BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Akuakultur Gedung 4
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran. Waktu
penelitian dimulai dari bulan April sampai dengan Juli 2020.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat – alat yang digunakan dalam penelitian ini merupakan sebagai
berikut:
Alat-alat untuk pemeliharaan ikan (Lampiran)
Akuarium sebagai wadah penelitian dengan ukuran 40 cm x 25 x 28
cm dan dengan volume air 20 L sebanyak 20 buah
Bak fiber sebanyak 1 buah dengan volume 500 liter berukuran 1 m
x 1 m x 1 m untuk menampung air dan stock ikan uji
Aerator, selang aerasi, dan batu aerasi sebagai alat pemasok
oksigen yang diperuntukkan air dalam akuarium dan bak fiber
Siphon untuk membersihkan media pemeliharaan dari sisa pakan
dan feses ikan uji
Penggaris sebagai alat pengukur panjang ikan mas
Timbangan digital untuk mengukur berat ikan mas
Plastik zipper untuk mengemas pakan.
Kamera digital Oppo A5S sebagai alat dokumentasi gambar
Alat tulis sebagai alat dokumentasi tulisan
1
Alat-alat untuk pengukuran kualitas air (Lampiran)
Termometer sebagai alat pengukur suhu air di akuarium
pH meter untuk menguur derajat keasaman air didalam akuarium
DO meter sebagai alat pengukur oksigen terlarut media
pemeliharaan didalam akuarium
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain (Lampiran)
Ikan uji
Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih ikan mas
majalaya yang didapatkan dari Balai Benih Ikan (BBI) Cibiru, ukuran 2-3
cm dengan bobot rata-rata 2,8 gram sebanyak 500 ekor, digunakan untuk
penelitian sebanyak 200 ekor dan selebihnya sebagai stok
Kalium diformat (KDF) sebagai bahan uji non-antibiotik
Pakan yang digunakan merupakan pelet komersial berupa granul
dengan merk dagang PF-1000 sebanyak 2,5 Kg dengan kandungan
protein 35%.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
yang terdiri dari lima perlakuan dan 4 kali pengulangan (Lampiran 1).
Perlakuan yang digunakan adalah KDF antibiotik yang dicampur
kedalam pakan pelet. Pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali
sehari, pada pukul 08.00 dan 17.00 WIB sesuai perlakuan dengan
konsentrasi KDF yang berbeda-beda yaitu:
2
Perlakuan A = Pakan tanpa penambahan KDF
Perlakuan B = 0,2% penambahan KDF
Perlakuan C = 0,3% penambahan KDF
Perlakuan D = 0,4% penambahan KDF
Perlakuan E = 0,5% penambahan KDF
Pemberian pakan uji dilakukan selama 35 hari, hal ini bertujuan
untuk meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada tubuh
ikan (Gufran dan Kordi 2004). Model yang digunakan dalam penelitian ini
adalah model linier (Gaspersz 1994).
3.4 Prosedur
1. Persiapan Wadah Pemeliharaan
Tahapan persiapan wadah pemeliharaan yaitu sebagai berikut :
Pencucian alat-alat penelitian seperti akuarium, bak fiber, selang,
dan batu aerasi dicuci menggunakan sabun.
Penjemuran akuarium dibawah sinar matahari hingga kering
Pemberian label sesuai dengan tata letak akuarium.
Akuarium diisi air sebanyak 20 liter/akuarium dari bak tandon
laboratorium akuakultur gedung 4 FPIK UNPAD (air dimasukkan dan
disaring menggunakan serokan, hal ini bertujuan untuk mencegah adanya
parasit yang masuk kedalam akuarium) dan diberikan aerasi selama 24
jam
2. Aklimasi Ikan Uji
Benih ikan mas yang telah tersedia dilakukan proses aklimatisasi
selama 3 hari di dalam bak fiber. Hal ini bertujuan supaya ikan
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan juga bertujuan
3
untuk memastikan ikan mas tidak terserang bakteri patogen,
parasit, atau penyakit lainnya. Sepanjang proses aklimatisasi ikan
uji diberikan pakan dua kali sehari secara adlibitum. Ikan yang telah
diaklimatisasi kemudian ditempatkan didalam akuarium secara acak
dengan padat tebar 10 ekor/akuarium.
3. Pencampuran Kalium Diformat Pada Pakan Pelet
Tahapan pencampuran KDF pada pakan yang merupakan sebagai
berikut :
Pakan komersial ditimbang sebanyak 100 gram untuk masing-
masing perlakuan dan sisa pakannya diberikan untuk ikan stok.
Pengambilan KDF untuk mencari konsentrasi yang ditetapkan yaitu
0,2%, 0,3%, 0,4%, dan 0,5% (7 hari sekali)
KDF dicampurkan dengan cara diberi air sebanyak 10% lalu
disemprot ke dalam pakan dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan
pakan komersil sebagai perekat. Campuran pakan dikeringkan lalu
dijemur selama 1 jam. Campuran pakan ditimbang sebesar 3% dari
biomassa ikan setiap akuarium, lalu dikemas menggunakan plastic zipper
4. Pelaksanaan Penelitian
Frekuensi pemberian pakan sebanyak dua kali sehari yaitu pada pukul
08.00 dan 17.00 selama 35 hari. Data parameter pengamatan yaitu
pertumbuhan harian, kelangsungan hidup dan kualitas air dilakukan tujuh
hari sekali. Penyiponan akuarium dilakukan setiap hari sebelum
pemberian pakan (Gusman dan Muhammad 2014).
5. Penimbangan Bobot Ikan
Penimbangan bobot biomassa ikan dilakukan dengan cara
pengambilan sampling sebanyak 6 kali yaitu pada awal penelitian,
minggu pertama penelitian, minggu ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5
penelitian. Pengambilan dilakukan dengan cara mengambil 10 ekor
4
ikan uji dari setiap akuarium, kemudian ditimbang. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui seberapa pengaruh konsentrasi KDF terhadap
pertumbuhan benih ikan mas majalaya.
3.5 Parameter Pengamatan
1. Laju Pertumbuhan Harian
Pengamatan pertumbuhan harian dilakukan setiap tujuh hari sekali
selama periode pemberian KDF. Rumus yang digunakan dalam
menghitung Laju Pertumbuhan Harian (LPH) dengan menggunakan
rumus Effendie (1997), yaitu:
Α =ln〖Wt-lnWo 〗/t x 100%
Keterangan :
Α = Laju Pertumbuhan Harian bobot
Wt = Bobot rata-rata pada akhir perlakuan (hari ke-t)
Wo = Bobot rata-rata awal perlakuan (hari ke-0)
T = Lama Pengamatan (hari)
2. Efisiensi Pemberian Pakan
Efisiensi pemberian pakan ikan mas dihitung berdasarkan rumus efisiensi
pakan pakan yang dikembangkan Djajasewaka (1985), yaitu:
5
EPP = ((Wt+D)-Wo)/F x 100%
Keterangan :
EPP = Efisiensi Pemberian Pakan
F = Jumlah pakan yang diberikan selama penelitian (g)
Wt = Biomassa pada akhir (g)
Wo = Biomassa pada awal penelitian (g)
D = Biomassa ikan mas yang mati selama penelitian (g)
3. Derajat Kelngsungan Hidup
Pengamatan kelangsungan hidup dilaksanakan setiap hari selama
penelitian. Jika pada tahap pemberian KDF terdapat ikan yang mati, maka
ikan diukur bobotnya lalu dicatat. Derajat kelangsungan hidup (survival
rate/SR) dihitung menggunakan rumus Goddard (1996) yaitu :
SR=Nt/No x 100%
Keterangan :
SR = Derajat kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah ikan hidup pada akhir pemeliharaan (ekor)
N0 = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan (ekor)
4. Derajat Keasaman (pH) Usus dan Lambung Ikan Mas
Pengukuran pH usus dan lambung ikan Ikan mas dilaksanakan pada awal
riset dan akhir riset untuk membandingkan nilai derajat keasaman usus
dan lambung ikan mas sebelum perlakuan dan setelah pemberian
perlakuan. Ikan yang dibedah berjumlah dua ekor ikan tiap perlakuan.
Pengukuran pH usus dilakukan dengan menggunakan pH meter sesuai
dengan metode Elala dan Naela (2015). Setelah ikan dibedah, lalu saluran
pencernaan yaitu usus dan lambung dikeluarkan kemudian usus dibagi
6
menjadi tiga bagian yang sama (usus atas, usus tengah dan usus bawah).
Usus yang sudah terbagi menjadi tiga bagian dan lambung kemudian
dihaluskan dan diambil sebanyak 0,5 gram dari setiap bagian kemudian
dicampur dengan 4,5 ml aquades kedalam gelas ukur untuk pengukuran
pH.
5. Kualitas Air
Pengamatan kualitas air terdiri dari pH, oksigen terlarut (DO) dan suhu.
Pengukuran kualitas air pada penelitian ini dilakukan setiap akhir periode
pengamatan. Selain itu, dilakukannya proses penyiponan disetiap harinya,
hal ini agar kualitas air dalam akuarium tetap terjaga.
3.6 Analisis Data
Analisis data ditujukkan untuk mengetahui seberapa pengaruh
Kalium Diformat (KDF) terhadap kelangsungan hidup ikan uji. Analisis data
dilakukan dengan cara ANOVA uji F, namun jika terjadi perbedaan yang
nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan melakukan uji berganda
Duncan pada taraf kesalahan 5% (Gasperz 1994). Analisis kualitas air
dilakukan secara deskriptif.
7
8