Peran Orang Tua dan Guru dalam Konservasi Lingkungan Anak
Peran Orang Tua dan Guru dalam Konservasi Lingkungan Anak
PROPOSAL TESIS
Oleh
FANI ASTIKA
NIM: 2301110002
PASCASARJANA
TAHUN 2024
BAB I
PENDAHULUAN
1
2
panutan utama bagi anak-anak. Anak akan mengambil sikap dan perilaku positif dari
orang tuanya, yang pada akhirnya akan tertanam dalam nilai-nilainya (Zarin, 2023).
Sementara itu, inisiatif pendidikan lingkungan seperti menanam pohon, memilah sampah,
dan mengajarkan siswa tentang daur ulang membantu memperkuat apa yang mereka
pelajari di sekolah (Anggaraini P, 2024). Guru berperan sebagai fasilitator, membantu
anak-anak memahami nilai melestarikan lingkungan dan alam (Kamila A., 2023). Ketika
orang tua dan sekolah bekerja sama secara efektif, anak-anak akan mengembangkan
kesadaran lingkungan yang kuat sejak usia muda, yang akan mempengaruhi pandangan
dan perilaku mereka di kemudian hari.
Setiap orang harus memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungan yang kuat yang
harus dikembangkan sejak dini (Suryaningsih Y,2018). Karena anak-anak adalah generasi
masa depan yang akan menjaga dan melestarikan planet ini, sekolah dan orang tua
berperan penting dalam membantu mereka mengembangkan kesadaran akan
perlindungan lingkungan (Tristananda P.W., 2018). Kondisi lingkungan yang
berkelanjutan dan sehat sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena
itu, sangat penting untuk mengembangkan rasa perlindungan dan pelestarian lingkungan
sejak usia dini, terutama pada anak-anak (Niman, 2019). Sebagai guru pertama bagi
anak-anak, orang tua dapat membantu mereka mempelajari kebiasaan kebersihan yang
baik, teknik pengelolaan sampah, dan penggunaan sumber daya alam yang bertanggung
jawab (Ramadhan, 2022). Karena anak-anak adalah generasi penerus bangsa, maka
kesadaran lingkungan harus ditanamkan dalam diri mereka sejak dini. Mengajari anak
menjaga kebersihan, mengendalikan sampah, dan menggunakan sumber daya secara
bertanggung jawab demi kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab besar orang
tua dan sekolah.
Pendidikan peduli lingkungan anak harus dimulai sejak dini, karena banyak anak
yang belum memahami pengelolaan sampah. Pendidikan yang baik dapat membentuk
perilaku positif dan menjadikan anak-anak agen perubahan untuk kelestarian lingkungan
(Sarisawati Intishar, 2020). sekolah, sebagai tempat belajar resmi, menawarkan
kesempatan belajar melalui program dan kegiatan eksplisit yang mendorong perilaku
berkelanjutan, termasuk penanaman pohon dan daur ulang (Fathiyyaturrahmah dan Siti
Quratul Aini, 2021). Orang tua dapat mendorong anak-anak mereka untuk berpartisipasi
3
dalam kegiatan ramah lingkungan seperti berkebun, membuang sampah dengan benar,
atau memilih moda transportasi yang ramah lingkungan (Khotimah, 2019). disimpulkan
bahwa pendidikan lingkungan hidup sejak dini di rumah dan di sekolah sangatlah
penting. Anak-anak akan berkembang menjadi manusia yang peduli terhadap lingkungan
jika mereka terus menerus diajarkan tentang pengelolaan sampah dan praktik ramah
lingkungan. Anak-anak dapat menjadi agen perubahan masa depan melalui keterlibatan
orang tua di rumah dan dukungan program sekolah.
Ketika orang tua dan sekolah berkolaborasi untuk menciptakan pesan yang
konsisten tentang pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, anak-anak akan lebih
mungkin untuk menginternalisasikan nilai-nilai ini dan menjadi penjaga lingkungan yang
proaktif (Rooney, et al., 2022). Melalui perilaku rutin seperti mendaur ulang, menghemat
air, dan berpartisipasi dalam aktivitas luar ruangan yang menampilkan keindahan alam,
orang tua berperan sebagai pendidik utama, menanamkan sikap dan praktik terkait
pengelolaan lingkungan (Fadila R, 2024). Sementara itu, sekolah menggunakan
kurikulum terpadu yang mengutamakan keberlanjutan untuk memberikan kesempatan
terorganisir kepada anak-anak untuk belajar tentang tantangan lingkungan (Sianturi R., et
al., 2023). Anak-anak muda dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang
sistem alam dan bagaimana mereka berhubungan satu sama lain (Rooney, et al., 2022).
Demikian dengan menekankan pentingnya kolaborasi orang tua-sekolah dalam
memengaruhi kesadaran lingkungan anak-anak, penelitian ini menawarkan tambahan
baru.
Penelitian tentang “Peran Orangtua Dalam Menanamkan Literasi Lingkungan
Anak Usia Dini”. Hasil penelitian ini menunjukkan orang tua belum terlibat secara
optimal dalam perannya sebagai agen literasi lingkungan bagi anak karena masih berada
dalam kriteria jarang (Khusniyati Masyuroh et al., 2023).Sujiyo Miranto dengan judul
“Menanamkan Literasi Lingkungan pada Pendidikan Anak Usia Dini”. Penelitian ini
menunjukkan bahwa literasi lingkungan anak usia dini meningkat melalui pendidikan
holistik dan interaktif. Anak-anak lebih memahami isu-isu lingkungan, interaksi sistem
bumi, siklus materi dan energi, serta dampak aktivitas manusia. Metode bermain sambil
belajar efektif meningkatkan antusiasme dan pemahaman mereka. Keterlibatan orang tua
dan masyarakat juga penting. Pendekatan ini berhasil menciptakan generasi yang lebih
4
sadar dan peduli [Link] yang dilakukan oleh Atik Latifah (2020) dengan
judul “Peran Lingkungan dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Karakter
Anak Usia Dini”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter
anak usia dini sangat dipengaruhi oleh pola asuh orangtua dan lingkungan sekitar. Serta
kerja sama orangtua dan lembaga pendidikan sangat penting untuk mendukung
perkembangan optimal [Link] hal tersebut, dapat di kesimpulan bahwa
pengembangan kesadaran lingkungan sejak dini pada anak sangat dipengaruhi oleh
keterlibatan orang tua dan lingkungan sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua
berperan sebagai panutan lingkungan utama dengan mempraktikkan praktik ramah
lingkungan termasuk daur ulang, konservasi air, dan pemilahan sampah. Sikap dan
perilaku anak terhadap lingkungan dipengaruhi oleh mereka karena mereka berperan
sebagai panutan, motivator, dan fasilitator.
Nicole & Alison (2020). dalam penelitiannya tentang “Early Childhood
Environmental: a systematic review of the research literature”. hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa sekolah alam meningkatkan perkembangan anak usia dini dengan
meningkatkan kesadaran lingkungan, keterampilan sosial, dan kepercayaan diri siswa.
Selain itu, menggabungkan tema alam kedalam ruangan memperkaya pengalaman
belajar, secara keseluruhan sekolah alam mendukung perkembangan holistik sambil
menumbuhkan hubungan yang kuat dengan lingkungan. Dalam penelitian penelitian
tentang “Environment-friendly education as a solution to against global warming: A case
study at Sekolah Alam Lampung, Indonesia.” Hasil penelitian ini menunjukkan
pendidikan ramah lingkungan berhasil meningkatkan kesadaran dan partisipasi siswa
dalam pengelolaan lingkungan. Melalui metode pembelajaran praktis dan berbasis
proyek, siswa belajar tentang pentingnya pemisahan sampah, pembuatan kompos, dan
konservasi alam. Penelitian mencatat perubahan positif dalam sikap dan perilaku siswa
terhadap lingkungan, yang mencerminkan tanggung jawab mereka dalam menjaga
keberlanjutan. Dengan demikian, pendidikan ramah lingkungan di sekolah ini diharapkan
dapat memberikan dampak jangka panjang bagi siswa dan komunitas dalam menghadapi
tantangan lingkungan global (Sagala R, et al., 2019). LouiseChawla (2020) mencatat
bahwa hubungan anak-anak dengan alam sangat penting bagi perkembangan mereka dan
memberikan harapan meskipun lingkungan mengalami kerusakan. Anak-anak yang
5
memiliki pengalaman positif di alam, seperti bermain dan menjelajah, merasa lebih
terhubung dengan lingkungan dan karenanya lebih bertanggung jawab untuk
melindunginya. Untuk membantu pertumbuhan ini, Putera at all, (2020) juga
menekankan betapa pentingnya memiliki lebih banyak akses ke lingkungan alam,
terutama di wilayah metropolitan. Chawla (2020) selanjutnya menekankan perlunya
strategi studi yang komprehensif untuk memahami bagaimana anak-anak mengelola rasa
takut mereka terkait dengan perubahan lingkungan dan mengembangkan harapan positif
untuk masa depan.
Pentingnya menanamkan kesadaran lingkungan pada anak muda sejak dini
menjadi alasan peneliti tertarik pada topik ini. Anak muda yang memiliki pendidikan
lingkungan yang baik biasanya memiliki visi masa depan yang lebih berkelanjutan
(Rahmidar, 2024). Peneliti ingin mengetahui bagaimana lembaga pendidikan formal
seperti sekolah dan orang tua, yang menjadi panutan pertama anak, dapat bekerja sama
untuk menciptakan generasi orang dewasa yang sadar lingkungan dan bertanggung
jawab. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang tua sering kali tidak
berfungsi dengan baik sebagai pendidik literasi lingkungan utama bagi anak-anak
mereka. Namun, penelitian ini menambah pemahaman kita tentang bagaimana orang tua
dan sekolah bekerja sama secara komprehensif dan partisipatif dapat lebih berhasil
meningkatkan literasi dan kesadaran lingkungan anak-anak. Hasilnya, penelitian ini
menawarkan sudut pandang penting tentang pentingnya kemitraan orang tua-sekolah
yang lebih kuat dan lebih kooperatif dalam memengaruhi kesadaran lingkungan anak.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana peran orangtua dan guru dalam membentuk kesadaran konservasi
lingkungan pada anak-anak?
1.2.2 Seberapa efektifitas peran guru dalam mendidik anak untuk memiliki kesadaran
terhadap lingkungan?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Menganalisis keterlibatan orangtua dan guru dalam membentuk kesadaran
konservasi lingkungan pada anak-anak dan memahami peran mereka dalam
mengembangkan perilaku peduli lingkungan.
6
KAJIAN PUSTAKA
9
10
berada dalam kriteria jarang. Sujiyo Miranto dengan judul “Menanamkan Literasi
Lingkungan pada Pendidikan Anak Usia Dini”. Penelitian ini menunjukkan bahwa
literasi lingkungan anak usia dini meningkat melalui pendidikan holistik dan interaktif.
Anak-anak lebih memahami isu-isu lingkungan, interaksi sistem bumi, siklus materi dan
energi, serta dampak aktivitas manusia. Metode bermain sambil belajar efektif
meningkatkan antusiasme dan pemahaman mereka. Keterlibatan orang tua dan
masyarakat juga penting. Pendekatan ini berhasil menciptakan generasi yang lebih sadar
dan peduli lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Khusniyati Masyuroh, Elindra
Yetti, Yuliani Nurani(2022) dengan judul “Peran orang tua dalam menumbuhkan
kesadaran dan sikap lingkungan anak”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang
tua berperan sebagai model, fasilitator, dan motivator dalam meningkatkan kesadaran dan
sikap anak terhadap lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Atik Latifah (2020)
dengan judul “Peran Lingkungan dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan
Karakter Anak Usia Dini”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan
karakter anak usia dini sangat dipengaruhi oleh pola asuh orangtua dan lingkungan
sekitar. Serta kerja sama orangtua dan lembaga pendidikan sangat penting untuk
mendukung perkembangan optimal anak.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Konsep Kesadaran Lingkungan anak
Individu yang sadar lingkungan adalah individu yang memahami dan peduli terhadap
lingkungan hidup serta berdedikasi dalam menjaga dan melestarikannya (Ramadhani, 2023).
Mengajarkan anak-anak tentang dasar-dasar alam, ekosistem, dan bagaimana perilaku manusia
mempengaruhi kesehatan lingkungan adalah bagian dari meningkatkan tingkat kesadaran
lingkungan mereka (Nugroho, 2022). Kesadaran lingkungan diharapkan akan berkembang
menjadi rutinitas yang mendorong perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Sawitri, et al., (2024) mengatakan dalam tulisannya, selain sekadar memahami gagasan mendasar,
anak yang sadar lingkungan juga memahami hubungan antara perilaku manusia dan dampaknya
terhadap lingkungan. Seorang anak yang paham lingkungan, misalnya, akan mengetahui bahwa
kelalaian membuang sampah dapat mencemari tanah dan air. Dasarnya anak-anak yang lebih
sadar akan hal ini mengembangkan empati terhadap makhluk hidup lain dan lingkungan, yang
menginspirasi mereka untuk melakukan aktivitas konstruktif seperti mengurangi penggunaan
11
plastik atau merawat tanaman. Kepribadian anak pada akhirnya akan dibentuk oleh kesadaran
lingkungan menjadi lebih berbelas kasih, akuntabel, dan berkelanjutan.
Penting untuk diketahui bahwa perkembangan kesadaran lingkungan pada anak juga memiliki
tahapan. Rahmania (2023) menjelaskan bahwa Dari tahap observasi hingga tahap tindakan, anak-
anak melalui berbagai fase seiring berkembangnya kesadaran lingkungan mereka. Anak-anak
memiliki kecenderungan untuk memperhatikan dan meniru tindakan orang-orang di sekitarnya
sejak kecil. Anak-anak mulai memahami prinsip-prinsip dasar kepedulian lingkungan melalui
teladan positif dari orang tua dan pendidik. Anak-anak dapat mulai berpartisipasi aktif dalam
kegiatan seperti daur ulang dan konservasi energi setelah mereka mencapai usia sekolah karena
mereka mulai memahami dampak tindakan mereka terhadap lingkungan. Mereka dapat
memahami gagasan-gagasan yang semakin rumit tentang tantangan-tantangan lingkungan global
seiring bertambahnya usia, dan ketika mereka mencapai tahap tindakan, mereka sepenuhnya
sadar akan situasi tersebut dan ingin membantu melestarikan lingkungan mereka sendiri.
Irhamna, I., & Purnama, S. (2022) Terdapat faktor yang mempengaruhi kesadaran
lingkungan anak, seperti keluarga, sekolah, media juga interaksi sosial. Langkah pertama dalam
membantu anak mengembangkan pemahaman ini adalah dengan memberikan contoh perilaku
sadar lingkungan kepada keluarga. Pemahaman anak-anak selanjutnya dibantu oleh lingkungan
sekolah yang menggabungkan pengajaran dan tindakan lingkungan, seperti inisiatif daur ulang
atau penanaman pohon. Daulay, et al., (2023). Selain itu, melalui beragam konten yang dapat
diakses secara bebas untuk anak-anak, media dan teknologi menjadi sumber informasi penting
mengenai tantangan lingkungan. Pemahaman dan dedikasi anak-anak terhadap lingkungan akan
semakin diperkuat melalui kontak sosial dan keterlibatan dalam inisiatif lingkungan seperti
kampanye lingkungan. interaksi dengan teman sebaya anak saat kegiatan peduli lingkungan,
seperti lomba bersih-bersih atau kampanye lingkungan Anak juga didorong untuk berpartisipasi
aktif dan mengembangkan rasa kepedulian bersama terhadap lingkungan (Gupta, J., & Bakshi, R.,
2023). Maka dari itu,Kesadaran lingkungan anak dipengaruhi oleh keluarga, sekolah,
media, dan interaksi sosial. Keluarga memberikan teladan, sekolah mendukung melalui
kegiatan lingkungan, media menyediakan informasi, dan interaksi sosial membangun rasa
peduli. Kombinasi ini mendorong anak untuk berperilaku sadar lingkungan secara aktif.
2.2.2 Peran orangtua dalam Membentuk Kesadaran Lingkungan Anak
Faktor utama dalam perkembangan anak usia dini yang membentuk sifat baik dan
buruk seseorang serta membantunya tumbuh dengan etika, moral, dan akhlak yang kuat
adalah lingkungan keluarga. Pengaruh keluarga anak terhadap proses berpikir
12
individunya Menilai proses pendidikan yang dilalui anak-anak, tidak hanya di sekolah
tetapi juga di semua platform yang dapat dimanfaatkan anak-anak untuk belajar
(Mutmainnah, 2019).Djuwita, R, & Benyamin, A (2019) hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar pada perilaku positif orangtua dalam hal
kepedulian terhadap lingkungan lebih mungkin untuk menginternalisasi nilai-nilai
tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, (Scopelliti,
M., et al., 2022) keterlibatan orangtua dalam pendidikan lingkungan sangat penting
untuk membentuk kesadaran dan perilaku pro-lingkungan pada generasi muda, yang
akan berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan di masa depan. Berikut faktor-faktor
yang membuat peran keluarga dalam tumbuh kembang anak begitu besar. Pertama,
keluarga adalah sekelompok kecil orang yang berkomunikasi satu sama lain secara
langsung. Kedua, mengingat anak merupakan hasilpernikahan yang penuh kasih
sayang, maka orangtua sanga termotivasi untuk mendidik anaknya. Ketiga, karena
terbatasnya hubungan sosialdalam keluarga (Rasyid, R., et al., 2020). Singkatnya,
perilaku dan karakter anak sangat dipengaruhi oleh keluarga mereka, terutama dalam
hal kesadaran lingkungan. Anak-anak dapat dibantu dalam menginternalisasikan cita-
cita ini melalui keterlibatan orang tua dalam pendidikan dan penyediaan model-model
positif kepedulian lingkungan. Karena ikatan emosional yang erat dan kontak langsung,
keluarga, sebagai unit sosial terdekat, memiliki dampak yang signifikan. Akibatnya,
pendidikan lingkungan berbasis keluarga memiliki efek yang bertahan lama pada
pengembangan sikap pro-lingkungan anak-anak, yang sangat penting untuk
keberlanjutan lingkungan di masa depan.
sikap dan kepribadian orang tuanya, serta interaksi, komunikasi, dan teknik pengasuhan
dalam keluarga, maka lingkungan rumah dapat terlibat penuh dalam terciptanya sistem
pendidikan yang saling komprehensif dan [Link] dari pengaruh
lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak usia dini adalah agar orang tua dapat
memberikan hikmah yang bermanfaat bagi anak. Salah satu hikmah tersebut adalah
penguasaan diri, di mana masyarakat mengharapkan setiap anggotanya memiliki
pengendalian diri (Mawar, M., et al., 2021). Ketika orang tua mengajarkan anak untuk
menjaga kebersihan, ini merupakan proses pengajaran pengendalian diri yang
membantu anak mengembangkan disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Tamyis (2022)
selain itu, keluarga berperan dalam menanamkan nilai-nilai dasar pada anak yang
biasanya mulai dipraktikkan dan dikembangkan sejak usia sekitar enam tahun, sebagai
landasan untuk membentuk cita-cita dan prinsip hidup mereka. Judrah, et al., (2024) Di
samping itu, anak-anak juga belajar mengenai peran sosial yang tepat dalam keluarga
setelah memperoleh kesadaran diri, yang membantu mereka mengenali perbedaan
antara diri mereka dan orang lain. Cinta dan otoritas menjadi alat yang digunakan dalam
lingkungan keluarga untuk mendidik dan melindungi anak. Ketika kekuasaan orang tua
berkurang, kasih sayang tetap berperan besar dalam melindungi dan membuat anak
merasa aman. Dengan rasa kasih sayang ini, anak akan merasa terlindungi dan dapat
tumbuh dengan optimal karena memiliki perasaan aman dan nyaman di dalam
lingkungan [Link], Irmalia (2020) lingkungan keluarga memiliki peran
fundamental dalam membentuk karakter dan potensi anak, terutama pada usia dini yang
dimana proses pendidikan dalam keluarga melibatkan interaksi antara nilai-nilai
budaya, teknik pengasuhan, dan komunikasi yang efektif, sehingga menciptakan dasar
yang kokoh bagi perkembangan anak. Orang tua, sebagai pengasuh utama, tidak hanya
memberikan arahan moral tetapi juga membimbing anak untuk memahami peran sosial
dan mengendalikan diri (Ngewa, 2021). Sidjabat (2024) dengan menciptakan suasana
penuh kasih sayang dan rasa aman, keluarga mampu menyediakan ruang bagi anak
untuk tumbuh menjadi individu yang disiplin, percaya diri, dan memiliki prinsip hidup
yang kuat, sekaligus siap berinteraksi dengan komunitas yang lebih luas. Berdasarkan
hal diatas, disimpulkan bahwa pertumbuhan dan pembentukan karakter anak usia dini
sangat dipengaruhi oleh keluarga, dimana fondasi yang kuat bagi perkembangan anak
14
diberikan oleh pola asuh yang mencakup pengendalian diri, penanaman nilai-nilai
dasar, dan komunikasi yang baik. Orang tua membantu anak-anak berkembang menjadi
orang dewasa yang berperilaku baik dan siap terlibat dengan masyarakat dengan
memberi mereka cinta dan rasa aman.
sosial mereka. Pendidikan ini menjadi landasan penting dalam membentuk generasi yang
memiliki tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.
Guru dapat berpartisipasi aktif dalam berbagai acara berbasis sekolah yang
berkaitan dengan konservasi, termasuk kampanye hemat energi, kompetisi lingkungan
hidup, reboisasi, dan pengabdian masyarakat (Budiaman, M., et al., 2023). Ketika guru
berpartisipasi dalam kegiatan ini, mereka memberikan contoh praktis kepada siswa
tentang cara melindungi lingkungan. Anjali, (2024) partisipasi guru juga dapat
menginspirasi siswa untuk terlibat dalam upaya konservasi ekstrakurikuler, seperti
inisiatif penghematan energi di rumah atau pembersihan pantai. Adanya dukungan dari
guru, anak bisa merasakan bahwan menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab
bersama. Dalam upaya kita bersama untuk menyelamatkan lingkungan dan mendorong
pembangunan berkelanjutan, hal ini sangatlah [Link] dari lingkungan sekolah
berdampak besar terhadap seberapa baik anak berkembang sebagai individu dan
akademis (Kuswadi, 2019).Anak belajar paling baik dalam suasana yang mendorong dan
mendukung perkembangan emosional mereka. Hubungan positif antara pendidik, anak
dan personel sekolah lainnya dapat membantu anak mengembangkan keterampilan sosial
yang positif termasuk empati, kerja sama, dan akuntabilitas (Dewi, et al.,
2023).Rohmatullah (2023) selain itu, dukungan emosional yang diberikan sekolah
membuat anak-anak merasa lebih aman dan tenteram, sehingga memungkinkan mereka
mengatasi stres dan hambatan belajar. Anak akan lebih terdorong untuk berhasil dan
menunjukkan sikap positif baik dalam bidang akademik maupun sosial ketika terdapat
interaksi yang harmonis di lingkungan sekolah. Sehingga pengetahuan siswa tentang
tanggung jawab bersama kita untuk melindungi lingkungan sangat dipengaruhi oleh
keterlibatan aktif guru dalam inisiatif pelestarian lingkungan di sekolah. Selain
memberikan contoh nyata kepada siswa, dorongan dan partisipasi guru mendorong siswa
untuk mengambil bagian dalam inisiatif serupa dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Lebih jauh lagi, membina perkembangan emosional anak-anak di kelas membantu
mereka memperoleh keterampilan sosial yang baik seperti empati, kerja sama, dan
akuntabilitas yang semuanya penting untuk pengembangan akademis dan pribadi.
2.2.4 Teori-teori perkembangan sosial dan lingkungan
[Link] Teori Behaviorisme
16
Menurut teori ini, perilaku dapat diajarkan dalam konteks perkembangan sosial
dengan memodelkan perilaku positif, mengulang rutinitas, dan mempraktikkannya secara
konsisten. Orang tua atau guru berperan sebagai "model" yang memberikan contoh nyata
tentang perilaku sosial yang tepat. Pemicu yang tepat akan diberikan dalam suasana yang
mendukung untuk membantu anak bereaksi dengan perilaku yang diinginkan. (Abidin,
2023).Teori behaviorisme atau behavioristik adalah salah satu pendekatan di dalam
psikologi pendidikan. Pendekatan tersebut meyakini bahwa anak dapat dibentuk sesuai
dengan apa yang diinginkan oleh orang yang membentuknya baik guru ataupun orang
tua. Paham behaviorisme sangat menekankan tentang kejadian-kejadian nyata dan
perilaku nyata manusia (Husaeni, 2023).
Teori behaviorisme memiliki beberapa ciri-ciri rumpun yaitu Mementingkan faktor
lingkungan, Menekankan pada tingkah laku yang tampak dengan mempergunakan
metode objektif, Bersifat mekanis, Mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil,
Mementingkan pembentukan reaksi atau respons, Menekankan pentingnya Latihan,
Mementingkan mekanisme belajar. Maemonah (2020), dalam penelitiannya menyebutkan
bahwa pendekatan ini masih berlaku dalam pendidikan anak usia dini, khususnya dalam
hal menumbuhkan kebiasaan positif, menurut penelitian terkini. ketika seorang anak
menunjukkan perilaku yang baik, seperti berbagi dengan teman atau menuruti peraturan,
misalnya, memberi mereka pujian atau hadiah dapat mendorong perilaku tersebut di masa
mendatang. Disisi lain, penguatan negatif seperti menurunkan tugas setelah perilaku
tertentu juga membantu mendorong penyesuaian perilaku pada anak. Di sisi lain,
penguatan negatif seperti menurunkan tugas setelah perilaku tertentujuga membantu
mendorong penyesuaian perilaku pada anak. Dharma (2022), mengatakan bahwa teori
behaviorisme juga menekankan bahwa pembelajaran harus dapat diukur dan terlihat.
Perilaku kooperatif dan bertanggung jawab anak dapat dibentuk dalam konteks
perkembangan sosial melalui lingkungan sekolah yang mendukung, yang mencakup
kegiatan kooperatif dan penguatan positif dari guru. Menurut teori behaviorisme ini,
perilaku anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, baik secara positif maupun
negatif. Melalui praktik yang konsisten, dorongan, dan lingkungan yang mendukung,
orang tua dan pendidik berperan sebagai panutan dalam menumbuhkan perilaku sosial
yang diinginkan. Metode ini dapat membantu anak-anak membangun perilaku kooperatif
17
dan kebiasaan baik, terutama dalam lingkungan belajar yang terorganisasi dan terukur,
hal ini menunjukkan betapa pentingnya lingkungan dan guru dalam membantu anak
mengembangkan keterampilan sosial mereka menggunakan pendekatan behavioristik.
[Link] Teori Ekologi Perkembangan (Bronfenbrenner)
Lubis (2024) mengungkapkan bahwa teori ini sangat tepat untuk menelaah tentang
peran orang tua dan juga lingkungan sekolah dalam membentuk kesadaran lingkungan
pada anak. Dalam tulisannya menuliskan teori bronfenbrenner bahwa perkembangan
anak dipengaruhi oleh interaaksi dari berbagai lapisan lingkungan, seperti mikrosistem,
mesosistem, ekosistem, makrosistem dan kronosistem. Mikrosistem, adalah lingkungan
sekitar anak, termasuk keluarga dan sekolah, membentuk mikrosistem mereka, alam
situasi ini menumbuhkan kesadaran akan lingkungan dan membentuk praktik sadar
lingkungan merupakan tanggung jawab langsung orang tua dan pendidik (Ibda, 2022).
Mesosistem, merupakan interaksi antara berbagai mikrosistem, termasuk antara rumah
dan sekolah, disebut sebagai mesosistem. Penelitian terkini tentang pendidikan dan
lingkungan sekolah telah menegaskan pentingnya lingkungan mikrosistem, yang meliputi
rumah dan sekolah, dalam perkembangan anak (Hasanah & Martiastuti, 2020). Pola
interaksi dengan teman sebaya, guru, dan orang tua dapat meningkatkan kesadaran
lingkungan. Selain itu, sikap positif anak terhadap lingkungan sangat didukung oleh
mesosistem, atau interaksi antara rumah dan sekolah. Misalnya, kesadaran anak terhadap
nilai perilaku ramah lingkungan dapat tumbuh ketika orang tua dan pendidik bekerja
sama secara efektif (Mujahidah M., 2015).
Fajrin (2018) ekosistem, adalah lingkungan, seperti peraturan sekolah atau
pekerjaanorang tua yang mungkin terkait dengan lingkungan, di mana seorang anak tidak
terlibat secara langsung tetapi tetap memiliki dampak. Makrosistem, yaitu aturan, adat
istiadat, dan nilai-nilai budaya yang membentuk makrosistem masyarakat juga disertakan
dan yang terakhir kronosistem, meneliti bagaimana perkembangan anak dipengaruhi oleh
perubahan keadaan lingkungan dari waktu ke waktu (Citra, 2020). Singkatnya, interaksi
lingkungan sekitar, hubungan antar lingkungan, dan pengaruh eksternal seperti undang-
undang dan budaya semuanya memengaruhi bagaimana anak-anak menjadi sadar
lingkungan. Oleh karena itu, kerja sama antara lingkungan, sekolah, dan keluarga dapat
mendukung perkembangan individu yang sadar lingkungan, dengan menggunakan teori
18
ini, kita bisa melihat bagaimana setiap lapisan lingkungan berperan dalam membentuk
kesadaran lingkungan pada anak.
2.2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas keterlibatan orangtua
Banyak aspek penting yang berdampak signifikan terhadap seberapa baik
keterlibatan orang tua membentuk pengetahuan dan perilaku lingkungan. Salah satu
tantangan terbesar adalah keterbatasan waktu dan sumber daya. Orang tua yang bekerja
sering kali kekurangan waktu untuk terlibat aktif dalam kegiatan pendidikan lingkungan
bersama anak-anak mereka (Agustien, 2021). Karena kesibukan ini, semakin kecil
kemungkinan untuk melibatkan anak-anak dalam kegiatan ramah lingkungan atau
memberikan contoh kepedulian terhadap lingkungan (Prihtanti, et al., 2024). Kristanto &
Gusaptono (2021)selain itu, orang tua yang berpenghasilan rendah mungkin merasa
kesulitan untuk membiayai program yang mempromosikan pendidikan lingkungan atau
membeli barang-barang ramah lingkungan. Di sinilah sumber daya keuangan yang
terbatas [Link] terkadang, keyakinan konvensional yang menentang perilaku
ramah lingkungan mungkin menghalangi pendidikan anak-anak tentang lingkungan dan
mendorong perilaku ramah lingkungan.
2.3 Kerangka Berpikir
Kesadaran lingkungan sangat penting untuk menjaga alam dan standar hidup manusia.
Kesadaran ini berkaitan dengan pemahaman seseorang terhadap isu lingkungan dan tanggung
jawab mereka dalam melindungi alam. Kesadaran dan perilaku lingkungan menjadi semakin
penting ketika tantangan lingkungan seperti polusi, perubahan iklim, dan hilangnya
keanekaragaman hayati muncul. Keterlibatan orang tua dan lingkungan sekolah, selain
pendidikan formal, berdampak pada pengembangan kesadaran ini (Narut & Nardi, 2019).
Tingkat kepedulian anak terhadap lingkungan sangat ditentukan oleh keterlibatan orang tua
dalam pengembangan perilaku sadar lingkungan. Anak dapat mempelajari nilai perlindungan
lingkungan sejak usia dini melalui pengajaran dan contoh dari orang tua (Masykuroh, et. All.,
2023).
Namun, sekolah, sebagai lembaga pendidikan tinggi, juga berperan penting dalam
membantu pengembangan kesadaran ini. Pengetahuan anak tentang lingkungan dan perilaku
mereka dapat diperkuat oleh lingkungan sekolah, yang meliputi penyediaan kesempatan daur
ulang, program ramah lingkungan, dan kegiatan luar ruangan. Pengaruh positif dari teman
19
sebaya juga tidak dapat diabaikan. Anak-anak cenderung lebih berpartisipasi dalam kegiatan
peduli lingkungan jika teman sebaya mendorong mereka untuk melakukannya karena mereka
meniru tindakan teman-temannya (Ibda, 2022). Oleh karena itu, pengembangan kesadaran
dan perilaku lingkungan yang kuat pada anak sangat bergantung pada kerja sama antara
orang tua, sekolah, dan lingkungan sosial.
BAB III
METODE PENELITIAN
20
21
orangtua dan guru dalam membentuk kesadaran konservasi lingkungan anak khusus di
sekolah alam Ar Ridho Kota Semarang. Menurut Moleong (2010), metode deskripsi kualitatif
adalah jenis penelitian yang menggunakan deskripsi verbal dan linguistik dalam konteks
tertentu yang dialami subjek penelitian untuk memahami peristiwa secara keseluruhan.
3.3 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan disekolah alam ar ridho yang berada di Semarang. Alasan
peneliti memilih sekolah alam ar ridho karena sebagai sekolah yang menerapkan kurikulum
BBA (Belajar Bersama Alam). Annisa (2022) menjelaskan bahwa Sekolah Alam Indonesia
melalui sistem pendidikan khusus dihadirkan untuk memberikan peluang bagi siswa
untuk belajar, bergerak, mengeksplorasi, dan menjelajahi dunia secara lebih terbuka. di
sampingtermasuk sekolah yang menanamkan nilai-nilai pentingnya lingkungan dan alam
sekitar sehingga Lembaga ini layak untuk diteliti
3.4 Fokus Penelitian
Pembatasan masalah dalam penelitian pendekatan kualitatif di maksudkan adalah untuk
membatasi permasalahan yang ditemui selama penelitian guna memilih antara data yang
relevan dan juga tidak relevan. Maka dari itu, penelitian ini di fokuskan pada “Pran Orangtua
dan Guru Dalam Membentuk Kesadaran Konservasi Lingkungan Anak”. dimana fokusnya
adalah kesadaran konservasi anak, keterlibatan orangtua dan guru di sekolah dalam
membentuk kesadaran lingkungan anak pada sekolah alam Ar Ridho Kota Semarang.
3.5 Sumber Data Penelitian
Data berdasarkan sumbernya terbagi menjadi dua bagian yaitu:
3.5.1 Sumber Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh oleh peneliti secara langsung dari sumber
data yang asli (Sugiyono, 2019). Dalam penyusunan ini sumberdapat pertaman peneliti
peroleh secara langsung tanpa perantara. Data primer dalam penelitian ini adalah hasil
wawancara tentang peran orangtua dan guru dalam membentuk kesadaran konservasi
lingkungan anak. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah orangtua, dan
guru di sekolah alam Ar Ridho Semarang.
3.5.2 Sumber Data Sekunder
Menurut Sugiyono (2019) data sekunder adalah data yang di kumpulkan oleh peneliti
secara tidak langsung atau sumber kedua, Misal melalui orang lain atau dokumen.
22
Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah kurikulum, program pembelajaran, dan
keterlibatan orangtua dan guru di sekolah alam Ar Ridho Semarang.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah strategis dalam penelitian, karena
pengumpulan data merupakan tujuan utama penelitian. Pengumpulan data mencakup
berbagai kontek, sumber dan taktik. Penelitian kualitatif dalam pengambilan datanya
dilakukan berdasarkan natural setting ( kondisi alamiah), yang juga menggunakan sumber
data primer dan sekunder serta teknik pengumpulan datanya lebih banyak pada observasi
berperan serta, wawancara mendalam dan dokumentasi (Creswell, 2023).
3.6.1 Observasi
Menurut Jhonson & Christensen (dalam Gumilang, 2016) observasi penelitian
kualitatif merupakan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dalam setting ilmiah
dengan tujuan mengeksplorasi atau mendalami suatu makna. Dalam penelitian
kualitatif, tujuan observasi adalah mengungkap kebenaran tentang peristiwa atau
fenomena aktual dengan mengamati secara dekat interaksi dan perilaku di lokasi
penelitian (Fadli, 2021). pada kegiatan observasi ini, pertama adalah seperangkat
bahan ajar yaitu KOSP, modul ajar RPPM, program harian, mingguan, bulan dan
program tahunan ataupun Kaldik. Laporan kegiatan yang berkaitan pembelajaran.
Observasi ini langsung di lakukan, baik di ruang kelas maupun luar kelas. Peneliti
mengamati secara langsung proses kegiatan pembelajaran dan bentuk keterlibatan
orangtua dalam membentuk kesadaran lingkungan anak di sekolah alam Ar Ridho.
3.6.2 Wawancara
Menurut moleong (2017), wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua
pihak yang dimana pihak pewawancara memberikan pertanyaan dan pihak yang
diwawancarai menjawab atas pertanyaan dari pewawancara. Wawancara dalam
penelitian kualitatif adalah dengan tujuan mengumpulkan informasi terperinci
tentang makna subjektif, pikiran, perasaan, sikap, perilaku, persepsi, keyakinan,
motivasi, dan sebagainya, penelitian kualitatif menggunakan wawancara mendalam
(Gumilang, 2016). Kaharuddin 2020) teknik dalam wawancara terdiri atas
wawancara terstruktur, semi-struktur dan tidak terstruktur. Wawancara terstruktur
adalah wawancara yang dilakukan dengan mengacu pada format pertanyaan yang
23
wawancara dengan satu focus penelitian atausebaliknya. Dengan demikian, data relatif sama
antara yang didapat dengan triangulasi sumber dantriangulasi metode.
Triangulasi sumber digunakan peneliti untuk memperoleh data dari sumber data
yangberbeda-beda menggunakan satu teknik yang sama. Gambaran konsepnya yaitu,
penelitimelakukan wawancara untuk membandingkan data dari tiga sumber data yang akan
digaliinformasinya
Tabel 3.1. Triangulasi Teknik
Perencanaan muatan
1 - √ √
Materi peduli lingkungan
Pelaksanaan
2 penerapan Materi √ - √
Peduli lingkungan
Evaluasi penerapan
3 √ - √
Materi peduli lingkungan
Perencanaan muatan
1 √ √ √
Materi peduli lingkungan
Pelaksanaan
2 penerapan Materi √ √ √
Peduli lingkungan
3 Evaluasi penerapan √ - √
25
27
28
Sianturi, R., Nabila, A., & Irawan, G. A. (2023). Implementasi Nilai-Nilai Agama dalam
Pengelolaan Kurikulum PAUD di RA Al-Ikhlash. Jurnal Ilmiah Cahaya Paud, 5(2),
50-60.
Subagia, I. N. (2021). Pola asuh orang tua: Faktor, implikasi terhadap perkembangan
karakter anak. Nilacakra.
Suryaningsih, Y. (2018). Ekowisata sebagai sumber belajar biologi dan strategi untuk
meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan. Bio Educatio, 3(2), 279499.
Setyaningsih, E., Purnomo, S. C., Shiddiq, M., Tobing, J. L., Listiyanto, Z., Dhamayanti,
K. I., ... & Primayoga, A. (2023). Inovasi Teknologi dan Sosial: Untuk Kinerja
Bank Sampah Guna Mendukung Gerakan Yogyakarta Zero Sampah. Asadel
Liamsindo Teknologi.
Tamyis, T. (2022). Penanaman Nilai Keagamaan Anak Melalui Metode Bercerita. Jurnal
Pendidikan dan Konseling (JPDK), 4(6), 7229-7239.
Tristananda, P. W. (2018). Membumikan Education for Sustainable Development (ESD)
di Indonesia dalam menghadapi isu–isu global. Purwadita: Jurnal Agama dan
Budaya, 2(2), 42-49.
Yusuf, W. A., Susilawati, H. L., Wihardjaka, A., Harsanti, E. S., Adriany, T. A., Dewi,
T., ... & Husaini, M. (2023). Kerusakan dan pencemaran lingkungan pertanian:
karakteristik dan penanggulangannya. UGM PRESS.