0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan12 halaman

Asuhan Keperawatan Resiko Bunuh Diri

Diunggah oleh

Melithicia Seay
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan12 halaman

Asuhan Keperawatan Resiko Bunuh Diri

Diunggah oleh

Melithicia Seay
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

RESIKO BUNUH DIRI

OLEH:

MELITHICIA M J. SEAY

1490124007

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN

INSTITUT KESEHATAN IMMANUEL

Jl. KOPO NO.161 BANDUNG

2024
1. Pengertian
Resiko bunuh diri adalah perilaku individu melukai diri baik yang secara
langsung dan disengaja untuk mengakhiri hidup (Wenny, 2023). Bunuh diri menjadi
bagian dari 20 penyebab utama kematian di dunia untuk semua umur dan kurang lebih
satu juta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya (Rumbi, 2021).
2. Rentang Respon
Renatang respon bunuh diri

a. Peningkatan diri: Pada kondisi ini seseorang dapat meningkatkan pengamanan diri
terhadap situasi yang membutuhkan.
b. Berisiko destruktif: Menyalahkan diri sendiri atau perilaku destruktif terhadap
kondisi yang seharusnya individu tersebut dapat mempertahankan diri seperti seorang
perawat tidak bersemangat bekerja karena dimutasi ke puskesmas pembantu.
c. Destruktif diri tak langsung: Terhadap kondisi yang mengharuskan individu untuk
memproteksi dirinya individu tersebut cenderung mengambil sikap yang maladaptif
d. Pencederaan diri: Oleh karena hilangnya harapan terhadap kondisi yang sedang
dihadapi individu melakukan upaya mencederai diri sendiri
e. Bunuh diri: Individu yang telah melakukan upaya bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang (Yusuf, 2015).
3. Faktor Predisposisi
Lima faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku destruktif-diri sepanjang siklus
kehidupan individu adalah sebagai berikut (Yusuf, 2015) :
a. Diagnosis Psikiatrik
Statistik menunjukkan bahwa kurang lebih 90% orang dewasa yang memutuskan
untuk mengakhiri hidup mereka dengan melakukan bunuh diri memiliki riwayat
gangguan jiwa sebelumnya. Ada 3 gangguan jiwa yang dapat menyebabkan seorang
individu menjadi berisiko untuk berupaya bunuh diri diantaranya gangguan afektif,
penyalah gunaan zat serta skizofrenia.
b. Sifat Kepribadian
Tiga tipe kepribadian individu yang memiliki kaitan erat dengan perilaku bunuh
diri adalah antipati, impulsif, dan depresi.
c. Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah pengalaman
kehilangan orang atau benda berharga, kehilangan dukungan sosial, pengalaman
negatif selama hidup, penyakit kritis, perpisahan, hingga perceraian. Kuatnya
dukungan sosial sangatlah penting dalam terciptanya intervensi keperawatan yang
terapeutik, penyebab masalah dan respons individu dalam menghadapi masalah
tersebut dan lain-lain.
d. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga terdahulu pernah melakukan percobaan bunuh diri merupakan
salah satu faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan
bunuh diri.
e. Faktor Biokimia
Data menunjukkan pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi peningkatan zat-
zat kimia yang terdapat di dalam otak seperti serotonin, adrenalin dan dopamine.
Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui rekaman gelombang otak Electro
Encephalo Graph (EEG).
4. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat diakibatkan oleh stress berlebihan yang dirasakan
oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa pengalaman hidup yang memalukan.
Faktor lainnya yang dapat menjadi penyebab perilaku destruktif adalah individu tersebut
melihat atau membaca berita melalui media cetak maupun elektronik mengenai orang
yang melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Pada individuindividu yang
sedang labil emosinya, hal yang seperti itu dapat memicu individu tersebut melakukan
hal yang sama (Yusuf, 2015).
5. Manifestasi Klinis
Muhid (2015) menyatakan tanda-tanda seseorang yang berpotensi besar melakukan
bunuh diri, yaitu :
a. Tanda resiko berat
1) Individu memiliki keinginan untuk mati yang serius, adanya ungkapan verbal
yang berulang dan terus menerus.
2) Individu mengalami depresi menunjukkan tanda klinis memiliki perasaan guilty
terhadap orang-orang yang sudah meninggal, merasa putus asa, individu
menginginkan hukuman berat, rasa kuatir yang berlebihan , hingga pada
gangguan tidur yang berat.
3) Terdapat gejala psikosa terutama pada klien dengan psikosa impulsive serta
individu merasa curiga berlebihan, ketakutan hingga panik. Kondisi individu akan
semakin berbahaya jika mulai mendengar suara yang menyuruh untuk bunuh diri.
b. Tanda-tanda bahaya
1) Individu tersebut sudah pernah melakukan percobaan bunuh diri
2) Klien dengan penyakit kronis dan klien dengan penyakit terminal beresiko
melakukan upaya bunuh diri disebabkan oleh depresi.
3) Klien memiliki ketergantungan pada obat-obatan tertentu dan alkohol yang
memiliki efek kontrol dan membuat individu lebih berani sehingga memuluskan
upaya bunuh diri.
4) Hipokondriasis, keluhan fisik dirasakan individu secara terus menerus dan
bermacam-macam tanpa tanda klinis yang jelas sehingga individu depresi berat.
5) Kebangkrutan, individu yang tidak memiliki teman, pekerjaan ataupun uang, rasa
kuatir individu akan masa depan, individu tidak memiliki keluarga, serta individu
tidak memiliki kedudukan sosial yang tinggi dalam masyarakat.
6) Catatan bunuh diri, seorang individu yang memiliki catatan bunuh diri cenderung
akan melakukan bunuh diri.
6. Psikodinamika
Erat kaitannya antara depresi dengan bunuh diri. Depresi yang dialami individu dapat
menyebabkan individu berupaya bunuh diri demi terlepas dari rasa depresi. Namun
sebagian besar dari mereka tidak menunjukkan gejala klinis. Helbert Hendin dalam
Maramis (2009) mengatakan psikodinamika bunuh diri yaitu :
a. Kematian merupakan pelepasan pembalasan (death as retaliotary abandonment) yang
berarti bunuh diri merupakan upaya untuk mengurangi preokupasi.
b. Kematian sebagai pembunuhaan terlentik (death asretroflexed murder) artinya pada
individu yang mengalami gangguan emosi berat sehingga menyebabkan individu
tersebut bunuh diri yang diyakini dapat mengganti rasa marah atau kekerasan yang
tidak bisa direpresi.
c. Kematian sebagai penyatuan kembali (death as reunion) dalam hal kematian
merupakan hal yang membuat bahagia pada individu alasannya karena individu dapat
bersama kembali bersama orang yang telah meninggal.
d. Kematian dianggap menjadi hukuman atas diri (death as self punishment) adalah
individu menghakimi diri dan memutuskan hukuman yang tepat dengan kematian
individu itu sendiri karena individu merasa gagal dalam melakukan pekerjaannya
dengan baik, hal ini cenderung jarang dilakukan oleh para wanita, namun adakalanya
seorang perempuan merasa tidak mencintai dirinya sendiri, keinginan untuk bunuh
diri bisa saja terlintas.
7. Mekanisme Koping
Ada beberapa jenis mekanisme koping adaptif yang keterkaitan dengan upaya
klien dalam melakukan bunuh diri, diantaranya: denial, regression dan magical thinking.
Semestinya tidak dilakukan pembatasan pada penggunaan mekanisme koping yang ada,
contoh jika ada koping alternatif atau solusi lainnya (Yusuf, 2015).
8. Sumber Koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat
melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara sadar memilih untuk
melakukan tindakan bunuh diri (Yusuf, 2015).
9. Penatalaksanaan Umum
Menurut Zulaikha 2018 penatalaksanaan resiko bunuh diri yaitu: Untuk mencegah
terjadinya perilaku bunuh diri adalah dengan menggunakan terapi Guided Imagery.
Alasan menggunakan terapi tersebut karena terapi ini dapat mengurangi konsumsi
oksigen dalam tubuh, metabolisme, pernafasan, tekanan darah, kontraksi ventricular
premature dan ketegangan otot, gelombang alpha otak meningkatkan hormon endorphin
yang membuat nyaman, tenang, bahagia dan meningatkan imunitas sekuler.
10. Diagnosa Keperawatan
Resiko Bunuh Diri
Pohon Masalah

Effect Bunuh Diri



Core Problem Resiko Bunuh Diri

Causa Isolasi sosial

Harga Diri Rendah Kronis
11. Intervensi

Tanggal No. Diagnosis Tujuan Perencanaan


Dx Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Risiko bunuh SP 1: perawat Setelah 2 kali interaksi
diri dapat perawat dapat Identifikasi benda- Mencegah timbulnya upaya
mengidentifikasi mengidentifikasi benda yang dapat bunuh diri klien
benda-benda benda-benda yang membahayakan
yang dapat dapat membahayakan klien
membahayakan klien.
klien.
SP 1: perawat Setelah 1 kali interaksi, Amankan benda- Mencegah timbulnya upaya
dapat perawat dapat benda yang dapat bunuh diri klien
mengamankan mengamankan benda- membahayakan
benda-benda benda yang dapat klien
yang dapat membahayakan klien.
membahayakan
klien
SP 1: perawat Setelah 1 kali interaksi Lakukan contact Mencegah terjadinya
melakukan perawat melakukan treatment tindakan bunuh diri klien
contact treatment contact treatment
SP 1: perawat Setelah 2 kali interaksi Ajarkan cara Mencegah terjadinya
dapat perawat dapat mengendalikan tindakan bunuh diri klien
mengajarkan cara mengajarkan cara dorongan bunuh
mengendalikan mengendalikan diri
dorongan bunuh dorongan bunuh diri.
diri
SP 1: perawat Setelah 2 kali interaksi Latih cara Memberikan alternatif
dapat melatih perawat dapat melatih mengendalikan tindakan untuk
cara cara mengendalikan dorongan bunuh mengendalikan dorongan
mengendalikan dorongan bunuh diri. diri klien bunuh diri akan mencegah
dorongan bunuh upaya klien untuk bunuh
diri klien. diri

SP 2: klien dapat Setelah 2 kali interaksi Identifikasi aspek Aspek positif yang
mengidentifikasi klien dapat positif klien diungkapkan klien akan
aspek positif mengidentifikasi aspek meningkatkan harga diri
klien. positif klien. sehingga dorongan bunuh
diri tidak terjadi
SP 2: klien dapat Setelah 2 kali interaksi Dorong klien untuk Bila klien senantiasa
berpikir positif klien dapat berfikir berpikir positif berpikir positif terhadap
terhadap dirinya positif terhadap tentang dirinya perjalanan hidupnya akan
dirinya. memberikan semangat
hidup klien
SP 2: klien dapat Setelah 3 kali interaksi Dorong klien untuk Bila klien berpikir positif
menghargai klien dapat menghargai menghargai dirinya terhadap dirinya bahwa
dirinya sebagai dirinya sebagai sebagai individu dirinya sebagai individu
individu. individu. yang berharga akan
memberikan semangat
hidup klien
SP 3: klien dapat Setelah 2 kali interaksi Identifikasi pola Pola koping yang sudah
mengidentifikasi klien dapat koping yang biasa teridentifikasi akan
pola koping yang mengidentifikasi pola dilakukan klien membantu perawat dalam
biasa dilakukan. koping yang biasa memberikan beberapa
dilakukan. alternatif yang dapat
dilakukan klien dalam
menyelesaikan masalah
SP 3: klien dapat Setelah 2 kali interaksi Dorong klien untuk Bila klien dapat menilai
menilai pola klien dapat menilai menilai pola koping koping dirinya dengan baik
koping yang pola koping yang biasa yang biasa akan membantu
biasa dilakukan. dilakukan. dilakukan menyelesaikan masalah dan
menghambat dorongan
untuk bunuh diri
SP 3: klien dapat Setelah 2 kali interaksi Dorong klien untuk Bila klien dapat
mengidentifikasi klien dapat mengidentifikasi mengidentifikasi pola
pola koping yang mengidentifikasi pola pola koping yang koping yang adaptif
konstruktif. koping yang konstruktif menjadi modal utama
konstruktif. dalam menyelesaikan lain
di waktu yang lain di waktu
yang lain setelah pulang
dari rumah sakit jiwa
SP 3: klien dapat Setelah 2 kali interaksi Dorong kllien untuk Bila klien dapat memilih
memilih pola klien dapat memilih memilih pola pola koping yang
koping yang pola koping yang koping yang konstruktif, perawat akan
konstruktif konstruktif. konstruktif memberikan penghargaan
dan kesempatan pada klien
untuk dapat menyelesaikan
masalah secara mandiri
SP 3: klien dapat Setelah 2 kali interaksi Dorong klien untuk Bila klien dapat
menerapkan pola klien dapat menerapkan pola menerapkan pola koping
koping menerapkan pola koping konstruktif dalam kegiatan harian
konstruktif dalam koping konstruktif dalam kegiatan menunjukkan klien dapat
kegiatan harian. dalam kegiatan harian. harian mengaplikasikan pola
koping dalam
menyelesaikan masalahnya
SP 4: klien dapat Setelah 2 kali interaksi Dorong klien untuk Rencana masa depan yang
membuat rencana klien dapat membuat membuat rencana realistis dan telah
masa depan yang rencana masa depan masa depan yang disepakati akan
realistis bersama yang realistis bersama realistis bersama memberikan semangat
perawat. perawat. perawat hidup baru bagi klien
SP 4: klien dapat Setelah 3 kali interaksi Dorong klien untuk Setelah membuat rencana
mengidentifikasi klien dapat mengidentifikasi yang realistis dan
cara mencapai mengidentifikasi cara cara mencapai mengidentifikasikan cara
rencana masa mencapai rencana rencana masa depan pencapaian akan membantu
depan yang masa depan yang yang realistis klien secara teknik dalam
realistis. realistis. mencapai rencana tersebut
SP 4: klien dapat Setelah 2 kali interaksi Dorong klien untuk Kemampuan klien
melakukan klien dapat melakukan melakukan kegiatan melakukan kegiatan dalam
kegiatan dalam kegiatan dalam rangka dalam rangka rangka meraih masa depan
rangka meraih meraih masa depan meraih masa depan merupakan sasaran perawat
masa depan yang yang realistis. yang realistis bagi klien yang mampu
realistis. menyelesaikan masalahnya
secara mandiri
DAFTAR PUSTAKA

Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2009). Catatan ilmu kedokteran jiwa edisi 2.
airlangga university Press.
Muhith, A. (2015). Pendidikan keperawatan jiwa: Teori dan aplikasi. Penerbit Andi.
Rumbi, F. P. (Ed.). (2021). Jerit dalam Kesunyian: Fenomena Bunuh Diri dari Perspektif
Agama, Budaya, dan Sosial. Capiya.
Wenny, N. B. P., & Kep, M. (2023). Asuhan Keperawatan Jiwa Klien Dengan Harga
Diri Rendah, Resiko Bunuh Diri, Dan Defisit Perawatan Diri. CV. Mitra Edukasi Negeri.
Yusuf, A. H., PK, R. F., & Nihayati, H. E. (2015). Buku ajar keperawatan kesehatan jiwa.
Zulaikha, A., & Febriyana, N. (2018). Bunuh diri pada anak dan remaja. Jurnal Psikiatri
Surabaya, 7(2), 62-72.

Anda mungkin juga menyukai