0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan14 halaman

Mekanisme dan Penanganan Skabies

Diunggah oleh

Fairuz Rahadian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan14 halaman

Mekanisme dan Penanganan Skabies

Diunggah oleh

Fairuz Rahadian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tutorial Sk-2

o Kata Sulit
 Bintil : bintul (bercak) kecil (seperti bekas digigit serangga) (KBBI)
o Brainstroming
 Apakah terdapat hubungan ditemukannya kutu di kepala pasien dengan gejala yang
sedang dialami oleh pasien
Penyebab dari kondisi anak ini adalah tungau dan bukan kutu, sehingga tidak ada
hubungan antara ditemukannya kutu pada rambut dengan gejala yang sedang dialami
oleh pasien ini. Perbedaan antara gatal akibat kutu dan tungau adalah dari waktunya.
Kutu bisa sepanjang waktu sedangkan tungau biasanya pada malam hari.
 Bagaimana Mekanisme timbulnya gatal dan bintil bernanah pada pasien

- Gatal : ketika tungau betina sedang menggali stratum korneum yang berliku-liku
akan menyebabkan terjadi iritasi mekanis pada kulit yang menyebabkan reaksi
immunologi sehingga terjadi aktivasi sel mast dan pelepasan histamin yang dapat
menyebabkan gatal-gatal.
- Eksim (rasa gatal dan ruam kulit yang memerah) dan pustule : dinisasi oleh
hipersensitivitas tipe-IV,dikenal sebagai reaksi imun yang tertunda. Reaksi ini
juga dikenal sebagai hipersensitivitas yang diperantarai sel, karena melibatkan sel
T.
 Bagaimana mekanisme penyebaran bintil gatal bernanah pada pasien yang berawal
dari tangan hingga menyebar hampir ke seluruh tubuh.
Siklus hidup tungau setelah kopulasi (perkawinan) yang teradi di atas kulit, tungau
jantan akan mati atau bertahan hidup beberapa hari di terowongan. Sedangkan tungau
betina yang sudah dibuahi menggali terowongan dalam stratum komeum dengan
kecepatan 2-3 milimeter sehari sambil meletakkan telumya 2 hingga 50 butir. Bentuk
betina yang sudah dibuahi dapat hidup sebulan. Dan betina ini dapat perpindah cukup
mudah baik secara langsung dan tidak langsung kebagian tubuh lain untuk
menempatkan telur-telurnya.
 Mengapa keluhan gatal terutama dirasakan pada malam hari
Gejala ini juga dikenal dengan Pruritus nokturna, hal ini disebabkan oleh tungau
penyab kondisi pasien ini lebih aktif pada malam hari. Apa alasannya ?, karena pada
saat malam hari tingkat kelembapan di lingkungan cukup tinggi, tungau penyebab
kondisi pasien akan lebih senang dengan kondisi kelembapan tinggi. Hal ini
dikarenakan mereka tidak bisa minum air akan tetapi tubuh mereka mengandung 70–
75% air, yang harus dipertahankan agar dapat bereproduksi. Sumber air utama mereka
adalah uap air yang secara aktif diekstraksi dari udara tak jenuh. Pada kelembapan
relatif di atas 65–70%.
 Apa diagnosis kerja dan diagnosis banding yang sesuai dengan kondisi yang dialami
pasien
Pasien di diagnosis mengalami scabies
Dengan DD : Ada pendapat yang mengatakan penyakit skabies ini merupakan the
greatest imitator, karena dapat menyerupai banyak penyakit kulit dengan keluhan
gatal.
1. Pioderma
Pioderma merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Secara
umum, pioderma dapat menimbulkan gejala yang mirip dengan scabies, hanya
saja, pada pioderma yang ditemukan hanya lesi makulopapular yang dapat disertai
dengan pustul tanpa ditemukan kanalikuli (terowongan) yang hanya ada pada
scabies.
2. Dermatitis Atopik
Pada dermatitis atopic dan scabies, lesi yang muncul berupa makula eritematosa
yang dapat disertai dengan gatal, dengan area predileksi terutama pada pipi dan
ekstremitas. Namun, dermatitis atopik tidak menimbulkan kanalikuli (Semacam
terowongan yang khas terdapat pada scabies. Selain itu, pada anamnesis perlu
ditekankan adanya riwayat atopi pada pasien, sementara hal itu tidak diperlukan
pada penderita scabies.
3. Pedikulosis Korporis
Pedikulosis korporis juga merupakan penyakit kulit akibat infestasi parasit. Pada
pedikulosis, penemuan telur dan titik merah pada pakaian maupun pakaian dalam
akibat darah bekas gigitan tungau dapat menjadi ciri khas. Selain itu, lesi
berbentuk kanalikuli juga tidak didapatkan pada pedikulosis korporis.
 Faktor risiko dari kondisi pasien
1. Kondisi kebersihan pasien yang kurang baik
2. Pasien memiliki kebiasaan untuk menggunakan benda milik orang lain
(handuk,sprei,bantal,dll)
3. Pasien berkontak fisik secara langsung dengan orang yang mengalami gejala
serupa
4. Pasien memiliki hewan peliharaan seperti anjing yang sudah tertular scabies
(sarcoptes scabiei var. animalis)
5. Pasien tinggal di wilayah yang padat penduduk.
 Pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis pada pasien
1. Pemeriksaan Mikroskopis
Untuk mendiagnosis scabies menggunakan mikroskop cahaya merupakan cara
sederhana dan mudah untuk memvisualisasikan tungau, telur, atau feses. Akurasi
dari mikroskop bergantung pada operator, terutama dalam menemukan
terowongan pada sampel kulit yang akan diambil dan dalam mengekstraksi
material.
2. Uji Tetrasiklin
Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam kanalikuli. Setelah
disinari, dengan menggunakan sinar ultraviolet dari lampu Wood, tetrasiklin
tersebut akan memberikan fluoresensi kuning keemasan pada kanalikuli
3. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)
Identifikasi terowongan bisa dibantu dengan cara mewarnai daerah lesi dengan
tinta [Link] tersebut akan kelihatan lebih gelap dibandingkan kulit di
sekitarnya karena akumulasi tinta di dalam terowongan. Tes dinyatakan positif
bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai bentuk
zigzag.
 Bagaimana tatalaksana yang sesuai untuk dilakukan pada pasien tersebut
1. Terapi Medikamentosa
Permentin
Terapi lini pertama adalah krim permetrin 5%, digunakan di seluruh area
tubuh 1 kali seminggu dan digunakan selama dua minggu (total 2 kali
pemakaian) Krim dioleskan pada kulit mulai dari leher hingga ke ujung kaki.
Dihapus setelah 10 jam
a. Gameksan 1% (Lindane 1%) Krim atau Losion
Merupakan salah satu obat pilihan karena efektif pada semua stadium scabies,
mudah digunakan dan jarang menyebabkan iritasi. Dosis pemberian adalah
sekali sehari dan dihapus setelah 8-12 jam.
b. Obat Suportif
Rasa gatal dapat bertahan hingga satu bulan walaupun terapi eradikasi
menggunakan agen skabisidal sudah berhasil. Pruritus dapat diobati dengan
antihistamin oral, seperti loratadine 10 mg sekali sehari.
2. Terapi Non Medikamentosa
a. Tea tree oil
berasal dari tanaman Melaleuca alternifolia, Produk ini digunakan sebagai
terapi adjuvan untuk scabies. pada tungau Sarcoptes scabiei var hominis
mendapatkan bahwa produk tea tree oil mematikan tungau lebih banyak
dibandingkan produk permethrin atau ivermectin (85% tungau mati setelah
kontak 1 jam dengan tea tree oil; 10% tungau mati setelah kontak dengan
permethrin dan ivermectin).
 Komplikasi yang mungkin timbul dari kondisi pasien
Prognosis dari scabies ini cukup baik dengan terapi yang adekuat, pasien dapat pulih
sepenuhnya. Apabila tidak diterapi dengan baik akan menimbulkan beberapa
gangguan seperti : insomnia, eksaserbasi dermatitis atopik, psoriasis, Grover disease.
Pada beberapa kasus ditemukan kasus gagal ginjal dan penyakit jantung rematik.
Diperkirakan hal ini berkorelasi dengan adanya infeksi sekunder dari streptokokus
ketika infestasi dari scabies berlangsung.
 Apa saja pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari kondisi yang dialami
pasien pada skenarion.
- Mengontrol faktor risiko yang dimiliki
- mencuci linen, handuk, dan baju dengan air panas. Hal ini diharapkan dapat
mencegah penularan melalui kontak tidak langsung dan reinfeksi scabies.
Diperkirakan tungau scabies dapat hidup tanpa inang selama 3 hari. Di luar inang,
tungau scabies sangat sensitif terhadap suhu dan kelembaban. Hal tersebut
mendasari mengapa mencuci pada air panas pada suhu lebih dari 60 derajat dapat
dipertimbangkan untuk eradikasi scabies dari benda-benda yang bersentuhan
langsung dengan pasien.
o Lo 1
 Skabies
 Etiologi
Sarcoptes scabiei hominis
Siklus Hidup
setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, tungau jantan akan mati dan
tungau betina akan tetap hidup dan menggali terowongan

Gambaran Mikroskopis

Sumber : Buku Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI (2016)


 Faktor risiko
a. Kondisi kebersihan pasien yang kurang baik
b. Pasien memiliki kebiasaan untuk menggunakan benda milik orang lain
(handuk,sprei,bantal,dll)
c. Pasien berkontak fisik secara langsung dengan orang yang mengalami gejala
serupa
d. Pasien tinggal di wilayah yang padat penduduk.
e. Scabies tipe kusta banyak ditemukan pada pasien imunokompromais, misalnya
pasien yang mengonsumsi terapi imunosupresif, diabetes, HIV, atau pada lansia.
Sumber : Buku Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI (2016)
 Patofisiologi
 Pemeriksaan Fisik dan Manifestasi Klinik
Kriteria diagnostik
a. Skabies Klasik
1. Terjadi pada pasien dengan respons imun normal; pruritus memburuk di
malam hari.
2. Papula eritematosa pada daerah periumbilikalis, pinggang, genitalia,
payudara, bokong, lipatan aksila, sela-sela jari-jari, pergelangan tangan.
Kepala, telapak tangan dan kaki umumnya tidak terlibat pada orang dewasa.

3. Papula kecil, ekskoriasi dengan kerak hemoragik di atasnya.


4. Kunikulus (tanda patognomonik/tanda khas) muncul sebagai garis tipis,
coklat keabu-abuan 0,5-1 cm namun jarang diamati karena ekskoriasi atau
infeksi bakteri sekunder.

5. Lesi lain: vesikel, nodul (keras, diameter 0,5 cm, umumnya pada genitalia
pria, selangkangan, bokong).
b. Skabies Krustosa
1. Terjadi pada pasien dengan defisiensi imun berat akibat penyakit (mis.
AIDS, infeksi HTLV1, keganasan dan kusta) atau terapi (mis. obat
imunosupresan dan agen biologis), penyakit neurologis, imobilitas atau pada
pasien yang rentan secara genetik.
2. Pruritus ringan atau tidak ada.
3. Lesi kulit terdiri dari plak eritematosa, berfisura (retak-retak) yang ditutupi
oleh sisik dan kerak.

4. Infeksi sekunder bakteri dapat menyebabkan lesi kulit berbau busuk.


Sumber : Panduan Praktik Klinis Bagi dokter spesialis dermatologi dan
venereology Indonesia (2021)
Menurut nternational Alliance for the Control of Scabies (IACS) pada tahun 2020
membagi diagnosis scabies menjadi tiga.
a. Scabies Terkonfirmasi, Setidaknya satu dari:
1. Tungau, telur, atau feses pada mikroskop cahaya melalui sampel kulit
2. Tungau, telur, atau feses yang tervisualisasi pada pasien dengan
menggunakan high-powered imaging
3. Tungau yang tervisualisasi pada pasien dengan menggunakan dermoskopi
b. Scabies Klinis, Setidaknya satu dari:
1. Terowongan scabies
2. Lesi tipikal pada genitalia pria
3. Lesi tipikal dengan distribusi tipikal dan dua riwayat yang berkaitan
c. Curiga atau Suspect Sabies, Satu dari:
1. Lesi tipikal dengan distribusi tipikal dan satu riwayat yang berkaitan
2. Lesi atipikal atau distribusi atipikal dan dua riwayat yang berkaitan
 Px Penunjang
a. Kerokan Kulit
Menjadi pemeriksaan penunjang yang paling mudah dan hasilnya cukup
memuaskan. Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral
atau KOH 10% lalu dilakukan kerokan dengan meggunakan scalpel steril yang
bertujuan untuk mengangkat atap papula atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan
diletakkan di gelas objek dan ditutup dengan kaca penutup lalu diperiksa
dibawah mikroskop.

A. Gambaran tungau b. Gambaran Telur dan Skibala (Kotoran dari tungaunya)


b. Uji Tetrasiklin
Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam kanalikuli.
Setelah dibersihkan, dengan menggunakan sinar ultraviolet dari lampu Wood,
tetrasiklin tersebut akan memberikan fluoresensi kuning keemasan pada
kanalikuli.
c. Burrow Ink Test
Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30 menit. Setelah
tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan tersebut akan kelihatan lebih
gelap dibandingkan kulit di sekitarnya karena akumulasi tinta di dalam
terowongan. Tes dinyatakan positif bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas
berupa garis menyerupai bentuk zigzag.

 Tatalaksana
a. Farmakologi
1. Skabies Klasikal
- Permetrin 5%
Merupakan terapi lini pertama, digunakan di seluruh area tubuh 1 kali
seminggu selama 8–14 jam kemudian bilas. dan digunakan selama dua
minggu (total 2 kali pemakaian). Aman dalam kehamilan, menyusui
(Kategori B), dan anak mulai usia 2 bulan

- Salep sulfur 5-10%


Preparat ini tidak efektif terhadap stadium telur, Penggunaannya aman
pada anak-anak bahkan pada bayi di bawah usia dua bulan. Berikan
sulfur presipitatum setiap malam setiap hari selama 3 hari setelah mandi,
dan biarkan selama 24 jam. Bilas secara menyeluruh dan mandi sebelum
mengoleskan ulang obat pada malam hari berikutnya.
- Emulsi Benzil Benzoas 20-25%
Obat ini efektif pada semua stadium. Penggunaannya diberikan setiap
malam selama tiga hari, dan harus dibiarkan minimal selama 24 jam.
Bilas secara menyeluruh dan mandi sebelum obat dioleskan ulang pada
malam hari setelahnya.
- Loratadine
Rasa gatal dapat bertahan hingga satu bulan walaupun terapi eradikasi
menggunakan agen skabisidal sudah berhasil. Pruritus dapat diobati
dengan antihistamin oral, seperti loratadine 10 mg sekali sehari. Sampai
gatalnya menghilang
2. Skabies Non Klasikal
Pada pasien scabies tipe krusta, dokter meminta pasien untuk menghilangkan
terlebih dahulu krusta pada kulit pasien agar terapi topikal dapat
mempenetrasi kulit. Dokter dapat menginstruksikan untuk mengangkat
krusta dengan mengompres area lesi dengan air hangat, diikuti aplikasi dari
agen keratolitik seperti asam salisilat 5%. Setelah itu, krusta dapat
didebridement secara manual dengan alat tumpul, barulah obat diaplikasikan
- Skabisida topikal (permethrin 5% krim atau losio benzil benzoate 25%)
diulang setiap hari selama 7 hari kemudian 2x setiap minggu hingga
sembuh.
- Dosis ivermectin yang direkomendasikan oleh Centers for Disease
Control and Prevention (CDC) untuk skabies adalah 200 mcg/kg peroral
dalam dosis tunggal. Pada kasus yang parah, seperti skabies berkrusta,
berikan ivermectin sebanyak 5 dosis (pada hari pertama, ke-2, -8, -9, dan
-15) dengan mempertimbangkan tambahan dua dosis lagi pada hari ke-
22 dan -29 untuk kasus berat. Pemberian ivermectin pada skabies perlu
disertai dengan obat topikal permetrim.
Sumber : Panduan Praktik Klinis Bagi dokter spesialis dermatologi dan
venereology Indonesia (2021) dan Jurnal Scabies: Epidemiology, Diagnosis,
and Treatment (2021)
 Prognosis dan Komplikasi
a. Prognosis
Prognosis scabies baik, terutama ketika scabies diterapi dengan baik dan
dilakukan skrining pada anggota keluarga atau orang lain yang satu rumah
dengan pasien. Dengan terapi yang adekuat, pasien dapat pulih sepenuhnya.
b. Komplikasi
Komplikasi di antaranya adalah eksaserbasi dermatitis atopik, psoriasis, Grover
disease. Walaupun dengan terapi yang baik, scabies dapat meninggalkan residu
untuk memicu eksaserbasi kondisi penyakit kulit lain yang sebelumnya pernah
dialami.

Pada beberapa kasus seringkali ditemukan kasus gagal ginjal dan penyakit
jantung rematik. Diperkirakan hal ini berkorelasi dengan adanya infeksi
sekunder dari streptokokus ketika infestasi dari scabies berlangsung.

Scabies tipe krusta dapat menyebabkan mortalitas karena risiko infeksi sekunder
bakteri meningkat dan dapat menyebabkan sepsis. Selain itu, pasien scabies tipe
krusta juga umumnya imunokompromais atau pada individu yang tinggal di
tempat perawatan jangka panjang dan mengalami keterlambatan diagnosis.
 Cutaneus Larva Migran
 Etiologi
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh larva cacing tambang yang seharusnya hidup
pada hewan dan di mana manusia yang terinfeksi merupakan inang akhir, contohnya
Ancylostoma braziliense, Ancylostoma caninum, Uncinaria stenocephala,
Bunostomum phlebotomum
 Faktor risiko
Wilayah yang hangat (Tropis dan Sub-tropis), ladang berpasir yang lembap dan
teduh, serta pasir pada area pantai adalah kondisi yang sangat sesuai untuk telur
cacing tambang dapat bertahan hidup.
a. kebiasaan berjalan tanpa alas kaki
b. bekerja memegang tanah tanpa sarung tangan
c. Kurangnya sanitasi
d. Pekerja (Petani,Tukang Kebuh,Peternak)
e. Orang yang mengunjungi wilayah endemic cacing tambang
Sumber : Buku Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI (2016)
 Patofisiologi
 Px Fisik dan Manifestasi Klinik
Tahapan perkembangan
a. Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas.
b. Mula-mula akan timbul papul (Folliculitis hookworm) yang menandakan larva
telah berada di bawah kulit selama beberapa hari/jam. Kemudian timbul plak
eritematosa, vesikular berbentuk linear dan serpiginosa. Lebar lesi sekitar 2-3
mm dengan panjang 15-20 cm. Lesi dapat tunggal atau multipel yang terasa gatal
bahkan nyeri.
Awal
Kondisi Lanjut

c. Predileksi infeksi ini pada kaki dan bokong.


d. Infeksi ini dapat memicu reaksi inflamasi eosinofilik, pada beberapa pasien
dapat disertai dengan wheezing, urtikaria, dan batuk kering.
e. Rasa gatal biasanya lebih hebat pada malam hari.
f. Gambaran klinis tergantung etiologi Ancylostoma braziliense, lesi dapat segera
bermanifestasi dalam 1 jam. Di sisi lain, lesi papular baru muncul setelah
beberapa hari pada infeksi U. stenocephala.
Sumber : Buku Panduan Praktik Klinis Bagi dokter spesialis dermatologi dan
venereology Indonesia (2021)
 Px Penunjang
Diagnosis cutaneous larva migrans umumnya dapat ditegakkan dengan anamnesis
dan pemeriksaan fisik, jarang memerlukan pemeriksaan penunjang.
a. Biopsi kulit (jika Folliculitis hookworm tanpa disertai gambaran erupsi merayap)
menunjukkan gambaran larva terperangkap di dalam kanal folikel, stratum
corneum, atau dermis, bersama dengan infiltrat eosinofilik inflamasi.
b. Kerokan kulit pada Folliculitis hookworm memberikan gambaran larva hidup
dan mati ketika diperiksa dengan mikroskop cahaya beserta minyak mineral.
Sumber : Buku Panduan Praktik Klinis Bagi dokter spesialis dermatologi dan
venereology Indonesia (2021)
 Tatalaksana
Prinsip: mematikan larva cacing.6 (1A) Terdapat beberapa obat/tindakan yang dapat
dipilih sesuai dengan indikasi sebagai berikut:
a. Topikal (kurang efektif dibandingkan terapi sistemik)
1. Salep albendazol 10% dioleskan 3 kali sehari selama 7-10 hari.
2. Salep thiabendazol 10-15% dioleskan 3 kali sehari selama 5-7 hari. Dapat
diberikan pada anak berusia kurang dari 2 tahun atau berat badan kurang dari
15 kg
b. Sistemik
1. Albendazol 400 mg untuk anak usia >2 tahun atau >10 kg selama 3-7 hari
berturut-turut. Tidak direkomendasikan pada wanita hamil dan menyusui.
2. Thiabendazol 50 mg/kg/hari selama 2-4 hari.
3. Ivermektin 200 µg/kg dosis tunggal, dosis kedua diberikan bila gagal.
Sebaiknya tidak diberikan pada anak berusia kurang dari 5 tahun atau berat
badan kurang dari 15 kg. Tidak direkomendasikan pada wanita hamil dan
menyusui
c. Tindakan
Larva umumnya bermigrasi di luar ujung lesi kulit yang terlihat dan lokasi tidak
dapat ditentukan dengan baik sehingga bedah eksisi atau cryotherapy/bedah beku
tidak dianjurkan. Tatalaksana ini terakhir dipakai pada era 60-70 an
Sumber : Buku Panduan Praktik Klinis Bagi dokter spesialis dermatologi dan
venereology Indonesia (2021)
 Prognosis dan Komplikasi
Prognosis
CLM tidak mengancam kehidupan, umumnya sembuh dengan terapi antihelmintes
albendazole atau tiabendazol. Penyakit ini bersifat swasirna dan sangat jarang
menimbulkan komplikasi
Komplikasi
a. Infeksi bakteri sekunder pada lesi cutaneous larva migrans dapat terjadi akibat
garukan yang berlebihan. Bakteri tersering penyebab infeksi sekunder
adalah Staphylococcus aureus dan bakteri Streptococcus sp.
b. Reaksi alergi juga dapat terjadi akibat enzim protease ataupun kolagenase yang
dihasilkan oleh larva cacing tambang.
c. Komplikasi yang relatif jarang adalah sindrom Loeffler. Kondisi ini ditandai
dengan gejala khas cutaneous larva migrans disertai gejala batuk yang tidak
produktif serta sesak.
Sumber : Buku Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI (2016)
 Pedikulosis
 Etiologi
a. Pediculus humanus var. capitis yang menyebabkan pedikulosis kapitis.
b. Pediculus humanus var. corporis yang menyebabkan pedikulosis korporis.
c. Phthirus pubis (nama dahulu: Pedicu/us pubis) yang menyebabkan pedikulosis
pubis.
Siklus Hidup
Setelah kopulasi Kutu betina akan bertelur dan melekatkan nits menggunakan lem
yang mereka keluarkan. Nits kutu kepala dan pubis akan melekat pada batang
rambut. Kutu dewasa akan bertahan hidup selama memiliki asupan darah. Kutu
kepala dan pubis dapat bertahan sampai 30 hari, dimana kutu badan dapat bertahan
sampai 60 hari. Bila terlepas dari host, kutu hanya dapat bertahan hidup selama 1–2
hari.
Sumber : Pediculosis. Journal of the American Academy of Dermatology
 Faktor risiko
a. Kondisi kebersihan anggota tubuh (rambut,badan,pubis) yang kurang baik
b. Rambut Panjang
c. Berkontak langsung skin to skin dengan pasien pediculosis
d. Menggunakan barang-barang secara bergantian (Handuk,Rambut,selimut,bantal)
e. Berhububungan badan dengan pasien pediculosis
f. Tinggal di wilayah yang padat penduduk
 Patofisiologi
 Px Fisik dan Manifestasi Klinik
a. Pediculus humanus var. capitis (Kepala)
1. Gejala awal yang dominan hanya rasa gatal, terutama pada daerah oksipital
dan temporal serta dapat meluas ke seluruh kepala.
2. Kemudian karena garukan, terjadi erosi, ekskoriasi, dan infeksi sekunder
(pus, krusta).

3. Bila infeksi sekunder berat, rambut akan bergumpal disebabkan oleh


banyaknya pus dan krusta (plikapelonika) dan disertai pembesaran
kelenjargetah bening regional (oksipital dan retroaurikular). Pada keadaan
tersebut kepala memberikan bau yang busuk.
b. Pediculus humanus var. corporis (Badan)
Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas-bekas garukan pada badan,
karena gatal baru berkurang dengan garukan yang lebih intensif. Kadang-kadang
timbul infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.
c. Phthirus pubis (nama dahulu: Pediculus pubis) (Pubis)
1. Gejala yang terutama adalah gatal di daerah pubis dan di sekitarnya. Gatal ini
dapat meluas sampai ke daerah abdomen dan dada
2. dijumpai bercak-bercak yang berwarna abuabu atau kebiruan yang disebut
sebagai makula serule. Kutu ini dapat dilihat dengan mata biasa dan sulit
untuk dilepaskan, karena kepala kutu masuk ke dalam muara folikel rambut.

3. Gejala patognomonik lainnya adalah black dot, yaitu adanya bercak-bercak


hitam yang tampak jelas pada celana dalam berwarna putih yang dilihat oleh
penderita pada waktu bangun tidur. Bercak hitam ini merupakan krusta
berasal dari darah yang sering salah interpretasi sebagai hematuria. Kadang-
kadang terjadi infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening
regional.
Sumber : Buku Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI (2016)
 Px Penunjang
a. Pemeriksaan Mikroskop
Pemeriksaan mikroskop dapat dilakukan dengan pengambilan nits atau kutu
secara langsung menggunakan cellulose tape pada daerah terinfestasi. Sampel
kemudian diperiksa langsung di bawah mikroskop.

Gambaran telur kutu di rambut

b. Pemeriksaan Wood lamp


Pemeriksaan wood lamp dapat menunjukan fluorescence berwarna hijau
kekuningan dari nits
 Tatalaksana
 Prognosis dan Komplikasi

Anda mungkin juga menyukai