0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan20 halaman

Penyuluhan Diet Diabetes Mellitus

Diunggah oleh

Widya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan20 halaman

Penyuluhan Diet Diabetes Mellitus

Diunggah oleh

Widya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN

MENGENAL DAN DIIT DIABETES MELLITUS

Disususn Oleh :
1. Sholikul Imam [Link].044
2. Nadiya Khoirina [Link].024
3. Siska Muta Alimah [Link].134
4. Selly Nursyamsyiar H. [Link].037
5. Winarsih [Link].095

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN NAHDLATUL ULAMA TUBAN
2024
LEMBAR PENGESAHAN

Satuan acara penyuluhan dengan judul “Mengenal dan Diit Diabetes Mellitus”
diajukan oleh nama-nama berikut :
No Nama NIM
1 Sholikul Imam [Link].044
2 Nadiya Khoirina [Link].024
3 Siska Muta Alimah [Link].134
4 Selly Nursyamsyiar Hidayati [Link].037
5 Winarsih [Link].095

Telah disetujui untuk dipresentasikan pada:


Hari : Sabtu
Tanggal : 26 Oktober 2024
Tempat : Ruang Teratai RSUD R. Koesma Tuban
Media : Leaflet
Sasaran : Keluarga Pasien Ruang Teratai RSUD R. Koesma Tuban

Tuban, 26 Oktober 2024


Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik

Winny Ariyanti., [Link]., Ns Kusno Ferianto, [Link]., Ns., [Link].,MM


NIP. 197803022008012019 NIDN. 0705028101
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
Topik : Mengenal dan Diit Diabetes Mellitus
Subtopik : Mengenal dan Diit Diabetes Mellitus
Hari,Tanggal : Sabtu, 26 Oktober 2024
Waktu : 11.00-11.30
Tempat : Ruang Teratai RSUD R. Koesma Tuban
Materi : Mengenal dan Diit Diabetes Mellitus

1. Latar Belakang
Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang sering dijumpai baik di
daerah perkotaan maupn pedesaan. Masalah penyakit DM ini penting untuk
mendapat perhatian petugas kesehatan karena insidensi penyakit DM tinggi
dan terus meningkat di masyarakat, selain itu komplikasi akibat penyakit DM
dapat berakibat fatal bagi penderita jika tidak mendapatkan pengobatan dan
perawatan yang adekuat. Diet pada DM merupakan hal utama untuk
mengontrol gula darah, oleh karena itu masyarakat diharapkan mengetahui
tentang diet DM, perawatan DM dirumah, pencegahan dan perawatan kaki
diabetik sehingga mencegah terjadinya komplikasi.

2. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengikuti penyuluhan yang diberikan, peserta diharapkan dapat
memahami apa itu Penyakit Diabetes Mellitus, Penyebab, Tanda dan
Gejala, Komplikasi dan Diet DM, .
2. Tujuan Khusus Instruksional (TIK)
Setelah mengikuti penyuluhan tentang mengenal dan Diet Diabetes
Mellitus, peserta penyuluhan dapat mengetahui mengenai diabetes mellitus
seperti :
a. Apa itu Diabetes Mellitus ?
b. Apa Penyebab Diabetes Mellitus ?
c. Apa tanda dan gejala Diabetes Mellitus?
d. Apa saja komplikasi Diabetes Mellitus?
e. Bagaimana cara diet Diabetes Mellitus?
3. Sasaran
Keluarga pasien di ruang tunggu Teratai
4. Materi
(Terlampir)
5. Metode
a. Memberikan Penyuluhan
b. Diskusi / Tanya Jawab
6. Media
Leaflet
7. Strategi Pelaksanaan
Hari,tanggal : Sabtu, 26 Oktober 2024
Waktu : 11.00-11.30 WIB
Tempat : Ruang Tunggu Teratai
Penyaji : Nadiya Khoirina dan Selly
Nursyamsyiar H.
Moderator : Winarsih
Notulen : Siska Muta Alimah
Fasilitator : Winny Ariyanti,[Link].,Ns
Observer : Sholikul Imam
8. Pengorganisasian dan Uraian Tuga
a. Moderator
1. Membuka Kegiatan Penyuluhan.
2. Memperkenalkan asal institusi dan memperkenalkan tim
3. Menjelaskan topik dan tujuan penyuluhan
4. Mengarahkan dan memimpin jalannya penyuluhan
5. Menetralisir keadaan jika terjadi masalah
6. Menutup kegiatan penyuluhan
b. Penyaji
1. Menjelaskan materi
2. Menjawab pertanyaan
3. Mengevaluasi pengetahuan dan pemahaman
c. Notulen
Mencatat dan menyimpulkan hasil diskusi / Tanya jawab
d. Fasilitator
Membimbing dan mengoreksi sesuatu yang kurang tepat baik saat
penyuluhan maupun sebelum penyuluhan
e. Observer
Mengobservasi catatan tentang hal-hal penting yang terjadi selama
acara berlangsung
9. Denah

10. Pelaksanaan kegiatan


No Tahap Kegiatan Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1 Pembukaan 5 menit 1. Salam 1. Menjawab salam
2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan dan
3. Menyampaikan tujuan memperhatikan
penyuluhan 3. Mendengarkan dan
4. Kontrak keluarga memperhatikan
pasien
5. Menggali pengetahuan
audiens
2 Materi 20 menit Menyajikan materi tentang Mendengarkan dan
pengertian, Penyakit memperhatikan
Diabetes Mellitus,
Penyebab, Tanda dan
Gejala, Komplikasi dan
Diet DM
3 Penutup 5 menit [Link] evaluasi 1. Mendengarkan
tentang materi yang telah 2. Menjawab
disampaikan dengan [Link] salam
tanya jawab
[Link] pertemuan
dan
mengucapkan salam

11. Evaluasi
a. Evaluasi struktur
a) Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan sudah disusun
b) Program sudah direncanakan sebelumnya
c) Semua peserta yang memenuhi kriteria dapat mengikuti
penyuluhan.
b. Evaluasi proses
a) Peserta antusias mengikuti penyuluhan mengenal dan diet
Diabetes Mellitus
b) Peserta tidak meninggalkan tempat sebelum kegiatan
penyuluhan selesai
c) Peserta terlibat aktif dalam kegiatan penyuluhan
c. Evaluasi hasil
Peserta sudah mampu menjelaskan:
a) Peserta dapat mengerti pengertian Diabetes Mellitus
b) Peserta dapat mengerti penyebab Diabetes Mellitus
c) Peserta dapat mengerti tanda dan gejala Diabetes Mellitus
d) Peserta dapat mengerti komplikasi Diabetes Mellitus
e) Peserta dapat memahami tata cara diet Diabetes Mellitus
LAMPIRAN MATERI PENYULUHAN
A. Pengertian Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus (DM) atau penyakit gula atau kencing manis adalah penyakit
menahun yang ditandai kadar gula dalam darah melebihi nilai normal, yaitu
hasil pemeriksaan gula darah vena sewaktu (GDS) >126 mg/dl
(Kemenkes,2015). Diabetes mellitus merupakan penyakit degeneratif yang
ditandai dengan kadar gula darah tinggi yang disebabkan oleh gangguan pada
sekresi insulin didalam tubuh. Jika kadar gula darah tidak terkontrol, maka
akan menyebabkan komplikasi jangka panjang pada penderita. Bahkan,
parahnya lagi bisa menyebabkan kematian (Krisnatuti, dkk, 2014). Penyakit
kronis yang menimbulkan gangguan multisistem dan mempunyai karakteristik
hiperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak
adekuat (Smeltzer & Bare, 2019). Menurut American Diabetes Associated
(ADA) tahun 2015, bahwa klasifikasi DM dikelompokkan sebagai berikut :

1) Diabetes Mellitus Tipe 1

Diabetes Mellitus Tipe 1 disebabkan akibat dari kerusakan sel beta pankreas,
sehingga dapat menyebabkan defisiensi insulin. Diabetes Mellitus Tipe 1
tergantung insulin (IDDM) atau disebut insulin dependent insulin, atau diabetes
dicirikan diabetes anak-anak, dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil
insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan
insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat di derita oleh anak-anak maupun
orang dewasa. Sampai saat ini, Diabetes Mellitus Tipe 1 tidak dapat dicegah.
Diet dan olahraga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah Diabetes
Mellitus Tipe 1. Kebanyakan penderita Diabetes Mellitus Tipe 1 memiliki
kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain
itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umunya normal pada
penderita diabetes ini, terutama pada tahap awal. Penyebab terbanyak dari
kehilangan sel beta pada diabetes tipe ini adalah kesalahan reaksi autoimunitas
yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat
dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh. Saat ini, Diabetes Mellitus Tipe 1 hanya
dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti
terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah.
Pengobatan dasar Diabetes Mellitus Tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal
sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic
ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian.
Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga).
Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian
dosis melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24
jam sehari pada tingkat dosis dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan.
Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui “inhaled
powder”.

2) Diabetes Mellitus Tipe 2

Diabetes Mellitus Tipe 2 atau diabetes mellitus tidak tergantung insulin yang
disebabkan akibat gangguan sekresi insulin yang dapat menyebabkan
resistensi insulin. Diabetes Mellitus Tipe 2 dulu disebut no insulin dependent
diabetes mellitus atau “diabetes yang tidak bergantung pada insulin” (adanya
efek respon jaringan terhadap insulin) yang melibatkan reseptor insulin di
membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah
berkurangnya sensitivitas terhadap insulin, yang ditandai dengan
meningkatnya kadar insulin didalam darah. Pada tahap ini, hiperglikemia
dapat diatas dengan berbagai cara dan obat anti diabetes yang dapat
meningkatkan sensitifitas terhadap insulin “atau mengurangi produksi glukosa
dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulinpun semakin
berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Ada beberapa teori
yang menyebutkan penyebab dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun
obesitas sentral (fat concentrated around the waist in relation to abdominal
organs, not it seems, subcutaneous fat) diketahui sebagai faktor predisposisi
terjadinya resistensi terhadap insulin, mungkin dalam kaitan dengan
pengeluaran dari adipokines (suatu kelompok hormon) itu merusak toleransi
glukosa. Abdominal gemuk adalah terutama aktif hormonally. Kegendutan
ditemukan di kira-kira 90% dari pasien dunia dikembangkan mendiagnose
dengan jenis 2 kencing manis. Diabetes Mellitus Tipe 2 biasanya awalnya
diobati dengan cara perubahan aktivitas fisik (biasanya peningkatan), diet
(umumnya pengurangan asupan karbohidrat), dan lewat pengurangan berat
badan.
B. Penyebab Diabetes Mellitus
1. Faktor Internal
Menurut Kemenkes (2013), faktor risiko DM dibagi menjadi :
a. Usia
Di negara berkembang penderita diabetes mellitus berumur antara 45-64 tahun
dimana usia tergolong masih sangat produktif. Umur merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan (Soegondo, 2011)
b. Riwayat Keluarga
Menurut Hugeng dan Santos (2017), riwayat keluarga atau faktor keturunan
merupakan unit informasi pembawa sifat yang berada di dalam kromosom
sehingga mempengaruhi perilaku. Adanya kemiripan tentang penyakit DM
yang di derita keluarga dan kecenderungan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan adalah contoh pengaruh genetik. Responden yang memiliki keluarga
dengan DM harus waspada. Resiko menderita DM bila salah satu orang tuanya
menderita DM adalah sebesar 15%. Jika kedua orang-tuanya memiliki DM
adalah 75% (Diabetes UK, 2010).
c. Riwayat melahirkan bayi >4000 gram atau riwayat DM saat kehamilan
Pengaruh tidak langsung dimana pengaruh emosi dianggap penting karena
dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan dan pengobatan. Aturan diit,
pengobatan dan pemeriksaan sehingga sulit dalam mengontrol kadarbula
darahnya dapat memengaruhi emosi penderita (Nabil, 2012)
2. Faktor Eksternal
Menurut Kemenkes (2013), faktor risiko DM dibagi menjadi :
a. Overweight atau berat badan berlebih (IMT >23)
Salah satu cara untuk mengetahui kriteria berat badan adalah dengan
menggunakan Indeks Masa Tubuh (IMT). Berdasarkan dari BMI atau kita
kenal dengan Body Mass Indeks diatas, maka jika berada diantara 25-30, maka
sudah kelebihan berat badan dan jika berada diatas 30 sudah termasuk obesitas
b. Aktivitas Fisik Kurang
Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur sangat bermanfaat bagi
setiap orang karena dapat meningkatkan kebugaran, mencegah kelebihan berat
badan, meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot serta memperlambat proses
penuaan. Olahraga harus dilakkan secara teratur. Macam dan takaran olahraga
berbeda menurut usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan dan kondisi kesehatan.
Jika pekerjaan sehari-hari seseorang kurang memungkinkan gerak fisik,
upayakan berolahraga secara teratur atau melakukan kegiatan lain yang setara.
Kurang gerakatau hidup santai merupakan faktor pencetus diabetes (Nabil,
2012)
c. Merokok
Penyakit dan tingginya angka kematian (Hariadi S, 2008). Hasil uji statistik
menunjukkan ada hubungan antara merokok dengan kejadian DM tipe (p =
0,000). Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Houston yang juga mendapatkan
bahwa perokok aktif memiliki risiko 76% lebih tinggi terserang DM Tipe 2
dibanding dengan yang tidak (Irawan, 2010). Dalam asap rokok terdapat 4.000
zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang
bersifat adiktif dan yang bersifat karsinogenik
d. Hipertensi (TD>140/90 mmHg)
Jika tekanan darah tinggi, maka jantung akan bekerja lebih keras dan resiko
untuk penyakit jantung dan diabetes pun lebih tinggi. Seseorang dikatakan
memiliki tekanan darah tinggi apabila berada dalam kisaran > 140/90 mmHg.
Karena tekanan darah tinggi sering kali tidak disadari, sebaiknya selalu
memeriksakan tekanan darah setiap kali melakukan pemeriksaan rutin (Nabil,
2012).

C. Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus


Menurut Purwanto (2016), tanda gejala yang khas dialami oleh pasien DM
disebut TRIAS DM yaitu poliuria (sering BAK), polidipsia (mudah haus)
dan poliphagia (mudah lapar) serta beberapa tanda gejala lainnya yaitu:
a. Poliuria Kekurangan insulin untuk mengangkut glukosa melalui
membrane dalam sel menyebabkan hiperglikemia sehingga serum plasma
meningkat atau hiperosmolariti menyebabkan cairan intrasel berdifusi
kedalam sirkulasi atau cairan intravaskuler, aliran darah keginjal meningkat
sebagai akibat dari hiperosmolariti dan akibatnya akan terjadi diuresis
osmotic (poliuria).
b. Polidipsia Akibat meningkatnya difusi cairan dari intrasel kedalam
vaskuler menyebabkan penurunan volume intrasel sehingga efeknya adalah
dehidrasi sel akibat dari dehidrasi sel mulut menjadi kering dan sensor haus
teraktivasi menyebabkan seseorang haus terus dan ingin selalu minum
(polidipsia).
c. Poliphagia Karena glukosa tidak dapat masuk ke sel akibat dari
menurunnya kadar insulin maka produksi energi menurun, penurunan energi
akan menstimulasi rasa lapar. Maka reaksi yang terjadi adalah seseorang
akan lebih banyak makan (poliphagia).
d. Penurunan berat badan Karena glukosa tidak dapat di transport kedalam
sel maka sel kekurangan cairan dan tidak mampu mengadakan metabolisme,
akibat dari itu maka sel akan menciut, sehingga seluruh jaringan terutama
otot mengalami atrofi dan penurunan secara otomatis.
e. Malaise atau kelemahan.
f. Kesemutan pada ekstremitas.
g. Ketoasidosis & penurunan kesadaran bila berat.
D. Komplikasi Diabetes Mellitus
Macam Macam Komplikasi Diabetes Melitus Tipe 2

(1) Komplikasi metabolik akut

a. Krisis Hiperglikemia Ketoasidosis Diabetik (KAD) Krisis


Hiperglikemia Ketoasidosis Diabetic (KAD) ialah salah satu
komplikasi akut yang biasanya terjadi pada penderita DM karena
terjadinya peningkatan kadar glukosa (300-600 mg/dl), disertai
adanya manifestasi klinis dari asidosis dan plasma keton (+), adanya
peningkatan osmolaritas plasma yaitu (300-320 mOs/ml) dan adanya
peningkatan anion gap (Perkeni, 2015). KAD biasanya dialami oleh
penderita DM yang mengalami infeksi, infark miokard, stroke,
pankreatitis, trauma, atau tidak patuh akan pengobatan yang
dianjurkan (Suwita, Johan, & Tahapary, 2018).

b. Status Hiperglikemi Hiperosmolar. Status Hiperglikemi


Hiperosmolar ialah suatu kondisi dimana kadar glukosa didalam
tubuh mengalami peningkatan yang sangat tinggi yaitu (600-1200
mg/dl) tanpa adanya manifestasi klinis asidosis dan plasma keton
(+/-), namun terjadi peningkatan osmolaritas yang tinggi yaitu (330-
380mOs/ml), anion gap mengalami sedikit peningkatan atau tidak
ada peningkatan dan mengalami dehidrasi tanpa adanya ketoasidosis
(Perkeni,2015& (Semarawima, 2017)).
c. Hipoglikemia, Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana
konsentrasi gula didalam darah mengalami penurunan yaitu kurang
dari 70 mg/dl (Sutawardana, Yulia, & Waluyo, 2016). Manifestasi
klinis yang biasa terjadi pada penderita DM yang mengalami
hipoglikemia yaitu rasa kelaparan, badan berkeringat, rasa gelisah
dan parasthesia, disertai gejala pucat dan takikardia. Sedangkan pada
kondisi Neuroglikopenik ditandai dengan lemas, lesu, pusing
perubahan sikap, gangguan kognitif serta pandangan kabur, dengan
gejala hipotermia, kejang, koma dan cortical-blindness (ADA, 2016;
Perkeni,2015).

Penyebab terjadinya hipoglikemia yaitu pemberian insulin dengan


dosis yang berlebihan, perhitungan dosis insulin tidak sesuai dengan
perhitungan makanan yang masuk dalam tubuh, mengkonsumsi obat-
obat yang mengandung jenis sulfonilurea, mengonsumsi
makananterlalu sedikit dan tidak teratur dan melakukan kegiatan
fisik yang berlebihan (Sutawardana, Yulia &Waluyo,2016).

(2) Komplikasi metabolic


a. Retinopati Diabetik

Retinopati diabetic yaitu gangguan pada retina mata yang


diakibatkan karena tingginya glukosa dalam darah yang tidak
terkontrol dan apabila tidak diatasi dapat mengakibatkan kebutaan
yang permanen (Fitriani, 2017).
b. Nefropati Diabetik

Nefropati Diabetik yaitu kerusakan yang terjadi pada pembuluh


darah kecil sehingga ginjal tidak bisa bekerja sesuai dengan
fungsinya sehingga dapat menyebabkan gagal ginjal pada penderita
DM (E, Decroli, & afriwardi, 2018)
c. Disfungsi Ereksi

Disfungsi ereksi yaitu suatu gangguan yang menyebabkan


ketidakpuasan mempertahankan ereksi dalam hubungan seksual
biasanya dapat berlansung lebih dari 6 bulan atau menetap (Sharifiet
al.,2015).
d. Makroangiopati
a) Penyakit kardiovaskuler. Kadar gula darah yang tinggi pada
penderita DM dapat mengakibatkan stress oksidatif, glikasi
protein vaskular, abnormalitas trombosit dan koagulasi sehingga
dapat menyebabkanterjadinya disfungsi endotel sehingga dapat
beresiko terjadinya penyakit kardiovaskuler seperti angina,
infark miokard (serangan jatung), stroke, penyakit arteri perifer
serta gagal jantung kongesif (IDAI, 2015; IDF, 2015).
b) Penyakit serebrovaskuler Komplikasi kronik yang biasa terjadi
pada penderita DM yaitu terjadinya penyakit serebrovaskuler
seperti stroke iskemik dan stroke hemoragik karena pada
penderita DM yang tidak terkontrol akan mengakibatkan
penurunan perfusi oksigen pada jaringan dan organ tubuh,
kondisi ini diperparah dengan peningkatan glukosa dalam tubuh
sehingga jaringan akan mengalami hipoksia, jika hipoksia terjadi
hipoksia pada otak maka akan terjadilah komplikasistroke non
hemoragik (irfan & israfil, 2019).
c) Penyakit darah perifer Komplikasi yang dapat terjadi pada
penderita DM salah satunya penyakit darah perifer seperti
terjadinya Peripheral Arterial Disease (PAD) atau Peripheral
Arterial Occlusive Disease (PAOD) pada kondisi ini terjadi
penyumbatan pada arteri perifer yang menyebabkan terjadinya
atherosklerosis selain itu juga terjadi proses inflamasi yang akan
mengakibatkan lumen arteri menyempit (stenosis), sehingga
akan meningkatkan resistensi pada pembuluh darah dan
menyebabkan terjadinya penurunan perfusi ke area distal. Biasa
terjadi pada anggota tubuh yang jauh dari jantung seperti tungkai
bawah atau jari tangan (Decroli, 2015).
3) Gestational Diabetes Mellitus (GDM)

Gestational Diabetes Mellitus (GDM) didiagnosa pada tri semester kedua


atau ketiga kehamilan. Gestational Diabetes Mellitus (GDM) melibatkan
kombinasi dari kemampuan reaksi dan pengeluaran homon insulin yang
tidak cukup.

E. Tata Cara Diet DM dengan prinsip 3J

Konsep diet 3J merupakan suatu terapi pemberian diet dengan


memperhatikan jadwal makan, jumlah makanan dan jenis makanan yang
akan dikonsumsi bagi penderita DM. Tujuannya adalah membantu penderita
DM dalam mengontrol dan mempertahankan kadar gula darah mendekati
normal dengan keseimbangan asupan makanan (Kusumawati & Zakaria,
2014). Penyandang DM perlu diberikan penekanan mengenai pentingnya
keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama
pada mereka yang menggunakan obat yang meningkatkan sekresi insulin
atau terapi insulin itu sendiri sebagai berikut yaitu (Soelistijo dkk., 2015).
1. Jadwal

Jadwal Makan Penyandang diabetes sangat dianjurkan makan secara teratur


dengan porsi (jumlah kalori) yang tepat. Selang waktu makan pada
penyandang diabetes mellitus sekitar 3 jam. Karena itu dalam sehari
penyandang diabetes mellitus bisa makan sebanyak 6 kali: yakni 3 kali
makan utama dan 3 kali makan selingan. Pada dasarnya, anjuran frekuensi
dan waktu makan adalah setiap 2-3 jam. Namun, perlu diingat bahwa
frekuensi makan ini tidak semua ditujukan untuk porsi makan yang berat,
namun termasuk juga camilan dan makanan selingan lainnya. (F, 2021)
Tujuan dari menjaga waktu makan secara teratur adalah untuk mengurangi
beban kerja tubuh agar tidak terlalu berat dalam mencerna atau menyerap
nutrisi. Pengaturan waktu makan pada jam tertentu bermanfaat untuk
melatih lambung penderita diabetes yang akan “lapar” pada waktu makan
yang telah ditentukan (Kemenkes, 2022).

2. Jumlah

Jumlah makanan yang boleh dikonsumsi dalam sehari ditentukan oleh


seberapa besar kebutuhan energi tubuh. Kebutuhan energi setiap orang
berbeda, tergantung pada usia, jenis kelamin, aktifitas sehari – hari, serta
kondisi atau kebutuhan khusus.

Tabel 2.2 Jumlah Makanan Pada Pasien Diabetes Mellitus

Waktu Makan
20% Makan Pagi
10% Selingan I
30% Makan Siang
10% Selingan II
20% Makan Malam
10% Selingan III
Sumber: (Yasa Boga, Menu 30 Hari & Resep Untuk Diabetasi, 2011)
(Optional)
Pada dasarnya penyandang diabetes boleh menyantap semua jenis bahan
makanan penghasil energi, asalkan jumlahnya seimbang sesuai dengan
kebutuhan tubuh. Dari keseluruhan kalori sehari, untuk setiap kali makan
penyandang diabetes dianjurkan mengkonsumsi.

Tabel 2.3 Asupan Kalori Untuk Setiap Porsi Makan Pada Pasien Diabetes
Mellitus

Jenis Kalori Kebutuhan kalori


Karbohidrat 50-60%
Protein 10-15%
Lemak <30%
Serat Secukupnya
Sumber: (Yasa Boga, Menu 30 Hari & Resep Untuk Diabetasi, 2011)

3. Jenis

Jenis makanan dengan mempertimbangkan factor Indeks Glikemik (IG).


Sebabnya setiap jenis makanan memiliki kecepatan (efek langsung)
terhadap kadar gula darah. Makanan dengan tinggi karbohidrat akan
mengakibatkan peningkatan indeks glikemik sehingga sangat mudah dan
cepat terurai menjadi gula lalu masuk ke dalam darah.

Tabel Bahan Pangan Karbohidrat Pada Pasien Diabetes Mellitus

Satuan penukar = 175 kalori, 4 gr protein, 40 gr karbohidrat (100gr)

Bahan Ukuran Berat


Bihun ½ gelas 50
Bubur 2 gelas 400
Biscuit 4 buah 40
Havermou 5½ 50
Kentang 2 biji 210
Nasi ¾ gelas 200
Nasi tim 1 gelas 70
Sumber: (Yasa Boga, Menu 30 Hari & Resep Untuk Diabetasi,
2011)

Di Indonesia, nasi merupakan makanan pokok bagi Masyarakat. Nasi sudah


menjadi budaya makan bagi Masyarakat Indonesia. Selain itu nasi putih
menjadi sumber energi yang baik apabila dikonsumsi sesuai jumlah yang
dianjurkan (Fian. M, 2024)

Tabel Bahan Pangan Protein Hewani Pada Pasien Diabetes Mellitus

Satuan penukar = 95 kalori, 10 gr protein, 6 gr lemak (100gr)

Bahan Ukuran Berat


Daging
makanan 1 50
(gram)
Daging
Sapi 1
potong 25
Daging
babi 1
potong 50
Hati
ayamsapi 1
potong 50
Telur 1 butir
potong 75
Ikan
ayam 1
besar 50
Udang
segar ¼ gelas
potong 50
Sumber: (Yasa Boga, Menu 30 Hari & Resep Untuk Diabetasi, 2011)

Protein hewani tinggi protein yaitu daging ayam dan sapi. Daging ayam
bagian dada lebih tinggi daripada daging sapi, namun jika dilihat dari nilai
gizi keseluruhan, daging sapi memiliki zat gizi yang lebih beragam.
(Annisa Indah, 2023)

Tabel Bahan Pangan Protein Nabati Pada Pasien Diabetes Mellitus

Satuan penukar = 80 kalori, 6 gr protein, 3 gr lemak (100gr)


Bahan Ukuran Berat
Kacang 2½ 25
Kacang 2½ 25
Kacang 2 20
Kacang 2½ 25
Oncom 2 50
Tahu 1 biji 100
Tempe 2 50
Sumber: (Yasa Boga, Menu 30 Hari & Resep Untuk Diabetasi, 2011)

Tahu dan tempe merupakan sumber protein nabati yang mudah dijangkau
oleh Masyarakat. Tahu dan tempe memiliki aktivitas hipoglikemik yang
memiliki efek positif terhadap peningkatan Kesehatan terutama dalam
pengendalian dan pencegahan diabetes mellitus. Mengkonsumsi tahu atau
tempe 100 gram per hari dapat membantu menurunkan kadar gula dalam
darah dan mencukupi asupan protein harian (Bintang Pradewo, 2022)

Tabel Bahan Pangan Sayuran Pada Pasien Diabetes Mellitus

Satuan penukar = 40 kalori, 2 gr protein, 7 gr karbohidrat (100gr)

Bahan makanan
Bayam Bayam Melinjo
Buncis Daun Nangka
Caisim Daun Tauge
Kangkung Daun Daun
Jagung Daun Daun
Nangka Kacang Jantung
Kacang Kluwih Sawi
Sumber: (Yasa Boga, Menu 30 Hari & Resep Untuk Diabetasi, 2011)

Daun pepaya memiliki kandungan antidiabetes yaitu ekstrak etanol daun


pepaya mempunyai kandungan kimia berupa saponin, flavonoid,
terpenoid, tanin dan alkaloid yang berefek menurunkan kadar gula darah.
(Tridiganita Intan, 2022). Salah satu bahan pangan fungsional yang dapat
dimanfaatkan yaitu bayam merah, bayam merah memiliki kandungan zat
aktif yakni saponin yang dapat menurunkan kadar gula darah dan
penyerapan kolesterol (Sakti, 2021). Bahan fungsional lain yang dapat
dimanfaatkan yaitu jagung muda, jagung muda efektif menurunkan gula
darah karena memiliki indeks glikemik kurang dari 55 (SS. Kurniawan,
2022). Bertempat tinggal di aderah iklim teropis memiliki buah tropis
seperti nangka, nangka muda memiliki tingkat indeks glikemik rendah,
serat tinggi dan protein yang cukup tinggi serta kaya akan antibiotik. Hasil
ini dikaitkan dengan adanya antioksidan flavonoid, jika kita mengikuti
anjuran mengelola nangka muda yang baik dapat membantu mengontrol
gula darah (RSI Magelang, 2019). Menurut American Diabetes
Association (2019), kacang panjang bahkan termasuk dalam makanan
pilihan pengidap diabetes mellitus karena kacang panjang mengandung
sesquipedalis yang mamou membantu mengendalikan gula darah.

Tabel Bahan Pangan Buah yang Dianjurkan Pada Pasien Diabetes

Mellitus

Satuan penukar = 40 kalori, 10 gr karbohidrat (100gr)

Bahan Ukuran Berat


Alpukat ½ 50
makanan (gram
Pear ½ buah 75
bungkus
Belimbing 1 buah 125
sedang
Jambu air 1 buah 100
besar
Jambu biji 1 buah 100
besar
Kedondong 1 buah 100
besar
Papaya 1 100
besar
Pisang 1 buah 50
potong
Salak 1 buah 75
ambon/kepo sedang
Semangka 1 150
besar
Sumber: (Yasa Boga, Menu 30 Hari & Resep Untuk Diabetasi, 2011)
potong
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Wahyuni & Syauqy, 2015) yaitu
pisang kapok mengandung antioksidan yang penting untuk tubuh, serta
serat harian yang dibutuhkan tubuh. Pisang kapok juga berperan dalam
menurunkan kadar glukosa darah dan kadar kolesterol. Efek hipoglikemik
dapat dilihat setelah mengkonsumsi pisang kapok sebanyak satu hingga 2
buah dalam sehari.

Tabel Bahan Pangan Buah yang Dibatasi Pada Pasien Diabetes

Mellitus

Satuan penukar = 40 kalori, 10 gr karbohidrat (100gr)

Bahan Ukura Berat


Anggur 10 biji 75
Duku 15 75
Durian 3 biji 50
Jeruk manis 2 buah 100
Mangga ½ buah 50
Nanas 1/6 75
Nangka 3 biji 50
Pisang 2 buah 50
Rambutan 8 buah 75
Sawo 1 buah 50
Kelengkeng 10 biji 50
Sumber: (Yasa Boga, Menu 30 Hari & Resep Untuk Diabetasi, 2011)
Buah-buahan yang memiliki kadar gula yang tinggi dapat menyebabkan
lonjakan kadar gula darah. Kondisi ini dapat menyebabkan kondisi pasien
diabetes memburuk. Jeruk manis memiliki kadar gula tinggi dengan indeks
glikemik lebih dari 60. (Elizabeth Ayudya, 2022)
DAFTAR PUSTAKA
Kurnia, A. (2019). Diet Rendah Karbohidrat Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2:
Literature. Nurscope , 52-58
Prabowo, N. A., Ardiyanto, T. D., Hanafi, M., Kuncorowati, N. D., Dyanezza, F.,
Apriningsih, H., Et Al. (2021). Peningkatan Pengetahuan Diet Diabetes, Self
Management Diabetes Dan Penurunan Tingkat Stres Menjalani Diet Pada Pasien
Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret.
Researchgate.
Lampiran
a. Leaflet

Anda mungkin juga menyukai