RANCANGAN KONSEPTUAL
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI
PERENCANAAN KONSTRUKSI
PENAMBAHAN RUANG KELAS BARU SDN CIKERUT
Lokasi Pekerjaan : Tersebar di Kota Cilegon
DISUSUN OLEH :
PLANNING I DESIGN ENGINEERING I ARCHITECT I MANAGEMENT
LEMBAR PENGESAHAN
RANCANGAN KONSEPTUAL
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONTRUKSI (SMKK)
KEGIATAN :
PENGELOLAAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
PEKERJAAN :
PENAMBAHAN RUANG KELAS BARU SDN CIKERUT
Pihak Penyedia Jasa Pihak Pengguna Jasa
Dibuat Oleh : Disetujui Oleh :
CV. GAMAPLAN CONSULTANT Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
YUDHIA ROSADHAN, ST. Dra. Hj. Heni Anita Susila, [Link]
Direktur NIP. 19680225 199303 2 005
DAFTAR ISI
COVER DOKUMEN
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI
RANCANGAN KONSEPTUAL SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONTRUKSI
PERANCANGAN KONTRUKSI
1. DATA UMUM 1-1
PERNYATAAN PERTANGGUNG JAWABAN KONSULTANSI KONTRUKSI
PERANCANGAN 1-2
2. METODE PELAKSANAAN 1-3
3. IDENTIFIKASI BAHAYA, PENGENDALIAN RESIKO DAN PENETAPAN TINGKAT
RESIKO PEKERJAAN 1-4
4. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN STANDAR 1-5
5. PERNYATAAN PENETAPAN TINGKAT RESIKO KESELAMATAN KONTRUKSI 1-6
6. DUKUNGAN KESELAMATAN KONTRUKSI
A. BIAYA SMKK 1-7
B. KEBUTUHAN PERSONIL 1-8
7. RANCANGAN PANDUAN KESELAMATAN PENGOPERASIAN DAN
PEMELIHARAAN KONTRUKSI BANGUNAN 1-9
RANCANGAN KONSEPTUAL
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONTRUKSI
PERANCANGAN KONTRUKSI
1. Data Umum
Nama Kegiatan : PENGELOLAAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
Nama Paket Pekerjaan : PENAMBAHAN RUANG KELAS BARU SDN
CIKERUT
Lokasi Pekerjaan : Kecamatan Cibeber Kota Cilegon
Nama Konsultan : CV. GAMAPLAN CONSULTANT
Pengkajian / Perencana
Kontruksi
Lingkup Tanggung : 1. Team Leader
Jawab Konsultan 2. Petugas K3
Pengkajian / Perencana …….
Kontruksi
1.1. Pernyataan Pertanggungjawaban Konsultasi Kontruksi Perancangan
PERNYATAAN PERTANGGUNGJAWABAN
KONSULTANSI KONTRUKSI PERANCANGAN
CV. GAMAPLAN CONSULTANT
CV. GAMAPLAN CONSULTANT sebagai Badan Usaha Jasa Kontruksi
bertanggungjawab penuh terhadap hasil desain yang telah dilakukan. Apabila
terjadi revisi desain, maka tanggungjawab revisi desain dan dampaknya ada
pada penyusun revisi.
Cilegon, 10 Juni 2024
CV. GAMAPLAN CONSULTANT
YUDHIA ROSADHAN, ST.
Direktur
RANCANGAN KONSEPTUAL
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI
PERANCANGAN KONSTRUKSI
2. Metode Pelaksanaan
No Lingkup Metode Kerja Bahaya Utama
Pekerjaan
1 Struktur beton Kelas dari beton yang akan digunakan pada masing-masing bagian dari Tertusuk
pekerjaan dalam kontrak haruslah menggunakan mutu beton K. 250 besi beton.
Ready Mix (Koordinasi dengan Konsultan Pengawas). Terjatuh
Pengecoran beton harus dilaniutkan tanpa berhentl sampai dengan pada saat
sambungan Konstruksi yang telah disetujui sebelumnya atau sampai pengecora
pekerjaan selesal. n.
Baja tulangan harus Baja polos atau berulirmutu U -24, dengan Kawat Iritasi pada
Pengikat Tulangan menggunakan Kawat Beton. kulit oleh
Tulangan harus secara tepat ditempatkan sesuai dengan gambar dan semen.
dengan kebutuhan selimut penutup minimum yang disyaratkan. Terjepit
Batang tulangan harus likat kencang dengan menggunakan kawat Mesin Tiang
pengikat sehingga tidak sewaktu operasi tergeser pengecoran pancang
Pengelasan dari batang melintang atau pengikat terhadap baia Tertimpa
tarikutama tidak diperkenankan. Tiang
Seluruh tulangan harus disediakan sesuai dengan panjang keseluruhan Pancang
yang ditunjukkan pada gambar. Penyambungan (splicing) da batang,
terkecuali ditunjukkan pada gambar, tidak akan diijinkan tanpa
persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
2 Pekerjaan Bata merah yang dipakai adalah jenis bata banting yang berkualitas Terjatuh
dinding, baik, dan sebelum dipakai harus dibersihkan dan direndam terlebih pada saat
Plesteran dan dahulu hingga buihnya habis. pemasang
acian. Untuk pasangan dinding bata biasa dipakai adukan 1 pc : 5 ps, an bata
sedangkan untuk pasangan bata mulai dari sloof beton bertulang dan
sampai setinggi 30 cm diatas rencana lantai dipasang dinding trasraam plesteran.
dengan adukan 1 pc : 3 ps.
Sebelum diplester bidang dinding harus dibasahi terlebih dahulu sampai Tertimpa
jenuh agar adukan dapat melekat dengan baik. material
Untuk pekerjaan plesteran dinding bata biasa dipergunakan adukan 1 batu-bata.
pc : 5 ps, sedangkan untuk plesteran dinding trasraamlpc : 3 ps. Iritasi pada
Untuk plesteran beton dipergunakan 1 pc : 3ps, setelah dipermukaan Kulit oleh
beton yang akan diplester dikasarkan terlebih dahulu dan disram Semen.
dengan air semen.
Semua pekerjaan plesteran dikerjakan dengan teknik sempurna, bidang-
bidangnya rata, tegak urus/siku terhadap bidang lainnya kemudian
diaci atau dihaluskan permukaannya dengan digosok sampai licin. Agar
didapat bidang plesteran yang rata permukaannya maka dalam
pelaksanaanya pemborong harus menginstruksikan kepada tukang batu
agar membuat kepala-kepala plesteran setiap bidangnya.
Adukan semen dicampur hanya dalam kuantitas yang diperlukan untuk
penggunaan langsung. lika perlu adukan boleh diaduk kembali dengan
air dalam waktu 30 menit dari proses pengadukan awal. Pengadukan
kembali setelah waktu tersebut, tidak diperbolehkan.
Permukaan yang akan menerima adukan harus dibersihkan dari oli atau
lempung dan kotoran lainnya dan secara menyeluruh telah dibasahi
sebelum adukan dipasang. Air yang pada permukaan harus
menggenang dikeringkan sebelum penempatan adukan.
Bila digunakan sebagai lapis permukaan, adukan harus dipasang pada
permukaan bersih yang lembab dengan jumlah yang cukup untuk
menghasilkan tebal minimum 1.5 cm dan harus dibentuk menjadi
permukaan yang balus dan rata
3 Pekerjaan Aluminium yang akan digunakan adalah produksi Alexindo atau setaraf Tangan dan
Kusen, Pintu produksi dalam negeri yang baik ( (sesuai Sll extrusi 0695-82 dan SH kaki kena
dan Jendela jendela 0649-82). Alloy 6063-T5/Billet yang digunakan harus aslinya (tidak palu / mesin
terbuat dari bahan scrap/sisa). bor.
Aluminium ber warna, Ukuran profil 1.5" x 3” Beban angin 100 kg/m2, Terjatuh dari
Tebal profil minimal 1.35 mm. ketinggian
pembuatan/penyetelan dan pemasangan kusen aluminium beserta
kaca harus dilaksanakan oleh pemborong alumunium yang ahli dalam
bidangnya. Antara tembok/kolom/beton dan kusen aluminium harus diisi
dengan sealen yang elastis.
Pemasangan kaca pada kusen aluminium harus diisi karet gasket.
Fixing accessoris seperti skrup assembling dan engsel-engsel harus
terbuat dari bahan-bahan tahan karat.
4 Pekerjaan Pekerjaan Rangka Atap Baia Ringan. Tertimpa
Atap dan Safety Factor akan menurun apabila aplikator atau fabrikator rangka material.
plafond atap baja ringan tidak menggunakan standar minimum bracing Terkena
tersebut, sehingga dapat mengakibatkan suatu kegagalan struktur. sengatan
Ring Balok yang sudah jadi diukur oleh engineer masing-masing listrik.
fabricator untuk didesain ulang. Adapun basil desain tersebut adalah Tangan dan
berupa input ke pabrik. Kaki kena
Pengalaman Fabrikator atau Aplikator menjadikan tolak ukur daripada sayatan
kualitas pekerjaan. Dimana basil akhir sebuah pekerjaan harus dimonitor rangka baja
ulang dengan system yang je as sehingga dapat dikeluarkan suatu Kecelakaan
garansi pekeriaan yang baik, alat
Terjatuh
Pek. Atap Alderon dari
Tata cara pemasangan mengacu kepada katalog atau brosur Alderon, ketinggian
dengan jarak antar reng 32 cm.
Pastikan kemiringan kuda-kuda atap adalah minima115 derajat. Pastikan
jarak antar reng adalah 27 cm untuk reng pertama paling bawah
setelah listplang), selanjutnya 32 cm.
Selama pemasangan atap agar tidak menginjak atap yang telah
terpasang kecuali menggunakan tangga konstruksi, papan bidang kerja
atau menginjak pada bagian lembaran atap yang bersentuhan dengan
reng. Dilarang menginjak pada bidang lembaran di antara reng.
Pemasangan lembaran dimulai dari Sisi paling bawah dari bidang atap,
dengan Jarak overhang maksimal adalah 5 cm dari listplang.
Urutan penyekrupan dimulai dari gelombang Sisi bawah pertama dan
kelima, dilanjutkan dengan gelombang kedua sampai dengan
keempat. Gelombang keenam digunakan untuk overlap dengan
lembaran atap selanjutnya. Gelombang Sisi atas digunakan untulc
overlap dengan lembaran atap di atasnya.
Pekerjaan Plafond
Sebelum m emulai pamasangan plafond kontraktor terlebih dahulu harus
menyerahkan contoh-contoh bahan kepada pengawas. Bahan-bahan
yang boleh dipasang untuk pekerjaan plafond adalah bahan yang telah
disetujui oleh Pemberi Tugas / Konsultan Perencana / Pengawas.
Didalam pemasangan plafond, kontraktor telah mempertimbangkan
bal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan disiplin lain yang bergabung
dalam kegiatan ini misalnya disiplin elektrika, mekanikal plumbing dan
sebagainya). Biaya-biaya arus yang dikeluarkan didalam kegiatan ini
harus sudah termasuk dalam penawaran. Sebelum memulai plafond, kon
traktor harus pemasangan memeriksa rangka plafond agar benar-benar
sesuai dengan ketinggian yang dikehendaki dan ukuran-ukuran sesuai
dengan gambar. Semua bagian-bagian rangka plafond harus
menyambung dengan seksama secara keseluruhan membentuk struktur
yang kokoh Hasil pemasangan harus merupakan bidang tidak
melengkung dan tidak yang rata, bergerak/ bergoyang.
5 Pekerjaan Permukaan yang akan dicat terlebih dahulu harus dibersihkan dan Teriatuh dari
Pengecatan digosok dengan ampelas dinding atau kain yang basah kemudian Ketinggian
dinding diplamur dengan menggunakan plamur tembok yang Menghirup
berkualitas baik dan setelah kering baru digosok dan diampleas halus Uap Cat
sehingga permukaan menjadi licin dan rata, kemudian baru dilabur Iritasi kulit
dengan cat dinding, paling sedikit 2 kali dengan roll yang lebarnya
minimal 25 cm. Begitupun untuk mengecat kolom- olom beton dan
gypsum, digunakan dengan cara tersebut di atas.
6 Pekerjaaan Kabel-kabel instalasi di dalam ruangan Terkena
Elektrikal dipakai jenis kabel NYM 3 x 2,5 mm untuk stop kontak, saklar dan AC, sengatan
sedangkan NYM 2 x mm untuk titik lampu. Kabel yang digunakan kualitas listrik
baik Tangan
Pipa untuk instalasi diguna an pipa dan Kaki
Conduit atau PVC kena
Tinggi saklar dan stop kontak ditentukan 1,50 m dari permukaan lantai sayatan
setempat. Tiap tiap stop kontak harus diberi penghantar tanah rangka baja
Pemasangan titik lampu/armatur dari Kecelakaan
jenis lampu yang telah ditentukan dan dipasang sesuai dengan jumlah alat
yang tertera dalam gambar. Teriatuh dari
ketinggian
7 Pekerjaan Sisa sisa pekerjaan atau puing Terkena duri
Pembersihan harus dibersihkan dari area pekeriaan. dari
dan Puing yang akan dibuang sudah puing-puing
Perapihan ditentukan area pembuangannya, dengan kendaraan angkut Tergores/
Sisa (Gerobak/Mobil Pick Up) Luka akibat
Pekerjaan terkena
materia
bahan
RANCANGAN KONSEPTUAL
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI
PERANCANGAN KONSTRUKSI
3. Identifiksi Bahaya, Pengendalian Resiko dan Penetapan Tingkat Resiko Pekerjaan
Tabel : Identifikasi Bahaya, Pengendalian Resiko
No Uraian Identifikasi Bahaya Dampak / resiko Penetapan Pengendalian Resiko
Pekerjaan
BANGUNAN LANTAI DASAR
1 Pekerjaan Tertimpa material Anggota badan Memakai APD (helm, sepatu safety,
Struktur batu/bata memar atau sarung tangan, masker dan kacamata
Beton Kecelakaan alat lecet keria).
teriatuh pada saat Patah tulang Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
Pengecoran Pendarahan Membuat Perancah yang
Iritasi pada Kulit oleh pada anggota baik/scaffolding.
Semen tubuh
Tertusuk besibeton
dan paku.
2 Pekerjaan Plafond Jatuh saat Tertimpa material Memakai APD (helm, sepatu safety,
Plafond Pemasangan Tangan dan Kaki sarung tangan, masker dan kacamata
kena sayatan keria).
rangka baja Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
Kecelakaan alat Membuat Perancah yang
Terjatuh dari baik/scaffolding.
ketinggian
3 Pekerjaan Tangan dan Kaki kena Anggota badan Memakai APD (helm, sepatu safety,
Pintu dan palu/mesin bor memar atau sarung tangan, masker dan kacamata
Jendela Terjatuh lecet keria).
ketinggian darl Patah tulang Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
Pendarahan Membuat Perancah yang
pada anggota baik/scaffolding.
tubuh
4 Pekerjaan Tertimpa material Anggota badan Memakai APD (helm, sepatu safety,
Dinding, bata memar atau sarung tangan, masker dan kacamata
Plesteran Tangan dan Kaki kena lecet keria).
dan bata Patah tulang Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
Lantai Kecelakaan alat Pendarahan Membuat Perancah yang
Terjatuh pada saat pada anggota baik/scaffolding.
pemasangan bata tubuh
dan plesteran
Iritasi pada Kulit oleh
Semen
5 Pekerjaan Cat Tumpah Menghirup uap Memakai APD (helm, sepatu safety,
Pengecat Cat sarung tangan, masker dan kacamata
an Iritasi kulit keria).
Terjatuh dari Membuat Perancah yang
ketinggian baik/scaffolding.
6 Pekerjaan Tersengat Aliran Listrik Menyebabkan Memakai APD (helm, sepatu safety,
Eletrikal pada saat cacat /kematian sarung tangan, masker dan kacamata
pengetesan keria).
Terjatuh dari Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
ketinggian Membuat Perancah yang
baik/scaffolding.
Membuat sambungan secara aman
dan benar
Padamkan aliran listrik (Jika masih
menyala)
BANGUNAN LANTAI ATAS
1 Pekerjaan Tertimpa material Anggota badan Memakai APD (helm, sepatu safety,
Struktur batu/bata memar atau sarung tangan, masker dan kacamata
Beton Kecelakaan alat lecet keria).
Terjatuh pada saat Patah tulang Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
Pengecoran Pendarahan Membuat Perancah yang
Iritasi pada Kulit oleh pada anggota baik/scaffolding.
Semen tubuh
Tertusuk besi beton
dan paku.
2 Pekerjaan Tertimpa material Anggota badan Memakai APD (helm, sepatu safety,
Dinding, bata memar atau sarung tangan, masker dan kacamata
Plesteran Tangan dan Kaki kena lecet keria).
dan bata Patah tulang Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
Lantai Kecelakaan alat Pendarahan Membuat Perancah yang
Terjatuh pada saat pada anggota baik/scaffolding.
pemasangan bata tubuh
dan
Plesteran
Iritasi pada Kulit oleh
Semen
Tertusuk paku.
3 Pekerjaan Tangan dan Kaki kena Anggota badan Memakai APD (helm, sepatu safety,
Pintu dan palu/mesin bor memar atau sarung tangan, masker dan kacamata
Jendela Terjatuh dari lecet keria).
ketinggian Patah tulang Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
Pendarahan Membuat Perancah yang
pada anggota baik/scaffolding.
tubuh
4 Pekerjaan Tertimpa material Anggota badan Memakai APD (helm, sepatu safety,
Atap dan Tangan dan Kaki kena memar atau sarung tangan, masker dan kacamata
Plafond Sayatan rangka Baja lecet keria).
Kecelakaan alat Patah tulang Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
Terjatuh Pendarahan Membuat Perancah yang
ketinggian pada anggota baik/scaffolding.
tubuh
5 Pekerjaan Terjatub dari Anggota badan Memakai APD (helm, sepatu safety,
Pengecat Ketinggian memar atau sarung tangan, masker dan kacamata
an Menghirup Uap Cat lecet keria).
Tertimpa bahan Patah tulang Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
material Pendarahan Membuat Perancah yang
Iritasi kulit oleh Cat pada anggota baik/scaffolding.
tubuh
6 Pekerjaan Tersengat aliran Listrik Menyebabkan Memakai APD (helm, sepatu safety,
Eletrikal pada saat cacat/kematian sarung tangan, masker dan kacamata
pengetesan aliran. keria).
Jatuh dari Ketinggian Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
Membuat Perancah yang
baik/scaffolding
Membuat sambungan secara aman
dan benar
Padamkan aliran listrik (Jika masih
menyala).
PEKERJAA Terkena duri Tergores / Luka Memakai APD (helm, sepatu safety,
N dari puing-puing akibat Terkena sarung tangan, masker dan kacamata
LAIN- LAIN material / bahan keria).
Mengikuti SOP Pengoperaslan alat.
Gunakan gerobak Untuk mengangkut
puing
Tabel : Penetapan Tingkat Resiko Pekerjaan
No Pekerjaan Identifikasi Bahaya Orang Harta Lingkungan Keselamata
Beresiko Benda n Umum
K A TR K A TR K A TR K A TR
LANTAI BAWAH
1 Pekerjaan Tertimpa material 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2
Persiapan Tertusuk paku
2 Pekerjaan Tertimpa material batu/bata
Struktur Kecelakaan alat
Beton Terjatuh pada saat Pengecoran 2 3 4 2 2 4 2 2 4 2 3 4
Iritasi pada Kulit oleh Semen
Tertusuk besi beton dan Paku
3 Pekerjaan Tertimpa material
Dinding, Tangan dan Kaki kena Bata
Plesteran Kecelakaan alat
dan Lantai Terjatuh pada saat pemasangan bata dan 2 2 4 2 2 4 2 1 2 2 2 4
plesteran
Iritasi pada Kulit oleh Semen
Tertusuk aku
4 Pekerjaan Tangan dan Kaki kena palu/mesin bor
Pintu dan Terjatuh dari ketinggian 2 3 4 2 2 4 1 2 2 1 2 2
Jendela
5 Pekerjaan Plafond Jatuh saat Pemasangan 2 2 4 1 2 2 2 1 2 2 2 4
Plafond
6 Pekerjaan Cat Tumpah
Pengecata Terjatuh dari Ketinggian 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2
n
7 Pekerjaan Tersengat Aliran Listrik pada saat
Elektrikal pengetesan aliran. 2 2 4 2 2 4 2 2 4 2 3 4
Jatuh dari Ketinggian
LANTAI ATAS
1 Pekerjaan Tertimpa material batu/bata
Struktur Kecelakaan alat
Beton Terjatuh pada saat Pengecoran 2 3 4 2 2 4 2 2 4 2 3 4
Iritasi pada Kulit oleh Semen
Tertusuk besi beton dan paku.
2 Pekerjaan Tertimpa material
Dinding, Tangan dan Kaki kena Bata
Plesteran Kecelakaan alat
dan Lantai Terjatuh pada saat pemasangan Bata dan 2 2 4 2 2 4 2 1 2 2 2 4
plesteran
Iritasi pada Kulit oleh Semen
Tertusuk paku
3 Pekerjaan Tangan clan Kaki kena palu/mesin bor
Pintu dan Terjatuh dari ketinggian 2 3 5 2 2 4 1 2 2 1 2 2
Jendela
4 Pekerjaan Tertimpa material
Atap dan Tangan dan Kaki kena sayatan rangka 2 3 5 2 2 4 2 2 4 2 2 4
Plafond Kecelakaan alat
Terjatuh dari ketinggian
5 Pekerjaan Terjatuh dari ketinggian
Pengecata Menghirup Uap Cat 2 3 5 2 2 4 2 1 2 2 2 4
n Tertimpa bahan material
Iritasi kulit oleh Cat
6 Pekerjaan Tersengat Aliran Listrik pada saat
Elektrikal pengetesan aliran. 2 2 4 2 2 4 2 2 4 2 3 5
Jatuh dari Ketinggian
7 Pekerjaan Tertimpa material batu/bata
Tangga Kecelakaan alat 2 1 2 2 1 2 2 2 4 2 2 4
Terjacuh pada saat Pengecoran
MenghiruP Uap Cat
Pekerjaan Terkena duri dari puing-puing 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2
Lain-lain
Keterangan : K = Kekerapan A = Akibat (Keparahan) TR = Tingkat Resiko
RANCANGAN KONSEPTUAL
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI
PERANCANGAN KONSTRUKSI
4. Peraturan perundang-undangan dan Standar
No Pengendalian Peraturan Perundang-undangan Klausul/Pasal
Resiko
A PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Instruksi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan 1. Seluruhnya
Rakyat Nomor 02/IN/M/2023 Tentang Protokol 2. Pasal I ayat (l) & (2)
Pencegahan Penyebaran Covid-19 dalam 3. SNI 6882016 1.2.33
Penyelenggaraan Jasa Konstruksl Jaminan Mutu, l. 2.34
2. Permen Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor Pengendalian Mutu
5 Tahun 2021 Tentang Tata Cara Penyelenggaraan 4. elemen 3.1.4. dan
Program Jaminan Kecelakan Kerja, Jaminan 3.2. l.
Kematian, dan JaminanHari Tua.
3. SNI 688:2016 “Spesifikasi Beton Struktural”
4. Permenaker No.05/MEN/1996,SMK3
B BANGUNAN LANTAI DASAR
1 Pekerjaan Struktur 1. SNI 6882016 "Spesifikasi Beton Struktural” 1. SNI 688:2016 1.233
Beton 2. Tata Cara Perencanaan Struktur Beton Untuk Gedung Jaminan Mutu, l. 2.34
SNI 03- 2847-2002. Pengendalian Mutu
3. Tata cara Perhitungan struktur beton untuk bangunan 2. Lampiran : Standar
gedung (SK SNI T-15- 1991-03) Pelaksanaan dan
4. Peraturan Beton Bertulang (PBl)Nl-2-1971 Pengawasan
5. PerMen RI Nomor 16 Tahun 2021 Tentang Peraturan Bangunan Gedung
Pelaksanaan
2 Pekerjaan Plafond 1. PerMen RI Nomor 16 Tahun 2021 Tentang Peraturan Lampiran : Standar
Pelaksanaan Pelaksanaan dan
2. Undang — undang Nomor 28 Tahun2023 Tentang Pengawasan Bangunan
bangunan Gedung Gedung
3 Pekerjaan KepMen Ketenaga Kerjaan RI Nomor310 Tahun 2016Tentang 1. F.433032.001.01,
Pengecatan Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Mengatur Kegiatan
Kategori Konstruksi Golongan Pokok Konstruksi Khusus Pada Pengecatan.
Jabatan Kerja Tukang Cat bangunan Gedung
2. F.433032.002.01,Mela
kukan Penanganan
Material Cat
4 Pekerjaan Kusen, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Lampiran IV Peraturan
Pintu & Jendela Tahun 2018 Tentang Petunjuk Operasional dan Alokasi Khusus Menteri Pendidikan dan
Fisik Bidang Pembangunan Kebudayaan Nomor 8Tabun
2018 Tentang Petunjuk
Operasional dan Alokasi
Khusus Fisik Bidang
Pembangunan : E
Pemahaman Teknis : 2
Pemahaman Tentang
Bahan Bangunan (II)
5 Pekerjaan 1. PerMen RI Nomor 16 Tahun 2021 Tentang Peraturan 1. Lampiran II : Standar
Pengecatan Pelaksanaan Undang — undang Nomor 28 Tahun Pelaksanaan dan
2023 Tentang bangunan Gadung Pengawasan
2. KepMen KetenagaKerjaan RI Nomor 310 Tahun 2016 Bangunan Gedung.
Tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja (g) Pekerjaan
Nasional Indonesia Kategori Konstruksi Golongan Arsitektural (12) Cat
Pokok Konstruksi Khusus Pada Jabatan Kerja Tukang 2. F.433032.001.01,
Cat Bangunan Gedung Mengatur Kegiatan
Pengecatan.
3. F.433032.002.01,Mela
kukan Penanganan
Material Cat
6 Pekerjaan Elektrikal 1. Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2 Bab II Pemberlakuan SNI
Tahun 2018 Tentang Pemberlakuan Wajib Standar Pasal 3, Lampiran II : Standar
Nasional Indonesia di Bidang Ketenagalistrikan. Pelaksanaan dan
2. Per Men RI Nomor 16 Tahun 2021 T entang Peraturan Pengawasan Bangunan
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2023 Gedung. (d) Pekerjaan
Tentang bangunan Gedung Elektrikal (l)
C BANGUNAN LANTAI SATU
1 Pekerjaan Struktur 1. SNI 688:2016 “spesifikasi Beton Struktural' 1. SNI 688:2016 1.2.33
Beton 2. Tata Cara Perencanaan Struktur Beton Untuk Gedung Jaminan Mutu, l. 2.34
SNI 03- 2847-2002. Pengendalian Mutu
3. Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan 2. Lampiran : Standar
gedung (SK SNI T-15- 1991-03) Pelaksanaan
4. Peraturan Beton Bertulang (PM)NI-2-1971 danPengawasan
5. PerMen RI Nomor 16 Tahun 2021 T entang Peraturan Bangunan Gedung.
Pelaksanaan Undang — undang Nomor 28 Tahun (d) Pekerjaan Struktur
2023 T entang bangunan Gedung Atas (8)
2 Pekerjaan Dinding, PerMen RI Nomor 16 Tahun 2021 Tentang Peraturan 1. Lampiran Il : Standar
Plesteran dan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2023 Tentang Pelaksanaan dan
Lantai bangunan Gedung Pengawasan
Bangunan Gedung.
(d) Pekerjaan Struktur
Atas (l)
2. Lampiran Il : Standar
Pelaksanaan dan
Pengawasan
Bangunan Gedung,
(g) Pekerjaan
Arsitektural (2)
Penutup Dinding
3. Lampiran Il : Standar
Pelaksanaan dan
Pengawasan
Bangunan Gedung.
(g) Pekerjaan
Arsitektural (l)
Penutup Lantai
3 Pekerjaan Kusen Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Lampiran IV : Peraturan
Pintu & Jendela Tahun 2018 T entang Petunjuk Operasional dan Alokasi Menteri Pendidikan dan
Khusus Fisik Bidang Pembangunan Kebudayaan Nomor
8 Tabun 2018 Tentang
Petunjuk Operasional dan
Alokasi Khusus Fisik Bidang
Pembangunan : E.
Pemahamn Teknis : 2
PemahamanTentang Bahan
Bangunan (Il)
4 Pekerjaan Atap 1. PerMen RI Nomor 16 Tahun 2021 Tentang Peraturan 1. Lampiran Il : Standar
dan Plafond Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2023 Pelaksanaan dan
Tentang bangunan Gadung Pengawasan
2. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bangunan Gedung.
Nomor 8 Tahun 2018 Tentang Petunjuk Operasional (g) Pekerjaan
dan Alokasi Khusus Fisik Bidang Pembangunan Arsitektural
(6)Rangka dan
Penutup Plafond
2. Lampiran Il : Standar
Pelaksanaan dan
Pengawasan
Bangunan Gedung.
(g) Pekerjaan
Arsitektural (10)
Penutup Atap
3. Lampiran IV :
Peraturan Menteri
Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor
8 Tahun 2018
Tentang Petunjuk
Operasional dan
Alokasi Khusus Fisik
Bidang
Pembangunan : E.
Pemahamn
Teknis : 2
Pemahaman
Tentang
Bahan Bangunan Il
5 Pekerjaan 1. PerMen RI Nomor 16 Tahun 2021 Tentang Peraturan 1. Lampiran Il : Standar
Pengecatan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2023 Pelaksanaan dan
Tentang bangunan Gadung Pengawasan
2. KepMen KetenagaKerjaan RI Nomor 310 Tahun 2016 Bangunan Gedung,
Tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja (g) Pekerjaan
Nasional Indonesia Kategori Konstruksi Golongan Arsitektural (12) Cat
Pokok Konstruksi Khusus Pada Jabatan Kerja Tukang 2. F.433032.001.01
Cat bangunan Gedung Mengatur Kegiatan
Pengecatan.
3. [Link],
Melakukan
Penanganan
Material Cat
6 Pekerjaan Elektrikal 1. PerMen Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2 1. Bab Il Pemberlakuan
Tahun 2018 Tentang Pemberlakuan Wajib Standar SNI Pasal 3
Nasional Indonesia di Bidang Ketenagalistrikan. 2. Lampiran Il : Standar
2. PerMen RI Nomor 16 Tahun 2021 Tentang Peraturan Pelaksanaan
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2023 dan Pengawasan
tentang bangunan gedung Bangunan Gedung.
(d) Pekerjaan
Elektrikal (l)
D PEKERJAAN LAIN-LAIN
PerMen RI Nomor 16 Tahun 2021 Lampiran Il : Standar
Tentang Peraturan Pelaksanaan Pelaksanaan dan
Undang — undang Nomor 28 T abun Pengawasan Bangunan
2023 T entan Gedung. (i) Pekerjaan
an unan Gadun Pengakhiran
5. Pernyataan Penetapan Tingkat Resiko Keselamatan Kontruksi
Berdasarkan Hasil identifikasi bahaya untuk pelaksanaan pekerjaan :
PENAMBAHAN RUANG KELAS BARU
Nama Paket Pekerjaan :
SDN CIKERUT
Lokasi Pekerjaan : Kecamatan Cibeber Kota Cilegon
Maka dengan ini menetapkan bahwa Tingkat Resiko Keselamatan kontruksi
untuk paket pekerjaan sebagai mana dimaksud di atas adalah :
RESIKO KESELAMATAN KONTRUKSI (BESAR/SEDANG/KECIL)*
*Coret yang tidak perlu
Jabatan : Direktur CV. GAMAPLAN CONSULTANT
Nama : Yudhia Rosadhan, ST.
Tanda Tangan :
6. Dukungan Keselamatan Kontruksi
A. Biaya system Manajemen Keselamatan Kontruksi
Perhitungan Biaya penerapan SMKK mengacu pada ketentuan dalam
batang tubuh Peraturan Menteri dan Lampiran biaya Penerapan SMKK
(terlampir) :
No Rincian Biaya volume Satuan Harga Satuan Jumlah Harga
1 Spanduk 1,00 Bh - -
2 Topi Pelindung 5,00 Bh - -
3 Pelindung Mata 20,00 Psg - -
4 Rompi Proyek 5,00 Bh - -
5 Sarung Tangan 20,00 Psg - -
6 Sepatu 20,00 Psg - -
7 Peralatan P3K 1,00 Bh - -
8 Rambu Informasi 1,00 Bh - -
9 PickUp 1 Unit - -
10 Concrete Mixer 1 Unit - -
11 Mesin Bor Listrik 1 Unit - -
12 Mesin Potong 1 Unit - -
Keramik
13 Schaffolding 1 Unit - -
B. Kebutuhan Personil Keselamatan kontruksi
Jumlah Personil Keselamatan Kerja masing-masing Lokasi Pekerjaan
No Jabatan Jumlah
1 Pelaksana Lapangan (Site Manager) 1 Orang
2 Petugas K3 1 Orang
C. Komunikasi dan Informasi Telekomunikasi
1. Tujuan
Memberikan pedoman untuk penyebarluasan atau mengkomunikasikan
informasi- informasi lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja
kepada pihak internal dan eksternal perusahaan secara efektif.
2. Ruang Lingkup
Prosedur ini berlaku untuk seluruh fasilitas operasi dan semua pihak yang
bekerja di area tersebut. Hal-hal yang diatur dalam prosedur ini adalah
cara untuk menyebarluaskan informasi-informasi terkait dengan
lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) kepada pihak internal
maupun eksternal Perusahaan.
3. Definisi
3.1. Informasi K 3,
yaitu informasi tentang lingkungan, keselamatan dan kesehatan
kerja yang mliputi :
Peraturan perundangan K3 Indonesia dan Internasional
Standar Nasional Indonesia dan Internasional
Kebijakan terpadu dan EHS Management System Manual.
Kondisi bahaya, laporan inspeksi dan laporan & hasil
investigasi kecelakaan kerja, Laporan internal / eksternal
audit dan hasil rapat tinjauan ulang manajemen
Prosedur dan instruksi keria K3
Risalah rapat bulanan / khusus P2K3, pelatihan-pelatihan K3
Tanda-tanda, peringatan bahaya dan tanda / peringatan K3
lainnya
Informasi-informasi lainnya yang terkait dengan K3.
3.2. Prosedur
a. Tanggung Jawab
Pelaksana K3 bertanggung jawab untuk senantiasa
berkoordinasi baik secara internal maupun eksternal
perusahaan (Kementerian Lingkungan Hidup, Depnaker
Propinsi, Kab. / Kodya, Bapedalda Propinsi / Kabupaten /
Kotamadya, Depkes, Pemda dan institusi lain terkait
berkaitan dengan aspek K3 yang bertujuan untuk
memastikan bahwa peraturan dan perundangan,
standar, dan informasl K3 lainnya senantiasa up to date /
terbaru dan dikomunikasikan / diinformasikan pada
departemen terkait di dalam lingkungan operasi
perusahaan.
Pelaksana K3 bertanggungjawab untuk
menginformasikan ketentuan - ketentuan K3 perusahaan
kepada supplier/pemasok dan kontraktor/subkontraktor
yang akan memasok barang/jasa di lingkungan operasi
perusahaan.
b. Komunikasi
Komunikasi internal
Karyawan perusahaan diberikan atau mendapat
informasl mengenai pedoman dan prosedur Sistem
Manajemen Lingkungan, Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) serta pelaksanaannya di
lingkungan perusahaan, melalui kegiatan
pelatihan dan pelaksanaannya dikoordinir oleh
Technical Training Department.
Tanda-tanda peringatan (poster, sign, label, dll)
disediakan oleh EHS Department dengan terlebih
dahulu masing-masing Kepala Departemen
melampirkan hasil identifikasi bahaya dan
penilaian resiko di departemennya disertai dengan
Formulir pengajuan permintaan tanda-tanda
peringatan K 3.
Komunikasi Eksternal
Personil K3 menghubungi instansi-instansi terkait
(misal: Kanwil Depnaker / Dinas Depnaker
Kabupaten / Kotamadya, Bapedal, Depkes dan
sebagainya) untuk mendapatkan informasi
terkini mengenai peraturan perundangan
berkaitan dengan K3 di Indonesia.
Laporan kecelakaan kerja dan hasil
penyelidikannya disiapkan oleh EHS Manager dan
disampaikan kepada Kepala Operasi, Ketua P2K3
tembusannya kepada pihak Kanwil Depnaker
setempat.
Informasi-informasi yang berkaitan dengan kondisi
darurat / emergency yang terjadi di perusahaan
diatur dan mengikuti prosedur komunikasi tanggap
gawat darurat.
c. Konsultasi K3
Konsultasi ini bisa dilakukan di Internal perusahaan untuk
melibatkan karyawan maupun dengan pihak eksternal,
seperti Perguruan Tinggi, Instansi Pemerintah terkait,
Lembaga Swadaya Masyarakat, perusahaan asuransi,
konsultan K 3, dsb.
Beberapa contoh konsultasi K3 adalah :
o Konsultasi dengan wakil karyawan dalam
pembuatan kebijakan K3
o Konsultasi dengan karyawan yang ahli maupun
dengan pihak eksternal untuk pemenuhan
terbadap peraturan perundangan dan
persyaratan lainnya
o Konsultasi dengan Perguruan Tinggi atau lembaga
penelitian dalam usaha pencegahan
pencemaran lingkungan dan pemanfaatan
limbah
o Konsultasi dengan pihak konsultan eksternal untuk
usaha-usaha peningkatan perilaku dan kinerja
karyawan terkait dengan K 3
d. Motivasi dan Kesadaran
Komunikasi dan konsultasi K3 tersebut akan meningkatkan
motivasi dan kesadaran semua orang baik karyawan maupun
pihak ketiga yang berada di area operasi perusahaan untuk
menerapkan, mengembangkan dan memelihara sistem
manajemen K3 untuk memperbaiki kinerja K3 secara
menyeluruh.
7. RANCANGAN PANDUAN KESELAMATAN PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN
KONTRUKSI BANGUNAN
A. LANDASAN NORMATIF
1. Peraturan menteri pekerjaan umum Pemeliharaan bangunan Gedung
nomor 24/PRT/M/2008 tentang pedoman pemiliharaan,
2. Peraturan menteri pekerjaan umum nomor 45/ PR T/ M/ 2008 tentang
pedoman pembangunan bangunan gedung,
3. Undang-undang Republik Indonesia No 28 tahun 2002 tentang bangunan
gedung.
B. DASAR TEORI
1. BANGUNAN GEDUNG
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 28 tahun 2002 tentang
bangunan gedung.
Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang
menyatu dengan tanah, sebagaian atau seluruhnya berada diatas dan
atau di dalam tanah dan atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia
melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan
khusus.
Menurut PERMEN 45/ PRT/M/2007 yang dimaksud dengan bangunan
Negara adalah Bangunan gedung untuk keperluan dinas yang menjadi
atau akan menjadi kekayaan milik Negara dan diadakan dengan sumber
pembiayaan yang berasal dari dana APBD, dan perolehan lainnya yang
sah, antara lain kantor, gedung sekolah, gedung rumah sakit, gudang,
rumah Negara, dan lain-lain Seperti : gedung
2. PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN BANGUNAN GEDUNG
Pemeliharaan bangunan gedung adalah kegiatan memperbaiki dan atau
mengganti bagian bangunan gedung, komponen, bahan bangunan dan
atau prasarana dan sarana agar bangunan gedung tetap layak fungsi
(PER MEN 24/ PR T/ M/ 2008).
a. Latar Belakang
Pemeliharaan dan Perbaikan Bangunan Gedung Bangunan
digunakan untuk mendukung tercapainya tujuan-tujuan dan juga
terlaksananya fungsi-fungsi pokok organisasi pemakai atau pengguna
bangunan secara optimal. Bangunan diharapkan dapat bersifat
fleksibel terhadap perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dalam
organisasi pemakai atau pengguna bangunan. Karena itulah,kegiatan
Pemeliharaan dan perbaikan bangunan sangat penting.
Pemeliharaan dan perbaikan bangunan merupakan bagian yang
integral dari tujuan dan fungsi organisasi pengguna atau pemakai
bangunan. Kurangnya perhatian terhadap kegiatan Pemeliharaan
dan perbaikan bangunan akan mengakibatkan dampak negatif pada
produktivitas kerja karena kondisi kerja yang kurang baik dan kurang
sehat.
b. Tujuan Pemeliharaan dan Perbaikan Gedung
Tujuan dari pekerjaan Pemeliharaan dan perbaikan adalah untuk
mengupayakan tercapainya atau memperpanjang umur pakai
rencana bahan, konstruksi bangunan atau meningkatkan fungsi serta
kekuatan bangunan. Sasaran dari pekerjaan pemeliharaan dan
perbaikan adalah untuk mengoptimalkan pemanfaatan gedung agar
tetap layak fungsi.
Tujuan utama dari kegiatan Pemeliharaan adalah sebagai berikut :
1. Untuk memperpanjang usia bangunan.
2. Untuk menjaga fungsi bangunan.
3. Untuk menjamin kesiapan oprasional peralatan, seperti dalam
menghadapi keadan darurat atau bencana.
4. Untuk menjamin keselamatan manusia yang mempergunakan
fasilitas bangunan tersebut.
5. Menghindari kerugian yang lebih besar dan gangguan
kenyamanan pengguna akibat kerusakan bangunan.
c. Manfaat Pemeliharaan dan Perbaikan Bangunan
Adapun manfaat dari Pemeliharaan dan pemeliharaan bangunan
adalah sebagai berikut :
1. Dapat memenuhuni kebutuhan sesuai rencana.
2. Menjaga kualitas bangunan
3. Membantu mengurangi pemakaian dan penyimpanan diluar batas
serta menjaga modal untuk waktu yang di tentukan sesuai
kebijakan.
4. Penggunaan biaya dapat di tekan serendah mugnkin dalam
melaksanakan Pemeliharaan dan pemeliharaan bangunan secara
efektif dan efisien.
d. Tipe Pemeliharaan/Perawatan
British Standard (BS.3811) melihat pekeriaan Pemeliharaan dapat
dilakukan ke dalam dua kondisi, yaitu :
1. Pemeliharaan yang dilakukan dengan suatu perencanaan
Pemeliharaan ini dilakukan dengan suatu analisis yang telah
ditentukan dan merupakan suatu pekerjaan rutin. Pemeliharaan ini
dibagi menjadi dua kategori :
a. Pemeliharaan pencegahan (preventive)
Pemeliharaan ini bersifat proaktif dimana Pemeliharaan
dilakukan untuk suatu kondisi yang apat diperkirakan
sebelumnya. Pemeliharaan Jenis Ini bertujuan untuk
mempertahankan keutuhan fisik rencana dasar dan untuk
meminimalkan biaya pemeliharaan korektif.
b. Pemeliharaan korektif (corrective)
Pemeliharaan ini bersifat reaktif dimana Pemeliharaan dilakukan
untuk rencana jangka pendek, termasuk reparasi minor, misalkan
untuk satu tahunan atau dua tahunan. Pemeliharaan ini
melibatkan perbaikan-perbaikan untuk mempertahankan fungsi
dari peralatan, fungsi utilitas, dan fungsi fasilitas bangunan.
2. Pemeliharaan yang dilakukan dengan tanpa perencanaan
Pemelibaraan ini dilakukan apabila diperlukan untuk mencegah
akibat yang lebih besar, misalkan Pemeliharaan untuk kerusakan
besar peralatan atau keselamatan kerja, Kegiatan Pemeliharaan
selanjutnya dapat dibagi ke dalam tiga tingkatan, yaitu :
a. Servis (Servicing)
Merupakan pelayanan kebersihan yang dilakukan secara
teratur dengan interval waktu tertentu dan biasanya disebut
dengan pemeliharaan harian.
b. Perbaikan (Rectification)
Merupakan kegiatan yang sering terjadi pada awal usia
gedung yang diakibatkan oleh kesalahan disain, ketidak
sesualan komponen, kerusakan pada saat Instalasi dan
kesalahan pemasangan.
c. Penggantian (Replacement)
Merupakan kegiatan yang tidak bisa dihindari karena kondisi
layan material yang menurun pada tingkat yang berbeda.
e. Jadwal Prosedur Pelaksanaan Pemeliharan/Perawatan Bangunan
Apabila ditinjau dari segi jadwal pelaksannaan perawatan dan
pemeliharaan adalah sebagai berikut :
1. Perawatan Tahunan/Year to year maintenance (Periodic
Maintenance)
Adalah perawatan bangunan gedung yang sifatnya tidak rutin ada
setiap tahun, dapat direncanakan jauh sebelumnya dan tidak
mendesak untuk diperbaiki segera. Kegiatan ini dapat disebut
sebagai rehabilitasi, contohnya perbaikan yang dilakukan karena
adanya:
a. Rencana perubahan organisasi atau pengembangan organisasi
yang memerlukan ruang tambahan
b. Rencana perbaikan struktur bangunan karena adanya
perubahan bangunan dan lain sebagainya
2. Perawatan Harian/Day to day maintenance (Preventive
Maintenance
Adalah perawatan yang sifatnya berulang setiap tahun, besar
kerusakan dan biaya dapat diestimasikan berdasarkan
pengalaman sebelumnya antara lain menyangkut pemeliharaan
atap, kebocoran talang, saluran pembuang, pengecatan dinding
dan lain-lain.
3. Perawatan darurat/Emergency Maintenance
Adalah perawatan yang sifatnya mendesak akibat suatu bal yang
tidak diduga dan tidak rutin, antara lain kerusakan yang diakibatkan
oleh gempa, banjir, kebakaran, dan lain-lain.
f. Program Perawatan dan Pemeliharaan Bangunan
Program perawatan dan pemelihaaraan bangunan merupakan suatu
usaha untulk memberikan beban pekerjaan yang seimbang, dengan
membagi kedalam tingkatan. Adapun pemrograman dibagi kedalam
tiga tingkatan yakni :
1. Program Jangka Pendek (bulanan)
Program ini dilakukan untuk mengurangi beban pekerjaan pada
program tahunan dan juga dapat menghitung biaya perawatan
pekerjaan. Program jangka pendek adalah perawatan yang
sifatnya berulang setiap tahun. Secara garis besar biayanya dapat
diestimasikan sebagai berikut :
a. Total biaya tahunan dibagi kedalam pekerjaan rutin dan
emergency
b. Menentukan besaran biaya untuk pekerjaan yang akan
dikontrakkan
c. Menentukan besaran biaya untuk pekerjaan yang dilakukan
secara swakelola.
2. Program Jangka Menengah (tahunan)
Program ini adalah program yang menghitung biaya perawatan
dengan tingkat kerusakan ringan, sedang, dan berat, yang dalam
pelaksanaannya dilakukan dalam bulanan. Tujuan dari program
tahunan adalah membuat program yang direncanakan dan
diterapkan serta disesuaikan dengan kondisi di lapangan terakhir
dan juga besar anggarannya sehingga lebih akurat selama satu
tahun yang akan datang. Pertimbangan utama program ini adalah:
a. Penentuan jadwal pekerjaan yang disesuaikan dengan
kegiatan organisasi sehingga tidak mengganggu pelaksanaan
kegiatan.
b. Mengelompokkan pekerjaan yang sejenis sehingga dapat
dikerjakan bersama.
c. Menetapkan jadwal untuk pekerjaan yang akan di tenderkan
d. Pembagian biaya sesual dengan pekerjaan agar pengendalian
lebih mudah dilakukan.
3. Program Jangka Panjang
Program jangka panjang atau program lima tahunan ini berisikan
pekerjaan-pekerjaan yang tidak terinci, hanya sebagai kerangka
kebiiakan dalam menentukan besaran anggaran biaya yang
direncanakan, dan perawatan jangka panjang ini biasanya dibuat
kedalam grafik Maintenance profil dengan maksud untuk
mengetahui tingkat kerusakan bangunan gedung serta dapat
diprediksi kerusakan-kerusakannya sampai umur ekonomis
bangunan. Tujuan dari program jangka panjang adalah :
a. Menentukan anggaran perawatan pada tingkat yang masih
umum untuk mencapai bangunan dalam kondisi standar
b. Mencegah besarnya fluktuasi pada anggaran tahunan dengan
cara perataan item-item besar pekerjaan dan sisa dari
pekerjaan yang tidak dapat ditangani pada saat itu akan
dikerjakan pada periode berikutnya,
c. Menentukan waktu yang tepat dan optimum untuk pelaksanaan
pekerjaaan perbaikan sehingga tidak mengganggu penghuni.
d. Menentukan struktur dan staf organisasi pemeliharaan dan
apakah akan lebih menguntungkan apabila dengan
menggunakan tenaga kerja langsung untuk menangani
perbaikan, atau lebih baik pekerjaan penanganannya
diserahkan seluruhnya pada pihak ketiga.
Rencana perawatan gedung jangka panjang adalah rencana
untuk melakukan perawatan kedepan hingga sampai dengan umur
rencana gedung. Umur rencana gedung berbeda-beda sesuai
dengan jenis dan kualitas gedung. Rencana jangka panjang ini
berupa rencana perawatan komponen gedung sesuai siklus umur
masing-masing komponen. Rencana im termasuk perhitungan
estimasi biaya pertahun sampai dengan umur bangunan gedung.
g. Perawatan Elemen Bangunan
Perawatan elemen bangunan harus diperhatikan dengan serius agar
diperoleh hasil yang maksimal dan pada gilirannya berakibat semakin
terpeliharanya kondisi bangunan. Bangunan yang terpelihara baik
akan menguntungkan pihak pemilik maupun pihak pengguna. Agar
kegiatan perawatan dapat terselenggara dengan lancar maka
tinjauan terhadap elemen bangunan yang akan dirawat dibagi
berdasarkan elemennya seperti terlihat pada Gambar berikut ini :
Tabel Perawatan/Pemeliharan elemen-elemen bangunan
Sumber : PerMen PU (No.24/PRT/M/2008
h. Perawatan Elemen Bangunan
Menurut Peraturan Menten Pekerjaan Urnum nomor 24/ PRT/M/2008
intensitas kerusakan bangunan dapat digolongkan atas tiga tingkat
kerusakan, yaitu:
1. Kerusakan ringan
a. Kerusakan ringan adalah kerusakan terutama pada komponen
non-struktural, seperti penutup atap, langit-langit, penutup
lantai, dan dinding pengisi.
b. Perawatan untuk tingkat kerusakan ringan, biayanya maksimum
adalah sebesar 35% dari harga satuan tertinggi pembangunan
bangunan gedung baru yang berlaku, untuk tipe/klas dan lokasi
yang sama.
2. Kerusakan sedang
a. Kerusakan sedang adalah kerusakan pada sebagian
komponen non-struktural, dan atau komponen struktural seperti
struktur atap, lantai, dan lain-lain.
b. Perawatan untuk tingkat kerusakan sedang, biayanya
maksimum adalah sebesar 45% dari harga satuan tertinggi
pembangunan bangunan gedung baru yang berlaku, untuk
tipe/klas clan lokasi yang sama.
3. Kerusakan berat
a. Kerusakan berat adalah kerusakan pada sebagian besar
komponen bangunan, baik struktural maupun non-struktural
yang apabila setelah diperbaiki masih dapat berfungsi dengan
baik sebagaimana mestinya.
b. Biayanya maksimum adalah sebesar 65% dari harga satuan
tertinggi pembangunan bangunan gedung baru yang berlaku,
untuk tipe/klas dan lokasi yang sama.
i. Penyebab Kerusakan Bangunan
Faktor Usia Bangunan / Komponen Bangunan
Bangunan gedung sebagaimana barang konstruksi lainnya akan rusak
karena umur. Gedung yang terdiri dari beberpa komponen, umur
komponennya tidak sama, sebagai contoh seperti tabel dibawah ini
Kebanyakan bangunan gedung permanen direncanakan sekitar 50
tahun sampai dengan 60 tahun, rencana umur ini adalaln didasarkan
ada umur fisik komponen utanna gedung, misal komponen struktur dari
beton bertulang.
Komponen lain yang umurnya tidak mencapai umur rencana
bangunan akan mengalami kerusakan dan penggantian yang baru,
missal genting beton yang berumur 15 - 25 tahun akan menggalami
penggantian satu kali, pintu kayu yang berumur 10 - 20 tahun akan
mengalami penggantian dua kali.
C. PENGERTIAN OPERASI
Nilai Fungsional dalam suatu proyek akan tergantung pada keputusan dan
penerapan dari sasaran yang telah dikembangkan pada tahapan-tahapan
sebelumnya dengan waktu operasi yang diproyeksikan untuk periode waktu
yang ditentukan secara berlanjut akan meniadi jelas bahwa biaya
keseluruhan dan nilai bagi pihak pemilik selama masa operasinya sebagian
besar ditentukan selama periode dari konsepsi ke stadium/tahap memulai
kerja.
Kelompok-kelompok yang terlibat dalam tahap ini dimulai dari para pemilik
yang melaksanakan upaya Pemeliharaan, menjaga dan spesialis peralatan,
sampai pada staf dinas pekerjaan umum dalam pemeliharaannya dan
diteruskan ke professional staff atau teknisi yang terlatih dalam
pengoperasiannya. Bila dilakukan perubahan besar ataupun perluasan,
maka tahap pengoperasian ini juga melibatkan suatu pendaurulangan
melalui tahap-tahap pada prosedur yang telah ditentukan sebelumnya.
Operasional dalam suatu infrastruktur secara umum memiliki beberapa
komponen, yaitu;
Service Delivery Structure;
Management Practices.
Organization;
Staffing;
Operations Management; dan
Human Resource Management.
PERENCANAAN OPERASI KESELAMATAN KONSTRUKSI
Perencanaan operasional berupa prosedur kerja /petunju k kerja, yang
mencakup seluruh upaya pengendalian, diantaranya :
1. Upaya pengendalian berdasarkan lingkup pekerjaan
2. Rencana penunjukan personil yang akan ditugaskan menjadi
Penganggung Jawab Kegiatan SMK3
3. Prediksi dan rencana penanganan kondisi keadaan darurat tempat kerja
4. Rencana prosedur / petuniuk kerja yang perlu disiapkan
5. Rencana program pelatihan / soisalisasl sesuai pengendalian resiko
6. Sistem pertolongan per tama pada kecelakaan
7. Persyaratan Operator Alat Angkat
a. Operator Alat Angkat harus memenuhi kompetensi
b. Setiap Operator alat angkat harus memiliki SIO (Surat Izin Operasi)
atau bersertifikat yang di keluarkan oleh Badan yang berwenang
8. Rambu Peringatan / Larangan / Anjuran
a. Penempatan Rambu-rambu peringatan/larangan/anjuran harus
dipasang sesuai dengankondisi di tempat kerja
b. Rambu peringatan/larangan/anjuran harus mudah dilihat dan dapat
dibaca
9. Alat Pelindung Diri
a) Alat pelindung diri diidentifikasi berdasarkan hasil penilaian risiko
b) Alat pelindung diri (APD) diberikan kepada pekerja sesuai dengan jenis
pekerjaan
10. Tamu/pengunjung dan pihak luar
a) Pengendalian dan pembatasan akses masuk dan akses keluar tempat
kerja
b) Persyaratan APD (Alat Pelindung Diri) Induksi 3
c) Prosedur dan Persyaratan tanggap darurat.
D. PENGERTIAN PEMELIHARAAN
Pemeliharan (maintenance) bangunan adalah sangat penting dan perlu
setelah bangunan tersebut selesai dibangun dan dipergunakan.
Pemeliharaan ini akan membuat umur bangunan tersebut menjadi lebih
panjang, ditinjau dari aspek : kekuatan, keamanan, dan penampilan
(performance) bangunan. Bahwa berhasil atau tidaknya suatu
pembangunan gedung dapat dilihat dari usia pemakaian bangunan sesuai
dengan rancangan bangunannya dan tata cara pemeliharaan terhadap
bangunan ltu sendiri.
Pada umumnya usia suatu bangunan diperhitungkan ± 20 tahun. Oleh karena
itu, pekerjaan pemeliharaan sangat penting dan dilakukan pada tahap pra
konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi secara rutin, terus menerus dan
periodik dengan memperhatikan spesifikasi teknis bahan. Dengan adanya
pemeliharaan yang rutin maka diharapkan bila teriadi kerusakan tidak
memerlukan biaya perbaikan / pemeliharaan yang tinggi.
Menurut definisi istilah pemeliharaan pada kenyataannya menunjuk kepada
fungsi pemeliharaan secara keseluruhan yang bisa dibayangkan, dan
sebagai hasilnya, kata tersebut dengan longgar digunakan dalam Industri
untuk menunjukan setiap perkeriaan yang dikerjakan oleh pekerja bagian
pemeliharaan.
Dalam organisasi manufaktur, istilah perekayasa pabrik (work engginering)
tehah umum dipakai untuk mencakup instalasi, pengetesan, pemeliharaan,
penggantian, dan pemindahan pabrik, mesin-mesin dan sebagainnya. Tetapi
istilah ini jarang dipakai pada organisasi jasa, pelayanan perkotaan dan
angkutan perang.
Istilah baru “teroteknologi” mencakup seluruh situasi-situasi ini, meskipun
sekarang ini diragukan penerimaan secara umum istilah manajemen
teroteknologi atau teromanajer. Manajemer pemeliharaan bertanggung
jawab terhadap fungsi manajemen teroteknologi, yang dipandang dari aspek
manajemen, jarang sekali dapat dipisahkan dari manajemen pemeliharaan
murni, kecuali mungkin dalam organisasi yang besar.
Memelihara pada suatu standar yang bisa diterima merujuk pada standar
yang ditentukan oleh Organisasi yang melakukan pemeliharaan. Hal ini
berbeda dari satu organisasi dengan yang lain, tergantung keadaan
industrinya dan sepadan dengan nilai yang ditetapkan berdasar standar yang
tinggi. Kadang- kadang standar pemeliharaan yang diperlukan juga
ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan dan harus ditaati.
Tujuan pemeliharaan yang utama dapat didefinisikan dengan jelas sebagai
berikut;
1. Untuk memperpanjang usia kegunaan asset (yaitu setiap bagian dari suatu
tempat kerja, bangunan dan isinya). Hal ini terutama penting di negara
berkembang karena kurangnya sumber daya modal untuk penggantian.
Di negara-negara maju kadang-kadang lebih menguntungkan untuk
mengganti daripada memelihara
2. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk
produksi (atau jasa) dan mendapatkan laba investasi (return of investment)
maksimum yang mungkin.
3. Untuk meniamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang
diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu, misalnya unit cadangan,
unit pemadam kebakaran dan penyelamatan, dan sebagainnya.
4. Untuk meniamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut.
Sampai tahun-tahun terakhir ini belum ada istilah atau kamus universal yang
digunakan untuk berbagai aspek pemeliharaan, dan hal lain ini cenderung
memperluas salah pengertian di antara para Insinyur.
Sebagai usaha untuk memperbaiki situasi ini, Lembaga Standar Inggris
mengeluarkan BS3811:1964, Himpunan Istilah Umum yang digunakan dalam
Organisasi Pemeliharaan (Glossary of General Terms used in Maintenance
Organization), yang dipersiapkan besama-sama dengan organisasi-organisasi
seperti lembaga insinyur professional, departemen-departemen pemerintah
dan organisasi seperti lembaga insinyur yang terkemuka. Daftar ini telah
dikeluarkan ulang dalam BS3811:1974, Istilah-istilah pemeliharaan dalam
teroteknologi (Maintenance Terms in Terotechnology).
Kerja pemeliharaan bisa terencana ataupun terencana. Hanya ada satu
bentuk pemeliharaan tak terencana, yaitu pemeliharaan darurat, yang
didefinisikan sebagai pemeliharaan dimana perlu segera dilaksanakan
tindakan untuk mencegah akibat yang serius, misalkan hilangnya produksi,
kerusakan besar pada peralatan, atau untuk alasan keselamatan kerja.
Pemeliharaan terencana dibagi menjadi dua aktivitas utama, pencegahan
dan korektif, kedua- duanya didefinisikan dengan jelas dalam BS3811.
Bagian utama dari pemeliharaan pencegahan meliputi pemeriksaan yang
berdasarkan pada 'lihat, rasakan, dan dengarkan' dan penyelesaian minor
pada selang waktu yang telah ditentukan serta penggantian komponen
minor yang ditemukan perlu diganti pada saat pemeriksaan.
Pemeliharaan korektif meliputi reparasi minor, terutama untuk rencana jangka
pendek, yang mungkin timbul di antara pemeriksaan, juga overhaul
terencana misalnya overhaul tahunan atau dua tahunan, suatu perluasan
yang direncanakan dalam rincian untuk jangka panjang sebagai hasil
pemeriksaan pencegahan.
Bagan hubungan antar bagian bentuk pemeliharaan
Berikut beberapa contoh pemeliharaan yang dilaksanakan :
1. Pemeliharaan darurat (emergency maintenance); pemeliharaan yang
perlu segera dilakukan untuk mencegah akibat yang serius.
2. Pemeliharaan terencana (planned maintenance); pemeliharaan yang
diorganisasi dan dilakukan dengan pemikiran masa depan, pengendalian
dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan
scbelumnya.
3. Rusak (breakdown); kegagalan yang dihasilkan ketidaktersediaan suatu
alat.
4. Pemeliharaan korektif (corrective maintenance); pemeliharaan yang
dilakukan untuk memperbaiki suatu bagian (termasuk penyetelan dan
reparasi) yang telah terhenti untuk memenuhi suatu kondisi yang bisa
diterima.
5. Pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance); pemeliharaan
yang dilakukan pada selang waktu yang ditentukan sebelumnya, atau
terhadap kriteria lain yang diuraikan, dan dimaksudkan untuk mengurangi
kemungkinan bagian-bagian lain tidak memenuhi kondisi yang diterima.
6. Pemeliharaan jalan (running maintenance); pemeliharaan dipakai yang
dapat dilakukan selama mesin berjalan
7. Pemcliharaan berhenti (shutdown maintenance); pemcliharaan yang
banya dapat dilakukan selama mesm berhenti.
8. Perbaikan menyeluruh (overhaul); pengujian dan perbaikan menyeluruh
dari suatu alat, atau sebagian besar bagiannya sampai suatu kondisi yang
bisa diterima.
9. Waktu nganggur (downtime); periode waktu dimana suatu alat tidak
berada dalam kondisi mampu memberikan unjuk kerja yang diharapkan.
10. Perencanaan pemeliharaan (maintenance planning); penentuan
sebelum pekerjaan, metode,bahan alat, mesin, pekerja, saat dan waktu
yang ditentukan.
Pemeliharaan sebagai pekerjaan rutin untuk meniaga kondisi infrastruktur agar
sedekat mungkin masih dalam tingkat pelayanan yang memadai. Sedangkan,
rehabilitasi didefinisikan sebagai perpanjangan umur struktur infrastruktur ketika
rekayasa pemeliharaan tidak lagi mampu memelihara pelayanan operasional
yang memadai.
Umumnya, pekerjaan pemeliharaan merupakan kegiatan untuk
mempertahankan kondisi kemampuan pelayanan infrastruktur yang layak,
sehingga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pengguna
infrastruktur tersebut. Pada pekerjaan rehabilitasi sebelumnya dibutuhkan lebih
dulu evaluasi struktur dan aksi-aksi perbaikan. Kerusakan yang memerlukan
pemeliharaan dapat digolongkan ke dalam 3 kategori, yaitu:
1. Kerusakan akibat buruknya pelaksanaan pekerjaan awal, sebagai akibat
kesalahan perancangan, lemahnya pengawasan, dan mutu material yang
kurang baik, dll.
2. Kerusakan akibat pemakaianan waktu, seperti: abrasi, pemasangan utilitas,
rapuhnya komponen inti dan pendukung, dll.
3. Kerusakan akibat sebab-sebab khusus, contohnya: kecelakaan, keadaan
darurat dan hal lain yang tidak terprediksikan.
E. TAHAPAN PELAKSANAAN
1. PERENCANAAN
Perencanaan pemeliharaan dibuat oleh pihak Dinas/pengelola bersama
dengan pihak-pihak terkait dan terlibat berdasarkan rencana prioritas hasil
inventarisasI. Dalam rencana pemeliharaan terdapat pembagian tugas,
antara para pihak yang terlibat dengan pemerintah diantaranya bagian
mana bisa ditangani pengguna dan bagian mana yang ditangani
pemerintah melalui Nota Kesepakatan kerjasama O&P. Penyusunan
rencana pemeliharaan meliputi:
1. Inspeksi Rutin.
Dalam melaksanakan tugasnya, pemelihara atau yang
mengoperasikan harus selalu mengadakan inspeksi/pemeriksaan
secara rutin di wilayah kerjanya tergantung dari ketentuan yang sudah
dibuat, untuk memastikan bahwa infrastruktur dapat berfungsi dengan
baik sesuai dengan ketentuan. Kerusakan ringan yang dijumpai dalam
inspeksi rutin harus segera dilaksanakan perbaikannya
sebagaipemeliharaan rutin. Selaniutnya Pengamat akan menghimpun
semua berkas usulan dan menyampaikannya ke dinas pada periode
waktu yang telah ditentukan.
2. Penelusuran infrastruktur Berdasarkan usulan kerusakan yang dikirim
oleh juru secara rutin, dilakukan penelusuran untuk mengetahui tingkat
kerusakan dalam rangka pembuatan usulan pekerjaan pemeliharaan
periode yang akan datang.
3. Identifikasi dan Analisis Tingkat Kerusakan.
Berdasarkan hasil inventarisasi dilakukan survai identifikasi
permasalahan dan kebutuhan pemeliharaan secara partisipatif, dan
dibuat suatu rangkaian rencana aksi yang tersusun dengan skala
prioritas serta uraian pekerjaan pemeliharaan. Dalam menentukan
kriteria pemeliharaan dilihat dari kondisi kerusakan fisik. Pada
hakekatnya pemeliharaan infrastruktur yang tertunda akan
mengakibatkan kerusakan yang lebih parah dan memerlukan
rehabilitasi lebih dini. Hasil identifikasi dan analisa kerusakan merupakan
bahan dalam penyusunan detail desain pemeliharaan.
4. Pengukuran Dan Pembuatan Detail Desain Perbaikan Infrastruktur.
a). Survai Dan Pengukuran Perbaikan Jaringan Irigasi
Survai dan pengukuran untuk pemeliharaan infrastruktur dapat
dilaksanakan secara sederhana oleh petugas Dinas/pengelola
bersama-sama dengan pihak yang terlibat dan terkait infrastruktur.
Hasil survai yang dituangkan dalam gambar skets atau diatas
gambar as built drawing. Sedangkan untuk pekerjaan perbaikan,
perbaikan berat maupun penggantian arus menggunakan alat-
alat tertentu untuk mendapatkan hasil yang akurat. Hasil survai dan
pengukuran ini selaniutnya digunakan oleh petugas
Dinas/pengelola infrastruktur dalam penyusunan detail desain.
b). Pembuatan Detail Desain.
Berdasarkan basil survai dan pengukuran disusun rancangan detail
desain dan penggambaran. Hasil rancangan detail desain ini
didiskusikan kembali dengan para pihak terkait dan terlibat sebagai
dasar pembuatan desain akhir.
5. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Rencana anggaran biaya dihitung berdasarkan perhitungan volume
dan harga satuan yang sesuai dengan standar yang berlaku di wilayah
setempat. Sumber-sumber pembiayaan pemeliharaan infrastruktur
berasal dari :
Alokasi biaya pemeliharaan dari sumber APBN, APBD,
atau DAK
Kontribusi biaya pemeliharaan oleh para pihak terkait
dan terlibat
Alokasi biaya dari badan usaha atau sumber lainnya
6. Penyusunan Program/ Rencana Kerja.
Rencana Program / Rencana kerja dibuat oleh Dinas/Pengelola
infrastruktur bersama pihak yang terkait dan terlibat. Untuk lebih teratur
dan terarah dalam mencapai tujuan kegiatan pemeliharaan
infrastruktur perlu adanya suatu program atau rencana kerja sebagai
berikut ;
Pekerjaan Yang Dilaksanakan Secara Swakelola
Pekerjaan yang dapat dilaksanakan dengan cara swakelola
antara lain adalah berupa pemeliharaan rutin, pemeliharaan
berkala yang bersifat perawatan, dan penanggulangan
Pemeliharaan Rutin .
Pekerjaan pemeliharaan rutin dilaksanakan secara
terus menerus sesuai dengan kebutuhan/hasil inspeksi
rutin juru.
Pelaksanaan oleh dinas/pengelola infrastruktur atau
oleh pihak yang terlibat dan terkait secara gotong
royong dengan bimbingan teknis dari
dinas/pengelola infrastruktur.
Pemeliharaan Berkala
Pekerjaan dilaksanakan secara periodik disesuaikan
dengan tersedianya anggaran
Pelaksanaan secara swakelola oleh dinas/pengelola
infrastruktur atau dapat melibatkan pihak terlibat atau
terkait.
Pekerjaan erupa perawatan
Penanggulangan
Pekerjaan bersifat darurat agar bangunan dan
saluran segera berfungsi,
Pelaksanaan oleh dinas bersama masyarakat dengan
cara gotong royong.
Pekerjaan Yang Dapat Dikontrakkan
Pekerjaan bersifat perbaikan, perbaikan berat, dan
penggantian.
Pelaksanaan melalui pihak ketiga (kontraktor).
2. PELAKSANAAN
Pelaksanaan pemeliharaan dilakukan berdasarkan detail desain dan
rencana kerja yang telah disusun oleh Dinas/Pengelola infrastruktur
bersama dengan pihak yang terlibat atau terkait. Adapun waktu
pelaksanaannya menyesuaikan dengan jadwal yang telah disepakati dan
ditetapkan oleh Bupati/Walikota/Gubernur sesuai kewenangannya.
Pelaksanaan pemeliharaan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
a. Persiapan Pelaksanaan Pemeliharaan
Sebelum kegiatan pemeliharaan dilaksanakan perlu dilakukan
sosialisasi kepada para pihak yang terkait dan terlibat, tentang waktu,
jenis kegiatan, jumlah tenaga, bahan, peralatan yang harus disediakan
dan disesuaikan dengan jenis, sifat pemeliharaan dan tingkat
kesulitannya.
Pekeriaan pemeliharaan yang akan dilaksanakan oleh pihak
ketiga perlu dilakukan persiapan yang menyangkut Pengusulan
kebutuhan bahan, penyediaan tenaga, pengaturan regu kerja,
pelatihan praktis mengenai jasa konstruksi dan jaminan mutu
agar tercapainya kualitas pekerjaan sesuai spesifikasi yang
ditetapkan.
Pekeriaan yang akan dilaksanakan oleh kontraktor. Disusun
dalam paket-paket pekerjaan yang menggambarkan lokasi,
jenis pekerjaan, rencana biaya dan waktu pelaksanaannya.
Dalam perjanjian kontrak antara Dinas/Pengelola infrastruktur
dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat
antara lain :
Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat
kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia.
Adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan
semua pihak mengenai jam kerja, upah kerja dan hal-hal
lainnya.
b. Pelaksanaan Pemeliharaan
Pihak-pihak yang terlibat dan/atau kontraktor dalam
melaksanakan pekerjaan pemeliharaan wajib memahami an
menerapkan persyaratan teknis yang telah ditetapkan oleh
Dinas/Pengelola infrastruktur.
Pelaksanaan pemeliharaan tidak mengganggu atau
disesuaikan dengan kelancaran kegiatan lingkungan sekitar
Dinas/Pengelola infrastruktur wajib menyampaikan kepada
masyarakat mengenai periode waktu pelaksanaan
pemeliharaan.
Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan oleh pihak terlibat agar
sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan, perlu
adanya bimbingan dari tenaga pendamping lapangan.
Untuk pekeriaan yang dilaksanakan kontraktor, sebagai kontrol
sosial pihak terlibat dapat berperan serta secara swadaya
mengawasi pekerjaan.
Setelah pekerjaan perbaikan selesai dikerjakan harus dibuat
berita acara bahwa pekerjaan perbaikan telah selesai
dilaksanakan dan berfungsi baik.
F. MONITORING DAN EVALUASI
1. PEMANTAUAN DAN EVALUASI
Pemantauan dan evaluasi pada pemeliharaan infrastruktur dilakukan
untuk kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan sendiri secara swakelola
ataupun dikontrakkan, baik untuk jenis pengamanan infrastruktur,
pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala dan
penanggulangan/perbaikan darurat.
a. Pemeliharaan Infrastruktur Yang Dilaksanakan Secara Swakelola.
Pemantauan untuk pekerjaan pemeliharaan infrastruktur yang
dilakukan secara swakelola baik pemeliharaan rutin maupun
pemeliharaan berkala dilakukan oleh Dinas/PengeloIa infrastruktur
bersama dengan pihak terkait. Pemantauan dilakukan terhadap
realisasi penggunaan sumberdaya yang meliputi : tenaga kerja, bahan
materi peralatan secara berkala dipantau dan dibandingkan dengan
program pemeliharaan rutin atau rencana yang telah ditetapkan.
Waktu pemantauannya dapat ditetapkan sesuai kesepakatan oleh
Dinas/Pengelola infrastruktur.
Setiap akhir periode dilakukan evaluasl untuk penyempurnaan proses
pemeliharaan yang sedang dijalankan di lapangan. Setiap akhir
pekerjaan dilakukan juga evaluasi untuk penyempurnaan kegiatan
pemeliharaan yang akan dating. Hasil evaluasi tersebut dikirimkan
kepada penanggungiawab pekerjaan. Juru/Pengamat infrastruktur
mencatat basil kegiatan pemeliharaan didalam buku catatan
pemeliharaan (BCP).
Didalam BCP dapat diketahui bagian fisik mana yang sudah dan yang
belum dilaksanakan pemeliharaannya.
b. Pemeliharaan Infrastruktur Yang Dilaksanakan Secara Kontraktual
Pemantauan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan infrastruktur yang
dilakukan secara kontraktual baik pemeliharaan berkala maupun
perbaikan/penggantian dilakukan oleh Dinas/Pengelola infrastruktur
dengan melibatkan peran serta pihak yang terkait dan terlibat.
1. Pemantauan Dan Evaluasi Mingguan
Pemantauan dan evaluasi kemajuan pekerjaan dilakukan secara
mingguan. Hal-hal yang dipantau dan dievaluasl secara mingguan
antara lain meliputi:
jenis dan volume pekerjaan;
rencana dan realisasi fisik dan keuangan;
nilai bobot (dlm %) yaitu biaya dibagi volume yang telah
dilaksanakan,
kemajuan basil pekerjaan;
nilai pelaksanaan (%) yaitu kemajuan basil pekerjaan
dibandingkan dengan nilai bobot seluruh kegiatan.
2. Pemantauan Dan Evaluasi Bulanan
pada setiap akhir bulan, dilakukan pemantauan dan evaluasi
bulanan yang mencakup :
jenis dan volume pekeriaan;
rencana dan realisasi fisik dan keuangan;
nilai bobot (dlm %) yaitu biaya dibagi volume yang telah
dilaksanakan,
kemajuan pekerjaan fisik (volume v.s. waktu);
nilai tertimbang (%) yaitu bobot kemajuan biaya serta kinerja
fisik.
Hasil pemantauan dan evaluasi tersebut terutama ditujukan untuk
keperluan perbaikan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan yang sedang
berjalan. Sedangkan untuk perbaikan perencanaan program
pemeliharaan, pemantauan dan evaluasi dilaksanakan pada setiap akhir
tahun. Dengan melihat hasil evaluasi tahunan tersebut, dapat dipelajari
masalah dan kekurangan yang pernah terjadi, sehingga dapat dilakukan
perbaikan rencana tahun berikutnya. Apabila pekeriaan sudah selesai,
penilaian hasil pekerjaan dilakukan terhadap kuantitas dan kualitas
pekerjaan. Juga evaluasi dilakukan terhadap fungsi atau kinerja
infrastruktur melalui penelusuran dan pengujian apangan (trial-run).
2. LAPORAN KEMAJUAN PELAKSANAAN
Laporan kemajuan pelaksanaan pekerjaan dilakukan secara berkala
meliputi:
Rekapitulasi kecelakaan kerja dengan mengacu pada pelaporan
dan penyelidikan kecelakaanyang sudah dibuat
Occupational Injury/ Illness (Cidera/Sakit Akibat Kerja)
Fatality (Meninggal Dunia)
Loss Work Day / Loss Time Injury (Hilang Hari Kerja)
Restricted Work Day (Kerja Terbatas)
Medical Treatment (Perawatan Kesehatan)
First Aid (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)
Laporan bulanan
Penggunaan ahan swakeIola
Realisasi pekerjaan yang diborongkan
3. PENINGKATAN KINERJA KESELAMATAN KONTRUKSI
Peningkatan kinerja keselamatan konstruksi dilakukan dengan melakukan
pemantauan, pengawasan, pelatihan dan pembahasan rapat SMK3 secara
periodik serta dengan melaksanakan audit secara menyeluruh dimulai pada
tahap pelaksanaan serta penyelesaian proyek.
Demikian Penyusunan Rencana Keselamatan Konstruksi, disusun sebagai
petunjuk dalam pelaksanaan Paket Pekerjaan tersebut.
Manajemen Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) akan terus diperbaharui demi
efektivitas pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan Kontruksi secara
berkeslnambungan.