MAKALAH METODOLOGI PENELITIAN
“TEKNIK PENGUMPULAN DATA”
Disusun oleh:
[Link] Quratulaini :22211006
[Link] :22211008
[Link] rahmawati :22211028
PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS TEKNIK DAN TERAPAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN MANDALIKA
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan
rahmatnya kepada kita, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas yang berjudul “
Pengumpulan data” dengan baik walaupun dalam bentuk yang sederhana. Adapun
penyusunan makalah ini ditunjukkan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah “Metodologi
Penelitian”
Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak [Link], [Link] selaku dosen pada
mata kuliah “Metodologi Penelitia ” atas bimbingan dan arahannya kepada kami dalam
menyelesaikan tugas makalah ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada semua
pihak yang telah terlibat dalam mengerjakan tugas ini sampai selesai.
Terlepas dari semua itu, tugas kami buat dengan sebaik mungkin. Apabila ada terdapat
kekurangan atau kesalahan pada isi maupun penyusunan, kami dengan senang hati menerima
kritik dan saran sebagai bentuk perbaikan kemudian hari. Terima kasih.
Mataram, 09 Desember 2024
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................
1.1 Latar belakang...............................................................................................................
1.2 Rumusan masalah..........................................................................................................
1.3 Tujuan ...........................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................................
2.1 Apa itu interview...........................................................................................................
2.2 Apa itu kuesioner (angket) serta prinsip penulisan angket?..........................................
2.3 Apa itu observasi?..........................................................................................................
BAB III PENUTUP.............................................................................................................
A. Kesimpulan.....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu,
kualitas instrumen penelitian, dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrumen
penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen dan kualitas
pengumpulan data berkenaan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan
data. Oleh karena itu instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, belum tentu
dapat menghasilkan data yang valid dan reliabel, apabila instrumen tersebut tidak
digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya.
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting. berbagai sumber, dan
berbagai cara. Bila dilihat dari setting-nya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah
(natural setting), pada laboratorium dengan metode eksperimen, di rumah dengan
berbagai responden, pada suatu seminar, diskusi, di jalan dan lain-lain. Bila di lihat dari
sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer, dan sumber
sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung
memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen.
Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik
pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuesioner (angket),
observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa itu interview (wawancara)?
2. Apa itu kuesioner (angket) serta prinsip penulisan angket?
3. Apa itu observasi?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian interview (wawancara)
2. Untuk mengetahui apa itu kuesioner (angket) serta prinsip penulisan angket
3. Untuk mengetahui apa itu observasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Interview (wawancara)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin
melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan
juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan
jumlah respondennya sedikit/kecil. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada
laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak- tidaknya pada pengetahuan dan
atau keyakinan pribadi. Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa anggapan yang
perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan metode interview dan juga kuesioner
(angket) adalah sebagai berikut.
Bahwa subyek (responden) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat
dipercaya
Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti
kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.
Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan
dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan
telepon.
1. Wawancara Terstruktur
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila
peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa
yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data
telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang
alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini setiap
responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya. Dengan
wawancara terstruktur ini pula, pengumpulan data dapat menggunakan beberapa
pewawancara sebagai pengumpul data. Supaya setiap pewawancara mempunyai
ketrampilan yang sama, maka diperlukan training kepada calon pewawancara.
Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman
untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti
tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan
wawancara menjadi lancar.
2. Wawancara tidak tersetruktur
Wawancara tidak terstruktur, adalah wawancara yang mana peneliti tidak
menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap
untuk pengumpulan datanya Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa
garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. bebas di mana penelitian tidak
menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap
untuk pengumpulan datanya.
Contoh:
Bagaimanakah pendapat Bapak/Ibu terhadap kebijakan pemerintah tentang impor
gula saat ini? Dan bagaimana dampaknya terhadap pedagang dan petani?
Wawancara tidak terstruktur atau terbuka, sering digunakan dalam penelitian
pendahuluan atau malahan untuk penelitian yang lebih mendalam tentang responden.
Pada penelitian pendahuluan, peneliti berusaha mendapatkan informasi awal tentang
berbagai isu atau permasalahan yang ada pada obyek, sehingga peneliti dapat
menentukan secara pasti permasalahan atau variabel apa yang harus diteliti. Untuk
mendapatkan gambaran permasalahan yang lebih lengkap, maka peneliti perlu
melakukan wawancara kepada fihak-fihak yang mewakili berbagai tingkatan yang
ada dalam obyek. Misalnya akan melakukan penelitian tentang iklim kerja
perusahaan, maka dapat dilakukan wawancara dengan pekerja tingkat bawah,
supervisor, dan manajer.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam tentang responden, maka
peneliti dapat juga menggunakan wawancara tidak terstruktur. Misalnya seseorang
yang dicurigai sebagai penjahat, maka peneliti akan melakukan wawancara tidak
terstruktur secara mendalam. sampai diperoleh keterangan bahwa orang tersebut
penjahat atau bukan.
Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti
data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang
diceriterakan oleh responden. Berdasarkan analisis terhadap setiap jawaban dari
responden tersebut, maka per dapat mengajukan berbagai pertanyaan berikutnya yang
lebih ter pada suatu tujuan. Dalam melakukan wawancara peneliti da menggunakan
cara "berputar-putar baru menukik" artinya pada awal wawancara, yang dibicarakan
adalah hal-hal yang tidak terkait dengan tujuan, dan bila sudah terbuka kesempatan
untuk menanyakan sesuatu yang menjadi tujuan, maka segera ditanyakan.
2.2 Kuesioner (angket)
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi
seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk di jawabnya.
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan
pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain
itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di
wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka,
dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos, atau
internet.
Bila penelitian dilakukan pada lingkup yang tidak terlalu lu sehingga kuesioner dapat
diantarkan langsung dalam waktu tidak terlalu lama, maka pengiriman angket kepada
responden tidak perlu melalui pos. Dengan adanya kontak langsung antara peneliti
dengan responden akan menciptakan suatu kondisi yang cukup baik, sehingga responden
dengan sukarela akan memberikan data obyektif dan cepat.
Uma Sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket
sebagai teknik pengumpulan data yaitu: prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan
fisik.
1. Prinsip Penulisan Angket
Prinsip ini menyangkut beberapa faktor yaitu: isi dan tujuan pertanyaan,
bahasa yang digunakan mudah, pertanyaan tertutup terbuka-negatif positif, pertanyaan
tidak mendua, tidak menanyakan hal- hal yang sudah lupa, pertanyaan tidak
mengarahkan, panjang pertanyaan, dan urutan pertanyaan
a) Isi dan tujuan Pertanyaan
Yang dimaksud di sini adalah, apakah isi pertanyaan tersebut merupakan
bentuk pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran, maka dalam
membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus skala pengukuran dan
jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti
b) Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan dalam penulisan kuesioner (angket) harus disesuaikan
dengan kemampuan berbahasa responden. Kalau sekiranya responden tidak dapat
berbahasa Indonesia, maka angket jangan disusun dengan bahasa Indonesia. Jadi
bahasa yang digunakan dalam angket harus memperhatikan jenjang pendidikan
responden keadaan sosial budaya, dan "frame of reference" dari responden.
c) Tipe dan Bentuk Pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup, (kalau dalam
wawancara: terstruktur dan tidak terstruktur). dan bentuknya dapat menggunakan
kalimat positif atau negative.
Pertanyaan terbuka, adalah pertanyaan yang mengharapkan responden untuk
menuliskan jawabannya berbentuk uraian tentang sesuatu hal. Contoh:
bagaimanakah tanggapan anda terhadap iklan- iklan di TV saat ini? Sebaliknya
pertanyaan tertutup, adalah pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau
mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari setiap
pertanyaan yang telah tersedia. Setiap pertanyaan angket yang mengharapkan
jawaban berbentuk data nominal, ordinal, interval, dan ratio, adalah bentuk
pertanyaan tertutup.
Pertanyaan tertutup akan membantu responden untuk menjawab dengan cepat,
dan juga memudahkan peneliti dalam melakukan analisis data terhadap seluruh
angket yang telah terkumpul. Pertanyaan/pernyataan dalam angket perlu dibuat
kalimat positif dan negatif agar responden dalam memberikan jawaban setiap
pertanyaan lebih serius, dan tidak mekanistis
d) Pertanyaan tidak mendua
Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua (double-barreled) sehingga
menyulitkan responden untuk memberikan jawaban.
Contoh:
Bagaimana pendapat anda tentang kualitas dan kecepatan pelayanan KTP? Ini
adalah pertanyaan yang mendua, karena menanyakan tentang dua hal sekaligus,
yaitu kualitas dan harga. Sebaiknya pertanyaan tersebut dijadikan menjadi dua
yaitu: bagaimanakah kualitas pelayanan KTP? Bagaimanakah kecepatan
pelayanan?
e) Tidak menanyakan yang sudah lupa
Setiap pertanyaan dalam instrumen angket, sebaiknya juga tidak menanyakan hal-
hal yang sekiranya responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan
jawaban dengan berpikir berat.
Contoh:
Bagaimanakah kinerja para penguasa Indonesia 30 tahun yang lalu? Menurut
anda, bagaimanakah cara mengatasi krisis ekonomi saat ini? (kecuali penelitian
yang mengharapkan pendapat para ahli). Kalau misalnya umur responden baru 25
tahun, dan pendidikannya rendah, maka akan sulit memberikan jawaban.
f) Pertanyaan tidak menggiring
Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang
baik saja atau ke yang jelek saja. Misalnya: bagaimanakah kalau bonus atas jasa
pelayanan di tingkatkan? jawaban responden tentu cenderung akan setuju.
Bagaimanakah prestasi kerja anda selama setahun terakhir? jawabannya akan
cenderung baik.
g) Panjang Pertanyaan
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga akan
membuat jenuh responden dalam mengisi. Bila jumlah variabel banyak sehingga
memerlukan instrumen yang banyak, maka instrumen tersebut dibuat bervariasi
dalam penampilan, model skala pengukuran yang digunakan, dan cara mengisinya.
Disarankan empirik jumlah pertanyaan yang memadai adalah antara 20 s/d 30
pertanyaan
h) Urutan Pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum menuju ke hal yang
spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau di acak. Hal ini perlu
dipertimbangkan karena secara psikologis akan mempengaruhi semangat
responden untuk menjawab. Kalau pada awalnya sudah diberi pertanyaan yang
sulit, atau yang spesifik, maka responden akan patah semangat untuk mengisi
angket yang telah mereka terima. Urutan pertanyaan yang di acak perlu dibuat bila
tingkat kematangan responden terhadap masalah yang ditanyakan sudah tinggi.
i) Prinsip Pengukuran
Angket yang diberikan kepada responden adalah merupakan instrumen
penelitian, yang digunakan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Oleh
karena itu instrumen angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan
data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur. Supaya diperoleh data
penelitian yang valid dan reliabel, maka sebelum instrumen angket tersebut
diberikan pada responden, maka perlu diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih
dulu. Instrumen yang tidak valid dan rellabel bila digunakan untuk mengumpulkan
data, akan menghasilkan data yang tidak valid dan reliabel pula.
j) Penampilan Fisik Angket
Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi
respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket. Angket yang dibuat di
kertas buram, akan mendapat respon yang kurang menarik bagi responden, bila
dibandingkan angket yang dicetak dalam kertas yang bagus dan berwarna. Tetapi
angket yang dicetak di kertas yang bagus dan berwarna akan menjadi mahal.
2.3 Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri vang spesifik bila
dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Kalau
wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak
terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain.
Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang
kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua
di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.
Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan
dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang
diamati tidak terlalu besar.
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi
participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation,
selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan
menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.
1. Observasi Berperanserta (Participant Observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang
sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil
melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber
data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data
yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna
dari setiap perilaku yang nampak.
Dalam suatu perusahaan atau organisasi pemerintah misalnya peneliti dapat
berperan sebagai karyawan, ia dapat mengamat bagaimana perilaku karyawan dalam
bekerja, bagaimana semanga hubungan karyawan dengan supervisor dan pimpinan,
keluhan dalam melaksanakan pekerjaan dan lain-lain
2. Observasi Non-Partisipan
Kalau dalam observasi partisipan peneliti terlibat langsung dengan aktivitas orang-
orang yang sedang diamati, maka dalam observasi non-partisipan peneliti tidak
terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Misalnya dalam suatu Tempat
Pemungutan Suara (TPS), peneliti dapat mengamati bagaimana perilaku masyarakat
dalam hal menggunakan hak pilihnya, dalam interaksi dengan panitia dan pemilih
yang lain. Peneliti mencatat, menganalisis dan selanjutnya dapat membuat kesimpulan
tentang perilaku masyarakat dalam pemilihan umum. Pengumpulan data dengan
observasi non-partisipan ini tidak akan mendapatkan data yang mendalam, dan tidak
sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilai-nilai di balik perilaku yang tampak,
yang terucapkan dan yang tertulis.
Dalam suatu proses produksi, peneliti dapat mengamati bagaimana mesin-mesin
bekerja dalam mengolah bahan baku, komponen mesin mana yang masih bagus dan
yang kurang bagus, bagaimana kualitas barang yang dihasilkan, dan bagaimana
performance tenaga kerja atau operator mesinnya.
a) Observasi Terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis,
tentang apa yang akan diamati, kapan dan di mana tempatnya. Jadi observasi
terstruktur dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti tentang variabel apa
yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan
instrumen penelitian yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Pedoman
wawancara terstruktur, atau angket tertutup dapat juga digunakan sebagai pedoman
untuk melakukan observasi. Misalnya peneliti akan melakukan pengukuran
terhadap kinerja pegawai yang bertugas dalam pelayanan IMB (Ijin Mendirikan
Bangunan), maka peneliti dapat menilai setiap perilaku dan ucapan dengan
menggunakan instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja karyawan
tersebut.
b) Observasi Tidak Terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara
sistematis tentang apa yang akan di observasi. Hal ini dilakukan karena peneliti
tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan
pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi
hanya berupa rambu-rambu pengamatan.
Dalam suatu pameran produk industri dari berbagai negara, peneliti belum
tahu pasti apa yang akan diamati. Oleh karena itu peneliti dapat melakukan
pengamatan bebas, mencatat apa yang tertarik, melakukan analisis dan
kemudian dibuat kesimpulan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin
melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti,
dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih
mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil. Teknik pengumpulan data ini
mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-
tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi.