13
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Teori Perilaku Konsumen
a. Konsep Teori
Konsumen memiliki keragaman yang menarik untuk dipelajari
karena ia meliputi seluruh individu dari berbagai usia, latar belakang
budaya, pendidikan, dan keadaan sosial ekonomi lainnya. Oleh karena itu,
sangatlah penting untuk mempelajari bagaimana konsumen berperilaku
dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku tersebut. Kotler
dan Keller (2008) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai berikut:
“Perilaku konsumen adalah studi bagaimana individu, kelompok dan
organisasi memilih, membeli, menggunakan dan menempatkan barang,
jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan
mereka.13” Dharmmesta dan Handoko (2000) mendefinisikan perilaku
konsumen sebagai berikut: “Perilaku konsumen dapat didefinisikan
sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam
mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk
di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan
penentuan kegiatankegiatan tertentu14”. Schiffman dan Kanuk (2008)
mendefinisikan perilaku konsumen sebagai berikut: “Perilaku konsumen
menggambarkan cara individu mengambil keputusan untuk
13
Philip & Keller Kotler, „Manajemen Pemasaran‟, Jakarta: Erlangga, 2008, Edisi
[Link] 1.
14
Basu Swastha dan Hani Handoko Dharmmesta, „Manajemen Pemasaran : Analisa
Perilaku Konsumen‟, Yogyakarta : Liberty., 2000.
14
memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu, uang, usaha)
guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi”.15
Dari ketiga pengertian tentang perilaku konsumen di atas dapat
diperoleh dua hal yang penting, yaitu: 1) sebagai kegiatan fisik dan 2)
sebagai proses pengambilan keputusan. Berdasarkan beberapa definisi
yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku
konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang
mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika
membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah
melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi. Mempelajari atau
menganalisis perilaku konsumen merupakan sesuatu yang sangat
kompleks, terutama karena banyaknya variabel yang mempengaruhinya
dan kecenderungannya untuk saling berinteraksi. Oleh sebab itu untuk
mempermudah, digunakan model perilaku konsumen.16
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh keadaan dan situasi
lapisan masyarakat dimana ia dilahirkan dan berkembang. Ini berarti
konsumen berasal dari lapisan masyarakat atau lingkungan yang berbeda
akan mempunyai penilaian, kebutuhan, pendapat, sikap, dan selera yang
berbeda-beda, sehingga pengambilan keputusan dalam tahap pembelian
akan dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor. Faktor-faktor yang
15
Schiffman dan Kanuk, „Perilaku Konsumen‟, Jakarta, 2008, Edisi 7.
16
Aristanto, „Perilaku Konsumen, Definisi Perilaku Konsumen‟, 2008, 7–31.
15
mempengaruhi perilaku konsumen menurut Kotler dan Keller (2008)
terdiri dari:17
1. Faktor Kebudayaan
Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap perilaku
konsumen. Faktor kebudayaan terdiri dari:
a. Budaya
Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling
mendasar. Anak-anak mendapatkan kumpulan nilai, persepsi,
preferensi, dan perilaku dari keluarganya serta lembaga-lembaga
penting lain.
b. Sub-budaya
Masing-masing budaya terdiri dari sub-budaya yang lebih kecil
yang memberikan lebih banyak ciri-ciri dan sosialisasi khusus bagi
anggota-anggotanya. Sub-budaya terdiri dari kebangsaan, agama,
kelompok ras, dan daerah geografis.
c. Kelas sosial.
Pada dasarnya masyarakat memiliki strata sosial. Stratifikasi
tersebut kadang-kadang berbentuk sistem kasta di mana anggota
kasta yang berbeda dibesarkan dengan peran tertentu dan tidak
dapat mengubah keanggotaan kasta mereka/stratifikasi lebih sering
ditemukan dalam bentuk kelas sosial.
17
(Kotler, 2008)
16
2. Faktor Sosial
Selain faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh
faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga serta status
sosial.18
a. Kelompok acuan
Kelompok acuan seseorang terdiri dari semua kelompok yang
memiliki pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung
terhadap sikap atau perilaku seseorang. Kelompok yang memiliki
pengaruh langsung terhadap seseorang dinamakan kelompok
keanggotaan. Beberapa kelompok keanggotaan adalah kelompok
primer, seperti keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja, yang
berinteraksi dengan seseorang serta terus menerus dan informal.
Orang juga menjadi anggota kelompok sekunder, seperti kelompok
keagamaan, professional, dan asosiasi perdagangan, yang
cenderung lebih formal dan membutuhkan interaksi yang tidak
begitu rutin.
b. Keluarga
Keluarga (family) adalah kelompok yang terdiri dari dua atau lebih
orang yang berhubungan melalui darah, perkawinan, atau adopsi
dan tinggal bersama. Keluarga inti (nuclear family) adalah
kelompok langsung yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang
tinggal bersama. Keluarga besar (extended family) mencakupi
18
(Kotler, 2008)
17
keluarga inti, ditambah kerabat lain, seperti kakek dan nenek,
paman dan bibi, sepupu, dan kerabat karena perkawinan. Keluarga
dimana seseorang dilahirkan disebut keluarga orientasi (family of
orientation), sementara keluarga yang ditegakkan melalui
perkawinan adalah keluarga prokreasi (family of procreation).
Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling
penting dalam masyarakat, dan ia telah menjadi obyek penelitian
yang luas. Anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer
yang paling berpengaruh. Kita dapat membedakan antara dua
keluarga dalam kehidupan pembeli. Keluarga orientasi terdiri dari
orang tua dan saudara kandung seseorang. Dari orang tua,
seseorang mendapatkan orientasi atas agama, politik, dan ekonomi
serta ambisi pribadi, harga diri dan cinta. Bahkan jika pembeli
tidak lagi berinteraksi secara mendalam dengan keluarganya,
pengaruh keluarga terhadap perilaku pembeli dapat tetap
signifikan. Pengaruh yang lebih langsung terhadap perilaku
pembelian sehari-hari adalah keluarga prokreasi- yaitu, pasangan
(suami atau istri) dan anak-anak.
c. Status sosial
Seseorang berpartisipasi ke dalam banyak kelompok sepanjang
hidupnya seperti keluarga, klub, organisasi. Kedudukan orang itu
di masing-masing kelompok dapat ditentukan berdasarkan peran
dan status. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan
18
dilakukan oleh seseorang. Masing-masing peran menghasilkan
status. Dengan status yang dimilikinya di masyarakat, dapat
dipastikan ia akan mempengaruhi pola atau sikap orang lain dalam
hal berperilaku terutama dalah hal perilaku pembelian.19
3. Faktor Pribadi
a. Usia dan Tahap Siklus Hidup
Orang membeli suatu barang dan jasa yang berubah-ubah selama
hidupnya. Mereka makan makanan bayi pada waktu tahuntahun
awal kehidupannya, memerlukan makanan paling banyak pada
waktu meningkat besar dan menjadi dewasa, dan memerlukan diet
khusus pada waktu menginjak usia lanjut. Selera orang pun dalam
pakaian, perabot dan rekreasi berhubungan dengan usianya.
b. Pekerjaan dan lingkungan
ekonomi Pola konsumsi seseorang juga dipengaruhi oleh
pekerjaannya. Seorang pekerja kasar akan membeli pakaian kerja,
sepatu kerja, kotak makanan, dan rekreasi permainan bowling.
Seorang presiden perusahaan akan membeli pakaian wool yang
mahal, bepergian dengan pesawat terbang, menjadi anggota
perkumpulan, dan membeli kapal layar yang besar.
c. Gaya Hidup
Gaya hidup seseorang adalah pola hidup seseorang dalam dunia
kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan
19
Nita.
19
pendapat (opini) yang bersangkutan. Gaya hidup melukiskan
“keseluruhan pribadi” yang berinteraksi dengan lingkungannya.
Gaya hidup mencerminkan sesuatu yang lebih dari kelas sosial di
satu pihak dan kepribadian di pihak lain.
d. Kepribadian dan Konsep Diri
Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda yang akan
mempengaruhi perilaku membeli. Kepribadian adalah ciri-ciri
psikologis yang membedakan seseorang, yang menyebabkan
terjadinya jawaban yang secara relatif tetap dan bertahan lama
terhadap lingkungannya. Sedangkan konsep diri (atau citra diri)
dibagi dua yaitu konsep diri ideal (bagaimana dia ingin
memandang dirinya sendiri) dan konsep diri menurut orang lain
(bagaimana pendapatnya tentang orang lain memandang dia).
4. Faktor Psikologis
Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor
psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, serta
keyakinan dan pendirian.20
a. Motivasi
Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong
keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu
guna mencapai suatu tujuan. Akan tetapi secara definitif dapat
dikatakan bahwa motivasi adalah suatu dorongan kebutuhan dan
20
Kotler, P., & Keller.
20
keinginan individu diarahkan pada tujuan untuk memperoleh
kepuasan.
b. Persepsi Seseorang termotivasi siap untuk bertindak.
Bagaimana seseorang yang termotivasi bertindak akan dipengaruhi
oleh persepsinya terhadap situasi tertentu. Persepsi adalah proses
yang digunakan oleh seorang individu untuk memilih,
mengorganisasi, dan mengintepretasi masukan-masukan informasi
guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Persepsi
tidak hanya tergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada
rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan
keadaan individu yang bersangkutan.
c. Pembelajaran
Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan-perubahan perilaku
yang terjadi sebagai hasil dari akibat adanya pengalaman.
Perubahan-perubahan perilaku tersebut bersifat tetap (permanen)
dan bersifat lebih fleksibel. Hasil belajar ini akan memberikan
tanggapan tertentu yang cocok dengan rangsangan-rangsangan dan
yang mempunyai tujuan tertentu.
d. Keyakinan dan Sikap
Melalui bertindak dan belajar, orang mendapat keyakinan dan
sikap. Keduanya kemudian mempengaruhi pembelian mereka.
Keyakinan adalah gambaran pemikiran yang dianut seseorang
tentang suatu hal. Keyakinan mungkin berdasarkan pengetahuan,
21
pendapat, atau kepercayaan. Kesemuanya itu mungkin atau tidak
mungkin mengandung faktor emosional. Sikap adalah evaluasi,
perasaan emosional, dan kecenderungan tindakan yang
menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama dari
seseorang terhadap suatu obyek atau gagasan.21
c. Tahap-Tahap dalam Proses Keputusan Pembelian
Perilaku konsumen akan menentukan proses pengambilan
keputusan dalam pembelian mereka. Proses pengambilan keputusan
tersebut merupakan sebuah pendekatan penyelesaian masalah yang
terdiri atas lima tahap yaitu sebagai berikut: (Kotler dan Keller, 2008)
yang pertama Pengenalan Masalah Proses pembelian dimulai saat
pembeli mengenal sebuah masalah atau kebutuhan. Kebutuhan tersebut
dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Kedua
Pencarian Informasi Konsumen yang tergugah kebutuhannya akan
terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak mengenai produk
atau jasa yang ia butuhkan. Pencarian informasi dapat bersifat aktif
maupun pasif. Informasi yang bersifat aktif dapat berupa kunjungan
terhadap beberapa toko untuk membuat perbandingan harga dan kualitas
produk, sedangkan pencarian informasi pasif, dengan membaca suatu
pengiklanan di majalah atau surat kabar tanpa mempunyai tujuan khusus
dalam perkiraanya tentang gambaran produk yang diinginkan. Ketiga
Evaluasi Alternatif Terdapat beberapa proses evaluasi keputusan
21
Nita.
22
konsumen, dan model model yang terbaru memandang proses evaluasi
konsumen sebagai proses yang berorientasi kognitif. Yaitu, model
tersebut menganggap konsumen membentuk penilaian atas produk
terutama secara sadar dan rasional. Keempat Keputusan Pembelian
Keputusan untuk membeli disini merupakan proses pembelian yang
nyata. Jadi, setelah tahap-tahap dimuka dilakukan maka konsumen harus
mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Bila konsumen
memutuskan untuk membeli, konsumen akan menjumpai serangkaian
keputusan yang harus diambil menyangkut jenis produk, merek, penjual,
kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayarannya. Kelima Perilaku
Pasca pembelian Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami
level kepuasan atau ketidakpuasan. Tugas pemasar tidak berakhir saat
produk dibeli, melainkan berlanjut hingga periode pasca pembelian.
Pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca
pembelian, dan pemakaian produk pasca pembelian.22
d. Empat Jenis Pengambilan Keputusan Beli :
1. Keputusan Pembelian Yang Rumit (Complex Decision Making)
Perilaku pembelian yang rumit terdiri dari proses tiga langkah. Pertama,
pembeli mengembangkan keyakinan tentang produk tersebut. Kedua,
pembeli membangun sikap tentang produk tersebut. Ketiga, pembeli
membuat pilihan pembelian yang cermat. Konsumen terlibat dalam
perilaku pembelian yang rumit bila mereka sangat terlibat dalam
22
(Kotler, 2008)
23
pembelian dan sadar akan adanya perbedaan-perbedaan besar di antara
merek. Perilaku pembelian yang rumit itu sering terjadi bila produknya
mahal, jarang dibeli, berisiko dan sangat mengekspresikan diri.
Konsumen pada tipe ini, urutan hirarki pengaruhnya adalah: kepercayaan,
evaluasi, dan perilaku. Konsumen yang melakukan pembeliannya dengan
pembuatan keputusan (timbul kebutuhan, mencari informasi dan
mengevaluasi merek serta memutuskan pembelian), dan dalam
pembeliannya memerlukan keterlibatan tinggi. Dua interaksi ini
menghasilkan tipe perilaku pembelian yang kompleks (Complex Decision
Making). Para konsumen makin terlibat dalam kegiatan membeli bila
produk yang akan dibeli itu mahal, jarang dibeli, beresiko, dan amat
berkesan. Biasanya konsumen tidak hanya mengetahui tentang
penggolongan produk dan tidak banyak belajar tentang produk. Sebagai
contoh, seseorang membeli komputer pribadi walau mungkin tidak
mengetahui sama sekali ciri-ciri yang harus dicari.
2. Perilaku Pembelian Pengurang Ketidaknyamanan (Brand
Loyalty) Kadang-kadang konsumen sangat terlibat dalam sebuah
pembelian namun melihat sedikit perbedaan di antara berbagai merek.
Keterlibatan yang tinggi didasari oleh fakta bahwa pembelian tersebut
mahal, jarang dilakukan dan berisiko. Dalam kasus ini, pembeli akan
berkeliling untuk mempelajari apa yang tersedia namun akan membeli
dengan cukup cepat, barangkali pembeli sangat peka terhadap harga atau
terhadap qkenyamanan berbelanja. Konsumen pada tipe ini, urutan hirarki
24
pengaruhnya adalah: perilaku. Perilaku konsumen tipe ini adalah
melakukan pembelian terhadap satu merek tertentu secara berulang-ulang
dan konsumen mempunyai keterlibatan yang tinggi dalam proses
pembeliannya. Perilaku pembelian seperti ini menghasilkan tipe perilaku
konsumen yang loyal terhadap merek (Brand Loyalty). Sebagai contoh,
seseorang yang berbelanja untuk membeli permadani (Karpet). Pembelian
permadani merupakan suatu keputusan keterlibatan karena harganya
mahal dan berkaitan dengan identifikasi diri, namun pembeli
kemungkinan besar berpendapat bahwa permadani dengan harga yang
hampir sama, memiliki kualitas yang sama.
3. Perilaku Pembelian Yang mencari Variasi (Limited Decision
Making) Banyak produk dibeli dengan kondisi rendahnya keterlibatan
konsumen dan tidak adanya perbedaan merek yang signifikan. Mereka
pergi ke toko dan mengambil merek tertentu. Jika mereka tetap
mengambil merek yang sama, hal itu karena kebiasaan, bukan karena
kesetiaan terhadap merek yang kuat. Terdapat bukti yang cukup bahwa
konsumen memiliki keterlibatan yang rendah dalam pembelian sebagian
besar produk yang murah dan sering dibeli. Konsumen pada tipe ini,
hirarki pengaruhnya adalah kepercayaan, perilaku dan evaluasi. Tipe ini
adalah perilaku konsumen yang melakukan pembeliannya dengan
pembuatan keputusan, dan pada proses pembeliannya konsumen merasa
kurang terlibat. Perilaku pembelian seperti ini menghasilkan tipe perilaku
konsumen limited decision making. Konsumen dalam tipe ini akan
25
mencari suatu toko yang menawarkan produk berharga murah, jumlahnya
banyak, kupon, contoh cuma-cuma, dan mengiklankan ciri-ciri suatu
produk sebagai dasar atau alasan bagi konsumen untuk mencoba sesuatu
yang baru.
4. Perilaku Pembelian Karena Kebiasaan (Inertia) Beberapa situasi
pembelian ditandai oleh keterlibatan konsumen yang rendah namun
perbedaan merek yang signifikan. Dalam situasi itu, konsumen sering
melakukan peralihan merek. Konsumen pada tipe ini, urutan hirarki
pengaruhnya adalah: kepercayaan kemudian perilaku. Konsumen ini tidak
melakukan evaluasi sehingga dalam melakukan pembelian suatu merek
produk hanya berdasarkan kebiasaan dan pada saat pembelian konsumen
ini kurang terlibat. Perilaku seperti ini menghasilkan perilaku konsumen
tipe inertia. Sebagai contoh, pembelian garam. Para konsumen sedikit
sekali terlibat dalam membeli jenis produk tersebut. Mereka pergi ke
toko dan langsung memilih satu merek. Bila mereka mengambil merek
yang sama, katakanlah, garam Morton, hal ini karena kebiasaan, bukan
karena loyalitas merek. Tetapi cukup bukti bahwa para konsumen tidak
terlibat dalam pembuatan keputusan yang mendalam bila membeli
sesuatu yang harganya murah, atau produk yang sudah sering mereka
beli.
B. Minat Beli
Menurut Roby dan Andjarwati Minat Beli adalah keinginan
konsumen untuk melakukan tindakan pembelian baik di masa sekarang
26
maupun di masa yang akan datang berdasarkan rasa suka dan rasa
ketertarikan pada suatu hal.23 Keputusan untuk membeli dipengaruhi oleh
nilai produk yang dievaluasi. Dwiyanti mengatakan Bila manfaat yang
dirasakan lebih besar dibanding pengorbanan untuk mendapatkannya,
maka dorongan untuk membeli akan semakin tinggi.24
Setiadi menyatakan bahwa keputusan untuk membeli yang
dilakukan oleh konsumen mengalami suatu proses. Proses tersebut terdiri
dari lima tahap yaitu ;
a) Pengenalan masalah. Proses membeli diawali saat pembeli menyadari
adanya masalah kebutuhan.
b) Pencarian informasi. Seseorang konsumen yang mulai timbul minatnya
akan terdorong untuk mencari informasi lebih banyak.
c) Evaluasi alternatif. Bagaimana konsumen memproses informasi tentang
pilihan merek untuk membuat keputusan akhir.
d) Keputusan membeli. Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk
preferensi terhadap merekmerek yang terdapat pada perangkat
[Link] mungkin juga membentuk tujuan membeli untuk
merek yang paling disukai.
23
Mahbub Alfa Roby and Anik Lestari Andjarwati, „Pengaruh Green Product Pada
Minyak Goreng Ecoplanet Terhadap Minat Beli Konsumen‟, Jurnal Ilmu Manajemen, 2.4 (2014),
1309–18 <[Link]
24
Nita.
27
e) Perilaku sesudah pembelian. Sesudah pembelian terhadap suatu produk
yang dilakukan oleh konsumen akan mengalami beberapa tingkat
kepuasan atau ketidakpuasan.25
1. Aspek minat beli
menurut Putri aspek yang terdapat dalam minat beli antara lain:26
a). Ketertarikan (interest), menunjukkan adanya perhatian dan perasaan
suka terhadap produk.
b). Keinginan (desire), ditunjukan dengan adanya dorongan untuk
memiliki.
c). Keyakinan (conviction), ditunjukkan dengan adanya perasaan percaya
diri seseorang atas atribut produk, baik dari kualitas, daya guna,
maupun keuntungan dari produk tersebut.
Kotler dan Keller menyebutkan Minat beli konsumen adalah seberapa
besar kemungkinan konsumen membeli suatu merek atau seberapa
besar kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke
merek lain. Bila manfaat yang dirasakan lebih besar dibandingkan
pengorbanan untuk mendapatkannya, maka dorongan untuk
membelinya semakin tinggi. Perilaku konsumen biasanya diawali dan
dipengaruhi oleh banyaknya rangsangan (stimuli) dari luar dirinya,
baik berupa rangsangan pemasaran maupun rangsangan dari
lingkungannya. Karakteristik pribadi konsumen yang dipergunakan
25
J. Nugroho (2003). Setiadi, „Perilaku Konsumen: Konsep Dan Implikasi Untuk Strategi
Dan Penelitian Pemasaran. Jakarta: Prenada Media.‟, 2003.
26
Nita.
28
untuk memproses rangsangan tersebut sangat komplek dan salah
satunya adalah motivasi untuk membeli.
2. Unsur Minat beli
Menurut Evans secara klasik pembelian konsumen terbentuk dari
beberapa unsur yaitu:27
a) Kesadaran, konsumen sadar akan kebutuhan akan suatu produk
sehingga berniat untuk mencari informasi .
b) Pertimbangan, konsumen mempertimbangkan dari sekian banyak
alternatif untuk dijadikan pilihan.
c) Pembelian, proses yang mengarah dari kesadaran melalui pertimbangan
untuk membeli produk berdasarkan alternatif pilihan.
Adapun indikator-indikator minat beli masyarakat untuk berbelanja
yang menurut Ferdinand (2002) dalam Tampubolon (2021), minat beli
dapat diidentifikasi melalui indikator-indikator sebagai berikut:28
1) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
produk.
2) Minat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
produk kepada orang lain.
3) Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku
seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut.
27
Nita.
28
Nobel Kristian Tripandoyo Tampubolon, Analisis Hubungan Green Product
Knowledge, Green Awareness Dan Green Lifestyle Dengan Minat Beli Produk Ramah
Lingkungan, 2021.
29
Preferensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk
preferensinya.
4) Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan
mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk
tersebut
Menurut durianto.,dkk Minat beli konsumen pada dasarnya
merupakan faktor pendorong dalam pengambilaan keputusan pembelian
terhadap suatu produk. minat beli merupakan sesuatu yang
berhubungan dengan rencana konsumen untuk membeli produk
tertentu, serta berapa banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode
tertentu. Minat beli merupakan pernyataan mental konsumen yang
merefleksikan rencana pembelian suatu produk dengan merek terntentu
pengetahuan tentang niat beli konsumen terhadap produk perlu
diketahui oleh para pemasar untuk mendeskripsikan perilaku konsumen
pada masa yang akan datang. Minat beli terbentuk dari sikap konsumen
terhadap suatu produk hal tersebut berasal dari keyakinan konsumen
terhadap kualitas produk.29
Kotler dan Kevin menyebutkan Semakin rendah keyakinan
konsumen terhadap suatu produk akan menyebabkan menurunkan
minat beli konsumen. Minat digambarkan sebagai situasi dimana
konsumen belum melakukan suatu tindakan, yang dapat dijadikan dasar
29
Nico Rifanto Halim and Donant Alananto Iskandar, „Pengaruh Kualitas Produk, Harga
Dan Strategi Promosi Terhadap Minat Beli‟, Jurnal Ilmu Dan Riset …, 4.3 (2019), 415–24
<[Link]
30
untuk memprediksi perilakuk atau tindakan tersebut. Minat merupakan
perilaku yang muncul sebagai respon terhadap suatu objek yang
menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian
Bedasarkan beberapa definisi diatas dapat dinyatakan minat beli adalah
prilaku yang muncul pada konsumen yang terdiri dari keyakinan
konsumen terhadap kualitas produk dan harga yang ditawarkan pelaku
bisnis kepada konsumen.
Adapun Dalam islam, sesuatu yang hendak dipenuhi
kebutuhannya itu didapatkan secara halal dan tidak bertentangan
dengan hukum islam. Karena itu produk yang dikonsumsi tidak boleh
menimbulkan kezaliman, berada dalam koridor aturan hukum islam,
serta menjunjung tinggi kepantasan atau kabaikan. Sebagaimana Allah
SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 29:
َ َِل ا َ ْن ت َ ُك ْىنَ تِ َج
ارة ِ َٰيٰٓاَيُّ َها الَّ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْىا ََل ت َأ ْ ُكلُ ْٰٓىا ا َ ْم َىالَ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم بِ ْالب
ٰٓ َّ اط ِل ا
ّٰللاَ َكانَ بِ ُك ْم َر ِحيْما َ ُاض ِ ّم ْن ُك ْم ۗ َو ََل ت َ ْقتُلُ ْٰٓىا ا َ ْنف
س ُك ْم ۗ ا َِّن ه ٍ َع ْن ت ََز
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu
saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar),
kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di
antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah
Maha Penyayang kepadamu.”
Dalam pandangan islam manusia sebenarnya tidak dilarang untuk
memenuhi kebutuhan ataupun keinginannya sehingga terpenuhi secara
seimbang. Selama dengan pemenuhan tersebut martabat manusia bisa
31
meningkat atau mendatangkan mashlahah. Oleh karena itu islam
mengatur manusia dalam memenuhi kebutuhan maupun keinginan
secara sederhana atau tidak berlebihan. Sebagaimana terdapat dalam
sebuah hadis yang tercatat dalam Kitab al-Kafi dan Tafsir al- „Ayyasyi
serta diriwayatkan dari Imam Ja‟far Shadiq as, yang mengatakan
kepada seorang laki-laki, “Takutlah kepada Allah dan janganlah
bersikap berlebih-lebihan ataupun (membuat hidup) sempit (bagi
dirimu sendiri) dan bergeraklah diantara keduanya; sesungguhnya
menghambur-hamburkan harta termasuk tindakan yang berlebih-
lebihan karena Allah telah berfirman,...dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan hartamu secara boros.”
Di zaman sekarang lebih menekankan dalam memenuhi keinginan
material ketimbang kebutuhan yang lain sehingga pola konsumsi ini
merupakan mashlahah pada perilaku konsumen syariah yang harus
mencapai kesejahteraannya. Perilaku konsumsi islami ini didasari
karna rasionalitas serta keyakinan terhadap kebenaran rasionalitas
manusia hal tersebut berasalkan tuntutan Al Quran dan Hadist.
Munculnya kesenjangan diberbagai permasalahan sosioekonomi
disebabkan karena kurangnya keseimbangan yang lebih mendukung
individualisme serta self interest. Tujuan dalam aktifitas ekonomi islam
merupakan memenuhi kebutuhan tetapi bukan memenuhi keinginan hal
tersebut menjadi kewajiban umat beragama.
32
Imam Al-Ghazali sudah membedakan antara kebutuhan (hajat)
ataupun keinginan (syahwat). Hal tersebut menekankan bahwa
pentingnya keinginan dalam mengkonsumsi yang tidak terlepas dari
makna maupun steril. Oleh sebab itu konsumsi dilakukan karena
beribadah kepada Allah. Pemikiran tersebut berbeda dengan konsumsi
konvensional yang mementingkan keinginan, nafsu, harga barang,
pendapatan dan lain sebagainya. Sehingga kebutuhan merupakan
kemauan individu dalam mencapai sesuatu yang diinginkan untuk
mempertahankan hidup serta menerapkan fungsinya.
Dalam menerapkan minat beli konsumen itu tidak mudah,
sehingga para penjual harus memiliki kreatifitas dalam membangkitkan
minat beli konsumen serta menjadikannya pelanggan. Adapun cara
yang dilakukan bisa dengan mempercantik kemasan dan
mempromosikan dengan menarik sehingga calon konsumen dapat
tertarik dan mencari informasi tentang produk yang dipromosikan.
Menurut Mardiastika terdapat beberapa factor yang
mempengaruhi minat beli konsumen, antara lain:30
1. Perhatian (Attention) adanya perhatian yang besar dari konsumen
terhadap suatu produk (barang atau jasa).
2. Ketertarikan (Interest) menunjukan adanya pemusatan perhatian
dan perasaan senang.
3. Keinginan (Desire) adanya dorongan untuk memiliki.
30
Halim and Iskandar.
33
4. Keyakinan (Conviction) adanya perasaan percaya individu
terhadap kualitas, daya guna dan keuntungan dari produk yang
akan dibeli.
C. Generasi Z
Teori generasi bermula dari Amerika. Kategori dalam teori
generasi ditentukan oleh beberapa indikator, diantaranya berdasarkan
kemajuan tekhnologi, tenaga kerja, peristiwa penting di dunia seperti
tragedi dan perang serta perkembangan budaya dan sosial
[Link] Y atau milenial bagi mereka yang lahir pada 1980-
1994 dan generasi Z bagi mereka yang lahir pada 1990-2010 Generasi
Z adalah mereka yang terlahir setelah Gen X. Menurut White,
Generasi Z memiliki beberapa karakteristik, diantaranya:31
a). Generasi Z adalah generasi yang mandiri. Mereka terlahir pada
masa resesi besar di Amerika. Mereka bertumbuh pasca peristiwa
9/11 yang menggoncangkan dunia. Hal-hal buruk yang terjadi di
negara mereka masa kini. Itu membuat mereka berusaha secara
mandiri untuk mempersiapkan masa depan dengan sebaik-baiknya,
melalui beragam pekerjaan yang mereka jalanin Kemandirian
mereka juga tergambar dalam pilihan kerja para generasi Z yang
cenderung lebih memilih untuk menciptakan lapangan kerja
mereka sendiri ketimbang menjadi pekerja.
31
Adhika Tri Subowo, „Membangun Spiritualitas Digital Bagi Generasi Z‟, DUNAMIS:
Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 5.2 (2021), 379–95
<[Link]
34
b) Karakteristik yang kedua adalah Gen Z menjadi aktif melalui WiFi.
Generasi Y sering disebut sebagai “digital natives,”adapun
generasi Z kerap kali disebut generasi “internet dalam saku.” Pada
tahun 1960 komputer masih menjadi barang yang langka. Hanya
kelangan tertentu yang memilikinya, misalnya tentara, pemerintah
dan organisasi yang sangat besar. Namun pada tahun 1970
organisasi-organisasi kecil mulai memiliki komputer. Kemudian
pada tahun 1980 komputer sudah mulai dimiliki oleh lebih banyak
kalangan. Hingga pada tahun 1990 komputer menjadi populer di
kalangan masyarakat umum. Harga komputer lambat laun semakin
terjangkau, sehingga komputer mulai masuk ke rumah-rumah. Dan
pada tahun 2000 tidak hanya komputer, melainkan akses internet
sudah mulai banyak digunakan di negara-negara maju. Generasi Z
lahir di era di mana komputer sudah banyak dipakai oleh orang.
Bahkan akses internet menjadi kebutuhan banyak kalangan.
Generasi Z tumbuh ditengah kemajuan teknologi digital yang
semakin pesat. Mereka menghabiskan banyak waktu dengan
komputer dan akses internet. Banyak informasi yang mereka
dapatkan melalui internet.
c) Karakteristik yang ketiga adalah bahwa terdapat jurang yang
melebar antara hikmat dan informasi. Chuck Kelley, pimpinan dari
Seminari Teologi Baptis di New Orleans menyebutkan bahwa
“Google telah mengubah relasi orang menjadi informasi.” Gaya
35
komunikasi generasi Z tidak lagi konvensional, melainkan sangat
cair. Dalam hal penggunaan media sosial, generasi Z berbeda
dengan generasi sebelumnya yang sering upload hal-hal yang
bersifat pribadi. Generasi Z lebih bisa memilah konten mana yang
menurut mereka perlu di pos tatau tidak. Generasi ini
menggunakan media sosial untuk menyenangkan mereka yang
melihat, sehingga sebisa mungkin meminimalisir konflik.
Celakanya ditengah era post-truth ini, informasi yang keliru justru
lebih menarik perhatian. Apa yang salah justru ditangkap sebagai
kebenaran. Kondisi yang demikian sudah barang tentu membawa
pengaruh yang signifikan kepada penerimaan informasi generas z.
d) Karakteristik keempat adalah generasi ini tidak berbentuk dalam hal
seksual serta relasional. Kristen Stewart menyebut bahwa generasi
Z tidak terlalu dipusingkan dengan kecenderungan seksualitas
seseorang, apakah mereka hetereroseksual atau gay, itu tidak
penting bagi mereka. Bahkan penelitian di Inggris menjabarkan
bahwa hampir separuh orang muda berpikir bahwa mereka tidak
heteroseksual murni .Hal ini terjadi karena nilai terbesar yang
mereka pegang adalah kebebasan individu.
Generasi Z merupakan kelompok yang lahir dari tahun 1996 –
2010, dan hadir setelah Baby Boomers, generasi X dan generasi Y.
Generasi ini disebut juga net Generation, karenapada angkatan ini
perkembangan internet sangatpesat sehingga bukan hal baru dalam
36
menggunakan internet dalam kehidupan sehari –hari. Mudahnya
mereka dalam menerima informasi melalui media sosial dan
sebagian besar menyukai sesuatu yang secara detail, maka
dibutuhkan suatu informasi yang secara rinci dan up to date untuk
menumbuhkan rasa kepercayaan generasi Z terhadap barang dan
jasa yang ditawarkan.
D. Pasar Tradisional Di Kota Ambon
Pasar tradisonal merupakan tempat bertemunya penjual dan
pembeli serta ditandai dengan adanya transasi secara langsung dan
biasanya ada proses tawar menawar. Bangunan pasar biasanya terdiri atas
kioskios atau gerai, akses lebih luas bagi para produsen dan dasaran
terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.
Kebanyakan pasar tradisional menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan
makanan, ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, barang-barang
elektronik, dan jasa, serta menjual kue-kue. Pedangan diartikan sebagai
orang yang melakukan perdagangan, memperjual belikan barang yang
tidak diproduksi sendiri, untuk memperoleh suatu keuntungan dan
kenyamanan sehingga disebut dengan pedagang.32
Jalan Pantai Mardika yang merupakan salah satu pasar tradisional
di kota ambon, ruas jalan yang padat di lalui banyak jenis kendaraan. Pada
ruas jalan ini terdapat pasar yang tingkat aktivitas kegiatannya sangat
berpengaruh pada kelancaran transportasi jalan tersebut, yaitu Pasar
32
Hermanto Malano, Selamatkan Pasar Tradisional Jakarta (Jakarta, 2011).
37
Tradisional Mardika. Pasar ini cukup padat dengan pedagang kaki lima
yang menggunakan pinggir ruas jalan, parkir kendaraan dan angkutan
umum yang menurunkan penumpang di sepanjang jalan.
Pasar Mardika ini sudah sejak dulu menjadi bagian penting
aktifitas ekonomi Kota Ambon dan memberikan ruang bagi segenap
warga Ambon untuk melakukan perdagangan. Pasar Mardika adalah
salah satu pasar yang cukup tua di Kota Ambon, Pasar Mardika adalah
tempat terlengkap bagi warga Ambon dan sekitarnya untuk melalukan
proses transaksi antara penjual dan pembeli. Pasar mardika juga
disebut sebagai salah satu pasar tradisional yang ada di Maluku dan
juga sebagai pasar favorit bagi orang Maluku pada umumnya dan
warga masyarakat Kota Ambon Pada Khusunya. Walaupun pasar
Mardika adalah pasar yang cukup tua di Kota Ambon, namun
Wilayah Pasar Mardika adalah tempat terlengkap bagi warga Ambon
untuk membeli berbagai kebutuhan sehari-hari mulai dari bahan
makanan hingga penunjang hidup seperti perkakas, pakaian, bahkan
jasa perbankan justru menjadi kelebihan yang dimiliki tempat ini ditengah
serbuan berbagai pusat perbelanjaan modern yang menjamur hampir di
banyak kota besar indonesia.33
33
Moh Daud Marasabessy and Idris Rumodar, „Implementasi Kebijakan Pemerintah
Dalam Pengelolaan Sampah Terhadap Dampak Kehidupan Sosial Masyarakat Kota Ambon ( Studi
Kasus Pasar Mardika )‟, JBESTERKUNDE : Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 1.2 (2022), 16–24
<[Link]
38
E. Pasar Modern di Kota Ambon
Perkembangan pasar modern yang sangat pesat, membuat adanya
persaingan yang serius antara pasar modern dan pasar tradisional. Mall
MCM yang merupakan salah satu pasar modern di kota ambon dengan
kondisi fisik bangunan yang besar, rapi, bersih , etalase tempat penjualan
yang tertata dengan baik, ruangan yang penuh AC dan ada petugas
keamanan. tata kelola pasar modern sering menjadi alasan utama
konsumen untuk menentukan pilihan dalam membeli. Selain itu tampilan
atribut produk menjadi tolak ukur konsumen dalam menentukan produk
yang akan dikonsumsi. Beberapa supermarket seperti Hypermart dan KFC
serta gerai ritel lainnya menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan harga
kompetitif dan layanan yang lebih baik dibandingkan pasar tradisional.
Dengan adanya pasar modern, infrastukrut di sekitar kawasan tersebut juga
mengalami peningkatan seperti akses jalan yang lebih baik, area parkir
yang luas, dan transportasi umum yang lebih teratur. kehadiran pasar
modern di Ambon menunjukkan adanya perkembangan ekonomi dan
peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pasar modern tidak hanya menjadi
tempat berbelanja, tetapi juga menjadi pusat komunitas dan rekreasi bagi
warga kota Ambon. 34
Menurut Kotler dan Keller atribut produk terdiri dari kualitas
produk, fitur produk, gaya dan desain produk, merek, pengemasan, harga
34
Jeksen Yefentus Hatumena and others, „Analisis Perilaku Konsumen Terhadap
Keputusan Pembelian Sayuran Pada Pasar Moderen Studi Kasus Di ”Foodmart Ambon” Kota
Ambon‟, Jurnal Agrica, 15.2 (2022), 182–95 <[Link]
39
dan pelabelan. Hal ini selanjutnya menjadi kelebihan dari pasar modern
karena memiliki rak penyimpanan yang tertata sesuai jenis sayuran,
packgaking yang menarik, sampai kepada kebersihan lokasi pasar.35
F. Penelitian Terdahulu
Jurnal Nico Rifanto Halim, Donant Alananto Iskandar Program
Studi Manajemen dan Bisnis, Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis, Jakarta,
Indonesia Angkatan 2019 dengan judul “ Pengaruh Kualitas Produk,
Harga dan Persaingan terhadap Minat Beli ”. Persamaan dari jurnal di atas
adalah sama – sama fokus pada minat beli dan juga memiki fokus pada
faktor – faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen baik penelitian
terdahulu maupun penelitian sendiri sama – sama memeriksa bagaimana
berbagai variabel seperti kualitas produk, harga, dan lingkungan pasar
memengaruhi keputusan pembelian. Perbedaanya adalah dari tujuan
penelitian, penelitian terdahulu memiliki tujuan yang lebih umum seperti
memahami faktor – faktor yang memengaruhi minat beli secara luas,
sedangkan penelitian sendiri lebih spesifik seperti mengidentifikasikan
perbedaan dalam minat beli Gen Z antara pasar modern dan pasar
tradisional serta faktor – faktor yang mempengaruhi perbedaan tersebut.36
Jurnal oleh Dian Habibie1 , Dian Puspita Novrianti , Farida Hanum
Hamzah , Sispa Pebrian , Angga Pramana fakultas ekonomi dan bisnis
Universitas riau angkatan 2022 dengan judul “ Studi Komparatif Minat
Beli Masyarakat di Pasar Sentral Simpang Limun dan Pasar Mingguan di
35
Kotler dan Keller, „No Title‟, 2007.
36
Halim and Iskandar.
40
Jalan Garu II .” Persamaanya dari jurnal di atas adalah sama – sama
menggunakan pendekatan komparatif untuk membandingkan minat beli
antara kedua jenis pasar serta sama – sama memiliki tujuan untuk
memahami preferensi dan perilaku pembelian konsumen di dua jenis pasar
yang berbeda dan berfokus pada aspek minat beli konsumen. Sedangkan
perbedaan dari jurnal terdahulu dan jurnal sendir terletak pada target untuk
jurnal terdahulu tidak secara khusus menargetkan generasi tertentu,
sementara penelitian sendiri menargetkan Genrasi Z. 37
Jurnal oleh Eri Yanti Nasution, Efry Kurnia fakultas ekonomi dan
bisnis Universitas Muhammadiyah sumatrah utara angkatan 2021 dengan
judul “ Perilaku Konsumen Gen Y dan Gen Z Dalam Pengambilan
Keputusan Pembelian : Study Komparatif Japanese Food dan American
Food .” Persamaan dari jurnal terdahulu dan jurnal sendiri yaitu sama -
sama membahas perilaku konsumen dari generasi z dalam konteks
pengambilan keputusan pembelian, Sama – sama menggunakan
pendekatan komparatif untuk membandingkan perilaku konsumen antara
dua jenis makanan atau pasar yang berbeda, dan sama – sama memiliki
tujuan untuk memahami preferensi,kecendurungan dan faktor – faktor
yang mempengaruhi keputusan pembelian dan Segmen Gen Z. Sedangkan
perbedaan dari jurnal terdahulu dan jurnal sendiri terletak pada objek
penelitian, penelitian pertama fokus pada perbandingan antara jepanese
food dan american food sementara penelitian sendiri fokus pada
37
Habibie and others.
41
perbandingan antara pasar modern dan pasar traddisional, dan juga terletak
pada konteks penelitian, penelitian terdahulu lebih fokus pada jenis
makanan yang berbeda sementara penelitian sendiri berfokus pada minat
beli terhadap lingkungan pembelian yang berbeda ( pasar modern vs pasar
tradisional ).38
Jurnal oleh Miranda Graciela Tanuli program study Manajemen
Universitas Ciputra Angkatan 2019 dengan judul “ Pengaruh Desain
Produk dan Persepsi Harga Terhadap Minat Beli Gen Z .” Persamaan dari
jurnal terdahulu dan jurnal sendiri terletak pada variabel yang diteliti
jurnal terdahulu fokus pada pengaruh desain produk dan persepsi harga
terhadap minat beli sedangkan penelitian sendiri yaitu melihat minat beli
dari Gen Z lebih tertarik ke pasar modern ataukah pasar tradisional dan
juga persamaan yang kedua terletak pada metodologi penelitian jurnal
terdahulu telah menggunakan metode survei, eksperimen, atau analisis
statistik untuk menilai hubungan antara desain produk, persepsi harga, dan
minat beli, sedangkan penelitian sendiri melibatkan survei, wawancara,
atau observasi langsung untuk membandingkan Minat Beli Gen Z di pasar
modern dan pasar tradisional. Selanjutnya perbedaan terletak pada jurnal
terdahulu memusatkan perhatian pada faktor – faktor tertentu yang
memengaruhi minat beli Gen Z sedangkan penelitian sendiri
38
Nasution and Kurnia.
42
mengeksplorasi perbedaan dalam minat beli itu sendiri antara dua konteks
pasar yang berbeda.39
Jurnal oleh Aulia Rahman Wahyu Hidayat, Sri Rahayu Tri Astuti
fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Diponegoro Angkatan 2019
dengan judul “ Analisis Pengaruh Kesadaran Merek, Persepsi Harga,
Desain, Webb, terhadap Minat Beli pada Zenius Education (Studi pada
Perilaku Generasi Z Khusus Siswa Dikabupaten Demak) .” Persamaan
antara penelitian terdahulu dan penelitian sendiri sama – sama fokus pada
Analisis Minat Beli dari Generasi Z keduanya juga melibatkan variabel –
variabel yang relevan dengan perilaku konsumen seperti kesadaran merek,
harga dan faktor – faktor lain yang mempengaruhi minat beli. Sedangkan
perbedaan terletak pada konteks dan pendekatan penelitian , penelitian
terdahulu fokus pada analisis pengaruh kesadaran merek, persepsi harga,
webb, terhadap Minat Beli pada Zenius Education dengan fokus pada
siswa di Kab Demak sedangkan penelitian sendiri fokus pada Minat Beli
Generasi Z pada Pasar Modern atau Pasar Tradisional.40
39
Miranda Graciela Tanuli, „Pengaruh Desain Produk Dan Persepsi Harga Terhadap
Minat Beli Generasi Z‟, Performa, 4.5 (2021), 688–99 <[Link]
40
Aulia Rahman, Wahyu Hidayat, and Rahayu Tri Astuti, „ANALISIS PENGARUH
KESADARAN MEREK, PERSEPSI HARGA, DESAIN WEB, TERHADAP MINAT BELI
PADA ZENIUS EDUCATION (Studi Pada Perilaku Generasi Z Khusus Siswa Dikabupaten
Demak)‟, Diponegoro Journal of Management, 8.2 (2019), 94–106 <[Link]
[Link]/[Link]/djom>.