0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan113 halaman

Nyeri Lansia Osteoarthritis: Kompres Jahe

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan113 halaman

Nyeri Lansia Osteoarthritis: Kompres Jahe

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARYA TULIS ILMIAH

TINGKATAN DAN DAMPAK NYERI PADA LANSIA


OSTEOARTHRITIS SETELAH DILAKUKAN KOMPRES HANGAT
JAHE DI PANTI JOMPO GRIYAH ASIH LAWANG

STUDI KASUS

RISKY RAHMA SARI PUTRI


P17220193031

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN MALANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
2022
TINGKATAN DAN DAMPAK NYERI PADA LANSIA
OSTEOARTHRITIS SETELAH DILAKUKAN KOMPRES HANGAT
JAHE DI PANTI JOMPO GRIYAH ASIH LAWANG

STUDI KASUS

KaryaTulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu persyaratan menyelesaikan


program pendidikan Diploma III di Program Studi Keperawatan Malang Jurusan
Keperawatan Malang
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

RISKY RAHMA SARI PUTRI


P17220193031

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN MALANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
2022
TINGKATAN DAN DAMPAK NYERI PADA LANSIA
OSTEOARTHRITIS SETELAH DILAKUKAN KOMPRES HANGAT
JAHE DI PANTI JOMPO GRIYAH ASIH LAWANG

STUDI KASUS

Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu persyaratan menyelesaikan
program pendidikan Diploma III di Program Studi Keperawatan Malang Jurusan
Keperawatan Malang
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

RISKY RAHMA SARI PUTRI


P17220193031

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
2022
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Risky Rahma Sari Putri
NIM : P17220193031
Program Studi : Diploma III Keperawatan Malang Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes
Malang

Menyatakan yang sebenar-benarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah


Studi Kasus yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri,
bukan merupakan pengambilan tulisan atau pikiran orang lain yang saya
akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan Karya


Tulis Ilmiah ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas
perbuatan tesebut.

Lawang, 3 Juni 2022

Pembimbing Yang Membuat Pernyataan

Agus Setyo Utomo, A., [Link] Risky Rahma Sari Putri


NIP.19730615 199703 2001 NIM.P17220193031

i
LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah Studi Kasus oleh Risky Rahma Sari Putri NIM.
P17220193031 dengan judul “Tingkatan Dan Dampak Nyeri Pada Lansia
Osteoarthritis Setelah Dilakukan Kompres Hangat Jahe Di Panti Jompo
Griyah Asih Lawang” telah diperiksa dan disetujui pada tanggal

Oleh:
Pembimbing Utama

Agus Setyo Utomo, A., [Link]


NIP. 197308072002121004

Mengetahui,
Ketua Program Studi
D-III KeperawatanMalang

[Link] Yudiernawati, [Link]., [Link]


NIP. 196605091991032001

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Karya tulis ilmiah studi kasus ini diajukan oleh


Nama : Risky Rahma Sari Putri
NIM : P17220193031
Program Studi : Diploma III Keperawatan Malang
Judul : Tingkatan Dan Dampak Nyeri Pada Osteoarthritis Setelah
Dilakukan Kompres Hangat Jahe Di Panti Jompo Griyah Asih
Lawang

Karya Tulis Ilmiah studi kasus ini telah diuji dan dinilai:
Oleh panitia penguji pada
Program Studi Diploma III Keperawatan Malang
Poltekkes Kemenkes Malang
Pada tanggal ..................

Dewan Penguji

Penguji Anggota Penguji

Nurul Hidayah, [Link], Ns, [Link] Agus Setyo Utomo, A, [Link]


NIP.19730615 199703 2001 NIP.19730807 200212 1004

Mengetahui,

KetuaJurusanKeperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

Imam Subekti, [Link]., [Link]., [Link]


NIP. 1965120519891221991

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan. Karya Tulis Ilmiah yang
berjudul “Tingkatan Dan Dampak Nyeri Pada Osteoarthritis Setelah Dilakukan
Kompres Hangat Jahe Di Panti Jompo Griyah Asih Lawang”. Karya Tulis Ilmiah
ini disusun sebagai salah satu syarat akademik pada Program Studi Keperawatan
Malang Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.

Atas terselesaikannya Karya Tulis Ilmiah ini, penulis mengucapkan


terimakasih kepada :

1. Budi Susatia, [Link]., [Link]. selaku Direktur Politeknik Kesehatan


Kemenkes Malang.
2. Imam Subekti, [Link]., [Link]., [Link]. selaku Ketua Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang.
3. Ketua Program Studi Diploma III Keperawatan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Malang Dr. Atti Yudiernawati, [Link]., [Link]. yang telah
membantu dalam perizinan.
4. Agus Setyo Utomo, A., [Link]. selaku Pembimbing yang telah
menyediakan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing dalam
menyusun karya tulis ilmiah ini dan telah memberikan bimbingan dengan
sabar, tekun, bijaksana, dan sangat cermat memberikan masukan serta
motivasi kepada penulis.
5. Nurul Hidayah, [Link]., Ns., [Link]. selaku Dosen Penguji yang bersedia
menguji penulis. Memberikan saran, bimbingan, arahan dan motivasi
dalam menyusun karya tulis ilmiah ini.
6. Seluruh staf pengajar dan karyawan Kampus II Politeknik Kesehatan
Kemenkes Malang Program Studi D III Keperawatan Malang yang telah
membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian.
7. Ibu Djama’ati dan Bapak Saturi selaku orangtua saya yang selalu
mendukung dan mendoakan saya dalam penyelesaian karya tulis ilmiah
ini.

iv
8. Deny, Devi, dan Indah selaku kakak saya yang memberi semangat selama
penyusunan karya tulis ilmiah ini.
9. Farhah Nadiah Kamilah, Sumikatul Zanah, Khilda Habsyiyyah, Amelia
Danyswara, dan Dwi Ayu Nasiroh selaku sahabat saya yang selalu ada dan
memberikan semangat kepada saya untuk menyelesaikan karya tulis
ilmiah ini.
10. Rekan-rekan seperjuangan D-III Keperawatan Malang Angkatan 2019
11. Semua pihak yang telah memberikan dorongan dan bantuan selama
penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

Penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak yang membutuhkan.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kata sempurna,
maka dari itu penulis berharap pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang
membangun bagi penulis. Semoga amal ibadah dan budi baik bapak ibu, orang tua
serta rekan-rekan mendapat rahmat yang berlimpah dari Allah SWT. Penulis
berharap skripsi ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi pembaca.

Lawang, 2022

Penulis

v
TINGKATAN DAN DAMPAK NYERI PADA LANSIA
OSTEOARTHRITIS SETELAH DILAKUKAN KOMPRES HANGAT
JAHE DI PANTI JOMPO GRIYAH ASIH LAWANG
Study Kasus

Risky Rahma Sari Putri


Agus Setyo Utomo, A., [Link]
Nurul Hidayah, [Link]., Ns., [Link].

ABSTRAK

Osteoarthritis memiliki pengaruh pada tingkatan nyeri dan dampak yang


besar terhadap kualitas hidup lansia. Efek nyeri tersebut dapat menyebabkan
penurunan aktivitas yang dapat menghambat lansia tersebut untuk melakukan
aktivitas sehari-hari. Seorang yang mengalami nyeri akan terganggu pemenuhan
kebutuhan istirahat dan tidurnya, pemenuhan individual, juga aspek interaksi
sosialnya yang dapat berupa menghindari dialog, menarik diri, dan emosianal
yang mengakibatkan depresi. Selain itu, seorang yang mengalami nyeri hebat
akan berkelanjutan, apabila tidak ditangani. Terapi kompres hangat jahe, yaitu
kombinasi air hangat dan jahe dapat menurunkan tingkat nyeri secara lebih cepat,
dikarenkan jahe sendiri dapat mempertahankan efek panas yang lebih lama.
Penelitian ini dilakukan di Panti Jompo Griyah Asih Lawang. Metode penelitian
yang digunakan adalah study kasus. Teknik pengumpulan data dengan observasi,
Numerical Rating Scale (NRS), dan wawancara. Pengambilan sample
menggunakan Purposive Sampling sebanyak 2 responden. Hasil penelitian
menunjukan bahwa subjek yang diberi intervensi terapi kompres hangat jahe
selama 2 minggu dengan frekuensi 6 kali pertemuan mengalami perubahan pada
tingkatan dan dampak nyeri. Diharapkan melalui pengurus Panti Jompo Griyah
Asih Lawang lebih memperhatikan kesehatan lansia khususnya tentang
Osteoarthritis dan mengajak lansia lebih aktif melakukan kegiatan peningkatan
dan pemeliharaan dalam kesehatan.

Kata Kunci : Tingkat nyeri, Lansia, Osteoarthritis, Kompres hangat jahe

vi
LEVEL AND IMPACT OF PAIN IN OSTEOARTHRITIS ELDERLY
AFTER WARM GINGER COMPRESS AT GRIYA ASIH NURSING
HOME LAWANG
Case study

Risky Rahma Sari Putri


Agus Setyo Utomo, A, [Link]
Nurul Hidayah, [Link]., Ns., [Link].

ABSTRACT

Osteoarthritis has an influence on pain levels and has a major impact on


the quality of life of the elderly. The effects of pain can cause a decrease in
activity that can prevent the elderly from carrying out daily activities. Someone
who experiences pain will be disturbed in fulfilling their need for rest and sleep,
individual fulfillment, and aspects of social interaction which can be in the form
of avoiding dialogue, withdrawing, and being emotional which can lead to
depression. In addition, a person experiencing severe pain will continue, if not
treated. Ginger warm compress therapy which is a combination of warm water
and ginger can reduce pain levels faster, because ginger itself can maintain the
heat effect longer. This research was conducted at the Griyah Asih Lawang
Orphanage. The research method used is a case study. Data collection techniques
by observation, Numerical Rating Scale (NRS), and interviews. Sampling using
purposive sampling as many as 2 respondents. The results showed that subjects
who were given a ginger warm compress therapy intervention for 2 weeks with a
frequency of 6 meetings experienced changes in the level and impact of pain. It is
hoped that through the caretakers of the Griyah Asih Lawang Nursing Home, they
will pay more attention to the health of the elderly, especially regarding
Osteoarthritis and invite the elderly to be more active in improving and
maintaining health.

Keywords: Pain level, Elderly, Osteoarthritis, Ginger warm compress

vii
DAFTAR ISI

Contents
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS.....................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................................ii
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................iii
KATA PENGANTAR............................................................................................iv
ABSTRAK..............................................................................................................vi
ABSTRACT.............................................................................................................vii
DAFTAR ISI........................................................................................................viii
DAFTAR TABEL...................................................................................................xi
DAFTAR GRAFIK................................................................................................xii
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................xiii

BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.3 Tujuan........................................................................................................5
1.3.1 Tujuan Umum....................................................................................5
1.3.2 Tujuan Khusus...................................................................................5
1.4 Manfaat Penelitihan………………………………………………….......5
1.4.1 Manfaat Teoritis.................................................................................5
1.4.2 Manfaat Praktis..................................................................................6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................7
2.1 Konsep Dasar Lansia......................................................................................7
2.1.1 Definisi Lanjut Usia.................................................................................7
2.1.2 Klasifikasi Lanjut Usia............................................................................8
2.1.3 Ciri-ciri Menua........................................................................................8
2.1.4 Tipe Lanjut Usia....................................................................................10
2.1.5 Perubahan Yang Terjadi pada Lanjut Usia............................................11
2.1.6 Masalah Penyakit Yang Sering dihadapi Oleh Lanjut Usia..................15
2.2 Konsep Osteoarthritis...................................................................................16
2.2.1 Definisi Osteoarthritis............................................................................16
2.2.2 Klasifikasi Osteoarthritis.......................................................................18

viii
2.2.3 Faktor Penyebab Osteoarthritis..............................................................19
2.2.4 Patofisiologi Osteoarthritis....................................................................20
2.2.5 Manifestasi Klinis Osteoarthritis...........................................................22
2.2.6 Komplikasi Osteoarthritis......................................................................22
2.2.7 Penatalaksanaan Osteoarthritis..............................................................23
2.3 Konsep Nyeri................................................................................................24
2.3.1 Definisi nyeri.........................................................................................24
2.3.2 Klarifikasi Nyeri....................................................................................25
2.3.3 Proses Terjadinya Nyeri........................................................................26
2.3.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Nyeri..............................................28
2.3.5 Dampak Pengaruh Nyeri........................................................................29
2.3.6 Intensitas Nyeri......................................................................................29
2.4 Kompres Hangat Jahe...................................................................................34
2.4.1 Definisi Kompres Hangat Jahe..............................................................34
2.4.2 Kandungan Senyawa Kimia Jahe..........................................................36
2.4.3 Manfaat Jahe..........................................................................................36
2.4.4 Indikasi dan Kontraindikasi Kompres Hangat Jahe...............................37
2.3.5 Mekanisme kompres hangat dengan jahe..............................................38
2.3.6 Prosedur Pemberian Kompres Hangat Jahe...........................................39
2.5 Kerangka Konsep.........................................................................................41
BAB 3 METODE PENELITIAN..........................................................................42
3.1 Desain/Rancangan........................................................................................42
3.2 Subyek Penelitihan.......................................................................................43
3.3 Lokasi dan Waktu Penelitihan......................................................................44
3.3.1 Lokasi....................................................................................................44
3.3.2 Waktu Penelitihan............................................................................44
3.4 Fokus Study dan Definisi Operasional.........................................................45
3.4.1 Fokus Study...........................................................................................45
3.4.2 Definisi Operasional........................................................................45
3.5 Metode Pengumpulan Data..........................................................................46
3.5.1 Instrumen Penelitian..............................................................................46
3.5.2 Teknik Pengumpulan Data...................................................................47

ix
3.6 Analisa Data dan Penyajian Data.................................................................47
3.6.1 Analisa Data...........................................................................................47
3.6.2 Penyajian Data.......................................................................................48
3.7 Etika Penelitihan..........................................................................................49
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.........................................51
4.1 Hasil Penelitian........................................................................................51
4.1.1 Gambaran Lingkungan Studi Kasus................................................51
4.1.2 Gambaran Umum Subjek Studi Kasus.............................................52
4.2 Fokus Studi Kasus...................................................................................54
4.2.1 Tingkatan Nyeri Pada Lansia Osteoarthritis Setelah Dilakukan
Kompres Hangat Jahe …................................................................................54
4.2.2 Dampak Nyeri Pada Lansia Osteoarthritis Setelah Dilakukan
Kompres Hangat Jahe …................................................................................57
4.3 Pembahasan.............................................................................................63
4.3.1 Tingkatan Nyeri Pada Lansia Osteoarthritis Setelah Dilakukan
Kompres Hangat Jahe …................................................................................63
4.3.2 Dampak Nyeri Pada Lansia Osteoarthritis Setelah Dilakukan
Kompres Hangat Jahe …................................................................................64
4.4 Keterbatasan Penelitian...........................................................................65
BAB 5 PENUTUP.................................................................................................67
5.1 Kesimpulan..............................................................................................67
5.2 Saran........................................................................................................67

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................69

x
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Osteoarthritis.......................................................................18

xi
DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Hasil Perubahan Tingkat Nyeri pada subjek 1 Sesudah Dilakukan Terapi
Kompres Hangat Jahe di Panti Jompo Griyah Asih
Lawang…......................................................................................................55
Grafik 4.2 Hasil Perubahan Tingkat Nyeri pada subjek 2 Sesudah Dilakukan Terapi
Kompres Hangat Jahe di Panti Jompo Griyah Asih
Lawang…......................................................................................................57

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Permohonan Ijin Penelitian................................................................72

Lampiran 2 Persetujuan Kegiatan Penelitian.........................................................73

Lampiran 3 Lembar Persetujuan Responden.........................................................74

Lampiran 4 Surat Permohonan Menjadi Responden.............................................75

Lampiran 5 Karakteristik Responden....................................................................76

Lampiran 6 Lembar Observasi dan Wawancara Sebelum Terapi..........................77

Lampiran 7 Lembar Obsevasi dan Wawancara Setelah Terapi.............................79

Lampiran 8 Pengukuran Skala Nyeri.....................................................................81

Lampiran 9 Standar Operasional Prosedur Kompres Hangat Jahe........................82

Lampiran 10 Hasil Tingkatan dan Dampak Nyeri.................................................84

Lampiran 11 Dokumentasi Kegiatan.....................................................................96

Lampiran 12 Lembar Konsultasi............................................................................98

xiii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring bertambahnya usia yang mengakibatkan perubahan fisik,

psikologis, sosial dan spiritual. Contohnya serat otot akan mengecil karena dengan

kekuatan otot yang berkurang menyebabkan berkurangnya kegiatan atau gerakan

sehingga menurunkan kualitas hidupnya. Selain itu masa tulang juga berkurang

salah satunya yang paling banyak dialami ialah nyeri pada persendian lutut yang

biasa disebut dengan osteoarthritis (Ekasari, Riasmini, dan Hartini 2019). Menurut

(Sunaringsih Ika, Sri . Rosadi, 2018) osteoarthritis sendiri ditandai dengan nyeri,

kekakuan sendi dan fungsional akibat dari kerusakan tulang rawan sendi. Nyeri

yang timbul akibat adanya kerusakan jaringan tulang rawan pada daerah sendi

merupakan masalah utama musuloskeletal khususnya bagi lansia. Selain nyeri,

kerusakan pada sendi juga mengakibatkan kekakuan sehingga mengganggu fungsi

pergerakan.

Menurut (Abdurrachman et al., 2019) Pada orang yang mengalami

osteoartritis terjadi penipisan hingga mengelupasnya tulang rawan sendi sehingga

pada saat terjadi penekanan atau gesekan pada permukaan sendi terdapat nyeri

dikarenakan adanya benturan antara tulang dengan tulang yang dapat mengiritasi

ujung saraf pada permukaan sendi. (Ganong, 2008 dalam (Zahroh & Faiza, 2018)

Adanya nyeri lutut ini menyebabkan seseorang atau penderita osteoartritis takut

untuk melakukan aktivitas atau gerakan sehingga menurunkan kualitas hidupnya.

Pada penyakit osteoartritis melibatkan kerusakan tulang rawan, tulang, ligamen

1
2

`ruang sendi, dan pada gambar x-ray akan terlihat pembentukan tulang baru atau

osteofit.

Strategi pelaksanaan untuk mengatasi nyeri dalam nonfarmakologis dalam

menurunkan skala nyeri dapat dilakukan dengan cara massage, teknik distraksi,

teknik relaksasi dan kompres. Kompres hangat ini dengan menggunaan suhu

hangat setempat yang dapat menimbulkan beberapa efek fisiologis, antara lain

efek vasiodilatasi, meningkatkan premeabilitas kapiler, meningkatkan

metabolisme seluler, merelaksasi otot, meningkatkan alioran darah kesuatu area.

Kompres hangat dapat meningkatkan suhu jaringan dan sirkulasi darah lokal,

yang dapat memperhambat metabolisme inflamasi seperti protaglandin, bradikinin

dan histamin sehingga dapat mengurangi nyeri.(heger, 2003 dalam izza, 2014

dalam (Putri et al., 2017). Menurut (Putri et al., 2017) jahe mengandung senyawa

gingerol dan shogaol yaitu senyawa panas dan pedas yang terdapat di dalam jahe.

Jahe memiliki sifat anti inflamasi non steroid dimana jahe dapat menekan sintesis

prostaglandin-1 dan siklooksigenase-2. Sehingga ketika diberikan kompres jahe

rasa pedas dari kompres jahe tersebut aakan mengurangi peradangan, meredakan

nyeri, kaku, dan spasme otot.

Pravelensi osteoarthritis menurut World Health Organization (WHO)

tahun 2017, diperkirakan penderita OA di dunia mencapai 9,6% pada laki-laki dan

18% pada perempuan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2020

menyebutkan prevalensi penyakit OA lutut sebesar 240 per 100.000 orang tiap

tahun Prevalensi osteoarthritis di Indonesia meningkat seiring dengan usia, yaitu

sebesar 5% pada individu berusia < 40 tahun, 30% pada usia 40 – 60 tahun, dan

65% pada usia > 61 tahun. Prevalensi OA lutut sebesar 15,5% pada laki – laki dan
3

12,7% pada perempuan (Muhammad Siddiq, 2021). Berdasarkan study

pendahuluan yang dilakukam oleh peneliti pada tanggal 26 September 2021

didapatkan jumlah lansia di Panti Griya Asih Lawang berjumlah 30 orang. Data

lansia dengan osteoarthritis yang diperoleh di Panti Griya Asih Lawng sejumlah 5

orang dan 2 orang yang mengalami nyeri sedang hingga berat. Sedangkan

pravelensi kompres hangat jahe di Panti Jompo Griyah Asih Lawang tidak pernah

menerapkan kompres hangat jahe selama ini.

Usaha yang dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri bisa dilakukan dengan

terapi farmakologi ataupun non farmakologi. Untuk terapi farmakologi bisa

menggunakan obat-obat analgetic, dan untuk non farmakologi bisa mengunakan

kiompres hangat, distraksi, relaksasi, aromaterapi. Namun terapi farmakologi

dapat memberikan efek samping terutama dalam konsumsi obat analgetic, serta

efektifitas terapi farmakologitersebut bertujuan mengatasi nyeri sendi akibat

inflamasi yang sering dijumpai dan melindungi sendi dan tulang dari ptoses

destruksi. Menurut (Bunner & suddarth, 2010 dalam (Masyhurrosyid et al., 2016)

kekurangan terapi farmakologi dari golongan analgesik dan antiinflamasi seperti

NSAID dan DMARD dapat memperberat kondisi osteoarthritis karena konsumsi

dalam jangka waktu lama adalah faktor utama penyebab morbiditas dan

mortalitas. Kekurangan NSAID pada sistem organ yang lain dapat menyebabkan

erosi mukosa lambung, ruam atau erupsi kulit, menimbulkan nekrosis papilar

ginjal, gangguan fungsi trobosit, dan meningkatkan tekanan darah.(Naqib &

Dewati, 2018).
4

Menurut (Naqib & Dewati, 2018) Osteoarthritis memiliki dampak yang

besar terhadap kualitas hidup lansia. Efek nyeri tersebut dapat menyebabkan

penurunan aktivitas yang dapat menghambat lansia tersebut untuk melakukan

aktivitas sehari-hari. Selain itu nyeri dapat mengganggu rasa nyaman yang

merupakan kebutuhan dasar setelah kebutuhan fisiologis yang harus terpenuhi.

Seorang yang mengalami nyeri akan terganggu pemenuhan kebutuhan istirahat

dan tidurnya, pemenuhan individual, juga aspek interaksi sosialnya yang dapat

berupa menghindari dialog, menarik diri, dan emosianal yang mengakibatkan

depresi. Selain itu, seorang yang mengalami nyeri hebat akan berkelanjutan,

apabila tidak ditangani (Firmansyah, 2019)

Menurut (Yepi et al., 2018) membuktikan bahwa kompres hangat jahe

berpengaruh terhadap penurunan skala nyeri pada penderita osteoarthritis. Hasil

uji Wilcoxon pada kompres hangat rebusan jahe diperoleh ρ = 0,000 dan kompres

dingin p = 0,000 maka H1 diterima. Sedangkan perbedaan antara uji beda dengan

uji Mann Whitney diperoleh ρ = 0,389, ρ > 0,05. Untuk peran perawat sendiri

dalam pemberian asuhan keperawatan membantu penderita asam urat untuk

mempertahankan kadar asam urat pada tingkat normal dan meningkatkan kualitas

kehidupan secara maksimal dengan cara memberi intervensi asuhan keperawatan

sehingga dapat memperbaiki kondisi kesehatan penderita.(Yulendasari, 2020)

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitihan dengan judul “Tingkatan Dan Dampak Nyeri Pada Lansia

Osteoarthritis Sesudah Dilakukan Kompres Hangat Jahe di Panti Jompo Griya

Asih Lawang”.
5

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut. Maka dapat

dirumuskan masalah peneliti sebagai berikut, yaitu : “Bagaimanakah tingkatan

dan dampak nyeri pada lansia dengan osteoarthritis sesudah dilakukan kompres

hangat jahe di Panti Griya Asih Lawang?”

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Penelitihan ini bertujuan untuk mengetahui tingkatan dan dampak nyeri

pada lansia dengan osteoarthritis setelah dilakukan kompres hangat jahe di Panti

Griya Asih Lawang..

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui tingkatan nyeri pada lansia setelah dilakukan kompres

hangat jahe

b. Mengetahui dampak nyeri pada lansia dengan osteoarthritis setelah

dilakukan kompres hangat jahe.

1.4 Manfaat Penelitihan

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitihan ini akan dapat mengaplikasikan teori khususnya dibidang

kesehatan pada lansia dan diharapkan dapat mengaplikasikan penggunakan

kompres hangat jahe untuk mengetahui perubahan fisiologis serta psikologis pada

lansia dengan osteoarthritis.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Institusi Pendidikan Kesehatan


6

Agar hasil penelitihan ini dapat dijadikan bahan pembelajaran khususnya

dibidang keperawatan dalam pemberian pengobatan non farmakologi yaitu

manfaat kompres hangat jahe untuk mengetahui perubahan fisiologis serta

psikologis pada lansia dengan osteoarthritis.

2. Bagi Tempat Peneliti

Kompres hangat jahe pada lansia dengan osteoarthritis dapat digunakan

untuk pengobatan non farmakologi.

3. Bagi lansia ditempat penelitihan

Kompres hangat jahe dapat digunakan untuk pengobatan non farmakologi

dan dapat mengalami perubahan fisiologis serta psikologisi pada lansia yang

menderita osteoarthritis.

4. Bagi peneliti selanjutnya

Dapat menjadi referensi untuk penelitihan selanjutnya tentang pengaruh

kompres hangat jahe pada lansia yang menderita osteoarthritis.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Lansia

2.1.1 Definisi Lanjut Usia

Menurut Undang-Undang kesejahteraan lanjut usia No.13 tahun 1998,

lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas baik pria

maupun wanita, lanjut usia potensial adalah lanjut usia yang masih mampu

melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan atau

jasa. Lanjut usia tidak potensial adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari

nafkah sehingga hidupnya bergantung pada orang lain. Peningkatan harapan hidup

akan mempengaruhi terhadap peningkatan penambahan usia seseorang.

Penambahan usia seseorang yang akan berakhir menjadi proses penuaan (aging)

(Ekasari, Riasmini, dan Hartini 2019).

Lansia merupakan periode akhir dari rentang kehidupan manusia.

Melewati masa ini, lansia memiliki kesempatan untuk berkembang mencapai

pribadi yang lebih baik dan semakin matang. Lansia adalah periode dimana

organisme telah mencapai masa keemasan atau kejayaannya dalam ukuran, fungsi,

dan juga beberapa telah menunjukkan kemundurannya sejalan dengan berjalannya

waktu Suardiman (2011) dalam Triningtyas dan Muhayati (2018).

Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yakni

suatu periode dimana seseorang telah "beranjak jauh" dari periode terdahulu yang

lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang lebih bermanfaat. Usia enam

puluh biasanya dipandang sebagai garis pemisah antara usia madya dan usia

7
8

lanjut. Selain itu, usia enam puluh digunakan sebagai usia pensiun dan sebagai

tanda dimulainya lanjut usia (Triningtyas dan Muhayati 2018).

2.1.2 Klasifikasi Lanjut Usia

Menurut (Dalglei et al., 2007) ada beberapa batasan lansia sebagai berikut:

WHO menjelaskan batasan lansia adalah sebagai berikut:

a) Usia lanjut (elderly) antara usia 60-74 tahun.

b) Usia tua (old) 75-90 tahun

c) Usia sangat tua (very old) dalah usia>90 tahun.

Depkes RI (2005) menjelaskan bahwa batasan lansia dibagi menjadi tiga katagori,

yaitu :

a. Usia lanjut presenilis yaitu antara usia 45-59 tahun.,

b. Usia lanjut yaitu usia 60 tahun ke atas

c. Usia lanjut beresiko yaitu usia 70 tahun ke atas atau usia 60 tahun ke atas

dengan masalah kesehatan.

2.1.3 Ciri-ciri Menua

Menurut Depkes RI ciri-ciri menua sebagai berikut :

1. Lansia merupakan periode kemunduran.

Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor

psikologis . Motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada lansia

Misalnya lansia yang memiliki motivasi yang rendah dalam melakukan kegiatan,
9

maka akan mempercepat proses kemunduran fisik, akan tetapi ada juga lansia

yang memiliki motivasi yang tinggi, maka kemunduran fisik pada lansia akan

lebih lama terjadi.

2. Lansia memiliki status

kelompok minoritas. Kondisi ini sebagai akibat dari sikap sosial yang

tidak menyenangkan terhadap lansia dan diperkuat oleh pendapat yang kurang

baik, misalnya lansia yang lebih senang mempertahankan pendapatnya maka

sikap sosial di masyarakat menjadi negatif, tetapi ada juga lansia yang mempunyai

tenggang rasa kepada orang lain sehingga sikap sosial masyarakat menjadi positif.

3. Menua membutuhkan perubahan peran.

Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami

kemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan

atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan. Misalnya

lansia menduduki jabatan sosial di masyarakat sebagai Ketua RW, sebaiknya

masyarakat tidak memberhentikan lansia sebagai ketua RW karena usianya.

4. Penyesuaian yang buruk pada lansia.

Perlakuan yang buruk terhadap lansia membuat mereka cenderung

mengembangkan konsep diri yang buruk sehingga dapat memperlihatkan bentuk

perilaku yang buruk. Akibat dari perlakuan yang buruk itu. membuat penyesuaian

diri lansia menjadi buruk pula.

Contoh: lansia yang tinggal bersama keluarga sering tidak dilibatkan untuk

pengambilan keputusan karena dianggap pola pikirnya kuno, kondisi inilah yang
10

menyebabkan lansia menarik diri dari lingkungan, cepat tersinggung dan bahkan

memiliki harga diri yang rendah.

2.1.4 Tipe Lanjut Usia

Tipe lansia dibagi menjadi lima tipe yaitu:

1. Tipe arif bijaksana

Yaitu kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan

perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana,

dermawan, memenuhi undangan dan menjadi panutan.

2. Tipe mandiri

Yaitu menganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam

mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.

3. Tipe tidak puas

Yaitu konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi

pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulitdilayani, pengkritik dan banyak

menuntut.

4. Tipe pasrah

Yaitu menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama dan

melakukan pekerjaan apa saja.

5. Tipe bingung

Yaitu mengasingkan diri, minder, menyesal, pasif dan acuh tak acuh
11

2.1.5 Perubahan Yang Terjadi pada Lanjut Usia

Banyak perubahan yang terjadi pada lansia. Adapun perubahan yang

terjadi pada lanjut usia:

1. Perubahan fisik

a. Kardiovaskuler

Kemampuan memompa darah menurun, elastisitsas pembuluh darah

menurun, dan meningkatnyaresistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan

darah meningkat.

b. Respirasi

Elastisitas paru menurun, kapasitas residu meningkat sehingga menarik

napas lebih berat, dan terjadi penyempitan bronkus.

c. Muskuloskeletal:

1. Penuaan Normal

Perubahan normal musculoskeletal terkait usia pada lansai

termasuk penurunan tinggi badan, redistribusi masa otot dan lemak

subkutan, peningkatan porositas tulang, atrfi otot, pergerakan yang lambat

pengurangan kekuatan dan kekakuan sendi-sendi

2. System skeletal

Ketika manusia mengalami penuaan jumblah massa otot tubuh

mengalami penurunan. Hilangnya lemak subkutan perifer cenderung untuk


12

mempertajam kontur tubuh dan memperdalam cekungan di sekitar kelopak

mata, aksila, bahu, dan tulang rusuk. Tonjolan tulang (vertebra, krista

iliaka, tulang rusuk,scapula) menjadi lebih menonjol.

Salah satu tulang yang mengalami perubahan adalah tulang

subkondral, daerah yang memiliki dampak besar akibat tekanan yang

terjadi dari berbagai arah. Proses kerusakan tulang pada OA berlangsung

secara prorgresif hingga tulang yang awalnya terlindungi oleh tulang

rawan menjadi terekspos. Hilangnya proteksi kartilago menyebabkan

gesekan terus menerus dengan tulang lain pada persendian tersebut.

Gesekan berulang-ulang ini memberikan tekanan berlebih pada tulang dan

akhirnya kemampuan biomekanik tulang menjadi tidak adekuat. Hal ini

mendorong tulang subkondral untuk meningkatkan vaskularisasi dan

proliferasi sel, sehingga terjadi penebalan.

3. System Muskular

Kekuatan muscular mulai merosot sekitar usia 40 tahun, engan

suatu kemunduran di percepat pada usia 60 tahun. Perubahan gaya hidup

dan penurunan penggunaan system neuromuscular adalah penyebab utama

untuk kehilangan kekakuan otot. Kerusakan otot terjadi karena penurunan

jumlah serabut otot atrofi secara umum pada organ dan jaringan tubuh.

Regenerasi jaringan otot melambat dengan penambahan usia, dan jaringan

atrofi di gantikan oleh jaringan fibrosa .

Perlambatan, pergerakan yang kurang aktif dihubungakan dengan

perpanjangan waktu kontaksi otot, periode laten, dan periode relaksasi dari
13

unit motor dalam jaringan otot. Sendi-sendi seperti pinggul, lutut, siku,

pergelangan tangan, leher, dan vertebra menjadi sedikit fleksi pada usia

lanjut. Peningkatan disebabkan oleh perubahan dalam kolumna vertebralis,

ankilosis (kekakuan) ligamen dan sendi, penyusutan dan sclerosis tendon

dan otot, dan perubahan degeneratif sistem ekstrapiramidal.

4. Sendi

Pada sendi, suatu jaringan tulang rawan yang biasa disebut dengan

nama kartilago biasanya menutup ujung-ujung tulang penyusun sendi.

Suatu lapisan cairan yang disebut cairan sinovial terletak di antara tulang-

tulang tersebut dan bertindak sebagai bahan pelumas yang mencegah

ujung-ujung tulang tersebut bergesekan dan saling mengikis satu sama

lain.

Osteoartrirtis biasanya terjadi pada sendi lutut, paha dan tulang

belakang karena merupakan sendi penyangga berat badan. Terkadang juga

dapat terjadi pada sendi di tangan. Sendi terdiri dari tulang rawan,

substansi yang berperan menjadi bantal antar dua tulang. Pada OA, tulang

rawan tidak dapat lagi menjadi bantal, sehingga kedua tulang akan

bergesekan saat Anda bergerak, menyebabkan sendi menjadi bengkak dan

nyeri.

d. Gastrointestinal

Esophagus membesar, asam lambung menurun, lapar menurundan

peristaltik menurun.
14

e. Persyarafan

Saraf panca indra mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat

dalam merespon.

f. Vesika urinaria

Otot-otot melemah, kapasitasnya menurun, dan retensi urin.

g. Kulit

Keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Elastisitas menurun,

vaskularisasi menurun, rambut memutih dan kelenjar keringat menurun.

2. Perubahan social

Perubahan fisik yang dialami lansia seperti berkurangnya fungsi indera

pendengaran, pengelihatan, gerak fisik dan sebagainy menyebabkan gangguan

fungsional, misalnya badannya membungkuk, pendengaran sangat berkurang,

pengelihatan kabur sehingga sering menimbulkan keterasingan. Keterasingan ini

akan menyebabkan lansia. semakin depresi, lansia akan menolak untuk

berkomunikasi dengan orang lain (Darmajo, 2009 dalam (Kartikasari et al., 2017).

3. Perubahan psikologis

Pada lansia pada umumnya juga akan mengalami penurunan fungsi

kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi.

pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan

perilaku lansia semakin lambat. Sementara fungsi kognitif meliputi hal-hal yang

berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi


15

menurun, yang berakibat lansia menjadi kurang cekatan (Nugroho, 2008 dalam

(Pranata et al., 2020).

2.1.6 Masalah Penyakit Yang Sering dihadapi Oleh Lanjut Usia

Menurut Yankes Kemenkes RI (2018) Masalah-masalah kesehatan yang

sering terjadi pada fansia berbeda dari orang dewasa, yang sering disebut dengan

sindroma geriatri yaitu kumpulan gejala-gejala mengenai kesehatan yang sering

dikeluhkan oleh para lanjut usia dan atau keluarganya (14 1) yaitu:

1. Immobility (kurang bergerak)

2. Instability (mudah jatuh)

3. Incontinence (beser BAB/BAK)

4. Intellectual impairment (gangguan intelektual/ demensia)

5. Infection (infeksi)

6. Impairement of hearing, vision and smell (gangguan

[Link] dan penciuman)

7. Isolation (Depression)

8. Inanition (malnutrisi))

9. Impecunity (kemiskinan)

10. latrogenic (menderita penyakit pengaruh obat-obatan)

11. Insomnia(sulit tidur)

12. Immuno-defficiency (penurunan sistem kekebalan tubuh)


16

13. Impotence(Gangguan seksual)

14. Impaction (sulit buang air besar)

2.2 Konsep Osteoarthritis

2.2.1 Definisi Osteoarthritis

Osteoartritis (OA) berasal dari bahasa yunani yaitu osteo yang berarti

tulang, arthro yang berarti sendi, dan itis yang berarti inflamasi, (OA) dikenal

sebagai penyakit sendi degeneratif merupakan penyakit yang paling umum terjadi

pada semua bentuk artritis, dan menyebabkan disabilitas dan nyeri pada lansia

atau usia dewasa, (OA) salah satu penyebab terbanyak kecacatan di negara

berkembang. Osteoartritis biasanya menimbulkan terjadinya kekakuan dan

peradangan pada persendian yang ditandai dengan kerusakan rawan sendi

sehingga dapat menyebabkan nyeri pada sendi tangan, punggung, pinggang, dan

yang paling sering adalah pada sendi lutut (Abdurrachman et al., 2019)

Osteoarthritis merupakan penyakit sendi degeneratif yang paling sering

dijumpai dibandingkan dengan penyakit sendi yang lain, semua sendi dapat

terserang osteoarthritis, namun sendi yang paling sering terkena ialah sendi

penyokong berat badan. Berdasarkan kelompok usia, osteoarthritis primer paling

banyak terjadi pada kelompok usia 56-65 tahun. Osteoarthritis menjadi penyakit

di tingkat kedua setelah penyakit kardiovaskuler. Osteoarthritis sering disebut

penyakit sendi degeneratif yaitu kelainan pada kartilago yang mengalami

perubahan klinis, histologis, dan radiologis

Osteoartritis merupakan golongan rematik sebagai penyebab kecacatan

yang menduduki urutan pertama dan akan meningkat dengan meningkatnya usia,
17

penyakit ini jarang ditemui pada usia di bawah 40 tahun. Faktor umur dan jenis

kelamin menunjukkan adanya perbedaan frekuensi. Osteoarthritis lebih banyak

terjadi pada wanita dibandingkan dengan [Link] osteoarthritis biasanya

didasar kan pada anamnesis yaitu riwayat penyakit, gambaran klinis dari

pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologis. Anamnesis pada pasien

osteoarthritis lutut umumnya mengungkapkan keluhan-keluhan yang sudah lama,

tetapi berkembang secara perlahan, keluhan pasien meliputi nyeri sendi yang

merupakan keluhan utama yang membawa pasien ke dokter, hambatan gerakan

sendi, dan perubahan gaya berjalan. Frekuensi osteoarthritis sendi lutut lebih

banyak di alami pada wanita daripada pria. Obesitas juga dianggap faktor yang

meningkatan intensitas nyeri yang dirasakaan pasien Osteoarthritis lutut. Hal ini

menunjukan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoarthritis. Yang perlu

di ingat adalah masing-masing sendi mempunyai bio mekanik cedera dan

presentasi gangguan yang berbeda, sehingga peran faktor-faktor resiko

osteoarthritis tentu berbeda (Naqib & Dewati, 2018)

Jadi kesimpulannya, osteoarthritis merupakan penyakit rematik yang

umumnya terjadi pada orang lanjut usia dan mengalami degradasi dari tulang

rawan sendi. Osteoartritis menghasilkan rasa nyeri yang terjadi terus-menerus,

menurun atau terbatasnya fungsi dan rendahnya kualitas hidup. Nyeri yang timbul

akibat adanya kerusakan jaringan tulang rawan pada daerah sendi merupakan

masalah utama musuloskeletal khususnya bagi lansia. Selain nyeri, kerusakan

pada sendi juga mengakibatkan kekakuan sehingga mengganggu fungsi

pergerakan. Pada orang yang mengalami osteoartritis terjadi penipisan hingga

mengelupasnya tulang rawan sendi sehingga pada saat terjadi penekanan atau
18

gesekan pada permukaan sendi terdapat nyeri dikarenakan adanya benturan antara

tulang dengan tulang yang dapat mengiritasi ujung saraf pada permukaan sendi.

Adanya nyeri lutut ini menyebabkan seseorang atau penderita osteoartritis takut

untuk melakukan aktivitas atau gerakan sehingga menurunkan kualitas hidupnya.

2.2.2 Klasifikasi Osteoarthritis

Berdasarkan penyebabnya, OA dibagi menjadi OA primer dan OA

sekunder. OA primer disebabkan oleh faktor degenerasi artikular tanpa adanya

kelainan bawaan yang mendasari(idiopatik), sedangkan OA sekunder disebabkan

oleh trauma atau kelainan bawaan yang mendasari, seperti adanya kelaianan

metabolic, endokrin, inflamasi, pertumbuhan, mikro dan makro trauma, imobilitas

yang terlalu lama dan lain-lain (Paerunan et al., 2019).

Berdasarkan lokasi OA sendi yang terkena ;


Tabel 2.1 Klasifikasi Osteoarthritis

Lokasi OA Tanda
OA tangan Nodus Heberden dan Bouchard (nodal),
Artritis erosive interfalang, karpal-
metakarpal
OA kaki Haluks valgus, haluks rigidus, jari
kontraktur, talanovikulare
OA lutut Bony enlargement, genu valgus, genu
varus
OA di tempat lain Glenohumeral, akromioklavikular,
tibiotalar, sakroiliaka,
temporomandibular
OA koksa (panggul) Eksentrik (superior), konsentrik (aksial,
medial), difus (koksa senilis)
OA generalisata/ sistemik Meliputi 3 atau lebih daerah yang
tersebut di atas
19

2.2.3 Faktor Penyebab Osteoarthritis

a. Faktor usia

Usia menjadi salah satu faktor yang mampu mempertinggi risiko seorang

mengalami kondisi ini. Risiko penyakit osteoartritis menjadi lebih tinggi serta

rentan menyerang wanita yang sudah berusia di atas 50 tahun. Kondisi ini juga

lebih mudah terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause atau bisa

dikenal seorang yang sudah berhenti haid.

b. Berat badan
Selain usia, kondisi tubuh dan berat badan seorang ternyata bisa

mempertinggi risiko osteoartritis menyerang. Penyakit ini dianggap lebih mudah

menyerang orang yang memiliki berat badan berlebih alias obesitas. Itu terjadi

karena semakin besar berat badan seseorang, maka semakin tinggi beban pada

sendi, sehingga risiko penyakit tulang pun menjadi lebih tinggi.

c. Faktor keturunan
Faktor genetika atau biasa disebut faktor keturunan ternyata juga

berpengaruh. Karena secara genetika dari salah satu atau kedua orangtua. Dengan

kata lain, yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit osteoarthritis yang

berrisiko lebih tinggi mengalami penyakit yang sama.

d. Pernah mengalami cedera


Cedera pada sendi yang tidak ditangani dengan tepat bisa menyebabkan

penyakit lain, salah satunya osteoarthritis. Karena yang pernah atau sedang

mengalami cedera pada sendi adalah salah satu faktor risiko penyakit ini. Selain
20

itu, juga lebih mudah terjadi pada orang yang sebelumnya pernah menjalani

operasi pada seputar sendi.

e. Aktivitas fisik
Tingkat aktivitas fisik seseorang nyatanya juga berpengaruh pada

risiko penyakit tulang. karena orang yang bekerja dan memiliki aktivitas fisik

tinggi dapat menyebabkan tekanan yang besar pada titik tertentu secara terus-

menerus yang kemudian meningkatkan risiko penyakit tulang menyerang. Oleh

karena itu, sebaiknya hindari kebiasaan memaksakan diri saat beraktivitas, agar

tulang dan sendi terhindar dari gangguan.

2.2.4 Patofisiologi Osteoarthritis

Faktor penyebab :
1. Primer
2. Sekunder

Perubahan biomeikal dan


biokimia tulang

Fraktur tulang Perubahan Respon Terjadinya fibrosis pada


subkrondal kolagen permukaan tulang rawan

Pembentukan Pengikisan pada tulang


osteofit rawan

Perubahan matriks dan


kerusakan struktur Respons inflamasi pada
sinovial
(perubahan kartilago)

Osteoarthritis
21

Fase 1 Pada awalnya Proteolisis pada matriks tulang rawan terjadi .

Proteolisis ini adalah suatu proses hancurnya protein baik di dalam matrix

maupun sel tulang rawan (kondrosit) yang diduga karena gabungan dari berbagai

macam faktor resiko dan beberapa proses fisiologis. Karena inilah kartilago atau

tulang rawan pada persendian menipis

Fase 2 Di fase atau tahap kedua ini, pengikisan pada permukaan tulang

rawan persendian mulai terjadi secara signifikan. Karena pengikisan ini, terjadilah

fibrosis pada permukaan tulang rawan persendian untuk menutupi tulang rawan

sendi yang terkikis. Genesis dari jaringan fibrosis ini juga disertai dengan adanya

pelepasan proteoglikan dan pecahan kolagen ke dalam cairan sinovia

Fase 3 Proses penguraian dari produk kartilago yang menginduksi respons

inflamasi pada sinovial. Produksi makrofag sinovia seperti interleukin 1 (IL-1),

Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α), dan prostaglandin menjadi meningkat.

Kondisi ini memberikan manifestasi awal pada persendian seperti nyeri dan secara

langsung memberikan dampak adanya destruksi pada kartilago. Molekul-molekul

proinflamasi lainnya seperti Nitric Oxide (NO) juga ikut terlibat. Kondisi ini

memberikan manifestasi perubahan arsitektur sendi dan memberikan dampak

terhadap pertumbuhan tulang akibat stabilitas sendi. Perubahan arsitektur sendi

dan stress inflamasi memberikan pengaruh pada permukaan artikular menjadi

kondisi gangguan yang progresif. Selain itu juga jaringan sendi yang terkikis

menyebabkan syaraf pada sendi terbuka sehingga syaraf pada sendi bergesekan

dengan jaringan sendi yang bertemu yang juga mengakibatkan nyeri


22

2.2.5 Manifestasi Klinis Osteoarthritis

Umumnya diagnosis Osteoarthritis lutut didasarkan pada kombinasi dari

manifestasi klinis dan kelainan pada temuan radiografi. Manifestasi klinis perlu

diperhatikan, karena tidak semua pasien dengan temuan Osteoarthritis lutut secara

radiografis mengeluarkan keluhan (Nur, 2009 dalam (Dinartika et al., 2019).

Terdapat empat diversifikasi utama Osteoarthritis lutut secara radiologis, yaitu:

1. Penyempitan rongga sendi

2. Pengerasan rawan sendi

3. Pembentukan kista di rawan sendi

4. Pembentukan osteofit.

Bila ditinjau bagaimana Osteoarthritis lutut terbentuk, Osteoarthritis lutut

dapat dibagi menjadi dua, Osteoarthritis lutut primer dan sekunder. Osteoarthritis

lutut primer adalah Osteoarthritis lutut yang penyebabnya tidak diketahui jelas,

oleh karena itu Osteoarthritis lutut primer dapat juga disebut Osteoarthritis lutut

idiopatik. Sedangkan Osteoarthritis lutut sekunder adalah Osteoarthritis lutut yang

dapat dikarenakan kelainan hormonal, imunologis, metabolik, pertumbuhan dan

imobilisasi secara kronis. Osteoarthritis lutut idiopatik memiliki prevalensi lebih

tinggi daripada sekunder (Arissa, 2012 dalam (Dinartika et al., 2019).

2.2.6 Komplikasi Osteoarthritis

Komplikasi dapat terjadi apabila Osteoarthritis lutut tidak ditangani

dengan serius. Terdapat dua macam komplikasi yaitu: Komplikasi Kronis


23

Komplikasi kronis berupa malfungsi tulang yang signifikan, yang terparah ialah

terjadinya kelumpuhan.

Komplikasi Akut

A. Osteonecrosis

B. Ruptur Baker cyst

C. Bursitis

D. Symptomatic Meniscal Tear (Guermazi et al, 2010 dalam (Paušek, 2017)

2.2.7 Penatalaksanaan Osteoarthritis

Tujuan pengobatan pada pasien Osteoarthritis lutut adalah untuk

mengurangi gejala dan mencegah terjadinya kontraktur atau atrofi otot.

Penanganan pertama yang perlu dilakukan adalah dengan memberikan terapi non-

farmakologis berupa edukasi mengenai penyakitnya secara lengkap, yang

selanjutnya adalah memberikan terapi farmakologis untuk mengurangi nyerinya

yaitu dengan memberikan analgetik lalu dilanjutkan dengan fisioterapi.

Penanganan Osteoarthritis lutut berdasarkan atas distribusinya (sendi mana yang

terkena) dan berat ringannya sendi yang terkena. Penanganannya terdiri dari 3 hal:

1) Terapi non-farmakologis

a. Edukasi

b. Terapi fisik dan rehabilitasi

c. Penurunan berat badan

d. Terapi kompres hangat jahe


24

2) Terapi farmakologis

a. Analgesik oral non-opiat

b. Analgesik topikal

c. NSAID

d. Chondroprotective

e. Steroid intra-artikuler

3) Terapi bedah

a. Malaligment, deformitas lutut Valgus-Varus dsb

b. Arthroscopic debridement dan joint lavage

c. Osteotomi

d. Artroplasti sendi total

2.3 Konsep Nyeri

2.3.1 Definisi nyeri

Nyeri adalah suatu sensasi yang disebabkan karena rusaknya jaringan, bisa

dikulit sampai jaringan yang paling dalam. International Association for the Study

of Pain, mendefinisikan nyeri sebagai suatu pengalaman sensori dan emosional

yang tidak menyenangkan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial atau

yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan. Pada umumnya

orang mempersepsikan bahwa nyeri adalah fenomena yang murni tanpa

mempertimbangkan bahwa nyeri juga mempengaruhi homeostatis tubuh yang


25

akan menimbulkan stres untuk memulihkan homeostasis tersebut (Melzack, 2009

dalam (Tama & Edyanto, n.d.).

2.3.2 Klarifikasi Nyeri

Menurut (Darmojo 2006 dalam (Maharani et al., 2016), berdasarkan pada

sifatnya nyeri dibagi menjadi dua, yaitu :

a) Nyeri tajam merupakan perasaan yang menyengat, rangsangannya sangat

cepat dijalarkan ke pusat. Biasanya terdapat di kulit dan tidak terus

menerus.

b) Nyeri tumpul merupakan rasa sakit di kulit sampai jaringan yang lebih

dalam, terasa menyebab dan lambat dijalarkan ke pusat dan sifatnya terus

menerus.

Sedangkan menurut derajatnya, nyeri dibagi dua, yaitu:

a. Nyeri akut adalah nyeri dengan onset segera dan durasi yang terbatas,

memiliki hubungan temporal dan kausal dengan adanya cedera atau

penyakit.

b. Nyeri kronik adalah nyeri yang bertahan untuk periode waktu yang

lama. Nyeri kronik adalah nyeri yang terus ada meskipun telah terjadi

proses penyembuhan dan sering sekali tidak diketahui

penyebabnya yang pasti

.
26

2.3.3 Proses Terjadinya Nyeri

Menurut (Ganong, 2008 dalam (Zahroh & Faiza, 2018). Perjalanan nyeri

termasuk suatu rangkaian proses neurofisiologis kompleks yang disebut sebagai

nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses komponen yang nyata

yaitu transduksi. transmisi, modulasi dan persepsi, dimana terjadinya stimuli yang

kuat diperifer sampai dirasakannya nyeri di susunan saraf pusat (cortex cerebri).

a. Proses Transduksi

Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung

saraf. Suatu stimuli kuat (noxion) fisik kimia, suhu dirubah menjadi suatu aktifitas

listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf perifer (nerve ending) atau organ-

organ tubuh (reseptor meisneri, merkel, corpusculum paccini, golgi mazoni).

Kerusakan jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya

menyebabkan sintesa prostaglandin, dimana prostaglandin inilah yang akan

menyebabkan sensitisasi dari reseptorreseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-

zat mediator nyeri seperti histamin, serotonin yang akan menimbulkan sensasi

nyeri. Keadaan ini dikenal sebagai sensitisasi perifer.

b. Proses Transmisi

Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses

transduksi melalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis,

dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh

tractus spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. Traktus

spinoretikularis terutama membawa rangsangan dari organ-organ yang lebih

dalam dan visceral serta berhubungan dengan nyeri yang lebih difus dan
27

melibatkan emosi. Selain itu juga serabut-serabut saraf disini mempunyai sinaps

interneuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan bermielin. Selanjutnya

impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di cortex cerebri dan dirasakan

sebagai persepsi nyeri.

c. Proses Modulasi

Proses perubahan transmisi nyeri yang terjadi disusunan saraf pusat

(medulla spinalis dan otak). Proses terjadinya interaksi antara system analgesik

endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu

posterior medulla spinalis merupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak.

Analgesik endogen (enkefalin, endorphin, serotonin, noradrenalin) dapat menekan

impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Dimana kornu posterior

sebagai pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk

analgesik endogen tersebut. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat

subjektif pada setiap orang.

d. Persepsi

Hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dari proses tranduksi,

transmisi dan modulasi yang pada akhimya akan menghasilkan suatu proses

subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri, yang diperkirakan terjadi pada

thalamus dengan korteks sebagai diskriminasi dari sensorik.


28

2.3.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Nyeri

Menurut peneliti bahwa setiap nyeri yang dirasakan oleh individu masing-

masing sangatlah berbeda-beda, sesuai dengan persepsi individu dalam merasakan

nyeri yang dialaminya, beradasarkan karena faktor faktor yang intensitas nyeri itu

sendiri (Smeltzer and Bare 2002 dalam (Slow et al., 2019). Penelitian Lukman

tersebut, menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri berasal dari usin,

perhatian, ansietas, makna nyeri, pengalaman masa lalu dan dukungan keluarga

dan sosial.

1. Usia

Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri, Pada orang

dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan

fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka

menganggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalua

mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan (Potter&Perry,

2005 dalam (Nurfitriani & Fatmawati, 2020). OA sangat banyak dideteksi

sebelum usia 40 tahun. Bertambahnya usia, insiden OA juga semakin meningkat.

Insiden meningkat tajam pada usia sekitar 55 tahun.

2. Perhatian

Menurut (Gil 1990 dalam (Putra et al., 2018) dalam Potter dan Perry

(2005) tingkat seorang memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat

mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan

nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi/relaksasi dihubungkan dengan

respon nyeri yang menurun.


29

3. Ansietas

Menurut (Gil 1990 dalam (Putra et al., 2018), hubungan antara nyeri dan

ansietas bersifat kompleks. Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri,

tetapi juga seringkali menimbulkan suatu perasaan ansietas.

4. Pengalaman masa lalu

Menurut (Priyanto 2009 dalam (Jayani & Ruffaida, 2020), seseorang yang

pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama

timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang

mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

5. Dukungan keluarga dan social

Dalam penelitian, peneliti menemukan dukungan keluarga dan sosial,

sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi nyeri. Dukungan keluarga dan

sosial sangatlah penting bagi individu yang mengalami nyeri, karena dengan

keadaan nyeri, seorang individu akan sangat bergantung kepada anggota keluarga

dan teman dekat, untuk memperoleh dukungan, bantuan dan perlindungan.

2.3.5 Dampak Pengaruh Nyeri

Nyeri yang terjadi pada lansia akan memiliki dampak fisiologis seperti

peningkatan respiration rate, vasokostriksi perifer, peningkatan gula darah,

peningkatan kekuatan otot, penurunan motilitas GI, dilatasi pupil, muka pucat,

nafas cepat, pernyataan verbal (menangis, mendengkur, meringis, menggigit bibir,

gelisah, imobilisasi, ketegangan otot, peningkatan gerakan tangan, menurunnya

kontak /interaksi social (fokus dengan nyeri, menghindari percakapan). Pada


30

lansia cenderung memendam rasa nyeri yang dialami, karena mereka menganggap

nyeri merupakan hal alamiah yang harus mereka jalani dan mereka takut kalau

mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan (Siti, 2017).

Nyeri yang dirasakan pasien akan berdampak pada fisik, perilaku, dan aktifitas

sehari-hari ([Link], 2013) dalam (Siti, 2017):

a. Dampak fisik

Nyeri yang tidak ditangani dengan adekuat akan mempengaruhi system

pulmonary, kardiovaskuler, edokrin, dan imunologik. Nyeri yang tidak

diatasi juga memicu stress yang akan berdampak secara fisiologis yaitu

timbulnya infark miokard, infeksi paru, dan ileus paralitik. Dampak ini

tentunya akan memperlambat kesembuhan pasien.

b. Dampak perilaku

Seseorang yang sedang mengalami nyeri cenderung menunjukkan respon

perilaku yang abnormal. Respon vokal individu yang mengalami nyeri

biasanya mengaduh, mendengkur, sesak napas hingga menangis. Ekspresi

wajah meringis, menggigit jari, membuka mata dan mulut dengan lebar,

menutup mata dan mulut, dan gigi yang bergemeletuk. Gerakan tubuh

menunjukkan perasaan gelisah, emosional, imobilisasi, ketegangan otot,

peningkatan gerakan jari dan tangan, gerakan menggosok dan gerakan

melindungi tubuh yang nyeri. Dalam melakukan interaksi sosial individu

dengan nyeri menunjukkan karakteristik menghindari percakapan,

menghindari kontak sosial, perhatian menurun, dan fokus hanya pada

aktifitas untuk menghilangkan nyeri.


31

c. Pengaruh terhadap aktifitas sehari-hari

Aktivitas sehari-hari akan terganggu apabila nyeri yang dirasakan sangat

hebat. Nyeri dapat mengganggu mobilitas pasien pada tingkat tertentu. Nyeri

yang dirasakan mengganggu akan mempengaruhi pergerakan pasien. Selain

itu nyeri juga dapat menganggu pola tidur.

2.3.6 Intensitas Nyeri

Menurut teori tentang persepsi nyeri individu yang berbeda-beda dalam

hal skala dan tingkatannya dijelaskan oleh Musrifatul dan Hidayat (2011). Tolak

ukur nyeri dapat menggunakan Visual Analogue Scale (VAS).

1. Indikasi:

Digunakan pada pasien dewasa dan anak berusia > 9 tahun yang

dapat menggunakan angka untuk melambangkan intensitas nyeri yang

dirasakannya.

2. Instruksi:

Pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan

dilambangkan dengan angka antara 0-10.

a) Visual Analogue Scale (VAS)

VAS merupakan alat pengukuran intensitas nyeri yang dianggap

paling efisien yang telah digunakan dalam penelitian dan pengaturan

klinis. Visual Analogue Scale (VAS) umumnya disajikan dalam bentuk

garis horisontal. Dalam perkembangannya VAS menyerupai NRS yang


32

cara penyajiannya diberikan angka 0 10 yang masing-masing nomor dapat

menunjukkan intensitas nyeri yang dirasakan oleh pasien..

b) Wong Baker Faces Pain Sca

1. Indikasi:

Pada pasien (dewasa dan anak > 3 tahun) yang tidak dapat

menggambarkan intensitas nyerinya dengan angka, gunakan instrumen ini.

2. Instruksi:

Pasien diminta untuk menunjuk / memilih gambar mana yang

paling sesuai dengan yang dirasakan. Tanyakan juga lokasi dan durasi

nyeri.

0-1 = sangat bahagia karena tidak merasa nyeri sama sekali

2-3 sedikit nyeri

4-5 cukup nyeri

6-7= lumayan nyeri

8-9 = sangat nyeri

10 = amat sangat nyeri (tak tertahankan)

Pada pasien dalam pengaruh obat anestesi atau dalam kondisi sedas

sedang, asesmen dan penanganan nyeri dilakukan saat pasien

menunjukkan respon berupa ekspresi tubuh atau verbal akan rasa nyeri

c) Asesmen ulang nyeri: dilakukan pada pasien yang dirawat lebih dari

beberapa jam dan menunjukkan adanya rasa nyeri, sebagai berikut:


33

1. Lakukan asesmen nyeri yang komprensif setiap kali melakukan

pemeriksaan fisik pada pasien

2. Dilakukan pada: pasien yang mengeluh nyeri, 1 jam setelah

tatalaksana nyeri, setiap empat jam (pada pasien yang sadar/

bangun),

3. Pada pasien yang mengalami nyeri kardiak (jantung), lakukan

penilaian ulang setiap 5 menit setelah pemberian nitrat atau obat- obat

intravena

4. Pada nyeri akut / kronik, lakukan asesmen ulang tiap 30 menit 1

jam setelah pemberian obat nyeri.

d) Derajat nyeri yang meningkat hebat secara tiba-tiba, terutama bila sampai

menimbulkan perubahan tanda vital, merupakan tanda adanya diagnosis

medis atau bedah yang baru (misalnya komplikasi pasca-pembedahan,

nyeri neuropatik).

2.3.7 Penatalaksanaan Nyeri

Menurut (Naqib & Dewati, 2018) usaha yang dilakukan untuk mengurangi

rasa nyeri bisa dilakukan dengan terapi farmakologi ataupun non farmakologi,

antaralain :

1. Farmakologis

a. Analgesik oral non-opiat

b. Analgesik topikal
34

c. NSAID

2. Non Farmakologis

a. Teknik relaksasi nafas dalam

b. Distraksi ( pengalihan selain nyeri )

c. Aromaterapi

d. Hipnoterapi

e. Teknik imajinasi terbimbing

f. Teknik rangsangan dan pijatan

g. Kompres hangat jahe

2.4 Kompres Hangat Jahe

2.4.1 Definisi Kompres Hangat Jahe

a) Definisi Kompres Hangat

Kompres adalah suatu terapi non-farmakologi yang tidak memiliki efek

samping yang dapat merugikan klien yang melakukannya (Samsudin. Kundre.

Onibala, 2016 dalam (Ipa & Di, 2017). Kompres dapat diberikan dalam keadaan

kering atau basah serta dingin atau hangat. Kompres hangat adalah suatu metode

dalam penggunaan suhu hangat setempat yang dapat menimbulkan beberapa efek

fisiologis antara lain cfek vasodilatasi, meningkatkan premeabilitas kapiler,

meningkatkan metabolisme seluler. merelaksasi otot, meningkatkan aliran darah

ke suatu area (Berman, 009 dalam (Ipa & Di, 2017). Kompres hangat juga banyak

kegunaannya salah satunya yang bertujuan untuk mengurangi nyeri dan kram otot

(Shim. 2014 dalam (Ipa & Di, 2017).


35

Kompres hangat dapat menurunkan nyeri karena terjadi proses vasodilatasi

pada pembuluh darah sehingga menyebabkan pelebaran pada pembuluh darah dan

meningkatkan aliran darah pada bagian yang mengalami nyeri. Penurunan

intensitas yang dirasakan oleh seseorang, dapat disebabkan adanya impuls -

impuls yang akan menekan rasa nyeri sehingga nyeri dapat berkurang. Impuls

tersebut adalah suhu hangat yang diberikan serta mengenai bagian yang terkena

Respon lokal terhadap panas terjadi melalui stimulasi ujung saraf yang berada di

dalam kulit. Stimulasi tersebut

b) Definisi Jahe

Jahe (Zingiber officinale rosc) merupakan salah satu jenis tanaman yang

termasuk kedalam suku Zingiberaceae. Nama “Zingiber” berasal dari bahasa

Sansekerta “Singabera” dan Yunani “Zingiberi” yang berarti tanduk, karena

bentuk rimpang jahe mirip dengan tanduk rusa. Officinale merupakan bahasa latin

dari “Officina” yang berarti digunakan dalam farmasi atau pengobatan

Nama ilmiah jahe adalah Zingiber officinale Rosc. Kata Zingiber berasal

dari bahasa Yunani yang pertama kali dilontarkan oleh Dioscorides pada tahun 77

M. Nama inilah yang digunakan Carolus Linnaeus seorang ahli botani dari Swedia

untuk memberi nama latin jahe . Tanaman jahe merupakan jenis tanaman rimpang

yang unik dan banyak dikenal karena banyak dimanfaatkan oleh manusia. Selain

itu, semua jenis jahe memiliki rasa yang khas berupa pedas hangat sehingga lazim

digunakan sebagai bumbu masakan atau pun digunakan sebagai bahan untuk

membuat minuman (Ferawati, 2017)


36

2.4.2 Kandungan Senyawa Kimia Jahe

Rimpang jahe memiliki kandungan vitamin A, B, C, lemak, protein, pati,

dammar, asam organik, oleoresin (gingerin), dan minyak terbang (zingeron,

zingerol, zingeberol, zingiberin borneol, sineor dan feladren). Selain itu rimpang

jahe juga mengandung minyak asiri dan oleoresin. Oleoresin merupakan

campuran resin dan minyak asiri yang diperoleh dari pelarut organik. Kandungan

minyak atsiri pada jahe emprit berkisar 1,5-3,5%. Minyak atsiri umunya berwarna

kuning, sedikit ketal, dan meruapakan senyawa yang memberikan aroma yang

khas pada jahe. Kandungan oleoresin pada jahe emprit berkisar 2,39-8,8% dan

kandungan air pada jahe 82% (Setyanigum HD dan Cahyo S, 2013 dalam (Keri

Lestari, 2021).

2.4.3 Manfaat Jahe

Kandungan jahe bermanfaat untuk mengurangi nyeri karena jahe memiiki

sifat pedas, pahit dan aromatic dari aleoresin seperti zingerol, gingerol dan

shogaol. Oleoresin memiliki potensi anti inflamasi dan antioksidan yang kuat.

Kandungan air dan minyak tidak menguap pada jahe berfungsi sebagai faktor

peningkat yang dapat meningkatkan premeabilitas oleoresin menembus kulit

tanpa menyebabkan iritasi atau kerusakan hingga ke sirkulasi perifer (Swarbrick

dan Boylan, 2002 dalam (Syapitri, 2018)


37

2.4.4 Indikasi dan Kontraindikasi Kompres Hangat Jahe

a. Indikasi Kompres Hangat Jahe

Menurut (Fanada, 2012 dalam (Santosa et al., 2017) indikasi kompres

hangat dengan jahe yaitu:

a) Spasme otot. Merelaksasi otot dan meningkatkan kontratilitas

b) Inflamasi. Meningkatkan aliran darah dan melunakkan eksudat.

c) Nyeri. Meredakan nyeri, kemungkinan dengan meningkatkan relaksasi

otot, meningkatkan sirkulasi, meningkatkan relaksasi psikologis, dan

merasa nyaman.

d) Tumor ganas terlokalisasi. Karena panas mempercepat metabolisme sel

pertumbuhan sel dan meningkatkan sirkulasi, panas dapat mempercepa

metastase (tumor sekunder).

e) Kaku sendi. Mengurangi kaku sendi dengan menurunkan viskositas

cairan sinovial dan meningkatkan distensibilitas jaringan.

b. Kontraindikasi Kompres Hangat Jahe

Menurut (Breman, et al, 2009 dalam (Santosa et al., 2017)

kontraindikasi kompres hangat dengan jahe yaitu :

a) Kehilangan sensasi, yang dapat disebabkan oleh cedera tulang belakang,

diabetes neuropati, kondisi medis lain atau menggunakan 36 beberapa

obatobatan. Kondisi ini dapat mengubah seseorang tidak dapat merasakan


38

nyeri dari aplikasi yang terlalu panas. Jangan letakkan sesuatu yang panas

di daerah yang mati rasa karena dapat menyebabkan kulit terbakar.

b) 24 jam pertama setelah cedera traumatik. Panas akan meningkatkan

perdarahan dan pembengkakan.

c) Perdarahan aktif. Panas menyebabkan vasodilatasi dan meningkatkan

perdarahan. Edema noninflamasi. Panas meningkatkan permeabilitas

kapiler dan edema

d) Tumor ganas terlokalisasi. Karena panas mempercepat metabolisme sel

pertumbuhan sel dan meningkatkan sirkulasi, panas dapat mempercepa

metastase (tumor sekunder).

2.3.5 Mekanisme kompres hangat dengan jahe

Kompres hangat dengan jahe, pertama-tama timbang jahe dengan

timbangan sampai 100gr, kemudian jahe diparut dan disimpan dipiring plastik,

tempelkan parutan jahe ke bagian sendi yang nyeri lalu tutup dengan plastik dan

diperekatkn dengan double tip, tunggu hingga 10-20 menit, jahe akan

menghasilkan rangsangan panas. Rangsangan panas yang dihasilkan oleh kompres

hangat dengan jahe akan meningkatkan suhu lokal pada kulit yang akan

mengakibatkan kulit menjadi pucat karena timbul vasokontriksi akan segera

diikuti vasokontriksi sehigga timbul kemerah-merahan. Apabila terjadi dilatasi

pembulu darah kulit maka hal ini akan diteruskan ke pembulu darah di jaringan

yang lebih dalam sehingga sirkulasi darah membaik. Membantu penyerapan zat

algogen mengaktifkan ion segera juga menurunkan aksi potensial dengan

menghambat serabut saraf Aβ sehingga nyeri berkurang.


39

Pada level spinal akan terjadi mild heating yang merangsang saraf afferent

Aβ dan propiceptor memblok A delta dan C di medula spinalis. Pengurangan

nyeri supra spinal terjadi panas tinggi merangsang hipotalmus menghasilkan

endorphin menurunkan nyeri. Efek pada jaringan kapsul meningkatkan kadar air

terjadi kelenturan kapsul ligamen dan fasia nyeri menurun, efek panas pada

jaringan otot rileksasi ketergantungan intra muskuler menurun dan mampu

mengatasi iskemik jaringan sehingga nyeri menurun (Anwar, 2012 dalam

(Nurlaila, 2017). Selain itu penggunaan kompres hangat dengan jahe memberikan

efek fisiologis dengan cara menurunkan nyeri sendi pada tahap tranduksi (proses

konversi) energi dari rangsangan noksius (suhu, mekanik, atau kimia) menjadi

energi lisrik (implus saraf) oleh reseptor sensorik untuk nyeri (nosiseptor), pada

tahapan ini jahe memiliki kandungan gingerol yang mengandung sikrooksigenase

yang bisa mengahambat terbentuknya prostaglandin sebagai mediator nyeri,

sehingga terjadi penurunan nyeri sendi. Sehingga jahe dapat digunakan sebagai

salah satu alernatif pengobatan non farmakologi untuk menurunkan nyeri (Izza,

2014 dalam (Kesehatan et al., 2020)

2.3.6 Pengaruh Kompres Hangat Jahe Terhadap Nyeri Osteoarthritis

2.3.7 Prosedur Pemberian Kompres Hangat Jahe

Alat Dan Bahan Penelitian

1. Jahe

2. Air hangat dengan suhu 37-40°C

3. Termometer air digital


40

4. Waslap

5. SOP kompres hangat kombinasi jahe

6. Lembar observasi

Prosedur Pelaksanaan

1. Tahap Persiapan

a. Persiapan pasien

1. Infrm consent ( tujuan, prosedur, dan efek samping tindakan)

2. Mengkaji kondisi klien

3. Atur posisi klien test.

b. Persiapan lingkungan

1. Jaga privasi klien

2. Beri tempat yang nyaman

2. Tahap Pelaksanaan

1. Siap kan jahe 100 gram. (belum di kupas)

2. Cuci jehe dengan air sampai bersih

3. Parut Jahe

4. Siapkan wadah dan isi dengan air hangat suhu 37-400Csecukup

nya

5. Masukan handuk kecil ke dalam air hangat tersebut kemudian

tunggu beberapa saat sebelum handuk di peras

6. Peraskan handuk kemudian tempelkan ke daerah sendi yang

terasa nyeri klien.


41

7. tambahkan parutan jahe di atas handuk tersebut.

8. Pengompresan dilakukan selama 20 menit. Setiap 3 menit waslap

dibasuh kembali dengan air hangat jahe

9. Setelah selasai bereskan semua peralatan yang telah dipakai.

2.5 Kerangka Konsep

Kerangka konseptual merupakan suatu uraian dan visualisasi tentang

hubungan atau kaitan antara konsep dan variabel-variabel yang diamati.

Kerangka konsep dalam penelitihan ini dapat di gambarkan seperti gambar

dibawah ini :

Penatalaksanaan Nyeri :

1. Terapi Farmakologi

2. Terapi
Nonfarmakologi :
Kompres Hangat Jahe

A. Tingkat Nyeri

B. Dampak Nyeri :

1. Fisiologis
Faktor penyebab 1. Nyeri
a. Ketidaknyamanan
Osteoartritis : dalam bergerak
2. Peradangan
b. Terbatasnya
1. Peningkatan Usia
3. Kekuatan Sendi aktifitas
[Link] 4. Penurunan c. Merasa ngilu atau
Flesebilitas Sendi kaku pada
3. Jenis kelamin
persendian
4. Kelainan Pertubuhan d. Kecemasan

5. Pekerjaan beban Berat e. Emosional

f. Depresi

g. Gangguan tidur
42

Keterangan :

: Tidak diteliti

: Diteliti

Uraian kerangka konsep:

Pada gambaran kerangka konsep diatas menjelaskan bahwa faktor-faktor

penyebab terjadinya osteoarthritis meliputi Peningkatan Usia, Obesitas. Jenis

Kelamin, Kelainan Pertumbuhan Tulang, Pekerjaan beban berat. Dari faktor

penyebab tersebut akan mengalami reaksi peradangan akibat kerusakan pada

kartilago yang menyebabkan penyempitan rongga sendi. Pada saat terjadi

peradangan akan mengalami kekakuan pada sendi dan penurunan fleksibilitas

sendi yang dapat menimbulkan rasa nyeri saat terjadi kekambuhan. Pada pasien

osteoarthritis biasanya akan mengalami rasa nyeri saat terjadi kekambuhan. Nyeri

di area sendi dapat diredakan menggunakan terapi farmakologi maupun non

farmakologi. Disini peneliti akan meneliti tentang pemberian terapi non

farmakologi yaitu kompres hangat kombinasi jahe. Dalam pemberian terapi

kompres hangat kombinasi jahe dapat menurunkan nyeri. Kompres hangat yang

memiliki manfaat efek vasodilatasi dan jahe yang memiliki kandungan gingerol,

shogaol, zingeron yang memiliki efek farmakologis yaitu panas dan pedas. Hal ini

dapat di manfaat kan untuk pasien ostcoarthritis yang bertujuan untuk merelaksasi

otot, meningkatkan premeabilitas kapiler, dan menurunkan nyeri.


BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Desain/Rancangan

Karya Tulis ini merupakan study kasus riset deskriptif ( case study

research) yang mengeksplorasi tingkat nyeri pada lansia yang mengalami

osteoarthritis. Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan tindakan

Kompres hangat dengan kombinasi jahe. Tindakan tersebut merupakan terapi

untuk lansia agar dapat mengetahui tingkatan nyeri. Selain tingkat nyeri

penelitihan ini juga mengamati dampak dari nyeri tersebut.

Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup pengkajian

satu unit penelitian secara intensif misalnya satu klien, keluarga, kelompok,

komunitas, atau institusi (Nursalam 2016).

Setelah kasus didefinisikan dengan jelas, peneliti menyelidiki mereka

secara mendalam, biasanya menggunakan beberapa metode pengumpulan data,

seperti wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi (Fitrah dan Lutfiyah

2017).

Penelitihan ini mencakup pengkajian yang dilakukan dengan cara

pengumpulan data melalui wawancara, observasi serta dokumentasi. Wawancara

dan lembar diobservasi yang diukur terlebih dahulu (pretest) untuk mengetahui

tingkat nyeri yang dialami klien. Setelah itu dilakukan kembali setelah diberi

tindakan kompres hangat dengan kombinasi jahe (posttest) untuk mengetahui

tingkatan nyeri dan dampak nyeri.

42
43

3.2 Subyek Penelitihan

Penelitihan ini mengambil dua responden dari lima lansia yang mengalami

osteoarthritis yang akan diamati secara mendalam serta melibatkan pengurus panti

untuk membantu saat melakukan penelitihan . Adapun kriteria sampel dibagi

menjadi 2 yaitu:

1. Kriteria Inklusi

Kriteria Inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu di penuhi

oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai (Notoadmodjo,

2012 dalam (Anggraini & Yanti, 2019). Kriteria Inklusi dari penelitian ini

yaitu:

a. Pasien bersedia menjadi responden penelitian dengan

menandatangani inform consent terlebih dahulu. Lansia laki-laki

maupun perempuan

b. Responden yang mengalami nyeri sedang sampai nyeri berat

c. Responden yang berumur 60-75 tahun.

d. Responden yang sedang tidak mengalami trauma, perdarahan

aktif dan kehilangan sensasi.

e. Responden yang tidak mengalami komplikasi


44

2. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat

diambil sebagai sampel (Notoadmodjo, 2012 dalam (Anggraini & Yanti,

2019). Kriteria eksklusi dari penelitian ini yaitu:

a. Responden yang berusia dibawah 60 tahun dan di atas 75 tahun.

b. Responden yang saat proses sedang berlangsung tiba-tiba

membatalkan karena suatu hal.

3.3 Lokasi dan Waktu Penelitihan

3.3.1 Lokasi

` Pada penelitihan ini dilakukan di Panti Jompo Griya Asih Lawang,

Kabupaten Malang yang memiliki sebayak 30 lansia yang tinggal di panti jompo

tersebut. Saat survey tempat terlihat kondisi layanan kesehatan disana sangat baik

dan para lansia disana sangat antusias untuk mejaga kesehatan dengan mengikuti

kontrol kesehatan dan senam rutin yang diadakan setiap pagi oleh panti tersebut.

3.3.2 Waktu Penelitihan

Waktu penelitihan dilakukan selama 2 minggu dengan kunjungan setiap 2

hari sekali sebanyak 6 kali selama masa perawatan.


45

3.4 Fokus Study dan Definisi Operasional

3.4.1 Fokus Study

Penelitihan ini berfokus pada perubahan nyeri tingkat nyeri pada lansia

yang mengalami osteoarthritis setelah dilakukannya tindakan kompres hangat

jahe. Pada penelitihan ini selain mengetahui tingkat nyeri juga mengetahui

dampak nyeri yang nantinya dapat memperkuat nilai dari skala nyeri yang dialami

subjek tersebut.

3.4.2 Definisi Operasional

Pada penelitihan ini merupakan tingkatan nyeri serta dampak nyeri pada

lansi osteoarthritis yang subyektif dan masing-masing individu berbeda presepsi.

Variabel pada penelitihan ini ialah perubahan tingkat nyeri pada lansia yang

nantinya di observasi serta wawancara secara verbal dan nonverbal. Yang di teliti

antara lain :

1. Tingkatan nyeri : Pada tingkatan nyeri ini sendiri di nilai menggunakan pqrst.

2. Dampak nyeri pada lansia osteoarthritis, antara lain :

a. Ketidaknyamanan dalam bergerak

b. Terbatasnya aktifitas

c. Merasa ngilu atau kaku pada persendian

d. Penurunan Skala Nyeri

e. Kecemasan

f. Emosional
46

g. Depresi

h. Gangguan tidur

3.5 Metode Pengumpulan Data

3.5.1 Instrumen Penelitian

Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka

harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan

instrumen penelitian. Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan

mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiono, 2017). Instumen

yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

a. Observasi

Pada observasi disini peneliti menggunakan verbal dan nonverbal dimana

dengan cara memberi pertanyaan sesuai target peneliti yang kemudian di

kombinasi dengan observasi secara objekti, dimana nanti peneliti melihat

bagaimana perilaku dan reaksi responden saat dilakukan tindakan dan wawancara.

b. Lembar wawancara

Pada wanwancara disini peneliti mengunakan dua metode yaitu secara

campuran dengan pengisian kuisioner yang telah disediakan kemudian dibantu

dengan peneliti melihat adanya perkembangan pada klien. Selain dua metode

tersebut peneliti juga menggunakan record yang kemudian diubah menjadi tulisan

agar dapat lebih spesifik mengetahui perubahan fisiologi dan psikologis dalam

memperkuat hasil dari skala nyeri klien.


47

3.5.2 Teknik Pengumpulan Data

Penelitihan ini melakukan pengamatan sebanyak 6 kali menggunakan

skala nyeri selama 2 minggu dengan proses yang sama disetiap pertemuan. Pada

pertemuan pertama peneliti sudah mengetahui klien yang mengalami osteoarthritis

menggunakan lembar karakteristik responden, selanjutnya melakukan pengukuran

nyeri sebelum tindakan kompres hangat jahe dengan VAS dan kemudian

diperkuat dari hasil observasi seperti aktifitas sehari-hari klien. Dilanjut dengan

melakukan tindakan tersebut. Setelah melakukan tindakan peneliti mengukuran

kembali tingkat nyeri tersebut didukung dengan adanya dampak pada nyeri

tersebut.

3.6 Analisa Data dan Penyajian Data

3.6.1 Analisa Data

Cara peneliti dalam menganalisa data yang di dapat yaitu dengan pertama-

tama memastikan bahwa semua data dan landasan teori yang diperlukan telah

diperoleh dengan baik. Lalu peneliti memulai menghitung jumlah data

berdasarkan kreteria sesuai yang akan dilakukan tindakan berdasarkan masalah

yang di ambil.

1. Pengumpulan data

Data dikumpulkan dari hasil WOD (wawancara, observasi,

dokumen). Hasil ditulis dalam bentuk catatan lapangan, kemudian disalin

dalam bentuk transkip (catatan terstruktur).


48

2. Mereduksi data

Data hasil wawancara yang terkumpul dalam bentuk catatan

lapangan dijadikan satu dalam bentuk transkip dan dikelompokkan

menjadi data subyektif dan obyektif, dianalisis berdasarkan hasil

pemeriksaan diagnostik kemudian dibandingkan nilai normal.

3. Penyajian data

Penyajian data dapat dilakukan dengan tabel, gambar, bagan

maupun teks naratif. Kerahasiaan dari klien dijamin dengan jalan

mengaburkan identitas dari klien.

4. Kesimpulan

Dari data yang disajikan, kemudian data dibahas dan

dibandingkan dengan hasil-hasil penelitian terdahulu dan secara teoritis

dengan perilaku kesehatan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan

metode induksi

3.6.2 Penyajian Data

Pada penelitian ini metode analisa yang digunakan adalah analisa

deskriptif, analisa deskriptif adalah suatu prosedur pengolahan data dengan

menggambarkan dan meringkas data secara ilmiah dalam bentuk narasi atau tabel

(Nursalam,2016).. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penyajian data

berupa :
49

a. Narasi

Pada penelitihan ini hasil dari observasi serta wawancara akan

ubah menjadi bentuk narasi. Narasi ini sendiri akan menjelaskan mengenai

sebelum tindakan hingga perkembangan fisiologis dan psikologis setiap

pertemuan selanjutnya pada klien. Kemudian dilanjutkan dengan

kesimpulan dari penelitihan ini.

b. Grafik

Penyajian dalam bentuk grafik garis dengan tujuan untuk mengetahui

perubahan skala nyeri secara spesifik pada masing-masing subjek di setiap

pertemuan.

c. Tabel

Penyajian dalam bentuk tabel dengan tujuan untuk mengetahui

tingkatan dan dampak nyeri pada masing-masing subjek di setiap

pertemuan.

3.7 Etika Penelitihan

Secara umum, prinsip etika dalam peenlitian/pengumpulan data dapat

diberikan menjadi tiga bagian yaitu prinsip manfaat, prinsip menghargai hak hak

subjek, dan prinsip keadilan (Nursalam, 2016).

1. Prinsip menghargai hak asasi manusia (respect human dignity)

a. Hak untuk ikut tidak menjadi responden (right of self determination)

Subjek harus diperlakukan secara manusiawi. Subjek mempunyai hak

memutuskan apakah mereka bersedia menjadi subjek ataupun


50

tidak,tanpa adanya sanksi apapun atan akan berakibatkan terhadap

kesembuhannya, jika mereka seorang klien.

b. Hak untuk mendapatkan jaminan dari perilaku yang diberikan (rightto

full disclosure) Seorang peneliti harus memberikan penjelasan secara

terperinci serta bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi kepada

subjek.

2. Prinsip keadilan (right to justice).

a. Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil (right in fair teratment)

Subjek harus diperlakukan secara adil baik sebelum, selama, dan

sesudah keikutsertaanya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi

apabila ternyata mereka tidak bersedia atau dikeluarkan dalam

penelitian.

b. Hak dijaga kerahasiannya (right to privacy) Subjek mempunyai hak

untuk meminta bahwa data yang diberikan harus dirahasiakan untuk

itu perlu adanya tanpa nama (anonymity) dan rahasia (confidentialy).


BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini di sajikan hasil mengenai penelitian kompres hangat jahe

terhadap perubahan fisiologis dan psikologis pada lansia yang mengalami

osteoarthritis di Panti Jompo Griya Asih Lawanng Kabupaten Malang. Jenis

penelitian ini adalah studi kasus dengan jumlah subyek 2 lansia yang mengikuti

terapi kompres hangat jahe di Panti Jompo Griya Asih Lawang Kabupaten

Malang. Pada bab ini di sajikan tentang gambaran umum penelitian, gambaran

umum responden dan hasil penelitian yang di sajikan dalam bentuk tabel, grafik,

dan narasi.

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Lingkungan Studi Kasus

Penelitian ini dilakukan di Panti Jompo Griya Asih Lawang, panti jompo

ini terletak di Kabupaten Malang tepatnya beralamat di Jalan Pramuka Rt 06 Rw

07 No.628 Ngarmato Kelurahan Lawang Kecamatan Lawang Kabupaten Malang

yang didirikan pada 5 juli 1994 dan dikelola saat itu juga. Panti Asuhan ini

memiliki 17 orang pengurus. Terdapat 33 orang penghuni lansia. Penghuni Panti

Jompo ini mulai dari umur 60 tahun keatas, dan rata-rata lansia disana berumur 80

tahun.

Gedung Panti Jompo Griya Asih Lawang tergolong bangunan permanen

dengan luas bangunan 6000 M₂ yang terdiri dari bangunan asrama panti jompo,

bangunan panti asuhan, aula, dan rumah dinas. Lantai pada panti jompo sudah

terpasang keramik tetapi bangunan panti jompo ini masih banyak yang belum

51
52

terselesaikan. Pada area Panti Jompo Griya Asih Lawang dibagi menjadi 14

kamar tidur. Dimana setiap kamar tidur itu sendiri berbeda ukuran dengan jumlah

tempat tidur yang berbeda-beda. Terdapat 6 kamar mandi, sumber air didapat dari

air sumber pegunungan dan 1 dapur berukuran 4x6 m2. Kegiatan rutinitas lansia

panti ini yaitu senam pagi, bermain, dan beribadah.

Dari observasi yang dilakukan peneliti didapat belum terdapat satu

wastafel yang hanya digunakan untuk pengurus panti. Toilet pada panti jompo

sudah termasuk toilet tertutup dan menggunakan leher angsa atau closet duduk

dengan penampungan akhir pada septi tank. Untuk makan, lansia di panti ini

dimasakan oleh pengurus panti, makanan tersebut dimakan bersama-sama di

ruang makan berukuran 4x6 m2. Tempat sampah di panti asuhan tergolong sedikit

3 buah diseluruh area panti jompo yaitu 2 buah tempat sampah terletak di depan

kamar mandi, dn 1 buah tempah sampah terletak di ruang makan serta belum

dibedakan antara sampah kering dan sampah basah, sebagian besar penghuni panti

membuang sampah makanan sembarangan tidak pada tempat sampah. Untuk

pembuangannya, sampah dibuang ke pekarangan panti jompo lalu dibakar.

4.1.2 Gambaran Umum Subjek Studi Kasus

a. Subjek 1

Subjek 1 Ny. M jenis kelamin perempuan, subjek merupakan anak kedua

dari tiga bersaudara. Subjek sendiri berumur 80 tahun, memiliki 3 orang anak dan

4 cucu. Sebelum berada di panti subjek adalah seoraang ibu rumah tangga. Subjek

tinggal di panti asuhan Griya Asih Lawang selama 6 tahun yaitu sejak tahun 2016

Alasan subjek masuk di panti jompo karena keluarga subjek memiliki kesibukan

masing-masing dan merasa tidak ada waktu untuk menjaganya. Selama subjek
53

tinggal di panti jompo keluarga masih sering menjenguk dan sesekali diajak

pulang kerumahnya. Berdasarkan hasil observasi dan informasi dari orang

disekitarnya subjek merupakan orang yang ceria, mudah bergaul dengan lansia

lainnya dan selalu aktif dalam kegiatan yang diadakan oleh panti. Kegiatan sehari-

harinya yaitu dari pagi subjek melakukan senam pagi meskipun dengan posisi

duduk, kemudian melakukan cek kesehatan rutin berupa tensi dan suhu,

selanjutnya bermain bersama dan setelah bemain subjek tidur siang atau hanya

tediam santai di kamar tidur dan sorenya beribadah bersama. Selain itu subjek

kesehariannya menggunakan alat bantu berjalan berupa tongkat kaki empat.

b. Subjek 2

Subjek 2 Ny.M jenis kelamin perempuan, subjek merupakan anak kedua

dari dua bersaudara. Subjek sendiri berumur 80 tahun, tidak pernah menikah dan

tidak memiliki seorang anak. Sebelum berada di panti subjek adalah seoraang

pemandu travel yang kemudian bekerja di luar negeri yaitu Belanda bersama

kakaknya ibu rumah tangga. Subjek tinggal di panti asuhan Griya Asih Lawang

selama 5 tahun yaitu sejak tahun 2017 Alasan subjek masuk di panti jompo karena

keluarga subjek merasa tidak ada yang mampu untuk [Link] subjek

tinggal di panti jompo keluarga hampir tidak pernah menjenguk karena berada di

luar negeri. Berdasarkan hasil observasi dan informasi dari orang disekitarnya

subjek merupakan orang yang ceria, mudah bergaul dengan lansia lainnya dan

selalu aktif dalam kegiatan yang diadakan oleh panti. Kegiatan sehari-harinya

yaitu dari pagi subjek melakukan senam pagi, kemudian melakukan cek kesehatan

rutin berupa tensi dan suhu, selanjutnya bermain bersama dan setelah bemain

subjek tidur siang atau merajut di kamar tidur dan sorenya beribadah bersama.
54

Subjek juga mengatakan memiliki trauma sendi yang terjadi sebelu berada di panti

“saya pernah jatuh waktu kerja jadi TKW ikut kakak saya di belanda, kemudian

saya di pulangkan ke indonesia karena kaki saya tidak bisa untuk jalan jadi tegang

terus itu kaki saya”

4.2 Fokus Studi Kasus

4.2.1 Tingkatan Nyeri Pada Lansia Osteoarthritis Setelah Dilakukan

Kompres Hangat Jahe

a. Subjek 1

Subjek mengalami adanya perubahan secara spesifik dari pertemuan ke-1

hingga petemuan ke-6 dalam skala nyeri. Subjek merasakan awalnya nyeri yang

dirasakan lebih dari 30 menit hingga berjam-jam dengan nyeri berupa cenat-cenut

dan tertusuk-tusuk jarum. Kemudian mengelami berubahan di setiap pertemuan

dengan durasi berbeda-beda dengan berada di skala 7. Pada pertemuan ke-2 nyeri

yang dirasakan menghilang sejenak yang kemudian nyeri datang dan terus-

menerus dengan berada di skala 6. Dilanjut dengan pertemuan ke-3 dan ke-4 nyeri

yang dirasakan subjek sedikit menurun, untuk yang berupa tusukan menjadi

hilang timbul dengan durasi saat timbul 15-20 menit dengan berada di skala 5.

Lalu pertemuan ke-5 dan ke-6 nyeri yang dirasakan sedikit menurun lagi dari

pertemuan sebelumnya, untuk yang berupa tusukan hilang timbul dengan durasi

timbul 10 menit dengan berada di skala 3. Dari data tersebut didukung dengan

PQRST pertemuan ke-6 :

P : subjek merasakan sesudah terapi kompres hangat jahe dapat menggerakan kaki
dan berjalan dengan rasa nyeri yang dapat ditahan.

“ya masih sama, tapi selesai di kompres saya bisa gerak tanpa cenut-cenut
banget, dan sakitnya saat jalan masih bisa saya tahan”
55

Q : subjek merasakan nyeri berupa cenut-cenut dan tertusuk-tusuk


“cenat-cenut dan di tusuk-tusuk”
R : subjek merasakan nyeri berada di kedua lutut
“sakitnya di kedua lutut saya ini”
S : Skala nyeri 3
T : subjek merasakan nyeri masih sama dengan pertemuan sebelumnya saat nyeri
berupa tusukan timbul dengan durasi 5-10 menit lalu hilang dan timbul lagi
“masih sama seperti kemarin sesuai yang mbak saranin saat tusuk-tusuk itu
datang saya lihat jam itu 10 menit sakit lalu hilang sakit lagi”

Grafik 4.1 Hasil Perubahan Tingkat Nyeri pada subjek 1 Sesudah Dilakukan
Terapi Kompres Hangat Jahe di Panti Jompo Griyah Asih Lawang
Pada grafik diaatas menggambarkan adanya penurunan sesudah

dilakukannya terapi kompres hangat jahe oleh subjek dari setiap pertemuan.

Dengan awal nyeri berada di skala berat yang kemudian pada pertemuan terakhir

atau disebut pertemuan ke-6 menjadi skala ringan. Subjek merasakan nyeri masih

sama dengan pertemuan sebelumnya saat nyeri berupa tusukan timbul dengan

durasi 10 menit lalu hilang dan timbul lagi. Dari data tersebut juga didukung

dengan subjek mengatakan :


56

Subjek 1 : “masih sama seperti kemarin sesuai yang mbak saranin saat tusuk-
tusuk itu datang saya lihat jam itu 5-10 menit sakit lalu hilang sakit
lagi”
b. Subjek 2
Subjek mengalami adanya perubahan secara spesifik dari pertemuan ke-1

hingga petemuan ke-6 dalam skala nyeri. Subjek merasakan awalnya nyeri yang

dirasakan 30 menit di setiap harinya dan saat bangun tidur di pagi hari nyeri

tersebut timbul hingga 60 menit dengan berada di skala 5. Kemudian mengelami

berubahan di setiap pertemuan dengan durasi berbeda-beda. Pada pertemuan ke-2

dan ke-3 nyeri yang dirasakan meredah yaitu timbul dengan durasi 25-27 menit

sedangkan saat bangun tidur nyeri yang dirasakan kurang lebih 30 menit dengan

berada di skala 4. Lalu pertemuan ke-4 nyeri yang dirasakan sedikit menurun lagi

dari pertemuan sebelumnya 15 menit saat timbul dengan berada di skala 3.

Sedangkan pada pertemuan ke-5 dan ke-6 nyeri yang dirasakan kembali

berkurang dengan durasi 5-10 menit saat timbul dengan berada di skala 2. Dari

data tersebut didukung dengan PQRST pertemuan ke-6 :

P : subjek merasakan nyeri berkurang dan dapat membuat kaki subjek lebih
nyaman dalam berjalan
“sama seperti kemarin itu nyeri nya berkurang dan membuat kaki saya
sekarang lebih enak kalau dibuat jalan”
Q : subjek merasakan nyeri berupa ngilu yang hilang timbul
“sakit nyeri atau ngilu yang hilang timbul”
R : subjek merasakan nyeri berada di lutut sebelah kiri dan paha sebelah kanan
“sakitnya di lutut kiri dan paha sebelah kanan saya ini”
S : skala nyeri 2
T : subjek merasakan nyeri masih sama seperti pertemuan sebelumnya, nyeri
timbul dengan durasi 5-10 menit.
“kan saya coba hitung lagi sama seperti kemarin kalau kambuh itu 5-10 menit
sakitnya, itu saya lihat pakai jam dinding di depan”
57

Grafik 4.2 Hasil Perubahan Tingkat Nyeri pada subjek 2 Sesudah Dilakukan
Terapi Kompres Hangat Jahe di Panti Jompo Griyah Asih Lawang
Pada grafik diaatas menggambarkan adanya penurunan sesudah

dilakukannya terapi kompres hangat jahe oleh subjek dari setiap pertemuan.

Dengan awal nyeri berada di skala sedang yang kemudian pada pertemuan

terakhir atau disebut pertemuan ke-6 menjadi skala ringan. Subjek merasakan

nyeri masih sama dengan pertemuan sebelumnya saat nyeri berupa ngilu timbul

dengan durasi 5-10 menit. Dari data tersebut juga didukung dengan subjek

mengatakan :

Subjek 2 : “kan saya coba hitung lagi sama seperti kemarin kalau kambuh itu 5-
10 menit sakitnya, itu saya lihat pakai jam dinding di depan”
4.2.2 Dampak Lansia Pada Lansia Osteoarthritis Setelah Dilakukan

Kompres Hangat Jahe

a. Subjek 1

1. Ketidaknyamanan dalam bergerak

Subjek mengalami adanya perubahan secara spesifik dari pertemuan ke-1

hingga petemuan ke-6 dalam bergerak,. Subjek merasakan awalnya tidak nyaman
58

dalam bergerak menjadi nyaman dalam bergerak pada pertemuan [Link]

terasa nyeri tetapi rasa tersebut masih dapat ditahan oleh subjek. Saat peneliti

memberi perintah pada subjek untuk mengayunkan kaki, subjek tampak dapat

melakukannya tanpa kesakitan. Dari data tersebut didukung dengan subjek

mengatakan :

Subjek 1 : “ya masih sama, tapi selesai di kompres saya bisa gerak tanpa cenut-
cenut banget, dan sakitnya saat jalan masih bisa saya tahan”

2. Terbatasnya Aktifitas

Subjek mengalami adanya perubahan secara spesifik dari pertemuan ke-1

hingga petemuan ke-6 dalam beraktifitas. Subjek merasakan awalnya sulit untuk

beraktifitas seperti mengikuti senam pagi yang rutin diadakan di panti tersebut.

Kemudian subjek mengalami peningkatan dalam beraktifitas pada pertemuan ke-

5. Subjek dapat beraktifitas yaitu mengikuti senam pagi dengan setengah lagu

dengan posisi berdiri menggunakan alat bantu yaitu tongkat kaki empat selain itu

subjek tampak dapat mengikuti terapi sensivitas telapak kaki dengan berjalan di

perbatuan yang posisinya mengelilingi kolam ikan. Dari data tersebut didukung

dengan subjek mengatakan :

Subjek 1 : “saya dapat mengikuti senam pagi hanya setengah lagu dengan posisi
berdiri menggunakan tongkat dan sekarang saya dapat mengikuti terapi
telapak kaki yang ada di kolam ikan depan”
3. Merasa ngilu atau kaku pada persendian

Subjek tidak mengalami adanya perubahan dari pertemuan ke-1 hingga

petemuan ke-6 mengenai jenis nyeri yang diirasakan. Subjek tetap merasakan

cenat-cenut dan tertusuk-tusuk pada lutut kakinya. Tetapi pada awalnya nyeri

tersebut terus-menerus dan pada pertemuan ke-4 subjek merasakan nyeri yang

berupa tusukan menjadi hilang timbul dan untuk nyeri yang berupa cenat-cenut
59

tetap terus menerus hingga pertemuan ke-6. Dari data tersebut didukung dengan

subjek mengatakan :

Subjek 1 : “cenut-cenutnya masih sama seperti kemarin tapi sekarang yang


ditusuk-tusuknya gak terusan jadi kayak ada gak ada gak gitu
dan tetap sakitnya di kedua lutut saya ini”
4. Kecemasan

Subjek mengalami adanya perubahan secara spesifik dari pertemuan ke-1

hingga petemuan ke-6 dalam kecemasan. Subjek yang awalnya mengalami

kecemasan karena nyeri yang dirasakan, membuat subjek sering jatuh dari tempat

tidur, disebabkan tidak bisa diam atau memposisikan badan dengan nyaman saat

hendak tidur dalam menahan rasa nyeri yang dirasakan. Kemudian pada

pertemuan ke-2 hingga ke-6 subjek tidak merasakan cemas dikarenakan setelah

dilakukannnya terapi kompres hangat jahe membuat subjek mengantuk dan segera

tidur siang. Data tersebut dibuktikan dari subjek mengatakan :

Subjek 1 : “kan setelah kompres itu ngantuk langsung tidur saya, jadi tidak
takut jatuh lagi meskipun tidrnya tidak lama tapi enak, tenang gitu”

5. Gangguan Pola Tidur

Subjek mengalami adanya perubahan secara spesifik dari pertemuan ke-1

hingga petemuan ke-6 dalam gaangguan pola tidur. Subjek yang awalnya

mengalami gangguan pola tidur dikarenakan rasa nyeri yang dirasakan. Subjek

merasakan tidak dapat tidur dengan nyenyak saat siang hari. Kemudian di

pertemuan ke-2 dan ke-3 subjek dapat tertidur dengan nyenyak meskipun hanya

sebentar saja. Dilanjut di pertemuan ke-4 hingga ke-6 subjek sering terbangun saat

malam hari tetapi jika nyeri hilang subjek dapat tertidur kembali. Data tersebut

dibuktikan dari subjek mengatakan :

Subjek 1 : “sesudah diakukan kemarin itu bisa tidur nyenyak siang nya tapi kalau
malam menggagu waktu tidur, saat tengah malam sakit gitu kalau
60

sakitnya berkurang dan masih bisa saya tahan saya tidur lagi”
6. Emosional

Subjek tidak megalami adanya gangguan emosional dan tanda-tanda

emosional pada subjek dari pertemuan ke-1 hingga petemuan ke-6. Selain secara

subjektif, subjek tidak menunjukan hal mengenai emosi, berkata kasar, bernada

tinggi saat bicara. Subjek selalu menunjukan sikap yang lembut, sopan dan selalu

senang jika dilakukan terapi maupun wawancara. Data tersebut dibuktikan dari

subjek mengatakan :

Subjek 1 : “tidak pernah emosi saya mbak”

7. Depresi

Subjek tidak megalami adanya gangguan depresi dan tanda-tanda depresi

pada subjek dari pertemuan ke-1 hingga petemuan ke-6. Selain secara subjektif,

subjek tidak menunjukan hal mengenai depresi, perasaan tidak senang saat

dilakukan terapi atau wawancara, terganggunya konsentrasi. Subjek selalu

menunjukan sikap yang ramah, berkonsentrasi saat di wawancara dan selalu

senang jika dilakukan terapi. Data tersebut dibuktikan dari subjek mengatakan :

Subjek 1 : “tidak pernah saya depresi itu mbak”

b. Subjek 2

1. Ketidaknyamanan dalam bergerak

Subjek mengalami adanya perubahan secara spesifik dari pertemuan ke-1

hingga petemuan ke-6 dalam bergerak,. Subjek merasakan awalnya tidak nyaman

dalam bergerak menjadi sedikit nyaman dalam bergerak pada pertemuan ke-4.

Meskipun terasa nyeri tetapi rasa tersebut masih dapat ditahan oleh subjek. Saat

peneliti memberi perintah pada subjek untuk mengayunkan kaki, subjek tampak

dapat melakukannya tanpa kesakitan. Selain itu pada pertemuan ke-4 subjek saat
61

bangun tidur di pagi hari subjek dapat langsung berjalan dengan jarak dekat

seperti tempat tidur menuju lemari pakaian subjek. Dilanjut pada pertemuan ke-5

dan ke-6 subjek saat bangun tidur dapat langsung berjalan menuju kamar mandi

dengan jarak 3 meter. Dari data tersebut didukung dengan subjek mengatakan :

Subjek 2 : “saya sekarang kalau bangun tidur bisa langsung jalan ke kamar mandi,
saya senang sekali meskipun masih sakit tetap bisa saya tahan sungguh
enak dan saya senang sekali ”
2. Terbatasnya Aktifitas

Subjek mengalami adanya perubahan secara spesifik dari pertemuan ke-1

hingga petemuan ke-6 dalam beraktifitas. Subjek merasakan awalnya kesulitan

untuk beraktifitas seperti senam pagi yang rutin diadakan di panti tersebut, setiap

harinya subjek melakukan senam pagi dengan posisi berdiri jika nyeri datang

subjek duduk kembali. Kemudian subjek mengalami peningkatan dalam

beraktifitas pada pertemuan ke-4 hinngga pertemuan Ke-6. Subjek dapat

beraktifitas yaitu mengikuti senam pagi dengan perlahan-lahan dengan posisi

berdiri hingga senam selesai Dari data tersebut didukung dengan subjek

mengatakan :

Subjek 2 : “sekarang saya bisa ikut senam saat pagi hari meskipun pelan-pelan
juga tapi saya bisa tahan berdiri sampai selesai senam”
3. Merasa ngilu atau kaku pada persendian

Subjek tidak megalami adanya perubahan dari pertemuan ke-1 hingga

petemuan ke-6 mengenai jenis nyeri yang diirasakan. Subjek tetap merasakan

nyeri atau ngilu pada lutut kaki kirinya dan paha atau lebih tepatnya bagian atas

lutut sebelah kanan. Tetapi pada awalnya nyeri tersebut hilang timbul cukup

sering timbul disetiap harinya dan pada pertemuan ke-4 subjek merasakan nyeri
62

yang hilang timbul tersebut berkurang waktu timbulnya di pertemuan ke--5 dan

ke-6. Dari data tersebut didukung dengan subjek mengatakan :

Subjek 2 : “sama, tetap hilang timbul dan sebentar waktunya”


4. Kecemasan

Subjek tidak megalami adanya gangguan kecemasan dan tanda-tanda

kecemasan pada subjek dari pertemuan ke-1 hingga petemuan ke-6. Selain secara

subjektif, subjek tidak menunjukan hal mengenai kecemasan, perasaan tidak

tenang saat dilakukan terapi atau wawancara, terganggunya pola tidur, sakit

kepala, merasa kebingungan. Subjek selalu menunjukan sikap yang tenang,

berkonsentrasi, dan selalu tersenyum saat di wawancara dan selalu senang jika

dilakukan terapi. Data tersebut dibuktikan dari subjek mengatakan :

Subjek 2 : “tidak pernah cemas mbak”

5. Gangguan Pola Tidur

Subjek tidak megalami adanya gangguan pola tidur dan tanda-tanda

kesulitan tidur pada subjek dari pertemuan ke-1 hingga petemuan ke-6. Selain

secara subjektif, subjek tidak menunjukan hal mengenai kesulitan pada pola tidur,

perasaan tidak tenang, lesu saat dilakukan terapi atau wawancara, mata merah,

sakit kepala. Subjek selalu menunjukan sikap yang tenang, berkonsentrasi, dan

selalu tersenyum ceria saat di wawancara dan selalu senang jika dilakukan terapi.

Data tersebut dibuktikan dari subjek mengatakan :

Subjek 2 : “tidak pernah mbak dan bikin ngantuk kemudian tadi tidur itu nyeyak
bau jahenya enak”

6. Emosional

Subjek tidak megalami adanya gangguan emosional dan tanda-tanda

emosional pada subjek dari pertemuan ke-1 hingga petemuan ke-6. Selain secara
63

subjektif, subjek tidak menunjukan hal mengenai emosi, berkata kasar, bernada

tinggi saat bicara. Subjek selalu menunjukan sikap yang lembut, sopan dan selalu

senang jika dilakukan terapi maupun wawancara. Data tersebut dibuktikan dari

subjek mengatakan :

Subjek 2 : “tidak pernah emosi mbak”

7. Depresi

Subjek tidak megalami adanya gangguan depresi dan tanda-tanda depresi

pada subjek dari pertemuan ke-1 hingga petemuan ke-6. Selain secara subjektif,

subjek tidak menunjukan hal mengenai depresi, perasaan tidak senang saat

dilakukan terapi atau wawancara, terganggunya konsentrasi. Subjek selalu

menunjukan sikap yang ramah, berkonsentrasi saat di wawancara dan selalu

senang jika dilakukan terapi. Data tersebut dibuktikan dari subjek mengatakan :

Subjek 2 : “tidak pernah saya depresi mbak”

4.3 Pembahasan

4.3.1 Tingkatan Nyeri Pada Lansia Osteoarthritis Setelah Dilakukan

Kompres Hangat Jahe

Hasil penelitian membuktikan bahwa hampir seluruh lansia di Panti Jompo

Griyah Asih Lawang mengalami osteorthritis yaitu nyeri pada bagian persendian

terutama bagian lutut dengan tingkat nyeri yang berbeda-beda di setiap

pertemuannya. Menurut (Anwar, 2012 dalam (Nurlaila, 2017) osteoarthritis

merupakan penyakit rematik yang umumnya terjadi pada orang lanjut usia dan

mengalami degradasi dari tulang rawan sendi. Osteoartritis menghasilkan rasa

nyeri yang terjadi terus-menerus, menurun atau terbatasnya fungsi dan rendahnya

kualitas hidup. Nyeri yang timbul akibat adanya kerusakan jaringan tulang rawan
64

pada daerah sendi merupakan masalah utama musuloskeletal khususnya bagi

lansia. Terapi kompres hangat jahe, karena kombinasi air hangat dan jahe dapat

menurunkan tingkat nyeri secara lebih cepat, dikarenkan jahe sendiri dapat

mempertahankan efek panas yang lebih [Link] menurut opini peneliti

kompres hangat jahe sendiri merupakan pengobatan non farmakologis yang

sangat efektif dan mudah untuk dibuat serta memiliki manfaat dalam menurunkan

tingkat nyeri pada lansia yang mengalami osteoarthritis.

4.3.2 Dampak Lansia Pada Lansia Osteoarthritis Setelah Dilakukan

Kompres Hangat Jahe

Hasil penelitian membuktikan bahwa hampir seluruh lansia di Panti Jompo

Griyah Asih Lawang mengalami osteorthritis yaitu dampak dari nyeri ini sendiri.

Sesudah dilakukannya terapi kompres hangat jahe adanya perubahan pada subjek

1 dan subjek 2. Seperti terbatasnya dalam bergerak, berktifitas kecemasan dan

gangguan pola tidur. Menurut [Link], 2013) dalam (Siti, 2017) nyeri yang

dirasakan pasien akan berdampak pada perasaan gelisah, emosional, imobilisasi,

ketegangan otot, peningkatan gerakan jari dan tangan, gerakan menggosok dan

gerakan melindungi tubuh yang nyeri. Dalam melakukan interaksi sosial individu

dengan nyeri menunjukkan karakteristik menghindari percakapan, menghindari

kontak sosial, perhatian menurun, dan aktivitas sehari-hari akan terganggu apabila

nyeri yang dirasakan sangat hebat. Nyeri dapat mengganggu mobilitas pasien pada

tingkat tertentu. Nyeri yang dirasakan mengganggu akan mempengaruhi

pergerakan pasien. Selain itu nyeri juga dapat menganggu pola tidur.
65

Sedangkan menurut opini peneliti kompres hangat jahe dapat menurunkan

tingkat nyeri yang mengakibatkan perubahan pada dampak nyeri pada lansia

osteoarthritis. Sedangkan menurut opini peneliti kompres hangat jahe dapat

mengurangi rasa nyeri, oleh karena itu akan berpengaruh pada dampak yang

dirasakan juga oleh kedua subjek. Seperti menurunkan kecemasan dan gangguan

pola tidur dikarenakan harum dari jahe yang dikeluarkan dapat membuat subjek

merasa tenang, lalu untuk emosional dan depresi mungkin dapat terjadi jika

penderita mengalami nyeri yang tidak tertahankan contohnya pada skala 10.

4.4 Keterbatasan Penelitiana

1. Mengubah sedikit dari SOP yang tersedia yaitu pada air hangat. Di SOP

tercantum bahwa air hangat yang digunakan suhu 37-40̊ C tetapi pada kedua

responden merasakan bahwa air tersebut kurang hangat. Akhirnya peneliti

menambahkan air panas hingga suhu 47̊ C dan responden merasakan bahwa

lebih nyaman dengan suhu air tersebut.


BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan hasil studi kasus dan pembahasan, mengenai

terapi kompres hangat jahe terhadap perubahan tingkat nyeri pada lansia yang

mengalami osteoarthritis di Panti Jompo Griya Asih Lawang Kabupaten Malang.

Peneliti dapat menyimpulkan bahwa terapi kompres hangat jahe merupakan

pengobatan nonfarmakologis yang efisien dan mudah di lakukan untuk mengatasi

nyeri pada penderita osteoarthrits. Karena kombinasi air hangat dan jahe dapat

menurunkan tingkat nyeri secara lebih cepat. Jahe sendiri dapat mempertahankan

efek panas yang lebih lama. Sebab dengan turunnya tingkat nyeri dapat membuat

penderita lebih mudah dalam bergerak maupun beraktifitas. Selain nyeri juga

dapat mengatasi kecemasan dan gangguan pola tidur. Karena jahe sendiri

memiliki aroma yang menenangkan apalagi dikalangan lansia yang sangat

menyukai aroma rempah-rempah.

5.2 Saran

1. Bagi Institusi Pendidikan Kesehatan

Dari hasil penelitihan ini dapat dijadikan bahan pembelajaran khususnya

dibidang keperawatan dalam pemberian pengobatan non farmakologi yaitu

manfaat kompres hangat jahe dalam perubahan tingkat dan dampak nyeri pada

lansia dengan osteoarthritis.

67
68

2. Bagi Panti Asuhan Griya Asih Lawang Kabupaten Malang

Bagi panti jompo diharapkan untuk menerapkan terapi kompres hangat

jahe bagi lansia-lansia yang mengalami osteoarthritis dan dapat di lakukan setelah

senam pagi. Karena pada saat selesai senam pagi lansia banyak yang mengeluh

sakit pada bagian lutut.

3. Responden

Bagi responden agar terus melanjutkan terapi kompres hangat jahe agar

nyeri yang dirasakan semakin turun dan lebih banyak melakukan kegiatan atau

aktifitas agar kaki subjek terbiasa untuk bergerak. Selain terapi subjek disarankan

tetap menjaga pola makan seperti menghindari makan-makanan yang memicu

nyei semakin meningkat.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebaiknya bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti terapi kompres hangat

jahe dengan menggunakan jenis jahe yang berbeda terhadap perubahan tingkat

dan dampak pada lansia yang mengalami osteoarthritis.


DAFTAR PUSTAKA

Abdurrachman, Handayani, D., & Ramadanti, D. D. (2019). Pengaruh Latihan


Isometrik terhadap Kemampuan Fungsional Lansia Penderita Osteoarthritis di
Desa Ambokembang. University Research Colluqium, 1030–1038.

Anggraini, S. N., & Yanti, N. F. (2019). Nyeri Sendi Lansia Dengan Arthritis
Gout Di Panti Sosial Tresna Werda Khusnul Khotimah Pekanbaru. Health
Care : Jurnal Kesehatan, 7(2), 69–76.

Budiman, N. T., & Widjaja, I. F. (2020). Gambaran derajat nyeri pada pasien
osteoarthritis genu di Rumah Sakit Royal Taruma Jakarta Barat.
Tarumanagara Medical Journal, 3(1), 168–173.

Dinartika, A., Purwanto, E., & Imamah, I. N. (2019). Pengaruh Senam Rematik
Terhadap Penurunan Nyeri Osteoartritis Pada Lansia di Panti Sosial Tresna
Werdha Nirwana Puri Samarinda. Husada Mahakam: Jurnal Kesehatan, 4(7),
410.

Ekasari, Mia Fatma, Ni Made Riasmini, dan Tien Hartini. 2019. Meningkatkan
Kualitas Hidup Lansia Konsep dan Berbagai Intervensi. Wineka Media.

Ferawati, F. (2017). Efektifitas Kompres Jahe Merah Hangat Dan Kompres Serai
Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Arthritis Remathoid Pada Lanjut Usia
Di Desa Mojoranu Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. Jurnal Ilmu
Kesehatan MAKIA, 5(1), 1–9.

Jayani, I., & Ruffaida, F. S. (2020). View metadata, citation and similar papers at
[Link]. Pengaruh Penggunaan Pasta Labu Kuning (Cucurbita Moschata)
Untuk Substitusi Tepung Terigu Dengan Penambahan Tepung Angkak
Dalam Pembuatan Mie Kering, 8, 274–282.

Kartikasari, B. D., Handini, F. S., A, M. P. P. P., Keperawatan, A., Waluya, P.,


Yulius, J., No, U., & Karakteristik, T. (2017). Pengaruh Emotional Freedom
Technique ( Eft ) Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Tidur Pada Lansia Usia
Sangat Berkaitan Dengan Merupakan Suatu Kondisi Dimana Seseorang
Tidak Tidur Dalam Tidur Periode Pada Berbagai Perubahan Akibat Proses
Menua Seperti Perubahan. 2(62).

Kesehatan, J. I., Husada, S., & Radharani, R. (2020). Warm Ginger Compress to
Decrease Pain Intensity in Patients with Arthritis Gout. 11(1), 573–578.
[Link]

Maharani, Y. V., Fatmawati, E., & Widyaningrum, R. (2016). Pengaruh


Aromaterapi Bunga Lavender ( Lavandula Angustifolia ) Terhadap Intensitas
Nyeri Haid ( Dismenore ) Pada. Jurnal Kesehatan Madani Medika, 7(1), 43–

69
70

49.

Masyhurrosyid, H., Kumboyono, & Wiji Utami, Y. (2016). Effect of Ginger Stew
Warm Compresses Against Subacute and Chronic Pain Levels In Elderly
with Knee Osteoarthtritis in Arjuna Public Health Center, Klojen Malang.
Majalah Kesehatan FKUB, 1, 39–44.

Nurfitriani, N., & Fatmawati, T. Y. (2020). Pengaruh Kompres Serai Hangat


terhadap Intensitas Nyeri Arthrtitis Rheumatoid pada Lanjut Usia di Panti
Sosial Tresna Werdha Budi Luhur. Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi,

Nurlaila, R. (2017). Pengaruh Terapi Kompres Air Hangat Dengan Jahe Terhadap
Penurunan Skala Nyeri Sendi Pada Wanita Lanjut Usia Di Graha Werdha
Maria Joseph Pontianak Dan Graha Werdha Kasih Bapa Kabupaten Kubu
Raya. Naskah Publikasi Univeritas Tanjungpura Pontianak, 14.

Paerunan, C., Gessal, J., & Sengkey, L. (2019). Hubungan Antara Usia dan
Derajat Kerusakan Sendi pada Pasien Osteoartritis Lutut di Instalasi
Rehabilitasi Medik RSUP Prof. Dr.R.D. Kandou Manado Periode Januari-
Juni 2018. Jurnal Medik Dan Rehabilitasi (JMR), 1(3), 1–4.

Paušek, K. (2017). Ultrasound in diagnosis of lesions in musculoskeletal system.


[Link]

Pranata, L., Indaryati, S., & Fari, A. I. (2020). Pendampingan Lansia Dalam
Meningkatkan Fungsi Kognitif Dengan Metode Senam Otak. Jurnal
Madaniyah, 1(4), 172–176.

Putra, R., Kusuma, F. H. D., & Widiani, E. (2018). Hubungan Intensitas Nyeri
Osteoartritis Dengan Tingkat Kecemasan Pada Lanjut Usia Di Puskesmas
Dinoyo Malang Ridho Putra 1) , Farida Halis Dyah Kusuma 2) , Esti Widiani
3 ). Nursing News, 3(1), 853–862.

Putri, S. Q. D., Rahmayanti, D., & Diani, N. (2017). Pengaruh Pemberian


Kompres Jahe Terhadap Intensitas Nyeri Gout Artritis Pada Lansia Di Pstw
Budi Sejahtera Kalimantan Selatan. Dunia Keperawatan, 5(2), 90.
[Link]

Santosa, I. M. E., Jaariah, A., & Arsani, M. (2017). Pengaruh Terapi Kompres
Hangat dengan Jahe Terhadap Perubahan Intensitas Nyeri pada Lansia yang
Menderita Arthritis Reumatoid di Panti Sosial Tresna Werdha Puspakarma
Mataram. Jurnal Prima, 2(1), 1–9.

Slow, P., Back, S., Terhadap, M., Nyeri, S., Pada, A., Di, L., Padu, U. P. T., &
Waipare, W. A. U. (2019). Pengaruh Slow Stroke Back Messase Terhadap
Skala Nyeri Arthritis Pada Lansia Di Upt Padu Wau Waipare Ns. Fransiska
Aloysia Mukin, [Link] Abstr. VI(1).
71

Sugiono. (2017). Metode Penelitian kuantitatif,kualitatif.

Sunaringsih Ika, Sri . Rosadi, R. (2018). Efektifitas Modalitas Latihan. Physiohs,


39–49. [Link] Drive/jurnal tentang oa lansia tugas skripsi/15180-
Article [Link]

Syapitri, H. (2018). Kompres Jahe Berkhasiat Dalam Menurunkan Intensitas


Nyeri Pada Penderita Rheumathoid Arthritis. Jurnal Mutiara Ners Januari,
1(1), 57–64.

Tama, W. N., & Edyanto, A. S. (n.d.). Nyeri pada individu lanjut usia : perubahan
fisiologis serta pilihan analgesik yang rasional. 53–59.

Taufandas, M., Rosa, E. M., Afandi, M., Magister, P., Universitas, K., &
Yogyakarta, M. (2018). 36 Jurnal Care Vol .6, No.1,Tahun 2018. Jurnal
Ilmiah Ilmu Kesehatan, 6 NO 1(1), 36–45.
[Link]

Yepi, Rosyidah, I., & Ningsih, R. (2018). Efektivitas Terapi Kompres Hangat
Rebusan Jahe Dengan Kompres Dingin Terhadap Tingkat Nyeri Lansia Yang
Mengalami Osteoarthritis. Borneo Cendekia, 2(9), 191–199.

Zahroh, C., & Faiza, K. (2018). Pengaruh Kompres Hangat terhadap Penurunan
Nyeri pada Penderita Penyakit Artritis Gout. Jurnal Ners Dan Kebidanan
(Journal of Ners and Midwifery), 5(3), 182–187.
Lampiran 1

72
Lampiran 2

73
Lampiran 3
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

(Informd Consent)

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :

Nama :

Jenis Kelamin :

Usia :

Alamat :

Setelah mendapat penjelasan dari peneliti serta mengetahui manfaat dan


tujuan penelitian yang berjudul “Tingkatan dan Dampak Nyeri Pada Lansia
Osteoarthritis Sesudah Dilakukan Kompres Hangat Jahe di Panti Jompo Griya
Asih Lawang”, maka saya menyatakan :

BERSEDIA / TIDAK BERSEDIA*)

Ikut serta sebagai subjek, dengan catatan bila sewaktu-waktu merasa


dirugikan dalam bentuk apapun berhak membatalkan persetujuan ini. Saya sudah
paham dari penjelasan yang diberikan peneliti. Saya percaya apa yang saya
sampaikan akan dijamin kerahasiaannya, surat persetujuan ini saya buat dengan
sukarela tanpaa ada unsur paksaan.

Saksi Responden

(................................) (................................)

*) Coret salah satu

74
Lampiran 4
SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Risky Rahma Sari Putri

NIM : P17220193031

Status : Mahasiswa Prodi D III Keperawatan Malang Poltekkes

Kemenkes Malang

Akan mengadakan penelitian berjudul “Tingkatan dan Dampak Nyeri Pada


Lansia Osteoarthritis Sesudah Dilakukan Kompres Hangat Jahe di Panti Jompo
Griya Asih Lawang”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tingkat
nyeri pada lansia yang mengalami osteoarthritis setelah diberi tindakan kompres
hangat jahe.

Bersama surat ini, saya sebagai peneliti memohon kesediaan Bapak/Ibu


untuk menjadi reponden pada penelitian ini. Peneliti menjamin tidak akan
menimbulkan kerugian bagi Bapak/Ibu sebagai responden, sebaliknya semoga
penelitian ini diharapkan meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan yang
diberikan kepada responden. Identitas serta informasi yangBapak/Ibu berikan
pada penelitian ini akan dijaga kerahasiaannya.

Demikian permohonan ini saya sampaikab, atas perhatian dan kerja sama
Bapak/Ibu peneliti mengucapkan terima kasih.

........................ 2021

Peneliti

Risky Rahma Sari Putri

NIM.P17220193031

75
Lampiran 5
KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. Nama :

2. Umur :

3. Jenis kelamin :

4. Berat badan :

5. Tinggi badan :

6. Pekerjaan sebelum berada dipanti :

7. Riwayat penyakit :

( ) Jangka panjang ( ) Jangka Pendek

Jelakan :

8. Riwayat pengobatan :

9. Trauma masa lalu pada sendi :

( ) Pernah ( ) Tidak Pernah

76
Lampiran 6
LEMBAR OBSERVASI DAN WAWANCARA
SEBELUM DILAKUKAN KOMPRES HANGAT JAHE
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Tanggal :
Pertanyaan!
1. Apakah anda pernah mengalami trauma pada persendian?
( ) YA ( ) Tidak
Jika YA Jelaskan :
2. Apakah anda pernah mengalami nyeri sendi sebelumnya?
( ) YA ( ) Tidak
Jika YA Jelaskan :
3. Apakah anda saat ini mengalami nyeri sendi?
( ) YA ( ) Tidak
Jika YA Jelaskan :
4. Bagaimana nyeri yang anda rasakan?
( ) Cenut-Cenut ( ) Hilang Timbul
( ) Terbakar ( ) Tertusuk-Tusuk
Jelaskan :
5. Didaerah mana nyeri yang anda rasakan?
Jawab :
6. Apakah nyeri tersebut menyebar di daerah lain :
( ) YA ( ) Tidak
Jika YA Jelaskan :
7. Berapa lama nyeri sendi timbul?
( ) 1-10 menit ( ) 20-30 menit
( ) 10-20 menit ( ) >30 menit
Jelaskan :

77
8. Apakah nyeri tersebut membuat anda sulit bergerak?
( ) YA ( ) Tidak
Jika YA Jelaskan :
9. Apakah nyeri tersebut mengganggu aktifitas anda sehari-hari?
( ) YA ( ) Tidak
Jika YA Jelaskan :
10. Apakah nyeri tersebut membuat anda merasa cemas?
( ) YA ( ) Tidak
Jika YA Jelaskan :
11. Apakah disaat anda merasa nyeri rasa emosional meningkat?
( ) YA ( ) Tidak
Jika YA Jelaskan :
12. Apakah disaat anda nyeri yang anda rasakan saat ini membuat anda depresi?
( ) YA ( ) Tidak
Jika YA Jelaskan
13. Apakah nyeri tersebut mengganggu anda disaat tidur?
( ) YA ( ) Tidak
Jika YA Jelaskan :

78
Lampiran 7

LEMBAR OBSERVASI DAN WAWANCARA

SESUDAH DILAKUKAN KOMPRES HANGAT JAHE

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin :

Tanggal :

Tindakan :

Pertanyaan!

1. Saat dilakukan kompres hangat jahe apa yang anda dirasakan?

Jawab :

2. Saat dilakukan kompres hangat jahe apakah anda merakan nyaman?

( ) YA ( ) Tidak

Jika tidak sebutkan alasannya :

3. Setelah dilakukan kompres hangat jahe apa yang anda rasakan?

Jawab :

4. Apakah terjadi kemerahan setelah dilakukan kompres hangat jahe?

( ) YA ( ) Tidak

5. Bagaimana nyeri yang anda rasakan setelah dilakukan kompres hangat jahe?

( ) Cenut-Cenut ( ) Hilang Timbul

( ) Terbakar ( ) Tertusuk-Tusuk

Jelaskan :

6. Apakah nyeri tersebut menyebar di daerah lain :

79
( ) YA ( ) Tidak

Jika ya sebutkan :

7. Berapa lama nyeri sendi timbul?

( ) 1-5 menit ( ) 25-30 menit


( ) 10-20 menit ( ) >30 menit
Jelaskan :

8. Apakah nyeri tersebut membuat anda sulit bergerak?

( ) YA ( ) Tidak

Jika YA Jelaskan :

9. Apakah nyeri tersebut mengganggu aktifitas anda sehari-hari?

( ) YA ( ) Tidak

Jika YA Jelaskan :

10. Apakah nyeri tersebut membuat anda merasa cemas?

( ) YA ( ) Tidak

Jelaskan :

11. Apakah disaat anda merasa nyeri rasa emosional meningkat?

( ) YA ( ) Tidak

Jika YA Jelaskan

12. Apakah disaat anda nyeri yang anda rasakan saat ini membuat anda depresi?

( ) YA ( ) Tidak

Jika YA Jelaskan

13. Apakah nyeri tersebut mengganggu anda disaat tidur?

( ) YA ( ) Tidak

Jika YA Jelaskan

80
Lampiran 8
PENGUKURAN SKALA NYERI

Numerical Rating Scale (NRS)

Instruksi: Pasien ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan


dilambangkan dengan angka antara 0-10

Skala 0-Tidak Nyeri

Skala 1-3 : Nyeri Ringan

Skala 4-6 : Nyeri Sedang

Skala 7-9 : Nyeri Berat

Skala 10 : Nyeri Sangat Berat

81
Lampiran 9
STANDARD OPERASIONAL PROSEDUR

KOMPRES AIR HANGAT REBUSAN JAHE

POLTEKKES KEMENKES MALANG


STANDARD OPERASIONAL PROSEDUR

KOMPRES HANGAT JAHE

Pengertian Pemberian Kompres Hangat di Bagian Sendi


yang Mengalami Nyeri

Indikasi 1. Nyeri.
2. Kaku sendi.
Tujuan 1. Mengurangi Nyeri dengan meningkatkan
relaksasi otot, meningkatkan sirkulasi,
meningkatkan relaksasi psikologis, dan
merasa nyaman.
2. Mengurangi kaku sendi dengan menurunkan
viskositas cairan sinovial dan meningkatkan
distensibilitas jaringan.
Persiapan Alat 1. Jahe
2. Air hangat dengan suhu 37-40°C
3. Termometer air digital
4. Waslap
5. Lembar observasi
Persiapan Pasien 1. Infrm consent ( tujuan, prosedur, dan efek
samping tindakan)
2. Mengkaji kondisi klien
3. Atur posisi klien
Persiapan Lingkungan 1. Jaga privasi klien
2. Beri tempat yang nyaman

Pelaksanaan 1. Siap kan jahe 100 gram.


2. Cuci jehe dengan air sampai bersih

82
3. Parut Jahe
4. Siapkan wadah dan isi dengan air hangat
suhu 37-400Csecukup nya
5. Masukan handuk kecil ke dalam air hangat
tersebut kemudian tunggu beberapa saat
sebelum handuk di peras
6. Peraskan handuk kemudian tempelkan ke
daerah sendi yang terasa nyeri klien.
7. tambahkan parutan jahe di atas handuk
tersebut.
8. Pengompresan dilakukan selam 20 menit
9. Setelah selasai bereskan semua peralatan
yang telah dipakai.
Evaluasi Evaluasi respons pasien dan kondisi luka bekas
tusukan

Dokumentasi Catat pada status pasien

([Link] 2021)

83
Lampiran 10
Hasil Observasi Dampak Nyeri Ke-1 Hingga Pertemuan Ke-6 yang Dilakukan Terapi Kompres Hangat Jahe di Panti Jompo

Griyah Asih Lawang

A. Subjek 1

84
Jenis P1 P2 P3 P4 P5 P6 Kesimpulan

Ketidak- “iya apalagi “ya masih sama, “sekarang tetap kalau “ya masih “ya masih Terdapat adanya
nyamanan buat jalan tapi selesai di kalau digerakin sama, tapi sama, tapi peningkatan dalam
dalam sangat sakit kompres saya digerakin bisa bisa tapi ya selesai di selesai di bergerak, subjek
Bergerak sekali, buat bisa gerak tanpa tapi ya gak gak yang kompres saya kompres saya merasakan nyaman
diam aja sakit” cenut-cenut yang bergerak bergerak bisa gerak bisa gerak dalam bergerak pada
banget, yang ekstrim” yang tanpa cenut- tanpa cenut- pertemuan ke-
sayangnya ekstrim” cenut banget, cenut banget, [Link] terasa
sebentar aja lalu dan sakitnya dan sakitnya nyeri tetapi rasa
sakit lagi buat saat jalan saat jalan tersebut masih dapat
jalan” masih bisa masih bisa ditahan oleh subjek.
saya tahan. saya tahan.
Terbatas- “iya kalau mau “ya itu cuma “masih sama “masih sama “saya dapat “sama, saya Terdapat adanya
nya ngapa-ngapain sebentar saja. susah kalau susah kalau mengikuti dapat peningkatan
Aktivitas sulit sekali, Jadi nya sakit lagi senam lagi senam senam pagi mengikuti aktivitas, subjek
membawa lagi dan gak bisa pagi itu” pagi itu” hanya senam pagi dapat melakukan
badan saya saja ikut senam, saya setengah lagu hanya setengah aktivitas pada
sulit dan untuk senam sambil dengan posisi lagu dengan pertemuan ke-5.
senam saya duduk” berdiri posisi berdiri
melaukannya menggunaka menggunakan
sambil duduk” n tongkat dan tongkat dan
sekarang sekarang saya
saya dapat dapat
mengikuti mengikuti
terapi telapak terapi telapak
kaki yang kaki yang ada
ada di kolam di kolam ikan
ikan depan” depan”

Merasa “iya kayak “sama, ya tapi “masih sama “cenut- “sama ya “sama ya Subjek masih
ngilu atau nyut-nyut gitu cenut-cenut itu cenut-cenut cenutnya seperti seperti merasakan cenat-
kaku pada dan kayak di hilang bentar gitu sama di masih sama kompres kompres cenut dan tertusuk-
persendian tusuk jarum” doang langsung tusuk-tusuk” seperti kemarin, kan kemarin, kan tusuk hingga
sakit lagi dan kemarin tapi cenut-cenut cenut-cenut pertemuan ke-6
“sakitnya di ditusuk-tusuk” “ tetap sekarang nya rasanya nya rasanya
kedua lutut saya sakitnya di yang sama dan sama dan yang
ini” “ tetap sakitnya kedua lutut85 ditusuk- yang ditusuk- ditusuk-tusuk
di kedua lutut saya ini” tusuknya gak tusuk itu itu jarang”
saya ini” terusan jadi jarang”
kayak ada “ tetap sakitnya
86
B. Subjek 2

87
Jenis P1 P2 P3 P4 P5 P6 Kesimpulan

Ketidak- “iya apalagi “masih sama “sama, tapi “tetap sulit “saya sekarang “sama seperti Terdapat adanya
nyamanan buat gerak itu tapi kalau lagi kalau kumat hanya saja kalau bangun kemarin, bisa peningkatan dalam
dalam sakit makanya kumat itu buat itu buat jalan bisa tidur bisa langsung jalan bergerak, subjek
Bergerak saya kalau jalan sakit tapi sakit tapi digerakan langsung jalan ke kamar merasakan nyaman
bangun tidur kalau di gerakin kalau di sedikit- ke kamar mandi kalau dalam bergerak pada
harus tiduran bisa sedikit- gerakin bisa sedikit mandi, saya baru bangun, pertemuan ke-4.
dulu soalnya sedikit” sedikit- padahal itu senang sekali sungguh enak
lutut saya sakit sedikit” kambuh meskipun dan saya
sekali” dan aneh masih sakit senang sekali”
nya waktu tetap bisa saya
bangu tidur tahan”
kaki saya
sakit tapi
bisa buat
jalan pelan-
pelan tapi
jalannya
tidak jauh”

Terbatas- “iya kalau pagi “sama seperti “masih sama “sekarang “sekarang saya “sama, saya Terdapat adanya
nya saya itu senaam sebelumnya susah kalau saya bisa bisa ikut bisa ikut senam peningkatan
Aktivitas pagi untuk susah senam lagi senam ikut senam senam pagi pagi, lalu kalau aktivitas, subjek
gerak susah jadi pagi kalau pagi itu” saat pagi dan setelah duduk lama dapat melakukan
kadang duduk sakitnya kambuh hari senam itu sakitnya hanya aktivitas pada
berdiri lagi ikut senam saya meskipun nyeri nya sedikit dan pertemuan ke-4
kalau senam” meskipun pelan-pelan datang hanya sebentar saja
berdiri, duduk juga tapi sebentar saja selain itu juga
lalu berdiri lagi saya bisa mungkin 5 masih bisa
tapi banyak tahan menitan lalu saya ditahan”
berdirinya berdiri hilang”
sekarang” sampai
selesai
88 senam”

Merasa “iya kayak tiba- “sama ya kadang “masih sama “ya sama “tetap hilang “sama, tetap Subjek masih
Hasil Observasi Tingkatan Nyeri Pada Pertemuan Ke-1 Hingga Pertemuan Ke-6 yang Dilakukan Terapi Kompres Hangat Jahe di

Panti Jompo Griyah Asih Lawang

A. Subjek 1

89
Jenis P1 P2 P3 P4 P5 P6 Kesimpulan

Skala P : “iya apalagi P : “buat jalan P : “sekarang P : P :“ya masih P :“ya masih Terdapat adanya
Nyeri buat jalan sakit sekali, buat kalau “sekarang sama, tapi sama, tapi penurunan skala
sangat sakit diam aja sakit” digerakin bisa kalau selesai di selesai di nyeri dari pertemuan
sekali, buat tapi ya gak digerakin kompres saya kompres saya ke-1 hingga
diam aja sakit” Q : “cenat-cenut yang bergerak bisa tapi ya bisa gerak bisa gerak pertemuan ke-6
dan di tusuk- yang ekstrim” gak yang tanpa cenut- tanpa cenut-
Q : “rasanya tusuk ” bergerak cenut banget, cenut banget,
nyut-nyut gitu Q : “cenat- yang dan sakitnya dan sakitnya
dan kayak di R : “sakitnya di cenut dan di ekstrim” saat jalan saat jalan
tusuk jarum” kedua lutut saya tusuk-tusuk ”
ini” masih bisa masih bisa
Q : “cenat- saya tahan” saya tahan”
R : “sakitnya di R : “sakitnya cenut dan
kedua lutut saya S : Skala nyeri 6 di kedua lutut di tusuk- Q : “cenat- Q : “cenat-
ini” T : “hilang saya ini” tusuk ” cenut dan di cenut dan di
S : Skala nyeri 7 sebentar terus S : Skala nyeri R :
tusuk-tusuk ” tusuk-tusuk ”
ditusuk-tusuknya 5
T : “ya kira- meredah tapi ya “sakitnya di R : “sakitnya R : “sakitnya di
kira lebih dari gitu bentar aja, T : “sama, kedua lutut di kedua lutut kedua lutut
setengah jam lansung sakit hilang saya ini” saya ini” saya ini”
malah berjam- lagi dan terusan sebentar pas S : Skala S : Skala nyeri S : Skala nyeri
jam” itu” selesai nyeri 5 3 3
kompres lalu
sakit lagi dan T : “sesuai T : “masih T : “masih
ya itu terusan yang sama seperti sama seperti
sakitnya” mbak kemarin kemarin
saranin sesuai yang sesuai yang
saat tusuk- mbak saranin mbak saranin
tusuk itu saat tusuk- saat tusuk-
datang tusuk itu tusuk itu
saya lihat datang saya datang saya
jam itu 15 lihat jam itu lihat jam itu
90 menit 10 menit 10 menit sakit
sakit lalu sakit lalu lalu hilang
hilang hilang sakit sakit lagi”
sakit lagi” lagi”
B. Subjek 2

91
Jenis P1 P2 P3 P4 P5 P6 Kesimpulan

Skala P :“iya apalagi P : “masih sama P : “sama, P : “agak P : “saya P : “sama Terdapat adanya
Nyeri buat gerak itu tapi kalau lagi tapi kalau berkurang sekarang kalau seperti kemarin penurun- an skala
sakit makanya kumat itu buat kumat itu buat lagi bangun tidur itu nyeri nya nyeri dari pertemuan
saya kalau jalan sakit tapi jalan sakit tapisakitnya bisa langsung berkurang dan ke-1 hingga
bangun tidur kalau di gerakin kalau didan jalan ke kamar membuat kaki pertemuan ke-6
harus tiduran bisa sedikit- gerakin bisa sekarang mandi, saya saya sekarang
dulu soalnya sedikit” sedikit- meskipun senang sekali lebih enak
lutut saya sakit sedikit” sakit bisa meskipun kalau dibuat
sekali” Q : “sakit nyeri buat jalan masih sakit jalan”
atau ngilu” Q : “sakit tapi ya tetap bisa saya
Q : “sakit nyeri nyeri atau pelan-pelan tahan” Q : “sakit nyeri
atau ngilu” R : “sakitnya di ngilu” atau ngilu”
lutut kiri dan gitu”
Q : “sakit
R : “sakitnya di paha sebelah R : “sakitnya Q : “sakit nyeri atau R : “sakitnya di
lutut kiri dan kanan saya ini” di lutut kiri nyeri atau ngilu” lutut kiri dan
paha sebelah dan paha ngilu” paha sebelah
kanan saya ini” S : Skala nyeri 4 sebelah kanan R : “sakitnya kanan saya ini”
saya ini” R : di lutut kiri
S : Skala nyeri 5 T : “nyeri yang “sakitnya di dan paha S : Skala nyeri
saya rasakan ini S : Skala nyeri lutut
T : “nyeri saya biasanya kan kiri sebelah kanan 2
4 dan paha saya ini”
ini lama bisa bangun tidur itu T : “kan saya
setengah jam 1 jam diam saja T : “sama ya sebelah
kanan saya S : Skala nyeri coba hitung
dan bangun sekarang jadi seperti 2 lagi sama
tidur itu lebih setengah jam kompres ini” seperti kemarin
lama mungkin saja diamnya kemarin” S : Skala T : “kan saya kalau kambuh
satu jam an” dan kalau kumat nyeri 3 coba hitung itu 5-10 menit
sakit nya tidak lagi kalau sakitnya, itu
sampai setengah T : “sesuai kambuh itu 5- saya lihat pakai
jam dan ya kira- yang mbak 10 menit jam dinding di
kira seperti itu saranin saat sakitnya, itu depan”
mbak 25-27 nyeri saya lihat
menit itu” kambuh pakai jam
saya lihat dinding di
jam itu depan”
kira-kira
kambuhnya
92 20 menit
lalu hilang”
93
Lampiran 11
Dokumentasi Kegiatan
a. Pertemuan pertama

Subjek 1 Subjek 2

Keterangan : melakukan pengisian lembar karakteristik responden dan lembar


observasi sebelum dilakukan kompres hangat jahe di pertemuan selanjutnya.

b. Pertemuan kedua

Subjek 1 dan Subjek 2

Keterangan : Melakukan tindakan kompres hangat jahe.

c. Pertemuan ketiga

Subjek 1 Subjek 2

94
Keterangan : Melakukan tindakan kompres hangat jahe

d. Pertemuan keempat

Subjek 1 Subjek 2

Keterangan : Melakukan tindakan kompres hangat jahe

e. Pertemuan kelima

Subjek 1 Subjek 2

Keterangan : Melakukan tindakan kompres hangat jahe

f. Pertemuan keenam

Subjek 1 Subjek 2

Keterangan : Melakukan tindakan kompres hangat jahe

95
Lampiran 12
LEMBAR KONSULTASI LTA
PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN MALANG

NAMA : Risky Rahma Sari Putri


NIM : P17220193031
JUDUL KTI : TINGKATAN DAN DAMPAK NYERI PADA LANSIA
OSTEORTHRITIS SETELAH DILAKUKAN KOMPRES
HANGAT JAHE DI PANTI JOMPO GRIYAH ASIH
LAWANG

NAMA PEMBIMBING : Agus Setyo Utomo, A, [Link]

TANDA TANGAN
NO. TANGGAL URAIAN
PEMBIMBING MAHASISWA

Bimbingan dan
1. 23 Agustus 2021 pengarahan melalui
WA Group
Konsultasi judul dan
2. 02 November 2021 Bab1 melalui WA
pribadi

3. 04 November 2021 Acc judul, Revisi Bab 1

Mengirimkan Bab 1
4. 16 November 2021 yang telah direvisi
melalui WA pribadi
Revisi Bab 1 dan lanjut
5. 25 November 2021
Bab 2-3
Konsul bab 1,2 dan 3
6. 26 November 2021
melalui WA pribadi
Acc Bab 2, Revisi Bab
7. 30 November 2021
3
Konsultasi Bab 1 dan 3
8. 20 Desember 2021 melalui luring.
Revisi Bab 1 dan 3

96
Acc Bab 1 dan 3
9. 27 Desember 2021
melalui luring.
Konsultasi lampiran.
10. 12 Januari 2022
Pengajuan Sempro
Konsultasi Bab 4 dan 5
11. 6 Juni 2022
melalui luring.
Revisi Bab 4 dan 5
12. 7 juni 2022
melalui luring.
Revisi Bab 4 dan 5,
13. 13 juni 2022 Revisi Lampiran
melalui luring.
Acc Bab 4 dan 5, Acc
Lampiran melalui
14. 14 Juni 2022
luring.
Pengajuan Semhas

Mengetahui,

Program Studi D-III Keperawatan Malang Pembimbing


Ketua,

[Link] Yudiernawati, [Link]., [Link]. Agus Setyo Utomo, A.,


[Link].
NIP.196605091991032001 NIP.197308072002121004

97

Anda mungkin juga menyukai