Mekanisme dan Penanganan Skabies
Mekanisme dan Penanganan Skabies
o Kata Sulit
Bintil : bintul (bercak) kecil (seperti bekas digigit serangga) (KBBI)
o Brainstroming
Apakah terdapat hubungan ditemukannya kutu di kepala pasien dengan gejala yang
sedang dialami oleh pasien
Penyebab dari kondisi anak ini adalah tungau dan bukan kutu, sehingga tidak ada
hubungan antara ditemukannya kutu pada rambut dengan gejala yang sedang dialami
oleh pasien ini. Perbedaan antara gatal akibat kutu dan tungau adalah dari waktunya.
Kutu bisa sepanjang waktu sedangkan tungau biasanya pada malam hari.
Bagaimana Mekanisme timbulnya gatal dan bintil bernanah pada pasien
- Gatal : ketika tungau betina sedang menggali stratum korneum yang berliku-liku
akan menyebabkan terjadi iritasi mekanis pada kulit yang menyebabkan reaksi
immunologi sehingga terjadi aktivasi sel mast dan pelepasan histamin yang dapat
menyebabkan gatal-gatal.
- Eksim (rasa gatal dan ruam kulit yang memerah) dan pustule : dinisasi oleh
hipersensitivitas tipe-IV,dikenal sebagai reaksi imun yang tertunda. Reaksi ini
juga dikenal sebagai hipersensitivitas yang diperantarai sel, karena melibatkan sel
T.
Bagaimana mekanisme penyebaran bintil gatal bernanah pada pasien yang berawal
dari tangan hingga menyebar hampir ke seluruh tubuh.
Siklus hidup tungau setelah kopulasi (perkawinan) yang teradi di atas kulit, tungau
jantan akan mati atau bertahan hidup beberapa hari di terowongan. Sedangkan tungau
betina yang sudah dibuahi menggali terowongan dalam stratum komeum dengan
kecepatan 2-3 milimeter sehari sambil meletakkan telumya 2 hingga 50 butir. Bentuk
betina yang sudah dibuahi dapat hidup sebulan. Dan betina ini dapat perpindah cukup
mudah baik secara langsung dan tidak langsung kebagian tubuh lain untuk
menempatkan telur-telurnya.
Mengapa keluhan gatal terutama dirasakan pada malam hari
Gejala ini juga dikenal dengan Pruritus nokturna, hal ini disebabkan oleh tungau
penyab kondisi pasien ini lebih aktif pada malam hari. Apa alasannya ?, karena pada
saat malam hari tingkat kelembapan di lingkungan cukup tinggi, tungau penyebab
kondisi pasien akan lebih senang dengan kondisi kelembapan tinggi. Hal ini
dikarenakan mereka tidak bisa minum air akan tetapi tubuh mereka mengandung 70–
75% air, yang harus dipertahankan agar dapat bereproduksi. Sumber air utama mereka
adalah uap air yang secara aktif diekstraksi dari udara tak jenuh. Pada kelembapan
relatif di atas 65–70%.
Apa diagnosis kerja dan diagnosis banding yang sesuai dengan kondisi yang dialami
pasien
Pasien di diagnosis mengalami scabies
Dengan DD : Ada pendapat yang mengatakan penyakit skabies ini merupakan the
greatest imitator, karena dapat menyerupai banyak penyakit kulit dengan keluhan
gatal.
1. Pioderma
Pioderma merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Secara
umum, pioderma dapat menimbulkan gejala yang mirip dengan scabies, hanya
saja, pada pioderma yang ditemukan hanya lesi makulopapular yang dapat disertai
dengan pustul tanpa ditemukan kanalikuli (terowongan) yang hanya ada pada
scabies.
2. Dermatitis Atopik
Pada dermatitis atopic dan scabies, lesi yang muncul berupa makula eritematosa
yang dapat disertai dengan gatal, dengan area predileksi terutama pada pipi dan
ekstremitas. Namun, dermatitis atopik tidak menimbulkan kanalikuli (Semacam
terowongan yang khas terdapat pada scabies. Selain itu, pada anamnesis perlu
ditekankan adanya riwayat atopi pada pasien, sementara hal itu tidak diperlukan
pada penderita scabies.
3. Pedikulosis Korporis
Pedikulosis korporis juga merupakan penyakit kulit akibat infestasi parasit. Pada
pedikulosis, penemuan telur dan titik merah pada pakaian maupun pakaian dalam
akibat darah bekas gigitan tungau dapat menjadi ciri khas. Selain itu, lesi
berbentuk kanalikuli juga tidak didapatkan pada pedikulosis korporis.
Faktor risiko dari kondisi pasien
1. Kondisi kebersihan pasien yang kurang baik
2. Pasien memiliki kebiasaan untuk menggunakan benda milik orang lain
(handuk,sprei,bantal,dll)
3. Pasien berkontak fisik secara langsung dengan orang yang mengalami gejala
serupa
4. Pasien memiliki hewan peliharaan seperti anjing yang sudah tertular scabies
(sarcoptes scabiei var. animalis)
5. Pasien tinggal di wilayah yang padat penduduk.
Pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis pada pasien
1. Pemeriksaan Mikroskopis
Untuk mendiagnosis scabies menggunakan mikroskop cahaya merupakan cara
sederhana dan mudah untuk memvisualisasikan tungau, telur, atau feses. Akurasi
dari mikroskop bergantung pada operator, terutama dalam menemukan
terowongan pada sampel kulit yang akan diambil dan dalam mengekstraksi
material.
2. Uji Tetrasiklin
Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam kanalikuli. Setelah
disinari, dengan menggunakan sinar ultraviolet dari lampu Wood, tetrasiklin
tersebut akan memberikan fluoresensi kuning keemasan pada kanalikuli
3. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)
Identifikasi terowongan bisa dibantu dengan cara mewarnai daerah lesi dengan
tinta [Link] tersebut akan kelihatan lebih gelap dibandingkan kulit di
sekitarnya karena akumulasi tinta di dalam terowongan. Tes dinyatakan positif
bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai bentuk
zigzag.
Bagaimana tatalaksana yang sesuai untuk dilakukan pada pasien tersebut
1. Terapi Medikamentosa
Permentin
Terapi lini pertama adalah krim permetrin 5%, digunakan di seluruh area
tubuh 1 kali seminggu dan digunakan selama dua minggu (total 2 kali
pemakaian) Krim dioleskan pada kulit mulai dari leher hingga ke ujung kaki.
Dihapus setelah 10 jam
a. Gameksan 1% (Lindane 1%) Krim atau Losion
Merupakan salah satu obat pilihan karena efektif pada semua stadium scabies,
mudah digunakan dan jarang menyebabkan iritasi. Dosis pemberian adalah
sekali sehari dan dihapus setelah 8-12 jam.
b. Obat Suportif
Rasa gatal dapat bertahan hingga satu bulan walaupun terapi eradikasi
menggunakan agen skabisidal sudah berhasil. Pruritus dapat diobati dengan
antihistamin oral, seperti loratadine 10 mg sekali sehari.
2. Terapi Non Medikamentosa
a. Tea tree oil
berasal dari tanaman Melaleuca alternifolia, Produk ini digunakan sebagai
terapi adjuvan untuk scabies. pada tungau Sarcoptes scabiei var hominis
mendapatkan bahwa produk tea tree oil mematikan tungau lebih banyak
dibandingkan produk permethrin atau ivermectin (85% tungau mati setelah
kontak 1 jam dengan tea tree oil; 10% tungau mati setelah kontak dengan
permethrin dan ivermectin).
Komplikasi yang mungkin timbul dari kondisi pasien
Prognosis dari scabies ini cukup baik dengan terapi yang adekuat, pasien dapat pulih
sepenuhnya. Apabila tidak diterapi dengan baik akan menimbulkan beberapa
gangguan seperti : insomnia, eksaserbasi dermatitis atopik, psoriasis, Grover disease.
Pada beberapa kasus ditemukan kasus gagal ginjal dan penyakit jantung rematik.
Diperkirakan hal ini berkorelasi dengan adanya infeksi sekunder dari streptokokus
ketika infestasi dari scabies berlangsung.
Apa saja pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari kondisi yang dialami
pasien pada skenarion.
- Mengontrol faktor risiko yang dimiliki
- mencuci linen, handuk, dan baju dengan air panas. Hal ini diharapkan dapat
mencegah penularan melalui kontak tidak langsung dan reinfeksi scabies.
Diperkirakan tungau scabies dapat hidup tanpa inang selama 3 hari. Di luar inang,
tungau scabies sangat sensitif terhadap suhu dan kelembaban. Hal tersebut
mendasari mengapa mencuci pada air panas pada suhu lebih dari 60 derajat dapat
dipertimbangkan untuk eradikasi scabies dari benda-benda yang bersentuhan
langsung dengan pasien.
o Lo 1
Skabies
Etiologi
Sarcoptes scabiei hominis
Siklus Hidup
setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, tungau jantan akan mati dan
tungau betina akan tetap hidup dan menggali terowongan
Gambaran Mikroskopis
5. Lesi lain: vesikel, nodul (keras, diameter 0,5 cm, umumnya pada genitalia
pria, selangkangan, bokong).
b. Skabies Krustosa
1. Terjadi pada pasien dengan defisiensi imun berat akibat penyakit (mis.
AIDS, infeksi HTLV1, keganasan dan kusta) atau terapi (mis. obat
imunosupresan dan agen biologis), penyakit neurologis, imobilitas atau pada
pasien yang rentan secara genetik.
2. Pruritus ringan atau tidak ada.
3. Lesi kulit terdiri dari plak eritematosa, berfisura (retak-retak) yang ditutupi
oleh sisik dan kerak.
Tatalaksana
a. Farmakologi
1. Skabies Klasikal
- Permetrin 5%
Merupakan terapi lini pertama, digunakan di seluruh area tubuh 1 kali
seminggu selama 8–14 jam kemudian bilas. dan digunakan selama dua
minggu (total 2 kali pemakaian). Aman dalam kehamilan, menyusui
(Kategori B), dan anak mulai usia 2 bulan
Pada beberapa kasus seringkali ditemukan kasus gagal ginjal dan penyakit
jantung rematik. Diperkirakan hal ini berkorelasi dengan adanya infeksi
sekunder dari streptokokus ketika infestasi dari scabies berlangsung.
Scabies tipe krusta dapat menyebabkan mortalitas karena risiko infeksi sekunder
bakteri meningkat dan dapat menyebabkan sepsis. Selain itu, pasien scabies tipe
krusta juga umumnya imunokompromais atau pada individu yang tinggal di
tempat perawatan jangka panjang dan mengalami keterlambatan diagnosis.
Cutaneus Larva Migran
Etiologi
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh larva cacing tambang yang seharusnya hidup
pada hewan dan di mana manusia yang terinfeksi merupakan inang akhir, contohnya
Ancylostoma braziliense, Ancylostoma caninum, Uncinaria stenocephala,
Bunostomum phlebotomum
Faktor risiko
Wilayah yang hangat (Tropis dan Sub-tropis), ladang berpasir yang lembap dan
teduh, serta pasir pada area pantai adalah kondisi yang sangat sesuai untuk telur
cacing tambang dapat bertahan hidup.
a. kebiasaan berjalan tanpa alas kaki
b. bekerja memegang tanah tanpa sarung tangan
c. Kurangnya sanitasi
d. Pekerja (Petani,Tukang Kebuh,Peternak)
e. Orang yang mengunjungi wilayah endemic cacing tambang
Sumber : Buku Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI (2016)
Patofisiologi
Px Fisik dan Manifestasi Klinik
Tahapan perkembangan
a. Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas.
b. Mula-mula akan timbul papul (Folliculitis hookworm) yang menandakan larva
telah berada di bawah kulit selama beberapa hari/jam. Kemudian timbul plak
eritematosa, vesikular berbentuk linear dan serpiginosa. Lebar lesi sekitar 2-3
mm dengan panjang 15-20 cm. Lesi dapat tunggal atau multipel yang terasa gatal
bahkan nyeri.
Awal
Kondisi Lanjut