Disuruhnya nenek sihir jahat untuk mengutuk saudaranya menjadi keong mas.
Suatu hari, seorang nenek tua mencari ikan di sungai. Bukannya ikan yang ditangkap, justru seekor keong
mas yang didapat. Keong mas itu lantas dibawa pulang dan dipelihara dengan aman.
Esok harinya si nenek mencari ikan lagi. Nasib baik belum datang, si nenek pulang ke rumah dalam
keadaan lapar. Namun alangkah terkejutnya ia, ketika melihat banyak makanan telah terjadi di meja
makan.
Berkali-kali keajaiban ini terjadi. Hingga suatu si nenek berpura-pura pergi, lalu ia kembali dan mengintip.
Ternyata, keong mas yang didapatkan itu berubah wujud menjadi seorang putri yang cantik.
Di sisi lain, Pangeran Inu Kertapati bingung karena tunangannya telah hilang. Ia lantas menyamar
menjadi seorang rakyat jelat untuk mencari Putri Candra Kirana. Kakek Sakti kemudian memberitahu
sang pangeran bahwa sang putri berada di Desa Dadapan.
Pangeran Inu Kertapati akhirnya berhasil menemukan sang pujaan hati. Begitu mereka bertemu,
kekuatan sihir pun hilang. Pangeran lantas memboyong Putri Candra Kirani ke istana dan mereka hidup
bahagia selamanya.
5. Cerita rakyat Indonesia Lutung Kasarung dari Jawa Barat
Cerita rakyat menarik berjudul Lutung Kasarung berikut dikutip dari buku Seri Cerita Rakyat Balai
Pustaka: Lutung Kasarung, penerbit Balai Pustaka (2011).
Purbararang dan Purbasari adalah putri kerajaan di Jawa Barat. Meski bersaudara, sifat mereka berbeda.
Purbararang sombong dan pemalas. Sebaliknya, Purbasari amat ramah dan rajin.
Purbasari tak pernah menganggap dirinya putri raja. Dia bergaul dengan siapa saja, sekalipun dengan
rakyat jelata. Tak heran, rakyat mencintainya. Prabu Tapa, ayahnya pun tahu hal itu.
Saat Prabu Tapa semakin tua, beliau menyerahkan tahta pada Purbasari. Tentu saja, hal itu membuat
Purbararang berang. “Seharusnya aku, Ayah. Aku kan anak sulung.”
Prabu Tapa lalu menjelaskan dengan penuh kasih sayang, “Bukan masalah sulung atau bungsu. Ayah
memilih Purbasari karena melihat rakyat begitu mencintainya.”
Purbasari memerintah dengan bijaksana. Dia mewarisi segala kelembutan dan kebaikan hati ayahnya.
Purbararang amat jengkel. Dia masih tak terima. “Seharusnya, aku yang jadi ratu!” tekadnya.
Purbararang lalu merencanakan siasat jahat untuk Purbasari agar tahta kerajaan jatuh ke tangannya.
Suatu hari terdengar teriakan dari kamar Purbasari. Prabu Tapa dan Purbararang tergopoh-gopoh
mendatangi Purbasari. “Ya ampun, apa yang terjadi padamu?” tanya Prabu Tapa pilu.
Kulit tubuh Purbasari berbintik-bintik hitam. Sebagian di antaranya mengeluarkan nanah yang bau.
“Huhuhu, kenapa jadi begini?” Purbasari menangis tak mengerti. Melihat adiknya menangis,
Purbararang tak kasihan. Dia malah membujuk ayahnya untuk mengasingkan Purbasari.
“Ayah, jangan-jangan ini penyakit menular. Dia harus diasingkan! Ayah tak mau kan seluruh negeri
terserang penyakit mengerikan ini?”
Mendengar perkataan kakaknya, Purbasari semakin menangis. “Jangan asingkan aku, Ayah…” Prabu Tapa
bimbang. Apalagi tabib istana juga tak mengerti apa yang terjadi pada Purbasari.
“Purbararang benar. Jika ini penyakit menular, seluruh rakyat bisa terserang. Maafkan Ayah, Nak. Ini
untuk kebaikan semua orang.” Kata Prabu Tapa.
Akhirnya Purbasari diasingkan ke hutan. Di sana, patih istana membuatkannya sebuah rumah sederhana.
Hati Purbasari amat sedih. Namun, demi rakyatnya, ia akhirnya ikhlas.
Purbasari mulai menjalani hari-harinya di hutan. Walau tak ada yang bisa diajak berbicara, dia bisa
bercanda dengan burung, semut, dan kupu-kupu. Purbasari berusaha tetap ikhlas.
Suatu pagi, Purbasari sedang memetik bunga. Tiba-tiba dari atas pohon, ada hewan berayun-ayun. “Oh
ada lutung!” teriak Purbasari.
Lutung itu turun, lalu menyodorkan sebiji mangga pada Purbasari.
Purbasari amat senang. Kini ia punya teman. Meski tak bisa bicara, lutung itu amat mengerti Purbasari.
Dia membantu Purbasari mencari makanan.