0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan102 halaman

Praktik Manajemen Keperawatan RSUD Sidoarjo

Diunggah oleh

wayputri94
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan102 halaman

Praktik Manajemen Keperawatan RSUD Sidoarjo

Diunggah oleh

wayputri94
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DESIMINASI AWAL

PRAKTIK MANAJEMEN KEPERAWATAN


DIRUANG RAWAT INAP KELAS II TERATAI
ATAS RUMAH SAKIT UMUM DAERAH R.T
NOTOPURO SIDOARJO

Oleh Kelompok 2

1. 0324017 7. Syarifatul Faiqo 0324024


Dian Zuafidah
Mu’azaroh
2. Wahyuningsih 0324021 8. Aliyatus Siti 0324026
Putri Erna Khamidah
3. Dwi Nuzul 0324020 9. Dinda Oktavia 0324028
Romadhona Prayindra

4. Eliza Nova 0324022 10. Mar’ah Qonita Tillah 0324029


Nurcahyani
Periode 09 Desember 2024 – 05 Januari 2025
Disusun Sebagai Syarat Dalam Mencapai Kompetensi
Manajemen Keperawatan

Oleh Kelompok 2:

1. 0324017 7. Syarifatul Faiqo 0324024


Dian Zuafidah
Mu’azaroh
2. Wahyuningsih 0324021 8. Aliyatus Siti 0324026
Putri Erna Khamidah
3. Dwi Nuzul 0324020 9. Dinda Oktavia 0324028
Romadhona Prayindra

4. Eliza Nova 0324022 10. Mar’ah Qonita Tillah 0324029


Nurcahyani

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA
MOJOKERTO
2023-2024
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kami Kelompok 2
Program Studi Profesi Ners STIKES Dian Husada Mojokerto dapat menyelesaikan
Desiminasi awal Praktik Manajemen Keperawatan di Instalasi Rawat Inap Teratai Lantai
atas RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO. Dengan tersusunnya laporan ini, kami
mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:

1. Direktur RSUD Sidoarjo yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk
melaksanakan praktik profesi manajemen keperawatan di Instalasi Rawat Inap
Teratai Atas RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO.
2. Dr. Agus Santosa, [Link]., [Link] selaku Kasubag pendidikan dan pelatihan yang
telah mengizinkan melaksanakan praktik profesi manajemen keperawatan.
3. Puteri Indah Dwi Payanti [Link]., Ns., [Link] selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan arahan dan bimbingan dengan sabar kepada kami.
4. Edi selaku Kepala Ruangan yang telah memberikan kami kesempatan untuk
melaksanakan prsktik di Instalasi Rawat Inap Teratai Atas RSUD R.T NOTOPURO
SIDOARJO.
5. Ekowati selaku pembimbing ruangan yang telah memberikan bimbingan dan
dukungan kepada kami dengan sabar.
6. Semua Staf Ruang Rawat Inap Teratai Lantai Atas RSUD R.T NOTOPURO
SIDOARJO.

7. Seluruh teman-teman STIKES Dian Husada Mojokerto khususnya kelompok 2


Manajemen Keperawatan Ruang Rawat Inap Teratai Lantai Atas RSUD R.T
NOTOPURO SIDOARJO atas kerjasama dan partisipasinya.
Kami menyadari bahwa desiminasi awal praktik profesi Manajemen Keperawatan
yang kami buat ini banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik
yang membangundemi sempurnanya laporan ini.

Sidoarjo, 11 Desember 2024

Penyusun
i
DAFTAR ISI
Halaman Depan................................................................................................
Halaman Dalam................................................................................................
Halamn Lembar Pengesahan............................................................................i
Halaman Kata Pengantar..................................................................................ii
Halaman DaftarIsi.............................................................................................iii
Halaman Daftar Tabel.......................................................................................v
Halaman Daftar Gambar...................................................................................vii
BAB1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................... 1
1.2 Tujuan......................................................................................................1
1.2.1 Tujuan Umum.........................................................................................1
1.2.2 Tujuan Khusus ........................................................................................1
1.3 Manfaat2
1.3.1. Bagi Pasien .............................................................................................2
1.3.2. Bagi Perawat ...........................................................................................2
1.3.3. Bagi Rumah Sakit ...................................................................................2
BAB2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka.....................................................................................3
2.1.1 Definisi Manajemen Keperawatan .........................................................3
2.1.2 Fungsi Manajemen Keperawatan ...........................................................3
2.1.3 Komponen Manajemen Keperawatan.....................................................10
2.1.4 Proses Manajemen Keperawatan ............................................................18
2.2 Konsep Pengkajian Manajemen Keperawaan (M1-M2) ........................19
BAB3 PENGKAJIAN
3.1 Pengumpulan Data..................................................................................32
3.2 Visi, Misi, dan Motto..............................................................................32
3.2.1 Visi RSUD Sidoarjo ................................................................................32.
3.2.2 Misi RSUD Sidoarjo................................................................................32
3.2.3 Nilai Dasar RSUD Sidoarjo.....................................................................32
3.2.4 Motto RSUD Sidoarjo .............................................................................32
3.3 Pengumpulan Data..................................................................................34
3.3.1 M1– Man.................................................................................................34
3.3.2 M2-Material.............................................................................................41
3.3.3 M3-Methode ............................................................................................51
3.3.4 M4-Money ...............................................................................................64
3.3.5 M5-Mutu..................................................................................................67
3.3.6 Analisis SWOT ........................................................................................71

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manajemen merupakan proses pelaksanaan kegiatan organisasi melalui upaya orang lain
untuk mencapai tujuan bersama. Manajemen keperawatan di Indonesia perlu mendapatkan
prioritas utama dalam pengembangan keperawatan pada masa mendatang. Hal ini berkaitan
dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan
memerlukan pengelolaan secara professional, dengan memperhatikan setiap perubahan yang
terjadi di Indonesia. Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses keperawatan
sebagai satu metode perlakuan asuhan keperawatan secara profesional, sehingga diharapkan
keduanya dapat saling menopang (Gillies, 1986 dalam Nursalam, 2011).
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan dirasakan suatu
fenomena yang harus direspon oleh perawat. Respon yang ada harus kondusif dengan belajar
banyak tentang konsep pelaksanaannya. Langkah-langkah tersebut dapat berupa penataan
sistem model asuhan keperawatan profesional (MAKP) primer mulai dari ketenagaan atau
pasien, penetapan sistem MAKP primer, pembagian tugas tenaga perawat dan perbaikan
dokumentasi keperawatan dengan menerapkan prinsip SME (Sesuai standart, Mudah
dilaksanakan, Efisien dan efektif).
Di dalam Manajemen ada beberapa model atau gaya kepemimpinan dalam suatu
organisasi. Gaya kepemimpinan ini dapat diartikan sebagai suatu cara penampilan
karakteristik. Jenis gaya Kepemimipinan (Menurut Gillies 1996) Otoriter, Demokratis,
Pertisipatif, Bebas Tindak.
1.2 Tujuan

1.1.1 Tujuan Umum

Setelah melaksanakan praktik manajemen keperawatan, mahasiswa diharapkan dapat


menerapkan prinsip-prinsip manajemen keperawatan.
1.1.2 Tujuan Khusus

Setelah melaksanakan praktik klinik manajemen keperawatan, mahasiswa mampu:

1. Melaksanakan pengkajian di Ruang Rawat Inap Teratai Lantai Atas

2. Melaksanakan analisis situasi berdasarkan analisis SWOT.

3. Mengidentifikasi masalah

4. Menyusun rencana

1
5. Mengimplementasikan

6. Mengevaluasi

Menyusun rencana strategi operasional ruangan berdasarkan hasil


pengkajian model asuhan keperawatan profesional : (1) timbang terima, (2) ronde
keperawatan, (3) sentralisasi obat, (4) supervisi keperawatan, (5) discharg planning, 6
dokumentasi keperawatan.

1.3 Manfaat

1.3.1 Bagi Pasien

1. Tercapainya kepuasan pasien yang optimal.

1.3.2 Bagi Perawat

1. Tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal.

2. Terbinanya hubungan antara perawat dengan perawat, perawat dengan tim


kesehatan yang lain, dan perawat dengan pasien serta keluarga.

3. Tumbuh dan terbinanya akuntabilitas dan disiplin diri perawat.

4. Meningkatkan profesionalisme keperawatan

1.3.3 Bagi Rumah Sakit

1. Mengetahui masalah–masalah yang ada di Ruang Rawat Inap Teratai Lantai


Atas RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO yang berkaitan dengan pelaksanaan
asuhan keperawatan profesional.
2. Dapat menganalisis masalah yang ada dengan metode SWOT serta menyusun
rencana strategi.
3. Mempelajari penerapan model asuhan keperawatan profesional (MAKP) secara
optimal.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP MANAJEMEN KEPERAWATAN

2.1.1 Definisi Manajemen Keperawatan

Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan pro aktif dalam menjalankan
suatu kegiatan diorganisasi yang mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf
sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi. (Grant& Massey, 1999).

Sedangkan manajemen menurut Fayol adalah memperkenalkan dan merencanakan,


mengorganisasikan, memimpin, mengkoordinasi, dan mengendalikan. Memperkirakan dan
merencanakan berarti mempertimbangkan masa depan dan menyusun rencana aktifitas.
(Fayol dalam bukunya Russel, 2000) Manajemen Keperawatan adalah proses pelaksanaan
pelayanan keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan
keperawatan, pengobatan, dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan masyarakat
(Gillies,1985).
2.1.2 Fungsi Manajemen Keperawatan

Pada fungsi manajemen keperawatan terdapat beberapa elemen utama yaitu Planning
(perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Staffing (kepegawaian), Directing
(pengarahan), Controlling (pengendalian/evaluasi).

1. Planning (Perencanaan)

Fungsi planning (perencanaan) adalah fungsi terpenting dalam manajemen, oleh karena
fungsi ini akan menentukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Menurut Muninjaya, (2004)
fungsi perencanaan merupakan landasan dasar dari fungsi manajemen secara keseluruhan.
Tanpa ada fungsi perencanaan tidak mungkin fungsi manajemen lainnya akan dapat
dilaksanakan dengan baik. Perencanaan akan memberikan pola pandang secara menyeluruh
terhadap semua pekerjaan yang akan dijalankan, siapa yang akan melakukan, dan kapan akan
dilakukan. Perencanaan merupakan tuntutan terhadap proses pencapaian tujuan secara efektif
dan efesien. Swanburg (2000) mengatakan bahwa planning adalah memutuskan seberapa luas
akan dilakukan, bagaimana melakukan dan siapa yang melakukannya.

Dibidang kesehatan perencanaan dapat didefenisikan sebagai proses untuk


menumbuhkan, merumuskan masalah-masalah kesehatan di masyarakat, menentukan
kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok,
dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.

3
a. Tujuan Perencanaan

- Untuk menimbulkan keberhasilan dalam mencapai sasaran dan tujuan

- Agar penggunaan personel dan fasilitas yang tersedia lebih efektif

- Membantu dalam koping dengan situasi kritis

- Meningkatkan efektivitas dalam hal biaya

- Membantu menurunkan elemen perubahan, karena perencanaan berdasarkan


masalalu dan akan datang.
- Dapat digunakan untuk menemukan kebutuhan untuk berubah

- Penting untuk melakukan kontrol yang lebih efektif

b. Tahap dalam perencanaan

- Penting untuk melakukan kontrol yang lebih efektif

- Analisis situasi, bertujuan untuk mengumpulkan data atau fakta.

- Mengidentifikasi masalah dan penetapan prioritas masalah

- Merumuskan tujuan program dan besarnya target yang ingin dicapai.

- Mengkaji kemungkinan adanya hambatan dan kendala dalam pelaksanaan


program.
- Menyusun Rencana Kerja Operasional (RKO)

c. Jenis Perencanaan

- Perencanaan Strategi

Perencanaan strategis merupakan suatu proses berkesinambungan, proses yang


sistematis dalam pembuatan dan pengambilan keputusan masa kini dengan
kemungkinan pengetahuan yang paling besar dari efek-efek perencanaan pada
masa depan, mengorganisasikan upaya-upaya yang perlu untuk melaksanakan
keputusan ini terhadap hasil yang diharapkan melalui mekanisme umpan balik
yang dapat dipercaya. Perencanaan strategis dalam keperawatan bertujuan untuk
memperbaiki alokasi sumber-sumber yang langka, termasuk uang dan waktu, dan
untuk mengatur pekerjaan divisi keperawatan
- Perencanaan Operasional
Perencanaan operasional menguraikan aktivitas dan prosedur yang akan
digunakan, serta menyusun jadwal waktu pencapaian tujuan, menentukan siapa

4
orang-orang yang bertanggung jawab untuk setiap aktivitas dan prosedur.
Menggambarkan cara menyiapkan orang-orang untuk bekerja dan juga standar
untuk mengevaluasi perawatan pasien. Didalam perencanaan operasional terdiri
dari dua bagian yaitu rencana tetap dan rencana sekali pakai. Rencana tetap adalah
rencana yang sudah ada dan menjadi pedoman didalam kegiatan setiap hari, yang
terdiri dari kebijaksanaan, standar prosedur operasional dan peraturan. Sedangkan
rencana sekali pakai terdiri dari program dan proyek.
d. Manfaat Perencanaan

- Membantu proses manajemen dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-


perubahan lingkungan.
- Memberikan cara pemberian perintah yang tepat untuk pelaksanaan

- Memudahkan koordinasi

- Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasional secara


jelas
- Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat

- Membuat tujuan lebih khusus, lebih rinci dan lebih mudah dipahami

- Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti

- Menghemat waktu dan dana

e. Keuntungan Perencanaan

- Mengurangi atau menghilangkan jenis pekerjaan yang tidak produktif.

- Dapat dipakai sebagai alat pengukur hasil kegiatan yang dicapai

- Memberikan suatu landasan pokok fungsi manajemen lainnya terutama fungsi


keperawatan
- Memodifikasi gaya manajemen

- Fleksibilitas dalam pengambilan keputusan

f. Kelemahan Perencanaan

- Perencanaan mempunyai keterbatasan dalam hal ketepatan informasi dan fakta-


fakta tentang masa yang akan datang

- Perencanaan memerlukan biaya yang cukup banyak

- Perencanaan mempunyai hambatan psikologis

5
- Perencanaan menghambat timbulnya inisiatif

- Perencanaan menyebabkan terhambatnya tindakan yang perlu diambil

2. Organizing (Pengorganisasian)

Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk menetapkan, menggolongkan dan


mengatur berbagai macam kegiatan, penetapan tugas-tugas dan wewenang seseorang,
pendelegasian wewenang dalam rangka mencapai tujuan. Fungsi pengorganisasian
merupakan alat untuk memadukan semua kegiatan yang beraspek personil, finansial,
material dan tata cara dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Muninjaya,
2004).

Berdasarkan penjelasan tersebut, organisasi dapat dipandang sebagai rangkaian


aktivitas menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi segenap kegiatan usaha
kerja sama dengan jalan membagi dan mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan yang
harus dilaksanakan serta menyusun jalinan hubungan kerjadi antara para pekerjanya.
a. Manfaat Pengorganisasian

Melalui fungsi pengorganisasian akan dapat diketahui:

- Pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok.

- Hubungan organisatoris antara orang-orang didalam organisasi tersebut melalui


kegiatan yang dilakukannya.

- Pendelegasian wewenang.

- Pemanfaatan staff dan fasilitas fisik.

b. Langkah-langkah Pengorganisasian

- Tujuan organisasi harus dipahami oleh staf. Tugas ini sudah tertuang dalam
fungsi perencanaan.

- Membagi habis pekerjaan dalam bentuk kegiatan pokok untuk mencapai tujuan.

- Menggolongkan kegiatan pokok kedalam satuan-satuan kegiatan yang praktis.

- Menetapkan berbagai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh staf


dan menyediakan fasilitas yang diperlukan.

- Penugasan personil yang tepat dalam melaksanakan tugas

- Mendelegasikan wewenang

6
3. Staffing (Kepegawaian)

Staffing merupakan metodologi pengaturan staff, proses yang teratur, sistematis


berdasarkan rasional yang diterapkan untuk menentukan jumlah personil suatu
organisasi yang dibutuhkan dalam situasi tertentu (Swanburg, 2000). Proses pengaturan
staff bersifat kompleks. Komponen pengaturan staff adalah sistem kontrol termasuk
studi pengaturan staff, penguasaan rencana pengaturan staff, rencana penjadwalan, dan
Sistem Informasi Manajemen Keperawatan (SIMK). SIMK meliputi lima elemen yaitu
kualitas perawatan pasien, karakteristik dan kebutuhan perawatan pasien, perkiraan
suplai tenaga perawat yang diperlukan, logistik dari pola program pengaturan staf dan
kontrolnya, evaluasi kualitas perawatan yang diberikan.

Dasar perencanaan untuk pengaturan staff pada suatu unit keperawatan mencakup
personil keperawatan yang bermutu harus tersedia dalam jumlah yang mencukupi dan
adekuat, memberikan pelayanan pada semua pasien selama 24 jam sehari, 7 hari dalam
seminggu, 52 minggu dalam setahun. Setiap rencana pengaturan staff harus disesuaikan
dengan kebutuhan rumah sakit dan tidak dapat hanya dicapai dengan rasio atau rumusan
tenaga/pasien yang sederhana. Jumlah dan jenis staff keperawatan yang diperlukan
dipengaruhi oleh derajat dimana departemen lain memberikan pelayanan pendukung,
juga dipengaruhi oleh jumlah dan komposisi staff medis dan pelayanan medis yang
diberikan. Kebutuhan khusus individu, dokter, waktu dan lamanya ronde, jumlah test,
obat-obatan dan pengobatan, jumlah dan jenis pembedahan akan mempengaruhi kualitas
dan kuantitas personel perawat yang diperlukan dan mempengaruhi penempatan
mereka.

Pengaturan staff kemudian juga dipengaruhi oleh organisasi divisi keperawatan.


Rencana harus ditinjau ulang dan diperbaharui untuk mengatur departemen beroperasi
secara efisien dan ekonomis dengan pernyataan misi, filosofi dan objektif tertulis,
struktur organisasi, fungsi dan tanggung jawab, kebijakan dan prosedur tertulis,
pengembangan program staff efektif, dan evaluasi periodik terencana. Komponen yang
termasuk dalam fungsi staffing adalah prinsip rekrutmen, seleksi, orientasi pegawai
baru, penjadwalan tugas, dan klasifikasi pasien. Pengrekrutan merupakan proses
pengumpulan sejumlah pelamar yang berkualifikasi untuk pekerjaan di perusahaan
melalui serangkaian aktivitas. Tujuan orientasi pegawai baru adalah untuk membantu
perawat dalam menyesuaikan diri pada situasi baru. Produktivitas meningkat karena
lebih sedikit orang yang dibutuhkan jika mereka terorientasi pada situasi kerja.
Penjadwalan siklus merupakan salah satu cara terbaik yang dipakai untuk memenuhi

7
syarat distribusi waktu kerja dan istirahat untuk pegawai. Pada cara ini dibuat pola
waktu dasar untuk minggu-minggu tertentu dan diulang pada siklus berikutnya. Jadwal
modifikasi kerja mingguan menggunakan shift 10-12 jam dan metode lain yang biasa.
4. Directing(Pengarahan)

Pengarahan adalah hubungan antara aspek-aspek individual yang ditimbulkan


oleh adanya pengaturan terhadap bawahan-bawahan untuk dapat dipahami dan
pembagian pekerjaan yang efektif untuk tujuan perusahaan yang nyata.
Kepemimpinan merupakan faktor penting dalam keberhasilan manajemen.
Menurut Stogdill dalam Swanburg (2000), kepemimpinan adalah suatu proses yang
mempengaruhi aktivitas kelompok terorganisasi dalam upaya menyusun dan mencapai
tujuan. Gardner dalam Swanburg (2000), menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai
suatu proses persuasi dan memberi contoh sehingga individu (pimpinan kelompok)
membujuk kelompoknya untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan usulan
pimpinan atau usulan bersama.
Seorang manajer yang ingin kepemimpinannya lebih efektif harus mampu untuk
memotivasi diri sendiri untuk bekerja dan banyak membaca, memiliki kepekaan yang
tinggi terhadap permasalahan organisasi, dan menggerakkan (memotivasi) stafnya agar
mereka mampu melaksanakan tugas-tugas pokok organisasi.
Menurut Lewin dalam Swanburg (2000), terdapat beberapa macam gaya
kepemimpinan yaitu :
- Autokratik
Pemimpin membuat keputusan sendiri. Mereka lebih cenderung memikirkan
penyelesaian tugas dari pada memperhatikan karyawan. Kepemimpinan ini
cenderung menimbulkan permusuhan dan sifat agresif atau sama sekali apatis dan
menghilangkan inisiatif.
- Demokratis

Pemimpin melibatkan bawahannya dalam proses pengambilan keputusan. Mereka


berorientasi pada bawahan dan menitikberatkan pada hubungan antara manusia dan
kerja kelompok. Kepemimpinan demokratis meningkatkan produktivitas dan
kepuasan kerja.
- Laissezfaire
Pemimpin memberikan kebebasan dan segala serba boleh, dan pantang memberikan
bimbingan kepada staff. Pemimpin tersebut membantu kebebasan kepada setiap
orang dan menginginkan setiap orang senang. Hal ini dapat mengakibatkan

8
produktivitas rendah dan karyawan frustasi.
Manajer perawat harus belajar mempraktekkan kepemimpinan perilaku yang
merangsang motivasi pada para pemiliknya, mempraktekkan keperawatan professional
dan tenaga perawat lainnya. Perilaku ini termasuk promosi autonomi, membuat
keputusan dan manajemen partisipasi oleh perawat professional.
5. Controlling (Pengawasan)

Fungsi pengawasan atau pengendalian (controlling) merupakan fungsi yang terakhir


dari proses manajemen, yang memiliki kaitan yang erat dengan fungsi yang lainnya
Pengawasan merupakan pemeriksaan terhadap sesuatu apakah terjadi sesuai dengan
rencana yang ditetapkan/disepakati, instruksi yang telah dikeluarkan, serta prinsip-
prinsip yang telah ditentukan, yang bertujuan untuk menunjukkan kekurangan dan
kesalahan agar dapat diperbaiki (Fayol,1998).

Pengawasan juga diartikan sebagai suatu usaha sistematik untuk menetapkan


standard pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem informasi timbal
balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standard yang telah ditetapkan
sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta
mengambil tindakan yang digunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam
pencapaian tujuan perusahaan (Mockler, 2002). Pengontrolan atau pengevaluasian
adalah melihat bahwa segala sesuatu dilaksanakan sesuai dengan rencana yang
disepakati, instruksi yang telah diberikan, serta prinsip-prinsip yang telah diberlakukan
(Urwick,1998).

Tugas seorang manajemen dalam usahanya menjalankan dan mengembangkan fungsi


pengawasan manajerial perlu memperhatikan beberapa prinsip berikut:

- Pengawasan yang dilakukan harus dimengerti oleh staff dan hasilnya mudah
diukur,misalnya menepati jam kerja.

- Fungsi pengawasan merupakan kegiatan yang amat penting dalam upaya


mencapai tujuan organisasi.

- Standard untuk kerja yang akan diawasi perlu dijelaskan kepada semua staf,
sehingga staf dapat lebih meningkatkan rasa tanggung jawab dan komitmen
terhadap kegiatan program.

- Kontrol sebagai pengukuran dan koreksi kinerja untuk meyakinkan bahwa sasaran
dan kelengkapan rencana untuk mencapai tujuan telah tersedia, serta alat untuk
memperbaiki kinerja.

9
Dua metode pengukuran yang digunakan untuk mengkaji pencapaian tujuan-tujuan
keperawatan adalah:
- Analisa tugas : kepala perawat melihat gerakan, tindakan dan prosedur yang
tersusun dalam pedoman tertulis, jadwal, aturan, catatan, anggaran. Hanya
mengukur dukungan fisik saja, dan secara relatif beberapa alat digunakan untuk
analisa tugas dalam keperawatan.
- Kontrol kualitas : Kepala perawat dihadapkan pada pengukuran kualitas dan
akibat-akibat dari pelayanan keperawatan.
2.1.3 Komponen Manajemen Keperawatan

Terdapat tiga komponen penting dalam manajemen asuhan keperawatan, yaitu : Sistem
pengorganisasian dalam pemberian asuhan keperawatan, sistem klasifikasi pasien dan
metode proses asuhan keperawatan.
1. Sistem pengorganisasian

Sistem pengorganisasian dalam pemberian asuhan keperawatan terdiri dari

1) Metode fungsional

Metode fungsional yaitu suatu metode pemberian asuhan keperawatan


dengan cara membagi habis tugas pada perawat yang berdinas.
a. Kelebihan metode fungsional
• Menekankan efisiensi, pembagian tugas jelas dan pengawasan baik untuk RS
yang kekurangan tenaga.
• Perawat senior bertanggungjawab pada tugas manajerial sedangkan perawat
junior bertanggungjawab pada perawatan pasien.
b. Kelemahan metode fungsional

• Pasien merasa tidak puas karena pelayanan keperawatan yang terpisah-pisah


atau tidak dapat menerapkan proses keperawatan.

• Perawat hanya melakukan tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja.


2) Metode tim

Metode tim yaitu pemberian asuhan keperawatan secara total kepada


sekelompok pasien yang telah ditentukan. Perawat terdiri dari tenaga
profesional, teknikal dan pembantu.
a. Konsep metode tim

• Ketua TIM harus mampu menerapkan berbagai teknik kepemimpinan.

10
• Komunikasi yang efektif agar rencana keperawatan tercapai.

• Anggota TIM harus menghargai kepemimpinan ketua tim.

b. Kelebihan metode tim

• Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.

• Mendukung pelaksanaan proses perawatan

• Komunikasi antara tim berjalan dengan baik sehingga konflik mudah diatasi

• Memberikan kepuasan pada anggota tim

c. Kelemahan metode tim

• Komunikasi antar anggota tim dalam bentuk konferensi tim yang sulit
terbentuk pada waktu-waktu sibuk.
3) Model keperawatan primer

Metode primer yaitu metode pemberian asuhan kerawatan komprehensif yang


merupakan penggabungan model praktik keperawatan profesional. Setiap
perawat profesional bertanggunng jawab terhadap asuhan keperwatan pasien
yang menjadi tanggung jawabnya.
a. Konsep dasar metode primer
 Ada tanggung jawab dan tanggung gugat

 Ada otonomi

 Ketertiban pasien dan keluarga.

b. Ketenagaan metode primer


• Setiap perawat primer adalah perawat “bedside”

• Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat

• Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal

• Perawat primer dibantu oleh perawat profesional lainnya maupun non


profesional sebagai perawat asisten.
c. Kelebihan metode keperawatan primer

 Bersifat kontinuitas dan komprehensif

 Perawat primer mendapatkan akun tabilitas yang tinggi terhadap hasil dan
memungkinkan pengembangan diri.

11
d. Kelemahan metode keperawatan primer

 Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan


pengetahuan yang memadai dan kriteria assertife, self direction,
kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan
klinik, accountable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
2. Sistem klasifikasi Pasien

Sistem klasifikasi pasien yaitu mengelompokkan pasien sesuai dengan


ketergantungannya dengan perawat atau waktu dan kemampuan yang dibutuhkan
untuk memberi asuahan keperawatan yang dibutuhkan.

Klasifikasi tingkat ketergantungan pasien menurut Douglas (1984), adalah:

1) Minimal care

Perawatan minimal memerlukan waktu selama 1-2 jam / 24 jam /dengan kriteria:
Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri

Makan dan minum dilakukan sendiri

Ambulasi dengan pengawasan.

Observasi tanda-tanda vital dilakukan tiap shiff

Pengobatan minimal, status psikologis stabil

Persiapan pengobatan memerlukan prosedur

2) Intermediet Care

Memerlukan waktu 3-4jam/24 jam dengan kriteria:

Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu

Observasi tanda-tanda vital tiap 4jam

Ambulasi dibantu, Pengobatan lebih dan sekali

Klien dengan pemasangan infus, persiapan pengobatan memerlukan prosedur.


3) Perawatan intensif

Perawatan total care memerlukan waktu 5-6/24jam dengan kriteria:

Segalanya diberikan atau dibantu

Posisi diatur, observasi tanda-tanda vital tiap 2jam

12
Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi intravena

Pemakaian suction

Gelisah atau disorientasi

3. Metode Proses Keperawatan

Menurut Ali (1997) proses keperawatan adalah metode asuhan keperawatan yang
ilmiah, sistematis, dinamis, dan terus-menerus serta berkesinambungan dalam rangka
pemecahan masalah kesehatan pasien/klien, dimulai dari pengkajian (pengumpulan
data, analisis data dan penentuan masalah), diagnosis keperawatan, pelaksanaan, dan
penilaian tindakan keperawatan. Metode proses keperawatan mencakup tahap-tahap
dalam proses keperawatan, yaitu:
1) Pengkajian

Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk
dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi
pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan. Tahap ini
mencakup tiga kegiatan,yaitu pengumpulan data, analisis data dan penentuan masalah
kesehatan serta keperawatan.
a. Pengumpulan data
Tujuanya adalah diperoleh data dan informasi mengenai masalah kesehatan yang ada
pada pasien sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi
masalah tersebut yang menyangkut aspekfisik, mental, sosial dan spiritual serta faktor
lingkungan yang mempengaruhinya. Data tersebut harus akurat dan mudah dianalisis.
Jenis data antara lain, data objektif, yaitu data yang diperoleh melalui suatu pengukuran,
pemeriksaan, dan pengamatan, misalnya suhu tubuh, tekanan darah, serta warna kulit.
Data subjekyif, yaitu data yang diperoleh dari keluhan yang dirasakan pasien, atau dari
keluarga pasien/saksi lain misalnya, kepala pusing, nyeri dan mual.
Adapun fokus dalam pengumpulan data meliputi:

 Status kesehatan sebelumnya dan sekarang

 Pola koping sebelumnya dan sekarang

 Fungsi status sebelumnya dan sekarang

 Respon terhadap terapi medis dan tindakan keperawatan

 Resiko untuk masalah potensial

13
 Hal-hal yang menjadi dorongan atau kekuatan klien

b. Analisa data

Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berpikir


rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan.
c. Perumusan masalah

Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa masalah kesehatan.


Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat diintervensi dengan asuhan keperawatan
(masalah keperawatan) tetapi ada juga yang tidak dan lebih memerlukan tindakan
medis. Selanjutnya disusun diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritas. Prioritas
masalah ditentukan berdasarkan criteria penting dan segera. Penting mencakup
kegawatan dan apabila tidak diatasi akan menimbulkan komplikasi, sedangkan segera
mencakup waktu misalnya pada pasien stroke yang tidak sadar maka tindakan harus
segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih parah atau kematian. Prioritas
masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut Maslow, yaitu:
Keadaan yang mengancam kehidupan, keadaan yang mengancam kesehatan, persepsi
tentang kesehatan dan keperawatan.
2) Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia
(status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana
perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara
pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah
(Carpenito, 2000). Perumusan diagnosa keperawatan:
a. Actual : menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang
ditemukan.
b. Resiko : menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika tidak dilakukan
intervensi.
c. Kemungkinan : menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan
masalah keperawatan kemungkinan.
d. Wellness : keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga, atau masyarakat
dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi.
e. Syndrom : diagnose yang terdiri dar kelompok diagnosa keperawatan actual dan
resiko tinggi yang diperkirakan muncul/timbul karena suatu kejadian atau situasi
tertentu.
3) Rencana tindakan keperawatan

14
Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari
status kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di uraikan dalam hasil yang
diharapkan (Gordon,1994).
Rencana tindakan keperawatan merupakan pedoman tertulis untuk perawatan klien.
Rencana perawatan terorganisasi sehingga setiap perawat dapat dengan cepat
mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan. Rencana asuhan keperawatan
yang di rumuskan dengan tepat memfasilitasi kontinuitas asuhan perawatan dari satu
perawat keperawat lainnya. Sebagai hasil, semua perawat mempunyai kesempatan
untuk memberikan asuhan yang berkualitas tinggi dan konsisten. Rencana asuhan
keperawatan tertulis mengatur pertukaran informasi oleh perawat dalam laporan
pertukaran dinas. Rencana perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka
panjang. (potter,1997)
4) Tindakan keperawatan
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap
pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada
nursingorders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu
rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor- faktor yang
mempengaruhi masalah kesehatan klien. Adapun tahap-tahap dalam tindakan
keperawatan adalah sebagai berikut :
 Tahap 1 : persiapan yaitu tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat
untuk mengevaluasi yang diindentifikasi pada tahap perencanaan.
 Tahap 2 : intervensi yaitu fokus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah
kegiatan dan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan
fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan:
independen, dependen dan interdependen.
 Tahap 3 : dokumentasi yaitu pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh
pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses
keperawatan.
5) Evaluasi tindakan keperawatan

Perencanaan evaluasi memuat kriteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan


keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara
proses dengan pedoman/rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan
dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam
kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah
dirumuskan sebelumnya. Sasaran evaluasi adalah sebagai berikut :

15
 Proses asuhan keperawatan, berdasarkan kriteria/rencana yang telah disusun.

 Hasil tindakan keperawatan, berdasarkan kriteria keberhasilan yang telah


dirumuskan dalam rencana evaluasi.

Terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu:

 Tujuan tercapai, apabila pasien telah menunjukan perbaikan/kemajuan sesuai dengan


kriteria yang telah di tetapkan.
 Tujuan tercapai sebagian,apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga
perlu di cari penyebab dan cara mengatasinya.
 Tujuan tidak tercapai, apabila pasien tidak menunjukan perubahan/kemajuan sama
sekali bahkan timbul masalah baru. Dalam hal ini perawat perlu untuk mengkaji
secara lebih mendalam apakah terdapat data, analisis, diagnosa, tindakan, dan faktor-
faktor lain yang tidak sesuai yang menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan.
6) Dokumentasi keperawatan

Dokumentasi adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat diandalkan
sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang. (potter2005).
Banyak para ahli menyusun sistem dokumentasi keperawatan. Sistem dokumentasi
ini masing-masing memiliki keunikan tersendiri, namun pada dasarnya tidak banyak
perbedaan. Ada beberapa sistem pendokumentasian yang sering dipakai antara lain :
Catatan Berorientasi Pada Sumber (Source Oriented Record ISOR). Sistem ini memberi
kemudahan dalam menempatkan catatan mengenai data yang diperoleh karena biasanya
masing-masing format telah dibuat secara spesifik. Namun demikian sistem ini
memiliki kelemahan antara lain informasi menjadi sulit dipelajari secara lengkap karena
masing-masing data berada pada format yang berbeda. Komponen SOR meliputi hal
berikut :
a. Lembar penerimaan

Lembar ini berisi data demografi pasien/klien, seperti, nama, alamat, tempat dan
tanggal lahir, status perkawinan serta, diagnosis pada saat masuk rumah sakit.
b. Lembar instruksi dokter

Lembar ini digunakan untuk mencatat setiap instruksi dokter yang dilengkapi
dengan tanggal dan, tandatangan dokter yang bersangkutan.
c. Lembar riwayat medik.

Lembar ini berisi catatan tentang hasil pemeriksaan fisik, kondisi kesehatan klien,
perkembangan, dan tindak lanjut.

16
d. Catatan perawat

Catatan ini mencakup catatan, pengkajian, diagnosis, intervensi dan evaluasi.

e. Catatan dan laporan khusus

Catatan ini berisi tentang hasil konsultasi, pemeriksaan laboratorium, laporan


operasi, berbagai terapi fisik, tanda-tanda vital, masukan dan haluaran cairan serta
pengobatan.

Terdapat 3 model dokumentasi yang saling berhubungan, saling ketergantungan dan


dinamis, yaitu komunikasi, proses keperawatan dan standar dokumentasi.
a. Ketrampilan komunikasi secara tertulis
Adalah ketrampilan perawat dalam mencatat dengan jelas, mudah dimengerti. Dalam
kenyataannya dengan kompleknya pelayanan keperawatan dan peningkatan kualitas,
keperawatan, perawat dituntut untuk dapat mendokumentasikan secara benar.
Keterampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat untuk
mengkomunikasikan kepada tenaga kesehatan lain.
b. Dokumentasi proses keperawatan
Perawat memerlukan ketrampilan dalam mencatat proses keperawatan. Pencatatan
proses keperawatan merupakan, metode yang tepat untuk pengambilan, keputusan
yang sistematis, problem solving, dan riset lebih lanjut. Format proses keperawatan
merupakan kerangka atau dasar keputusan dan tindakan termasuk juga pencatatan
hasil berfikir dan tindakan keperawatan. Dokumentasi adalah bagi anintegral proses,
bukan sesuatu yang berbedadan metode problem solving.
c. Standar Dokumentasi
Perawat memerlukan suatu, ketrampilan untuk dapat memenuhi standar yang sesuai.
Standar dokumentasi adalah suatu pernyataan tentang kualitas dankuantitas
dokumentasi yang dipertimbangkan secara adekuaat dalam suatusituasi tertentu.
Dengan adanya standar dokamentasi memberikan informasi bahwa adanya suatu
ukuaran terhadap kualitas dokumentasi keperawatan.
d. Keterampilan Dalam Dokumentasi

Ketrampilan dalam dokumentasi sangat bergantung pada 5 komponen yaitu :

1. Novice (orang baru)

Dengan keberadaan orang baru akan diharapkan membawa perubahan dan


pembaharuan.

17
2. Advanced Beginer (pemula lanjut)

Pola pikir yang maju. Ilmiah dan di landasi motivasi yang tinggi terhadap keprofesian
mudah untuk menunjang ketrampilan dan kemampuan pendokumentasian.

3. Competent (mampu)

Merupakan ciri yang harus di miliki oleh perawat yang bertugas memberikan arahan
keperawatan.
4. Proficient (cakap)
Kemampuan tanpa di ikuti kecakapan akan menjadikan diri terbelakang dan kemajuan.

5. Expert (ahli)

Keahlian dalam melakukan dokumentasi proses keperawatan sangat diperluakan oleh


seorang perawat.
2.1.1 Proses Manajemen Keperawatan

a) Pengkajian-Pengumpulan Data

Pada tahap ini, seorang manager dituntut tidak hanya mengumpulkan informasi
tentang keadaan pasien, melainkan juga mengenai institusi (Rumah Sakit, Puskesmas
dll), tenaga keperawatan dan administrasi.
b) Perencanaan

Perencanaan di maksudkan untuk menyusun suatu perencanaan yang strategis


dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan. Perencanaan disini
dimaksudkan untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan kepada semua
pasien, menegakkan tujuan, mengalokasikan anggaran belanja, menetapkan ukuran dan
tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan, membuat pola struktur organisasi yang dapat
mengoptimalkan efektifvitas staf, serta menegakkan kebijaksanaan, dan prosedur
opersional untuk mencapai visi dan misi institusi yang telah di tetapkan.
c) Pelaksanaan

Pada tahap implementasi dalam proses manajemen keperawatan terdiri atas


bagaimana manager memimpin orang lain untuk menjalankan tindakan yang telah
direncanakan.
d) Evaluasi

Tahap akhir proses managerial adalah mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah
dilaksanakan. Tujuan dari evaluasi disini adalah untuk menilai seberapa jauh staf
mampu melaksanakan perannya sesuai dengan tujuan organisasi yang telah ditetapkan

18
serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat dan mendukung dalam
pelaksanaan. (Nursalam, 2007: 52).

2.2 KONSEP PENGKAJIAN MANAJEMEN KEPERAWATAN (M1-M5)

1. Sumber Daya Manusia (Man-M1)

Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam
manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat
tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada
manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja.
Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerjasama
untuk mencapai tujuan.
Beberapa pokok dalam hal Man antara lain:

1) Umur

Semakin tua usia seseorang karyawan semakin kecil kemungkinan keluar dari
pekerjaan, karena semakin kecil alternatif untuk memperoleh kesempatan pekerjaan
lain. Di samping itu karyawan yang bertambah tua biasanya telah bekerja lebih lama,
memperoleh gaji yang lebih besar dan berbagai keuntungan lainnya. Hubungan usia
dengan kinerja atau produktivitas di percaya menurun dengan bertambahnya usia. Hal
ini disebabkan karena ketrampilan-ketrampilan fisiknya sudah mulai menurun. Tetapi
produktivitas seseorang tidak hanya tergantung pada ketrampilan fisik serupa itu.
Karyawan yang bertambah tua, bisa meningkat produktivitasnya karena pengalaman
dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan (Mangkunegara, 2006).
2) Jenis Kelamin

Beberapa isu yang sering diperdebatkan, kesalahpahaman dan pendapat-pendapat


tanpa dukungan mengenai apakah kinerja wanita sama dengan pria ketika bekerja.
Misalnya ada/tidaknya perbedaan yang konsisten pria-wanita dalam kemampuan
memecahkan masalah, ketrampilan, analisis, dorongan, motivasi, sosiabilitas atau
kemampuan bekerja (Robbins, 2001).Secara umum diketahui ada perbedaan yang
signifikan dalam produktifitas kerja maupun dalam kepuasan kerja, tapi dalam masalah
absen kerja karyawati lebih sering tidak masuk kerja dari pada laki-laki (Anonim,
2005). Alasan yang paling logis adalah karena secara tradisional wanita memiliki
tanggung jawab urusan rumah tangga dan keluarga. Bila ada anggota keluarga yang
sakit atau urusan sosial seperti kematian tetangga dan sebagainya, biasanya wanita agak

19
sering tidak masuk kerja.
3) Masa Kerja

Banyak studi tentang hubungan antara senioritas karyawan dan produktivitas.


Meskipun prestasi kerja seseorang itu bisa ditelusuri dari prestasi kerja sebelumnya,
tetapi sampai ini belum dapat diambil kesimpulan yang meyakinkan antara dua variabel
tersebut. Hasil riset menunjukkan bahwa suatu hubungan yang positif antara senioritas
dan produktivitas pekerjaan. Masa kerja yang diekspresikan sebagai pengalaman kerja,
tampaknya menjadi peramal yang baik terhadap produktivitas karyawan. Studi juga
menunjukkan bahwa senioritas berkaitan negatif dengan kemangkiran. Masa kerja
berhubungan negatif dengan keluar masuknya karyawan dan sebagai salah satu peramal
tunggal paling baik tentang keluar masuknya karyawan (Mangkunegara, 2003).
4) Pendidikan

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dalam Hasbullah (2005)yaitu tuntunan


di dalam tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai
anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-
tingginya. Salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya keperawatan adalah
melalui pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mengikuti pelatihan perawatan
keterampilan teknis atau keterampilan dalam hubungan interpersonal. Sebagian besar
pendidikan perawat adalah vokasional (D3 Keperawatan).
Untuk menjadi perawat profesional, lulusan SLTA harus menempuh pendidikan
akademik S1 Keperawatan dan Profesi Ners. Tetapi bila ingin menjadi perawat
vokasional, (primary nurse) dapat mengambil D3 Keperawatan/Akademi Keperawatan.
Lulusan SPK yang masih ingin menjadi perawat harus segera ke D3 Keperawatan atau
langsung ke S1 Keperawatan. Selanjutnya, lulusan D3 Keperawatan dapat melanjutkan
ke S1 Keperawatan dan Ners. Dari pendidikan S1 dan Ners, baru ke Magister
Keperawatan/spesialis dan Doktor/Konsultan ([Link]., 1999).
5) Pelatihan Kerja
Secara umum pelatihan merupakan bagian dari pendidikan yang menggambarkan
suatu proses dalam pengembangan organisasi maupun masyarakat. Pendidikan dengan
pelatihan merupakan suatu rangkaian yang tak dapat dipisahkan dalam sistem
pengembangan sumberdaya manusia, yang di dalamnya terjadi proses perencanaan,
penempatan, dan pengembangan tenaga manusia. Dalam proses pengembangannya
diupayakan agar sumberdaya manusia dapat diberdayakan secara maksimal, sehingga

20
apa yang menjadi tujuan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia tersebut dapat
terpenuhi. Moekijat (1993) juga menyatakan bahwa “pelatihan adalah suatu bagian
pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan
keterampilan diluar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif singkat
dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek dari pada teori.
Alex S. Nitisemito (1982) mengungkapkan tentang tujuan pelatihan sebagai usaha
untuk memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingkah laku dan pengetahuan, sesuai
dari keinginan individu, masyarakat, maupun lembaga yang bersangkutan. Dengan
demikian pelatihan dimaksudkan dalam pengertian yang lebih luas, dan tidak terbatas
semata mata hanya untuk mengembangkan keterampilan dan bimbingan saja. Pelatihan
diberikan dengan harapan individu dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik.
Seseorang yang telah mengikuti pelatihan dengan baik biasanya akan memberikan hasil
pekerjaan lebih banyak dan baik pula dari pada individu yang tidak mengikuti pelatihan.

Dengan demikian, kegiatan pelatihan lebih ditekankan pada peningkatan pengetahuan,


keahlian/keterampilan (skill), pengalaman, dan sikap peserta pelatihan tentang
bagaimana melaksanakan aktivitas atau pekerjaan tertentu. Halini sejalan dengan
pendapat Henry Simamora (1995) yang menjelaskan bahwa pelatihan merupakan
serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian, pengetahuan,
pengalaman ataupun perubahan sikap seorang individu atau kelompok dalam
menjalankan tugas tertentu.
6) Bed Occuption Rate (BOR)
BOR adalah indikator tinggi rendahnya pemanfaatan tempat tidur dirumah sakit.
Rumus untuk mencari BOR adalah sebagai berikut:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ
𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛
 BOR/hari=

𝑥100%

𝑇𝑇

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 30 ℎ𝑎𝑟𝑖


𝑥100%
 BOR/bulan=

𝑇𝑇𝑥30ℎ𝑎𝑟𝑖

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 1 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛


𝑥100%
 BOR/tahun=

𝑇𝑇𝑥365 ℎ𝑎𝑟𝑖
7) Kebutuhan Tenaga Keperawatan
a. GILLES
Gillies (1989) mengemukakan rumus kebutuhan teanaga keperawatan di satu

21
unit perawatan adalagh sebagai berikut:

(𝐶−𝐷)×𝐸= 𝐺= 𝐻
𝐴×𝐵×𝐶 𝐹

Keterangan :

A= Rata-rata jumlah perawat/pasien/hari

B= Rata-rata jumlah pasien/hari

C= Jumlah hari/tahun

D= Jumlah hari libur masing-masing perawat

E= Jumlah jam kerja masing-masing perawat

F=Jumlah jam perawatan yang dibutuhkan per tahun

G= Jumlah jam perawatan yang diberikan perawat per tahun

H= Jumlah perawat yang dibutuhkan untuk unit tersebut


Prinsip perhitungan rumus Gillies:

Dalam memberikan pelayanan keperawatan ada tiga jenis bentuk pelayanan, yaitu:
1. Perawatan langsung, adalah perawatan yang diberikan oleh perawat yang ada
hubungan secara khusus dengan kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual.
Berdasarkan tingkat ketergantungan pasien pada perawat maka dapat
diklasifikasikan dalam empat kelompok, yaitu: self care, partial care, total care dan
intensive care. Menurut Minetti Huchinson (1994) kebutuhan keperawatan langsung
setiap pasien adalah empat jam perhari sedangkan untuk:
a) Self care dibutuhkan½ x4jam :2 jam

b) Partial care dibutuhkan ¾ x 4jam : 3 jam

c) Total care dibutuhkan 1-1½ x 4 jam: 4-6 jam

d) Intensive care dibutuhkan 2 x 4 jam : 8 jam

2. Perawatan tak langsung, meliputi kegiatan-kegiatan membuat rencana perawatan,


memasang/menyiapkan alat, konsultasi dengan anggota tim, menulis dan membaca
catatan kesehatan, melaporkan kondisi pasien. Dari hasil penelitian RS Graha Detroit
(Gillies,1989)=38 menit/pasien/hari, sedangkan menurut Wolfe & Young (Gillies,
1989) = 60 menit/ pasien/ hari dan penelitian di Rumah Sakit John Hpokins
dibutuhkan 60 menit/ pasien (Gillies,1994)

22
3. Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien meliputi: aktifitas, pengobatan
serta tindak lanjut pengobatan. Menurut Mayer dalam Gillies (1994), waktu yang
dibutuhkan untuk pendidikan kesehatan ialah 15 menit/pasien/hari.
b. SWANSBURG

Jumlah rata-rata pasien/hari x jumlah perawat/pasien/hari Jam kerja/ hari

Contoh : Pada rumah sakit A, jumlah tempat tidur pada unit Bedah 20 buah, rata-rata pasien
perhari 15 orang, jumlah jam perawatan 5 jam/ pasien/hari,dan jam kerja7 jam/hari

Cara menghitung

Jumlah perawat yangdibutuhkan adalah: Jumlah shift dalam seminggu: 11x 7 =77 shift. Bila
jumlah perawat sama setiap hari dengan 6 hari kerja/ minggu dan 7 jam/hari maka jumlah
perawat yang dibuthkan = 77: 6 =12,83 atau 13orang.
2. Material (M2)

a. Definisi Material memiliki karakteristik antara lain:

1) (Umumnya) Kebutuhannya tidak pasti;

2) Sangat menentukan kelancaran proses pelayanan;

3) Keberadaan dan ketidakberadaan/kekurangannya menimbulkan biaya;

4) (Umumnya) memiliki persentase tertinggi dalam Neraca

b. Tujuan, manfaat dan sasaran

Tujuan manajemen persediaan (material) adalah untuk menyediaakan jumlah


material yang tepat, waktu yang tepat dan biaya rendah. Pengaturan material
mempunyai pengertian sebagai suatu pengaturan yang mencakup hal-hal yang
berhubungan dengan sistem persediaan yang sekaligus sistem informasinya, agar
dicapai sistem pengadaan material yang tepat waktu, tepat jumlah, tepat bahan, dan
tepat harga. Sistem pengaturan ini kemudian dikenal dengan perencanaan kebutuhan
bahan baku atau dalam istilah asing dikenal sebagai MRP (Material Requirement
Planning), (Yamit,1996).

c. Peranan manajemen material

1) Pengaruh meterial terhadap ROI

2) Ruang lingkup manajemen material

3) Objektif manajemen pengadaan

23
4) Organisasi

d. Kebutuhan material

1) Gambaran teknis dans pesifikasi

2) Standarisasi

3) Membuat atau membeli

3. Metode (M3)

Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) merupakan suatu sistem (struktur,


proses dan nilai-nilai professional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur
pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menompang pemberian
asuhan tersebut menurut (Hoffart & Woods,1996).

Berdasarkan pengalaman mengembangkan model PKP di RSUPN Cipto Mangun


kusumo sejak 1996, dan masukan dari berbagai pihak telah dipikirkan untuk
mengembangkan suatu MPKP, sebagai transisi menuju model PKP yang disebut model
praktek keperawatan professional pemula (PKPP). Disamping itu sehubungan dengan
adanya pola pengembangan pendidikan tinggi keperawatan antara lain rencana
pembukaan pendidikan spesialis keperawatan, maka perlu dipikirkan pemanfaatan
tenaga ini nantinya di klinik. Oleh karena itu direncanakan terdapat beberapa jenis
MPKP, yaitu:
1) Model Praktek Keperawatan Profesional III

Melalui pengembangan MPKP III dapat di berikan asuhan keperawatan professional


tingkat III. Pada ketenagaan terdapat tenaga perawat dengan kemampuan dokter
dalam keperawatan klinik yang berfungsi untuk melakukan riset dan membimbing
para perawat melakukan riset serta memanfaat hasil-hasil riset dalam memberikan
asuhan keperawatan.

2) Model Praktek Keperawatan Profesional II

Pada model ini, akan mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat II.
Pada ketenagan terdapat tenaga perawat dengan kemampuan spesialiskeperawatan
yang spesifik untuk cabang ilmu tertentu. Perawat spesialis berfungsi untuk
memberikan konsultasi tentang asuhan keperawatan kepada perawat primerpada area
spesialisasinya. Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil-hasil riset
dalam memberikan asuhan keperawatan. Jumlah perawatan spesialis di rencanakan 1
orang untuk 10 perawat primer (1:10).

24
3) Model Praktek Keperawatan Profesional I

Model praktek keperawatan professional pemula (MPKP), merupakan tahapawal


untuk menuju MPKP. Pada model ini mampu diberikan asuhan keperawatan
professional tingkat pemula. Pada model ini perawat mampu memberikan asuhan
keperawatan profesional I dan untuk ini diperlukan penataan 3 komponen utama,
yaitu: ketenagaan keperawatan, metode pemberian asuhan keperawatan dan
dokumentasi keperawatan. Model ini merupakan model yang akan dikembangkan
secara bertahap (Develop mental model) dan telah telah diuji coba di RSUPN Cipto
Mangun kusumo dan RSUP Persahabatan. Ada 5 metode pemberian asuhan
keperawatan profesional yang sudah ada dan akan terus dikembangkan di masa
depan dalam menghadapi tren pelayanan keperawatan. Untuk memberikan
asuhankeperawatan yang lazim dipakai meliputi metode fungsional, metode tim,
metodekasus,modifikasi metode tim-primerseperti dibawah ini :
a. Metode Fungsional (Bukan MAKP)
Metode fungsional merupakan manajemen klasik yang menekankan efisiensi,
pembagian tugas yang jelas, dan pengawasan yang baik. Metode ini sangat baik.
untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga. Perawat senior menyibukkan diri
dengan tugas manajerial, sedangkan perawat pasien diserahkan kepada perawat
junior dan/atau belum berpengalaman. Kelemahan dari metode ini adalah
pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses
keperawatan. Setiap perawat hanya melakukan 1-2 jenis intervensi (misalnya
merawat luka). Metode ini tidak memberikan kepuasan kepada pasien maupun
perawat dan persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan
keterampilan saja.
b. Metode Tim
Metode ini menggunakan tim yang terdiri atas anggota yang berbeda-beda dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan
dibagi menjadi 2-3 tim/grup yang terdiri atas tenaga profesional, teknikal,dan
pembantu dalam satu kelompok kecil yang saling membantu. Metode ini
memungkinkan pemberian pelayanan keperawatan yang menyeluruh, mendukung
pelaksanaan proses keperawatan, dan memungkinkan komunikasi antar tim,
sehingga konflik mudah diatasi dan memberi kepuasan kepada anggota tim.
Namun, komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk
konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu, yang sulit untuk
dilaksanakan pada waktu-waktu sibuk. Hal pokok dalam metode tim adalah ketua

25
tim sebagai perawat profesonal harus mampu menggunakan berbagai teknik
kepemimpinan, pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana
keperawatan terjamin, anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim,
model tim akan berhasil bila didukung oleh kepala ruang.
Tujuan metode keperawatan tim adalah untuk memberikan perawatan yang
berpusat pada klien. Perawatan ini memberikan pengawasan efektif dari
memperkenalkan semua personel adalah media untuk memenuhi upaya kooperatif
antara pemimpin dan anggota tim. Melalui pengawasan ketua tim nantinya dapat
mengidentifikasi tujuan asuhan keperawatan, mengindentifikasi kebutuhan
anggota tim, memfokuskan pada pemenuhan tujuan dan kebutuhan, membimbing
anggota tim untuk membantu menyusun dan memenuhi standard asuhan
keperawatan.
Walaupun metode tim keperawatan telah berjalan secara efektif, mungkin pasien
masih menerima fragmentasi pemberian asuhan keperawatan jika ketua tim tidak
dapat menjalin hubungan yang lebih baik dengan pasien, keterbatasan tenaga dan
keahlian dapat menyebabkan kebutuhan pasien tidak terpenuhi.
a) Metode Primer

Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama
24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai pasien masuk sampai keluar rumah
sakit. Mendorong praktik kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat rencana
asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan
terus-menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan,
malakukan, dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien dirawat. Konsep dasar
metode primer adalah ada tanggungjawab dan tanggunggugat, ada otonomi, dan
ketertiban pasien dan keluarga.

Metode primer membutuhkan pengetahuan keperawatan dan keterampilan


manajemen, bersifat kontinuitas dan komprehensif, perawat primer mendapatkan
akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil, dan memungkinkan pengembangan diri
sehingga pasien merasa dimanusiakan karena terpenuhinya kebutuhan secara individu.
Perawat primer mempunyai tugas mengkaji dan membuat prioritas setiap kebutuhan
klien, mengidentifikasi diagnosa keperawatan, mengembangkan rencana keperawatan,
dan mengevaluasi keefektifan keperawatan. Sementara perawat yang lain memberikan
tindakan keperawatan, perawat primer mengkoordinasikan keperawatan dan
menginformasikan tentang kesehatan klien kepada perawat atau tenaga kesehatan

26
lainnya. Selain itu, asuhan yang diberikan bermutu tinggi, dan tercapai pelayanan yang
efektif terhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi, dan advokasi.
b) Metode Kasus
Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saatdinas. Pasien
akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift, dan tidak ada jaminan
bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode
penugasan kasus biasanya diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal ini umumnya
dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti : isolaso,
intensivecare. Kelebihannya adalah perawat lebih memahami kasus perkasus, sistem
evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah. Kekurangannya adalah belum dapat
diidentifikasi perawat penanggungjawab, perlutenagayang cukup banyak dan
mempunyai kemampuan dasar yang sama.

c) Metode Modifikasi Tim-Primer

Pada model MAKP tim digunakan secara kombinasi dari kedua sistem. Menurut Ratna
[Link] (2000) penetapan sistem model MAKP ini didasarkan pada beberapa
alasan:
1) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena perawat primer
harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan atau setara.
2) Keperawatan tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung jawab asuhan
keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim.
3) Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan
keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada primer.
Disamping itu, karena saat ini perawat yang ada di RS sebagian besar adalah
lulusan SPK, maka akan mendapat bimbingan dari perawat primer/ketua tim
tentang asuhan keperawatan.
Pada kegiatan metode (M2) ini ada beberapa kegiatan yang merupakan pengarahan organisasi
dalam keperawatan antara lain:
a. Timbang Terima (operan)

Suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan
dengan keadaan pasien.
b. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan

Dokumentasi adalah bukti bahwa tanggung jawab hukum dan etik perawat terhadap
pasien sudah dipenuhi dan bahwa pasien menerima asuhan keperawatan yang bermutu
(Lyer, 2005). pelaksanaan dokumentasi keperawatan adalah sebagai salah satu alat ukur

27
untuk mengetahui, memantau dan menyimpulkan suatu pelayanan asuhan keperawatan
yang diselenggarakan dirumah sakit.
c. Ronde Keperawatan

Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang
dilaksanakan oleh perawat, disamping pasien dilibatkan untuk membahas dan
melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh
perawat primer dan atau konsulen, kepala ruangan, perawat associate yang perlu juga
melibatkan seluruh anggota tim.
d. Pengelolaan Sentralisasi Obat
Suatu pola/alur yang sistematis sehingga penggunaan obat benar–benar dapat
dikontrol oleh perawat sehingga resiko kerugian baik secara material maupun secara
non material dapat dieliminir.
e. Supervisi Keperawatan

Supervisi adalah salah satu bagian proses atau kegiatan dari fungsi pengawasan dan
pengendalian (controlling). Dalam bidang keperawatan supervisi mempunyai
pengertian yang sangat luas, yaitu meliputi segala bantuan dari pemimpin /
penanggungjawab kepada perawat yang ditujukan untuk perkembangan para perawat
dan staf lainnya dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan kegiatan supervisi
semacam ini merupakan dorongan bimbingan dan kesempatan bagi pertumbuhan dan
perkembangan keahlian dan kecakapan para perawat.
f. Perencanaan Pulang (DischargePlanning)

Perencanaan pulang meruakan suatu proses yang dinamis dan sistematis dari
penilaian, persiapan, serta koordinasi yang dilakukan untuk memberikan kemudahan
pengawasan pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial sebelum dan sesudah pulang
(Carpenito, 1990). Perencanaan pulang di dapatkan dari proses interaksi dimana
perawat profesional, pasien dan keluarga berkolaborasi untuk memberikan dan
mengatur kontinuitas keperawatan yang di perlukan oleh pasien dimana perencanaan
harus berpusat pada masalah pasien, yaitu pencegahan, teraupetik, rehabilitatif, serta
perawatan rutin yang sebenarnya (Swenberg, 2000).
4. Pembiayaan (Money-M4)
Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat [Link]
merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur
dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat
(tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan

28
secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapauang yang harus disediakan
untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta
berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi Beberapa hal tentang money antara
lain:

a. Kompensasi

Kompensasi merupakan terminologi luas yang berhubungan dengan imbalan finansial.


Terminologi dalam kompensasi adalah:
1) Upah dan Gaji.

Upah (wages) biasanya berhubungan dengan tarif gaji perjam. Gaji (salary)
umumnya berlaku untuk tarif bayaran mingguan, bulanan, atau tahunan
2) Insentif.

Insentif (incentive) adalah tambahan kompensasi diatas atau diluar gaji atau upah
yang diberikan organisasi
3) Tunjangan
4) Fasilitas(Simamora,2004).

b. Reward

Reward yaitu hadiah dan hukuman dalam situasi kerja, hadiah menunjukkan adanya
penerimaan terhadap perilaku dan perbuatan, sedangkan hukuman menunjukkan
penolakan perilaku dan perbuatannya (Hazli:2002). Wahyuningsih (2009) juga
mendefinisikan reward adalah penghargaan/hadiah untuk sesuatu halyang tercapai.
Francisca (2006) memfokuskan definisi reward sebagai hadiah atau bonus yang
diberikan karena prestasi seseorang. Reward dapat berwujud banyak rupa. Paling
sederhana berupa kata-kata seperti pujian adalah salah satu bentuknya. Reward biasanya
digunakan untuk mengendalikan jam kerja seseorang dalam organisasi (Raharja, 2006).
Artinya, dengan reward seseorang bekerja dapat dilakukan tanpa ada kendali langsung
dari pimpinan, melainkan dapat berjalan apa adanya sesuai evaluasi kinerja
sebelumnya. Selebihnya, dengan reward seseorang dapat meningkatkan cara kerjanya
tanpa harus dikendalikan pimpinan. Hal ini juga ditegaskan Gouillart & Kelly dalam
Raharja (2006) bahwa reward yang diperoleh atau diharapkan akan diperoleh sebagai
konsekwensi dari apa yang mereka kerjakan akan merubah perilaku manusia secara
fundamental.
c. Punishment
Punishment adalah hukuman atas suatu hal yang tidak tercapai/ pelanggaran. Hukuman

29
seperti apa yang harus diberikan. Setiap orang pasti beda persepsi dan beda pendapat
(Wahyuningsih,2009). Punishment merupakan penguatan yang negatif, tetapi
diperlukan dalam perusahaan. punishment yang di maksud disini adalah tidak seperti
hukuman dipenjara atau potong tangan, tetapi punishment yang bersifat mendidik.
Selain itu punishment juga merupakan alat pendidikan regresif, artinya punishment ini
digunakan sebagai alat untuk menyadarkan karyawan kepada hal-hal yang benar.
Ngalin purwanto (1988:238) membagi punishment menjadi dua macam yaitu:
1) Hukuman prefentif, yaitu hukuman yang dilakukan dengan maksud atau supaya
tidak terjadi pelanggaran. Hukuman ini bermaksud untuk mencegah agar tidak terjadi
pelanggaran, sehingga hal ini dilakukannya sebelum terjadi pelanggaran dilakukan.
Contoh perintah, larangan, pengawasan, perjanjian dan ancaman.
2) Hukuman refresif yaitu hukuman yang dilakukan, oleh karena adanya pelanggaran,
oleh adanya dosa yang telah diperbuat. Jadi hukuman itu terjadi setelah terjadi
kesalahan.
5. Pemasaran (M5/marketing)

a. Definisi

Market atau pasar adalah tempat dimana organisasi menyebarluaskan


(memasarkan) Produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting
sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan
berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan
pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam
perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai
dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.

Faktor kunci keberhasilan dari pemasaran

Faktor kunci keberhasilan dalam rencana strategi pemasaran suatu rumah sakit adalah
a) Adanya subbag marketing dalam struktur organisasi suatu rumah sakit

b) Adanya visi dan misi

c) Status rumah sakit yang profit

d) Adanya upaya pemasaran yang telah dilaksanakan di suatu rumah sakit

e) Jumlah spesialisasi yang cukup memadai

f) Tersedianya fasilitas medic dan non medic yang memadai

30
b. Pengumpulan data dan analisa SWOT
1. Data Internal

Data internal dapat diperoleh pada suatu rumah sakit merupakan sumber daya yang
ada yaitu mencakup:
a) Struktur organisasi yang dilengkapi subbag marketing

b) Jumlah dan mutu SDM yang memadai

c) Saranadanprasarana

d) Jumlah pelayanan klinik yang cukup banyak

e) Upaya pemasaran yang dilakukan

f) Manajemen RS negeri murni

g) Menciptakan suasana kerja yang serasi dan bertanggungjawab

h) Meningkatkan kerjasama karyawan

2. Data Eksternal

Untuk mendapatkan data eksternal adalah dapat diperoleh dilingkungan diluar


rumah sakit yang meliputi :
a) Kebijakan atau politik : penetapan suatu rumah sakit sebagai RS Swasta
atau Negeri direktur berada dibawah yayasan atau pemerintahan
b) Sosial atau pendidikan : semakin tingginya kesadaran masyarakat akan
kesehatan membuat masyarakat semakin kritis terhadap kebutuhan
kesehatannya
c) Adanya kerjasama antar rumah sakit swasta sebagai rumah sakit rujukan
d) Ekonomi
e) Budaya : masyarakat mencari pelayanan kesehatan yang murah
f) Teknologi : adanya teknologi komputerisasi

31
BAB 3

PENGKAJIAN
3.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan tanggal 10-12 Desember 2024, meliputi ketenagaan,
sarana dan prasarana, MAKP, sumber keuangan, dan pemasaran (marketing). Data yang
didapat dianalisis menggunakan analisis SWOT sehingga diperoleh beberapa rumusan
masalah, kemudian dipilih satu sebagai prioritas masalah.
3.2 Visi, Misi, dan Motto
3.2.1 Visi RSUD Sidoarjo
Menjadi Rumah Sakit Terakreditasi Internasional Yang Berkelanjutan Dalam
Pelayanan, Pendidikan, Dan Penelitian.
1. RSUD Sidoarjo yang terakreditasi berkelanjutan dalam pelayanan adalah suatu
upaya RSUD Sidoarjo dalam meningkatkan aksessilitas, kualitas,dan inovasi
pelayanan kesehatan yang mengacu pada standart akreditasi internasional. Hal
ini berarti bahwa di RSUD Sidoarjo 5 tahun ke depan harus meningkatkan
status lulus akreditasi internasional.
2. RSUD Sidoarjo yang terakreditasi dalam pendidikan adalah suatu upaya
RSUD Sidoarjo dalam meningkatkan pendidikan, hal ini berarti bahwa di
RSUD Sidoarjo harus lulus terakreditasi rumah sakit pendidikan.
3. RSUD Sidoarjo yang terakreditasi dalam penelitian internasional adalah
penelitian yang layak, etik, dan berstandart internasional serta digunakan
sebagai pedoman dalam penelitian lainnya.
3.2.2 Misi RSUD Sidoarjo
Dalam mencapai ”Rumah Sakit Terakreditasi Internasional Yang Berkelanjutan
Dalam Pelayanan, Pendidikan, Dan Penelitian” di tempuh melalui tiga misi utama,
yaitu:
1. Mewujudkan pelayanan yang berkualitas dan berakreditasi dengan
mengutamakan keselamatan pasien serta kepuasan pelanggan.
2. Menyelenggarakan pendidikan dan penelitian kesehatan yang mutu dan
beretika untuk menunjang pelayanan.
3. Mewujudkan tata kelola rumah sakit yang profesional, integritas dan beretika

3.2.3 Nilai Dasar RSUD

Sidoarjo Profesional, Integritas dan Beretika

32
3.2.4 Motto RSUD S idoarjo
“Kesembuhan Anda Adalah Kebahagiaan Kami”
3.3 Pengumpulan Data
3.3.1 M1: Man (Sumber Daya Manusia)
Instalasi Rawat Inap Teratai RSUD Sidoarjo terdiri dari Teratai lantai 1 (bawah),
dan Teratai lantai 2 (atas). Instalasi Rawat Inap Teratai Lantai atas ini dipimpin oleh
seorang kepala ruangan, dengan jumlah tenaga keperawatan sebanyak 25 orang, 20
orang perawat wanita dan 5 orang perawat laki-laki, Pendidikan (S1 Keperawatan
sebanyak 4 orang, S1 Kesehatan Masyarakat 1, D3 Keperawatan 22 orang, dan SMA 1
orang). Sedangkan untuk tenaga non keperawatan terdiri atas 2 orang. Ruang Teratai
memilki 1 orang Kepala Ruangan, 3 orang perawat primer dan 21 orang perawat
associate terbagi dalam 3 shift (Dinas pagi, dinas siang, dinas malam, dan libur),
masing-masing sift/ kelompok terdiri dari 5 sampai 8 orang.

Struktur Organisasi Instalasi Unit Kerja


Gambar 3.1 Struktur Organisasi instalasi rawat inap teratai tahun 2024

33
BAGAN PRAKTIK MODEL KEPERAWATAN PROFESIONAL METODE PRIMAR
INSTALASI RAWAT INAP LANTAI II

Gambar 3.2 Model Praktik Keperawatan Profesional Metode Primer Instalasi Rawat Inap
Teratai Lantai Atas

a. Jumlah tenaga di Ruang Teratai Atas RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO


1) Tenaga Keperawatan
Tabel 3.1 Tenaga Keperawatan di Ruang Teratai atas RSUD R.T NOTOPURO
SIDOARJO
No JK
Nama Jenis Masa Kerja Jabatan saat ini Tingkat Pendidikan
. (L/P)
KA Ruangan
1 Edi Sukoco L PNS 18 tahun S2 Keperawatan

2. Dewi astutik P NON PNS 17 tahun PERAWAT PRIMER S1 Keperawatan


3. Fendi suganda L NON PNS 8 tahun PJ SHIFT D3 Keperawatan
Chuluqin nazidah
4. P NONPNS 17 tahun PJ SHIFT D3 Keperawatan
Munawar
5. Ekowati P NON PNS 18 tahun PJ SHIFT S1 Keperawatan

6. Dianita astrid P NON PNS 9 tahun PJ SHIFT D3 Keperawatan


Nikmatus PERAWAT
7. P PPPK 6 tahun D3 Keperawatan
sholichah ASSOSIATE
Hanum PERAWAT
8. P PPPK 17 tahun D3 Keperawatan
masfufah ASSOSIATE
Yuli PERAWAT
9. P NON PNS 2 tahun D3 Keperawatan
wahyuningtyas ASSOSIATE
PPPK PERAWAT
10. Wildan habibi L 1 tahun D3 Keperawatan
ASSOSIATE
11. Jujuk handayani P PNS 14 tahun PERAWAT S1 Keperawatan

34
PRIMER
Nurrochmah PERAWAT
12. P PPPK 6 bulan D3 Keperawatan
dwi agustina PRIMER
NON
13. Anis satul U P 6 tahun PJ SHIFT D3 Keperawatan
PNS
NON
14. Linawati P 17 tahun PJ SHIFT D3 Keperawatan
PNS
Fidia putri NON PERAWAT
15. P 6 tahun D3 Keperawatan
awalia PNS ASSOSIATE
Yulita Dharma NON PERAWAT
16. P 5 tahun D3 Keperawatan
pangestuti PNS ASSOSIATE
PPPK PERAWAT
17. Mega fitania P 6 tahun D3 Keperawatan
ASSOSIATE
Eris tania PPPK PERAWAT
18.
Nurida P 1 tahun
ASSOSIATE D3 Keperawatan
Meril PPPK PERAWAT
19.
kristinawati P 1 tahun
ASSOSIATE D3 Keperawatan
Muhammad NON PERAWAT
20. L 4 bulan D3 Keperawatan
Zumroni PNS ASSOSIATE
Eko Wahyu PPPK PERAWAT
21. L 1 tahun D3 Keperawatan
Santoso ASSOSIATE
Fajriatul NON PERAWAT
22. P 2 tahun D3 Keperawatan
Mufidah PNS ASSOSIATE
Fani Nur NON PERAWAT
23. P 4 bulan D3 Keperawatan
Qonitatillah PNS ASSOSIATE
Auliya NON PERAWAT
24. L 4 bulan D3 Keperawatan
Shofiyullah PNS ASSOSIATE
Aris Novi NON PERAWAT
25. P 4 bulan D3 Keperawatan
Indrasari PNS ASSOSIATE

2). Tenaga non Keperawatan


Tabel 3.2 Jumlah Tenaga non keperawatan di Ruang Teratai atas RSUD R.T NOTOPURO
SIDOARJO
JK Tingkat
No. Nama Jenis Masa Kerja Status Kepegawaian
(L/P) Pendidikan
PENGAMINIS
1 Evin Hendri S L NON PNS 15 tahun SMA
TRASIUMUM
Nimas Ayu
2. P NON PNS 5 tahun PERAWAT PRIMER SKM
Mashur

35
Tabel 3.3 Jumlah Tenaga Keperawatan di Ruang Teratai atas RSUD R.T NOTOPURO
SIDOARJO
Perawat Nonperawat
Kualifikasi Jumlah Laki- Jumlah
Laki-laki Perempuan Perempuan
laki
S1 1 3 4 0 1 1

D3 5 16 21 0 0 0

SMA 0 0 0 1 0 1

Total 27

Tabel 3.4 Tenaga Keperawatan dan non keperawatan yang pernah mengikuti
pelatihan di Ruang Teratai Atas RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO
No. Nama Pelatihan
1. Dewi astutik BLS, ECG, APAR, KIE, PPI, CI
2. Fendi suganda BLS, ECG, APAR, HIV
3. Chuluqin nazidah munawar BLS, APAR, PPI, HIV, RAWAT LUKA
4. Ekowati BLS, ECG, APAR, KIE, PPI, CI
5. Dianita astrid BLS, BTCLS, BCLS
6. Indah dwicahyani BLS, APAR, PPI, KIE

7. Nikmatus sholichah BLS, APAR, PPI


8. Hanum masfufah BLS, APAR, PPI, KIE
9. Yuli wahyuningtyas BLS, APAR, PPI
10. Wildan habibi BLS, APAR, PPI
11. Jujuk handayani BLS, ALS, ECG, APAR, KIE, PPI, CI
12. Nurrochmah dwi agustina BLS, ECG, APAR, KIE, PPI, CI, EWS
13. Anis satul U BLS, APAR, PPI
14. Siti Maf’ulah BLS, APAR, PPI
15. Linawati BLS, APAR, PPI
16. Putri indah sari BLS, APAR, PPI
17. Fidia putri awalia BLS, APAR, PPI
18. Yulita Dharma pangestuti BLS, APAR, PPI,KIE

36
19. Mega fitania BLS, APAR, PPI
20. Eris tania nurida BLS, APAR, PPI
21. Meril kristinawati BLS, APAR, PPI
22. Evin hendri S BLS, APAR
23. Nimas Ayu Mashuri BLS, APAR
24. Mohammad BTCLS,HIPERKES,PPGD
Zamroni
25. Fajriyatul Mufidah PATIENT SAFEY
26. Fani Nur APAR,BLS,PPI,KE
Qonitatillah
27. Aulia Shofiyullah BTCLS,APAR,BLS,PPI,KE
28. Aris Novi Indrasari BTCLS,BLS,APAR

Keterangan:
APAR : Alat Pemadam
Api Ringan BLS : Basic Life
Support
BCLS : Basic Cardiac Life Support
BTLS : Basic Trauma Life Support
CI : Clinical Instructur
ECG : Elektro kardiografi
HIV : Human Immuno deficiency Virus

Tabel 3.4 Klasifikasi masa kerja tenaga keperawatan dan non keperawatan di
ruang teratai atas di RS R.T NOTOPURO SIDOARJO
NO KLASIFIKASI KETERANGAN Jumlah perawat dan
non perawat
1. <6 tahun Masa kerja baru 13
2. 6-10 tahun Masa kerja sedang 6
3. > 10 tahun Masa kerja lama 8
Sumber : MA tulus 1994

3). Tenaga medis


Tabel 3.5 Jumlah Tenaga Medis di Ruang Teratai atas RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO
No. Nama Sebanyak
1. DOKTER NEUROLOGY 4
2. DOKTER CARDIOLOGY 4
3. DOKTER PARU 4
4. DOKTER IPD 7
5. DOKTER ANAK 1
6. DOKTER BTKV 3
7. DOKTER BEDAH 4
UMUM
8. DOKTER KULIT 3
9. DOKTER THT 3
10. DOKTER REHAB 4
MEDIK
11. DOKTER ORTHOPEDI 5
12. DOKTER BEDAH 2
SYARAF
13. DOKTER PSIKIATRI 1

37
Dari table 3.5 di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah tenaga medis sebanyak 13 selama
15 hari sesuai jadwal visit ruangan dan juga meyesuaikan konsul tiap ruangan.
a. Jumlah tenaga keperawatan menurut metode Douglas dan metode Gillis
Menurut Douglas (1984) dalam Nursalam (2014) menetapkan jumlah perawat yang
dibutuhkan dalam suatu unit perawatan berdasarkan klasifikasi klien, dimana masing-
masing kategori mempunyai nilai standar per shift.

38
Tabel 3.6 Nilai Standar Jumlah Perawat Per Shift berdasarkan Klasifikasi Klien
Jumlah KlasifikasiKlien
Minimal Parsial Total
Klien
P S M P S M P S M
1 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20
2 0,34 0,28 0,20 0,54 0,30 0,14 0,72 0,60 0,40
3 0,51 0,42 0,30 0,81 0,45 0,21 1,08 0,90 0,60

1). Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga keperawatan


dengan metode Douglas di ruang teratai atas hari selasa 10 desember 2024
Tabel 3.7 Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga keperawatan dengan
Metode Douglass di Ruang Rawat Inap Teratai lantai 2 RSUD R.T NOTOPURO
SIDOARJO pada tanggal 10 Desember 2024
Kualifikasi Pasien JumlahKebutuhanTenaga
TingkatKetergant Jumlah
Pagi Sore Malam
ungan P asien
Total care 5 5 x 0,36 = 1,8 5 x 0,30 = 1,5 5 x 0,20 = 1
Parsial care 10 10 x 0,27 = 2,7 10 x 0,15 = 1,5 10 x 0,10 = 1
Minimal care 18 18 x 0,17 = 3,06 18 x 0,14 = 2,52 18 x 0,07 = 1,26
Jumlah 33 7,56 (8) 5,52 (6) 3,26 (3)
Dari perhitungan menggunakan metode Douglass di atas dapat disimpulkan bahwa tenaga
perawat ada yang melebihi dari jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan.
Total tenaga perawat:
Pagi : 8 orang
Sore : 6 orang
Malam : 3 orang +
Total : 17 orang
Jumlah tenaga yang lepas dinas perhari:
86 𝑥 17
297
= 4,92 (5 orang)

Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan untuk bertugas per hari: 5 orang
perawat + 1 orang structural (1 karu) + 1 orang lepas dinas = 7 orang

2). Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga keperawatan


dengan metode Douglas di ruang teratai atas hari rabu 11 desember 2024
Tabel 3.9 Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga keperawatan dengan
Metode Douglass di Ruang Rawat Inap Teratai lantai 2 RSUD R.T NOTOPURO
SIDOARJO pada tanggal 11 Desember 2024
Kualifikasi JumlahKebutuhanTenaga
Pasien
Tingkat Jumlah Pagi Sore Malam
Ketergantungn Pasien
Total care 6 6 x 0,36 = 2,16 6 x 0,30 = 1,8 6 x 0,20 = 1,2
16 x 0,27 =
Parsial care 16 16 x 0,15 = 2,4 16 x 0,10 = 1,6
4,32

39
12 x 0,17 =
Minimal care 12 12 x 0,14 = 1,68 12 x 0,07 = 0,84
2,04

Jumlah 34 8,52 (9) 5,88 (6) 3,64 (4)

Dari perhitungan menggunakan metode Douglass diatas dapat dimpulkan bahwa tenaga
perawat ada yang melebihi dari jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan.
Total tenaga perawat:
Pagi : 9 orang
Sore : 6 orang
Malam : 4 orang +
Total : 19 orang
Jumlah tenaga yang lepas dinas perhari:
86 𝑥 19
297
= 5,50 (6 orang)

Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan untuk bertugas per hari: 6 orang
perawat + 1 orang struktural (1 karu) + 1 orang lepas dinas = 8 orang

3). Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga keperawatan


dengan metode Douglas di ruang teratai atas hari kamis 12 desember 2023
Tabel 3.10 Tingkat ketergantungan klien dan kebutuhan tenaga keperawatan dengan Metode
Douglass di Ruang Rawat Inap Teratai lantai 2 RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO pada
tanggal 12 Desember 2023

Kualifikasi JumlahKebutuhanTenaga
Pasien
TingkatKet Jumlah Pagi Sore Malam
ergantungan Pasien
Totalcare - 0 X 0,36 = 0 0 X 0,30 =0 0 X 0,20 =0
Parsialcare 7 7 X 0,27 =1,89 7 X 0,15 =1,05 7 X 0,10 =0.7
Minimalcare 29 29 X 0,17 29 X 0,14 =4,06 29 X 0,07 =2,03
=4,93

Jumlah 36 6,82 (7) 5,11 (5) 2.73 (3)

Dari perhitungan menggunakan metode Douglass diatas dapat disimpulkan bahwa tenaga
perawat ada melebihi dari jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan.
Total tenaga perawat:
Pagi: 7
Sore: 5
Malam:3 +
Total: 1 5 orang
Jumlah tenaga yang lepas dinas perhari:

40
86
𝑥15
297
= 4,3 (4 orang)
Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan untuk bertugas per hari: 15 perawat + 1
orang structural (1 karu) + 4 orang lepas dinas = 20 orang

METODE GILLIES

41
b. BOR (Bed Occupacy Rate)
Tabel 3 . 1 1 BOR Pasien Kelolaan di Ruang Rawat Inap Teratai atas RSUD
Sidoarjo pada Bulan Desember 2023
Tanggal Jumlah Tempat BOR Rata-rata
Pasien Tidur
10-12-2023 33 orang 36 33/36x100%=
91,66%
11-12-2023 34 orang 36 34/36x100%=
94,44%
12-12-2023 36 orang 36 36/36x100%=100%
Rata-rata

a. Diagnosis Penyakit Terbanyak


Tabel3.12 Diangnosa Keperawatan terbanyak di Ruang Teratai atas RSUD R.T NOTOPURO
SIDOARJO
Laporan Instalasi Rawat Inap
Data 10 Besar Penyakit
Ruang Rawat Inap Teratai Atas
TGL 10-12 Desember Tahun 2024
No Diagnosis ∑ Prosentase(%)
1 CKD V
2 CVA INFARK

3 DM HIPERGLIKEMIA
TETANUS
4
GENERALISATA
5 DMND
6 SIROSIS HEPATIC

42
7 DM GANGREN PEDIS
8 DM
9 SEPSIS
10 CKD
11 HIV
12 PNEMONIA
13 ERSD
TOTAL

3.3.2 M2 : Material (Sarana dan Prasarana)


A. Lokasi
Manajemen keperawatan dan kegiatan pembelajaran pada mahasiswa
Praktek Manajemen Keperawatan Program Profesi Ners Stikes Dian Husada
Mojokerto mengambil tempat di Rawat Inap Teratai Atas RSUD SIDOARJO
dengan alamat Jl. Mojopahit No.667, Celep, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo,
Jawa Timur 61215. Pengkajian data awal dilakukan pada tanggal 10-12 Desember
2024. Adapun data- data yang diperoleh adalah sebagai berikut: Penataan
Gedung/Lokasi dan Denah Ruangan
a) Lokasi Ruang Teratai Atas
Tabel 3.11 Batas Ruang Teratai Atas RSUD Sidoarjo
Barat Barat berbatasan dengan IRNA Mawar Kuning (Ruang
KelasIII)
Utara Berbatasan dengan Instalasi Patologi Anatomi dan Tulip

Selatan Berbatasan dengan ruang CSSD

43
b) DenahRuangTerataiAtas

Gambar 3.3 Denah Ruang Teratai Atas RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO
Ruang Teratai Atas merupakan ruang rawat inap untuk pasien dengan kasus
penyakit dalam dan anak yang terdiri dari 36 tempat tidur.
B) Data Bed Pasien
Jumlah kapasitas bed pasien diruang Teratai Atas berdasarkan hasil pengkajian
tanggal 10-12 Desember 2024 didapatkan sebagai berikut: 9 kamar dengan kapasitas 4
bed perkamar sehingga total ada 36 tempat tidur.
B. Sarana dan prasarana
a) Fasilitas untuk pasien
Pada tanggal 10-12 Desember 2024 dilakukan observasi dan di dapatkan hasil
di ruang Teratai Atas sudah memiliki fasilitas yang baik untuk pasien dan tenaga
kesehatan. Prasarana sumber listrik dari PLN, sedangkan Genset bergabung dengan
milik Rumah Sakit, untuk sumber air menggunakan air PDAM dengan sistem tandon.
Adapun fasilitas masing-masing ruang adalah sebagai berikut:
Tabel 3.12 Fasilitas untuk pasien peruangan diruang rawat inap Teratai Atas data inventaris
RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO
No Ruang Fasilitas Jumlah Jumlah Kondi Saran
an yangter i deal si
sedia
1 A2 Tempat tidur 4 unit 4 Baik
Bantal 4 unit 4 Baik
Meja 4 unit 4 Baik
Ovebed table 4 unit 4 Baik
Tempat 4 unit 4 Baik
Duduk keluarga
pa sien
Kamar 1 unit 1 Baik
Mandi dalam
lengkap

44
AC

Pispot 2 unit 2 Baik


Urinal 0 unit 0 Baik
Waskom 0 unit 0 Baik
Kipas angin 1 unit 1 Baik
AC 1 unit 1 Baik
Oksigen sentral 4 unit 4 Baik
Standar infus 4 unit 4 Baik
Tempat jemuran 1 unit 1 Baik
Bel 4 unit 4 Baik
2 B2 Tempat tidur 4 unit 4 Baik
Bantal 4 unit 4 Baik
Meja 4 unit 4 Baik
Ovebed table 4 unit 4 Baik
Tempat 4 unit 4 Baik
Duduk keluarga
pa sien
Kamar mandi 1 unit 1 Baik
dalam lengkap

Pispot 3 unit 3 Baik


Urinal 0 unit 0 Baik
Waskom 0 unit 0 Baik
Kipas angin 1 unit 1 Baik
Oksigen sentral 4 unit 4 Baik
Standar infus 4 unit 4 Baik
Tempat jemuran 1 unit 1 Baik
Bel 4 unit 4 Baik
3 C2 Tempat tidur 4 unit 4 Baik
Bantal 4 unit 4 Baik
Meja 4 unit 4 Baik
Ovebed table 4 unit 4 Baik
Tempat duduk 4 unit 4 Baik
keluarga pasien

Kamar 1 unit 1 Baik


Mandi dalam
Pispot 3 unit 3 Baik
Urinal 0 unit 0 Baik
Waskom 0 unit 0 Baik
Kipas angin 1 unit 1 Baik
Oksigen sentral 4 unit 4 Baik
Standar infus 4 unit 4 Baik
Tempat jemuran 1 unit 1 Baik
Bel 4 unit 4 Baik
4 D2 Tempat tidur 4 unit 4 Baik
Bantal 4 unit 4 Baik

45
Meja 4 unit 4 Baik
Ovebed table 4 unit 4 Baik
Tempat 4 unit 4 Baik
duduk keluarga
pa sien
Kamar 1 unit 1 Baik
Mandi dalam
Pispot 3 unit 3 Baik
Urinal 0 unit 0 Baik
Waskom 0 unit 0 Baik
AC 1 unit 1 Baik
Kipas angin 1 unit 1 Baik
Oksigen sentral 4 unit 4 Baik
Standar infus 4 unit 4 Baik
Tempat jemuran 1 unit 1 Baik
Bel 4 unit 4 Baik
5 F2 Tempat tidur 4 unit 4 Baik
Bantal 4 unit 4 Baik
Meja 4 unit 4 Baik
Ovebed table 4 unit 4 Baik
Tempat duduk 4 unit 4 Baik
keluarga pasien

Kamar 1 unit 1 Baik


Mandi dalam
Pispot 2 unit 2 Baik
Urinal 0 unit 0 Baik
Waskom 0 unit 0 Baik
Kipas angin 1 unit 1 Baik
AC 1 unit 1 Baik
Oksigen sentral 4 unit 4 Baik
Standart infus 4 unit 4 Baik
Tempat jemuran 1 unit 1 baik
Tempat jemuran

Bel 4 unit 4 Baik


Bel

46
7 G2 Tempat tidur 4 unit 4 Baik
Bantal 4 unit 4 Baik
Meja 4 unit 4 Baik
Ovebed table 4 unit 4 Baik
Tempat duduk 4 unit 4 Baik
keluarga pasien

Kamar 1 unit 1 Baik


Mandi dalam
Pispot 3 unit 3 Baik
Urinal 0 unit 0 Baik
Waskom 0 unit 0 Baik
Kipas angin 1 unit 1 Baik
AC 1 unit 1 Baik
Oksigen sentral 4 unit 4 Baik
Standar infus 4 unit 4 Baik
Tempat jemuran 1 unit 1 Baik
8 H2 Tempat tidur 4 unit 4 Baik
Bantal 4 unit 4 Baik
Meja 4 unit 4 Baik
Ovebedtable 4 unit 4 Baik
Tempat 4 unit 4 Baik
Duduk keluarga
pa sien
Kamar 1 unit 1 Baik
Mandi dalam
Pispot 2 unit 2 Baik
Urinal 0 unit 0 Baik
Waskom 1 unit 1 Baik
Kipas angin 1 unit 1 Baik
AC 1 unit 1 Baik
Oksigen sentral 4 unit 4 Baik
Standar infus 4 unit 4 Baik
10 J4 Tempat tidur 4 unit 4 Baik
Bantal 4 unit 4 Baik
Meja 4 unit 4 Baik
Ovebed table 4 unit 4 Baik
Tempat 4 unit 4 Baik
Duduk keluarga
pa sien
Kamar 1 unit 1 Baik
Mandi dalam
Pispot 3 unit 3 Baik
Urinal 3 unit 3 Baik
Waskom 1 unit 1 Baik
Kipas angin 1 unit 1 Baik
AC 1Unit 1 Baik
Oksigen sentral 4 unit 4 Baik
Standar infus 4 unit 4 Baik
Tempat jemuran 1 unit 1 Baik
47
Bel 4 unit 4 Baik
11 K2 Tempat tidur 4 unit 4 Baik
Bantal 4 unit 4 Baik
Meja 4 unit 4 Baik
Ovebed table 4 unit 4 Baik
Tempat duduk 4 unit 4 Baik
keluarga paSien

Kamar 1 unit 1 Baik


Mandi dalam
Pispot 3 unit 3 Baik
Urinal 2 unit 2 Baik
Waskom 2 unit 2 Baik
Kipas angin 1 unit 1 Baik
AC 1 unit 1 Baik
Oksigen sentral 4 unit 4 Baik
Standar infus 4 unit 4 Baik
Tempat jemuran 1 unit 1 Baik
Bel 4 unit 4 Baik

48
b) Fasilitas untuk petugas kesehatan
Tabel 3.13 Fasilitas untuk petugas kesehatan di Ruang Rawat Inap Teratai Atas data
inventaris RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO
No Ruangan Fasilitas Jumlah
1 Kepala ruangan Meja 2
Kursi 6
Lemari dokumen 2
Lemari perpustakaan 1
Rak dokumen 1
Televisi 1
Antiseptik 1
Sampah non medis 1
AC 1
Mading 1
2 Ruang staff Meja nurse station set 2
Perawat kursi coklat 4
kursi hitam 9
Unit almari untuk arsip 3
AC spluit 1 PK 1
Loker untuk penyimpanan 2
FRM/LRM
Wastafel 1
Komputer 2
Laptop 4
Printer 1
Kipas angin 2
Telephone internal 1
Telephone nurse call 1
MonitorE kamar 1
Stetoskop 5
Film filter lokal 1
Tempat sampah non medis 1
Tempat sampah medis 1
Tempat sampah botol infus 2

49
3 Ruang perawat Loker 3
Lemari dokumen 2
Lemari tempat BAHP 1
Meja 2
Mading 1
Lemari makan 1
Jam 1
AC 1
Kamar mandi lengkap 1
Wastafel 1
Dispenser 1
Kulkas 1
4 Ruang Troly injeksi 2
Rekonstruksi Troly rawat luka 1
Obat Troli TTV 1
Troli ECG + alat ECG 1
Lokerobatpasien 2
Box tranfusi 2
Spil kit infeksius 1
Meja 1
Kursi 2
Tensi 5
Suction 1
Nebulizer 3
Syiring pump 2
Infus pump 1
Timbangan bayi 1
Timbangan dewasa 1
Kotak onat hiegh alert 1
Kamar mandi lengkap 1
Wastafel 1
Tempat jemuran 1
Almari es obat 1
AC 1

50
Almari alat 2
Tempat sampah non medis 1
Tempat sampah medis 1
Tempat sampah botol infus 1
5 Ruang Set meja 1
administrai Komputer PC 1
Printer 1
Kursi 2
6 Ruang linen Almari linen 1
Troli box linen bersih 1
7 Ruang mahasiswa Kipas angin 1
Sofa 1
Kursi 1

Loker 2
8 Gudang Troli linen kotor 2
Almari 1
Troli stenlis 1

c) Peralatan Medis di Ruang Rawat InapTeratai Atas


Tabel 3.14 Peralatan Medis di Ruang Rawat Inap Teratai Atas data inventaris RSUD
R.T NOTOPURO SIDOARJO
Jumlah Jumlah
No Namaalat yangter ideal Kondisi Saran
sedia
1 Ambubag bayi 2 unit 2 Baik
2 Ambubag 1 unit 1 Baik
dewasa
3 ECG 1 unit 1 Baik
4 Film viewer 1 unit 1 Baik
GEA
5 Infus pump 1 unit 1 Baik
6 Nebulaizer 2 unit 2 Baik
7 Regulator O2 22 unit 31 Baik
Sentral

8 Spo2 portabel 2 unit 2 Baik

51
9 Stetoskop anak 1 unit 5 Baik
10 Stetoskop dewasa 2 unit 6 Baik
11 Suction pump 1 unit 1 Baik
12 Syringe pump 10 unit 9 Baik
13 Tensi meter 2 unit 3 Baik
electric digital

14 Tensi meter 2 unit 3 Rusak


electric dIgital

15 Tensi 3 unit 3 Baik


Meter
stan dart
16 Termometer 2 unit 2 Baik

17 Timbangan bayi 1 unit 1 Baik


18 Timbangan 1 unit 1 Baik
dewasa
d) Peralatan Non Medis di Ruang Rawat Inap Teratai Atas
Tabel 3.15 Peralatan Non Medis di Ruang Rawat Inap Teratai Atas data inventaris
RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO
No Namaalat Jumlah Jumlah Kondisi Saran
yangterse ideal
dia
1 Acspluit 5 unit 5 Baik
2 Almaries 1 unit 1 Baik
3 Almari linen 1 unit 1 Baik
4 Almari 2 unit 2 Baik
penyimpan an alat

5 Alamari dokumen 2 unit 2 Baik

6 Lemari es obat 1 unit 1 Baik


7 Almari BPH 5 unit 5 Baik

52
8 APAR 5 unit 5 Baik
9 Bed spinal 2 unit 2 Baik
10 Dorongan O2 1 unit 1 Baik
Kecil
11 Handrub 59 unit 59 Baik
12 Jam dinding 4 unit 4 Baik
13 Komputer 2 unit 2 Baik
14 Laptop 2 unit 2 Baik
15 Kursi hitam 5 unit 5 Baik
16 Kursi coklat 18 unit 18 Baik
17 Kursi roda 2 unit 2 Baik
18 Loker obat infus 2 unit 2 Baik
19 Loker pegawai 3 unit 3 Baik
20 Nurse stationset 1 unit 1 Baik
21 Printer 2 unit 2 Baik
22 Sovasatu set 1 unit 1 Baik
23 Spilkit 1 unit 1 Baik
24 Strecer 1 unit 1 Baik
25 Telepon internal 3 unit 4 Baik
26 Tempat linen 2 unit 2 Baik
Bersih
27 Tempat linen 1 unit 1 Baik
Bersih stenlis
28 Tempat linen 2 unit 2 Baik
Kotor
29 Tempat sampah 5 unit 5 Baik
Medis
30 Tempat sampah 8 unit 8 Baik
non medis
31 Troli injeksi 2 unit 2 Baik
32 Troli stenlis 5 unit 5 Baik
33 Tv 32inc 1 unit 1 Baik
36 Bak mandi 13 unit 13 Baik
37 Exhaousfan 13 unit 13 Baik

53
38 Gayung 11 unit 11 Baik
39 Kipasangin 11 unit 11 Baik
40 Closet 13 unit 13 Baik
41 Kursi kayu 49 unit 49 Baik
42 Lampu 106 unit 106 Baik
43 Matras empuk 46 unit 46 Baik
44 Matras keras 4 unit 4 Baik
45 Meja pasien 44 unit 44 Baik
46 Overbad table 44 unit 44 Baik
47 Pegangan pasien 13 unit 13 Baik
48 Pispot 23 unit 23 Baik
49 Standar tinfus 44 unit 44 Baik
50 Tempat jemuran 13 unit 13 Baik
51 Tempat 44 unit 44 Baik
Tidur pasien
52 Urinal 25 unit 25 Baik
53 Baskom 13 unit 13 Baik
54 Wastafel 13 unit 13 Baik
55 Gantungan 13 unit 13 Baik
56 Shower 13 unit 13 Baik
57 Hand Scrub 13 unit 13 Kurang
58 Telphone nurse 1 unit 1 Baik
Call
59 Bell ruangan 55 unit 55 Baik

54
e) Consumable (obat dan bahan habis pakai)
Permintaan Kebutuhan Logistik BAHP, seperti handscoon, masker, aseptan,
Dressing IV

Gambar 3.4 Alur Permintaan Logistik BAHP Irna Teratai Atas


f) Administrasi penunjang
a) Rekam medik pasien
b) Buku observasi TTV
c) Buku BOR
d) Buku sensus harian
e) Buku kematian
f) Buku laporan kecelakaan lalu lintas
g) Buku permasalahan administrasi

55
3.3.3 M3 : Method (Metode Asuhan Keperawatan)

1. Penerapan MAKP

Berdasarkan hasil Wawancara Kepada Kepala Ruang Rawat Inap Teratai lantai
atas pada tanggal 10 Desember 2024. Kepala Ruangan mengatakan MAKP yang
digunakan dalam ruang teratai yaitu metode primer karena satu orang perawat
bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai
masuk sampai pasien keluar rumah sakit berdasarkan kualisifikasi SDM ( Sumber Daya
Manusia) dan perbandingan jumlah SDM ( Sumber Daya Manusia) dan pasien, yang
terlibat dalam metode primer yaitu seluruh perawat yang ada di ruang rawat inap teratai
lantai atas. Proses pelaksanaan MAKP di ruang teratai lantai atas terus berprores untuk
memberikan pemahaman terkait tekhnik pelaksanaan MAKP karena di ruang rawat
inap teratai lantai atas jumlah SDM ( Sumber Daya Manusia) terbanyak berpendidikan
D3. Tetapi untuk saat ini sudah mulai optimal bekerja sesuai dengan tupoksi masing-
masing.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh kelompok di ruang teratai lantai
atas pada tanggal 10 desember 2024. Model asuhan keperawatan yang digunakan
adalah model tim primer, dengan kepala ruangan adalah seorang S2 keperawatan [Link]
dengan 4 orang perawat primer yang beranggotakan 27 Perawat Associate, 1 orang
sebagai administrasi umum, 1 orang sebagai verivikator medis. Kebutuhan sarana dan
prasarana sebagian besar sudah memenuhi standart, pelaksanaan MAKP sudah berjalan
dengan dengan baik di lantai teratai 2 hal ini di buktikan pada pembagian tugas yang
jelas oleh kepala ruangan.
Organisasi Keperawatan Profesional Model
Praktik Keperawatan Profesional Metode
Primer Instalasi Rawat Inap Teratai Lantai
Atas

Kepala Ruiang

Ketua Tim Ketua Tim Ketua Tim

Staf Perawat Staf Perawat


Staf Perawat

Pasien/Klien 56
Pasien/Klien Pasien/Klien
2. TIMBANG TERIMA

Berdasarkan wawancara kepada beberapa perawat tanggal 10 Desember 2024


timbang terima dilakukan 3 shift dalam sehari atau pergantian shift, dimana pergantian
shift malam ke pagi dilakukan pada jam 07.00 WIB, shif pagi ke shift sore dilakukan pada
jam 14.00 WIB dan shift sore ke shift malam dilakukan pada jam 21.00 WIB. Setiap
timbang terima dihadiri oleh perawat yang bertugas serta didampingi oleh ketua tim.
Timbang terima dilakukan setiap pergantian shift diruang nurse station setelah itu perawat
yang bertugas berkeliling kekamar pasien untuk melihat kondisi pasien secara lansgung,
serta menginformasikan pergantian perawat yang bertugas kepada pasien.
Berdasarkan data observasi yang dilakukan pada tanggal 10 desember 2024 – 12
desember 2024 bahwasanya timbang terima dilakukan dengan baik akan tetapi sesuai
kondisi diruangan terkadang perawat primer melakukan timbang terima lebih dari jam
yang ditentukan perawat biasanya telat ± 15 menit dikarenakan apel pagi atau visite
dokter. Timbang terima dilakukan dengan menggunakan rekam medis pasien dan buku
bantu timbang terima serta buku TTV.
Alur timbang terima di ruang teratai atas RSUD Sidoarjo

PP melakukan timbang terima pasien di nurse

PP membuka timbang terima dan memimpin

Penanggung jawab shift sebelumnya menjelaskan tentang jumlah pasien, nama pasien,
tanggal lahir, diagnose medic, data focus (subjektif dan objektif), masalah keperawatan,
tindakan yang sudah dilakukan dan yang belum dilakukan, dan instruksi khusus di nurse
station

Penanggung jawab shift selanjutnya mengklarifikasi terhadap penjelasan yang


disampaikan saat timbang terima di nurse station

Perawat melakukan validasi data ke ruangan atau ke pasien, mengucapkan salam,


menanyakan keluhan pasien saat timbang terima, memperkenalkan perawat penanggung
jawab pasien selanjutnya, mengucapkan salam

Perawat kembali ke nurse station, ,melakukan klarifikasi hasil validasi data, memberi
tanda di remic, menulis tanggal/jam

57
3. RONDE KEPERAWATAN
Berdasarkan hasil wawancara tanggal 10 Desember 2024 dari perawat ruangan
mengatakan bahwa ronde keperawatan di ruang rawat inap teratai atas pelaksanaan ronde
keperawatan di ruang teratai atas belum dilaksanakan secara optimal, belum pernah
dilakukan serta belum ada tim pelaksana dalam ronde keperawatan.
4. SENTRALISASI OBAT
Sistem penyentralan obat diatur oleh farmasi dengan system UDD, dimana UDD
adalah sitem pemberian obat yang harus habis dalam satu kali pakai. Diruang rawat inap
teratai atas tersedia format tanda terima obat dan tanda tangan keluarga, setiap kali
dilakukan pemberian obat secara oral maupun intravena sudah di dokumentasikan dalam
buku observasi obat. Namun di ruang ini belum ada format untuk penggunaan sisa obat
per pasien. Sentralisasi obat dapat digabungkan dengan penerimaan pasien baru, ketika
penerimaan pasien baru perawat akan memberikan formulir persetujuan dilakukannya
sentralisasi obat sebagai bukti disetujuinya sentralisasi obat.
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 10-12 desember 2024 sentralisasi obat
di ruang rawat inap teratai atas dilakukan dengan peresepan obat sesuai permintaan dokter
oleh perawat kemudian peresepan obat akan dikonfirmasikan petugas farmasi yang akan
dikunjungi pada saat pertukaran shift, setelah diambil dari farmasi obat akan diberikan
kepada perawat dan di letakkan di ruang rekonstitusi obat sesuai loker nama pasien, obat
dari farmasi sudah di tentukan dosis pemberiannya baik itu obat secara oral maupun
injeksi, hanya beberapa obat injeksi yang kurang yang akan di oplos di ruang teratai atas,
dan juga pada hari libur (minggu) dan tanggal merah perawat oplos obat sendiri, obat
yang akan digunakan dengan segera tetapi dalam ruangan tidak tersedia akan diresepkan
dan dapat diambil oleh perawat sendiri.

58
Alur sentralisasi obat di ruang rawat inap teratai atas RSUD R.T NOTOPURO
SIDOARJO dengan menggunakan model UDD
Dokter meresepkan obat

Memberikan resep kepada farmasi untuk melakukan collecting reserp hasil visite dokter
untuk diserahkan ke depo farmasi

Perawat menjelaskan keluarga bahwa resep obat dibawa oleh petugas


farmasi

Perawat mencatat kedalam rekam medik

Petugas farmasi mengantar obat keruang rawat inap teratai atas

Pengecekan kembali
Serah terima antara petugas farmasi dan perawat

Perawat memasukkan obat ke lemari obat

Pemberian obat ke pasien

Pemberian pada pasien sesuai jadwal dengan prinsip 5B yaitu : benar obat,
benar pasien, benar dosis, benar waktu dan benar cara pemberian. Perawat memastikan
aspek benar obat dengan cara menyesuaikan terapi di rekam medic dengan obat yang
didapatkan dari farmasi. Aspek benar waktu dilakukan dengan cara memeriksa jadwal
pemberian obat pada resep dengan jam pemberian obat tersebut. Aspek benar dosis
dilakukan dengan cara memeriksa dosis terapi pasien di rekam medic dengan dosis obat
yang diberikan farmasi. Sebagian perawat melakukan aspek benar pasien dengan
mengidentifikasi pasien dengan cara menyebutkan nama pasien, tanggal lahir dan
melihat nomer RM di gelang pasien. Aspek benar cara pemberian dilakukan dengan
cara mencocokkan terapi di resep dengan rekam medis. Perawat hanya akan menerima
obat yang akan dimasukkan sesuai dengan resep yang disiapkan oleh farmasi.
Sentralisasi obat sangat membantu perawat dalam mengatur pemberian obat pada

59
pasien. Dokter memberikan resep setiap hari sesuai kebutuhan pasien dan petugas depo
farmasi akan mengecek persediaan obat pasien. Selama ini semua perawat melakukan
pengecekan pemberian obat kepada pasien setiap hari. Namun untuk persiapan dan
penyimpanan obat masih dilakukan oleh petugas farmasi.
5. SUPERVISI
Berdasarkan hasil wawancara kepada kepala ruangan rawat inap teratai atas
pada tanggal 10 desember 2024 kepala ruagan mengatakan supervisi di ruang teratai
dilakukan satu bulan sekali dan supervise sudah terjadwal yang dibuat oleh kepala
ruangan dan yang terlibat dalam supervise yaitu perawat primer dan perawat pelaksana.
Setiap hasil supervisi akan disampaikan kepada perawat primer maupun kepala
ruangan, maka kesimpulan dari supervisi di ruangan rawat inap teratai atas dilakukan
secara baik dan sesuai dengan standart keperawatan yang ada di rumah sakit RSUD
Sidoarjo.
Alur supervise di ruang rawat inap teratai atas RSUD Sidoarjo

Menetapkan kegiatan dan tujuan Kepala ruangan


serta menilai kerja perawat

Perawat Primer

Pembinaan
a. Penyimpanan penilaian
Perawat Associate
b. Feed back (umpan balik)
c. Follow up (tindak lanjut)
Kinerja perawat dan kualitas

6. PENERIMAAN PASIEN BARU


Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat primer pada tanggal 10 Desember
2024 penerimaan pasien baru diruang rawat inap teratai atas RSUD sidoarjo dimulai
pasien yang akan masuk rumah sakit, dari IGD menghubungi terlebih dahulu ruang
teratai atas dan dari poli ataupun ruangan lain. Ruang teratai atas akan menyiapkan
kamar, setelah kamar pasien sudah siap kemudian pasien datang dilakukan identifikasi
pasien dan dicocokan dengan berkas berkas RM, pasien ditidurkan dengan ruang
kebutuhan pasien, operan status present dengan petugas yang mengantar dengan
menggunakan transfer dan harus di tanda tangani oleh pengantar dan penerima pasien,
kemudian perawat melakukan pengkajian keperawatan.

60
Alur penerimaan pasien baru di ruang rawat inap teratai atas

Pasien datang

Melakukan cuci tangan

Lakukan penerimaan pasien baru oleh KA perawat, perawat primer, katim atau perawat pelaksana

Perkenalkan diri

Identifikasi pasien

Periksa rekam medis berdasarkan identifikasi pasien dan kondisi pasien

Tempatkan pasien oleh petugas pengantar dan perawat penerima di kamar dan tempat tidur

Lakukan timbang terima pasien antar petugas, pengantar dan perawat penerima di nurse station

Informasi yang di timbang terima kan di rekam medis pasien

Tanyakan kembali kepada perawat penerima tentang kejelasan infromasi yang ditimbang terimakan

Lakukan assesmen awal keperawatan terhadap pasien

Tanyakan kembali tentang penjelasan informasi yang lebih disampaikan misalnya apakah bapak atau ibu
sudah jelas

Lakukan penandatanganan pada formulir pemberian informasi pasien baru dan LRM assesmen awal
keperawatan oleh perawat pemberian informasi

Lakukan dokumentasi

Lakukan cuci tangan

61
7. DISCHARGE PLANNING
Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat discharge planning diruang rawat
inap teratai atas sudah dilakukan baik saat pasien datang, saat dirawat, saat akan pulang
dengan lisan maupun tulisan oleh perawat.
Proses pelaksana discharge planning dilakukan di nurse station dengan cara
memanggil keluarga dan pasien. Kartu discharge planning sudah ada dengan isi sesuai
dengan standart yang telah ditetapkan rumah sakit meliputi: identitas pasien, tanggal
masuk, diagnose masuk, ruang rawat, tanggal keluar, diagnose keluar, kriteria pasien
membutuhkan perencanaan pulang kritis, perawatan dan aktivitas dirumah, aturan diet,
obat obatan yang diminum ( dosis, warna dan efek samping). Rencana hari perawatan,
edukasi kesehatan, rincian pemulangan atau hasil yang dibawa pulang, jadwal kontrol
klinik. Discharge planning dilakukan oleh perawat pelaksana tepat saat pasien dinyatakan
boleh pulang oleh dokter. Berdasarkan hasil wawancara dalam discharge planning di
ruang rawat inap teratai atas dilakukan langsung pada keluarga pasien dan ada pemberian
leaflet atau browser sesuai penyakit yang terisi penjelasan terkait penyakit yang di derita
pasien dengan cara mengatasi penyakitnya jika kambuh dan tidak ada pendokumentasian
tentang health education yang dilakukan.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 10 - 12 desember 2024
di dapatkan dalam lembar discharge planning yaitu perawat menjelaskan kepada keluarga
pasien dengan adanya kriteria pasien membutuhkan perencanaan pulang kritis. Perawatan
dan aktivitas dirumah, aturan diet, tindakan pengobatan yang diberikan termasuk obat
yang masih di minum, rencana hari perawatan, edukasi kesehatan meliputi : alternative
tempat kontrol, pemeriksaan laboratorium, pencegahan terhadap kekambuhan serta
adanya rincian pemulangan.

62
VISITE
DOKTER/DPJ
Jam Di
kerja luar
PASIEN KRS PASIEN
jam
APS

Lengkapi berkas dan


RM
perawat

Cek berkas administrasi (BPJS, SEP,


KTP, KK dll) + billing

Resep diserahkan

Cek entry billing


perawat
admin

Rincian biaya diserahkan


keluarga

Lengkapi lembar discharge


planning

Melepas infuse dan gelang


pasien

Lembar discharge planning +


perawat
hasil pemeriksaan

admin Pasien KRS

63
8. DOKUMENTASI KEPERAWATAN
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 10-12 desember 2024 semua tenaga
kesehatan yang melakukan implementasi ke pasien di catat dalam satu lembar terintegrasi
dan berkelanjutan, pendokumentasian dilakukan satu kali pada setiap shift dan
pendokumentasian mencakup asuhan keperawatan mulai dari keluhan utama, data
objektif, data subjektif, dan tindakan keperawatan. Selama ini pendokumentasian asuhan
keperawatan sudah dilaksanakan pada lembar rekam medis dan format asuhan
keperawatan dengan rekam medis elektronik/ remix dan dokumentasi manual tulis tangan.
Catatan tindakan keperawatan pada rekam medis terkait advis dari dokter sedangkan pada
format status pasien meliputi anamnesa, diagnose, pengkajian, renpra, instruksi dokter,
laporan perawat dan intervensi serta evaluasi keperawatan. Lembar observasi pasien tidak
ditempel pada bed pasien masing masing ruangan tapi terdapat pada lembar observasi di
nurse station jenis penyampaian informasi menggunakan teknik SBAR serta di
dokumentasikan menggunakan SOAP.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 10 desember 2024 di
ruang rawat inap teratai atas di dapatkan bahwa pendokumentasian dilakukan dengan
mengisi assessment awal dokter, assessment awal keperawatan, mengisi formulir
pemberian informasi pencegahan resiko jatuh, assessment nyeri, pengkajian resiko jatuh
dewasa, perencanaan asuhan keperawatan, catatan perkembangan pasien terintegrasi dan
implementasi dilakukan secara baik dan optimal yang mana pendokumentasian sudah
dilakukan dengan reklam medic elektronik/ REMICS akan tetapi sebagian dari format
masi menggunakan dokumentasi manual tulis tangan.

64
3.3.4 M4 : Money (Pembiayaan)

Berdasarkan Hasil wawancara dan data yang diperoleh dari kepala


ruangan pada tanggal 10-12 Desember 2024 didapatkan sebagai berikut :
a. Sumber Dana

Mengenai Pembiayaan Ruang Rawat Inap Teratai Lantai Atas RSUD


R.T NOTOPURO SIDOARJO. Didapatkan hasil sebagian besar pembiayaan
Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo berasal dari Pemerintah Daerah, Rumah
Sakit sendiri, dari Pemerintah Pusat.
b. Jenis Pembiayaan Pasien

Sedangkan pembiayaan pasien sebagian besar dari penjamin : BPJS,


KSO (Kerjasama dengan perusahaan lain), Jasa raharja, dan biaya sendiri
(umum). Berdasarkan hasil wawancara dan data yang diperoleh dari Kepala
Ruangan pada tanggal 10-12 Desember 2024 mengenai jumlah pembiayaan di
Ruang Rawat Inap Teratai Lantai Atas, dan didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 3.16 Tarif Biaya Perawatan Ruang Rawat Inap Teratai Lantai Atas
RSUD R.T NOYOPURO SIDOARJO Tahun 2024.
No MacamProduk Kelas2
1. Biaya Kamar Rp.235.000,00
2. Jasa Pelayanan Keperawatan Rp.75.000,00
3. BAHP Dasar Rp.40.000,00
Total Rp.350.000,00
Sumber : Administrasi Ruang Teratai Lantai Atas Berdasarkan Tabel 3.16 dapat
disimpulkan bahwa tarif biaya perawatan Kelas 2 di Ruang Rawat Inap Teratai Lantai
Atas RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO tahun 2024 adalah sebesar Rp.
350.000,00/hari.

Tabel 3.17 Tarif Visite Atau Konsul Dokter Ruang Rawat Inap Teratai
Lantai atas RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO Tahun
2024.
No. Uraian Harga
1. Visite Dokter Spesialis Rp.90.000,00
2. Visite Dokter Umum Rp.50.000,00
3. Konsul Dokter Spesialis Diluar Jam Kerja Rp.95.000,00
Datang
4. Konsul Dokter Via Telpon Rp.40.000,00
Total Rp.275.000,00
Sumber : Administrasi Ruang Teratai Lantai Atas Berdasarkan tabel
3.17 di atas dapat disimpulkan bahwa tarif visite atau konsul dokter di Ruang Rawat Inap Teratai
Lantai Atas RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO Tahun 2024 adalah sebesar
Rp.275.000,00/visite atau konsul.

65
Tabel 3.18 Tarif Visite Apoteker Dan Ahli Gizi Ruang Rawat Inap
Teratai Lantai Atas RSUD R.T NOTOPURO
SIDOARJO Tahun 2024.

No. Uraian Harga


1. Visite Apoteker Rp. 30.000,00
2. Visite Ahli Gizi Rp. 20.000,00
Total Rp. 50.000,00
Sumber : Administrasi Ruang Teratai Lantai Atas
Berdasarkan Tabel di atas dapat disimpulkan bahwa tarif visitea poteker
dan ahli gizi di Ruang Rawat Inap Teratai Lantai Atas RSUD R.T
NOTOPURO SIDOARJO Tahun 2024 adalah sebesar Rp.
50.000,00/visite.

Tabel 3.19 Tarif Tindakan Non Operatif Di Ruang Rawat Inap Teratai
Lantai Atas RSUDR.T NOTOPURO SIDOARJO Tahun
2024.
No. Uraian Harga
1. Electrocardiography (ECG) Rp. 100.000,00
2. Lavement Rp. 62.500,00
3. Nebulizing 1 Kali Tindakan Rp. 75.000,00
4. Oksigen Masker ≤ 12 Jam Rp. 115.000,00
5. Oksigen Masker ≥12jam/hari Rp. 200.000,00
6. Oksigen Nasal ≤ 12 Jam Rp. 69.000,00
7. Oksigen Nasal ≥ 12jam/hari Rp. 95.000,00
8. Pasang NGT Rp. 55.000,00
9. Rawat Luka Ganggren Berat Rp. 200.000,00
10. Rawat Luka Sedang Rp. 100.000,00
11. Regulasi Cepat Insulin Rp. 150.000,00
12. Syring pump Rp. 100.000,00

66
Sumber : Administrasi Ruang Teratai Lantai Atas
Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa tarif tindakan
non operatif di Ruang RawatInap Teratai Lantai Atas RSUD R.T
NOTOPURO SIDOARJO Tahun 2024 adalah sebesar
Rp.1.321.500,00/hari.

67
3.3.5 M-5 : Mutu (Pelayanan)
Peningkatan mutu pelayanan adalah derajat memberikan
pelayanan secara efisien dan efektif sesuai dengan standart profesi
standart pelayanan yang dilaksanakan secara menyeluruh sesuai dengan
kebutuhan pasien, memanfaatkan teknologi tepat guna dan hasil
penelitian dalam pengembangan pelayanan kesehatan atau keperawatan
sehingga mencapai derajat kesehatan yang optimal (Nursalam,2016).
1. Persiapan

Pengamatan M5 pada ruangan instalasi rawat teratai atas RSUD Sidoarjo


dilakukan pada tanggal 10-12 Desember 2024.

2. Pelaksanaan

Proses pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tanggal 10-12


Desember 2024 . Mahasiswa melakukan pencarian data selama 3 hari di
ruang teratai atas RSUD Kabupaten Sidoarjo dengan

68
berbagai pertanyaan meliputi kepuasan pasien, Angka kejadian jatuh,
Flebilitis, resiko infeksi saluran kemih (ISK), decubitus, luka infeksi
operasi, kepuasan perawat.
3. Indikator pelayanan

Terdapat beberapa aspek penilaian penting dalam upaya penjaminan mutu perawatan
pasien. Salah satu aspek yang menjadi indikator peningkatan mutu pelayanan yaitu:

1) Patient safety

Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan pada tanggal 10-12


Desember 2024. Mengenai tata laksana keselamatan pasien untuk
melaksanakan kegiatan sesuai sasaran keselamatan pasien di rawat inap
teratai atas adalah sebagai berikut :
A.6 Sasaran Keselamatan pasien
a. Ketepatan identifikasi pasien
b. Peningkatan komunikasi yang efektif (SBAR)
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu
diwaspadai dengan mengunakan tanda stiker
warna merah (high-allert)
d. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat pasien operasi
e. Pengurangan risiko infeksi tekait pelayanan kesehatan
f. Pengurangan risiko pasien jatuh
1. Semua petugas kesehatan yang ada diruang rawat inap
teratai atas melakukan identifikasi pasien sebelum
melakukan tindakan, sebelum pemberian pengobatan,
sebelum pengambilan darah. Semua pasien yang
menjalani rawat inap wajib dipakai kan gelang identitas,
untuk macam – macam gelang identitas sebagai berikut :
a. Gelang warna merah muda : digunakan untuk
pasien dengan jenis kelamin perempuan.
b. Gelang warna biru : digunakan untuk pasien
dengan jenis kelamin laki– laki
c. Stiker warna kuning :digunakan untuk pasien resiko jatuh
d. Stiker warna merah : digunakan untuk pasien
mempunyai alergi obat

69
2. Petugas memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud
dan tindakan yang dilakukan
3. Memastikan pasien yang akan dilakukan tindakan benar
pasien tersebut

4. Memberi stiker warna kuning jika pasien berisiko jatuh


dan stiker merah pada pasien yang alergi obat
5. Bila melakukan tindakan injeksi harus dilakukan
pengecekan ganda dengan teman sejawat dan harus
memperhatikan 5 tepat, yaitu : tepat obat, tepat pasien,
tepat dosis, tepat jam pemberian, dan tepat cara
pemberian.

2). Keselamatan petugas (K3RS)


Untuk keselamatan pasien dan petugas tidak kala pentingnya
melakukan cuci tangan dengan bener, ada 6 langkah cuci tangan
handwash dengan durasi 40–60 detik dan handcrab 20 – 30 detik yang
diterapkan di RSUD Kabupaten Sidoarjo. Langkah-langkah mencuci
tangan :
a. Membasuh tangan dengan air
b. Tuangkan sabun atau handrub secukupnya
c. Ratakan dengan kedua telapak tangan dengan sela-sela jari
d. Jari-jari dalam dari kedua tangan saling mengunci
e. Gosok ibu jari kiri memutar dalam genggaman tangan kanan dan
lakukan sebaliknya
f. Gosok dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan dengan
telapak tangan kiri dan dilakukan sebaliknya
g. Bilas kedua tangan dengan air
h. Keringkan dengan handuk atau tissue sekali pakai sampai benar-
benar kering

Ada 5 moment mencuci tangan


1. Sebelum melakukan tindakan
2. Sesudah melakukan tindakan
3. Sesudah menyentuh cairan tubuh pasien
4. Sebelum atau sesudah tindakan asepsis
5. Setelah kontak dengan pasien

70
3). Angka kejadian jatuh
Berdasarkan hasil observasi tanggal 10-12 Desember 2024 mengenai angka
insiden pasien jatuh, di dapatkan hasil sebagai berikut:

Tanggal
No Risiko
10 11 12
1 Rendah

2 Sedang

3 Tinggi

4. Tidak berisiko

TOTAL

Berdasarkan hasil analisa diatas, dapat disimpulkan bahwa


4.) BOR pasien menurut Gillies
Presentase pemakaian tempat tidur harian yang dilakukan
pengkajian selama 3 hari di Ruang Teratai Atas
a) Pengkajian hari pertama selasa 10 Desember 2024, jam
09.00 WIB BOR=Jumlah bed terisi x 100%

Jumlah

bed

33
seluruhnya

BOR = X 100% = 91,66 %


36
b) Pengkajian hari kedua Tanggal 11 Desember 2024 pukul 10.00 WIB

34
BOR = X 100% = 94,44 %
36

c) Pengkajian hari ketiga Tanggal 12 Desember 2024, pukul 10.00 WIB

BOR = X 100% = %
36

71
Berdasarkan hasil pengkajian, didapatkan gambaran kapasitas tempat tidur Ruang Teratai
atas, yaitu 36 tempat tidur dengan rincian sebagai berikut:
No Pengkajian Pukul Ruang BOR
Hari/Tanggal teratai
atas
1 Selasa, 10 Desember 09.00 36 33/36x100%=
2024 WIB Bed 91,66 %
(33
terisi)
2 Rabu , 11 Desember 10.00 36 Bed 34/36x100%=
2024 WIB (33 94,44 %
terisi)
3 Kamis, 12 Desember 10.00 Bed /36 x 100% =
2024 WIB (terisi) %

No Tanggal pulang/KRS Pasien Yang Lama di Total


KRS Hidup/Mati rawat
1. Selasa, 10 Desember 2024 1. Pasien An. N 1. (8 hari ) 38 hari
2. Pasien An. Y 2. (1 hari)
3. Pasien An. G 3. (3 hari )
4. Pasien Ny. S 4. (5 hari )
5. Pasien Ny. S 5. (4 hari)
6. Pasien Ny. S 6. (5 hari)
7. Pasien Tn. S 7. (4 hari)
8. Pasien Tn. S 8. (4 hari)
9. Pasien Tn. M 9. (4 hari)
10. Pasien Ny. W 10. (4 hari)
2. Rabu, 11 Desember 2024 1. Pasien Ny. S 1. (4 hari) 32 hari
2. Pasien Ny. S 2. (5 hari)
3. Pasien Ny. E 3. (3 hari)
4. Pasien Tn. R 4. (7 hari)
5. Pasien Ny. K 5. (3 hari)
6. Pasien Tn. K 6. (3 hari)
7. Pasien An. D 7. (2 hari)
8. Pasien Tn. S 8. (3 hari)
9. Pasien Ny. L 9. (2 hari)
3. Kamis, 12 Desember 2024 1. 1.

Jumlah

72
Berdasarkan hasil perhitungan BOR Pasien di ruang teratai atas selama 3 hari

1) ALOS (Averange Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)


Presentase rata-rata lama pasien dirawat yang dilakukan pengkajian selama 3

j𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖 𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡


hari di Ruang Teratai atas sebagai berikut:

rumus = =
j𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟 (ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝 𝑚𝑎𝑡𝑖)

Berdasarkan hasil perhitungan ALOS pasien di ruang teratai atas selama 3 hari adalah

5) Kepuasan pasien

Berikut ini akan dipaparkan mengenai kepuasan pasien tanggal 10-12 Desember 2024
terhadap kinerja perawat. Pelaksanaan evaluasi menggunakan kuisioner yang berisi 24
pertanyaan berbentuk pilihan dengan jawaban menggunakan nilai SP (sangat puas), P (puas),
TP (tidak puas), STP (sangat tidak puas)
No Kepuasan pasien Tanggal
10 11 12
1 Tidak puas
2 Kurang puas
3 Cukup puas
4 Puas
5 Sangat puas
TOTAL

Berdasarkan hasil analisa diatas, dapat disimpulkan bahwa hampir semua


pasien merasa dengan pelayanan yang diberikan.

73
6.) Kejadian Dekubitus
Berdasarkan hasil pengkajian 12- 14 Desember 2023 Diruang teratai atas mengenai angka
kejadian dekubitus sebagai berikut:
Tanggal
No Kejadian dekubitus
10 11 12
1 Risiko kejadian
2 Tidak berisiko kejadian
TOTAL

Bahwa Berdasarkan hasil analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa pada


tanggal 10-12 Desember 2024 didapatkan hasil responden dengan kriteria hasil
tidak berisiko yang mana diartikan tidak ada pasien mengalami decubitus di
Ruang Teratai atas perawat memberikan arahan setiap harinya kepada pasien
atau keluarga untuk memberikan mobilisasi ditempat tidur (miring kanan dan
miring kiri).
7.) Kejadian Resiko Infeksi Saluran Kemih(ISK)
Berdasarkan hasil observasi tanggal 10-12 Desember 2024 mengenai angka kejadian risiko
infeksi saluran kemih, di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tanggal
No ISK 10 11 12
1 Berisiko infeksi
2 Tidak berisiko infeksi
TOTAL

Bahwa Berdasarkan hasil analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa pada tanggal 10-12
Desember 2024 di dapatkan hasil responden tidak ada pasien yang mengalami resiko infeksi
saluran kemih (ISK) dikarenakan perawat setiap hari memberi edukasi ke pasien untuk
mengganti pampers jika pasien memakai pampers dan rajin membersihkan daerah kemaluan
jika pasien terpasang kateter.
8) Kejadian Infeksi Daerah Operasi
Berdasarkan hasil observasi tanggal 10-12 Desember 2024 mengenai angka kejadian infeksi
luka operasi, di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tanggal
No Kejadian IDO 10 11 12
1 Ya
2 Tidak
TOTAL

74
Berdasarkan hasil analisa diatas,dapat disimpulkan bahwa pada tanggal 10-12 Desember
2024 didapatkan hasil responden tidak ada pasien yang mengalami infeksi daerah infeksi.

9.) Kepuasaan Perawat Dalam Ketenaga kerja

Berdasarkan data yang diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada staff perawat yang berada
di lantai teratai atas di dapatkan hasil sebagai berikut:

No. Kepuasan perawat jumlah

1 Sangat tidak puas

2 Tidak puas

3 Cukup puas

4 Puas

5 Sangat puas
TOTAL

10). Kesalahan Pengobatan


Berdasarkan data yang diperoleh dari observasi dan wawancara ruang teratai atas
dalam pemberian obat dari tanggal 10-12 Desember 2024, hasil analisa didapatkan tidak ada
kesalahan dalam pemberian obat dan hampir seluruh perawat sudah melaksanakan sesuai
SPO dengan 5T 1W.

11). Kecemasan pada pasien


Berdasarkan hasil observasi tanggal 10-12 Desember 2024 mengenai kecemasan pada pasien,
di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tanggal
No Kejadian kecemasan 10 11 12
1 Ringan
2 Sedang
3 Berat
TOTAL

Bahwa berdasarkan hasil analisa data diatas, dapat disimpulkan bahwa pada tanggal
10 sebanyak pasien mengalami kecemasan, tanggal 11 sebanyak pasien mengalami
kecemasan, pada tanggal 12 sebanyak pasien mengalami kecemasan.

75
12) Pengkajian nyeri
Berdasarkan data yang diperoleh dari observasi dan wawancara pasien di ruang teratai
atas 10-12 Desember 2024 sebesar :
Tanggal
No Masalah nyeri 10 11 12
1 Ringan
2 Sedang
3 Berat
4 Tidak mengalmai masalah nyeri
TOTAL

3.3.2 Analisi SWOT

Tabel 3.22 Analisis SWOT ruang rawat inap Teratai Atas RSUD Sidoarjo
NO Analisis SWOT Bobot Rating Bobot X Rating
1 M-1(Sumber Daya
Manusia)
1. Internal
Faktor(IFAS)
STRENGTH
a. Jenis tenaga 0,2 2 0,4
Diruangan S – w = 2,8
 S2 Kep 1 orang – 3 = -0,2
 S1 kep 3 orang
 D3 Kep 22 orang
 SMA 1 orang
 SKM 1 orang 0,4 3 1,2
b. Seluruh perawat
telah mengikuti
Pelatihan
(misal: BLS, APAR,
DLL) 0,4 3 1,2
c. adanya pelatihan
Perawat

TOTAL 1 2,8

WEAKNESS
a. Sebagian perawat 0,5 4 2
masih berlatar
pendidikan D3
Keperawatan
b. Sebagian perawat 0,5 2 1
mengikuti pelatihan
MAKP
TOTAL 1 3
2. Eksternal
Faktor(EFAS)

76
OPPORTUNIT
Y
a. Rumah Sakit
Memberikan 0,3 4 1,2
kesempatan perawat
mengikuti pelatihan
dan Workshop
Untuk
mengembangkan
Kompetensi
b. Merupakan 0,4 4 1,6
tempatpraktik
untuk mahasiswa
keperawatan dan
Kedokteran
c. Adanya kebijakan 0,3 4 1,2
Pemerintah
Tentang
profesionalisme
Perawat
TOTAL 1 4,0

THREATHENED O -T = 4,0
a. Makin tingginya 0,6 2 1,2 – 2,4 = 1,6
Kesadaran
masyarakaat akan
Pentingnya
Kesehatan
b. Tuntutan untuk 0,4 3 1,2
meningkatkan
kualitaspelayanan
terkait akreditasi
Rumah Sakit

TOTAL 1 2,4

2. M-2 (Sarana dan


Prasarana)
1. Internal Faktor
(IFAS)
STRENGTH 0,2 4 0,8
a. Mempunyai saranan
dan prasarana yang
memadai untuk pasien
tenaga kesehatan, dan
keluarga pasien
termasuk sarana
prasarana universal S – w = 3,4
precaution untuk 3 0,6 – 3,5= -0,1
0,2
perawat
b. Terdapat
administrasi
penunjang, rekam

77
medik pasien, buku
observasi TTV, Buku
BOR , buku sensus
harian, buku
kematian,buku
laporan kecelakaan
lalu lintas, buku
permasalahan
administrasi yang
memadai. 0,2
c. RS pemerintah tipe A 3 0,6
sekaligus sebagai RS
pendidikan dan
rujukan.
0,2
d. Tersedianya nurse 3 0,6
station.
e. Pemeliharaan dan 0,2 4 0,8
perawatan dari
sarana dan prasarana
penunjang kesehatan
sudah ada. 1 3,4
TOTAL

WEAKNESS
a. Tempat sarana 0,5 3 1,5
administrasi
penunjang kurang
memadai
b. Kamar mandi 0,2 0,8
untuk mahasiwa 4
yang belum ada
c. Ruangan pasien 0,3 1,2
terasa panas 4

TOTAL 1 3,5

2. Ekternal Faktor
(EFAS)
OPPORTUNITY
0,5
a. Adannya pengadaan 3 1,5
sarana dan
prasaranan alat habis 0,5
pakai. 3 1,5
b. Adanya program O – T = 3–
pelatihan/ seminar 2=1
khusus tentang
pengoprasian alat 1 3

TOTAL

TREATH 0,5 2 1
a. Makin tinggi
kesadaran

78
masyarakatakan
pentingnya kesehatan
b. Ada tuntutan tinggi 0,5
dari masyarakat 2 1
untukmelengkapi
sarana dan prasarana.
1
TOTAL 2

3 M3 (Method)
MAKP
1. Internal faktor
(IFAS)
STRENGHT
1. RS memiliki visi, 0,1 3 0,3
misi,dan motto
sebagai acuan
melaksanakan
kegiatan pelayanan.
2. Terdapat MAKP yang 0,2 3 0,6
digunakan sebagai S – W = 2,8
acuan dalam – 2 = 0,8
managemen
keperawatan yaitu
MAKP Moduler (Tim
Primer).
3. Memiliki standart 0,2 3 0,6
asuhan keperawatan
dan protap setiap
tindakan.
4. Terlaksananya 0,3 3 0,9
komunikasi yang
efektif antara
tenaga kesehatan
dan tim medis.
5. Tidak mendapatkan 0,1 2 0,2
banyak kritikan dari
pasien kepada
ruanganmengenai
MAKP yangsudah
berjalan.
6. Tanggung jawab dan 0,1 2 0,2
tupoksi tenaga
kesehatan sudah
jelas.
1 2,8
TOTAL

WEAKNESS 1 2 2
a. Kurangnya jumlah
tenaga yang membantu

79
optimalisasi penerapan
model yang digunakan.
TOTAL 1 2
2. Eksternal
Faktor(EFAS)
OPPORTUNI
TY
a. Adanya mahasiswa 0,2 3 0,6
S1 Keperawatan yang
praktik manajemen
keperawatan 0,2 3 0,6
b. Adanya kerjasama
antara pihak RS
dengan Institusi
Pendidikan
Kesehatan. 0,3 3 0,9
c. Adanya kebijakan
dariRS mengenai
peningkatan mutu
SDM. 0,3 4 1,2
d. Adanya kebijakan
dari RS mengenai
pelaksanaan MAKP.
1 3,3
TOTAL

THREATENED 0,2 3 0,6 O – T = 3,3


a. Tingkat kesadaran – 3 = 0,3
masyarakat (pasien
dan keluarga ) akan
tanggung jawab dalam
tanggung gugat. 0,2 3 0,6
b. Persaingan rumah
sakit dalam
memberikan
pelayanan 0,2 3 0,6
keperawatan.
c. Adanya tuntutan
masyarakat yang
semakin tinggi
terhadap peningkatan
pelayanan keperawatan
yang lebih 0,2 3 0,6
professional.
d. Makin tinggi
kesadaran masyarakat 0,2 3 0,6
mengenai hokum.
e. Bebasnya pers yang
langsung dapat
menyebarkan 1 3
informasi secara
cepat.
TOTAL

80
RONDE
KEPERAWATAN
1. Internal
faktor(IFAS)
STRENGTH
a. Bidang 0,3 3 0,9
perawatan dan
ruangan
mendukung
adanya kegiatan
Ronde
Keperawatan
b. Tenaga kesehatan 0,4 4 1,6
yanglengkap.
Terdiri dari dokter
spesialis, perawat,
DM, ahli gizi,
mahasiswa perawat
praktek. S-W = 3,4 –
c. Sebagian besar 0,3 3 0,9 3 = 0,4
perawatmengerti
adanya ronde
keperawatan.

TOTAL 1 3,4

WEAKNESS
a. Karakteristik 0,5 3 1,5
tenaga yang memenuhi
kualifikasi belum
merata.
b. Belum 0,5 3 1,5
terlaksananya
ronde secara
optimal.

TOTAL 1 3

2. Eksternal Faktor
(EFAS)
OPPORTUNITY
a. Adanya mahasiswa 0,3 2 0,6
praktek yang akan
menerapkan ronde
keperawatan di ruang
Teratai Lantai II
RSUDSidoarjo.
b. Adanya kesempatan 0,4 4 1,6
bagi kepala ruangan
untuk mengadakan
ronde keperawatan

81
pada perawat dan
mahasiswa praktek.
c. Adanya pelatihan
dan seminar 0,3 3 0,9
mengenai
manajemen
keperawatan.
TOTAL 1 3,1 O – T = 3,1
THREATENED – 2,4 = 0,7
a. Adanya tuntutan 0,3 3 0,9
yanglebih tinggi
dari masyarakat
untuk mendapatkan
pelayanan yang
lebihprofessional 0,3 1 0,3
b. Persaingan antar RS
semakin kuat dalam
pemberian
pelayanan. 0,2 3 0,6
c. Persaingan antara
ruang rawat inap
dalammemberikan
pelayanan
professional. 0,2 3 0,6
d. Semakin
meningkatnya
berbagai macam
kasus kesehatan
sehingga menuntut
tenaga kesehatan
untuk memiliki
pengetahuan yang
baik
1 2,4
TOTAL

SENTRALISASI OBAT
1. Internal
Faktor(IFAS)
STRENGHT 0,3 3 0,9
a. Adanya
pencatatan
sentralisasi obat. 0,3 3 0,9
b. Adanya
pencatatan
sentralisasi obat,
penyimpanan obat
injeksi dan oral. 0,2 4 0,8
c. Sudah terlaksananya
sentralisasi obat oleh
perawat yang S – W = 3,4
berkolaborasi – 3= 0,4
dengandepo farmasi.

82
d. Adanya buku injeksi 0,2 4 0,8
dan obat oral
bekerjasama dengan
dengan depo
farmasi.
TOTAL 1 3.4
WEAKNESS
a. Keterlambatan dalam 1 3 3
pemberian obat
dikarenakan
keterlambatan
datangnya obat.
TOTAL 1 3
2. Eksternal Faktor
(EFAS)
OPPORTUNITY
a. Adanya mahasiswa 0,5 2 1
keperawatan yang
praktek sebagai
rolemodel.
b. Kerjasama yang 0,5 4 2
baik antara
perawat dan
mahasiswa
praktek.

TOTAL 1 3

THREATENED
a. Adanya tuntutan 1 2 2
pasien untuk O-T = 3 – 2
mendapatkan =1
pelayanan yang
professional.
TOTAL 1 2

SUPERVISI
1. Internal Faktor
(IFAS)
STRENGHT
a. Perawat 0,1 3 0,3
mengertitentang
supervisi.
b. Adanya hubungan 0,1 3 0,3
kerja sama yang S-W =3-
baik antara kepala 0,2 =2,8
ruangandengan staf.
c. Adanya umpan balik 0,1 3 0,3
dari supervisior
untuksetiap tindakan.
d. Kepala ruangan 0,3 3 0,9
mendukung
kegiatansupervisi.

83
e. Hasil dari 0,1 3 0,3
supervisor
disampaikan kepada
perawat.
f. Alur supervisi 0,1 3 0,3
di ruangan
sudah sesuai.
g. Format untuk 0,2 3 0,6
supervise sudah
sesuaidengan standart
keperawatan.

TOTAL 1 3

WEAKNESS
a. Supervisi telah 1 2 0,2
dilakukan namun
terkadaang tidak
sesuai SOP
supervisi

TOTAL 1 0,2

2. Eksternal
Faktor(EFAS)
OPPORTUNIT
Y
a. Adanya mahasiswa 0,6 3 1,8
keperawatan yang
praktek O – T = 3,0
manajemen. – 1,6 = 1,4
b. Adanya 0,4 3 1,2
kerjasamayang
baik antara
institusi
kesehatandengan
bidang
keperawatan.

TOTAL 1 3,0

THREATENED
a. Adanya kompetensi 0,3 3 0,9
beberapa RS
mengenaikegiatan
keperawatan.
b. Adanya kesadaran 0,7 1 0,7
masyarakat yang
tinggiterhadap mutu
kesehatan.
TOTAL 1 1,6

84
PENERIMAAN PASIEN
BARU
1. Internal
Faktor(IFAS)
STRENGHT
a. Di ruang Teratai Atas 0,3 4 1,2
sudah dilakukan
penerimaanpasien
baru.
b. Adanya serah terima 0,3 4 1,2
pasien oleh perawat
yang mengantar
dengan perawat S–W=4-
yang jaga 3=1
c. Tersedianya format 0,4 4 1,6
serah terima pasien
dari ruang lain, OK,
atau IGD, adanya
lembar pasien
masuk rumah sakit,
lembar pengkajian
pasien, lembar tata
tertib pasien dan
keluarga pasien, dan
lembar inform
consent sentralisasi
obat. 1 4
TOTAL
WEAKNESS 0,5 2 1
a. Perawat terkadang
tidak menjelaskan
segalasesuatu
tercantum dalam
lembar
penerimaan pasien
baru. 0,5 4 2
b. Perawat tidak
meminta inform
consent sentralisasi
kepada keluarga
pasien. 1 3
TOTAL

2. Eksternal
Faktor(EFAS)
OPPORTUNIT
Y 0,5 2 1
a. Adanya mahasiswa
keperawatan
praktekmanajemen
keperawatan. 0,5 3 1,5
b. Kerjasama antar
mahasiswa

85
keperawatan O-T = 2,5-
denganperawat 3,3 = -0,8
ruangan.
TOTAL 1 2,5
THREATENED
a. Adanya tuntutan lebih 0,3 4 1,2
tinggi dari masyarakat
untuk mendapatkan
pelayanan
keperawatanyang
professional.
b. Meningkatnya 0,7 3 2,1
kesadaran masyarakat
tentang tanggung
jawab dan tanggung
gugat pearawat
sebagai pemberi
asuhan keperawatan.

TOTAL 1 3,3

DISCHARGE
PLANNING
1. Internal
Faktor(IFAS)
STRENGHT
a. Adanya kemauan dari 0,2 3 0,6
pihak tenaga
kesehatanuntuk
memberikan
pendidikan kesehatan
kepada pasien atau
keluarga. S-W = 2,6 –
b. Adanya surat 0,2 2 0,4 0 =2,6
kontroldan format
resume untuk pasien
pulang.
c. Ada alur / 0,2 3 0,6
SOP
pasienpulang. 0,2 2 0,4
d. Sudah tersedianya
kartu discharge
planning untuk
pasienpulang. 0,2 3 0,6
e. Setiap selesai
melakukan discharge
planning perawat akan
melakukan
pendokumentasian
daridischarge planning
yang telah dilakukan. 1 2,6
TOTAL

86
WEAKNESS
TOTAL

2. Eksternal Faktor
(EFAS)
OPPORTUNITY
a. Adanya mahasiswa 0,5 2 1
keperawatan yang
akan praktek O – T = 2,5
keperawatan – 1,7 = 0,8
manajemen.
b. Adanya kerjasama 0,5 3 1,5
yang baik antara
mahasiswa
keperawatan
denganperawat
ruangan.
TOTAL 1 2,5
THREATENED
a. Adanya tuntutan 0,2 3 0,6
masyarakat untuk
mendapatkan
pelayanan
keperawatanyang
professional.
b. Semakin 0,7 1 0,7
tingginya
kesadaran
masyarakatterkait
pola hidup sehat. 0,1 4 0,4
c. Persaingan antar RS
yang semakin ketat
dalam pemberian
pelayanan
keperawatanyang
professional. 1 1,7
TOTAL

DOKUMENTASI
KEPERAWATAN
1. Internal
Faktor (IFAS)
STRENGHT 0,2 3 0,6
a. Sudah terdapat
format
pendokumentasian
yang baku. 0,3 2 0,6
b. Tersedia format
asuhankeperawatan
dan standar asuhan
keperawatan. 0,2 3 0,6 S-W= 2,6 -
c. Telah memahami 2 = 0,6
carapengisian format

87
dokumentasi tersebut
dengan benar dan
tepat.
d. Adanya kesadaran 0,2 2 0,4
perawat tentang
tanggung jawab
dantanggung gugat.
e. Format yang 0,1 4 0,4
digunakan ini bisa
membantu
(memudahkan)
perawat dalam
melakukan
pengkajianpada
pasien.
TOTAL 1 2,6
WEAKNESS
a. Beban kerja 0,5 2 1
perawattinggi
dikarenakan harus
mengisi
dokumentasi
keperawatan secara
digital dan manual.
b. Pengawasan 0,5 2 1
terhadapsistematika
pendokumentasian
kurang dilaksanakan 1 2
secara optimal
TOTAL
2. Eksternal Faktor
(EFAS) 0,5 3 1,5
OPPORTUNITY
a. Merupakan peluang
bagi perawat untuk
meningkatkan
pendidikan
(pengembangan 0,5 3 1,3
SDM). O-T = 3- 2
b. Kerjasama yang =1
baik antara perawat
denganmahasiswa 1 3
praktek.
TOTAL 0,5 2 1
THREATENED
a. Adanya persaingan
yang semakin ketat
antar RS dalam
memberikan
pelayanan 0,5 2 1
keperawatan.
b. Tingkat kesadaran

88
masyarakat semakin
tinggi terkait
tanggungjawab dan 1 1
tanggung gugat
TOTAL
TIMBANG TERIMA
1. Internal
Faktor(IFAS)
STRENGHT
a. Kepala tim 0,2 4 0,8
memimpinkegiatan
timbang terima.
b. Adanya timbang 0,2 4 0,8
terima setiap pergantian
shif 0,1 4 0,4
c. Adanya kedisiplinan
perawat S-W = 4-
dalammelakukan 0,4 3= 1
timbangterima. 0,1 4
c. Adanya buku
khusus untuk
pelaporan timbang 0,8
0,2 4
terima berupabuku.
d. Tidak ada kesulitan
dalam
mendokumentasikan
laporan timbang
4
terima. 0,2 0,8
e. Adanya interaksi
antara pasien dan
perawat saat timbang
terima berlangsung

1 3,2
TOTAL

WEAKNESS 1
3 3
a. Adanya beberapa
perawat yang tidak
menerapkan SOP
timbang terima salah
satunya mengucapkan
salam semoga cepat 1 3
sembuh.
TOTAL
2. Eksternal
Faktor(EFAS)
OPPORTUNIT 0,5 1,5
Y
a. Adanya
mahasiswa
keperawatan yang
paktek

89
manajemen.
b. Adanya kerjasama
yang baik antara 0,5 3 1,5 O–T=3–
mahasiswa 2=1
praktekdengan
perawat ruangan.
TOTAL 1 3

THREATENED
a. Meningkatnya 0,5 2 1
kesadaran masyarakat
mengenai
tanggungjawab dan
tanggung gugat
perawat sebagai
pemberi asuhan
keperawatan
professional.
b. Adanya tuntunan yang 0,5 2 1
lebih tinggi dari
pasien mengenai
pelayanan
keperawatan yang
professional. 1 2
TOTAL
M-4 (Money)
1. Internal Faktor
(IFAS)STRENGTH 0,2 3 0,6
a. Ada pendapatan dari
jasa medik, untuk
pasien dengan biaya
BPJS yang dapat di
klaim setelah
perawatan 0,3 3 0,9
b. Ada pendapatan dari
jasa pelayanan rumah
sakit berupa remunerasi 0,6 4 2,4 S – W = 3,9
c. Ada pendapatan dari – 2 = 1,9
jasa pelayanan
IRNAMedis.
1 3,9
TOTAL
WEAKNESS 1 2 2
a. Sistem
administrasibelum
terpusat.
1 2
TOTAL
2. Eksternal Faktor
(EFAS)
OPPORTUNITY 0,5 3 1,5
a. Pengeluaran sebagian
besar dibiayai

90
institusi.
b. Ada kesempatan untuk 0,5 4 2
mengunakan
instrumenmedis
dengan re-use
sehingga menghemat O – T = 3,5
pengeluaran. -2 = 1,5

TOTAL 1 3,5

THREATENED
a. Adanya tuntutan yang 1 2 2
lebih tinggi dari
masyarakat untuk
mendapatkan pelayann
kesehatan dan yang
lebih profesional
sehingga membutuhkan
pendanaan yang lebih
besar untuk
mengadakansarana
prasarana

TOTAL 1 2

M-5 (Mutu)
1. Interternal
Faktor (IFAS)
STRENGTH 0,3 3 0,9
a. Kepuasan pasien
12. terhadap pelayanan
kesehatan di rumah
sakit 0,3 3 0,9
b. variasi karakteristik
daripasien (BPJS,
Umum, asuransi S – W = 3,4
swasta. 0,4 4 1,6 – 0 ,6 = 2,8
c. Strategi tempat praktik
mahasiswa
keperawatanD-3
maupun S-1 1 3,4
TOTAL

WEAKNESS 1 0,6 0,6


ALOS yang memanjang
karena keperawatan yang
lama.
1 0,6
TOTAL

2. Eksternal
Faktor (EFAS)
OPPORTUNITY

91
a. Mahasiswa S-1 0,5 3 1,5
keperawatan
praktikmanajemen
b. Kerjasama yang 0,5 3 1,5
baik antara perawat
dan mahasiswa
TOTAL 1 3

THRETENED
a. Adanya peningkatan 0,5 2 1
standar masyarakat O–T=3–
yang harus 2=1
dipenuhi.
b. Persaingan RS 0,5 2 1
dalam memberikan
pelayanan
keperawatan.
TOTAL 1 2

92
Tabel 2.23 Tabel prioritas Masalah
Masalah Skor Analisis Swot Kwadran/ Prioritas
Area
IFAS EFAS masalah
M1 SDM -0.2 1.6 III 1

M2 SARANA -0,1 1 III 2


PRASARANA
M3 MAKP 0.8 0.3 I 6
PENERIMAAN 1 -0,8 II 7
PASIEN
TIMBANG TERIMA 1 1 III 8

SENTRALISASI OBAT 0,4 1 I 4

RONDE 0.4 0.7 I 3


KEPERAWATAN
DISCHARGE 2.6 0.8 I 10
PLANNING
SUPERVISI 2.8 1.4 I 12

DOKUMENTASI 0.6 1 I 5
KEPERAWATAN
M4 PEMBIAYAAN 1.9 1.5 I 9

M5 MUTU 2,8 1 I 11
PELAYANAN

93
3.11 Diagram Layang

3,4

2,9

2,4

1,9
M1 M4 SP
1,4 SO
M2 DK TT M5
0,9

0,4 RK MAKP DP

-0,1
-3,4 -2,9 -2,4 -1,9 -1,4 -0,9 -0,4 0,1 0,6 1,1 1,6 2,1 2,6
-0,6
PP
-1,1

-1,6

-2,1

-2,6

-
3,T1

Keterangan
M1 : MAN
M2 : MATERIAL
M3 : METHODE
MAKP
SENTRALISASI OBAT
TIMBANG TERIMA
DOKUMENTASI
RONDE KEPERAWATAN
DISCHARGE PLANNING
SUPERVISI
PENERIMAAN PASIEN BARU
M4 : MONEY
M5 : MUTU

94
3.24 tabel identifikasi Masalah

No Identifikasi Masalah Penyebab


1. Sebagian besar 1. Hanya 3 yang mempunyai pendidikan
1. M1 (Man)
perawat masih S1
berlatar pendidikan 2. Pelatihan atau seminar yang diadakan
D3 Keperawatan. untuk perawat kurang mencukupi.
2. Sebagian kecil
perawat mengikuti
pelatihan MAKP

1. Karena rumah sakit RSUD Sidoarjo


2. M2 (Material) 1. Kurangnya alat ECG
merupakan Rumah sakit pendidikan
dan Nebulizer, infus sehingga perlu menambah alat yang
pump diperlukan di ruangan serta ketidak
tersedianya kamar mandi di ruang
2. Adanya sarana dan mahasiswa.
prasaranan yang harus
diperbaiki atau
ditambah

95
Tabel 3.25 Rencana Strategi
No. Masalah Tuju Program/Kegiatan Indikator Waktu
an Keberhasilan
1. M1 Man 1. untuk meningkatkan 1. Menyarankan 1. Peningkatan Tergantung Kabid
1. Sebagian besar perawatmasih kualitas dan peningkatan jenjang pendidikan kebijakan pendidikan
berlatar pendidikan D3 kuantitas SDM jenjang pendidikan 2. peningatan skill Institusi RS
Keperawatan. jumlah perawat agar pegawai lebih pegawai tercapai
2. Sebagian kecil perawat tetap sesuai dengan tinggi
mengikuti pelatihan tingkat kebutuhan 2. Menyarankan
MAKP pasien peningkatan skill
2. Untuk pegawai melalui dan
meningkatkan skil / pelatihan secara
kemampuan berkala
perawat dan mampu
menerapkan MAKP
2. M2 Material 1. Memanfaatkan 1. Memberikan usulan di Tergantung Kabid
1. Adanya sarana dan sarana dan bidang Pendidikan untuk kebijakan pendidikan
prasaranan yang harus prasaran ruangan kekurangan -kekurangan Dapat di setujui institusi RS
diperbaiki atau ditambah seoptimal mungkij yang ada di ruang oleh pihak RS
karena rumah sakit RSUD dengan mahasiswa sehingga untuk
Sidoarjo merupakan rumah memberikan 2. Membuat rencana mahasiswa praktik Kabid
sakit pendidikan sehingga kenyamanan bagi anggaran dana untuk selanjutnya dapat sarana dan
perlu ditambah alat yang mahasiswa menambah atau menggunakan
prasarana
dibutuhkan di ruangan praktik. memperbaiki sarana & fasilitas yang ada di
serta tidak ada kamar prasarana runag mahasiswa
mandi di ruang dengan baik
mahasiswa.

96
.

97
98

Anda mungkin juga menyukai