesehatan yang mereka hadapi (Putri & Kusuma, 2021).
Sementara itu, kelompok minoritas gender, seperti transgender, sering kali ditolak atau
mendapat perlakuan diskriminatif dari tenaga medis karena bias atau kurangnya
pemahaman tentang kebutuhan kesehatan mereka.
4) Kekerasan Berbasis Gender
Kekerasan berbasis gender adalah bentuk diskriminasi yang paling ekstrem dan
memiliki dampak jangka panjang bagi korban serta masyarakat. Kekerasan ini
mencakup berbagai tindakan yang berakar pada ketidaksetaraan gender, seperti
kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, dan perdagangan manusia.
Kekerasan berbasis gender sering kali tidak hanya mempengaruhi korban secara fisik
tetapi juga berdampak psikologis, sosial, dan ekonomi. Di Indonesia, kekerasan
berbasis gender menjadi isu serius yang dilaporkan semakin meningkat, terutama pada
masa pandemi COVID-19. Menurut Komnas Perempuan, kasus kekerasan berbasis
gender meningkat pada tahun 2020, dengan banyak perempuan menjadi korban
kekerasan dalam rumah tangga (Komnas Perempuan, 2020).
Kekerasan berbasis gender sering kali dipandang sebagai masalah "privat" atau
"urusan keluarga," sehingga banyak kasus yang tidak dilaporkan atau tidak
ditindaklanjuti. Di banyak masyarakat yang masih patriarkal, perempuan sering kali
merasa sulit untuk melaporkan kekerasan karena takut akan stigma sosial atau rasa
malu. Selain itu, beberapa sistem hukum masih cenderung bias terhadap perempuan,
misalnya dalam hal pembuktian kasus kekerasan seksual, di mana korban sering kali
harus menghadapi proses yang panjang dan traumatis (Ridgeway & Correll, 2021).
Kekerasan berbasis gender ini tidak hanya berdampak pada korban tetapi juga
memperkuat norma-norma sosial yang merugikan perempuan, memperpanjang siklus
diskriminasi gender di masyarakat.
G. Diskriminasi Langsung dan Tidak Langsung
Bentuk-bentuk diskriminasi gender yang telah dijelaskan di atas dapat muncul baik
secara langsung maupun tidak langsung. Diskriminasi langsung adalah bentuk diskriminasi
yang secara eksplisit mendiskriminasi seseorang berdasarkan gender. Contoh diskriminasi
langsung adalah ketika seorang perempuan dibayar lebih rendah daripada laki-laki untuk
pekerjaan yang sama atau ketika perempuan ditolak dalam proses perekrutan hanya karena
gendernya. Diskriminasi langsung ini umumnya mudah diidentifikasi karena terdapat
ketidakadilan yang tampak jelas dalam perlakuan terhadap individu.
Di sisi lain, diskriminasi tidak langsung adalah bentuk diskriminasi yang muncul
melalui kebijakan, praktik, atau aturan yang tampak netral namun pada kenyataannya
merugikan satu kelompok gender tertentu. Misalnya, kebijakan yang menetapkan jam kerja
yang panjang tanpa fleksibilitas dapat dianggap sebagai diskriminasi tidak langsung
terhadap perempuan yang mungkin memiliki tanggung jawab tambahan di rumah. Studi
oleh Ridgeway dan Correll (2021) menunjukkan bahwa diskriminasi tidak langsung ini
sering kali tidak disadari namun berdampak besar pada kesetaraan gender, terutama di
dunia kerja dan pendidikan.
H. Faktor-faktor Penyebab Diskriminasi Gender
Diskriminasi gender tidak terjadi dalam ruang hampa; berbagai faktor yang saling
terkait telah memperkuat dan memperpanjang ketidaksetaraan ini di seluruh aspek
kehidupan masyarakat. Faktor-faktor utama yang menyebabkan diskriminasi gender antara
lain adalah norma sosial budaya, interpretasi agama, stereotip gender, dan struktur patriarki.
Di Indonesia, faktor-faktor ini memainkan peran penting dalam membentuk pandangan
masyarakat tentang peran gender dan berpengaruh besar terhadap kehidupan sehari-hari
perempuan, laki-laki, dan kelompok minoritas gender. Mengkaji faktor-faktor ini
membantu memahami akar permasalahan diskriminasi gender dan mengidentifikasi strategi
efektif untuk mengatasi ketidaksetaraan gender.
1. Faktor Sosial Budaya
Norma sosial budaya yang ada di suatu masyarakat sangat berpengaruh
terhadap pandangan masyarakat tentang gender. Di Indonesia, banyak norma sosial
budaya yang menganggap bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peran yang
berbeda dalam kehidupan. Secara umum, perempuan cenderung diharapkan
menjalankan peran domestik, sementara laki-laki lebih didorong untuk berperan di
ruang publik atau pekerjaan. Norma-norma ini tidak hanya terbatas pada peran di
dalam rumah tangga, tetapi juga membentuk persepsi terhadap kapabilitas dan hak
perempuan serta kelompok minoritas gender dalam berpartisipasi di bidang lain,
seperti pendidikan dan pekerjaan. Budaya patriarki yang kuat di Indonesia
memperkuat peran-peran gender ini. Patriarki adalah sistem sosial di mana laki-laki
memiliki kekuasaan dan otoritas yang lebih besar dibandingkan perempuan. Sistem
ini telah mengakar kuat dalam budaya Indonesia dan membentuk pandangan bahwa
laki-laki adalah pemimpin yang dominan, sementara perempuan dianggap sebagai
pendukung yang pasif. Menurut penelitian oleh Sugianto (2020), budaya patriarki di
Indonesia masih sangat kuat dan memperkuat ketidaksetaraan gender, terutama di
wilayah pedesaan. Dalam sistem patriarki, perempuan sering kali dianggap sebagai
makhluk yang "lebih rendah" daripada laki-laki, yang secara langsung dan tidak
langsung mengarah pada diskriminasi gender di berbagai bidang kehidupan,
termasuk pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan.
2. Interpretasi Agama
Agama memainkan peran besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan
turut mempengaruhi pandangan masyarakat tentang gender. Di Indonesia, mayoritas
masyarakat menganut agama-agama yang menekankan perbedaan peran antara laki-
laki dan perempuan. Meskipun ajaran agama pada dasarnya mengedepankan
prinsip-prinsip keadilan, beberapa interpretasi yang bias gender telah digunakan
untuk membenarkan diskriminasi terhadap perempuan dan kelompok minoritas
gender. Misalnya, beberapa interpretasi agama mendukung pandangan bahwa
perempuan harus memprioritaskan peran domestik mereka sebagai istri dan ibu
daripada bekerja atau berpartisipasi dalam kegiatan publik.
Di banyak wilayah di Indonesia, norma agama yang patriarkal telah
diinternalisasi oleh masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Misalnya, dalam beberapa komunitas Muslim di Indonesia, perempuan diharapkan
mengenakan jilbab dan berperilaku sesuai dengan standar kesopanan tertentu.
Meskipun aturan-aturan ini didasarkan pada interpretasi agama, penerapannya
sering kali digunakan untuk mengontrol perilaku perempuan dan membatasi
kebebasan mereka (Nurmala & Rahman, 2019). Akibatnya, perempuan cenderung
memiliki ruang gerak yang terbatas dalam hal pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi
dalam kegiatan sosial-politik. Interpretasi agama yang konservatif ini pada akhirnya
memperkuat struktur patriarki dan menormalisasi ketidaksetaraan gender dalam
masyarakat.
3. Stereotip Gender
Stereotip gender adalah pandangan yang terbentuk dari generalisasi tentang
karakteristik, peran, atau kemampuan berdasarkan gender seseorang. Stereotip
gender sering kali membuat anggapan yang bias tentang perbedaan antara laki-laki
dan perempuan yang tidak didasarkan pada fakta. Misalnya, stereotip bahwa
perempuan lebih emosional dan lemah dibandingkan laki-laki menjadi pembenaran
untuk mengabaikan perempuan dalam posisi kepemimpinan. Sebaliknya, laki-laki
sering dianggap lebih tegas dan kompeten, sehingga mereka dianggap lebih layak
untuk memegang posisi yang berkuasa atau menjadi pengambil keputusan.
Stereotip gender ini tidak hanya mempengaruhi persepsi masyarakat
terhadap perempuan dan laki-laki, tetapi juga membatasi pilihan yang tersedia bagi
individu. Dalam dunia kerja, stereotip gender sering mengakibatkan perempuan
ditempatkan pada posisi-posisi yang lebih rendah atau kurang strategis. Hal ini
menciptakan efek domino yang memperkuat diskriminasi gender di berbagai sektor.
Dalam bidang pendidikan, stereotip gender menyebabkan perempuan kurang
didorong untuk memasuki bidang sains dan teknologi, sehingga perempuan menjadi
kurang terwakili di bidang-bidang tersebut
4. Struktur Patriarki
Struktur patriarki yang tertanam dalam masyarakat Indonesia memiliki
dampak signifikan terhadap diskriminasi gender. Patriarki adalah sistem sosial di
mana laki-laki memiliki kekuasaan lebih besar daripada perempuan dalam aspek-
aspek penting kehidupan, termasuk ekonomi, sosial, dan politik. Dalam struktur ini,
peran perempuan cenderung dibatasi pada fungsi-fungsi yang berkaitan dengan
rumah tangga dan keluarga, sementara laki-laki mempunyai akses lebih luas untuk
pendidikan, pekerjaan, serta sumber daya lainnya.
Di Indonesia, patriarki tidak hanya mewujudkan dirinya dalam keluarga,
tetapi juga dalam sistem sosial yang lebih luas, termasuk lembaga pendidikan,
pemerintahan, dan tempat kerja. Misalnya, dalam lingkungan keluarga, laki-laki
sering kali diharapkan menjadi kepala keluarga dan pengambil keputusan utama.
Hal ini menciptakan hierarki gender yang mendiskriminasi perempuan dari segi
hak, kesempatan, dan suara dalam pengambilan keputusan. Dalam konteks tempat
kerja, sistem patriarki sering kali terlihat dalam struktur manajemen yang
didominasi laki-laki dan budaya kerja yang tidak mendukung perempuan untuk
mengembangkan karier mereka (Wijaya & Pramesti, 2022). Struktur patriarki ini
pada akhirnya menciptakan ketidakadilan yang sulit diubah karena sudah tertanam
dalam pola pikir dan norma sosial masyarakat.
5. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi juga turut mempengaruhi diskriminasi gender. Di banyak
negara berkembang, termasuk Indonesia, perempuan seringkali terjebak dalam
pekerjaan dengan upah rendah dan kurang dihargai. Banyak perempuan bekerja
dalam informal yang masih kurang terlindungi jika dilihat secara hukum dan rentan
terhadap eksploitasi. Kondisi ekonomi yang tidak stabil juga sering kali
memperburuk ketidaksetaraan gender, di mana perempuan diharapkan untuk
menerima pekerjaan apa pun yang tersedia tanpa mempertimbangkan hak atau
kondisi kerja yang layak. Hal ini menciptakan siklus kemiskinan dan ketidakadilan
yang sulit diputus.
Di Indonesia, kondisi ekonomi seringkali memaksa perempuan untuk
menerima pekerjaan informal, seperti menjadi buruh migran atau pekerja rumah
tangga, yang berisiko tinggi terhadap eksploitasi dan kekerasan. Studi oleh Adi &
Santoso (2020) menunjukkan bahwa pekerja perempuan di sektor informal di
Indonesia sering kali mendapatkan gaji yang sangat rendah dan tidak memiliki
perlindungan hukum yang memadai. Selain itu, kondisi kerja yang tidak stabil ini
memperkuat persepsi bahwa perempuan adalah pekerja sekunder yang tidak
memerlukan pekerjaan dengan upah tinggi atau jaminan pekerjaan yang kuat.
Faktor ekonomi ini, dalam banyak hal, memperkuat diskriminasi gender dan
mempengaruhi kesetaraan perempuan di tempat kerja.
6. Kurangnya Kesadaran Gender
Kurangnya pemahaman dan kesadaran gender di masyarakat juga menjadi
faktor penyebab diskriminasi gender yang signifikan. Banyak orang masih belum
menyadari dampak dari ketidaksetaraan gender atau bahkan tidak melihat bahwa
diskriminasi gender adalah masalah serius. Kurangnya pendidikan dan kesadaran
gender membuat masyarakat menerima begitu saja norma-norma yang
diskriminatif. Pendidikan gender yang minim di sekolah, media, dan masyarakat
umum memperkuat stereotip gender dan membatasi pemahaman akan pentingnya
kesetaraan.
Di Indonesia, pendidikan kesetaraan gender masih sangat minim, baik di
tingkat formal maupun informal. Kurikulum di sekolah-sekolah cenderung
mengabaikan pentingnya pendidikan kesetaraan gender, yang pada akhirnya
menghasilkan generasi yang tidak sensitif terhadap isu-isu gender. Hal ini membuat
masyarakat cenderung menerima struktur patriarki dan diskriminasi gender sebagai
sesuatu yang normal, memperkuat ketidakadilan yang ada.
7. Kebijakan Publik yang Kurang Responsif
Kebijakan publik yang kurang responsif terhadap isu gender juga menjadi
penyebab diskriminasi gender. Banyak kebijakan di berbagai sektor masih belum
mempertimbangkan perspektif gender atau bahkan memperkuat ketidaksetaraan
gender. Misalnya, kebijakan yang tidak menyediakan cuti melahirkan atau fasilitas
yang mendukung perempuan di tempat kerja menciptakan lingkungan yang tidak
adil bagi perempuan. Di Indonesia, beberapa kebijakan terkait kesetaraan gender
telah diterapkan, namun implementasinya sering kali tidak konsisten atau tidak
efektif.
Menurut laporan dari Komnas Perempuan, masih banyak kebijakan publik di
Indonesia yang belum mengakomodasi kebutuhan khusus perempuan, terutama
dalam hal perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender dan kesetaraan
kesempatan kerja. Kebijakan yang tidak responsif ini berdampak langsung pada
diskriminasi gender, karena perempuan menjadi tidak terlindungi secara hukum dan
kurang memiliki akses yang sama dengan laki-laki dalam berbagai aspek.
I. Pengaruh Faktor-Faktor Penyebab Diskriminasi Gender di Berbagai Aspek
Kehidupan
Faktor-faktor penyebab diskriminasi gender yang dijelaskan di atas memiliki
dampak yang luas di berbagai aspek kehidupan. Dalam dunia kerja, budaya patriarki dan
stereotip gender menyebabkan perempuan kesulitan untuk mencapai posisi kepemimpinan
atau memperoleh upah yang setara dengan laki-laki. Dalam pendidikan, nilai-nilai sosial
budaya dan stereotip gender membatasi pilihan perempuan untuk mengambil jurusan yang
dianggap “maskulin” seperti sains dan teknologi. Di bidang kesehatan, akses perempuan
terhadap layanan kesehatan reproduksi seringkali dibatasi oleh norma agama dan
pandangan patriarki yang menganggap topik ini sebagai hal yang tabu atau aib.
Selain itu, faktor-faktor ini juga mempengaruhi aspek hukum serta kebijakan publik.
Hukum dan kebijakan yang bias gender sering kali melindungi hak-hak laki-laki lebih baik
daripada perempuan, terutama dalam hal kepemilikan properti, warisan, dan akses terhadap
peradilan yang adil. Faktor-faktor penyebab diskriminasi gender ini tidak hanya
mempengaruhi perempuan, tetapi juga menciptakan ketimpangan yang merugikan seluruh
masyarakat.
J. Dampak Diskriminasi Gender
Diskriminasi gender merupakan salah satu bentuk ketidakadilan sosial yang kerap
kali dirasakan secara luas oleh individu dan kelompok tertentu. Diskriminasi ini terjadi
ketika perbedaan perlakuan diberikan berdasarkan jenis kelamin atau gender seseorang,
sehingga berakibat pada penurunan akses ke pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan peran
sosial yang setara. Dalam perspektif jangka panjang, diskriminasi gender tidak hanya
berdampak pada kesejahteraan individu tetapi juga pada stabilitas dan perkembangan
masyarakat secara keseluruhan.
1. Dampak Psikologis dari Diskriminasi Gender
Diskriminasi gender meninggalkan dampak psikologis yang signifikan bagi
individu. Para korban diskriminasi gender sering mengalami penurunan rasa
percaya diri, kecemasan, depresi, dan bahkan trauma. Diskriminasi yang terjadi
secara terus-menerus mengganggu kesejahteraan mental mereka, memicu stres
kronis, dan berdampak pada kualitas hidup sehari-hari. Penelitian oleh Frost et al.
(2017) menunjukkan bahwa diskriminasi gender berkorelasi erat dengan tingginya
tingkat gangguan kecemasan dan depresi pada perempuan yang sering menghadapi
pelecehan dan perlakuan yang merendahkan berdasarkan gender mereka. Terus-
menerus merasa terdiskriminasi menciptakan perasaan tidak berharga dan
kurangnya penghargaan diri yang dapat mempengaruhi hubungan interpersonal dan
kemampuan individu untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial dan
profesional mereka. Dalam beberapa kasus, diskriminasi gender yang berat dapat
menyebabkan individu mengalami gangguan stres pasca trauma (PTSD), yang
memerlukan intervensi psikologis jangka panjang.
2. Dampak Ekonomi dari Diskriminasi Gender
Dampak ekonomi yang ditimbulkan dari diskriminasi gender tidak hanya
merugikan individu tetapi juga menghambat potensi pertumbuhan ekonomi
masyarakat. Ketidaksetaraan upah berdasarkan gender adalah salah satu bentuk
diskriminasi ekonomi yang paling umum. Menurut laporan World Economic Forum
(2022), perbedaan upah antara pria dan wanita di berbagai sektor pekerjaan masih
signifikan, dengan wanita sering kali menerima upah lebih rendah meskipun
memiliki kualifikasi yang setara atau lebih tinggi dibandingkan pria. Hal ini
membuat wanita cenderung lebih sulit mencapai kestabilan finansial, meningkatkan
ketergantungan ekonomi, dan mengurangi daya beli mereka. Selain itu, diskriminasi
gender juga berdampak pada akses terhadap pendidikan dan kesempatan kerja.
Banyak perempuan yang terhalang untuk mengembangkan keterampilan atau
melanjutkan pendidikan mereka karena norma-norma budaya yang membatasi. Ini
secara langsung mempengaruhi produktivitas dan kualitas tenaga kerja dalam suatu
negara. Dalam jangka panjang, negara yang gagal memberdayakan kelompok
tertentu berdasarkan gender akan kehilangan potensi sumber daya manusia yang
signifikan, mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar dalam skala nasional.
3. Dampak Sosial dari Diskriminasi Gender
Secara sosial, diskriminasi gender merusak kohesi sosial dan menciptakan
ketidakadilan struktural yang memperdalam ketidaksetaraan antar kelompok.
Perlakuan diskriminatif yang dialami oleh perempuan dan minoritas gender memicu
marginalisasi dan eksklusi sosial. Mereka sering kali merasa terpinggirkan dalam
komunitas mereka sendiri, yang mengurangi rasa memiliki dan keterlibatan dalam
kegiatan sosial. Dampak sosial diskriminasi gender juga terlihat pada pola-pola
stereotip yang membatasi potensi individu berdasarkan gender mereka. Misalnya,
adanya stereotip bahwa perempuan seharusnya lebih terfokus pada peran domestik
dan bukan karier profesional membatasi peluang perempuan untuk berkembang
secara sosial dan profesional. Diskriminasi gender yang terus berlangsung juga
memperburuk masalah kekerasan berbasis gender, di mana perempuan menjadi
lebih rentan terhadap pelecehan dan kekerasan fisik maupun verbal. Ini
memperparah kondisi sosial dalam masyarakat karena menormalisasi ketidakadilan
terhadap perempuan dan menghambat terciptanya lingkungan yang inklusif dan
saling menghargai.
4. Dampak Kesehatan dari Diskriminasi Gender
Diskriminasi gender berdampak langsung pada kesehatan fisik dan mental
individu, terutama perempuan. Ketidaksetaraan dalam akses ke layanan kesehatan
adalah salah satu bentuk diskriminasi yang sering dialami perempuan di berbagai
negara, termasuk Indonesia. Penelitian oleh World Health Organization (WHO)
menunjukkan bahwa perempuan lebih sering tidak mendapatkan layanan kesehatan
yang memadai karena bias dalam sistem kesehatan yang cenderung mengabaikan
kebutuhan kesehatan khusus perempuan. Dalam konteks kesehatan reproduksi,
perempuan yang menghadapi diskriminasi gender sering kali kesulitan mendapatkan
akses ke informasi atau layanan kesehatan reproduksi yang memadai, yang
mengakibatkan risiko kesehatan jangka panjang, termasuk kematian ibu saat
melahirkan yang masih tinggi di beberapa negara berkembang. Selain itu, paparan
diskriminasi gender secara terus-menerus juga meningkatkan risiko penyakit kronis
akibat stres berkepanjangan, seperti tekanan darah tinggi, gangguan tidur, dan
masalah kesehatan lainnya. Dengan tidak adanya akses ke layanan kesehatan yang
merata, perempuan dan minoritas gender lainnya lebih rentan terhadap dampak
kesehatan buruk yang berhubungan langsung dengan diskriminasi gender.
5. Dampak Jangka Panjang Diskriminasi Gender terhadap Masyarakat
Dampak diskriminasi gender terhadap masyarakat lebih luas dari sekadar
permasalahan yang dialami oleh individu. Diskriminasi yang terus terjadi
menghambat kemajuan sosial dan ekonomi suatu negara. Negara-negara yang gagal
mengatasi diskriminasi gender akan terus menghadapi ketimpangan ekonomi yang
lebih dalam, rendahnya partisipasi tenaga kerja perempuan, serta lemahnya
keterwakilan perempuan dalam politik dan pengambilan keputusan. Ini menciptakan
siklus diskriminasi yang sulit diputus, karena generasi berikutnya tumbuh dalam
lingkungan yang tidak adil dan merugikan kelompok tertentu berdasarkan gender.
Dalam jangka panjang, diskriminasi gender melemahkan fondasi keadilan sosial,
meningkatkan potensi konflik sosial, dan menghambat pembangunan berkelanjutan.
K. Upaya dan Kebijakan untuk Mengatasi Diskriminasi Gender
Diskriminasi gender adalah tantangan yang masih sering kali terdapat di beberapa
negara termasuk Indonesia. Upaya untuk mengatasi diskriminasi gender melibatkan
pengembangan kebijakan, peraturan, serta berbagai program sosial yang bertujuan untuk
menciptakan kesetaraan gender di segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan,
kesehatan, dan politik. Di Indonesia, meskipun sudah terdapat kerangka hukum yang
melindungi hak-hak perempuan dan kelompok minoritas gender, implementasi di lapangan
seringkali mengalami kendala. Implementasinya diikuti dengan langkah-langkah lanjutan,
seperti pembentukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
(KPPPA), yang bertujuan untuk memastikan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang
sama dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik .
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai inisiatif baru telah diperkenalkan untuk
mengatasi diskriminasi gender di tempat kerja, terutama dalam hal kesenjangan upah dan
keterwakilan perempuan di posisi manajemen. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan
peraturan untuk mendorong keterwakilan perempuan dalam posisi strategis di sektor publik
dan swasta. Meskipun telah terjadi kemajuan, laporan menunjukkan bahwa perempuan di
Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mencapai kesetaraan, terutama di sektor-
sektor yang didominasi oleh laki-laki. Tantangan ini termasuk hambatan struktural dan
kultural, seperti stereotip gender dan budaya patriarki yang masih kuat. Kebijakan yang ada
juga sering kali kurang efektif di daerah-daerah pedesaan di mana kesadaran masyarakat
tentang kesetaraan gender masih rendah.
Selain itu, di tingkat global, PBB melalui UN Women telah meluncurkan berbagai
inisiatif untuk mendukung kesetaraan gender di seluruh dunia. Salah satunya adalah Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang secara khusus mencakup tujuan kelima, yaitu
kesetaraan gender. Laporan UN Women (2020) menunjukkan bahwa negara-negara yang
berkomitmen pada SDGs mengalami peningkatan dalam indikator kesetaraan gender,
seperti partisipasi perempuan dalam tenaga kerja dan keterwakilan di parlemen. Beberapa
negara, seperti Swedia dan Norwegia, juga telah menerapkan kebijakan cuti orang tua yang
setara bagi laki-laki dan perempuan, sehingga kedua orang tua dapat membagi peran dalam
pengasuhan anak secara adil. Kebijakan ini bukan hanya meningkatkan partisipasi
perempuan di dunia kerja tetapi juga membantu mengurangi ketidaksetaraan gender di
rumah tangga.
b) Diskriminasi Gender di Tempat Kerja, Sekolah, dan Masyarakat
A. Diskriminasi Gender di Tempat Kerja
Kesetaraan gender bertujuan memberikan peluang yang setara bagi laki-laki dan
perempuan untuk menikmati hak yang sama dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk
dalam sistem hukum. Hal ini mencakup akses yang setara terhadap peraturan, infrastruktur
hukum, serta budaya hukum yang mendukung. Dengan begitu, laki-laki dan perempuan
dapat diperlakukan secara adil dan tanpa diskriminasi. Misalnya, dalam Undang-Undang
Ketenagakerjaan, pasal-pasal seperti Pasal 5 dan Pasal 6 menegaskan hak-hak yang setara
antara pekerja laki-laki dan perempuan. Pasal 5 mengatur bahwa semua pekerja harus
memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi, dan Pasal 6 memastikan bahwa
pengusaha harus memperlakukan pekerja tanpa diskriminasi. Selain itu, Pasal 88 juga
menjamin bahwa pekerja perempuan berhak atas penghasilan yang layak.
Di Indonesia, ketidaksetaraan gender seringkali dipengaruhi oleh budaya patriarki
yang sudah sangat mendalam dalam masyarakat. Dalam budaya ini, laki-laki ditempatkan
sebagai pihak yang dominan, terutama dalam hal kepemimpinan. Meskipun perbedaan
gender itu sendiri tidak masalah, namun pandangan sosial yang dibentuk oleh budaya
patriarki sering kali menciptakan ketidakadilan gender, terutama terhadap perempuan.
Salah satu bentuk ketidaksetaraan ini terlihat dalam diskriminasi gender di tempat kerja,
yang mempengaruhi berbagai aspek seperti perekrutan, pelatihan, gaji, dan promosi
perempuan. Banyak lembaga kini menafsirkan undang-undang untuk melindungi hak-hak
individu dari diskriminasi yang berkaitan dengan jenis kelamin, identitas gender, dan
orientasi seksual. Diskriminasi ini mencerminkan ketidaksetaraan yang melekat dalam
struktur dan praktik organisasi di tempat kerja (Hidayat, 2022).
Di lingkungan perusahaan, perempuan biasanya memiliki peluang yang lebih sedikit
dibandingkan laki-laki untuk mendapatkan posisi manajerial atau menjadi kepala bagian.
Beberapa faktor yang jadi hambatan untuk perempuan bisa jadi pemimpin ini terbagi jadi
dua jenis: faktor objektif dan subjektif. Faktor objektif mencakup hal-hal nyata yang
dialami perempuan, seperti gaji yang lebih rendah dari laki-laki, kurangnya kesempatan
untuk berkembang di perusahaan, atau adanya aturan kontrak yang melarang mereka
menikah selama periode tertentu. Sedangkan faktor subjektif berkaitan dengan pandangan
atau stereotip terhadap perempuan, misalnya anggapan bahwa perempuan lebih lemah,
seharusnya lebih banyak di rumah, kurang mahir mengemudi, atau dilihat sebagai sosok
yang lembut dan ramah tapi dianggap kurang kuat dan kurang kompeten.
Kondisi objektif biasanya diperkuat oleh hukum, praktik, dan tradisi yang
mendiskriminasi pekerja perempuan. Jika hal ini terjadi, hambatan eksternal muncul dalam
kepemimpinan perempuan, seperti tidak diberikannya peluang melakukan tugas-tugas
tertentu atau kesempatan pelatihan yang mendukung pengembangan karier, yang sering
lebih banyak diberikan kepada laki-laki. Berbeda dengan kondisi objektif, kondisi subjektif
merujuk pada sikap orang lain terhadap perempuan berdasarkan informasi yang keliru, serta
penerimaan atas ketidaksetaraan kesempatan bagi perempuan. Kondisi ini menjadi
hambatan internal bagi kepemimpinan perempuan. Untuk menghilangkan diskriminasi
gender di tempat kerja, hambatan internal dan eksternal tersebut harus diatasi.
1. Perbedaan Gaji antara Laki-laki dan Perempuan
Konsep gender sebenarnya merujuk pada sifat-sifat yang dianggap khas
untuk laki-laki dan perempuan, padahal sifat-sifat tersebut adalah hasil dari
konstruksi sosial dan budaya. Misalnya, perempuan sering dipandang lembut,
cantik, emosional, dan keibuan, sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, dan
pemberani. Namun, kenyataannya sifat-sifat ini tidak mutlak. Banyak perempuan
yang juga bisa kuat dan rasional, begitu pula laki-laki yang bisa lembut dan
emosional. Hal ini juga bisa berbeda-beda tergantung pada waktu dan budaya,
karena di beberapa budaya atau era tertentu, perempuan bisa lebih kuat daripada
laki-laki. Jadi, sifat-sifat gender ini sebenarnya bersifat fleksibel dan dapat berubah
sesuai dengan konteks sosial dan budaya yang ada (Fakih, 2013).
Contoh nyata diskriminasi gender di dunia kerja adalah perbedaan gaji
antara laki-laki dan perempuan. Data global menunjukkan bahwa perempuan sering
mendapat gaji lebih rendah dibandingkan laki-laki, meski memiliki posisi,
pendidikan, dan pengalaman yang sama. Fenomena ini dikenal sebagai “gender pay
gap”. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa stereotip peran gender dan anggapan
bahwa perempuan kurang kompeten di bidang tertentu berkontribusi pada
ketidakadilan ini.
Pada Agustus 2019, rata-rata gaji bulanan pekerja di Indonesia sekitar 2,91
juta rupiah. Namun, gaji laki-laki rata-rata lebih tinggi, sekitar 3,17 juta rupiah per
bulan, sementara perempuan hanya menerima sekitar 2,45 juta rupiah per bulan
(BPS, 2019) (Lusiyanti, 2020). Kesenjangan gaji ini berdampak negatif bagi
perempuan, seperti kesulitan finansial, ketidakstabilan ekonomi, dan terbatasnya
peluang untuk berkembang.
Meskipun perempuan sering memiliki kualifikasi yang setara dengan laki-
laki mereka tetap menerima gaji sekitar 20% lebih rendah. Beberapa penyebabnya
antara lain perbedaan jenis pekerjaan yang diambil oleh laki-laki dan perempuan,
serta diskriminasi yang masih ada di tempat kerja.
Pada 2023, data menunjukkan bahwa perempuan di Indonesia masih
mendapatkan gaji 21,8% lebih rendah dibandingkan laki-laki, meskipun faktor
seperti ras, etnis, pendidikan, usia, dan lokasi kerja sudah diperhitungkan.
Diskriminasi gender masih menjadi salah satu penyebab utama perbedaan gaji ini.
Kesenjangan gaji antara laki-laki dan perempuan menyebabkan berbagai
masalah, seperti kesulitan dalam keuangan, ketidakstabilan ekonomi, dan
terbatasnya peluang untuk berkembang. Meskipun perempuan seringkali memiliki
pendidikan, pengalaman, dan keterampilan yang setara dengan laki-laki, mereka
masih mendapatkan gaji sekitar 20% lebih rendah. Ini disebabkan oleh berbagai
faktor, seperti perbedaan jenis pekerjaan yang mereka ambil dan diskriminasi yang
masih ada dalam praktik sehari-hari.
Walaupun ada kemajuan dalam pencapaian pendidikan dalam lima dekade
terakhir, perempuan masih menghadapi kesenjangan gaji yang besar. Di kalangan
pekerja, perempuan lebih cenderung menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi
dibandingkan pria dan lebih mungkin meraih gelar sarjana. Namun, perempuan
tetap menerima gaji lebih rendah daripada pria di setiap tingkat pendidikan. Di
antara pekerja dengan ijazah sekolah menengah atas, perempuan dibayar 21,3%
lebih rendah dibandingkan laki-laki. Sementara di antara pekerja dengan gelar
sarjana, perempuan dibayar 26,8% lebih rendah. Ketidakseimbangan sebesar $13,52
per jam ini mengakibatkan pengurangan pendapatan tahunan sebesar $28.000 untuk
pekerja penuh waktu. Bahkan perempuan dengan gelar sarjana mengalami
kesenjangan gaji yang signifikan, mencapai 25,2% pada tahun 2023.
Perbedaan gaji antara wanita dan pria menunjukkan bahwa masih terdapat
kesenjangan di berbagai industri dan tingkat pendapatan, meskipun telah ada
peningkatan kesadaran dan kebijakan untuk menanggulanginya. Di Amerika
Serikat, perempuan rata-rata menerima sekitar 22% lebih rendah dari pendapatan
laki-laki per jam, terutama dalam posisi berpenghasilan tinggi seperti manajemen
dan profesi teknis. Misalnya, perempuan di sektor dengan gaji tinggi, seperti
teknologi dan keuangan, memperoleh lebih sedikit meski memiliki tingkat
pendidikan dan pengalaman yang sebanding. Hal ini setara dengan perbedaan
pendapatan tahunan hingga $30.000 untuk karyawan penuh waktu (Economic
Policy Institute, 2023).
Di Inggris, data menunjukkan bahwa kesenjangan gaji masih ada pada
hampir semua sektor pekerjaan. Pada tahun 2023, perbedaan gaji antara pria dan
wanita menurun untuk beberapa sektor seperti tenaga kerja terampil dan pelayanan
pelanggan. Namun, kesenjangan tetap lebar di posisi yang lebih tinggi, terutama di
antara karyawan berusia 40-an dan 50-an, di mana perempuan sering kali lebih
sedikit terwakili di posisi manajerial atau eksekutif yang berpenghasilan tinggi
(Office for National Statistics, 2023). Faktor yang menyebabkan perbedaan ini
termasuk pembagian pekerjaan berdasarkan gender, penurunan nilai pekerjaan yang
dilakukan perempuan, dan diskriminasi struktural yang masih berlanjut di tempat
kerja.
2. Diskriminasi dalam Promosi Jabatan
Diskriminasi dalam promosi jabatan masih sering terjadi karena beberapa
alasan, seperti kurangnya akses yang setara terhadap informasi, proses penilaian
yang tidak transparan, dan penerapan sistem merit yang belum optimal dalam
manajemen ASN. Misalnya, di banyak instansi tingkat kabupaten dan kota, sistem
merit sering belum dijalankan dengan baik. Akibatnya, promosi jabatan kadang
bukan didasarkan pada kinerja atau kemampuan pegawai, tetapi lebih dipengaruhi
oleh faktor favoritisme atau bias gender.
Masalah lain yang mempengaruhi diskriminasi dalam promosi adalah
kurangnya standar kompetensi yang dapat menjadi acuan bagi promosi jabatan. Hal
ini menyebabkan pegawai dengan pengalaman atau pendidikan yang memadai
seringkali tidak mendapatkan peluang yang setara dibandingkan dengan pegawai
lain yang mungkin lebih "diunggulkan" secara subyektif oleh pihak yang
berwenang. Beberapa daerah, seperti yang diungkapkan dalam penelitian tentang
promosi jabatan di Makassar, menunjukkan bahwa penerapan pengarusutamaan
gender belum sepenuhnya merata, dan masih ada hambatan dalam akses bagi
pegawai perempuan untuk memperoleh promosi.
Misalnya, dalam kasus yang melibatkan Departemen Taman Negara Bagian
New York, kegagalan untuk mempromosikan seorang karyawan ditentang atas
dasar diskriminasi gender dan usia. Pemohon, yang lebih memenuhi syarat untuk
promosi, mengklaim bahwa terlepas dari pengalaman dan kualifikasinya,
pencalonannya diabaikan demi individu yang kurang memenuhi syarat. Meskipun
departemen membela keputusannya, dengan mengklaim tidak ada niat diskriminatif,
kasus tersebut menunjukkan bagaimana bias semacam itu dapat secara halus
mempengaruhi keputusan promosi. Dalam hal ini, meskipun pengadilan pada
akhirnya memerlukan lebih banyak bukti untuk mendukung klaim diskriminasi,
pengadilan mengakui bahwa kasus diskriminasi jarang langsung dan sering kali
memerlukan bukti tidak langsung untuk menunjukkan niat.
Memahami bagaimana praktik promosi dapat dipengaruhi oleh bias sangat
penting dalam mendorong lingkungan kerja yang lebih adil. Kerangka hukum
seperti Judul VII Undang-Undang Hak Sipil di AS memberikan perlindungan
terhadap diskriminasi tersebut, memastikan bahwa pemberi kerja tidak dapat
menolak promosi berdasarkan jenis kelamin, usia, atau karakteristik yang dilindungi
lainnya.
3. Dampak Diskriminasi Terhadap Kesejahteraan Karyawan
Menurut Saleh dan Utomo (2018:29), lingkungan kerja adalah semua hal di
sekitar karyawan yang berpengaruh pada cara mereka bekerja. Lingkungan kerja
yang nyaman dan mendukung itu penting, karena bisa bikin karyawan merasa lebih
aman dan nyaman. Akhirnya, hal ini membuat mereka bisa bekerja lebih produktif
dalam organisasi.
Menurut Hasibuan (2001) dalam Gedhe Bhayu (2018), kesejahteraan
karyawan adalah jenis bonus tambahan yang perusahaan berikan kepada karyawan.
Bonus ini bisa berupa uang, barang, atau layanan yang bisa memberi kepuasan lebih
pada karyawan. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa karyawan tetap dalam
kondisi sehat, baik fisik maupun menta, sehingga kerja mereka bisa semakin
produktif. Kesejahteraan ini juga bisa memotivasi karyawan untuk berpartisipasi
lebih dalam mendukung jaminan ketenagakerjaan (Saputra, Akbar Ginanjar, dkk.,
2020).
Menurut Mugizi dan rekan-rekannya (2021), kesejahteraan karyawan dapat
dilihat dari tiga aspek utama. Pertama, kesejahteraan subjektif, yang berkaitan
dengan perasaan positif, suasana hati yang baik, dan kepuasan hidup yang tinggi.
Kedua, kesejahteraan di tempat kerja, yang dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang
mendukung tugas-tugas mereka. Ketiga, kesejahteraan psikologis, yang melibatkan
hubungan yang baik dengan rekan kerja, pemahaman diri, kemandirian, dan
perasaan bahwa hidup mereka bermakna. Ketiga faktor ini digunakan dalam
penelitian untuk menilai sejauh mana kesejahteraan karyawan tercapai.
Diskriminasi berbasis gender memiliki dampak negatif yang besar pada
kesejahteraan karyawan, baik laki-laki maupun perempuan. Perempuan yang sering
menerima perlakuan diskriminatif dapat mengalami stres, kecemasan, bahkan
depresi. Hal ini juga dapat menurunkan tingkat keterlibatan dan loyalitas karyawan
terhadap organisasi. Lebih jauh, diskriminasi ini juga dapat menciptakan
ketidakpuasan kerja dan menurunkan kinerja, yang pada akhirnya merugikan
perusahaan secara keseluruhan.
Diskriminasi di tempat kerja bisa bikin karyawan jadi kurang produktif dan
sulit mencapai target perusahaan karena hal itu meningkatkan stres dan
kekhawatiran. Ketika karyawan merasa dihargai, didukung, dan diperlakukan adil
tanpa memandang latar belakang, stres mereka biasanya lebih rendah. Dengan
tingkat stres yang rendah, mereka bisa bekerja dengan lebih fokus dan efisien
(Aliyah & Anshori, 2023). Kondisi ini memungkinkan mereka untuk benar-benar
fokus pada tugas tanpa terganggu oleh rasa khawatir tentang perlakuan yang tidak
adil. Kualitas hidup kerja karyawan sendiri ditentukan oleh bagaimana mereka
merasa secara mental dan fisik selama bekerja, dan kalau kualitas hidup kerja
mereka meningkat, organisasi juga bisa merasakan dampaknya yang positif
(Anshori, 2011). Jadi, menghilangkan diskriminasi di tempat kerja bukan cuma soal
etika, tapi juga bisa mendukung keberhasilan dan perkembangan perusahaan atau
organisasi dalam jangka panjang.
4. Regulasi yang Mengatur Kesetaraan Gender di Tempat Kerja
Ada berbagai cara untuk mengatasi diskriminasi gender, salah satunya
dengan menghilangkan karakteristik berbasis stereotip. Stereotip yang merugikan
ini dapat dikeluarkan dari proses pengambilan keputusan dengan mengubah
pandangan stereotip tentang perempuan. Untuk mengurangi diskriminasi gender,
organisasi perlu berfokus pada penghapusan stereotip gender. Penelitian
menunjukkan bahwa orang yang tidak memiliki pandangan stereotip cenderung
tidak melakukan diskriminasi gender (Bauer dan Baltes, 2002). Namun, studi juga
menemukan bahwa perubahan pada stereotip masih minim, dan insiden diskriminasi
gender belum jelas mengalami penurunan.
Selain itu, cara untuk menghilangkan karakteristik berbasis stereotip adalah
dengan meningkatkan keterlibatan perempuan dalam peran yang biasanya
didominasi laki-laki. Kehadiran perempuan di posisi kepemimpinan dalam
organisasi dapat membantu mengurangi stereotip. Penelitian menunjukkan bahwa
kehadiran anggota kelompok yang bertentangan dengan stereotip dapat memicu
perubahan pada keyakinan stereotip (Johnston dan Hewstone, 1990; Weber dan
Crocker, 1983).
Kesempatan kerja yang setara di tempat kerja adalah kebijakan yang
bertujuan melindungi karyawan dari segala bentuk diskriminasi, baik secara
langsung ataupuntidak langsung, terhadap kelompok tertentu seperti perempuan,
penyandang disabilitas, pekerja senior, dan komunitas LGBTQ+. Kebijakan ini
memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk
mengembangkan karir mereka, termasuk memberi peluang lebih besar bagi
perempuan. Equal Employment Opportunity (EEO) memastikan bahwa semua
karyawan memiliki hak yang sama untuk berkembang tanpa adanya diskriminasi
yang berkaitan dengan faktor-faktor non-kinerja. Prinsip ini juga didorong oleh
Organisasi Buruh Internasional (ILO), yang mengajak setiap negara untuk
menghapus diskriminasi di tempat kerja dan mendorong kesetaraan gender melalui
berbagai konvensi.
Sejak disahkannya undang-undang hak sipil pada tahun 1960-an, tujuan
utama dari kesempatan kerja yang setara adalah untuk melindungi perempuan dan
kelompok minoritas dari diskriminasi di tempat kerja. Meskipun ada kemajuan yang
signifikan dalam hak-hak sipil, dominasi laki-laki di dunia kerja masih sangat
terasa. Saat ini, perempuan rata-rata hanya mendapatkan 82 sen untuk setiap dolar
yang diperoleh laki-laki, sebuah peningkatan dari 62 sen pada tahun 1979.
Kesenjangan ini bahkan lebih besar bagi perempuan kulit berwarna, di mana
perempuan Afrika-Amerika hanya memperoleh 68 sen, dan perempuan Hispanik 63
sen. Di sektor pemerintah federal, perempuan memperoleh 90 sen untuk setiap dolar
yang diperoleh rekan laki-laki (BLS, 2018a, 2018b; Hatch Institute, 2018).
Perjalanan menuju kesetaraan gender dipengaruhi banyak oleh undang-
undang yang melindungi hak-hak sipil. Di Amerika Serikat, langkah-langkah
hukum untuk melawan diskriminasi mulai diambil melalui Undang-Undang Hak
Sipil 1866 dan Amandemen Keempat Belas dari Konstitusi AS. Beberapa regulasi
penting untuk kesetaraan gender meliputi larangan diskriminasi berdasarkan gender,
seperti yang diatur dalam Undang-Undang Pembayaran Setara 1963 yang menjamin
kesetaraan gaji, serta Undang-Undang Hak Sipil 1964 yang melarang diskriminasi
di tempat kerja terhadap perempuan. Selain itu, seksualitas juga dijamin
perlindungannya melalui Judul VII dari Undang-Undang Hak Sipil. Undang-
Undang Kesetaraan Kesempatan 1972 memperkuat hak perempuan untuk
menggugat diskriminasi, sementara Undang-Undang Cuti Medis Keluarga 1993
memberikan perempuan hak untuk cuti administratif.
Namun, meskipun berbagai undang-undang tersebut berperan penting dalam
menciptakan kesempatan kerja yang setara, tidak semua perempuan merasakan
dampak positifnya. Beberapa langkah legislatif memang bertujuan untuk
menciptakan keadilan bagi perempuan di tempat kerja, jika langkah-langkah
sebelumnya belum cukup efektif, solusi alternatif seperti kebijakan yang
mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bisa menjadi
pilihan untuk mengatasi masalah, seperti konflik peran yang sering dihadapi
perempuan dalam kehidupan mereka. Kebijakan seperti ini membantu menciptakan
lingkungan yang lebih fleksibel dan adil, yang memungkinkan perempuan untuk
lebih mudah menjalani peran mereka baik di keluarga maupun di dunia kerja.
(Gregory & Milner, 2009; Greenhaus, Collins & Shaw, 2003).
Sementara langkah-langkah hukum mengurangi hambatan akses pekerjaan
bagi perempuan, solusi administratif terkait dengan peningkatan komitmen dan
kepuasan kerja (Gregory dan Milner, 2009), kesehatan dan kesejahteraan karyawan
(Brown dan Bradley, 2005), serta menurunkan ketidakhadiran dan pergantian
karyawan (Burke, 2005). 2004). Namun, perempuan masih kurang terwakili dalam
profesi yang didominasi laki-laki, dan ketika mereka berhasil masuk, pengalaman
kerja seringkali dipengaruhi oleh bias gender
B. Diskriminasi Gender di Sekolah
Pembangunan seharusnya difokuskan pada upaya untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dalam konteks ini, pendidikan memegang
peranan yang sangat penting, tidak hanya dalam menciptakan sumber daya manusia yang
berkualitas, tetapi juga dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara lebih luas.
Pengaruh positif pendidikan terhadap kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi
sangat besar (Adriani, 2019). Individu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi
cenderung memiliki produktivitas yang lebih baik, yang pada akhirnya memberikan
dampak positif bagi perekonomian.
Indonesia telah mengakui hak yang setara bagi setiap warganya untuk mengakses
pendidikan, sebagaimana tercantum dalam Pasal 31 ayat (1) UUD 1945 yang menyebutkan,
"Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan." Namun, penerapan prinsip ini
masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu masalah utama adalah dominasi patriarki
dan ketidaksetaraan gender yang masih terasa dalam dunia pendidikan. Hingga kini,
kesetaraan gender dan keadilan dalam sektor pendidikan tetap menjadi isu yang signifikan
(Saeful, 2019).
Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, perempuan sering menjadi korban
kekerasan seksual yang dilakukan oleh tentara penjajah. Pada periode tersebut, perempuan
hampir tidak diberi kesempatan untuk bersekolah, kecuali mereka berasal dari kalangan
bangsawan atau priyayi. Ketidaksetaraan ini berakar dari pembatasan akses pendidikan
yang diberikan kepada perempuan (Convention Watch, 2007). Pengaruh budaya patriarki
yang mendalam dalam masyarakat Indonesia turut memperburuk ketidaksetaraan dalam
akses pendidikan bagi perempuan (Nasir & Lilianti, 2017).
Kesenjangan pendidikan masih menjadi salah satu tantangan besar dalam
pembangunan yang hingga kini belum sepenuhnya dapat diatasi. Indonesia masih tercatat
memiliki ketimpangan dalam pendidikan dengan kategori sedang pada periode 2016-2018
(Harahap, Maipita, & Rahmadana, 2020). Pendidikan merupakan hak asasi manusia yang
bersifat universal dan memainkan peran penting dalam pemberdayaan perempuan. Setiap
individu, tanpa memandang jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan, berhak untuk
mendapatkan kehidupan yang layak, meraih kesejahteraan yang adil, dan memberikan
kontribusi bagi pembangunan negara (Winter, 1994).
Ironisnya, ketidaksetaraan gender masih terlihat dalam bentuk stereotip negatif yang
lebih sering ditujukan kepada perempuan daripada laki-laki. Misalnya, perempuan sering
diasumsikan sebagai individu yang lemah, bergantung pada orang lain, tidak tegas, dan
mudah terpengaruh (Djunaedi, dkk., 2022). Pelabelan seperti ini berdampak pada akses dan
kesempatan pendidikan perempuan yang terbatas. Ketika seorang perempuan ingin
bersekolah di luar daerah, orang tua sering kali khawatir karena menganggap perempuan
sebagai sosok yang lemah dan tidak mampu menjaga dirinya, sedangkan laki-laki diberikan
kebebasan untuk bersekolah di mana pun.
Diskriminasi gender dalam dunia pendidikan masih terjadi dan terus berkembang
hingga saat ini, dengan adanya stereotip, perundungan, kekerasan, serta pelecehan terhadap
kaum perempuan. Semua ini terjadi akibat adanya kesenjangan gender dalam pendidikan
antara laki-laki dan perempuan (Watoni, dkk., 2020).
Pendidikan merupakan faktor penting yang mendukung pertumbuhan ekonomi
suatu negara. Namun, sayangnya, banyak anak perempuan yang tidak memperoleh
pendidikan yang memadai. Hal ini dipengaruhi oleh pandangan patriarkal yang masih
dianut oleh sebagian orang tua. Rendahnya tingkat pendidikan berdampak langsung pada
akses anak perempuan terhadap sumber daya produktif, yang membuat mereka lebih rentan
terhadap ketidakstabilan ekonomi. Akibatnya, banyak dari mereka terjebak dalam
pekerjaan informal dan sektor domestik dengan upah yang rendah. Banyak orang tua yang
masih berpegang pada pandangan bahwa pendidikan berkualitas tidak menjadi kebutuhan
utama bagi perempuan, karena kurangnya pengetahuan dan informasi. Perubahan cara
pandang masyarakat terhadap kedudukan perempuan yang setara menjadi inti dari gerakan
feminisme di seluruh dunia (Sumar, 2015).
Mengatasi ketidaksetaraan gender dalam pendidikan dapat mendorong perempuan
untuk lebih berperan aktif di sektor ekonomi. Pencapaian kesetaraan hak antara perempuan
dan laki-laki berpotensi meningkatkan pendapatan perempuan sebesar US$ 2 triliun dan
dapat menambah PDB global hingga US$ 6 triliun (ILO, 2017; PWC, 2018). Pendidikan
bagi perempuan juga memiliki peran krusial dalam memutus rantai kemiskinan antar
generasi, menurunkan angka kelahiran, mengurangi angka kematian bayi, serta
meningkatkan status gizi anak-anak (Klasen, 1999).
Berbagai studi menunjukkan bahwa ketidaksetaraan gender sering kali berakar dari
ketimpangan dalam akses, partisipasi, dan kontrol antara laki-laki dan perempuan terhadap
sumber daya yang tersedia (Mosse, 1996). Suleeman (1995) berpendapat bahwa
ketidaksetaraan gender dalam pendidikan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti
terbatasnya fasilitas pendidikan, tingginya biaya pendidikan, dan distribusi investasi yang
tidak merata dalam sektor pendidikan. Van Bemmelen (2003) menambahkan bahwa
ketimpangan ini juga tercermin dalam terbatasnya akses perempuan terhadap pendidikan,
pengaruh nilai-nilai gender yang berkembang di masyarakat, peran gender dalam materi
ajar, serta sikap guru yang sering kali bias gender, selain kebijakan pendidikan yang tidak
adil.
Ketidaksetaraan gender dalam dunia pendidikan umumnya disebabkan oleh
ketidakseimbangan akses yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Ada tiga isu utama
terkait gender dalam pendidikan, yaitu kesempatan untuk bersekolah, jenjang pendidikan,
dan isi kurikulum (Suryadi & Idris, 2004). Suleeman (1995) menjelaskan bahwa
ketidaksetaraan gender dapat diamati melalui perbedaan hak dan kewajiban antara laki-laki
dan perempuan dalam memperoleh pendidikan formal. Beberapa indikator kuantitatif
seperti tingkat melek huruf, angka partisipasi sekolah, pilihan jurusan, serta komposisi
pengajar dan kepala sekolah dapat digunakan untuk mengukur ketidaksetaraan gender
dalam pendidikan (Van Bemmelen, 1995).
Dampak dari ketidaksetaraan gender dalam pendidikan sangat merugikan
perempuan. Salah satu akibatnya adalah banyak anak perempuan yang terpaksa putus
sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga, yang memaksa mereka untuk mengurus
pekerjaan rumah tangga. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan perempuan menyebabkan
mereka lebih banyak bekerja di sektor informal yang umumnya memberikan penghasilan
lebih rendah (Rahmi & Habibullah, 2012).
Menurut Suleeman (1995), terdapat beberapa faktor yang berkontribusi terhadap
ketidaksetaraan gender dalam pendidikan, di antaranya: 1) semakin tinggi jenjang
pendidikan, semakin sedikit jumlah sekolah yang tersedia; 2) biaya pendidikan yang
semakin mahal pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi; dan 3) seringkali investasi dalam
pendidikan tidak memberikan manfaat yang setara bagi anak perempuan karena mereka
dianggap akan menjadi anggota keluarga suami setelah menikah. Van Bemmelen (2003)
juga mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi ketidaksetaraan gender dalam
pendidikan, seperti akses perempuan terhadap pendidikan, nilai-nilai gender yang
berkembang di masyarakat, peran gender yang tercermin dalam materi ajar, sikap guru
yang bias gender, dan kebijakan pendidikan yang tidak setara.
Suryadi dan Idris (2004) mengklasifikasikan faktor-faktor yang menyebabkan
kesenjangan gender dalam pendidikan ke dalam empat kategori, yaitu: 1) akses, yang
merujuk pada kesempatan untuk memperoleh atau menggunakan sumber daya pendidikan;
2) partisipasi, yang mengacu pada keterlibatan individu atau kelompok dalam kegiatan
pendidikan atau pengambilan keputusan; 3) kontrol, yang mengacu pada kewenangan atau
hak untuk mengambil keputusan dalam pendidikan; dan 4) manfaat, yang berarti
pemanfaatan sumber daya pendidikan secara optimal. Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Suryadi (2001), ditemukan bahwa keluarga dengan pendapatan rendah lebih
cenderung mengutamakan pendidikan untuk anak laki-laki, karena mempertimbangkan
biaya yang lebih rendah. Keputusan ini tidak hanya dipengaruhi oleh pandangan
tradisional, tetapi juga berdasarkan pengalaman empiris yang menunjukkan bahwa tingkat
keuntungan pendidikan bagi perempuan dianggap lebih rendah. Hal ini juga berkaitan
dengan kenyataan bahwa penghasilan pekerja perempuan umumnya lebih rendah
dibandingkan dengan penghasilan pekerja laki-laki.
Di lingkungan sekolah, diskriminasi gender dapat mempengaruhi siswa dalam
berbagai aspek, mulai dari akses terhadap pendidikan hingga kesempatan untuk
mengembangkan potensi diri secara maksimal. Diskriminasi ini sering kali bersifat implisit,
terlihat dalam pola pengajaran, ekspektasi yang dimiliki oleh guru, serta stereotip yang
melekat pada kemampuan akademis siswa berdasarkan gender. Meskipun tindakan
diskriminatif ini terkadang sulit dikenali secara langsung, hal ini dapat memberikan dampak
signifikan terhadap pengalaman pendidikan siswa, baik laki-laki maupun perempuan, dan
dapat mempengaruhi kesempatan mereka di masa depan.
1. Ketidakadilan Akses terhadap Pendidikan
Meskipun semakin banyak negara yang berusaha membuka akses
pendidikan setara bagi anak laki-laki dan perempuan, diskriminasi gender tetap ada
dalam bentuk yang berbeda, terutama di negara-negara berkembang. Di banyak
budaya, anak perempuan masih mendapatkan prioritas pendidikan yang lebih
rendah dibandingkan anak laki-laki. Hal ini sering kali didasarkan pada anggapan
tradisional bahwa perempuan lebih baik berperan dalam urusan rumah tangga atau
pekerjaan domestik, yang dianggap lebih cocok dengan "kodrat" mereka. Banyak
keluarga, terutama yang berada di wilayah pedesaan atau memiliki sumber daya
terbatas, sering kali menganggap pendidikan bagi anak perempuan sebagai investasi
yang kurang penting dibandingkan pendidikan anak laki-laki. Sebagai hasilnya,
anak perempuan cenderung putus sekolah lebih awal dan kehilangan kesempatan
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yang menyebabkan
mereka memiliki peluang pendidikan yang lebih sedikit. Kondisi ini tidak hanya
menghambat perkembangan potensi akademik mereka tetapi juga membatasi
peluang mereka untuk berkontribusi secara optimal dalam berbagai sektor ekonomi
di masa depan.
2. Pembagian Tugas dan Ekspektasi Berdasarkan Gender
Di dalam kelas, baik secara sadar maupun tidak, guru dan sistem pendidikan
seringkali memperlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan ekspektasi yang
berbeda. Contohnya, anak laki-laki lebih sering diarahkan untuk memilih bidang-
bidang yang dianggap lebih “maskulin” seperti sains, teknologi, dan matematika.
Sementara itu, anak perempuan lebih sering diarahkan ke bidang-bidang yang
dianggap lebih “feminin” seperti humaniora atau ilmu perawatan. Ekspektasi yang
terpisah ini diperkuat oleh stereotip yang berkembang dalam masyarakat, yang
cenderung memandang perempuan kurang memiliki kemampuan di bidang-bidang
yang menuntut kemampuan logika atau teknis. Hal ini sering kali berdampak negatif
pada motivasi anak perempuan dalam mengejar karier di bidang yang diidentifikasi
sebagai ranah maskulin. Akibatnya, pembagian tugas dan ekspektasi berdasarkan
gender ini menciptakan ketidakseimbangan di lingkungan pendidikan dan menutup
peluang bagi perempuan untuk mengembangkan potensi penuh mereka di berbagai
bidang yang sebenarnya bisa mereka tekuni.
3. Dampak Stereotip pada Minat dan Pencapaian Akademik
Stereotip gender yang beredar di lingkungan sekolah tidak hanya
mempengaruhi cara siswa diperlakukan tetapi juga berpengaruh besar pada minat
akademik dan pencapaian mereka. Misalnya, ketika anak perempuan menerima
pesan, baik secara langsung maupun tidak langsung, bahwa mereka kurang berbakat
atau tidak cocok di bidang sains dan matematika, hal ini menurunkan motivasi
mereka untuk terlibat secara mendalam dalam bidang tersebut. Mereka mungkin
merasa cemas atau tidak yakin dengan kemampuan mereka, dan akhirnya enggan
untuk mengambil mata pelajaran atau program studi di bidang yang sebenarnya bisa
mereka tekuni. Hal ini berdampak pada hasil akademik mereka, terutama di mata
pelajaran yang diidentifikasi sebagai ranah maskulin, yang pada akhirnya
membatasi pilihan karier mereka di masa depan. Seiring waktu, dampak stereotip
ini menciptakan situasi di mana hanya sedikit perempuan yang memiliki
kesempatan untuk mengembangkan potensi penuh mereka di bidang-bidang yang
masih didominasi laki-laki. Pembatasan seperti ini tidak hanya merugikan individu
tersebut tetapi juga menutup kontribusi berharga yang bisa diberikan perempuan
dalam berbagai sektor pembangunan di masa depan.
Secara keseluruhan, diskriminasi gender dalam dunia pendidikan merupakan
tantangan serius yang masih menghambat perempuan dan laki-laki untuk
mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama. Dibutuhkan upaya bersama dari
berbagai pihak, termasuk pendidik, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat
untuk mengatasi hambatan ini. Menghapus stereotip, memperluas akses yang setara,
serta menumbuhkan dukungan yang positif bagi kedua gender merupakan langkah
penting untuk mewujudkan kesetaraan gender yang sesungguhnya dalam
pendidikan.
C. Diskriminasi Gender di Masyarakat
Perubahan zaman telah membawa transformasi besar dalam struktur sosial
masyarakat, di mana arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang sangat pesat mendorong
individu untuk berpikir lebih kritis dan terbuka. Dalam konteks peran perempuan saat ini,
eksistensi mereka dalam kehidupan sosial semakin tidak bisa diabaikan. Kebutuhan
ekonomi yang terus berkembang menuntut peran serta sumber daya manusia, yang
mendorong perempuan untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi mereka di berbagai
bidang (M. Rahman et al., 2022).
Peluang perempuan untuk berperan aktif dalam bidang ekonomi semakin besar,
tidak hanya karena meningkatnya kebutuhan akan tenaga kerja perempuan di sektor-sektor
tertentu, tetapi juga berkat kemajuan yang terjadi dalam pendidikan perempuan (Wahyuni
et al., 2021). Peran serta perempuan dalam sektor publik, termasuk dalam bidang ekonomi,
politik, dan teknologi, memiliki dampak langsung terhadap peningkatan keterampilan dan
karakter kepemimpinan yang mereka kembangkan (Reflianto & Wandi, 2019). Sebagai
contoh, selama pandemi Covid-19, sejumlah daerah di Indonesia melaporkan peningkatan
jumlah perempuan yang bekerja, baik dalam sektor formal maupun perdagangan, bahkan
lebih tinggi dibandingkan laki-laki (Nasrulloh & Hafidh, 2021).
Perempuan seringkali dihadapkan pada "standar ganda," sebuah situasi di mana
mereka harus memilih antara berbagai peran yang dapat mereka jalani, meskipun mereka
memiliki kemampuan untuk menjalankan peran-peran tersebut tanpa adanya diskriminasi.
Kemampuan perempuan untuk menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan mereka
merupakan suatu keistimewaan yang sudah ada sejak lama. Untuk memastikan perempuan
tetap terlibat dalam berbagai sektor kehidupan, penting untuk mengubah pola pikir serta
persepsi masyarakat mengenai peran perempuan di era global saat ini (Nirmalasari & Putri,
2022).
Isu gender tetap menjadi topik penting yang banyak mendapat perhatian berbagai
pihak, mengingat relevansinya dengan tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.
Ketidaksetaraan gender yang sering dirasakan perempuan terus menjadi sorotan di berbagai
platform media, mencakup hak atas integritas fisik, hak untuk memilih pasangan, hak
dalam hubungan seksual, hak untuk menentukan kelahiran, hak atas pelayanan aborsi yang
aman, serta masalah keterwakilan perempuan dalam pemerintahan, terutama di parlemen
(Panjaitan & Purba, 2018).
Kekerasan terhadap perempuan juga tetap menjadi masalah serius yang sering kali
dialami oleh perempuan. Sebagai contoh, selama pandemi Covid-19, antara tahun 2019
hingga 2020, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat secara signifikan,
dari 450 kasus menjadi 760 kasus (Asman, 2021). Dalam penelitiannya, Asman
mengidentifikasi dua faktor utama yang mempengaruhi terjadinya kekerasan terhadap
perempuan. Faktor pertama adalah kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil, sementara
faktor kedua adalah aspek sosial budaya, di mana ketidaksetaraan dalam hubungan
kekuasaan antara laki-laki dan perempuan menciptakan subordinasi dan pengucilan
terhadap perempuan.
Diskriminasi gender dalam masyarakat mencakup berbagai praktik yang tidak adil
di lingkungan sosial dan institusi publik. Bentuk diskriminasi ini menciptakan batasan bagi
individu yang didasarkan pada peran gender yang dianggap "wajar" atau "sesuai" oleh
norma-norma yang dianut masyarakat. Diskriminasi gender tidak hanya terjadi di
lingkungan kerja, tetapi juga dalam aspek kehidupan sehari-hari, seperti keluarga,
pendidikan, kesehatan, dan hukum. Dalam banyak kasus, individu dipaksa mengikuti
peran-peran yang telah ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan gender mereka, sehingga
membatasi kebebasan dan peluang untuk berkembang secara mandiri.
1. Norma Sosial yang Mendukung Diskriminasi Gender
Norma sosial memiliki peran besar dalam memperkuat dan mempertahankan
diskriminasi gender di berbagai aspek kehidupan. Banyak masyarakat yang masih
menganut pandangan tradisional mengenai peran laki-laki dan perempuan, di mana
laki-laki dianggap sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab atas
pengambilan keputusan penting, sementara perempuan dianggap lebih pantas
mengurus urusan domestik dan merawat anak. Anggapan ini biasanya berakar pada
kebiasaan yang telah diwariskan secara turun-temurun, bahkan sejak generasi-
generasi sebelumnya, sehingga menjadi pandangan yang umum dan sulit untuk
diubah.
Pandangan ini juga menjadikan laki-laki sebagai sosok yang dominan dalam
keluarga dan masyarakat, sementara perempuan diposisikan dalam peran yang lebih
subordinatif. Ketika perempuan mencoba untuk keluar dari peran tradisional dan
ikut berpartisipasi dalam dunia ekonomi atau politik, mereka sering kali dianggap
"melanggar" peran gender mereka yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Banyak
perempuan yang menghadapi penilaian negatif atau dianggap "tidak sesuai" jika
terlibat dalam bidang-bidang yang biasanya didominasi oleh laki-laki, seperti
kepemimpinan, politik, atau sektor bisnis.
Norma-norma ini juga membuat perempuan merasa terbatas dalam memilih
jalan hidup yang mereka inginkan. Mereka mungkin ragu untuk menekuni karier
yang mereka minati atau berpartisipasi dalam kegiatan di luar rumah karena
khawatir melanggar ekspektasi masyarakat. Misalnya, perempuan yang memilih
untuk fokus pada karier dan menunda pernikahan sering kali dihakimi sebagai
"egois" atau "tidak patuh pada kodrat." Norma sosial ini bukan hanya membatasi
kebebasan perempuan untuk menentukan pilihan hidupnya, tetapi juga menghalangi
mereka dari kesempatan yang lebih luas untuk berkembang dalam berbagai bidang
kehidupan.
Selain itu, ekspektasi tradisional tentang gender dapat mempengaruhi
bagaimana perempuan diperlakukan di lingkungan kerja dan dalam politik. Dalam
dunia kerja, perempuan sering kali dianggap kurang layak untuk posisi
kepemimpinan, dan kompetensi mereka di bidang tertentu dipertanyakan hanya
karena mereka perempuan. Norma sosial ini juga dapat mempengaruhi kebijakan di
lingkungan institusi publik, di mana peran dan hak perempuan sering kali tidak
diakui secara setara dengan laki-laki. Masyarakat yang masih menganut pandangan
tradisional seringkali enggan mendukung peraturan atau kebijakan yang mendorong
kesetaraan gender, dengan alasan bahwa hal tersebut bertentangan dengan nilai dan
budaya yang sudah mengakar.
Dengan demikian, norma sosial yang mendukung diskriminasi gender bukan
hanya menciptakan batasan bagi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi
juga menghambat perkembangan masyarakat menuju keadilan dan kesetaraan yang
lebih luas. Diperlukan perubahan besar dalam cara pandang dan kebijakan agar
masyarakat bisa mendukung kesetaraan yang sesungguhnya, di mana setiap individu
bebas memilih jalannya tanpa terikat oleh batasan gender.
2. Diskriminasi dalam Pelayanan Publik atau Hukum
Diskriminasi gender juga sering terjadi dalam pelayanan publik, termasuk
dalam layanan kesehatan dan sistem peradilan. Banyak perempuan yang mengalami
kesulitan dalam memperoleh keadilan atau perlindungan hukum yang memadai,
khususnya mereka yang menjadi korban kekerasan. Kendala ini sebagian besar
disebabkan oleh kurangnya kebijakan yang benar-benar mendukung kesetaraan
gender serta adanya sikap petugas layanan publik yang masih memiliki bias
terhadap perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada tantangan besar dalam
merancang pelayanan publik yang responsif terhadap kebutuhan gender. Dalam
konteks perencanaan dan pengembangan perkotaan, penting untuk
mengintegrasikan perspektif gender ke dalam program pembangunan agar setiap
warga mendapatkan layanan yang adil dan inklusif (Moser, 2016; Horelli, 2017).
Menurut Riset Gender Impact Assessment yang dilakukan oleh Puslitbang
Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan pada tahun 2013 dan dikutip oleh Setyawati,
Baby Dipokusumo (2018), terdapat empat prinsip dalam konsep “Infrastructure for
All” atau “Infrastruktur untuk Semua” yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
gender secara adil:
a. Universal Utilization: Infrastruktur harus dapat dimanfaatkan oleh
semua kelompok masyarakat, termasuk perempuan, laki-laki, dan
kelompok berkebutuhan khusus lainnya seperti lansia, penyandang
disabilitas, serta anak-anak. Hal ini bertujuan agar semua kelompok
dapat menggunakan fasilitas publik sesuai dengan kebutuhan spesifik
mereka tanpa merasa terpinggirkan atau kesulitan dalam
mengaksesnya.
b. Safety, Security, Convenience: Prinsip ini menekankan pentingnya
memberikan rasa aman, keselamatan, dan kenyamanan bagi semua
pengguna. Contohnya meliputi penerangan jalan yang memadai,
sistem drainase yang baik untuk mencegah banjir, bangunan yang
dirancang dengan mempertimbangkan keamanan, serta trotoar yang
bebas hambatan bagi semua pengguna termasuk penyandang
disabilitas. Fasilitas yang mengutamakan aspek keselamatan dan
kenyamanan akan mendukung partisipasi yang lebih luas dari
berbagai kelompok masyarakat, termasuk perempuan yang sering
kali lebih rentan terhadap isu keselamatan di ruang publik.
c. Gender Equity for Basic Needs: Prinsip ini bertujuan untuk
memberikan aksesibilitas yang setara terhadap layanan dasar bagi
laki-laki, perempuan, lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak.
Kesetaraan ini mencakup aspek kebutuhan dasar manusia seperti
keamanan, kesehatan, dan kenyamanan dalam menggunakan fasilitas
umum. Dengan menyediakan akses yang adil, diharapkan semua
kelompok dapat menikmati manfaat dari infrastruktur publik tanpa
terkecuali.
d. Environmental Friendly: Infrastruktur harus dirancang dengan
memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan, serta dilengkapi
dengan fasilitas yang ramah lingkungan dan sesuai dengan
kebutuhan berbagai kelompok, termasuk perempuan, laki-laki, dan
kelompok berkebutuhan khusus lainnya. Infrastruktur yang ramah
lingkungan tidak hanya menjaga keberlanjutan sumber daya alam
tetapi juga menyediakan lingkungan yang lebih nyaman dan sehat
untuk semua lapisan masyarakat.
Konsep “Infrastructure for All” ini diharapkan mampu menciptakan
infrastruktur yang inklusif dan ramah bagi semua pengguna, serta meminimalkan
ketimpangan gender dalam akses terhadap fasilitas publik. Dengan menerapkan
prinsip-prinsip ini, diharapkan layanan publik dapat lebih responsif terhadap
kebutuhan setiap kelompok masyarakat tanpa terkecuali, sehingga diskriminasi
gender dalam pelayanan publik dapat diminimalkan.
3. Peran Keluarga dalam Menanamkan Perbedaan Peran Gender
Perempuan seringkali dipandang sebagai sumber daya domestik yang tidak
dihargai dengan bayaran, berperan dalam mendukung pekerjaan suami dan
bertanggung jawab atas kelahiran serta pembesaran anak-anak yang akan menjadi
tenaga kerja di masa depan (Jones et al., 2016). Budaya dan agama turut
memengaruhi bagaimana kesetaraan gender diterapkan dalam masyarakat. Di
beberapa wilayah seperti Aceh, anak laki-laki sejak kecil sudah terbiasa membantu
ibu dan saudara perempuannya di dapur (Nurlian & Daulay, 2008). Namun, di
tempat lain, anak laki-laki yang sering berada di rumah sering mendapat ejekan
karena dianggap tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Di negara-negara
Arab, pengaruh agama terhadap kesetaraan gender masih sangat terbatas. Penelitian
oleh Veronica V. Kostenko, Pavel A. Kuzmuchev, dan Eduard D. Ponarin (2015)
menunjukkan bahwa hanya sekitar 17% dari populasi yang mendukung kesetaraan
gender, meskipun mayoritas mendukung demokrasi. Rendahnya dukungan terhadap
kesetaraan gender di negara-negara tersebut dipengaruhi oleh faktor agama,
pendidikan, dan status sosial. Oleh karena itu, budaya dan agama memiliki
pengaruh besar dalam cara masyarakat menerapkan kesetaraan gender.
Syaiful (2016) menyatakan bahwa pengasuhan yang memperhatikan
perspektif gender sejak dini dalam keluarga dapat menjadi solusi efektif untuk
meningkatkan partisipasi anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, dalam
pendidikan. Penelitian oleh Dwi Noviani et al. (2022) juga menunjukkan bahwa
penerapan kesetaraan gender dalam keluarga dapat memberikan dampak positif,
seperti: (a) anak merasa diperlakukan secara adil oleh orang tuanya; (b) anak
perempuan dapat berkontribusi pada perekonomian keluarga melalui pekerjaan; dan
(c) memberikan ketenangan batin kepada orang tua karena merasa telah berlaku adil
terhadap anak-anak mereka. Oleh karena itu, penerapan kesetaraan gender dalam
keluarga dapat memberikan dampak positif, asalkan tetap mempertimbangkan
norma dan nilai yang ada dalam masyarakat.
Peran gender yang dibentuk secara sosial, berdasarkan perbedaan jenis
kelamin, dapat terlihat dalam peran yang didefinisikan oleh masyarakat. Misalnya,
ayah sering dianggap sebagai pencari nafkah utama yang bertanggung jawab untuk
memenuhi kebutuhan finansial keluarga, sementara ibu dikaitkan dengan tugas
domestik, termasuk pengasuhan anak (Samay & Romano, 2020). Namun, dalam
pengasuhan anak saat ini, peran gender mulai berkembang; tidak hanya perempuan
yang berperan, tetapi laki-laki juga semakin terlibat dalam pengasuhan. Keterlibatan
laki-laki dalam pengasuhan dapat memperkuat ikatan antara ayah dan anak (Asy’ari
& Ariyanto, 2019).
Keluarga adalah institusi utama yang membentuk persepsi gender pada
anak-anak. Sejak dini, anak-anak sering diperkenalkan dengan peran yang sesuai
dengan jenis kelamin mereka, melalui cara berpakaian, jenis mainan, hingga
aktivitas yang dianggap "sesuai" untuk laki-laki atau perempuan. Pola asuh ini
menjadi dasar terbentuknya diskriminasi gender karena anak-anak tumbuh dengan
pemahaman yang membatasi potensi mereka berdasarkan stereotip gender yang
telah ditanamkan sejak kecil.
Suryadi dan Idris (2010) berpendapat bahwa ketidaksetaraan gender dalam
masyarakat dipicu oleh proses budaya yang berlangsung lama dan diteruskan dari
generasi ke generasi. Proses budaya ini membentuk norma sosial atau tata krama
yang diterima dalam kehidupan masyarakat, yang kemudian menciptakan peran
tertentu bagi laki-laki dan perempuan. Akibatnya, peran gender terbagi dalam tiga
aspek utama: sifat feminin dan maskulin, pembagian peran publik dan domestik,
serta hubungan dominasi dan subordinasi.
Pertama, terkait sifat feminin dan maskulin. Sifat-sifat ini bukanlah hal
alami, tetapi hasil dari proses sosial dan budaya. Sifat feminin dan maskulin dapat
saling dipertukarkan atau bahkan dihilangkan. Proses pembudayaan ini tercermin
dalam berbagai bentuk, seperti perbedaan dalam pakaian, gaya potongan rambut,
cara orang tua mendidik anak, serta penggunaan bahasa dan julukan yang berbeda
antara anak laki-laki dan perempuan. Semua elemen ini memperkuat peran feminin
dan maskulin yang ada dalam masyarakat.
Kedua, mengenai pembagian peran publik dan domestik. Terkait hal ini,
terdapat perbedaan pandangan antara teori psikoanalisis dan teori fungsionalis
struktural. Teori psikoanalisis berpendapat bahwa sifat feminin dan maskulin
menghasilkan perbedaan dalam peran sosial antara publik dan domestik.
Sebaliknya, teori kebudayaan menyatakan bahwa pembagian peran ini lebih
didasarkan pada norma sosial yang diwariskan, yang kemudian membentuk sifat
feminin dan maskulin. Sejak usia dini, anak-anak diperkenalkan dengan mainan
yang mencerminkan pekerjaan orang dewasa, yang disesuaikan dengan peran
gender mereka. Anak perempuan biasanya diberikan boneka atau alat masak, yang
menggambarkan peran domestik yang akan mereka jalani ketika dewasa. Sedangkan
anak laki-laki lebih sering diberikan mainan seperti mobil-mobilan, senapan, robot,
atau pesawat terbang, yang menggambarkan peran publik yang diharapkan mereka
jalani, seperti menjadi pengemudi, pilot, atau pekerjaan lainnya (Suryadi & Idris,
2010).
Ketiga, mengenai posisi dominasi dan subordinasi. Proses budaya yang
paternalistik membentuk sifat feminin dan maskulin, dan kemudian membagi peran
sosial laki-laki dan perempuan berdasarkan sifat-sifat tersebut. Hal ini menyebabkan
perempuan menjadi semakin pasif dan terperangkap dalam peran domestik. Budaya
yang menempatkan perempuan dalam sektor domestik mendorong mereka untuk
bersikap lebih feminin, yang pada gilirannya membatasi kebebasan mereka dan
membuat mereka lebih pasrah. Sifat pasif perempuan ini muncul karena norma-
norma yang menilai bahwa tindakan tertentu tidak pantas dilakukan oleh
perempuan, melainkan lebih sesuai untuk laki-laki. Dalam kondisi ini, perempuan
cenderung mengembangkan sikap "nerimo" atau menerima, yang membuat mereka
tersubordinasi. Sifat pasif ini membuat perempuan sering menyerahkan tanggung
jawab atas masalah yang sulit kepada laki-laki dan, dengan sifat feminin mereka,
mencari perlindungan dari laki-laki. Kondisi ini menciptakan dominasi laki-laki atas
perempuan, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam kehidupan sosial
secara umum.
c) Peran Sosial dan Stereotip Gender
A. Pengertian dan Asal Mula Stereotip Gender
Masalah stereotip gender yang membedakan peran pria dan wanita sering kali
menyebabkan pandangan yang salah dan terlalu umum terhadap perbedaan tersebut, yang
pada akhirnya menimbulkan persepsi negatif (Murdianto, 2018). Stereotip ini cenderung
menggambarkan pria sebagai pribadi yang maskulin, diharapkan kuat, rasional, dan
menjadi pencari nafkah,sedangkan wanita sering dianggap lebih lemah, emosional, dan
lebih cocok menjalani peran di rumah daripada di luar, dengan anggapan bahwa mereka
lebih feminin. Stereotip ini menyarankan bahwa wanita seharusnya fokus pada tugas-tugas
domestik, sementara pria dipandang lebih sesuai dengan peran publik atau yang lebih
dominan. (Rahmadhani & Virianita, 2020). Safitra (2015) menambahkan bahwa sering kali
wanita dipandang lebih rendah daripada pria, yang lebih dominan dan dianggap lebih
rasional serta kuat. Pria seringkali dikaitkan dengan bidang yang dianggap "keras" seperti
matematika dan sains, sementara wanita lebih diidentifikasi dengan bidang yang "lembut"
seperti bahasa dan sastra.
Menurut Samsidar (2020), peran-peran yang diharapkan dari perempuan dan laki-
laki seringkali didasarkan pada stereotip tertentu. Perempuan umumnya diharapkan untuk
mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga, sedangkan laki-laki dianggap sebagai pencari
nafkah dan yang bertanggung jawab atas keuangan keluarga. Barron dan Byrne (2009: 64)
menjelaskan bahwa ada dua faktor utama yang membentuk stereotip gender. Pertama,
manusia cenderung membagi dunia menjadi dua kelompok besar: "kita" dan "mereka."
Kelompok yang dianggap "mereka" sering dipandang sebagai satu kesatuan yang homogen
karena kita tidak memiliki cukup informasi untuk melihat perbedaan individual di
dalamnya. Kedua, ada kecenderungan untuk mempermudah pemikiran tentang perempuan,
mengurangi usaha untuk memahami mereka lebih dalam.
Stereotip tidak selalu memiliki konotasi negatif. Terkadang, stereotip juga bisa
menggambarkan sifat positif, meskipun ada kalanya hal tersebut sepenuhnya benar atau
sepenuhnya salah. Stereotip negatif sering kali dikaitkan dengan prasangka atau perilaku
diskriminatif, sedangkan stereotip positif sering dianggap tidak berbahaya dan tidak
melibatkan permusuhan terhadap individu atau kelompok lain. Stereotip gender sendiri,
menurut Stephen L. Franzori, dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, yang berperan penting
dalam cara mengasuh anak laki-laki dan perempuan. Keluarga sebagai tempat sosialisasi
memainkan peran utama dalam mentransfer nilai, keyakinan, serta peran sosial, termasuk
gender, kepada anggota keluarga yang lebih muda. Budaya dan lingkungan sekitar juga
memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan pandangan terhadap peran gender
dalam masyarakat.
Di Indonesia, masih terdapat berbagai stereotip gender yang menempatkan
perempuan dalam peran tradisional, seperti diharuskan berpakaian feminin, fokus pada
pekerjaan rumah tangga, atau bahkan dibatasi dalam pendidikan. Stereotip ini banyak
dipengaruhi oleh budaya patriarki yang menganggap laki-laki lebih unggul, sementara
perempuan dianggap lebih cocok untuk pekerjaan tertentu, misalnya di rumah atau di balik
meja, bukan sebagai pemimpin. Fenomena ini dapat dilihat dalam pandangan masyarakat
terhadap perempuan sebagai pemimpin, di mana perempuan sering dianggap kurang tegas
dan emosional, sedangkan laki-laki dianggap lebih rasional dan kuat secara fisik. Di sisi
lain, laki-laki sering ditempatkan dalam peran sebagai pencari nafkah dan pelindung
keluarga. Faktor budaya dan agama juga mempengaruhi pandangan ini, dengan sebagian
besar orang meyakini bahwa suami adalah pencari nafkah utama dalam keluarga dan
bertanggung jawab untuk melindungi keluarga dalam situasi berbahaya (Hasyim, 2022;
Zakaria, 2020).
Dengan demikian, 'stereotip gender' merujuk pada pandangan atau anggapan yang
berhubungan dengan perilaku yang dianggap khas untuk perempuan dan laki-laki. Hal ini
sesuai dengan pendapat Ismiati (2018) yang menjelaskan bahwa stereotip gender adalah
keyakinan yang diyakini oleh individu atau kelompok mengenai peran sosial yang
seharusnya dijalankan oleh masing-masing jenis kelamin. ILO (2015) juga mengungkapkan
bahwa stereotip gender mencakup generalisasi tentang atribut, perbedaan, dan peran yang
dimiliki oleh individu atau kelompok berdasarkan jenis kelamin mereka. Dalam
masyarakat, stereotip gender sering kali dipelajari melalui berbagai sumber, seperti
keluarga, sekolah, teman, budaya agama, budaya etnis, dan institusi komunitas (Warmiyati
et al., 2018). Partisipasi dalam berbagai aktivitas dan pengakuan yang diterima oleh
perempuan bisa membuat mereka melihat perbedaan antara diri mereka dengan laki-laki,
yang kemudian menumbuhkan harapan berbeda terhadap gambaran ideal tentang
perempuan dan laki-laki.
B. Pembentukan Stereotip Gender melalui Media, Pendidikan, dan Tradisi
1. Media
Pembentukan stereotip gender melalui media sering kali terjadi karena
cara media sosial menampilkan representasi gender yang tidak seimbang.
Media, termasuk platform sosial, menjadi ruang di mana stereotip tentang
perempuan, seperti keharusan untuk tampil cantik atau sifat-sifat negatif lainnya
seperti materialistis, terus diperkuat. Bahkan di dunia digital, stereotip gender
sering kali dipromosikan melalui komentar, ejekan, dan konten yang tidak
mendukung kesetaraan. Stereotip ini tidak hanya dibentuk oleh persepsi
masyarakat umum, tetapi juga diperparah oleh cara media menampilkan
perempuan dalam situasi tertentu, yang terkadang melanggengkan pandangan
sempit tentang peran perempuan dalam masyarakat. Ini juga menimbulkan
dampak psikologis, termasuk rasa tertekan atau cemas pada perempuan yang
merasa harus memenuhi standar sosial yang tidak realistis.
Media memegang peranan penting dalam mempengaruhi masyarakat.
Apapun jenis media yang ada, kita harus bisa berpikir kritis dan kreatif tentang
apa yang kita terima. Media tidak hanya berpengaruh pada individu, tetapi juga
membentuk budaya dan struktur sosial secara keseluruhan. Donald Ellis
menjelaskan bahwa media utama di suatu periode akan mempengaruhi cara kita
berpikir dan bertindak. Seiring dengan berkembangnya media, cara kita
mengelola informasi, berinteraksi, dan saling terhubung pun ikut berubah.
Media tertulis, misalnya, memberikan dampak yang signifikan karena
memungkinkan kita untuk mengedit, memanipulasi, dan menyimpan informasi,
menciptakan jarak antara pengetahuan dan orang yang menguasainya. Hal ini
membuat pengetahuan dianggap objektif, dengan klaim kebenaran yang dapat
terpisah antara mereka yang memilikinya dan yang tidak.
Saat ini, media informasi berperan penting dalam mendukung kemajuan
masyarakat, termasuk peran perempuan. Media dengan berbagai isinya
berfungsi untuk mencerminkan kenyataan yang akan dihadapi masyarakat.
Namun, seringkali gambaran yang disajikan oleh media lebih bersifat ilusif, dan
banyak orang yang menganggapnya sebagai kenyataan dan menyesuaikan
kehidupan mereka sesuai dengan itu. Saat ini, media lebih sering menampilkan
perempuan dalam sisi positif, menonjolkan kemajuan dan peningkatan yang
mendukung penghargaan terhadap perempuan. Namun, kenyataannya masih ada
jurang yang besar antara apa yang disajikan dan kenyataan yang dialami.
Representasi perempuan dalam media sering kali masih bersifat tradisional dan
negatif, tidak mencerminkan perubahan sosial dan keragaman, serta tidak
mendorong perubahan positif di masa depan.
Perempuan sering kali digambarkan hanya sebagai objek yang berkaitan
dengan seksualitas, atau sebagai "sosok di dapur." Meski hal ini tidak
sepenuhnya salah, namun minimnya representasi perempuan dalam peran
intelektual atau profesional semakin memperkuat gambaran tradisional tersebut.
Akibatnya, persepsi masyarakat terhadap perempuan cenderung stagnan.
Gambaran yang mencerminkan semangat emansipasi seringkali hanya muncul
pada momen-momen tertentu seperti Hari Kartini atau Hari Ibu, sementara pada
kehidupan sehari-hari, representasi tersebut sangat jarang terlihat.
Representasi perempuan dalam media telah dipengaruhi oleh budaya
patriarki yang telah lama ada dalam masyarakat. Proses ini secara perlahan
membentuk pandangan yang menganggap gambaran perempuan yang
merendahkan diri di media sebagai hal yang biasa, bahkan diterima oleh
sebagian besar perempuan itu sendiri. Hal ini bertentangan dengan semangat
emansipasi yang memperjuangkan kesetaraan hak, perlakuan, dan posisi antara
perempuan dan laki-laki. Sayangnya, banyak perempuan yang dieksploitasi
melalui gambaran sensual dalam media justru merasa bangga dan tidak merasa
terganggu, dan hal ini juga dirasakan oleh perempuan lain yang menyaksikan.
Mereka mulai menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Oleh karena
itu, sangat penting untuk menyadarkan perempuan, serta masyarakat pada
umumnya, akan pentingnya memperbaiki cara perempuan digambarkan dalam
media. Tanpa adanya kesadaran tersebut, perjuangan untuk kesetaraan dan
emansipasi perempuan akan semakin sulit tercapai.
2. Pendidikan
Keluarga berfungsi sebagai lembaga pendidikan utama yang
memberikan pengetahuan dan pengalaman praktis kepada setiap anggotanya.
Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan
anak-anak, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014.
Keluarga memainkan peran krusial dalam perkembangan individu, terutama
anak-anak, dengan memberikan perlindungan dan mendukung tumbuh kembang
mereka.
Perkembangan gender dipengaruhi oleh tiga faktor utama: biologis,
sosial, dan kognitif. Faktor biologis terkait dengan pengaruh genetik dan fisik,
sementara faktor sosial melibatkan interaksi anak dengan lingkungan, seperti
keluarga, budaya, masyarakat, media, dan sekolah. Faktor kognitif berhubungan
dengan bagaimana anak memahami identitas gender mereka, yang berkembang
seiring waktu saat mereka mengenali diri sebagai laki-laki atau perempuan dan
menyesuaikan perilaku serta pilihan aktivitas mereka dengan identitas tersebut.
Sejak usia dini, orang tua dan orang dewasa lainnya secara tidak
langsung memperkenalkan stereotip gender kepada anak-anak. Anak-anak
seringkali diberi label sesuai dengan jenis kelamin mereka, mulai dari nama
hingga pakaian yang mereka kenakan. Stereotip ini, menurut Franzoi (2009),
muncul sebagai cara cepat untuk memberikan informasi yang dapat membantu
orang bertindak dalam situasi yang tidak pasti. Dengan begitu, stereotip
berfungsi sebagai alat untuk menyaring informasi yang lebih besar dan
memungkinkan individu untuk berinteraksi secara efisien dalam berbagai
situasi.
3. Tradisi dan Nilai Budaya
Stereotipe gender terbentuk dalam masyarakat melalui tradisi dan nilai-
nilai budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Salah satu faktor utama
adalah bagaimana masyarakat mendefinisikan peran laki-laki dan perempuan,
yang sering kali dipengaruhi oleh norma dan nilai budaya di dalam komunitas
tersebut. Sebagai contoh, dalam masyarakat yang lebih kolektivistik, stereotipe
terhadap laki-laki cenderung lebih menekankan sifat-sifat yang bersifat sosial
dan berbagi, sedangkan dalam masyarakat yang lebih individualistik, laki-laki
sering kali dipandang lebih mengutamakan sifat-sifat yang berorientasi pada diri
sendiri (Cuddy et al., 2015).
Keluarga berperan sangat penting dalam mengajarkan nilai-nilai kepada
anak-anak, termasuk nilai-nilai terkait gender. Nilai-nilai tersebut memberikan
pedoman bagi laki-laki dan perempuan untuk bertindak, sesuai dengan
kesepakatan yang berlaku di masyarakat mereka (Perlas, 2006). Oleh karena itu,
penting bagi keluarga untuk menanamkan nilai-nilai ini sejak usia dini agar
anak-anak dapat memperoleh pemahaman yang cukup dalam membentuk
karakter mereka. Pengalaman anak dalam interaksi sehari-hari dengan berbagai
orang dan karakteristik yang ada di sekitar mereka memiliki dampak yang besar
dalam mempengaruhi perkembangan konsep diri dan kepribadian sosial anak
(Lestari, 2013).
Orang tua seharusnya memperlakukan anak laki-laki dan perempuan
secara setara. Namun, perbedaan perlakuan sering kali muncul karena nilai-nilai
gender yang diturunkan oleh orang tua. Perbedaan perilaku ini akhirnya
membentuk stereotip gender, di mana laki-laki sering dianggap maskulin dan
perempuan feminin. Stereotip ini membatasi kebebasan anak untuk
mengekspresikan diri mereka, karena siapa pun yang tidak sesuai dengan label
tersebut dianggap melanggar norma (Fakih, 2013; Mustadjar, 2013).
Budaya patriarki, yang banyak ditemukan di berbagai negara,
memperkuat pandangan bahwa perempuan lebih cocok untuk peran domestik,
sementara laki-laki dianggap lebih pantas untuk peran publik dan kekuasaan.
Meski ada upaya untuk mendorong kesetaraan gender di beberapa negara seperti
Swedia, stereotip gender tetap bertahan (Bosson et al., 2013; Frontiers, 2019).
Lebih lanjut, sistem patriarki yang menginstitusikan dominasi laki-laki
sebagai norma memperkuat keyakinan bahwa perempuan hanya pantas dengan
tugas-tugas domestik. Sistem ini tidak hanya tercermin dalam budaya, tetapi
juga dalam sistem hukum dan ekonomi, yang menjadikannya faktor penghambat
kesetaraan gender (Fakih, 2012). Dampak budaya ini sangat luas dan
berkontribusi pada ketidakadilan gender sistemik, memperburuk ketegangan
sosial dengan membatasi kebebasan individu dan mempersempit pandangan
terhadap identitas gender (Siti, 2014).
C. Peran Sosial Gender dalam Masyarakat Tradisional dan Modern
1. Peran Gender dalam Masyarakat Tradisional
Dalam masyarakat tradisional, pembagian peran gender antara laki-laki
dan perempuan sering kali sangat jelas dan terpisah. Laki-laki umumnya
dianggap sebagai kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab untuk
mengambil keputusan penting, sementara perempuan lebih sering dianggap
sebagai pengelola rumah tangga dan pengasuh anak-anak. Pembagian peran ini
tercermin dalam berbagai sektor kehidupan sosial dan ekonomi, di mana
perempuan sering kali dihadapkan pada keterbatasan akses terhadap pendidikan
dan peluang kerja. Pembatasan-pembatasan ini banyak dipengaruhi oleh nilai-
nilai budaya yang masih dijaga dalam banyak komunitas tradisional hingga
sekarang.
Diskriminasi gender dalam konteks pernikahan juga dapat ditemukan
dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, terutama dalam Pasal 31
Ayat (3), yang secara eksplisit menyatakan bahwa suami adalah kepala keluarga
yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan utama, sedangkan istri
lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga. Pasal 34 juga menetapkan
bahwa suami memiliki kewajiban untuk melindungi istri, sementara istri
diwajibkan untuk mengelola rumah tangga dengan baik. Ketentuan ini, jika
dianalisis lebih mendalam, menunjukkan ketimpangan gender yang
menempatkan perempuan pada posisi subordinat dalam ranah domestik.
Selain itu, dalam budaya Jawa yang menganut sistem patriarki, terdapat
banyak norma dan ungkapan yang menempatkan perempuan dalam posisi lebih
rendah dibandingkan laki-laki, baik dalam konteks publik maupun domestik.
Sistem patriarki ini menggambarkan laki-laki sebagai kepala keluarga dan
pencari nafkah, yang tercermin dalam pekerjaan produktif di luar rumah, serta
sebagai penerus garis keturunan (Sihite, 2007). Ideologi patriarki ini membentuk
pola pikir yang mendukung pembagian peran gender tradisional, yang
menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih unggul daripada perempuan
(Olson & Defrain, 2003).
Dalam budaya Jawa, citra perempuan yang ideal adalah yang lembut,
patuh, tidak membantah, dan tidak lebih unggul dari laki-laki dalam hal apapun.
Peran ideal perempuan adalah mengurus rumah tangga, mendukung karir suami,
patuh pada suami, serta menjadi ibu yang baik bagi anak-anak. Sebaliknya, laki-
laki digambarkan sebagai sosok yang penuh pengetahuan, rasional, menjadi
panutan bagi perempuan, serta agresif. Dalam pandangan ini, peran laki-laki
yang ideal adalah sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk
mencari nafkah, melindungi, dan menjaga keluarganya (Raharjo, 1995).
Botkin, Weeks, & Morris (2000) mencatat bahwa sekitar lima puluh
tahun yang lalu, kehidupan pasangan suami-istri digambarkan sebagai sistem
yang ideal, di mana masing-masing pasangan memiliki peran yang tak tertulis
dan berkontribusi pada keharmonisan rumah tangga. Pada waktu itu, suami
bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sementara
istri mengurus rumah tangga dan merawat anak-anak. Namun, seiring
berjalannya waktu dan berkembangnya gaya hidup modern, peran gender pun
mengalami pergeseran menuju pola yang lebih setara, di mana laki-laki dan
perempuan dipandang sebagai individu yang setara dalam berbagai aspek
kehidupan.
2. Peran Gender dalam Masyarakat Modern
Seiring dengan perubahan dalam berbagai bidang sosial, ekonomi, dan
budaya, peran gender dalam masyarakat modern semakin menunjukkan karakter
yang lebih fleksibel. Saat ini, perempuan memiliki lebih banyak peluang untuk
mengejar pendidikan tinggi serta berkarier dalam bidang-bidang yang
sebelumnya didominasi oleh laki-laki. Banyak laki-laki juga mulai lebih aktif
terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Meskipun
demikian, stereotip gender tetap ada dan terus mempengaruhi pilihan individu
serta pandangan masyarakat terhadap peran gender.
Saat ini, perempuan cenderung mengadopsi pandangan yang lebih
progresif, beralih ke arah peran gender yang lebih setara (Konrad & Harris,
2002). Pasangan suami-istri yang mendukung pandangan setara dalam
pembagian peran gender umumnya merasakan kesejahteraan psikologis yang
lebih baik. Sebaliknya, pasangan yang masih mempertahankan pandangan
tradisional terhadap peran gender cenderung mengalami kesejahteraan
psikologis yang lebih rendah. Namun, hanya sekitar 33% laki-laki yang
mengadopsi pandangan setara, sementara sekitar 48% perempuan lebih
cenderung memiliki pandangan tersebut. Meski demikian, baik suami maupun
istri dalam kelompok ini cenderung menunjukkan tingkat kesejahteraan
psikologis yang lebih tinggi (Linawati, 2008).
Di sisi lain, suami dengan pandangan gender yang lebih modern percaya
bahwa laki-laki dan perempuan sejajar, dan mereka beranggapan bahwa
pembagian kekuasaan antara keduanya harus lebih fleksibel. Oleh karena itu,
suami dengan pandangan ini lebih mudah beradaptasi dengan peran istri di
rumah dan lebih bersedia berbagi tanggung jawab dalam pekerjaan rumah
tangga, dibandingkan dengan suami yang menganut pandangan gender
tradisional (Supriyantin, 2002).
Peran perempuan kini berkembang tidak hanya dalam ranah domestik,
tetapi juga dalam sektor ekonomi. Banyak perempuan saat ini berkarier di
berbagai bidang, seperti bekerja di kantor, pabrik, berjualan di pasar, bahkan
menduduki posisi-posisi penting dalam sektor publik, seperti bupati, walikota,
gubernur, atau bahkan kepala negara. Oleh karena itu, jumlah perempuan yang
turut serta dalam mencari nafkah semakin meningkat. Namun, fenomena ini
juga menciptakan ketidakseimbangan dalam peran perempuan, yang kini harus
menjalani dua peran sekaligus—ekonomi dan publik—sementara tetap memikul
tanggung jawab dalam urusan domestik. Fenomena ini sering disebut sebagai
"peran ganda" perempuan, yang semakin menambah beban, terutama bagi
perempuan yang bekerja di luar rumah. Oleh karena itu, penting untuk merubah
kedudukan suami-istri menjadi "suami dan istri sebagai pengelola rumah
tangga" dengan pembagian peran yang lebih adil, di mana pekerjaan domestik
bisa dikerjakan oleh suami, sementara istri dapat terlibat dalam sektor publik
sesuai dengan kesepakatan dan kebutuhan bersama (Hamzani, 2010).
Namun, secara umum, pembagian tugas dalam rumah tangga masih
dianggap tidak seimbang. Istri yang juga bekerja di sektor publik tetap harus
menanggung beban ganda, karena pekerjaan domestik masih menjadi tanggung
jawab utama mereka. Suami cenderung memiliki waktu yang lebih sedikit untuk
mengerjakan pekerjaan rumah tangga dibandingkan istri. Berdasarkan persepsi
pasangan suami-istri, keduanya sepakat bahwa istri menghabiskan lebih banyak
waktu untuk pekerjaan domestik daripada suami. Rata-rata, suami
menghabiskan sekitar 7,2 jam per minggu, sementara istri menghabiskan 13,2
jam per minggu untuk tugas rumah tangga. Dalam hal ini, suami memperkirakan
dirinya menghabiskan sekitar 18 jam per minggu untuk pekerjaan rumah tangga,
sementara istri merasa bahwa suami hanya menghabiskan sekitar 13 jam per
minggu. Demikian pula, suami memperkirakan bahwa istri menghabiskan
sekitar 24,9 jam per minggu untuk tugas domestik, sementara istri sendiri
mengaku menghabiskan sekitar 26 jam per minggu untuk pekerjaan rumah
tangga (Lewin-Epstein & Braun, 2006; Lee & Waite, 2005).
Pembagian tugas dalam rumah tangga memerlukan fleksibilitas agar
terjadi pertukaran peran antara pencarian nafkah dan pengelolaan rumah tangga.
Jika pembagian tugas dilakukan secara adil dan berdasarkan kesepakatan
bersama, kehidupan pernikahan yang harmonis dapat terwujud, yang pada
gilirannya menjadi indikator keberhasilan penyesuaian dalam pernikahan
(Lestari, 2012).
Supratiknyo (1995) menjelaskan bahwa pola perkawinan pada dasarnya
merupakan gabungan antara equity (keadilan) dan equality (kesetaraan) antara
suami dan istri. Keadilan dalam perkawinan dapat tercapai jika kedua pihak
memberikan kontribusi untuk kebersamaan dan keharmonisan yang layak
mereka terima. Hubungan yang setara terwujud apabila masing-masing pihak
memiliki status yang setara dan memikul tanggung jawab bersama untuk
menjaga kesejahteraan emosional dan ekonomi keluarga, serta mengurus
pekerjaan rumah tangga. Dengan cara ini, baik suami maupun istri diharapkan
dapat menjalankan kewajiban mereka untuk menciptakan kehidupan keluarga
yang harmonis. Pasangan yang tidak membagi tugas rumah tangga secara
seimbang dapat mengalami stres, terutama pada perempuan, yang pada
gilirannya dapat merusak keharmonisan dalam kehidupan pernikahan (Claffey
& Mickelson, 2009).
D. Pengaruh Stereotip pada Karier, Peran Keluarga, dan Hubungan Sosial
1. Pengaruh pada Karier
Stereotip gender mempengaruhi pilihan karir dan kesempatan kerja.
Sebagai contoh, perempuan sering kali dianggap kurang cocok dalam bidang
teknik atau sains, yang menyebabkan perempuan cenderung enggan untuk
mengejar karir di bidang tersebut. Di sisi lain, laki-laki yang ingin berkarier di
bidang yang dianggap “lembut” seperti seni atau pengajaran sering kali
dianggap kurang maskulin. Hal ini menyebabkan kesenjangan dalam distribusi
gender di berbagai profesi dan menghambat keberagaman serta kesempatan bagi
individu untuk berkembang berdasarkan minat dan kemampuan mereka.
Stereotip gender ini tidak hanya menciptakan ketidakseimbangan dalam
distribusi gender di berbagai profesi, tetapi juga menghambat keragaman dalam
tempat kerja dan mengurangi kesempatan bagi individu untuk mengejar karier
yang sesuai dengan minat dan bakat mereka, tanpa terikat pada peran yang
sudah dibentuk masyarakat. Lebih jauh lagi, stereotip ini memperburuk
kesenjangan gender dalam profesi yang memiliki pengaruh besar pada masa
depan dan inovasi industri. Sebagai contoh, perempuan yang tertarik dengan
karier di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) sering kali
menghadapi tantangan tidak hanya dari lingkungan kerja yang kurang
mendukung, tetapi juga dari minimnya role model perempuan yang sukses di
bidang tersebut. Pada saat yang sama, laki-laki yang memilih pekerjaan di
sektor yang berfokus pada pengasuhan atau pengajaran bisa merasa terisolasi
dan kurang dihargai karena mereka tidak memenuhi harapan sosial yang
menyamakan maskulinitas dengan pekerjaan "keras."
Penelitian menunjukkan bahwa diskriminasi berbasis stereotip gender di
tempat kerja dapat merugikan semua pihak—baik laki-laki maupun perempuan.
Misalnya, perempuan sering kali dihadapkan pada ketidaksetaraan dalam hal
promosi atau kesempatan untuk berkembang, sementara laki-laki yang bekerja
di bidang yang dianggap tidak "maskulin" sering merasa diabaikan atau kurang
dihormati. Mengatasi stereotip ini dapat membuka jalan bagi individu untuk
mengeksplorasi berbagai bidang karier yang lebih sesuai dengan minat dan
kemampuan mereka, yang pada gilirannya akan meningkatkan keragaman,
inklusi, dan produktivitas di tempat kerja (Powell & Butterfield, 2023).
2. Pengaruh pada Peran Keluarga
Dalam konteks keluarga, stereotip gender menetapkan bahwa perempuan
harus lebih berperan dalam tugas domestik dan pengasuhan anak. Meskipun ada
pasangan yang mulai berbagi tugas dengan lebih seimbang, tekanan sosial masih
membuat perempuan merasa bertanggung jawab lebih besar terhadap urusan
rumah tangga. Akibatnya, perempuan sering kali harus menghadapi tantangan
dalam menyeimbangkan antara karier dan keluarga. Laki-laki, di sisi lain,
mungkin merasa terbebani dengan harapan untuk menjadi pencari nafkah utama,
meskipun kondisi ekonomi atau minat pribadi mereka mungkin berbeda.
Mereka sering kali merasa tertekan untuk menjadi pencari nafkah utama,
yang dapat mengakibatkan stress jika mereka ingin berperan lebih dalam
pengasuhan anak atau jika kondisi ekonomi tidak memungkinkan mereka untuk
memenuhi ekspektasi tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Gender &
Society mengungkapkan bahwa banyak laki-laki yang sebenarnya
menginginkan lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarga, namun
takut dipandang rendah atau dianggap tidak memenuhi tanggung jawab gender
mereka (Chesley & Flood, 2022). Stereotip ini membatasi fleksibilitas peran
dalam keluarga, yang seharusnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan individu
dan keadaan keluarga.
Di sisi lain, laki-laki sering kali tertekan dengan ekspektasi sosial untuk
menjadi pencari nafkah utama, meskipun kenyataannya kondisi ekonomi atau
minat pribadi mereka mungkin tidak sejalan dengan harapan tersebut. Penelitian
menunjukkan bahwa banyak laki-laki yang ingin lebih banyak menghabiskan
waktu dengan keluarga, tetapi merasa takut dipandang rendah atau dianggap
tidak memenuhi kewajiban mereka sebagai pria. Menurut studi yang diterbitkan
dalam Gender & Society, meskipun banyak laki-laki ingin terlibat lebih dalam
dalam pengasuhan anak atau berbagi tanggung jawab domestik, mereka sering
kali menahan diri karena takut dilabeli "lemah" atau tidak sesuai dengan peran
maskulin yang diharapkan (Chesley & Flood, 2022). Stereotip ini membatasi
fleksibilitas dalam pembagian peran keluarga yang seharusnya bisa disesuaikan
dengan kebutuhan dan keadaan masing-masing individu dan keluarga, yang
pada akhirnya menghambat terciptanya keseimbangan yang lebih sehat antara
kehidupan profesional dan pribadi.
3. Pengaruh pada Hubungan Sosial
Dalam interaksi sosial, stereotip gender memengaruhi cara orang
berkomunikasi dan membentuk hubungan. Perempuan sering kali diharapkan
lebih sabar, pengertian, dan emosional dalam pergaulan, sementara laki-laki
diharapkan lebih tegas dan logis. Harapan ini dapat membatasi ekspresi diri
seseorang dan menyebabkan ketidaknyamanan dalam hubungan. Selain itu,
stereotip juga dapat menimbulkan stigma atau diskriminasi terhadap individu
yang tidak memenuhi standar gender yang diharapkan, seperti laki-laki yang
lebih emosional atau perempuan yang lebih dominan.
E. Upaya Mengurangi Stereotip Gender dan Mengubah Pandangan Masyarakat
Mengatasi stereotip gender memerlukan upaya kolaboratif antara pemerintah,
lembaga pendidikan, media, dan masyarakat luas. Berikut beberapa langkah yang dapat
dilakukan untuk mengurangi stereotip gender:
1. Pendidikan tentang Kesetaraan Gender
Menerapkan pendidikan yang mengajarkan kesetaraan gender sejak usia
dini dapat membantu anak-anak memahami bahwa peran dan kemampuan tidak
ditentukan oleh gender. Dengan demikian, mereka dapat tumbuh dengan
pandangan yang lebih terbuka tentang potensi dan pilihan karier. Di tingkat
pendidikan formal, kurikulum kesetaraan gender dapat mencakup diskusi dan
aktivitas yang mengajak anak-anak memahami bahwa laki-laki dan perempuan
sama-sama mampu dalam berbagai bidang, termasuk ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, dan pengasuhan. Misalnya, pelajaran sejarah yang tidak hanya
menyoroti peran laki-laki tetapi juga memberikan perhatian pada perempuan
yang berkontribusi dalam ilmu pengetahuan atau sosial dapat menjadi contoh
nyata bagi anak-anak. Melalui pengenalan tokoh inspiratif dari berbagai latar
belakang gender, anak-anak dapat belajar menghargai kontribusi semua individu
tanpa memandang jenis kelamin mereka. Ini juga dapat menciptakan rasa
percaya diri dan memberi motivasi untuk mengejar minat pribadi, baik dalam
bidang-bidang yang secara tradisional didominasi oleh salah satu gender atau
yang dianggap “tidak konvensional.” Selain itu, pendidikan kesetaraan gender
juga bisa diintegrasikan dalam aktivitas bermain dan metode pembelajaran yang
interaktif. Dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk
memainkan berbagai peran, seperti menjadi pemimpin tim, ilmuwan, atau
pengasuh, mereka dapat mengalami langsung bahwa setiap orang memiliki
potensi untuk menjadi apa pun yang mereka inginkan. Misalnya, anak-anak
perempuan bisa diajak untuk ikut dalam kegiatan eksperimen sains, sementara
anak laki-laki bisa diajak ikut serta dalam kegiatan memasak atau merawat
tanaman. Hal ini membantu menghilangkan anggapan bahwa peran tertentu
hanya sesuai untuk salah satu gender, serta menumbuhkan empati dan
pemahaman bahwa semua individu memiliki hak untuk memilih peran hidup
mereka.
2. Kampanye Media untuk Mematahkan Stereotip Gender
Media dapat memainkan peran penting dalam mengubah pandangan
masyarakat dengan menampilkan representasi gender yang lebih beragam.
Misalnya, iklan dan film yang menunjukkan perempuan dalam peran
kepemimpinan atau laki-laki dalam peran pengasuhan dapat membantu
menghilangkan stereotip tradisional. Selain iklan, film, serial televisi, dan
konten digital juga memiliki dampak besar dalam membentuk pandangan
masyarakat. Banyak penelitian menunjukkan bahwa ketika audiens melihat
karakter yang mewakili berbagai identitas gender dalam peran non-tradisional,
mereka lebih mungkin mengadopsi pandangan yang lebih terbuka dan inklusif
terhadap peran gender. Film-film yang menampilkan figur ayah yang kuat,
sensitif, dan terlibat dalam kehidupan anak-anaknya juga memberikan
representasi positif bagi laki-laki dalam peran pengasuhan, yang dapat
menginspirasi laki-laki untuk lebih terlibat dalam tugas domestik tanpa merasa
terbatas oleh stereotip maskulinitas.
3. Kebijakan Kesetaraan Gender di Tempat Kerja dan Pendidikan
Pemerintah dan institusi dapat mengadopsi kebijakan yang mendorong
kesetaraan gender di tempat kerja dan lembaga pendidikan. Misalnya, kebijakan
untuk meningkatkan akses perempuan ke posisi kepemimpinan atau
menghapuskan diskriminasi berbasis gender dapat membantu menciptakan
lingkungan yang lebih inklusif. Pemerintah memiliki peran penting dalam
menciptakan kebijakan yang mendorong kesetaraan gender dan mengurangi
diskriminasi berbasis gender, baik di tempat kerja, pendidikan, maupun dalam
akses layanan publik. Salah satu kebijakan yang efektif adalah mendukung cuti
bagi orang tua, baik bagi ibu maupun ayah, sehingga setiap orang memiliki
kesempatan yang sama untuk terlibat dalam pengasuhan anak. Selain itu,
kebijakan yang mendorong rekrutmen dan promosi berdasarkan kompetensi,
bukan gender, dapat mengurangi kesenjangan di berbagai sektor pekerjaan.
Kebijakan semacam ini tidak hanya memberikan akses yang lebih adil bagi
perempuan untuk mencapai posisi strategis, tetapi juga membuka peluang bagi
laki-laki untuk terlibat di bidang-bidang yang secara tradisional dianggap
“feminin.”
4. Program Pengembangan Diri untuk Perempuan dan Laki-laki
Program-program yang mendorong perempuan untuk masuk ke bidang-
bidang yang kurang diwakili oleh gender mereka, seperti STEM untuk
perempuan atau pengajaran untuk laki-laki, dapat membantu mengubah
pandangan tradisional. Demikian pula, program yang mendukung peran laki-laki
dalam pengasuhan dan tugas domestik dapat membantu mengurangi beban
sosial yang sering kali dirasakan perempuan. Program pengembangan diri juga
harus mencakup dukungan bagi laki-laki dan perempuan untuk menjalankan
peran yang lebih seimbang dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga.
Program yang mendukung partisipasi laki-laki dalam tugas domestik dan
pengasuhan, seperti cuti orang tua untuk ayah atau pelatihan pengasuhan anak
untuk laki-laki, dapat mengurangi beban yang sering kali dirasakan perempuan
dalam menyeimbangkan karier dan kehidupan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Adriani, E. (2019). Pengukuran modal manusia (Suatu studi literatur). J-MAS (Jurnal
Manajemen Dan Sains), 4(1), 176. [Link]
Anwar, S. (2016). Urgensi pendidikan gender dalam keluarga. Terampil: Jurnal
Pendidikan dan Pembelajaran Dasar, 3, 199-217.
Asman. (2021). Inequality of gender relations during the COVID-19 pandemic: A study of
violence against women in Sambas, West Kalimantan. Sawwa: Jurnal Studi Gender, 16(2),
213–232.
Asosiasi Psikologi Amerika. (2024). Judul artikel. APsikolog Amerika, 79(2), 1.
Asy’ari, H., & Ariyanto, A. (2019). Gambaran keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak
(Paternal Involvement) di Jabodetabek. Intuisi Jurnal Psikologi Ilmiah, 11(1), 37-44.
Barron, R. A., & Byrne, D. E. (2009). Social psychology. Jakarta: Erlangga.
Bayumi, M. R., Jaya, R. A., & Shalihah, B. M. (2022). Kontribusi peran perempuan dalam
membangun perekonomian sebagai penguatan kesetaraan gender di Indonesia. Al Huwiyah:
Journal of Woman and Children Studies, 2(2).
Bianchi, S. M., et al. (2021). Household division of labor and gender equality in the family.
Journal of Marriage and Family.
Botkin, D. R., Weeks, M. O., & Morris, J. E. (2000). Changing marriage role expectations:
1961-1996. Sex Role, 42, 933-942.
Chesley, N., & Flood, S. (2022). Men’s and women’s time in housework and family care.
Gender & Society, 36(3), 400-424.
Chusniatun, C., Inayati, N. L., & Harismah, K. (2022). Identifikasi stereotip gender
mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta: Menuju penerapan pendidikan
berperspektif gender. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 32(2), 248-262.
Claffey, S. T., & Mickelson, K. D. (2009). Division of household labor and distress: The
role of perceived fairness for employed mothers. Sex Roles, 819-831.
Connell, R. (2013). Gender and power: Society, the person and sexual politics. John Wiley
& Sons.
Eagly, A. H., & Wood, W. (1999). The origins of sex differences in human behavior:
Evolved dispositions versus social roles. American Psychologist, 54(6), 408.
Esariti, L., & Dewi, D. I. K. (2016). Pendekatan responsif gender dalam penyediaan sarana
lingkungan perkotaan. Ruang, 2(4), 324-330.
Fariza, M. N., Farid, M., & Bahfiarti, T. (2017). Warisan nilai-nilai gender dalam suku
Bugis (peran komunikasi interpersonal dalam keluarga). KAREBA: Jurnal Ilmu
Komunikasi, 309-314.
Frost, D. M., Lehavot, K., & Meyer, I. H. (2015). Minority stress and physical health
among sexual minority individuals. Journal of Behavioral Medicine, 38, 1-8.
Garrity, J. (2019, April 26). Hiring or promotion discrimination? Ask these 25 questions.
Jim Garrity Online.
Hamzani, A. I. (2010). Pembagian peran suami istri dalam keluarga Islam Indonesia
(Analisis gender terhadap Inpres No. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam).
SOSEKHUM, 6(9), 1-15. Retrieved from
[Link]
Harahap, E. S., Maipita, I., & Rahmadana, M. F. (2020). Determinant analysis of education
inequalities in Indonesia. Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI)-
Journal: Humanities and Social Sciences, 3(2), 1067–1082.
[Link]
Horelli, L. (2017). Engendering urban planning in different contexts – successes,
constraints and consequences. European Planning Studies, Urban Development
ILO. (2017). World employment and social outlook: Trends for women 2017 (Issue
January). [Link]
Ismiati. (2018). Pengaruh stereotype gender terhadap konsep diri perempuan.
TAKAMMUL: Jurnal Studi Gender dan Islam serta Perlindungan Anak, 7(1), 33-45.
Jones, P., Bradbury, L., & Boutillier, S. L. (2016). Pengantar teori-teori sosial. Yayasan
Pustaka Obor Indonesia: Jakarta.
Klasen, S. (1999). Does gender inequality reduce growth and development? Evidence from
cross-country regression. World Bank Policy Research Report Working Paper No. 7, 1–38.
Konrad, A., & Harris, C. (2002). Desirability of the Bem sex-role inventory items for
women and men: A comparison between African Americans and European Americans sex
roles. Journal of Sex Research, 2, 45-52.
Lee, Y.-S., & Waite, L. J. (2005). Husband and wife time spent on housework: A
comparison of measures. Journal of Marriage and Family, 67, 328-338.
Lewin-Epstein, N., Stier, H., & Braun, M. (2006). The division of household labor in
Germany. Journal of Marriage and Family, 1147–1164.
Linawati, E. (2008). Kesejahteraan psikologis istri ditinjau dari sikap gender pada pasutri
Muslim. Jurnal Psikologi, 2, 29-41.
Moser, C. O. N. (2016). Gender transformation in a new global urban agenda: Challenges
for Habitat III and beyond. Environment and Urbanization, 29(Habitat III), 221–236.
[Link]
Nasrulloh, & Hafidh, A. N. (2021). Eksistensi wanita karier di era pandemi: Antara
kebutuhan dan peluang. Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam, 20(2), 217–227.
Nasir, N., & Lilianti, L. (2017). Persamaan hak: Partisipasi wanita dalam pendidikan.
Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, 17(1).
[Link]
Niemann, G., & Pretorius, P. (2020). Gender dan maskulinitas dalam konteks Afrika
Selatan kontemporer: Sebuah penilaian kritis. TS TeoHTS Studi Teologi/Studi Teologi,
76(1), 5177.
Noviani, D., Muyasaroh, & Mustafiyanti. (2022). Persepsi masyarakat terhadap kesetaraan
gender dalam keluarga. Journal of Innovation Research and Knowledge, 1(11), 1517-1522.
Olson, D., & Defrain, J. (2003). Marriages and families: Intimacy, diversity, and strengths.
New York: McGraw-Hill Higher Education.
Panjaitan, A. A., & Purba, C. S. (2018). Tantangan yang dihadapi perempuan di Indonesia:
Meretas ketidakadilan gender. Jurnal Hukum Media Bhakti, 2(1), 70–95.
PWC. (2018). Women in work index: Closing the gender pay gap. Pricewaterhouse
Coopers AG, March, 1–44.
Raharjo, Y. (1995). Gender dan pembangunan. Jakarta: Puslitbang Kependudukan dan
Gender.
Reflianto, & Wandi, J. I. (2019). Career and family: A study of women leadership. Jurnal
Harkat, Media Komunikasi Gender, 15(2), 81–88.
Riyana, N. (n.d.). Makalah studi literatur kesempatan kerja yang setara dalam melindungi
diskriminasi gender di tempat kerja.
Ridgeway, C. L., & Correll, S. J. (2004). Unpacking the gender system: A theoretical
perspective on gender beliefs and social relations. Gender & Society, 18(4), 510-531.
Risanto, D. R., & Suryani, T. (2023). Pengaruh lingkungan kerja dan penghargaan kerja
terhadap keterikatan karyawan dan dampaknya pada kesejahteraan karyawan perbankan
konvensional dan syariah di Jawa Timur. Management Studies and Entrepreneurship
Journal (MSEJ), 4(5), 5154-5164.
Rohana, H. (2007). Gender, kekerasan dan perubahan sosial: Studi tentang perempuan
dan kekerasan di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Saraswati, Y. (2019). Stereotip gender dalam dunia kerja di Indonesia. Jurnal Psikologi
Sosial.
Sihite, R. (2007). Perempuan, kesetaraan dan keadilan: Suatu tinjauan berwawasan gender.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sriwijayanti, S., Widyarini, N., & Linsiyah, R. W. (2024). Gambaran stereotype gender di
wilayah Kabupaten Jember. Jurnal Psikologi, 1(2), 11-11.
Suleeman, E. (1995). Pendidikan wanita di Indonesia, dalam T. O. Ihromi, Kajian wanita
dalam pembangunan (hal. 227-248). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Sumar, W. W. T. (2015). Implementasi kesetaraan gender dalam bidang pendidikan. Jurnal
Musawa IAIN Palu.
Stoet, G., & Geary, D. C. (2018). The gender-equality paradox in science, technology,
engineering, and mathematics education. Psychological Science, 29(4), 581-593.
Suryadi, A., & Idris, E. (2004). Kesetaraan gender dalam bidang pendidikan. Bandung: PT.
Ganesindo.
Suryadi, A., & Idris, E. (2010). Kesetaraan gender dalam bidang pendidikan. Bandung:
PT. Genesindo.
Veronica V. Kostenko, Pavel A. Kuzmuchev, & Eduard D. Ponarin (2015). Attitudes
towards gender equality and perception of democracy in the Arab world. Democratization,
DOI: 10.1080/13510347.2015.1039994.
Watoni, D. (2020). Penerapan kesetaraan gender dalam pendidikan pada siswa di SMAN 5
Mataram. Universitas Negeri Semarang.
WOMEN, U. (2020). Progress on the Sustainable Development Goals: The Gender
Snapshot 2021. UN Women and United Nations Department of Economic and Social
Affairs, New York.