MAKALAH POLITIK LOKAL DAN DAERAH
TENTANG DESENTRALISASI, DEKONSENTRASI, DAN DEVOLUSI
OLEH:
Rindi Ramadhani (2030307008)
DOSEN PENGAMPU:
Ulya Fitri, [Link]
JURUSAN PEMIKIRAN POLITIK ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BATUSANGKAR TAHUN 2020/2021
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Desentralisasi menjadi topik yang popular di Indonesia sejak pemerintah Indonesia
yang memperkenalkan kebijakan otonomi daerah. Keseriusan pemerintah Indonesia
menghasilkannya Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang pemerintah daerah yang kemudian
diperbarui dengan Undang-undang No.32 Tahun 2004. Kebijakan otonomi daerah telah
menempatkan Kab/Kota sebagai titik berat otonomi, telah membawa perubahan dalam pelaksanaan
pemerintah di daerah. Salah satu perubahan itu adalah pemberian wewenang yang lebih luas dalam
penyelenggaraan pengelolaan pemerintah di daerah. Hal tersebut membawa angin baru bagi
perkembangan daerah di Indonesia. (UU No.32 Tahun 2004). Otonomi Daerah adalah hak,
wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah
dan kepentingan masyarakat setepat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah
Pusat mengharapakan Pemerintah Daerah dapat memenuhi setiap kebutuhan di daerahnya masing-
masing. Hal ini akan membuat setiap daerah lebih mandiri dalam pengelolaan di berbagai bidang.
(UU No.32 Tahun 2004).
B. RUMUSAN MASALAH:
1. Bagaimana Konsep dari Desentralisasi?
2. Bagaimana Konsep dari Dekonsentrasi?
3. Bagaimana Konsep dari Devolusi?
C. TUJUAN PENELITIAN:
1. Untuk Mengetahui Konsep dari Desentralisasi
2. Untuk Mengetahui Konsep dari Dekonsentrasi
3 Untuk Mengetahui Konsep dari Devolusi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Desentralisasi
Desentralisasi adalah merupakan penyerahan wewenang dari pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Namun
penyerahan wewenang ini tidak diberikan secara penuh. Bentuk dari penggunaan asas
Desentralisasi adalah adanya otonomi daerah. Otonomi daerah merupakan sebuah
kewenangan dimana suatu daerah memiliki tanggung jawab terhadap urusannya
sendiri. Konsep desentralisasi menurut Brian C Smith dalam prespektif politik dalam
Saiman menjelaskan desentralisasi pada masalah distribusi kekuasaan berdasarkan
dimensi wilayah atau teritorial suatu negara. Smith menjelaskan bahwa konsep
desentralisasi berkaitan dengan besaran pelimpahan kekuasaan (power) dan
kewenangan (authoriy) yang diserahkan dari pemerintah pusat ke p emerintah lokal
melalui hirarki secara geografis di negara.
Desentralisasi dapat membawa banyak dampak positif terutama bagi daerah
yang tertinggal. Mereka dapat mengembangkan daerahnya tanpa campur tangan dari
pemerintah pusat. Daerah akan secara mandiri mengembangkan keunggulannya
dalam berbagai aspek. Pada asas Desentralisasi daerah otonom dapat mengurusi
kebijakannya sendiri sehingga berdampak pada besarnya organ pemerintahan yang
ada di daerah. Hal ini kemudian membuat sistem di dalam pemerintahan menjadi
sangat kompleks. Banyaknya struktur organisasi yang dibentuk dalam pemerintah
daerah dan pusat dapat menimbulkan lemahnya koordinasi.
Desentralisasi bertujuan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan dan
pelayanan kepada masyarakat, pengembangan kehidupan berdemokrasi, keadilan,
pemerataan, dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah dan
antar daerah (Sidik et al, 2002). Pembentukan daerah otonom dalam rangka
desentralisasi di Indonesia memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Daerah otonom tidak memiliki kedaulatan atau semi kedaulatan layaknya di
negara federal.
b. Desentralisasi dimanifestasikan dalam pembentukan daerah otonom dan
penyerahan atau pengakuan atas wewenang pemerintahan di bidang tertentu untuk
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan di bidang tertentu pula.
c. Penyerahan atau pengakuan urusan pemerintahan terkait dengan pengaturan
dan pengurusan kepentingan masyarakat setempat (lokalitas) sesuai prakarsa dan
aspirasi masyarakat.
B. Dekonsentrasi
Asas dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat
kepada pemerintah atau kepala wilayah atau kepala instansi vertikal tingkat atasnya
kepada pejabat-pejabat didaerah. Ciri-ciri dari asas ini adalah sebgai berikut:
a. Bentuk pemencaran adalah pelimpahan
b. Pemencaran terjadi kepada pejabat sendiri (perseorangan)
c. Yang dipencar (bukan urusan pemerintah) tetapi wewenang untuk
melaksanakan sesuatu.
d. Yang dilimpahkan tidak menjadi urusan rumah tangga sendiri.
Oleh karena itu tidak semua urusan pemerintahan dapat diserahkan kepada
kepala daerah otonom menurut asas desentralisasi ini merupakan salah satu yang
membedakan antara asas desentralisasi dengan asas dekonsentrasi. Menurut asas
dekonsentrasi maka segala urusan yang 33 dilimpahkan oleh pemerintah pusat kepada
pejabatnya didaerah tetap menjadi tanggung jawab daeri pemerintah pusat yang
meliputi :
a. Kebijaksanaan
b. Perencanaan
c. Pelaksanaan
d. Pembiyaan
e. Perangkat pelaksanaan.
Berbeda dengan asas desentralisasi yaitu pelaksanaan pemerintahan
dilaksanakan oleh rumah tangga daerah otonom sepenuhnya, sehingga
penyelenggaraan berbagai urusan pemerintahan pusat dilaksanakan oleh daerah
sepenuhnya sebagai bentuk urusan rumah tangga daerah tersebut. Adapun unsur
pelaksanaannya adalah segala instansi vertikal yang ada di daerah yang dikoordinir
oleh kepala wilayah sebagai alat/ aparat dekonsentrasi. Dalam hal koordinasi ini,
kepala wilayah tidak boleh membuat kebijakan (policy) sendiri, karena kebijaksanaan
terhadap pelaksanaan urusan dekonsentrasi tersebut sepenuhnya ditentukan oleh
pemerintah pusat. Pelaksanaan asas dekonsentrasi ini melahirkan pemerintahan lokal
administratif. Daerah administratif meliputi tingkat provinsi, kabupaten, dan
kecamatan.
Pemerintahan administratif diberi tugas atau wewenang menyelenggarakan
urusan-urusan pemerintahan pusat yang ada di daerah. Ditinjau dari wilayah
pembagian negara, asas dekonsentrasi adalah asas yang akan membagi wilayah
negara menjadi daerah-daerah 34 pemerintahan lokal administratif. Jadi asas
dekonsentrasi dapat dilaksanakan jika terdapat organ bawahan yang secara
organisator dan hierarki berkedudukan sebagai bawahan secara langsung dapat
dikomando dari atas. Oleh karena itu dalam sistem ini tidak diperlukan adanya badan
perwakilan rakyat daerah, yang menampung suatu rakyat daerah yang bersangkutan,
sebab segala kebutuhanya, diurus oleh pemerintah pusat atau atasannya.
([Link]
C. Devolusi
. Devolusi merupakan kewenangan daerah dalam pengambilan keputusan
politik, baik terkait dengan parlemen lokal maupun eksekutif lokal. Artinya, dalam
konsep devolusi, masyarakat lokal punya hak politik untuk berpartisipasi serta
berkompetisi dalam proses politik lokal (legislatif dan eksekutif) serta berpartisipasi
dalam proses kebijakan publik lokal. Selain itu, devolusi pada legislatif lokal
ditujukan selain untuk sarana pelatihan kepemimpinan politik lokal, juga dalam
kerangka akuntabilitas politik anggota DPRD kepada konstituennya. Sedangkan bagi
eksekutif lokal, devolusi merupakan sarana pelatihan kepemimpinan politik lokal
dalam pelayanan publik. Bagi masyarakat lokal sendiri, devolusi telah memberikan
kesempatan politik yang sama (political equality) bagi setiap warga masyarakat lokal
untuk menggunakan hak-hak politiknya (memilih atau dipilih) dalam proses politik
lokal.
Juga terkait hak-hak politik masyarakat lokal dalam proses kebijakan publik.
Devolusi yang diberikan kepada masyarakat lokal, baik hak-hak politik, partisipasi
dan kompetisi dalam proses politik, erat kaitannya dengan akuntabilitas serta
responsibilitas legislatif dan eksekutif lokal. Apabila hak-hak politik masyarakat lokal
tidak sepenuhnya terjamin dalam undang-undang, partisipasi politik masyarakat
rendah, serta kompetisi lokal terbatas hanya di kalangan elit tertentu saja. Kondisi
demikian bisa diartikan, bahwa derajat akuntabilitas publik legislatif terhadap
konstituennya, rendah. Demikian juga dengan kepala daerah, proses pelayanan
publiknya dinilai rendah. Rendahnya derajat partisipasi dan kompetisi politik lokal,
dipengaruhi pula oleh sistem, struktur dan kultur politik lokal.
Menurut Riswandha Imawan dalam devolusi ada beberapa hal yang
merupakan kelebihan dari penerapan politik lokal (devolusi) itu sendiri. Kita dapat
membagikannya kedalam dua kategaori yaitu , bagi demokratisasi dan stabilitas
politik serta bagi pengembangan masyarakat lokal. Bagi demokratisasi dan stabilitas
politik, setidaknya ada tiga makna devolusi:
1. Pendidikan politik : menyediakan kesempatan yang lebih besar kepada
anggota masyarakat untuk memilih dan dipilih
2. Pelatihan kepemimpinan politik : pengalaman menjadi legislator dan
eksemutor politik sebelum beranjak ke tingkat nasional.
3. stabilitas politik : pendidikan masyarakat lokal untuk meningkatkan rasa
tanggung jawab Sementara itu bagi pendewasaan masyarakat lokal, devolusi dapat
membantu dalam hal :
1. Political equality : yakni menambah kesempatan kepada masyarakat untuk
mempengaruhi kebijakan lokal.
2. Accountability : meningkatkan tanggung jawab pemerintah kepada
masyarakat dengan terbukanya akses masyarakat ke dalam proses politik.
3. Responsiveness : meningkatkan kemampuan pemerintah untuk melayani
keinginan warga masyarakat
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan pemahaman yang lebih proporsional tentang desentralisasi dan
dekonsentrasi, serta hubungan diantara keduanya, diharapkan tidak terjadi pemikiran
yang ahistoris, misalnya menempatkan konsep tadi dalam posisi berlawanan, atau
menganggap keduanya sebagai sesuatu yang bersifat substitutif (saling
menggantikan) bukan komplementer (saling melengkapi). Pada gilirannya,
pendekatan teoretik ini diharapkan dapat memperkecil adanya conceptual gap, yakni
kesenjangan antara praktek saat ini dengan dasar teoretis. Sebab, konstruksi suatu
kebijakan idealnya
B. Saran
Diharapkan kepada pemakalah untuk mencari sumber lebih banyak
lagi, baik itu dalam bentuk jurnal, artikel dan sebagainya. Dan usahakan
kedepannya tidak memplagiasi karya orang lain
DAFTAR PUSTAKA
Bagir Manan I, 1994. Pelaksanaan Demokrasi Pancasila Dalam Pembangunan Jangka Panjang
II, Makalah dalam Lokakarya Pancasila, Unpad. Bandung.
Dennis A. Rondinelli dan G. Shabbir Cheema, “Implementing Decentralization Policies: An
Introduction”, dalam G. Shabbir Cheema dan Dennis Rondinelli (editors),
Decentralization and Development Policy Implementation Countries, Sage
Publications, Beverly Hils, London, New Delhi, 1983.
Fadilla Putra. Prospek otonomi Daerah. Makalah disampaikan di Universitas Diponegoro
Semarang. 1999.
Henry Maddick dikutip oleh Juanda dalam bukunya Hukum Pemerintahan Daerah, Pasang
Surut Hubungan Kewenangan Antara DPRD dan Kepala Daerah, 2008. Huseini, 2004.
Otonomi Daerah Dalam Prospek Investasi. Diterbitkan oleh percetakan Gramedia.
Jakarta. Inu Kencana Syafiie, Sistem Pemerintahan Indonesia, Edisi Revisi, Penerbit,
Rineka Cipta, Jakarta, 1993.