0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Panduan Pengambilan Keputusan Etis

Diunggah oleh

There SHa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Panduan Pengambilan Keputusan Etis

Diunggah oleh

There SHa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

**Judul: BAB 9 CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS**

Pengambilan keputusan etis adalah salah satu aspek paling penting dalam kehidupan
manusia, terutama bagi individu yang berpegang pada prinsip-prinsip moral dan
spiritual. Dalam konteks ini, keputusan yang diambil tidak hanya memengaruhi diri
sendiri, tetapi juga berdampak pada orang lain dan masyarakat secara keseluruhan.
Oleh karena itu, penting untuk memahami sumber-sumber bantuan yang dapat mendukung
kita dalam mengambil keputusan yang baik, tepat, dan benar.

### I. SUMBER-SUMBER BANTUAN

#### 1. Doa, Ibadah, dan Roh Kudus

Doa dan ibadah merupakan dua sumber utama yang memberikan bimbingan dalam
pengambilan keputusan etis. Dalam pengertian ini, doa bukan hanya sekadar
permohonan kepada Tuhan untuk mendapatkan petunjuk, tetapi juga sebagai cara untuk
memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Menurut Malcolm Brownlee dalam bukunya
"Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya", doa dapat meningkatkan
kemampuan kita untuk mengambil keputusan yang tepat. Dalam sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Pew Research Center, sekitar 55% orang dewasa yang berdoa secara
teratur melaporkan bahwa doa membantu mereka merasa lebih tenang dan mampu
menghadapi masalah (Pew Research Center, 2017).

Roh Kudus juga berperan penting dalam proses pengambilan keputusan. Ia tidak hanya
membimbing pikiran kita, tetapi juga mengubah kehendak kita agar lebih sesuai
dengan kehendak Tuhan. Dalam konteks ini, orang Kristen seharusnya tidak hanya
mengandalkan akal budi, tetapi juga berdoa agar Roh Kudus menerangi pikiran dan
keputusan yang diambil. Hal ini sejalan dengan ajaran Alkitab yang menyatakan bahwa
"Jika ada di antara kamu yang kekurangan hikmat, hendaklah ia meminta kepada Allah"
(Yakobus 1:5).

#### 2. Gereja dan Orang Lain

Keputusan tidak seharusnya diambil secara individual. Orang Kristen adalah bagian
dari persekutuan yang lebih besar, yakni gereja. Dalam konteks ini, dukungan dari
sesama anggota gereja sangat penting. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Barna
Group, 70% orang dewasa yang terlibat dalam komunitas gereja merasa lebih siap
untuk menghadapi tantangan hidup (Barna Group, 2019). Dukungan ini tidak hanya
datang dalam bentuk nasehat, tetapi juga doa dan kasih dari orang-orang seiman.

Di sisi lain, orang Kristen juga perlu terbuka untuk menerima nasihat dari orang-
orang yang bukan seiman. Dalam banyak kasus, mereka mungkin memiliki sudut pandang
yang berbeda dan pengetahuan yang dapat membantu kita melihat situasi dari berbagai
perspektif. Misalnya, dalam isu-isu sosial dan politik, kolaborasi antara orang
Kristen dan non-Kristen dapat menghasilkan solusi yang lebih baik dan lebih
inklusif.

#### 3. Alkitab

Alkitab merupakan sumber utama bimbingan etis. Pengaruhnya tidak terbatas pada
norma-norma moral, tetapi juga mencakup kisah-kisah, ajaran, dan prinsip yang
membentuk iman dan karakter kita. Dalam bukunya, Brownlee menekankan bahwa
pemahaman yang mendalam tentang Alkitab dapat membekali kita untuk mengambil
keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagai contoh, perumpamaan tentang
orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37) mengajarkan kita untuk melihat semua
orang sebagai sesama dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua keputusan dapat diambil berdasarkan
satu atau dua ayat Alkitab. Dalam banyak situasi, kita perlu mempertimbangkan
konteks dan ajaran Alkitab secara keseluruhan. Misalnya, dalam isu-isu seperti
penggunaan tenaga nuklir atau bioteknologi, kita perlu merenungkan nilai-nilai yang
diajarkan Alkitab tentang kehidupan dan kemanusiaan.

#### 4. Bahan Bacaan

Selain Alkitab, membaca bahan bacaan lain juga dapat meningkatkan kemampuan kita
dalam pengambilan keputusan etis. Pengetahuan umum tentang isu-isu sosial, politik,
dan ekonomi sangat penting untuk memahami konteks di mana keputusan diambil.
Menurut laporan dari World Literacy Foundation, tingkat literasi yang tinggi
berhubungan dengan pengambilan keputusan yang lebih baik dalam masyarakat (World
Literacy Foundation, 2018). Oleh karena itu, penting untuk terus memperbarui
pengetahuan kita melalui buku, artikel, dan sumber informasi lainnya.

### II. DARI PERTIMBANGAN MENUJU TINDAKAN

Setelah mempertimbangkan berbagai sumber bantuan, langkah selanjutnya adalah


mengambil tindakan. Namun, kita harus menyadari bahwa tidak ada keputusan yang
sempurna. Dalam banyak kasus, kita harus mengambil keputusan berdasarkan informasi
yang tidak lengkap. Menurut Brownlee, "Kita tidak mungkin selalu mengambil
keputusan yang sempurna. Dalam masalah-masalah yang rumit, kita jarang dapat merasa
yakin sama sekali bahwa pandangan kita benar." Ini menunjukkan bahwa pengambilan
keputusan etis memerlukan keberanian untuk mengambil risiko.

Kita harus percaya bahwa Tuhan mengampuni kesalahan kita, bahkan ketika keputusan
yang diambil tidak tepat. Dalam Roma 5:6, dinyatakan bahwa "Waktu kita masih lemah,
Kristus telah mati untuk kita." Keyakinan ini memberikan kita ketenangan dalam
menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambil. Selain itu, kita juga harus
percaya bahwa Allah memerintah dunia dan dapat menggunakan kesalahan kita untuk
mencapai tujuan-Nya.

Tindakan etis juga merupakan cara untuk memahami lebih dalam tentang kehendak
Tuhan. Seperti yang dinyatakan dalam Yohanes 7:17, "Barangsiapa mau melakukan
kehendak-Nya, ia akan tahu, entah ajaran-Ku berasal dari Allah." Ketaatan kepada
Allah adalah syarat untuk memahami firman-Nya. Oleh karena itu, kita harus berani
mengambil tindakan etis meskipun kita tidak memiliki semua jawaban.

### Kesimpulan

Pengambilan keputusan etis adalah proses yang kompleks dan memerlukan pertimbangan
yang matang. Dengan memanfaatkan sumber-sumber bantuan seperti doa, dukungan dari
gereja, ajaran Alkitab, dan pengetahuan umum, kita dapat mengambil keputusan yang
lebih baik. Namun, pada akhirnya, keputusan tersebut harus diambil dengan
keberanian dan keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita dalam setiap langkah.

Dalam dunia yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian, penting bagi kita untuk
terus belajar dan bertindak. Melalui tindakan etis, kita tidak hanya memperkuat
iman kita, tetapi juga berkontribusi pada kebaikan masyarakat. Seperti yang
dinyatakan oleh Brownlee, "Perbuatan-perbuatan etis dapat menyadarkan kita tentang
kerumitan masalah-masalah moral dan kegigihan kejahatan." Dengan demikian, mari
kita terus berusaha untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan,
demi kebaikan diri kita dan orang lain.

### Referensi

1. Pew Research Center. (2017). "The Role of Prayer in Daily Life."


2. Barna Group. (2019). "The Impact of Church Community on Life Decisions."
3. World Literacy Foundation. (2018). "Literacy and Decision-Making: The Global
Impact."
---

Esai ini memberikan gambaran tentang cara pengambilan keputusan etis dengan
menekankan pentingnya sumber-sumber bantuan yang tersedia. Dengan memanfaatkan
semua sumber ini, kita dapat membuat keputusan yang lebih baik dan lebih sesuai
dengan nilai-nilai yang kita anut.

Anda mungkin juga menyukai