1
ADILKAH KPK
Makalah diajukan untuk didiskusikan
Pada mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi
Dosen Pengampu :
Muttaqin, M. Pd.I
Disusun Oleh :
Diah Agustiana
YAYASAN NURUL ISLAM (YASNI)
INSTITUT AGAMA ISLAM
MUARA BUNGO
T.A 2022
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai, Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin
masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
Bungo, Mei 2022
Penyusun
Diah Agustiana
ii
3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan Pembahasan .......................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3
A. Pengertian KPK ................................................................................ 3
B. Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi di Indonesia ............... 3
C. Tugas dan Kewenangan KPK ........................................................... 6
D. Faktor-Faktor Keberhasilan dan Kegagalan Komisi Pemberantasan
Korupsi............................................................................................... 11
E. Kendala dalam Penindakan Korupsi .................................................. 12
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 13
A. Kesimpulan ....................................................................................... 13
B. Saran .................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 15
iii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Korupsi dikategorikan sebagai salah satu kejahatan luarbiasa (extra
ordinary crime). Korupsi yang terjadi di lembaga pemerintahan dapat
menimbulkan kerugian keuangan Negara dan dapat menyengsarakan rakyat.
Adapun korupsi di sector swasta (perusahaan) dapat menimbulkan kehancuran
atas perusahaan tersebut yang pada akhirnya dapat berimbas pada kesengsaraan
rakyat juga.1
Dalam konteks korupsi sebagai kejahatan luar biasa, diperlukan
pencegahan dan usaha penanganan yang luar biasa juga. Diperlukan tekad dan
usaha yang kuat dari semua elemen bangsa, baik penyelenggara pemerintahan
maupun masyarakat luas secara keseluruhan. Ini merupakan usaha dan
tanggungjawab yang sangat besar. Dalam konteks ini, seluruh lapisan
masyarakat harus dibekali pengetahuan tentang korupsi, bahayanya, serta upaya
pencegahan dan pemberantasannya.
Saat ini, perlu ada reposisi atas perspektif atau cara pandang masyarakat
terhadap korupsi dan upaya–upaya pemberantasannya. Yang kita lihat, sebagian
besar masyarakat hanya sibuk menghujat dan berteriak atas perilaku atau
peristiwa korupsi yang terjadi di Indonesia. Perlu ada langkah yang lebih
konkret dari seluruh lapisan masyarakat dalam upaya pencegahan dan
pemberantasan kejahatan korupsi. Pada tataran yang lebih besar adalah peran
1
M. Arief Amrullah, Kejahatan Korporasi, (Malang: Bayu media, 2006), h. 27
1
2
serta masyarakat untuk tidak melakukan tindak kejahatan korupsi di manapun
kita bekerja, di strata apapun kita berada.
Secara harafiah, Komisi Pemberantasan Korupsi adalah Lembaga yang
bergerak dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Namun berdasarkan
Pasal 6 UU No. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi, tugas KPK tidak hanya dalam hal pemeberantasan saja, tetapi juga
melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan
pemberantasan tindak pidana korupsi, melakukan supervise terhadap instansi
yang berwenang melakukan pemberanatasan tindak pidana korupsi, melakukan
penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, dan
melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan Negara.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari KPK ?
2. Bagaimana keberadaan KPK di Indonesia ?
3. Apa saja tugas dan kewenangan KPK ?
4. Apa saja Faktor-Faktor Keberhasilan dan Kegagalan KPK ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui definisi dari KPK;
2. Mengetahui bagaimana keberadaan KPK di Indonesia;
3. Mengetahui tugas dan kewenangan KPK;
4. Mengetahui factor-faktor keberhasilan dan kegagalan KPK.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian KPK
Menurut UU No.30 Pasal 2 dan 3 Tahun 2002, Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) adalah lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan
manapun. Pemberantasan TIPIKOR berdasarkan pasal 1 ayat (3) UU No.30
Tahun 2002 adalah :
“serangkaian tindakan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana
korupsi melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan,
penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan, dengan peran serta
masyarakat berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku.”
Dasar hukum pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi ditetapkan
secara tegas dalam pasal 2, UU RI No.30 Tahun 2002 yang berbunyi “ dengan
Undang – undang ini dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
yang untuk selanjutnya disebut Komisi Pemberantasan Korupsi.” Namun,
efektif terbentuknya KPK pada tanggal 29 Desember 2003.2
B. Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi di Indonesia
Usaha untuk memberantas korupsi sudah menjadi masalah global bukan
lagi nasional atau regional. Ada usaha terutama desakan rakyat agar korupsi
diberantas habis sehingga jika perlu digunakan hukum darurat, seperti pidana
2
Husein, Yunus. Tulisan Mengenai Pendapat Pribadi tentang Kerugian Negara dalam UNCAC.
Dikutip dari Sindo, 29 Mei 2022.
3
4
yang berat, sistem pembalikan beban pembuktian, pembebasan, penanganan
korupsi dari instansi pemerintah kepada suatu badan independen yang terjamin
kredibilitasnya dan integritasnya.
Upaya untuk dapat melaksanakan pemberantasan korupsi secara efektif
dan efisien salah satunya adalah melalui penerapan Sistem Pembalikan Beban
Pembuktian dan pembentukan suatu badan atau lembaga khusus yang
independen dalam rangka pemberantasan tindak pidana korupsi yang disebut
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).3
Di Indonesia lembaga Khusus pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
telah dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) adalah lembaga Negara yang
dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas
dari pengaruh kekuasaan manapun. KPK dibentuk dengan tujuan meningkatkan
daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.
Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, KPK berasaskan pada, kepastian
hukum, keterbukaan akuntabilitas, kepentingan umum, dan proporsionalitas.
Organisasi KPK di Indonesia terdiri atas Pimpinan yaitu seorang Ketua
merangkap anggota dan empat orang Wakil Ketua merangkap anggota, Tim
Penasehat terdiri dari empat orang. Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai
4 (empat) bidang, yaitu:
1. Deputi Bidang Pencegahan;
2. Deputi Bidang Penindakan;
3
I.S. Susanto. Kejahatan Korporasi, (Semarang: Universitas Diponegoro, 1995), h. 12
5
3. Deputi Bidang Informasi dan Data, dan
4. Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat.
Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dipilih lewat panitia
seleksi yang diajukan ke DPR untuk dipilih dan kemudian diangkat dan
dilantik Presiden dan KPK dibantu Sekretaris Jenderal yang diangkat dan
diberhentikan oleh Presiden. KPK bertanggung jawab kepada publik dan
laporan tertulis secara terbuka dan berkala kepada Presiden Republik
Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Badan
Pemeriksa Keuangan (Pasal 20 UU No. 30 tahun 2002), dan KPK
mempunyai tugas dan kewenangan (Pasal 6 UU no. 30 tahun 2002).
Dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki oleh KPK, maka KPK
merupakan ujung tombak pemberantasan korupsi di Indonesia. Sehubungan
hal tersebut, Visi KPK adalah “Mewujudkan Indonesia yang bebas
Korupsi”. Visi ini menunjukkan suatu tekad kuat dari KPK untuk segara
instan kemanapun diperlukan suatu penanganan yang komprehensif dan
sistimatis. Sedangkan misi KPK adalah “Penggerak Perubahan untuk
Mewujudkan Bangsa yang Anti Korupsi”, Dengan pernyataan misi tersebut
diharapkan bahwa KPK merupakan suatu lembaga yang dapat
membudayakan anti korupsi di masyarakat, pemerintah dan swasta di
Indonesia.
Dari aspek organisasi sesuai dengan Lampiran Keputusan Pimpinan
KPK No. KEP-07/ KKPK02/2004 Tanggal 10 Februari 2004, KPK
dipimpin oleh seorang Ketua dan terdiri dari Deputi Bidang pencegahan,
6
Deputi Bidang Penindakan, Deputi Bidang Informasi dan Data, Deputi
Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan masyarakat dan Sekretariat
Jenderal.
C. Tugas dan Kewenangan KPK
Menurut ketentuan Pasal 6 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) mempunyai tugas dan wewenang sebagai
berikut:
1. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan
tindak pidana korupsi yang berwenang melakukan:
a. Mengkoordinasi penyelidikan, penyidikan dan penuntutan tindak pidana
korupsi;
b. Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak
pidana korupsi;
c. Meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana
korupsi kepada instansi yang terkait;
d. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang
berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi;
e. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana
korupsi.4
2. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan
tindak pidana korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang:
4
Bona P. Purba, Fraud dan Korupsi (Pencegahan, Pendeteksian, dan Lestari Pemberantasannya,
(Bandung: Lestari liranatama, 2015), h. 7
7
a. Melakukan pengawasan, penelitian, atau penelaahan terhadap instansi
yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan
pemberantasan tindak pidana korupsi, dan instansi dalam melaksanakan
pelayanan publik;
b. Mengambil alih penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku tindak
pidana korupsi yang sedang dilakukan oleh Kepolisian atau Kejaksaan;
c. Dalam hal Komisi Pemberantasan Korupsi mengambil alih penyidikan
atau penuntutan, Kepolisan atau kejaksaan wajib menyerahkan
tersangka dan seluruh berkas perkara beserta alat bukti dan dokumen
lain yang diperlukan dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari
kerja, terhitung sejak diterimanya permintaaan Komisi Pemberantasan
Korupsi.
d. Penyerahan tersangka dan seluruh berkas perkara beserta alat bukti dan
dokumen lain dilakukan dengan membuat dan menandatangani berita
acara penyerahan sehingga segala tugas dan kewenangan Kepolisian dan
kejaksaaan pada saat penyerahan tersebut beralih kepada Komisi
Pemberantasan Korupsi. Adapun alasan-alasan pengambil alihan
penyelidikan dan penyidikan, dan penuntutan tersebut dilakukan oleh
Komisi Pemberantasan Korupsi dengan alasan:
e. Laporan masyarakat mengenai tindak pidana korupsi tidak ditindak
lanjuti;
f. Proses penanganan tindak pidana korupsi secara berlarut-larut atau
tertunda-tunda tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan;
8
g. Penanganan tindak pidana korupsi ditujukan untuk melindungi pelaku
tindak pidana korupsi yang sesungguhnya;
h. Penanganan tindak pidana korupsi mengandung unsur korupsi;
i. Hambatan penanganan tindak pidana korupsi karena campur tangan dari
eksekutif, yudikatif, atau legislatif; atau
j. Keadaan lain yang menurut pertimbangan Kepolisian atau Kejaksaan
penanganan tindak pidana korupsi sulit dilaksanakan secara baik dan
dapat dipertanggungjawabkan.5
3. Melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap tindak
pidana korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara
Negara dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi
yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara Negara
yang mendapat perhatian meresahkan masyarakat dan/atau menyangkut
kerugian Negara paling sedikit Rp. [Link],- (satu milyar rupiah) dan
terhadap aspek ini, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang:
a. Memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk melarang seseorang
untuk bepergian keluar negeri;
b. Meminta melakukan penyadapan dan merekampembicaraan;
c. Memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk melarang seseorang
bepergian dan meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan
5
Lilik Mulyadi, Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: Alumni, 2017),
h. 59
9
lainnya tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang
diperiksa;
d. Meminta kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir
rekening yang diduga hasil dari korupsi milik terdakwa. Atau pihak lain
yang terkait;
e. Memerintahkan kepada pimpinan atau alasan tersangka untuk
memberhentikan sementara tersangka dari jabatannya;
f. Meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa
kepada instansi yang terkait;
g. Menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi
perdagangan, dan perjanjian lainnya atau mencabut sementara perizinan
lisensi serta konsepsi yang dilakukan atau dimiliki oleh tersangka atau
terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal yang cukup ada
hubungannya dengan tindak pidana korupsi yang sedang diperiksa;
h. Meminta bantuan Interpol Indonesia atau instansi penegak hukum
Negara lain untuk melakukan pencarian, pengkapan, dan penyitaan
barang bukti di luar negeri;
i. Meminta bantuan Kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk
melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan
dalam perkara tindak pidana korupsi yang sedang ditangani.6
6
Lilik Mulyadi, Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: Alumni, 2017),
h. 60-61
10
4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi sehingga
KPK berwenang:
a. Melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta
kekayaan penyelenggara Negara;
b. Menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi;
c. Menyelenggarakan program pendidikan anti korupsi pada setiap jenjang
pendidikan; pemberantasan tindak pidana korupsi;
d. Melakukan kampanye anti korupsi kepada masyarakat umum;
e. Melakukan kerjasama bilateral atau multilateral dalam pemberantasan
tindak pidana korupsi.7
5. Melakukan monitor terhadap penyelenggara pemerintahan Negara sehingga
KPK berwenang:
a. Melakukan pengkajian terhadap sistem pengelolaan administrasi
disemua lembaga Negara dan pemerintah;
b. Memberi saran kepada pimpinan lembaga Negara dan pemerintah untuk
melakukan perubahan jika berdasarkan hasil pengkajian, sistem
pengelolaan administrasi tersebut berpotensi korupsi;
c. Melaporkan kepada Presiden Republik Indonesia, Dewan Perwakilan
Rakyat Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah dan Badan Pemeriksa
Keuangan, jika saran Komisi Pemberantasan Korupsi mengenai usulan
perubahan tersebut tidak di Indahkan.8
7
Rudi Pardede, Proses Pengembalian Kerugian Negara Akibat korupsi, (Yogyakarta: Genta
Publising, 2017), h. 88
8
Lilik Mulyadi, Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: Alumni, 2017),
h. 62-63
11
D. Faktor-Faktor Keberhasilan dan Kegagalan Komisi Pemberantasan
Korupsi
Keberhasilan dan kegagalan KPK dapat dipengaruhi oleh berbagai
faktor. Alain Doig, David Watt dan Robert William sebagaimana dikutip oleh
KPK (2006) dalam studinya mengidentifikasi beberapa faktor yang
mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan lembaga anti korupsi antara lain
dapat disimpulkan bahwa keberadaan KPK bukanlah solusi akhir bagi
pemberantasan korupsi harus didukung oleh komitmen nasional baik politik,
sosial, dan publik dari semua pihak tanpa kecuali. Disamping itu adanya
anggaran yang memadai, sumber daya manusia yang professional dan landasan
hukum yang memberikan kewenangan penuh bagi lembaga KPK untuk
bertindak merupakan faktor keberhasilan dalam pemberantasan korupsi.9
Meskipun demikian keberadaan KPK tentu saja tidak terlepas dari
kelebihan dan kelemahannya. UNDOC sebagaimana telah dikutip oleh KPK
menjelaskan sejumlah kelebihan dan kelemahan dari adanya KPK di suatu
Negara dapat disimpulkan bahwa keberadaan KPK memiliki banyak kelebihan
dibandingkan kelemahannya. Oleh karena itu, keberadaan KPK merupakan
suatu keharusan dan salah satu syarat keberhasilan strategi pemberantasan
korupsi di suatu Negara. Sedangkan kelemahan yang ada harus diantisipasi agar
keberadaan KPK tidak surut langkah dalam memberantas korupsi.
9
Marshall B. Clinard dan Peter C. Yeager. Corporate Crime, (New York: The Free Press, 2010), p.
42
12
E. Kendala dalam Penindakan Korupsi
Kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus-
kasus korupsi di Indonesia bukan hanya terletak pada KPK saja. Saat ini di
Indonesia, terdapat lembaga Kepolisian Republik Indonesia dan Kejaksaan
Republik Indonesia yang juga memiliki kewenangan yang sama dalam hal
penyelidikan dan penyidikan kasus korupsi. Kejaksaan bahkan memiliki
kewenangan melakukan penuntutan di pengadilan.
Tersebarnya kewenangan di sejumlah lembaga peradilan di Indonesia
ini memiliki konsekuensi tertentu yang dapat berimplikasi positif maupun
negatif. Implikasi positifnya antara lain adalah kasus-kasus korupsi dapat cepat
ditangani tanpa harus menunggu tindakan dari suatu lembaga tertentu. Implikasi
negatif dari tumpang tindihnya kewenangan penindakan korupsi di Indonesia
yaitu sering terjadinya perbedaan interpretasi terhadap suatu kasus korupsi.
Masing-masing lembaga, baik KPK, Kejaksaan dan kepolisian sering memiliki
persepsi yang bereda dalam menindak pelaku korupsi, sebagai contoh
penuntutan yang diajukan oleh masing-masing lembaga di peradilan tidak
seragam. Masing-masing memiliki argumentasinya sendiri-sendiri sehingga
terkadang putusan hukuman di lembaga peradilan atas kasus-kasus korupsi
relatif kurang objektif dan tidak memuaskan rasa keadilan di masyarakat.
13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahwa dalam menjalankan pencegahan korupsi KPK menggunakan
prinsip supply and demand yang diaplikasikan pada beberapa strategi taktis
terkait dengan pencegahan, strategi tersebut melakukan perbaikan fokus area
terintegrasi, pelembagaan sistem integrasi nasional (SIN), dukungan,
pembangunan training centre, penguatan komponen sistem politik, revitalisasi
LHKN dan gratifikasi, pengukuran kinerja pencegahan, efektifitas perencanaan
anggaran.
Strategi tersebut kemudian diaplikasikan guna mencapai pencegahan
terhadap korupsi sehingga angka korupsi diIndonesia dapat ditekan walaupun
akan sangatsulit untuk menghilangkan sama sekali praktek korupsi di
Indonesia. Keberhasilan peran Komisi Pemberantas Korupsi dalam pencegahan
dan pemberantasan korupsi adalah karena KPK mempunyai kewenangan
pengambilalihan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan yang dilakukan oleh
kepolisian dan kejaksaan.
Selain itu KPK juga mempunyai kewenangan “Luar Biasa” sebagai
lembaga superbody dalam pemberantasan korupsi. Kewenangan yang diberikan
oleh UU No 30 Tahun 2002 ini sebenarnya merupakan upaya dan strategi
negara dalam mendukung secara total upaya KPK dalam pemberantasan
korupsi di Indonesia.
13
14
B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini kami menyadari banyak sekali
kekurangan, untuk itu kami meminta kritik dan sarannya agar dapat
memperbaiki segala kekurangan yang ada. Tidak lupa kami ucapkan terima
kasih kepada pihak yang telah ikut andil di dalam pembuatan makalah ini.
15
DAFTAR PUSTAKA
Bona P. Purba, (2015). Fraud dan Korupsi (Pencegahan, Pendeteksian, dan Lestari
Pemberantasannya, Lestari liranatama.
Husein, Yunus. Tulisan Mengenai Pendapat Pribadi tentang Kerugian Negara
dalam UNCAC. Dikutip dari Sindo, 29 Mei 2022.
I.S. Susanto. (1995). Kejahatan Korporasi, Semarang: Universitas Diponegoro.
J.E. Sahetapy. (1994). Kejahatan Korporasi, Bandung: Eresco 1994.
M. Arief Amrullah, (2006). Kejahatan Korporasi, Malang: Bayu media.
Marshall B. Clinard dan Peter C. Yeager. (2010). Corporate Crime, New York: The
Free Press.
Rudi Pardede, (2017). Proses Pengembalian Kerugian Negara Akibat korupsi,
Yogyakarta: Genta Publising.
Tjandra Sridjaya Pradjoinggo, Disertasi: Fungsi negative sifat melawan hukum
materiil dalam tindak pidana korupsi (The Negative Fungction of
Substantive Unlawful Within Corruption), Program studi Doktor Ilmu
Hukum Program Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya,
2007.
Lilik Mulyadi, (2007). Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi,
Bandung: Alumni.
IGM. Nurdjana, (2013). Korupsi Dalam Praktek Bisnis, Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.