0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Pertemuan Tak Terduga di Pernikahan

Diunggah oleh

Nadia Prasasti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Pertemuan Tak Terduga di Pernikahan

Diunggah oleh

Nadia Prasasti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SISA RASA

BY PRASA
Malam mulai merambat. Suasana di sebuah gedung mulai tampak ramai. Penuh dengan orang-orang mengenakan
setelan jas dan gaun yang membuat mereka tampak gagah dan anggun dalam pesta itu. Malam ini adalah malam perayaan
pernikahan Sera dan Rangga, setelah pagi tadi mereka melakukan pemberkatan di Gereja. Sebagai sahabat serta tamu
undangan, Hanna tampak hadir dengan anggun mengenakan dress berwarna hijau dengan pancaran make up [Link]
tampak asyik dengan Sera di ruang make up.
“Kau sungguh cantik Ser. Beruntung sekali Rangga mendapatkan dirimu.” Ujar Hanna menyungging senyum
bahagia melihat sahabatnya telah melepas masa lajangnya.
“Aku cantik juga berkat dirimu. Hasil karyamu sungguh luar biasa. Yah, itung-itung hemat biaya MUA kan.”
“Dasar kau….”
[Link]. Suara seseorang tengah mengetuk pintu tempat rias pengantin.
“Ser, apa kau sudah siap?” Suara yang terdengar berat, seperti suara seorang laki-laki, tiba-tiba muncul dari balik
pintu yang tertutup.
Ganggang pintu pun tergerak dan pintu itu perlahan terbuka. Muncul seorang laki-laki berpostur tinggi mengenakan
setelan jas hitam masuk ke dalam ruangan. Hana tampak dibuat tercengan dengan sosok yang saat itu muncul dari balik
pintu itu. Bahkan benda yang sempat digenggamnya pun terlepas begitu saja dari genggamannya. Seketika suasana
menyeruak dingin.
Laki-laki itu pun sama, melongo melihat sosok Hanna di depan [Link] menekankan padangannya
terhadap diri [Link] melihat sosok Hana dari ujung kaki hingga kepala.
“Yongki???????” mengeja nama itu sontak membuat tangan Hana gemetar hingga jantungnya berdebar kencang.
Seketika kesesakan tiba-tiba muncul kembali karena satu nama.
“Hannna???”
“Yong, kau…..kau…..” Sera tampak bingung meliht situasi saat itu. Situasi yang paling tidak ingin terjadi malam
itu. Sera bisa melihat sorot mata Hana yang mengerikan melihat sosok Yongki di depannya. Ia pun bediri dari duduknya,
berlari kea rah yongki.
“Yong, kau turunlah dulu, ya.” Sera pun memecah situasi menegangkan itu dengan menyeret Yongki keluar dari
ruangan itu. Dengan sigap ia pun menutup pintu itu rapat-rapat.
Tampak seketika, kondisi Hana tampah berubah. Tangannya mencengkeram erat bagian dadanya. Ia pun jatuh ke
lantai dengan napas yang tersengal-sengal. Raut wajahnya seketika pucat.
“Hana……..?? Kau kenapa? Kau baik-baik saja?” Sera merasa kebingungan dengan apa yang terjadi pada diri Hana
saat itu.
“Aku baik-baik saja, Aku hanya merasa sesak saja.”
“Kau yakin Hana? Tapi, mukamu tampak pucat.”
“It’s ok… gak papa.”
“Aku bantu kau duduk di kursi.” Sera membantu Hana untuk duduk di kursi dan ia pun memberi Hana segelas air
putih untuk membuat Hana sedikit merasa tenang.
“Sera, hari ini adalah hari bahagiamu, jangan fokus padaku. Aku baik-baik saja kok. Aku hanya butuh waktu
sejenak. Turunlah! Rangga pasti sudah menunggu.”
“Tapi Han, kau tampak tidak baik-baik saja.”
“Dengar, aku baik-baik saja, aku bisa mengatasinya.”
“Kau yakin?”
“Aku yakin.” Kembali Hana melempar senyuman untuk menenangkan sahabatnya itu
Hana mencoba untuk menguatkan dirinya di depan sahabatnya itu. Hana pun kembali membantu Sera untuk
bersiap. Ia merias kembali wajah Sera yang sempat tertunda dan merapikan gaun indah yang dikenakan Sera. Usai semua
terselesaikan, Hana mendampingi pengantin wanita turun menuju altar yang telah di dekorasi dengan indah.
Waktu terus berjalan. Acara puncak pun tengah berlangsung. Prosesi resepsi berlangsung indah sesuai harapan
kedua pengantin. Pelemparan bunga pun semakin membuat suasana semakin semarak. Teriakan gadis-gadis single terdengar
menggelegar, saat bunga mulai dilempar. Akhirnya, bunga itu dilempar menuju kerumunan gadis-gadis itu, namun tanpa
diduga buket bunga itu pun jatuh di tangan Hana. Tawapun merekah pada masing-masing wajah.
“Wah, kayaknya ada yang menyusul nih sebentar lagi.” Goda salah satu gadis single.
Hana hanya tersenyum menanggapi ucapan itu. “Amin, semoga.” Sahut Hana.
Di sisi lain Yongki menyaksikan situasi saat itu. Sorot pandangannya tak beralih sedetikpun memandang Hana dari
kejauhan. Ia tampak begitu merekah melihat senyuman lebar Hana. Senyuman yang begitu Yongki rindukan. Rindunya
serasa terobati bisa kembali melihat Hana. Bahkan matanya dibuat terpana melihat perubahan terjadi dalam diri Hana
sekarang. Hana tampak lebih anggun dan dewasa.
“Ini untukmu.” Yongki tiba-tiba saja mendekat sambil menyodorkan sebotol air minum untuk Hana.
Hana terkejut seketika dengan munculnya laki-laki di depannya itu. Yongki yang merupakan akar dari rasa sesak
yang baru saja menyiksa Hana saat itu, muncul tanoa batas apapun. Dengan jarak cukup dekat.
“Kau tidak mau?”
Hana menghela napas panjang dengan tangan kaku menggenggam. Ia perlahan mengangkat tangannya dan meraih
botol minum yang disodorkan untuknya. “Terima kasih.”
Senyum tipis tampak menghiasi wajah Yongki. Rasa syukur seolah tersirat di raut wajahnya.
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik. Sangat baik…..”
“Kau tampak berbeda sekarang Han, setelah dua tahun tidak bertemu.”
“Setiap orang pasti mengalami perbedaan kan, apalagi waktu yang ia lalui dan peristiwa yang menimpa dirinya
akan membuatnya menjadi sosok yang berbeda.” Sahut Hana dengan senyum sinisnya.
“Kau benar.” Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Hana, Yongki tahu pasti kalimat itu memang sengaja Hana
lontarkan tertuju padanya.
Kecanggugan kuat terasa. Nada bicara Hana semakin terdengar dingin dan kaku. Seolah dia memang menunjukkan
ketidak nyamanan berada di dekat Yongki.
“Lega rasanya aku bisa bertemu denganmu lag. Maaf, saat itu aku baru tahu kabar bahwa kakakmu meninggal. Aku
tahu aku terlambat datang, saat aku mengunjungi rumahmu, rumahmu sudah kosong. Kau tidak tinggal disana, bahkan aku
tahu kepindahanmu dari tetangga. Kau bahkan tak bisa dihubungi setelah itu. Kau pergi begitu saja.”
Tangan Hana tampak mengepal dan bergetar hingga membuat botol yang digenggamya terjatuh ke lantai. Raut
wajahnya sontak berubah. Sendi-sendinya melemas mendengar ucapan Yongki. Sesaat Hana kembali teringat jelas situasi
buruk yang menimpanya dua tahun lalu.
“Diam kau! Jangan lagi menyebut peristiwa itu. Aku tidak ingin mendengar apapun yang terlontar dari
mulutmu.“Hana tak bisa tinggal terlalu lama bersama Yongki. Dia takut kekalutannya meluap dan ia tak bisa
mengendalikannya. Ia bangkit dari duduknya, tanpa berkata apapun ia bersigap meninggalkan Yongki. Namun, tiba-tiba
tangan Yongki pun juga sigap menarik tangan Hana sehingga langkah Hana terhenti. Sontak Hana menampis tangan itu.
“Situasi saat itu tidak sepenuhnya salah ku. Kenapa sikapmu saat ini seolah aku yang paling bersalah padamu? Aku
tahu seharusnya aku ada di saat rasa duka menyelimutimu. Tapi seharusya kau juga mendengar penjelasanku. Kau malah
memilih pergi dan menghilang. Kau tahu betapa sulitnya aku mencari dirimu selama dua tahun ini. Bahkan Sera juga
menyembunyikan keberadaanmu.”
“Maaf aku sedang tidak mood untuk meladeni dirimu.”
“Hana, dengarkan aku dulu.” Yongki kembali menarik tangan Hana dan menghadapkan diri Hana tepat di
depannya. “Bisakah kau mendengarkanku dulu.”
“Apa yang harus ku dengar darimu lagi? Kebohongan ? atau bahkan fakta? Yang mana harus kudengar Yong?”
suara bernada tinggi tiba-tiba meluap begitu saja. Tatapan tajam menyorot jelas dari mata Hana.
“Hana…..?”
“Coba Kau pikir baik-baik dan cari letak kesalahanmu sendiri, bahkan kau belum mengenalku dengan baik setelah
empat tahun kita pacaran.”
Ó
Dua tahun lalu,
Sore itu udara tak seperti biasanya, lebih dingin dari hari kemarin, angin pun berhembus kencang. Hana meraih
sepeda motor yang terparkir di halaman rumahnya. Sore itu ia berniat untuk datang ke rumah Yongki. Dengan perasaan yang
masih campur aduk dengan keadaan hatinya yang masih berduka. Ia memberanikan dan menyiapkan dirinya untuk bertemu
dengan Yongki. Ia juga teringat janji pertemuan yang sempat tak ia datangi.
Hana sampai di depan pagar rumah Tara. Namun, mengejutkan bagi Hana. Ia melihat mobil yang biasa sahabatnya
kendarai terparkir di depan rumah Yongki. Itu mobil Kasih.
[Bukankah ini mobil Kasih? Kenapa ada di sini?]
Pagar rumah Yongki tak tertutup rapat, Hana pun masuk dengan langkah yang pelan. Di depan pintu rumah ia
melihat Yongki dan Kasih berdiri saling menatap satu sama lain. Sejenak Hana terhenti langkahnya, ia sejenak mengamati
apa yang sedang mereka lakukan berdua. Tatapan mereka menunjukkan adanya perbincangan serius di dalamnya. Hana tak
ingin membunyarkan perbincangan mereka, ia menentukan tempat untuk persembunyiannya. Dengan sengaja, ia ingin
mendengar perbincangan apa yang sedang mereka bicarakan. Ini pertama kalinya Yongki dan Kasih saling berbiacara serius,
meskipun Hana tau bahwa Kasih merupakan orang yang ikut andil dalam perjodohannya dengan Yongki empat tahun lalu.
[Kau sudah menemui Hana?]
[Kenapa kau peduli padanya? Bahkan sahabatmu itu sampai hari ini dia mengabaikan chatku]
[Kau tidak coba datang ke rumahnya atau mencari tahu yang terjadi dengannya?]
[Sudah, tapi rumahnya kosong. Sudahlah Kas, stop mendekteku tentang persoalanku dengan Hana]
[Kau yang stop bersikap acuh padanya. Empat tahu Yong, sampai kapan kau menbuat Hana berjalan sendirian?]
[Sampai aku mendapatkanmu kembali!] suara Yongki terdengar mulai emosi.
[Apa maksudmu?]
[Ayolah Kas, kau pikir aku melupakan perasaanku padamu setelah aku pacaran dengan Hana? Tidak Kasih, sampai
sekarang pun kau masih satu-satunya orang ada di hatiku. Hana hanya alat agar aku masih bisa dekat denganmu.
Setiap bentuk perlakuanku pada Hana hingga saat ini, itu hanya pura-pura agar aku bisa menarik perhatianmu.]
[Yongki,kau sadar apa yang barusan kau katakan itu?]
[Aku sadar Kasih, aku sangat sadar. Jika kau berpikir hubungan kita sudah berakhir saat itu, kau salah. Hubungan
kita tetap terikat, kau lupa kita hampir punya anak saat itu. Tapi keadaan berkata lain.]
[Cukup Yong, cukup aku tidak ingin mengingat hal itu lagi. Kita sudah berakhir. Kita sudah tidak ada hubungan
apapun lagi, kecuali kau sekarang adalah pasangan dari sahabatku sendiri. Jangan berharap lebih dari itu.]
Hana seketika dikejutkan dengan perbincangan mereka. Ia sungguh dibuat bungkam, dengan lontaran kalimat yang
mereka rangkai. Tubuh Hana dibuat kaku dan bergetar medengar perbincangan mereka. Sungguh kebenarana yang
mengejutkan untuk Hana saat itu. Wajah Hana mulai memerah padam, air matanya seketika pecah, berderai di pipinya. Rasa
sesak mengusai dirinya.
Ó
“Hana, dengarkan aku dulu.” Yongki kembali menarik tangan Hana dan menghadapkan diri Hana tepat di
depannya. “Bisakah kau mendengarkanku dulu. Dengarkan penjelasanku!”
“Apa yang harus ku dengar darimu lagi? Kebohongan ? atau bahkan fakta? Yang mana harus kudengar Yong?”
suara bernada tinggi tiba-tiba meluap begitu saja. Tatapan tajam menyorot jelas dari mata Hana.
“Han?”
“Coba Kau pikir baik-baik dan cari letak kesalahanmu sendiri, bahkan kau belum mengenalku dengan baik setelah
empat tahun kita pacaran. Berapa lama lagi waktu kuhabiskan untuk selalu mendengarkan penjelasan fiktifmu itu.”
Aku minta maaf atas semuanya. Aku minta maaf atas ketidak tahuanku tentang dukamu saat itu. Kau bahkan tidak
membalas segala bentuk komunikasiku. Aku juga mencarimu, Hana. Aku mencarimu dua tahun ini, dan akhirnya kita
bertemu hari ini. Aku sungguh bersyukur bisa bertemu lagi denganmu.”
“Tapi maaf aku tidak. Justru aku sangat tidak menginginkan pertemuan ini. Hal yang paling kubenci adalah melihat
dirimu. Bertemu denganmu lagi sama halnya aku membuka kuburanku lagi.”
“Luka macam apa yang kutorehkan sehingga kau sebenci padaku? Hana? Memang aku salah, aku tak pernah
mengerti segala kondisimu, aku selalu acuh padamu. Bisakah kali ini, aku menjelaskan kesalahpahaman diantara kita. Kau
tahu Han, aku sungguh merindukanmu.”
“Rindu????? Untuk apa kau merindukanku? Apa kau merindukan bahwa aku ini hanya alatmu saja.”
Luka yang hampir sembuh, kini kembali mengoyak ganas di dada Hana. Luka yang pernah mekar, kini melebar
bagai borok yang perih.
“Han, apa maksudmu???” jawaban yang sama sekali tak terduga. Alis Yongki terangkat. “Tampaknya kau salah
paham padaku. Aku ingin meluruskannya Han.”
“ Yong, sudah dua tahun berlalu. Aku tidak perlu lagi mendapat penjelasan dan pelurusan apapun darimu.”
“Han……”
“Maaf Yong, aku akan segera menikah.”
Layar ponsel Hana menyala, dering panggilan pun berbunyi. Layar ponsel nya muncul nama Erlangga yang saat itu
tertera. Hal itu menjadi alasan Hana untuk menyingkir dari hadapan Yongki, ia pun memilih untuk menerima panggilan
telpon itu dan melangkah menyingkir dari hadapan Yongki. Hana pun melangkahkan kakinya dengan cepat, lebih tepatnya ia
sedikit terburu-buru. Yongki masih belum mendapatkan penjelasan dari Hana, ia pun mengikuti langkah Hana. Sempat
pandangannya hilang akan keberadaan Hana.
Klakson mobil terdengar, dan mobil itu menghampiri Hana yang berdiri di halaman gedung. Ia pun melambaikan
tangannya pada sang pemilik mobil yang masih ada di dalam mobil itu. Yongki kembali mengawasi siapa sosok yang keluar
dari mobil itu. Tak lama sosok keluar dari mobil sedan berwarna hitam, dia adalah Erlangga. Erlangga turun dengan senyum
lebar sambil melambaikan tangan untuk Hana. Hana pun menyungging senyum yang lebar saat menyambut kedatangan
Erlangga.
Mata Yongki terbelalak lebar melihat apa yang baru saja ia lihat dengan mata jalangnya. Seperti bom atom yang
tiba-tiba meledak di dalam hatinya. Ia melihat Erlangga, sahabatnya.
[Apa yang mereka lakukan?]
Yongki perlahan melangkah mendekati Erlangga dan Hana dengan langkah sedikit tertatih.
“ Jadi dia, laki-laki yang akan menikahimu?” Sela Yongki di tengah kemesrahan Erlangga dan Hana. Yongki juga
menatap tajam ke arah Erlangga. “ Jadi ini alasannya kau bungkam soal keberadaan Hana, Er?”
“ Yong, kau???” Erlangga terkejut melihat Yongki berdiri di sana.
“ Ya benar, dia laki-laki yang akan menikahiku. Kenapa?”
“ Yong, dengarkan penjelasanku…..”
“Teman macam kau…..” tanpa menahan emosinya lagi, satu bogem tiba-tiba melayang di wajah Erlangga.
“ Yongki……apa yang kau lakukan???”
“ Dari ribuan laki-laki di dunia ini Han, kenapa kau memilih dia? Dia temanku Han…….dia sahabatku. Jadi ini
alasannya kau menghilang tanpa mengabariku, kau memilih bersamanya. Waw…waw…sungguh mengejutkan.”
“Lalu menurutmu, apa bedanya kau dan Kasih?”
“Apa?Apa maksudmu? Aku dan Kasih?”
“Aku dan Erlangga baru saja memulai hubungan serius kami tiga bulan lalu. Meninggalkanmu, menjauh darimu
tidak ada hubungannya dengan Erlangga. Kau tadi bilang, kau ingin menjelaskan kesalah pahaman. Biar aku yang
menjelaskannya. Aku tau hubunganmu bersama Kasih.”
Yongki dan Erlangga pun membalakkan mata mereka dengan kalimat yang baru saja dilontarkan Hana.
“Kau dan Kasih adalah pasangan sebelum kau bersamaku. Kalian bahkan hampir memiliki anak, namun Kasih
harus mengalami keguguran. Aku benarkan, Yong? Koreksi jika ada kebohongan dari ucapanku. Kau bilang merindukanku?
Kenapa? Bahkan selama empat tahun kita berhubungan, sedetik pun tidak ada rasa cinta yang tulus kau berikan padaku.
Bodohnya diriku aku selalu menormalkan setiap perilakumu padaku. Kau melakukan hal manis padaku, itu semata-mata kau
ingin menarik perhatian Kasih kembali. Benarkan?”
“Han, kau tau itu? Kau tau itu dari mana?”
“Tidak peduli aku tahu dari mana. Di antara kita tidak ada kesalahpahaman seperti yang kau katakan, Yong. Kau
tahu betapa sakitnya diriku Yong, apa diriku serendah itu di matamu? Aku manusia bukan alat. Aku menghilang bukan
berarti aku lari, tapi aku menghargai perasaanku sendiri. Aku ingin sisa rasa ini, sisa kepercayaan ini menemukan
pemiliknya. Aku tidak ingin lagi menyia-nyiakan apapun yang kumiliki untuk orang sepertimu.”

Anda mungkin juga menyukai