PERBEDAAN KESEPIAN DAN SIKAP PENGGUNAAN
MEDIA SOSIAL BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA
EMERGING ADULTHOOD.
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk gelar kesarjanaan pada
Program Studi Psikologi
Jenjang Pendidikan Strata-1
Oleh
Muhammad Ramadhan
2440117223
Psychology Program
Psychology Study Program
Faculty of Humanities
Universitas Bina Nusantara
Jakarta
2023/2024
Halaman Pernyataan Orisinalitas (Soft Cover)
Universitas Bina Nusantara
Pernyataan Kesiapan Skripsi untuk Sidang Skripsi
Pernyataan Penyusunan Skripsi
Saya, Muhammad Ramadhan dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul :
PERBEDAAN KESEPIAN DAN SIKAP PENGGUNAN MEDIA SOSIAL
BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA EMERGING ADULTHOOD
Adalah benar hasil karya saya dan belum pernah diajukan sebagai karya ilmiah, sebagian
atau seluruhnya, atas nama saya atau pihak lain
Muhammad Ramadhan
2440117223
Disetujui oleh Dosen Pembimbing
Saya setuju Skripsi tersebut diajukan untuk Sidang Skripsi
Tanggal,
Melly Preston, [Link]., [Link].
D6549
Halaman Persetujuan Dosen Pembimbing (Jilid Lakban)
PERBEDAAN KESEPIAN DAN SIKAP PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL
BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA EMERGING ADULTHOOD.
Skripsi
Disusun oleh:
Muhammad Ramadhan
2440117223
Disetujui oleh:
Pembimbing dan Head of Study Program
Melly Preston, [Link]., [Link]. Dr. Esther Widhi Andangsari, [Link]., Psi.
D6549 D3188
Universitas Bina Nusantara
Jakarta
2023/2024
Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi Skripsi
PERNYATAAN
Dengan ini saya,
Nama : Muhammad Ramadhan
NIM : 2440117223
Judul Skripsi : Perbedaan Kesepian dan Sikap Penggunaan Media Sosial
Berdasarkan Jenis Kelamin pada Emerging Adulthood
Memberikan kepada Universitas Bina Nusantara hak non-eksklusif Untuk menyimpan,
memperbanyak, dan menyebarluaskan Skripsi karya saya, secara keseluruhan atau hanya
sebagian atau hanya ringkasan saja, dalam bentuk format tercetak dan atau elektronik.
Menyatakan bahwa saya, akan mempertahanan hak eksklusif saya, untuk menggunakan
seluruh atau sebagian isi Skripsi saya, guna pengembangan karya di masa depan, misalnya
bentuk artikel, buku, perangkat lunak, ataupun sistem informasi.
Jakarta,
Hormat saya Diketahui oleh
Muhammad Ramadhan Nama dosen
2440117223 Kode dosen
Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi Internasional
SURAT PERNYATAAN
Saya, yang bertandatangan di bawah ini:
1. NIM : 2440227223
Nama : Muhammad Ramadhan
Fakultas – Program Studi : Humaniora – Psikologi S1
Dengan ini menyatakan bahwa karya yang berjudul:
“Perbedaan Kesepian dan Sikap Penggunaan Media Sosial Berdasarkan Jenis Kelamin
pada Emerging Adulthood”.
Di bawah Bimbingan dosen:
1. Melly Preston, [Link]., [Link]. – D6549
2. –
Telah dijadikan sebagai Tugas Akhir/Skripsi pada Program Studi di Universitas Bina
Nusantara dan telah diuji pada semester Genap tahun 2023/2024, disetujui untuk
dielaborasi dan diajukan bersama- sama sebagai publikasi internasional, dengan ketentuan :
Muhammad Ramadhan: Sebagai Penulis Pertama;
Para penulis di atas sekaligus merupakan pemegang hak cipta atas publikasi internasional
tersebut.
Pernyataan ini dibuat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari pihak manapun.
Jakarta,
Penulis Pertama,
Materai
Muhammad Ramadhan
Surat Keterangan Survei
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA
Psychology Program
Psychology Study Program
Faculty of Humanities
Skripsi Sarjana Psikologi
Semester Genap 2023/2024
PERBEDAAN KESEPIAN DAN SIKAP PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL
BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA EMERGING ADULTHOOD
Muhammad Ramadhan – 2440117223
Abstrak
Tujuan Penelitian, Metode Penelitian, Analisis, Hasil Yang dicapai, Simpulan
(Keterangan : Abstrak dalam satu paragraf, 100-200 kata)
Kata Kunci:
ABSTRACT
Keywords:
ABSTRAK
Kata Kunci:
Daftar Isi
Halaman Sampul
Halaman Judul
Halaman Pernyataan Orisinalitas
Halaman Persetujuan Dosen Pembimbing (Khusus Jilid Lakban)
Halaman Pernyataan Dewan Penguji (Khusus Jilid Lakban)
Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi Skripsi (Khusus Jilid Lakban)
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
Pendahuluan
Metode
- Etika Penelitian
- Partisipan
- Alat Ukur
- Desain Penelitian
- Prosedur
Hasil
Diskusi
Referensi
Lampiran
Riwayat Hidup
Pendahuluan
Berdasarkan seiring kemajuan Teknologi saat ini Smartphone sendiri datang dan
menawarkan dunia yang jauh lebih nyaman yang dapat memperkaya pengalaman dalam
suatu game serta informasi melalui internet hanya dalam beberapa detik saja (Reni et al.,
2024). Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)
menunjukan data terhitung sejak 2018 pengguna internet Indonesia berada di angka 64,8%.
Kemudian secara berurutan, 73,7% di 2020, 77,01% di 2022, dan 78,19% di 2023 (APJII,
2024). Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa internet semakin berkembang dan
berpengaruh pada kehidupan manusia yang dapat terjabar pada berbagai bidang yakni
ekonomi, sosial, politik, budaya, serta pendidikan (Rismala et al., 2021). Penggunaan
internet akan terus berkembang sebab internet memberikan kemudahan dan memfasilitasi
kebutuhan manusia seperti akses informasi, layanan online, dan komunikasi (Susetyo,
2018).
Penggunaan internet pada masyarakat Indonesia berdasarkan data dari APJII pada
tahun 2024, yakni sebanyak 79,5% kontribusi pengguna internet Indonesia banyak
bersumber dari laki-laki 50,7% dan perempuan 49,1%. Internet digunakan untuk
berinteraksi melalui sosial media (Mawardah, 2019). We are Social mengatakan
penggunaan media sosial di Indonesia sendiri Whatsapp masih menjadi media sosial yang
paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, dengan memiliki persentase di dalam
negeri mencapai 90,9% per Januari 2024, diikuti oleh Instagram dengan 85,3%, Facebook
81,6%, Tiktok 73,5% dan Telegram 61,3% (We Are Social, 2024).
Berkaitan dengan tingginya prevalensi penggunaan media sosial, riset yang
dilakukan APJII dengan Pusat Kajian Komunikasi mengungkapkan bahwa dari segi
umur, orang yang menggunakan sosial media ini mayoritas adalah rentangan usia 18-25
tahun sebanyak 34,40%, dan aktivitas yang dilakukan adalah 87% pada media sosial
(Kespramana, 2015). Media sosial adalah salah satu bentuk dari perkembangan teknologi
yang berbasis internet, dimana dapat menjadi alat komunikasi dan terdapat pertukaran
konten dari para penggunanya (ILMI, 2022). Beberapa situs media sosial tersebut memiliki
tujuaannya masing-masing bagi para penggunanya, salah satunya untuk berbagi
pengalaman, gagasan, atau momen kehidupan mereka (Agianto et al., 2020).
Dari adanya penggunaan media sosial tersebut, kita bisa mengetahui berbagai
aktivitas orang lain, walaupun kita tidak mengenal dan bertemu secara langsung dengan
orang tersebut (Mulawarman & Nurfitri, 2017). Salah satu kegiatan yang dilakukan
individu dalam menggunakan media sosial, yaitu swafoto (selfie), cyberwar, belanja
daring, personalisasi dari pengguna, dan berbagi mengenai budaya (Mulawarman &
Nurfitri, 2017). Terdapat penelitian yang dilakukan oleh (Park et al., 2009) menemukan
bahwa mahasiswa perempuan lebih sering menggunakan media sosial untuk mendapatkan
informasi tentang kegiatan di dalam maupun di luar kampus, untuk bersosialisasi dengan
teman, untuk mencari hiburan, dan untuk mencari status diri (Zanah & Rahardjo, 2020).
Hal tersebut juga didukung dari hasil laporan yang dilakukan oleh Napoleoncat
menyatakan tahun 2024 bahwa persentase salah satu media sosial, yaitu Instagram
Mayoritas pengguna Instagram di Indonesia adalah wanita dengan proporsi 54.8% di ikuti
laki-laki sebesar 45.2% ([Link], 2024). Tetapi berbeda dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh (Eka Yan Fitri & Chairoel, 2019) yang menemukan bahwa tidak ada
perbedaan alasan penggunaan media sosial antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa
perempuan yang menggunakan media sosial. Melihat data yang diatas dapat kita lihat
bahwa orang yang menggunakan sosial media ini mayoritas adalah rentangan usia 18-25
dengan memiliki tujuan penggunaan yang beragam seperti berbagi pengalaman, gagasan,
atau momen kehidupan mereka.
Usia 18-25 tahun termasuk dalam masa perkembangan Emerging adulthood.
(Arnett, 2000) mengatakan periode ini dicirikan oleh meningkatnya ketidakstabilan dan
kemungkinan, peningkatan fokus pada diri sendiri, eksplorasi identitas, dan perasaan
berada di antara keduanya yang dapat menempatkan kelompok usia ini pada peningkatan
risiko kesepian. Emerging adulthood ditandai dengan tugas tugas perkembangan seperti
transisi dari pendidikan tingkat kedua, memasuki pasar kerja, meninggalkan rumah
keluarga, dan perubahan dalam hubungan romantis, keluarga, dan sosial (Arnett, 2000).
Meskipun tantangan-tantangan ini berlaku di luar masa Emerging adulthood,
tantangan-tantangan ini paling menonjol pada masa-masa ini (Arnett & Mitra, 2020).
Kombinasi pengalaman sosial, ditambah dengan ekspektasi masyarakat yang unik selama
tahap kehidupan ini, membuat orang dewasa sangat rentan terhadap kesepian (Qualter et
al., 2015). Mengingat tingkat kesepian di masa dewasa baru menunjukkan peningkatan
yang kecil namun signifikan dari waktu ke waktu (Buecker et al., 2021), kesepian mungkin
mewakili masalah yang berkembang di masa Emerging adulthood.
Menurut data dari Hasil survei yang dilaporkan dalam Global State of Social
Connections pada November 2023 ini menunjukkan, tingkat rasa kesepian terendah
dilaporkan terjadi pada orang dewasa lanjut usia (berusia 65 tahun ke atas) dengan 17%
merasa sangat atau cukup kesepian. Tingkat tertinggi merasa kesepian dilaporkan terjadi
pada orang dewasa muda, berusia 19-29 tahun, dengan 27% merasa sangat atau cukup
kesepian. (Weiss, 1973) mengatakan kesepian sebagai perasaan terisolasi secara sosial,
yang di ibaratkan sebagai penyakit yang terus-menerus dan tidak menyenangkan
yang tidak memiliki kualitas positif. Perasaan terisolasi dan dikucilkan inilah yang umum
disebut sebagai kesepian (Miftahurrahmah & Harahap, 2020).
Teori multidimensi Weiss membedakan kesepian sosial, yang timbul dari
kurangnya koneksi sosial yang lebih luas, dan kesepian emosional, yang terkait
dengan kekurangan dalam hubungan intim, menyoroti sifat mereka yang berbeda
namun saling berhubungan (Keskin, 2024). Kesepian emosional disebabkan oleh
berkurangnya kedekatan ataupun tidak adanya hubungan emosional dengan seseorang
misalnya sahabat. Sedangan kesepian sosial atau yang sering disebut sebagai isolasi sosial
adalah ketika kurangnya interaksi dari orang yang di ekspetasikan atau tidak adanya
hubungan dengan lingkungan sosial yang lebih luas seperti tetangga, teman, atau, kolega
(Andangsari & Dhowi, 2016).
Penelitian yang dilakukan oleh (Fachrezy et al., 2022) mengatakan laki-laki
memiliki tingkat loneliness yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Selain itu
penelitian (Lin et al., 2016) menemukan bahwa wanita yang menggunakan media sosial
lebih sering dan mengalami penggunaan yang lebih intensif cenderung merasakan kesepian
yang lebih tinggi. Selain itu penelitian (Rinaldi, 2021) menunjukan bahwa tidak terdapat
perbedaan kesepian antara perempuan maupun laki-laki berdasarkan jenis kelamin.
Alasan penulis ingin mengambil penelitian tentang “Perbedaan Kesepian dan Sikap
Penggunaan Media Sosial berdasarkan Jenis Kelamin pada Emerging Adulthood” karena
penelitian sebelumnya yang memiliki hasil tidak konsisten. Keterkaitan mengapa variabel
di pilih, peneliti ingin mengeksplorasi hubungan antara: Tingkat kesepian laki-laki dan
perempuan dengan menggunakan alat ukur SELSA dimana akan melihat aspek sosial dan
emosional, serta melihat sikap penggunaan media sosial melalui alat ukur MTUAS, dimana
yang diharapkan pada penelitian ini dapat menambah wawasan tentang karakteristik
perkembangan gender pada usia tersebut, apakah akan terdapat perbedaan tingkat kesepian
antara laki-laki dan perempuan dan apakah akan terdapat perbedaan sikap penggunaan
media sosial antara laki-laki dan perempuan pada masa Emerging Adulthood, dimana
tujuan penelitian ini untuk memperdalam penelitian mengenai kesepian dan sikap
penggunaan media sosial sebelumnya.
Metode Penelitian
Partisipan
Partisipan yang akan diukur dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif S1 yang sedang
menjalani perkuliahan di Universitas X di Jabodetabek dan pengguna sosial media aktif
dalam 3 bulan terakhir dengan rentang usia 18-25 tahun (Emerging adulthood) .
Pengambilan sampel menggunakan Convenience sampling, menentukan responden
berdasarkan kebetulan atau tersedia pada suatu tempat, yang mana siapa saja ditemui
secara kebetulan dapat menjadi responden sesuai dengan kebutuhan penelitian (Gravetter,
F. J., & Forzano, 2012). Metode pengambilan data yang akan digunakan adalah kuesioner
dalam bentuk Google form yang nantinya akan disebar.
Alat ukur
Penelitian ini akan menggunakan dua alat ukur untuk mengukur variabel Kesepian dan
penggunaan media sosial. Alat ukur variabel kesepian adalah Social and Emotional
Loneliness Scale for Adults (SELSA) milik (DiTommaso & Spinner, 1993) merupakan alat
ukur yang digunakan untuk mengukur kesepian yang memiliki dua dimensi yaitu skala
emosi dan skala sosial, yang terbagi menjadi 3 sub skala, yaitu romantic loneliness, family
loneliness, dan social loneliness . Terdapat 37 aitem pada alat ukur SELSA dan partisipan
diminta untuk menanggapi aitem-aitem tersebut dalam 7 skala poin: 1 (sangat tidak setuju),
2 (tidak setuju), 3 (agak tidak setuju), 4 (netral), 5 (agak setuju), 6 (setuju), 7 (sangat
setuju) (DiTommaso & Spinner, 1993). Kuesioner SELSA yang digunakan oleh peneliti
adalah kuesioner SELSA yang telah disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia oleh
(Andangsari & Dhowi, 2016).
Lalu untuk variabel penggunaan media sosial alat ukur yang digunakan adalah
Media and Tech Usage and Attitude Scale oleh (Rosen et al., 2013), dimana pada alat ukur
ini terdapat dua subskala, yaitu subskala general social media usage dan attitudes, tetapi
dalam penelitian ini hanya menggunakan subskala attitudes yang memiliki 12 aitem, hal
tersebut dikarenakan peneliti hanya ingin melihat bagaimana sikap penggunaan media
sosial partisipan, dan tidak ingin melihat apa yang partisipan lakukan dalam menggunakan
media sosialnya. Dalam subskala attitudes terdapat tiga aspek, yaitu positive attitudes,
negative attitudes, dan anxiety/dependence dimana skala yang akan digunakan adalah skala
1 (Sangat Tidak Setuju), 2 (Tidak Setuju), 3 (Netral), 4 (Setuju), 5 (Sangat Setuju).
Desain Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kuantitatif. Dengan menggunakan jenis
korelasional prediktif untuk melihat sejauh mana dan mengeksplorasi hubungan antar
variabel. Dalam penelitian ini, terdapat variabel independen yaitu kesepian dan variabel
dependen penggunaan media sosial. Dalam penelitian ini penulis ingin melihat peranan
variabel satu dengan lainnya, yaitu kesepian dan pengunaan media sosial pada mahasiswa
aktif S1 yang sedang menjalani perkuliahan di Universitas X di Jabodetabek dan pengguna
media sosial aktif dalam 3 bulan terakhir dengan rentang usia 18-25 tahun. Analisis
penelitian akan menggunakan regresi linear untuk melihat hubungan antar dua variabel.
Prosedur
Prosedur penelitian ini akan menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner
yang akan dibuat menggunakan Google Forms dan akan disebarkan secara online melalui
sosial media. Sebelum kuesioner disebarkan, peneliti akan meminta izin kepada Student
Service Center (SSC) untuk mendapatkan approval karena sampel penelitian merupakan
mahasiswa Bina Nusantara University. Jika sudah mendapatkan approval, partisipan akan
diberikan informed consent berisikan tentang informasi penelitian yang sedang dilakukan,
tujuannya adalah mendapatkan persetujuan dari partisipan untuk berpartisipasi. Apabila
partisipan tidak menyetujui informed consent yang diberikan, maka partisipan tidak akan
melanjutkan pengisian kuesioner. Akan tetapi, jika partisipan menyetujui informed
consent, maka partisipan akan menuju ke halaman berikutnya untuk mengisi informasi diri,
seperti inisial, usia, jenis kelamin, semester pendidikan yang sedang dijalani oleh
mahasiswa, instansi pendidikan, dan domisili tempat tinggal. Kemudian, partisipan akan
diberi petunjuk dalam pengisian kuesioner dan mengisi kuesioner dari alat ukur yang telah
dipilih oleh peneliti yaitu Loneliness Scale for Adults (SELSA) dan Media and Tech Usage
and Attitude Scales (MTUAS).
Etika Penelitian
Informed consent
Penelitian yang dilakukan akan menggunakan informed consent untuk memberikan
informasi mengenai penelitian yang sedang dilakukan, seperti tujuan dari kuesioner akan
disebarkan secara online melalui tautan Microsoft Forms. Lalu, partisipan akan diberikan
informed consent, jika partisipan tidak menyetujui informed consent tersebut, maka
partisipan tidak akan lanjut untuk mengisi informasi diri dan kuesioner. Akan tetapi, jika
partisipan menyetujui informed consent, maka partisipan akan menuju ke halaman
berikutnya untuk mengisi informasi diri. Informed consent berfungsi sebagai bukti bahwa
calon partisipan setuju dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian secara sukarela
tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Dalam informed consent, peneliti akan
menjamin bahwa data partisipan bersifat kerahasiaan yang mana tidak boleh
disebarluaskan. Selain itu, peneliti juga akan mencantumkan kontak yang dapat dihubungi
jika partisipan memiliki pertanyaan atau hal yang ingin disampaikan.
Pre-registrasi
Dalam penelitian ini, sebelum pengambilan data, peneliti akan melakukan pre-registrasi
melalui Open Science Framework (OSF) dan akan mengunggah informasi tentang
penelitian yang akan dilakukan.
Transparasi
Dalam menunjukkan transparansi penelitian yang akan dilakukan, seluruh isi akan
disimpan di repositori publik, mulai dari informasi penelitian, alat ukur setiap variabel,
data penelitian, dan analisis statistik yang akan diunggah melalui Open Science Framework
(OSF) dan dapat diakses oleh peneliti lainnya melalui link berikut [Link]
Hasil
Diskusi
Referensi
Lampiran
Riwayat Hidup
Referensi
Agianto, R., Setiawati, A., & Firmansyah, R. (2020). Pengaruh Media Sosial Instagram
Terhadap Gaya Hidup dan Etika Remaja. Tematik, 7(2), 130–139.
[Link]
Andangsari, E. W., & Dhowi, B. (2016). Two typology types of loneliness and
problematic internet use (PIU): An evidence of Indonesian measurement.
Advanced Science Letters, 22(5–6), 1711–1714.
[Link]
Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens
through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480.
[Link]
Arnett, J. J., & Mitra, D. (2020). Are the Features of Emerging Adulthood
Developmentally Distinctive? A Comparison of Ages 18–60 in the United States.
Emerging Adulthood, 8(5), 412–419. [Link]
Buecker, S., Mund, M., Chwastek, S., Sostmann, M., & Luhmann, M. (2021). Is
Loneliness in Emerging Adults Increasing Over Time? A Preregistered Cross-
Temporal Meta-Analysis and Systematic Review. Psychological Bulletin, 147(8),
787–805. [Link]
DiTommaso, E., & Spinner, B. (1993). The development and initial validation of the
Social and Emotional Loneliness Scale for Adults (SELSA). Personality and
Individual Differences, 14(1), 127–134. [Link]
8869(93)90182-3
Eka Yan Fitri, M., & Chairoel, L. (2019). Penggunaan Media Sosial Berdasarkan
Gender Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa. Jurnal Benefita, 1(1), 162.
[Link]
Fachrezy, M., Cabacungan, M. A. S., & Kawuryan, F. (2022). Perbedaan Loneliness
Dan Self-esteem Pada Laki-laki Dan Perempuan Dewasa Muda Pengguna Media
Sosial. Jurnal Psikologi Perseptual, 7(2), 251–271.
[Link]
Gravetter, F. J., & Forzano, L.-A. B. (2012). Research Methods in the Behavioral
Sciences. In The American Catholic Sociological Review (Vol. 15, Issue 2).
[Link]
Keskin, D. (2024). Adaptation of the Social and Emotional Loneliness Scale for Adults
to Turkish Culture. 2019.
Kespramana, M. I. (2015). E-school library.
Lin, L. Y., Sidani, J. E., Shensa, A., Radovic, A., Miller, E., Colditz, J. B., Hoffman, B.
L., Giles, L. M., & Primack, B. A. (2016). ASSOCIATION between SOCIAL
MEDIA USE and DEPRESSION among U.S. YOUNG ADULTS. Depression and
Anxiety, 33(4), 323–331. [Link]
Mawardah, M. (2019). Adiksi Internet pada Masa Dewasa Awal. Jurnal Ilmiah Psyche,
13(2), 108–119. [Link]
Miftahurrahmah, H., & Harahap, F. (2020). Hubungan Kecanduan Sosial Media dengan
Kesepian pada Mahasiswa. Acta Psychologia, 2(2), 153–160.
[Link]
Mulawarman, M., & Nurfitri, A. D. (2017). Perilaku Pengguna Media Sosial beserta
Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan. Buletin Psikologi,
25(1), 36–44. [Link]
Park, N., Kee, K. F., & Valenzuela, S. (2009). Being immersed in social networking
environment: Facebook groups, uses and gratifications, and social outcomes.
Cyberpsychology and Behavior, 12(6), 729–733.
[Link]
Qualter, P., Vanhalst, J., Harris, R., Van Roekel, E., Lodder, G., Bangee, M., Maes, M.,
& Verhagen, M. (2015). Loneliness Across the Life Span. Perspectives on
Psychological Science, 10(2), 250–264.
[Link]
Reni, S., Asbari, M., & Ramadhan, M. B. (2024). Literaksi : Jurnal Manajemen
Pendidikan Attention Economy : Smartphone dan Media Sosial Candu Manusia
Modern ? Literaksi : Jurnal Manajemen Pendidikan Attention Economy :
Smartphone Dan Media Sosial Candu Manusia Modern, 02(01), 97–102.
Rinaldi, M. R. (2021). Kesepian pada Mahasiswa selama Pandemi COVID-19 di
Indonesia. Jurnal Psikologi Teori Dan Terapan, 11(3), 267.
[Link]
Rismala, R., Novamizanti, L., Ramadhani, K. N., Rohmah, Y. S., Parjuangan, S., &
Mahayana, D. (2021). Kajian Ilmiah dan Deteksi Adiksi Internet dan Media Sosial
di Indonesia Menggunakan XGBoost. Jurnal Edukasi Dan Penelitian Informatika
(JEPIN), 7(1), 1. [Link]
Rosen, L. D., Whaling, K., Carrier, L. M., Cheever, N. A., & Rokkum, J. (2013). The
Media and Technology Usage and Attitudes Scale: An empirical investigation.
Computers in Human Behavior, 29(6), 2501–2511.
[Link]
Susetyo, D. P. B. (2018). Ancaman Adiksi Internet dan Pencegahannya Internet
behavior View project Psychology and Culture View project. ResearchGate,
October, 1–9. [Link]
Zanah, F. N., & Rahardjo, W. (2020). Peran kesepian dan fear of missing out terhadap
kecanduan media sosial: Analisis regresi pada mahasiswa. Persona:Jurnal
Psikologi Indonesia, 9(2), 286–301. [Link]
ILMI, H. (2022). PERBEDAAN KESEPIAN DAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL
BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA DEWASA AWAL. 4.
Weiss, L. T. (1973). Loneliness: The Experience of Emotional and Social Isolation.
Cambridge: MA: MIT Press.
[Link]. (2024, February 8). Retrieved from [Link]
pengguna-instagram-di-indonesia
We Are Social. (2024, March 1). [Link]. Retrieved from
[Link]
banyak-digunakan-di-indonesia-awal-2024