UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN
UANG
MATA KULIAH : TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
Dosen Pengampu : Bapak Rahmad Yusuf Simamora,MH
Disusun oleh
Kelompok III : Sem. 7 / HPI C
Andika Rahmad Siregar (0205212049)
Habibi Irham Buana Nasution (0205212072)
Helmalia Putri (0205212039)
Halimatusaddiah Siregar (0205212044)
Nazri Adhalani Naution (0205212074)
Jakaria (0205212051)
PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan terhadap kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan
kita kesehatan, keselamatan dan kesempatan sehingga kami bisa menyelesaikan tugas
makalah ini. Tidak lupa sholawat salam kepada Rasulullah saw. Yang membawa kita dari
zaman jahiliyah ke zaman yang beradab seperti pada saat ini. Terima kasih kepada para
ahli sejarah karena telah berjasa dalam menyumbangkan ilmu pengetahuan untuk
kemajuan kehidupan manusia, serta berharap mendapatkan keridhaan Allah SWT.
Terima kasih kepada ibu dan ayah yang telah melahirkan dan membesarkan kami
dengan penuh kasih sehingga bisa melanjutkan Pendidikan di jenjang Universitas dan
masih bisa menyelesaikan tugas makalah. Terima kasih kepada dosen pengampu mata
kuliah TTPPU Bapak Rahmad Yusuf Simamora,MH yang telah memberikan tugas
makalah untuk pengembangan mahasiswa dalam memahami mata kuliah [Link]
berusaha untuk menuliskan makalah yang baik dan benar maka dari itu, apabila ada tulisan
yang salah dan penyampaian yang kurang tepat kami minta maaf dan kepada Allah kami
mohon ampun.
Medan, 10 Oktober 2024
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... ii
BAB I .................................................................................................................................................... iii
PENDAHULUAN ................................................................................................................................. iii
A. Latar Belakang ......................................................................................................................... iii
B. Rumusan Masalah .................................................................................................................... iii
C. Tujuan Pembahasan ................................................................................................................. iii
BAB II .................................................................................................................................................... 1
PEMBAHASAN .................................................................................................................................... 1
Peranan PPATK Dalam Upaya Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
............................................................................................................................................................ 1
BAB III ................................................................................................................................................. 7
PENUTUP.............................................................................................................................................. 7
Kesimpulan ........................................................................................................................................ 7
Saran .................................................................................................................................................. 7
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................ 8
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pencucian Uang (TPPU) merupakan salah satu bentuk kejahatan yang memiliki
dampak serius terhadap perekonomian dan stabilitas sosial suatu negara. Aktivitas ini
bertujuan untuk menyembunyikan sumber dana yang diperoleh dari kegiatan ilegal,
sehingga seolah-olah tampak sah. Dengan kemajuan teknologi dan globalisasi, praktik
pencucian uang semakin kompleks dan sulit dideteksi, menjadikannya tantangan besar bagi
penegakan hukum di seluruh dunia.
Pencegahan dan pemberantasan TPPU sangat penting untuk melindungi integritas
sistem keuangan dan mencegah masuknya dana kotor ke dalam perekonomian formal.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, lembaga keuangan, dan organisasi
internasional untuk mengatasi masalah ini, termasuk penerapan regulasi yang ketat,
pelatihan bagi aparat penegak hukum, dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Makalah ini akan membahas berbagai upaya pencegahan dan pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang, dengan fokus pada strategi yang efektif dan tantangan
yang dihadapi. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang isu ini, diharapkan dapat
ditemukan solusi yang lebih inovatif dan berkelanjutan dalam menghadapi ancaman
pencucian uang di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Makalah ini akan membahas upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian
uang
C. Tujuan Pembahasan
Tujuan Utama penulisan makalah ini ialah untuk memenuhi kewajiban menyelesaikan
tugas mata kuliah Tindak Pidana Pencucian Uang pada tepat waktu,dan
iii
Mengetahui uapaa pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang
iv
BAB II
PEMBAHASAN
Peranan PPATK Dalam Upaya Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang
Untuk mendukung Rezim Anti Pencucian Uang pada umumnya dibentuk sebuah
badan yang disebut sebagai Financial Inteligence Unit (FUJ) yang di Indonesia disebut
sebagai Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangaan (PPATK). Badan FIU
merupakan badan yang sangat penting dalam rangka pencegahan terjadinya praktik
pencucian uang yaitu terutama dalam hal mewajibkan pihak-pihak tertentu yang diatur
oleh undang- undang untuk melaporkan adanya transaksi dalam jumlah tertentu dan
transaksi yang mencurigakan Untuk melihat tugas dan kewenangan yang ada pada
PPATK tentu harus ada pedoman dan kesetaraan pengaturan yang diatur secara
universal, untuk itu kita akan lihat tugas pokok FUI secara garis besar pada umurnya
terdiri dari:
1. Menerima laporan suspicious transaction reports dan currency transaction reports
dari pihak pelapor:
2. Melakukan analisis atas laporan yang diterirna dari pihak pelapor Dalarn kaitan
tugas ini financial intelligence unit mengeluarkan pedoman untuk mengidentifikasi
transaksi yang wajib dilaporkan; dan
3. Meneruskan hasil analisis laporan kepada pihak yang berwenang.
Selain itu, untuk mendukung kelancaran tugas dan fungsinya FUI,
direkomendasikan juga tentang kewenangan dari badan ini:
1. Memperoleh dokumen dan informasi tambahan untuk mendukung analisis yang
dilakukan;
2. Memiliki akses yang memadal terhadap setiap orang atau lembaga yang
menyediakan informasi keuangan, penyelenggara administrasi yang terkait dengan
transaksi keuangan dan aparat penegak hukurn;
1
3. Memiliki kewenangan untuk menetapkan sanksi terhadap pihak pelapor yang tidak
mematuhi kewajiban pelaporan,
4. Memiliki kewenangan untuk menyampaikan informasi keuangan dan Informasi
intelijen kepada lembaga yang berwenang di dalam negeri untuk kepentingan
penyelidikan dugaan tidak pidana pencucian uang:
5. Melakukan pertukaran informasi mengenai informasi keuangan dan informasi
intelijen dengan lembaga sejenis di luar negeri; serta
6. Menjamin bahwa pertukaran informasi sejalan dengan hukum nazional dan prinsip-
prinsip internasional mengenai data privacy dan data protection. 1
Sebagai lembaga yang mengelola informasi yang berkaitan dengan financiol
intelligence, pengelolaan data statistik dan penggunaan sistem informasi yang efisien
mutlak perlu dilakukan. Dalam kaitan ini, FIU wajib memiliki sistern infarmasi yang
mengelola dan stastistik yang mencakup:
1. Suspicious transaction reports (STR) yang telah diterima, dianalisis dan diserahkan
kepada pihak yang berwenang.
2. Suspicious transaction reparts (STR) yang dihasilkan dari penyelidikan, penuntutan
dan putusan pengadilan.
3. Permintaan yang diterima dari lembaga terkait di dalam dan luar negeri dan jumlah
permintaan yang diberikan;keterangan yang dibuat oleh financial intelligence unit
atau pihak berwenanglainnya kepada pihak berwenang di dalam maupun luar
negeri.
4. Transaksi dalam jumlah besar.
Bagaimana peran, tugas dan kewenangan PPATK dalam Undang- Undang Nomor
8 Tahun 2010 tentang TPPU terkait dengan PPATK ternyata banyak pasal tentang
peran PPATK bahkan paling banyak, sehingga ketentuan itu tampak seperti ketentuan
tentang PPATK. Dengan dermikian, banyaknya pengaturan terkait PPATK seharusnya
1
Yenti Garnasih, PENEGAKAN HUKUM PENCUCIAN UANG DAN PERMASALAHANNYA DI INDONESIA, Rajawali Pers:
Depok, (Mei 2017), h.49
2
dipandang sebagai harapan agar peran PPATK dalam pencegahan dan membantu
pengungkapan perkara pencucian uang bisa aptimal. Tugas penting salah satunya tentu
terkait hasil analisisnya (LHA) atas transaksi dalam jumlah tertentu dan transaksi yang
mencurigakan yang diserahkan kepada penegak hukum baik diminta maupun tidak
diminta. Meski demikian LHA bukanlah sebagai alat bukti tetapi hanyalah "petunjuk"
yang masih harus didalami aleh penyidik untuk menjadi alat bukti, bila cukup
kriterianya sebagai alat bukti.
Selain itu, juga harus dipahami meskipun PPATK menyediakan LFIA bukan berarti
penegak hukurn khususnya penyidik hanya bisa meminta data atau informasi keuangan
seseorang yang sedang diperiksa kepada PPATK tetapi bisa saja penyidik langsung
minta pada pihak Pelapor atau Penyedia Jasa Keuangan seperti perbankan, sepanjang
kasus yang ditangani adalah terkait pencucian uang. Hal ini tampak dalam ketentuan
Pasal 28, Pasal 29 dan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang
[Link] pelaksanaan ketiga pasal tersebut maka ketentuan tentang rahasia
perbankan tidak berlaku. 2
Pasal 28
Pelaksanaan kewajiban pelaporan oleh Pihak Pelapor dikecualikan dari ketentuan
kerahasiaan yang berlaku bagi Pihak Pelapor yang bersangkutan.
Pasal 29
Kecuali terdapat unsur penyalahgunaan wewenang, Pihak Pelapor, pejabat, dan
pegawainya tidak dapat dituntut, baik secara perdata maupun pidana, atas pelaksanaan
kewajiban pelaporan menurut Undang-Undang ini.
Pasal 72
1) Untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana Pencucian Uang,
penyidik, penuntur umum, atau hakim berwenang meminta Pihak Pelapor untuk
memberikan keterangan secara tertulis mengenai Harta Kekayaan dari:
a. orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik;
2
Ibid.h.50
3
b. tersangka, atau
c. terdakwa.
2) Dalam meminta keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi penyidik,
penuntut umurn, atau hakim tidak berlaku ketentuan peraturan perundang-
undangan yang mengatur rahasia bank dân kerahasiaan Transaksi Keuangan lain.
3) Permintaan keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diajukan dengan
menyebutkan secara jelas mengenai
a. nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim;
b. identitas orang yang terindikasi dui hasil analisis atau pemeriksaan PPATK,
tersangka, atau terdakwa
c. uraian singkat tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan
d. tempat Harta Kekayaan berada
4) Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayar (3) hatus disertai dengan:
a. laporan polisi dan surat perintah penyidikaru
b. surat penunjukan sebagai penuntut umum; atau
c. surat penetapan majelis hakim,
5) Surat permintaan untuk memperoleh keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (3) harus ditandatangani oleh:
a. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau kepala kepolisian daerah
dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik dari Kepolisian Negara Republik
Indonesia;
b. pimpinan instansi atau lembaga atau komisi dalam hal permintaan diajukan oleh
penyidik selain penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia:
c. Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi dalam hal permintaan diajukan oleh
jaksa penyidik dan/atau penuntut umum, atau
d. hakim ketua majelis yang memeriksa perkara yang bersangkutan.
4
6) Surat permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditembuskan kepada
PPATK3
Sedangkan terkait dengan kewenangan dan fungsi PPAIK tampak dalam ketentuan
sebagai berikut
Pentingnya Peranan PPATK dalam rangka pencegahan dan pemberantasan TPPU
adalah membantu memberikan LHA kepada penegak hukum di mana laporan yang
dianalisis tersebut didapatkan dari para pihak yang disebut sebagai Pihak Pelapor yang
berkewajiban memberikan pelaporan (reparting obligations).
Dari apa yang diuraikan di atas penting diperhatikan bahwa dalam rangka
melaksanakan tugas dan kewenangan terutama terkait dengan meminta dan menerima
serta menganalisis informasi keuangan terdapat ketentuan yang menerobos larangan
kerahasiaan sebagaimana diatur pada Pasal 41 ayat (2):4
"Penyampaian data dan informasi oleh instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta
kepada PPATK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikecualikan dari
ketentuan kerahasiaan".
Selain itu harus dipahami bahwa pelaporan atas transaksi tertentu dan transaksi
mencurigakan yang sedang dilaporkan dan dianalisis kemudian diserahkan kepada
penyidik sebagaimana diatur Pasal 74 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang
TPPU, tidak boleh dibocorkan kepada siapapun selain hanya disampaikan kepada
penegak hukum yang ditentukan oleh undang-undang. Hal itu diatur dalam Pasal 11:
1) Pejabat atau pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum, hakim, dan Setiap Orang
yang memperoleh Dokumen atau keterangan dalam rangka pelaksanaan tugasnya
menurut Undang-Undang ini wajib merahasiakan Dokumen atau keterangan
tersebut, kecuali untuk memenuhi kewajiban menurut Undang-Undang ini.
2) Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun.
3
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU.
4
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU.
5
3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi pejabat atau
pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum, dan hakim jika dilakukan dalam
rangka memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Sedang siapa yang wajib memberikan laporan terkait transaksi Rp 500 juta atau lebih
dan transaksi yang mencurigakan adalah sebagaimana tertera pada Pasal 17 Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU.5
5
Yenti Garnasih, PENEGAKAN HUKUM PENCUCIAN UANG DAN PERMASALAHANNYA DI INDONESIA, Rajawali Pers:
Depok, (Mei 2017), h.49
6
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
PPATK berfungsi sebagai lembaga kunci dalam sistem pencegahan pencucian uang di
Indonesia, yang diwajibkan oleh undang-undang untuk menerima, menganalisis, dan
meneruskan laporan mengenai transaksi keuangan mencurigakan dan transaksi dalam jumlah
tertentu. Tugas utama PPATK mencakup:
1. Menerima laporan dari pihak pelapor mengenai transaksi mencurigakan.
2. Melakukan analisis terhadap laporan yang diterima.
3. Menginformasikan hasil analisis kepada penegak hukum dan pihak berwenang.
PPATK memiliki kewenangan untuk mengakses informasi tambahan, menetapkan sanksi
terhadap pelapor yang tidak mematuhi kewajiban, serta bertukar informasi dengan lembaga
serupa di luar negeri. Meski laporan hasil analisis (LHA) bukan merupakan alat bukti, mereka
berfungsi sebagai petunjuk penting bagi [Link]-Undang Nomor 8 Tahun 2010
memberikan dasar hukum yang kuat bagi PPATK untuk melaksanakan tugasnya, termasuk
pengecualian terhadap kerahasiaan bank dalam konteks pencucian uang. PPATK diharapkan
dapat memaksimalkan perannya dalam mengungkap praktik pencucian uang melalui
kolaborasi dengan lembaga penegak hukum dan pihak pelapor. Kewajiban kerahasiaan data
dijaga ketat untuk melindungi informasi yang sensitif, dengan sanksi tegas bagi pelanggar.
Saran
Setelah penyelesain makalah ini disusun kami telah menyadari bahwa ada beberapa kesalahan
yang kami cantumkan dalam tulisan ini. Semoga para pembaca dapat memaklumi dan memberikan
sarannya pada presentasi kami. Dan kami juga berharap agar pembaca dapat memahami apa yang
tertulis dalam makalah ini.
7
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU.
Yenti Garnasih, PENEGAKAN HUKUM PENCUCIAN UANG DAN PERMASALAHANNYA
DI INDONESIA, Rajawali Pers: Depok, (Mei 2017), h.49
Ibid.h.50