AL-MANAR: Jurnal Kajian Al-Quran dan Hadits
Vol. 7, No. 2, 2021; p-ISSN 2477-6017; e-ISSN 2580-2577; 43-60
Pengaruh Bahasa Ibrani pada Teks Al-Qur’an
dalam Perspektif Abraham Geiger
Umi Wasilatul Firdausiyah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Fokus penelitian dalam penulisan artikel ini mengkaji tentang
pandangan Abraham Geiger mengenai al-Qur’an. Tujuan dari
penelitian untuk melihat pandangan Geiger dalam menelaah
kemurnian al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penlitian ini
berupa kualitatif jenis library research dengan metode analisis-
deskriptif, yang dibantu dengan teori cakrawala dari Hans George
Gadamer sebagai jembatan untuk mengungkap pandangan Geiger
dalam menelaah kemurnian al-Qur’an. Hasil dari penelitian ini
memberikan penjelasan bahwa menurut Abraham Geiger, al-Qur’an
yang ada ditangan umat Islam bukanlah kitab otentik, transenden, dan
orisinil, sebab di dalamnya banyak ajaran-ajaran yang dikonstruksi dan
diimitasi dari agama Yahudi. Seperti halnya mengenai linguistik kosa-
kata dalam al-Qur’an, konsep agama termasuk pandangan hidup,
aturan dan moral, serta kisah-kisah dalam al-Qur’an. Kendati
demikian respon dari cendekiawan muslim terhadap tanggapa Geiger
berupa penekanan dan penegasan bahwa al-Qur’an merupakan kitab
suci dan kitab wahyu yang tidak bisa diragukan keotentikkan dan
keorisinilannya, sebab Islam tidak hadir di ruang hampa, melainkan
hadir di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai culture yang
berbeda, sehingga menjadi wajar jika adanya akulturasi tradisi-budaya
dan bahasa dengan agama lain.
Kata Kunci: Al-Qur’an, Abraham Geiger, Ajaran Yahudi, Respon
Akulturasi Linguistik
Pendahuluan
Studi kritis terhadap keotentikkan al-Qur’an merupakan tema
hangat yang selalu menjadi ranah kajian orientalis. Jika dulu orientalis
mengkaji Islam karena kekayaan ilmunya, kemudian mulai
Pengaruh Bahasa Ibrani …
menerjemahkan karya-karya sains umat Islam untuk pengembangan
sains dan tekonologi (translation ages, abad ke-11 M-16 M)1, sehingga
terlepaslah belengguh zaman kegelapan (dark ages) menjadi zaman
pencerahan (renaissance), akhir-akhir ini (tepatnya pada abad ke-18/19
M) kajian orientalis sudah merambat sampai ke tahap ‘kritik’ atau ke
wilayah yang oleh umat Islam disebut dengan ‘tsawabit’ (Arkoun
menyebutnya ‘the unthinkable’, seperti persoalan otentisitas al-Qur’an).2
Sebenarnya kajian non-muslim (orientalis) terhadap otentisitas
al-Qur’an sudah ada sejak abad ke-9 M, seperti yang dilakukan oleh
‘Abd al-Masih Ibn Ishak al-Kindi, Abu Nuh al-Anbari, dan Yahya al-
Dimasyqi atau yang dikenal dengan John of Damascus,3 tetapi diberi
sebutan orientalisme atau menjadi sebuah kajian akademik baru
dimulai pada abad ke-18/19 M.4 Ada beberapa faktor mengapa
orientalis selalu melejitkan kritikan terhadap kitab suci al-Qur’an yang
diyakini oleh umat Islam sebagai sebuah kebenaran, yaitu diantaranya
pertama, karena sejak awal diturunkan, al-Qur’an telah menggugat dan
memberikan kecaman kepada doktrin agama Yahudi dan Nasrani
perihal akidah, seperti yang terdapat pada QS. al-Ma’idah/5 ayat
17,18, “Sungguh, telah kafir orang yang berkata ‘sesungguhnya Allah itu dialah
al-Masih putra Maryam’”, dan ayat 73 “Sungguh, telah kafir orang-orang yang
mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga”, juga firman-Nya
dalam QS. an-Nisa’/4 ayat 157 “Dan karena ucapan mereka, sesungguhnya
kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padal
mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka
bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa”, serta kedua, karena al-
1
Orang Barat membutuhkan kurun waktu 5 abad (dari abad ke-11 M-16
M) untuk menterjemahkan karya-karya umat Islam seperti, karya Ibnu Sina, Ibn
Rusyd, al-Farabi, al-Ghazzali dan karya saintis seperti al-Khawarizmi, Jabir ibn
Hayyan, Ibn Haytham, al-Hazin dan Ibn Bajah. Lihat, Hamid Fahmy Zarkasyi,
Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan bersama Missionaris, Orientalis, dan
Kolinialis), (Ponorogo: CIOS-ISID-Gontor, 2010), h. 5.
2
Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat (Dari Hegemoni Kristen ke
Dominasi Sekular-Liberal), (Jakarta: Gema Insani, 2005), h. XXV.
3
Sahiron Syamsuddin, “Pendekatan Orientalis dalam Studi Al-Qur’an”
dalam Islam, Agama-agama dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift untuk M. Amin
Abdullah, Ed. Moch Nur Ichwan dan Ahmad Muttaqin, (Yogyakarta: CISForm,
2013), h. 97.
4
The Oxford English Dictionary, (Oxford, 1993), vol. VII, h. 200. Lihat
juga, Azim Nanji (ed), Peta Studi Islam: Orientalisme dan Arah Baru Kajian
Islam di Barat, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003), h. 33-37.
44 Al-Manar, Vol 7, No. 2, 2021
Umi Wasilatul Firdausiyah
Qur’an telah membongkar seluk-beluk penyelewangan yang dilakukan
oleh ketua Yahudi terhadap ajaran para Nabi.5
Atas dasar ini maka kaum orientalis melakukan kajian
akademis terhadap al-Qur’an dengan salah satu tujuannya yaitu
mengingkari kenabian Muhammad dan mencari kesalahan al-Qur’an.6
Hal ini tak terkecuali Abraham Geiger. Geiger merupakan orientalis
yang ingin membuktikan keterpengaruhan al-Qur’an atas tradisi
Yahudi dan Nasrani. Dengan karyanya berjudul Judaism and Islam dan
Was hat Mohammed Aus Dem Judenthume aufgenommen?, Geiger telah
melejitkan statement bahwa al-Qur’an yang ada ditangan umat Islam
merupakan kitab yang diadopsi, terbentuk, atau tercipta dari tradisi
Yahudi dan Kristen.7 Dengan kata lain bahwa al-Qur’an bukanlah
kitab yang transenden dan orisinil, karena di dalamnya banyak
dikonstruksi, diimitasi, dipengaruhi, dan diambil dari bahasa, serta
tradisi Yahudi dan Nasrani. Al-Qur’an hanyalah refleksi Muhammad
Saw atas kondisi/culture masyarakat Arab saat itu, sehingga dari
tradisi yang ada Muhammad Saw terinspirasi membuat al-Qur’an.
Abraham Geiger menggunakan pendekatan historis-kritis dalam
membuktikan hasil penelitiannya.8
Dari latar belakang tersebut memunculkan suatu pertanyaan
dari penulis yaitu apakah pandangan Geiger sebagai oreientalis
terhadap al-Qur’an dapat dibenarkan? Kemudian bagaimana respon
dari umat Islam terhadap pandangannya tersebut? Oleh karenanya
penulis tertarik mengkaji lebih jauh bagaimana pandangan Abraham
Geiger terhadap kemurnian al-Qur’an yang dinilainya tersebut.
Dengan tujuan dari penelitian ini untuk mengelaborasi, menjelaskan
atau menjawab dan merespon balik kritikkan yang dilontarakan oleh
Abraham Geiger terhadap teks al-Qur’an. Metode yang digunakan
berupa kualitatif jenis library research dengan metode analisis-deskriptif,
5
Wan Mohd Nor Wan Daud, dalam esai “Islam dan Tantangan
Kebudayaan Barat” dimuat dalam majalah Dewan Budaya, edisi Oktober dan
November 1993 di Kuala Lumpur. Lihat juga, Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat
(Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam), (Jakarta: INSISTS-
MIUMI, 2012), h. 43-44.
6
Meski kajian orientalis ada yang obyektif, tapi keseluruhannya
dirancang untuk tujuan know your enemy (mengetahui kekuatan musuh). Hamid
Fahmy Zarkasyi, Misykat…, h. 95. Lihat juga Adian Husaini, Wajah Peradaban
Barat…, h. XXXI.
7
Abraham Geiger, Was hat Mohammed Aus Dem Judenthume
aufgenommen?, (Bonn: F. Baaden, 1833)
8
Yudhi R, Haryoni, dkk., Al-Qur’an Buku yang Menyesatkan dan Buku
yang Mencerahkan, (Bekasi: Gugus Press, 2002), h. 85.
Al-Manar, Vol 7, No. 1, 2021 45
Pengaruh Bahasa Ibrani …
yang dibantu dengan teori cakrawala dari Hans George Gadamer
sebagai jembatan untuk mengungkap pandangan Geiger dalam
menelaah kemurnian al-Qur’an.
Sekilas Motivasi Barat Mengkaji Timur dan Islam, Serta
Tujuan Akhir Mereka
Orientalis memiliki motivasi tertentu dalam mengkaji Timur
dan Islam. Motivasi tersebut diantaranya karena dorongan Gold,
Gospel, dan Glory. Dorongan tersebut panjang lebar dijelaskan oleh
Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya berjudul Islam And
Secularism, yang dapat diringkas menjadi lima poin, pertama,
kebangkitan umat Islam di pentas sejarah telah menentang klaim
agama Kristen sebagai agama yang universal untuk seluruh umat
manusia. Kedua, Islam telah mengubah tubuh dan jiwa orang-orang
Barat secara revolusioner dalam bidang-bidang linguistik, sosial,
kebudayaan, keilmuan dan ekonomi. Ketiga, perluasan pengaruh Islam
serta tanah taklukannya keseluruh Timur Tengah termasuk kawasan
yang dulunya di miliki oleh Kerajaan Bizaintium, India dan Afrika
dalam waktu yang begitu cepat, dan selama lima abad menguasai
perdagangan laut mediteranean dan India. Keempat, sejak awal
diturunkan, al-Qur’an telah menggugat dan memberikan kecaman
kepada doktrin agama Yahudi dan Nasrani, seperti yang terdapat pada
QS. al-Ma’idah/5 ayat 17,72,73, QS. an-Nisa’/4: ayat 157, dan
membongkar seluk-beluk penyelewangan yang dilakukan oleh ketua
Yahudi terhadap ajaran para Nabi. Kelima, Islam mempunyai potensi
untuk bangkit semula berdasarkan konsep tajdidnya dan mampu
mencabar hegemoni kebudayaan Barat di masa akan datang.9
Kelima poin diatas dapat disederhanakan menjadi dua motif,
yaitu motif keagamaan dan motif politik. Pertama, motif keagamaan
karena Barat yang disatu sisi mewakili Yahudi dan Kristen
memandang Islam sebagai agama yang sejak awal menentang doktrin-
doktrinnya. Islam yang misinya menyempurnakan millah sebelumnya
tentu banyak melontarkan koreksi terhadap agama itu. Itulah Islam
dianggap “menabur angin” dan lalu menuai badai perseteruan dengan
Yahudi dan Kristen. Bahkan lebih ekstrim lagi, perseteruan itu ada
sejak sebelum Islam datang. Thomas Right, penulis buku Early
Chiristianity in Arabia, mensinyalir perseteruan antara Islam dan
9
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam And Secularism, (Kuala
Lumpur: International Institute Of Islamic Thought And Civilization-ISTAC,
1993), h. 97-132.
46 Al-Manar, Vol 7, No. 2, 2021
Umi Wasilatul Firdausiyah
Kristen terjadi sejak bala tentara Kristen pimpinan Abrahah
menyerang Ka’bah dua bulan sebelum Nabi lahir. Jadi motif
orientalisme adalah keagamaan. Kedua, motif politik karena Islam bagi
Barat adalah peradaban yang di masa lalu telah tersebar dan
menguasai peradaban duia dengan begitu cepat. Barat sebagai
peradaban yang baru bangkit dari kegelapan melihat Islam sebagai
ancaman besar dan langsung bagi kekuasaan politik dan agama
mereka. Barat sadar benar bahwa Islam bukan hanya sekedar istana-
istana megah, bala tantara yang gagah berani atau bangunan-bangunan
monumental, tapi peradaban yang memiliki khazanah dan tradisi ilmu
pengetahuan yang tinggi. Oleh sebab itu mereka perlu merebut
khazanah ini untuk kemajuan mereka dan sekaligus untuk
menaklukkan Islam.10
Jadi, orientalisme yang dikenal saat ini sebagai suatu tradisi
kajian ilmiah tentang Islam, sejatinya adalah berdasarkan pada kaca-
mata dan pengalaman manusia Barat yang dipicu oleh motif dan
semangat missionaris. Tapi motivasi ini ditutupi dengan jubah
intelektualisme dan dedikasi akademik. Tidak heran jika orientalis
kemudian dianggap memiliki disiplin dan sikap ilmiyah yang ‘khas’,
bahkan menjadi sebuah framework pengkajian. Meskipun ilmiyah, tapi
jika cara pandang dan tujuannya diwarnai oleh latar belakang agama
dan politik serta worldview Barat atau nilai-nilai peradaban Barat, kajian
mereka itu lebih cenderung salah. Ini membuktikan bahwa ilmu
memang tidak bebas nilai. Oleh sebab itu menganggap orientalis di
masa kini obyektif dan ilmiyah hanya benar dipermukaannya. Kajian
akademis dan ilmiyah terhadapnya membuktikan sebaliknya. Cara
pandang mereka terhadap Nabi, al-Qur’an dan Islam sebagai agama
masih tidak bisa lepas bebas dari pengaruh pendahulunya. Dan
orientalis terhadulu itu diwarnai oleh pengalaman manusia Barat.11
Biografi Singkat Abraham Geiger
Abraham Geiger merupakan seorang sarjana, sejarawan,
agamawan, sekaligus pendiri reformis Yahudi yang lahir pada tanggal
24 Mei 1810 di Frankfurt. Ayahnya bernama Michael Lazarus Geiger
dan ibunya bernama Roschen Wallau. Sejak kecil ayahnya telah
mengajarkanya tentang Hebrew Bible, Mishnah, dan Talmud sehinnga
membuatnya menjadi anak yang berpengetahuan serta kritis dalam
berpikir. Hal tersebut dapat dilihat dari keraguan dia terhadap ajaran
10
Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam…, h. 58-59.
11
Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam…, h. 60-61.
Al-Manar, Vol 7, No. 1, 2021 47
Pengaruh Bahasa Ibrani …
tradisional agama Yahudi yang menurutnya terdapat kontradiksi
antara pernyataan Bible tentang otoritas ketuhanan dengan sejarah
klasik.12
Diusianya yang 17 Geiger telah berhasil menulis perbandingan
antara hukum yang terdapat dalam Mishnah, Bible dan Talmud dan
juga telah berkontribusi terhadap pembuatan kamus Mishanic
(Rabbinic) Yahudi. Pada tahun 1829 tepatnya diusia 19 tahun Geiger
melanjutkan studi di University of Heidelberg dengan konsentrasi
mempelajari bahasa Syiria, filologi, bahasa Yahudi dan bahasa klasik,
juga di tahun yang sama ia lalu pindah ke University of Bonn untuk
mempelajari bahasa Arab dan al-Qur’an. Kajiannya terhadap
ketimuran inilah yang kemudian membuahkan sebuah karya berjudul
“Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?” (Apa yang telah
diambil oleh Muhammad dari ajaran Yahudi?) dan melambungkan
namanya sebagai pakar dunia Timur. Berkat karyanya ini pula, dan
penelitian ilmiahnya terhadap teks Yahudi, pada tahun 1834 ia
berhasil menyelesaikan gelar Ph.D di University of Marburg.13
Tidak berhenti disitu Geiger terus menulis dan menunjukan
bahwa kedua agama Kristen dan Islam memiliki keterpengaruhan
terhadap ajaran Yahudi. Bahkan lebih dari itu, baginya kedua agama
tersebut baik Kristen dan Islam tidak hanya terpengaruh terhadap
ajaran Yahudi, tetapi menyebarkan monoteis Yahudi kepada ajaran
agama-agama pagan. Dinatara karya-karya Geiger yang fenomenal
yaitu Was hat Mohammed aus dem Judentume aufgenommen?, Nachgelassene
Schriften Vol. 5, part 1 (German Edition), Das Judenthum und seine Geschichte
zwölf Vorlesungen, Wissenchaftliche Zeitschrift fuer Juedische Theologie, Juedische
Zeitschrift fuer Wissenchaft und Leben, dan Judaism and Islam. Geiger
menjalani akhir-akhir hidupnya dengan menjadi Rabbi, sebab pada
saat itu di Jerman, kesempatannya untuk menjadi seorang professor
sangatlah tidak dimungkinkan. Geiger menghembuskan nafas terakhir
pada tanggal 23 oktober tahun 1874 tapatnya di kota Berlin.
Potret Pemikiran Abraham Geiger Tentang Al-Qur’an
a. Metode Historis-Kritis Abraham Geiger
12
Saifus Subhan Assuyuthi, Abraham Geiger: Antara Wissenschaft des
Judentum dan Kajian Al-Qur’an dalam buku “Kajian Orientalis Terhadap Al-
Qur’an dan Hadis”, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2012), h. 36.
13
Sara E. Karesh & Mitchell M. Hurvitz, Encyclopedia of Judaism, (New
York: Facts On File, Inc, 2006), h. 168.
48 Al-Manar, Vol 7, No. 2, 2021
Umi Wasilatul Firdausiyah
Pelacakan melalui sejarah Yahudi dan Islam serta
pembacaan kompratif terhadap kitab-kitab yang ada baik Taurat,
Talmud, dan al-Qur’an telah melahirkan kesimpulan bahwa Nabi
Muhammad Saw mendirikan Islam karena mengambil dan
mengcopynya dari ajaran-ajaran Yahudi. Menurut Geiger al-
Qur’an hanyalah sebuah reflesi Muhammad pada orang-orang
Arab saat itu yang notabenenya Yahudi. Dari sini dapat dilihat
bahwa analisis Geiger hanya didasarkan pada letak geografis
masyarakat Arab pada saat itu.
Adapun responnya terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang
mengecam ajaran Yahudi dan Kristen, menurutnya semua itu
karena kesalah-pahaman Muhammad terhadap ajaran dan doktrin
agama Yahudi. Pernyataanya ini dihasilkan dari kajian historis-
kritisnya yang mendalam terhadap al-Qur’an dengan analisis
komparatif Yahudi dan Islam. Dalam melakukan penelitian,
Geiger menempatkan agama Yahudi pada otoritas yang lebih
tinggi untuk menilai Islam, sehinnga menjadi wajar tatkala al-
Qur’an mengecam doktrin penyimpangan Yahudi, Geiger
menepisnya dengan alasan bahwa semua itu karena kesalahan-
pahaman Nabi Muhammad semata.14
b. Kritik Terhadap Al-Qur’an
Dalam karyanya yang berjudul Was hat Mohammed aus dem
Judentume aufgenommen? dan Judaism and Islam, Geiger mengatakan
bahwa al-Qur’an bukanlah otentik kitab suci, sebab beberapa
kandungan dan isinya dikonstruksi, diambil, dan diadopsi dari
tradisi dan bahasa Yahudi, Kristen, maupun masyarakat Jahiliyah
saat itu. Alasan Geiger mengatakan hal demikian karena pertama,
saat Rasulullah Saw berada di Madinah, Rasul telah hidup dan
berbaur bersama orang-orang Yahudi yang sejak lama memiliki
pengaruh besar terhadap masyarakat Madinah. Ini sejalan dengan
pengantar yang diberikan Moshe Pearlman dalam karya Geiger,
bahwa masyarakat Yahudi yang telah hidup di Arab sebelum
datangnya Islam, sudah berada pada tahap kondisi politik,
intelektual, pertanian dan ekonomi yang baik. Sehingga datangnya
Rasul di Madinah memiliki motif dan tujuan tertentu salah satunya
14
Lihat, Lenni Lestari “Abraham Geiger dan Kajian Al-Qur’an Telaah
Metodologi atas Buku Judaism and Islam Abraham Geiger and the Study of the
Qur'an Analyzing the Methodology of the ‘Judaism and Islam”. UIN Sunan
Kalijaga, Yogyakarta, dalam Jurnal Suhuf, Vol. 7 No 1 Juni 2014, h. 56.
Al-Manar, Vol 7, No. 1, 2021 49
Pengaruh Bahasa Ibrani …
adalah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menarik
masyarakat pada saat itu mengikuti agama yang dibuatnya.
Kedua, Rasulullah Saw memiliki hubungan akrab dengan
orang Yahudi (Waraqah bin Naufal, Abdullah bin Salam) yang
keduanya telah memahami kitab suci dan bahasa Ibarani. Begitu
halnya dengan seorang raja arab Habib bin Maliki, yang
sebelumnya sangat taat beragama Yahudi, tetapi setelah datangnya
Rasulullah mereka semua dipengaruhi sehingga mau mengikuti
ajaran yang dibuat oleh Muhammad. Bagi Geiger agama yang
dibawa oleh Nabi Muhammad di atas tiada lain tercipta karena
proses interaksinya dengan orang-orang Yahudi. Dan adanya ayat
Qur’an yang mengecam penyimpangan Yahudi, ini disebabkan
karena Muhammad memahami agama Yahudi hanya melalui
proses interaksi semata alias tidak mempelajari kitab suci umat
Yahudi secara langsung. Ketiga, Muhammad sedikitpun tidak
memiliki pengetahuan tentang kitab suci umat Yahudi.
Kendatipun begitu, Muhammad tidak akan putus asa, dia akan
terus mencari sumber informasi, walaupun mendapatkannya
hanya melalui proses interaksi dengan masyarakat yang telah
mengenal seluk-beluk agama yahudi.15
Selain itu, menurutnya terdapat beberapa hal dalam al-Qur’an
yang isinya dikonstruksi, diambil, dan diadopsi dari tradisi dan
bahasa Yahudi yaitu pertama, terkait lingusitik/kosa-kata, kedua,
keimanan dan doktrin, ketiga, hukum atau aturan-aturan dan moral
Keempat, pandangan hidup dan kisah-kisah dalam al-Qur’an.16
1.) Linguistik Atau Kosa-Kata Dari Tradisi Yahudi
Bagi Abraham Geiger, dalam al-Qur’an terdapat 14 kosa-
17
kata yang diambil, diadopsi, dipengaruhi dan dikonstruksi dari
bahasa Ibrani yaitu kata tabut, sakinah, jannatu ‘adn, taghut, taurat,
Jahannam, ahbar, sabt, furqan, ma’un, malakut, mathani, darasa, dan
15
Argumen ini diperkuat oleh Geiger dengan mengutip ayat al-Qur’an
surat al-Baqarah/2 ayat 76 “ علَ ْي ُك ْم ِّليُ َح ۤاج ُّْو ُك ْم ِّب ٖه قَالُ ْْٓوا اَت ُ َح ِّدث ُ ْونَ ُه ْم ِّب َما فَتَ َح ه
َ ُّٰللا
َ“( ” ِّع ْن َد َر ِّب ُك ْم ۗ اَفَ ََل تَ ْع ِّقلُ ْونApakah akan kamu ceritakan kepada mereka apa
yang telah diterangkan Allah kepadamu, sehingga mereka dapat menyanggah
kamu di hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu mengerti?”). Lenni Lestari
“Abraham Geiger dan Kajian Al-Qur’an…, h. 51.
16
Abraham Geiger, Judaism and Islam, (New York : Pusblishing House,
1989), h. 41-72.
17
As-Suyuthi juga pernah mengkaji beberapa kosa kata tersebut dalam
kitabnya. As-Suyuthi, Al-Itqan fii ‘ulum Qur’an, (Beirut : Dar al-Fikr, 2008), h.
198.
50 Al-Manar, Vol 7, No. 2, 2021
Umi Wasilatul Firdausiyah
rabhani. Pertama, kata Tabut. Abraham Geiger mengatakan bahwa
kata ini bukanlah berasal dari bahasa Arab asli, tetapi dikonstruksi
dari bahasa Ibrani. Akhiran pada kata tabut ini juga memperjelas
bahwa tidak ada akhiran kata “ut” dalam bahasa Arab asli. Jika
dalam al-Qur’an kata ini bermakna peti penyimpanan taurat, dan
perjanjian yang menjadi tanda kekuasaan raja,18 dalam ajaran
Yahudi kata ini dimaknai dengan hal yang serupa pula yaitu saat
Nabi Musa diletakkan ibunya ke dalam perahu, dan bermakna
perjanjian. Dengan begitu keserupaan makna ayat Qur’an dengan
ajaran Yahudi menunjukan signifikansi keaslian bahasa Ibrani
yang diadopsi oleh Muhammad.19
Kedua, kata Taurat. Taurat bermakna hukum. Kata ini
digunakan khusus untuk tradisi pewahyuan agama Yahudi semata.
Namun Muhammad Saw, dengan ketidaktahuan dan tradisi
oralnyanya tidak mampu membedakan makna kata taurat dengan
pasti dan benar. Bahkan lebih para lagi Muhammad memberikan
makna taurat dengan pentatukh.20Ketiga, kata Jannatu ‘Adn.
Menurut Geiger kata ‘adn yang dimaknai oleh Muhammad sebagai
kebahagian, kesenangan, dan surga, sebenarnya berasal dari bahasa
Ibrani. Dalam agama Yahudi, nama ‘adn adalah suatu tempat yang
pernah dihuni oleh Adam dan istrinya Hawa yaitu berupa kebun
pohon yang diistilahkan dengan sebutan “Taman Eden”.
Meskipun dalam perkembanganya kata ini dimaknai sebagai surga
(tidak lagi merujuk pada nama suatu tempat), tetapi dalam tataran
praksis orang-orang Yahudi masih menggunakan taman Eden
sebagai sebuah tempat.21 Keempat, kata Jahannam. Kata ini juga
menurut Geiger diambil dari bahasa Yahudi. Dalam tradisi
Yahudi, Jahannam merujuk pada sebuah lembah hinom yakni
18
ُ“( َوقَا َل لَ ُه ْم نَ ِّبيُّ ُه ْم ا َِّّن ٰا َيةَ ُم ْل ِّك ٖ ْٓه اَ ْن يَّأْتِّ َي ُك ُم الت َّاب ُْوتDan Nabi
mereka mengatakan kepada mereka: “sesungguhnya tanda ia
akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu”) QS. Al-
Baqarah/2: 248. Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1, ( Bogor:
Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2006), h. 501. Lihat juga QS.
Thaha/20 ayat 39 “Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti,
kemudian hanyutkanlah dia ke sungai…”.
19
Abraham Geiger, Judaism and Islam; A Prize Essay trans by A
Member of the Ladies League in Aid of the Delhi Mission, (Madras:
M.D.C.S.P.C.K Press, 1898), h. 31-32.
20
Abraham Geiger, Judaism and Islam…, h. 32.
21
Abraham Geiger, Judaism and Islam…, h. 33.
Al-Manar, Vol 7, No. 1, 2021 51
Pengaruh Bahasa Ibrani …
tempat pemujaan terhadap berhala yang penuh dengan
kesengsaraan. Dalam al-Qur’an Jahannam bermakna neraka.22
Kelima, kata Rabbani. Seperti halnya akhiran “ut” pada
kata tabut, kata rabbani yang berakhiran “an” bagi Geiger juga
diambil dari bahasa Yahudi. Menurutnya akhiran “an” merupakan
kata yang lumrah dijumpai dalam bahasa Yahudi seperti rubhan
dan rabban yang berarti pendeta, guru (rahib). Maka besar
kemungkinan kata rabbani yang berarti Tuhan menurut
Muhammad Saw itu diambil dari bahasa Ibrani.23 Keenam, kata
Sabt. Kata yang digunakan untuk menyebut hari sabtu oleh agama
Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam kitab Eksodus XVI: I
dijelaskan bahwa dalam bahasa arab ada lima hari yang diberi
nama sesuai urutan angka, yaitu kesatu ahad, kedua isnin, ketiga
sulasa’u, keempat arbi’a’u, kelima khamis dan keenam yaitu sabt.
Maka menurut Geiger kata sabt dalam bahasa Arab shin yang
dilafalkan seperti samech dalam bahasa Ibrani dipertukarkan
kedalam tulisan mereka.24
2.) Keimanan dan Doktin Agama
Selain mengadopsi kosa-kata, menurut Abraham Geiger,
Muhammad Saw juga telah mengadopsi aspek keimanan dan
doktrin yang ada pada ajaran Yahudi. Seluruh aspek-aspek
tersebut diantaranya yaitu pertama, terkait dengan penciptaan langit
dan bumi. Menurutnya, ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang
penciptaan langit dan bumi dalam enam masa,25 sama halnya
seperti apa yang telah disebutkan dalam Bibel. Namun ia
kemudian juga menjumpai ayat lain yang serupa tetapi kontradiksi
yaitu (bumi diciptakan selama dua masa),26 sehingga membuatnya
memberikan kesimpulan bahwa selain pandai mengadopsi,
wawasan Nabi Muhammad juga sangat minim terhadap Bibel,
itulah mengapa Muhammad Saw banyak melakukan kesalahan.
Kedua, tujuh tingkatan surga. Disebutkan dalam kitab suci Chagiga
9: 2, bahwa surga memiliki tujuh tingkatan dan semuanya telah
diberi nama, hal ini serupa dengan penjelasan Muhammad Saw
22
Abraham Geiger, Judaism and Islam…, h. 38.
Abraham Geiger, Judaism and Islam…, h. 37.
23
24
Abraham Geiger, Judaism and Islam…, h. 38.
25
“Sesungguhnya Tuhan kamu dialah Allah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa…” QS. Yunus/10: 3.
26
“Katakanlah, “Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan yang
menciptakan bumi dalam dua masa…” QS. Fussilat/41: 9.
52 Al-Manar, Vol 7, No. 2, 2021
Umi Wasilatul Firdausiyah
dalam kitab sucinya yang terdapat pada QS. al-Baqarah/2 ayat
29.27
Ketiga, kebangkitan dan pembalasan di akhirat. Bagi Geiger
tentang kebangkitan, pembalasan hari akhir dan yang berkaitan
denganya juga diadopsi oleh Muhammad dari agama Yahudi.
Banyak kepercayaan yang diyakini oleh Yahudi juga diimani oleh
Muhammad Saw, seperti surga dan neraka, penghuni nereka yang
menjerit meminta agar supaya diberikan makanan, ciri-ciri akhir
zaman yang ditandai dengan lenyapnya ilmu pengetahuan agama
serta tubuh manusia yang akan memberikan kesaksian.28 Kempat,
terkait keesaan Tuhan. Geiger menyakini seluruh agama di dunia
menyatakan keesaanya terhadap Tuhan. Oleh karenannya tidaklah
etis tatkala ada agama tertentu yang mengklaim kepercaayan
terhadap tuhan diambil dari agamanya. Namun kendatipun
demikian Geiger tetap menegaskan bahwa konsep monteisme
yang ada pada Islam, pada dasarnya berasal dari agama yahudi.29
3.) Aturan-Aturan Hukum Dan Moral
Geiger membentangkan keserupaan ajaran Yahudi dan
Islam dengan memperlihatkan sikap kedua agama tersebut dalam
memperlakukan orang tua. Dalam Jehammot ayat 6 dijelaskan
bahwa “hendaklah seluruh manusia mematuhi perintah orang tua, tetapi
hendaklah semua diantara kamu tetap menjadikan hari sabtu sebagai hari
untuk beribadah kepadaku”. Redaksi ayat ini persis dengan al-Qur’an
pada surat al-Ankabut ayat 8 yaitu “Dan Kami wajibkan kepada
manusia agar (berbuat) kebakan kepada orang tuanya. Dan jika keduanya
memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau
tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi
padanya…”.30
Selain itu, ajaran yang diambil Muhammad Saw dari
agama Yahudi juga adalah meliputi rangkaian sholat, seperti sholat
dalam keadaan takut (shalat khauf), larangan sholat dalam keadaan
mabuk, dan bolehnya bersuci menggunakan debu (tayammum) bila
tidak mendapatkan air. Dalam sholat khauf misalnya, menurut
27
“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi
untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi
tujuh langit…” QS. Al-Baqarah/2: 29. Lihat juga, Abraham Geiger, The Origins
of the Koran, (New York: Prometheus Books, 1998), h. 174.
28
Abraham Geiger, Judaism and Islam, Cornell University
Library, h. 54.
29
Abraham Geiger, Judaism and Islam…, h. 46.
30
Abraham Geiger, Judaism and Islam…, h. 65.
Al-Manar, Vol 7, No. 1, 2021 53
Pengaruh Bahasa Ibrani …
Geiger gerakan-gerakan yang dilakukan Muhammad persis seperti
rabbi yang memiliki otoritas penuh dalam menentukan posisi
sholat, Geiger mengatakan hal ini sebagaimana telah dicuapkan
sendiri oleh Muhammad “berdirilah ketika menghadap Tuhanmu,
tetapi jika kamu takut, lakukanlah sholat sambil berjalan atau
berkendaraan” (al-Baqarah/2: 239). Begitu juga dengan sholat
dalam keadaan mabuk dan tayammum, batalnya wudhu saat
menyentuh perempuan, durasi masa ‘iddah salama tiga bulan dan
menyusui selama dua tahun, aturan dalam puasa dan etika sholat
berjamaah, kesemuanya menurut Geiger merupakan ajaran-ajaran
yang diadopsi oleh Muhammad Saw dalam Talmud atau ajaran
Yahudi.31
4.) Pandangan Hidup dan Kisah Dalam Al-Qur’an
Selain poin yang telah dijelaskan sebelumnya terkait adopsi
dan tiruan Muhammad Saw kepada ajaran Yahudi, tidak berhenti
disitu Abraham Geiger juga berpendapat bahwa pandangan hidup,
serta kisah-kisah yang termuat dalam al-Qur’an, itu juga
didasarkan dan dikonstruksi dari ajaran Yahudi. Misalnya pertama,
terkait pandangan hidup. Pandagan hidup yang dimaksud adalah
seperti:
a. Keinginan agar wafat dalam keadaan yang baik (husnul
khatimah). Jika dalam al-Qur’an disebutkan dalam QS. ali-
Imran/3 ayat 193 yang artinya “…Dan matikanlah kami beserta
orang-orang yang berbakti”,32 dalam Balaam, redaksinya berbunyi
“Let me die the death of the righteous”.33
b. Adab dalam mengucapkan janji. Mengucapkan Insya Allah
ketika berjanji untuk melakukan sesuatu merupakan bagian
dari perintah Allah dalam al-Qur’an “Dan jangan sekali-kali
engkau mengatakan terhadap sesuatu “aku akan pasti melakukan itu
besok pagi” kecuali (dengan mengatakan) “Insya Allah”,34 hal ini
juga sama seperti apa yang diajarkan dalam agama Yahudi.
c. Balasan dari Tuhan untuk orang-orang yang melakukan
kebaikan selama hidup di dunia. Dalam Islam keyakinan ini
disebutkan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’/4 ayat 85 “Barang
siapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia
31
Abraham Geiger, Judaism and Islam…, h. 64-72.
32
… َوتَ َوفَّنَا َم َع ْاْلَب َْر ِّارQS. Ali-Imran/3: 193.
33
Abraham Geiger, Judaism and Islam…, h. 70.
34
َّ غدًا إِّْل ا ْن يَشَا َء
ُّٰللا َ َوْل تَقُولَ َّن ِّلQS. Al-
َ َش ْيءٍ إِّنِّي فَا ِّع ٌل َذلِّك
Kahf/18: 22-23.
54 Al-Manar, Vol 7, No. 2, 2021
Umi Wasilatul Firdausiyah
akan memperoleh bagian dari (pahala)nya”,35 sementara dalam
keyakinan agama Yahudi redaksi seperti ini terdapat dalam
Bava Kamma: 92.
d. Bergulir dan berlakunya amal jariyah bagi seseorang yang telah
meninggal dunia. Jika dalam Islam orang yang meninggal
dunia meninggalkan seluruhnya kecuali satu, sebagaimana
sabda Rasul (“Yang mengikuti mayit sampai ke kebur ada tiga,
dua akan kembali dan satu tetap bersamanya dikubur. Yang
mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang
kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap
bersamnya di kubur adalah amalnya”).36 Dalam agama Yahudi
juga meyakini hal yang serupa yaitu orang yang meninggal
dunia meninggalkan semuanya, kecuali amal ibadah.37
Selain itu, Geiger juga mengatakan bahwa beberapa kisah
yang termuat dalam al-Qur’an merupakan imitasi dari agama
Yahudi. Kisah-kisah yang dimaksud Geiger yaitu kisah
kepemimpinan laki-laki (patriarchs) seperti kisah nabi Adam hingga
nabi Nuh, Nuh hingga nabi Ibrahim, nabi Ibrahim hingga nabi
Musa, kisah nabi dan raja yang kekuasaanya tidak terbatas seperti
nabi Daud, Sulaiman dan raja Thalut, serta orang-orang suci yang
diutus setalah masa nabi Sulaiman.38 Seluruh pembahasan di atas
bagi Abraham Geiger merupakan imitasi, adopsi, konstruksi, yang
dilakukan Muhammad Saw dari tradisi Arab jahiliyah dan agama
Yahudi. Bagaimanakah pandangan cendikiawan muslim dan non-
Muslim terhadap pemikiran Geiger di atas?
Respon Cendekiwan Muslim Terhadap Pemikiran
Abraham Geiger
Abraham Geiger bukanlah satu-satunya orang yang melakukan
kajian terhadap bahasa al-Qur’an. Sebelumnya telah terlibat beberapa
cendikiawan muslim dalam misi dan kajian yang sama tetapi dengan
motif yang berbeda, diantaranya dilakukan oleh Jalaluddin as-Suyuti
dan Imam Badruddin Muhammad bin Abdullah az-Zarkasyi asy-
35
… ِّم ْن َها ِّ سنَةً يَّ ُك ْن لَّهٗ ن
ٌَصيْب َ عةً َح َ َم ْن يَّ ْشف َْع
َ شفَا QS. An-Nisa’/4:
85.
36
HR. Bukhari, no. 6514 dan Muslim no. 2960.
37
Abraham Geiger, Judaism and Islam…, h. 72.
38
Abraham Geiger, Judaism and Islam, Cornell University Library, h.
185.
Al-Manar, Vol 7, No. 1, 2021 55
Pengaruh Bahasa Ibrani …
Syafii. Kedua tokoh tersebut sepakat akan keterlibatan bahasa lain
dalam al-Qur’an dan menurutnya itu sebenarnya merupakan hal yang
lumrah dan wajar. Imam As-Suyuti misalnya menyatakan bahwa
terdapat 120 kosa-kata asing dalam al-Qur’an yang aslinya bukan
berasal dari bahasa Arab tetapi serapan atau konstruksi dari bahasa
lain. Itu menunjukan bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang
mencakup seluruh ilmu baik sebelumnya atau yang akan datang.39
Misalnya kata jahannam, Imam Suyuti mengakui bahwa kata
tersebut bukanlah berasal dari bahasa Arab melainkan berasal dari
beberapa bahasa asing seperti, bisa berasal dari bahasa ‘Ajam, bahasa
Persia, dan juga bisa berasal dari bahasa Ibrani yaitu dari kata gehinnom.
Hal yang sama juga dinyatakan oleh Muhammad al-Sayid ‘Ali Balasi,
bahwa kata jahannam berasal dari bahasa Ibrani “gehinnom”, lalu
kemudian ke dalam bahasa Arab diserap menjadi kata jahannam.40 Kata
rabbani juga demikian, Imam As-Suyuti berpendapat kata ini berasal
dari dua bahasa yaitu bahasa Aram dan juga bahasa Ibrani.41
Jadi, terlepas dari persilangan pendapat, para cendikiawan
muslim sebetulnya juga mengakui bahwa sebagian kosa-kata yang ada
dalam al-Qur’an merupakan serapan dari bahasa lain. Oleh karena itu,
keterpengaruhan kosa-kata al-Qur’an atas bahasa lain, baik itu dari
agama Yahudi maupun tradisi yang telah ada sebelumnya, sebenarnya
merupakan hal yang wajar dan telah dimengerti, sebab al-Qur’an
diturunkan tidak lepas dari kondisi dan sosio-kultur masyarakat Arab
pada saat itu, dimana tidak semua masyarakatnya murni berdialog
menggunakan bahasa Arab, tetapi juga menggunakan bahasa seperti
Persia dan Ibrani, dan secara tidak langsung serapan bahasa-bahasa
tersebut dalam al-Qur’an telah ter-arabisasi (telah menjadi bahasa
Arab). Hal ini senada dengan pernyataan Nashr Hamid Abu Zaid,
bahwa salah satu karakter penting teks al-Qur’an adalah bahwa ia
berinteraksi dengan teks-teks lain yang telah ada sebelumnya. Teks-
teks pra-Qur’an itu terdiri dari teks keagamaan, seperti Taurat dan
39
Jalaluddin As-Suyuti, Al-Itqan fi ‘Ulum Qur ‘an, (Beirut: Dar al-Fikr,
2008), h. 195.
40
Muhammad Al-Sayid ‘Ali Balasi, Al-Mu’arrab fi Al-Qur’an Al-Karim;
Dirasah Ta’siliyyah Dilaliyyah, Cet. 1, (Beghazi: Dar Al-Kutub Al-Wataniyyah,
2001), h. 192-193.
41
Muhammad Al-Sayid ‘Ali Balasi, Al-Mu’arrab fi Al-Qur’an Al-
Karim…, h. 207-208.
56 Al-Manar, Vol 7, No. 2, 2021
Umi Wasilatul Firdausiyah
injil, dan teks kultural, seperti syair dan kinanah.42 Bantahan lain
secara teologis yang dapat dikemukakan mengapa al-Qur’an menyerap
beberapa kosa-kata atau bahasa lain diantaranya karena al-Qur’an
merupakan kitab terlengkap yang mencakup ilmu orang-orang
terdahulu dan ilmu yang akan datang. Ini memperlihatkan
kesempurnaan dari al-Qur’an yang merupakan kitab suci orisinil
wahyu dari Allah Swt.
Selain bantahan yang telah dikemukakan di atas, Geiger juga
mendapat gugatan dan kritikan keras dari sarjana Barat atas
tuduhannya bahwa Islam dan al-Qur’an bukanlah agama orisinil dan
wahyu dari Tuhan. Hal ini secara jelas tercantum dalam essai
Muhammad Anwar Syarifuddin dengan judul “Al-Qur’an dan Hadits
dalam Kajian Kesarjanaan Barat”. Berikut Beberapa tokoh yang
memberikan gugatan pemikiran Geiger diantaranya43: 1.) William Saint
Clair Tisdall, dalam Bukunya “The Source of The Qur’an” (1905).
Menurut William, dilihat dari segi historis, al-Qur’an diwahyukan
kepada nabi Muhammad Saw ketika berada di kalangan bangsa Arab
yang dihuni masyarakat hegemoni. Tekstualitas al-Qur’an dipengaruhi
oleh beberapa faktor diantaranya adat istiadat masyarakat setempat,
warta dari sekte agama Kristen, sumber Zoroaster serta tradisi agama
Hanif yang berkembang dimasyarakat Arab. Sehingga pemikiran
Geiger atas klaim pengaruh satu-satunya Agama Yahudi terhadap Al-
Qur’an tidak akurat.
2.) H.A.R Gibb dalam bukunya “Mohammadenism” (1946)
menyatakan bahwa Muhammad sebagai Khatamul Anbiya dengan
mukjizat al-Qur’an sebagai finalisasi wahyu Allah yang menghapus
wahyu sebelumnya. 3.) Tor Andre, dalam bukunya “Mohammed the Men
and His Faith” (1936) menjelaskan bahwa kemunculan orisinalitas
ajaran Islam sehingga menjadi agama baru merupakan manifestasi dari
karakter Muhammad. Spiritualitas dalam ajaran Islam menjadi energi
yang terus berkembang sehingga menarik energi spiritualitas lain
untuk masuk ke dalamnya. Sebagai bukti nyata yaitu perkembangan
budaya Islam. 4.) Louis Massignon mengungkapkan Al-Qur’an
merupakan wahyu orisinil yang diturunkan kepada Muhammad
sekaligus jawaban doa Ibrahim tentang putranya Ismail yang berasal
42
Moh. Nur Ichwan, “Al-Qur’an Sebagai Teks“ (Teori Teks dalam
Hermeneutika al-Qur’an Nashr Hamid Abu Zaid” dalam Studi al-Qur’an
Kontemporer, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), h. 159.
43
Muhammad Anwar Syarifuddin, Al-Qur’an dan Hadits dalam Kajian
Kesarjanaan Barat” dalam buku “Kajian Orientalis Terhadap Al-Qur’an dan
Hadis”, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2012), h. 19-20.
Al-Manar, Vol 7, No. 1, 2021 57
Pengaruh Bahasa Ibrani …
dari bangsa Arab. Dan 5.) Angelika Neuwirth dalam seminar “The
Quran and Historical Literary Critiscm” berdasarkan diskusinya, Al-
Qur’an merupakan kumpulan firman Tuhan yang mana pada
pengilhamannya merupakan dialog agama dan tradisi masyarakat
terdahulu. Maka dari itu, persamaan terhadap konsep yang dibawa
oleh Islam atas agama sebelumnya semata-mata sebagai kongkretisasi
atas tantangan dan pertanyaan pemuka agama Arab ketika itu.
Penutup
Kendatipun al-Qur’an yang ada ditangan umat Islam sebagian
serapan dari tradisi, bahasa Ibrani, dan bahasa-bahasa yang lain, hal ini
bukan menjadi variable mutlak al-Qur’an dikatakan palsu atau bukan
wahyu dari Tuhan. Mengapa demikian? Sebab Islam dengan sumber
rujukannya al-Qur’an hadir sebagai penyempurna atas kitab-kitab
sebelumnya yang di dalamnya termuat berbagai macam kisah umat
terdahulu. Selain itu Islam tidak hadir di ruang hampa, tak
berpenghuni, melainkan hadir di tengah-tengah masyarakat dengan
berbagai culture yang berbeda, sehingga menjadi wajar jika adanya
akulturasi tradisi-budaya dan bahasa dengan agama lain. Sebab salah
satu al-Qur’an diturunkan yaitu untuk merespon perbuatan umat-
umat terdahulu, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk atau
melanggar.
58 Al-Manar, Vol 7, No. 2, 2021
Umi Wasilatul Firdausiyah
DAFTAR PUSTAKA
As-Suyuti, Jalaluddin. Al-Itqan fi ‘Ulum Qur ‘an. Beirut: Dar al-Fikr,
2008.
Al-Sayid ‘Ali Balasi, Muhammad. Al-Mu’arrab fi Al-Qur’an Al-Karim;
Dirasah Ta’siliyyah Dilaliyyah. Beghazi: Dar Al-Kutub Al-
Wataniyyah, 2001.
Anwar Syarifuddin, Muhammad. Al-Qur’an dan Hadits dalam Kajian
Kesarjanaan Barat” dalam buku “Kajian Orientalis Terhadap Al-
Qur’an dan Hadis”. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2012.
Fahmy Zarkasyi, Hamid. Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan bersama
Missionaris, Orientalis, dan Kolinialis). Ponorogo: CIOS-ISID-
Gontor, 2010.
______________________. Misykat (Refleksi Tentang Westernisasi,
Liberalisasi, dan Islam. Jakarta: INSISTS-MIUMI, 2012.
Geiger, Abraham. Judaism and Islam. New York : Pusblishing House,
1989.
______________. Judaism and Islam; A Prize Essay trans by A Member of
the Ladies League in Aid of the Delhi Mission. Madras:
M.D.C.S.P.C.K Press, 1898.
______________. The Origins of the Koran. New York: Prometheus
Books, 1998.
______________. Was hat Mohammed Aus Dem Judenthume
aufgenommen?. Bonn: F. Baaden, 1833.
Husaini, Adian. Wajah Peradaban Barat (Dari Hegemoni Kristen ke
Dominasi Sekular-Liberal). Jakarta: Gema Insani, 2005.
Haryoni, Yudhi R dkk. Al-Qur’an Buku yang Menyesatkan dan Buku yang
Mencerahkan. Bekasi: Gugus Press, 2002.
Ichwan, Moh. Nur. “Al-Qur’an Sebagai Teks” (Teori Teks dalam
Hermeneutika al-Qur’an Nashr Hamid Abu Zaid” dalam
Studi al-Qur’an Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana,
2002.
Lestari, Lenni. “Abraham Geiger dan Kajian Al-Qur’an Telaah
Metodologi atas Buku Judaism and Islam Abraham Geiger
and the Study of the Qur'an Analyzing the Methodology of
the ‘Judaism and Islam”. UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta,
dalam Jurnal Suhuf, Vol. 7 No 1 Juni 2014.
Muhammad Naquib Al-Attas, Syed. Islam And Secularism. Kuala
Lumpur: International Institute Of Islamic Thought And
Civilization-ISTAC, 1993.
Al-Manar, Vol 7, No. 1, 2021 59
Pengaruh Bahasa Ibrani …
Mohd Nor Wan Daud, Wan. Dalam esai “Islam dan Tantangan
Kebudayaan Barat” dimuat dalam majalah Dewan Budaya, edisi
Oktober dan November 1993 di Kuala Lumpur.
Nanji, Azim (ed). Peta Studi Islam: Orientalisme dan Arah Baru Kajian
Islam di Barat. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003.
Syamsuddin, Sahiron. “Pendekatan Orientalis dalam Studi Al-Qur’an”
dalam Islam, Agama-agama dan Nilai Kemanusiaan:
Festschrift untuk M. Amin Abdullah, Ed. Moch Nur Ichwan
dan Ahmad Muttaqin. Yogyakarta: CISForm, 2013.
Subhan Assuyuthi, Saifus. Abraham Geiger: Antara Wissenschaft des
Judentum dan Kajian Al-Qur’an dalam buku “Kajian Orientalis
Terhadap Al-Qur’an dan Hadis”. Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah, 2012.
Sara E. Karesh & Mitchell M. Hurvitz. Encyclopedia of Judais. New
York: Facts On File, Inc, 2006.
60 Al-Manar, Vol 7, No. 2, 2021