Pemisahan Mineral dengan Shaking Table
Pemisahan Mineral dengan Shaking Table
SHAKING TABLE
MAKASSAR
2024
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE
BAB I
PENDAHULUAN
Shaking Table merupakan salah satu alat yang digunakan dalam proses
pemisahan mineral berdasarkan berat jenis. Bagian utama dari shaking table yaitu
dek yang sedikit miring, bekerja karenaadanya gaya hentakan dan wash water yang
bisa meningkatkan kadar dengan ukuran butir >100 mesh. Gaya yang bekerja pada
alat ini ialah gaya gravitasi, gaya gesek, dan gaya dorong fluida Faktor yang
berpengaruh terhadap kinerja shaking table yaitu kemiringan dek, debit air,
kecepatan frekuensi pergerakan dek, kecepatan feeding, dan panjang pukulan
(Maharani et al., 2020).
1.2.1 Maksud
Maksud dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengenal,
mengetahui dan menguasai ilmu tentang pengolahan bahan galian
yang menjadi salah satu aplikasi dasar dalam dunia pertambangan.
1.2.2 Tujuan
Tujuan kami mengikuti praktikum ini yaitu :
a. Mempelajari pengaruh variabel-variabel alat terhadap hasil pemisahan;
b. Menentukan recovery dan kadar dari hasil pemisahan.
1.3.1 Alat
a. Shaking Table;
b. Panning
c. Sekop;
d. Oven;
e. Blender Pasir;
f. Ayakan
g. Timbangan;
h. Talang;
i. Cawan;
j. Neraca Analitik;
k. Kuas (3 inch) *;
l. Mistar*;
m. Perelengkapan Safety (Masker, Kacamata Safety, Helm, dan Kaos Tangan)*;
n. Jas Laboratorium;
o. Alat Tulis Menulis.
1.3.2 Bahan
a. Sampel Pasir Besi 1 kg (mesh -200);
b. Tabel Data Pengamatan;
c. Air;
d. Kantong Sampel A4.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Shaking table (meja goyang) merupakan suatu alat yang bekerja karena
adanya gaya gravitasi, gaya gesek antara partikel dengan bidang deck dan gaya
dorong. Menurut Danisworo (1994), mineralogi adalah ilmu yang mempelajari
mengenai mineral, baik dalam bentuk individu maupun dalam bentuk kesatuan,
antara lain mempelajari tentang sifat-sifat fisik, sifat kimia, cara terdapat, cara
terjadinya dan kegunaannya. Menurut Tobing (2005) dalam Yudi Widaputra et. al.
(2014), pengolahan bahan galian merupakan proses pengolahan bijih (ore) secara
mekanik, sehingga mineral berharga dapat dipisahkan dari mineral pengotornya
dengan didasarkan pada sifat fisika atau sifat kimia-fisika permukaan mineral.
Shaking Table merupakan Pemisahan mineral berat dengan mineral ringan
menggunakan media aliran tipis (Flowing Film Consentration) pada suatu meja
bergoyang alatnya adalah Shaking Table. Shaking Table umumnya dipakai untuk
pemisahan bijih jenis aluvial atau endapan pantai, dimana mineral-mineralnya sudah
terliberalisasi dan berukuran pasir, misalnya bijih timah, emas da pasir besi.
Umumnya mineral yang mempunyai perbedaan berat jenis besar serta perbedaan
ukuran yang kecil akan lebih mudah untuk dipisahkan, maka dari itu praktikum ini
dilaksanakan agar praktikan dapat memahami dan mengerti tentang pengunaan
alatnya.
Mineral adalah endapan alam yang mempunyai komposisi kimia dan struktur
tertentu, tetapi dalam pengolahan bahan galian mineral dikembangkan menjadi bahan
galian berupa unsur-unsur kimia, batuan, mineral dan mineral bahan bakar yang
merupakan endapanendapan yang cara memperolehnya dengan kegiatan menggali
atau mengebor.
Menurut Graha (1987), timah adalah logam berwarna putih keperakan dengan
kekasaran dan kekuatan (strength) yang rendah, serta mempunyai sifat-sifat
konduktivitas panas dan listrik yang tinggi memiliki warna kecoklatan dengan 4
mineral ikutannya yaitu monazit, zirkon, ilmenit dan kuarsa. Menurut Sujitno
(2007), berdasarkan pada cara pembentukannya, deposit timah dapat dikelompokan
menjadi dua golongan, deposit timah primer dan timah sekunder. Timah primer
terbentuk akibat dari intrusi batuan granit biotit, serta pada daerah kontak batuan
endapan malihan biasanya berasosiasi dengan turmalin dan urat kuarsa timah pada
zaman Trias Atas. Timah sekunder terbentuk akibat proses kelanjutan dengan
kondisi alam tropis yang panas dan lembab, terjadi proses pelapukan, baik secara
mekanik ataupun kimiawi yang kemudian berlanjut dengan proses erosi. Hasil
pelapukan tersebut tertransportasi oleh air hujan melewati aliran sungai, kemudian
terendapakan sepanjang aliran sungai dan lembah.
Alat yang digunakan adalah shaking table, merupakan alat pemisahan
mineral yang memanfaatkan gerakan fluida dengan aliran air yang tipis dan hentakan
meja untuk memisahkan mineral-mineral dari pengotornya (Curie, 1973 dalam
Richma 2013).
Pada shaking table terdapat beberapa variabel yaitu:
1. Kemiringan deck, deck yang terlalu miring akan mempengaruhi kecepatan
aliran air partikel ringan akan terbawa air semuannya, sehingga yang
tertinggal hanya mineral berat (Curie, 1973 dalam Richma 2013).
2. Ukuran partikel bijih, mineral mineral berukuran kasar dan halus dapat
diproses dengan shaking table tetapi dengan cara penanganan yang berbeda.
3. Jumlah dan panjang stroke, stroke yang panjang untuk material kasar dan
stroke pendek untuk material halus.
4. Riffle, riffle yang terdapat pada meja berfungsi untuk menyebabkan arus putar
disekitarnya
5. Laju air pencucian, sebagai sarana transportasi partikel dari kotak umpan ke
penampungan produk.
Proses Pemisahan Pada Shaking Table Merupakan proses pemisahan
berdasarkan gravitasi. Jika perbedaan berat jenis tersebut besar, maka pemisahan
berdasarkan gravitasi relatif mudah dilakukan, akan tetapi bila sebaliknya pemisahan
dengan metode tabling sulit dilakukan.
ρ l−ρ f
Keterangan :
CC = Concentration criterion
ρh = Berat jenis (spesific gravity) mineral berat
ρl = Berat jenis (spesific gravity) mineral ringan
ρf = Berat jenis (spesific gravity) medium
Konsentrasi gravitasi adalah proses pemisahan material-material yang
berharga dan tidak berharga dalam suatu bahan galian akibat gaya-gaya dalam
fluida berdasarkan atau tergantung pada perbedaan densitas, bentuk dan ukuran.
Salah satu metode konsentrasi gravitasi adalah shaking table. Shaking table
merupakan salah satu alat pemisah material pada metode konsentrasi garvitasi yang
berdasarkan pada aliran horizontal. Alat ini digunakan untuk memisahkan material
dengan cara mengalirkan air yang tipis pada suatu meja bergoyang (Heriyadi
dkk, 2014)
dan tahap kedua yaitu secondary yang bertujuan untuk mendapatkan konsentrat
dengan kadar Sn yang diinginkan dengan perolehan (recovery) yang tinggi.
Penggunaan shaking table di PT MCM belum mempunyai standar baku dalam
pengoperasian, baik yang primary maupun yang secondary, dalam pengoperasiannya
masih menggunakan trial dan error serta belum ada penelitian sebelumnya di
perusahaan tersebut mengenai teknis pencucian dengan alat shaking table. Akibatnya
pengaturan variabel-variabel operasi shaking table selama ini belum optimal
sehingga berpengaruh terhadap waktu dan biaya proses pencucian bijih timah primer
serta terjadinya kehilangan mineral berharga (losses).
Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan kajian terhadap variabel
lvariabel operasi shaking table dengan cara melakukan pengaturan pada variabel
kemiringan dan kecepatan air. Pengaturan tersebut dilakukan untuk mendapatkan
pengaruh variabel terhadap kadar dan recovery Sn konsentrat yang optimal dalam
proses pencucian bijih timah primer. Analisis pengaruh kemiringan dilakukan untuk
mengetahui berapa besar pengaruh variasi sudut kemiringan yang telah ditentukan
terhadap kadar dan recovery Sn konsentrat pada alat primary shaking table dan
secondary shaking table.
Selain pengaruh kemiringan, variabel operasi shaking table yang juga sangat
berpengaruh yaitu kecepatan air pencuci (wash water). Analisis pengaruh kecepatan
air pencuci dilakukan untuk mengetahui berapa besar pengaruh kecepatan air pencuci
terhadap kadar dan recovery Sn konsentrat pada alat Primary Shaking Table dan
Secondary Shaking Table. Pada shaking table bekerja efek sluicing yang
dikombinasikan dengan riffle dan gaya sentak yang tegak lurus arah aliran, Proses
pemisahan terjadi akibat adanya tiga gaya yang bekerja pada partikel dalam fluida
yaitu :
1. Gaya gravitasi;
2. Gaya dorong fluida;
3. Gaya gesek.
Peranan ketiga gaya tersebut sangat menentukan perlapisan (stratifikasi) dan
urutan partikel dengan partikel besar ringan paling depan diikuti partikel kecil
ringan. Kemudian diikuti partikel besar berat serta partikel kecil berat paling akhir.
Shaking table (meja goyang) adalah suatu alat yang bagian utamanya terdiri
dari sebuah meja yang terdiri dari deck yang sedikit miring yang bekerja karena
adanya gaya hentakan dan wash water yang dapat meningkatkan kadar bijih timah
dan bisa menaikkan kadar sampai ukuran > 100 mesh. Alat ini bekerja karena adanya
gaya gravitas, gaya gesek antara partikel dengan lapisan bidang, dan gaya dorong
fluida untuk mengetahui cara kerja dan efisiensi yang dihasilkan dari proses yang
menggunakan alat ini maka dilakukan penelitian perhitungan efisiensi shaking table.
Persentase perolehan kadar cassiterite oleh shaking table yang dipakai saat
ini umumnya masih bervarisi. Dari analisis data Pusat Pengolahan Bijih Timah
(PPBT) menunjukkan, kadar perolehan cassiterite pada shaking table berkisar antara
7-15%. Saat ini pemakaian shaking table oleh mitra usaha PT. Timah belum
mempunyai standar baku dalam pengoperasiannya, sehingga yang dilakukan
pengoperasiannya masih menggunakan trial dan error Berdasarkan kondisi di atas,
permasalahan yang timbul adalah apakah pengaturan variable-variabel operasi
shaking table selama ini belum sesuai dengan kondisi umpan (feed) sehingga
berpengaruh terhadap waktu dan biaya proses oleh karena itu, perlu dilakukan kajian
terhadap kondisi variabel-variabel operasi shaking table yang digunakan sehingga
dapat diperoleh kesesuaian yang baik dalam meningkatkan perolehan cassiterite.
dan air bergerak ke kanan, sehingga material ringan akan terbawa arus air sedang
material berat akan berjalan terus (Heriyadi dkk, 2014).
Meja Goyang Card Table yakni meja goyang dengan riffle dibuat dengan
mengerat deck dengan bentuk segitiga dan headmotion. Meja goyang Dister
Diagonal Overslorm Table yakni meja goyang dengan berbentuk Deck
Rombahedral. Pemisahan antara konsentrat, middling dan tailing tidak jelas
berdekatan sekali Meja Goyang Card Field Table yakni meja goyang dengan
berbentuk Wafley Table yang ditutupi seluruhnya oleh riffle, sedangkan meja goyang
Plat of Table meja goyang yang mempunyai ciri utama di atas deck ada tiga macam
riffle dan terdapat tiga zona dari riffle yaitu zone Stratifikasi, zone Intermediate Plan
dan zone Lipper (Heriyadi dkk, 2014).
Alat pemisah mineral secara gravitasi yaitu jig, magnetic separator,
hydrocyclone, dan shaking table. Dari semua contoh alat tersebut memiliki prinsip
kerja yang berbeda. Alat jig bekerja dengan tekanan dan hisap, magnetic separator
adalah pemisah antara material padat dengan pengotornya berdasarkan sifat
kemagnetan suatu bahan, hydrocyclone adalah memanfaatkan efek gaya centrifugal
dan density fluida tiap partikel didalam air, dan shaking table berdasarkan perbedaan
berat dan ukuran partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air tipis dalam (Sajima,
2012).
Untuk mineral yang berukuran halus akan terlempar ke samping lebih jauh
dibanding dengan mineral yang berukuran kasar. Mineral ringan berukuran kasar
akan terdorong oleh aliran air lebih jauh dari pada mineral berat berukuran
halus. Untuk memisahkan partikel, maka perlu dipasang riffle (penghalang). Fungsi
riffle yaitu untuk membentuk turbulensi dalam aliran sehingga partikel ringan diberi
kesempatan berada diatas dan partikel berat relatif di bawah.
1. Head Motion
Head motion merupakan komponen utama atau dasar dari shaking table.
Seperangkat head motion yang terdiri dari beberapa bagian antara lain kedua pitman
yang terbuat dari besi tempa, toggle yang terbuat dari besi cor, dan roller bearing
yang dilindungi oleh minyak pelumas yang mengendalikan gaya gesek tertentu.
Mekanisme kerja alat head motion diawali dengan proses ketika shaking
table sedang tidak dioperasikan spiral pegas (spring) dalam kondisi memanjang atau
meregang dan dalam keadaan mendatar. Saat shaking table mulai dioperasikan,
kedua pitman bergerak secara eksentrik sehingga toggle dalam keadaan miring.
Akibatnya deck bergerak ke belakang atau mundur sampai pitman bergerak miring
mencapai titik paling atas dan spiral pegas merapat. Lalu pitman kembali bergerak
turun sehingga toggle dalam keadaan mendatar lagi dan spiral pegas kembali
merenggang. Akibatnya deck kembali bergerak maju ke depan. Gerakan maju
Pada dasarnya perbedaan jenis shaking table ini terletak dari posisi head
motion dan bentuk riffle-nya. Jenis meja goyang (shaking table) antara lain :
1. Wilfley Table
Alat ini berbentuk empat persegi panjang dengan riffle dibuat mulai dari
ukuran pendek hingga panjang. Faktor yang sering diubah dalam penggunaan alat ini
yaitu kemiringannya. Penggunaan riffle yaitu dengan tinggi minimal ½ feed dan lebar
¼ feed (Munaf Yulman, 2012).
2. Butchart Table
Bentuk head motion hampir sama dengan wilfley table tetapi berbeda pada
riffle-nya. Riffle pada alat ini membengkok kearah atas. Dengan riffle ini material
dipaksa untuk naik pada bagian riffle yang membelok ke arah atas sebelum sampai
ke tempat konsentrat. Mekanisme kerjanya yaitu material bergerak kekiri dan air
bergerak kekanan, sehingga material ringan akan terbawa arus air sedang material
berat akan berjalan terus.
3. Card Table
Riffle berbentuk triangular yang agak kasar dan pembuatannya langsung pada
dek tersebut.
4. Deister Overstorm ( Plat O Table)
Bentuk deck-nya rombohedral. Pemisahan antara konsentrat, middling dan
tailing tidak jelas karena posisi peyimpanan hasil pemisahannya yang berdekatan
sekali bentuknya yang ditutupi seluruhnya oleh riffle (Munaf Yulman, 2012).
5. Plat of table
Ciri utamanya diatas meja ada 3 macam riffle dan terdapat tiga zona dari
riffle yaitu zona stratifikasi, zona intermediate plan, dan zona lipper piatau.
6. Busur derajat.
Prosedur pemercontohan:
1. Pemercontohan dilakukan dengan cara mengambil sampel sebanyak 1 kg
yang sudah di analisis kadarnya dengan memasukkan material di bak
penampungan;
2. Material disemprot oleh air sehingga turun ke shaking table;
3. Dari shaking table material diproses oleh aliran air dan hentakan meja
sehingga terpisah menjadi 3 bagian;
4. Kosentrat yang diambil adalah kosentrat bagian paling atas untuk di analisis
kadar cassiterit-nya;
5. Kosentrat dimasukkan ke dalam plastik dan diberi label.
Data yang diambil:
1. Menghitung debit air Untuk menghitung debit air digunakan ember yang
diletakkan pada ujung selang yang mengarah ke shaking table dan dihitung
menggunakan stopwatch, air ini kemudian diukur volumenya untuk
mengetahui volume air yang digunakan;
2. Menghitung panjang pukulan shaking table Panjang pukulan dihitung dengan
cara melumasi penggerak pada shaking table dan menghidupkan alat
sehingga menimbulkan bekas dan mengukur bekas tersebut saat mematikan
pulsator. Panjang pukulan ini bersifat tetap karena telah dikunci oleh
pengguna mesin terdahulu. Perubahan panjang pukulan ini mengakibatkan
perubahan setting alat yang telah digunakan;
3. Menghitung Berat kadar Berar kadar dihitung dengan menggunakan data
hasil laboratorium yaitu kadar Sn dikalikan dengan berat sampel yang telah
ditimbang;
Berat kadar Kg = kadar (%) X tonase (kg)
4. Mengukur kemiringan shaking table Kemiringan shaking table diukur dengan
menggunakan busur derajat yang diberikan bandul dan tali pada bagian
bawah shaking table.
Kekasaran permukaan meja sangat menentukan perolehan dan proses
pemisahan. Untuk membantu pemisahan, meja digoyangkan secara horizontal
membentuk getaran. Ada kemungkinan bahwa posisi mineral berat kasar jadi satu
dengan mineral ringan halus. Susunan ini disebabkan karena pengaruh
AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI
09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE
kecepatan aliran dan gaya dorong air sehingga mineral ringan dan kasar akan
lebih besar mendapatkan gaya dorong air. Sebaliknya apabila campuran mineral
berat dan ringan dijatuhkan dari atas ke sebuah aliran air, maka susunannya adalah
sebagai berikut.
Mineral berat dan kasar akan terletak paling dekat dengan sumbernya.
Mineral ringan halus akan paling jauh dari sumbernya. Mineral berat karena
mempunyai gaya gesek yang lebih besar maka akan terlempar kesamping (searah
sentakan meja). Lebih jauh, mineral yang berukuran halus akan terlempar kesamping
lebih jauh disbanding dengan mineral yang berukuran kasar. Mineral ringan
berukuran kasar akan terdorong oleh aliran air lebih jauh dari pada mineral berat
berukran halus. Sedangkan adanya riffle, di atas meja akan mengakibatkan aliran
turbulen dan membentuk perlapisan/susunan mineral berat dan ringan (Heriyadi dkk,
2014).
Meja goyang atau shaking table merupakan alat pengolahan bijih atau
mineral yang digunakan untuk meningkatkan nilai atau kadar nilai tertentu. Prinsip
pemisahannya berdasarkan pada perbedaan sifat fisik density atau berat jenis dari
mineral-mineral yang dipisah. Mineral-mineral yang terdapat dalam bijih akan
merespon gaya gravitasi sesuai dengan nilai berat jenis yang dimilikinya.
Mineralmineral yang memiliki berat jenis tinggi disebut dengan mineral berat,
sedangkan mineral yang memiliki berat jenis rendah disebut mineral ringan.
Media yang digunakan pada pemisahan secara gravitasi adalah fluida yaitu
air atau udara. Namun padaa umumnya media pisahnya adalah air. Beberapa alat
atau concentrator yang umum digunakan pada operasi pengolahan bijih mineral
yang memanfaatkan sifat densitas diantaranya adalah, shaking table, humprey
spiral, sluice box, dan jig concentractor.
Beberapa contoh mineral bijih yang umum dipisah dengan menggunakan
metoda gravitasi shaking table diantaranya adalah yang termasuk dalam mineral
berat diantaranya adalah kasiterite, emas, galena, tembaga, wolframite. Sedangkan
mineral ringan diantaranya adalah kuarsa, feldspar, mika, gypsum, graphite.
Pemisahan mineral bijih dengan meja goyang, sluice box dan humprey spiral
pada prinsipnya dapat dijelaskan dengan prinsip gerakan partikel dan fluida pada
AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI
09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE
bidang miring atau flowing film atau aliran lapisan tipis yang disebut dengan flowing
film concentraction. Dalam fluida bidang miring, atau aliran tipis, atau flowing film,
gerakan partikel mineral terdiri dari dua gerakan yaitu gerakan partikel sebelum
mencapai dasar bidang miring, dan gerakan pertikel mineral pada dasar bidang
miring (Ardra. Biz, 2002).
Sebelum mencapai dasar bidang miring, semua partikel mempunyai gaya aksi
ke bawah atau mengendap yang proporsional dengan ukuran dan density. Pada waktu
yang bersamaan, dorongan fluida akan membawa partikel bergerak secara horizontal.
Setiap mineral akan memeiliki empat gaya yaitu, gaya dorong fluida, gaya grafitasi,
gaya apung, dan gaya drag. Keempat gaya ini akan menentukan perilaku atau
pergerakan mineral selama mengendap untuk mencapai landasan atau dasar bidang
miring. Setiap mineral akan mencapai dasar bidang mikring sesuai dengan density
dan ukurannya. Mineral berat dengan ukuran besar akan mengendap dan mencapai
dasar lebih awal. Partikel ini memiliki lintasan terpendek. Sedangkan partikel ringan
yang berukuran kecil akan mengendap terakhir dan melintasi paling jauh. Setelah
mencapai dasar bidang miringnya, setiap partikel mineral akan dikenai distribusi
kecepatan fluida atau gaya dorong fluida yang tidak sama. Kecepatan fluida hamper
nol pada permukaan atau dasar bidang. Dan maksimum pada interface atau
antarmuka fluida-udara. Di dasar bidang ini, partikel akan bergerak dengan cara
menggelinding/rolling atau meluncur/sliding. Aksi rolling terjada pada zona fulida
dengan kecepatan yang relatif tinggi. Aksi rolling tergantung pada bentuk partikel
dan kekasaran dari permukaan bidang miringnya. Sedangkan aksi sliding terjadi pada
zona dengan kecepatan rendah, dekat permukaan bidang datar. Aksi sliding
tergantung pada kedalaman lapisan fluida dan sudut bidang datarnya.
Gerakan partikel pada dasar bidang miring dipengaruhi oleh gaya dorong
flluida, gaya gravitasi dan gaya gesek. Ketiga gaya ini akan bertanggung jawab
terhadap pergerakan partikel. Dan resultan ketiga gaya inilah yang menentukan
posisi dari partikel di dasar bidang datar. Jika partikel mempunyai density dan ukuran
berbeda, maka pergerakan partikel ditentukan oleh ukuran dan density.
Partikel besar dan ringan bergeak lebih cepat dari yang lainnya dan akan
menempati posisi terdepan. Partikel-partikel ini akan memiliki lintasan terjauh.
Sedangkan partikel-partikel kecil dan berat akan bergerak paling lambat dan akan
menempati posisi terakhir. Pertikel-partikel ini memiliki lintasan terpendek.
AHMAD HIDAYATULLAH, S.T. WA ODE NUR CAHYANI
09320220275
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
SHAKING TABLE
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
1. Pengenalan alat Shaking Table kemudian siapkan alat dan bahan yang akan
digunakan.
Gamba
r 3. 4 Memasukkan material
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Asisten. (2024). Modul Praktikum Pengolahan Bahan Galian 2024. Makassar: Tim
Asisten Pengolahan Bahan Galian 2024.
Heriyadi, Bambang. Et Al. 2014. Perhitungan Pengaruh Kemiringan Dan Debit Air
Pada Pemakaian Shaking Table Dalam Pengolahan Bijih Timah Low Grade
Di Pos Pam Pengarem Pt Timah (Persero) Tbk. Vol. 1, No. 1
Maharani, S., Arief, T., Ningsih, Y., Teknik Pertambangan, J., Teknik, F., Sriwijaya Jl
Raya Palembang-Prabumulih Km, U., & Sumatera Selatan, I. (2020). PENGARUH
KEMIRINGAN SHAKING TABLE TERHADAP KADAR DAN RECOVERY
CASSITERITE THE EFFECT OF SHAKING TABLE SLOPE ON CASSITERITE
LEVEL AND RECOVERY. 4(2). [Link]
Risal, S., Paranoan, D. B., & Djaja, S. (2013). Analisis Dampak Kebijakan
Pertambangan Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Kelurahan
Makroman. In Jurnal Administrative Reform (Vol. 1, Issue 3).
[Link].
Munaf, Yulman. 2012. Pengujian Tilting Dan Shaking Table Untuk Mengkaji
Stabilitas Dinding Penahan Tanah Akibat Beban Gempa. Jurnal Artikel, Vol.
12, No.3
Rahmanudin. (2010) Pengolahan Bahan Galian, Buku Ajar Praktikum Laboratorium
Pengolahan Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarmasin.
Risal, S., Paranoan, D. B., & Djaja, S. (2013). Analisis Dampak Kebijakan
Pertambangan Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di
Kelurahan Makroman. In Jurnal Administrative Reform (Vol. 1, Issue 3).
[Link],
Rizky. (2011) Peningkatan Kadar Konsentrasi. Materi Kuliah Pertambangan dan
Geologi. Diakses tanggal 4 Desember 2016.
Sufriadin. (2016) Pengolahan Bahan Galian. Gowa: Universitas Hasanuddin.
Tobing, H.S.L. (2002) Tahapan Pengolahan Bahan Galian, Tasikmalaya.
Tongole, R. P. et al. (2019) Pengolahan Bahan Galian Di PT. Buma Kumawa
Daerah Harapan Sentani Kabupaten Sentani. Fakultas Teknik, Jurusan
Teknik Pertambangan. Universitas Cendrawasih: Jayapura.