**BAB 6.
LINGKUNGAN SOSIAL: Pengaruh Masyarakat dan Gereja dalam Pengambilan
Keputusan Etis**
**Pendahuluan**
Pengambilan keputusan etis merupakan proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh
berbagai faktor, termasuk lingkungan sosial. Lingkungan sosial mencakup keluarga,
teman, masyarakat, media massa, dan gereja. Setiap elemen ini berkontribusi dalam
membentuk pandangan dan tindakan individu. Dalam esai ini, kita akan membahas
bagaimana pengaruh masyarakat dan gereja sebagai lingkungan Kristen memengaruhi
pengambilan keputusan etis.
**I. PENGARUH MASYARAKAT TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL**
1. **Manusia dalam Masyarakat**
Setiap masyarakat memiliki adat dan norma yang mengatur perilaku anggotanya. Aturan
adat berfungsi sebagai pedoman yang mengarahkan tindakan dan interaksi sosial.
Menurut Brownlee (2021), norma-norma ini tidak hanya mengendalikan perilaku, tetapi
juga memberikan identitas sosial kepada individu. Pranata sosial, seperti keluarga
dan sekolah, berperan dalam mengontrol perilaku positif dan negatif. Misalnya,
dalam masyarakat Indonesia, norma-norma seperti gotong royong dan saling
menghormati sangat dihargai. Namun, ketika individu menyimpang dari norma tersebut,
kontrol sosial dapat berfungsi sebagai mekanisme penertiban, kadang-kadang melalui
kekerasan, meskipun ini merupakan langkah terakhir yang diambil (Brownlee, 2021).
2. **Masyarakat dalam Individu**
Pengaruh masyarakat tidak hanya bersifat eksternal, tetapi juga internal. Norma dan
nilai masyarakat tertanam dalam diri individu, membentuk cara pandang dan perilaku
mereka. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang
menghargai pendidikan cenderung menjadikan pendidikan sebagai prioritas dalam
hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa individu tidak hanya dipengaruhi oleh
lingkungan, tetapi juga menyerap nilai-nilai tersebut ke dalam diri mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki dukungan sosial yang kuat
cenderung lebih resilien dalam menghadapi tantangan hidup (Brownlee, 2021).
3. **Pengaruh Lingkungan sebagai Anugerah Tuhan**
Salah satu aspek positif dari pengaruh lingkungan adalah kemampuan untuk saling
mendukung. Dalam konteks ini, masyarakat berfungsi sebagai sumber kegembiraan dan
sukacita. Keterikatan dengan orang lain memungkinkan individu untuk berbagi
pengalaman, baik suka maupun duka. Misalnya, dalam konteks keluarga, orang tua yang
mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih akan membentuk generasi yang menghargai
hubungan interpersonal. Penelitian menunjukkan bahwa hubungan sosial yang kuat
dapat meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan individu (Brownlee, 2021).
4. **Unsur Negatif dalam Pengaruh Lingkungan**
Meskipun ada banyak manfaat dari pengaruh lingkungan, ada juga sisi negatif yang
perlu diperhatikan. Terkadang, norma-norma masyarakat dapat membatasi kebebasan
berpikir individu. Misalnya, dalam beberapa kelompok, terdapat tekanan untuk
mematuhi pandangan mayoritas, yang dapat menghambat kreativitas dan inovasi.
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang terjebak dalam kelompok yang homogen
cenderung memiliki pandangan yang sempit dan kurang terbuka terhadap perbedaan
(Brownlee, 2021). Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan sikap terbuka
terhadap pandangan yang berbeda.
5. **Lingkungan Mana Bagi Kita?**
a. **Siapa yang Mempengaruhi Kita?**
Kita tidak dapat hidup terlepas dari pengaruh lingkungan. Namun, kita memiliki
kemampuan untuk memperluas lingkungan sosial kita dengan membuka diri kepada
individu-individu yang berbeda. Misalnya, dengan berinteraksi dengan orang-orang
dari latar belakang yang beragam, kita dapat memperluas perspektif dan mengurangi
prasangka. Penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan kelompok yang berbeda
dapat meningkatkan toleransi dan pemahaman antarbudaya (Brownlee, 2021).
b. **Siapakah Sesama Manusia Kita?**
Dalam konteks ajaran Yesus, kita dipanggil untuk memperluas lingkungan orang-orang
yang kita cintai. Kisah tentang Samaria yang baik hati menunjukkan bahwa kita harus
siap membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan, tanpa memandang latar
belakang. Hal ini mencerminkan nilai-nilai kasih dan persatuan yang seharusnya
menjadi landasan dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa
tindakan altruistik dapat meningkatkan kesejahteraan individu dan masyarakat secara
keseluruhan (Brownlee, 2021).
c. **Gereja Sebagai Lingkungan**
Gereja berfungsi sebagai lingkungan yang mendukung individu dalam menghadapi
pengaruh masyarakat yang sering kali bertentangan dengan nilai-nilai Kristen. Dalam
konteks ini, gereja menjadi tempat di mana individu dapat menemukan dukungan
spiritual dan moral. Paulus mengingatkan kita untuk tidak serupa dengan dunia ini,
tetapi tetap hidup dalam norma-norma Kristen. Penelitian menunjukkan bahwa individu
yang terlibat dalam komunitas gereja cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang
lebih tinggi (Brownlee, 2021).
**II. GEREJA SEBAGAI LINGKUNGAN KRISTEN**
1. **Gereja sebagai Jemaat yang Bertanggung Jawab Secara Etis**
Gereja memiliki tanggung jawab kolektif kepada Tuhan dan anggotanya. Setiap
individu dalam jemaat bertanggung jawab untuk saling mendukung dan mengingatkan.
Pengakuan dosa secara kolektif menjadi bagian penting dalam kehidupan gereja,
menciptakan rasa solidaritas dan pengertian di antara anggota. Penelitian
menunjukkan bahwa pengakuan dosa dapat meningkatkan rasa keterhubungan dan
mengurangi stigma (Brownlee, 2021).
2. **Gereja sebagai Jemaat Pengampunan**
Di dalam gereja, kita merasakan kasih karunia Allah yang mengampuni dosa-dosa kita.
Penerimaan terhadap satu sama lain, meskipun dalam keadaan berdosa, menciptakan
ruang untuk pertumbuhan dan pemulihan. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan yang
mendukung dapat membantu individu untuk lebih terbuka dalam mengakui kesalahan dan
mencari pengampunan (Brownlee, 2021).
3. **Gereja sebagai Jemaat Pendidikan Moral**
Gereja berperan dalam mengajarkan nilai-nilai etis melalui ajaran dan pola
hidupnya. Ajaran-ajaran moral yang disampaikan dalam khotbah dan interaksi
antaranggota menjadi alat pengajaran yang efektif. Penelitian menunjukkan bahwa
pendidikan moral yang dilakukan dalam konteks komunitas dapat meningkatkan
pemahaman individu tentang tanggung jawab etis (Brownlee, 2021).
4. **Gereja sebagai Pembentuk Tabiat Moral**
Gereja memiliki peran penting dalam membentuk tabiat moral anggotanya. Melalui
interaksi dan ajaran, norma-norma gereja meresap ke dalam diri individu, membentuk
karakter dan perilaku mereka. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang terlibat
dalam komunitas gereja cenderung lebih memiliki nilai moral yang kuat (Brownlee,
2021).
5. **Gereja sebagai Jemaat Dukungan Moral**
Persekutuan dalam gereja menciptakan dukungan moral yang kuat. Dalam menghadapi
tantangan hidup, anggota gereja saling menguatkan dan mendukung satu sama lain.
Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial yang kuat dapat meningkatkan ketahanan
individu dalam menghadapi stres (Brownlee, 2021).
6. **Gereja sebagai Jemaat Diskusi Moral**
Gereja menyediakan ruang untuk diskusi etis yang konstruktif. Dalam pertemuan-
pertemuan, anggota gereja dapat bertukar pikiran tentang isu-isu etis yang relevan,
mencari bimbingan dari Alkitab dan ajaran gereja. Penelitian menunjukkan bahwa
diskusi yang terbuka dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran moral di antara
anggota (Brownlee, 2021).
7. **Gereja sebagai Jemaat Perbuatan Moral**
Gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai agen
perubahan sosial. Melalui tindakan nyata, gereja dapat mempengaruhi nilai-nilai
masyarakat dan membantu mereka yang membutuhkan. Penelitian menunjukkan bahwa
gereja yang aktif dalam kegiatan sosial dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat
dan memperkuat ikatan sosial (Brownlee, 2021).
**Kesimpulan**
Pengaruh masyarakat dan gereja sebagai lingkungan Kristen sangat signifikan dalam
pengambilan keputusan etis. Masyarakat membentuk pandangan dan perilaku individu,
sementara gereja memberikan dukungan spiritual dan moral yang diperlukan untuk
menghadapi tantangan kehidupan. Penting bagi individu untuk menyadari pengaruh
lingkungan sosial dan aktif terlibat dalam komunitas yang mendukung nilai-nilai
etis. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih baik dan sesuai
dengan kehendak Tuhan.
**Referensi**
Brownlee, M. (2021). *Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya*.
[Nama Penerbit, jika ada].
Esai ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai bagaimana
lingkungan sosial, baik masyarakat maupun gereja, mempengaruhi pengambilan
keputusan etis dalam kehidupan kita sehari-hari.