0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan34 halaman

Pemisahan Mineral dengan Shaking Table

Diunggah oleh

F Anime
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan34 halaman

Pemisahan Mineral dengan Shaking Table

Diunggah oleh

F Anime
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

SHAKING TABLE

WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
C8

LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN


PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR
2024
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka


penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi
penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan,
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan
pascatambang. Pertambangan adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat
dari ketetapan pemerintah yang dilakukan secara sadar dan terencana, untuk
mengelolah mineral batubara dan hasil bumi lainnya yang ada diperut bumi. Objek
dari usaha pertambangan adalah sumber daya alam yang tak terbaharukan (non-
renewable), dimana dalam pengelolaan dan pemanfaatannya dibutuhkan pendekatan
manajemen ruangan yang ditangani secara holistik dan integrative
(Risal et al., 2013).

Shaking Table merupakan salah satu alat yang digunakan dalam proses
pemisahan mineral berdasarkan berat jenis. Bagian utama dari shaking table yaitu
dek yang sedikit miring, bekerja karenaadanya gaya hentakan dan wash water yang
bisa meningkatkan kadar dengan ukuran butir >100 mesh. Gaya yang bekerja pada
alat ini ialah gaya gravitasi, gaya gesek, dan gaya dorong fluida Faktor yang
berpengaruh terhadap kinerja shaking table yaitu kemiringan dek, debit air,
kecepatan frekuensi pergerakan dek, kecepatan feeding, dan panjang pukulan
(Maharani et al., 2020).

Adapun tujuan dari praktikum shaking table di laboratorium pengolahan


bahan galian adalah untuk memahami prinsip dasar pemisahan mineral berdasarkan
perbedaan massa jenis dan sifat fisiknya. Shaking table adalah salah satu metode
pemisahan gravitasi yang memanfaatkan perbedaan berat jenis untuk memisahkan
mineral berharga dari mineral pengotor. Dalam praktikum ini, kita belajar
mengoperasikan shaking table dan mengatur berbagai parameter seperti aliran air,
frekuensi goyangan, serta kemiringan meja untuk mendapatkan pemisahan yang
optimal. Selain itu, praktikan juga diajarkan untuk menganalisis hasil pemisahan,
AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI
09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

menghitung efisiensi proses, dan menentukan perolehan (recovery) serta kualitas


konsentrat dan tailing yang dihasilkan (Asisten, 2024).

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

1.2 Manfaat dan Tujuan

1.2.1 Maksud
Maksud dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengenal,
mengetahui dan menguasai ilmu tentang pengolahan bahan galian
yang menjadi salah satu aplikasi dasar dalam dunia pertambangan.
1.2.2 Tujuan
Tujuan kami mengikuti praktikum ini yaitu :
a. Mempelajari pengaruh variabel-variabel alat terhadap hasil pemisahan;
b. Menentukan recovery dan kadar dari hasil pemisahan.

1.3 Alat dan Bahan

1.3.1 Alat
a. Shaking Table;
b. Panning
c. Sekop;
d. Oven;
e. Blender Pasir;
f. Ayakan
g. Timbangan;
h. Talang;
i. Cawan;
j. Neraca Analitik;
k. Kuas (3 inch) *;
l. Mistar*;
m. Perelengkapan Safety (Masker, Kacamata Safety, Helm, dan Kaos Tangan)*;
n. Jas Laboratorium;
o. Alat Tulis Menulis.
1.3.2 Bahan
a. Sampel Pasir Besi 1 kg (mesh -200);
b. Tabel Data Pengamatan;
c. Air;
d. Kantong Sampel A4.

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Shaking Table

Shaking table (meja goyang) merupakan suatu alat yang bekerja karena
adanya gaya gravitasi, gaya gesek antara partikel dengan bidang deck dan gaya
dorong. Menurut Danisworo (1994), mineralogi adalah ilmu yang mempelajari
mengenai mineral, baik dalam bentuk individu maupun dalam bentuk kesatuan,
antara lain mempelajari tentang sifat-sifat fisik, sifat kimia, cara terdapat, cara
terjadinya dan kegunaannya. Menurut Tobing (2005) dalam Yudi Widaputra et. al.
(2014), pengolahan bahan galian merupakan proses pengolahan bijih (ore) secara
mekanik, sehingga mineral berharga dapat dipisahkan dari mineral pengotornya
dengan didasarkan pada sifat fisika atau sifat kimia-fisika permukaan mineral.
Shaking Table merupakan Pemisahan mineral berat dengan mineral ringan
menggunakan media aliran tipis (Flowing Film Consentration) pada suatu meja
bergoyang alatnya adalah Shaking Table. Shaking Table umumnya dipakai untuk
pemisahan bijih jenis aluvial atau endapan pantai, dimana mineral-mineralnya sudah
terliberalisasi dan berukuran pasir, misalnya bijih timah, emas da pasir besi.
Umumnya mineral yang mempunyai perbedaan berat jenis besar serta perbedaan
ukuran yang kecil akan lebih mudah untuk dipisahkan, maka dari itu praktikum ini
dilaksanakan agar praktikan dapat memahami dan mengerti tentang pengunaan
alatnya.
Mineral adalah endapan alam yang mempunyai komposisi kimia dan struktur
tertentu, tetapi dalam pengolahan bahan galian mineral dikembangkan menjadi bahan
galian berupa unsur-unsur kimia, batuan, mineral dan mineral bahan bakar yang
merupakan endapanendapan yang cara memperolehnya dengan kegiatan menggali
atau mengebor.
Menurut Graha (1987), timah adalah logam berwarna putih keperakan dengan
kekasaran dan kekuatan (strength) yang rendah, serta mempunyai sifat-sifat

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

konduktivitas panas dan listrik yang tinggi memiliki warna kecoklatan dengan 4
mineral ikutannya yaitu monazit, zirkon, ilmenit dan kuarsa. Menurut Sujitno
(2007), berdasarkan pada cara pembentukannya, deposit timah dapat dikelompokan
menjadi dua golongan, deposit timah primer dan timah sekunder. Timah primer
terbentuk akibat dari intrusi batuan granit biotit, serta pada daerah kontak batuan
endapan malihan biasanya berasosiasi dengan turmalin dan urat kuarsa timah pada
zaman Trias Atas. Timah sekunder terbentuk akibat proses kelanjutan dengan
kondisi alam tropis yang panas dan lembab, terjadi proses pelapukan, baik secara
mekanik ataupun kimiawi yang kemudian berlanjut dengan proses erosi. Hasil
pelapukan tersebut tertransportasi oleh air hujan melewati aliran sungai, kemudian
terendapakan sepanjang aliran sungai dan lembah.
Alat yang digunakan adalah shaking table, merupakan alat pemisahan
mineral yang memanfaatkan gerakan fluida dengan aliran air yang tipis dan hentakan
meja untuk memisahkan mineral-mineral dari pengotornya (Curie, 1973 dalam
Richma 2013).
Pada shaking table terdapat beberapa variabel yaitu:
1. Kemiringan deck, deck yang terlalu miring akan mempengaruhi kecepatan
aliran air partikel ringan akan terbawa air semuannya, sehingga yang
tertinggal hanya mineral berat (Curie, 1973 dalam Richma 2013).
2. Ukuran partikel bijih, mineral mineral berukuran kasar dan halus dapat
diproses dengan shaking table tetapi dengan cara penanganan yang berbeda.
3. Jumlah dan panjang stroke, stroke yang panjang untuk material kasar dan
stroke pendek untuk material halus.
4. Riffle, riffle yang terdapat pada meja berfungsi untuk menyebabkan arus putar
disekitarnya
5. Laju air pencucian, sebagai sarana transportasi partikel dari kotak umpan ke
penampungan produk.
Proses Pemisahan Pada Shaking Table Merupakan proses pemisahan
berdasarkan gravitasi. Jika perbedaan berat jenis tersebut besar, maka pemisahan
berdasarkan gravitasi relatif mudah dilakukan, akan tetapi bila sebaliknya pemisahan
dengan metode tabling sulit dilakukan.

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

Concentration criterion (CC) adalah tingkat keberhasilan pemisahan mineral


berharga dengan pengotornya yang ditentukan oleh perbedaan berat jenis didalam
media. Berikut persamaan dari concentration criterion (CC) (Wills, 1992).
ρ h−ρ
CC = f

ρ l−ρ f

Keterangan :
CC = Concentration criterion
ρh = Berat jenis (spesific gravity) mineral berat
ρl = Berat jenis (spesific gravity) mineral ringan
ρf = Berat jenis (spesific gravity) medium
Konsentrasi gravitasi adalah proses pemisahan material-material yang
berharga dan tidak berharga dalam suatu bahan galian akibat gaya-gaya dalam
fluida berdasarkan atau tergantung pada perbedaan densitas, bentuk dan ukuran.
Salah satu metode konsentrasi gravitasi adalah shaking table. Shaking table
merupakan salah satu alat pemisah material pada metode konsentrasi garvitasi yang
berdasarkan pada aliran horizontal. Alat ini digunakan untuk memisahkan material
dengan cara mengalirkan air yang tipis pada suatu meja bergoyang (Heriyadi
dkk, 2014)

2.2 Pengaruh Variabel Shaking Table Terhadap Kadar Dan Recovery

Proses pengolahan bijih timah primer meliputi kegiatan comminution, sizing,


classifying dan concentration. Pada proses concentration tahap akhir menggunakan
metode gravity concentration untuk memisahkan mineral cassiterite dengan mineral
pengotornya, dimana proses gravity concentration bertujuan untuk meningkatkan
bijih timah yang berkadar rendah (low grade) menjadi bijih timah yang berkadar
tinggi (high grade). Salah satu alat gravity concentration yang digunakan adalah
shaking table. Shaking table (meja goyang) merupakan suatu alat yang bekerja
karena adanya gaya gravitasi, gaya gesek antara partikel dengan bidang deck dan
gaya dorong.
Proses pemisahan bijih timah primer menggunakan shaking table dilakukan
dengan dua tahap yaitu primary yang bertujuan untuk meningkatkan kadar feed
menjadi lebih tinggi serta untuk mengurangi kehilangan mineral berharga (losses)

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

dan tahap kedua yaitu secondary yang bertujuan untuk mendapatkan konsentrat
dengan kadar Sn yang diinginkan dengan perolehan (recovery) yang tinggi.
Penggunaan shaking table di PT MCM belum mempunyai standar baku dalam
pengoperasian, baik yang primary maupun yang secondary, dalam pengoperasiannya
masih menggunakan trial dan error serta belum ada penelitian sebelumnya di
perusahaan tersebut mengenai teknis pencucian dengan alat shaking table. Akibatnya
pengaturan variabel-variabel operasi shaking table selama ini belum optimal
sehingga berpengaruh terhadap waktu dan biaya proses pencucian bijih timah primer
serta terjadinya kehilangan mineral berharga (losses).
Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan kajian terhadap variabel
lvariabel operasi shaking table dengan cara melakukan pengaturan pada variabel
kemiringan dan kecepatan air. Pengaturan tersebut dilakukan untuk mendapatkan
pengaruh variabel terhadap kadar dan recovery Sn konsentrat yang optimal dalam
proses pencucian bijih timah primer. Analisis pengaruh kemiringan dilakukan untuk
mengetahui berapa besar pengaruh variasi sudut kemiringan yang telah ditentukan
terhadap kadar dan recovery Sn konsentrat pada alat primary shaking table dan
secondary shaking table.
Selain pengaruh kemiringan, variabel operasi shaking table yang juga sangat
berpengaruh yaitu kecepatan air pencuci (wash water). Analisis pengaruh kecepatan
air pencuci dilakukan untuk mengetahui berapa besar pengaruh kecepatan air pencuci
terhadap kadar dan recovery Sn konsentrat pada alat Primary Shaking Table dan
Secondary Shaking Table. Pada shaking table bekerja efek sluicing yang
dikombinasikan dengan riffle dan gaya sentak yang tegak lurus arah aliran, Proses
pemisahan terjadi akibat adanya tiga gaya yang bekerja pada partikel dalam fluida
yaitu :
1. Gaya gravitasi;
2. Gaya dorong fluida;
3. Gaya gesek.
Peranan ketiga gaya tersebut sangat menentukan perlapisan (stratifikasi) dan
urutan partikel dengan partikel besar ringan paling depan diikuti partikel kecil
ringan. Kemudian diikuti partikel besar berat serta partikel kecil berat paling akhir.

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

Shaking table (meja goyang) adalah suatu alat yang bagian utamanya terdiri
dari sebuah meja yang terdiri dari deck yang sedikit miring yang bekerja karena
adanya gaya hentakan dan wash water yang dapat meningkatkan kadar bijih timah
dan bisa menaikkan kadar sampai ukuran > 100 mesh. Alat ini bekerja karena adanya
gaya gravitas, gaya gesek antara partikel dengan lapisan bidang, dan gaya dorong
fluida untuk mengetahui cara kerja dan efisiensi yang dihasilkan dari proses yang
menggunakan alat ini maka dilakukan penelitian perhitungan efisiensi shaking table.
Persentase perolehan kadar cassiterite oleh shaking table yang dipakai saat
ini umumnya masih bervarisi. Dari analisis data Pusat Pengolahan Bijih Timah
(PPBT) menunjukkan, kadar perolehan cassiterite pada shaking table berkisar antara
7-15%. Saat ini pemakaian shaking table oleh mitra usaha PT. Timah belum
mempunyai standar baku dalam pengoperasiannya, sehingga yang dilakukan
pengoperasiannya masih menggunakan trial dan error Berdasarkan kondisi di atas,
permasalahan yang timbul adalah apakah pengaturan variable-variabel operasi
shaking table selama ini belum sesuai dengan kondisi umpan (feed) sehingga
berpengaruh terhadap waktu dan biaya proses oleh karena itu, perlu dilakukan kajian
terhadap kondisi variabel-variabel operasi shaking table yang digunakan sehingga
dapat diperoleh kesesuaian yang baik dalam meningkatkan perolehan cassiterite.

Gambar 2.1 Shaking Table

2.3 Prinsip Kerja Shaking Table

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

Salah satu metode konsentrasi gravitasi adalah tabling. Tabling merupakan


pemisahan material dengan cara mengalirkan air yang tipis pada suatu meja
bergoyang, dengan menggunakan media aliran tipis dari air (Flowing Film
Concentration). Alat yang digunakan disebut “Shaking Table” atau “Meja Goyang”.
Prinsip Kerja Shaking Table adalah berdasarkan perbedaan berat dan ukuran
partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air tipis. Partikel dengan diameter yang
sama akan memiliki gaya dorong yang sama besar. Sedangkan apabila Specific
Gravity-nya berbeda maka gaya gesek pada partikel berat akan lebih besar daripada
partikel ringan, karena pengaruh gaya dari aliran, maka partikel ringan akan
terdorong atau terbawa.
Karena gerakan relative horizontal dari motor maka partikel berat akan
bergerak lebih cepat dari pada material ringan dengan arah horizontal. Untuk itu
perlu dipasang riffle (penghalang) untuk membentuk turbulensi dalam aliran
sehingga partikel ringan diberi kesempatan berada diatas dan partikel berat relative
dibawah (Heriyadi dkk, 2014).
Berdasarkan pada ukuran besar butir material yang dipisahkan, meja goyang
dapat dibedakan menjadi “sand table” dan “slime table”. Perbedaan pada kedua alat
ini terletak pada Jumlah dan Jarak antar Riffle. Jumlah riffle pada Sand Table sangat
banyak sedangkan jumlah riffle pada Slime Table sedang. Jarak antar riffle sand
Table antara ¼ hingga 1 ¼ inch sedangkan Slime Table lebih besar daripada Sand
Table. Selain itu Sand Table, ada bagian deck yang tidak diberi riffle digunakan
untuk slime sedangkan pada Slime Table, ada bagian deck yang tidak dipasang riffle.
Kapasitas Shaking Table (meja goyang) tergantung pada jumlah air, jumlah Strore,
sifat bijih, slope, meja dan ukuran feed.
Macam Meja Goyang yang lain adalah Willey Table, Butcher Table, Card
Tabel. Card Field Table, Plat of Table, dan Dister Diagonal Overslorm Table. Meja
Goyang Willey Tabel terdiri dari deck berbentuk segi empat dan “Headmotion”
sebagai penggeraknya. Ketinggian riffle minimal ½ feed dan lebar ¼ feed. Meja
Goyang Bucher Table mempunyai bentuk hampir sama dengan Willey, tapi memiliki
watch plinger untuk mencuci. Posisis riffle terbagi menjadi zone stratifikasi,
cleaning zone dan dischange zone. Mekanisme kerjanya, material bergerak ke kiri

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

dan air bergerak ke kanan, sehingga material ringan akan terbawa arus air sedang
material berat akan berjalan terus (Heriyadi dkk, 2014).
Meja Goyang Card Table yakni meja goyang dengan riffle dibuat dengan
mengerat deck dengan bentuk segitiga dan headmotion. Meja goyang Dister
Diagonal Overslorm Table yakni meja goyang dengan berbentuk Deck
Rombahedral. Pemisahan antara konsentrat, middling dan tailing tidak jelas
berdekatan sekali Meja Goyang Card Field Table yakni meja goyang dengan
berbentuk Wafley Table yang ditutupi seluruhnya oleh riffle, sedangkan meja goyang
Plat of Table meja goyang yang mempunyai ciri utama di atas deck ada tiga macam
riffle dan terdapat tiga zona dari riffle yaitu zone Stratifikasi, zone Intermediate Plan
dan zone Lipper (Heriyadi dkk, 2014).
Alat pemisah mineral secara gravitasi yaitu jig, magnetic separator,
hydrocyclone, dan shaking table. Dari semua contoh alat tersebut memiliki prinsip
kerja yang berbeda. Alat jig bekerja dengan tekanan dan hisap, magnetic separator
adalah pemisah antara material padat dengan pengotornya berdasarkan sifat
kemagnetan suatu bahan, hydrocyclone adalah memanfaatkan efek gaya centrifugal
dan density fluida tiap partikel didalam air, dan shaking table berdasarkan perbedaan
berat dan ukuran partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air tipis dalam (Sajima,
2012).

2.4 Bagian-bagian alat dan fungsinya

Proses pemisahan mineral pada shaking table terjadi karena adanya


sentakan meja yang ditimbulkan oleh headmotion dan aliran air tipis dipermukaan
meja dari water filling. Mineral berat yang memiliki gaya gesek yang lebih besar
maka akan terlempar ke samping (searah sentakan meja) (Munaf Yulman, 2012)

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

Gambar 2.2 Bagian-bagian Shaking Table

Untuk mineral yang berukuran halus akan terlempar ke samping lebih jauh
dibanding dengan mineral yang berukuran kasar. Mineral ringan berukuran kasar
akan terdorong oleh aliran air lebih jauh dari pada mineral berat berukuran
halus. Untuk memisahkan partikel, maka perlu dipasang riffle (penghalang). Fungsi
riffle yaitu untuk membentuk turbulensi dalam aliran sehingga partikel ringan diberi
kesempatan berada diatas dan partikel berat relatif di bawah.
1. Head Motion
Head motion merupakan komponen utama atau dasar dari shaking table.
Seperangkat head motion yang terdiri dari beberapa bagian antara lain kedua pitman
yang terbuat dari besi tempa, toggle yang terbuat dari besi cor, dan roller bearing
yang dilindungi oleh minyak pelumas yang mengendalikan gaya gesek tertentu.
Mekanisme kerja alat head motion diawali dengan proses ketika shaking
table sedang tidak dioperasikan spiral pegas (spring) dalam kondisi memanjang atau
meregang dan dalam keadaan mendatar. Saat shaking table mulai dioperasikan,
kedua pitman bergerak secara eksentrik sehingga toggle dalam keadaan miring.
Akibatnya deck bergerak ke belakang atau mundur sampai pitman bergerak miring
mencapai titik paling atas dan spiral pegas merapat. Lalu pitman kembali bergerak
turun sehingga toggle dalam keadaan mendatar lagi dan spiral pegas kembali
merenggang. Akibatnya deck kembali bergerak maju ke depan. Gerakan maju

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

mundur terus berulang ketika dioperasikan. Gerakan tersebut bersifat asimetris


karena gerakan mundur (tarik) lebih kuat dibandingkan gerakan maju (dorong).
Pengatur stroke, pengaturan stroke pada shaking table berupa sekrup yang dapat
diputar terdapat pada bagian luar head motion.
2. Feed Box
Feed box dan water box, feed box merupakan kotak yang terletak di ujung
kiri atas deck. Kota ini berfungsi sebagai tempat jatuh umpan. Water box berada.
Merupakan box yang berfungsi untuk memasukkan umpan ke meja goyang. Umpan
berbentuk pulp dengan persen solid tertentu.
3. Wash water
Merupakan air yang ditambahkan untuk memberikan pengaruh sluicing effect
pada material dan mengatur kecepatan aliran flluida yang ada di atas meja pemisahan
(shaking table).
4. Riffle
Merupakan media penahan yang ditempelkan diatas deck dengan pola
tertentu. Merupakan sekat dengan ketinggian tertentu yang berfungsi untuk menahan
aliran material.
5. Box produk
Terdiri dari box untuk mineral berat, mineral middling dan box untuk mineral
ringan.
Material sisa hasil pencucian (SHP) yang digunakan sebagai feed untuk
shaking table merupakan sisa hasil pencucian dari jig harz sekunder yang masih
mengandung kadar Sn yang cukup tinggi. Kesesuaian kadar Sn dan sebaran ukuran
butiran sangat diperlukan untuk mengetahui keadaan feed sebelum diolah, agar
memudahkan pengaturan variabel-variabel alat yang disesuaikan dengan keadaan
feed. Feed yang digunakan dalam penelitian ini adalah SHP jiga harz sekunder.
Pengambilan sample feed dari pengaturan parameter shaking table yaitu kemiringan
meja dan panjang stroke beserta jumlah pukulan, maka ada 3 sample feed yang akan
di uji untuk mengetahui kesesuaian kadar Sn dan sebaran ukuran butiran dalam feed
sebelum dilakukan pengaturan variabel shaking table.

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

Pengaturan variabel shaking table bertujuan untuk mendapatkan kadar Sn


dengan recovery yang tinggi, variabel yang diuji dalam penelitian ini meliputi
kemiringan meja, panjang stroke dan jumlah pukulan, dimana masing-masing
variabel dilakukan uji coba sebanyak 3 variasi dan uji kombinasi dari ke-2 variabel
tersebut sebanyak 9 variasi. Pengaturan kemiringan meja dilakukan dengan
menggunakan 3 variasi. Kemiringan tersebut diatur dengan tuas putar disisi meja.
Kemiringan meja dihitung dengan perubahan ketinggian pada salah satu struktur
yang ada pada shaking table tersebut. Pengaturan panjang stroke dan jumlah pukulan
dilakukan sebanyak 3 variasi, dalam penelitian ini panjang stroke dan jumlah
pukulan saling berhubungan dikarenakan berada pada 1 sekrup yang sama yaitu
terletak pada head motion.
Variasi variabel kombinasi ini dilakukan berdasarkan variasi-variasi pada
variabel-variabel sebelumya yang telah dilakukan, yaitu kombinasi antara
kemiringan meja dan panjang stroke. maka dapat dilakukan variasi kombinasi, yaitu
9 variasi.

2.5 Jenis atau Tipe Alat

Pada dasarnya perbedaan jenis shaking table ini terletak dari posisi head
motion dan bentuk riffle-nya. Jenis meja goyang (shaking table) antara lain :
1. Wilfley Table
Alat ini berbentuk empat persegi panjang dengan riffle dibuat mulai dari
ukuran pendek hingga panjang. Faktor yang sering diubah dalam penggunaan alat ini
yaitu kemiringannya. Penggunaan riffle yaitu dengan tinggi minimal ½ feed dan lebar
¼ feed (Munaf Yulman, 2012).
2. Butchart Table
Bentuk head motion hampir sama dengan wilfley table tetapi berbeda pada
riffle-nya. Riffle pada alat ini membengkok kearah atas. Dengan riffle ini material
dipaksa untuk naik pada bagian riffle yang membelok ke arah atas sebelum sampai
ke tempat konsentrat. Mekanisme kerjanya yaitu material bergerak kekiri dan air
bergerak kekanan, sehingga material ringan akan terbawa arus air sedang material
berat akan berjalan terus.
3. Card Table

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

Riffle berbentuk triangular yang agak kasar dan pembuatannya langsung pada
dek tersebut.
4. Deister Overstorm ( Plat O Table)
Bentuk deck-nya rombohedral. Pemisahan antara konsentrat, middling dan
tailing tidak jelas karena posisi peyimpanan hasil pemisahannya yang berdekatan
sekali bentuknya yang ditutupi seluruhnya oleh riffle (Munaf Yulman, 2012).
5. Plat of table
Ciri utamanya diatas meja ada 3 macam riffle dan terdapat tiga zona dari
riffle yaitu zona stratifikasi, zona intermediate plan, dan zona lipper piatau.

2.6 Mekanisme Kerja Alat

Mekanisme kerja alat shaking table pada proses pemisahannya, pemisahan


mineral terjadi karena adanya sentakan meja yang ditimbulkan oleh head motion dan
aliran air tipis dipermukakan meja dari wash water. Mineral berat karena mempunyai
gaya gesek yang lebih besar maka akan terlempar kesamping (searah sentakan meja).
Mineral yang berukuran halus akan terlempar kesamping lebih jauh dibanding
dengan mineral yang berukuran kasar. Mineral ringan berukuran kasar akan
terdorong oleh aliran air lebih jauh dari pada mineral berat berukuran halus.
Sedangkan adanya riffle diatas meja akan mengakibatkan aliran turbulen dan
membentuk susunan mineral berat dan ringan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja shaking table adalah:
1. Pengaruh riffle, Riffle ini berfungsi untuk menahan partikel-partikel berat agar
tidak ikut terbawa aliran pencuci dengan membentuk aliran turbulensi. Arus
tersebut mengaduk dan mengangkat partikel-partikel yang tersangkut diantara
riffle. Hubungan riffle dengan ukuran partikel dijelaskan bahwa jika tinggi
riffle terlalu rendah, maka partikel akan mudah terbawa laju aliran air menuju
ke zona tailing. Apabila tinggi riffle sangat tinggi maka arus air tidak mampu
mengaduk dan mengangkat partikel yang berada dilapisan terbawah didaerah
antara riffle. Maka dari itu partikel mempunyai diameter besar membutuhkan
riffle yang tinggi sedangkan partikel halus membutuhkan riffle yang rendah.
2. Pengaruh kemiringan deck
Efek transportasi partikel-partikel yang akan dipisahkan pada meja goyang
dipengaruhi oleh kemiringan deck dan bentuk riffle. Kemiringan deck yang
AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI
09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

kecil menyebabkan kecepatan aliran air secara transversal rendah sehingga


partikel terdorong masuk ketempat penampungan konsentrat. Sementara
kemiringan deck yang curam mengakibatkan banyak partikel bergerak masuk
ke tailing.
3. Pengaruh ukuran partikel bijih Ukuran partikel bijih merupakan salah satu
variabel penting dalam proses pemisahan dengan shaking table. Mineral–
mineral berukuran kasar dan halus dapat diproses dengan shaking table.
4. Pengaruh lalu air pencuci Lalu air pencuci akan berperan dalam pemisahan
secara transversal (tegak lurus sumbu meja). Selain itu air pencuci digunakan
sebagai sarana transportasi partikel dari kotak umpan ke penampungan
produk. Sifat aliran fluida dapat ditentukan dari bilangan Reynold (Re). Bila
Re kurang dari 2100 maka aliran fluida bersifat laminer kalau lebih maka
aliran bersifat turbulen.
Pada meja goyang didalam proses pemisahannya, pemisahan mineral terjadi
karena adanya sentakan meja yang ditimbulkan oleh head motion dan aliran air tipis
dipermukaan meja dari wash water. Mineral berat karena mempunyai gaya gesek
yang lebih besar maka akan terlempar kesamping (searah sentakan meja). Lebih jauh,
mineral yang berukuran halus akan terlempar kesamping lebih jauh disbanding
dengan mineral yang berukuran kasar. Mineral ringan berukuran kasar akan
terdorong oleh aliran air lebih jauh dari pada mineral berat berukran halus.
Sedangkan adanya riffle, di atas meja akan mengakibatkan aliran turbulen dan
membentuk perlapisan/susunan mineral berat dan ringan.
Prinsip kerja shaking table adalah berdasarkan perbedaan berat dan ukuran
partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air tipis. Partikel dengan diameter yang
sama akan memiliki gaya dorong yang sama besar. Sedangkan apabila specific
gravity berbeda maka gaya gesek pada partikel berat akan lebih besar daripada
partikel ringan. Karena pengaruh gaya dari aliran maka partikel ringan akan
terdorong atau terbawa lebih cepat dari partikel berat searah aliran air.
Gerakan relatif horizontal dari motor menjadikan partikel berat akan bergerak
lebih cepat daripada material ringan dengan arah horizontal. Untuk itu perlu
dipasang riffle (penghalang) untuk membentuk turbulensi dalam aliran sehingga
partikel ringan diberi kesempatan berada di atas dan partikel berat relatif di bawah
(Heriyadi dkk, 2014).
AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI
09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

Distribusi partikel dipengaruhi oleh :


1. Sifat-sifat riffle;
2. Permukaan deck;
3. Water supply;
4. Perbedaan bentuk dan ukuran partikel;
5. Ada tidaknya material yang termasuk middling atau material interlog yaitu
partikel dengan sebagian material berat dan sebagian material ringan.
Faktor yang mempengaruhi gerakan aliran pada dasar :
1. Slope deck;
2. Tebal / Kecepatan air;
3. Viscositas fluida;
4. Bentuk partikel;
5. Kekerasan deck;
6. Koefisien gesekan Partikel.
Mineral berat karena mempunyai gaya gesek yang lebih besar maka akan
terlempar kesamping (searah sentakan meja). Lebih jauh, mineral yang berukuran
halus akan terlempar kesamping lebih jauh dibanding dengan mineral yang
berukuran kasar. Mineral ringan berukuran kasar akan terdorong oleh aliran air lebih
jauh dari pada mineral berat berukran halus. Sedangkan adanya riffle, di atas meja
akan mengakibatkan aliran turbulen dan membentuk perlapisan/susunan mineral
berat dan ringan.
Pengambilan percontoh merupakan pekerjaan pengambilan sebagian kecil
dari suatu populasi menurut suatu cara tertentu yang diharapkan dapat mewakili sifat-
sifat populasi tersebut. Pengambilan percontoh (pemercontohan) bertujuan untuk
mengetahui karakteristik umpan dan produk yang dihasilkan. Pemercontohan pada
shaking table ini dilakukan pada feed sebelum proses dilakukan dan kosentrat yang
dihasilkan pada bagian atas sebelah kiri shaking table.
Alat yang digunakan untuk pengambilan contoh di Shaking Table meliputi:
1. Kantong plastik;
2. Pancatat waktu (stopwatch);
3. Ember plastic;
4. Spidol;
5. Mistar 3;
AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI
09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

6. Busur derajat.
Prosedur pemercontohan:
1. Pemercontohan dilakukan dengan cara mengambil sampel sebanyak 1 kg
yang sudah di analisis kadarnya dengan memasukkan material di bak
penampungan;
2. Material disemprot oleh air sehingga turun ke shaking table;
3. Dari shaking table material diproses oleh aliran air dan hentakan meja
sehingga terpisah menjadi 3 bagian;
4. Kosentrat yang diambil adalah kosentrat bagian paling atas untuk di analisis
kadar cassiterit-nya;
5. Kosentrat dimasukkan ke dalam plastik dan diberi label.
Data yang diambil:
1. Menghitung debit air Untuk menghitung debit air digunakan ember yang
diletakkan pada ujung selang yang mengarah ke shaking table dan dihitung
menggunakan stopwatch, air ini kemudian diukur volumenya untuk
mengetahui volume air yang digunakan;
2. Menghitung panjang pukulan shaking table Panjang pukulan dihitung dengan
cara melumasi penggerak pada shaking table dan menghidupkan alat
sehingga menimbulkan bekas dan mengukur bekas tersebut saat mematikan
pulsator. Panjang pukulan ini bersifat tetap karena telah dikunci oleh
pengguna mesin terdahulu. Perubahan panjang pukulan ini mengakibatkan
perubahan setting alat yang telah digunakan;
3. Menghitung Berat kadar Berar kadar dihitung dengan menggunakan data
hasil laboratorium yaitu kadar Sn dikalikan dengan berat sampel yang telah
ditimbang;
Berat kadar Kg = kadar (%) X tonase (kg)
4. Mengukur kemiringan shaking table Kemiringan shaking table diukur dengan
menggunakan busur derajat yang diberikan bandul dan tali pada bagian
bawah shaking table.
Kekasaran permukaan meja sangat menentukan perolehan dan proses
pemisahan. Untuk membantu pemisahan, meja digoyangkan secara horizontal
membentuk getaran. Ada kemungkinan bahwa posisi mineral berat kasar jadi satu
dengan mineral ringan halus. Susunan ini disebabkan karena pengaruh
AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI
09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

kecepatan aliran dan gaya dorong air sehingga mineral ringan dan kasar akan
lebih besar mendapatkan gaya dorong air. Sebaliknya apabila campuran mineral
berat dan ringan dijatuhkan dari atas ke sebuah aliran air, maka susunannya adalah
sebagai berikut.
Mineral berat dan kasar akan terletak paling dekat dengan sumbernya.
Mineral ringan halus akan paling jauh dari sumbernya. Mineral berat karena
mempunyai gaya gesek yang lebih besar maka akan terlempar kesamping (searah
sentakan meja). Lebih jauh, mineral yang berukuran halus akan terlempar kesamping
lebih jauh disbanding dengan mineral yang berukuran kasar. Mineral ringan
berukuran kasar akan terdorong oleh aliran air lebih jauh dari pada mineral berat
berukran halus. Sedangkan adanya riffle, di atas meja akan mengakibatkan aliran
turbulen dan membentuk perlapisan/susunan mineral berat dan ringan (Heriyadi dkk,
2014).

2.7 Manfaat dan kegunaan alat

Meja goyang atau shaking table merupakan alat pengolahan bijih atau
mineral yang digunakan untuk meningkatkan nilai atau kadar nilai tertentu. Prinsip
pemisahannya berdasarkan pada perbedaan sifat fisik density atau berat jenis dari
mineral-mineral yang dipisah. Mineral-mineral yang terdapat dalam bijih akan
merespon gaya gravitasi sesuai dengan nilai berat jenis yang dimilikinya.
Mineralmineral yang memiliki berat jenis tinggi disebut dengan mineral berat,
sedangkan mineral yang memiliki berat jenis rendah disebut mineral ringan.
Media yang digunakan pada pemisahan secara gravitasi adalah fluida yaitu
air atau udara. Namun padaa umumnya media pisahnya adalah air. Beberapa alat
atau concentrator yang umum digunakan pada operasi pengolahan bijih mineral
yang memanfaatkan sifat densitas diantaranya adalah, shaking table, humprey
spiral, sluice box, dan jig concentractor.
Beberapa contoh mineral bijih yang umum dipisah dengan menggunakan
metoda gravitasi shaking table diantaranya adalah yang termasuk dalam mineral
berat diantaranya adalah kasiterite, emas, galena, tembaga, wolframite. Sedangkan
mineral ringan diantaranya adalah kuarsa, feldspar, mika, gypsum, graphite.
Pemisahan mineral bijih dengan meja goyang, sluice box dan humprey spiral
pada prinsipnya dapat dijelaskan dengan prinsip gerakan partikel dan fluida pada
AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI
09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

bidang miring atau flowing film atau aliran lapisan tipis yang disebut dengan flowing
film concentraction. Dalam fluida bidang miring, atau aliran tipis, atau flowing film,
gerakan partikel mineral terdiri dari dua gerakan yaitu gerakan partikel sebelum
mencapai dasar bidang miring, dan gerakan pertikel mineral pada dasar bidang
miring (Ardra. Biz, 2002).
Sebelum mencapai dasar bidang miring, semua partikel mempunyai gaya aksi
ke bawah atau mengendap yang proporsional dengan ukuran dan density. Pada waktu
yang bersamaan, dorongan fluida akan membawa partikel bergerak secara horizontal.
Setiap mineral akan memeiliki empat gaya yaitu, gaya dorong fluida, gaya grafitasi,
gaya apung, dan gaya drag. Keempat gaya ini akan menentukan perilaku atau
pergerakan mineral selama mengendap untuk mencapai landasan atau dasar bidang
miring. Setiap mineral akan mencapai dasar bidang mikring sesuai dengan density
dan ukurannya. Mineral berat dengan ukuran besar akan mengendap dan mencapai
dasar lebih awal. Partikel ini memiliki lintasan terpendek. Sedangkan partikel ringan
yang berukuran kecil akan mengendap terakhir dan melintasi paling jauh. Setelah
mencapai dasar bidang miringnya, setiap partikel mineral akan dikenai distribusi
kecepatan fluida atau gaya dorong fluida yang tidak sama. Kecepatan fluida hamper
nol pada permukaan atau dasar bidang. Dan maksimum pada interface atau
antarmuka fluida-udara. Di dasar bidang ini, partikel akan bergerak dengan cara
menggelinding/rolling atau meluncur/sliding. Aksi rolling terjada pada zona fulida
dengan kecepatan yang relatif tinggi. Aksi rolling tergantung pada bentuk partikel
dan kekasaran dari permukaan bidang miringnya. Sedangkan aksi sliding terjadi pada
zona dengan kecepatan rendah, dekat permukaan bidang datar. Aksi sliding
tergantung pada kedalaman lapisan fluida dan sudut bidang datarnya.
Gerakan partikel pada dasar bidang miring dipengaruhi oleh gaya dorong
flluida, gaya gravitasi dan gaya gesek. Ketiga gaya ini akan bertanggung jawab
terhadap pergerakan partikel. Dan resultan ketiga gaya inilah yang menentukan
posisi dari partikel di dasar bidang datar. Jika partikel mempunyai density dan ukuran
berbeda, maka pergerakan partikel ditentukan oleh ukuran dan density.
Partikel besar dan ringan bergeak lebih cepat dari yang lainnya dan akan
menempati posisi terdepan. Partikel-partikel ini akan memiliki lintasan terjauh.
Sedangkan partikel-partikel kecil dan berat akan bergerak paling lambat dan akan
menempati posisi terakhir. Pertikel-partikel ini memiliki lintasan terpendek.
AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI
09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

Tujuan utama proses konsentrasi adalah meningkatkan (mempertinggi)


kadar mineral berharga sehingga diperoleh konsentrat dengan kadar mineral
berharga tinggi dan rendah tailing. Tahap konsentrasi pada pengolahan bahan
galian bekerja berdasarkan sifat fisika dan kimia dari bijih yang akan diolah.
Metode konsentrasi gravitasi digunakan untuk melakukan proses pemisahan
konsentrasi berbagai macam bahan, mulai dari logam berat sulfida seperti galena
hingga untuk batubara pada ukuran partikel tertentu.

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Prosedur kerja Shaking Table

1. Pengenalan alat Shaking Table kemudian siapkan alat dan bahan yang akan
digunakan.

Gambar 3.1 Perkenalan alat Shaking Table.

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

2. Material yang telah disiapkan kemudian akan dipisahkan menggunakan alat


shaking table, pertama kita mengsetting kemiring deck nya.

Gambar 3.1 Mengsetting Kemiringan Deck

3. Kemudian kita setting bagian Head Motion pada alat tersebut.

Gambar 3.2 Mengsetting Head Motion


3.

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

4. Jalankan motor penggerak secara perlahan

Gambar 3.3 Menyalakan motor penggerak.

5. Masukkan material kedalam feeder

Gamba
r 3. 4 Memasukkan material

6. Setelah itu jalankan airnya

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

Gambar 3.6 Menyalakan air


7. Kemudian hidupkan head motion yang telah disetting tadi hingga bergerak
alat shaking table bergerak maju dan mundur.

Gambar 3.7 Hidupkan Head Motion

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

8. Setelah material telah dimasukkan kita menunggu hingga beberapa menit


hingga terlihat terpisahnya konsentrat dan tailing tersebut lalu hasilnya
tersebut akan terpisah melalui wadah-wadah yang terdapat bagian setiap
ujung decknya.

Gambar 3.8 Wadah hasil pengolahan menggunakan Shaking Table

9. Keringkan material tersebut pada tempat yang berbeda agar dapat


membedakan antara konsentrat, midling, dan tailing.

Gambar 3.9 Keringkan Material

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

10. Timbang masing-masing material tersebut

Gambar 3.10 Timbang Material

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Shaking table


Deraja
No. Waktu Berat Berat Berat Berat
t Awal Konsentrat Tailing Middling
1 5˚ 3 300 182,3 38,98 62,36
2 10˚ 3 300 181,8 41,88 18,70
3 15˚ 3,59 300 119,2 32,78 13,43

Dari tabel diatas, tentukan:


1. Persen Hasil (Menggunakan Rumus Derajat Kemagnetan)
2. Recovery (Sama Rumus Panning)
4.1.1 Derajat Kemiringan Deck
1. Derajat Kemiringan Deck 5°
182,3
Berat Konsentrat = x 100%
300
= 60,76 %
38,98
Berat Tailing = x 100%
300
= 12,99 %
62,36
Berat Midling = x 100%
300
= 20,78 %
2. Derajat Kemiringan Deck 10°
181,8
Berat Konsentrat = x 100%
300
= 60,6 %
41,88
Berat Tailing = x 100%
300
= 13,96 %

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE
18,70
Berat Midling = x 100%
300
= 6,23 %
3. Derajat Kemiringan Deck 15°
119,2
Berat Konsentrat = x 100%
300
= 39,73 %
32,78
Berat Tailing = x 100%
300
= 10,92 %
13,43
Berat Midling = x 100%
300
= 4,47 %
4.1.2 Recovery
300 x 62,36
1. Recovery 5° = x 100%
300 x 182,3
18.708
= x 100%
54.690
= 34,20 %
300 x 18,70
2. Recovery 10° = x 100%
300 x 181,8
5.610
= x 100%
54.540
= 10,28 %
300 x 13,43
3. Recovery 15° = x 100%
300 x 119,2
4.029
= x 100%
35.760
= 11,26 %

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

4.2 Pembahasan

4.2.1 Derajat Kemiringan Deck 5°


Dalam proses pemisahan material menggunakan alat shaking table, derajat
kemiringan deck mempengaruhi komposisi produk yang dihasilkan, seperti
konsentrat, tailing, dan midling. Berdasarkan perhitungan yang diberikan, pada
derajat kemiringan deck 5°, persentase berat konsentrat yang diperoleh adalah
60,67%, sementara tailing dan midling masing-masing sebesar 12,99% dan 20,78%.
Dengan hasil recovery hanya mencapai 34,20%, yang menunjukkan efisiensi
pemulihan yang rendah.
4.2.2 Derajat Kemiringan Deck 10°
Pada derajat kemiringan deck 10°, persentase berat konsentrat berkurang
menjadi 60,6%, dengan tailing dan midling masing-masing sebesar 13,96% dan
6,23%. Pada derajat kemiringan deck 10° juga, recovery menurun signifikan menjadi
10,28%, menandakan proses pemisahan yang tidak efisien pada kondisi ini.
4.2.3 Derajat Kemiringan Deck 15°
Sedangkan pada derajat kemiringan deck 15°, persentase berat konsentrat
lebih rendah lagi, yakni 39,73%, dengan tailing dan midling masing-masing sebesar
10,92% dan 4,47%. Namun, pada kemiringan deck 15°, recovery justru menunjukkan
angka yang sedikit, yaitu 11,26%. Secara keseluruhan, efisiensi pemisahan
meningkat seiring dengan meningkatnya derajat kemiringan deck.

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pengaruh-pengaruh variabel alat terhadap hasil pemisahan ditentukan dari


beberapa pengaruh yakni, umpan yang dimasukkan harus ditentukan sesuai dengan
berat jenis tertentu untuk melakuakn pengolahan, dari berat jenis tersebut kita dapat
menyikapi bagaimana kemiringan deck, arus aliran air pada alat shaking table,
kecepatan dan panjang gerakan alat tersebut, hal-hal tersebut yang dapat
mempengaruhi hasil dari pengolahan menggunakan alat shaking table. Shaking table
merupakan pemisahan mineral berat dengan mineral ringan menggunakan media
aliran tipis (Flowing Film Consentration) pada suatu meja bergoyang.
Penentuan recovery dan kadar hasil pemisahan harus mengetahui berat dan
bobot dari hasil pengolahan tersebut, hasil dari pengolahan tersebut di timbang dan
dimasukkan dalam rumus berat awal-berat akhir lalu di bagi berat awal kembali
untuk penentuan recoverynya.

5.2 Saran

5.2.1 Saran Untuk Laboratorium


Agar segera memperbaiki alat-alat laboratorium yang kurang berfungsi sesuai
dengan peruntuukannya.
5.2.2 Saran Untuk Asisten
Saran saya untuk asisten agar lebih menekankan lagi kedisiplinan agar
praktikan dapat menyelesaikan laporannya sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan.

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE

DAFTAR PUSTAKA

Asisten. (2024). Modul Praktikum Pengolahan Bahan Galian 2024. Makassar: Tim
Asisten Pengolahan Bahan Galian 2024.
Heriyadi, Bambang. Et Al. 2014. Perhitungan Pengaruh Kemiringan Dan Debit Air
Pada Pemakaian Shaking Table Dalam Pengolahan Bijih Timah Low Grade
Di Pos Pam Pengarem Pt Timah (Persero) Tbk. Vol. 1, No. 1
Maharani, S., Arief, T., Ningsih, Y., Teknik Pertambangan, J., Teknik, F., Sriwijaya Jl
Raya Palembang-Prabumulih Km, U., & Sumatera Selatan, I. (2020). PENGARUH
KEMIRINGAN SHAKING TABLE TERHADAP KADAR DAN RECOVERY
CASSITERITE THE EFFECT OF SHAKING TABLE SLOPE ON CASSITERITE
LEVEL AND RECOVERY. 4(2). [Link]
Risal, S., Paranoan, D. B., & Djaja, S. (2013). Analisis Dampak Kebijakan
Pertambangan Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Kelurahan
Makroman. In Jurnal Administrative Reform (Vol. 1, Issue 3).
[Link].
Munaf, Yulman. 2012. Pengujian Tilting Dan Shaking Table Untuk Mengkaji
Stabilitas Dinding Penahan Tanah Akibat Beban Gempa. Jurnal Artikel, Vol.
12, No.3
Rahmanudin. (2010) Pengolahan Bahan Galian, Buku Ajar Praktikum Laboratorium
Pengolahan Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarmasin.
Risal, S., Paranoan, D. B., & Djaja, S. (2013). Analisis Dampak Kebijakan
Pertambangan Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di
Kelurahan Makroman. In Jurnal Administrative Reform (Vol. 1, Issue 3).
[Link],
Rizky. (2011) Peningkatan Kadar Konsentrasi. Materi Kuliah Pertambangan dan
Geologi. Diakses tanggal 4 Desember 2016.
Sufriadin. (2016) Pengolahan Bahan Galian. Gowa: Universitas Hasanuddin.
Tobing, H.S.L. (2002) Tahapan Pengolahan Bahan Galian, Tasikmalaya.
Tongole, R. P. et al. (2019) Pengolahan Bahan Galian Di PT. Buma Kumawa
Daerah Harapan Sentani Kabupaten Sentani. Fakultas Teknik, Jurusan
Teknik Pertambangan. Universitas Cendrawasih: Jayapura.

AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI


09320220275

Anda mungkin juga menyukai