Jembatan Gantung Pejalan Kaki di NTB
Jembatan Gantung Pejalan Kaki di NTB
Tugas Akhir
Untuk memenuhi sebagian persyaratan
Mencapai derajat Sarjana S-1 Jurusan Teknik Sipil
Oleh:
NURUL KHOTIMAH
F1A 016 131
ABSTRAK
Salah satu permasalahan yang sering menghambat perkembangan suatu daerah atau desa
adalah kurangnya infrastruktur berupa jalan dan jembatan. Sistem jembatan yang sederhana untuk
bentang yang panjang adalah jembatan gantung pejalan kaki. Pada skripsi ini dilakukan
perancangan jembatan gantung pejalan kaki kelas I yang berlokasi di desa Perampuan, Kabupaten
Lombok Barat, Provinsi NTB.
Perencanaan jembatan ini dimulai dengan penentuan lokasi jembatan, pengumpulan data
dan literature serta permodelan awal. Jembatan direncanakan dengan bentang utama 72 m dan
bentang tepi 12,85 m serta lebar bersih dek jembatan 1,8 m. Dari data – data perencanaan
kemudian dilakukan analisa secara manual menggunakan [Link] serta program SAP 2000.
Adapun untuk keamanan struktur dilakukan kontrol tegangan, lendutan, dan momen, kemudian
perhitungan dan pendimensian struktur.
Hasil perancangan diperoleh pelat beton dengan dimensi 0,5 x 1,8 x 0.08 m. Gelagar
memanjang menggunakan sistem rangka dengan profil Rectangular HSS. Kabel hanger
menggunakan baja solid diameter 22 m. Kabel utama menggunakan tali kawat baja strand 6 x WS
(36) IWRC diameter 60 mm. Menara/Pylon menggunakan Rectangular HSS 20 𝑥 12 𝑖𝑛𝑐ℎ. Blok
angkur yang berfungi menahan gaya tarik kabel menggunakan beton bertulang type gravity
dengan dimensi 2,5 x 2 x 4 m dan tertanam didalam tanah sedalam 6 m. Pondasi menggunakan
satu pondasi tipe sumuran pada masing – masing menara, dengan kedalaman 6 m, diameter 2 m,
dan tebal dinding 30 cm. Berdasarkan hasil analisa struktur yang dilakukan secara manual
maupun dengan program SAP 2000 diketahui bahwa seluruh komponen jembatan memenuhi
persyaratan keamanan dalam memikul beban mati, beban hidup, beban angin, maupun beban
gempa yang direncanakan.
1
PENDAHULUAN penulis bermaksud melakukan sebuah studi
perancangan jembatan pada lokasi tersebut
Jembatan merupakan suatu dengan judul “Studi Perancangan Struktur
konstruksi yang dibangun untuk Jembatan Gantung Pejalan Kaki di Desa
menghubungkan dua jalan yang terputus Perampuan dengan Gelagar Truss System”.
karena adanya hambatan seperti aliran Penggunan tipe struktur jembatan
sungai, lembah yang curam, jurang, jalanan gantung pejalan kaki didasarkan pada
yang melintang, jalur kereta api, waduk, pertimbangan bahwa lokasi tempat jembatan
saluran irigasi dan lainnya. Bisa dibilang jika direncanakan menghubungkan dua
jembatan merupakan sarana transportasi yang pemukiman sehingga beban lalu lintas yang
sangat penting, karena dengan adanya akan melewatinya hanyalah beban pejalan
jembatan dapat menyingkat waktu tempuh ke kaki dan maksimum kendaraan roda 3.
suatu tempat atau wilayah. Oleh karena itu, Mengingat beban jembatan yang ringan
jembatan merupakan prasarana yang sangat dengan bentang yang cukup panjang yaitu 72
dibutuhkan sebagai penunjang dalam bidang m, struktur jembatan gantung pejalan kaki
ekonomi, sosial dan budaya serta pemerataan merupakan tipe jembatan yang paling efisien,
pembangunan daerah terpencil dalam rangka baik dari segi kekuatan, ekonomi maupun
pembangunan nasional. estetika. Adapun dalam pemilihan profil
Keberadaan jembatan saat ini terus rangka gelagar direncanakan menggunakan
mengalami perkembangan, dari bentuk profil circular hollow section. Pemilihan
sederhanan sampai yang kompleks, demikian sistem rangka dengan profil circular hollow
juga bahan-bahan yang digunakan mulai dari section sebagai gelagar utama dimaksudkan
bambu, kayu, beton dan baja. Di wilayah untuk meningkatkan kekakuan dan kekuatan
Nusa Tenggara Barat sendiri sudah banyak pada jembatan, mengingat bahwa jembatan
melakukan pembangunan proyek jembatan gantung sangat rentan terhadap goyangan,
yang berguna untuk melancarkan transportasi baik itu yang disebabkan oleh gesekan angin
yang ada. Namun, ada juga di beberapa maupun beban horizontal lainnya. Adapun
wilayah dimana banyak masyarakat yang tujuan dari penulisan ini yaitu untuk
terhambat aksesibilitasnya dalam beraktifitas mengetahui bagaimana perancangan struktur
karena tidak adanya jembatan eksisting yang atas dan bawah jembatan gantung. Sehingga
memudahkan dalam penyebrangan, salah hasil perancangan nantinya diharapkan dapat
satu contohnya yaitu di desa Perampuan, menjadi acuan dalam pembangunan jembatan
Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB. pada lokasi tersebut kedepannya.
Kondisi penyebrangan sungai di
wilayah pedesaan tersebut cukup LANDASAN TEORI
memperihatinkan, untuk dapat menyebrangi
sungai antar dua desa masyarakat harus Tinjauan Umum Jembatan
menyewa sebuah perahu kayu yang dikayuh Jembatan adalah suatu bangunan
dengan bambu, sementara sebagian besar yang memungkinkan suatu jalan menyilang
aktifitas masyarakat seperti perdagangan dan sungai/saluran air, lembah atau menyilang
pendidikan berada di desa sebrang sungai. jalan lain yang tidak sama tinggi
Ketidak tersediaan jembatan penghubung permukaannya. Secara umum suatu jembatan
untuk menyebrangi sungai menyebabkan berfungsi untuk melayani arus lalu lintas
siswa sekolah dan masyarakat yang ingin dengan baik, dalam perencanaan dan
beraktifitas ke pasar dan kegiatan lainnya perancangan jembatan sebaiknya
menjadi sangat terhambat. Keterhambatan mempertimbangkan fungsi kebutuhan
tersebut tentu sangat berpengaruh pada transportasi, persyaratan teknis dan estetika-
perkembangan ekonomi dan kemajuan arsitektural yang meliputi : Aspek lalu lintas,
pendidikan pada daerah tersebut yang Aspek teknis, Aspek estetika. (Supriyadi dan
berdampak juga pada kemajuan Indonesia Muntohar, 2007)
sebagai Negara berkembang. Oleh karena itu, :
2
Jembatan Gantung Beban samping yang harus
Jembatan gantung adalah sistem dipertimbangkan dalam desain adalah beban
struktur jembatan yang menggunakan kabel angin yang terjadi pada sisi depan yang
sebagai pemikul utama beban lalu lintas di terbuka dari batang-batang jembatan. Standar
atasnya, pada sistem ini kabel utama (main perencanaan untuk jembatan pejalan kaki
cable) memikul beberapa kabel penggantung mempertimbangkan standar perencanaan
(suspension cables/hanger) yang kecepatan angin 35 m/detik. Karena pada
menghubungkan antara kabel utama dengan kondisi ekstrim tidak mungkin ada beban lalu
gelagar jembatan. Kabel utama dihubungkan lintas penuh di atas jembatan pada kondisi
pada kedua tower jembatan dan memanjang angin yang besar, beban angin direncanakan
disepanjang jembatan yang berakhir pada untuk dipikul terpisah dari beban hidup
pengangkeran pada kedua ujung jembatan vertikal.
untuk menahan pergerakan vertikal dan Beban gempa dihitung secara statik
horizontal akibat beban-beban yang bekerja. ekuivalen dengan memberikan beban lateral
Komponen atau bagian-bagian struktur di puncak menara sebesar 15% sampai
atas jembatan gantung meliputi lantai (deck) dengan maksimum 20% beban mati pada
jembatan, kabel penggantung (suspension puncak menara. Beban gempa tidak dihitung
cables/hanger), kabel utama (main cable), bersamaan dengan beban angin karena tidak
dan menara (pylon/tower). Sebagaimana terjadi pada waktu yang sama.
dapat dilihat pada gambar 1. c. Beban Hidup
Ada dua aspek beban hidup yang
perlu dipertimbangkan:
1. Beban terpusat pada lantai jembatan
jembatan akibat langkah kaki manusia
untuk memeriksa kekuatan lantai
jembatan;
2. Beban yang dipindahkan dari lantai
jembatan ke batang struktur yang
kemudian dipindahkan ke tumpuan
jembatan. Aksi beban ini akan
terdistribusi menerus sepanjang batang-
Gambar 1 Komponen Struktur Atas Jembatan batang longitudinal yang menahan lantai
Gantung jembatan.
(Harazaki, I., S. Suzuki,dan A. Okukawa, 2000) Dipertimbangkan bahwa beban
terpusat 2000 kgf (20 kN) untuk kendaraan
Pembebanan Struktur Jembatan ringan/ternak dan beban merata 5 kPa dengan
Pembebanan yang perlu diperhatikan batas lendutan 1/200 L memberikan batas
dalam perencanaan struktur jembatan yang cukup untuk keselamatan untuk semua
mengacu pada Surat Edaran Menteri pengguna biasa dari jembatan pejalan kaki.
Pekerjaan Umum No. 02/SE/M/2010 yaitu
sebagai berikut : Sistem Rangka Batang
a. Beban vertikal Rangka adalah struktur datar yang
Beban vertikal rencana adalah terdiri dari sejumlah batang Batang yang
kombinasi dari beban mati dan beban hidup disambung sambung satu dengan yang lain
terbesar yang diperkirakan dari pengguna pada ujungnya, sehingga membentuk suatu
jembatan. Beban vertical ini berasal dari: rangka kokoh. Konstruksi rangka bertugas
1. Beban mati dari berat sendiri mendukung beban atau gaya yang bekerja
jembatan; pada sebuah sistem tersebut. Beban
2. Beban hidup dari pengguna tersebut harus ditumpu dan diletakan pada
jembatan. peletakan tertentu agar dapat memenuhi
b. Beban Samping tugasnya.
3
Struktur terbentuk dari elemen- Beban yang dipikul oleh kabel selanjutnya
elemen batang lurus yang dirangkai dalam diteruskan ke menara yang kemudian
bidang datar, dengan sambungan antar ujung- disebarkan ke tanah melalui fondasi. Dengan
ujung batang diasumsikan “sendi sempurna”. demikian agar dapat menyalurkan beban
Beban luar yang bekerja harus berada di titik- dengan baik perlu diketahui pula bentuk atau
titik buhul (titik sambungan) dengan arah macam menara yang akan digunakan.
sembarang namun harus sebidang dengan Bentuk menara dapat berupa portal,
bidang struktur tersebut. Posisi tumpuan, multistory, atau diagonally braced frame
yang dapat berupa sendi atau rol, juga harus seperti ditunjukkan pada Gambar 2.2.
berada pada titik-titik buhul. Berdasarkan Konstruksi menara tersebut dapat juga
pertimbangan stabilitas struktur, bentuk dasar berupa konstruksi celullar, yang terbuat dari
dari rangkaian batang-batang tersebut pelat baja lembaran, baja berongga, atau
umumnya adalah berupa bentuk segitiga. beton bertulang.
Apabila semua persyaratan tersebut dipenuhi Tumpuan menara baja biasanya
maka dapat dijamin bahwa semua elemen- dapat diasumsikan jepit atau sendi.
elemen pembentuk sistem rangka batang 2- Sedangkan tumpuan kabel di bagian atas
dimensi (plane truss system) tersebut hanya menara, sering digunakan tumpuan rol untuk
akan mengalami gaya aksial desak atau tarik. mengurangi pengaruh ketidakseimbangan
menara akibat lendutan kabel.
HSS (Hollow Structural Section)
Profil hollow terbuat dari baja yang sama
b. Kabel
seperti yang digunakan pada profil baja
Kabel merupakan bahan atau
lainnya, sehingga pada prinsipnya tidak ada
material utama dalam struktur jembatan
perbedaan dalam sifat-sifat mekaniknya
gantung. Kabel utama (main
Profil hollow, khususnya CHS (Circular
cable/suspension cable) adalah kabel yang
Hollow Section), memiliki penampang yang
berfungsi sebagai penahan batang
paling baik dalam menahan momen puntir,
penggantung dan meyalurkan beban dari
karena gaya terdistribusi seragam kesegala
kabel penggantung ke menara (tower/pylon).
arah. Konstanta torsi dari profil hollow
Kabel dengan inti yang lunak tidak
sekitar 200 kali dibandingkan dengan profil
diizinkan digunakan pada jembatan gantung
terbuka. Profil circular hollow adalah
ini, kabel harus memiliki tegangan leleh
profil yang paling baik dalam menahan minimal sebesar 1500 MPa. Kabel pemikul
tekanan internal. yang digunakan berupa untaian (strand)
Profil hollow, khususnya circular dibuat dari material mutu tinggi dengan kuat
hollow sections memiliki keunggulan jika tarik minimum 1800 MPa. Jenis-jenis kabel
digunakan pada struktur yang terpengaruh ditunjukkan dalam Gambar 3.
langsung oleh fluida, baik air maupun udara
karena memiliki koefisien gesek yang jauh
lebih kecil dibandingkan dengan pofil
terbuka (CIDECT, 1984).
Penerapan profil hollow hampir
mencakup semua jenis bangunan sipil, baik
itu bangunan, gedung, menara, pemecah
ombak, maupun jembatan. Pada struktur
jembatan sendiri penggunaan profil hollow
suda banyak sekali diterapkan
5
𝑃
( ) 𝐿2
2
α adalah fraksi beban yang menunjukkan
H2 = 8𝑑
(2.17) proporsi beban hidup yang ditahan oleh
akibat beban mati kabel, yang besarnya diperoleh dari Δ’ = Δ
𝑤 𝐿2
H3 = 8𝑑 (2.18)
h. Momen maksimum struktur pengaku
Keterangan: dan komponen gaya horizontal kabel
H1, H2, H3 adalah komponen horizontal gaya Momen maksimum struktur pengaku
tarik (kN) di seperempat bentang dihitung berdasarkan
P adalah beban hidup merata (kN/m) pembagian beban antara struktur pengaku
w adalah berat sendiri struktur (kN/m) sebesar (1- ) dan kabel utama sebesar (α):
L adalah bentang utama (m)
d adalah cekungan kabel di tengah bentang (1−α)𝑃𝐿2
(m) Mmaks = 64 (2.23)
2. Besarnya cekungan kabel (d) berkisar Keterangan:
antara 1/8 L sampai dengan 1/11 L Mmaks adalah momen maksimum gelagar
3. Kabel utama dan backstay dihitung pengaku (kNm).
berdasarkan gaya tarik T maksimum
untuk backstay : i. Panjang kabel utama
𝐻 1. Panjang teoritis kabel utama (Lk)
T = cos 𝜑 (2.19)
adalah jarak parabolik antara titik-titik
atau pusat kabel di pelana:
untuk kabel utama : 8 𝑑
𝐻 Lk = L{1 + 3 (𝐿 )2 } (2.24)
T= (2.20)
cos 𝜃 Keterangan:
Keterangan: L adalah panjang bentang utama
H adalah komponen horizontal gaya tarik, d adalah cekungan kabel di tengah
yang merupakan nilai maksimum dari bentang
kombinasi (H1 + H3) atau (H2 + H3) (kN) 2. Panjang bersih kabel utama pada
T adalah gaya tarik kabel maksimum akibat kondisi bebas beban diperoleh dengan
beban merata penuh (kN) mengadakan koreksi pengurangan
θ adalah sudut kabel di menara antara terhadap panjang teoritis:
horizontal dan kabel bentang utama
koreksi penambahan panjang
𝜑 adalah sudut kabel di menara antara
sesuai lengkungan di pelana;
horizontal dan kabel angkur
koreksi pengurangan panjang ulur
elastis sebanding dengan tegangan
g. Lendutan
rata-rata akibat beban mati penuh
Lendutan akibat beban hidup merata
berdasarkan tegangan kabel
yang bekerja pada seperempat bentang
maksimum di menara dan
utama, dihitung berdasarkan pembagian
minimum di tengah bentang;
beban antara gelagar pengaku sebesar ( 1- α )
dan kabel utama sebesar (α ): Perencanaan Struktur Bawah
5 (1−α)𝑃𝐿4
Δ’ = 12288 𝐸𝐼
(2.21) a. Blok Angkur
𝑃
𝛼( )
Dimensi dari blok angkur harus
Δ = 8
𝑃 d (2.22) didesain sedemikian rupa sehingga memiliki
𝑤+ 𝛼 ( )
2 kapasitas yang lebih besar dari gaya pada
Keterangan: kabel backstay (menahan minimum 120%
Δ’ adalah lendutan gelagar pengaku pada gaya Tarik kabel backstay).
seperempat bentang (m)
Δ adalah lendutan kabel pada seperempat
bentang (m)
6
Garis kerja gaya kabel, tekanan pasif 𝑄𝑢 + 𝑄𝑠
Qa = (2.26)
𝑆𝐹
tanah dan gaya gravitasi blok angkur harus 𝑞𝑢.𝐴𝑝 + 𝜋.𝐵.𝐷𝑓.𝐹𝑠
bertemu pada satu titik tangkap agar tidak = 𝑆𝐹
terguling. Blok angkur harus tertanam dalam qu = Daya dukung ultimit, (kN/m2)
tanah asli. Qa = Beban ultimit total, (kN)
Df = Kedalaman fondasi, (m)
B = Diameter fondasi, (m)
Ap = Luas dasar fondasi (m2)
Fs = Faktor gesek dinding (kN/m2)
METEDOLOGI PERENCANAAN
Lokasi Jembatan
Lokasi jembatan yang dirancang
berada di Desa Perampuan, Kabupaten
Gambar 3 Pengangkuran gravity Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara
Barat.
b. Fondasi
Menurut Gunawan (1991), fondasi Longitude : 116,095308
Latitude : -8,646691
bangunan biasa dibedakan sebagai fondasi
dangkal (shallow foudations) dan fondasi
dalam (Deep Foundations), tergantung dari
perbandingan kedalaman pondasi dan lebar
pondasi, dan secara umum digunakan
patokan :
1. Jika kedalaman dasar fondasi dari muka
tanah adalah kurang atau sama dengan
lebar pondasi (D ≤ B) maka disebut
pondasi dangkal.
2. Jika kedalaman fondasi dari muka tanah
adalah lebih dari lima kali lebar pondasi
(D > 5B) maka disebut pondasi dalam.
Fondasi sumuran merupakan
peralihan antar pondasi dangkal dan pondasi
dalam, digunakan bila tanah dasar yang kuat Gambar 4 Sketa Lokasi Jembatan
terletak pada kedalaman yang relatif dalam, Tahapan Persiapan
dimana pondasi sumuran nilai kedalaman Tahap persiapan merupakan
(Df) dibagi lebarnya (B) lebih besar dari 5 rangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum
sedangkan pondasi dangkal Df/B ≤ 1 memulai pengumpulan dan pengolahan data.
Daya dukung ultimit (ultimit bearing Dalam tahap ini dilakukan penyusunan
capacity) (qu) didefinisikan sebagai beban kegiatanyang dianggap penting sehingga
maksimum persatuan luas di mana tanah perencanaan dapat berjalan secara efektif
masih dapat mendukung beban tanpa dalam hal waktu pengerjaannya. Adapun
mengalami keruntuhan. kegiatan – kegiatan tersebut sebagai berikut :
Daya dukung ultimit untuk fondasi a. Mengumpulkan informasi mengenai
yang berbentuk lingkaran dinyatakan dalam jembatan yang akan direncanakan.
persamaan : b. Mengumpulkan pustaka dan literatur
qu = 1,3 𝑐. 𝑁𝑐 + 𝑞. 𝑁𝑞 + 0,3 𝛾. 𝐵. 𝑁𝛾 (2.25) yang berhubungan dengan
perencanaan jembatan.
Untuk fondasi jenis sumuran
c. Menentukan data yang dibutuhkan.
Terzaghi menyarankan agar faktor gesekan
d. Mengumpulkan data yang dibutuhkan
dinding fondasi diperhitungkan, jadi
dalam perencanaan.
persamaan daya dukungnya dinyatakan oleh:
7
e. Pembuatan proposal penyusunan tugas Metode Perencanaan
akhir. Perhitungan dan perencanaan ulang
f. Perencanaan jadwal pembuatan Jembatan Kesejahteraan menggunakan
desain. jembatan tipe pelengkung beton dengan tipe
through arch. Adapun tahap – tahap yang
Pengumpulan Data dilakukan adalah sebagai berikut :
Pengumpulan data merupakan b. Perhitungan pembebanan,
kegiatan yang sangat penting dilakukan c. Perencanaan pelat lantai jembatan,
sebelum memulai perencanaan suatu d. Perencanaan gelagar jembatan,
kontruksi. Ada dua macam data dalam e. Perencanaan kabel penggantung,
melakukan penelitian yaitu data primer dan f. Perencanaan kabel utama,
data sekunder. Data primer adala data yang g. Perencanaan Menara,
diperoleh berdasarkan pengamatan langsung h. Perencanaan ikatan angin,
di lapangan. Sedangkan data sekunder adalah i. Kontrol desain bangunan atas,
data yang diperoleh dari hasil penelitian para j. Perencanaan blok angkur,
peneliti sebelumnya maupun dari instansi – k. Perencanaan beton pedestal,
instansi terkait. l. Perencanaan fondasi,
Adapun data – data yang digunakan m. Kontrol desain bangunan bawah,
dalam perencanaan jembatan ini adalah: n. Pembuatan gambar kerja.
a. Bentang Jembatan : 72 m
b. Lebar bersih lantai jembatan : 1.8 m Diagram Alir
c. Jenis jembatan : Jembatan gantung
pejalan kaki kelas I
d. Data tanah
- Kekakuan gelagar,
EI = (200000 x 103) (279974,92 x 10-8)
= 559949,85 kN.m2
d. Mengidentifikasi Kombinasi
Pembebanan
Data selanjutnya yang harus
diidentifikasi adalah memberikan kombinasi
pembebanan yang akan dipakai saat analisis
struktur. Dalam mengidentifikasi kombinasi
Gambar 10 Model Jembatan dengan SAP 2000 pembebanan langkah yang dilakukan ialah
12
memilih menu define lalu mengklik load g. Tabulasi Hasil Perhitungan
combination. Evaluasi Jembatan
Perbandingan hasil analisa
perhitungan secara manual dengan program
SAP 2000 di tabulasikan sebagai berikut
Tabel 2 Perbandingan Perhitungan Manual dan
SAP 2000
16
Bridges. CRC Press. Boca Raton. 36 Supryadi, Bambang & Agus Setyo M. 2007.
hlm. Jembatan. Yoyakarta: UGM.
Hardiyatmo, Hary C. 1996. Teknik Pondasi I. Wardenier, Jaap, dkk. 2010. Hollow Sections
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. In Strustural Applications.
Switzerland: CIDECT.
Isyana, Anggraeni & Bernardinus
Herbudiman, 2008, Studi Parameter
Desain Dimensi Elemen Struktur
Jembatan Gantung Pejalan Kaki
dengan Bentang 120 m. Bandung:
Media Teknik Sipil Institut
Teknologi Nasional.