0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan36 halaman

Asuhan Keperawatan Gout Lansia Puskesmas

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan36 halaman

Asuhan Keperawatan Gout Lansia Puskesmas

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

GOUTH ARTHRITIS PADA AGREGAT LANSIA

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS AIR BELITI

KAB. MUSI RAWAS

DISUSUN OLEH :

Rosen Agustina BR
2202614070P

Dosen Pengajar :Ns. Septi Andrianti, [Link], [Link]

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI HUSADA BENGKULU

TAHUN 2020-2021

i
KATA PENGANTAR

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan Asuhan Keperawatan Komunitas ini yang
berjudul “Asuhan Keperawatan Komunitas ”.

Tujuan pembuatan Asuhan Keperawatan ini adalah untuk memenuhi salah satu
persyaratan tugas dalam perkulihan. Saya menyadari dalam pembuatan tugas ini masih banyak
terdapat kekurangan, hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh saya.
Namun berkat bantuan dan bimbingan serta arahan dari berbagai pihak akhirnya saya dapat
menyelesaikan Asuhan Keperawatan ini tepat pada waktunya.

Dalam pembuatan tugas ini, saya menyadari masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, saya mengharapkan dengan tangan terbuka kritik dan saran yang membangun untuk
perbaikan pada masa yang akan datang.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Lubuklinggau, Juli 2021

Rosen Agustina

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………… i

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………. ii

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………… iii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………… 1

1.1 Latar Belakang………………………………………………………….. 1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………….. 2

1.3 Tujuan………………………………………………………………….. . . 2

BAB II TINJAUAN TEORI ........................................................................................... 4

2.1 Konsep Gouth Arthritis..................................................................................... 3

2.1.1 Definsi................................................................................................ 3

2.1.2 Etiologi................................................................................................3

2.1.3 Patofisiologi....................................................................................... 4

2.1.4 Komplikasi......................................................................................... 5

2.1.5 WOC.................................................................................................. 6

2.1.6 Penatalaksanaan Medis...................................................................... 7

2.1.7 Pencegahan........................................................................................ 7

2.2 Konsep Lansia................................................................................................... 8

2.2.1 Definisi lansia.................................................................................... 8

2.2.2 Klasifikasi Lansia............................................................................... 8

2.3 Konsep Dasar Komunitas................................................................................. 9

2.3.1 Definsi................................................................................................ 9
....................................................................................................................................

2.3.2 Tujuan Keperawatan Komunitas........................................................ 9

2.3.3 Fungsi Keperawatan Komunitas...................................................... 10

iii
2.3.4 Strategi Keperawatan Komunitas....................................................1 0

2.3.5 Bentuk Pendekatan Dan Partisipasi Masyarakat.............................. 11

BAB III TINJAUAN KASUS..........................................................................................14

3.1 Pengkajian Keperawatan................................................................................. 14


...............................................................................................................................................

3.2 Analisa Data ................................................................................................... 28

3.3 Diagnosa Keperawatan................................................................................... 28


...................................................................................................................................

3.4 Rencana Keperawatan..................................................................................... 29

3.5 Implementasi Keperawatan............................................................................. 31

3.6 Evaluasi Keperawatan..................................................................................... 32

DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I
LATAR BELAKANG
1.1 Latar Belakang

Kemajuan dibidang kesehatan, meningkatnya sosial ekonomi masyarakat dan


semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat yang bermuara dengan meningkatnya
kesejahteraan rakyat akan meningkatkan usia harapan hidup sehingga menyebabkan
jumlah penduduk usia lanjut dari tahun ketahun semakin meningkat jumlah lanjut usia
indonesia menurut sumber BPS pada tahun 2007, sebesar 18,96 juta jiwa dan meningkat
menjadi 20.547.541 jiwa pada tahun 2009. Saat ini jumlah lansia sudah mencapai 28 juta
jiwa atau sekitar delapan persen dari jumlah penduduk indonesia. Diprediksi pada 2050
jumlah lansia diperkirakan mencapai 71,6 juta jiwa diindonesia (Supratiwi,2012).

Menurut Nina (2012) dari Devinisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam
RS Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam suatu
penelitian di kalangan kelompok peduli lansia, menyampaikan beberapa masalah yang
kerap muncul pada usia lanjut, yang disebutnya sebagai “a series of is”. Mulai dari
immobility (imobilitas) instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (incontinensia),
intellectual impairment (ganguan penglihatan dan pendengaran) isolation (depresi),
inanition (malniutrisi), insomnia (gangguan tidur) hingga immune deficiency
(menurunkan kekebalan tubuh). Selain gangguan-gangguan tersebut, Nina (2012) juga
menyebutkan tujuh penyakit kronik degeratif yang kerap dialami lanjut usia, yaitu Osteo
Arteritis (OA), Osteoporosis, Hipertensi, Diabetes militus, Dimensia, Penyakit Jantung
koroner, kanker serta Gout adalah yang diakibatkan gangguan metabolisme purin yang
ditandai dengan hiperurikeremi dan serangan sinovitis akut berulang-ulang. Penyakit ini
paling menyerang pria usia pertengahan sampai usia lanjut dan wanita pasca menopase
(Nurarif, 2015).
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut, maka penulis
merumuskan “Bagaimana asuhan keperawatan komunitas pada lansia dengan gangguan
Gout Arthritis Di Puskesmas Air Beliti Kab. Musirawas”.

1
1.3 Tujuan

1. Tujuan umum
Tujuan dari Asuhann Keperawatan ini adalah Mempelajari dan
memberikan pemahaman tentang asuhan keperawatan komunitas pada lansia dengan
gangguan Gout Arthritis Di Puskesmas Air Beliti Kab. Musirawas.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus penulisan Asuhan Keperawatan ini yaitu penulis mampu :
a) Melakukan pengkajian pada pasien Gout Arthritis
b) Merumuskan analisa sintesa yang sesuai pada pasien Gout Arthritis
c) Merumuskan diagnosa yang muncul pada Gout Arthritis
d) Menentukan intervensi keperawatan pada pasien Gout Arthritis
e) Melakukan implementasi keperawatan pada pasien Gout Arthritis
f) Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan pada pasien Gout Arthritis
.

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Diabetes Melitus

2.1.1 Definisi

Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan dengan


efek genetik pada metabolisme purin (hiperurisemia). Pada keadaan ini bisa bisa
terjadi obersekresi asam urat atau defek renal yang mengakibatkan penurunan
ekskresi asam urat, atau kombinasi keduanya ( Nurarif, 2015).

Gout adalah penyakit yang di akibatkan gangguan metabolism purin yang


ditandai dengan hiperurikemedian serangan sinovitis akut berulang-ulang.
Penyakit ini paling sering menyerang pria usia pertengahan sampai usia lanjut dan
wanita pasca menopause. Gangguan metabolic dengan meningkatnya konsentrasi
asam urat ini ditimbulkan dari penumpukkan kristal di sendi oleh monosodium
urat (MSU, gout) dan kalsium pirofosfat dihidrat (CPPD, pseudogout), dan pada
tahap yang lebih lanjut terjadi digenerasi tulang rawan sendi ( Nyoman, Kartia
2009 ).

Asam Urat nilai normalnya 2,4 mg/dl hingga 6 mg/dl untuk wanita dan 3,0
mg/dl hingga 7 mg/dl untuk pria.

2.1 .2 Etiologi

Gejala gout artritis disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap


pembentukan kristal monosodium urat monohidrat. Karena itu,dilihat dari
penyebabnya penyakit ini termasuk dalam golongan kelainan metabolik. Kelainan
ini berhubungan dengan gangguan kinetik asam urat yang hiperurisemia.
Hiperurisemia pada penyakit ini terjadi karena:
1. Pembentukan asam urat yang berlebih.
a. Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang
bertambah2015 ).

3
b. Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih
karana penyakit lain, seperti leukemia,terutama bila diobati dengan
sitostatika, psoriasis, polisitemia vera dan mielofibrosis.

2. Kurang asam urat melalui ginjal.

a. Gout primer renal terjadi karena ekskresi asam urat di tubuli distal
ginjal yang sehat. Penyabab tidak diketahui
b. Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal, misalnya
glumeronefritis kronik atau gagal ginjal kronik.
2.1.3 Patofisiologi

Banyak faktor yng berperan dalam mekanisme serangan gout. Salah satunya
yang telah diketahui peranannya adalah kosentrasi asam urat dalam darah.
Mekanisme serangan gout akut berlangsung melalui beberapa fase secara berurutan.

1. Presipitasi kristal monosodium urat.

Presipitasi monosodium urat dapat terjadi di jaringan bila kosentrasi


dalam plasma lebih dari 9 mg/dl. Presipitasi ini terjadi di rawan, sonovium,
jaringan para- artikuler misalnya bursa, tendon, dan selaputnya. Kristal urat
yang bermuatan negatif akan dibungkus (coate) oleh berbagai macam protein.
Pembungkusan dengan IgG akan merangsang netrofil untuk berespon
terhadap pembentukan kristal.

2. Respon leukosit polimorfonukuler (PMN)

Pembentukan kristal menghasilkan faktor kemotaksis yang


menimbulkan respon leukosit PMN dan selanjutnya akan terjadi fagositosis
kristal oleh leukosit.

3. Fagositosis

Kristal difagositosis olah leukosit membentuk fagolisosom dan


akhirnya membram vakuala disekeliling kristal bersatu dan membram
leukositik lisosom.

4
4. Kerusakan lisosom

Terjadi kerusakn lisosom, sesudah selaput protein dirusak, terjadi ikatan


hidrogen antara permukan kristal membram lisosom, peristiwa ini
menyebabkan robekan membram dan pelepasan enzim-enzim dan oksidase
radikal kedalam sitoplasma.

5. Kerusakan sel

Setelah terjadi kerusakan sel, enzim-enzim lisosom dilepaskan


kedalam cairan sinovial, yang menyebabkan kenaikan intensitas inflamasi dan
kerusakan [Link] kadar glukosa.

2.1.4 Komplikasi
Komplikasi asam urat biasanya terjadi pada penderita asam urat akut yang
terlambat menangani penyakitnya. Jika kadar asam urat dalam darah melebihi batas
normal (tinggi), maka akan merusak organ-organ tubuh, terutama ginjal karena
saringannya akan tersumbat. Tersumbatnya saringan ginjal berdampak munculnya
batu ginjal dan akhirnya bisa mengakibatkan gagal ginjal.
Asam urat pun merupakan faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Diduga
kristal asam urat akan merusak endotel/pembuluh darah koroner. Dengan demikian
jika kadar asam urat tinggi upayakan untuk menurunkannya agar kerusakan tidak
menyebar ke organ-organ tubuh lainnya ( Nurarif, 2015 )

5
2.1.5 WOC

Multi factor yang menyebabkan


terjadinya perubahan Kristal urat

Gout arthritis
Penurunan pemakaian
Respon Psikologis glulokosa oleh sel
Respon lokal

Ansietas Peningkatan metabolisme

Penimbunan Kristal pada


Respon inflamasi lokal synovia dan tulang Malaise,mual,
anoreksia

Kompresi saraf Erosi tulang rawan,


proliferasi, synovia Ketidakseimbangan
pembentukan pannus nutrisi

Mk. Nyeri
Degenerasi kartilago Pembentukan tofus
pada kaki

Mk. Hambatan mobilitas


fisik Perubahan bentuk
kaki

Mk. Gangguan konsep diri

6
2.1.6 Penatalaksanaan Medis
1. Colchicin: dosis 0,5 × 1,2 kali/hari dan berikan sampai tanda inflamasi
berkurang. Peran colchicin dalam terapi gout adalah menghambat pagositosis
kristal monosodium asam urat oleh neutrofil. Efek samping: nyeri perut, diare,
mual, muntah. Bila ada efek samping obat segera dihentikan. Dosis harus
dikurangi pada pasien yang tua dengan gangguan fungsi ginjal/hati
2. NSAID: natrium diklofenak, ketoprofen, ibuprofen, endometasin, steroid.
3. Steroid: bila NSAID atau colchicin ada kontraindikasi, misalnya pada penderita
insufisiensi renal, penderita tua atau kongestif. Diberikan lokal atau sistemik
dengan aturan yang ketat karena efek samping kortikosteroid yang besar. Dosis
oral prednisone 0,5 mg/kgBB/hari dan ditapering 10 mg/minggu.
4. Jangan memberikan allupurinol/ probenesid pada serangan akut kecuali penderita
telah mengkonsumsi sebelumnya.
5. Pengobatan hiperurisemia
a. Diet rendah purin
b. Penghambat xantin oksidase: allupurinol dimulai dengan dosis 100 mg peroral
sampai mencapai dosis anatara 200-300 mg/hari, dosis maksimum 800 mg
(dosis disesuaikan dengan fungsi ginjal). Peningkatan dosis sebaiknya pelan-
pelan untuk menghindari penurunan asam urat yang mendadak, yang mana hal
ini dapat mencetuskan serangan gout arthritis akut. Kadar serum asam urat
dipertahankan < 6,4 mg/dl yaitu kadar di bawah titik saturasi asam urat di
dalam darah. Indikasi batu ginjal, tofus, ekskresi asam urat dalam urine > 800-
1000/hari, alergi urikosurik. Efek samping: demam, Steven Johnson
Syndrome, depresi sumsum tulang, vaskulitis, dan hepatitis.
c. Urikosurik: probenecid dosis 1-2 g/hari sulfinipirazone dosis 2 × 50 - 400
mg/hari
2.1.7 Pencegahan
Diet rendah purin, turunkan berat badan, hindari alkohol, olahraga ringan dan
teratur, hindari stres, colchisin dosis rendah efektif untuk menghindari eksaserbasi
akut. Colchisin dapat diberikan sampai 6 bulan-1 tahun setelah serangan gout akut.
Jika kadar serum asam urat bisa dipertahankan 5 mg/dl dan tidak ada serangan akut

7
maka pemberian colchisin untuk maintenance dapat dihentikan. Obat ini cukup
toksik, terutama terhadap ginjal dan hepar, sehingga perlu hati-hati dalam
penggunaannya ( Nyoman, Kartia, 2009 ).
2.2 Konsep Lansia
2.2.1 Definisi Lansia
Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan
secara terus menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan
perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan
mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan (Siti, 2011).
Lanjut usia (lansia) adalah populasi manusia yang telah mencapai usia 65 tahun
(Touhy, 2014). Lansia sendiri terbagi dalam beberapa tingkatan yaitu lansia muda
dengan rentang usia 65-74 tahun, lansia pertengahan dengan rentang usia 75-84
tahun, lansia sangat tua dengan rentang usia 85 tahun ke atas (DeLaune, 2002;
Mauk, 2006), (Lestari, 2016). Menurut UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesehatan
dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari
60 tahun (Maryam, 2011). Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa lansia
adalah seseorang yang telah mencapai usia 65 tahun dan mengalami perubahan
anatomi, fisiologi dan biokimia pada tubuh.
2.2.2 Klasifikasi Lansia
Menurut Depkes RI (2013) klasifikasi lansia terdiri dari :
a. Pra lansia yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun
b. Lansia ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
c. Lansia resiko tinggi ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan
masalah kesehatan.
d. Lansia potensial ialah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan
kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
e. Lansia tidak potensial ialah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

8
2.3 Konsep Dasar Keperawatan Komunitas
2.3.1 Definisi
Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai
persamaan nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus
dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah
melembaga (Sumijatun dkk, 2013). Misalnya di dalam kesehatan di kenal
kelompok ibu hamil, kelompok ibu menyusui, kelompok anak balita, kelompok
lansia, kelompok masyarakat dalam suatu wilayah desa binaan dan lain
sebagainya. Sedangkan dalam kelompok masyarakat ada masyarakat petani,
masyarakat pedagang, masyarakat pekerja, masyarakat terasing dan sebagainya
(Mubarak, 2016). Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan
yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public
health) dengan dukungan peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan
pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan
perawatan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan
kepada individu, keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai kesatuan utuh
melalui proses keperawatan (nursing process) untuk meningkatkan fungsi
kehidupan manusia secara optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya
kesehatan (Mubarak, 2016).
2.3.2 Tujuan dan Fungsi Keperawatan Komunitas
Tujuan proses keperawatan dalam komunitas adalah untuk pencegahan dan
peningkatan kesehatan masyarakat melalui upaya-upaya sebagai berikut.
1) Pelayanan keperawatan secara langsung (direct care) terhadap individu,
keluarga, dan keluarga dan kelompok dalam konteks komunitas.
2) Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat (health general
community) dengan mempertimbangkan permasalahan atau isu kesehatan
masyarakat yang dapat memengaruhi keluarga, individu, dan kelompok.
Selanjutnya, secara spesifik diharapkan individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat mempunyai kemampuan untuk:

9
1) Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami;
2) Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan masalah
tersebut;
3) Merumuskan serta memecahkan masalah kesehatan;
4) Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka hadapi;
5) Mengevaluasi sejauh mana pemecahan masalah yang mereka
hadapi, yang akhirnya dapat meningkatkan kemampuan dalam
memelihara kesehatan secara mandiri (self care).
2.3.3 Fungsi Keperawatan Komunitas
1) Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi
kesehatan masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah
klien melalui asuhan keperawatan.
2) Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan
kebutuhannya dibidang kesehatan.
3) Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan
masalah, komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan peran
serta masyarakat.
4) Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan
permasalahan atau kebutuhannya sehingga mendapatkan penanganan
dan pelayanan yang cepat dan pada akhirnya dapat mempercepat proses
penyembuhan (Mubarak, 2016).
2.3.4 Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas
Strategi intervensi keperawatan komunitas adalah sebagai berikut:
a. Proses kelompok (group process)
Seseorang dapat mengenal dan mencegah penyakit, tentunya setelah
belajar dari pengalaman sebelumnya, selain faktor
pendidikan/pengetahuan individu, media masa, Televisi, penyuluhan yang
dilakukan petugas kesehatan dan sebagainya. Begitu juga dengan masalah
kesehatan dilingkungan sekitar masyarakat, tentunya gambaran penyakit
yang paling sering mereka temukan sebelumnya sangat mempengaruhi
upaya penangan atau pencegahan penyakit yang mereka lakukan. Jika

10
masyarakat sadar bahwa penangan yang bersifat individual tidak akan
mampu mencegah, apalagi memberantas penyakit tertentu, maka mereka
telah melakukan pemecahan-pemecahan masalah kesehatan melalui proses
kelompok.
b. Pendidikan Kesehatan (Health Promotion)
Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang
dinamis, dimana perubahan tersebut bukan hanya sekedar proses transfer
materi/teori dari seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat
prosedur. Akan tetapi, perubahan tersebut terjadi adanya kesadaran dari
dalam diri individu, kelompok atau masyarakat sendiri. Sedangkan tujuan
dari pendidikan kesehatan menurut Undang-Undang Kesehatan No. 23
Tahun 1992 maupun WHO yaitu ”meningkatkan kemampuan masyarakat
untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan; baik fisik, mental
dan sosialnya; sehingga produktif secara ekonomi maupun secara sosial.
c. Kerjasama (Partnership)
Berbagai persoalan kesehatan yang terjadi dalam lingkungan
masyarakat jika tidak ditangani dengan baik akan menjadi ancaman bagi
lingkungan masyarakat luas. Oleh karena itu, kerja sama sangat
dibutuhkan dalam upaya mencapai tujuan asuhan keperawatan komunitas
melalui upaya ini berbagai persoalan di dalam lingkungan masyarakat
akan dapat diatasi dengan lebih cepat.
2.3.5 Bentuk – Bentuk Pendekatan dan Partisipasi Masyarakat
a. Posyandu
Pos pelayanan terpadu atau yang lebih dikenal dengan posyandu.
Secara sederhana dapat diartikan sebagai pusat kegiatan dimana
masyarakat dapat sekaligus memperoleh pelayanan KB dan Kesehatan.
Selain itu posyandu juga dapat diartikan sebagai wahana kegiatan
keterpaduan KB dan kesehatan ditingkat kelurahan atau desa, yang
melakukan kegiatankegiatan seperti: (1) kesehatan ibu dan anak, (2) KB,
(3) imunisasi, (4) peningkatan gizi, (5) penanggulangan diare, (6) sanitasi
dasar, (7) penyediaan obat esensial (Zulkifli, 2013).

11
Tujuan pokok penyelenggaraan Posyandu adalah untuk : (1)
mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak, (2) meningkatkan
pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR, (3) mempercepat
penerimaan NKKBS, (4) meningkatkan kemampuan masyarakat untuk
mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan lain yang menunjang
peningkatan kemampuan hidup sehat, (5) pendekatan dan pemerataan
pelayanan kesehatan pada penduduk berdasarkan letak geografi .
b. Keluarga berencana, pembagian Pil KB dan Kondom.
c. Pemberian Oralit dan pengobatan.
d. Penyuluhan kesehatan lingkungan dan penyuluhan pribadi sesuai
permasalahan dilaksanakan oleh kader PKK melalui meja IV
dengan materi dasar dari KMS baita dan ibu hamil. Pelayanan
yang diberikan oleh keperawatan komunitas mencakup kesehatan
komunitas yang luas dan berfokus pada pencegahan yang terdiri
dari tiga tingkat yaitu:
1) Pencegahan primer
Pelayanan pencegahan primer ditunjukkan kepada
penghentian penyakit sebelum terjadi karena itu pencegahan
primer mencakup peningkatan derajat kesehatan secara umum dan
perlindungan spesifik. Promosi kesehatan secara umum mencakup
pendidikan kesehatan baik pada individu maupun kelompok.
Pencegahan primer juga mencakup tindakan spesifik yang
melindungi individu melawan agen-agen spesifik misalnya
tindakan perlindungan yang paling umum yaitu memberikan
imunisasi pada bayi, anak balita dan ibu hamil, penyuluhan gizi
bayi dan balita.
2) Pencegahan sekunder
Pelayanan pencegahan sekunder dibuat untuk menditeksi
penyakit lebih awal dengan mengobati secara tepat. Kegiatan-
kegiatan yang mengurangi faktor resiko dikalifikasikansebagai
pencegahan sekunder misalnya memotivasi keluarga untuk

12
melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui
posyandu dan puskesmas.
3) Pencegahan tertier
Yang mencakup pembatasan kecacatan kelemahan pada
seseorang dengan stadium dini dan rehabilitasi pada orang yang
mengalami kecacatan agar dapat secara optimal berfungsi sesuai
dengan kemampuannya.

13
BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian Keperawatan

Dari hasil pengkajian di kelompok lansia dengan diabetes mellitus sejumlah 30


Lansia di Desa Darma Sakti Kecamatan Tuah Negeri selama 3 hari ( tanggal 4- 6 Juli
2021 ) didapatkan data hasil wawancara dan pengamatan melalui komponen
windshield survey sebagai berikut :
3.1.1 Perumahan Dan Lingkungan Daerah
1. Bangunan di Desa Darma Sakti : Sebagian besar rumah kelompok lansia
dengan gout artritis bangunan terbuat dari tembok (permanen)
2. Arsitektur Desa Darma Sakti : bantuk rumah kelompok lansia dengan gout
artritis diwilayah Desa Darma Sakti hampir sama antara satu rumah dengan
yang lain. Sebagian besar lantai rumah kelompok lansia dengan DM terbuat
dari tegel, sebagian besar rumah lansia memiliki jendela dan dibuka dan
rata- rata tinggal dirumah sendiri.
3. Halaman rumah lansia di Desa Darma Sakti: sebagian besar rumah
kelompok lansia dengan gout artritis masih mempunyai halaman.

3.1.2 Lingkungan Terbuka

Luas : Sebagian besar wilayah tempat tinggal kelompok lansia dengan gout
artritis di Di Desa Darma Sakti masih ada lahan kosong

3.1.3 Batas Daerah

 Utara : Lubuk Rumbai

 Selatan : Jaya Tunggal

 Barat : Sukamulya

 Timur : Jaya Bakti

14
3. 1.4 Tingkat Sosial Ekonomi

1. Tingkat Sosial : Lansia di Desa Darma Sakti mempunyai hubungan social


yang baik.

2. Tingkat Ekonomi : sebagian besar lansia tidak memiliki penghasilan tetap


(dana pensiun), dan tidak memiliki dana bantuan
kesehatan.

3.1.5 Kebiasaan

Sebagian besar lansia mengisi waktu luangnya hanya untuk bersantai


disekitar lingkungan rumah, tidak ada ketrampilan khusus yang diselenggarakan
untuk mengisi waktu luang lansia

3.1.6 Transportasi

Lansia menggunakan sarana transportasi berupa sepeda motor, dan jalan


kaki untuk mendukung aktifitasnya. Situasi jalan disekitar tempat tinggal
lansia terbuat dari aspal, dan sebagian besar lansia menyatakan bahwa keadaan
jalan tidak membahayakan bagi mereka.

3.1.7 Fasilitas Umum

1. Kesehatan : Terdapat puskesmas Air Beliti sebagai puskesmas induk dan

puskesmas pembantu di Desa Darma Sakti

2. Agama : Terdapat 3 musholah

3. Ekonomi : Terdapat pasar tradisional, mini market, bengkel, pedagang

pedagang kaki lima, pedagang keliling, warung makan, toko


sembako, counter handphone, dan toko alat tulis.

4. Agen : Terdapat 4 agen air isi ulang

15
3.1.8 Suku Bangsa

Sebagian besar lansia berasal dari suku jawa

3.1.9 Agama

seluruh lansia beragama islam

3.1.10 Media informasi

sebagian besar lansia menggunakan media informasi televisi.

Hasil pengolahan data yang berasal dari angket, wawancara dan observasi akan

disajikan sebagai berikut :

3.2.1 Data Demografi

1. Komposisi Lansia Berdasarkan Umur.

No Usia Frekuensi

1 60 - 65 10
2 65– 69 5
Jumlah 15
1. Komposisi lansia berdasarkan tingkat pendidikan

No Pendidikan Frekuensi

1 SD 3
2 SMP 7
3 SMA 5
Jumlah 15

16
2. Komposisi lansia berdasarkan jenis kelamin

No Jenis Kelamin Frekuensi

1 Laki – Laki 7
2 Perempuan 8
Jumlah 15
3. Komposisi lansia berdasarkan agama

No Agama Frekuensi

1 Islam 15
2 Kristen 0
Jumlah 15
4. Komposisi lansia berdasarkan pekerjaan

No Pekerjaan Frekuensi

1 PNS 2
2 Swasta 8
3 Wiraswasta 5
4 Tidak bekerja 0

Jumlah 15
3.2.2 Lingkungan Fisik

1). Kebersihan rumah

Tabel Distribusi lansia berdasarkan aktifitas membersikan rumah di Desa


Darma Sakti pada tanggal 4– 6 Juli 2021.

No Perilaku Membersihkan Frekuensi


Rumah
1 1 kali sehari 9
2 2 kali sehari 3
3  2 kali sehari 2

17
4 Tidak teratur 1
Jumlah 15

Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar lansia membersihkan rumah ekali.

2). Kebersihan tempat penampungan air

Tabel Distribusi lansia berdasarkan aktifitas membersikan penampungan air


di Desa Darma Sakti pada tanggal 4- 6 Juli 2021.

No Perilaku membersihkan Frekuensi

penampungan air
1 Tiap Hari 4
2 3 kali sehari 3
3 1 minggu sekali 3
4 Tidak tentu 5
Jumlah 15

3). Sistem ventilasi rumah

Tabel Distribusi lansia berdasarkan system ventilasi rumah di RW II


kelurahan Manyar Sabrangan pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Terdapat Jendela Frekuensi


1 Ada, dibuka 8
2 Ada, ditutup 5
3 Tidak Ada 2
Jumlah 15

4). Kepemilikan genting kaca

18
Tabel 3.4 Distribusi lansia berdasarkan kepemilikan genting kaca rumah di
RW II kelurahan Manyar Sabrangan pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Genting Kaca Frekuensi


1 Ada 8
2 Tidak Ada 7
Jumlah 15
5). Type perumahan

Tabel Distribusi lansia berdasarkan Type rumah di Desa Darma Sakti


pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Tipe Rumah Frekuensi


1 Permanen 10
2 Semi permanen 5
3 Tidak permanen 0
Jumlah 15

6). Status kepemilikan rumah

Tabel Distribusi lansia berdasarkan status kepemilikan rumah di Desa


Darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Kepemilikan Rumah Frekuensi


1 Milik sendiri 12
2 Numpang 3
3 Sewa 0
Jumlah 15

3.2.3 Pelayanan Kesehatan dan social

1. Perkesmas

19
1). Perawatan dirumah bagi lansia yang sakit

Tabel Distribusi lansia berdasarkan perawatan bagi lansia rumah


di Desa Darma Sakti pada tanggal 4- 6 Juli 2021.

No Pemberian Perawatan Frekuensi


1 Ya 6
2 Tidak 14
Jumlah 15

2). Perawatan bagi anggota keluarga yang sakit :

Tabel Distribusi lansia berdasarkan pemberi parawatan dirumah di


Desa Darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Pemberi perawatan Frekuensi


1 Keluarga 15
2 Petugas kesehatan 0
Jumlah 15

3). Kunjungan petugas kesehatan pada lansia yang sakit :

Tabel Distribusi lansia berdasarkan kunjungan petugas kesehatan


di rumah di desa Darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Kunjungan Petugas Frekuensi


1 1 kali tiap bulan 3
2 2 kali tiap bulan 0
3 3 kali tiap bulan 1
4 Tidak pernah 0
Jumlah 4
4). Sumber Pendanaan Kesehatan keluarga

20
Tabel Distribusi lansia berdasarkan sumber dana kesehatan lansia
di Desa darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Pendanaan Kesehatan Frekuensi


1 ASKES/ASTEK 6
2 JAMKESMAS 6
3 UMUM 3
Jumlah 15
5). Partisipasi lansia dalam mengikuti posyandu lansia

Tabel Distribusi lansia berdasarkan partisipasi lansia dalam


posyandu lansia di Desa Darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Partisipasi Lansia Frekuensi %


1 Ya 7 46
2 Tidak 8 64
Jumlah 30 100
6). Partisipasi lansia dalam mengikuti senam lansia :

Tabel Distribusi lansia berdasarkan partisipasi lansia dalam


mengikuti senam lansia di Desa Darma Sakti pada tanggal 4 – 6
Juli 2021.

No Senam Lansia Frekuensi %


1 Selalu 7 46
2 Kadang – kadang 8 64
3 Tidak pernah 0 0
Jumlah 15 100

2. Laboratorium

1). Penggunaan fasilitas laboratorium puskesmas

21
Tabel Distribusi lansia berdasarkan penggunaan fasilitas laboratorium
di lansia di Desa Darma Sakti pada tanggal 4- 6 Juli 2021.

No penggunaan laboratorium Frekuensi %


1 Ya 6 40
2 Tidak pernah 9 60
Jumlah 15 100
2).Frekuensi pemeriksaan Gout arthritis
Tabel Distribusi lansia berdasarkan pemeriksaan gula darah pada
lansia di Desa Darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Pemeriksaan Gula Darah Frekuensi %


1 1x/minggu 2 13
2 sewaktu – waktu 8 53
3 tidak pernah periksa 5 34
Jumlah 15 100
3. Kesehatan Lansia
1). Sarana kesehatan yang paling dekat dengan tempat tinggal lansia :
Tabel Distribusi lansia berdasarkan sarana kesehatan dekat dengan
tempat tinggal lansia di Desa Darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli
2021.

No Sarana Kesehatan Frekuensi %


1 Puskesmas 10 66
2 Dokter 2 13
3 Bidan/perawat 0 0
4 Poliklinik 3 21
Jumlah 15 100

2). Tempat berobat lansia yang sakit


Tabel Distribusi lansia berdasarkan tempat berobat lansia di Desa
Darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

22
No Tempat berobat lansia Frekuensi %
1 Dokter praktik swasta 5 33
2 Bidan/perawat 0 0
3 Rumah Sakit 3 20
4 Puskesmas 5 33
5 Poliklinik 2 14
Jumlah 15 100
3). Pengetahuan lansia tentang Diabetes Mellitus :
Tabel Distribusi lansia berdasarkan pengetahuan lansia tentang
Diabetes Mellitus di Desa Darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Pengetahuan Lansia Frekuensi %


1 Lansia Tahu 7 46
2 Lansia Tidak Tahu 8 64
Jumlah 15 100
4). Pengetahuan lansia tentang Diet (pola makan) pada Gout Arthritis
Tabel Distribusi lansia berdasarkan pengetahuan lansia tentang diet
pada Gout Artritihis Desa Darma Sakti pada tanggal 4- 6 Juli 2021.

No Pengetahuan Lansia tentang Diet Frekuensi %


1 Lansia Tahu 7 46
2 Lansia Tidak Tahu 8 64
Jumlah 15 100

5). Kegemaran lansia dalam mengkonsumsi makanan / minuman manis


:

23
Tabel Distribusi lansia berdasarkan kegemaran lansia dalam
mengkonsumsi makanaan/minuman manis di Desa darma Sakti
pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Kegemaran Lansia Frekuensi %


1 Lansia suka manis 11 73
2 Lansia tidak suka manis 4 37
Jumlah 15 100

3.2.4 Status Ekonomi

1). Sumber penghasilan lansia setiap bulannya :

Tabel Distribusi lansia berdasarkan sumber penghasilan lansia tiap


bulannya di Desa Darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No sumber penghasilan Lansia Frekuensi %


1 Penghasilan Tetap (pensiunan) 9 60
2 Penghasilan tidak tetap 6 40
Jumlah 15 100
2). Penghasilan yang didapatkan lansia setiap bulannya :

Tabel Distribusi lansia berdasarkan penghasilan yang didapatkan lansia


setiap bulannya di Desa Darma Sakti pada tanggal 4- 6 Juli 2021.

No jumlah penghasilan Frekuensi %


1 <Rp.1.500.000 8 53
2 >Rp. 1.500.000 7 47
Jumlah 15 100

3.2.5 Status Pendidikan

1). Kegiatan lansia mengikuti pelatihan ketrampilan :

24
Tabel Distribusi lansia berdasarkan kegiatan lansia mengikuti pelatihan
ketrampilan di Desa Darma Sakti pada tanggal 4- 6 Juli 2021.

No pelatihan ketrampilan Frekuensi %


1 Ya 5 44
2 Tidak 10 66
Jumlah 15 100
2). Kemampuan lansia dalam membaca dan menulis

Tabel Distribusi lansia berdasarkan kemampuan lansia dalam membaca


dan menulis di Desa Darma Sakti pada tanggal 4- 6 Juli 2021.

No kemampuan lansia Frekuensi %


1 Ya 10 66
2 Tidak 5 44
Jumlah 15 100
3.2.6 Sub Sistem Rekreasi

1). Kebiasaan lansia diwaktu senggang

Tabel Distribusi lansia berdasarkan kebiasaan lansia diwaktu senggang di Desa Darma Sakti
pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Kebiasaan Lansia Frekuensi %


1 Berkebun/pekerjaan rumah 10 66
2 Senam 0 0
3 Jalan – jalan 1 8
4 Tidak melakukan apa – apa 4 26
Jumlah 30 100

2). Aktifitas Lansia saat diluar rumah

25
Tabel Distribusi lansia berdasarkan aktifitas lansia saat diluar rumah di
desa Darma Sakti pada tanggal 4- 6 Juli 2021.

No Aktifitas Lansia Frekuensi %


1 Mengikuti lomba ketrampilan 0 0
2 Perkumpulan rutin ditempat tinggal 10 66
3 Jalan – jalan 0 0
4 Lainnya.... 1 8
Jumlah 15 100

3.2.7 Keamanan dan Transportasi

1). Keamanan lingkungan tempat tinggal lansia

Tabel Distribusi lansia berdasarkan keamanan lingkungan tempat tinggal lansia di Desa Darma
Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No Ronda Malam Frekuensi %


1 Ya 7 28
2 Tidak 13 72
Jumlah 15 100

2). Kondisi jalan disekitar tempat tinggal lansia

Tabel Distribusi lansia berdasarkan kondisi jalan disekitar tempat tinggal


lansia di Desa Darma Sakti pada tanggal 4 – 6 Juli 2021.

No kondisi jalan Frekuensi %

26
1 jalan tidak membahayakan bagi 13 76

lansia
2 jalan rusak, membahayakan bagi 7 24

lansia
Jumlah 15 100
3). Jenis transportasi yang biasanya digunakan oleh lansia

Tabel Distribusi lansia berdasarkan jenis transportasi yang biasanya


dilakukan oleh lansia di Desa Darma Sakti pada tanggal 4- 6 Juli 2021.

No Jenis Transport Frekuensi %


1 Mobil 2 7
2 Sepeda Motor 8 60
3 Angkutan Umum 5 33
Jumlah 15 100

ANALISA DATA
No Data Problem Etiologi

27
1 Ds : Gout Arthritis Penurunan koping
- Kader kesehatan desa keluarga
mengatakan lansia banyak
yang menderita Gout Arthritis
dan lansia malas mengikuti
posyandu lansia yang
diselenggarakan setiap
bulannya.
Do :
- Lansia jarang mengikuti
posyandu lansia
- Keluarga tidak mengetahui
pentingnya posyandu lansia

2 Ds : Gout Arthritis Perilaku tidak


- Kader posyandu mengatakan mengikuti program
lanisa jarang melakukan pengobatan
pemeriksaan asam urat
Do :
- Lansia tidak mengikuti
pengobatan

3. Ds : Gout Arthritis Kurangnya informasi


- Kader posyandu mengatakan dalam kesehatan
lansia tidak tahu mengenai
masalah kesehatan yang
dihadapi.
- Keluarga tidak mengenal
penyakit lansia
Do :
- Lansia tidak menjalani
pemeriksaan pengobatan yang
tepat

Diagnosa Keperawatan :

1. Penurunan koping keluarga b.d tidak tersedianya informasi bagi orang dekat

2. Pemeliharan kesehatan tidak efektif b.d ketidakadekuatan pemahaman

3. Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar informasi

28
Rencana Tindakan Keperawatan

Diagnosa Tujuan Jangka Tujuan Jangka Intervensi


Pendek Panjang
1. Penurunan Setelah dilakukan Setelah dilakukan SIKI : DUKUNGAN
koping tindakan tindakan KOPING
keluarga b.d keperawatan selama keperawatan KELUARGA dan
tidak 1 minggu, komunitas selama 2 minggu, EDUKASI
tersedianya diharapkan : komunitas KESEHATAN
informasi - Lansia diharapkan, kadar 1. Diskusikan
bagi orang mampu asam urat normal rencana medis
dekat mengikuti dan perawatan
kegiatan 2. Anjurkan
posyandu untuk
lansia mengikuti
program
posyandu
3. Jelskan
Konsmsi diet
makanan
kesehatan
4. Identifikasi
kebiasaan pola
makan
2. Pemeliharaan Setelah dilakukan Setelah dilakukan SIKI : PROMOSI
kesehatan tindakan tindakan PERILAKU
tidak efektif keperawatan selama keperawatan UPAYA
b.d 1 minggu, komunitas selama 2 minggu, KESEHATAN
ketidakadeku diharapkan : komunitas 1. Identifikasi
atan - Lansia dapat diharapkan, lansia perilaku upaya
pemahaman menghadiri berpatisipasi aktif kesehatan
dan rutin dalam kegiatan yang dapat
memeriksaka kesehatan di diterapkan
n posyandu 2. Anjurkan
kesehatannya melakukan
setiap bulan aktivitas fisik
setiap hari
SIKI : DUKUNGAN
KEPATUHAN
PROGRAM
PENGOBATAN
1. Buat
komitmen
menjalani
program
pengobatan
dengan baik

29
2. Informasikan
program
pengobatan
yang harus
dijalani
3. Anjurkan
keluarga
untuk
mendampingi
dan merawat
pasien selama
menjalani
program
pengobatan
3. Defisit Setelah dilakukan Setelah dilakukan SIKI : EDUKASI
pengetahuan tindakan tindakan KESEHATAN
b.d kurang keperawatan selama keperawatan 1. Jelaskan
terpapar 1 minggu, komunitas selama 2 minggu, factor resiko
informasi diharapkan : komunitas yang dapat
- Lansia diharapkan, lansia mempengaruh
mengetahui mengetahui i kesehatan
masalah masalah kesehatan SIKI : DUKUNGAN
kesehatan penyakit DM KEPATUHAN
penyakit DM PROGRAM
- Lansia dapat PENGOBATAN
melakukan 2. Informasikan
pengobatan program
rutin pengobatan
penyakit DM yang harus
dijalan
SIKI : EDUKASI
DIET
3. Identifikasi
tingkat
pengetahuan
saat ini
4. Identifikasi
kebiasaan pola
makan saat ini
dan masa lalu
5. Jelaskan
tujuan
kepatuhan diet

30
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat (2015). Undang-Undang No. 13 Tahun 1998


tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1998 Nomor 190. Sekretariat Negara. Jakarta
Fallen R. ( 2010 ). Keperawatan Komunitas, Edisi :3, EGC, Jakarta
Maryam Siti (2011). Mengenal Usia Lanjut Dan Perawatannya 1st ji. Jakarta: Salemba
Medika
Nyoman, Kartia ( 2009 ). Asam Urat , Edisi : 2,. B First, Yogyakarta
Nurarif Huda (2015). Aplikasi Asuhan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA.
Yogyakarta
PPNI, T. P ( 2016 ). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan : DPP
PPNI.
PPNI, T. P ( 2018 ). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan : DPP
PPNI
PPNI, T. P ( 2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan : DPP PPNI
Tarwoto, W. I. (2012). keperawatan medikal bedah gangguan sistem endokrin.
jakarta: CV. Trans Info Medika.

31
32

Common questions

Didukung oleh AI

Keperawatan komunitas bertujuan untuk memberikan pengkajian menyeluruh pada pasien dengan Gout Arthritis, mendefinisikan diagnosis yang jelas, menentukan dan melaksanakan intervensi keperawatan, serta mengevaluasi hasil perawatan. Proses ini dilakukan dengan pendekatan promotif, preventif, dan melibatkan peran aktif masyarakat .

Faktor yang memengaruhi kesehatan lansia termasuk lingkungan fisik seperti kebersihan dan ventilasi rumah, status ekonomi seperti sumber penghasilan tetap, akses terhadap pelayanan kesehatan, serta partisipasi dalam kegiatan kesehatan seperti posyandu dan senam lansia. Faktor-faktor ini berkontribusi pada perbedaan dalam kemampuan lansia untuk menjaga kesehatan mereka .

Lansia rentan terhadap penyakit degeneratif karena penuaan yang menyebabkan perubahan anatomi, fisiologi, dan biokimia. Ini mengakibatkan penurunan fungsi tubuh dan meningkatnya risiko gangguan metabolisme serta penyakit lain seperti diabetes dan hipertensi yang mempercepat perkembangan kondisi degeneratif .

Lansia di Desa Darma Sakti umumnya terlibat dalam kegiatan rumah tangga seperti membersihkan rumah sekali sehari. Namun, aktivitas dalam senam lansia dan kebersihan hanya dilakukan oleh sebagian kecil kelompok, menunjukkan keterlibatan yang bervariasi dalam aktivitas lingkungan .

Pengobatan hiperurisemia meliputi diet rendah purin untuk mencegah penumpukan asam urat dan penggunaan obat seperti allopurinol yang menghambat xantin oksidase untuk menurunkan produksi asam urat. Terapi urikosurik seperti probenecid meningkatkan ekskresi asam urat, tetapi dosisnya harus disesuaikan dan meningkat perlahan agar tidak memicu serangan gout mendadak. Kombinasi diet dan terapi farmakologi bertujuan untuk menjaga kadar serum asam urat dibawah batas tertentu .

Gout adalah kondisi yang disebabkan oleh gangguan metabolisme purin dengan karakteristik utama hiperurisemia. Gejala gout artritis berasal dari respon inflamasi terhadap kristal monosodium urat. Etiologi utamanya termasuk produksi asam urat berlebihan dan gangguan ekskresi dari ginjal. Gout primer dapat disebabkan oleh peningkatan pembentukan asam urat, sementara gout sekunder terkait dengan kondisi medis lain seperti leukemia atau gagal ginjal .

Lansia potensial adalah mereka yang masih mampu melakukan pekerjaan dan menghasilkan barang atau jasa, sementara lansia tidak potensial tidak dapat mencari nafkah dan bergantung pada bantuan orang lain .

Strategi intervensi dalam keperawatan komunitas mencakup proses kelompok yang melibatkan diskusi dan solusi kolektif terhadap masalah kesehatan komunitas, serta pendidikan kesehatan untuk perubahan perilaku yang berkelanjutan. Ini bertujuan untuk membuat masyarakat lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya .

Penyakit kronik degeneratif yang sering dialami lanjut usia mencakup Osteo Arteritis (OA), Osteoporosis, Hipertensi, Diabetes Mellitus, Demensia, Penyakit Jantung Koroner, Kanker, dan Gout yang dihasilkan dari gangguan metabolisme purin, ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut berulang .

Keperawatan komunitas meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif yang sistematis dan ilmiah, melibatkan masyarakat secara aktif untuk menjaga kesehatan secara mandiri. Ini meliputi pelayanan langsung pada individu dan keluarga, perhatian terhadap isu kesehatan masyarakat, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi, merumuskan, dan memecahkan masalah kesehatan .

Anda mungkin juga menyukai