0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
52 tayangan30 halaman

Teori dan Faktor Perilaku Konsumen

Diunggah oleh

Aisah Tuanaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
52 tayangan30 halaman

Teori dan Faktor Perilaku Konsumen

Diunggah oleh

Aisah Tuanaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

13

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Teori Perilaku Konsumen

a. Konsep Teori

Konsumen memiliki keragaman yang menarik untuk dipelajari

karena ia meliputi seluruh individu dari berbagai usia, latar belakang

budaya, pendidikan, dan keadaan sosial ekonomi lainnya. Oleh karena itu,

sangatlah penting untuk mempelajari bagaimana konsumen berperilaku

dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku tersebut. Kotler

dan Keller (2008) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai berikut:

“Perilaku konsumen adalah studi bagaimana individu, kelompok dan

organisasi memilih, membeli, menggunakan dan menempatkan barang,

jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan

mereka.13” Dharmmesta dan Handoko (2000) mendefinisikan perilaku

konsumen sebagai berikut: “Perilaku konsumen dapat didefinisikan

sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam

mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk

di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan

penentuan kegiatankegiatan tertentu14”. Schiffman dan Kanuk (2008)

mendefinisikan perilaku konsumen sebagai berikut: “Perilaku konsumen

menggambarkan cara individu mengambil keputusan untuk

13
Philip & Keller Kotler, „Manajemen Pemasaran‟, Jakarta: Erlangga, 2008, Edisi
[Link] 1.
14
Basu Swastha dan Hani Handoko Dharmmesta, „Manajemen Pemasaran : Analisa
Perilaku Konsumen‟, Yogyakarta : Liberty., 2000.
14

memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu, uang, usaha)

guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi”.15

Dari ketiga pengertian tentang perilaku konsumen di atas dapat

diperoleh dua hal yang penting, yaitu: 1) sebagai kegiatan fisik dan 2)

sebagai proses pengambilan keputusan. Berdasarkan beberapa definisi

yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku

konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang

mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika

membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah

melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi. Mempelajari atau

menganalisis perilaku konsumen merupakan sesuatu yang sangat

kompleks, terutama karena banyaknya variabel yang mempengaruhinya

dan kecenderungannya untuk saling berinteraksi. Oleh sebab itu untuk

mempermudah, digunakan model perilaku konsumen.16

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh keadaan dan situasi

lapisan masyarakat dimana ia dilahirkan dan berkembang. Ini berarti

konsumen berasal dari lapisan masyarakat atau lingkungan yang berbeda

akan mempunyai penilaian, kebutuhan, pendapat, sikap, dan selera yang

berbeda-beda, sehingga pengambilan keputusan dalam tahap pembelian

akan dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor. Faktor-faktor yang

15
Schiffman dan Kanuk, „Perilaku Konsumen‟, Jakarta, 2008, Edisi 7.
16
Aristanto, „Perilaku Konsumen, Definisi Perilaku Konsumen‟, 2008, 7–31.
15

mempengaruhi perilaku konsumen menurut Kotler dan Keller (2008)

terdiri dari:17

1. Faktor Kebudayaan

Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap perilaku

konsumen. Faktor kebudayaan terdiri dari:

a. Budaya

Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling

mendasar. Anak-anak mendapatkan kumpulan nilai, persepsi,

preferensi, dan perilaku dari keluarganya serta lembaga-lembaga

penting lain.

b. Sub-budaya

Masing-masing budaya terdiri dari sub-budaya yang lebih kecil

yang memberikan lebih banyak ciri-ciri dan sosialisasi khusus bagi

anggota-anggotanya. Sub-budaya terdiri dari kebangsaan, agama,

kelompok ras, dan daerah geografis.

c. Kelas sosial.

Pada dasarnya masyarakat memiliki strata sosial. Stratifikasi

tersebut kadang-kadang berbentuk sistem kasta di mana anggota

kasta yang berbeda dibesarkan dengan peran tertentu dan tidak

dapat mengubah keanggotaan kasta mereka/stratifikasi lebih sering

ditemukan dalam bentuk kelas sosial.

17
(Kotler, 2008)
16

2. Faktor Sosial

Selain faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh

faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga serta status

sosial.18

a. Kelompok acuan

Kelompok acuan seseorang terdiri dari semua kelompok yang

memiliki pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung

terhadap sikap atau perilaku seseorang. Kelompok yang memiliki

pengaruh langsung terhadap seseorang dinamakan kelompok

keanggotaan. Beberapa kelompok keanggotaan adalah kelompok

primer, seperti keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja, yang

berinteraksi dengan seseorang serta terus menerus dan informal.

Orang juga menjadi anggota kelompok sekunder, seperti kelompok

keagamaan, professional, dan asosiasi perdagangan, yang

cenderung lebih formal dan membutuhkan interaksi yang tidak

begitu rutin.

b. Keluarga

Keluarga (family) adalah kelompok yang terdiri dari dua atau lebih

orang yang berhubungan melalui darah, perkawinan, atau adopsi

dan tinggal bersama. Keluarga inti (nuclear family) adalah

kelompok langsung yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang

tinggal bersama. Keluarga besar (extended family) mencakupi

18
(Kotler, 2008)
17

keluarga inti, ditambah kerabat lain, seperti kakek dan nenek,

paman dan bibi, sepupu, dan kerabat karena perkawinan. Keluarga

dimana seseorang dilahirkan disebut keluarga orientasi (family of

orientation), sementara keluarga yang ditegakkan melalui

perkawinan adalah keluarga prokreasi (family of procreation).

Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling

penting dalam masyarakat, dan ia telah menjadi obyek penelitian

yang luas. Anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer

yang paling berpengaruh. Kita dapat membedakan antara dua

keluarga dalam kehidupan pembeli. Keluarga orientasi terdiri dari

orang tua dan saudara kandung seseorang. Dari orang tua,

seseorang mendapatkan orientasi atas agama, politik, dan ekonomi

serta ambisi pribadi, harga diri dan cinta. Bahkan jika pembeli

tidak lagi berinteraksi secara mendalam dengan keluarganya,

pengaruh keluarga terhadap perilaku pembeli dapat tetap

signifikan. Pengaruh yang lebih langsung terhadap perilaku

pembelian sehari-hari adalah keluarga prokreasi- yaitu, pasangan

(suami atau istri) dan anak-anak.

c. Status sosial

Seseorang berpartisipasi ke dalam banyak kelompok sepanjang

hidupnya seperti keluarga, klub, organisasi. Kedudukan orang itu

di masing-masing kelompok dapat ditentukan berdasarkan peran

dan status. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan


18

dilakukan oleh seseorang. Masing-masing peran menghasilkan

status. Dengan status yang dimilikinya di masyarakat, dapat

dipastikan ia akan mempengaruhi pola atau sikap orang lain dalam

hal berperilaku terutama dalah hal perilaku pembelian.19

3. Faktor Pribadi

a. Usia dan Tahap Siklus Hidup

Orang membeli suatu barang dan jasa yang berubah-ubah selama

hidupnya. Mereka makan makanan bayi pada waktu tahuntahun

awal kehidupannya, memerlukan makanan paling banyak pada

waktu meningkat besar dan menjadi dewasa, dan memerlukan diet

khusus pada waktu menginjak usia lanjut. Selera orang pun dalam

pakaian, perabot dan rekreasi berhubungan dengan usianya.

b. Pekerjaan dan lingkungan

ekonomi Pola konsumsi seseorang juga dipengaruhi oleh

pekerjaannya. Seorang pekerja kasar akan membeli pakaian kerja,

sepatu kerja, kotak makanan, dan rekreasi permainan bowling.

Seorang presiden perusahaan akan membeli pakaian wool yang

mahal, bepergian dengan pesawat terbang, menjadi anggota

perkumpulan, dan membeli kapal layar yang besar.

c. Gaya Hidup

Gaya hidup seseorang adalah pola hidup seseorang dalam dunia

kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan

19
Nita.
19

pendapat (opini) yang bersangkutan. Gaya hidup melukiskan

“keseluruhan pribadi” yang berinteraksi dengan lingkungannya.

Gaya hidup mencerminkan sesuatu yang lebih dari kelas sosial di

satu pihak dan kepribadian di pihak lain.

d. Kepribadian dan Konsep Diri

Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda yang akan

mempengaruhi perilaku membeli. Kepribadian adalah ciri-ciri

psikologis yang membedakan seseorang, yang menyebabkan

terjadinya jawaban yang secara relatif tetap dan bertahan lama

terhadap lingkungannya. Sedangkan konsep diri (atau citra diri)

dibagi dua yaitu konsep diri ideal (bagaimana dia ingin

memandang dirinya sendiri) dan konsep diri menurut orang lain

(bagaimana pendapatnya tentang orang lain memandang dia).

4. Faktor Psikologis

Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor

psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, serta

keyakinan dan pendirian.20

a. Motivasi

Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong

keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu

guna mencapai suatu tujuan. Akan tetapi secara definitif dapat

dikatakan bahwa motivasi adalah suatu dorongan kebutuhan dan

20
Kotler, P., & Keller.
20

keinginan individu diarahkan pada tujuan untuk memperoleh

kepuasan.

b. Persepsi Seseorang termotivasi siap untuk bertindak.

Bagaimana seseorang yang termotivasi bertindak akan dipengaruhi

oleh persepsinya terhadap situasi tertentu. Persepsi adalah proses

yang digunakan oleh seorang individu untuk memilih,

mengorganisasi, dan mengintepretasi masukan-masukan informasi

guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Persepsi

tidak hanya tergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada

rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan

keadaan individu yang bersangkutan.

c. Pembelajaran

Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan-perubahan perilaku

yang terjadi sebagai hasil dari akibat adanya pengalaman.

Perubahan-perubahan perilaku tersebut bersifat tetap (permanen)

dan bersifat lebih fleksibel. Hasil belajar ini akan memberikan

tanggapan tertentu yang cocok dengan rangsangan-rangsangan dan

yang mempunyai tujuan tertentu.

d. Keyakinan dan Sikap

Melalui bertindak dan belajar, orang mendapat keyakinan dan

sikap. Keduanya kemudian mempengaruhi pembelian mereka.

Keyakinan adalah gambaran pemikiran yang dianut seseorang

tentang suatu hal. Keyakinan mungkin berdasarkan pengetahuan,


21

pendapat, atau kepercayaan. Kesemuanya itu mungkin atau tidak

mungkin mengandung faktor emosional. Sikap adalah evaluasi,

perasaan emosional, dan kecenderungan tindakan yang

menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama dari

seseorang terhadap suatu obyek atau gagasan.21

c. Tahap-Tahap dalam Proses Keputusan Pembelian

Perilaku konsumen akan menentukan proses pengambilan

keputusan dalam pembelian mereka. Proses pengambilan keputusan

tersebut merupakan sebuah pendekatan penyelesaian masalah yang

terdiri atas lima tahap yaitu sebagai berikut: (Kotler dan Keller, 2008)

yang pertama Pengenalan Masalah Proses pembelian dimulai saat

pembeli mengenal sebuah masalah atau kebutuhan. Kebutuhan tersebut

dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Kedua

Pencarian Informasi Konsumen yang tergugah kebutuhannya akan

terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak mengenai produk

atau jasa yang ia butuhkan. Pencarian informasi dapat bersifat aktif

maupun pasif. Informasi yang bersifat aktif dapat berupa kunjungan

terhadap beberapa toko untuk membuat perbandingan harga dan kualitas

produk, sedangkan pencarian informasi pasif, dengan membaca suatu

pengiklanan di majalah atau surat kabar tanpa mempunyai tujuan khusus

dalam perkiraanya tentang gambaran produk yang diinginkan. Ketiga

Evaluasi Alternatif Terdapat beberapa proses evaluasi keputusan

21
Nita.
22

konsumen, dan model model yang terbaru memandang proses evaluasi

konsumen sebagai proses yang berorientasi kognitif. Yaitu, model

tersebut menganggap konsumen membentuk penilaian atas produk

terutama secara sadar dan rasional. Keempat Keputusan Pembelian

Keputusan untuk membeli disini merupakan proses pembelian yang

nyata. Jadi, setelah tahap-tahap dimuka dilakukan maka konsumen harus

mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Bila konsumen

memutuskan untuk membeli, konsumen akan menjumpai serangkaian

keputusan yang harus diambil menyangkut jenis produk, merek, penjual,

kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayarannya. Kelima Perilaku

Pasca pembelian Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami

level kepuasan atau ketidakpuasan. Tugas pemasar tidak berakhir saat

produk dibeli, melainkan berlanjut hingga periode pasca pembelian.

Pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca

pembelian, dan pemakaian produk pasca pembelian.22

d. Empat Jenis Pengambilan Keputusan Beli :

1. Keputusan Pembelian Yang Rumit (Complex Decision Making)

Perilaku pembelian yang rumit terdiri dari proses tiga langkah. Pertama,

pembeli mengembangkan keyakinan tentang produk tersebut. Kedua,

pembeli membangun sikap tentang produk tersebut. Ketiga, pembeli

membuat pilihan pembelian yang cermat. Konsumen terlibat dalam

perilaku pembelian yang rumit bila mereka sangat terlibat dalam

22
(Kotler, 2008)
23

pembelian dan sadar akan adanya perbedaan-perbedaan besar di antara

merek. Perilaku pembelian yang rumit itu sering terjadi bila produknya

mahal, jarang dibeli, berisiko dan sangat mengekspresikan diri.

Konsumen pada tipe ini, urutan hirarki pengaruhnya adalah: kepercayaan,

evaluasi, dan perilaku. Konsumen yang melakukan pembeliannya dengan

pembuatan keputusan (timbul kebutuhan, mencari informasi dan

mengevaluasi merek serta memutuskan pembelian), dan dalam

pembeliannya memerlukan keterlibatan tinggi. Dua interaksi ini

menghasilkan tipe perilaku pembelian yang kompleks (Complex Decision

Making). Para konsumen makin terlibat dalam kegiatan membeli bila

produk yang akan dibeli itu mahal, jarang dibeli, beresiko, dan amat

berkesan. Biasanya konsumen tidak hanya mengetahui tentang

penggolongan produk dan tidak banyak belajar tentang produk. Sebagai

contoh, seseorang membeli komputer pribadi walau mungkin tidak

mengetahui sama sekali ciri-ciri yang harus dicari.

2. Perilaku Pembelian Pengurang Ketidaknyamanan (Brand

Loyalty) Kadang-kadang konsumen sangat terlibat dalam sebuah

pembelian namun melihat sedikit perbedaan di antara berbagai merek.

Keterlibatan yang tinggi didasari oleh fakta bahwa pembelian tersebut

mahal, jarang dilakukan dan berisiko. Dalam kasus ini, pembeli akan

berkeliling untuk mempelajari apa yang tersedia namun akan membeli

dengan cukup cepat, barangkali pembeli sangat peka terhadap harga atau

terhadap qkenyamanan berbelanja. Konsumen pada tipe ini, urutan hirarki


24

pengaruhnya adalah: perilaku. Perilaku konsumen tipe ini adalah

melakukan pembelian terhadap satu merek tertentu secara berulang-ulang

dan konsumen mempunyai keterlibatan yang tinggi dalam proses

pembeliannya. Perilaku pembelian seperti ini menghasilkan tipe perilaku

konsumen yang loyal terhadap merek (Brand Loyalty). Sebagai contoh,

seseorang yang berbelanja untuk membeli permadani (Karpet). Pembelian

permadani merupakan suatu keputusan keterlibatan karena harganya

mahal dan berkaitan dengan identifikasi diri, namun pembeli

kemungkinan besar berpendapat bahwa permadani dengan harga yang

hampir sama, memiliki kualitas yang sama.

3. Perilaku Pembelian Yang mencari Variasi (Limited Decision

Making) Banyak produk dibeli dengan kondisi rendahnya keterlibatan

konsumen dan tidak adanya perbedaan merek yang signifikan. Mereka

pergi ke toko dan mengambil merek tertentu. Jika mereka tetap

mengambil merek yang sama, hal itu karena kebiasaan, bukan karena

kesetiaan terhadap merek yang kuat. Terdapat bukti yang cukup bahwa

konsumen memiliki keterlibatan yang rendah dalam pembelian sebagian

besar produk yang murah dan sering dibeli. Konsumen pada tipe ini,

hirarki pengaruhnya adalah kepercayaan, perilaku dan evaluasi. Tipe ini

adalah perilaku konsumen yang melakukan pembeliannya dengan

pembuatan keputusan, dan pada proses pembeliannya konsumen merasa

kurang terlibat. Perilaku pembelian seperti ini menghasilkan tipe perilaku

konsumen limited decision making. Konsumen dalam tipe ini akan


25

mencari suatu toko yang menawarkan produk berharga murah, jumlahnya

banyak, kupon, contoh cuma-cuma, dan mengiklankan ciri-ciri suatu

produk sebagai dasar atau alasan bagi konsumen untuk mencoba sesuatu

yang baru.

4. Perilaku Pembelian Karena Kebiasaan (Inertia) Beberapa situasi

pembelian ditandai oleh keterlibatan konsumen yang rendah namun

perbedaan merek yang signifikan. Dalam situasi itu, konsumen sering

melakukan peralihan merek. Konsumen pada tipe ini, urutan hirarki

pengaruhnya adalah: kepercayaan kemudian perilaku. Konsumen ini tidak

melakukan evaluasi sehingga dalam melakukan pembelian suatu merek

produk hanya berdasarkan kebiasaan dan pada saat pembelian konsumen

ini kurang terlibat. Perilaku seperti ini menghasilkan perilaku konsumen

tipe inertia. Sebagai contoh, pembelian garam. Para konsumen sedikit

sekali terlibat dalam membeli jenis produk tersebut. Mereka pergi ke

toko dan langsung memilih satu merek. Bila mereka mengambil merek

yang sama, katakanlah, garam Morton, hal ini karena kebiasaan, bukan

karena loyalitas merek. Tetapi cukup bukti bahwa para konsumen tidak

terlibat dalam pembuatan keputusan yang mendalam bila membeli

sesuatu yang harganya murah, atau produk yang sudah sering mereka

beli.

B. Minat Beli

Menurut Roby dan Andjarwati Minat Beli adalah keinginan

konsumen untuk melakukan tindakan pembelian baik di masa sekarang


26

maupun di masa yang akan datang berdasarkan rasa suka dan rasa

ketertarikan pada suatu hal.23 Keputusan untuk membeli dipengaruhi oleh

nilai produk yang dievaluasi. Dwiyanti mengatakan Bila manfaat yang

dirasakan lebih besar dibanding pengorbanan untuk mendapatkannya,

maka dorongan untuk membeli akan semakin tinggi.24

Setiadi menyatakan bahwa keputusan untuk membeli yang

dilakukan oleh konsumen mengalami suatu proses. Proses tersebut terdiri

dari lima tahap yaitu ;

a) Pengenalan masalah. Proses membeli diawali saat pembeli menyadari

adanya masalah kebutuhan.

b) Pencarian informasi. Seseorang konsumen yang mulai timbul minatnya

akan terdorong untuk mencari informasi lebih banyak.

c) Evaluasi alternatif. Bagaimana konsumen memproses informasi tentang

pilihan merek untuk membuat keputusan akhir.

d) Keputusan membeli. Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk

preferensi terhadap merekmerek yang terdapat pada perangkat

[Link] mungkin juga membentuk tujuan membeli untuk

merek yang paling disukai.

23
Mahbub Alfa Roby and Anik Lestari Andjarwati, „Pengaruh Green Product Pada
Minyak Goreng Ecoplanet Terhadap Minat Beli Konsumen‟, Jurnal Ilmu Manajemen, 2.4 (2014),
1309–18 <[Link]
24
Nita.
27

e) Perilaku sesudah pembelian. Sesudah pembelian terhadap suatu produk

yang dilakukan oleh konsumen akan mengalami beberapa tingkat

kepuasan atau ketidakpuasan.25

1. Aspek minat beli

menurut Putri aspek yang terdapat dalam minat beli antara lain:26

a). Ketertarikan (interest), menunjukkan adanya perhatian dan perasaan

suka terhadap produk.

b). Keinginan (desire), ditunjukan dengan adanya dorongan untuk

memiliki.

c). Keyakinan (conviction), ditunjukkan dengan adanya perasaan percaya

diri seseorang atas atribut produk, baik dari kualitas, daya guna,

maupun keuntungan dari produk tersebut.

Kotler dan Keller menyebutkan Minat beli konsumen adalah seberapa

besar kemungkinan konsumen membeli suatu merek atau seberapa

besar kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke

merek lain. Bila manfaat yang dirasakan lebih besar dibandingkan

pengorbanan untuk mendapatkannya, maka dorongan untuk

membelinya semakin tinggi. Perilaku konsumen biasanya diawali dan

dipengaruhi oleh banyaknya rangsangan (stimuli) dari luar dirinya,

baik berupa rangsangan pemasaran maupun rangsangan dari

lingkungannya. Karakteristik pribadi konsumen yang dipergunakan

25
J. Nugroho (2003). Setiadi, „Perilaku Konsumen: Konsep Dan Implikasi Untuk Strategi
Dan Penelitian Pemasaran. Jakarta: Prenada Media.‟, 2003.
26
Nita.
28

untuk memproses rangsangan tersebut sangat komplek dan salah

satunya adalah motivasi untuk membeli.

2. Unsur Minat beli

Menurut Evans secara klasik pembelian konsumen terbentuk dari

beberapa unsur yaitu:27

a) Kesadaran, konsumen sadar akan kebutuhan akan suatu produk

sehingga berniat untuk mencari informasi .

b) Pertimbangan, konsumen mempertimbangkan dari sekian banyak

alternatif untuk dijadikan pilihan.

c) Pembelian, proses yang mengarah dari kesadaran melalui pertimbangan

untuk membeli produk berdasarkan alternatif pilihan.

Adapun indikator-indikator minat beli masyarakat untuk berbelanja

yang menurut Ferdinand (2002) dalam Tampubolon (2021), minat beli

dapat diidentifikasi melalui indikator-indikator sebagai berikut:28

1) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli

produk.

2) Minat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan

produk kepada orang lain.

3) Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku

seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut.

27
Nita.
28
Nobel Kristian Tripandoyo Tampubolon, Analisis Hubungan Green Product
Knowledge, Green Awareness Dan Green Lifestyle Dengan Minat Beli Produk Ramah
Lingkungan, 2021.
29

Preferensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk

preferensinya.

4) Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang

selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan

mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk

tersebut

Menurut durianto.,dkk Minat beli konsumen pada dasarnya

merupakan faktor pendorong dalam pengambilaan keputusan pembelian

terhadap suatu produk. minat beli merupakan sesuatu yang

berhubungan dengan rencana konsumen untuk membeli produk

tertentu, serta berapa banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode

tertentu. Minat beli merupakan pernyataan mental konsumen yang

merefleksikan rencana pembelian suatu produk dengan merek terntentu

pengetahuan tentang niat beli konsumen terhadap produk perlu

diketahui oleh para pemasar untuk mendeskripsikan perilaku konsumen

pada masa yang akan datang. Minat beli terbentuk dari sikap konsumen

terhadap suatu produk hal tersebut berasal dari keyakinan konsumen

terhadap kualitas produk.29

Kotler dan Kevin menyebutkan Semakin rendah keyakinan

konsumen terhadap suatu produk akan menyebabkan menurunkan

minat beli konsumen. Minat digambarkan sebagai situasi dimana

konsumen belum melakukan suatu tindakan, yang dapat dijadikan dasar


29
Nico Rifanto Halim and Donant Alananto Iskandar, „Pengaruh Kualitas Produk, Harga
Dan Strategi Promosi Terhadap Minat Beli‟, Jurnal Ilmu Dan Riset …, 4.3 (2019), 415–24
<[Link]
30

untuk memprediksi perilakuk atau tindakan tersebut. Minat merupakan

perilaku yang muncul sebagai respon terhadap suatu objek yang

menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian

Bedasarkan beberapa definisi diatas dapat dinyatakan minat beli adalah

prilaku yang muncul pada konsumen yang terdiri dari keyakinan

konsumen terhadap kualitas produk dan harga yang ditawarkan pelaku

bisnis kepada konsumen.

Adapun Dalam islam, sesuatu yang hendak dipenuhi

kebutuhannya itu didapatkan secara halal dan tidak bertentangan

dengan hukum islam. Karena itu produk yang dikonsumsi tidak boleh

menimbulkan kezaliman, berada dalam koridor aturan hukum islam,

serta menjunjung tinggi kepantasan atau kabaikan. Sebagaimana Allah

SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 29:

َ ‫َِل ا َ ْن ت َ ُك ْىنَ تِ َج‬


‫ارة‬ ِ َ‫ٰيٰٓاَيُّ َها الَّ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْىا ََل ت َأ ْ ُكلُ ْٰٓىا ا َ ْم َىالَ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم بِ ْالب‬
ٰٓ َّ ‫اط ِل ا‬

‫ّٰللاَ َكانَ بِ ُك ْم َر ِحيْما‬ َ ُ‫اض ِ ّم ْن ُك ْم ۗ َو ََل ت َ ْقتُلُ ْٰٓىا ا َ ْنف‬


‫س ُك ْم ۗ ا َِّن ه‬ ٍ ‫َع ْن ت ََز‬

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu

saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar),

kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di

antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah

Maha Penyayang kepadamu.”

Dalam pandangan islam manusia sebenarnya tidak dilarang untuk

memenuhi kebutuhan ataupun keinginannya sehingga terpenuhi secara

seimbang. Selama dengan pemenuhan tersebut martabat manusia bisa


31

meningkat atau mendatangkan mashlahah. Oleh karena itu islam

mengatur manusia dalam memenuhi kebutuhan maupun keinginan

secara sederhana atau tidak berlebihan. Sebagaimana terdapat dalam

sebuah hadis yang tercatat dalam Kitab al-Kafi dan Tafsir al- „Ayyasyi

serta diriwayatkan dari Imam Ja‟far Shadiq as, yang mengatakan

kepada seorang laki-laki, “Takutlah kepada Allah dan janganlah

bersikap berlebih-lebihan ataupun (membuat hidup) sempit (bagi

dirimu sendiri) dan bergeraklah diantara keduanya; sesungguhnya

menghambur-hamburkan harta termasuk tindakan yang berlebih-

lebihan karena Allah telah berfirman,...dan janganlah kamu

menghambur-hamburkan hartamu secara boros.”

Di zaman sekarang lebih menekankan dalam memenuhi keinginan

material ketimbang kebutuhan yang lain sehingga pola konsumsi ini

merupakan mashlahah pada perilaku konsumen syariah yang harus

mencapai kesejahteraannya. Perilaku konsumsi islami ini didasari

karna rasionalitas serta keyakinan terhadap kebenaran rasionalitas

manusia hal tersebut berasalkan tuntutan Al Quran dan Hadist.

Munculnya kesenjangan diberbagai permasalahan sosioekonomi

disebabkan karena kurangnya keseimbangan yang lebih mendukung

individualisme serta self interest. Tujuan dalam aktifitas ekonomi islam

merupakan memenuhi kebutuhan tetapi bukan memenuhi keinginan hal

tersebut menjadi kewajiban umat beragama.


32

Imam Al-Ghazali sudah membedakan antara kebutuhan (hajat)

ataupun keinginan (syahwat). Hal tersebut menekankan bahwa

pentingnya keinginan dalam mengkonsumsi yang tidak terlepas dari

makna maupun steril. Oleh sebab itu konsumsi dilakukan karena

beribadah kepada Allah. Pemikiran tersebut berbeda dengan konsumsi

konvensional yang mementingkan keinginan, nafsu, harga barang,

pendapatan dan lain sebagainya. Sehingga kebutuhan merupakan

kemauan individu dalam mencapai sesuatu yang diinginkan untuk

mempertahankan hidup serta menerapkan fungsinya.

Dalam menerapkan minat beli konsumen itu tidak mudah,

sehingga para penjual harus memiliki kreatifitas dalam membangkitkan

minat beli konsumen serta menjadikannya pelanggan. Adapun cara

yang dilakukan bisa dengan mempercantik kemasan dan

mempromosikan dengan menarik sehingga calon konsumen dapat

tertarik dan mencari informasi tentang produk yang dipromosikan.

Menurut Mardiastika terdapat beberapa factor yang

mempengaruhi minat beli konsumen, antara lain:30

1. Perhatian (Attention) adanya perhatian yang besar dari konsumen

terhadap suatu produk (barang atau jasa).

2. Ketertarikan (Interest) menunjukan adanya pemusatan perhatian

dan perasaan senang.

3. Keinginan (Desire) adanya dorongan untuk memiliki.

30
Halim and Iskandar.
33

4. Keyakinan (Conviction) adanya perasaan percaya individu

terhadap kualitas, daya guna dan keuntungan dari produk yang

akan dibeli.

C. Generasi Z

Teori generasi bermula dari Amerika. Kategori dalam teori

generasi ditentukan oleh beberapa indikator, diantaranya berdasarkan

kemajuan tekhnologi, tenaga kerja, peristiwa penting di dunia seperti

tragedi dan perang serta perkembangan budaya dan sosial

[Link] Y atau milenial bagi mereka yang lahir pada 1980-

1994 dan generasi Z bagi mereka yang lahir pada 1990-2010 Generasi

Z adalah mereka yang terlahir setelah Gen X. Menurut White,

Generasi Z memiliki beberapa karakteristik, diantaranya:31

a). Generasi Z adalah generasi yang mandiri. Mereka terlahir pada

masa resesi besar di Amerika. Mereka bertumbuh pasca peristiwa

9/11 yang menggoncangkan dunia. Hal-hal buruk yang terjadi di

negara mereka masa kini. Itu membuat mereka berusaha secara

mandiri untuk mempersiapkan masa depan dengan sebaik-baiknya,

melalui beragam pekerjaan yang mereka jalanin Kemandirian

mereka juga tergambar dalam pilihan kerja para generasi Z yang

cenderung lebih memilih untuk menciptakan lapangan kerja

mereka sendiri ketimbang menjadi pekerja.

31
Adhika Tri Subowo, „Membangun Spiritualitas Digital Bagi Generasi Z‟, DUNAMIS:
Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 5.2 (2021), 379–95
<[Link]
34

b) Karakteristik yang kedua adalah Gen Z menjadi aktif melalui WiFi.

Generasi Y sering disebut sebagai “digital natives,”adapun

generasi Z kerap kali disebut generasi “internet dalam saku.” Pada

tahun 1960 komputer masih menjadi barang yang langka. Hanya

kelangan tertentu yang memilikinya, misalnya tentara, pemerintah

dan organisasi yang sangat besar. Namun pada tahun 1970

organisasi-organisasi kecil mulai memiliki komputer. Kemudian

pada tahun 1980 komputer sudah mulai dimiliki oleh lebih banyak

kalangan. Hingga pada tahun 1990 komputer menjadi populer di

kalangan masyarakat umum. Harga komputer lambat laun semakin

terjangkau, sehingga komputer mulai masuk ke rumah-rumah. Dan

pada tahun 2000 tidak hanya komputer, melainkan akses internet

sudah mulai banyak digunakan di negara-negara maju. Generasi Z

lahir di era di mana komputer sudah banyak dipakai oleh orang.

Bahkan akses internet menjadi kebutuhan banyak kalangan.

Generasi Z tumbuh ditengah kemajuan teknologi digital yang

semakin pesat. Mereka menghabiskan banyak waktu dengan

komputer dan akses internet. Banyak informasi yang mereka

dapatkan melalui internet.

c) Karakteristik yang ketiga adalah bahwa terdapat jurang yang

melebar antara hikmat dan informasi. Chuck Kelley, pimpinan dari

Seminari Teologi Baptis di New Orleans menyebutkan bahwa

“Google telah mengubah relasi orang menjadi informasi.” Gaya


35

komunikasi generasi Z tidak lagi konvensional, melainkan sangat

cair. Dalam hal penggunaan media sosial, generasi Z berbeda

dengan generasi sebelumnya yang sering upload hal-hal yang

bersifat pribadi. Generasi Z lebih bisa memilah konten mana yang

menurut mereka perlu di pos tatau tidak. Generasi ini

menggunakan media sosial untuk menyenangkan mereka yang

melihat, sehingga sebisa mungkin meminimalisir konflik.

Celakanya ditengah era post-truth ini, informasi yang keliru justru

lebih menarik perhatian. Apa yang salah justru ditangkap sebagai

kebenaran. Kondisi yang demikian sudah barang tentu membawa

pengaruh yang signifikan kepada penerimaan informasi generas z.

d) Karakteristik keempat adalah generasi ini tidak berbentuk dalam hal

seksual serta relasional. Kristen Stewart menyebut bahwa generasi

Z tidak terlalu dipusingkan dengan kecenderungan seksualitas

seseorang, apakah mereka hetereroseksual atau gay, itu tidak

penting bagi mereka. Bahkan penelitian di Inggris menjabarkan

bahwa hampir separuh orang muda berpikir bahwa mereka tidak

heteroseksual murni .Hal ini terjadi karena nilai terbesar yang

mereka pegang adalah kebebasan individu.

Generasi Z merupakan kelompok yang lahir dari tahun 1996 –

2010, dan hadir setelah Baby Boomers, generasi X dan generasi Y.

Generasi ini disebut juga net Generation, karenapada angkatan ini

perkembangan internet sangatpesat sehingga bukan hal baru dalam


36

menggunakan internet dalam kehidupan sehari –hari. Mudahnya

mereka dalam menerima informasi melalui media sosial dan

sebagian besar menyukai sesuatu yang secara detail, maka

dibutuhkan suatu informasi yang secara rinci dan up to date untuk

menumbuhkan rasa kepercayaan generasi Z terhadap barang dan

jasa yang ditawarkan.

D. Pasar Tradisional Di Kota Ambon

Pasar tradisonal merupakan tempat bertemunya penjual dan

pembeli serta ditandai dengan adanya transasi secara langsung dan

biasanya ada proses tawar menawar. Bangunan pasar biasanya terdiri atas

kioskios atau gerai, akses lebih luas bagi para produsen dan dasaran

terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.

Kebanyakan pasar tradisional menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan

makanan, ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, barang-barang

elektronik, dan jasa, serta menjual kue-kue. Pedangan diartikan sebagai

orang yang melakukan perdagangan, memperjual belikan barang yang

tidak diproduksi sendiri, untuk memperoleh suatu keuntungan dan

kenyamanan sehingga disebut dengan pedagang.32

Jalan Pantai Mardika yang merupakan salah satu pasar tradisional

di kota ambon, ruas jalan yang padat di lalui banyak jenis kendaraan. Pada

ruas jalan ini terdapat pasar yang tingkat aktivitas kegiatannya sangat

berpengaruh pada kelancaran transportasi jalan tersebut, yaitu Pasar

32
Hermanto Malano, Selamatkan Pasar Tradisional Jakarta (Jakarta, 2011).
37

Tradisional Mardika. Pasar ini cukup padat dengan pedagang kaki lima

yang menggunakan pinggir ruas jalan, parkir kendaraan dan angkutan

umum yang menurunkan penumpang di sepanjang jalan.

Pasar Mardika ini sudah sejak dulu menjadi bagian penting

aktifitas ekonomi Kota Ambon dan memberikan ruang bagi segenap

warga Ambon untuk melakukan perdagangan. Pasar Mardika adalah

salah satu pasar yang cukup tua di Kota Ambon, Pasar Mardika adalah

tempat terlengkap bagi warga Ambon dan sekitarnya untuk melalukan

proses transaksi antara penjual dan pembeli. Pasar mardika juga

disebut sebagai salah satu pasar tradisional yang ada di Maluku dan

juga sebagai pasar favorit bagi orang Maluku pada umumnya dan

warga masyarakat Kota Ambon Pada Khusunya. Walaupun pasar

Mardika adalah pasar yang cukup tua di Kota Ambon, namun

Wilayah Pasar Mardika adalah tempat terlengkap bagi warga Ambon

untuk membeli berbagai kebutuhan sehari-hari mulai dari bahan

makanan hingga penunjang hidup seperti perkakas, pakaian, bahkan

jasa perbankan justru menjadi kelebihan yang dimiliki tempat ini ditengah

serbuan berbagai pusat perbelanjaan modern yang menjamur hampir di

banyak kota besar indonesia.33

33
Moh Daud Marasabessy and Idris Rumodar, „Implementasi Kebijakan Pemerintah
Dalam Pengelolaan Sampah Terhadap Dampak Kehidupan Sosial Masyarakat Kota Ambon ( Studi
Kasus Pasar Mardika )‟, JBESTERKUNDE : Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 1.2 (2022), 16–24
<[Link]
38

E. Pasar Modern di Kota Ambon

Perkembangan pasar modern yang sangat pesat, membuat adanya

persaingan yang serius antara pasar modern dan pasar tradisional. Mall

MCM yang merupakan salah satu pasar modern di kota ambon dengan

kondisi fisik bangunan yang besar, rapi, bersih , etalase tempat penjualan

yang tertata dengan baik, ruangan yang penuh AC dan ada petugas

keamanan. tata kelola pasar modern sering menjadi alasan utama

konsumen untuk menentukan pilihan dalam membeli. Selain itu tampilan

atribut produk menjadi tolak ukur konsumen dalam menentukan produk

yang akan dikonsumsi. Beberapa supermarket seperti Hypermart dan KFC

serta gerai ritel lainnya menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan harga

kompetitif dan layanan yang lebih baik dibandingkan pasar tradisional.

Dengan adanya pasar modern, infrastukrut di sekitar kawasan tersebut juga

mengalami peningkatan seperti akses jalan yang lebih baik, area parkir

yang luas, dan transportasi umum yang lebih teratur. kehadiran pasar

modern di Ambon menunjukkan adanya perkembangan ekonomi dan

peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pasar modern tidak hanya menjadi

tempat berbelanja, tetapi juga menjadi pusat komunitas dan rekreasi bagi

warga kota Ambon. 34

Menurut Kotler dan Keller atribut produk terdiri dari kualitas

produk, fitur produk, gaya dan desain produk, merek, pengemasan, harga

34
Jeksen Yefentus Hatumena and others, „Analisis Perilaku Konsumen Terhadap
Keputusan Pembelian Sayuran Pada Pasar Moderen Studi Kasus Di ”Foodmart Ambon” Kota
Ambon‟, Jurnal Agrica, 15.2 (2022), 182–95 <[Link]
39

dan pelabelan. Hal ini selanjutnya menjadi kelebihan dari pasar modern

karena memiliki rak penyimpanan yang tertata sesuai jenis sayuran,

packgaking yang menarik, sampai kepada kebersihan lokasi pasar.35

F. Penelitian Terdahulu

Jurnal Nico Rifanto Halim, Donant Alananto Iskandar Program

Studi Manajemen dan Bisnis, Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis, Jakarta,

Indonesia Angkatan 2019 dengan judul “ Pengaruh Kualitas Produk,

Harga dan Persaingan terhadap Minat Beli ”. Persamaan dari jurnal di atas

adalah sama – sama fokus pada minat beli dan juga memiki fokus pada

faktor – faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen baik penelitian

terdahulu maupun penelitian sendiri sama – sama memeriksa bagaimana

berbagai variabel seperti kualitas produk, harga, dan lingkungan pasar

memengaruhi keputusan pembelian. Perbedaanya adalah dari tujuan

penelitian, penelitian terdahulu memiliki tujuan yang lebih umum seperti

memahami faktor – faktor yang memengaruhi minat beli secara luas,

sedangkan penelitian sendiri lebih spesifik seperti mengidentifikasikan

perbedaan dalam minat beli Gen Z antara pasar modern dan pasar

tradisional serta faktor – faktor yang mempengaruhi perbedaan tersebut.36

Jurnal oleh Dian Habibie1 , Dian Puspita Novrianti , Farida Hanum

Hamzah , Sispa Pebrian , Angga Pramana fakultas ekonomi dan bisnis

Universitas riau angkatan 2022 dengan judul “ Studi Komparatif Minat

Beli Masyarakat di Pasar Sentral Simpang Limun dan Pasar Mingguan di

35
Kotler dan Keller, „No Title‟, 2007.
36
Halim and Iskandar.
40

Jalan Garu II .” Persamaanya dari jurnal di atas adalah sama – sama

menggunakan pendekatan komparatif untuk membandingkan minat beli

antara kedua jenis pasar serta sama – sama memiliki tujuan untuk

memahami preferensi dan perilaku pembelian konsumen di dua jenis pasar

yang berbeda dan berfokus pada aspek minat beli konsumen. Sedangkan

perbedaan dari jurnal terdahulu dan jurnal sendir terletak pada target untuk

jurnal terdahulu tidak secara khusus menargetkan generasi tertentu,

sementara penelitian sendiri menargetkan Genrasi Z. 37

Jurnal oleh Eri Yanti Nasution, Efry Kurnia fakultas ekonomi dan

bisnis Universitas Muhammadiyah sumatrah utara angkatan 2021 dengan

judul “ Perilaku Konsumen Gen Y dan Gen Z Dalam Pengambilan

Keputusan Pembelian : Study Komparatif Japanese Food dan American

Food .” Persamaan dari jurnal terdahulu dan jurnal sendiri yaitu sama -

sama membahas perilaku konsumen dari generasi z dalam konteks

pengambilan keputusan pembelian, Sama – sama menggunakan

pendekatan komparatif untuk membandingkan perilaku konsumen antara

dua jenis makanan atau pasar yang berbeda, dan sama – sama memiliki

tujuan untuk memahami preferensi,kecendurungan dan faktor – faktor

yang mempengaruhi keputusan pembelian dan Segmen Gen Z. Sedangkan

perbedaan dari jurnal terdahulu dan jurnal sendiri terletak pada objek

penelitian, penelitian pertama fokus pada perbandingan antara jepanese

food dan american food sementara penelitian sendiri fokus pada

37
Habibie and others.
41

perbandingan antara pasar modern dan pasar traddisional, dan juga terletak

pada konteks penelitian, penelitian terdahulu lebih fokus pada jenis

makanan yang berbeda sementara penelitian sendiri berfokus pada minat

beli terhadap lingkungan pembelian yang berbeda ( pasar modern vs pasar

tradisional ).38

Jurnal oleh Miranda Graciela Tanuli program study Manajemen

Universitas Ciputra Angkatan 2019 dengan judul “ Pengaruh Desain

Produk dan Persepsi Harga Terhadap Minat Beli Gen Z .” Persamaan dari

jurnal terdahulu dan jurnal sendiri terletak pada variabel yang diteliti

jurnal terdahulu fokus pada pengaruh desain produk dan persepsi harga

terhadap minat beli sedangkan penelitian sendiri yaitu melihat minat beli

dari Gen Z lebih tertarik ke pasar modern ataukah pasar tradisional dan

juga persamaan yang kedua terletak pada metodologi penelitian jurnal

terdahulu telah menggunakan metode survei, eksperimen, atau analisis

statistik untuk menilai hubungan antara desain produk, persepsi harga, dan

minat beli, sedangkan penelitian sendiri melibatkan survei, wawancara,

atau observasi langsung untuk membandingkan Minat Beli Gen Z di pasar

modern dan pasar tradisional. Selanjutnya perbedaan terletak pada jurnal

terdahulu memusatkan perhatian pada faktor – faktor tertentu yang

memengaruhi minat beli Gen Z sedangkan penelitian sendiri

38
Nasution and Kurnia.
42

mengeksplorasi perbedaan dalam minat beli itu sendiri antara dua konteks

pasar yang berbeda.39

Jurnal oleh Aulia Rahman Wahyu Hidayat, Sri Rahayu Tri Astuti

fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Diponegoro Angkatan 2019

dengan judul “ Analisis Pengaruh Kesadaran Merek, Persepsi Harga,

Desain, Webb, terhadap Minat Beli pada Zenius Education (Studi pada

Perilaku Generasi Z Khusus Siswa Dikabupaten Demak) .” Persamaan

antara penelitian terdahulu dan penelitian sendiri sama – sama fokus pada

Analisis Minat Beli dari Generasi Z keduanya juga melibatkan variabel –

variabel yang relevan dengan perilaku konsumen seperti kesadaran merek,

harga dan faktor – faktor lain yang mempengaruhi minat beli. Sedangkan

perbedaan terletak pada konteks dan pendekatan penelitian , penelitian

terdahulu fokus pada analisis pengaruh kesadaran merek, persepsi harga,

webb, terhadap Minat Beli pada Zenius Education dengan fokus pada

siswa di Kab Demak sedangkan penelitian sendiri fokus pada Minat Beli

Generasi Z pada Pasar Modern atau Pasar Tradisional.40

39
Miranda Graciela Tanuli, „Pengaruh Desain Produk Dan Persepsi Harga Terhadap
Minat Beli Generasi Z‟, Performa, 4.5 (2021), 688–99 <[Link]
40
Aulia Rahman, Wahyu Hidayat, and Rahayu Tri Astuti, „ANALISIS PENGARUH
KESADARAN MEREK, PERSEPSI HARGA, DESAIN WEB, TERHADAP MINAT BELI
PADA ZENIUS EDUCATION (Studi Pada Perilaku Generasi Z Khusus Siswa Dikabupaten
Demak)‟, Diponegoro Journal of Management, 8.2 (2019), 94–106 <[Link]
[Link]/[Link]/djom>.

Anda mungkin juga menyukai