SEORANG ANAK PEREMPUAN USIA 9 TAHUN DENGAN
DEMAM REUMATIK AKUT
A 9 Years Old With Acute Reumatic Fever
Devara Dhea Adinda Putri, Ulfa Anis Lutfia, Fitri, Siti Ariffatus Saroh*
Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah
Surakarta
*
Bagian Ilmu Kesehatan Anak , RSUD Dr. Sayidiman Magetan
Korespondensi: Devara Dhea Adinda Putri. Alamat email:devaradheaa@gmail,com
ABSTRAK
Demam reumatik merupakan suatu penyakit sistemik terjadi setelah infeksi Streptococcus
beta hemolyticus group A pada saluran pernafasan atas,biasanya didahului dengan faringitis akut
sekitar 20 hari sebelumnya, yang merupakan periode laten (asimtomatik), rata-rata onset sekitar 3
minggu sebelum timbul gejala. Insidens demam rematik di negara maju relatif rendah
dibandingkan dengan negara berkembang. Di Amerika Serikat insidens demam rematik adalah 0,6
per 100.000 penduduk pada kelompok usia 5 – 19 [Link] melaporkan kasus seorang anak
perempuan usia 9 tahun dengan keluhan utama nyeri dada disertai demam sejak 1 minggu yang
lalu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya karditis, atralgia, frekuensi nadi 138x/menit,
pernafasan 25x/menit, suhu tubuh 38,2 derajat celcius. Dari hasil pemeriksaan darah didapatkan
ASTO <200, LED 100-110 dan CRP positif, dan hasil dari Echocardiografi didapatkan
Regurgitasi TrikuspidV max 2.9 m/s, max PG 33.76 mmHg. Pasien diberikan terapi berupa
cefotaxim, eritromisin, aspirin dan antasida.
Kata Kunci : Demam reumatik akut, Streptococcus beta hemolyticus grup A
ABSTRACT
Rheumatic fever is a systemic disease that occurs after infection with group A
Streptococcus beta hemolyticus in the upper respiratory tract, usually preceded by acute
pharyngitis about 20 days before, which is a latent (asymptomatic) period, onset about 3 weeks
before symptoms develop. The incidence of rheumatic fever in developed countries is relatively
low compared to developing countries. In the United States the incidence of rheumatic fever is 0.6
per 100,000 population in the age group 5-19 years. We report the case of a 9-year-old girl with
the main complaint of chest pain accompanied by fever since 1 week ago. On physical examination
found carditis, atralgia, heart rate 138x / minute, respiratory rate 25x / minute, body temperature
38.2 degrees Celcius. From the blood test results obtained ASTO <200, 100-110 LEDs and
positive CRP, and the results from Echocardiography obtained Trichuspid Regurgitation V max
2.9 m / s, max PG 33.76 mmHg. Patients are given therapy in the form of cefotaxime,
erythromycin, aspirin and antacide.
Keywords:Acute Rheumatic Fever, Streptococcus beta haemolyticus Group A
PENDAHULUAN didahului dengan faringitis akut
Demam reumatik merupakan
sekitar 20 hari sebelumnya, yang
suatu penyakit sistemik terjadi
merupakan periode laten
setelah infeksi Streptococcus beta
(asimtomatik), rata-rata onset sekitar
hemolyticus group A pada saluran
3 minggu sebelum timbul gejala.
pernafasan bagian atas, biasanya
1470
Diagnosis berdasarkan LAPORAN KASUS
Kriteria Jones, ditegakkan bila Seorang anak perempuan usia
ditemukan 2 kriteria mayor, atau 1 9 tahun datang dengan keluhan
kriteria mayor + 2 kriteria minor, utama nyeri dada. Setelah dilakukan
ditambah dengan bukti infeksi alloanamnesis dengan ibupasien,
streptokokus Grup A tenggorok didapatkan pasien nyeri dada secara
tiba-tiba yang disertai demam naik
positif + peningkatan titer antibodi
turun sejak 1 minggu yang lalu,
streptokokus.
pasien sempat dirawat inap diklinik
Insidens demam rematik di
selama 4 hari kemudian dirujuk ke
negara maju relatif rendah
Rumah Sakit dengan diagnosis
dibandingkan dengan negara
demam tyfoid. Ibu pasien juga
berkembang. Di Amerika Serikat
mengatakan pergelangan tangan
insidens demam rematik adalah 0,6
kanan pasien nyeri dan sulit
per 100.000 penduduk pada
digerakan, pasien juga sulit untuk
kelompok usia 5 – 19 tahun. Di
menggerakan badan ke kanan dan
Srilangka insidens demam rematik
kiri, keluhan lain disertai pusing
adalah 100-150 kasus per 100.000 seperti ditusuk-tusuk, batuk kering
penduduk. Di negara yang mencatat tetapi tidak pilek, tidak nyeri saat
demam rematik dan penyakit jantung menelan, tidak mual muntah, sehari-
rematik, pada umumnya dilaporkan hari pasien sulit makan dan minum,
10-30 kasus per 10.000 penduduk pasien mempunyai kebiasaan makan
setiap tahun. makanan sembarangan disekolah,
buang air kecil pasien biasa namun
1471
sulit buang air besar sejak 2 hari white blood cell 17,13 x103/uL,
yang lalu. hemoglobin 12,3 gdL, hematokrit
Pada pemeriksaan vital sign, 38,2%, trombosit 720x106/uL.
ditemukan keadaan umum pasien Pemeriksaan gula darah dan widal
tampak kesakitan dengan skala 7, yaitu P.A 1/80, P.B 1/80, Ty.O 1/80,
kesadaran compos mentis GCS 15, Ty.H 1/160 dan gula darah sewaktu
status gizi kurang, nadi 138x/menit, 92 mg/dl. Pemeriksaan lain
respirasi 25x/menit, dan suhu 38,2 didapatkan ASTO <200, kadar LED
derajat celcius. Pada pemeriksaan meningkat yaitu 100-110 dan CRP
fisik, kepala normochepal, sklera positif.
tidak ikterik, conjungtiva tidak Pemeriksaan
anemis, tidak ada pernapasan cuping Elektrokardiografi ditemukan kesan
hidung, tonsil T1-T1 tidak hiperemis, sinus takikardi, minimal voltage
paru paru simetris kanan dan kiri, kriteria untuk LVH, ST dan T
fremitus teraba sama, sonor diseluruh abnormal.
lapang paru dan suara dasar
vesikuler, tidak ada wheezing
maupun rhonki, jantung ictus cordis
terlihat dan teraba kuat angkat, tidak
terkesan pelebaran batas jantung,
bunyi jantung I II reguler, didapatkan
takikardi, dan abdomen, genital,
ekstremitas dalam batas normal.
Pada pemeriksaan penunjang
darah lengkap didapatkan kadar
1472
Gambar 1. Gambaran
Elektrokardiografi
Pada pemeriksaan Foto
thoraks didapatkan kesan saat ini tak
tampak kelainan
Gambar 3. Gambaran
Ekokardiografi
Pasien ini didiagnosis dengan
demam reumatik akut, disertai
Gambar 2. Gambaran Foto
karditis dan artritis tanpa
Thoraks kardiomegali. Pasien ini
Pada pemeriksaan
mendapatkan terapi infus D1/2 15
Ekokardiografi didapatkan fungsi
tpm, injeksi cefotaxim 500mg per
sistolik LV baik ( EF 80.83%),
8jam, eritromisin 4x200mg, aspirin
fungsi diastolik LV normal, fungsi
4x500mg, dan sirup antasida 3x1
sistolik RV normal, TR moderate dan
sendok makan.
PH low probability.
PEMBAHASAN
Demam reumatik merupakan
suatu penyakit sistemik terjadi
setelah infeksi Streptococcus beta
1473
hemolyticus group A pada saluran yaitu Stadium Istadium ini berupa
pernafasan bagian atas, biasanya infeksi saluran napas atas oleh
didahului dengan faringitis akut kuman ß-Streptokokus hemolitikus
sekitar 20 hari sebelumnya, yang grup A. Seperti infeksi saluran napas
merupakan periode laten atas umumnya, keluhan biasanya
(asimtomatik), rata-rata onset sekitar berupa demam, batuk, rasa sakit
3 minggu sebelum timbul gejala. waktu menelan, tidak jarang disertai
Insidens demam rematik di muntah, dan bahkan pada anak kecil
negara maju relatif rendah dapat terjadi diare. Pada pemeriksaan
dibandingkan dengan negara fisik sering didapatkan eksudat di
berkembang. Di Amerika Serikat tonsil yang menyertai peradangan
insidens demam rematik adalah 0,6 lainnya. Infeksi ini biasanya
per 100.000 penduduk pada berlangsung 2-4 hari dan dapat
kelompok usia 5 – 19 tahun. Di sembuh sendiri tanpa pengobatan.
Srilangka insidens demam rematik Stadium II disebut juga periode laten,
adalah 100-150 kasus per 100.000 yaitu masa antara infeksi ß-
penduduk. Di negara yang mencatat Streptokokus hemolitikus grup A
demam rematik dan penyakit jantung dengan permulaan tanda dan gejala
rematik, pada umumnya dilaporkan demam reumatik. Stadium Periode
10-30 kasus per 10.000 penduduk ini biasanya berlangsung 1-3
setiap tahun. minggu, kecuali korea yang dapat
Perjalanan klinis penyakit timbul 6 minggu atau bahkan
demam rematik dibagi atas 4 stadium berbulan-bulan kemudian. Stadium
1474
IIIyaitu timbulnya fase akut demam memanjang), sedangkan kriteria
reumatik, berupa ditemukannya minor didapatkan artralgia, demam
tanda atau gejala peradangan umum (suhu >37,8), hasil laboratorium
(manifestasi minor) dan tanda atau adanya peningkatan ASTO, LED
gejala spesifik (manifestasi mayor) yang meningkat dan CRP positif.
demam reumatik. Stadium IV Sedangkan klasifikasi derajat
merupakan stadium inaktif, stadium penyakit berhubungan dengan
ini memungkinkan terjadinya tatalaksana yaitu adanya artritis tanpa
autoimun ulang apabila terjadi karditis, artritis ditambah karditis
pajanan terhadap streptokokus tanpa kardiomegali, artritis dengan
kembali. kardiomegali, artritis dengan
Berdasarkan dari Kriteria kardiomegali dan gagal jantung.
Jones, demam reumatik akut dapat Kriteria mayor ialah karditis,
ditegakkan bila ditemukan 2 kriteria poliartritis, korea, eritema
mayor, atau 1 kriteria mayor marginatum dan nodul subkutan pada
ditambah 2 kriteria minor, ditambah gambaran EKG didapatkan PR
dengan bukti infeksi ß-Streptokokus interval memanjang, sedangkan
hemolitikus grup A tenggorok positif kriteria minor ialah artralgia, demam,
dan peningkatan titer antibodi pada hasil laboratorium terjadi
streptokokus. Pada kriteria mayor peningkatan titer ASTO, LED yang
didapatkan karditis, poliartritis, meningkat dan CRP positif.
korea, eritema marginatum, nodul Demam reumatik merupakan
subkutan (EKG: PR interval respon auto imun terhadap infeksi
1475
streptokokus β hemolitik grup A pada memungkinkan terjadinya autoimun
tenggorokan. Infeksi ini akan ulang apabila terjadi pajanan
mengaktifkan proses imun antara terhadap streptokokus lagi. Setelah
streptokokus (protein M san N Asetil sel B aktif akan menghasilkan IgG
glukosamin) dan makrofag, dan IgE. Apabila terpajan kembali
kemudian sel ini akan dikenali oleh dengan bakteri penyebab tersebut
sel limfosit T ( Th atau T helper ) akan terjadi pengaktifan jalur
menjadi Th 1 dan Th 2. Protein M komplemen yang menyebabkan
dan N asetil glukosamin pada kerusakan jaringan dan pemanggilan
dinding sel bakteri tersebut akan makrofag melalui interferon.
dipenetrasikan oleh makrofag ke sel Pada penderita jantung
CD4-naif, selanjutnya CD4 akan rematik, sel B, IgG dan IgE akan
berproliferasi dari sel T helper 1 dan memiliki reaksi silang dengan
T helper 2 melalui berbagai sitokin beberapa protein yang terdapat di
antara lain interleukin 2, 12, dll. T dalam tubuh. Hal ini disebabkan
helper 1 akan menghasilkan protein M dan N asetil glukosamin
interferon yang berfungsi untuk bakteri memiliki kemiripan dengan
merekrut makrofag lain datang ke bagian tubuh (molecular mimicry)
tempat infeksi, selain itu T helper yaitu miosin dan tropomicin pada
juga akan mengaktifasi sel plasma jantung, laminin pada katup,
menjadi sel B yang merupakan sel vimentin pada sinovial, keratin pada
memori dengan memproduksi IL4, kulit, lysogangliosida pada
keberadaan sel memori inilah yang subtalamikus dan caudate nuclei di
1476
otak sehingga menimbulkan reaksi karena adanya beban volume yang
imun. Tipe M dari streptokokus β besar dan proses radang.
hemolitik grup A mempunyai potensi Tatalaksana komprehensif
rheumatogenik. Reaksi imun yang pada pasien dengan demam rematik
terjadi akan menyebabkan kerusakan meliputi:
pada sel, jika terjadi pajanan yang 1. Pengobatan manifestasi akut,
terus menerus dengan makrofag pencegahan kekambuhan dan
pencegahan endokarditis pada pasien
akan meningkatkan sitoplasma dan
dengan kelainan katup.
organellanya dari makrofag sehingga
2. Pemeriksaan ASTO, CRP, LED,
mirip seperti sel epitel yang disebut
tenggorok dan darah tepi lengkap.
sel epiteloid, penggabungan dari
Ekokardiografi untuk evaluasi
granuloma ini disebut aschoff body
jantung.
dan jaringan yang lisis atau rusak
3. Antibiotik: penisilin, atau eritromisin
karena reaksi komplemen atau 40 mg/kgBB/hari selama 10 hari bagi
fagositosis oleh makrofag akan pasien dengan alergi penisilin.
digantikan dengan jaringan fibrosa 4. Tirah baring bervariasi tergantung
dan membentuk scar. Terbentuk scar berat ringannya penyakit.
ini lah yang dapat menyebabkan 5. Anti inflamasi: dimulai setelah
diagnosis ditegakkan: Bila hanya
stenosis ataupun insufisiensi dari
ditemukan artritis diberikan asetosal
katup-katup jantung. Pada awal
100 mg/kgBB/hari sampai 2 minggu,
terjadinya demam rematik akut akan
kemudian diturunkan selama 2-3
terjadi pembesaran ventrikel kiri
minggu berikutnya. Karditis ringan-
sedang diberikan asetosal 90-100
1477
mg/kgBB/hari terbagi dalam 4-6 membaik bila bising organik katup
dosis selama 4-8 minggu bergantung tidak menghilang. Prognosis
pada respons klinis. Bila ada
memburuk bila gejala karditisnya
perbaikan, dosis diturunkan bertahap
lebih berat, dan ternyata demam
selama 4-6 minggu berikutnya.
rematik akut dengan payah jantung
6. Karditis berat dengan gagal jantung
akan sembuh 30% pada 5 tahun
ditambahkan prednison 2
pertama dan 40% setelah 10 tahun.
mg/kgBB/hari diberikan selama 2-6
Dari data penyembuhan ini akan
minggu.
bertambah bila pengobatan
Penyakit jantung rematik
pencegahan sekunder dilakukan
adalah komplikasi terberat dari
secara baik.
demam rematik akut dan merupakan
DAFTAR PUSTAKA
penyebab terbesar dari mitral
Kliegman RM, Stanton B, Joseph
stenosis dan insufiensi. Selain itu
SG, Schor N, Behrman RE.
Rheumatic heart disease. Dalam:
penyebab kerusakan katub adalah
Kliegman RM, Stanton B,
Joseph SG, Schor N, Behrman
demam rematik akut yang terjadi
RE. Nelson text book of
pediatric. Edisi ke-19.
sebelumnya, lama antara onset dan
Philadelphia: Saunders Elsevier;
2011. hlm. 1961- 63.
pemberian terapi, Insufiensi katub
Rahayuningsih SE, Farrah A. Role of
echoacardiography in diagnose
akibat demam rematik akut akan
of acute rhematic fever.
Paediatrica Indonesiana. 2010;
sembuh pada 60-80 % dengan
50(2):1-9.
Madyono B. Epidemiologi penyakit
menggunakan profilaksis antibiotic.
jantung reumatik di Indonesia. J
Kardiol Indones. 2005; 200:25-
Prognosis demam rematik
33.
Seckeler MD, Hoke TR. The
dan penyakit jantung Selama 5 tahun
worldwide epidemiology of
acute rheumatic fever and
pertama perjalanan penyakit tidak
1478
rheumatic heart disease. Clin
Epidemiol. 2011; 3:67–84.
Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti
S, Idris NS, Gandaputra EP,
Harmoniati ED, editors.
Pedoman pelayanan medis
ikatan dokter anak Indonesia.
Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia; 2011. hlm. 54-72.
1479