0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan18 halaman

KPK: Tugas dan Tantangan Pemberantasan Korupsi

Diunggah oleh

jasmanim503
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan18 halaman

KPK: Tugas dan Tantangan Pemberantasan Korupsi

Diunggah oleh

jasmanim503
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

ADILKAH KPK

Makalah diajukan untuk didiskusikan


Pada mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi

Dosen Pengampu :
Muttaqin, M. Pd.I

Disusun Oleh :
Diah Agustiana

YAYASAN NURUL ISLAM (YASNI)


INSTITUT AGAMA ISLAM
MUARA BUNGO
T.A 2022
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai, Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin
masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Bungo, Mei 2022


Penyusun

Diah Agustiana

ii
3

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1


A. Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan Pembahasan .......................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3


A. Pengertian KPK ................................................................................ 3
B. Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi di Indonesia ............... 3
C. Tugas dan Kewenangan KPK ........................................................... 6
D. Faktor-Faktor Keberhasilan dan Kegagalan Komisi Pemberantasan
Korupsi............................................................................................... 11
E. Kendala dalam Penindakan Korupsi .................................................. 12

BAB III PENUTUP ........................................................................................ 13


A. Kesimpulan ....................................................................................... 13
B. Saran .................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 15

iii
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Korupsi dikategorikan sebagai salah satu kejahatan luarbiasa (extra

ordinary crime). Korupsi yang terjadi di lembaga pemerintahan dapat

menimbulkan kerugian keuangan Negara dan dapat menyengsarakan rakyat.

Adapun korupsi di sector swasta (perusahaan) dapat menimbulkan kehancuran

atas perusahaan tersebut yang pada akhirnya dapat berimbas pada kesengsaraan

rakyat juga.1

Dalam konteks korupsi sebagai kejahatan luar biasa, diperlukan

pencegahan dan usaha penanganan yang luar biasa juga. Diperlukan tekad dan

usaha yang kuat dari semua elemen bangsa, baik penyelenggara pemerintahan

maupun masyarakat luas secara keseluruhan. Ini merupakan usaha dan

tanggungjawab yang sangat besar. Dalam konteks ini, seluruh lapisan

masyarakat harus dibekali pengetahuan tentang korupsi, bahayanya, serta upaya

pencegahan dan pemberantasannya.

Saat ini, perlu ada reposisi atas perspektif atau cara pandang masyarakat

terhadap korupsi dan upaya–upaya pemberantasannya. Yang kita lihat, sebagian

besar masyarakat hanya sibuk menghujat dan berteriak atas perilaku atau

peristiwa korupsi yang terjadi di Indonesia. Perlu ada langkah yang lebih

konkret dari seluruh lapisan masyarakat dalam upaya pencegahan dan

pemberantasan kejahatan korupsi. Pada tataran yang lebih besar adalah peran

1
M. Arief Amrullah, Kejahatan Korporasi, (Malang: Bayu media, 2006), h. 27

1
2

serta masyarakat untuk tidak melakukan tindak kejahatan korupsi di manapun

kita bekerja, di strata apapun kita berada.

Secara harafiah, Komisi Pemberantasan Korupsi adalah Lembaga yang

bergerak dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Namun berdasarkan

Pasal 6 UU No. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi, tugas KPK tidak hanya dalam hal pemeberantasan saja, tetapi juga

melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan

pemberantasan tindak pidana korupsi, melakukan supervise terhadap instansi

yang berwenang melakukan pemberanatasan tindak pidana korupsi, melakukan

penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, dan

melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan Negara.

B. Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari KPK ?

2. Bagaimana keberadaan KPK di Indonesia ?

3. Apa saja tugas dan kewenangan KPK ?

4. Apa saja Faktor-Faktor Keberhasilan dan Kegagalan KPK ?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui definisi dari KPK;

2. Mengetahui bagaimana keberadaan KPK di Indonesia;

3. Mengetahui tugas dan kewenangan KPK;

4. Mengetahui factor-faktor keberhasilan dan kegagalan KPK.


3

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian KPK

Menurut UU No.30 Pasal 2 dan 3 Tahun 2002, Komisi Pemberantasan

Korupsi (KPK) adalah lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan

wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan

manapun. Pemberantasan TIPIKOR berdasarkan pasal 1 ayat (3) UU No.30

Tahun 2002 adalah :

“serangkaian tindakan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana

korupsi melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan,

penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan, dengan peran serta

masyarakat berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku.”

Dasar hukum pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi ditetapkan

secara tegas dalam pasal 2, UU RI No.30 Tahun 2002 yang berbunyi “ dengan

Undang – undang ini dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

yang untuk selanjutnya disebut Komisi Pemberantasan Korupsi.” Namun,

efektif terbentuknya KPK pada tanggal 29 Desember 2003.2

B. Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Usaha untuk memberantas korupsi sudah menjadi masalah global bukan

lagi nasional atau regional. Ada usaha terutama desakan rakyat agar korupsi

diberantas habis sehingga jika perlu digunakan hukum darurat, seperti pidana

2
Husein, Yunus. Tulisan Mengenai Pendapat Pribadi tentang Kerugian Negara dalam UNCAC.
Dikutip dari Sindo, 29 Mei 2022.

3
4

yang berat, sistem pembalikan beban pembuktian, pembebasan, penanganan

korupsi dari instansi pemerintah kepada suatu badan independen yang terjamin

kredibilitasnya dan integritasnya.

Upaya untuk dapat melaksanakan pemberantasan korupsi secara efektif

dan efisien salah satunya adalah melalui penerapan Sistem Pembalikan Beban

Pembuktian dan pembentukan suatu badan atau lembaga khusus yang

independen dalam rangka pemberantasan tindak pidana korupsi yang disebut

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).3

Di Indonesia lembaga Khusus pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

telah dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang Komisi

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) adalah lembaga Negara yang

dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas

dari pengaruh kekuasaan manapun. KPK dibentuk dengan tujuan meningkatkan

daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.

Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, KPK berasaskan pada, kepastian

hukum, keterbukaan akuntabilitas, kepentingan umum, dan proporsionalitas.

Organisasi KPK di Indonesia terdiri atas Pimpinan yaitu seorang Ketua

merangkap anggota dan empat orang Wakil Ketua merangkap anggota, Tim

Penasehat terdiri dari empat orang. Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai

4 (empat) bidang, yaitu:

1. Deputi Bidang Pencegahan;

2. Deputi Bidang Penindakan;

3
I.S. Susanto. Kejahatan Korporasi, (Semarang: Universitas Diponegoro, 1995), h. 12
5

3. Deputi Bidang Informasi dan Data, dan

4. Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat.

Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dipilih lewat panitia

seleksi yang diajukan ke DPR untuk dipilih dan kemudian diangkat dan

dilantik Presiden dan KPK dibantu Sekretaris Jenderal yang diangkat dan

diberhentikan oleh Presiden. KPK bertanggung jawab kepada publik dan

laporan tertulis secara terbuka dan berkala kepada Presiden Republik

Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Badan

Pemeriksa Keuangan (Pasal 20 UU No. 30 tahun 2002), dan KPK

mempunyai tugas dan kewenangan (Pasal 6 UU no. 30 tahun 2002).

Dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki oleh KPK, maka KPK

merupakan ujung tombak pemberantasan korupsi di Indonesia. Sehubungan

hal tersebut, Visi KPK adalah “Mewujudkan Indonesia yang bebas

Korupsi”. Visi ini menunjukkan suatu tekad kuat dari KPK untuk segara

instan kemanapun diperlukan suatu penanganan yang komprehensif dan

sistimatis. Sedangkan misi KPK adalah “Penggerak Perubahan untuk

Mewujudkan Bangsa yang Anti Korupsi”, Dengan pernyataan misi tersebut

diharapkan bahwa KPK merupakan suatu lembaga yang dapat

membudayakan anti korupsi di masyarakat, pemerintah dan swasta di

Indonesia.

Dari aspek organisasi sesuai dengan Lampiran Keputusan Pimpinan

KPK No. KEP-07/ KKPK02/2004 Tanggal 10 Februari 2004, KPK

dipimpin oleh seorang Ketua dan terdiri dari Deputi Bidang pencegahan,
6

Deputi Bidang Penindakan, Deputi Bidang Informasi dan Data, Deputi

Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan masyarakat dan Sekretariat

Jenderal.

C. Tugas dan Kewenangan KPK

Menurut ketentuan Pasal 6 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 Komisi

Pemberantasan Korupsi (KPK) mempunyai tugas dan wewenang sebagai

berikut:

1. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan

tindak pidana korupsi yang berwenang melakukan:

a. Mengkoordinasi penyelidikan, penyidikan dan penuntutan tindak pidana

korupsi;

b. Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak

pidana korupsi;

c. Meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana

korupsi kepada instansi yang terkait;

d. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang

berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi;

e. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana

korupsi.4

2. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan

tindak pidana korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang:

4
Bona P. Purba, Fraud dan Korupsi (Pencegahan, Pendeteksian, dan Lestari Pemberantasannya,
(Bandung: Lestari liranatama, 2015), h. 7
7

a. Melakukan pengawasan, penelitian, atau penelaahan terhadap instansi

yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan

pemberantasan tindak pidana korupsi, dan instansi dalam melaksanakan

pelayanan publik;

b. Mengambil alih penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku tindak

pidana korupsi yang sedang dilakukan oleh Kepolisian atau Kejaksaan;

c. Dalam hal Komisi Pemberantasan Korupsi mengambil alih penyidikan

atau penuntutan, Kepolisan atau kejaksaan wajib menyerahkan

tersangka dan seluruh berkas perkara beserta alat bukti dan dokumen

lain yang diperlukan dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari

kerja, terhitung sejak diterimanya permintaaan Komisi Pemberantasan

Korupsi.

d. Penyerahan tersangka dan seluruh berkas perkara beserta alat bukti dan

dokumen lain dilakukan dengan membuat dan menandatangani berita

acara penyerahan sehingga segala tugas dan kewenangan Kepolisian dan

kejaksaaan pada saat penyerahan tersebut beralih kepada Komisi

Pemberantasan Korupsi. Adapun alasan-alasan pengambil alihan

penyelidikan dan penyidikan, dan penuntutan tersebut dilakukan oleh

Komisi Pemberantasan Korupsi dengan alasan:

e. Laporan masyarakat mengenai tindak pidana korupsi tidak ditindak

lanjuti;

f. Proses penanganan tindak pidana korupsi secara berlarut-larut atau

tertunda-tunda tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan;


8

g. Penanganan tindak pidana korupsi ditujukan untuk melindungi pelaku

tindak pidana korupsi yang sesungguhnya;

h. Penanganan tindak pidana korupsi mengandung unsur korupsi;

i. Hambatan penanganan tindak pidana korupsi karena campur tangan dari

eksekutif, yudikatif, atau legislatif; atau

j. Keadaan lain yang menurut pertimbangan Kepolisian atau Kejaksaan

penanganan tindak pidana korupsi sulit dilaksanakan secara baik dan

dapat dipertanggungjawabkan.5

3. Melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap tindak

pidana korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara

Negara dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi

yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara Negara

yang mendapat perhatian meresahkan masyarakat dan/atau menyangkut

kerugian Negara paling sedikit Rp. [Link],- (satu milyar rupiah) dan

terhadap aspek ini, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang:

a. Memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk melarang seseorang

untuk bepergian keluar negeri;

b. Meminta melakukan penyadapan dan merekampembicaraan;

c. Memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk melarang seseorang

bepergian dan meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan

5
Lilik Mulyadi, Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: Alumni, 2017),
h. 59
9

lainnya tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang

diperiksa;

d. Meminta kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir

rekening yang diduga hasil dari korupsi milik terdakwa. Atau pihak lain

yang terkait;

e. Memerintahkan kepada pimpinan atau alasan tersangka untuk

memberhentikan sementara tersangka dari jabatannya;

f. Meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa

kepada instansi yang terkait;

g. Menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi

perdagangan, dan perjanjian lainnya atau mencabut sementara perizinan

lisensi serta konsepsi yang dilakukan atau dimiliki oleh tersangka atau

terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal yang cukup ada

hubungannya dengan tindak pidana korupsi yang sedang diperiksa;

h. Meminta bantuan Interpol Indonesia atau instansi penegak hukum

Negara lain untuk melakukan pencarian, pengkapan, dan penyitaan

barang bukti di luar negeri;

i. Meminta bantuan Kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk

melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan

dalam perkara tindak pidana korupsi yang sedang ditangani.6

6
Lilik Mulyadi, Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: Alumni, 2017),
h. 60-61
10

4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi sehingga

KPK berwenang:

a. Melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta

kekayaan penyelenggara Negara;

b. Menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi;

c. Menyelenggarakan program pendidikan anti korupsi pada setiap jenjang

pendidikan; pemberantasan tindak pidana korupsi;

d. Melakukan kampanye anti korupsi kepada masyarakat umum;

e. Melakukan kerjasama bilateral atau multilateral dalam pemberantasan

tindak pidana korupsi.7

5. Melakukan monitor terhadap penyelenggara pemerintahan Negara sehingga

KPK berwenang:

a. Melakukan pengkajian terhadap sistem pengelolaan administrasi

disemua lembaga Negara dan pemerintah;

b. Memberi saran kepada pimpinan lembaga Negara dan pemerintah untuk

melakukan perubahan jika berdasarkan hasil pengkajian, sistem

pengelolaan administrasi tersebut berpotensi korupsi;

c. Melaporkan kepada Presiden Republik Indonesia, Dewan Perwakilan

Rakyat Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah dan Badan Pemeriksa

Keuangan, jika saran Komisi Pemberantasan Korupsi mengenai usulan

perubahan tersebut tidak di Indahkan.8

7
Rudi Pardede, Proses Pengembalian Kerugian Negara Akibat korupsi, (Yogyakarta: Genta
Publising, 2017), h. 88
8
Lilik Mulyadi, Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: Alumni, 2017),
h. 62-63
11

D. Faktor-Faktor Keberhasilan dan Kegagalan Komisi Pemberantasan

Korupsi

Keberhasilan dan kegagalan KPK dapat dipengaruhi oleh berbagai

faktor. Alain Doig, David Watt dan Robert William sebagaimana dikutip oleh

KPK (2006) dalam studinya mengidentifikasi beberapa faktor yang

mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan lembaga anti korupsi antara lain

dapat disimpulkan bahwa keberadaan KPK bukanlah solusi akhir bagi

pemberantasan korupsi harus didukung oleh komitmen nasional baik politik,

sosial, dan publik dari semua pihak tanpa kecuali. Disamping itu adanya

anggaran yang memadai, sumber daya manusia yang professional dan landasan

hukum yang memberikan kewenangan penuh bagi lembaga KPK untuk

bertindak merupakan faktor keberhasilan dalam pemberantasan korupsi.9

Meskipun demikian keberadaan KPK tentu saja tidak terlepas dari

kelebihan dan kelemahannya. UNDOC sebagaimana telah dikutip oleh KPK

menjelaskan sejumlah kelebihan dan kelemahan dari adanya KPK di suatu

Negara dapat disimpulkan bahwa keberadaan KPK memiliki banyak kelebihan

dibandingkan kelemahannya. Oleh karena itu, keberadaan KPK merupakan

suatu keharusan dan salah satu syarat keberhasilan strategi pemberantasan

korupsi di suatu Negara. Sedangkan kelemahan yang ada harus diantisipasi agar

keberadaan KPK tidak surut langkah dalam memberantas korupsi.

9
Marshall B. Clinard dan Peter C. Yeager. Corporate Crime, (New York: The Free Press, 2010), p.
42
12

E. Kendala dalam Penindakan Korupsi

Kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus-

kasus korupsi di Indonesia bukan hanya terletak pada KPK saja. Saat ini di

Indonesia, terdapat lembaga Kepolisian Republik Indonesia dan Kejaksaan

Republik Indonesia yang juga memiliki kewenangan yang sama dalam hal

penyelidikan dan penyidikan kasus korupsi. Kejaksaan bahkan memiliki

kewenangan melakukan penuntutan di pengadilan.

Tersebarnya kewenangan di sejumlah lembaga peradilan di Indonesia

ini memiliki konsekuensi tertentu yang dapat berimplikasi positif maupun

negatif. Implikasi positifnya antara lain adalah kasus-kasus korupsi dapat cepat

ditangani tanpa harus menunggu tindakan dari suatu lembaga tertentu. Implikasi

negatif dari tumpang tindihnya kewenangan penindakan korupsi di Indonesia

yaitu sering terjadinya perbedaan interpretasi terhadap suatu kasus korupsi.

Masing-masing lembaga, baik KPK, Kejaksaan dan kepolisian sering memiliki

persepsi yang bereda dalam menindak pelaku korupsi, sebagai contoh

penuntutan yang diajukan oleh masing-masing lembaga di peradilan tidak

seragam. Masing-masing memiliki argumentasinya sendiri-sendiri sehingga

terkadang putusan hukuman di lembaga peradilan atas kasus-kasus korupsi

relatif kurang objektif dan tidak memuaskan rasa keadilan di masyarakat.


13

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Bahwa dalam menjalankan pencegahan korupsi KPK menggunakan

prinsip supply and demand yang diaplikasikan pada beberapa strategi taktis

terkait dengan pencegahan, strategi tersebut melakukan perbaikan fokus area

terintegrasi, pelembagaan sistem integrasi nasional (SIN), dukungan,

pembangunan training centre, penguatan komponen sistem politik, revitalisasi

LHKN dan gratifikasi, pengukuran kinerja pencegahan, efektifitas perencanaan

anggaran.

Strategi tersebut kemudian diaplikasikan guna mencapai pencegahan

terhadap korupsi sehingga angka korupsi diIndonesia dapat ditekan walaupun

akan sangatsulit untuk menghilangkan sama sekali praktek korupsi di

Indonesia. Keberhasilan peran Komisi Pemberantas Korupsi dalam pencegahan

dan pemberantasan korupsi adalah karena KPK mempunyai kewenangan

pengambilalihan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan yang dilakukan oleh

kepolisian dan kejaksaan.

Selain itu KPK juga mempunyai kewenangan “Luar Biasa” sebagai

lembaga superbody dalam pemberantasan korupsi. Kewenangan yang diberikan

oleh UU No 30 Tahun 2002 ini sebenarnya merupakan upaya dan strategi

negara dalam mendukung secara total upaya KPK dalam pemberantasan

korupsi di Indonesia.

13
14

B. Saran

Dalam pembuatan makalah ini kami menyadari banyak sekali

kekurangan, untuk itu kami meminta kritik dan sarannya agar dapat

memperbaiki segala kekurangan yang ada. Tidak lupa kami ucapkan terima

kasih kepada pihak yang telah ikut andil di dalam pembuatan makalah ini.
15

DAFTAR PUSTAKA

Bona P. Purba, (2015). Fraud dan Korupsi (Pencegahan, Pendeteksian, dan Lestari
Pemberantasannya, Lestari liranatama.

Husein, Yunus. Tulisan Mengenai Pendapat Pribadi tentang Kerugian Negara


dalam UNCAC. Dikutip dari Sindo, 29 Mei 2022.

I.S. Susanto. (1995). Kejahatan Korporasi, Semarang: Universitas Diponegoro.

J.E. Sahetapy. (1994). Kejahatan Korporasi, Bandung: Eresco 1994.

M. Arief Amrullah, (2006). Kejahatan Korporasi, Malang: Bayu media.

Marshall B. Clinard dan Peter C. Yeager. (2010). Corporate Crime, New York: The
Free Press.

Rudi Pardede, (2017). Proses Pengembalian Kerugian Negara Akibat korupsi,


Yogyakarta: Genta Publising.

Tjandra Sridjaya Pradjoinggo, Disertasi: Fungsi negative sifat melawan hukum


materiil dalam tindak pidana korupsi (The Negative Fungction of
Substantive Unlawful Within Corruption), Program studi Doktor Ilmu
Hukum Program Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya,
2007.

Lilik Mulyadi, (2007). Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi,


Bandung: Alumni.

IGM. Nurdjana, (2013). Korupsi Dalam Praktek Bisnis, Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.

Anda mungkin juga menyukai