LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA RESPIRATORY DYSTRESS SYNDROME (RDS)
DI RUANGAN PERINATOLOGI RSUD MOHAMMAD NATSIR SOLOK
SIKLUS 10 PRAKTEK KEBIDANAN KOLABORASI PADA KASUS PATOLOGI DAN
KOMPLIKASI TANGGAL 6 – 15 DESEMBER 2024
Disusun oleh :
PRETTY RIALIYENI AZIZKA
NIM : 2315901300
PROGRAM STUDI PROFESI BIDAN FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS FORT DE KOCK
TA. 2023/2024
LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA RESPIRATORY DYSTRESS SYNDROME DI
RUANGAN PERINATOLOGI RSUD MOHAMMAD NATSIR SOLOK
SIKLUS 10 PRAKTEK KEBIDANAN KOLABORASI PADA KASUS PATOLOGI DAN
KOMPLIKASI TANGGAL 6 – 15 DESEMBER 2024
Disusun oleh
PRETTY RIALIYENI AZIZKA
NIM : 2315901300
Mengetahui,
CI Klinik CI Akademik
Ns. Salmiati, S. Kep Bdn. Wahyuni, S. ST, M. Biomed
RESPIRATORY DYSTRESS SYNDROME
A. DEFENISI RDS
Respiratory Distress Syndrome (RDS) atau sindroma gagal nafas
merupakan istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada
neonatus. Sindroma gangguan pernafasan ini merupakan penyakit yang
berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru sehingga
jumlah surfaktan di dalam paru tidak adekuat (Rahardjo & Marmi, 2020).
Respiratory Distress Syndrome (RDS) dapat juga disebut dengan
nama Hyaline Membrane Disease (HMD) atau penyakit membran hialin.
Gejala dari dari penyakit RDS terdiri dari dispnea dan takipnea dengan
frekuensi pernafasan lebih dari 60x/menit, adanya sianosis, suara rintihan
pada saat melakukan eskpirasi dan otot pernafasan yang lemah. Penyakit ini
menyerang pada bayi preterm yang dimana sistem pernafasannya tidak
mampu melakukan pertukaran gas secara normal tanpa adanya bantuan
(Surasmi, 2020).
B. ETIOLOGI RDS
Penyebab terjadinya penyakit RDS dikarenakan kurangnya surfaktan,
yang dimana surfaktan tersebut adalah suatu zat aktif pada alveoli yang
dapat mencegah terjadinya kolaps paru. Menurut (Rahardjo & Marmi, 2020)
yang menjadi penyebab kegagalan pernafasan pada neonatus yaitu terdiri
dari faktor ibu, faktor janin, dan faktor persalinan.
1. Faktor Ibu
Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun
atau lebih dari 35 tahun, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit
pembuluh darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti
hipertensi, penyakit jantunng, diabetes mellitus, dan lain-lain.
2. Faktor Plasenta
Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta
kecil, plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya.
3. Faktor janin atau neonatus
Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit
leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, prematur, kelainan
kongenital pada neonatus dan lain-lain.
4. Faktor Persalinan
Faktor persalinan yang meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain-
lain.
C. KLASIFIKASI RDS
Menurut (Haryani dkk, 2021), klasifikasi RDS antara lain :
1. Sindrom gawat nafas klasik atau Classic Respiratory Distress Syndrome,
disebabkan karena kekurangan aerasi (underaration). Volume paru-paru
yang menurun, parenkim paru-paru yang memiliki polaretikulogranurer
difusi, dan terdapat gambaran bronkogram udara yang meluas ke perifer.
2. Sindrom gawat nafas sedang-berat atau Moderately Severe Respiratory
Distress Syndrome, polaretikulogranuler terlihat lebih menonkol dan
terdistribusi lebih merata. Paru-paru hypoaerated. Terlihat pada gambaran
bronkogram udara yang meningkat.
3. Sindrom gawat nafas berat atau Severe Respiratory Distress
Syndrom, terdapat retikulogranuler yang berbentuk opaque pada kedua
paru-paru
pada area cystic pada paru-paru kanan yang dapat menunjukkan alveoli yang
berdilatasi atau empisemaintertitial.
D. PATOFISIOLOGI RDS
Faktor terjadinya kegawatan nafas atau RDS pada bayi prematur
disebabkan oleh alveoli yang masih kecil sehingga sulit untuk mengembang.
Pengembangan yang kurang sempurna terjadi karena dinding dada yang
lemah dan kurangnya produksi surfaktan. Telah diketahui bahwa defisiensi
surfaktan merupakan faktor terpenting dalam terjadinya RDS. Surfaktan
dihasilkan oleh pneumosit tipe 2 yang terdiri dari 90% lipid dan 10% protein
pada usia gestasi 24 – 28 minggu dan mulai berfungsi aktif pada usia gestasi
34 – 35 minggu. Fungsi dari surfaktan yaitu untuk mengurangi tegangan
permukaan cairan yang melapisi alveolar dan mempertahankan integritas
struktural alveoli (Suminto, 2019).
Penurunan surfaktan menyebabkan peningkatan usaha nafas untuk
ekspansi paru pada setiap nafas dan meningkatkan kemungkinan kolaps
alveolar pada akhir ekspirasi. Pasien RDS biasanya akan mengalami
ketidaksesuaian antara ventilasi-perfusi yang akan berakhir menjadi
hipoksemia. Pada saat bernafas, stres pada alveoli dan bronkiolus terminalis
terjadi akibat dari usaha repetitif untuk membuka kembali alveoli yang
kolaps dan distensi yang berlebih pada alveoli yang terbuka. Tekanan
tersebut dapat merusak struktur paru sehingga terjadi kebocoran debris
proteinaseosa ke jalan nafas. Debris dapat semakin mengganggu fungsi
surfaktan sehingga akan menyebabkan gagal nafas (Suminto, 2019).
E. MANIFESTASI KLINIS RDS
Klasifikasi RDS menurut (Hidajat & Firdaus, 2019) , antara lain :
1. Peningkatan frekuensi nafas > 60x/menit
2. Pernafasan dangkal
3. Retraksi antar iga atau dada setiap kali bernafas
4. Nafas cuping hidung setiap kali bernafas
5. Apnea atau henti nafas
6. Suara merintih pada saat ekspirasi
Tabel 2.1
Respiratory Distress Score Downe
0 1 2
Frekuensi Nafas < 60x/menit 60 – 80x/menit > 80x/menit
Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat
Sianosis Tidak sianosis Sianosis hilang Sianosis menetap
dengan O2 walaupun
diberikan O2
Air Entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara
udara masuk masuk
Merintih Tidak merintih Merintih terdengar Merintih terdengar
dengan stetoskop tanpa stetoskop
Tabel 2.2
Keterangan Respiratory Distress Score
Skor Kondisi
Skor < 4 Gangguan pernafasan ringan
Skor 4 – 5 Gangguan Pernafasan Sedang
Skor > 6 Ancaman Gagal Nafas (Cek Analisa Gas Darah)
Sumber : Marni (2019) dalam Haryani (2021)
F. KOMPLIKASI RDS
Komplikasi RDS menurut (Haryani dkk, 2021), antara lain :
1. Komplikasi Jangka Pendek
a. Ruptur Alveoli
Bila dicurigai terjadi kebocoran udara (pneumothoraks,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema interstitial) pada
bayi dengan RDS yang tiba-tiba kondisinya memburuh dengan gejala
apnea atau bradikardia.
b. Infeksi
Terjadi karena keadaan yang memburuk dan adanya perubahan jumlah
leukosit dan trombositopenia. Infeksi timbul karena tindakan invasif
seperti pemasangan alat respirasi dan jarum vena.
c. Perdarahan Intra Kranial leukomalasia periventrikular
Perdarahan intraventrikular terjadi pada 20 – 40% bayi prematur dengan
frekuensi terbanyak pada bayi RDS.
d. PDA (Peningkatan Duktus Arterious) dengan peningkatan shunting dari
kiri ke kanan.
Komplikasi pada bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan
terapi surfaktannya.
2. Komplikasi Jangka Panjang
a. Broncho Pulmonary Dysplasia (BPD)
Merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan karena pemakaian
oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan
dengan tingginya volume dan tekanan yang digunakan pada waktu
menggunakan ventilasi mekanik karena adanya infeksi, inflamasi dan
defisiensi vitamin A.
b. Retinopaty Premature
Kegagalan fungsi neurologik terjadi sekitar 10 – 70% pada bayi yang
berhubungan dengan masa gestasi karena adanya hipoksia, komplikasi
intrakranial, dan adanya infeksi.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG RDS
Pemeriksaan pada bayi dengan RDS, yaitu (Marfuah dkk, 2020) :
1. Nilai darah lengkap pada bayi RDS, terdiri dari :
a. Hb (normal 15 – 19 g/dL) , biasanya Hb pada bayi dengan RDS cenderung
turun karena O2 dalam darah sedikit.
b. Leukosit lebih dari 10.0 (normal 4.0 – 10.0 10^3/µL) karena pada bayi
preterm, imunitas masih rendah sehingga beresiko tinggi terhadap infeksi.
c. Trombosit (normal 100 – 300 10^3/µL)
d. Distrofiks pada bayi preterm dengan RDS cenderung turun karena sering
terjadi hipoglikemia.
e. Pemeriksaan Analisa Gas Darah karena didapatkan adanya hipoksemia
kemudian hiperkapnea dengan asidosis respiratorik.
f. pH (normal 7,36 – 7, 46)
g. PCO2 (normal 35 – 45 mmHg)
h. PO2 (normal 80 – 100 mmHg)
i. SaO2 (normal 95% - 97%), < 90% dapat mengidentifikasikan
hipoksemia.
j. HCO3 (normal 24 – 28 mEq/L)
k. SpO2 (normal 80 – 100%)
2. Pemeriksaan Radiologis, setelah 14 – 24 jam akan tampak infiltrat alveolar
tanpa batas yang tegas di seluruh paru.
3. Biopsi paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal di
dalam parenkim paru.
H. PEMERIKSAAN RDS
Prinsip penatalaksanaan pada bayi dengan RDS menurut (Suminto, 2017),
adalah mencegah terjadinya hipoksemia dan asidosis respiratorik, mencegah
perburukan atelektasis dan edema pulmoner, mengurangi oxidant lung injury, dan
mengurangi kerusakan yang terjadi pada paru akibat dari ventilasi mekanik.
Berikut ini adalah penatalaksanaan pada bayi dengan RDS (Haryani dkk, 2021) :
1. Antibiotika untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.
2. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan
cairan paru.
3. Vitamin E untuk menurunkan radikal bebas oksigen
4. Pertahankan PO2 dalam batas normal
5. Ventilasi dan oksigenasi (3 – 5 liter dengan menggunakan masker)
6. Metilksantin (teofilin dan kafein) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik. Salah satu pengobatan
terbaru dan telah diterima penggunaannya dalam pengobatan RDS adalah
pemberian terapi surfaktan eksogen. Surfaktan eksogen merupakan derivat
dari sumber alami misalnya manusia (didapatkan dari cairan amnion, akan
tetapi juga bisa berbentuk surfaktan buatan). Dosis surfaktan diberikan secara
bervariasi antara 100 mg/kgBB sampai 200 mg/kgBB. Dengan dosis 100
mg/kgBB maka sudah dapat memberikan oksigenasi dan ventilasi yang baik
dan dapat menurunkan angka kematian neonatus. Pemberian terapi surfaktan
eksogen tersebut dikombinasikan dengan menggunakan CPAP atau Continues
Positives Airway Pressure (Suminto, 2020).
I. INTERVENSI KEPERAWATAN RDS
Intervensi merupakan fase proses keperawatan yang penuh
dengan pertimbangan yang sangat sistematis,mencangkup pembuatan
keputusan dan penyelesaian masalah (Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder,
2019). Berikut intervensi yang diberikan pada pasien dengan masalah gangguan
pertukaran gas.
Tabel 1
Intervensi Keperawatan Pada Bayi RDS
Dengan Gangguan Pertukaran Gas
Diagnosis Tujuan dan Intervensi
Keperawatan Kriteria
Hasil
1 2 3
Gangguan Pertukaran Setelah diberikan Pemantauan Respirasi
Gas berhubungan dengan Asuhan keperawatan Observasi
perubahan mebran selama 3 x 24 jam, 1. Monitor frekuensi,
alveolus- kapiler ditandai irama, kedalaman dan
diharapkan pertukaran
dengan dispnea, PCO2 upaya nafas
gas meningkat dengan
meningkat/ menurun,PO2 2. Monitor pola nafas
kriteria hasil :
menurun, takikardiaPh (bradipnea, takipnea,
1. Dispnea menurun
arteri meningkat hiperventilasi, kussmaul,
2. Bunyi nafas
/menurun, terdapat bunyi cheyne-stokes, biot,
tambahan menurun
napas tambahan ataksik)
3. Nafas cuping hidung
3. Monitor saturasi oksigen
menurun
4. Monitor nilai analisa gas
4. PCO2 membaik
darah (AGD)
5. PO2 membaik
Terapeutik
6. Takikardia membaik
1. Atur interval pemantauan
respirasi sesuai kondisi
pasien
2. Dokumentasikan hasil
pemantauan
1 2 3
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil
pemantauan, jika
perlu
Manajemen jalan napas
Observasi
1. Monitor bunyi
napas tambahan
Terapeutik
1. Berikan posisi semi
fowler atau fowler
2. Berikan oksigen, jika
perlu
Kolaborasi
1. Pemberian
bronkodilator, jika
perlu
(Sumber : Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Standar Luaran Kperawatan Indonesia,
[Link] Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Standar Intervensi Kperawatan Indonesia,
2019).
DAFTAR PUSTAKA
Rifai, A., & Sugiyarto, S. (2019). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan
Metode Simulasi Pertolongan Pertama (Management Airway) Pada
Penyintas Dengan Masalah Sumbatan Jalan Nafas pada Masyarakat Awam
di Kec. Sawit Kab. Boyolali. (JKG) Jurnal Keperawatan Global, 4(2), 81-
88.
Basuki, W. S., Suryono, B., & Saleh, S. C. (2020). Penatalaksanaan perioperatif
cedera kepala traumatik berat dengan tanda cushing. Jurnal Neuroanestesi
Indonesia, 4(1), 34-42.
Nuryawan, I., & Sikumbang, K. M. (2023). Tatalaksana Gagal Nafas pada
Pasien Peripartum Kardiomiopati. Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia,
6(1), 17-27.
Noho, A. R., Lasanudin, H. V., & Syamsudin, F. (2023). PENGARUH DEEP
SUCTION TERHADAP PERUBAHAN SATURASI OKSIGEN PADA
PASIEN YANG TERPASANG ETT DI RUANGAN ICU RSUD
TANI
DAN NELAYAN KABUPATEN BOALEMO. Jurnal Riset Rumpun Ilmu
Kedokteran (JURRIKE), 2(1), 43-62.