0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan64 halaman

Syarat Umum Kontrak Konstruksi

Diunggah oleh

putriaqidah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan64 halaman

Syarat Umum Kontrak Konstruksi

Diunggah oleh

putriaqidah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

II.

SYARAT-SYARAT UMUM KONTRAK


A. KETENTUAN UMUM
1. Definisi Istilah-istilah yang digunakan dalam Syarat-
Syarat Umum Kontrak selanjutnya disebut
SSUK harus mempunyai arti atau tafsiran
seperti yang dimaksudkan sebagai berikut:
1.1 Aparat Pengawas Intern Pemerintah
yang selanjutnya disingkat APIP adalah
aparat yang melakukan pengawasan
melalui audit, reviu, pemantauan,
evaluasi, dan kegiatan pengawasan lain
terhadap penyelenggaraan tugas dan
fungsi Pemerintah.
1.2 Daftar Kuantitas/Keluaran dan Harga
adalah daftar kuantitas/keluaran yang
telah diisi harga satuan
kuantitas/keluaran sesuai ketentuan
pemberlakuannya dan jumlah biaya
keseluruhannya yang merupakan bagian
dari penawaran.
1.3 Direksi Lapangan adalah tenaga/tim
pendukung yang dibentuk/ditetapkan
oleh Pejabat yang berwenang untuk
menandatangani Kontrak, terdiri dari 1
(satu) orang atau lebih, untuk mengelola
administrasi Kontrak dan mengendalikan
pelaksanaan pekerjaan.
1.4 Harga Kontrak adalah total harga
pelaksanaan pekerjaan yang tercantum
dalam Kontrak.
1.5 Harga Perkiraan Sendiri yang
selanjutnya disingkat HPS adalah
perkiraan harga barang/jasa yang
ditetapkan oleh PPK yang telah
memperhitungkan biaya tidak langsung,
keuntungan dan Pajak Pertambahan
Nilai.
1.6 Harga Satuan Pekerjaan yang
selanjutnya disingkat HSP adalah harga
satu jenis pekerjaan tertentu per satu
satuan tertentu.
1.7 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan adalah
kerangka waktu yang sudah terinci
berdasarkan Masa Pelaksanaan, dan
disepakati dalam rapat persiapan
pelaksanaan Kontrak.
1.8 Keadaan Kahar adalah suatu keadaan
yang terjadi di luar kehendak para pihak
dalam Kontrak dan tidak dapat
diperkirakan sebelumnya, sehingga
kewajiban yang ditentukan dalam
Kontrak menjadi tidak dapat dipenuhi.
1.9 Kegagalan Bangunan adalah suatu
keadaan keruntuhan bangunan dan/atau
tidak berfungsinya bangunan setelah
penyerahan akhir hasil Jasa Konstruksi.
1.10 Kontrak Kerja Konstruksi selanjutnya
disebut Kontrak adalah keseluruhan
dokumen yang mengatur hubungan
hukum antara Pejabat yang berwenang
untuk menandatangani Kontrak dengan
Penyedia dalam pelaksanaan jasa
konsultansi konstruksi atau pekerjaan
konstruksi.
1.11 Kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang
selanjutnya disebut Kontrak adalah
perjanjian tertulis antara PPK dengan
penyedia yang mencakup Syarat-Syarat
Umum Kontrak (SSUK) ini dan Syarat-
Syarat Khusus Kontrak (SSKK) serta
dokumen lain yang merupakan bagian
dari kontrak.
1.12 Kuasa Pengguna Anggaran pada
pelaksanaan APBN yang selanjutnya
disingkat KPA adalah pejabat yang
memperoleh kuasa dari PA untuk
melaksanakan sebagian kewenangan
dan tanggung jawab Penggunaan
Anggaran pada Kementerian
Negara/Lembaga yang bersangkutan.
1.13 Kuasa Pengguna Anggaran pada
Pelaksanaan APBD yang selanjutnya
disebut KPA, adalah pejabat yang diberi
kuasa untuk melaksanakan sebagian
kewenangan PA dalam melaksanakan
sebagian tugas dan fungsi perangkat
daerah
1.14 Masa Kontrak adalah jangka waktu
berlakunya Kontrak ini terhitung sejak
tanggal penandatanganan Kontrak
sampai dengan Tanggal Penyerahan
Akhir Pekerjaan.
1.15 Masa Pelaksanaan adalah jangka waktu
untuk melaksanakan seluruh pekerjaan
terhitung sejak Tanggal Mulai Kerja
sampai dengan Tanggal Penyerahan
Pertama Pekerjaan.
1.16 Masa Pemeliharaan adalah jangka
waktu untuk melaksanakan kewajiban
pemeliharaan oleh Penyedia, terhitung
sejak Tanggal Penyerahan Pertama
Pekerjaan sampai dengan Tanggal
Penyerahan Akhir Pekerjaan.
1.17 Mata Pembayaran Utama adalah mata
pembayaran yang pokok dan penting
yang nilai bobot kumulatifnya minimal
80% (delapan puluh persen) dari seluruh
nilai pekerjaan, dihitung mulai dari mata
pembayaran yang nilai bobotnya
terbesar.
1.18 Metode Pelaksanaan Pekerjaan adalah
metode yang menggambarkan
penguasaan penyelesaian pekerjaan
yang sistematis dari awal sampai akhir
meliputi tahapan/urutan pekerjaan utama
dan uraian/cara kerja dari masing-
masing jenis kegiatan pekerjaan utama
yang dapat dipertanggungjawabkan
secara teknis.
1.19 Pejabat Pembuat Komitmen yang
selanjutnya disingkat PPK adalah
pejabat yang diberi kewenangan oleh
PA/KPA untuk mengambil keputusan
dan/atau melakukan tindakan yang dapat
mengakibatkan pengeluaran anggaran
belanja negara.
1.20 Pekerjaan Konstruksi adalah
keseluruhan atau sebagian kegiatan
yang meliputi pembangunan,
pengoperasian, pemeliharaan,
pembongkaran, dan pembangunan
kembali suatu bangunan.
1.21 Pekerjaan Utama adalah rangkaian
kegiatan dalam suatu penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi yang memiliki
pengaruh terbesar dalam mengakibatkan
terjadinya keterlambatan penyelesaian
pekerjaan konstruksi dan secara
langsung menunjang terwujudnya dan
berfungsinya suatu konstruksi sesuai
peruntukannya sebagaimana tercantum
dalam Rancangan kontrak.
1.22 Pelaku Usaha adalah badan usaha atau
perseorangan yang melakukan usaha
dan/atau kegiatan pada bidang tertentu.
1.23 Pelaku Usaha Orang Asli Papua, yang
selanjutnya disebut Pelaku usaha Papua
adalah pelaku usaha yang
merupakan/dimiliki orang asli Papua dan
berdomisili/berkedudukan di Provinsi
Papua.
1.24 Pengawas Pekerjaan adalah tim
pendukung/badan usaha yang
ditunjuk/ditetapkan oleh Pejabat yang
berwenang untuk menandatangani
Kontrak yang bertugas untuk mengawasi
pelaksanaan pekerjaan.
1.25 Pengguna Anggaran yang selanjutnya
disingkat PA adalah pejabat pemegang
kewenangan penggunaan anggaran
Kementerian
Negara/Lembaga/perangkat daerah.
1.26 Pejabat Penandatangan Kontrak
adalah pejabat yang memiliki
kewenangan untuk mengikat perjanjian
atau menandatangani Kontrak dengan
Penyedia, dapat berasal dari PA, KPA,
atau PPK.
1.27 Penyedia adalah Pelaku Usaha yang
menyediakan barang/jasa berdasarkan
Kontrak.
1.28 Personel Manajerial adalah tenaga ahli
atau tenaga teknis yang ditempatkan
sesuai penugasan pada organisasi
pelaksanaan pekerjaan.
1.29 Sanksi Daftar Hitam adalah sanksi yang
diberikan kepada Peserta
pemilihan/Penyedia berupa larangan
mengikuti Pengadaan Barang/Jasa di
seluruh Kementerian/Lembaga dalam
jangka waktu tertentu.
1.30 Subkontraktor adalah Penyedia yang
mengadakan perjanjian kerja tertulis
dengan Penyedia penanggung jawab
Kontrak, untuk melaksanakan sebagian
pekerjaan (subkontrak).
1.31 Surat Jaminan yang selanjutnya disebut
Jaminan adalah jaminan tertulis yang
dikeluarkan oleh Bank
Umum/Perusahaan
Penjaminan/Perusahaan
Asuransi/lembaga keuangan khusus
yang menjalankan usaha di bidang
pembiayaan, penjaminan, dan asuransi
untuk mendorong ekspor Indonesia.
1.32 Surat Perintah Mulai Kerja yang
selanjutnya disingkat SPMK adalah surat
yang diterbitkan oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak kepada
Penyedia untuk memulai melaksanakan
pekerjaan.
1.33 Tanggal Mulai Kerja adalah tanggal
yang dinyatakan pada SPMK yang
diterbitkan oleh Pejabat Penandatangan
Kontrak untuk memulai melaksanakan
pekerjaan.
1.34 Tanggal Penyerahan Pertama
Pekerjaan adalah tanggal serah terima
pertama pekerjaan selesai (Provisional
Hand Over/PHO) dinyatakan dalam
Berita Acara Serah Terima Pertama
Pekerjaan yang diterbitkan oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak.
1.35 Tanggal Penyerahan Akhir Pekerjaan
adalah tanggal serah terima akhir
pekerjaan selesai (Final Hand
Over/FHO) dinyatakan dalam Berita
Acara Serah Terima Akhir Pekerjaan
yang diterbitkan oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak.
1.36 Tenaga Kerja Konstruksi adalah
tenaga kerja yang bekerja di sektor
konstruksi yang meliputi ahli, teknisi atau
analis, dan operator.
2. Penerapan SSUK diterapkan secara luas dalam
pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi ini tetapi
tidak dapat bertentangan dengan ketentuan-
ketentuan dalam Dokumen Kontrak lain yang
lebih tinggi berdasarkan urutan hierarki dalam
Surat Perjanjian.
3. Bahasa dan Hukum 3.1 Bahasa Kontrak harus dalam bahasa
Indonesia.
3.2 Hukum yang digunakan adalah hukum
yang berlaku di Indonesia.
4. Korespondensi 4.1 Semua korespondensi dapat berbentuk
surat, e-mail dan/atau faksimili dengan
alamat tujuan para pihak yang tercantum
dalam SSKK.
4.2 Semua pemberitahuan, permohonan,
atau persetujuan berdasarkan Kontrak ini
harus dibuat secara tertulis dalam
Bahasa Indonesia, dan dianggap telah
diberitahukan jika telah disampaikan
secara langsung kepada Wakil Sah Para
Pihak dalam SSKK, atau jika
disampaikan melalui surat tercatat
dan/atau faksimili ditujukan ke alamat
yang tercantum dalam SSKK.
5. Wakil Sah Para 5.1 Setiap tindakan yang disyaratkan atau
Pihak diperbolehkan untuk dilakukan, dan
setiap dokumen yang disyaratkan atau
diperbolehkan untuk dibuat berdasarkan
Kontrak ini oleh Pejabat Penandatangan
Kontrak atau Penyedia hanya dapat
dilakukan atau dibuat oleh Wakil Sah
Para Pihak atau pejabat yang disebutkan
dalam SSKK kecuali untuk melakukan
perubahan kontrak.
5.2 Kewenangan Wakil Sah Para Pihak
diatur dalam Surat Keputusan dari Para
Pihak dan harus disampaikan kepada
masing-masing pihak.
5.3 Dalam hal Direksi Lapangan diangkat
dan ditunjuk menjadi Wakil Sah Pejabat
Penandatangan Kontrak, maka selain
melaksanakan pengelolaan administrasi
kontrak dan pengendalian pelaksanaan
pekerjaan, Direksi Lapangan juga
melaksanakan pendelegasian sesuai
dengan pelimpahan dari Pejabat
Penandatangan Kontrak.
6. Larangan Korupsi, 6.1 Berdasarkan etika pengadaan
Kolusi dan/atau barang/jasa pemerintah, para pihak
Nepotisme, dilarang untuk :
Penyalahgunaan a. menawarkan, menerima atau
Wewenang serta menjanjikan untuk memberi atau
Penipuan menerima hadiah atau imbalan
berupa apa saja atau melakukan
tindakan lainnya untuk
mempengaruhi siapapun yang
diketahui atau patut dapat diduga
berkaitan dengan pengadaan ini;
b. mendorong terjadinya persaingan
tidak sehat; dan/atau
c. membuat dan/atau menyampaikan
secara tidak benar dokumen
dan/atau keterangan lain yang
disyaratkan untuk penyusunan dan
pelaksanaan Kontrak ini.
6.2 Penyedia menjamin bahwa yang
bersangkutan tidak pernah dan tidak
akan melakukan tindakan yang dilarang
pada pasal 6.1 di atas.
6.3 Penyedia yang menurut penilaian
Pejabat Penandatangan Kontrak terbukti
melakukan larangan-larangan di atas
dapat dikenakan sanksi-sanksi
administratif oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak sebagai berikut:
a. pemutusan Kontrak;
b. Jaminan Pelaksanaan dicairkan dan
disetorkan sebagaimana ditetapkan
dalam SSKK;
c. sisa uang muka harus dilunasi oleh
Penyedia atau Jaminan Uang Muka
dicairkan dan disetorkan
sebagaimana ditetapkan dalam
SSKK; dan
d. pengenaan Sanksi Daftar Hitam.
6.4 Pengenaan sanksi administratif di atas
dilaporkan oleh Pejabat Penandatangan
Kontrak kepada PA/KPA.
6.5 Pejabat Penandatangan Kontrak yang
terlibat dalam korupsi, kolusi, dan/atau
nepotisme dan penipuan dikenakan
sanksi berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
7. Asal Material/Bahan 7.1 Penyedia harus menyampaikan asal
material/bahan yang terdiri dari rincian
komponen dalam negeri dan komponen
impor selama pelaksanaan pekerjaan
kepada Pejabat Penandatangan Kontrak.
7.2 Asal material/bahan merupakan tempat
material/bahan diperoleh, antara lain
tempat material/bahan ditambang,
tumbuh, atau diproduksi.
7.3 Kendaraan yang digunakan untuk
pengiriman dan pengangkutan
material/bahan mematuhi peraturan
perundangan terkait beban dan dimensi
kendaraan.
8. Pembukuan Penyedia diharapkan untuk melakukan
pencatatan keuangan yang akurat dan
sistematis sehubungan dengan pelaksanaan
pekerjaan ini berdasarkan standar akuntansi
yang berlaku.
9. Perpajakan Penyedia, Subkontraktor (jika ada), dan Tenaga
Kerja Konstruksi yang bersangkutan
berkewajiban untuk membayar semua pajak,
bea, retribusi, dan pungutan lain yang
dibebankan oleh peraturan perpajakan atas
pelaksanaan Kontrak ini. Semua pengeluaran
perpajakan ini dianggap telah termasuk dalam
Harga Kontrak.
10. Pengalihan Seluruh 10.1 Pengalihan seluruh Kontrak hanya
Kontrak diperbolehkan dalam hal pergantian
nama Penyedia, baik sebagai akibat
peleburan (merger) maupun akibat
lainnya.
10.2 Jika ketentuan di atas dilanggar maka
Kontrak diputuskan sepihak oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak dan Penyedia
dikenakan sanksi sebagaimana diatur
dalam pasal 44.2.
11. Pengabaian Jika terjadi pengabaian oleh satu pihak
terhadap pelanggaran ketentuan tertentu
Kontrak oleh pihak yang lain maka pengabaian
tersebut tidak menjadi pengabaian yang terus-
menerus selama Masa Kontrak atau seketika
menjadi pengabaian terhadap pelanggaran
ketentuan yang lain. Pengabaian hanya dapat
mengikat jika dapat dibuktikan secara tertulis
dan ditandatangani oleh Wakil Sah Pihak yang
melakukan pengabaian.
12. Penyedia Mandiri Penyedia berdasarkan Kontrak ini bertanggung
jawab penuh terhadap Tenaga Kerja Konstruksi
dan Subkontraktornya (jika ada) serta
pekerjaan yang dilakukan oleh mereka.
13. Pengawasan 13.1 Pejabat Penandatangan Kontrak
Pelaksanaan menetapkan Pengawas Pekerjaan untuk
Pekerjaan melakukan pengawasan pelaksanaan
pekerjaan sesuai Kontrak ini. Pengawas
Pekerjaan dapat berasal dari personel
Pejabat Penandatangan Kontrak (Direksi
Teknis) atau Penyedia Jasa
Pengawasan (Konsultan Pengawas).
13.2 Dalam melaksanakan kewajibannya,
Pengawas Pekerjaan bertindak
profesional. Jika tercantum dalam SSKK,
Pengawas Pekerjaan yang berasal dari
Personel Pejabat Penandatangan
Kontrak dapat bertindak sebagai Wakil
Sah Pejabat Penandatangan Kontrak.
14. Tugas dan 14.1 Semua gambar dan rencana kerja yang
Wewenang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan
Pengawas Pekerjaan sesuai Kontrak, untuk pekerjaan
permanen maupun pekerjaan sementara
harus mendapatkan persetujuan dari
Pengawas Pekerjaan sesuai pelimpahan
wewenang dari Pejabat Penandatangan
Kontrak.
14.2 Jika dalam pelaksanaan pekerjaan ini
diperlukan terlebih dahulu ada pekerjaan
sementara yang tidak tercantum dalam
Daftar Kuantitas dan Harga di dalam
Kontrak maka Penyedia berkewajiban
untuk menyerahkan spesifikasi dan
gambar usulan pekerjaan sementara
tersebut untuk mendapatkan pernyataan
tidak berkeberatan (no objection) untuk
dilaksanakan dari Pengawas Pekerjaan.
Pernyataan tidak berkeberatan atas
rencana pekerjaan sementara ini tidak
melepaskan Penyedia dari tanggung
jawabnya sesuai Kontrak.
14.3 Pengawas Pekerjaan melaksanakan
tugas dan wewenang paling sedikit
meliputi:
a. mengevaluasi dan menyetujui
rencana mutu pekerjaan konstruksi
Penyedia Jasa pelaksana konstruksi;
b. memberikan ijin dimulainya setiap
tahapan pekerjaan;
c. memeriksa dan menyetujui
kemajuan pelaksanaan Pekerjaan
Konstruksi sesuai dengan ketentuan
dalam Kontrak;
d. memeriksa dan menilai mutu dan
keselamatan konstruksi terhadap
hasil akhir pekerjaan;
e. menghentikan setiap pekerjaan yang
tidak memenuhi persyaratan;
f. bertanggungjawab terhadap hasil
pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi
sesuai tugas dan tanggungjawabnya;
g. memberikan laporan secara periodik
kepada Pejabat Penandatangan
Kontrak sesuai dengan ketentuan
dalam Kontrak.
14.4 Dalam hal Pengawas Pekerjaan
melaksanakan tugas dan wewenang
sebagaimana yang dimaksud pada pasal
15.3 yang akan mempengaruhi
ketentuan atau persyaratan dalam
kontrak maka Pengawas Pekerjaan
terlebih dahulu mendapatkan
persetujuan dari Pejabat Penandatangan
Kontrak.
14.5 Penyedia berkewajiban untuk
melaksanakan semua perintah
Pengawas Pekerjaan yang sesuai
dengan kewenangan Pengawas
Pekerjaan dalam Kontrak ini.
15. Penemuan- Penyedia wajib memberitahukan kepada
penemuan Pejabat Penandatangan Kontrak dan kepada
pihak yang berwenang semua penemuan
benda/barang yang mempunyai nilai sejarah
atau penemuan kekayaan di lokasi pekerjaan
yang menurut peraturan perundang-undangan
dikuasai oleh negara.
16. Akses ke Lokasi 16.1 Penyedia berkewajiban untuk menjamin
Kerja akses Pejabat Penandatangan Kontrak,
Wakil Sah Pejabat Penandatangan
Kontrak, Pengawas Pekerjaan dan/atau
pihak yang mendapat izin dari Pejabat
Penandatangan Kontrak ke lokasi kerja
dan lokasi lainnya dimana pekerjaan ini
sedang atau akan dilaksanakan.
16.2 Penyedia harus dianggap telah
menerima kelayakan dan ketersediaan
jalur akses menuju lapangan dan
Penyedia harus berupaya menjaga
setiap jalan atau jembatan dari
kerusakan akibat penggunaan/lalu lintas
Penyedia atau akibat personel Penyedia,
maka:
a. Penyedia harus bertanggung jawab
atas pemeliharaan yang mungkin
diperlukan akibat penggunaan jalur
akses;
b. Penyedia harus menyediakan rambu
atau petunjuk sepanjang jalur akses,
dan mendapatkan perizinan yang
mungkin disyaratkan oleh otoritas
terkait untuk penggunaan jalur,
rambu, dan petunjuk;
c. biaya karena ketidaklayakan atau
tidak tersedianya jalur akses untuk
digunakan oleh Penyedia, harus
ditanggung Penyedia; dan
d. Pejabat Penandatangan Kontrak
tidak bertanggung jawab atas klaim
yang mungkin timbul akibat
penggunaan jalur akses.
16.3 Dalam hal untuk menjamin ketersediaan
jalan akses tersebut membutuhkan biaya
yang lebih besar dari biaya umum
(overhead) dalam Penawaran Penyedia,
maka Pejabat Penandatangan Kontrak
dapat mengalokasikan biaya untuk
penyediaan jalur akses tersebut di dalam
Harga Kontrak.
16.4 Pejabat Penandatangan Kontrak tidak
bertanggung jawab atas klaim yang
mungkin timbul selain penggunaan jalur
akses tersebut.
B. PELAKSANAAN, PENYELESAIAN, ADENDUM DAN PEMUTUSAN KONTRAK
17. Masa Kontrak Kontrak ini berlaku efektif sejak
penandatanganan Surat Perjanjian oleh Para
Pihak sampai dengan Tanggal Penyerahan
Akhir Pekerjaan dan hak dan kewajiban Para
Pihak yang terdapat dalam Kontrak sudah
terpenuhi.
B.1Pelaksanaan Pekerjaan
18. Penyerahan Lokasi 18.1 Sebelum penyerahan lokasi kerja
Kerja dan Personel dilakukan peninjauan lapangan bersama
oleh para pihak.
18.2 Pejabat Penandatangan Kontrak
berkewajiban untuk menyerahkan lokasi
kerja sesuai dengan kebutuhan
Penyedia yang tercantum dalam rencana
penyerahan lokasi kerja yang telah
disepakati oleh para pihak dalam Rapat
Persiapan Penandatanganan Kontrak,
untuk melaksanakan pekerjaan tanpa
ada hambatan kepada Penyedia
sebelum SPMK diterbitkan.
18.3 Hasil peninjauan dan penyerahan
dituangkan dalam Berita Acara
Penyerahan Lokasi Kerja.
18.4 Jika dalam peninjauan lapangan
bersama ditemukan hal-hal yang dapat
mengakibatkan perubahan isi Kontrak
maka perubahan tersebut harus
dituangkan dalam Berita Acara
Penyerahan Lokasi Kerja yang
selanjutnya akan dituangkan dalam
adendum kontrak.
18.5 Jika Pejabat Penandatangan Kontrak
tidak dapat menyerahkan lokasi kerja
sesuai kebutuhan Penyedia untuk mulai
bekerja pada Tanggal Mulai Kerja untuk
melaksanakan pekerjaan dan terbukti
merupakan suatu hambatan yang
disebabkan oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak, maka kondisi
ini ditetapkan sebagai Peristiwa
Kompensasi.
18.6 Penyedia menyerahkan Personel
dengan memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
a. bukti sertifikat kompetensi:
1) personel manajerial pada
Pekerjaan Konstruksi; atau
2) personel inti pada Jasa
Konsultansi Konstruksi;
b. bukti sertifikat kompetensi
sebagaimana dimaksud dalam huruf
b dilaksanakan dengan menghadirkan
personel yang bersangkutan;
c. perubahan jangka waktu pelaksanaan
pekerjaan dikarenakan jadwal
pelaksanaan pekerjaan yang
ditetapkan sebelumnya akan
melewati batas tahun anggaran;
d. melakukan sertifikasi bagi operator,
teknisi, atau analis yang belum
bersertifikat pada saat pelaksanaan
pekerjaan; dan
e. pelaksanaan alih
pengalaman/keahlian bidang
konstruksi melalui sistem kerja
praktik/magang, membahas paling
sedikit terkait jumlah peserta, durasi
pelaksanaan, dan jenis keahlian.
f. Apabila Penyedia tidak dapat
menunjukan bukti sertifikat
sebagaimana huruf a dan b, maka
Pejabat Penandatangan Kontrak
meminta Penyedia untuk mengganti
personel yang memenuhi persyaratan
yang sudah ditentukan. Penggantian
personel harus dilakukan dalam
jangka waktu mobilisasi dan sesuai
dengan kesepakatan.
19. Surat Perintah Mulai 19.1 Pejabat Penandatangan Kontrak
Kerja (SPMK) menerbitkan SPMK paling lambat 14
(empat belas) hari kerja sejak tanggal
penandatanganan Kontrak atau 14
(empat belas) hari kerja sejak
penyerahan lokasi kerja pertama kali.
19.2 Dalam SPMK dicantumkan seluruh
lingkup pekerjaan dan Tanggal Mulai
Kerja.
20. Rencana Mutu 20.1 Penyedia berkewajiban untuk
Pekerjaan mempresentasikan dan menyerahkan
Konstruksi (RMPK) RMPK sebagai penjaminan dan
pengendalian mutu pelaksanaan
pekerjaan pada rapat persiapan
pelaksanaan Kontrak, kemudian dibahas
dan disetujui oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak.
20.2 RMPK disusun paling sedikit berisi:
a. Rencana Pelaksanaan Pekerjaan
(Work Method Statement );
b. Rencana Pemeriksaan dan
Pengujian/ Inspection and Test Plan
(ITP);
c. Pengendalian Subkontraktor dan
Pemasok.
20.3 Penyedia wajib menerapkan dan
mengendalikan pelaksanaan RMPK
secara konsisten untuk mencapai mutu
yang dipersyaratkan pada pelaksanaan
pekerjaan ini.
20.4 RMPK dapat direvisi sesuai dengan
kondisi pekerjaan.
20.5 Penyedia berkewajiban untuk
memutakhirkan RMPK jika terjadi
Adendum Kontrak dan/atau Peristiwa
Kompensasi.
20.6 Pemutakhiran RMPK harus
menunjukkan perkembangan kemajuan
setiap pekerjaan dan dampaknya
terhadap penjadwalan sisa pekerjaan,
termasuk perubahan terhadap urutan
pekerjaan. Pemutakhiran RMPK harus
mendapatkan persetujuan Pejabat
Penandatangan Kontrak.
20.7 Persetujuan Pejabat Penandatangan
Kontrak terhadap RMPK tidak mengubah
kewajiban kontraktual Penyedia.
21. Rencana 21.1 Penyedia berkewajiban untuk
Keselamatan mempresentasikan dan menyerahkan
Konstruksi (RKK) RKK pada saat rapat persiapan
pelaksanaan Kontrak, kemudian
pelaksanaan RKK dibahas dan disetujui
oleh Pejabat Penandatangan Kontrak.
21.2 Para Pihak wajib menerapkan dan
mengendalikan pelaksanaan RKK
secara konsisten.
21.3 RKK menjadi bagian dari Dokumen
Kontrak.
21.4 Penyedia berkewajiban untuk
memutakhirkan RKK sesuai dengan
kondisi pekerjaan, jika terjadi perubahan
maka dituangkan dalam adendum
Kontrak.
21.5 Pemutakhiran RKK harus mendapat
persetujuan Pejabat Penandatangan
Kontrak.
21.6 Persetujuan Pejabat Penandatangan
Kontrak terhadap pelaksanaan RKK
tidak mengubah kewajiban kontraktual
Penyedia.
22. Rapat Persiapan 22.1 Paling lambat 7 (tujuh) hari kalender
Pelaksanaan sejak diterbitkannya SPMK dan sebelum
Kontrak pelaksanaan pekerjaan, Pejabat
Penandatangan Kontrak bersama
dengan Penyedia, unsur perancangan,
dan unsur pengawasan, harus sudah
menyelenggarakan rapat persiapan
pelaksanaan kontrak.
22.2 Beberapa hal yang dibahas dan
disepakati dalam rapat persiapan
pelaksanaan kontrak meliputi:
a. Penerapan SMKK;
1) RKK;
2) RMPK;
3) Rencana Kerja Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan
(RKPPL) (apabila ada); dan
4) Rencana Manajemen Lalu Lintas
(RMLL) (apabila ada);
b. Rencana Kerja;
c. organisasi kerja;
d. tata cara pengaturan pelaksanaan
pekerjaan termasuk permohonan
persetujuan memulai pekerjaan;
e. jadwal pelaksanaan pekerjaan, yang
diikuti uraian tentang metode kerja
yang memperhatikan Keselamatan
Konstruksi; dan
f. hal-hal lain yang dianggap perlu.
22.3 Hasil rapat persiapan pelaksanaan
Kontrak dituangkan dalam Berita Acara
Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak.
Apabila dalam rapat persiapan
pelaksanaan kontrak mengakibatkan
perubahan isi Kontrak, maka harus
dituangkan dalam adendum Kontrak.
22.4 Pada tahapan rapat persiapan
pelaksanaan Kontrak, PA/KPA dapat
membentuk Pejabat/Panitia Peneliti
Pelaksanaan Kontrak.
23. Mobilisasi 23.1 Mobilisasi paling lambat harus sudah
mulai dilaksanakan dalam waktu 30 (tiga
puluh) hari kalender sejak diterbitkan
SPMK, atau sesuai kebutuhan dan
Rencana Kerja yang disepakati saat
Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak
23.2 Mobilisasi dilakukan sesuai dengan
lingkup pekerjaan, yaitu :
a. mendatangkan peralatan-peralatan
terkait yang diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan, termasuk
instalasi alat;
b. mempersiapkan fasilitas seperti
kantor, rumah, gedung laboratorium,
bengkel, gudang, dan sebagainya;
dan/atau
c. mendatangkan Tenaga Kerja
Konstruksi.
23.3 Mobilisasi peralatan dan kendaraan yang
digunakan mematuhi peraturan
perundangan terkait beban dan dimensi
kendaraan.
23.4 Mobilisasi peralatan dan Tenaga Kerja
Konstruksi dapat dilakukan secara
bertahap sesuai dengan kebutuhan.
24. Pengukuran / 24.1 Pada tahap awal pelaksanaan Kontrak,
Pemeriksaan Pejabat Penandatangan Kontrak dan
Bersama Pengawas Pekerjaan bersama-sama
dengan Penyedia melakukan
pengukuran dan pemeriksaan detail
terhadap kondisi lokasi pekerjaan untuk
setiap rencana mata pembayaran,
Tenaga Kerja Konstruksi, dan Peralatan
Utama (Mutual Check 0%).
24.2 Hasil pemeriksaan bersama dituangkan
dalam Berita Acara. Apabila dalam
pengukuran/pemeriksaan bersama
mengakibatkan perubahan isi Kontrak,
maka harus dituangkan dalam adendum
Kontrak.
24.3 Tindak lanjut hasil pemeriksaan bersama
Tenaga Kerja Konstruksi dan/atau
Peralatan Utama mengikuti ketentuan
pasal 67 dan 68.
25. Penggunaan 25.1 Dalam pelaksanaan pekerjaan ini,
Produksi Dalam Penyedia berkewajiban mengutamakan
Negeri material/ bahan produksi dalam negeri
dan tenaga kerja Indonesia untuk
pekerjaan yang dilaksanakan di
Indonesia sesuai dengan yang
disampaikan pada saat penawaran.
25.2 Dalam pelaksanaan Pekerjaan
Konstruksi, bahan baku, Tenaga Kerja
Konstruksi, dan perangkat lunak yang
digunakan mengacu kepada dokumen:
a. formulir Penyampaian Tingkat
Komponen Dalam Negeri (TKDN),
untuk Penyedia yang mendapat
preferensi harga; dan
b. daftar barang yang diimpor, untuk
barang yang diimpor.
25.3 Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan
ditemukan ketidaksesuaian dengan
dokumen pada pasal 26.2, maka akan
dikenakan sanksi sesuai peraturan
perundangan yang berlaku.
B.2 Pengendalian Waktu
26. Masa Pelaksanaan 26.1 Kecuali Kontrak diputuskan untuk
dilaksanakan lebih awal, Penyedia
berkewajiban untuk memulai
pelaksanaan pekerjaan pada Tanggal
Mulai Kerja, dan melaksanakan
pekerjaan sesuai dengan RMPK, serta
menyelesaikan pekerjaan paling lambat
selama Masa Pelaksanaan yang
dinyatakan dalam SSKK.
26.2 Apabila Penyedia berpendapat tidak
dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai
Masa Pelaksanaan karena di luar
pengendaliannya yang dapat dibuktikan
demikian, dan Penyedia telah
melaporkan kejadian tersebut kepada
Pejabat Penandatangan Kontrak,
dengan disertai bukti-bukti yang dapat
disetujui Pejabat Penandatangan
Kontrak, maka Pejabat Penandatangan
Kontrak dapat memberlakukan Peristiwa
Kompensasi dan melakukan
penjadwalan kembali pelaksanaan tugas
Penyedia dengan membuat adendum
Kontrak.
26.3 Jika pekerjaan tidak selesai sesuai Masa
Pelaksanaan bukan akibat Keadaan
Kahar atau Peristiwa Kompensasi atau
karena kesalahan atau kelalaian
Penyedia maka Penyedia dikenakan
denda.
26.4 Apabila diberlakukan serah terima
sebagian pekerjaan (secara parsial),
Masa Pelaksanaan dibuat berdasarkan
bagian pekerjaan tersebut sesuai
dengan SSKK.
26.5 Bagian pekerjaan pada pasal 27.4
adalah bagian pekerjaan yang telah
ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan.
27. Penundaan Oleh Pengawas Pekerjaan dapat memerintahkan
Pegawas Pekerjaan secara tertulis Penyedia untuk menunda
pelaksanaan pekerjaan. Setiap perintah
penundaan ini harus mendapatkan persetujuan
dari Pejabat Penandatangan Kontrak.
28. Rapat Pemantauan 28.1 Pengawas Pekerjaan atau Penyedia
dapat menyelenggarakan rapat
pemantauan, dan meminta satu sama
lain untuk menghadiri rapat tersebut.
Rapat pemantauan diselenggarakan
untuk membahas perkembangan
pekerjaan dan perencanaan atas sisa
pekerjaan serta untuk menindaklanjuti
peringatan dini.
28.2 Hasil rapat pemantauan akan dituangkan
oleh Pengawas Pekerjaan dalam berita
acara rapat, dan rekamannya diserahkan
kepada Pejabat Penandatangan Kontrak
dan pihak-pihak yang menghadiri rapat.
28.3 Mengenai hal-hal dalam rapat yang perlu
diputuskan, Pengawas Pekerjaan dapat
memutuskan baik dalam rapat atau
setelah rapat melalui pernyataan tertulis
kepada semua pihak yang menghadiri
rapat.
29. Peringatan Dini 30.1 Penyedia berkewajiban untuk
memperingatkan sedini mungkin
Pengawas Pekerjaan atas peristiwa atau
kondisi tertentu yang dapat
mempengaruhi mutu pekerjaan,
menaikkan Harga Kontrak atau menunda
penyelesaian pekerjaan. Pengawas
Pekerjaan dapat memerintahkan
Penyedia untuk menyampaikan secara
tertulis perkiraan dampak peristiwa atau
kondisi tersebut di atas terhadap Harga
Kontrak dan Masa Pelaksanaan.
Pernyataan perkiraan ini harus sesegera
mungkin disampaikan oleh Penyedia.
30. Keterlambatan 30.2 Penyedia berkewajiban untuk bekerja
Pelaksanaan sama dengan Pengawas Pekerjaan
Pekerjaan dan untuk mencegah atau mengurangi
Kontrak Kritis dampak peristiwa atau kondisi tersebut.
31.1 Apabila Penyedia terlambat
melaksanakan pekerjaan sesuai jadwal,
maka Pejabat Penandatangan Kontrak
harus memberikan peringatan secara
tertulis atau memberlakukan ketentuan
kontrak kritis.
31.2 Kontrak dinyatakan kritis apabila:
a. Dalam periode I (rencana fisik
pelaksanaan 0% - 70% dari
Kontrak), selisih keterlambatan
antara realisasi fisik pelaksanaan
dengan rencana lebih besar 10%
b. Dalam periode II (rencana fisik
pelaksanaan 70% - 100% dari
Kontrak), selisih keterlambatan
antara realisasi fisik pelaksanaan
dengan rencana lebih besar 5%;
c. Dalam periode II (rencana fisik
pelaksanaan 70% - 100% dari
Kontrak), selisih keterlambatan
antara realisasi fisik pelaksanaan
dengan rencana pelaksanaan
kurang dari 5% dan akan melampaui
tahun anggaran berjalan.
31.3 Penanganan kontrak kritis dilakukan
dengan rapat pembuktian (show cause
meeting/SCM)
a. Pada saat Kontrak dinyatakan kritis,
Pejabat Penandatangan Kontrak
berdasarkan laporan dari Pengawas
Pekerjaan memberikan peringatan
secara tertulis kepada Penyedia dan
selanjutnya Pejabat Penandatangan
Kontrak menyelenggarakan Rapat
Pembuktian (SCM) Tahap I.
b. Dalam SCM Tahap I, Pejabat
Penandatangan Kontrak, Pengawas
Pekerjaan dan Penyedia membahas
dan menyepakati besaran kemajuan
fisik yang harus dicapai oleh
Penyedia dalam periode waktu
tertentu (uji coba pertama) yang
dituangkan dalam Berita Acara SCM
Tahap I.
c. Apabila Penyedia gagal pada uji
coba pertama, maka Pejabat
Penandatangan Kontrak
menerbitkan Surat Peringatan
Kontrak Kritis I dan harus
diselenggarakan SCM Tahap II yang
membahas dan menyepakati
besaran kemajuan fisik yang harus
dicapai oleh Penyedia dalam waktu
tertentu (uji coba kedua) yang
dituangkan dalam Berita Acara SCM
Tahap II.
d. Apabila Penyedia gagal pada uji
coba kedua, maka Pejabat
Penandatangan Kontrak
menerbitkan Surat Peringatan
Kontrak Kritis II dan harus
31. Pemberian diselenggarakan SCM Tahap III
Kesempatan yang membahas dan menyepakati
besaran kemajuan fisik yang harus
dicapai oleh Penyedia dalam waktu
tertentu (uji coba ketiga) yang
dituangkan dalam Berita Acara SCM
Tahap III.
e. Apabila Penyedia gagal pada uji
coba ketiga, maka Pejabat
Penandatangan Kontrak
menerbitkan Surat Peringatan
Kontrak Kritis III dan Pejabat
Penandatangan Kontrak dapat
melakukan pemutusan Kontrak
secara sepihak dengan
mengesampingkan Pasal 1266 dan
1267 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata.
f. Apabila uji coba berhasil, namun
pada pelaksanaan pekerjaan
selanjutnya Kontrak dinyatakan kritis
lagi maka berlaku ketentuan SCM
dari awal.

32.1 Dalam hal diperkirakan Penyedia gagal


menyelesaikan pekerjaan sampai Masa
Pelaksanaan berakhir, namun Pejabat
Penandatangan Kontrak menilai bahwa
Penyedia mampu menyelesaikan
pekerjaan, Pejabat Penandatangan
Kontrak dapat memberikan kesempatan
kepada Penyedia untuk menyelesaikan
pekerjaan.

32.2 Hasil penilaian menjadi dasar bagi


Pejabat Penandatangan Kontrak untuk:
a. Memberikan kesempatan kepada
Penyedia untuk menyelesaikan
pekerjaannya dengan ketentuan
sebagai berikut:
1) Pemberian kesempatan kepada
Penyedia menyelesaikan
pekerjaan sampai dengan 50
(lima puluh) hari kalender.
2) Dalam hal setelah diberikan
kesempatan sebagaimana angka
1 diatas, Penyedia masih belum
dapat menyelesaikan pekerjaan,
Pejabat Penandatangan Kontrak
dapat:
a) Memberikan kesempatan
kedua untuk penyelesaian sisa
pekerjaan dengan jangka
waktu sesuai kebutuhan; atau
b) Melakukan pemutusan Kontrak
dalam hal Penyedia dinilai
tidak akan sanggup
menyelesaikan pekerjaannya.
3) Pemberian kesempatan kepada
Penyedia sebagaimana dimaksud
pada angka 1) dan angka 2) huruf
a), dituangkan dalam adendum
kontrak yang didalamnya
mengatur pengenaan sanksi
denda keterlambatan kepada
Penyedia dan perpanjangan masa
berlaku Jaminan Pelaksanaan
(apabila ada).
4) Pemberian kesempatan kepada
Penyedia untuk menyelesaikan
pekerjaan dapat melampaui tahun
anggaran.
b. Tidak memberikan kesempatan
kepada Penyedia dan dilanjutkan
dengan pemutusan kontrak serta
pengenaan sanksi administratif dalam
hal antara lain:
1) Penyedia dinilai tidak dapat
menyelesaikan pekerjaan;
2) Pekerjaan yang harus segera
dipenuhi dan tidak dapat ditunda;
atau
3) Penyedia menyatakan tidak
sanggup menyelesaikan
pekerjaan.
32.3 Pemberian kesempatan kepada Penyedia
untuk menyelesaikan pekerjaan dimuat
dalam adendum Kontrak yang
didalamnya mengatur:
a. waktu pemberian kesempatan
penyelesaian pekerjaan;
b. pengenaan sanksi denda
keterlambatan kepada Penyedia;
c. perpanjangan masa berlaku
Jaminan Pelaksanaan; dan
d. sumber dana untuk membiayai
penyelesaian sisa pekerjaan yang
akan dilanjutkan ke Tahun Anggaran
berikutnya dari DIPA Tahun
Anggaran berikutnya, apabila
pemberian kesempatan melampaui
Tahun Anggaran.

B.3 Penyelesaian Kontrak


32. Serah Terima 32.1 Setelah pekerjaan dan/atau bagian
Pekerjaan pekerjaan selesai, sesuai dengan
ketentuan dalam Kontrak, Penyedia
mengajukan permintaan secara tertulis
kepada Pejabat Penandatangan Kontrak
untuk serah terima pertama pekerjaan.
32.2 Pejabat Penandatangan Kontrak
memerintahkan Pengawas Pekerjaan
untuk melakukan pemeriksaan dan/atau
pengujian terhadap hasil pekerjaan.
32.3 Pemeriksaan dan/atau pengujian
dilakukan terhadap kesesuaian hasil
pekerjaan terhadap kriteria/spesifikasi
yang tercantum dalam Kontrak.
32.4 Hasil pemeriksaan dan/atau pengujian
dari Pengawas Pekerjaan disampaikan
kepada Pejabat Penandatangan
Kontrak, apabila dalam pemeriksaan
hasil pekerjaan tidak sesuai dengan
ketentuan yang tercantum dalam
Kontrak dan/atau cacat hasil pekerjaan,
Pejabat Penandatangan Kontrak
memerintahkan Penyedia untuk
memperbaiki dan/atau melengkapi
kekurangan pekerjaan.
32.5 Apabila dalam pemeriksaan dan/atau
pengujian hasil pekerjaan telah sesuai
dengan ketentuan yang tercantum
dalam Kontrak maka Pejabat
Penandatangan Kontrak dan Penyedia
menandatangani Berita Acara Serah
Terima Pertama Pekerjaan.
32.6 Pembayaran dilakukan sebesar 95%
(sembilan puluh lima persen) dari Harga
Kontrak, sedangkan yang 5% (lima
persen) merupakan retensi selama
masa pemeliharaan, atau pembayaran
dilakukan sebesar 100% (seratus
persen) dari Harga Kontrak dan
Penyedia harus menyerahkan Jaminan
Pemeliharaan sebesar 5% (lima persen)
dari Harga Kontrak.
32.7 Penyedia wajib memelihara hasil
pekerjaan selama Masa Pemeliharaan
sehingga kondisi tetap seperti pada saat
penyerahan pertama pekerjaan.
32.8 Masa Pemeliharaan paling singkat untuk
pekerjaan permanen selama 6 (enam)
bulan, sedangkan untuk pekerjaan semi
permanen selama 3 (tiga) bulan dan
dapat melampaui Tahun Anggaran.
Lamanya Masa Pemeliharaan
ditetapkan dalam SSKK.
32.9 Setelah Masa Pemeliharaan berakhir,
Penyedia mengajukan permintaan
secara tertulis kepada Pejabat
Penandatangan Kontrak untuk
penyerahan akhir pekerjaan.
32.10 Pejabat Penandatangan Kontrak setelah
menerima pegajuan sebagaimana pasal
33.9 memerintahkan Pengawas
Pekerjaan untuk melakukan
pemeriksaan (dan pengujian apabila
diperlukan) terhadap hasil pekerjaan.
32.11 Apabila dalam pemeriksaan hasil
pekerjaan, Penyedia telah
melaksanakan semua kewajibannya
selama Masa Pemeliharaan dengan baik
dan telah sesuai dengan ketentuan yang
tercantum dalam Kontrak maka Pejabat
Penandatangan Kontrak dan Penyedia
menandatangani Berita Acara Serah
Terima Akhir Pekerjaan.
32.12 Pejabat Penandatangan Kontrak wajib
melakukan pembayaran sisa Harga
Kontrak yang belum dibayar atau
mengembalikan Jaminan Pemeliharaan.
32.13 Apabila Penyedia tidak melaksanakan
kewajiban pemeliharaan sebagaimana
mestinya, maka Kontrak dapat
diputuskan sepihak oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak dan Penyedia
dikenakan sanksi sebagaimana diatur
dalam pasal 44.3.
32.14 Setelah penandatanganan Berita Acara
Serah Terima Akhir Pekerjaan, Pejabat
Penandatangan Kontrak menyerahkan
hasil pekerjaan kepada PA/KPA.
32.15 Serah terima pekerjaan dapat dilakukan
perbagian pekerjaan (secara parsial)
yang ketentuannya ditetapkan dalam
SSKK.
32.16 Bagian pekerjaan yang dapat dilakukan
serah terima pekerjaan sebagian atau
secara parsial yaitu:
a. bagian pekerjaan yang tidak
tergantung satu sama lain; dan
b. bagian pekerjaan yang fungsinya
tidak terkait satu sama lain dalam
pencapaian kinerja pekerjaan.
32.17 Dalam hal dilakukan serah terima
pekerjaan secara parsial, maka cara
pembayaran, ketentuan denda dan
kewajiban pemeliharaan tersebut di atas
disesuaikan.
32.18 Kewajiban pemeliharaan diperhitungkan
setelah serah terima pertama pekerjaan
untuk bagian pekerjaan (PHO parsial)
tersebut dilaksanakan sampai Masa
Pemeliharaan bagian pekerjaan tersebut
berakhir sebagaimana yang tercantum
dalam SSKK.
32.19 Serah terima pertama pekerjaan untuk
bagian pekerjaan (PHO parsial)
dituangkan dalam Berita Acara.
33. Pengambilalihan Pejabat Penandatangan Kontrak akan
mengambil alih lokasi dan hasil pekerjaan
dalam jangka waktu tertentu setelah
dikeluarkan surat keterangan
selesai/pengakhiran pekerjaan.
34. Gambar As-built dan 34.1 Penyedia diwajibkan menyerahkan
Pedoman kepada Pejabat Penandatangan Kontrak
Pengoperasian dan Gambar As-built dan pedoman
Perawatan / pengoperasian dan
Pemeliharaan perawatan/pemeliharaan sesuai dengan
SSKK.
34.2 Apabila Penyedia tidak memberikan
pedoman pengoperasian dan
perawatan/pemeliharaan, Pejabat
Penandatangan Kontrak berhak
menahan uang retensi atau Jaminan
Pemeliharaan.
B.4 Adendum
35. Perubahan Kontrak 35.1 Kontrak hanya dapat diubah melalui
adendum Kontrak.
35.2 Perubahan Kontrak dapat dilaksanakan
apabila disetujui oleh para pihak, yang
diakibatkan beberapa hal berikut
meliputi:
a. perubahan pekerjaan;
b. perubahan Harga Kontrak;
c. perubahan jadwal pelaksanaan
pekerjaan dan/atau Masa
Pelaksanaan;
d. perubahan personel manajerial
dan/atau peralatan utama; dan/atau
e. perubahan Kontrak yang disebabkan
masalah administrasi.
35.3 Untuk kepentingan perubahan Kontrak,
Pejabat Penandatangan Kontrak dapat
meminta pertimbangan dari Pengawas
Pekerjaan dan Pejabat/Panitia Peneliti
Pelaksanaan Kontrak.
35.4 Pejabat/Panitia Peneliti Pelaksanaan
Kontrak meneliti kelayakan perubahan
kontrak.
36. Perubahan 36.1 Dalam hal terdapat perbedaan antara
Pekerjaan kondisi lapangan pada saat pelaksanaan
dengan gambar dan/atau spesifikasi
teknis yang ditentukan dalam dokumen
Kontrak, Pejabat Penandatangan
Kontrak bersama Penyedia dapat
melakukan perubahan pekerjaan, yang
meliputi:
a. menambah atau mengurangi volume
yang tercantum dalam Kontrak;
b. menambah dan/atau mengurangi
jenis kegiatan/pekerjaan;
c. mengubah spesifikasi teknis dan/atau
gambar pekerjaan; dan/atau
d. mengubah jadwal pelaksanaan
pekerjaan.
36.2 Dalam hal tidak terjadi perubahan
kondisi lapangan seperti yang dimaksud
pada pasal 37.1 namun ada perintah
perubahan dari Pejabat Penandatangan
Kontrak, Pejabat Penandatangan
Kontrak bersama Penyedia dapat
menyepakati perubahan pekerjaan yang
meliputi:
a. menambah dan/atau mengurangi
jenis kegiatan/pekerjaan;
b. mengubah spesifikasi teknis dan/atau
gambar pekerjaan; dan/atau
c. mengubah jadwal pelaksanaan
pekerjaan.
36.3 Perintah perubahan pekerjaan dibuat
oleh Pejabat Penandatangan Kontrak
secara tertulis kepada Penyedia
kemudian dilanjutkan dengan negosiasi
teknis dan harga dengan tetap mengacu
pada ketentuan yang tercantum dalam
Kontrak awal.
36.4 Hasil negosiasi tersebut dituangkan
dalam Berita Acara sebagai dasar
penyusunan adendum Kontrak.
36.5 Dalam hal perubahan pekerjaan
sebagaimana dimaksud pada pasal 37.1
dan 37.2 mengakibatkan penambahan
Harga Kontrak, perubahan Kontrak
dilaksanakan dengan ketentuan
penambahan Harga Kontrak akhir tidak
melebihi 10% (sepuluh persen) dari
harga yang tercantum dalam Kontrak
awal dan tersedianya anggaran.
36.6 Ketentuan pasal 37.1 huruf a tidak
berlaku untuk bagian pekerjaan lumsum.
37. Perubahan Harga 37.1 Perubahan Harga Kontrak dapat
diakibatkan oleh:
a. perubahan pekerjaan;
b. penyesuaian harga; dan/atau
c. Peristiwa Kompensasi.
37.2 Apabila kuantitas mata pembayaran
utama yang akan dilaksanakan berubah
akibat perubahan pekerjaan lebih dari
10% (sepuluh persen) dari kuantitas
awal, maka pembayaran volume
selanjutnya dengan menggunakan harga
satuan yang disesuaikan dengan
negosiasi.
37.3 Apabila dari hasil evaluasi penawaran
terdapat harga satuan timpang, maka
harga satuan timpang tersebut hanya
berlaku untuk kuantitas pekerjaan yang
tercantum dalam Dokumen Pemilihan.
Untuk kuantitas pekerjaan tambahan
digunakan harga satuan berdasarkan
hasil negosiasi.
37.4 Apabila ada daftar mata pembayaran
yang masuk kategori harga satuan
timpang, maka dicantumkan dalam
Lampiran A SSKK.
37.5 Apabila terdapat perubahan pekerjaan,
maka penentuan harga baru dilakukan
dengan negosiasi.
37.6 Ketentuan penggunaan rumusan
penyesuaian harga adalah sebagai
berikut:
a) harga yang tercantum dalam
Kontrak dapat berubah akibat
adanya penyesuaian harga sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
b) penyesuaian harga diberlakukan
pada Kontrak Tahun Jamak dengan
yang Masa Pelaksanaannya lebih
dari 18 (delapan belas) bulan;
c) penyesuaian harga satuan
diberlakukan mulai bulan ke-13 (tiga
belas) sejak pelaksanaan pekerjaan;
d) penyesuaian harga satuan berlaku
bagi seluruh kegiatan/mata
pembayaran, kecuali komponen
keuntungan, biaya tidak langsung
(overhead cost) dan harga satuan
timpang sebagaimana tercantum
dalam penawaran;
e) penyesuaian harga satuan
diberlakukan sesuai dengan jadwal
pelaksanaan yang tercantum dalam
Kontrak awal/adendum Kontrak;
f) penyesuaian harga satuan bagi
komponen pekerjaan yang berasal
dari luar negeri, menggunakan
indeks penyesuaian harga dari
negara asal barang tersebut;
g) jenis pekerjaan baru dengan harga
satuan baru sebagai akibat adanya
adendum Kontrak dapat diberikan
penyesuaian harga mulai bulan ke-
13 (tiga belas) sejak adendum
Kontrak tersebut ditandatangani;
h) indeks yang digunakan dalam
pelaksanaan Kontrak terlambat
disebabkan oleh kesalahan
Penyedia adalah indeks terendah
antara jadwal Kontrak dan realisasi
pekerjaan;
i) jenis pekerjaan yang lebih cepat
pelaksanaannya diberlakukan
penyesuaian harga berdasarkan
indeks harga pada saat
pelaksanaan.
37.7 Ketentuan lebih lanjut terkait
penyesuaian harga diatur dalam SSKK.
37.8 Ketentuan ganti rugi akibat Peristiwa
Kompensasi mengacu pada pasal
Peristiwa Kompensasi.
37.9 Ketentuan pasal 38.1 huruf b tidak
berlaku untuk bagian pekerjaan lumsum.
37.10 Ketentuan pasal 38.2 dan 38.3 hanya
berlaku untuk bagian pekerjaan harga
satuan.
38. Perubahan Jadwal 39.1 Perubahan jadwal pelaksanaan
Pelaksanaan pekerjaan dapat diakibatkan oleh:
Pekerjaan dan/atau a. perubahan pekerjaan;
Masa Pelaksanaan b. perpanjangan Masa Pelaksanaan;
dan/atau
c. Peristiwa Kompensasi.
39.2 Perpanjangan Masa Pelaksanaan dapat
diberikan oleh Pejabat Penandatangan
Kontrak atas pertimbangan yang layak
dan wajar untuk hal-hal sebagai berikut:
a. perubahan pekerjaan;
b. Peristiwa Kompensasi; dan/atau
c. Keadaan Kahar.
39.3 Masa Pelaksanaan dapat diperpanjang
paling kurang sama dengan waktu
terhentinya Kontrak akibat Keadaan
Kahar atau waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaan akibat dari
ketentuan pada pasal 39.2 huruf a atau b
39.4 Pejabat Penandatangan Kontrak dapat
menyetujui perpanjangan Masa
Pelaksanaan atas Kontrak setelah
melakukan penelitian terhadap usulan
tertulis yang diajukan oleh Penyedia
dalam jangka waktu sesuai
pertimbangan yang wajar setelah
Penyedia meminta perpanjangan. Jika
Penyedia lalai untuk memberikan
peringatan dini atas keterlambatan atau
tidak dapat bekerja sama untuk
mencegah keterlambatan sesegera
mungkin, maka keterlambatan seperti ini
tidak dapat dijadikan alasan untuk
memperpanjang Masa Pelaksanaan.
39.5 Pejabat Penandatangan Kontrak
berdasarkan pertimbangan Pengawas
Pekerjaan dan Pejabat/Panitia Peneliti
Pelaksanaan Kontrak harus telah
menetapkan ada tidaknya perpanjangan
dan untuk berapa lama.
39.6 Persetujuan perubahan jadwal
pelaksanaan dan/atau perpanjangan
Masa Pelaksanaan dituangkan dalam
Adendum Kontrak.
39.7 Jika terjadi Peristiwa Kompensasi
sehingga penyelesaian pekerjaan akan
melampaui Masa Pelaksanaan maka
Penyedia berhak untuk meminta
perpanjangan Masa Pelaksanaan
berdasarkan data penunjang. Pejabat
Penandatangan Kontrak berdasarkan
pertimbangan Pengawas Pekerjaan
memperpanjang Masa Pelaksanaan
secara tertulis. Perpanjangan Masa
Pelaksanaan harus dilakukan melalui
adendum Kontrak.
40.1 Jika Pejabat Penandatangan Kontrak
menilai bahwa Personel Manajerial :
1. tidak mampu atau tidak dapat
melakukan pekerjaan dengan baik;
2. tidak menerapkan prosedur SMKK;
dan/atau
39. Perubahan personel 3. mengabaikan pekerjaan yang menjadi
manajerial dan/atau tugasnya.
peralatan utama maka Penyedia berkewajiban untuk
menyediakan pengganti dan menjamin
Personel Manajerial tersebut
meninggalkan lokasi kerja dalam waktu 7
(tujuh) hari kalender sejak diminta oleh
Pejabat Penandatangan Kontrak

40.2 Jika Pejabat Penandatangan Kontrak


menilai bahwa Peralatan Utama :
1. tidak dapat berfungsi sesuai dengan
spesifikasi peralatan; dan/atau
2. tidak sesuai peraturan perundangan
terkait beban dan dimensi kendaraan.
maka Penyedia berkewajiban untuk
menyediakan pengganti dan menjamin
peralatan utama tersebut meninggalkan
lokasi kerja dalam waktu 7 (tujuh) hari
kalender sejak diminta oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak
40.3 Dalam hal penggantian Personel
Manajerial dan/atau Peralatan Utama
perlu dilakukan, maka Penyedia
berkewajiban untuk menyediakan
pengganti dengan kualifikasi yang setara
atau lebih baik dari tenaga kerja
konstruksi dan/atau peralatan yang
digantikan tanpa biaya tambahan apapun.
40.4 Pejabat Penandatangan Kontrak dapat
menyetujui penempatan/penggantian
Personel Manajerial dan/atau Peralatan
Utama menurut kualifikasi yang
dibutuhkan setelah mendapat
rekomendasi dari Pengawas Pekerjaan.
40.5 Perubahan Personel Manajerial dan/atau
Peralatan Utama harus mendapat
persetujuan terlebih dahulu dari Pejabat
Penandatangan Kontrak dan dituangkan
dalam adendum kontrak.
40.6 Biaya mobilisasi/demobilisasi yang timbul
akibat perubahan Personel Manajerial
dan/atau Peralatan Utama menjadi
tanggung jawab Penyedia.

B.5 Keadaan Kahar


40. Keadaan Kahar 40.1 Contoh Keadaan Kahar tidak terbatas
pada: bencana alam, bencana non alam,
bencana sosial, pemogokan, kebakaran,
kondisi cuaca ekstrem, dan gangguan
industri lainnya.
40.2 Tidak termasuk Kedaan Kahar adalah
hal-hal merugikan yang disebabkan oleh
perbuatan atau kelalaian para pihak.
40.3 Dalam hal terjadi keadaan kahar,
Pejabat Penandatangan Kontrak atau
Penyedia memberitahukan tentang
terjadinya Keadaan Kahar kepada salah
satu pihak secara tertulis dengan
ketentuan :
a. dalam waktu paling lambat 14
(empat belas) hari kalender sejak
menyadari atau seharusnya
menyadari atas kejadian atau
terjadinya Keadaan Kahar;
b. menyertakan bukti keadaan
kahar; dan
c. menyerahkan hasil identifikasi
kewajiban dan kinerja
pelaksanaan yang terhambat
dan/atau akan terhambat akibat
Keadaan Kahar tersebut.
40.4 Bukti Keadaan Kahar dapat berupa :
a. pernyataan yang diterbitkan oleh
pihak/instansi yang berwenang
sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan; dan/atau
b. foto/video dokumentasi Keadaan
Kahar yang telah diverifikasi
kebenarannya.
40.5 Hasil identifikasi kewajiban dan kinerja
pelaksanaan dapat berupa:
a. Foto/video dokumentasi pekerjaan
yang terdampak;
b. Kurva S pekerjaan; dan
c. Dokumen pendukung lainnya (apabila
ada).
40.6 Pejabat Penandatangan Kontrak
meminta Pengawas Pekerjaan untuk
melakukan penelitian terhadap
penyampaian pemberitahuan Keadaan
Kahar dan bukti serta hasil identifikasi
sebagaimana dimaksud pada pasal 41.4
dan pasal 41.5
40.7 Dalam hal Keadaan Kahar terbukti,
kegagalan salah satu Pihak untuk
memenuhi kewajibannya yang
ditentukan dalam Kontrak bukan
merupakan cidera janji atau wanprestasi
apabila telah dilakukan sesuai pada
pasal 41.3. Kewajiban yang dimaksud
adalah hanya kewajiban dan kinerja
pelaksanaan terhadap pekerjaan/bagian
pekerjaan yang terdampak dan/atau
akan terdampak akibat dari Keadaan
Kahar.
40.8 Dalam hal terjadi Keadaan Kahar,
Pelaksanaan pekerjaan dapat
dihentikan. Penghentian Pekerjaan
karena Keadaan Kahar dapat bersifat
a. sementara hingga Keadaan Kahar
berakhir apabila akibat Keadaan
Kahar masih memungkinkan
dilanjutkan/diselesaikannya
pekerjaan;
b. permanen apabila akibat Keadaan
Kahar tidak memungkinkan
dilanjutkan/diselesaikannya
pekerjaan;
c. Sebagian apabila Keadaan Kahar
hanya berdampak pada bagian
Pekerjaan; dan/atau
d. Seluruhnya apabila Keadaan Kahar
berdampak terhadap keseluruhan
Pekerjaan.
40.9 Penghentian Pekerjaan akibat keadaan
kahar sesuai pasal 41.8 dilakukan
secara tertulis oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak dengan disertai
alasan penghentian pekerjaan dan
dituangkan dalam perubahan Rencana
Kerja penyedia.
40.10 Dalam hal penghentian pekerjaan
mencakup seluruh pekerjaan (baik
sementara ataupun permanen) karena
Keadaan Kahar, maka:
a. Kontrak dihentikan sementara hingga
keadaan kahar berakhir; atau
b. Kontrak dihentikan permanen apabila
akibat Keadaan Kahar tidak
memungkinkan
dilanjutkan/diselesaikannya
pekerjaan.
40.11 Penghentian kontrak sebagaimana pasal
41.10 dilakukan melalui perintah tertulis
oleh Pejabat Penandatangan Kontrak
dengan disertai alasan penghentian
kontrak dan dituangkan dalam adendum
kontrak.
40.12 Dalam hal pelaksanaan Kontrak
dilanjutkan, para pihak dapat melakukan
perubahan Kontrak. Masa Pelaksanaan
dapat diperpanjang sekurang-kurangnya
sama dengan jangka waktu terhentinya
Kontrak akibat Keadaan Kahar.
Perpanjangan Masa Pelaksanaan dapat
melewati Tahun Anggaran.
40.13 Selama masa Keadaan Kahar, jika
Pejabat Penandatangan Kontrak
memerintahkan secara tertulis kepada
Penyedia untuk sedapat mungkin
meneruskan pekerjaan, maka Penyedia
berhak untuk menerima pembayaran
sebagaimana ditentukan dalam Kontrak
dan mendapat penggantian biaya yang
wajar sesuai dengan kondisi yang telah
dikeluarkan untuk bekerja dalam
Keadaan Kahar. Penggantian biaya ini
harus diatur dalam suatu adendum
Kontrak.
40.14 Dalam hal pelaksanaan Kontrak
dihentikan permanen, para pihak
melakukan pengakhiran Pekerjaan,
Pengakhiran Kontrak, dan
menyelesaikan hak dan kewajiban
sesuai Kontrak. Penyedia berhak untuk
menerima pembayaran sesuai dengan
prestasi atau kemajuan hasil pekerjaan
yang telah dicapai setelah dilakukan
pengukuran/pemeriksaan bersama atau
berdasarkan hasil audit.
B.6 Penghentian, Pemutusan, dan Berakhirnya Kontrak
41. Penghentian Penghentian Kontrak dapat dilakukan karena
Kontrak terjadi Keadaan Kahar sebagaimana dimaksud
pada pasal 41.
42. Pemutusan Kontrak 42.1 Pemutusan Kontrak dapat dilakukan oleh
Pejabat Penandatangan Kontrak atau
Penyedia.
42.2 Pemutusan kontrak dilakukan dengan
terlebih dahulu memberikan surat
peringatan dari salah satu pihak ke
pihak yang lain yang melakukan
tindakan wanprestasi kecuali telah ada
putusan pidana.
42.3 Surat peringatan diberikan 3 (tiga) kali
kecuali pelanggaran tersebut berdampak
terhadap kerugian atas konstruksi, jiwa
manusia, keselamatan publik, dan
lingkungan dan ditindaklanjuti dengan
surat pernyataan wanprestasi dari pihak
yang dirugikan
42.4 Pemutusan kontrak dilakukan sekurang-
kurangnya 14 (empat belas) hari
kalender setelah Pejabat
Penandatangan Kontrak/Penyedia
menyampaikan pemberitahuan rencana
Pemutusan Kontrak secara tertulis
kepada Penyedia/Pejabat
Penandatangan Kontrak.
42.5 Dalam hal dilakukan pemutusan Kontrak
oleh salah satu pihak maka Pejabat
Penandatangan Kontrak membayar
kepada Penyedia sesuai dengan
pencapaian prestasi pekerjaan yang
telah diterima oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak dikurangi denda
yang harus dibayar Penyedia (apabila
ada), serta Penyedia menyerahkan
semua hasil pelaksanaan kepada
Pejabat Penandatangan Kontrak dan
selanjutnya menjadi hak milik Pejabat
Penandatangan Kontrak.
43. Pemutusan Kontrak 43.1 Mengesampingkan Pasal 1266 dan 1267
oleh Pejabat Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
Penandatangan Pejabat Penandatangan Kontrak dapat
Kontrak melakukan pemutusan Kontrak apabila:
a. Penyedia terbukti melakukan
korupsi, kolusi, dan/atau nepotisme,
kecurangan dan/atau pemalsuan
dalam proses pengadaan yang
diputuskan oleh Instansi yang
berwenang;
b. pengaduan tentang penyimpangan
prosedur, dugaan korupsi, kolusi,
dan/atau nepotisme dan/atau
pelanggaran persaingan sehat
dalam pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa dinyatakan benar oleh
Instansi yang berwenang;
c. Penyedia berada dalam keadaan
pailit yang diputuskan oleh
pengadilan;
d. Penyedia terbukti dikenakan Sanksi
Daftar Hitam sebelum
penandatanganan Kontrak;
e. Penyedia gagal memperbaiki kinerja;
f. Penyedia tidak mempertahankan
berlakunya Jaminan Pelaksanaan;
g. Penyedia lalai/cidera janji dalam
melaksanakan kewajibannya dan
tidak memperbaiki kelalaiannya
dalam jangka waktu yang telah
ditetapkan;
h. berdasarkan penelitian Pejabat
Penandatangan Kontrak, Penyedia
tidak akan mampu menyelesaikan
keseluruhan pekerjaan walaupun
diberikan kesempatan untuk
menyelesaikan pekerjaan;
i. Penyedia tidak dapat menyelesaikan
pekerjaan setelah diberikan
kesempatan menyelesaikan
pekerjaan;
j. Penyedia menghentikan pekerjaan
selama 28 (dua puluh delapan) hari
kalender dan penghentian ini tidak
tercantum dalam jadwal
pelaksanaan pekerjaan serta tanpa
persetujuan pengawas pekerjaan;
atau
k. Penyedia mengalihkan seluruh
kontrak bukan dikarenakan
pergantian nama Penyedia.
43.2 Dalam hal pemutusan Kontrak dilakukan
pada Masa Pelaksanaan karena
kesalahan Penyedia, maka:
a. Jaminan Pelaksanaan terlebih
dahulu dicairkan sebelum
pemutusan kontrak;
b. sisa uang muka harus dilunasi oleh
Penyedia atau Jaminan Uang Muka
terlebih dahulu dicairkan (apabila
diberikan);
c. Penyedia membayar denda (apabila
ada); dan
d. Penyedia dikenakan Sanksi Daftar
Hitam
43.3 Dalam hal pemutusan Kontrak dilakukan
pada Masa Pemeliharaan karena
kesalahan Penyedia, maka:
a. Pejabat Penandatangan Kontrak
berhak untuk tidak mengembalikan
retensi atau terlebih dahulu
mencairkan Jaminan Pemeliharaan
sebelum pemutusan kontrak untuk
membiayai perbaikan/pemeliharaan;
dan
b. Penyedia dikenakan sanksi Daftar
Hitam.
43.4 Dalam hal terdapat nilai sisa
penggunaan uang retensi atau uang
pencairan Jaminan Pemeliharaan untuk
membiayai pembiayaan/pemeliharaan
maka Pejabat Penandatangan Kontrak
wajib menyetorkan sebagaimana
ditetapkan dalam SSKK.
43.5 Pencairan Jaminan sebagaimana
dimaksud pasal 44.2 dan pasal 44.4
disertai dengan:
a. bukti kesalahan penyedia sesuai
dengan ketentuan kontrak; dan
b. dokumen pendukung.
43.6 Pencairan jaminan sebagaimana
dimaksud pada pasal 44.2 di atas,
dicairkan dan disetorkan sesuai
ketentuan dalam SSKK.
44. Pemutusan Kontrak Mengesampingkan Pasal 1266 dan 1267 Kitab
oleh Penyedia Undang-Undang Hukum Perdata, Penyedia
dapat melakukan pemutusan Kontrak apabila:
a. Pejabat Penandatangan Kontrak
menyetujui Pengawas Pekerjaan untuk
memerintahkan Penyedia menunda
pelaksanaan pekerjaan yang bukan
disebabkan oleh kesalahan Penyedia, dan
perintah penundaan tersebut tidak ditarik
selama 28 (dua puluh delapan) hari
kalender;
b. Pejabat Penandatangan Kontrak tidak
menerbitkan Surat Permintaan
Pembayaran (SPP) untuk pembayaran
tagihan angsuran sesuai dengan yang
disepakati sebagaimana tercantum dalam
SSKK.
45. Pengakhiran
Pekerjaan 46.1 Para pihak dapat menyepakati
pengakhiran Pekerjaan dalam hal terjadi
a. penyimpangan prosedur yang
diakibatkan bukan oleh kesalahan para
pihak;
b. pelaksanaan kontrak tidak dapat
dilanjutkan akibat keadaan kahar; atau
c. ruang lingkup kontrak sudah terwujud.
46.2 Pengakhiran pekerjaan sesuai pasal 46.1
dituangkan dalam adendum final yang
berisi perubahan akhir dari kontrak.

46. Berakhirnya Kontrak


47.1. Pengakhiran pelaksanaan Kontrak
dilakukan berdasarkan kesepakatan para
pihak
47.2. Kontrak berakhir apabila telah dilakukan
pengakhiran pekerjaan dan hak dan
kewajiban para pihak yang terdapat
dalam Kontrak sudah terpenuhi.
47.3. Terpenuhinya hak dan kewajiban para
pihak sebagaimana dimaksud pada pasal
47.2 adalah terkait dengan pembayaran
yang seharusnya dilakukan akibat dari
pelaksanaan kontrak.

47. Peninggalan Semua bahan, perlengkapan, peralatan, hasil


pekerjaan sementara yang masih berada di
lokasi kerja setelah pemutusan Kontrak akibat
kelalaian atau kesalahan Penyedia, dapat
dimanfaatkan sepenuhnya oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak tanpa kewajiban
perawatan/pemeliharaan. Pengambilan kembali
semua peninggalan tersebut oleh Penyedia
hanya dapat dilakukan setelah
mempertimbangkan kepentingan Pejabat
Penandatangan Kontrak.
C. HAK DAN KEWAJIBAN PENYEDIA
48. Hak dan Kewajiban Hak-hak yang dimiliki serta kewajiban-
Penyedia kewajiban yang harus dilaksanakan oleh
Penyedia dalam melaksanakan Kontrak,
meliputi :
a. menerima pembayaran untuk pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan harga dan
ketentuan yang telah ditetapkan dalam
Kontrak;
b. meminta fasilitas-fasilitas dalam bentuk
sarana dan prasarana dari Pejabat
Penandatangan Kontrak untuk kelancaran
pelaksanaan pekerjaan sesuai ketentuan
Kontrak;
c. melaporkan pelaksanaan pekerjaan secara
periodik kepada Pejabat Penandatangan
Kontrak;
d. melaksanakan, menyelesaikan dan
menyerahkan pekerjaan sesuai dengan
jadwal pelaksanaan pekerjaan dan
ketentuan yang telah ditetapkan dalam
Kontrak;
e. melaksanakan dan menyelesaikan
pekerjaan secara cermat, akurat dan penuh
tanggung jawab dengan menyediakan
tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan,
angkutan ke atau dari lapangan, dan
segala pekerjaan permanen maupun
sementara yang diperlukan untuk
pelaksanaan, penyelesaian dan perbaikan
pekerjaan yang dirinci dalam Kontrak;
f. memberikan keterangan-keterangan yang
diperlukan untuk pemeriksaan pelaksanaan
yang dilakukan Pejabat Penandatangan
Kontrak;
g. mengambil langkah-langkah yang memadai
dalam rangka memberi perlindungan
kepada setiap orang yang berada di tempat
kerja maupun masyarakat dan lingkungan
sekitar yang berhubungan dengan
pemindahan bahan baku, penggunaan
peralatan kerja konstruksi dan proses
produksi;
h. melaksanakan semua perintah Pengawas
Pekerjaan yang sesuai dengan
kewenangan Pengawas Pekerjaan dalam
Kontrak ini;
i. hak dan kewajiban lain yang timbul akibat
lingkup pekerjaan ditentukan di SSKK.
49. Penggunaan Penyedia tidak diperkenankan menggunakan
Dokumen-Dokumen dan menginformasikan dokumen Kontrak atau
Kontrak dan dokumen lainnya yang berhubungan dengan
Informasi Kontrak untuk kepentingan pihak lain, misalnya
spesifikasi teknis dan/atau gambar-gambar,
serta informasi lain yang berkaitan dengan
Kontrak, kecuali dengan izin tertulis dari
Pejabat Penandatangan Kontrak sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
50. Hak Kekayaan Penyedia wajib melindungi Pejabat
Intelektual Penandatangan Kontrak dari segala tuntutan
atau klaim dari pihak ketiga yang disebabkan
penggunaan atau atas pelanggaran Hak
Kekayaan Intelektual oleh Penyedia.
51. Penanggungan 51.1 Penyedia berkewajiban untuk
Risiko melindungi, membebaskan, dan
menanggung tanpa batas Pejabat
Penandatangan Kontrak beserta
instansinya terhadap semua bentuk
tuntutan, tanggung jawab, kewajiban,
kehilangan, kerugian, denda, gugatan
atau tuntutan hukum, proses
pemeriksaan hukum, dan biaya yang
dikenakan terhadap Pejabat
Penandatangan Kontrak beserta
instansinya (kecuali kerugian yang
mendasari tuntutan tersebut disebabkan
kesalahan atau kelalaian berat Pejabat
Penandatangan Kontrak) sehubungan
dengan klaim yang timbul dari hal-hal
berikut terhitung sejak Tanggal Mulai
Kerja sampai dengan Tanggal
Penyerahan Akhir Pekerjaan :
a. kehilangan atau kerusakan peralatan
dan harta benda Penyedia,
Subkontraktor (jika ada), dan tenaga
kerja konstruksi;
b. cidera tubuh, sakit atau kematian
tenaga kerja konstruksi;
c. kehilangan atau kerusakan harta
benda, dan cidera tubuh, sakit atau
kematian pihak ketiga.
51.2 Terhitung sejak Tanggal Mulai Kerja
sampai dengan Tanggal Penyerahan
Akhir Pekerjaan, semua risiko
kehilangan atau kerusakan hasil
pekerjaan ini, bahan dan perlengkapan
merupakan risiko Penyedia, kecuali
kerugian atau kerusakan tersebut
diakibatkan oleh kesalahan atau
kelalaian Pejabat Penandatangan
Kontrak.
51.3 Pertanggungan asuransi yang dimiliki
oleh Penyedia tidak membatasi
kewajiban penanggungan dalam pasal
ini. Dalam hal pertanggungan asuransi
tidak mencukupi maka biaya yang timbul
dan/atau selisih biaya tetap ditanggung
oleh Penyedia.
51.4 Kehilangan atau kerusakan terhadap
hasil pekerjaan atau bahan yang
menyatu dengan hasil pekerjaan sejak
Tanggal Mulai Kerja sampai dengan
Tanggal Penyerahan Akhir Pekerjaan
harus diganti atau diperbaiki oleh
Penyedia atas tanggungannya sendiri
jika kehilangan atau kerusakan tersebut
terjadi akibat tindakan atau kelalaian
Penyedia.
52. Perlindungan 52.1 Penyedia dan Subkontraktor
Tenaga Kerja berkewajiban atas biaya sendiri untuk
mengikutsertakan Tenaga Kerja
Konstruksinya pada program Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Ketenagakerjaan serta melunasi
kewajiban pembayaran BPJS tersebut
sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan.
52.2 Penyedia berkewajiban untuk mematuhi
dan memerintahkan Tenaga Kerja
Konstruksinya untuk mematuhi peraturan
keselamatan konstruksi. Pada waktu
pelaksanaan pekerjaan, Penyedia
beserta Tenaga Kerja Konstruksinya
dianggap telah membaca dan
memahami peraturan keselamatan
konstruksi tersebut.
52.3 Penyedia berkewajiban untuk
menyediakan kepada setiap Tenaga
Kerja Konstruksinya (termasuk Tenaga
Kerja Konstruksi Subkontraktor, jika ada)
perlengkapan keselamatan kerja yang
sesuai dan memadai.
52.4 Tanpa mengurangi kewajiban Penyedia
untuk melaporkan kecelakaan
berdasarkan hukum yang berlaku,
Penyedia wajib melaporkan kepada
Pejabat Penandatangan Kontrak
mengenai setiap kecelakaan yang timbul
sehubungan dengan pelaksanaan
Kontrak ini dalam waktu 24 (dua puluh
empat) jam setelah kejadian.
53. Pemeliharaan Penyedia berkewajiban untuk mengambil
Lingkungan langkah-langkah yang memadai untuk
melindungi lingkungan baik di dalam maupun di
luar tempat kerja dan membatasi gangguan
lingkungan terhadap pihak ketiga dan harta
bendanya sehubungan dengan pelaksanaan
Kontrak ini, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang mengatur mengenai
pengelolaan lingkungan hidup.
54. Asuransi 54.1 Apabila disyaratkan, Penyedia
menyediakan asuransi sejak SPMK
sampai dengan Tanggal Penyerahan
Akhir Pekerjaan untuk pekerjaan/barang/
peralatan yang mempunyai risiko tinggi
terhadap:
a. terjadinya kecelakaan konstruksi
dalam pelaksanaan pekerjaan atas:
i. segala risiko terhadap
kecelakaan;
ii. kerusakan akibat kecelakaan.
b. kehilangan; dan/atau
c. risiko lain yang tidak dapat diduga.
54.2 Penyedia wajib menyediakan asuransi
bagi pihak ketiga sebagai akibat
kecelakaan di lokasi kerja.
54.3 Besarnya asuransi sudah diperhitungkan
dalam penawaran dan termasuk dalam
Harga Kontrak.
55. Tindakan Penyedia 55.1 Penyedia berkewajiban untuk
yang Mensyaratkan mendapatkan lebih dahulu persetujuan
Persetujuan Pejabat tertulis Pejabat Penandatangan Kontrak
Penandatangan sebelum melakukan tindakan-tindakan
Kontrak atau berikut:
Pengawas Pekerjaan a. mensubkontrakkan sebagian
pekerjaan yang belum tercantum
dalam Lampiran A SSKK;
b. menunjuk Personel Manajerial yang
namanya tidak tercantum dalam
Lampiran A SSKK;
c. mengubah atau memutakhirkan
dokumen penerapan SMKK;
d. tindakan lain selain yang diatur dalam
SSUK
55.2 Penyedia berkewajiban untuk
mendapatkan lebih dahulu persetujuan
tertulis Pengawas Pekerjaan sebelum
melakukan tindakan-tindakan berikut:
a. melaksanakan setiap tahapan
pekerjaan berdasarkan Rencana
Kerja dan metode kerja;
b. mengubah syarat dan ketentuan polis
asuransi;
c. mengubah Personel Manajerial
dan/atau Peralatan Utama;
d. tindakan lain selain yang diatur dalam
SSUK.
55.3 Tindakan lain dalam pasal 56.1 huruf d
dan 56.2 huruf d dituangkan dalam
SSKK
56. Laporan Hasil 56.1 Pemeriksaan pekerjaan dilakukan
Pekerjaan selama pelaksanaan kontrak untuk
menetapkan volume pekerjaan atau
kegiatan yang telah dilaksanakan guna
pembayaran hasil pekerjaan. Hasil
pemeriksaan pekerjaan dituangkan
dalam laporan kemajuan hasil pekerjaan.
56.2 Untuk kepentingan pengendalian dan
pengawasan pelaksanaan pekerjaan,
seluruh aktivitas kegiatan pekerjaan
dilokasi pekerjaan dicatat sebagai bahan
laporan harian pekerjaan yang berisi
rencana dan realisasi pekerjaan harian.
56.3 Laporan harian berisi:
a. jenis dan kuantitas bahan yang
berada di lokasi pekerjaan;
b. penempatan tenaga kerja konstruksi
untuk tiap macam tugasnya;
c. jenis, jumlah dan kondisi peralatan;
d. jenis dan kuantitas pekerjaan yang
dilaksanakan;
e. keadaan cuaca termasuk hujan,
banjir dan peristiwa alam lainnya
yang berpengaruh terhadap
kelancaran pekerjaan; dan
f. catatan-catatan lain yang berkenaan
dengan pelaksanaan pekerjaan.
56.4 Laporan mingguan terdiri dari
rangkuman laporan harian dan berisi
hasil kemajuan fisik pekerjaan dalam
periode satu minggu, serta hal-hal
penting yang perlu ditonjolkan.
56.5 Laporan bulanan terdiri dari rangkuman
laporan mingguan dan berisi hasil
kemajuan fisik pekerjaan dalam periode
satu bulan, serta hal-hal penting yang
perlu ditonjolkan.
56.6 Untuk merekam kegiatan pelaksanaan
pekerjaan konstruksi, Pejabat
Penandatangan Kontrak dan Penyedia
membuat foto-foto dokumentasi dan
video pelaksanaan pekerjaan di lokasi
pekerjaan sesuai kebutuhan.
56.7 Laporan hasil pekerjaan dibuat oleh
Penyedia, diperiksa oleh Pengawas
Pekerjaan, dan disetujui oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak.
57. Kepemilikan Semua rancangan, gambar, spesifikasi, desain,
Dokumen laporan, dan/atau dokumen-dokumen lain serta
piranti lunak yang dipersiapkan oleh Penyedia
berdasarkan Kontrak ini sepenuhnya
merupakan hak milik Pejabat Penandatangan
Kontrak. Penyedia paling lambat pada waktu
pemutusan atau penghentian atau akhir Masa
Kontrak berkewajiban untuk menyerahkan
semua dokumen dan piranti lunak tersebut
beserta daftar rinciannya kepada Pejabat
Penandatangan Kontrak. Penyedia dapat
menyimpan 1 (satu) buah salinan tiap dokumen
dan piranti lunak tersebut. Pembatasan (jika
ada) mengenai penggunaan dokumen dan
piranti lunak tersebut di atas di kemudian hari
diatur dalam SSKK.
58. Penyedia Lain Penyedia berkewajiban untuk bekerja sama
dan menggunakan lokasi kerja termasuk jalan
akses bersama-sama dengan Penyedia Lain
(jika ada) dan pihak-pihak lainnya yang
berkepentingan atas lokasi kerja. Jika
dipandang perlu, Pejabat Penandatangan
Kontrak dapat memberikan jadwal kerja
Penyedia Lain di lokasi kerja.
59. Alih Dalam hal pelaksanaan paket pekerjaan
Pengalaman/Keahlia konstruksi dengan nilai pagu anggaran di atas
n Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah),
Penyedia memenuhi ketentuan alih
pengalaman/keahlian bidang konstruksi melalui
sistem kerja praktik/magang sesuai dengan
jumlah peserta, durasi pelaksanaan, dan jenis
keahlian yang disepakati pada saat Rapat
Persiapan Penandatanganan Kontrak.
60. Pembayaran Denda Penyedia berkewajiban untuk membayar sanksi
finansial berupa denda sebagai akibat
wanprestasi atau cidera janji terhadap
kewajiban-kewajiban Penyedia dalam Kontrak
ini. Pejabat Penandatangan Kontrak
mengenakan denda dengan memotong
angsuran pembayaran prestasi pekerjaan
Penyedia. Pembayaran denda tidak
mengurangi tanggung jawab kontraktual
Penyedia.
61. Jaminan 61.1 Jaminan yang digunakan dalam
pelaksanaan Kontrak ini dapat berupa
bank garansi atau surety bond. Jaminan
bersifat tidak bersyarat, mudah
dicairkan, dan harus dicairkan oleh
penerbit jaminan paling lambat 14
(empat belas) hari kerja setelah surat
perintah pencairan dari Pejabat
Penandatangan Kontrak atau pihak yang
diberi kuasa oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak diterima.
61.2 Penerbit jaminan selain Bank Umum
harus telah ditetapkan/mendapat
rekomendasi dari Otoritas Jasa
Keuangan (OJK)
61.3 Penggunaan Jaminan Pelaksanaan,
Jaminan Uang Muka dan Jaminan
Pemeliharaan sebagai berikut:
a. Diterbitkan oleh:
1) Bank Umum;
2) Perusahaan Penjaminan;
3) Perusahaan Asuransi;
4) Lembaga khusus yang
menjalankan usaha di bidang
pembiayaan, penjaminan, dan
asuransi untuk mendorong ekspor
Indonesia sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang Lembaga
pembiayaan ekspor Indonesia;
atau
5) Konsorsium perusahaan asuransi
umum/ Konsorsium Lembaga
penjaminan/ Konsorsium
perusahaan penjaminan yang
mempunyai program asuransi
kerugian (suretyship).
b. Penerbit jaminan selain Bank Umum
telah ditetapkan/ mendapatkan
rekomendasi dari Otoritas Jasa
Keuangan (OJK).
61.4 Jaminan Pelaksanaan diberikan kepada
Pejabat Penandatangan Kontrak setelah
diterbitkannya Surat Penunjukan
Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) sebelum
dilakukan Penandatanganan Kontrak
dengan besar:
a. 5% (lima persen) dari Harga
Kontrak; atau
b. 5% (lima persen) dari nilai HPS
untuk harga penawaran atau
penawaran terkoreksi di bawah 80%
(delapan puluh persen) nilai HPS.
61.5 Masa berlakunya Jaminan Pelaksanaan
paling kurang sejak tanggal
penandatanganan Kontrak sampai
dengan Tanggal Penyerahan Pertama
Pekerjaan (Provisional Hand Over/PHO).
61.6 Jaminan Pelaksanaan dikembalikan
setelah pekerjaan dinyatakan selesai
dan diganti dengan Jaminan
Pemeliharaan atau menahan uang
retensi sebesar 5% (lima persen) dari
Harga Kontrak;
61.7 Jaminan Uang Muka diberikan kepada
Pejabat Penandatangan Kontrak dalam
rangka pengambilan uang muka yang
besarannya paling kurang sama dengan
besarnya uang muka yang diterima
Penyedia.
61.8 Nilai Jaminan Uang Muka dapat
dikurangi secara proporsional sesuai
dengan sisa uang muka yang diterima.
61.9 Masa berlakunya Jaminan Uang Muka
paling kurang sejak tanggal persetujuan
pemberian uang muka sampai dengan
Tanggal Penyerahan Pertama Pekerjaan
(PHO).
61.10 Jaminan Pemeliharaan diberikan kepada
Pejabat Penandatangan Kontrak setelah
pekerjaan dinyatakan selesai.
61.11 Pengembalian Jaminan Pemeliharaan
dilakukan paling lambat 14 (empat belas)
hari kerja setelah Masa Pemeliharaan
selesai dan pekerjaan diterima dengan
baik sesuai dengan ketentuan Kontrak.
61.12 Masa berlaku Jaminan Pemeliharaan
paling kurang sejak Tanggal Penyerahan
Pertama Pekerjaan sampai dengan
Tanggal Penyerahan Akhir Pekerjaan
(Final Hand Over/FHO).

D. HAK DAN KEWAJIBAN PEJABAT PENANDATANGAN KONTRAK


62. Hak dan Kewajiban Hak-hak yang dimiliki serta kewajiban-
Pejabat kewajiban yang harus dilaksanakan oleh
Penandatangan Pejabat Penandatangan Kontrak dalam
Kontrak melaksanakan Kontrak, meliputi :
a. mengawasi dan memeriksa pekerjaan yang
dilaksanakan oleh Penyedia;
b. menerima laporan-laporan secara periodik
mengenai pelaksanaan pekerjaan yang
dilaksanakan oleh Penyedia;
c. menerima hasil pekerjaan sesuai dengan
jadwal penyerahan pekerjaan dan
ketentuan yang telah ditetapkan dalam
Kontrak.
d. membayar pekerjaan sesuai dengan harga
yang tercantum dalam Kontrak yang telah
ditetapkan kepada Penyedia;
e. memberikan fasilitas berupa sarana dan
prasarana yang dibutuhkan oleh Penyedia
untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan
sesuai ketentuan Kontrak; dan
f. menilai kinerja Penyedia.

63. Fasilitas Pejabat Penandatangan Kontrak dapat


memberikan fasilitas berupa sarana dan
prasarana atau kemudahan lainnya (jika ada)
yang tercantum dalam SSKK untuk kelancaran
pelaksanaan pekerjaan ini.
64. Peristiwa 64.1 Peristiwa Kompensasi dapat diberikan
Kompensasi kepada Penyedia yaitu:
a. Pejabat Penandatangan Kontrak
mengubah jadwal pekerjaan yang
dapat mempengaruhi pelaksanaan
pekerjaan;
b. keterlambatan pembayaran kepada
Penyedia;
c. Pejabat Penandatangan Kontrak
tidak memberikan gambar-gambar,
spesifikasi dan/atau instruksi sesuai
jadwal yang dibutuhkan;
d. Penyedia belum bisa masuk ke lokasi
sesuai jadwal dalam kontrak;
e. Pejabat Penandatangan Kontrak
menginstruksikan kepada pihak
Penyedia untuk melakukan pengujian
tambahan yang setelah dilaksanakan
pengujian ternyata tidak ditemukan
kerusakan/kegagalan/penyimpangan;
f. Pejabat Penandatangan Kontrak
memerintahkan penundaan
pelaksanaan pekerjaan;
g. Pejabat Penandatangan Kontrak
memerintahkan untuk mengatasi
kondisi tertentu yang tidak dapat
diduga sebelumnya dan
disebabkan/tidak disebabkan oleh
Pejabat Penandatangan Kontrak;
atau
h. ketentuan lain dalam SSKK.
64.2 Jika Peristiwa Kompensasi
mengakibatkan pengeluaran tambahan
dan/atau keterlambatan penyelesaian
pekerjaan maka Pejabat Penandatangan
Kontrak berkewajiban untuk membayar
ganti rugi dan/atau memberikan
perpanjangan Masa Pelaksanaan.
64.3 Ganti rugi akibat Peristiwa Kompensasi
hanya dapat dibayarkan jika
berdasarkan data penunjang dan
perhitungan kompensasi yang diajukan
oleh Penyedia kepada Pejabat
Penandatangan Kontrak, dapat
dibuktikan kerugian nyata.
64.4 Perpanjangan Masa Pelaksanaan hanya
dapat diberikan jika berdasarkan data
penunjang dan perhitungan kompensasi
yang diajukan oleh Penyedia kepada
Pejabat Penandatangan Kontrak, dapat
dibuktikan perlunya tambahan waktu
akibat Peristiwa Kompensasi.
64.5 Penyedia tidak berhak atas ganti rugi
dan/atau perpanjangan Masa
Pelaksanaan jika Penyedia gagal atau
lalai untuk memberikan peringatan dini
dalam mengantisipasi atau mengatasi
dampak Peristiwa Kompensasi.
E. TENAGA KERJA KONSTRUKSI DAN/ATAU PERALATAN PENYEDIA
65. Tenaga Kerja 65.1 Setiap Tenaga Kerja Konstruksi yang
Konstruksi bekerja pada pekerjaan ini wajib memiliki
sertifikat kompetensi kerja.
65.2 Tenaga Kerja Konstruksi selain Personel
Manajerial yang bekerja/akan bekerja
pada pekerjaan ini dan belum memiliki
sertifikat kompetensi kerja, maka
Penyedia wajib memastikan dipenuhinya
persyaratan sertifikat kompetensi kerja
sepanjang Masa Pelaksanaan.
66. Personel Manajerial 66.1 Personel Manajerial yang ditempatkan
dan/atau Peralatan dan diperkerjakan harus sesuai dengan
Utama yang tercantum dalam Lampiran A
SSKK.
66.2 Peralatan Utama yang ditempatkan dan
digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan
adalah peralatan yang laik dan harus
sesuai dengan yang tercantum dalam
Lampiran A SSKK.
66.3 Personel Manajerial berkewajiban untuk
menjaga kerahasiaan pekerjaannya. Jika
diperlukan oleh Pejabat Penandatangan
Kontrak, Personel Manajerial dapat
sewaktu-waktu disyaratkan untuk
menjaga kerahasiaan pekerjaan di
bawah sumpah.
F. PEMBAYARAN KEPADA PENYEDIA
67. Harga Kontrak 67.1 Pejabat Penandatangan Kontrak
membayar kepada Penyedia atas
pelaksanaan pekerjaan dalam Kontrak
sebesar Harga Kontrak.
67.2 Harga Kontrak telah memperhitungkan
meliputi :
a. beban pajak;
b. keuntungan dan biaya tidak
langsung;
c. biaya pelaksanaan pekerjaan; dan
d. biaya penerapan SMKK.
67.3 Harga Kontrak bagian pekerjaan harga
satuan sesuai dengan rincian yang
tercantum dalam Daftar Kuantitas dan
Harga dan Harga Kontrak bagian
pekerjaan lumsum sesuai dengan Daftar
Keluaran dan Harga
67.4 Besaran Harga Kontrak sesuai dengan
penawaran yang sebagaimana yang
telah diubah terakhir kali sesuai dengan
ketentuan dalam Kontrak.
68. Pembayaran 68.1 Uang Muka
a. Uang muka dibayar untuk
membiayai mobilisasi
peralatan/tenaga kerja konstruksi,
pembayaran uang tanda jadi kepada
pemasok bahan/material dan/atau
untuk persiapan teknis lain.
b. Besaran uang muka untuk Usaha
Mikro, Usaha Kecil, serta Koperasi:
1) nilai pagu anggaran/kontrak
paling sedikit di atas
Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah) sampai sampai dengan
paling banyak Rp200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah) diberikan
uang muka paling rendah 50%
(lima puluh persen);
2) nilai pagu anggaran/kontrak
paling sedikit di
atasRp200.000.000,00 (dua ratus
juta rupiah) sampai dengan paling
banyak Rp. [Link] (Satu
milyar rupiah) dapat diberikan
uang muka paling rendah 30%
(tiga puluh persen); dan
c. Besaran uang muka ditentukan
dalam SSKK dan dibayar setelah
Penyedia menyerahkan Jaminan
Uang Muka paling sedikit sebesar
uang muka yang diterima.
d. Dalam hal diberikan uang muka,
maka Penyedia harus mengajukan
permohonan pengambilan uang
muka secara tertulis kepada Pejabat
yang berwenang untuk
menandatangani Kontrak disertai
dengan rencana penggunaan uang
muka untuk melaksanakan
pekerjaan sesuai Kontrak dan
rencana pengembaliannya.
e. Pejabat yang berwenang untuk
menandatangani Kontrak harus
mengajukan Surat Permintaan
Pembayaran (SPP) kepada Pejabat
Penandatangananan Surat Perintah
Membayar (PPSPM) untuk
permohonan tersebut pada huruf f,
paling lambat 7 (tujuh) hari kerja
setelah Jaminan Uang Muka
diterima.
f. Pengembalian uang muka harus
diperhitungkan berangsur-angsur
secara proporsional pada setiap
pembayaran prestasi pekerjaan dan
paling lambat harus lunas pada saat
pekerjaan mencapai prestasi 100%
(seratus persen).
68.2 Prestasi pekerjaan
Pembayaran prestasi hasil pekerjaan
yang disepakati dilakukan oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak, dengan
ketentuan:
a. Penyedia telah mengajukan tagihan
disertai laporan kemajuan hasil
pekerjaan;
b. pembayaran dilakukan tidak boleh
melebihi kemajuan hasil pekerjaan
yang telah dicapai dan diterima oleh
Pejabat Penandatangan Kontrak;
c. pembayaran dilakukan terhadap
pekerjaan yang sudah terpasang;
d. pembayaran dilakukan dengan
sistem termin yang ketentuan lebih
lanjut diatur dalam SSKK;
e. pembayaran harus
memperhitungkan:
1) angsuran uang muka;
2) peralatan dan/atau bahan yang
menjadi bagian permanen dari
hasil pekerjaan yang akan
diserahterimakan (material on
site) yang sudah dibayar
sebelumnya;
3) denda (apabila ada);
4) pajak; dan/atau
5) uang retensi.
f. untuk Kontrak yang mempunyai
subkontrak, permintaan pembayaran
harus dilengkapi bukti pembayaran
kepada seluruh Subkontraktor
sesuai dengan prestasi pekerjaan.
Pembayaran kepada Subkontraktor
dilakukan sesuai prestasi pekerjaan
yang selesai dilaksanakan oleh
Subkontraktor tanpa harus
menunggu pembayaran terlebih
dahulu dari Pejabat Penandatangan
Kontrak;
g. pembayaran terakhir hanya
dilakukan setelah pekerjaan selesai
dan Berita Acara Serah Terima
Pertama Pekerjaan ditandatangani
oleh Pejabat Penandatangan
Kontrak dan Penyedia;
h. Pejabat Penandatangan Kontrak
dalam kurun waktu 7 (tujuh) hari
kerja setelah pengajuan permintaan
pembayaran dari Penyedia diterima
harus sudah mengajukan Surat
Permintaan Pembayaran kepada
Pejabat Penandatanganan Surat
Perintah Membayar (PPSPM); dan
i. apabila terdapat ketidaksesuaian
dalam perhitungan angsuran, tidak
akan menjadi alasan untuk menunda
pembayaran. Pejabat
Penandatangan Kontrak dapat
meminta Penyedia untuk
menyampaikan perhitungan prestasi
sementara dengan
mengesampingkan hal-hal yang
sedang menjadi perselisihan.
68.3 Material on Site
Bahan dan/atau peralatan yang menjadi
bagian dari hasil pekerjaan memenuhi
ketentuan:
a. bahan dan/atau peralatan yang
menjadi bagian permanen dari hasil
pekerjaan
b. bahan dan/atau peralatan yang
belum dilakukan uji fungsi
(commisioning), serta merupakan
bagian dari pekerjaan utama harus
memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
(1) berada di lokasi pekerjaan
sebagaimana tercantum dalam
Kontrak dan perubahannya;
(2) memiliki sertifikat uji mutu dari
pabrikan/produsen;
(3) bersertifikat garansi dari
produsen/agen resmi yang
ditunjuk oleh produsen;
(4) disetujui oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak sesuai
dengan capaian fisik yang
diterima;
(5) dilarang dipindahkan dari area
lokasi pekerjaan dan/atau
dipindah-tangankan oleh pihak
manapun; dan
(6) keamanan penyimpanan dan
risiko kerusakan sebelum
diserahterimakan secara satu
kesatuan fungsi merupakan
tanggung jawab Penyedia.
c. sertifikat uji mutu dan sertifikat
garansi tidak diperlukan dalam hal
peralatan dan/atau bahan
dibuat/dirakit oleh Penyedia;
d. besaran yang akan dibayarkan dari
material on site (maksimal sampai
dengan 70%) dari Harga Satuan
Pekerjaan (HSP);
e. ketentuan bahan dan/atau peralatan
yang menjadi bagian permanen dari
hasil pekerjaan hanya diberlakukan
untuk bagian pekerjaan harga
satuan.
f. besaran nilai pembayaran dan jenis
material on site dicantumkan di
dalam SSKK.
68.4 Denda dan Ganti Rugi
a. Denda merupakan sanksi finansial
yang dikenakan kepada Penyedia,
antara lain: denda keterlambatan
dalam penyelesaian pelaksanaan
pekerjaan, denda keterlambatan
dalam perbaikan Cacat Mutu, denda
terkait pelanggaran ketentuan
subkontrak.
b. Ganti rugi merupakan sanksi
finansial yang dikenakan kepada
Pejabat Penandatangan Kontrak
maupun Penyedia karena terjadinya
cidera janji/wanprestasi. Besarnya
sanksi ganti rugi adalah sebesar nilai
kerugian yang ditimbulkan.
c. Besarnya denda keterlambatan yang
dikenakan kepada Penyedia atas
keterlambatan penyelesaian
pekerjaan adalah:
1) 1‰ (satu perseribu) dari harga
bagian Kontrak yang tercantum
dalam Kontrak (sebelum PPN);
atau
2) 1‰ (satu perseribu) dari Harga
Kontrak (sebelum PPN);
sesuai yang ditetapkan dalam
SSKK.
d. Besaran denda cacat mutu sebesar
1‰ (satu perseribu) per hari
keterlambatan perbaikan dari nilai
biaya perbaikan pekerjaan yang
ditemukan cacat mutu.
e. Besaran denda pelanggaran
subkontrak sebesar nilai pekerjaan
subkontrak yang disubkontrakkan
tidak sesuai ketentuan.
f. Besarnya ganti rugi sebagai akibat
Peristiwa Kompensasi yang dibayar
oleh Pejabat Penandatangan
Kontrak atas keterlambatan
pembayaran adalah sebesar bunga
dari nilai tagihan yang terlambat
dibayar, berdasarkan tingkat suku
bunga yang berlaku pada saat itu
menurut ketetapan Bank Indonesia,
sepanjang telah diputuskan oleh
lembaga yang berwenang;
g. Pembayaran denda dan/atau ganti
rugi diperhitungkan dalam
pembayaran prestasi pekerjaan.
h. Ganti rugi kepada Penyedia dapat
mengubah Harga Kontrak setelah
dituangkan dalam adendum kontrak.
i. Pembayaran ganti rugi dilakukan
oleh Pejabat Penandatangan
Kontrak, apabila Penyedia telah
mengajukan tagihan disertai
perhitungan dan data-data.
69. Hari Kerja 69.1 Orang hari standar atau satu hari orang
bekerja adalah 8 (delapan) jam, terdiri
atas 7 (tujuh) jam kerja (efektif) dan 1
(satu) jam istirahat.
69.2 Penyedia tidak diperkenankan
melakukan pekerjaan apapun di lokasi
kerja pada waktu yang secara ketentuan
peraturan perundang-undangan
dinyatakan sebagai hari libur atau di luar
jam kerja normal, kecuali:
a. dinyatakan lain di dalam Kontrak;
b. Pejabat Penandatangan Kontrak
memberikan izin; atau
c. pekerjaan tidak dapat ditunda, atau
untuk keselamatan/perlindungan
masyarakat, dimana Penyedia harus
segera memberitahukan urgensi
pekerjaan tersebut kepada
Pengawas Pekerjaan dan Pejabat
Penandatangan Kontrak.
69.3 Semua pekerja dibayar selama hari kerja
dan datanya disimpan oleh Penyedia.
Daftar pembayaran masing-masing
pekerja dapat diperiksa oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak.
69.4 Untuk pekerjaan yang dilakukan di luar
hari kerja efektif dan jam kerja normal
harus mengikuti ketentuan Menteri yang
membidangi ketenagakerjaan.
69.5 Pelaksanaan pekerjaan di luar hari kerja
efektif dan/atau jam kerja normal harus
diawasi oleh Pengawas Pekerjaan.
70. Perhitungan Akhir 70.1 Pembayaran angsuran prestasi
pekerjaan terakhir dilakukan setelah
pekerjaan selesai dan berita acara serah
terima pertama pekerjaan telah
ditandatangani oleh kedua pihak.
70.2 Sebelum pembayaran terakhir dilakukan,
Penyedia berkewajiban untuk
menyerahkan kepada Pengawas
Pekerjaan rincian perhitungan nilai
tagihan terakhir yang jatuh tempo.
Pejabat Penandatangan Kontrak
berdasarkan hasil penelitian tagihan
oleh Pengawas Pekerjaan berkewajiban
untuk menerbitkan SPP untuk
pembayaran tagihan angsuran terakhir
paling lambat 7 (tujuh) hari kerja
terhitung sejak tagihan dan dokumen
penunjang dinyatakan lengkap dan
diterima oleh Pengawas Pekerjaan.
71. Penangguhan 71.1 Pejabat Penandatangan Kontrak dapat
menangguhkan pembayaran setiap
angsuran prestasi pekerjaan Penyedia
jika Penyedia gagal atau lalai memenuhi
kewajiban kontraktualnya, termasuk
penyerahan setiap Hasil Pekerjaan
sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan.
71.2 Pejabat Penandatangan Kontrak secara
tertulis memberitahukan kepada
Penyedia tentang penangguhan hak
pembayaran, disertai alasan-alasan
yang jelas mengenai penangguhan
tersebut. Penyedia diberi kesempatan
untuk memperbaiki dalam jangka waktu
tertentu.
71.3 Pembayaran yang ditangguhkan harus
disesuaikan dengan proporsi kegagalan
atau kelalaian Penyedia.
71.4 Jika dipandang perlu oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak, penangguhan
pembayaran akibat keterlambatan
penyerahan pekerjaan dapat dilakukan
bersamaan dengan pengenaan denda
kepada Penyedia.
G. PENGAWASAN MUTU
72. Pengawasan dan Pejabat Penandatangan Kontrak berwenang
Pemeriksaan melakukan pengawasan dan pemeriksaan
terhadap pelaksanaan pekerjaan yang
dilaksanakan oleh Penyedia. Pejabat
Penandatangan Kontrak dapat memerintahkan
kepada pihak ketiga untuk melakukan
pengawasan dan pemeriksaan atas semua
pelaksanaan pekerjaan yang dilaksanakan oleh
Penyedia.
73. Penilaian Pekerjaan 73.1 Pejabat Penandatangan Kontrak dalam
Sementara oleh Masa Pelaksanaan pekerjaan dapat
Pejabat melakukan penilaian sementara atas
Penandatangan hasil pekerjaan yang dilakukan oleh
Kontrak Penyedia.
73.2 Penilaian atas hasil pekerjaan dilakukan
terhadap mutu dan kemajuan fisik
pekerjaan.
74. Pemeriksaan dan 74.1 Pejabat Penandatangan Kontrak atau
Pengujian Cacat Pengawas Pekerjaan akan memeriksa
Mutu setiap hasil pekerjaan dan
memberitahukan Penyedia secara
tertulis atas setiap Cacat Mutu yang
ditemukan. Pejabat Penandatangan
Kontrak atau Pengawas Pekerjaan dapat
memerintahkan Penyedia untuk
menemukan dan mengungkapkan Cacat
Mutu , serta menguji hasil pekerjaan
yang dianggap oleh Pejabat
Penandatangan Kontrak atau Pengawas
Pekerjaan mengandung Cacat Mutu .
Penyedia bertanggung jawab atas
perbaikan Cacat Mutu selama Masa
Kontrak.
74.2 Jika Pejabat Penandatangan Kontrak
atau Pengawas Pekerjaan
memerintahkan Penyedia untuk
melakukan pengujian Cacat Mutu yang
tidak tercantum dalam Spesifikasi Teknis
dan Gambar, dan hasil uji coba
menunjukkan adanya cacat mutu maka
Penyedia berkewajiban untuk
menanggung biaya pengujian tersebut.
Jika tidak ditemukan adanya Cacat Mutu
maka uji coba tersebut dianggap sebagai
Peristiwa Kompensasi
75. Perbaikan Cacat 75.1 Pejabat Penandatangan Kontrak atau
Mutu Pengawas Pekerjaan akan
menyampaikan pemberitahuan Cacat
Mutu kepada Penyedia segera setelah
ditemukan Cacat Mutu tersebut.
Penyedia bertanggung jawab atas Cacat
Mutu selama Masa Kontrak.
75.2 Terhadap pemberitahuan Cacat Mutu
tersebut, Penyedia berkewajiban untuk
memperbaiki Cacat Mutu dalam jangka
waktu yang ditetapkan dalam
pemberitahuan.
75.3 Jika Penyedia tidak memperbaiki Cacat
Mutu dalam jangka waktu yang
ditentukan maka Pejabat
Penandatangan Kontrak, berdasarkan
pertimbangan Pengawas Pekerjaan,
berhak untuk secara langsung atau
melalui pihak ketiga yang ditunjuk oleh
Pejabat Penandatangan Kontrak
melakukan perbaikan tersebut. Penyedia
segera setelah menerima klaim Pejabat
Penandatangan Kontrak secara tertulis
berkewajiban untuk mengganti biaya
perbaikan tersebut. Pejabat
Penandatangan Kontrak dapat
memperoleh penggantian biaya dengan
memotong pembayaran atas tagihan
Penyedia yang jatuh tempo (jika ada)
atau uang retensi atau pencairan
Jaminan Pemeliharaan atau jika tidak
ada maka biaya penggantian akan
diperhitungkan sebagai utang Penyedia
kepada Pejabat Penandatangan Kontrak
yang telah jatuh tempo.
75.4 Dalam hal cacat mutu ditemukan oleh
Pejabat Penandatangan Kontrak selama
masa pelaksanaan maka penyedia wajib
memperbaiki cacat mutu tersebut dan
Pejabat Penandatangan Kontrak tidak
melakukan pembayaran pekerjaan
sebelum cacat mutu tersebut selesai
diperbaiki.
75.5 Dalam hal cacat mutu ditemukan oleh
Pejabat Penandatangan Kontrak selama
masa pemeliharaan maka penyedia
wajib memperbaiki cacat mutu tersebut
dalam jangka waktu yang ditentukan dan
mengenakan denda keterlambatan untuk
setiap keterlambatan perbaikan Cacat
Mutu.
75.6 Penyedia yang tidak melaksanakan
perbaikan cacat mutu sewaktu masa
pemeliharaan dapat diputus kontrak dan
dikenakan sanksi daftar hitam.
75.7 Jangka waktu perbaikan cacat mutu
sesuai dengan perkiraan waktu yang
diperlukan untuk perbaikan dan
ditetapkan oleh Pejabat Penandatangan
Kontrak.
75.8 Pejabat Penandatangan Kontrak dapat
memperpanjang Masa Pemeliharaan
dalam hal jangka waktu perbaikan cacat
mutu akan melampaui Masa
Pemeliharaan.
76. Kegagalan 76.1 Kegagalan Bangunan terhitung sejak
Bangunan Tanggal Penyerahan Akhir Pekerjaan
76.2 Penyedia bertanggung jawab atas
Kegagalan Bangunan selama Umur
Konstruksi yang tercantum dalam SSKK
tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun,
dan dalam SSKK agar dicantumkan
lama pertanggungan terhadap
Kegagalan Bangunan yang ditetapkan
apabila rencana Umur Konstruksi kurang
dari 10 (sepuluh) tahun.
76.3 Pejabat Penandatangan Kontrak
bertanggungjawab atas Kegagalan
Bangunan yang terjadi setelah jangka
waktu yang ditetapkan dalam SSKK.
76.4 Penyedia berkewajiban untuk
melindungi, membebaskan, dan
menanggung tanpa batas Pejabat
Penandatangan Kontrak beserta
instansinya terhadap semua bentuk
tuntutan, tanggung jawab, kewajiban,
kehilangan, kerugian, denda, gugatan
atau tuntutan hukum, proses
pemeriksaan hukum, dan biaya yang
dikenakan terhadap Pejabat
Penandatangan Kontrak beserta
instansinya (kecuali kerugian yang
mendasari tuntutan tersebut disebabkan
kesalahan atau kelalaian Pejabat
Penandatangan Kontrak) sehubungan
dengan klaim kehilangan atau kerusakan
harta benda, dan cidera tubuh, sakit atau
kematian pihak ketiga yang timbul dari
kegagalan bangunan.
76.5 Pejabat Penandatangan Kontrak
maupun Penyedia berkewajiban untuk
menyimpan dan memelihara semua
dokumen yang digunakan dan terkait
dengan pelaksanaan ini selama Umur
Konstruksi yang tercantum dalam SSKK
tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun.
H. PENYELESAIAN PERSELISIHAN
77. Penyelesaian 77.1 Para Pihak berkewajiban untuk berupaya
Perselisihan/Sengke sungguh-sungguh menyelesaikan secara
ta damai semua perselisihan yang timbul
dari atau berhubungan dengan Kontrak
ini atau interpretasinya selama atau
setelah pelaksanaan pekerjaan ini
dengan prinsip dasar musyawarah untuk
mencapai kemufakatan.
77.2 Dalam hal musyawarah para pihak
sebagaimana dimaksud pada pasal 79.1
tidak dapat mencapai suatu
kemufakatan, maka penyelesaian
perselisihan atau sengketa antara para
pihak ditempuh melalui tahapan mediasi,
konsiliasi, dan arbitrase.
77.3 Selain ketentuan pada pasal 79.2
penyelesaian perselisihan/sengketa para
pihak dapat dilakukan melalui:
a. layanan penyelesaian sengketa
Kontrak;
b. dewan sengketa konstruksi; atau
c. Pengadilan.
Pilihan penyelesaian sengketa
tercantum dalam SSKK.
77.4 Dalam hal pilihan yang digunakan dewan
sengketa untuk menggantikan mediasi
dan konsiliasi maka nama anggota
dewan sengketa yang dipilih dan
ditetapkan oleh para pihak sebelum
penandatanganan kontrak.
78. Itikad Baik 78.1 Para pihak bertindak berdasarkan asas
saling percaya yang disesuaikan dengan
hak-hak yang terdapat dalam Kontrak.
78.2 Para pihak setuju untuk melaksanakan
perjanjian dengan jujur tanpa
menonjolkan kepentingan masing-
masing pihak. Apabila selama Kontrak,
salah satu pihak merasa dirugikan, maka
diupayakan tindakan yang terbaik untuk
mengatasi keadaan tersebut.

Anda mungkin juga menyukai