0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan41 halaman

Skema Pertahanan Under Frequency pada Listrik

Diunggah oleh

muhamad romadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan41 halaman

Skema Pertahanan Under Frequency pada Listrik

Diunggah oleh

muhamad romadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Fulan Fulana

2022-71-XXX
MODUL IV
SKEMA PERTAHANAN UNDER FREQUENCY LOAD SHEDDING PADA SISTEM
TENAGA LISTRIK

I. TUJUAN
1. Dapat mengamati kestabilan frekuensi sistem tenaga listrik
2. Menganalisa dan mengamati kestabilan sistem tenaga listrikk ketika terjadi
kehilangan pembangkit.
3. Dapat mengetahui macam macam skema pertahanan.
4. Dapat melakukan setting relay UFR di software ETAP untuk mitigasi ketika terjadi
kehilangan pembangkit.

II. ALAT DAN PERLENGKAPAN


1. 1 Unit PC
2. Software ETAP 19.0.1

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
III. TEORI MODUL
Klasifikasi Kestabilan Sistem Tenaga Listrik
Kestabilan sistem tenaga listrik secara umum dapat dibagi menjadi tiga macam
kategori, yaitu: Angle Stability, Frequency stability dan Voltage stability. Angle
Stability yaitu kemampuan dari mesin-mesin sinkron yang saling terkoneksi pada suatu
sistem tenaga listrik untuk tetap dalam keadaan sinkron. Frequency stability yaitu
kemampuan dari suatu sistem tenaga untuk mempertahankan kondisi steady state
frekuensi akibat gangguan Sedangkan Voltage Stability: yaitu kestabilan dari sistem
tenaga listrik untuk dapat mempertahankan nilai tegangan yang masih dapat diterima
saat terjadi kontingensi atau gangguan.
Kestabilan Frekuensi
Kestabilan ini berkaitan dengan kemampuan dari sistem untuk mempertahankan
kestabilan frekuensi akibat gangguan pada sistem yang mengakibatkan ketidak
seimbangan antara pembangkitan dan beban. Pada umumnya masalah kestabilan
frekuensi dikaitkan dengan ketidakmampuan dari respons peralatan, koordinasi yang
buruk pada peralatan kontrol dan peralatan proteksi, atau kurangnya daya cadangan
pembangkitan.
Tabel 4.1 Standar Toleransi Operasi Perubahan Frekuensi

Rentang Frekuensi Rentang Waktu Operasi


51,5 Hz < f ≤ 52,0 Hz Beroperasi selama paling singkat 15 menit
51,0 Hz <f ≤ 51,5 Hz Beroperasi selama paling singkat 90 menit
49,0 Hz ≤ f ≤ 51,0 Hz Beroperasi secara terus-menerus
47,5 Hz < f < 49,0 Hz Beroperasi selama paling singkat 90 menit
47,0 Hz < f ≤ 47,5 Hz Beroperasi selama paling singkat 6 detik

Sumber : (Grid Code PM ESDM Tahun 2020)

Relay Frekuensi
Relay Frekuensi berfungsi membaca besar frekuensi sekaligus memberikan
perintah ketika menanggapi terjadinya perubahan frekuensi yang mencapai nilai diluar
batas yang telah diatur, UFR (Under Frequency Relay) yang berfungsi mengamankan
jika frekuensi sistem menurun hingga berada diluar batas yang dijinkan atau nilai
settingpada relay UFR. Prinsip kerja UFR adalah dengan membandingkan nilai

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
frekuensi sistem dan nilai setting frekuensi yang menjadi penentu besar beban yang
dilepas
Skema Pertahanan (Defence scheme)
Skema pertahanan (Defence Scheme) adalah suatu tindakan dalam mempertahankan
sistem dari hal - hal yang tidak diinginkan seperti pemadaman total (blackout). Skema
pertahanan diperlukan agar sistem kelistrikan tidak mengalami keruntuhan sistem
(collapsed). Tindakan - tindakan yang dilakukan dalam cakupan skema pertahanan
adalah Manual Load Shedding (MLS), Brown Out, Load Shedding (Under Frekuensi
Relay), Island Operation dan host load.
Load Shedding
Load shedding adalah pelepasan beban secara sengaja (otomatis / manual) dengan
pemutusan beban tertentu oleh sistem karena kejadian abnormal, untuk
mempertahankan integritas Jaringan dan menghindari pemadaman yang lebih besar.
Pelepasan beban otomatis ini terjadi jika terjadi gangguan suplai pembangkit yang
mengakibatkan sistem mengalami defisit secara tiba-tiba dan tidak dapat diseimbangkan
dengan Manual Load Shedding. Pelepasan beban otomatis ini bekerja berdasarkan
pengaturan setting frekuensi sistem yang menggunakan UFR (Under Frequency Relay).

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
IV. TEORI TAMBAHAN
Alat proteksi pada sistem tenaga listrik merupakan yang penting di bidang
ketenagalistrikan seperti pada PT. Pupuk Sriwidjaja (Persero) Palembang. Sistem
ketenagalistrikan akan bekerja tidak normal atau tidak seimbang apabila mengalami
suatu gangguan yang terjadi diluar sistem tenaga listrik. Gangguan-gangguan yang
terjadi dapat merusak bagian dari sistem seperti generator, transformator tenaga dan
peralatan lainnya. Suatu bagian sistem tenaga listrik yang mengalami kerusakan akibat
gangguan merupakan suatu kerugian, baik dari sisi penyediaan tenaga listrik maupun
dari konsumen.
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan mengubah energi
listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain melalui suatu
gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik. Pengamanan atau
proteksi untuk transformator tenaga pada gardu distribusi PT. Pupuk Sriwidjaja
(Persero) Palembang harus memiliki keandalan yang baik, agar peralatan proteksi
tersebut dapat melindungi transformator tenaga dari gangguan-gangguan yang mungkin
terjadi. Salah satu proteksi yang digunakan pada transformator daya adalah rele arus
lebih (OCR).

Relay
Relai merupakan suatu peralatan yang direncanakan untuk merasakan atau mendeteksi,
mengukur adanya gangguan dan mulai merasakan adanya ketidaknormalan peralatan
listrik dan segera secara otomatis membuka pemutus tenaga untuk memisahkan
peralatan atau bagian dari sistem yang terganggu dan memberi isyarat berupa bel atau
lampu.
Relai pada sistem tenaga listrik mempunyai fungsi sebagai berikut :
 Merasakan, mengukur, dan menentukan bagian sistem yang terganggu serta
memisahkan secepatnya sehingga sistem lainnya yang tidak terganggu dapat
beroperasi secara normal.
 Mengurangi kerusakan yang lebih parah dari peralatan yang terganggu.
 Mengurangi pengaruh gangguan bagian sistem yang lain yang tidak terganggu
didalam sistem tersebut. Di samping itu mencegah meluasnya gangguan serta
memperkecil bahaya bagi manusia

Over Current Relay (OCR)

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
Over current relay atau relai arus lebih bekerja ketika ada hubung singkat yang
berdampak pada kenaikan arus, oleh karena itu disebut relai arus lebih. Relai arus lebih
yang ada sekarang memiliki 2 kemampuan yaitu sebagai relai arus lebih (Over Current
Relay, OCR) dan relai gangguan tanah (Ground Fault Relay, GFR). Relai arus lebih
dapat dikoordinasikan dengan relai lain atau dengan GFR dengan memberikan tunda
waktu yang sebenarnya merupakan inti dari setelan relai selain juga perhitungan setelan
arus.

Relay Differensial
Relay Differensial merupakan suatu transfer yang prinsip kerjanya berdasarkan
kesimbangan (keseimbangan), yang membandingkan arus sekunder transformator arus
(CT) yang dipasang pada peralatan terminal atau instalasi listrik yang diamankan.
Penggunaan transfer differential sebagai pengaman hand-off, antara lain pada generator,
transformator daya, dan saluran transmisi. Pada trafo daya, relai diferensial berfungsi
sebagai proteksi utama, melindungi belitan trafo jika terjadi gangguan. Penyerahan ini
sangat spesifik dan sistem bekerja dengan cepat. Arus mengalir melalui peralatan listrik
yang diamankan (generator, trafo, dll) dalam keadaan normal.(Romadhon Syah &
Notosudjono, 2024)(Maisyarah, 2019)
Syarat-Syarat Sistem Proteksi
A. Kepekaan (Sensitifitas)
Kepekaan rele proteksi terhadap segala macam gangguan, termasuk yang terjadi
pada daerah proteksi disebut dengan sensitivitasnya. Nilai terkecil dari gaya
penggerak pada saat peralatan proteksi mulai beroperasi inilah yang menentukan
sensitivitas suatu sistem proteksi. Nilai minimum arus gangguan pada daerah yang
dilindunginya berkaitan dengan nilai terkecil magnitudo penggeraknya.
B. Kecepatan
Kerangka asuransi harus memiliki tingkat kecepatan yang telah ditentukan untuk
lebih mengembangkan kualitas administrasi, keamanan manusia, perangkat keras
dan soliditas operasi. Mengingat suatu sistem tenaga relai yang seharusnya
merespons dengan cepat harus diperlambat (waktu tunda) karena batas stabilitas
sistem tenaga dan fakta bahwa gangguan sistem mungkin hanya berlangsung dalam
jangka waktu singkat.
C. Selektivitas
Spesifik menyiratkan bahwa sistem keamanan harus dapat memilih bagian dari sistem
yang harus dipisahkan jika serah terima asuransi menunjukkan dampak yang meresahkan.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
Bagian yang terisolasi dari kerangka yang sehat, betapapun masuk akalnya, adalah bagian
yang mengecewakan. Suatu sistem perlindungan harus bersifat diskriminatif agar dapat
membedakan kondisi normal dan tidak normal. Atau sebaliknya mengetahui apakah
kondisi aneh tersebut terjadi di dalam atau di luar wilayah jaminan. (Faruq et al., 2021)

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
Sumber:
Faruq, U., Ridho, A., Vrayulis, M., & Julio, E. (2021). Peran Penggunaan ETAP Untuk
Mengevaluasi Kendala Listrik. SainETIn (Jurnal Sain, Energi, Teknologi &
Industri), 6(1), 16–22. [Link]
Maisyarah, L. (2019). Analisis Hubung Singkat Pada Saluran Udara Tegangan
Menengah 20 Kv ( Studi Kasus Pada Penyulang Lg 02 Pt Pln ( Persero ) Rayon.
Jurnal Energi Elektrik, 08(1), 25–31.
Romadhon Syah, S., & Notosudjono, D. (2024). Analisa Relay DIfferensial Pada
Generator di PLTU Suralaya 1 X 625 MW Unit 8. Jurnal Online Mahasiswa
(JOM) Bidang Teknik Elektro, 1(1), 1–14.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
V. LANGKAH PERCOBAAN
1. Lakukan Setting inertia, exciter dan governor pada Generator B
2. Setting inertia :

Klik komponen generator lalu pilih section inertia dan isi sesuai dengan ratting
pada gambar di bawah ini

Gambar 4.1
3. Setting Exciter :

Klik komponen generator lalu pilih section exciter dan isi sesuai dengan rating
pada gambar di bawah ini

Gambar 4.2

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
4. Setting governor

Klik komponen generator lalu pilih section governor dan isi sesuai dengan rating
pada gambar di bawah ini

Gambar 4.3
5. Pelepasan pembangkit

Klik menu , kemudian Edit Study Case dan pilih menu event, maka akan
tampil seperti di bawah ini:

Gambar 4.4
klik Add pada Events dan Actions sesuai kondisi saat Kehilangan Pembangkit.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
6. Lepas Gen B dengan membuka CB 45 (t=5 s) atau isi sesuai dengan gambar di bawah
ini:

Gambar 4.5
7. Buka tab plot, lalu pilih Device ID yang ingin diplot sesuai yang akan diamati di Data
Pengamatan (Gen1 dan Bus33, Line5 dan Bus9).

8. Klik untuk Run Transient Stability. Amati Daya Aktif, Daya Reaktif, Tegangan,
Frekuensi, dengan menggunakan Slider, lalu catat pada Data Pengamatan.

9. Klik ikon untuk menampilkan grafik Device ID yang sudah diplot.


10. Skema pertahanan dengan under frekwensi relay
11. Lakukan Setting Under Frekuensi Relay dengan Klik komponen under frekuensi relay

12. Lalu isi rating sesuai dengan gambar di bawah ini

Gambar 4.6

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
13. Pastikan rating under frekuensi relay sudah sesuai dengan data berikut

Gambar 4.7
14. Kemudian kembali lakukan simulasi transient stability setelah di lakukan pelepasan beban

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
VI. GAMBAR RANGKAIAN
 Rangkaian sebelum Running Transient

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

 Rangkaian setelah Running Transient sebelum UFR

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

 Rangkaian setelah Running Transient sesudah UFR

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
VII. HASIL DAN ANALISA
Table 4.2 kondisi saat pelepasan pembangkit
Time Frekuensi Daya aktif Daya reaktif Tegangan
ID Bus
(s) ( Hz ) ( MW ) ( MVar ) ( kV )
2 50 0 0,4 19,5
4 50 0 0,4 19,5
6 49,05 0 0,4 19
8 48.94 0 0,9 19,2
10 48.72 0 0,9 19,4
GD C 20KV
12 48.72 0 0,9 19,4

14 48.72 0 0,9 19,4

16 48.72 0 0,9 19,4

18 48.72 0 0,9 19,4

20 48.72 0 0,9 19,4

Percobaan ini menggambarkan simulasi ketika pembangkit dilepaskan dalam sistem tenaga.
Dapat kita lihat bahwa nilai frekuensi berubah sesuai dengan naik turunnya grafik. Pada data
pengamatan dapat kita amati bahwa mulai dari detik ke 6, nilai mulai berubah dan grafik juga
mulai berubah karena disinilah terjadi pelepasan beban oleh pembangkit, kemudian nilai
mulai stabil kembali pada detik ke 10 dan seterusnya.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
Table 4.3 kondisi setelah pelepasan beban
Time Frekuensi Daya aktif Daya reaktif Tegangan
ID Bus
(s) ( Hz ) ( MW ) ( MVar ) ( kV )
2 50 1 0,9 19,5
4 50 1 0,9 19,5
6 49,50 1,9 0,8 19
8 49,05 1,8 0,7 19,2
10 49,05 1,8 0,6 19,2
GD C 20KV
12 49,05 1,8 0,6 19,2

14 98,6 1,8 0,6 19,2

16 98,6 1,8 0,6 19,2

18 98,6 1,8 0,6 19,2

20 98,6 1,8 0,6 19,2

Pada tabel dan gambar di atas menunjukkan ada eksperimen pelepasan beban dari pembangkit
dengan rentang waktu dari 2s sampai 20s. Pada saat terjadi pelepasan beban, dapat kita lihat
bahwa grafik menjadi turun dan nilai frekuensinya pun berubah sesuai dengan naik turunnya
grafik pada gambar, yang dimana nilai daya aktif, daya reaktif, dan tegangannya juga ikut
berubah sebelum stabil kembali.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
Table 4.3 waktu kerja relay UFR

No Time ( ms ) Event Device id action


1 5.000 Gen B Out Circuit Breaker Open

Pada tabel 4.3 menampilkan data dari waktu kerja relau UFR (Under Frequency Relay). Pada
percobaan ini terjadi eksperimen pelepasan beban pada pembangkit atau generator B dengan
waktu 5.000 ms dengan menggunakan CB (Circuit Breaker) yang dibuka untuk melepas beban.
Ekseperimen ini dilakukan menggunakan software etap untuk menganalisa apa kemungkinan
yang terjadi ketika melakukan percobaan pelepasan beban.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
VIII. PERTANYAAN
1. Mengapa saat terjadi lepasnya pembangkit dari sistem harus di lakukan pelepasan
beban ?
Jawab:
Agar keseimbangan antara daya yang dihasilkan dan daya yang digunakan tetap
terjaga.
2. Apa yang menyebabkan pembangkit dapat lepas dari sistem? jelaskan!
Jawab:
Gangguan teknis, kondisi operasi yang tidak stabil, atau tindakan proteksi otomatis.
Gangguan teknis, seperti kerusakan pada generator, trafo, atau infrastruktur transmisi
yang dapat memicu pemutusan otomatis pembangkit dari jaringan untuk melindungi
peralatan. Kemudian kondisi operasi yang tidak stabil, seperti perubahan beban
mendadak atau penurunan frekuensi dan tegangan, dapat membuat pemutus sirkuit
aktif untuk mengisolasi pembangkit.
3. Mengapa saat terjadi pelepasan pembangkit nilai frekuensi mengalami penurunan ?
Jawab:
Ketika pembangkit terputus dari jaringan, pasokan daya menjadi tidak mencukupi,
yang mengakibatkan penurunan frekuensi.
4. Menurut anda apa alasan digunakannya relay UFR pada simulasi pelepasan beban
dan tidak menggunakan relay jenis lainnya ?
Jawab:
Relay Under Frequency Relay (UFR) dipilih dalam simulasi pelepasan beban karena
fungsi utamanya yang dirancang untuk mengidentifikasi penurunan frekuensi di
bawah level yang aman dalam sistem tenaga listrik. Ketika terjadi kekurangan daya
akibat pembangkit yang terputus dari jaringan, frekuensi sistem cenderung menurun.
Relay UFR mampu mendeteksi situasi ini secara tepat dan memberikan respons cepat
dengan memutuskan sebagian beban untuk memulihkan kestabilan frekuensi.
5. Pada saat nilai frekuensi berapa harus di lakukan pelepasan beban serta berikan
alasannya?
Jawab:
Pelepasan beban sering dilakukan ketika frekuensi dalam sistem listrik menurun di
bawah 49-49,5 Hz pada jaringan yang beroperasi pada 50 Hz. Frekuensi tersebut
dianggap sebagai batas kritis, karena penurunan ke level ini menunjukkan bahwa
daya yang tersedia tidak lagi memadai untuk memenuhi kebutuhan beban, yang
berpotensi menyebabkan penurunan frekuensi yang lebih lanjut. Jika masalah ini

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
tidak diatasi, dapat menimbulkan gangguan pada peralatan listrik, menimbulkan
ketidakstabilan dalam sistem, dan meningkatkan risiko pemadaman yang lebih luas.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
IX. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari modul 4 ini adalah sebagai berikut.
1. Ketika memantau kestabilan frekuensi dalam sistem tenaga listrik menggunakan
ETAP, kita buka Stabilitas Transien, lalu jalankan simulasi untuk mengamati
respons sistem lalu buka grafiknya.
2. Penurunan frekuensi dapat terjadi ketika kehilangan pembangkit
3. Adapun skema pertahanan dalam sistem tenaga listrik yaitu proteksi diferensial,
proteksi arus lebih, proteksi tegangan rendah, dan proteksi isolasi, masing-masing
dirancang untuk mendeteksi serta merespons berbagai jenis gangguan yang
mungkin terjadi.
4. Pengaturan relay UFR dalam software ETAP memungkinkan pengguna untuk
mengatur respons sistem terhadap kehilangan pembangkit untuk menjaga kestabilan
frekuensi.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX
X. REPORT
Complete

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN
Fulan Fulana
2022-71-XXX

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


Institut Teknologi PLN

Anda mungkin juga menyukai