0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan89 halaman

Resiliensi Keluarga dan Kesiapsiagaan Bencana

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan89 halaman

Resiliensi Keluarga dan Kesiapsiagaan Bencana

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

HUBUNGAN RESILIENSI KELUARGA DENGAN KESIAPSIAGAAN


BENCANA PADA KELUARGA DI KAMPUNG SEGANA JENGGALU
RT 08 RW 03 KOTA BENGKULU

: Disusun Oleh

DWI PUTRI KURNIAWATI


NPM. 2026010065

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2024

i
HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah diperiksa, disetujui, dan disiapkan untuk dipresentasikan


dihadapan tim penguji Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Oleh :

DWI PUTRI KURNIAWATI


NPM. 2026010065

Menyetujui

Pembimbing I Pembimbing II

Ns. Fernalia, [Link]., [Link] Ns. Ida Rahmawati,[Link].,[Link]

Mengetahui,
Ketua Prodi Ilmu Keperawatan
STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Ns. Fernalia, [Link]., [Link]

ii
HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Dwi Putri Kurniawati
NPM : 2026010065
Program Studi : S1 Ilmu Keperawatan
Lembaga : STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul


Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan Kesiapsiagaan Bencana Pada
Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu”
adalah bukan karya ilmiah orang lain sebagian maupun keseluruhan, kecuali yang
secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar Pustaka.

Bengkulu, Agustus 2024


Yang membuat pernyataan

Dwi Putri Kurniawati

iii
MOTTO :
“ Sesungguhnyabersamakesulitanadakemudahan “

( Q.S Al-Insyirah:5)

“ Terlambat bukan berarti gagal, cepat bukan bearti [Link] bukan

menjadi alasan untuk menyerah, setiap orang memiliki proses yang berbeda.

Percaya proses itu yang paling penting,karena Allah

telahmempersiapkanhalbaikdibalik kata proses yang kamuanggaprumit“

(Edwar Satria)

PERSEMBAHAN :
Dengan segenap rasa syukur, skripsi ini ku persembahkan untuk:
❖ Terima kasih untuk Ayahanda tercinta (Sultan Effendi) dan Ibunda
tersayang (Sukmawati) yang telah memberikan ku limpahan kasih
sayang baik materi maupun non materi serta selalu menyemangati
hingga saya mampu meraih impian, kalian adalah alasan kebahagianku.
❖ Terima kasih juga untuk kedua pembimbingku, Ibu (Ns. Fernalia,
[Link]., [Link]) dan Ibu (Ns. Ida Rahmawati,[Link].,[Link]) yang telah
meluangkan waktunya untuk membimbingku selama penyelesaian
Skripsi ini.
❖ Terima kasih juga kepada, Bapak Ns. Ade Herman Surya
Direja.,[Link].,MAN telah membantu mengerjakan skripsi saya dan telah
menyemangati saat mengerjakan skripsi
❖ Kepada diriku sendiri Dwi Putri Kurniawati terima kasih telah berjuang
sampai sejauh ini, jangan puas dan berhenti disini, jangan menyerah dan
terus melangkah sampai jadi cantik, Rich dan istri yang Soleha.
❖ Terima kasih untuk kakakku yang tersayang Sri Endah Lestari,S.E dan
keluarga Besar ku atas dukungan, doa, uang jajan dan semangat selama
ini, kalian adalah sumber kebahagiaanku.
❖ Terima kasih juga untuk sahabat/sodara/teman seperjuangan Eka
Alqomariah,Yoka Novalia, Cici Paramita, dan atin yang telah
memberikan semangat, bantuan serta motivasi dalam menyelesaikan
skripsi ini.
❖ Teman-temanku di kelas Keperawatan kelas B angkatan 2020 kurang
lebih 4 tahun kita bersama dan almamater hijau tercinta STIKES Tri
Mandiri Sakti Bengkulu.

iv
ABSTRAK

Dwi Putri Kurniawati 2024. Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan


Kesiapsiagaan Bencana Pada Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu RT 08
RW 03 Kota Bengkulu. Skripsi. Bengkulu: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Tri Mandiri Sakti Bengkulu. Pembimbing I Ns. Fernalia.,[Link].,[Link] dan
Pembimbing II [Link] Rahmawati.,[Link].,[Link].

Resiliensi keluarga adalah kemampuan bertahan dalam menghadapi situasi


sulit dan mampu bangkit kembali kesituasi semula. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan resiliensi keluarga Dengan kesiapsiagaan bencana pada
keluarga di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dan telah
dilakukan penelitian dari tanggal 11 Juni – 17 Juni. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif. Populasi masyarakat Pelang Kenidai RT 08 RW 03
dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 190 Kepala Keluarga (KK). Sampel
diambil secara accidental sampling. Pengumpulan data yaitu menggunakan data
skunder dan primer. Analisis data dilakukan dengan dengan uji Chi-Square (χ2)
dan Uji Contingency Coefficient (C). Hasil penelitian didapatkan: Dari 116
sampel terdapat 99 orang kategori resiliensi tinggi dan 17 orang mengalami
resiliensi sedang; terdapat 115 orang kesiapsiagaan tinggi, 1 orang mengalami
kesiapsiagaan sedang, dan Tidak Ada hubungan Resiliensi Keluarga dengan
kesiapsiagaan bencana pada Masyarakat di Kampung Segana Jenggau RT 08 RW
03 Kota Bengkulu, dengan kategori hubungan tergolong sangat rendah.
Diharapkan pada pihak kelurahan dapat bekerja sama dengan BPBD atau PMI
untuk melakukan penyuluhan dan simulasi terhadap Resiliensi saat menghadapi
Kesipasiagaan Bencana.

Kata Kunci: Resiliensi Keluarga, Kesiapsiagaan Bencana

v
ABSTRACT

Dwi Putri Kurniawati 2024. The Relationship Between Family Resilience and
Disaster Preparedness in Families in Segana Jenggalu Village RT 08 RW 03
Bengkulu City. Thesis. Bengkulu: Tri Mandiri Sakti Bengkulu Health
Sciences College. Supervisor I Ns. Fernalia., [Link]., [Link] and Supervisor
II [Link] Rahmawati., [Link]., [Link].

Family resilience is the ability to survive in difficult situations and be able to


bounce back to the original situation. This study aims to determine the
relationship between family resilience and disaster preparedness in families in
Segana Jenggalu Village RT 08 RW 03 Bengkulu City and the study was
conducted from June 11 to June 17. This study uses a quantitative approach. The
population of the Pelang Kenidai RT 08 RW 03 community with a total of 190
family heads (KK). Samples were taken by accidental sampling. Data collection
uses secondary and primary data. Data analysis was carried out using the Chi-
Square (χ2) test and the Contingency Coefficient (C) test. The results of the study
obtained: From 116 samples, there were 99 people in the high resilience category
and 17 people experienced moderate resilience; There are 115 people with high
preparedness, 1 person with moderate preparedness, and There is no relationship
between Family Resilience and disaster preparedness in the Community in Segana
Jenggau Village RT 08 RW 03 Bengkulu City, with the relationship category
being very low. It is hoped that the sub-district can cooperate with BPBD or PMI
to conduct counseling and simulations on Resilience when facing Disaster
Preparedness.

Keywords: Family Resilience, Disaster Preparedness

vi
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, serta kemudahan dan pertolongan yang

telah diberikan sehingga penulis mampu menyelesaikan Skripsi ini tepat pada

waktunya. Skripsi ini berjudul “Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan

Kesiapsiagaan Bencana Pada Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu RT 08

RW 03 Kota Bengkulu” Skripsi ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan

atau merupakan rangkaian kegiatan akademik yang merupakan syarat yang

diwajibkan untuk memperoleh gelar kesarjanaan Keperawatan Strata-1 (S-1) pada

Program Studi Ners Stikes Tri Mandiri Sakti Bengkulu.

Selanjutnya, tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak

yang telah banyak membantu sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan. Ucapan

terimakasih khususnya penulis ucapkan kepada

1. Bapak Drs. H. S Effendi, MS selaku Ketua STIKES Tri Mandiri Sakti

Bengkulu.

2. Ibu Ns. Fernalia, [Link], [Link] selaku Ketua Program Studi Ilmu

Keperawatan STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu sekaligus selaku

pembimbing I yang telah memberikan bimbingan bersedia menyediakan

waktu, tenaga, pikiran, dan kesabaran untuk membimbing dalam

menyelesaikan skripsi ini.

3. Ibu Ns. Vellyza Colin, [Link].,MAN selaku Sekretaris Program Studi S1 Ilmu

Keperawatan STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu.

vii
4. Ibu Ns. Ida Rahmawati,[Link].,[Link], selaku Pembimbing II yang

telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran dan kesabaran untuk membimbing

dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Segenap Staf dan Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti

Bengkulu dan terkhusus Prodi S1 keperawatan yang telah banyak membantu

penulis dan membekali ilmu pengetahuan yang sangat berarti.

6. Kedua Orang Tua dan Keluarga yang telah memberikan nasihat, motivasi,

do’a, dan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Rekan-rekan seperjuangan yang telah memberikan masukan yang sangat

berharga dalam penulisan skripsi ini.

8. Masyarakat RT 08 RW 03 di kampung Segana Jenggalu Kota Bengkulu yang

telah membantu dan memberikan waktunya dalam melakukan penelitian

sehingga penelitian selesai tepat waktu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pembuatan dan penyusunan skripsi

ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan

kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi perbaikan skripsi

ini.

Akhirnya atas semua bantuan yang diberikan semoga Allah SWT membalas

semua budi baik kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan ini

dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Bengkulu, September 2024

Penulis

viii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMANJUDUL i
LEMBAR PERSETUJUAN ii
LEMBAR PERNYATAAN iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv
ABSTRAK v
ABSTRACT vi
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR BAGAN xii
DAFTAR L AMPIRAN xiii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 6
C. Tujuan Penelitian 6
D. Manfaat Penelitian 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Kajian Teori 9
1. Kesiapsiagaan Bencana 9
2. Kesiapsiagaan Bencana Tsunami 15
3. Resiliensi Keluarga 19
B. Kerangka Konsep 29
C. Definisi Operasional 30
D. Hipotesis 31

BAB III METODE PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu Penelitian 32
B. Jenis dan Desain Penelitian 32
C. Populasi Dan Sampel 32
1. Populasi 32
2. Sampel 32
D. Prosedur Pengumpulan Data 33
E. Teknik Pengolahan Data 34
F. Teknik Analisa Data 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian 36
1. Gambaran Umum Tempat Penelitian 36
2. Jalannya Penelitian 39
3. Karakteristik Responden 40
4. Analisis Univariat 42
5. Analisis Bivariat 44

ix
B. Pembahasan 46
1. Analisis Univariat 46
2. Analisis Bivariat 49

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan 52
B. Saran 53

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

x
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1 Indeks Tingkat Kesiapsiagaan 10
Tabel 2 Definisi Operasional 30
Tabel 3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia 36
Tabel 4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan 37
Tabel 5 Jumlah Penduduk berdasarkan Pendidikan 38
Tabel 6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin 40
Tabel 7 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia 41
Tabel 8 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir 42
Tabel 9 Distribusi Frekuensi Resiliensi Keluarga 43
Tabel 10 Distribusi Frekuensi Kesiapsiagaan Bencana 43
Tabel 11 Hasil uji Statistik Hubungan Resiliensi Keluarga dengan
Kesiapsiagaan bencana di Kampung Segana Jenggalu RT 08
RW 03 Kota Bengkulu 44

xi
DAFTAR BAGAN

Halaman
Bagan 1 Kerangka Konsep 29

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Berita Acara Bimbingan Skripsi


Lampiran 2 Lembar Permohonan Jadi Responden
Lampiran 3 Persetujuan Keikutsertaan Dalam Penelitian
Lampiran 4 Kuesioner Penelitian
Lampiran 5 Lembar Checklist

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

World Health Organization (2020) mendefinisikan Bencana alam

merupakan suatu peristiwa yang mempunyai dampak besar terhadap

kemanusiaan. Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap

bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, angin

puting beliung, banjir dan tanah longsor. Sekitar 13% dari seluruh gunung

berapi di dunia terletak di kepulauan Indonesia, yang dapat menimbulkan

bencana dengan kekuatan dan intensitas yang bervariasi. Penanggulangan

Bencana alam atau mitigasi bencana merupakan upaya yang berkelanjutan

yang bertujuan untuk membantu mengurangi dampak bencana terhadap

manusia dan harta benda

Menurut UU No. 24 Tahun 2007 (P. RI, 2007), bencana adalah peristiwa

atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan

penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau

faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya

korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak

psikologis. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan bencana sebagai

sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau

penderitaan, kecelakaan dan bahaya (Fernalia et al., 2023)

Kesiapsiagaan bencana adalah kapasitas, keterampilan dan pengetahuan

yang dapat dikembangkan oleh pemerintah, lembaga bencana, masyarakat dan

1
2

individu. Tujuan dari kesiapsiagaan bencana adalah untuk memprediksi dan

merespon secara efektif kemungkinan dampak bencana yang akan datang.

Bencana juga dapat terjadi karena pengaruh perbuatan manusia dan kekuatan

alam, bencana yang disebabkan oleh kekuatan alam, dan bencana alam yang

disebabkan oleh badai tropis, banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan letusan

gunung berapi. Bencana alam ini tidak hanya menyebabkan hilangnya nyawa,

cedera, dan dampak kesehatan, namun juga kerusakan harta benda, hilangnya

mata pencaharian dan layanan kesehatan, gangguan sosial dan ekonomi, serta

kerusakan lingkungan yang berdampak pada masyarakat (Silviani et al., 2022)

Tsunami adalah serangkaian gelombang laut yang bergerak dengan

kecepatan lebih dari 900 km/jam. Meski jarang terjadi, tsunami bisa

disebabkan oleh gempa bumi, tanah longsor bawah laut, letusan gunung berapi

di laut, dan hantaman meteorit. 3 Hingga 80% kejadian tsunami global

disebabkan oleh gempa bumi bawah laut yang menyebabkan pergerakan

vertikal dasar laut. Meskipun tsunami relatif jarang terjadi, tsunami merupakan

bencana alam yang menimbulkan tingkat kerusakan yang sangat tinggi.

(Ramadhan et al., 2023)

Bentuk kerugian yang secara non-fisik seperti trauma terhadap peristiwa

yang pernah dialami merupakan salah satu dampak psikologis yang sering

ditemui pada masyarakat korban bencana alam adalah Post Traumatic Stress

Disorder (PTSD). Kondisi demikian akan menimbulkan dampak psikologis

berupa gangguan perilaku mulai dari cemas yang berlebihan, mudah

tersinggung, tidak bias tidur, tegang, dan berbagai reaksi lainnya. Prevalensi
3

(angka kejadian) gangguan kecemasan berkisar pada 6-7% dari populasi

umum. Diperkirakan jumlah yang menderita gangguan kecemasan ini baik

yang akut maupun kronik mencapai 5% dari jumlah penduduk, dengan


(Alfi, 2020)
perbandingan antara wanita dan pria 2 : 1.

Dampak tsunami yang dapat terlihat di Kecamatan Sumur, misalnya

bangunan yang rata akibat terjangan gelombang yang maha dasyat, hancurnya

perahu-perahu nelayan yang merupakan mata pencaharian sebagian besar

masyarakat sumur belum lagi banyaknya masyarakat yang tewas akibat

tsunami yang terjadi, sehingga jika kita melihat kondisi masyarakat Sumur

sangat memprihatinkan karena masyarakat yang mengungsi banyak yang

mengalami kesulitan akibat bencana tsunami seperti kekurangan bahan makan,

pakaian dan tempat tinggal belum lagi kesedihan akibat ditinggalkan anggota

keluarga. Oleh karena itu tidak mengherankan jika bencana tsunami yang

dialami oleh masyarakat di Kecamatan Sumur berdampak sangat besar bagi

masyarakat di wilayah tersebut terutama bagi anak-anak (Mulyasih & Putri,

2019)

Provinsi Bengkulu merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan

potensi tsunami yang tinggi, khususnya di Kota Bengkulu. Kota Bengkulu

terletak memanjang dibagian Pesisir Barat Sumatera dengan panjang pantai

sekitar 525 km. Secara administratif, Kota Bengkulu terbagi menjadi 9

kecamatan yang 6 diantaranya merupakan wilayah pesisir dengan posisi

menghadap Samudera Hindia. Dilihat dari kondisi geologinya, wilayah

Bengkulu menjadi salah satu yang berdiri tepat di atas kawasan subduksi

Lempeng Eurasia dan Indo Australia, dengan pergerakan yang cukup besar 4
4

sampai 6 cm per tahun. Bengkulu telah berulang kali mengalami kejadian

tsunami walaupun dalam skala kecil. Gelombang tsunami pertama kali

menerjang Bengkulu pada 18 Maret 1818 dengan kekuatan magnitude gempa

sebesar 7,0 SR, disusul pada tahun 1833 tepatnya 29 Januari dan 24 November

dengan gempa berkekuatan 8,2 SR. Selanjutnya tsunami kembali datang pada

21 April 1958 yang disebabkan oleh gempa berkekuatan 6,5 SR dan terakhir

terjadi pada 29 September 2007 dengan kekuatan gempa sebesar 8,4 SR.

Kejadian gempa besar dan tsunami yang telah berulang kali menghampiri,

menjadi bukti bahwa Bengkulu merupakan daerah rawan terhadap bencana

tsunami (Fachri et al., 2022)

Berdasarkan data yang dimiliki oleh badan Nasional Penanggulangan

Bencana Nasional (BNPB) mengatakan bahwa selama di tahun 2019 mulai dari

1 januari 2019 sampai 23 Desembar 2019 terdapat 3.721 kejadian bencana

alam di seluruh Indonesia. Dari fenomena alam tersebut bisa dapat dibuktikan

Indonesia adalah negara yang paling rawan akan bencana alam (Rahmawati et

al., 2022)

Kota Bengkulu terletak di sebelah barat Pulau Sumatera, dan berada pada

zona subduksi Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia yang mengalami

perpindahan sebesar 4 hingga 6 cm setiap tahunnya, sehingga Kota Bengkulu

mempunyai risiko tinggi terjadinya tsunami. Situasi ini menempatkan negara

ini pada risiko tinggi terjadinya gempa bumi dengan kekuatan lebih dari 6 SR

yang dapat mengakibatkan tsunami. Dua gempa besar terjadi di Bengkulu.

Salah satunya berkekuatan 7,9 S pada tahun 2000 dan berkekuatan 7,9 SR pada

tahun 2008 (Rahmawati, Fernalia, Giena, et al., 2022)


5

Tidak hanya kesiapsiagaan bencana, namun masyarakat masyarakat

kampung Segana jenggalu rt 08 rw 03 kota bengkulu juga memerlukan adanya

resiliensi keluarga. Walsh sebagaimana yang dikutip oleh Herdiana (2019)

menggambarkan resiliensi keluarga sebagai proses yang dilakukan untuk

menyelesaikan masalahdan adaptasi dalam keluarga sebagai sebuah unit

fungsional, atau dapat disebut dengan kapasitas keluarga untuk bangun kembali

dari kesulitan sehingga menjadi lebih kuat dan berdaya. Resiliensi keluarga

memiliki beberapa aspek, diantaranya adalah belief systems (sistem keyakinan),

organizational patterns (pola organisasi), dan communication proses (proses

komunikasi), (Walsh, 2006).

Dalam penelitian (Erchanis, 2019) dinyatakan bahwa terdapat Pengaruh

Resiliensi Keluarga terhadap Kesiapsiagaan Bencana pada Keluarga di Pesisir

Pantai Kecamatan Sumur. Besar pengaruh Resiliensi Keluarga terhadap

Kesiapsiagaan Bencana yang dihasilkan adalah 27,1%. Semakin tinggi suatu

keluarga memiliki kemampuan untuk bangkit dari kesulitan dan menjadi lebih

kuat dalam menghadapi masalah, maka semakin tinggi kesiapsiagaan keluarga

dalam menghadapi bencana.

Berdasarkan survey awal peneliti yang dilakukan pada tanggal 18

Desember 2022 didapatkan data jumlah kepala keluarga di kampung Segana

jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu ada 190 KK. Didapatkan dari

wawancara 15 orang, ada 11 orang masyarakat memiliki kesiapsiagaan yang

rendah dengan mengalami resiliensi dan 4 orang memiliki kesiapsiagaan yang

baik dan tidak mengalami resiliensi


6

Berdasarkan Permasalahan di atas peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai “Hubungan Resiliensi Keluarga Terhadap Kesiapsiagaan

Bencana Pada Keluarga Dikampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota

Bengkulu”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah

penelitian sebagai berikut: “Apakah ada hubungan resiliensi keluarga terhadap

kesiapsiagaan bencana dikampung Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota

Bengkulu?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan resiliensi keluarga dengan kesiapsiagaan

bencana dikampung Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran distribusi frekuensi resliensi keluarga dikampung

Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dalam menghadapi

bencana

b. Mengetahui gambaran distribusi frekuensi kesiapsiagaan masyarakat

dikampung Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dalam

menghadapi bencana

c. Mengetahui hubungan antara resiliensi keluarga dengan kesiapsiagaan

bencana dikampung Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu


7

D. Tujuan Penelitian

1. Bagi Mahasiswa Stikes Tri Mandiri Sakti

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan yang

bermanfaat bagi mahasiswa, khususnya memberikan wawasan baru

hubungan resiliensi keluarga dengan kesiapsiagaan bencana dikampung

Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu, sehingga dapat

mempergunakan informasi ini sebagai pertimbangan terhadap tindakan

yang diambil selanjutnya untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat

dikampung Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dan sekitarnya.

2. Bagi Keluarga

Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan gambaran mengenai

perlunya ada resiliensi keluarga dan kesiapsiagaan bencana pada keluarga

yang tinggal dikampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu

dan dapat meningkatkan kesiapsiagaan agar dampak tsunami dapat di

minimalisir.

3. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran

mengenai kesiapsiagaan becana pada masyarakat yang tinggal di daerah

rawan bencana agar dapat meningkatkan kesiapsiagaan sebelum terjadinya

bencana.
8

4. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada pihak

universitas akan pentingnya resiliensi keluarga dan kesiapsiagaan bencana

pada keluarga yang tinggal dikampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03

Kota Bengkulu dan diharapkan dapat membantu memberikan pengetahuan

dan wawasan bagi masyarakat khususnya kepada masyarakat dalam

menghadapi ancaman bencana Tsunami


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Kesiapsiagaan Bencana

a. Definisi Kesiapsiagaan Bencana

Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan

mencegah bencana dengan mengorganisir dan melaksanakan tindakan

yang tepat dan efektif (Jufrizal et al., 2023). Menurut Lipi-Unesco/Isdr

(2016), kesiapsiagaan adalah langkah-langkah yang memungkinkan

pemerintah, organisasi keluarga, dan individu untuk merespons situasi

bencana dengan cepat dan tepat guna mengurangi korban jiwa dan

korban jiwa. Langkah-langkah kesiapsiagaan mencakup pengembangan

rencana manajemen bencana, pemeliharaan sumber daya, dan pelatihan

personel. Konsep kesiapsiagaan yang digunakan menitikberatkan pada

kemampuan melakukan tindakan persiapan untuk menghadapi situasi

bencana secara cepat dan tepat. (Jufrizal et al., 2023)

Menurut LIPI-UNESCO/ISDR (2016) Kesiapsiagaan Merupakan

Salah Satu Bagian Dari Proses Manajemen Bencana Dan Di Dalam

Konsep Pengelolaan Bencana Yang Berkembang Saat Ini, Peningkatan

Kesiapsiagaan Merupakan Salah Satu Elemen Penting Dari Kegiatan

Pengurangan Risiko Bencana Yang Bersifat Pro-Aktit, Sebelum

Terjadinya Suatu Bencana. Perahaman Terhadap Konsep Kesiapsiagaan

Yang Sudah Dimasyarakat Dapat Dikatakan Cukup Beragam.

9
10

Menurut Daud (2016), Kesiapsiagaan mengacu pada langkah-

langkah yang memungkinkan pemerintah, organisasi, masyarakat,

komunitas, dan individu untuk merespons situasi bencana dengan cepat

dan efektif. Langkah-langkah kesiapsiagaan mencakup rencana

manajemen bencana, pemeliharaan sumber daya, dan pelatihan staf.

Kesiapsiagaan masyarakat selalu terkait erat dengan aspek lain dari

kegiatan penanggulangan bencana: tanggap darurat, pemulihan dan

rekonstruksi, pencegahan dan mitigasi. Penguatan kesiapsiagaan bencana

memerlukan kesiapsiagaan prabencana yang tepat, dan efektivitas

kesiapsiagaan masyarakat dapat dilihat dalam pelaksanaan tindakan

tanggap darurat dan perbaikan. Perhatian harus diberikan pada sifat

dinamis dari kesiapsiagaan, karena seiring berjalannya waktu, tingkat

kesiapsiagaan dapat menurun seiring dengan terjadinya perubahan sosial

budaya, politik dan ekonomi dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu,

sangatlah penting untuk terus memantau dan memahami keadaan

kesiapsiagaan daerah dan terus berupaya untuk mempertahankan dan

meningkatkan tingkat kesiapsiagaan.

Tabel 1
Indeks Tingkat Kesiapsiagaan

No Nilai Indeks Kelas Kategori


1 0 – 246,6 1 Rendah/ Tidak Siap
2 246,7 – 493,3 2 Sedang/ Hampir Siap
3 493,4 – 740 3 Tinggi/ Siap
(Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2015)
11

b. Tujuan Kesiapsiagaan Bencana

Menurut (Alfanan, 2020) Menyatakan Tujuan Kesiapsiagaan Yaitu:

1) Mengurangi Ancaman

Untuk Mencegah Ancaman Secara Mutlak Memang Mustahil,

Seperti Kebakaran, Gempa Bumi Dan Meletus Gunung Berapi.

Namun Ada Banyak Cara Atau Tindakan Yang Dapat Dilakukan

Untuk Mengurangi Kemungkinan Terjadinya Dan Akibat

Ancaman.

2) Mengurangi Kerentanan Keluarga

Kerentanan keluarga dapat dikurangi apabila keluarga sudah

mempersiapkan diri, akan lebih mudah untuk melakukan tindakan

penyelamatan pada saat bencana terjadi. Persiapan yang baik akan

bisa membantu keluarga untuk melakukan tindakan yang tepat guna

dan tepat waktu. keluarga yang pernah dilanda bencana dapat

mempersiapkan diri dengan melakukan kesiapsiagaan seperti

membuat perencanaan evakuasi, penyelamatan serta mendapatkan

pelatihan kesiapsiagaan bencana.

3) Mengurangi Akibat

Untuk mengurangi akibat suatu ancaman, keluarga perlu

mempunyai persiapan agar cepat bertindak apabila terjadi bencana.

umumnya pada semua kasus berencana masalah utama adalah

penyediaan air bersih. dengan melakukan persiapan terlebih dahulu,

kesadaran keluarga akan pentingnya sumber air bersih dapat

mengurangi kejadian penyakit menular.


12

4) Menjalin Kerjasama

Tergantung dari cakupan bencana dan kemampuan keluarga,

penanganan bencana dapat dilakukan oleh keluarga itu sendiri atau

apabila diperlukan dapat berkerjasama dengan pihak-pihak yang

terkait. Untuk menjamin kerjasama yang baik, pada tahap sebelum

bencana ini keluarga perlu menjalin hubungan dengan pihak-pihak

seperti Puskesmas, polisi, aparat desa atau kecamatan.

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesiapsiagaan Bencana

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesiapsiagaan dari suatu

komunitas terhadap bencana, yaitu;

1) Pengetahuan dan Sikap

Pengetahuan merupakan faktor utama kunci kesiapsiagaan.

Pengetahuan yang harus dimiliki individu dan rumah tangga

mengenai bencana yaitu pemahaman tentang bencana, pemahaman

tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana tersebut, meliputi

pemahaman mengenai tindakan penyelamatan diri yang tepat saat

terjadi gempa bumi dan tsunami, tindakan dan peralatan yang perlu

disiapkan sebelum terjadi gempa bumi dan tsunami, demikian juga

sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana.

2) Kebijakan Atau Panduan

Kebijakan untuk kesiapsiagaan bencana sangat penting dan

merupakan upaya konkrit untuk melaksanakan kegiatan siaga

bencana. Kebijakan yang signifikan berpengaruh terhadap


13

kesiapsiagaan rumah tangga. Kebijakan yang diperlukan untukk

kesiapsiagaan rumah tangga berupa kesepakatan keluarga dalam hal

menghadapi bencana gempa bumi, yakni adanya diskusi keluarga

mengenai sikap dan tindakan penyelamatan diri yang tepat saat

terjadi gempa bumi dan tsunami, dan tindakan serta peralatan yang

perlu disiapkan sebelum terjadi bencana.

3) Rencana tanggap darurat menjadi bagian penting dalam

kesiapsiagaan, terutama berkaitan dengan pertolongan dan

penyelamatan, agar korban bencana dapat diminimalkan. Upaya ini

sangat krusial, terutama pada saat terjadi bencana dan hari-hari

pertama setelah bencana sebelum bantuan dari pemerintah dan dari

pihak luar datang. Rencana tanggap darurat meliputi 7 (tujuh)

komponen, yaitu:

4) Sistem Peringatan Bencana

Sistem peringatan bencana meliputi tanda peringatan dan

distribusi informasi akan terjadi bencana. Dengan adanya peringatan

bencana, keluarga dapat melakukan tindakan yang tepat untuk

mengurangi korban jiwa, harta benda dan kerusakan lingkungan.

Untuk itu diperlukan latihan dan simulasi tentang tindakan yang

harus dilakukan apabila mendengar peringatan dan cara

menyelamatkan diri dalam waktu tertentu, sesuai dengan lokasi

tempat keluarga berada saat terjadinya peringatan. Sistem peringatan

bencana untuk keluarga berupa tersedianya sumber informasi untuk


14

peringatan bencana baik dari sumber tradisional maupun lokal, dan

adanya akses untuk mendapatkan informasi peringatan bencana.

Peringatan dini meliputi informasi yang tepat waktu dan efektif

melalui kelembagaan yang jelas sehingga memungkinkan setiap

individu dan rumah tangga yang terancam bahaya dapat mengambil

langkah untuk menghindari atau mengurangi resiko serta

memersiapkan diri untuk melakukan upaya tanggap darurat yang

efektif.

5) Sumber daya yang tersedia, baik sumber daya manusia maupun

pendanaan dan sarana/prasarana penting untuk keadaan darurat

merupakan potensi yang dapat mendukung atau sebaliknya menjadi

kendala dalam kesiapsiagaan bencana alam. Karena itu, mobilisasi

sumber daya menjadi faktor yang krusial. Mobilisasi sumber daya

keluarga meliputi adanya anggota keluarga yang terlibat dalam

pertemuan/seminar/pelatihan kesiapsiagaan bencana, adanya

keterampilan yang berkaitan dengan kesiapsiagaan, adanya alokasi

dana atau tabungan keluarga untuk menghadapi bencana, serta

adanya kesepakatan keluarga untuk memantau peralatan dan

perlengkapan siaga bencana secara reguler.

Sebagai suatu bentuk reaksi terhadap situasi dan kondisi yang ada,

respon masyarakat tidak terbentuk dengan sendirinya. situasi dan kondisi

yang dihadapi masyarakat serta kemampuan dan pengetahuan yang

dimiki oleh masyarakat yang menjadi stimulasi yang membangun


15

pemahaman dalam diri masyarakat kemudian diolah menjadi respon.

dalam pemahaman ini, respon yang muncul sangat dipengaruhi

karakteristik dari stimulasi yang diterima, baik yang berupa situasi dari

luar maupun intervensi dari dalam berupa tingkat kemampuan serta

pengetahuan yang dimiliki.

Pemahaman dalam konteks bencana ini menjadi dasar dalam

memahami respon yang dberikan masyarakat. stimulasi yang diterima dar

luar berupa kejadian bencana dengan segala bencana (Jufrizal et al.,

2023)

2. Kesiapsiagaan Bencana Tsunami

Kemampuan kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dimiliki oleh

setiap tingkatan masyarakat, mulai dari individu, keluarga hingga

komunitas. upaya peningkatan kapasitas masyarakat menjadi upaya yang

harus dilakukan bagi setiap pemangku kebijakan di setiap daerah dengan

tujuan untuk mengurangi risiko bencana yang akan terjadi (BNPB, 2021).

Kesiapsiagaan sangat bekaitan dengan pengetahuan mengenai suatu bencana

itu sendiri. pengetahuan dan sikap menjadi indikator pertama untuk

mengukur kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. pengetahuan

terhadap bencana merupakan alasan utama seseorang untuk melakukan

kegiatan perlindungan atau upaya kesiapsiagaan yang ada (Dodon, 2013).

Kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami dapat dilakukan sebagai

berikut : (Theophilus Yanuarto Et Al., 2019) :


16

1) Prabencana

1) Ketahui tanda-tanda sebelum tsunami terjadi, terutama setelah

gempa (intensitas gempa lama dan terasa kuat, air laut surut, bunyi

gemuruh dari tengah lautan, banyak ikan menggelepar di pantai yang

airnya surut, dan tanda-tanda alam lain).

2) Memantau informasi dari berbagai media resmi mengenai potensi

tsunami setelah gempaan bencana tsunami

3) Cepat berlari ke tempat yang tinggi dan berdiam diri di sana untuk

sementara waktu setelah satu gempa besar mengguncang.

4) Segera menjauhi pantai dan tidak perlu melihat datangnya tsunami

atau menangkap ikan yang terdampar di pantai karena air surut.

5) Mengetahui tingkat kerawanan tempat tinggal akan bahaya tsunami

dan jalur evakuasi tercepat ke dataran yang lebih tinggi.

2) Saat Bencana

1) Setelah gempa berdampak pada rumah anda, jangan berupaya untuk

merapikan kondisi rumah. waspada gempa susulan

2) Jika anda berada di rumah, usahakan untuk tetap tenang dan segera

membimbing keluarga untuk menyelamatkan diri ke tempat yang

lebih tinggi dan aman.

3) Tidak semua gempa memicu tsunami. Jika mendengar sirine tanda

bahaya atau pengumuman dari pihak berwenang mengenai bahaya

tsunami, anda perlu segera menyingkir dari daerah pantai.

Perhatikan peringatan dan arahan dari pihak berwenang dalam


17

proses evakuasi.

4) Jika telah sampai di daerah tinggi, bertahanlah disana karena

gelombang tsunami yang kedua dan ketiga biasanya lebih besar dari

gelombang pertama serta dengarkan informasi dari pihak yang

berwenang melalui radio atau alat komunikasi lainnya.

5) Jangan kembali sebelum keadaan dinyatakan aman oleh pihak

berwenang

6) Tsunami tidak datang sekali saja, namun bisa terjadi hingga lima

kali. oleh karena itu, sebelum ada pengumuman dari pihak

berwenang bahwa kondisi aman, jangan meninggalkan lokasi

pengungsian karena seringkali gelombang yang datang belakangan

justru lebih tinggi dan berbahaya.

7) Hindari berjalan di atas jembatan. anda disarankan untuk mengungsi

dengan berjalan kaki.

8) Bagi anda yang sedang melakukan evakuasi menggunakan

kendaraan dan terjadi kemacetan, segera kunci dan tinggalkan

kendaraan dan lanjutkan evakuasi dengan berjalan kaki.

9) Jika berada di kapal atau perahu yang sedang berlayar, usahakan

tetap berlayar dan hindari area pelabuhan.

3) Pascabencana

1) Tetap utamakan keselamatan dan bukan barang-barang anda.

waspada dengan instalasi listrik dan pipa gas.

2) Anda dapat kembali ke rumah setelah keadaan dinyatakan aman dari


18

pihak berwenang

3) Jauhi area yang tergenang dan rusak sampai ada informasi aman dari

pihak berwenang.

4) Hindari air yang menggenang karena kemungkinan kontaminasi zat-

zat berbahaya dan ancaman tersengat aliran listrik.

5) Hindari air yang bergerak karena arusnya dapat membahayakan

anda.

6) Hindari area bekas genangan untuk menghindari terperosok atau

terjebak dalam kubang.

7) Hindari memindahkan air karena arus dapat membahayakan anda.

8) Hindari area yang terdapat genangan air agar tidak terjatuh atau

terjebak dalam genangan air.

9) Jauhi reruntuhan di dalam genangan air karena sangat berpengaruh

terhadap keamanan perahu penyelamat dan orang-orang di sekitar.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Khair et al., 2021) menunjukkan

bahwa data tidak berdistribusi normal dengan hasil uji Wilcoxon sebelum

dan sesudah penyuluhan, p-value=0,001 (p<0,005), artinya ada pengaruh

yang signifikan penyuluhan terhadap tanggap darurat gempa dan tsunami

tentang peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pesisir di Negeri Rutah

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Ismunandar et al., 2021)

menunjukkan pengetahuan masyarakat menghadapi bencana bumi yang baik

28 orang (58,3%), kurang baik 20 orang (41,7%). Pengetahuan pada pasca

bencana 100% kurang baik. Pengetahuan menghadapi bencana tsunami

yang baik 34 orang (70,8%), kurang baik 14 orang (29,2%). Sikap


19

masyarakat menghadapi bencana gempa bumi yang baik dan kurang baik

sama yaitu 24 orang (50%), sikap mengahadapi bencana tsunami yang baik

26 orang (54,2%), kurang baik 22 orang (45,8%). Kesimpulan penelitian ini

pengetahuan dan sikap masyarakat dalam menghadapi bencana gempa bumi

dan tsunami lebih banyak yang baik. Jika dilihat pengetahuan tentang pasca

bencana gempa bumi semuanya kurang baik.

3. Resiliensi Keluarga

a. Definisi Resiliensi Keluarga

Menurut Walsh (2016), resiliensi keluarga adalah kemampuan

keluarga sebagai sistem untuk bertahan dan pulih kembali dari kesulitan.

Keluarga sebagai sistem diharapkan dapat memberikan dukungan antar

anggota keluarga dalam menghadapi kondisi stres, tekanan dan tantangan

kehidupan. Dalam penelitiannya, Simon, Murphy, dan Smith (2005)

menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi resiliensi keluarga,

yaitu antara lain lamanya situasi sulit yang dihadapi keluarga, tahapan

perkembangan keluarga, dan sumber dukungan internal dan eksternal

keluarga. (Zahro, 2021)

Resiliensi adalah sangat penting ketika individu membuat

keputusan sulit di saat dan situasi darurat. Ketahanan adalah pola pikir

yang dapat meningkatkan kemampuan Anda untuk mencari pengalaman

baru dan memandang kehidupan sebagai proses yang terus berkembang.

Ketahanan dapat menciptakan dan mempertahankan sikap positif

terhadap eksplorasi, memungkinkan orang menjadi lebih percaya diri

dalam berinteraksi dengan orang lain dan lebih bersedia mengambil

risiko dalam tindakannya sendiri. (Apriawal, 2022).


20

Keluarga adalah kelompok kecil yang terstruktur dalam ikatan

keluarga dengan fungsi utama sebagai sosialisasi pengasuhan atau

pemeliharaan generasi. Secara umum Mufidah (2014) menjelaskan

bahwa keluarga merupakan unit terkecil dalam struktur masyarakat yang

dibentuk atas hubungan perkawinan yang terdiri dari suami, istri, dan

anak. selain itu, dalam konteks psikologis keluarga sebagai suami istri

yang memiliki komitmen atas dasar cinta untuk hidup bersama,

menjalankan fungsi perkawinan yang melahirkan ikatan darah, dan yang

sepaham, serta memiliki watak dan kepribadian yang saling

mempengaruhi antara satu dan yang lain meski terdapat keberagaman

(Mufidah, 2014).

Resiliensi keluarga adalah kemampuan yang dimiliki oleh keluarga

sebagai unit fungsional untuk pulih dan bangkit dari kesulitan Walsh

(2003). resiliensi keluarga merupakan proses coping dan adapatasi dalam

menghadapi dan mengatasi kesulitan (Walsh, 2006). Resiliensi lebih dari

sekedar bertahan atau menunggu sampai masa sulit itu berakhir, keluarga

yang resilien mampu menemukan makna, mendapatkan kembali hidup

mereka setelah mengalami kesulitan (Hendriani, 2018).

Resiliensi keluarga adalah sikap dan kemampuan sebuah keluarga

untuk bertahan menghadapi masa-masa sulit, mampu beradaptasi dengan

situasi yang sulit, mendukung kelangsungan hidup keluarga, dan

beradaptasi dan berkembang seperti sebelumnya. Dengan mengajarkan

dan melatih anggotanya untuk memahami arti kesulitan yang dihadapi,

membangun lingkungan keluarga yang saling mendukung, menghormati

perbedaan atau kebutuhan setiap orang, serta memberikan otonomi,


21

mewujudkan komunikasi yang jelas, terbuka untuk pertanyaan dan

percakapan, berusaha menghilangkan keraguan, dan terbuka untuk

menyampaikan emosi, resiliensi keluarga dapat membantu remaja

membangun konsep diri yang tangguh (Ahmad et al., 2023)

b. Reiliensi Bencana

Resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit kembali dari

pengalaman negatif yang mencerminkan kualitas bawaan dari individu

atau merupakan hasil dari pembelajaran dan pengalaman. Roberts (2007)

mengutip pengertian bebarapa ahli yang mendefinisikan resiliensi

sebagai presence atau kehadiran good outcomes (hasil yang baik) dan

kemampuan mengatasi ancaman dalam rangka menyokong kemampuan

(Suryanti et al., 2022)

Tujuh kemampuan yang membentuk resiliensi, yaitu sebagai

berikut: regulasi emosi, pengendalian impuls, optmistimisme, empati,

causal analysis, efekasi diri, dan reaching out. Pada dasarnya setiap

individu memiliki semua faktor reselensi diatas, namun yang

membedakan satu individu dengan yang lainnya adalah bagaimana

individu tersebut mempergunakan dan memaksimalkan faktor-faktor

dalam dirinya sehingga menjadi sebuah kemampuan yang membantu

individu untuk bertahan mengahadapi kesulitan atau krisis yang dialami,

serta mencegah hal-hal yang dapat memicu stres dalam masa pemulihan

dan dapat memberikan kemampuan untuk bangkit lebih baik dari

keadaan sebelumnya. Masyarakat yang sudah pernah mengalami bencana

dan mulai bangkit dari kereterpurukan ataupun resilien tetapi masih

rendah tingkat kewaspadaannya (Satria & Sari, 2017)


22

UNISDR (United Nations Office for Disaster Risk Reduction)

berpendapat bahwa resiliensi bencana adalah kemampuan suatu sistem,

komunitas, atau masyarakat yang terpapar pada bahaya untuk melawan,

menyerap, menampung, beradaptasi, mengubah dan pulih dari dampak

bahaya secara tepat waktu dan efisien, termasuk melalui pelestarian

struktur dan fungsi dasar yang penting melalui manajemen resiko. DFID

(2011) menjelaskan bahwa resiliensi bencana adalah kemampuan suatu

negara, komunitas dan rumah tangga untuk mengelola perubahan dengan

memelihara atau mengubah standar hidup dalam menghadapi guncangan

dan tekanan seperti gempa bumi, kekeringan atau konflik kekerasan

tanpa mengorbankan prospek jangka panjang mereka. Feguereido et all

(2018) mendefinisikan resiliensi bencana sebagai sebuah kapasitas atau

atribut positif yang dapat dibangun dan diperoleh, oleh kota, masyarakat,

rumah tangga, organisasi, atau bisnis. Kapasitas ini terdiri dari tindakan-

tindakan tertentu, seperti menolak, menyerap, beradaptasi, mengubah,

memulihkan, dan mempersiapkan, sehubungan dengan peristiwa-

peristiwa terntentu (guncangan, tekanan, bahaya, bencana) atau

kemungkinan terjadinya resiko. Maka dari itu OECD (2013)

memaparkan secara singkat, resiliensi bencana merupakan kemampuan

untuk bertahan dan pulih dari guncangan eksternal yang merugikan

melalui proses penyesuaian yang membangun kembali atau tingkatan

status sistem sebelumnya.

c. Dinamika hubungan antara resiliensi yang mengalami bencana

Menurut Penelitian Dina. (2012) menyebutkan Sebagai warga yang

tinggal di daerah yang sering terkena bencana alam seperti gempa bumi
23

dan tsunami, masyarakat Aceh memerlukan kemampuan resiliensi yang

baik. Hal tersebut terkait dengan temuan bahwa bencana alam dapat

menimbulkan berbagai macam gangguan seperti distress, disorders, dan

health-risk behavior. Bahkan jika dibiarkan semakin parah,

memungkinkan timbulnya Posttraumatic Stress Disorders (PTSD)

(Terutama yang memerlukan kemampuan resiliensi yang lebih baik

adalah remaja dan anak-anak, karena kelompok usia ini lebih rentan

dibandingkan orang dewasa dalam menerima dampak paling berat dari

kejadian traumatis Remaja dan anak-anak yang memiliki kemampuan

resiliensi yang baik juga akan memiliki wellbeing yang lebih baik, karena

remaja yang memiliki kemampuan resiliensi yang baik akan bisa

melewati keadaan hidup yang menyulitkan di masa yang akan datang.

Banyak faktor pada proses resiliensi pada seorang, salah satunya

adalah budaya. Dengan mengacu kepada perspektif resiliensi yang

merupakan proses dinamis antara individu dan lingkungannya, maka

dalam hubungannya dengan resiliensi, faktor budaya dan faktor eksternal

lainnya berinteraksi dengan faktor internal individu dalam dalam

beradaptasi dengan keadaan negatif. Budaya, bersama dengan domain-

domain lingkungan yang penting dalam kehidupan seperti faktor

keluarga, faktor komunitas, agama, sekolah, dan rekan sebaya, kemudian

berinteraksi dengan karakteristik individu, membentuk suatu proses yang

kemudian diharapkan akan menghasilkan outcomes berupa adaptasi

positif individu terhadap tantangan hidup.


24

d. Aspek-Aspek Resiliensi Keluarga

Menurut Connor dan Davidson (2003) dalam (Yulis Setiya Dewi et

al., 2022) Ada 5 Aspek Resiliensi Yaitu:

1) Kompetensi Personal, Standar yang Tinggi, dan Keuletan.

Kompetensi personal, standar yang tinggi, dan keuletan adalah

kemampuan individu dalam mencapai tujuannya walaupun dalam

kondisi tertekan atau dihadapkan dengan berbagai permasalahan.

2) Kepercayaan Terhadap Naluri, Toleransi Terhadap Efek Negatif, dan

Kuat dalam Menghadapi Stres.

Aspek kepercayaan terhadap naluri, toleransi terhadap efek negatif,

dan kuat dalam menghadapi stres adalah keyakinan seseorang dalam

mengambil keputusan sesuai dengan apa yang dirasakan, dan

individu mampu menolerasi afek negatif seperti perasaan tidak

nyaman yang dapat memunculkan stres

3) Penerimaan Positif Terhadap Perubahan, dan Memiliki Hubungan

yang Baik dengan Orang Lain.

Aspek penerimaan positif terhadap perubahan, dan memiliki

hubungan yang baik dengan orang lain adalah individu mampu

menyesuaikan pada perubahan ataupun permasalahan yang sedang

dihadapi dan individu mampu menjalin hubungan yang baik dengan

individu lainnya

4) Kontrol Aspek Kontrol Diri adalah kemampuan individu dalam

mengontrol dirinya sendiri untuk mencapai tujuannya dan mampu

menerima dukungan dari orang lain diri.

5) Pengaruh Spiritual.
25

Aspek pengaruh spiritual adalah kepercayaan penuh individu kepada

tuhan bahwa permasalahan yang dialami merupakan rencana dari

tuhan yang harus di jalani dengan pemikiran dan perasaan yang

positif.

e. Dimensi Resiliensi Keluarga

(Yulis Setiya Dewi, 2022) Dalam buku resiliesni ibu menghadapi

bencana alam mengemukan resiliensi keluarga juga sebagai

pengembangan diri dan hubungan terhadap orang lain. Walsh

menyampaikan ada 3 elemen utama dalam resiliensi keluarga, yakni:

1) Keyakinan/Kepercayaan (Belief)

Merupakan elemen yang penting dalam resiliensi keluarga.

walsh menyampaikan bahwa sistem keyakinan mencakup nilai,

pendirian, sikap, prasangka, dan asumsi yang membentuk respon

emosi, sebuah keputusan,dan menjadi pedoman tingkah laku.

sedangkan sistem keyakinan pada keluarga dipengaruhi oleh cultural

belief yang diterapkan dari keluarga dan interaksi sosial. secara

umum, system keyakinan mencakup tiga komponen seperti,

memaknai situasi krisis (Making Meaning of Adversity), Pandangan

positif (Positive Outlook), dan transcendental dan spiritualitas.

berikut penjelasan dari ketiga komponen dari sistem keyakinan:

a) Memaknai Situasi Krisis (Marking Meaning of Adversity)

Berdasarkan Penjelasan Dari Walsh Resiliensi Keluarga

Dapat Melihat Krisis Dengan Cara;

(1) Relational View Of Resilience


26

Adalah Dasar Resiliensi. Keluarga Dapat Melihat Krisis

Sebagai Tantangan Bersama (Shared Challenge) Dan

Menjadikan Hubungan Antar Keluarga Yang Memegang

Kekuatan Dalam Mengahadapi Krisis.

(2) Normalizing And Contextualizing Distress

Adalah Mengartikan Kata "Krisis" Sebagai Hal Yang

[Link] Kemungkinan Dalam Keluarga Untuk Saling

Menyalahkan Terkait Krisis Dapat Berkurang.

(3) Sense of Coherence

Memberikan pandangan pada keluarga untuk melihat

krisis sebagai hal yang dipahami, dikendalikan, dan bermakna

shingga SOC (Sense Of Cafference) menjadikan keluarga

melalui krisis dengan baik.

(4) Causal Or Explanatory Attributions

Sebagai penilaian yang subjektif terkait krisis yang dapat

memengaruhi koping dan adaptasi keluarga.

(a) Pandangan Positif

Pandangan positif (Positive Outlook) merupakan komponen

dalam resiliensi yang penting. pandangan positif terdapat

hubungan kuat dengan koping, recovery dari krisis, dan

menangani hambatan untuk mencapai sukses. elemen

dalam pandangan positif terdiri dari harapan dan

optimisme, fokus pada kekuatan dan potensi, inisiatif dan

ketekunan, keberanian dan dorongan, juga penguasaan aktif

dan spiritualitas.

(b) Transcendental Belief


27

Pemberian makna hirup dan penghibur ketika adanya

tekanan yang dialami. selain itu, juga berperan sebagai

pengubah krisis yang terjadi menjadi hal yang tidak

mengancam dan penguatan diri yang terjadi menjadi hal

yang tidak mengancam dan penguatan diri akan situasi

yang tidak mungkin diubah

2) Pola Organisasi (Organizational Patterns)

Pada pola organisasi akan semakin dibutuhkan ketika keluarga

mengalami situasi krisis. untuk mengatasi krisis secara efisien,

keluarga dapat mengatur sumber dari masalah, menghambat tekanan,

dan melakukan reorganisasi guna menyesuaikan dengan kondisi saat

itu. diperlukan adanya pola organisasi yang efektif, keterhubungan

(connectedness), dan ekonomi menjadi sumber social

3) Proses Komunikasi (Communication Process)

Pada resiliensi keluarga dibutukan adanya komunikasi yang

baik. komunikasi memiliki dua fungsi pokok yakni, a) Pokok isi

adalah komunikasi yang berfungsi menyampaikan informasi secara

sebenarnya, pendapat atau perasaan; b) Aspek hubungan artinya

komunikasi yang berfungsi penentuan dari sifat hubungan. pada

komunikasi memiliki tiga aspek penting yakni;

a) Kejelasan/ Transparansi (Clarity)

Kejelasan dalam penyampaian pesan dapat terfasilitasi dari

fungsi keluarga secara efektif. Kejelasan juga membantu keluarga

dalam

b) Pengungkapan Emosional
28

Resiliensi keluarga adalah keluarga yang dapat membagi ra

terhadap antar anggotanya juga mampu memahami dari berbag

respons yang muncul. Ketika membagi rasa terhadap suatu h

keluarga menunjukkan rasa kepedulian dan menghargai par

perbedaan anggota keluarga.

(1) Penyelesaian Masalah Secara Kolaboratif

Keluarga mampu berfungsi baik adalah anggota

keluarga yarg dapat menyelesaikan permasalahan secara

efektif. Penyelesaian masalah secara efektif adalah hal utama

untuk anggota keluarg dalam menangani situasi rawan atau

adanya permasalaha yang terus menerus. Untuk mengatasi

situasi rawan, anggo keluarga dapat memunculkan pemikiran

ide yang kreatif gun adanya keinginan untuk selesai dari

permasalhan, mengambil ketetapan secara bersama-sama, dan

pernyataan permasalahan yang membutuhkan rundingan yang

mencakup dari argument individu antar anggota

f. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Resiliensi

Menurut Daniel dan Wassel adanya faktor protektif berasal dari

keluarga sebagai berikut:

1) Adanya rasa kepercayaan dan kepekaan social

2) Adanya ikatan kuat antaranggota keluarga

3) Kerukunan

4) Memiliki orang tua yang sehat secara mental

5) Adanya dorongan untuk mandiri pada perempuan di anggota keluarga

6) Adanya dorongan untuk mengekspresikan perasaan untuk laki-laki


29

pada anggota keluarga.

7) Adanya keharmonisan di keluarga

8) Adanya hubungan dekat antar saudara kandung

9) Jumlah anak disesuaikan dengan panduan KB (Keluarga Berencana)

10) Adanya kecukupan secara finansial juga sumber materi

11) Saling tolong menolong pada sesama anggota keluarga

12) Adanya kedekatan terhadap kakek-nenek dari ananya maupun

cucunya

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Kurnia, 2021) menunjukkan

bahwa resiliensi komunitas belum tercapai, dimana komunitas belum

mampu membangun aksi kolektif untuk mengatasi berbagai masalah dan

masih bergantung pihak eskternal. Meskipun modal sosial tergolong

tinggi, namun anggota komunitas cenderung individualis untuk

mengatasi permasalahan yang dihadapi. Salah satu penyebabnya adalah

kurang berperannya pemimpin komunitas karena tidak tinggal bersama

dengan anggota komunitasnya di hunian sementara (Huntara) sehingga

interaksi antar anggota komunitas menjadi terbatas dan tidak ada

koordinasi yang baik untuk melakukan aksi bersama dalam mengatasi

berbagai masalah yang dihadapi

B. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Resiliensi Kesiapsiagaan
Keluarga Bencana
Bagan 1
Kerangka Konsep
C. Definisi Operasional
30

Tabel 2
Definisi Operasional

Definisi Cara Skala


No Variabel Alat Ukur Hasil Ukur
Operasional Ukur Ukur
Independen
1 Resiliensi Resiliensi Kuesioner Kuesioner Interpretasi ordinal
Keluarga Keluarga dalam Family skor
menghadapi Risilience 1. Resiliensi
bencana yang Asassement Tinggi =
mengukur aspek Scale (FRAS) 76-100%
making meaning Walsh 2012 2. Resiliensi
out of adversity, Sedang =
positive outlook, 60-75%
transcendenty & 3. Resiliensi
spirituality, Rendah =
flexibility,conne < 60%
ctedness,social
& economic
resources,
clarity, open
emotional
expression,
collaborative
problem solving
.
Dependen
2 Kesiapsia kesiapsiagaan Kousiner Kuesioner Skor kategori ordinal
gaan bencana Kesiapsiagaan tingkat
Bencana [Link] Bencana di kesiapsiagaan
(household) adaptasi dari 3 tinggi
dalam kisi-kisi yang 2 sedang
menghadapi telah di susun 1 rendah
bencana yang oleh LIPI
mengukur aspek UNECSO/ISD
pengetahuan dan R berjumlah
sikap, kebijakan 38 pernyataan
atau panduan, menggunakan
rencana tanggap skala ordinal
darurat, sistem dengan
peringatan jawaban benar
bencana dan 1, dan jawaban
mobilitas salah 0
sumber daya.

D. Hipotesis
31

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi

sebagai alternatif yang paling tepat untuk diteliti. Adapun hipotesis dalam

penelitian ini adalah:.

Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dengan

Kesiapsiagaan Bencana Pada Keluarga dikampung Segana Jenggalu RT

08 RW 03 Kota Bengkulu

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dengan

Kesiapsiagaan Bencana Pada Keluarga dikampung Segana Jenggalu RT

08 RW 03 Kota Bengkulu

.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di kampung Segana Jenggalu RT 08

RW 03 Kota Bengkulu dan waktu penelitian dilakukan pada bulan 3 sampai 7

JuliTahun 2024.

B. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif korelatif yaitu jenis

penelitian dengan melakukan pengamatan yang dapat dilakukan secara

langsung maupun tidak langsung tanpa memberikan perlakuan atau intervensi

kepada subyek. Pada penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross

sectional yaitu di mana peneliti mengukur variabel secara bersamaan dan hasil

yang di peroleh mengambarkan kondisi yang terjadi saat penelitian

berlangsung.

C. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat dikampung Segana

Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu yang akan diambil dan disesuaikan

dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi dari penelitian yang sebelumnya

telah ditentukan oleh peneliti.

32
33

2. Sampel

Pada penelitian ini dilakukan pengambilan sampel dengan cara

Accidental sampling teknik pengambilan sampling dengan Accidental

sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang berdasarkan sampel

yang kebetulan di temui peneliti dan cocok dengan kreteria inklusi dan

eklusi,Sugiyono (2009:221).

Kriteria Inklusi

a. Keluarga di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu

b. Ayah/Ibu/Anak yang berusia 17 tahun lebih

c. Tinggal di pesisir pantai

Kriteria Eksklusi

a. Keluarga Tidak bersedia menjadi responden.

b. Keluarga yang tidak tinggal di pesisir pantai

D. Prosedur Pengumpulan Data

1 Data sekunder

Data sekunder yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan

data kepada pengumpul data,pengambilan data sekunder dilakukan melalui

orang lain atau lewat dokumen (sugiyono 2018 :456)

2 Data Primer

Data primer adalah data asli yang dikumpul kan sendiri oleh peneliti

untuk menjawab penelitiannya Danang Suyonto (2013 :21)


34

E. Teknik Pengolahan Data

Dalam suatu penelitian, pengolahan data merupakan salah satu

langkah yang sangat penting. Hal ini di sebabkan karena data yang diperoleh

langsung dari penelitian masih mentah, belum memberikan informasi apa-

apa, dan belum siap untuk disajikan. Untuk memperoleh penyajian data

sebagai hasil yang berarti dan kesimpulan yang baik, diperlukan pengolahan

data. Dalam hal ini pengolahan data menggunakan komputer akan melalui

tahap-tahap sebagai berikut :

1. Editing

Hasil wawancara dan kuesioner dari lapangan harus dilakukan

penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah

keigatan untuk mengecek dan memperbaiki isian formulir atau kuesioner

tersebut :

a. Apakah lengkap, dalam arti semua pertanyaan sudah terisi.

b. Pemeriksaan semua jawaban dapat dinilai atau tidak.

c. Pemeriksaan apakah ada kesalahan

2. Coding

Pemberian kode yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf

menjadi data angka atau bilangan. Setelah dilakukan perhitungan score

pada setiap jawaban kuisoner.


35

3. Processing

Peneliti memasukan data dari kuesioner ke komputer agar dapat

dianalisis. Processing dilakukan pada analisa univariat dan bivariat

mengunakan komputer.

4. Tabulating

Tabulating yaitu data yang dikelompokan kemudian disajikan

dalam bentuk tabel menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan

peneliti dengan menggunakan computer

5. Cleaning

Peneliti melakukan pengecekan kembali data dari setiap sumber

data selesai di masukkan, untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan

kode, ketidak [Link] dilakukan pembetulan atau

koreksi.

F. Teknik Analisa Data

1. Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk memperoleh gambaran distribusi

frekuensi dan proporsi dari variabel yang di teliti baik variabel Independen

(Resiliensi Keluarga) maupun variable Dependen (kesiapsiagaan bencana).

2. Analisa Bivariat

Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan resiliensi

keluarga dengan kesiapsiagaan bencana pada keluarga dikampung segana

jenggalu rt 08 rw 03 kota bengkulu dengan mengunakan Uji Chi-Square

(𝒳2), dan untuk mengetahui keeratan hubungan menggunakan Contingency

coefficient (C)
36
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW

03 Kota Bengkulu pada tanggal 11-17 Juni 2024. Tujuan utamanya adalah

untuk mengetahui hubungan antara resiliensi keluarga dengan

kesiapsiagaan bencana di wilayah tersebut. Penelitian menggunakan desain

analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional, melibatkan 116

responden yang dipilih dari total populasi 190 Kepala Keluarga.

2. Jalannya Penelitian

Penelitian dimulai dari SK penetapan pembimbing proposal skripsi

nomor 1942 pada tanggal 07 Oktober 2023. Pada tanggal 20 November

2023 hinggal 20 Febuari 2024 melaksanakan bimbingan proposal bersama

pembimbing 2 dan 1. Pada tanggal 05 maret 2024 melaksankana ujian

seminar proposal. Pada tanggal 03 Maret 2024 sampai tanggal 21 Maret

2024 dilakukan revisi proposal. Pada tanggal 04 Juni 2024 mengurus surat

bebas keuangan dan pada tanggal 07 Juni 2024 meliris surat permohonan

izin penelitian nomor 0798. Pada tanggal 08 Juni 2024 keluar surat

rekomendasi penelitian nomor 508 dari dinas penanaman modal dan

pelayanan terpadu satu pintu dan pada tanggal 08 Juni 2024 meneruskan

terusan surat izin penelitian dari dinas penanaman modal dan pelayanan

terpadu satu pintu ke ketuan kesatuan bangsa dan politik provinsi Kota

37
38

Bengkulu, Ketuan STIKES Tri Mandiri Sakti kota Bengkulu dan Wakil

Ketua 1 STIKES Tri Mandiri Sakti Kota Bengkulu. pada tanggal 10-17

Juni 2024 melakukan penelitian dikampung segana jenggalu rt 08 rw 03

kota bengkulu.

Data awal yang dikumpulkan dengan melakukan pengisian

kuesioner . Pengumpulan data dilakukan secara door to door, dimana

peneliti menjelaskan tujuan penelitian kepada setiap responden,

memberikan kesempatan untuk bertanya, dan meminta persetujuan melalui

informed consent.

Setelah data dikumpulkan peneliti melakukan pengolahan data yang

dimulai dari Proses editing, coding, cleaning data hingga analisis data

menggunakan analisis univariat dan bivariate. Kemudian peneliti membuat

hasil penelitian serta.

3. Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk memperoleh

gambaran distribusi frekuensi dan proporsi dari variabel

yang di teliti baik variabel Independen (Resiliensi Keluarga)

maupun variable Dependen (kesiapsiagaan bencana).

a. Distribusi Frekuensi Resiliensi Keluarga

Distribusi frekuensi resiliensi keluarga dalam

Penelitian ini tersaji dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 2
Distribusi Frekuensi Resiliensi Keluarga
Resiliensi Keluarga Frekuensi Persentase (%)
39

Resiliensi Sedang 17 14,66


Resiliensi Tinggi 99 85,34
Jumlah 116 100
Hasil penelitian mengenai distribusi frekuensi

resiliensi keluarga di Kampung Segana Jenggalu

menunjukkan gambaran yang positif. Sebagian besar

keluarga yang diteliti memiliki tingkat resiliensi tinggi,

dengan jumlah mencapai 99 keluarga atau 85,34% dari

total sampel. Sisanya, sebanyak 17 keluarga atau

14,66%, berada pada kategori resiliensi sedang.

Menariknya, tidak ditemukan keluarga dengan tingkat

resiliensi rendah dalam penelitian ini. Temuan tersebut

mengindikasikan bahwa komunitas keluarga di

Kampung Segana Jenggalu umumnya memiliki

ketahanan yang baik dalam menghadapi berbagai

tantangan dan tekanan hidup. Mayoritas keluarga

tampaknya memiliki kapasitas yang kuat untuk

beradaptasi dan mengatasi situasi sulit yang mungkin

mereka hadapi.

b. Distribusi Frekuensi Kesiapsiagaan Bencana

Distribusi frekuensi kesiapsiagaan bencana dalam

Penelitian ini tersaji dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 3
Distribusi Frekuensi Kesiapsiagaan Bencana

Kesiapsiagaan Bencana Frekuensi Persentase (%)


40

Sedang 1 0,86
Tinggi 115 99,14
Jumlah 116 100

Penelitian tentang distribusi frekuensi

kesiapsiagaan bencana di Kampung Segana Jenggalu

menunjukan gambaran yang positif. Data menunjukkan

bahwa hampir seluruh keluarga yang diteliti memiliki

tingkat kesiapsiagaan bencana yang tinggi. Secara

spesifik, dari total 116 keluarga yang menjadi sampel,

115 keluarga atau 99,14% berada dalam kategori

kesiapsiagaan tinggi. Hanya terdapat satu keluarga,

yang mewakili 0,86% dari total sampel, yang tergolong

dalam kategori kesiapsiagaan sedang. Yang menarik,

tidak ditemukan keluarga dengan tingkat kesiapsiagaan

rendah dalam penelitian ini. Temuan ini memberikan

gambaran yang sangat positif tentang kesadaran dan

persiapan masyarakat Kampung Segana Jenggalu dalam

menghadapi potensi bencana. Fakta bahwa hampir

semua keluarga memiliki kesiapsiagaan tinggi

menunjukkan bahwa komunitas ini telah

mengembangkan pemahaman dan kemampuan yang

baik dalam mengantisipasi, merespon, dan pulih dari

kemungkinan bencana.

4. Analisis Bivariat
41

Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan resiliensi

keluarga dengan kesiapsiagaan bencana pada keluarga dikampung segana

jenggalu RT 08 RW 03 kota bengkulu dengan mengunakan Uji Chi-

Square (𝒳2), dan untuk mengetahui keeratan hubungan menggunakan

Contingency coefficient (C). Hubungan reliensi keluarga dengan kesiapan

bencana dikampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu

disajikan dalam tabel berikut:


42

Tabel 4
Hasil uji Statistik Hubungan Resiliensi Keluarga dengan
Kesiapsiagaan bencana di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW
03 Kota Bengkulu

Kesiapsiagaan
Bencana Total P
Resiliensi
2 valu C
Keluarga Sedang Tinggi
e
F % F % F %
Resiliensi
0 0,00 17 14,66 17 14,66
Sedang
Relisiensi 0,173 0,677 0,039
1 0,86 98 84,48 99 85,34
Tinggi
Jumlah 1 0,86 115 99,14 116 100

Berdasarkan data diatas diperoleh analisis statistik Chi-Square,

dengan nilai statistik sebesar 0,173 dan p-value sebesar 0,677, yang

lebih besar dari batas signifikansi 0,05, dapat disimpulkan bahwa tidak

terdapat hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dan

kesiapsiagaan bencana. Selain itu, hasil perhitungan koefisien kontingen

(C) yang menunjukkan nilai sebesar 0,039, berada dalam rentang 0,00-

0,199, menunjukkan bahwa hubungan antara resiliensi keluarga dan

kesiapsiagaan bencana termasuk dalam kategori sangat rendah. Ini

mengindikasikan bahwa meskipun terdapat pola tertentu, hubungan

statistik antara kedua variabel tersebut tidak kuat.

B. Pembahasan

1. Distribusi Frekuensi Resliensi Keluarga di Kampung Segana Jenggalu

RT 08 RW 03 Kota Bengkulu Dalam Menghadapi Bencana Tsunami

Hasil penelitian mengenai distribusi frekuensi resiliensi keluarga di

Kampung Segana Jenggalu menunjukkan gambaran yang positif. Sebagian

besar keluarga yang diteliti memiliki tingkat resiliensi tinggi, dengan


43

jumlah mencapai 99 responden keluarga atau 85,34% dari total sampel.

Sisanya, sebanyak 17 responden keluarga atau 14,66%, berada pada

kategori resiliensi sedang.

Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 39

pernyataan. Dari 39 pernyataan tersebut diperoleh sebanyak 99 responden

dari 116 responden keluarga atau 85.34%, menunjukkan tingkat resiliensi

yang tinggi. Skor resiliensi keluarga-keluarga ini berkisar antara 118

responden (76%) hingga 156 responden (100%). Sementara itu, 17

keluarga atau 14.66% dari total responden memiliki tingkat resiliensi

sedang. Skor resiliensi untuk kelompok ini berkisar antara 108 (69%)

hingga 117 (75%). Menariknya, tidak ada keluarga yang masuk dalam

kategori resiliensi rendah. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh sampel

dalam penelitian ini memiliki setidaknya tingkat resiliensi yang cukup

untuk menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan keluarga. Temuan ini

sangat positif dan mengindikasikan bahwa keluarga-keluarga dalam

sampel ini memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mengatasi kesulitan

dan tantangan. Skor tertinggi yang dicapai dalam penelitian ini adalah 156,

yang merupakan skor maksimal (100%). Di sisi lain, skor terendah yang

tercatat adalah 108 (69%), yang masih termasuk dalam kategori sedang.

Bahkan keluarga dengan skor terendah masih menunjukkan tingkat

resiliensi yang cukup, mengindikasikan adanya potensi dan kekuatan

dalam menghadapi kesulitan.


44

2. Distribusi Frekuensi Kesiapsiagaan Masyarakat di Kampung Segana

Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu Dalam Menghadapi Bencana

Tsunami

Distribusi frekuensi kesiapsiagaan masyarakat di Kampung Segana

Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dalam menghadapi bencana

tsunami menunjukkan bahwa hampir seluruh keluarga, yakni 115

responden dari 116 responden keluarga (99,14%), memiliki kesiapsiagaan

yang tinggi. Ini berarti sebagian besar keluarga di daerah tersebut telah

mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi potensi

bencana, seperti memahami prosedur evakuasi, memiliki persediaan

darurat, dan mengikuti pelatihan bencana. Hanya 1 keluarga (0,86%) yang

menunjukkan kesiapsiagaan sedang, dan tidak ada keluarga yang masuk

dalam kategori kesiapsiagaan rendah.

Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk

mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian berbagai sumber daya

serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna (Utami dkk,

2021). Dalam konteks penelitian di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW

03 Kota Bengkulu, hasil yang menunjukkan bahwa 99,14% keluarga

memiliki kesiapsiagaan bencana yang tinggi sejalan dengan definisi

tersebut. Mayoritas keluarga telah menerapkan langkah-langkah yang

diperlukan untuk mencegah dampak buruk dari bencana, seperti tsunami,

melalui persiapan dan tindakan yang terorganisir dengan baik. Ini


45

mencerminkan kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesiapsiagaan

sebagai upaya preventif dalam menghadapi potensi bencana.

Sikap kesiapsiagaan merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan

untuk mengurangi resiko bencana,sikap menentukan individu dan rumah

tangga membuat respon atau breaksi terhadap suatu situasi bencana. Sikap

yang baik berbentuk dan dipengaruhi oleh pengetahuan (Rahmat et

al.,2023).

Sejalan dengan penelitian Hildayanto (2021) Hasil menunjukan

bahwa hasil penelitian diketahui bahwa jumlah masyarakat yang memiliki

tingkat pengetahuan kesiapsiagaan baik sebanyak 37%, sedangkan jumlah

masyarakat yang memiliki tingkat pengetahuan kesiapsiagaan kurang

sebanyak 63%. Dan jumlah masyarakat yang memiliki sikap kesiapsiagaan

baik sebanyak 48%, sedangkan jumlah masyarakat yang memiliki sikap

kesiapsiagaan kurang sebanyak 52%. Hasil ini menguatkan bahwa

kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana berada pada tingkat yang

sangat baik, menunjukkan kesadaran dan tindakan yang tepat dalam

mengantisipasi risiko bencana.

Selain itu hasil penelitian dari Widayati & Husain (2023)

menunjukan bahwa masyarakat (kepala keluarga) yang memiliki tingkat

pengetahuan tentang kesiapsiagaan baik sebanyak 30 responden (34,5%),

sedangkan yang memiliki tingkat pengetahuan tentang kesiapsiagaan

kurang sebanyak 57 responden (65,5%). Jadi dapat disimpulkan bahwa

tingkat pengetahuan tentang kesiapsiagaan masyarakat dalam


46

penanggulangan bencana banjir di desa Sembungharjo, Pulokulon,

Grobogan tergolong masih rendah dengan presentase sebanyak 65,5%.

3. Hubungan Antara Resiliensi Keluarga Dengan Kesiapsiagaan

Bencana di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu

Tsunami

Berdasarkan hasil analisis bivarian hubungan antara resiliensi

keluarga dan kesiapsiagaan bencana di Kampung Segana Jenggalu RT 08

RW 03 Kota Bengkulu dapat dilihat dari hasil analisis penelitian

Berdasarkan data diatas diperoleh analisis statistik Chi-Square,

dengan nilai statistik sebesar 0,173 dan p-value sebesar 0,677, yang

lebih besar dari batas signifikansi 0,05, dapat disimpulkan bahwa tidak

terdapat hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dan

kesiapsiagaan bencana. Selain itu, hasil perhitungan koefisien kontingen

(C) yang menunjukkan nilai sebesar 0,039, berada dalam rentang 0,00-

0,199, menunjukkan bahwa hubungan antara resiliensi keluarga dan

kesiapsiagaan bencana termasuk dalam kategori sangat rendah. Ini

mengindikasikan bahwa meskipun terdapat pola tertentu, hubungan

statistik antara kedua variabel tersebut tidak kuat.

Dari hasil rekap kuesioner diketahui sebagian besar dari responden

resiliensi keluarga mengalami peningkatan (tinggi). Hal ini dilihat dari

rata-rata hasil jawaban kuesioner yang dikerjakan oleh responden bahwa

banyak responden menjawab tinggi pada pertanyaan resiliensi keluarga.


47

Hal ini dari data 17 diatas sesuai dengan pendapat (Mawarpury &

Mirza, 2017) menyatakan resiliensi sedang Hal ini berkaitan dengan

tingkat perekonomian warga yang menjadi masalah utama dalam

kehidupan. Masalah tersebut berpengaruh terhadap tingkat resiliensi

keluarga. Dalam hal ini, resiliensi keluarga dipengaruhi oleh beberapa

Selain itu, ketahanan keluarga dijelaskan dalam UU Nomor 10/1992

sebagai dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan

serta mengandung kemampuan fisik material dan psikis mental spiritual

guna hidup mandiri, mengembangkan diri dan keluarganya untuk

mencapai keadaan harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan

batin. Hal ini senada dengan definisi ketahanan keluarga bahwa ketahanan

keluarga menyangkut kemampuan individu atau keluarga untuk

memanfaatkan potensinya untuk menghadapi tantangan hidup, termasuk

kemampuan untuk mengembalikan fungsifungsi keluarga seperti semula

dalam menghadapi tantangan dan krisis

Faktor dari data diatas kesiapsiagaan bencana sedang sebanyak 1

orang dengan dikategorikan kesiapsiaagan sedang menyatakan hal ini

sesuai dengan pendapat Hanifah, (2019) dengan faktor usia, dan

pendidikan. Daya ingat seseorang itu salah satunya diepngaruhi oleh usia

dan dapat disimpulkan bahwa bertambahnya usia dapat berpengaruh pada

pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, dapat disimpulkan usia yang

masih produktif dan memiliki peluang yang tinggi dalam menerima

edukasi
48

Resiliensi keluarga tinggi rendahnya resiliensi dalam diri individu

tidak lepas disebabkan yang mempengaruhinya antara lain usia, jenis

kelamin, tempramen dan intelegensi. Menurut penelitian (Sanders, 2022)

menyatakan ada hubungan antara resiliensi dengan usia. Usia lebih tua

memiliki resiliensi lebih baik dibandingkan dengan usia yang lebih muda.

Hasil penelitian ini sejalan dengan (Deviantony, 2020) bahwa usia yang

lebih tua menunjukkan resiliensi yang lebih tinggi, Hal ini dikarenakan

orang yang lebih tua memiliki emosi yang lebih stabil

Sedangkan Resiliensi sedang yang mempengaruhi yaitu gender,

status pernikahan, peristiwa hidup dan status social ekonomi. Pola sosial

yang pertama adalah gender, di mana perempuan lebih mudah mengalami

distress dibandingkan dengan laki-laki. Berikutnya, status pernikahan,

dimana individu yang menikah cenderung lebih resilien terhadap distress

dibandingkan dengan individu yang belum menikah. Kemudian peristiwa

hidup yang tidak diinginkan, yaitu semakin banyak perubahan yang tidak

diinginkan terjadi dalam sebuah kehidupan seseorang, maka tingkat

distress yang dialami semakin tinggi. Terakhir, yaitu kelas sosial ekonomi,

dimana disebutkan bahwa semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang

(baik dari segi pendidikan, pekerjaan maupun pemasukan)

Dalam penelitian ini juga didapatkan dengan resiliensi sedang dan

rendah, dimana sebagian besar ditemukan dengan rentang umur 46-59

tahun serta tingkat pendidikan sekolah dasar. Hal ini terkait dengan

kurangnya pengetahuan serta emosi yang kurang stabil sehingga kurang


49

mampu untuk beradaptasi dengan masalah yang baru dihadapi. Kestabilan

emosional memang tidak bisa di intepretasikan dengan umur individu,

namun kestabilan emosional memiliki dampak dalam penyesuaian diri.

Ketika individu sudah memiliki kematangan emosional atau emosi yang

stabil maka individu tersebut akan mampu beradaptasi dengan masalah

(Sugiarto, 2017). Umur tidak bisa menjadi tolak ukur dalam menentukan

resiliensi setiap individu karena terdapat faktor-faktor pencetus lain seperti

dukungan keluarga yang didapatkan oleh setiap individu, pendidikan yang

ditempuh oleh setiap individu (Lisani & Susandari, 2017).

Faktor yang memengaruhi resiliensi antara lain pengendalian

faktor internal yang akan diulas keterkaitannya dengan resiliensi

adalah regulasi emosi (emotional regulation) dan

optimisme. Sementara

faktor eksternalnya adalah dukungan keluarga. Regulasi emosi merupakan

kompetensi seseorang untuk selalu berada dalam perasaan tenang

saat berada dalam tekanan. Seseorang memiliki ketangguhan atau

resiliensi akan menggunakan keterampilan yang berkembang dengan

baik sehingga dapat menolong individu tersebut mengendalikan

emosi, perhatian, dan perilaku. Individu yang tidak

mempunyai regulasi emosi secara teratur akan mempunyai emosi

negatif berupamudah marah, mudah cemas, dan sulit bertahan

hubungan (Hertinjung et al., 2022)


50

Dukungan yang baik dipengaruhi oleh dukungan dari orang yang

sangat berarti atau orang yang dekat dengan keluarga dalam hal ini suami,

orang tua dan anak-anak. anak sangat membutuhkan dukungan dari orang

yang paling dekat sebagai tempat mereka mendapatkan semangat, kasih

sayang dan pengertian. Dukungan yang diberikan keluarga untuk

mengurangi resiliensi itu sendiri adalah dukungan informasional, dimana

keluarga memberikan nasehat, saran, dukungan jasmani maupun rohani

(Sembiring, 2019).

Resiliensi penting bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan

bencana, karena dapat memberikan pengalaman yang baik bagi

masyarakat dalam menghadapi tantangan dan kesulitas hidup (Mourato,

2021). Hal ini dikarenakan peristiwa bencana yang pernah dialami oleh

individu, diterima sebagai stimulus yang memberikan pengalaman dan

mempengaruhi tingkat kesiapsiagaan seseorang dalam menghadapi

Bencana akan memberikan proses pembelajaran yang bermanfaat bagi

individu dalam membentuk perilaku kesiapan. Proses pembelajaran

tersebut tercermin melalui adanya langkah persiapan yang dilakukan

masyarakat, sehingga dapat meminimalisir korban dan dampak psikologis

dari bencana. Perilaku kesiapan ini juga didukung oleh kemampuan

individu untuk bangkit kembali dari peristiwa trauma yang pernah terjadi.

Kemampuan inilah yang kemudian disebut dengan resiliensi (Sandrina et

al., 2023)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sasmita & Afriyenti, 2019)

bahwa regulasi emosi, impulse control, optimisme, causal, self-efficacy,


51

reaching out, dapat membantu resiliensi para korban tsunami, namun tidak

halnya dengan empati karena tidak berpengaruh signifikan terhadap

resiliensi korban. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bagian dari

rencana pelaksanaan terapi psikologis khususnya terkait dengan Cognitive

Behavioral Therapy, Dialectical Behavioral Therapy agar mampu melihat

individu dalam menerima bencana serta bangkit atas apa yang telah terjadi.

Hasil dari kousiner Kesiapsiagaan Bencana menunjukan responden

yang menjawab di kategori tinggi dengan nomor responden 001 , 002, 003,

004, 005, 006, 007, 008, 009, 010, 011, 012, 013, 014, 015, 016, 017,

018, 019, 020, 021, 022, 023, 024, 025, 026, 027, 028, 029, 030, 031,

032, 033, 034, 035, 036, 037, 038, 039, 040, 041, 042, 043, 044, 045,

046, 047, 048, 049, 050, 051, 052, 053, 054, 055, 056, 057, 058, 059,

060, 061, 062, 063, 064, 065, 066, 067, 068, 069, 070, 071, 072, 073,

074, 075, 076, 077, 078, 079, 080, 081, 082, 083, 084, 085, 086, 087,

088, 089, 090, 091, 092, 094, 095, 096, 097, 099, 100, 101, 102, 103,

104, 105, 106, 107, 108, 109, 110, 111, 112, 113, 114, 115, 116,

sedangkan responden yang menjawab di kategori sedang dengan nomor

responden 093

Berdasarkan data diatas diperoleh analisis statistik Chi-Square,

dengan nilai statistik sebesar 0,173 dan p-value sebesar 0,677, yang

lebih besar dari batas signifikansi 0,05, dapat disimpulkan bahwa tidak

terdapat hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dan

kesiapsiagaan bencana. Selain itu, hasil perhitungan koefisien kontingen


52

(C) yang menunjukkan nilai sebesar 0,039, berada dalam rentang 0,00-

0,199, menunjukkan bahwa hubungan antara resiliensi keluarga dan

kesiapsiagaan bencana termasuk dalam kategori sangat rendah. Ini

mengindikasikan bahwa meskipun terdapat pola tertentu, hubungan

statistik antara kedua variabel tersebut tidak kuat.

Dari hasil rekap kuesioner diketahui sebagian besar dari responden

resiliensi keluarga mengalami peningkatan (tinggi). Hal ini dilihat dari

rata-rata hasil jawaban kuesioner yang dikerjakan oleh responden bahwa

banyak responden menjawab tinggi pada pertanyaan resiliensi keluarga.

Hal ini berkaitan dengan tingkat perekonomian warga yang menjadi

masalah utama dalam kehidupan masyarakat seperti, ketakutan masyarakat

akan kondisinya yang lemah, kekhawatiran. Masalah tersebut berpengaruh

terhadap tingkat resiliensi keluarga dengan kesiapsiagaan bencana yang

mengakibatkan keguncangan ekonomi sehingga berdampak besar pada

aspek fisik, psikologis, dan sosial. Upaya meningkatkan ketahanan

keluarga dengan mengoptimalkan fungsi dan peran keluarga serta perlunya

sosialisasi ketahanan keluarga yang diadakan institusi atau komunitas.

Penelitian ini merekomendasikan perlunya kebijakan dari pemerintah

untuk menggalakkan penguatan ketahanan keluarga. faktor-faktor yang

dapat mempengaruhi kesipasiagaan bencana faktor fisik, sosial, ekonomi,

dan lingkungan yang mengakibatkan menurunnya kemampuan dalam

menghadapi bahaya (Hidayat et al., 2023)


53

Faktor ekonomi memainkan peran penting dalam kesiapsiagaan

bencana, karena kondisi ekonomi individu dan komunitas secara langsung

memengaruhi akses mereka terhadap sumber daya yang diperlukan untuk

mempersiapkan diri menghadapi bencana. Penelitian menunjukkan bahwa

individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi cenderung lebih

siap menghadapi bencana. Mereka memiliki kemampuan untuk

menyimpan makanan, air, dan peralatan pertolongan pertama di rumah,

serta berinvestasi dalam asuransi dan memperkuat bangunan mereka (Kim

& Kim, 2022). Hal ini sejalan dengan temuan yang menunjukkan bahwa

kesiapsiagaan bencana meningkat seiring dengan meningkatnya

pendapatan (Kim & Kim, 2022). Selain itu, individu dan komunitas yang

lebih kaya lebih mudah mendapatkan informasi dan pelatihan yang

diperlukan untuk menghadapi situasi darurat, yang merupakan elemen

kunci dalam kesiapsiagaan bencana (Emaliyawati et al., 2022).

Di sisi lain, kelompok masyarakat yang rentan secara ekonomi

sering kali menghadapi keterbatasan dalam akses terhadap sarana dan

prasarana yang diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana.

Mereka mungkin tinggal di daerah yang lebih rentan terhadap risiko

bencana, seperti daerah yang rawan bencana atau di perumahan yang tidak

memenuhi standar keamanan bangunan (Guo et al., 2021). Penelitian

menunjukkan bahwa masyarakat di daerah pedesaan yang sering terkena

dampak bencana sering kali tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk

melakukan tindakan pencegahan (Guo et al., 2021). Keterbatasan ini dapat


54

meningkatkan risiko kerugian material dan korban jiwa ketika bencana

terjadi, karena mereka tidak memiliki akses yang memadai terhadap

pelatihan dan sumber daya yang diperlukan untuk mempersiapkan diri

(Atreya et al., 2017).

Kesenjangan ekonomi ini menunjukkan bahwa kemampuan individu

atau komunitas untuk mempersiapkan diri dan merespons bencana secara

efektif sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi mereka. Oleh karena itu,

penting bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk mempertimbangkan

intervensi yang berfokus pada pengurangan ketidaksetaraan ekonomi. Hal

ini dapat mencakup program pendidikan dan pelatihan yang ditujukan

untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan bencana di kalangan

kelompok masyarakat yang kurang mampu (Emaliyawati et al., 2022).

Dengan demikian, semua lapisan masyarakat dapat memiliki peluang yang

sama dalam kesiapsiagaan bencana, yang pada gilirannya dapat

mengurangi dampak bencana di masa depan.

Penelitian mengenai hubungan antara resiliensi keluarga dan

kesiapsiagaan bencana menunjukkan bahwa keduanya tidak selalu

memiliki hubungan signifikan. Hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa

teori dan temuan yang relevan dalam literatur yang ada.

Pertama, resiliensi keluarga sering kali dipahami sebagai

kemampuan untuk beradaptasi dan pulih dari situasi sulit, termasuk

bencana. Namun, penelitian menunjukkan bahwa resiliensi tidak selalu

berbanding lurus dengan kesiapsiagaan bencana. Misalnya, Ronan et al.


55

menekankan bahwa meskipun program kesiapsiagaan dapat meningkatkan

ketahanan, ada kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut mengenai

efektivitas program tersebut dalam mengurangi risiko dan meningkatkan

kesiapsiagaan (Ronan et al., 2015). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun

keluarga mungkin memiliki tingkat resiliensi yang tinggi, tanpa

pengetahuan dan keterampilan yang tepat, kesiapsiagaan mereka terhadap

bencana tetap rendah.

Selanjutnya, penelitian oleh Grimes et al. menunjukkan bahwa

tingkat kesiapsiagaan bencana di kalangan masyarakat di Australia berada

pada level rendah hingga sedang, meskipun mereka memiliki pengetahuan

tentang resiliensi (Grimes et al., 2020). Ini menunjukkan bahwa

pengetahuan dan pelatihan spesifik tentang kesiapsiagaan bencana lebih

berpengaruh daripada sekadar resiliensi emosional atau psikologis.

Dengan kata lain, resiliensi psikologis tidak cukup untuk menjamin

kesiapsiagaan yang efektif tanpa adanya pendidikan dan pelatihan yang

memadai.

Selain itu, studi oleh Kim dan Kim menunjukkan bahwa faktor

komunitas, seperti ketahanan komunitas, merupakan prediktor yang lebih

kuat untuk kesiapsiagaan bencana di tingkat rumah tangga (Kim & Kim,

2022). Ini menunjukkan bahwa interaksi sosial dan dukungan komunitas

lebih berperan dalam kesiapsiagaan dibandingkan dengan resiliensi

individu atau keluarga. Hal ini sejalan dengan temuan dari Adams et al.,

yang menekankan bahwa inisiatif kesiapsiagaan bencana yang berfokus


56

pada ketahanan komunitas lebih efektif daripada pendekatan yang hanya

menekankan pada perilaku individu (Adams et al., 2019).

Akhirnya, penelitian oleh Ferreira et al. menunjukkan bahwa

meskipun ada hubungan antara ketahanan pribadi dan kesiapsiagaan,

hubungan tersebut tidak selalu langsung dan dapat dipengaruhi oleh faktor

lain seperti kerentanan sosial (Ferreira et al., 2023). Ini menunjukkan

bahwa meskipun ketahanan dapat meningkatkan kesiapsiagaan, ada

banyak variabel lain yang berperan dalam menentukan tingkat

kesiapsiagaan bencana suatu keluarga.

Secara keseluruhan, meskipun resiliensi keluarga penting dalam

konteks pemulihan pasca-bencana, tidak ada bukti yang cukup untuk

mendukung bahwa resiliensi secara langsung berhubungan dengan

kesiapsiagaan bencana. Kesiapsiagaan lebih dipengaruhi oleh

pengetahuan, keterampilan, dan dukungan komunitas yang ada.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan adalah

Pendidikan. Hasil penelitian Kurniawati & Suwito, (2019) menyatakan

pendidikan sangat berpengaruh terhadap terwujudnya kesiapsiagaan

bencana, fungsi edukasi sebagai salah satu media terbaik untuk

mempersiapkan komunitas terhadap bencana. Masyarakat akan diedukasi,

dibimbing dan diberi pembina untuk membentuk suatu yang mengancam

dimanapun dan kapan pun melalui pendidikan bencana.

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kesiapsiagaan

dipengaruhi oleh usia dan tingkat pendidikan masyarakat. Berdasarkan


57

hasil wawancara masyarakat lanjut usia menyatakan kurang memahami

langkah-langkah upaya kesiapsiagaan dan kurangnya pengetahuan

mengenai kesiapsiagaan bencana. Masyarakat yang berumur 31-50 tahun

lebih memiliki pengetahuan lebih mengenai kesiapsiagaan yang

didapatkan dari berbagai sumber. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi

cara berfikir masyaakat dalam menghadapi bencana gempa bumi dan

tsunami. Masyarakat berpendidikan tinggi lebih mudah memahami hal-hal

terkait dengan kebencanaan dan bagaimana menghadapi bahaya bencana

tersebut.

Kesiapsiagaan bencana mengantisipasi bencana merupakan faktor

utama dan menjadi aspek dasar untuk kesiapsiagaan yang seharusnya

dimiliki oleh setiap masyarakat untuk dapat memberikan informasi

kepada anggota keluarga masing-masing bila suatu saat terjadinya bencana

(Sasmito & Prawito, 2023). Resiliensi keluarga yang kuat tentunya dapat

mempengaruhi kesiapsiagaan bencana. Hal ini dikarenakan upaya

kesiapsiagaan bencana akan menjadi tujuan bersama bagi masyarakat yang

berada dikawasan rawan bencana (Yulianti dkk, 2023).

Dari hasil rekap kuesioner diketahui sebagian besar dari dari 116

orang, 99 responden keluarga atau 85,34% dari total sampel. Sisanya,

sebanyak 17 responden keluarga atau 14,66%, berada pada kategori

resiliensi sedang, sedangkan tabulasi silang kesiapsiagaan bencana 115

responden dari 116 responden keluarga (99,14%), memiliki kesiapsiagaan

yang tinggi. Hanya 1 keluarga (0,86%) yang menunjukkan kesiapsiagaan


58

sedang, dan tidak ada keluarga yang masuk dalam kategori kesiapsiagaan

rendah.

Hal ini ditemukan oleh (Juhola, (2021) menemukan bahwa

faktor demografi dan sosial ekonomi memengaruhi cara

individu mempersiapkan diri dan terpengaruh oleh bahaya

alam. Namun, penelitian sering kali berfokus pada area dengan

paparan dan kerentanan tinggi, sedangkan penelitian tentang

area paparan dan kerentanan rendah lebih sedikit. Untuk

mengatasi kesenjangan ini, kami bertanya: apakah faktor sosial

ekonomi dan demografi Hasil kami menunjukkan bahwa tingkat

pendidikan atau status pekerjaan responden tidak terkait

dengan apakah mereka mengambil tindakan kesiapsiagaan atau

apakah mereka mengalami bahaya. Sebaliknya, jenis properti

tempat tinggal berperan. Selain itu, responden yang telah

mengalami bahaya terkait badai selama beberapa tahun

terakhir lebih cenderung untuk bersiap daripada mereka yang

tidak. Sebagai kesimpulan, faktor sosio-demografi tampaknya

hanya memiliki pengaruh yang kecil terhadap kesiapsiagaan

terhadap badai atau dampak yang dialami di Finlandia, yang

bertentangan dengan penelitian sebelumnya. Hal ini mungkin

berasal dari distribusi kesejahteraan yang relatif merata di

antara penduduk.

Lebih lanjut, perhitungan koefisien kontingen (C) menghasilkan

nilai 0,039, yang berada dalam kategori sangat rendah (0,00-0,199). Hal

ini memperkuat temuan sebelumnya, menunjukkan hubungan yang sangat


59

lemah antara resiliensi keluarga dan kesiapsiagaan bencana. Dengan kata

lain, perubahan dalam resiliensi keluarga hampir tidak memiliki dampak

yang berarti terhadap tingkat kesiapsiagaan bencana. Temuan-temuan ini

menggarisbawahi kompleksitas hubungan antara kedua variabel tersebut

dan menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami faktor-

faktor lain yang mungkin lebih berpengaruh terhadap kesiapsiagaan

bencana dalam konteks keluarga.

Penelitian yang dilakukan oleh Pangesti (2012) menjelaskan bahwa

pekerjaan seseorang akan berpengaruh pada pengetahuan dan

pengalamannya, jenis pekerjaan mempengaruhi bentuk dan pola

penggunaan internet seseorang. Seseorang yang bekerja dan memiliki

kapasitas keuangan yang tinggi mampu membayar semua layanan yang

tersedia di internet. Hal ini juga disebabkan oleh fakta bahwa tempat kerja

mereka memadai dan banyak fasilitas infrastruktur internet yang diberikan

sehingga mereka dapat dengan mudah dan cepat mengakses internet.

Seseorang yang bekerja dan memiliki akses informasi maka akan

mempengaruhi pengetahuan nya. Seseorang yang memiliki pengetahuan

tinggi mengenai banjir maka akan tinggi pula upaya kesiapsiagaan nya

menghadapi bencana. Pengetahuan yang tinggi akan diikuti tindakan atau

sikap yang sejalan. Sehingga seseorang dengan pengetahuan baik maka

sikap nya pula akan baik dan peduli terhadap upaya kesiapsiagaan bencana
60

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Di Kampung Segana

Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu, tentang Hubungan Resiliensi

Keluarga Dengan Kesiapsiagaan Bencana Pada Keluarga Di Kampung Segana

Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dianalisis dengan menggunakan

analisis univariat dan bivariat disimpulkan sebagai berikut :


61

1. Dari 116 keluarga yang diteliti, 99 keluarga berada dalam kategori

resiliensi tinggi, menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan yang

baik dalam menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan dan stres yang

mungkin timbul akibat bencana tsunami. Hanya 17 keluarga yang

memiliki resiliensi sedang, dan tidak ada yang berada di kategori resiliensi

rendah.

2. Dari 116 keluarga, 115 memiliki kesiapsiagaan yang tinggi Hanya 1

keluarga yang menunjukkan kesiapsiagaan sedang, dan tidak ada keluarga

yang masuk dalam kategori kesiapsiagaan rendah.

3. Tidak ada Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan Kesiapsiagaan Bencana

Pada Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota

Bengkulu, dengan kategori hubungan sedang.

B. Saran

1. Bagi Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu

Diharapkan pada pihak kelurahan dapat bekerja sama dengan BPBD

atau PMI untuk melakukan penyuluhan dan simulasi terhadap

kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami sehingga kesiapsiagaan

masyarakat dalam menghadapi bencana tsunami meningkat dan

masyarakat lebih siap lagi dalam menghadapi kemungkinan bencana yang

dapat terjadi.

2. Mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu.

Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan tambahan informasi bagi

mahasiswa kebidanan agar dapat menambah kesiapsiagaan bencana,


62

menerapkan teori kedalam praktik kerja lapangan, serta dapat berperan

dalam kegiatan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan

bencana tsunami dan resiliensi.

3. Bagi Penelitian Lain.

Agar dapat mengembangkan penelitian ini untuk masa yang akan

datang dengan faktor lain yang lebih dominan yang dapat mempengaruhi

resiliesni dalam menghadapi bencana diantaranya pendidikan,

pengetahuan dan sikap.


DAFTAR PUSTAKA

Agustina, N., & Salami. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya


Tingkat Pendidikan Masyarakat Di Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten
Jombang. Conference on Research & Community Services, 211–218.
Ahmad, M., Pulungan, Z. S. A., & Hardiyati. (2023). Peran Resiliensi Keluarga
dalam Perkembangan Konsep Diri Remaja. Jurnal Kesehatan Primer, 8(1),
44–45.
Apriawal, J. (2022). Resiliensi Pada Karyawan Yang Mengalami Pemutusan
Hubungan Kerja (Phk) Resilience in Employees Who Have Been
Termination (Phk). Jurnal Ilmu Psikologi Dan Kesehatan,
RESILIENSI(PHK), 27–38.
Dewi Cahyani Puspitasari, Mei Nurul Aini, & Rina Satriani. (2019). Penguatan
Resiliensi dan Strategi Penghidupan Masyarakat Rawan Bencana. Talenta
Conference Series: Local Wisdom, Social, and Arts (LWSA), 2(1), 1–10.
[Link]
Fachri, H. T., Malik, Y., & Murtianto, H. (2022). Pemetaan Tingkat Bahaya
Bencana Tsunami Di Pesisir Kota Bengkulu. Jurnal Pendidikan Geografi
Undiksha, 10(2), 166–178.
Fernalia, F., Anggita, K. D., & Fefrylia, L. (2023). Pendirian Pos Kesehatan
Pertama dan Bantuan Makanan bagi Korban Banjir Kelurahan Semarang
Kota Bengkulu. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM),
6(2), 676–686. [Link]
Hertinjung, W. S., Yuwono, S., Partini, P., Laksita, A. K., Ramandani, A. A., &
Kencana, S. S. (2022). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Resiliensi Remaja
Di Masa Pandemi. Proyeksi, 17(2), 60. [Link]
71
Hidayat, N., Suryanto, S., & Hidayat, R. (2023). Ketahanan Keluarga dalam
Menghadapi Keguncangan Ekonomi selama Pandemi. Jurnal Ilmu Keluarga
Dan Konsumen, 16(2), 120–132. [Link]
Ismunandar, Umar, N., Ndama, M., & Amyadin. (2021). Pengetahuan dan Sikap
Masyarakat Dalam Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami di Huntara Kota Palu dan Sigi The Knowledge and Attitude of
Community in Preparedness for Earthquake and Tsunami Disasters at the
Palu and Sigi City Shelters Is. Lentora Nursing Journal, 2(1), 12–19.
Jufrizal, J., Nurprilinda, M., Mertha, I. M., Nurhayati, C., Suardana, I. K.,
Margono, M., Sasmito, P., Juwariyah, S., Ose, M. I., & Wulansari, Y. W.
(2023). BUKU AJAR KEPERAWATAN BENCANA. PT. Sonpedia Publishing
Indonesia.
Khair, A. M., Malawat, R., & Ohorella, U. B. (2021). Pengaruh Penyuluhan Siaga
Bencana terhadap Peningkatan Preparedness Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami Masyarakat Pesisir Pantai Negeri Rutah Kabupaten Maluku
Tengah. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journal), 12(2), 100–
108. [Link]
Kurnia, I. A. (2021). Peranan Modal Sosial Dalam Resiliensi Komunitas Rawan
Bencana Tsunami. Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan
Masyarakat [JSKPM], 5(1), 85–104.
[Link]
Mulyasih, R., & Putri, L. D. (2019). Trauma Healing Dengan Menggunakan
Metode Play Terapy Pada Anak-Anak Terkena Dampak Tsunami Di
Kecamatan Sumur Propinsi Banten. Bantenese - Jurnal Pengabdian
Masyarakat, 1(1). [Link]
Nastiti, R. P., Pulungan, R. M., & Iswanto, A. H. (2021). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Menghadapi
Bencana Banjir Di Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Factors That are
Related to The Community Preparation in Facing Flood Disasters in
Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Revy. Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(1),
48–56.
Rahmawati, I., Fernalia, F., Giena, V. P., & Ramadhan, R. P. (2022). Hubungan
Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Masyarakat Berisiko Tsunami.
Malahayati Nursing Journal, 4(7), 1717–1724.
[Link]
Rahmawati, I., Fernalia, F., Sulistiyaningsih, D. P., Effendi, E., Sanisahhuri, S.,
Pratama, D. P., Alfianto, A. G., & Prasetya, F. E. (2022). Peran Mahasiswa
Siaga Bencana Indonesia dalam Upaya Penanganan Bencana Area
Komunitas melalui Zoominar. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada
Masyarakat (PKM), 5(12), 4302–4310.
[Link]
Ramadhan, S. R., Rizka, A., & Utariningsih, W. (2023). Tingkat Pengetahuan
Siswa SMP Negeri 1 Lhokseumawe Terhadap Kesiapsiagaan Bencana
Tsunami Level of Knowledge of SMP Negeri 1 Lhokseumawe Students about
Tsunami Disaster Preparedness. 6(September), 455–464.
Sandrina, S. L., Adi, G. S., & Susilo, C. (2023). Keterkaitan Resiliensi Dengan
Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Banjir. Health &
Medical Sciences, 1(1), 1–8. [Link]
Sasmita, N. O., & Afriyenti, L. U. (2019). Resiliensi Pascabencana Tsunami.
INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 4(2), 94.
[Link]
Satria, B., & Sari, M. (2017). Tingkat Resiliensi Masyarakat Di Area Rawan
Bencana. Idea Nursing Journal, 8(2), 30–34.
Silviani, Y. E., Fitriani, D., & Regita, R. (2022). Hubungan Pengalaman Bencana
Dengan Kesiapsiagaan Ibu Hamil Menghadapi Ancaman Bencana Gempa
Bumi. Jurnal Sains Kesehatan, 29(1), 55–62.
[Link]
Suryanti, Sunarto, Masdiana, Martini, M., Mustika, W., & Dahliana, A. B. (2022).
Manajemen dan Mitigasi Bencana (Vol. 1).
Utami, D. R. R. B., Sari, D. K., Wulandari, R., & Istiqomah, A. R. (2021).
Kesiapsiagaan Bencana Banjir Masyarakat Dusun Kesongo. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Keperawatan, 17(1), 01. [Link]
Yulis Setiya Dewi, Sriyono, Muhammad Fikri Alfaruq, Rofiqa Dwi Febriyanti,
Nanda Farhana Auliasani, Mustika Milenia Dwi Tunjung Biru, A. R. F.
(2022). RESILIENSI IBU MENGHADAPI BENCANA ALAM.
[Link]
id=Lk6eEAAAQBAJ&newbks=1&newbks_redir=0&source=gbs_navlinks_s
Zahro, E. B. (2021). Pengaruh religiusitas dan dukungan sosial terhadap resiliensi
keluarga terdampak covid 19. Prosiding Konferensi Nasional Universitas
Nahdhatul Ulama Indonesia Chemie International Edition, 6(11), 951–952.,
01(01), 282.

Agustina, N., & Salami. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya


Tingkat Pendidikan Masyarakat Di Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten
Jombang. Conference on Research & Community Services, 211–218.
Ahmad, M., Pulungan, Z. S. A., & Hardiyati. (2023). Peran Resiliensi Keluarga
dalam Perkembangan Konsep Diri Remaja. Jurnal Kesehatan Primer, 8(1),
44–45.
Apriawal, J. (2022). Resiliensi Pada Karyawan Yang Mengalami Pemutusan
Hubungan Kerja (Phk) Resilience in Employees Who Have Been
Termination (Phk). Jurnal Ilmu Psikologi Dan Kesehatan,
RESILIENSI(PHK), 27–38.
Dewi Cahyani Puspitasari, Mei Nurul Aini, & Rina Satriani. (2019). Penguatan
Resiliensi dan Strategi Penghidupan Masyarakat Rawan Bencana. Talenta
Conference Series: Local Wisdom, Social, and Arts (LWSA), 2(1), 1–10.
[Link]
Fachri, H. T., Malik, Y., & Murtianto, H. (2022). Pemetaan Tingkat Bahaya
Bencana Tsunami Di Pesisir Kota Bengkulu. Jurnal Pendidikan Geografi
Undiksha, 10(2), 166–178.
Fernalia, F., Anggita, K. D., & Fefrylia, L. (2023). Pendirian Pos Kesehatan
Pertama dan Bantuan Makanan bagi Korban Banjir Kelurahan Semarang
Kota Bengkulu. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM),
6(2), 676–686. [Link]
Hertinjung, W. S., Yuwono, S., Partini, P., Laksita, A. K., Ramandani, A. A., &
Kencana, S. S. (2022). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Resiliensi Remaja
Di Masa Pandemi. Proyeksi, 17(2), 60. [Link]
71
Hidayat, N., Suryanto, S., & Hidayat, R. (2023). Ketahanan Keluarga dalam
Menghadapi Keguncangan Ekonomi selama Pandemi. Jurnal Ilmu Keluarga
Dan Konsumen, 16(2), 120–132. [Link]
Ismunandar, Umar, N., Ndama, M., & Amyadin. (2021). Pengetahuan dan Sikap
Masyarakat Dalam Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami di Huntara Kota Palu dan Sigi The Knowledge and Attitude of
Community in Preparedness for Earthquake and Tsunami Disasters at the
Palu and Sigi City Shelters Is. Lentora Nursing Journal, 2(1), 12–19.
Jufrizal, J., Nurprilinda, M., Mertha, I. M., Nurhayati, C., Suardana, I. K.,
Margono, M., Sasmito, P., Juwariyah, S., Ose, M. I., & Wulansari, Y. W.
(2023). BUKU AJAR KEPERAWATAN BENCANA. PT. Sonpedia Publishing
Indonesia.
Khair, A. M., Malawat, R., & Ohorella, U. B. (2021). Pengaruh Penyuluhan Siaga
Bencana terhadap Peningkatan Preparedness Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami Masyarakat Pesisir Pantai Negeri Rutah Kabupaten Maluku
Tengah. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journal), 12(2), 100–
108. [Link]
Kurnia, I. A. (2021). Peranan Modal Sosial Dalam Resiliensi Komunitas Rawan
Bencana Tsunami. Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan
Masyarakat [JSKPM], 5(1), 85–104.
[Link]
Mulyasih, R., & Putri, L. D. (2019). Trauma Healing Dengan Menggunakan
Metode Play Terapy Pada Anak-Anak Terkena Dampak Tsunami Di
Kecamatan Sumur Propinsi Banten. Bantenese - Jurnal Pengabdian
Masyarakat, 1(1). [Link]
Nastiti, R. P., Pulungan, R. M., & Iswanto, A. H. (2021). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Menghadapi
Bencana Banjir Di Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Factors That are
Related to The Community Preparation in Facing Flood Disasters in
Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Revy. Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(1),
48–56.
Rahmawati, I., Fernalia, F., Giena, V. P., & Ramadhan, R. P. (2022). Hubungan
Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Masyarakat Berisiko Tsunami.
Malahayati Nursing Journal, 4(7), 1717–1724.
[Link]
Rahmawati, I., Fernalia, F., Sulistiyaningsih, D. P., Effendi, E., Sanisahhuri, S.,
Pratama, D. P., Alfianto, A. G., & Prasetya, F. E. (2022). Peran Mahasiswa
Siaga Bencana Indonesia dalam Upaya Penanganan Bencana Area
Komunitas melalui Zoominar. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada
Masyarakat (PKM), 5(12), 4302–4310.
[Link]
Ramadhan, S. R., Rizka, A., & Utariningsih, W. (2023). Tingkat Pengetahuan
Siswa SMP Negeri 1 Lhokseumawe Terhadap Kesiapsiagaan Bencana
Tsunami Level of Knowledge of SMP Negeri 1 Lhokseumawe Students about
Tsunami Disaster Preparedness. 6(September), 455–464.
Sandrina, S. L., Adi, G. S., & Susilo, C. (2023). Keterkaitan Resiliensi Dengan
Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Banjir. Health &
Medical Sciences, 1(1), 1–8. [Link]
Sasmita, N. O., & Afriyenti, L. U. (2019). Resiliensi Pascabencana Tsunami.
INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 4(2), 94.
[Link]
Satria, B., & Sari, M. (2017). Tingkat Resiliensi Masyarakat Di Area Rawan
Bencana. Idea Nursing Journal, 8(2), 30–34.
Silviani, Y. E., Fitriani, D., & Regita, R. (2022). Hubungan Pengalaman Bencana
Dengan Kesiapsiagaan Ibu Hamil Menghadapi Ancaman Bencana Gempa
Bumi. Jurnal Sains Kesehatan, 29(1), 55–62.
[Link]
Suryanti, Sunarto, Masdiana, Martini, M., Mustika, W., & Dahliana, A. B. (2022).
Manajemen dan Mitigasi Bencana (Vol. 1).
Utami, D. R. R. B., Sari, D. K., Wulandari, R., & Istiqomah, A. R. (2021).
Kesiapsiagaan Bencana Banjir Masyarakat Dusun Kesongo. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Keperawatan, 17(1), 01. [Link]
Yulis Setiya Dewi, Sriyono, Muhammad Fikri Alfaruq, Rofiqa Dwi Febriyanti,
Nanda Farhana Auliasani, Mustika Milenia Dwi Tunjung Biru, A. R. F.
(2022). RESILIENSI IBU MENGHADAPI BENCANA ALAM.
[Link]
id=Lk6eEAAAQBAJ&newbks=1&newbks_redir=0&source=gbs_navlinks_s
Zahro, E. B. (2021). Pengaruh religiusitas dan dukungan sosial terhadap resiliensi
keluarga terdampak covid 19. Prosiding Konferensi Nasional Universitas
Nahdhatul Ulama Indonesia Chemie International Edition, 6(11), 951–952.,
01(01), 282.
Agustina, N., & Salami. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya
Tingkat Pendidikan Masyarakat Di Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten
Jombang. Conference on Research & Community Services, 211–218.
Ahmad, M., Pulungan, Z. S. A., & Hardiyati. (2023). Peran Resiliensi Keluarga
dalam Perkembangan Konsep Diri Remaja. Jurnal Kesehatan Primer, 8(1),
44–45.
Apriawal, J. (2022). Resiliensi Pada Karyawan Yang Mengalami Pemutusan
Hubungan Kerja (Phk) Resilience in Employees Who Have Been
Termination (Phk). Jurnal Ilmu Psikologi Dan Kesehatan,
RESILIENSI(PHK), 27–38.
Dewi Cahyani Puspitasari, Mei Nurul Aini, & Rina Satriani. (2019). Penguatan
Resiliensi dan Strategi Penghidupan Masyarakat Rawan Bencana. Talenta
Conference Series: Local Wisdom, Social, and Arts (LWSA), 2(1), 1–10.
[Link]
Fachri, H. T., Malik, Y., & Murtianto, H. (2022). Pemetaan Tingkat Bahaya
Bencana Tsunami Di Pesisir Kota Bengkulu. Jurnal Pendidikan Geografi
Undiksha, 10(2), 166–178.
Fernalia, F., Anggita, K. D., & Fefrylia, L. (2023). Pendirian Pos Kesehatan
Pertama dan Bantuan Makanan bagi Korban Banjir Kelurahan Semarang
Kota Bengkulu. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM),
6(2), 676–686. [Link]
Hertinjung, W. S., Yuwono, S., Partini, P., Laksita, A. K., Ramandani, A. A., &
Kencana, S. S. (2022). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Resiliensi Remaja
Di Masa Pandemi. Proyeksi, 17(2), 60. [Link]
71
Hidayat, N., Suryanto, S., & Hidayat, R. (2023). Ketahanan Keluarga dalam
Menghadapi Keguncangan Ekonomi selama Pandemi. Jurnal Ilmu Keluarga
Dan Konsumen, 16(2), 120–132. [Link]
Ismunandar, Umar, N., Ndama, M., & Amyadin. (2021). Pengetahuan dan Sikap
Masyarakat Dalam Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami di Huntara Kota Palu dan Sigi The Knowledge and Attitude of
Community in Preparedness for Earthquake and Tsunami Disasters at the
Palu and Sigi City Shelters Is. Lentora Nursing Journal, 2(1), 12–19.
Jufrizal, J., Nurprilinda, M., Mertha, I. M., Nurhayati, C., Suardana, I. K.,
Margono, M., Sasmito, P., Juwariyah, S., Ose, M. I., & Wulansari, Y. W.
(2023). BUKU AJAR KEPERAWATAN BENCANA. PT. Sonpedia Publishing
Indonesia.
Khair, A. M., Malawat, R., & Ohorella, U. B. (2021). Pengaruh Penyuluhan Siaga
Bencana terhadap Peningkatan Preparedness Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami Masyarakat Pesisir Pantai Negeri Rutah Kabupaten Maluku
Tengah. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journal), 12(2), 100–
108. [Link]
Kurnia, I. A. (2021). Peranan Modal Sosial Dalam Resiliensi Komunitas Rawan
Bencana Tsunami. Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan
Masyarakat [JSKPM], 5(1), 85–104.
[Link]
Mulyasih, R., & Putri, L. D. (2019). Trauma Healing Dengan Menggunakan
Metode Play Terapy Pada Anak-Anak Terkena Dampak Tsunami Di
Kecamatan Sumur Propinsi Banten. Bantenese - Jurnal Pengabdian
Masyarakat, 1(1). [Link]
Nastiti, R. P., Pulungan, R. M., & Iswanto, A. H. (2021). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Menghadapi
Bencana Banjir Di Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Factors That are
Related to The Community Preparation in Facing Flood Disasters in
Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Revy. Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(1),
48–56.
Rahmawati, I., Fernalia, F., Giena, V. P., & Ramadhan, R. P. (2022). Hubungan
Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Masyarakat Berisiko Tsunami.
Malahayati Nursing Journal, 4(7), 1717–1724.
[Link]
Rahmawati, I., Fernalia, F., Sulistiyaningsih, D. P., Effendi, E., Sanisahhuri, S.,
Pratama, D. P., Alfianto, A. G., & Prasetya, F. E. (2022). Peran Mahasiswa
Siaga Bencana Indonesia dalam Upaya Penanganan Bencana Area
Komunitas melalui Zoominar. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada
Masyarakat (PKM), 5(12), 4302–4310.
[Link]
Ramadhan, S. R., Rizka, A., & Utariningsih, W. (2023). Tingkat Pengetahuan
Siswa SMP Negeri 1 Lhokseumawe Terhadap Kesiapsiagaan Bencana
Tsunami Level of Knowledge of SMP Negeri 1 Lhokseumawe Students about
Tsunami Disaster Preparedness. 6(September), 455–464.
Sandrina, S. L., Adi, G. S., & Susilo, C. (2023). Keterkaitan Resiliensi Dengan
Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Banjir. Health &
Medical Sciences, 1(1), 1–8. [Link]
Sasmita, N. O., & Afriyenti, L. U. (2019). Resiliensi Pascabencana Tsunami.
INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 4(2), 94.
[Link]
Satria, B., & Sari, M. (2017). Tingkat Resiliensi Masyarakat Di Area Rawan
Bencana. Idea Nursing Journal, 8(2), 30–34.
Silviani, Y. E., Fitriani, D., & Regita, R. (2022). Hubungan Pengalaman Bencana
Dengan Kesiapsiagaan Ibu Hamil Menghadapi Ancaman Bencana Gempa
Bumi. Jurnal Sains Kesehatan, 29(1), 55–62.
[Link]
Suryanti, Sunarto, Masdiana, Martini, M., Mustika, W., & Dahliana, A. B. (2022).
Manajemen dan Mitigasi Bencana (Vol. 1).
Utami, D. R. R. B., Sari, D. K., Wulandari, R., & Istiqomah, A. R. (2021).
Kesiapsiagaan Bencana Banjir Masyarakat Dusun Kesongo. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Keperawatan, 17(1), 01. [Link]
Yulis Setiya Dewi, Sriyono, Muhammad Fikri Alfaruq, Rofiqa Dwi Febriyanti,
Nanda Farhana Auliasani, Mustika Milenia Dwi Tunjung Biru, A. R. F.
(2022). RESILIENSI IBU MENGHADAPI BENCANA ALAM.
[Link]
id=Lk6eEAAAQBAJ&newbks=1&newbks_redir=0&source=gbs_navlinks_s
Zahro, E. B. (2021). Pengaruh religiusitas dan dukungan sosial terhadap resiliensi
keluarga terdampak covid 19. Prosiding Konferensi Nasional Universitas
Nahdhatul Ulama Indonesia Chemie International Edition, 6(11), 951–952.,
01(01), 282.
Ronan et al. "Disaster Preparedness for Children and Families: a Critical Review"
Current psychiatry reports (2015) doi:10.1007/s11920-015-0589-6
Grimes et al. "Preparedness and resilience of student nurses in Northern
Queensland Australia for disasters" International journal of disaster risk
reduction (2020) doi:10.1016/[Link].2020.101585
Kim and Kim "Factors affecting household disaster preparedness in South Korea"
Plos one (2022) doi:10.1371/[Link].0275540
Adams et al. "Community Advantage and Individual Self-Efficacy Promote
Disaster Preparedness: A Multilevel Model among Persons with Disabilities"
International journal of environmental research and public health (2019)
doi:10.3390/ijerph16152779
Ferreira et al. "Explaining Disaster and Pandemic Preparedness at the Nexus of
Personal Resilience and Social Vulnerability: An Exploratory Study"
Disaster medicine and public health preparedness (2023)
doi:10.1017/dmp.2023.78
Kim and Kim "Factors affecting household disaster preparedness in South Korea"
Plos one (2022) doi:10.1371/[Link].0275540
Emaliyawati et al. "The Effect of Disaster Education of Increasing Earthquake
Disaster Preparedness: A Narrative Review" Jurnal keperawatan
komprehensif (2022) doi:10.33755/jkk.v8i4.407
Guo et al. "Individual Disaster Preparedness in Drought-and-Flood-Prone Villages
in Northwest China: Impact of Place, Out-Migration and Community"
International journal of environmental research and public health (2021)
doi:10.3390/ijerph18041649
Atreya et al. "Adoption of flood preparedness actions: A household level study in
rural communities in Tabasco, Mexico" International journal of disaster risk
reduction (2017) doi:10.1016/[Link].2017.05.025
LAMPIRA
N
BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI

Nama :Dwi Putri Kurniawati


NPM :2026010065
Prodi :Ilmu Keperawatan
Judul Skripsi :Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan Kesiapsiagaan
Bencana Pada Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu
RT 08 RW 03 Kota Bengkulu
Pembimbing I : Ns. Fernalia.,[Link].,[Link]

Mater
No Paraf
Tanggal i Keterangan
. Pembimbing I
(BAB)

Bengkulu, 2024
Pembimbing I
Ns. Fernalia.,[Link].,[Link]
BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI

Nama : Dwi Putri Kurniawati


NPM : 2026010065
Prodi : Ilmu Keperawatan
Judul Skripsi : Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan Kesiapsiagaan
Bencana Pada Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu
RT 08 RW 03 Kota Bengkulu
Pembimbing II : [Link] Rahmawati.,[Link].,[Link]

Tangga Materi Paraf


No. Keterangan
l (BAB) Pembimbing II

Bengkulu, 2024
Pembimbing II
[Link] Rahmawati.,[Link].,[Link]
DOKUMENTASI

Common questions

Didukung oleh AI

Data statistik menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan kesiapsiagaan bervariasi antar komunitas; misalnya, di sebuah studi, hanya 37% masyarakat memiliki pengetahuan kesiapsiagaan yang baik sementara 63% kurang, dan ini mempengaruhi sikap kesiapsiagaan, di mana 48% masyarakat menunjukkan sikap baik sementara 52% tidak . Tingkat pengetahuan yang baik umumnya diikuti oleh sikap yang baik dalam menghadapi bencana, menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan dapat berpengaruh positif pada kesiapsiagaan .

Hasil penelitian di Kampung Segana Jenggalu dapat dijadikan contoh pembelajaran bagi daerah lain dengan menekankan pentingnya implementasi langkah proaktif seperti pelatihan bencana dan persiapan darurat. Tingkat kesiapsiagaan yang tinggi disebabkan oleh kesadaran dan respons cepat terhadap risiko bencana, yang dapat direplikasi dengan mengadakan penyuluhan dan simulasi bencana secara rutin. Langkah-langkah ini meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan dapat menjadi model dalam perencanaan mitigasi bencana di wilayah lain .

Faktor resiliensi keluarga disimpulkan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kesiapsiagaan bencana di Kampung Segana Jenggalu, berdasarkan nilai statistik Chi-Square yang menunjukkan p-value lebih besar dari 0,05 dan koefisien kontingen yang sangat rendah .

Nilai p-value sebesar 0,677 lebih besar dari batas signifikansi 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dan kesiapsiagaan bencana . Selain itu, koefisien kontingen sebesar 0,039 berada dalam rentang yang menunjukkan hubungan sangat rendah (0,00-0,199), sehingga menegaskan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut tidak kuat .

Pengetahuan kesiapsiagaan berperan signifikan dalam menurunkan risiko bencana dengan memastikan bahwa masyarakat memahami langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi dan memitigasi dampak bencana. Penelitian menunjukkan bahwa ketika pengetahuan tentang kesiapsiagaan tinggi, masyarakat cenderung mengembangkan sikap dan tindakan yang lebih baik dalam menghadapi bencana, sehingga mengurangi risiko yang dihadapi .

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa meskipun tingkat resiliensi dan kesiapsiagaan di Kampung Segana Jenggalu tinggi, hubungan antara kedua variabel ini tidak signifikan. Tidak adanya hubungan yang signifikan ini diperkuat dengan nilai p-value yang melebihi 0,05 dan koefisien kontingen yang menunjukkan hubungan sangat rendah (0,039), menunjukkan bahwa faktor lain mungkin lebih berperan dalam kesiapsiagaan bencana .

Salah satu hambatan utama dalam meningkatkan resiliensi dan kesiapsiagaan di komunitas yang rawan bencana adalah kesenjangan pengetahuan di antara masyarakat. Misalnya, di beberapa kasus, mayoritas masyarakat memiliki tingkat pengetahuan kesiapsiagaan yang rendah, sehingga meskipun mereka berada di daerah rawan bencana, tindakan kesiapsiagaan masih kurang optimal . Faktor ekonomi dan kurangnya pelatihan khusus juga dapat menjadi penghalang bagi peningkatan kesiapsiagaan .

Mayoritas keluarga di Kampung Segana Jenggalu memiliki kesiapsiagaan bencana yang tinggi karena mereka telah menerapkan langkah-langkah penting seperti pemahaman prosedur evakuasi, persediaan darurat, dan mengikuti pelatihan bencana, yang mencerminkan kesadaran tinggi akan pentingnya kesiapsiagaan sebagai upaya preventif dalam menghadapi bencana .

Literatur menjelaskan bahwa pekerjaan seseorang berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan pengalaman yang terkait dengan kesiapsiagaan bencana. Orang yang bekerja dan memiliki kapasitas keuangan tinggi cenderung memiliki akses informasi yang lebih baik, sehingga lebih siap menghadapi bencana. Pengetahuan dan akses informasi yang lebih baik ini kemudian mempengaruhi sikap dan tindakan kesiapsiagaan mereka .

Sebagian besar keluarga di Kampung Segana Jenggalu menunjukkan tingkat resiliensi yang tinggi, dengan 99 keluarga atau 85,34% dari total sampel berada dalam kategori resiliensi tinggi. Sisanya, sebanyak 17 keluarga atau 14,66%, berada dalam kategori resiliensi sedang .

Anda mungkin juga menyukai