0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan16 halaman

Proteksi Transformator dengan Relay Differential

Diunggah oleh

muhamad romadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan16 halaman

Proteksi Transformator dengan Relay Differential

Diunggah oleh

muhamad romadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Fulan Fulana

2022-71-XXX
MODUL III
PROTEKSI TRANSFORMATOR MENGGUNAKAN RELAY DIFFERENTIAL

I. TUJUAN
1. Melakukan simulasi sistem proteksi utama pada trafo daya, menggunakan relay
differential.
2. Memahami prinsip kerja relay differential pada trafo daya.
3. Mengetahui koordinasi proteksi pengaman utama dengan pengaman cadangan.

II. ALAT DAN PERLENGKAPAN


1. 1 Unit PC
2. Software ETAP 29.0.1

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
III. TEORI MODUL
Transformator daya adalah alat yang sangat penting pada sistem tenaga listrik.
Transformator daya berfungsi untuk menyalurkan daya dari pembangkit hingga
distribusi dan diharapkan beroperasi secara maksimal karena dapat mempengaruhi
sistem tenaga listrik. Relay differential merupakan suatu komponen proteksi paling
penting untuk melindungi komponen sistem tenaga listrik, salah satunya untuk
melindungi transformator.

Prinsip kerja dan daerah pengaman sistem proteksi relay differential


Pada dasarnya, arus yang masuk pada suatu jaringan sama dengan arus yang
keluar dari jaringan tersebut, sesuai dengan Hukum Kirchoff 1. Relay ini bekerja
dengan membandingkan dua masukan arus, sudut yang dihasilkan juga termasuk dalam
hal ini bukan hanya besarannya saja. Arus yang dibandingkan adalah arus yang masuk
ke dalam dan keluar dari wilayah yang diproteksi oleh relay. Relay differential ini juga
tidak dapat digunakan sebagai proteksi cadangan dan daerah pengaman pada relay
differential dibatasi dengan dua buah CT.

 Pada kondisi normal

Gambar 3.1
Dalam keadaan normal (tidak ada gangguan), arus yang mengalir ke relay
differential sama dengan nol, arus hanya bersikulasi dalam sirkit sekunder kedua trafo
arus (CT).
 Pada kondisi gangguan internal

Gambar 3.2

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
Ketika relay differential dipasang sebagai sistem proteksi suatu peralatan dan
terjadi adanya gangguan arus hubung singkat pada daerah sistem proteksinya, maka
relay differential harus bekerja.
 Pada kondisi gangguan eksternal

Gambar 3.3 Gambar 3.4


Apabila terjadinya gangguan di luar daerah sistem proteksi, maka besar arus
yang mengalir pada sekunder CT 1 dan CT2 yang menuju relay besarnya sama atau (I 1 =
I2) atau dengan kata lain tidak ada selisih arus yang mengalir pada relay sehingga relay
tidak bekerja.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
IV. TEORI TAMBAHAN
Relai arus lebih atau yang lebih dikenal dengan OCR (Over Current Relay) pada
dasarnya mempunyai prinsip kerja mendeteksi adanya arus lebih baik beban lebih atau
disebabkan oleh adanya gangguan hubung singkat dua fasa dan hubung singkat tiga
fasa. Nilai arus hubung singkat antar fasa cenderung lebih besar hingga satuan kilo
Ampere (kA).
Prinsip Kerja relai arus lebih ini bekerja dengan membaca input berupa besaran arus
fasa kemudian membandingkan dengan nilaiarus setting, apabila nilai arus yang terbaca
oleh relai melebihi nilai setting, maka relai akan mengirim perintah trip (lepas) kepada
Pemutus Tenaga (PMT) atau Circuit Breaker (CB) sesuai dengan setting waktu dan
urva yang digunakan. Semakin besar arus gangguan yang terjadi, semakin kecil pula
tunda waktu untuk pemutusan Pemutus Tenaga (PMT) agar peralatan tidak mengalami
kerusakan. Diagram Pengawatan pada relai Over Current Relay (OCR) seperti pada
gambar 1. (Afrida et al., 2020)

fasa kemudian membandingkan dengan nilai arus setting, apabila nilai arus yang terbaca
oleh relai melebihi nilai setting, maka relai akan mengirim perintah trip (lepas) kepada
Pemutus Tenaga (PMT) atau Circuit Breaker (CB) sesuai dengan setting waktu dan
kurva yang digunakan. Semakin besar arus gangguan yang terjadi, semakin kecil pula
tunda waktu untuk pemutusan Pemutus Tenaga (PMT) agar peralatan tidak mengalami
kerusakan. Diagram Pengawatan pada relai Over Current Relay (OCR) seperti pada
gambar 1. Pada kondisi normal, arus beban (Ib) mengalir pada jaringan dan oleh trafo
arus besaran arus beban ini ditransformasikan ke besaran sekunder (Ir). Arus sekunder
mengalir pada kumparan relai, tetapi karena arus ini masih lebih kecil dari setting, maka

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
relai tidak bekerja. Pada saat terjadi gangguan hubung singkat antar fasa, baik hubung
singkat dua fasa dan tiga fasa arus beban akan naik dan menyebabkan arus sekunder
juga naik. Apabila arus sekunder naik melebihi nilai setting yang telah ditetapkan maka
relai akan bekerja dan memberikan perintah trip coil untuk bekerja dan membuka PMT,
sehingga jaringan terganggu akan dipisahkan dari jaringan. Syarat-Syarat Sistem
Proteksi.

A. Kepekaan (Sensitifitas)
Kepekaan rele proteksi terhadap segala macam gangguan, termasuk yang terjadi
pada daerah proteksi disebut dengan sensitivitasnya. Nilai terkecil dari gaya
penggerak pada saat peralatan proteksi mulai beroperasi inilah yang menentukan
sensitivitas suatu sistem proteksi. Nilai minimum arus gangguan pada daerah yang
dilindunginya berkaitan dengan nilai terkecil magnitudo penggeraknya.
B. Kecepatan
Kerangka asuransi harus memiliki tingkat kecepatan yang telah ditentukan untuk
lebih mengembangkan kualitas administrasi, keamanan manusia, perangkat keras
dan soliditas operasi. Mengingat suatu sistem tenaga relai yang seharusnya
merespons dengan cepat harus diperlambat (waktu tunda) karena batas stabilitas
sistem tenaga dan fakta bahwa gangguan sistem mungkin hanya berlangsung dalam
jangka waktu singkat.
C. Selektivitas
Spesifik menyiratkan bahwa sistem keamanan harus dapat memilih bagian dari
sistem yang harus dipisahkan jika serah terima asuransi menunjukkan dampak yang
meresahkan. Bagian yang terisolasi dari kerangka yang sehat, betapapun masuk
akalnya, adalah bagian yang mengecewakan. Suatu sistem perlindungan harus
bersifat diskriminatif agar dapat membedakan kondisi normal dan tidak normal.
Atau sebaliknya mengetahui apakah kondisi aneh tersebut terjadi di dalam atau di
luar wilayah jaminan. Dengan demikian, semua kegiatan akan berjalan dengan baik
sehingga pengaruh-pengaruh yang meresahkan dapat dibuang ke basisnya.

Relay Differensial
Relay Differensial merupakan suatu transfer yang prinsip kerjanya berdasarkan
kesimbangan (keseimbangan), yang membandingkan arus sekunder transformator arus
(CT) yang dipasang pada peralatan terminal atau instalasi listrik yang diamankan.
Penggunaan transfer differential sebagai pengaman hand-off, antara lain pada generator,

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
transformator daya, dan saluran transmisi. Pada trafo daya, relai diferensial berfungsi
sebagai proteksi utama, melindungi belitan trafo jika terjadi gangguan. Penyerahan ini
sangat spesifik dan sistem bekerja dengan cepat. Arus mengalir melalui peralatan listrik
yang diamankan (generator, trafo, dll) dalam keadaan normal.(Romadhon Syah &
Notosudjono, 2024).

Sumber:
Afrida, Y., Mahendra, R., & Hamimi. (2020). Analisa Kegagalan Koordinasi Proteksi
pada Setting Relay OCR Penyulang Semar di PT PLN (Persero) Unit Layanan
Pelanggan Bandarjaya. Jurnal Ilmiah Teknik Elektro, 1(1), 1–9.
[Link]
Romadhon Syah, S., & Notosudjono, D. (2024). Analisa Relay DIfferensial Pada
Generator di PLTU Suralaya 1 X 625 MW Unit 8. Jurnal Online Mahasiswa
(JOM) Bidang Teknik Elektro, 1(1), 1–14.
Faruq, U., Ridho, A., Vrayulis, M., & Julio, E. (2021). Peran Penggunaan ETAP Untuk
Mengevaluasi Kendala Listrik. SainETIn (Jurnal Sain, Energi, Teknologi &
Industri), 6(1), 16–22. [Link]
Romadhon Syah, S., & Notosudjono, D. (2024). Analisa Relay DIfferensial Pada
Generator di PLTU Suralaya 1 X 625 MW Unit 8. Jurnal Online Mahasiswa
(JOM) Bidang Teknik Elektro, 1(1), 1–14.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
V. LANGKAH PERCOBAAN
1. Buka file project dari pertemuan sebelumnya, untuk dapat melanjutkan pada modul
III.
2. Pasang komponen CT dan Relay Differential seperti pada gambar berikut :

Gambar 3.5
3. Buka komponen CT 2 Diffen, lalu klik reverse polarity

Gambar 3.6
4. Buka komponen relay differerential, cari library relay seperti berikut.

Gambar 3.7
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
5. Pilih tools Star-Protection & Coordination Lalu klik Edit Study
Case Isi seperti berikut:

Gambar 3.8
6. Setelah itu, berikan gangguan pada:
a. TRAFO TNG 2
b. GI KIT B1
c. GI KIT B2
7. Catatlah waktu kerja, if sistem proteksi pada Sequence Viewer

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
VI. GAMBAR RANGKAIAN
 Rangkaian sebelum running

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
 Rangkaian gangguan di trafo TNG 2

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
 Rangkaian gangguan di Bus GI KIT B2.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
VII. HASIL DAN ANALISA
Tabel 3.1 Data dan Hasil Sistem Proteksi Relay Differential
Op. Rasio CT Waktu
Lokasi ID Kondisi
Time ID CT ID CB Kerja
Gang. Relay P S CB
(s) (ms)
CB 1
CT 1 Diff 300 5 Open 50,0
TRAFO Diff
TNG 2 CB 2
CT 2 Diff 25 5 Open 70,0
Diff
CB 1
CT 1 Diff 300 5 Closed -
Relay Diff
GI KIT B1 0,02
Diff CB 2
CT 2 Diff 25 5 Closed -
Diff
CB 1
CT 1 Diff 300 5 Closed -
Diff
GI KIT B2
CB 2
CT 2 Diff 25 5 Closed -
Diff

Tabel 3.1 menampilkan data dan hasil sistem proteksi relay differensial pada 3 lokasi yang
terjadi gangguan, yaitu pada Trafo TNG 2, GI KIT B1, dan GI KIT B2 dengan waktu operasi
0,02s. Terdapat rasio cr pada masing masing lokasi dengan nilai rasionya 300:5 DAN 25:5
dengan kondisi CB open pada trafo TNG dan kondisi CB close pada GI KIT B1 dan GI KIT
B2. Adapun waktu kerja pada trafo TNG 2 adalah 50ms pada rasio CT 300:5 dan 70ms pada
rasio CT 25:5.

Tabel 3.2 Koordinasi Sistem Proteksi Relay Differential dan OCR


Operation
Lokasi Pengama Kondisi Waktu Kerja
Time / ID CB
Gangguan n CB (ms)
Time Delay (s)
Relay CB 1 Diff Open 50,0
0,02
Diff CB 2 Diff Open 75,0
TRAFO TNG 2 CB OCR
OCR 1 0,20/0.182 Open 20,0
1
CB OCR
OCR 2 0.148/0,270 Open 20,0
2
Relay CB 1 Diff Closed -
0,02
Diff CB 2 Diff Closed -
GI KIT B2 CB OCR
OCR 1 0,20/0.182 Open 20,0
1
CB OCR
OCR 2 0.148/0,270 Open 22,0
2

Pada tabel 3.2 menampilkan data koordinasi sistem proteksi relay differential dan OCR (Over
Current Relay) yang terdapat pada 2 lokasi gangguan. Pada setiap gangguan menggunakan
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
masing masing relay differensial dan over current relay. Waktu operasi dan time delay pada
masing masing pengaman memiliki nilai yang berbeda-beda dan kondisi CB pada masung-
masing pengaman dibuat dengan dua kondisi yakni ada yang dalam keadaan terbuka dan ada
yang dalam keadaan tertutup.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
VIII. PERTANYAAN
1. Jelaskan bagaimana koordinasi relay differential dengan over current relay yang
benar!
Jawab:
Relay diferensial harus diatur pada arus sedikit di atas arus operasi normal dengan
waktu respons yang sangat cepat, sedangkan over current relay disesuaikan pada
arus lebih tinggi dengan waktu trip yang lebih lambat dibandingkan dengan relay
differensial.
2. Faktor apa saja yang dapat membuat sistem proteksi relay differential mengalami
kegagalan? Jelaskan!
Jawab:
Faktor yang dapat menyebabkan kegagalan pada sistem proteksi relay diferensial
mencakup pengaturan arus yang tidak akurat yang bisa membuat relay terlalu
sensitif atau kurang peka, gangguan komunikasi antar perangkat sehingga
mendeteksi arus secara keliru, perubahan impedansi karena variasi beban, serta
kualitas sinyal yang menurun akibat noise atau distorsi yang menghambat
pembacaan arus.
3. Dimana saja pengaplikasian sistem proteksi relay differential?
Jawab:
Pada transformar di gardu induk ataupun di transfrmar IBT dan tenaga di daerah
pembangkit yang digunakan untuk melindungi treansformator.
4. Buatlah kesimpulan dari tabel 3.1 dan tabel 3.2, sesuai dari analisa yang anda buat!
Jawab:
Jika terjadi gangguan pada zona proteksi, maka relay akan aktif, akan tetapi jika
gangguan terjadi di luar zona proteksinya, maka relay tersebut tidak akan
beroperasi.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
IX. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum modul 3 ini adalah sebagai berikut.
1. Penggunaan relay diferensial pada software ETAP untuk proteksi trafo daya
memberikan respons yang lebih baik dan lebih mudah disetting.
2. Relay diferensial membandingkan arus masuk dan keluar transformator. Jika terjadi
selisih arus yang signifikan, relay akan langsung memutus aliran untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut pada transformator.
3. Koordinasi proteksi antara pengaman utama dan cadangan dirancang agar pengaman
utama aktif terlebih dahulu saat gangguan terjadi, sementara pengaman cadangan
akan bekerja jika pengaman utama gagal.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
X. REPORT
Tidak ada report di modul ini

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN

Anda mungkin juga menyukai