0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan4 halaman

Patofisiologi dan Klasifikasi Diare

vhjvhjj

Diunggah oleh

aliffa putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan4 halaman

Patofisiologi dan Klasifikasi Diare

vhjvhjj

Diunggah oleh

aliffa putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

I.

PATOFISIOLOGI MASING MASING DIARE

Berdasarkan gangguan fungsi fisiologis saluran pencernaan dan penyebab diare, patofisiologi
dari diare dibagi menjadi berikut :

1. Kelainan gerakan transmucosal air dan elektrolit: Ada empat macam garam
empedu pada cairan empedu yang dihasilkan oleh kantong empedu salah satunya
dehidrosilaksi asam diosikholik. Dehidrosilaksi asam diosikholik akan bersentuhan
langsung dengan permukaan mukosa usus dan menyebabkan sekresi cairan pada
jejunum dan kolon yang akan menghambat absorpsi cairan dalam kolon. Hormon-
hormon pada tubuh seperti gastrin, sekretin, kholesistokinin, dan glukagon juga ikut
andil dalam memproduksi dehidrosilaksi asam diosikholik dan memengaruhi absorpsi
air pada mukosa.
2. Kelainan cepat laju bolus makanan di dalam lumen usus:
Proses absopsi dapat berlangsung baik bila bolus makanan tercampur baik dengan
enzim-enzim dan dalam keadaan yang cukup unutk tercerna. Waktu sentuhan antara
khim dengan permukaan mukosa diperlukan untuk absorpsi normal.
Hipomotilitas dapat menyebabkan mikroorgansime berkembang biak secara
berlebihan yang dapat merusak mukosa usus dan permasalahan digesti seperti diare.
Hipermotilitas menyebabkan makanan bergerak terlalu cepat sehingga tidak cukup
waktu untuk menyerap nutrisi dan air yang cukup yang akan menyebabkan watery
stool. Pasien yang memiliki vagotomy (pemindahan atau pemutusan saraf vagus) serta
orang-orang dengan neuropati diabetes rentan terhadap jenis diare ini.
3. Kelainan tekanan osmotik dalam lumen usus: Adanya malabsorpsi karbohidrat,
lemak, dan protein akan menimbulkan kenaikan daya tekanan osmotic intraluminal
sehingga menyebabkan gangguan absorpsi air. Malabsorpsi karbohidrat biasanya
merupakan malabropsi laktosa yang terjadi karena defisiensi enzim laktase. Laktosa
yang terdapat dalam susu tidak sempurna mengalami hidrolisis dan urang diabsorpsi
oleh usus halus. Bakteri dalam usus besar kemudian memecah laktosa menjadi

1
monosakarida dan terjadi fermentasi, selanjutnya menjadi gugus asam organik dengan
rantai atom karbon lebih pendek yang terdiri atas 2—4 atom karbon. Molekul-molekul
tersebut yang mengakibatkan menahan air dalam lumen kolon hingga terjadi diare.

• Diare merupakan gejala yang dapat disebabkan oleh berbagai mekanisme


patofisiologis yang mendasarinya. Secara umum, diare dapat dikategorikan menjadi
beberapa jenis berdasarkan mekanisme yang menyebabkannya: diare osmotik, diare
sekretorik, diare eksudatif, dan diare akibat perubahan motilitas usus.
1. Diare Osmotik: Diare osmotik terjadi ketika zat-zat yang tidak dapat diserap atau
dicerna (seperti laktosa pada individu dengan intoleransi laktosa) tetap berada dalam
lumen usus. Zat-zat ini menarik air ke dalam usus melalui mekanisme osmosis,
menyebabkan peningkatan volume cairan di dalam usus. Gangguan osmolitik akibat
terdapatnya makanan atau zat yang tidak diserap akan menyebabkan tekanan osmotik
dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam
rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang mengeluarkannya
sehingga timbul diare.
2. Diare Sekretorik: Diare sekretorik disebabkan oleh peningkatan sekresi cairan dan
elektrolit ke dalam lumen usus yang melebihi kapasitas penyerapan usus. Ini sering
kali dipicu oleh toksin bakteri atau gangguan hormon. Gangguan sekresi akibat
rangsangan tertentu (misalnya oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare
timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Diare Eksudatif: Diare eksudatif terjadi ketika ada kerusakan atau inflamasi pada
mukosa usus yang menyebabkan eksudasi (keluarnya) darah, lendir, dan protein ke
dalam lumen usus. Hal ini sering dikaitkan dengan penyakit inflamasi usus atau
infeksi yang merusak dinding usus.
4. Diare Akibat Perubahan Motilitas Usus: Diare akibat perubahan motilitas terjadi
ketika ada perubahan dalam kecepatan transit usus. Peningkatan motilitas usus
mengurangi waktu kontak antara chyme dan mukosa usus, mengurangi penyerapan

2
air dan elektrolit. Gangguan motilitas usus, hiperperistaltik akan mengakibatkan
berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare.
Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri
tumbuhberlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

• Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan durasi dan penyebabnya. Berikut adalah


penjelasan rinci mengenai patofisiologi diare akut, diare virus, diare bakteri, diare
sekretorik, diare osmotik, diare inflamasi, dan diare akibat perubahan motilitas usus.
1. Diare Akut: Diare akut berlangsung kurang dari dua minggu dan sering disebabkan
oleh infeksi. Patofisiologinya tergantung pada patogen penyebabnya, baik itu virus,
bakteri, atau parasit. Infeksi patogen menyebabkan inflamasi mukosa usus, merusak
sel-sel epitel dan mengganggu absorpsi air dan elektrolit. Produksi toksin oleh bakteri
dapat merangsang sekresi cairan dan elektrolit ke dalam lumen usus. Invasi mukosa
oleh patogen menyebabkan eksudasi cairan, darah, dan lendir.
2. Diare Virus: Diare yang disebabkan oleh virus, seperti rotavirus dan norovirus,
adalah jenis diare yang sangat umum terutama pada anak-anak. Virus menginfeksi
dan merusak sel-sel epitel di usus halus, menyebabkan penyerapan air dan elektrolit
terganggu. Rotavirus menghasilkan enterotoksin yang dapat merangsang sekresi
cairan ke dalam lumen usus. Infeksi virus meningkatkan motilitas usus, mengurangi
waktu kontak antara chyme dan mukosa usus, sehingga mengurangi penyerapan
cairan.
3. Diare Bakteri: Diare bakteri bisa disebabkan oleh: Enterotoksigenik E. coli
(ETEC): Menghasilkan toksin yang menyebabkan sekresi cairan berlebih di usus,
mengakibatkan diare berair. Salmonella dan Shigella: Menginvasi dan merusak
mukosa usus, menyebabkan diare berdarah dan inflamasi.. Vibrio cholerae:
Menghasilkan toksin kolera yang menyebabkan sekresi cairan dan elektrolit dalam
jumlah besar ke dalam lumen usus, mengakibatkan diare berair yang parah.

3
II. KLASIFIKASI GASTROENTERITIS DENGAN DEHIDRASI

1. Dehidrasi Ringan (Mild Dehydration): Tanda dan Gejala: Mulut dan tenggorokan kering,
Rasa haus meningkat, Sedikit penurunan frekuensi buang air kecil

• Tanda Klinis:
o Penurunan berat badan <5%
o Turgor kulit normal atau sedikit menurun
o Mata tidak cekung, kesadaran normal

2. Dehidrasi Sedang (Moderate Dehydration): Tanda dan Gejala: Rasa haus yang sangat,
Mulut dan lidah sangat kering, Mata cekung, Produksi air mata berkurang atau tidak ada saat
menangis, Penurunan signifikan dalam frekuensi buang air kecil

• Tanda Klinis:
o Penurunan berat badan 5-10%
o Turgor kulit menurun (kulit lambat kembali saat dicubit)
o Denyut nadi cepat, biasanya lemah

3. Dehidrasi Berat (Severe Dehydration): Tanda dan Gejala: Haus yang sangat intens atau
tidak sadar, Mulut dan lidah sangat kering, Mata sangat cekung, Kulit kering dan keriput,
Tidak ada produksi air seni, Denyut nadi sangat cepat dan lemah, Penurunan kesadaran atau
koma

• Tanda Klinis:
o Penurunan berat badan >10%
o Turgor kulit sangat menurun (kulit sangat lambat kembali saat dicubit)
o Hipotensi dan tanda-tanda syok hipovolemik (tekanan darah rendah, denyut
jantung sangat cepat)

Anda mungkin juga menyukai