SKRIPSI
HUBUNGAN RESILIENSI KELUARGA DENGAN KESIAPSIAGAAN
BENCANA PADA KELUARGA DI KAMPUNG SEGANA JENGGALU
RT 08 RW 03 KOTA BENGKULU
: Disusun Oleh
DWI PUTRI KURNIAWATI
NPM. 2026010065
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2024
i
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah diperiksa, disetujui, dan disiapkan untuk dipresentasikan
dihadapan tim penguji Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu
Oleh :
DWI PUTRI KURNIAWATI
NPM. 2026010065
Menyetujui
Pembimbing I Pembimbing II
Ns. Fernalia, [Link]., [Link] Ns. Ida Rahmawati,[Link].,[Link]
Mengetahui,
Ketua Prodi Ilmu Keperawatan
STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu
Ns. Fernalia, [Link]., [Link]
ii
HALAMAN PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Dwi Putri Kurniawati
NPM : 2026010065
Program Studi : S1 Ilmu Keperawatan
Lembaga : STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul
Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan Kesiapsiagaan Bencana Pada
Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu”
adalah bukan karya ilmiah orang lain sebagian maupun keseluruhan, kecuali yang
secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar Pustaka.
Bengkulu, Agustus 2024
Yang membuat pernyataan
Dwi Putri Kurniawati
iii
MOTTO :
“ Sesungguhnyabersamakesulitanadakemudahan “
( Q.S Al-Insyirah:5)
“ Terlambat bukan berarti gagal, cepat bukan bearti [Link] bukan
menjadi alasan untuk menyerah, setiap orang memiliki proses yang berbeda.
Percaya proses itu yang paling penting,karena Allah
telahmempersiapkanhalbaikdibalik kata proses yang kamuanggaprumit“
(Edwar Satria)
PERSEMBAHAN :
Dengan segenap rasa syukur, skripsi ini ku persembahkan untuk:
❖ Terima kasih untuk Ayahanda tercinta (Sultan Effendi) dan Ibunda
tersayang (Sukmawati) yang telah memberikan ku limpahan kasih
sayang baik materi maupun non materi serta selalu menyemangati
hingga saya mampu meraih impian, kalian adalah alasan kebahagianku.
❖ Terima kasih juga untuk kedua pembimbingku, Ibu (Ns. Fernalia,
[Link]., [Link]) dan Ibu (Ns. Ida Rahmawati,[Link].,[Link]) yang telah
meluangkan waktunya untuk membimbingku selama penyelesaian
Skripsi ini.
❖ Terima kasih juga kepada, Bapak Ns. Ade Herman Surya
Direja.,[Link].,MAN telah membantu mengerjakan skripsi saya dan telah
menyemangati saat mengerjakan skripsi
❖ Kepada diriku sendiri Dwi Putri Kurniawati terima kasih telah berjuang
sampai sejauh ini, jangan puas dan berhenti disini, jangan menyerah dan
terus melangkah sampai jadi cantik, Rich dan istri yang Soleha.
❖ Terima kasih untuk kakakku yang tersayang Sri Endah Lestari,S.E dan
keluarga Besar ku atas dukungan, doa, uang jajan dan semangat selama
ini, kalian adalah sumber kebahagiaanku.
❖ Terima kasih juga untuk sahabat/sodara/teman seperjuangan Eka
Alqomariah,Yoka Novalia, Cici Paramita, dan atin yang telah
memberikan semangat, bantuan serta motivasi dalam menyelesaikan
skripsi ini.
❖ Teman-temanku di kelas Keperawatan kelas B angkatan 2020 kurang
lebih 4 tahun kita bersama dan almamater hijau tercinta STIKES Tri
Mandiri Sakti Bengkulu.
iv
ABSTRAK
Dwi Putri Kurniawati 2024. Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan
Kesiapsiagaan Bencana Pada Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu RT 08
RW 03 Kota Bengkulu. Skripsi. Bengkulu: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Tri Mandiri Sakti Bengkulu. Pembimbing I Ns. Fernalia.,[Link].,[Link] dan
Pembimbing II [Link] Rahmawati.,[Link].,[Link].
Resiliensi keluarga adalah kemampuan bertahan dalam menghadapi situasi
sulit dan mampu bangkit kembali kesituasi semula. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan resiliensi keluarga Dengan kesiapsiagaan bencana pada
keluarga di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dan telah
dilakukan penelitian dari tanggal 11 Juni – 17 Juni. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif. Populasi masyarakat Pelang Kenidai RT 08 RW 03
dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 190 Kepala Keluarga (KK). Sampel
diambil secara accidental sampling. Pengumpulan data yaitu menggunakan data
skunder dan primer. Analisis data dilakukan dengan dengan uji Chi-Square (χ2)
dan Uji Contingency Coefficient (C). Hasil penelitian didapatkan: Dari 116
sampel terdapat 99 orang kategori resiliensi tinggi dan 17 orang mengalami
resiliensi sedang; terdapat 115 orang kesiapsiagaan tinggi, 1 orang mengalami
kesiapsiagaan sedang, dan Tidak Ada hubungan Resiliensi Keluarga dengan
kesiapsiagaan bencana pada Masyarakat di Kampung Segana Jenggau RT 08 RW
03 Kota Bengkulu, dengan kategori hubungan tergolong sangat rendah.
Diharapkan pada pihak kelurahan dapat bekerja sama dengan BPBD atau PMI
untuk melakukan penyuluhan dan simulasi terhadap Resiliensi saat menghadapi
Kesipasiagaan Bencana.
Kata Kunci: Resiliensi Keluarga, Kesiapsiagaan Bencana
v
ABSTRACT
Dwi Putri Kurniawati 2024. The Relationship Between Family Resilience and
Disaster Preparedness in Families in Segana Jenggalu Village RT 08 RW 03
Bengkulu City. Thesis. Bengkulu: Tri Mandiri Sakti Bengkulu Health
Sciences College. Supervisor I Ns. Fernalia., [Link]., [Link] and Supervisor
II [Link] Rahmawati., [Link]., [Link].
Family resilience is the ability to survive in difficult situations and be able to
bounce back to the original situation. This study aims to determine the
relationship between family resilience and disaster preparedness in families in
Segana Jenggalu Village RT 08 RW 03 Bengkulu City and the study was
conducted from June 11 to June 17. This study uses a quantitative approach. The
population of the Pelang Kenidai RT 08 RW 03 community with a total of 190
family heads (KK). Samples were taken by accidental sampling. Data collection
uses secondary and primary data. Data analysis was carried out using the Chi-
Square (χ2) test and the Contingency Coefficient (C) test. The results of the study
obtained: From 116 samples, there were 99 people in the high resilience category
and 17 people experienced moderate resilience; There are 115 people with high
preparedness, 1 person with moderate preparedness, and There is no relationship
between Family Resilience and disaster preparedness in the Community in Segana
Jenggau Village RT 08 RW 03 Bengkulu City, with the relationship category
being very low. It is hoped that the sub-district can cooperate with BPBD or PMI
to conduct counseling and simulations on Resilience when facing Disaster
Preparedness.
Keywords: Family Resilience, Disaster Preparedness
vi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, serta kemudahan dan pertolongan yang
telah diberikan sehingga penulis mampu menyelesaikan Skripsi ini tepat pada
waktunya. Skripsi ini berjudul “Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan
Kesiapsiagaan Bencana Pada Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu RT 08
RW 03 Kota Bengkulu” Skripsi ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan
atau merupakan rangkaian kegiatan akademik yang merupakan syarat yang
diwajibkan untuk memperoleh gelar kesarjanaan Keperawatan Strata-1 (S-1) pada
Program Studi Ners Stikes Tri Mandiri Sakti Bengkulu.
Selanjutnya, tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak
yang telah banyak membantu sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan. Ucapan
terimakasih khususnya penulis ucapkan kepada
1. Bapak Drs. H. S Effendi, MS selaku Ketua STIKES Tri Mandiri Sakti
Bengkulu.
2. Ibu Ns. Fernalia, [Link], [Link] selaku Ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu sekaligus selaku
pembimbing I yang telah memberikan bimbingan bersedia menyediakan
waktu, tenaga, pikiran, dan kesabaran untuk membimbing dalam
menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Ns. Vellyza Colin, [Link].,MAN selaku Sekretaris Program Studi S1 Ilmu
Keperawatan STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu.
vii
4. Ibu Ns. Ida Rahmawati,[Link].,[Link], selaku Pembimbing II yang
telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran dan kesabaran untuk membimbing
dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Segenap Staf dan Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti
Bengkulu dan terkhusus Prodi S1 keperawatan yang telah banyak membantu
penulis dan membekali ilmu pengetahuan yang sangat berarti.
6. Kedua Orang Tua dan Keluarga yang telah memberikan nasihat, motivasi,
do’a, dan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Rekan-rekan seperjuangan yang telah memberikan masukan yang sangat
berharga dalam penulisan skripsi ini.
8. Masyarakat RT 08 RW 03 di kampung Segana Jenggalu Kota Bengkulu yang
telah membantu dan memberikan waktunya dalam melakukan penelitian
sehingga penelitian selesai tepat waktu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pembuatan dan penyusunan skripsi
ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi perbaikan skripsi
ini.
Akhirnya atas semua bantuan yang diberikan semoga Allah SWT membalas
semua budi baik kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan ini
dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Bengkulu, September 2024
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMANJUDUL i
LEMBAR PERSETUJUAN ii
LEMBAR PERNYATAAN iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv
ABSTRAK v
ABSTRACT vi
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR BAGAN xii
DAFTAR L AMPIRAN xiii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 6
C. Tujuan Penelitian 6
D. Manfaat Penelitian 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori 9
1. Kesiapsiagaan Bencana 9
2. Kesiapsiagaan Bencana Tsunami 15
3. Resiliensi Keluarga 19
B. Kerangka Konsep 29
C. Definisi Operasional 30
D. Hipotesis 31
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian 32
B. Jenis dan Desain Penelitian 32
C. Populasi Dan Sampel 32
1. Populasi 32
2. Sampel 32
D. Prosedur Pengumpulan Data 33
E. Teknik Pengolahan Data 34
F. Teknik Analisa Data 35
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 36
1. Gambaran Umum Tempat Penelitian 36
2. Jalannya Penelitian 39
3. Karakteristik Responden 40
4. Analisis Univariat 42
5. Analisis Bivariat 44
ix
B. Pembahasan 46
1. Analisis Univariat 46
2. Analisis Bivariat 49
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan 52
B. Saran 53
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Indeks Tingkat Kesiapsiagaan 10
Tabel 2 Definisi Operasional 30
Tabel 3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia 36
Tabel 4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan 37
Tabel 5 Jumlah Penduduk berdasarkan Pendidikan 38
Tabel 6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin 40
Tabel 7 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia 41
Tabel 8 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir 42
Tabel 9 Distribusi Frekuensi Resiliensi Keluarga 43
Tabel 10 Distribusi Frekuensi Kesiapsiagaan Bencana 43
Tabel 11 Hasil uji Statistik Hubungan Resiliensi Keluarga dengan
Kesiapsiagaan bencana di Kampung Segana Jenggalu RT 08
RW 03 Kota Bengkulu 44
xi
DAFTAR BAGAN
Halaman
Bagan 1 Kerangka Konsep 29
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Berita Acara Bimbingan Skripsi
Lampiran 2 Lembar Permohonan Jadi Responden
Lampiran 3 Persetujuan Keikutsertaan Dalam Penelitian
Lampiran 4 Kuesioner Penelitian
Lampiran 5 Lembar Checklist
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
World Health Organization (2020) mendefinisikan Bencana alam
merupakan suatu peristiwa yang mempunyai dampak besar terhadap
kemanusiaan. Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap
bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, angin
puting beliung, banjir dan tanah longsor. Sekitar 13% dari seluruh gunung
berapi di dunia terletak di kepulauan Indonesia, yang dapat menimbulkan
bencana dengan kekuatan dan intensitas yang bervariasi. Penanggulangan
Bencana alam atau mitigasi bencana merupakan upaya yang berkelanjutan
yang bertujuan untuk membantu mengurangi dampak bencana terhadap
manusia dan harta benda
Menurut UU No. 24 Tahun 2007 (P. RI, 2007), bencana adalah peristiwa
atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau
faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak
psikologis. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan bencana sebagai
sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau
penderitaan, kecelakaan dan bahaya (Fernalia et al., 2023)
Kesiapsiagaan bencana adalah kapasitas, keterampilan dan pengetahuan
yang dapat dikembangkan oleh pemerintah, lembaga bencana, masyarakat dan
1
2
individu. Tujuan dari kesiapsiagaan bencana adalah untuk memprediksi dan
merespon secara efektif kemungkinan dampak bencana yang akan datang.
Bencana juga dapat terjadi karena pengaruh perbuatan manusia dan kekuatan
alam, bencana yang disebabkan oleh kekuatan alam, dan bencana alam yang
disebabkan oleh badai tropis, banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan letusan
gunung berapi. Bencana alam ini tidak hanya menyebabkan hilangnya nyawa,
cedera, dan dampak kesehatan, namun juga kerusakan harta benda, hilangnya
mata pencaharian dan layanan kesehatan, gangguan sosial dan ekonomi, serta
kerusakan lingkungan yang berdampak pada masyarakat (Silviani et al., 2022)
Tsunami adalah serangkaian gelombang laut yang bergerak dengan
kecepatan lebih dari 900 km/jam. Meski jarang terjadi, tsunami bisa
disebabkan oleh gempa bumi, tanah longsor bawah laut, letusan gunung berapi
di laut, dan hantaman meteorit. 3 Hingga 80% kejadian tsunami global
disebabkan oleh gempa bumi bawah laut yang menyebabkan pergerakan
vertikal dasar laut. Meskipun tsunami relatif jarang terjadi, tsunami merupakan
bencana alam yang menimbulkan tingkat kerusakan yang sangat tinggi.
(Ramadhan et al., 2023)
Bentuk kerugian yang secara non-fisik seperti trauma terhadap peristiwa
yang pernah dialami merupakan salah satu dampak psikologis yang sering
ditemui pada masyarakat korban bencana alam adalah Post Traumatic Stress
Disorder (PTSD). Kondisi demikian akan menimbulkan dampak psikologis
berupa gangguan perilaku mulai dari cemas yang berlebihan, mudah
tersinggung, tidak bias tidur, tegang, dan berbagai reaksi lainnya. Prevalensi
3
(angka kejadian) gangguan kecemasan berkisar pada 6-7% dari populasi
umum. Diperkirakan jumlah yang menderita gangguan kecemasan ini baik
yang akut maupun kronik mencapai 5% dari jumlah penduduk, dengan
(Alfi, 2020)
perbandingan antara wanita dan pria 2 : 1.
Dampak tsunami yang dapat terlihat di Kecamatan Sumur, misalnya
bangunan yang rata akibat terjangan gelombang yang maha dasyat, hancurnya
perahu-perahu nelayan yang merupakan mata pencaharian sebagian besar
masyarakat sumur belum lagi banyaknya masyarakat yang tewas akibat
tsunami yang terjadi, sehingga jika kita melihat kondisi masyarakat Sumur
sangat memprihatinkan karena masyarakat yang mengungsi banyak yang
mengalami kesulitan akibat bencana tsunami seperti kekurangan bahan makan,
pakaian dan tempat tinggal belum lagi kesedihan akibat ditinggalkan anggota
keluarga. Oleh karena itu tidak mengherankan jika bencana tsunami yang
dialami oleh masyarakat di Kecamatan Sumur berdampak sangat besar bagi
masyarakat di wilayah tersebut terutama bagi anak-anak (Mulyasih & Putri,
2019)
Provinsi Bengkulu merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan
potensi tsunami yang tinggi, khususnya di Kota Bengkulu. Kota Bengkulu
terletak memanjang dibagian Pesisir Barat Sumatera dengan panjang pantai
sekitar 525 km. Secara administratif, Kota Bengkulu terbagi menjadi 9
kecamatan yang 6 diantaranya merupakan wilayah pesisir dengan posisi
menghadap Samudera Hindia. Dilihat dari kondisi geologinya, wilayah
Bengkulu menjadi salah satu yang berdiri tepat di atas kawasan subduksi
Lempeng Eurasia dan Indo Australia, dengan pergerakan yang cukup besar 4
4
sampai 6 cm per tahun. Bengkulu telah berulang kali mengalami kejadian
tsunami walaupun dalam skala kecil. Gelombang tsunami pertama kali
menerjang Bengkulu pada 18 Maret 1818 dengan kekuatan magnitude gempa
sebesar 7,0 SR, disusul pada tahun 1833 tepatnya 29 Januari dan 24 November
dengan gempa berkekuatan 8,2 SR. Selanjutnya tsunami kembali datang pada
21 April 1958 yang disebabkan oleh gempa berkekuatan 6,5 SR dan terakhir
terjadi pada 29 September 2007 dengan kekuatan gempa sebesar 8,4 SR.
Kejadian gempa besar dan tsunami yang telah berulang kali menghampiri,
menjadi bukti bahwa Bengkulu merupakan daerah rawan terhadap bencana
tsunami (Fachri et al., 2022)
Berdasarkan data yang dimiliki oleh badan Nasional Penanggulangan
Bencana Nasional (BNPB) mengatakan bahwa selama di tahun 2019 mulai dari
1 januari 2019 sampai 23 Desembar 2019 terdapat 3.721 kejadian bencana
alam di seluruh Indonesia. Dari fenomena alam tersebut bisa dapat dibuktikan
Indonesia adalah negara yang paling rawan akan bencana alam (Rahmawati et
al., 2022)
Kota Bengkulu terletak di sebelah barat Pulau Sumatera, dan berada pada
zona subduksi Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia yang mengalami
perpindahan sebesar 4 hingga 6 cm setiap tahunnya, sehingga Kota Bengkulu
mempunyai risiko tinggi terjadinya tsunami. Situasi ini menempatkan negara
ini pada risiko tinggi terjadinya gempa bumi dengan kekuatan lebih dari 6 SR
yang dapat mengakibatkan tsunami. Dua gempa besar terjadi di Bengkulu.
Salah satunya berkekuatan 7,9 S pada tahun 2000 dan berkekuatan 7,9 SR pada
tahun 2008 (Rahmawati, Fernalia, Giena, et al., 2022)
5
Tidak hanya kesiapsiagaan bencana, namun masyarakat masyarakat
kampung Segana jenggalu rt 08 rw 03 kota bengkulu juga memerlukan adanya
resiliensi keluarga. Walsh sebagaimana yang dikutip oleh Herdiana (2019)
menggambarkan resiliensi keluarga sebagai proses yang dilakukan untuk
menyelesaikan masalahdan adaptasi dalam keluarga sebagai sebuah unit
fungsional, atau dapat disebut dengan kapasitas keluarga untuk bangun kembali
dari kesulitan sehingga menjadi lebih kuat dan berdaya. Resiliensi keluarga
memiliki beberapa aspek, diantaranya adalah belief systems (sistem keyakinan),
organizational patterns (pola organisasi), dan communication proses (proses
komunikasi), (Walsh, 2006).
Dalam penelitian (Erchanis, 2019) dinyatakan bahwa terdapat Pengaruh
Resiliensi Keluarga terhadap Kesiapsiagaan Bencana pada Keluarga di Pesisir
Pantai Kecamatan Sumur. Besar pengaruh Resiliensi Keluarga terhadap
Kesiapsiagaan Bencana yang dihasilkan adalah 27,1%. Semakin tinggi suatu
keluarga memiliki kemampuan untuk bangkit dari kesulitan dan menjadi lebih
kuat dalam menghadapi masalah, maka semakin tinggi kesiapsiagaan keluarga
dalam menghadapi bencana.
Berdasarkan survey awal peneliti yang dilakukan pada tanggal 18
Desember 2022 didapatkan data jumlah kepala keluarga di kampung Segana
jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu ada 190 KK. Didapatkan dari
wawancara 15 orang, ada 11 orang masyarakat memiliki kesiapsiagaan yang
rendah dengan mengalami resiliensi dan 4 orang memiliki kesiapsiagaan yang
baik dan tidak mengalami resiliensi
6
Berdasarkan Permasalahan di atas peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai “Hubungan Resiliensi Keluarga Terhadap Kesiapsiagaan
Bencana Pada Keluarga Dikampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota
Bengkulu”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut: “Apakah ada hubungan resiliensi keluarga terhadap
kesiapsiagaan bencana dikampung Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota
Bengkulu?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan resiliensi keluarga dengan kesiapsiagaan
bencana dikampung Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran distribusi frekuensi resliensi keluarga dikampung
Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dalam menghadapi
bencana
b. Mengetahui gambaran distribusi frekuensi kesiapsiagaan masyarakat
dikampung Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dalam
menghadapi bencana
c. Mengetahui hubungan antara resiliensi keluarga dengan kesiapsiagaan
bencana dikampung Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu
7
D. Tujuan Penelitian
1. Bagi Mahasiswa Stikes Tri Mandiri Sakti
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan yang
bermanfaat bagi mahasiswa, khususnya memberikan wawasan baru
hubungan resiliensi keluarga dengan kesiapsiagaan bencana dikampung
Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu, sehingga dapat
mempergunakan informasi ini sebagai pertimbangan terhadap tindakan
yang diambil selanjutnya untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat
dikampung Segana jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dan sekitarnya.
2. Bagi Keluarga
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan gambaran mengenai
perlunya ada resiliensi keluarga dan kesiapsiagaan bencana pada keluarga
yang tinggal dikampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu
dan dapat meningkatkan kesiapsiagaan agar dampak tsunami dapat di
minimalisir.
3. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran
mengenai kesiapsiagaan becana pada masyarakat yang tinggal di daerah
rawan bencana agar dapat meningkatkan kesiapsiagaan sebelum terjadinya
bencana.
8
4. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada pihak
universitas akan pentingnya resiliensi keluarga dan kesiapsiagaan bencana
pada keluarga yang tinggal dikampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03
Kota Bengkulu dan diharapkan dapat membantu memberikan pengetahuan
dan wawasan bagi masyarakat khususnya kepada masyarakat dalam
menghadapi ancaman bencana Tsunami
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kesiapsiagaan Bencana
a. Definisi Kesiapsiagaan Bencana
Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan
mencegah bencana dengan mengorganisir dan melaksanakan tindakan
yang tepat dan efektif (Jufrizal et al., 2023). Menurut Lipi-Unesco/Isdr
(2016), kesiapsiagaan adalah langkah-langkah yang memungkinkan
pemerintah, organisasi keluarga, dan individu untuk merespons situasi
bencana dengan cepat dan tepat guna mengurangi korban jiwa dan
korban jiwa. Langkah-langkah kesiapsiagaan mencakup pengembangan
rencana manajemen bencana, pemeliharaan sumber daya, dan pelatihan
personel. Konsep kesiapsiagaan yang digunakan menitikberatkan pada
kemampuan melakukan tindakan persiapan untuk menghadapi situasi
bencana secara cepat dan tepat. (Jufrizal et al., 2023)
Menurut LIPI-UNESCO/ISDR (2016) Kesiapsiagaan Merupakan
Salah Satu Bagian Dari Proses Manajemen Bencana Dan Di Dalam
Konsep Pengelolaan Bencana Yang Berkembang Saat Ini, Peningkatan
Kesiapsiagaan Merupakan Salah Satu Elemen Penting Dari Kegiatan
Pengurangan Risiko Bencana Yang Bersifat Pro-Aktit, Sebelum
Terjadinya Suatu Bencana. Perahaman Terhadap Konsep Kesiapsiagaan
Yang Sudah Dimasyarakat Dapat Dikatakan Cukup Beragam.
9
10
Menurut Daud (2016), Kesiapsiagaan mengacu pada langkah-
langkah yang memungkinkan pemerintah, organisasi, masyarakat,
komunitas, dan individu untuk merespons situasi bencana dengan cepat
dan efektif. Langkah-langkah kesiapsiagaan mencakup rencana
manajemen bencana, pemeliharaan sumber daya, dan pelatihan staf.
Kesiapsiagaan masyarakat selalu terkait erat dengan aspek lain dari
kegiatan penanggulangan bencana: tanggap darurat, pemulihan dan
rekonstruksi, pencegahan dan mitigasi. Penguatan kesiapsiagaan bencana
memerlukan kesiapsiagaan prabencana yang tepat, dan efektivitas
kesiapsiagaan masyarakat dapat dilihat dalam pelaksanaan tindakan
tanggap darurat dan perbaikan. Perhatian harus diberikan pada sifat
dinamis dari kesiapsiagaan, karena seiring berjalannya waktu, tingkat
kesiapsiagaan dapat menurun seiring dengan terjadinya perubahan sosial
budaya, politik dan ekonomi dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu,
sangatlah penting untuk terus memantau dan memahami keadaan
kesiapsiagaan daerah dan terus berupaya untuk mempertahankan dan
meningkatkan tingkat kesiapsiagaan.
Tabel 1
Indeks Tingkat Kesiapsiagaan
No Nilai Indeks Kelas Kategori
1 0 – 246,6 1 Rendah/ Tidak Siap
2 246,7 – 493,3 2 Sedang/ Hampir Siap
3 493,4 – 740 3 Tinggi/ Siap
(Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2015)
11
b. Tujuan Kesiapsiagaan Bencana
Menurut (Alfanan, 2020) Menyatakan Tujuan Kesiapsiagaan Yaitu:
1) Mengurangi Ancaman
Untuk Mencegah Ancaman Secara Mutlak Memang Mustahil,
Seperti Kebakaran, Gempa Bumi Dan Meletus Gunung Berapi.
Namun Ada Banyak Cara Atau Tindakan Yang Dapat Dilakukan
Untuk Mengurangi Kemungkinan Terjadinya Dan Akibat
Ancaman.
2) Mengurangi Kerentanan Keluarga
Kerentanan keluarga dapat dikurangi apabila keluarga sudah
mempersiapkan diri, akan lebih mudah untuk melakukan tindakan
penyelamatan pada saat bencana terjadi. Persiapan yang baik akan
bisa membantu keluarga untuk melakukan tindakan yang tepat guna
dan tepat waktu. keluarga yang pernah dilanda bencana dapat
mempersiapkan diri dengan melakukan kesiapsiagaan seperti
membuat perencanaan evakuasi, penyelamatan serta mendapatkan
pelatihan kesiapsiagaan bencana.
3) Mengurangi Akibat
Untuk mengurangi akibat suatu ancaman, keluarga perlu
mempunyai persiapan agar cepat bertindak apabila terjadi bencana.
umumnya pada semua kasus berencana masalah utama adalah
penyediaan air bersih. dengan melakukan persiapan terlebih dahulu,
kesadaran keluarga akan pentingnya sumber air bersih dapat
mengurangi kejadian penyakit menular.
12
4) Menjalin Kerjasama
Tergantung dari cakupan bencana dan kemampuan keluarga,
penanganan bencana dapat dilakukan oleh keluarga itu sendiri atau
apabila diperlukan dapat berkerjasama dengan pihak-pihak yang
terkait. Untuk menjamin kerjasama yang baik, pada tahap sebelum
bencana ini keluarga perlu menjalin hubungan dengan pihak-pihak
seperti Puskesmas, polisi, aparat desa atau kecamatan.
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesiapsiagaan Bencana
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesiapsiagaan dari suatu
komunitas terhadap bencana, yaitu;
1) Pengetahuan dan Sikap
Pengetahuan merupakan faktor utama kunci kesiapsiagaan.
Pengetahuan yang harus dimiliki individu dan rumah tangga
mengenai bencana yaitu pemahaman tentang bencana, pemahaman
tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana tersebut, meliputi
pemahaman mengenai tindakan penyelamatan diri yang tepat saat
terjadi gempa bumi dan tsunami, tindakan dan peralatan yang perlu
disiapkan sebelum terjadi gempa bumi dan tsunami, demikian juga
sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana.
2) Kebijakan Atau Panduan
Kebijakan untuk kesiapsiagaan bencana sangat penting dan
merupakan upaya konkrit untuk melaksanakan kegiatan siaga
bencana. Kebijakan yang signifikan berpengaruh terhadap
13
kesiapsiagaan rumah tangga. Kebijakan yang diperlukan untukk
kesiapsiagaan rumah tangga berupa kesepakatan keluarga dalam hal
menghadapi bencana gempa bumi, yakni adanya diskusi keluarga
mengenai sikap dan tindakan penyelamatan diri yang tepat saat
terjadi gempa bumi dan tsunami, dan tindakan serta peralatan yang
perlu disiapkan sebelum terjadi bencana.
3) Rencana tanggap darurat menjadi bagian penting dalam
kesiapsiagaan, terutama berkaitan dengan pertolongan dan
penyelamatan, agar korban bencana dapat diminimalkan. Upaya ini
sangat krusial, terutama pada saat terjadi bencana dan hari-hari
pertama setelah bencana sebelum bantuan dari pemerintah dan dari
pihak luar datang. Rencana tanggap darurat meliputi 7 (tujuh)
komponen, yaitu:
4) Sistem Peringatan Bencana
Sistem peringatan bencana meliputi tanda peringatan dan
distribusi informasi akan terjadi bencana. Dengan adanya peringatan
bencana, keluarga dapat melakukan tindakan yang tepat untuk
mengurangi korban jiwa, harta benda dan kerusakan lingkungan.
Untuk itu diperlukan latihan dan simulasi tentang tindakan yang
harus dilakukan apabila mendengar peringatan dan cara
menyelamatkan diri dalam waktu tertentu, sesuai dengan lokasi
tempat keluarga berada saat terjadinya peringatan. Sistem peringatan
bencana untuk keluarga berupa tersedianya sumber informasi untuk
14
peringatan bencana baik dari sumber tradisional maupun lokal, dan
adanya akses untuk mendapatkan informasi peringatan bencana.
Peringatan dini meliputi informasi yang tepat waktu dan efektif
melalui kelembagaan yang jelas sehingga memungkinkan setiap
individu dan rumah tangga yang terancam bahaya dapat mengambil
langkah untuk menghindari atau mengurangi resiko serta
memersiapkan diri untuk melakukan upaya tanggap darurat yang
efektif.
5) Sumber daya yang tersedia, baik sumber daya manusia maupun
pendanaan dan sarana/prasarana penting untuk keadaan darurat
merupakan potensi yang dapat mendukung atau sebaliknya menjadi
kendala dalam kesiapsiagaan bencana alam. Karena itu, mobilisasi
sumber daya menjadi faktor yang krusial. Mobilisasi sumber daya
keluarga meliputi adanya anggota keluarga yang terlibat dalam
pertemuan/seminar/pelatihan kesiapsiagaan bencana, adanya
keterampilan yang berkaitan dengan kesiapsiagaan, adanya alokasi
dana atau tabungan keluarga untuk menghadapi bencana, serta
adanya kesepakatan keluarga untuk memantau peralatan dan
perlengkapan siaga bencana secara reguler.
Sebagai suatu bentuk reaksi terhadap situasi dan kondisi yang ada,
respon masyarakat tidak terbentuk dengan sendirinya. situasi dan kondisi
yang dihadapi masyarakat serta kemampuan dan pengetahuan yang
dimiki oleh masyarakat yang menjadi stimulasi yang membangun
15
pemahaman dalam diri masyarakat kemudian diolah menjadi respon.
dalam pemahaman ini, respon yang muncul sangat dipengaruhi
karakteristik dari stimulasi yang diterima, baik yang berupa situasi dari
luar maupun intervensi dari dalam berupa tingkat kemampuan serta
pengetahuan yang dimiliki.
Pemahaman dalam konteks bencana ini menjadi dasar dalam
memahami respon yang dberikan masyarakat. stimulasi yang diterima dar
luar berupa kejadian bencana dengan segala bencana (Jufrizal et al.,
2023)
2. Kesiapsiagaan Bencana Tsunami
Kemampuan kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dimiliki oleh
setiap tingkatan masyarakat, mulai dari individu, keluarga hingga
komunitas. upaya peningkatan kapasitas masyarakat menjadi upaya yang
harus dilakukan bagi setiap pemangku kebijakan di setiap daerah dengan
tujuan untuk mengurangi risiko bencana yang akan terjadi (BNPB, 2021).
Kesiapsiagaan sangat bekaitan dengan pengetahuan mengenai suatu bencana
itu sendiri. pengetahuan dan sikap menjadi indikator pertama untuk
mengukur kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. pengetahuan
terhadap bencana merupakan alasan utama seseorang untuk melakukan
kegiatan perlindungan atau upaya kesiapsiagaan yang ada (Dodon, 2013).
Kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami dapat dilakukan sebagai
berikut : (Theophilus Yanuarto Et Al., 2019) :
16
1) Prabencana
1) Ketahui tanda-tanda sebelum tsunami terjadi, terutama setelah
gempa (intensitas gempa lama dan terasa kuat, air laut surut, bunyi
gemuruh dari tengah lautan, banyak ikan menggelepar di pantai yang
airnya surut, dan tanda-tanda alam lain).
2) Memantau informasi dari berbagai media resmi mengenai potensi
tsunami setelah gempaan bencana tsunami
3) Cepat berlari ke tempat yang tinggi dan berdiam diri di sana untuk
sementara waktu setelah satu gempa besar mengguncang.
4) Segera menjauhi pantai dan tidak perlu melihat datangnya tsunami
atau menangkap ikan yang terdampar di pantai karena air surut.
5) Mengetahui tingkat kerawanan tempat tinggal akan bahaya tsunami
dan jalur evakuasi tercepat ke dataran yang lebih tinggi.
2) Saat Bencana
1) Setelah gempa berdampak pada rumah anda, jangan berupaya untuk
merapikan kondisi rumah. waspada gempa susulan
2) Jika anda berada di rumah, usahakan untuk tetap tenang dan segera
membimbing keluarga untuk menyelamatkan diri ke tempat yang
lebih tinggi dan aman.
3) Tidak semua gempa memicu tsunami. Jika mendengar sirine tanda
bahaya atau pengumuman dari pihak berwenang mengenai bahaya
tsunami, anda perlu segera menyingkir dari daerah pantai.
Perhatikan peringatan dan arahan dari pihak berwenang dalam
17
proses evakuasi.
4) Jika telah sampai di daerah tinggi, bertahanlah disana karena
gelombang tsunami yang kedua dan ketiga biasanya lebih besar dari
gelombang pertama serta dengarkan informasi dari pihak yang
berwenang melalui radio atau alat komunikasi lainnya.
5) Jangan kembali sebelum keadaan dinyatakan aman oleh pihak
berwenang
6) Tsunami tidak datang sekali saja, namun bisa terjadi hingga lima
kali. oleh karena itu, sebelum ada pengumuman dari pihak
berwenang bahwa kondisi aman, jangan meninggalkan lokasi
pengungsian karena seringkali gelombang yang datang belakangan
justru lebih tinggi dan berbahaya.
7) Hindari berjalan di atas jembatan. anda disarankan untuk mengungsi
dengan berjalan kaki.
8) Bagi anda yang sedang melakukan evakuasi menggunakan
kendaraan dan terjadi kemacetan, segera kunci dan tinggalkan
kendaraan dan lanjutkan evakuasi dengan berjalan kaki.
9) Jika berada di kapal atau perahu yang sedang berlayar, usahakan
tetap berlayar dan hindari area pelabuhan.
3) Pascabencana
1) Tetap utamakan keselamatan dan bukan barang-barang anda.
waspada dengan instalasi listrik dan pipa gas.
2) Anda dapat kembali ke rumah setelah keadaan dinyatakan aman dari
18
pihak berwenang
3) Jauhi area yang tergenang dan rusak sampai ada informasi aman dari
pihak berwenang.
4) Hindari air yang menggenang karena kemungkinan kontaminasi zat-
zat berbahaya dan ancaman tersengat aliran listrik.
5) Hindari air yang bergerak karena arusnya dapat membahayakan
anda.
6) Hindari area bekas genangan untuk menghindari terperosok atau
terjebak dalam kubang.
7) Hindari memindahkan air karena arus dapat membahayakan anda.
8) Hindari area yang terdapat genangan air agar tidak terjatuh atau
terjebak dalam genangan air.
9) Jauhi reruntuhan di dalam genangan air karena sangat berpengaruh
terhadap keamanan perahu penyelamat dan orang-orang di sekitar.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Khair et al., 2021) menunjukkan
bahwa data tidak berdistribusi normal dengan hasil uji Wilcoxon sebelum
dan sesudah penyuluhan, p-value=0,001 (p<0,005), artinya ada pengaruh
yang signifikan penyuluhan terhadap tanggap darurat gempa dan tsunami
tentang peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pesisir di Negeri Rutah
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Ismunandar et al., 2021)
menunjukkan pengetahuan masyarakat menghadapi bencana bumi yang baik
28 orang (58,3%), kurang baik 20 orang (41,7%). Pengetahuan pada pasca
bencana 100% kurang baik. Pengetahuan menghadapi bencana tsunami
yang baik 34 orang (70,8%), kurang baik 14 orang (29,2%). Sikap
19
masyarakat menghadapi bencana gempa bumi yang baik dan kurang baik
sama yaitu 24 orang (50%), sikap mengahadapi bencana tsunami yang baik
26 orang (54,2%), kurang baik 22 orang (45,8%). Kesimpulan penelitian ini
pengetahuan dan sikap masyarakat dalam menghadapi bencana gempa bumi
dan tsunami lebih banyak yang baik. Jika dilihat pengetahuan tentang pasca
bencana gempa bumi semuanya kurang baik.
3. Resiliensi Keluarga
a. Definisi Resiliensi Keluarga
Menurut Walsh (2016), resiliensi keluarga adalah kemampuan
keluarga sebagai sistem untuk bertahan dan pulih kembali dari kesulitan.
Keluarga sebagai sistem diharapkan dapat memberikan dukungan antar
anggota keluarga dalam menghadapi kondisi stres, tekanan dan tantangan
kehidupan. Dalam penelitiannya, Simon, Murphy, dan Smith (2005)
menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi resiliensi keluarga,
yaitu antara lain lamanya situasi sulit yang dihadapi keluarga, tahapan
perkembangan keluarga, dan sumber dukungan internal dan eksternal
keluarga. (Zahro, 2021)
Resiliensi adalah sangat penting ketika individu membuat
keputusan sulit di saat dan situasi darurat. Ketahanan adalah pola pikir
yang dapat meningkatkan kemampuan Anda untuk mencari pengalaman
baru dan memandang kehidupan sebagai proses yang terus berkembang.
Ketahanan dapat menciptakan dan mempertahankan sikap positif
terhadap eksplorasi, memungkinkan orang menjadi lebih percaya diri
dalam berinteraksi dengan orang lain dan lebih bersedia mengambil
risiko dalam tindakannya sendiri. (Apriawal, 2022).
20
Keluarga adalah kelompok kecil yang terstruktur dalam ikatan
keluarga dengan fungsi utama sebagai sosialisasi pengasuhan atau
pemeliharaan generasi. Secara umum Mufidah (2014) menjelaskan
bahwa keluarga merupakan unit terkecil dalam struktur masyarakat yang
dibentuk atas hubungan perkawinan yang terdiri dari suami, istri, dan
anak. selain itu, dalam konteks psikologis keluarga sebagai suami istri
yang memiliki komitmen atas dasar cinta untuk hidup bersama,
menjalankan fungsi perkawinan yang melahirkan ikatan darah, dan yang
sepaham, serta memiliki watak dan kepribadian yang saling
mempengaruhi antara satu dan yang lain meski terdapat keberagaman
(Mufidah, 2014).
Resiliensi keluarga adalah kemampuan yang dimiliki oleh keluarga
sebagai unit fungsional untuk pulih dan bangkit dari kesulitan Walsh
(2003). resiliensi keluarga merupakan proses coping dan adapatasi dalam
menghadapi dan mengatasi kesulitan (Walsh, 2006). Resiliensi lebih dari
sekedar bertahan atau menunggu sampai masa sulit itu berakhir, keluarga
yang resilien mampu menemukan makna, mendapatkan kembali hidup
mereka setelah mengalami kesulitan (Hendriani, 2018).
Resiliensi keluarga adalah sikap dan kemampuan sebuah keluarga
untuk bertahan menghadapi masa-masa sulit, mampu beradaptasi dengan
situasi yang sulit, mendukung kelangsungan hidup keluarga, dan
beradaptasi dan berkembang seperti sebelumnya. Dengan mengajarkan
dan melatih anggotanya untuk memahami arti kesulitan yang dihadapi,
membangun lingkungan keluarga yang saling mendukung, menghormati
perbedaan atau kebutuhan setiap orang, serta memberikan otonomi,
21
mewujudkan komunikasi yang jelas, terbuka untuk pertanyaan dan
percakapan, berusaha menghilangkan keraguan, dan terbuka untuk
menyampaikan emosi, resiliensi keluarga dapat membantu remaja
membangun konsep diri yang tangguh (Ahmad et al., 2023)
b. Reiliensi Bencana
Resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit kembali dari
pengalaman negatif yang mencerminkan kualitas bawaan dari individu
atau merupakan hasil dari pembelajaran dan pengalaman. Roberts (2007)
mengutip pengertian bebarapa ahli yang mendefinisikan resiliensi
sebagai presence atau kehadiran good outcomes (hasil yang baik) dan
kemampuan mengatasi ancaman dalam rangka menyokong kemampuan
(Suryanti et al., 2022)
Tujuh kemampuan yang membentuk resiliensi, yaitu sebagai
berikut: regulasi emosi, pengendalian impuls, optmistimisme, empati,
causal analysis, efekasi diri, dan reaching out. Pada dasarnya setiap
individu memiliki semua faktor reselensi diatas, namun yang
membedakan satu individu dengan yang lainnya adalah bagaimana
individu tersebut mempergunakan dan memaksimalkan faktor-faktor
dalam dirinya sehingga menjadi sebuah kemampuan yang membantu
individu untuk bertahan mengahadapi kesulitan atau krisis yang dialami,
serta mencegah hal-hal yang dapat memicu stres dalam masa pemulihan
dan dapat memberikan kemampuan untuk bangkit lebih baik dari
keadaan sebelumnya. Masyarakat yang sudah pernah mengalami bencana
dan mulai bangkit dari kereterpurukan ataupun resilien tetapi masih
rendah tingkat kewaspadaannya (Satria & Sari, 2017)
22
UNISDR (United Nations Office for Disaster Risk Reduction)
berpendapat bahwa resiliensi bencana adalah kemampuan suatu sistem,
komunitas, atau masyarakat yang terpapar pada bahaya untuk melawan,
menyerap, menampung, beradaptasi, mengubah dan pulih dari dampak
bahaya secara tepat waktu dan efisien, termasuk melalui pelestarian
struktur dan fungsi dasar yang penting melalui manajemen resiko. DFID
(2011) menjelaskan bahwa resiliensi bencana adalah kemampuan suatu
negara, komunitas dan rumah tangga untuk mengelola perubahan dengan
memelihara atau mengubah standar hidup dalam menghadapi guncangan
dan tekanan seperti gempa bumi, kekeringan atau konflik kekerasan
tanpa mengorbankan prospek jangka panjang mereka. Feguereido et all
(2018) mendefinisikan resiliensi bencana sebagai sebuah kapasitas atau
atribut positif yang dapat dibangun dan diperoleh, oleh kota, masyarakat,
rumah tangga, organisasi, atau bisnis. Kapasitas ini terdiri dari tindakan-
tindakan tertentu, seperti menolak, menyerap, beradaptasi, mengubah,
memulihkan, dan mempersiapkan, sehubungan dengan peristiwa-
peristiwa terntentu (guncangan, tekanan, bahaya, bencana) atau
kemungkinan terjadinya resiko. Maka dari itu OECD (2013)
memaparkan secara singkat, resiliensi bencana merupakan kemampuan
untuk bertahan dan pulih dari guncangan eksternal yang merugikan
melalui proses penyesuaian yang membangun kembali atau tingkatan
status sistem sebelumnya.
c. Dinamika hubungan antara resiliensi yang mengalami bencana
Menurut Penelitian Dina. (2012) menyebutkan Sebagai warga yang
tinggal di daerah yang sering terkena bencana alam seperti gempa bumi
23
dan tsunami, masyarakat Aceh memerlukan kemampuan resiliensi yang
baik. Hal tersebut terkait dengan temuan bahwa bencana alam dapat
menimbulkan berbagai macam gangguan seperti distress, disorders, dan
health-risk behavior. Bahkan jika dibiarkan semakin parah,
memungkinkan timbulnya Posttraumatic Stress Disorders (PTSD)
(Terutama yang memerlukan kemampuan resiliensi yang lebih baik
adalah remaja dan anak-anak, karena kelompok usia ini lebih rentan
dibandingkan orang dewasa dalam menerima dampak paling berat dari
kejadian traumatis Remaja dan anak-anak yang memiliki kemampuan
resiliensi yang baik juga akan memiliki wellbeing yang lebih baik, karena
remaja yang memiliki kemampuan resiliensi yang baik akan bisa
melewati keadaan hidup yang menyulitkan di masa yang akan datang.
Banyak faktor pada proses resiliensi pada seorang, salah satunya
adalah budaya. Dengan mengacu kepada perspektif resiliensi yang
merupakan proses dinamis antara individu dan lingkungannya, maka
dalam hubungannya dengan resiliensi, faktor budaya dan faktor eksternal
lainnya berinteraksi dengan faktor internal individu dalam dalam
beradaptasi dengan keadaan negatif. Budaya, bersama dengan domain-
domain lingkungan yang penting dalam kehidupan seperti faktor
keluarga, faktor komunitas, agama, sekolah, dan rekan sebaya, kemudian
berinteraksi dengan karakteristik individu, membentuk suatu proses yang
kemudian diharapkan akan menghasilkan outcomes berupa adaptasi
positif individu terhadap tantangan hidup.
24
d. Aspek-Aspek Resiliensi Keluarga
Menurut Connor dan Davidson (2003) dalam (Yulis Setiya Dewi et
al., 2022) Ada 5 Aspek Resiliensi Yaitu:
1) Kompetensi Personal, Standar yang Tinggi, dan Keuletan.
Kompetensi personal, standar yang tinggi, dan keuletan adalah
kemampuan individu dalam mencapai tujuannya walaupun dalam
kondisi tertekan atau dihadapkan dengan berbagai permasalahan.
2) Kepercayaan Terhadap Naluri, Toleransi Terhadap Efek Negatif, dan
Kuat dalam Menghadapi Stres.
Aspek kepercayaan terhadap naluri, toleransi terhadap efek negatif,
dan kuat dalam menghadapi stres adalah keyakinan seseorang dalam
mengambil keputusan sesuai dengan apa yang dirasakan, dan
individu mampu menolerasi afek negatif seperti perasaan tidak
nyaman yang dapat memunculkan stres
3) Penerimaan Positif Terhadap Perubahan, dan Memiliki Hubungan
yang Baik dengan Orang Lain.
Aspek penerimaan positif terhadap perubahan, dan memiliki
hubungan yang baik dengan orang lain adalah individu mampu
menyesuaikan pada perubahan ataupun permasalahan yang sedang
dihadapi dan individu mampu menjalin hubungan yang baik dengan
individu lainnya
4) Kontrol Aspek Kontrol Diri adalah kemampuan individu dalam
mengontrol dirinya sendiri untuk mencapai tujuannya dan mampu
menerima dukungan dari orang lain diri.
5) Pengaruh Spiritual.
25
Aspek pengaruh spiritual adalah kepercayaan penuh individu kepada
tuhan bahwa permasalahan yang dialami merupakan rencana dari
tuhan yang harus di jalani dengan pemikiran dan perasaan yang
positif.
e. Dimensi Resiliensi Keluarga
(Yulis Setiya Dewi, 2022) Dalam buku resiliesni ibu menghadapi
bencana alam mengemukan resiliensi keluarga juga sebagai
pengembangan diri dan hubungan terhadap orang lain. Walsh
menyampaikan ada 3 elemen utama dalam resiliensi keluarga, yakni:
1) Keyakinan/Kepercayaan (Belief)
Merupakan elemen yang penting dalam resiliensi keluarga.
walsh menyampaikan bahwa sistem keyakinan mencakup nilai,
pendirian, sikap, prasangka, dan asumsi yang membentuk respon
emosi, sebuah keputusan,dan menjadi pedoman tingkah laku.
sedangkan sistem keyakinan pada keluarga dipengaruhi oleh cultural
belief yang diterapkan dari keluarga dan interaksi sosial. secara
umum, system keyakinan mencakup tiga komponen seperti,
memaknai situasi krisis (Making Meaning of Adversity), Pandangan
positif (Positive Outlook), dan transcendental dan spiritualitas.
berikut penjelasan dari ketiga komponen dari sistem keyakinan:
a) Memaknai Situasi Krisis (Marking Meaning of Adversity)
Berdasarkan Penjelasan Dari Walsh Resiliensi Keluarga
Dapat Melihat Krisis Dengan Cara;
(1) Relational View Of Resilience
26
Adalah Dasar Resiliensi. Keluarga Dapat Melihat Krisis
Sebagai Tantangan Bersama (Shared Challenge) Dan
Menjadikan Hubungan Antar Keluarga Yang Memegang
Kekuatan Dalam Mengahadapi Krisis.
(2) Normalizing And Contextualizing Distress
Adalah Mengartikan Kata "Krisis" Sebagai Hal Yang
[Link] Kemungkinan Dalam Keluarga Untuk Saling
Menyalahkan Terkait Krisis Dapat Berkurang.
(3) Sense of Coherence
Memberikan pandangan pada keluarga untuk melihat
krisis sebagai hal yang dipahami, dikendalikan, dan bermakna
shingga SOC (Sense Of Cafference) menjadikan keluarga
melalui krisis dengan baik.
(4) Causal Or Explanatory Attributions
Sebagai penilaian yang subjektif terkait krisis yang dapat
memengaruhi koping dan adaptasi keluarga.
(a) Pandangan Positif
Pandangan positif (Positive Outlook) merupakan komponen
dalam resiliensi yang penting. pandangan positif terdapat
hubungan kuat dengan koping, recovery dari krisis, dan
menangani hambatan untuk mencapai sukses. elemen
dalam pandangan positif terdiri dari harapan dan
optimisme, fokus pada kekuatan dan potensi, inisiatif dan
ketekunan, keberanian dan dorongan, juga penguasaan aktif
dan spiritualitas.
(b) Transcendental Belief
27
Pemberian makna hirup dan penghibur ketika adanya
tekanan yang dialami. selain itu, juga berperan sebagai
pengubah krisis yang terjadi menjadi hal yang tidak
mengancam dan penguatan diri yang terjadi menjadi hal
yang tidak mengancam dan penguatan diri akan situasi
yang tidak mungkin diubah
2) Pola Organisasi (Organizational Patterns)
Pada pola organisasi akan semakin dibutuhkan ketika keluarga
mengalami situasi krisis. untuk mengatasi krisis secara efisien,
keluarga dapat mengatur sumber dari masalah, menghambat tekanan,
dan melakukan reorganisasi guna menyesuaikan dengan kondisi saat
itu. diperlukan adanya pola organisasi yang efektif, keterhubungan
(connectedness), dan ekonomi menjadi sumber social
3) Proses Komunikasi (Communication Process)
Pada resiliensi keluarga dibutukan adanya komunikasi yang
baik. komunikasi memiliki dua fungsi pokok yakni, a) Pokok isi
adalah komunikasi yang berfungsi menyampaikan informasi secara
sebenarnya, pendapat atau perasaan; b) Aspek hubungan artinya
komunikasi yang berfungsi penentuan dari sifat hubungan. pada
komunikasi memiliki tiga aspek penting yakni;
a) Kejelasan/ Transparansi (Clarity)
Kejelasan dalam penyampaian pesan dapat terfasilitasi dari
fungsi keluarga secara efektif. Kejelasan juga membantu keluarga
dalam
b) Pengungkapan Emosional
28
Resiliensi keluarga adalah keluarga yang dapat membagi ra
terhadap antar anggotanya juga mampu memahami dari berbag
respons yang muncul. Ketika membagi rasa terhadap suatu h
keluarga menunjukkan rasa kepedulian dan menghargai par
perbedaan anggota keluarga.
(1) Penyelesaian Masalah Secara Kolaboratif
Keluarga mampu berfungsi baik adalah anggota
keluarga yarg dapat menyelesaikan permasalahan secara
efektif. Penyelesaian masalah secara efektif adalah hal utama
untuk anggota keluarg dalam menangani situasi rawan atau
adanya permasalaha yang terus menerus. Untuk mengatasi
situasi rawan, anggo keluarga dapat memunculkan pemikiran
ide yang kreatif gun adanya keinginan untuk selesai dari
permasalhan, mengambil ketetapan secara bersama-sama, dan
pernyataan permasalahan yang membutuhkan rundingan yang
mencakup dari argument individu antar anggota
f. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Resiliensi
Menurut Daniel dan Wassel adanya faktor protektif berasal dari
keluarga sebagai berikut:
1) Adanya rasa kepercayaan dan kepekaan social
2) Adanya ikatan kuat antaranggota keluarga
3) Kerukunan
4) Memiliki orang tua yang sehat secara mental
5) Adanya dorongan untuk mandiri pada perempuan di anggota keluarga
6) Adanya dorongan untuk mengekspresikan perasaan untuk laki-laki
29
pada anggota keluarga.
7) Adanya keharmonisan di keluarga
8) Adanya hubungan dekat antar saudara kandung
9) Jumlah anak disesuaikan dengan panduan KB (Keluarga Berencana)
10) Adanya kecukupan secara finansial juga sumber materi
11) Saling tolong menolong pada sesama anggota keluarga
12) Adanya kedekatan terhadap kakek-nenek dari ananya maupun
cucunya
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Kurnia, 2021) menunjukkan
bahwa resiliensi komunitas belum tercapai, dimana komunitas belum
mampu membangun aksi kolektif untuk mengatasi berbagai masalah dan
masih bergantung pihak eskternal. Meskipun modal sosial tergolong
tinggi, namun anggota komunitas cenderung individualis untuk
mengatasi permasalahan yang dihadapi. Salah satu penyebabnya adalah
kurang berperannya pemimpin komunitas karena tidak tinggal bersama
dengan anggota komunitasnya di hunian sementara (Huntara) sehingga
interaksi antar anggota komunitas menjadi terbatas dan tidak ada
koordinasi yang baik untuk melakukan aksi bersama dalam mengatasi
berbagai masalah yang dihadapi
B. Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen
Resiliensi Kesiapsiagaan
Keluarga Bencana
Bagan 1
Kerangka Konsep
C. Definisi Operasional
30
Tabel 2
Definisi Operasional
Definisi Cara Skala
No Variabel Alat Ukur Hasil Ukur
Operasional Ukur Ukur
Independen
1 Resiliensi Resiliensi Kuesioner Kuesioner Interpretasi ordinal
Keluarga Keluarga dalam Family skor
menghadapi Risilience 1. Resiliensi
bencana yang Asassement Tinggi =
mengukur aspek Scale (FRAS) 76-100%
making meaning Walsh 2012 2. Resiliensi
out of adversity, Sedang =
positive outlook, 60-75%
transcendenty & 3. Resiliensi
spirituality, Rendah =
flexibility,conne < 60%
ctedness,social
& economic
resources,
clarity, open
emotional
expression,
collaborative
problem solving
.
Dependen
2 Kesiapsia kesiapsiagaan Kousiner Kuesioner Skor kategori ordinal
gaan bencana Kesiapsiagaan tingkat
Bencana [Link] Bencana di kesiapsiagaan
(household) adaptasi dari 3 tinggi
dalam kisi-kisi yang 2 sedang
menghadapi telah di susun 1 rendah
bencana yang oleh LIPI
mengukur aspek UNECSO/ISD
pengetahuan dan R berjumlah
sikap, kebijakan 38 pernyataan
atau panduan, menggunakan
rencana tanggap skala ordinal
darurat, sistem dengan
peringatan jawaban benar
bencana dan 1, dan jawaban
mobilitas salah 0
sumber daya.
D. Hipotesis
31
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi
sebagai alternatif yang paling tepat untuk diteliti. Adapun hipotesis dalam
penelitian ini adalah:.
Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dengan
Kesiapsiagaan Bencana Pada Keluarga dikampung Segana Jenggalu RT
08 RW 03 Kota Bengkulu
Ha : Ada hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dengan
Kesiapsiagaan Bencana Pada Keluarga dikampung Segana Jenggalu RT
08 RW 03 Kota Bengkulu
.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di kampung Segana Jenggalu RT 08
RW 03 Kota Bengkulu dan waktu penelitian dilakukan pada bulan 3 sampai 7
JuliTahun 2024.
B. Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif korelatif yaitu jenis
penelitian dengan melakukan pengamatan yang dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung tanpa memberikan perlakuan atau intervensi
kepada subyek. Pada penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross
sectional yaitu di mana peneliti mengukur variabel secara bersamaan dan hasil
yang di peroleh mengambarkan kondisi yang terjadi saat penelitian
berlangsung.
C. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat dikampung Segana
Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu yang akan diambil dan disesuaikan
dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi dari penelitian yang sebelumnya
telah ditentukan oleh peneliti.
32
33
2. Sampel
Pada penelitian ini dilakukan pengambilan sampel dengan cara
Accidental sampling teknik pengambilan sampling dengan Accidental
sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang berdasarkan sampel
yang kebetulan di temui peneliti dan cocok dengan kreteria inklusi dan
eklusi,Sugiyono (2009:221).
Kriteria Inklusi
a. Keluarga di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu
b. Ayah/Ibu/Anak yang berusia 17 tahun lebih
c. Tinggal di pesisir pantai
Kriteria Eksklusi
a. Keluarga Tidak bersedia menjadi responden.
b. Keluarga yang tidak tinggal di pesisir pantai
D. Prosedur Pengumpulan Data
1 Data sekunder
Data sekunder yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan
data kepada pengumpul data,pengambilan data sekunder dilakukan melalui
orang lain atau lewat dokumen (sugiyono 2018 :456)
2 Data Primer
Data primer adalah data asli yang dikumpul kan sendiri oleh peneliti
untuk menjawab penelitiannya Danang Suyonto (2013 :21)
34
E. Teknik Pengolahan Data
Dalam suatu penelitian, pengolahan data merupakan salah satu
langkah yang sangat penting. Hal ini di sebabkan karena data yang diperoleh
langsung dari penelitian masih mentah, belum memberikan informasi apa-
apa, dan belum siap untuk disajikan. Untuk memperoleh penyajian data
sebagai hasil yang berarti dan kesimpulan yang baik, diperlukan pengolahan
data. Dalam hal ini pengolahan data menggunakan komputer akan melalui
tahap-tahap sebagai berikut :
1. Editing
Hasil wawancara dan kuesioner dari lapangan harus dilakukan
penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah
keigatan untuk mengecek dan memperbaiki isian formulir atau kuesioner
tersebut :
a. Apakah lengkap, dalam arti semua pertanyaan sudah terisi.
b. Pemeriksaan semua jawaban dapat dinilai atau tidak.
c. Pemeriksaan apakah ada kesalahan
2. Coding
Pemberian kode yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf
menjadi data angka atau bilangan. Setelah dilakukan perhitungan score
pada setiap jawaban kuisoner.
35
3. Processing
Peneliti memasukan data dari kuesioner ke komputer agar dapat
dianalisis. Processing dilakukan pada analisa univariat dan bivariat
mengunakan komputer.
4. Tabulating
Tabulating yaitu data yang dikelompokan kemudian disajikan
dalam bentuk tabel menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan
peneliti dengan menggunakan computer
5. Cleaning
Peneliti melakukan pengecekan kembali data dari setiap sumber
data selesai di masukkan, untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan
kode, ketidak [Link] dilakukan pembetulan atau
koreksi.
F. Teknik Analisa Data
1. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk memperoleh gambaran distribusi
frekuensi dan proporsi dari variabel yang di teliti baik variabel Independen
(Resiliensi Keluarga) maupun variable Dependen (kesiapsiagaan bencana).
2. Analisa Bivariat
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan resiliensi
keluarga dengan kesiapsiagaan bencana pada keluarga dikampung segana
jenggalu rt 08 rw 03 kota bengkulu dengan mengunakan Uji Chi-Square
(𝒳2), dan untuk mengetahui keeratan hubungan menggunakan Contingency
coefficient (C)
36
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW
03 Kota Bengkulu pada tanggal 11-17 Juni 2024. Tujuan utamanya adalah
untuk mengetahui hubungan antara resiliensi keluarga dengan
kesiapsiagaan bencana di wilayah tersebut. Penelitian menggunakan desain
analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional, melibatkan 116
responden yang dipilih dari total populasi 190 Kepala Keluarga.
2. Jalannya Penelitian
Penelitian dimulai dari SK penetapan pembimbing proposal skripsi
nomor 1942 pada tanggal 07 Oktober 2023. Pada tanggal 20 November
2023 hinggal 20 Febuari 2024 melaksanakan bimbingan proposal bersama
pembimbing 2 dan 1. Pada tanggal 05 maret 2024 melaksankana ujian
seminar proposal. Pada tanggal 03 Maret 2024 sampai tanggal 21 Maret
2024 dilakukan revisi proposal. Pada tanggal 04 Juni 2024 mengurus surat
bebas keuangan dan pada tanggal 07 Juni 2024 meliris surat permohonan
izin penelitian nomor 0798. Pada tanggal 08 Juni 2024 keluar surat
rekomendasi penelitian nomor 508 dari dinas penanaman modal dan
pelayanan terpadu satu pintu dan pada tanggal 08 Juni 2024 meneruskan
terusan surat izin penelitian dari dinas penanaman modal dan pelayanan
terpadu satu pintu ke ketuan kesatuan bangsa dan politik provinsi Kota
37
38
Bengkulu, Ketuan STIKES Tri Mandiri Sakti kota Bengkulu dan Wakil
Ketua 1 STIKES Tri Mandiri Sakti Kota Bengkulu. pada tanggal 10-17
Juni 2024 melakukan penelitian dikampung segana jenggalu rt 08 rw 03
kota bengkulu.
Data awal yang dikumpulkan dengan melakukan pengisian
kuesioner . Pengumpulan data dilakukan secara door to door, dimana
peneliti menjelaskan tujuan penelitian kepada setiap responden,
memberikan kesempatan untuk bertanya, dan meminta persetujuan melalui
informed consent.
Setelah data dikumpulkan peneliti melakukan pengolahan data yang
dimulai dari Proses editing, coding, cleaning data hingga analisis data
menggunakan analisis univariat dan bivariate. Kemudian peneliti membuat
hasil penelitian serta.
3. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk memperoleh
gambaran distribusi frekuensi dan proporsi dari variabel
yang di teliti baik variabel Independen (Resiliensi Keluarga)
maupun variable Dependen (kesiapsiagaan bencana).
a. Distribusi Frekuensi Resiliensi Keluarga
Distribusi frekuensi resiliensi keluarga dalam
Penelitian ini tersaji dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Resiliensi Keluarga
Resiliensi Keluarga Frekuensi Persentase (%)
39
Resiliensi Sedang 17 14,66
Resiliensi Tinggi 99 85,34
Jumlah 116 100
Hasil penelitian mengenai distribusi frekuensi
resiliensi keluarga di Kampung Segana Jenggalu
menunjukkan gambaran yang positif. Sebagian besar
keluarga yang diteliti memiliki tingkat resiliensi tinggi,
dengan jumlah mencapai 99 keluarga atau 85,34% dari
total sampel. Sisanya, sebanyak 17 keluarga atau
14,66%, berada pada kategori resiliensi sedang.
Menariknya, tidak ditemukan keluarga dengan tingkat
resiliensi rendah dalam penelitian ini. Temuan tersebut
mengindikasikan bahwa komunitas keluarga di
Kampung Segana Jenggalu umumnya memiliki
ketahanan yang baik dalam menghadapi berbagai
tantangan dan tekanan hidup. Mayoritas keluarga
tampaknya memiliki kapasitas yang kuat untuk
beradaptasi dan mengatasi situasi sulit yang mungkin
mereka hadapi.
b. Distribusi Frekuensi Kesiapsiagaan Bencana
Distribusi frekuensi kesiapsiagaan bencana dalam
Penelitian ini tersaji dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Kesiapsiagaan Bencana
Kesiapsiagaan Bencana Frekuensi Persentase (%)
40
Sedang 1 0,86
Tinggi 115 99,14
Jumlah 116 100
Penelitian tentang distribusi frekuensi
kesiapsiagaan bencana di Kampung Segana Jenggalu
menunjukan gambaran yang positif. Data menunjukkan
bahwa hampir seluruh keluarga yang diteliti memiliki
tingkat kesiapsiagaan bencana yang tinggi. Secara
spesifik, dari total 116 keluarga yang menjadi sampel,
115 keluarga atau 99,14% berada dalam kategori
kesiapsiagaan tinggi. Hanya terdapat satu keluarga,
yang mewakili 0,86% dari total sampel, yang tergolong
dalam kategori kesiapsiagaan sedang. Yang menarik,
tidak ditemukan keluarga dengan tingkat kesiapsiagaan
rendah dalam penelitian ini. Temuan ini memberikan
gambaran yang sangat positif tentang kesadaran dan
persiapan masyarakat Kampung Segana Jenggalu dalam
menghadapi potensi bencana. Fakta bahwa hampir
semua keluarga memiliki kesiapsiagaan tinggi
menunjukkan bahwa komunitas ini telah
mengembangkan pemahaman dan kemampuan yang
baik dalam mengantisipasi, merespon, dan pulih dari
kemungkinan bencana.
4. Analisis Bivariat
41
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan resiliensi
keluarga dengan kesiapsiagaan bencana pada keluarga dikampung segana
jenggalu RT 08 RW 03 kota bengkulu dengan mengunakan Uji Chi-
Square (𝒳2), dan untuk mengetahui keeratan hubungan menggunakan
Contingency coefficient (C). Hubungan reliensi keluarga dengan kesiapan
bencana dikampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu
disajikan dalam tabel berikut:
42
Tabel 4
Hasil uji Statistik Hubungan Resiliensi Keluarga dengan
Kesiapsiagaan bencana di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW
03 Kota Bengkulu
Kesiapsiagaan
Bencana Total P
Resiliensi
2 valu C
Keluarga Sedang Tinggi
e
F % F % F %
Resiliensi
0 0,00 17 14,66 17 14,66
Sedang
Relisiensi 0,173 0,677 0,039
1 0,86 98 84,48 99 85,34
Tinggi
Jumlah 1 0,86 115 99,14 116 100
Berdasarkan data diatas diperoleh analisis statistik Chi-Square,
dengan nilai statistik sebesar 0,173 dan p-value sebesar 0,677, yang
lebih besar dari batas signifikansi 0,05, dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dan
kesiapsiagaan bencana. Selain itu, hasil perhitungan koefisien kontingen
(C) yang menunjukkan nilai sebesar 0,039, berada dalam rentang 0,00-
0,199, menunjukkan bahwa hubungan antara resiliensi keluarga dan
kesiapsiagaan bencana termasuk dalam kategori sangat rendah. Ini
mengindikasikan bahwa meskipun terdapat pola tertentu, hubungan
statistik antara kedua variabel tersebut tidak kuat.
B. Pembahasan
1. Distribusi Frekuensi Resliensi Keluarga di Kampung Segana Jenggalu
RT 08 RW 03 Kota Bengkulu Dalam Menghadapi Bencana Tsunami
Hasil penelitian mengenai distribusi frekuensi resiliensi keluarga di
Kampung Segana Jenggalu menunjukkan gambaran yang positif. Sebagian
besar keluarga yang diteliti memiliki tingkat resiliensi tinggi, dengan
43
jumlah mencapai 99 responden keluarga atau 85,34% dari total sampel.
Sisanya, sebanyak 17 responden keluarga atau 14,66%, berada pada
kategori resiliensi sedang.
Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 39
pernyataan. Dari 39 pernyataan tersebut diperoleh sebanyak 99 responden
dari 116 responden keluarga atau 85.34%, menunjukkan tingkat resiliensi
yang tinggi. Skor resiliensi keluarga-keluarga ini berkisar antara 118
responden (76%) hingga 156 responden (100%). Sementara itu, 17
keluarga atau 14.66% dari total responden memiliki tingkat resiliensi
sedang. Skor resiliensi untuk kelompok ini berkisar antara 108 (69%)
hingga 117 (75%). Menariknya, tidak ada keluarga yang masuk dalam
kategori resiliensi rendah. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh sampel
dalam penelitian ini memiliki setidaknya tingkat resiliensi yang cukup
untuk menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan keluarga. Temuan ini
sangat positif dan mengindikasikan bahwa keluarga-keluarga dalam
sampel ini memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mengatasi kesulitan
dan tantangan. Skor tertinggi yang dicapai dalam penelitian ini adalah 156,
yang merupakan skor maksimal (100%). Di sisi lain, skor terendah yang
tercatat adalah 108 (69%), yang masih termasuk dalam kategori sedang.
Bahkan keluarga dengan skor terendah masih menunjukkan tingkat
resiliensi yang cukup, mengindikasikan adanya potensi dan kekuatan
dalam menghadapi kesulitan.
44
2. Distribusi Frekuensi Kesiapsiagaan Masyarakat di Kampung Segana
Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu Dalam Menghadapi Bencana
Tsunami
Distribusi frekuensi kesiapsiagaan masyarakat di Kampung Segana
Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dalam menghadapi bencana
tsunami menunjukkan bahwa hampir seluruh keluarga, yakni 115
responden dari 116 responden keluarga (99,14%), memiliki kesiapsiagaan
yang tinggi. Ini berarti sebagian besar keluarga di daerah tersebut telah
mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi potensi
bencana, seperti memahami prosedur evakuasi, memiliki persediaan
darurat, dan mengikuti pelatihan bencana. Hanya 1 keluarga (0,86%) yang
menunjukkan kesiapsiagaan sedang, dan tidak ada keluarga yang masuk
dalam kategori kesiapsiagaan rendah.
Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian berbagai sumber daya
serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna (Utami dkk,
2021). Dalam konteks penelitian di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW
03 Kota Bengkulu, hasil yang menunjukkan bahwa 99,14% keluarga
memiliki kesiapsiagaan bencana yang tinggi sejalan dengan definisi
tersebut. Mayoritas keluarga telah menerapkan langkah-langkah yang
diperlukan untuk mencegah dampak buruk dari bencana, seperti tsunami,
melalui persiapan dan tindakan yang terorganisir dengan baik. Ini
45
mencerminkan kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesiapsiagaan
sebagai upaya preventif dalam menghadapi potensi bencana.
Sikap kesiapsiagaan merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan
untuk mengurangi resiko bencana,sikap menentukan individu dan rumah
tangga membuat respon atau breaksi terhadap suatu situasi bencana. Sikap
yang baik berbentuk dan dipengaruhi oleh pengetahuan (Rahmat et
al.,2023).
Sejalan dengan penelitian Hildayanto (2021) Hasil menunjukan
bahwa hasil penelitian diketahui bahwa jumlah masyarakat yang memiliki
tingkat pengetahuan kesiapsiagaan baik sebanyak 37%, sedangkan jumlah
masyarakat yang memiliki tingkat pengetahuan kesiapsiagaan kurang
sebanyak 63%. Dan jumlah masyarakat yang memiliki sikap kesiapsiagaan
baik sebanyak 48%, sedangkan jumlah masyarakat yang memiliki sikap
kesiapsiagaan kurang sebanyak 52%. Hasil ini menguatkan bahwa
kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana berada pada tingkat yang
sangat baik, menunjukkan kesadaran dan tindakan yang tepat dalam
mengantisipasi risiko bencana.
Selain itu hasil penelitian dari Widayati & Husain (2023)
menunjukan bahwa masyarakat (kepala keluarga) yang memiliki tingkat
pengetahuan tentang kesiapsiagaan baik sebanyak 30 responden (34,5%),
sedangkan yang memiliki tingkat pengetahuan tentang kesiapsiagaan
kurang sebanyak 57 responden (65,5%). Jadi dapat disimpulkan bahwa
tingkat pengetahuan tentang kesiapsiagaan masyarakat dalam
46
penanggulangan bencana banjir di desa Sembungharjo, Pulokulon,
Grobogan tergolong masih rendah dengan presentase sebanyak 65,5%.
3. Hubungan Antara Resiliensi Keluarga Dengan Kesiapsiagaan
Bencana di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu
Tsunami
Berdasarkan hasil analisis bivarian hubungan antara resiliensi
keluarga dan kesiapsiagaan bencana di Kampung Segana Jenggalu RT 08
RW 03 Kota Bengkulu dapat dilihat dari hasil analisis penelitian
Berdasarkan data diatas diperoleh analisis statistik Chi-Square,
dengan nilai statistik sebesar 0,173 dan p-value sebesar 0,677, yang
lebih besar dari batas signifikansi 0,05, dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dan
kesiapsiagaan bencana. Selain itu, hasil perhitungan koefisien kontingen
(C) yang menunjukkan nilai sebesar 0,039, berada dalam rentang 0,00-
0,199, menunjukkan bahwa hubungan antara resiliensi keluarga dan
kesiapsiagaan bencana termasuk dalam kategori sangat rendah. Ini
mengindikasikan bahwa meskipun terdapat pola tertentu, hubungan
statistik antara kedua variabel tersebut tidak kuat.
Dari hasil rekap kuesioner diketahui sebagian besar dari responden
resiliensi keluarga mengalami peningkatan (tinggi). Hal ini dilihat dari
rata-rata hasil jawaban kuesioner yang dikerjakan oleh responden bahwa
banyak responden menjawab tinggi pada pertanyaan resiliensi keluarga.
47
Hal ini dari data 17 diatas sesuai dengan pendapat (Mawarpury &
Mirza, 2017) menyatakan resiliensi sedang Hal ini berkaitan dengan
tingkat perekonomian warga yang menjadi masalah utama dalam
kehidupan. Masalah tersebut berpengaruh terhadap tingkat resiliensi
keluarga. Dalam hal ini, resiliensi keluarga dipengaruhi oleh beberapa
Selain itu, ketahanan keluarga dijelaskan dalam UU Nomor 10/1992
sebagai dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan
serta mengandung kemampuan fisik material dan psikis mental spiritual
guna hidup mandiri, mengembangkan diri dan keluarganya untuk
mencapai keadaan harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan
batin. Hal ini senada dengan definisi ketahanan keluarga bahwa ketahanan
keluarga menyangkut kemampuan individu atau keluarga untuk
memanfaatkan potensinya untuk menghadapi tantangan hidup, termasuk
kemampuan untuk mengembalikan fungsifungsi keluarga seperti semula
dalam menghadapi tantangan dan krisis
Faktor dari data diatas kesiapsiagaan bencana sedang sebanyak 1
orang dengan dikategorikan kesiapsiaagan sedang menyatakan hal ini
sesuai dengan pendapat Hanifah, (2019) dengan faktor usia, dan
pendidikan. Daya ingat seseorang itu salah satunya diepngaruhi oleh usia
dan dapat disimpulkan bahwa bertambahnya usia dapat berpengaruh pada
pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, dapat disimpulkan usia yang
masih produktif dan memiliki peluang yang tinggi dalam menerima
edukasi
48
Resiliensi keluarga tinggi rendahnya resiliensi dalam diri individu
tidak lepas disebabkan yang mempengaruhinya antara lain usia, jenis
kelamin, tempramen dan intelegensi. Menurut penelitian (Sanders, 2022)
menyatakan ada hubungan antara resiliensi dengan usia. Usia lebih tua
memiliki resiliensi lebih baik dibandingkan dengan usia yang lebih muda.
Hasil penelitian ini sejalan dengan (Deviantony, 2020) bahwa usia yang
lebih tua menunjukkan resiliensi yang lebih tinggi, Hal ini dikarenakan
orang yang lebih tua memiliki emosi yang lebih stabil
Sedangkan Resiliensi sedang yang mempengaruhi yaitu gender,
status pernikahan, peristiwa hidup dan status social ekonomi. Pola sosial
yang pertama adalah gender, di mana perempuan lebih mudah mengalami
distress dibandingkan dengan laki-laki. Berikutnya, status pernikahan,
dimana individu yang menikah cenderung lebih resilien terhadap distress
dibandingkan dengan individu yang belum menikah. Kemudian peristiwa
hidup yang tidak diinginkan, yaitu semakin banyak perubahan yang tidak
diinginkan terjadi dalam sebuah kehidupan seseorang, maka tingkat
distress yang dialami semakin tinggi. Terakhir, yaitu kelas sosial ekonomi,
dimana disebutkan bahwa semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang
(baik dari segi pendidikan, pekerjaan maupun pemasukan)
Dalam penelitian ini juga didapatkan dengan resiliensi sedang dan
rendah, dimana sebagian besar ditemukan dengan rentang umur 46-59
tahun serta tingkat pendidikan sekolah dasar. Hal ini terkait dengan
kurangnya pengetahuan serta emosi yang kurang stabil sehingga kurang
49
mampu untuk beradaptasi dengan masalah yang baru dihadapi. Kestabilan
emosional memang tidak bisa di intepretasikan dengan umur individu,
namun kestabilan emosional memiliki dampak dalam penyesuaian diri.
Ketika individu sudah memiliki kematangan emosional atau emosi yang
stabil maka individu tersebut akan mampu beradaptasi dengan masalah
(Sugiarto, 2017). Umur tidak bisa menjadi tolak ukur dalam menentukan
resiliensi setiap individu karena terdapat faktor-faktor pencetus lain seperti
dukungan keluarga yang didapatkan oleh setiap individu, pendidikan yang
ditempuh oleh setiap individu (Lisani & Susandari, 2017).
Faktor yang memengaruhi resiliensi antara lain pengendalian
faktor internal yang akan diulas keterkaitannya dengan resiliensi
adalah regulasi emosi (emotional regulation) dan
optimisme. Sementara
faktor eksternalnya adalah dukungan keluarga. Regulasi emosi merupakan
kompetensi seseorang untuk selalu berada dalam perasaan tenang
saat berada dalam tekanan. Seseorang memiliki ketangguhan atau
resiliensi akan menggunakan keterampilan yang berkembang dengan
baik sehingga dapat menolong individu tersebut mengendalikan
emosi, perhatian, dan perilaku. Individu yang tidak
mempunyai regulasi emosi secara teratur akan mempunyai emosi
negatif berupamudah marah, mudah cemas, dan sulit bertahan
hubungan (Hertinjung et al., 2022)
50
Dukungan yang baik dipengaruhi oleh dukungan dari orang yang
sangat berarti atau orang yang dekat dengan keluarga dalam hal ini suami,
orang tua dan anak-anak. anak sangat membutuhkan dukungan dari orang
yang paling dekat sebagai tempat mereka mendapatkan semangat, kasih
sayang dan pengertian. Dukungan yang diberikan keluarga untuk
mengurangi resiliensi itu sendiri adalah dukungan informasional, dimana
keluarga memberikan nasehat, saran, dukungan jasmani maupun rohani
(Sembiring, 2019).
Resiliensi penting bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan
bencana, karena dapat memberikan pengalaman yang baik bagi
masyarakat dalam menghadapi tantangan dan kesulitas hidup (Mourato,
2021). Hal ini dikarenakan peristiwa bencana yang pernah dialami oleh
individu, diterima sebagai stimulus yang memberikan pengalaman dan
mempengaruhi tingkat kesiapsiagaan seseorang dalam menghadapi
Bencana akan memberikan proses pembelajaran yang bermanfaat bagi
individu dalam membentuk perilaku kesiapan. Proses pembelajaran
tersebut tercermin melalui adanya langkah persiapan yang dilakukan
masyarakat, sehingga dapat meminimalisir korban dan dampak psikologis
dari bencana. Perilaku kesiapan ini juga didukung oleh kemampuan
individu untuk bangkit kembali dari peristiwa trauma yang pernah terjadi.
Kemampuan inilah yang kemudian disebut dengan resiliensi (Sandrina et
al., 2023)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sasmita & Afriyenti, 2019)
bahwa regulasi emosi, impulse control, optimisme, causal, self-efficacy,
51
reaching out, dapat membantu resiliensi para korban tsunami, namun tidak
halnya dengan empati karena tidak berpengaruh signifikan terhadap
resiliensi korban. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bagian dari
rencana pelaksanaan terapi psikologis khususnya terkait dengan Cognitive
Behavioral Therapy, Dialectical Behavioral Therapy agar mampu melihat
individu dalam menerima bencana serta bangkit atas apa yang telah terjadi.
Hasil dari kousiner Kesiapsiagaan Bencana menunjukan responden
yang menjawab di kategori tinggi dengan nomor responden 001 , 002, 003,
004, 005, 006, 007, 008, 009, 010, 011, 012, 013, 014, 015, 016, 017,
018, 019, 020, 021, 022, 023, 024, 025, 026, 027, 028, 029, 030, 031,
032, 033, 034, 035, 036, 037, 038, 039, 040, 041, 042, 043, 044, 045,
046, 047, 048, 049, 050, 051, 052, 053, 054, 055, 056, 057, 058, 059,
060, 061, 062, 063, 064, 065, 066, 067, 068, 069, 070, 071, 072, 073,
074, 075, 076, 077, 078, 079, 080, 081, 082, 083, 084, 085, 086, 087,
088, 089, 090, 091, 092, 094, 095, 096, 097, 099, 100, 101, 102, 103,
104, 105, 106, 107, 108, 109, 110, 111, 112, 113, 114, 115, 116,
sedangkan responden yang menjawab di kategori sedang dengan nomor
responden 093
Berdasarkan data diatas diperoleh analisis statistik Chi-Square,
dengan nilai statistik sebesar 0,173 dan p-value sebesar 0,677, yang
lebih besar dari batas signifikansi 0,05, dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara resiliensi keluarga dan
kesiapsiagaan bencana. Selain itu, hasil perhitungan koefisien kontingen
52
(C) yang menunjukkan nilai sebesar 0,039, berada dalam rentang 0,00-
0,199, menunjukkan bahwa hubungan antara resiliensi keluarga dan
kesiapsiagaan bencana termasuk dalam kategori sangat rendah. Ini
mengindikasikan bahwa meskipun terdapat pola tertentu, hubungan
statistik antara kedua variabel tersebut tidak kuat.
Dari hasil rekap kuesioner diketahui sebagian besar dari responden
resiliensi keluarga mengalami peningkatan (tinggi). Hal ini dilihat dari
rata-rata hasil jawaban kuesioner yang dikerjakan oleh responden bahwa
banyak responden menjawab tinggi pada pertanyaan resiliensi keluarga.
Hal ini berkaitan dengan tingkat perekonomian warga yang menjadi
masalah utama dalam kehidupan masyarakat seperti, ketakutan masyarakat
akan kondisinya yang lemah, kekhawatiran. Masalah tersebut berpengaruh
terhadap tingkat resiliensi keluarga dengan kesiapsiagaan bencana yang
mengakibatkan keguncangan ekonomi sehingga berdampak besar pada
aspek fisik, psikologis, dan sosial. Upaya meningkatkan ketahanan
keluarga dengan mengoptimalkan fungsi dan peran keluarga serta perlunya
sosialisasi ketahanan keluarga yang diadakan institusi atau komunitas.
Penelitian ini merekomendasikan perlunya kebijakan dari pemerintah
untuk menggalakkan penguatan ketahanan keluarga. faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi kesipasiagaan bencana faktor fisik, sosial, ekonomi,
dan lingkungan yang mengakibatkan menurunnya kemampuan dalam
menghadapi bahaya (Hidayat et al., 2023)
53
Faktor ekonomi memainkan peran penting dalam kesiapsiagaan
bencana, karena kondisi ekonomi individu dan komunitas secara langsung
memengaruhi akses mereka terhadap sumber daya yang diperlukan untuk
mempersiapkan diri menghadapi bencana. Penelitian menunjukkan bahwa
individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi cenderung lebih
siap menghadapi bencana. Mereka memiliki kemampuan untuk
menyimpan makanan, air, dan peralatan pertolongan pertama di rumah,
serta berinvestasi dalam asuransi dan memperkuat bangunan mereka (Kim
& Kim, 2022). Hal ini sejalan dengan temuan yang menunjukkan bahwa
kesiapsiagaan bencana meningkat seiring dengan meningkatnya
pendapatan (Kim & Kim, 2022). Selain itu, individu dan komunitas yang
lebih kaya lebih mudah mendapatkan informasi dan pelatihan yang
diperlukan untuk menghadapi situasi darurat, yang merupakan elemen
kunci dalam kesiapsiagaan bencana (Emaliyawati et al., 2022).
Di sisi lain, kelompok masyarakat yang rentan secara ekonomi
sering kali menghadapi keterbatasan dalam akses terhadap sarana dan
prasarana yang diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana.
Mereka mungkin tinggal di daerah yang lebih rentan terhadap risiko
bencana, seperti daerah yang rawan bencana atau di perumahan yang tidak
memenuhi standar keamanan bangunan (Guo et al., 2021). Penelitian
menunjukkan bahwa masyarakat di daerah pedesaan yang sering terkena
dampak bencana sering kali tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk
melakukan tindakan pencegahan (Guo et al., 2021). Keterbatasan ini dapat
54
meningkatkan risiko kerugian material dan korban jiwa ketika bencana
terjadi, karena mereka tidak memiliki akses yang memadai terhadap
pelatihan dan sumber daya yang diperlukan untuk mempersiapkan diri
(Atreya et al., 2017).
Kesenjangan ekonomi ini menunjukkan bahwa kemampuan individu
atau komunitas untuk mempersiapkan diri dan merespons bencana secara
efektif sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi mereka. Oleh karena itu,
penting bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk mempertimbangkan
intervensi yang berfokus pada pengurangan ketidaksetaraan ekonomi. Hal
ini dapat mencakup program pendidikan dan pelatihan yang ditujukan
untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan bencana di kalangan
kelompok masyarakat yang kurang mampu (Emaliyawati et al., 2022).
Dengan demikian, semua lapisan masyarakat dapat memiliki peluang yang
sama dalam kesiapsiagaan bencana, yang pada gilirannya dapat
mengurangi dampak bencana di masa depan.
Penelitian mengenai hubungan antara resiliensi keluarga dan
kesiapsiagaan bencana menunjukkan bahwa keduanya tidak selalu
memiliki hubungan signifikan. Hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa
teori dan temuan yang relevan dalam literatur yang ada.
Pertama, resiliensi keluarga sering kali dipahami sebagai
kemampuan untuk beradaptasi dan pulih dari situasi sulit, termasuk
bencana. Namun, penelitian menunjukkan bahwa resiliensi tidak selalu
berbanding lurus dengan kesiapsiagaan bencana. Misalnya, Ronan et al.
55
menekankan bahwa meskipun program kesiapsiagaan dapat meningkatkan
ketahanan, ada kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut mengenai
efektivitas program tersebut dalam mengurangi risiko dan meningkatkan
kesiapsiagaan (Ronan et al., 2015). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun
keluarga mungkin memiliki tingkat resiliensi yang tinggi, tanpa
pengetahuan dan keterampilan yang tepat, kesiapsiagaan mereka terhadap
bencana tetap rendah.
Selanjutnya, penelitian oleh Grimes et al. menunjukkan bahwa
tingkat kesiapsiagaan bencana di kalangan masyarakat di Australia berada
pada level rendah hingga sedang, meskipun mereka memiliki pengetahuan
tentang resiliensi (Grimes et al., 2020). Ini menunjukkan bahwa
pengetahuan dan pelatihan spesifik tentang kesiapsiagaan bencana lebih
berpengaruh daripada sekadar resiliensi emosional atau psikologis.
Dengan kata lain, resiliensi psikologis tidak cukup untuk menjamin
kesiapsiagaan yang efektif tanpa adanya pendidikan dan pelatihan yang
memadai.
Selain itu, studi oleh Kim dan Kim menunjukkan bahwa faktor
komunitas, seperti ketahanan komunitas, merupakan prediktor yang lebih
kuat untuk kesiapsiagaan bencana di tingkat rumah tangga (Kim & Kim,
2022). Ini menunjukkan bahwa interaksi sosial dan dukungan komunitas
lebih berperan dalam kesiapsiagaan dibandingkan dengan resiliensi
individu atau keluarga. Hal ini sejalan dengan temuan dari Adams et al.,
yang menekankan bahwa inisiatif kesiapsiagaan bencana yang berfokus
56
pada ketahanan komunitas lebih efektif daripada pendekatan yang hanya
menekankan pada perilaku individu (Adams et al., 2019).
Akhirnya, penelitian oleh Ferreira et al. menunjukkan bahwa
meskipun ada hubungan antara ketahanan pribadi dan kesiapsiagaan,
hubungan tersebut tidak selalu langsung dan dapat dipengaruhi oleh faktor
lain seperti kerentanan sosial (Ferreira et al., 2023). Ini menunjukkan
bahwa meskipun ketahanan dapat meningkatkan kesiapsiagaan, ada
banyak variabel lain yang berperan dalam menentukan tingkat
kesiapsiagaan bencana suatu keluarga.
Secara keseluruhan, meskipun resiliensi keluarga penting dalam
konteks pemulihan pasca-bencana, tidak ada bukti yang cukup untuk
mendukung bahwa resiliensi secara langsung berhubungan dengan
kesiapsiagaan bencana. Kesiapsiagaan lebih dipengaruhi oleh
pengetahuan, keterampilan, dan dukungan komunitas yang ada.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan adalah
Pendidikan. Hasil penelitian Kurniawati & Suwito, (2019) menyatakan
pendidikan sangat berpengaruh terhadap terwujudnya kesiapsiagaan
bencana, fungsi edukasi sebagai salah satu media terbaik untuk
mempersiapkan komunitas terhadap bencana. Masyarakat akan diedukasi,
dibimbing dan diberi pembina untuk membentuk suatu yang mengancam
dimanapun dan kapan pun melalui pendidikan bencana.
Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kesiapsiagaan
dipengaruhi oleh usia dan tingkat pendidikan masyarakat. Berdasarkan
57
hasil wawancara masyarakat lanjut usia menyatakan kurang memahami
langkah-langkah upaya kesiapsiagaan dan kurangnya pengetahuan
mengenai kesiapsiagaan bencana. Masyarakat yang berumur 31-50 tahun
lebih memiliki pengetahuan lebih mengenai kesiapsiagaan yang
didapatkan dari berbagai sumber. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi
cara berfikir masyaakat dalam menghadapi bencana gempa bumi dan
tsunami. Masyarakat berpendidikan tinggi lebih mudah memahami hal-hal
terkait dengan kebencanaan dan bagaimana menghadapi bahaya bencana
tersebut.
Kesiapsiagaan bencana mengantisipasi bencana merupakan faktor
utama dan menjadi aspek dasar untuk kesiapsiagaan yang seharusnya
dimiliki oleh setiap masyarakat untuk dapat memberikan informasi
kepada anggota keluarga masing-masing bila suatu saat terjadinya bencana
(Sasmito & Prawito, 2023). Resiliensi keluarga yang kuat tentunya dapat
mempengaruhi kesiapsiagaan bencana. Hal ini dikarenakan upaya
kesiapsiagaan bencana akan menjadi tujuan bersama bagi masyarakat yang
berada dikawasan rawan bencana (Yulianti dkk, 2023).
Dari hasil rekap kuesioner diketahui sebagian besar dari dari 116
orang, 99 responden keluarga atau 85,34% dari total sampel. Sisanya,
sebanyak 17 responden keluarga atau 14,66%, berada pada kategori
resiliensi sedang, sedangkan tabulasi silang kesiapsiagaan bencana 115
responden dari 116 responden keluarga (99,14%), memiliki kesiapsiagaan
yang tinggi. Hanya 1 keluarga (0,86%) yang menunjukkan kesiapsiagaan
58
sedang, dan tidak ada keluarga yang masuk dalam kategori kesiapsiagaan
rendah.
Hal ini ditemukan oleh (Juhola, (2021) menemukan bahwa
faktor demografi dan sosial ekonomi memengaruhi cara
individu mempersiapkan diri dan terpengaruh oleh bahaya
alam. Namun, penelitian sering kali berfokus pada area dengan
paparan dan kerentanan tinggi, sedangkan penelitian tentang
area paparan dan kerentanan rendah lebih sedikit. Untuk
mengatasi kesenjangan ini, kami bertanya: apakah faktor sosial
ekonomi dan demografi Hasil kami menunjukkan bahwa tingkat
pendidikan atau status pekerjaan responden tidak terkait
dengan apakah mereka mengambil tindakan kesiapsiagaan atau
apakah mereka mengalami bahaya. Sebaliknya, jenis properti
tempat tinggal berperan. Selain itu, responden yang telah
mengalami bahaya terkait badai selama beberapa tahun
terakhir lebih cenderung untuk bersiap daripada mereka yang
tidak. Sebagai kesimpulan, faktor sosio-demografi tampaknya
hanya memiliki pengaruh yang kecil terhadap kesiapsiagaan
terhadap badai atau dampak yang dialami di Finlandia, yang
bertentangan dengan penelitian sebelumnya. Hal ini mungkin
berasal dari distribusi kesejahteraan yang relatif merata di
antara penduduk.
Lebih lanjut, perhitungan koefisien kontingen (C) menghasilkan
nilai 0,039, yang berada dalam kategori sangat rendah (0,00-0,199). Hal
ini memperkuat temuan sebelumnya, menunjukkan hubungan yang sangat
59
lemah antara resiliensi keluarga dan kesiapsiagaan bencana. Dengan kata
lain, perubahan dalam resiliensi keluarga hampir tidak memiliki dampak
yang berarti terhadap tingkat kesiapsiagaan bencana. Temuan-temuan ini
menggarisbawahi kompleksitas hubungan antara kedua variabel tersebut
dan menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami faktor-
faktor lain yang mungkin lebih berpengaruh terhadap kesiapsiagaan
bencana dalam konteks keluarga.
Penelitian yang dilakukan oleh Pangesti (2012) menjelaskan bahwa
pekerjaan seseorang akan berpengaruh pada pengetahuan dan
pengalamannya, jenis pekerjaan mempengaruhi bentuk dan pola
penggunaan internet seseorang. Seseorang yang bekerja dan memiliki
kapasitas keuangan yang tinggi mampu membayar semua layanan yang
tersedia di internet. Hal ini juga disebabkan oleh fakta bahwa tempat kerja
mereka memadai dan banyak fasilitas infrastruktur internet yang diberikan
sehingga mereka dapat dengan mudah dan cepat mengakses internet.
Seseorang yang bekerja dan memiliki akses informasi maka akan
mempengaruhi pengetahuan nya. Seseorang yang memiliki pengetahuan
tinggi mengenai banjir maka akan tinggi pula upaya kesiapsiagaan nya
menghadapi bencana. Pengetahuan yang tinggi akan diikuti tindakan atau
sikap yang sejalan. Sehingga seseorang dengan pengetahuan baik maka
sikap nya pula akan baik dan peduli terhadap upaya kesiapsiagaan bencana
60
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Di Kampung Segana
Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu, tentang Hubungan Resiliensi
Keluarga Dengan Kesiapsiagaan Bencana Pada Keluarga Di Kampung Segana
Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu dianalisis dengan menggunakan
analisis univariat dan bivariat disimpulkan sebagai berikut :
61
1. Dari 116 keluarga yang diteliti, 99 keluarga berada dalam kategori
resiliensi tinggi, menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan yang
baik dalam menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan dan stres yang
mungkin timbul akibat bencana tsunami. Hanya 17 keluarga yang
memiliki resiliensi sedang, dan tidak ada yang berada di kategori resiliensi
rendah.
2. Dari 116 keluarga, 115 memiliki kesiapsiagaan yang tinggi Hanya 1
keluarga yang menunjukkan kesiapsiagaan sedang, dan tidak ada keluarga
yang masuk dalam kategori kesiapsiagaan rendah.
3. Tidak ada Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan Kesiapsiagaan Bencana
Pada Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota
Bengkulu, dengan kategori hubungan sedang.
B. Saran
1. Bagi Kampung Segana Jenggalu RT 08 RW 03 Kota Bengkulu
Diharapkan pada pihak kelurahan dapat bekerja sama dengan BPBD
atau PMI untuk melakukan penyuluhan dan simulasi terhadap
kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami sehingga kesiapsiagaan
masyarakat dalam menghadapi bencana tsunami meningkat dan
masyarakat lebih siap lagi dalam menghadapi kemungkinan bencana yang
dapat terjadi.
2. Mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan tambahan informasi bagi
mahasiswa kebidanan agar dapat menambah kesiapsiagaan bencana,
62
menerapkan teori kedalam praktik kerja lapangan, serta dapat berperan
dalam kegiatan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan
bencana tsunami dan resiliensi.
3. Bagi Penelitian Lain.
Agar dapat mengembangkan penelitian ini untuk masa yang akan
datang dengan faktor lain yang lebih dominan yang dapat mempengaruhi
resiliesni dalam menghadapi bencana diantaranya pendidikan,
pengetahuan dan sikap.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, N., & Salami. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya
Tingkat Pendidikan Masyarakat Di Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten
Jombang. Conference on Research & Community Services, 211–218.
Ahmad, M., Pulungan, Z. S. A., & Hardiyati. (2023). Peran Resiliensi Keluarga
dalam Perkembangan Konsep Diri Remaja. Jurnal Kesehatan Primer, 8(1),
44–45.
Apriawal, J. (2022). Resiliensi Pada Karyawan Yang Mengalami Pemutusan
Hubungan Kerja (Phk) Resilience in Employees Who Have Been
Termination (Phk). Jurnal Ilmu Psikologi Dan Kesehatan,
RESILIENSI(PHK), 27–38.
Dewi Cahyani Puspitasari, Mei Nurul Aini, & Rina Satriani. (2019). Penguatan
Resiliensi dan Strategi Penghidupan Masyarakat Rawan Bencana. Talenta
Conference Series: Local Wisdom, Social, and Arts (LWSA), 2(1), 1–10.
[Link]
Fachri, H. T., Malik, Y., & Murtianto, H. (2022). Pemetaan Tingkat Bahaya
Bencana Tsunami Di Pesisir Kota Bengkulu. Jurnal Pendidikan Geografi
Undiksha, 10(2), 166–178.
Fernalia, F., Anggita, K. D., & Fefrylia, L. (2023). Pendirian Pos Kesehatan
Pertama dan Bantuan Makanan bagi Korban Banjir Kelurahan Semarang
Kota Bengkulu. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM),
6(2), 676–686. [Link]
Hertinjung, W. S., Yuwono, S., Partini, P., Laksita, A. K., Ramandani, A. A., &
Kencana, S. S. (2022). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Resiliensi Remaja
Di Masa Pandemi. Proyeksi, 17(2), 60. [Link]
71
Hidayat, N., Suryanto, S., & Hidayat, R. (2023). Ketahanan Keluarga dalam
Menghadapi Keguncangan Ekonomi selama Pandemi. Jurnal Ilmu Keluarga
Dan Konsumen, 16(2), 120–132. [Link]
Ismunandar, Umar, N., Ndama, M., & Amyadin. (2021). Pengetahuan dan Sikap
Masyarakat Dalam Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami di Huntara Kota Palu dan Sigi The Knowledge and Attitude of
Community in Preparedness for Earthquake and Tsunami Disasters at the
Palu and Sigi City Shelters Is. Lentora Nursing Journal, 2(1), 12–19.
Jufrizal, J., Nurprilinda, M., Mertha, I. M., Nurhayati, C., Suardana, I. K.,
Margono, M., Sasmito, P., Juwariyah, S., Ose, M. I., & Wulansari, Y. W.
(2023). BUKU AJAR KEPERAWATAN BENCANA. PT. Sonpedia Publishing
Indonesia.
Khair, A. M., Malawat, R., & Ohorella, U. B. (2021). Pengaruh Penyuluhan Siaga
Bencana terhadap Peningkatan Preparedness Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami Masyarakat Pesisir Pantai Negeri Rutah Kabupaten Maluku
Tengah. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journal), 12(2), 100–
108. [Link]
Kurnia, I. A. (2021). Peranan Modal Sosial Dalam Resiliensi Komunitas Rawan
Bencana Tsunami. Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan
Masyarakat [JSKPM], 5(1), 85–104.
[Link]
Mulyasih, R., & Putri, L. D. (2019). Trauma Healing Dengan Menggunakan
Metode Play Terapy Pada Anak-Anak Terkena Dampak Tsunami Di
Kecamatan Sumur Propinsi Banten. Bantenese - Jurnal Pengabdian
Masyarakat, 1(1). [Link]
Nastiti, R. P., Pulungan, R. M., & Iswanto, A. H. (2021). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Menghadapi
Bencana Banjir Di Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Factors That are
Related to The Community Preparation in Facing Flood Disasters in
Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Revy. Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(1),
48–56.
Rahmawati, I., Fernalia, F., Giena, V. P., & Ramadhan, R. P. (2022). Hubungan
Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Masyarakat Berisiko Tsunami.
Malahayati Nursing Journal, 4(7), 1717–1724.
[Link]
Rahmawati, I., Fernalia, F., Sulistiyaningsih, D. P., Effendi, E., Sanisahhuri, S.,
Pratama, D. P., Alfianto, A. G., & Prasetya, F. E. (2022). Peran Mahasiswa
Siaga Bencana Indonesia dalam Upaya Penanganan Bencana Area
Komunitas melalui Zoominar. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada
Masyarakat (PKM), 5(12), 4302–4310.
[Link]
Ramadhan, S. R., Rizka, A., & Utariningsih, W. (2023). Tingkat Pengetahuan
Siswa SMP Negeri 1 Lhokseumawe Terhadap Kesiapsiagaan Bencana
Tsunami Level of Knowledge of SMP Negeri 1 Lhokseumawe Students about
Tsunami Disaster Preparedness. 6(September), 455–464.
Sandrina, S. L., Adi, G. S., & Susilo, C. (2023). Keterkaitan Resiliensi Dengan
Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Banjir. Health &
Medical Sciences, 1(1), 1–8. [Link]
Sasmita, N. O., & Afriyenti, L. U. (2019). Resiliensi Pascabencana Tsunami.
INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 4(2), 94.
[Link]
Satria, B., & Sari, M. (2017). Tingkat Resiliensi Masyarakat Di Area Rawan
Bencana. Idea Nursing Journal, 8(2), 30–34.
Silviani, Y. E., Fitriani, D., & Regita, R. (2022). Hubungan Pengalaman Bencana
Dengan Kesiapsiagaan Ibu Hamil Menghadapi Ancaman Bencana Gempa
Bumi. Jurnal Sains Kesehatan, 29(1), 55–62.
[Link]
Suryanti, Sunarto, Masdiana, Martini, M., Mustika, W., & Dahliana, A. B. (2022).
Manajemen dan Mitigasi Bencana (Vol. 1).
Utami, D. R. R. B., Sari, D. K., Wulandari, R., & Istiqomah, A. R. (2021).
Kesiapsiagaan Bencana Banjir Masyarakat Dusun Kesongo. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Keperawatan, 17(1), 01. [Link]
Yulis Setiya Dewi, Sriyono, Muhammad Fikri Alfaruq, Rofiqa Dwi Febriyanti,
Nanda Farhana Auliasani, Mustika Milenia Dwi Tunjung Biru, A. R. F.
(2022). RESILIENSI IBU MENGHADAPI BENCANA ALAM.
[Link]
id=Lk6eEAAAQBAJ&newbks=1&newbks_redir=0&source=gbs_navlinks_s
Zahro, E. B. (2021). Pengaruh religiusitas dan dukungan sosial terhadap resiliensi
keluarga terdampak covid 19. Prosiding Konferensi Nasional Universitas
Nahdhatul Ulama Indonesia Chemie International Edition, 6(11), 951–952.,
01(01), 282.
Agustina, N., & Salami. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya
Tingkat Pendidikan Masyarakat Di Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten
Jombang. Conference on Research & Community Services, 211–218.
Ahmad, M., Pulungan, Z. S. A., & Hardiyati. (2023). Peran Resiliensi Keluarga
dalam Perkembangan Konsep Diri Remaja. Jurnal Kesehatan Primer, 8(1),
44–45.
Apriawal, J. (2022). Resiliensi Pada Karyawan Yang Mengalami Pemutusan
Hubungan Kerja (Phk) Resilience in Employees Who Have Been
Termination (Phk). Jurnal Ilmu Psikologi Dan Kesehatan,
RESILIENSI(PHK), 27–38.
Dewi Cahyani Puspitasari, Mei Nurul Aini, & Rina Satriani. (2019). Penguatan
Resiliensi dan Strategi Penghidupan Masyarakat Rawan Bencana. Talenta
Conference Series: Local Wisdom, Social, and Arts (LWSA), 2(1), 1–10.
[Link]
Fachri, H. T., Malik, Y., & Murtianto, H. (2022). Pemetaan Tingkat Bahaya
Bencana Tsunami Di Pesisir Kota Bengkulu. Jurnal Pendidikan Geografi
Undiksha, 10(2), 166–178.
Fernalia, F., Anggita, K. D., & Fefrylia, L. (2023). Pendirian Pos Kesehatan
Pertama dan Bantuan Makanan bagi Korban Banjir Kelurahan Semarang
Kota Bengkulu. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM),
6(2), 676–686. [Link]
Hertinjung, W. S., Yuwono, S., Partini, P., Laksita, A. K., Ramandani, A. A., &
Kencana, S. S. (2022). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Resiliensi Remaja
Di Masa Pandemi. Proyeksi, 17(2), 60. [Link]
71
Hidayat, N., Suryanto, S., & Hidayat, R. (2023). Ketahanan Keluarga dalam
Menghadapi Keguncangan Ekonomi selama Pandemi. Jurnal Ilmu Keluarga
Dan Konsumen, 16(2), 120–132. [Link]
Ismunandar, Umar, N., Ndama, M., & Amyadin. (2021). Pengetahuan dan Sikap
Masyarakat Dalam Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami di Huntara Kota Palu dan Sigi The Knowledge and Attitude of
Community in Preparedness for Earthquake and Tsunami Disasters at the
Palu and Sigi City Shelters Is. Lentora Nursing Journal, 2(1), 12–19.
Jufrizal, J., Nurprilinda, M., Mertha, I. M., Nurhayati, C., Suardana, I. K.,
Margono, M., Sasmito, P., Juwariyah, S., Ose, M. I., & Wulansari, Y. W.
(2023). BUKU AJAR KEPERAWATAN BENCANA. PT. Sonpedia Publishing
Indonesia.
Khair, A. M., Malawat, R., & Ohorella, U. B. (2021). Pengaruh Penyuluhan Siaga
Bencana terhadap Peningkatan Preparedness Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami Masyarakat Pesisir Pantai Negeri Rutah Kabupaten Maluku
Tengah. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journal), 12(2), 100–
108. [Link]
Kurnia, I. A. (2021). Peranan Modal Sosial Dalam Resiliensi Komunitas Rawan
Bencana Tsunami. Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan
Masyarakat [JSKPM], 5(1), 85–104.
[Link]
Mulyasih, R., & Putri, L. D. (2019). Trauma Healing Dengan Menggunakan
Metode Play Terapy Pada Anak-Anak Terkena Dampak Tsunami Di
Kecamatan Sumur Propinsi Banten. Bantenese - Jurnal Pengabdian
Masyarakat, 1(1). [Link]
Nastiti, R. P., Pulungan, R. M., & Iswanto, A. H. (2021). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Menghadapi
Bencana Banjir Di Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Factors That are
Related to The Community Preparation in Facing Flood Disasters in
Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Revy. Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(1),
48–56.
Rahmawati, I., Fernalia, F., Giena, V. P., & Ramadhan, R. P. (2022). Hubungan
Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Masyarakat Berisiko Tsunami.
Malahayati Nursing Journal, 4(7), 1717–1724.
[Link]
Rahmawati, I., Fernalia, F., Sulistiyaningsih, D. P., Effendi, E., Sanisahhuri, S.,
Pratama, D. P., Alfianto, A. G., & Prasetya, F. E. (2022). Peran Mahasiswa
Siaga Bencana Indonesia dalam Upaya Penanganan Bencana Area
Komunitas melalui Zoominar. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada
Masyarakat (PKM), 5(12), 4302–4310.
[Link]
Ramadhan, S. R., Rizka, A., & Utariningsih, W. (2023). Tingkat Pengetahuan
Siswa SMP Negeri 1 Lhokseumawe Terhadap Kesiapsiagaan Bencana
Tsunami Level of Knowledge of SMP Negeri 1 Lhokseumawe Students about
Tsunami Disaster Preparedness. 6(September), 455–464.
Sandrina, S. L., Adi, G. S., & Susilo, C. (2023). Keterkaitan Resiliensi Dengan
Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Banjir. Health &
Medical Sciences, 1(1), 1–8. [Link]
Sasmita, N. O., & Afriyenti, L. U. (2019). Resiliensi Pascabencana Tsunami.
INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 4(2), 94.
[Link]
Satria, B., & Sari, M. (2017). Tingkat Resiliensi Masyarakat Di Area Rawan
Bencana. Idea Nursing Journal, 8(2), 30–34.
Silviani, Y. E., Fitriani, D., & Regita, R. (2022). Hubungan Pengalaman Bencana
Dengan Kesiapsiagaan Ibu Hamil Menghadapi Ancaman Bencana Gempa
Bumi. Jurnal Sains Kesehatan, 29(1), 55–62.
[Link]
Suryanti, Sunarto, Masdiana, Martini, M., Mustika, W., & Dahliana, A. B. (2022).
Manajemen dan Mitigasi Bencana (Vol. 1).
Utami, D. R. R. B., Sari, D. K., Wulandari, R., & Istiqomah, A. R. (2021).
Kesiapsiagaan Bencana Banjir Masyarakat Dusun Kesongo. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Keperawatan, 17(1), 01. [Link]
Yulis Setiya Dewi, Sriyono, Muhammad Fikri Alfaruq, Rofiqa Dwi Febriyanti,
Nanda Farhana Auliasani, Mustika Milenia Dwi Tunjung Biru, A. R. F.
(2022). RESILIENSI IBU MENGHADAPI BENCANA ALAM.
[Link]
id=Lk6eEAAAQBAJ&newbks=1&newbks_redir=0&source=gbs_navlinks_s
Zahro, E. B. (2021). Pengaruh religiusitas dan dukungan sosial terhadap resiliensi
keluarga terdampak covid 19. Prosiding Konferensi Nasional Universitas
Nahdhatul Ulama Indonesia Chemie International Edition, 6(11), 951–952.,
01(01), 282.
Agustina, N., & Salami. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya
Tingkat Pendidikan Masyarakat Di Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten
Jombang. Conference on Research & Community Services, 211–218.
Ahmad, M., Pulungan, Z. S. A., & Hardiyati. (2023). Peran Resiliensi Keluarga
dalam Perkembangan Konsep Diri Remaja. Jurnal Kesehatan Primer, 8(1),
44–45.
Apriawal, J. (2022). Resiliensi Pada Karyawan Yang Mengalami Pemutusan
Hubungan Kerja (Phk) Resilience in Employees Who Have Been
Termination (Phk). Jurnal Ilmu Psikologi Dan Kesehatan,
RESILIENSI(PHK), 27–38.
Dewi Cahyani Puspitasari, Mei Nurul Aini, & Rina Satriani. (2019). Penguatan
Resiliensi dan Strategi Penghidupan Masyarakat Rawan Bencana. Talenta
Conference Series: Local Wisdom, Social, and Arts (LWSA), 2(1), 1–10.
[Link]
Fachri, H. T., Malik, Y., & Murtianto, H. (2022). Pemetaan Tingkat Bahaya
Bencana Tsunami Di Pesisir Kota Bengkulu. Jurnal Pendidikan Geografi
Undiksha, 10(2), 166–178.
Fernalia, F., Anggita, K. D., & Fefrylia, L. (2023). Pendirian Pos Kesehatan
Pertama dan Bantuan Makanan bagi Korban Banjir Kelurahan Semarang
Kota Bengkulu. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM),
6(2), 676–686. [Link]
Hertinjung, W. S., Yuwono, S., Partini, P., Laksita, A. K., Ramandani, A. A., &
Kencana, S. S. (2022). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Resiliensi Remaja
Di Masa Pandemi. Proyeksi, 17(2), 60. [Link]
71
Hidayat, N., Suryanto, S., & Hidayat, R. (2023). Ketahanan Keluarga dalam
Menghadapi Keguncangan Ekonomi selama Pandemi. Jurnal Ilmu Keluarga
Dan Konsumen, 16(2), 120–132. [Link]
Ismunandar, Umar, N., Ndama, M., & Amyadin. (2021). Pengetahuan dan Sikap
Masyarakat Dalam Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami di Huntara Kota Palu dan Sigi The Knowledge and Attitude of
Community in Preparedness for Earthquake and Tsunami Disasters at the
Palu and Sigi City Shelters Is. Lentora Nursing Journal, 2(1), 12–19.
Jufrizal, J., Nurprilinda, M., Mertha, I. M., Nurhayati, C., Suardana, I. K.,
Margono, M., Sasmito, P., Juwariyah, S., Ose, M. I., & Wulansari, Y. W.
(2023). BUKU AJAR KEPERAWATAN BENCANA. PT. Sonpedia Publishing
Indonesia.
Khair, A. M., Malawat, R., & Ohorella, U. B. (2021). Pengaruh Penyuluhan Siaga
Bencana terhadap Peningkatan Preparedness Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami Masyarakat Pesisir Pantai Negeri Rutah Kabupaten Maluku
Tengah. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journal), 12(2), 100–
108. [Link]
Kurnia, I. A. (2021). Peranan Modal Sosial Dalam Resiliensi Komunitas Rawan
Bencana Tsunami. Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan
Masyarakat [JSKPM], 5(1), 85–104.
[Link]
Mulyasih, R., & Putri, L. D. (2019). Trauma Healing Dengan Menggunakan
Metode Play Terapy Pada Anak-Anak Terkena Dampak Tsunami Di
Kecamatan Sumur Propinsi Banten. Bantenese - Jurnal Pengabdian
Masyarakat, 1(1). [Link]
Nastiti, R. P., Pulungan, R. M., & Iswanto, A. H. (2021). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Menghadapi
Bencana Banjir Di Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Factors That are
Related to The Community Preparation in Facing Flood Disasters in
Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur Revy. Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(1),
48–56.
Rahmawati, I., Fernalia, F., Giena, V. P., & Ramadhan, R. P. (2022). Hubungan
Pengetahuan Dengan Tingkat Kecemasan Masyarakat Berisiko Tsunami.
Malahayati Nursing Journal, 4(7), 1717–1724.
[Link]
Rahmawati, I., Fernalia, F., Sulistiyaningsih, D. P., Effendi, E., Sanisahhuri, S.,
Pratama, D. P., Alfianto, A. G., & Prasetya, F. E. (2022). Peran Mahasiswa
Siaga Bencana Indonesia dalam Upaya Penanganan Bencana Area
Komunitas melalui Zoominar. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada
Masyarakat (PKM), 5(12), 4302–4310.
[Link]
Ramadhan, S. R., Rizka, A., & Utariningsih, W. (2023). Tingkat Pengetahuan
Siswa SMP Negeri 1 Lhokseumawe Terhadap Kesiapsiagaan Bencana
Tsunami Level of Knowledge of SMP Negeri 1 Lhokseumawe Students about
Tsunami Disaster Preparedness. 6(September), 455–464.
Sandrina, S. L., Adi, G. S., & Susilo, C. (2023). Keterkaitan Resiliensi Dengan
Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Banjir. Health &
Medical Sciences, 1(1), 1–8. [Link]
Sasmita, N. O., & Afriyenti, L. U. (2019). Resiliensi Pascabencana Tsunami.
INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 4(2), 94.
[Link]
Satria, B., & Sari, M. (2017). Tingkat Resiliensi Masyarakat Di Area Rawan
Bencana. Idea Nursing Journal, 8(2), 30–34.
Silviani, Y. E., Fitriani, D., & Regita, R. (2022). Hubungan Pengalaman Bencana
Dengan Kesiapsiagaan Ibu Hamil Menghadapi Ancaman Bencana Gempa
Bumi. Jurnal Sains Kesehatan, 29(1), 55–62.
[Link]
Suryanti, Sunarto, Masdiana, Martini, M., Mustika, W., & Dahliana, A. B. (2022).
Manajemen dan Mitigasi Bencana (Vol. 1).
Utami, D. R. R. B., Sari, D. K., Wulandari, R., & Istiqomah, A. R. (2021).
Kesiapsiagaan Bencana Banjir Masyarakat Dusun Kesongo. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Keperawatan, 17(1), 01. [Link]
Yulis Setiya Dewi, Sriyono, Muhammad Fikri Alfaruq, Rofiqa Dwi Febriyanti,
Nanda Farhana Auliasani, Mustika Milenia Dwi Tunjung Biru, A. R. F.
(2022). RESILIENSI IBU MENGHADAPI BENCANA ALAM.
[Link]
id=Lk6eEAAAQBAJ&newbks=1&newbks_redir=0&source=gbs_navlinks_s
Zahro, E. B. (2021). Pengaruh religiusitas dan dukungan sosial terhadap resiliensi
keluarga terdampak covid 19. Prosiding Konferensi Nasional Universitas
Nahdhatul Ulama Indonesia Chemie International Edition, 6(11), 951–952.,
01(01), 282.
Ronan et al. "Disaster Preparedness for Children and Families: a Critical Review"
Current psychiatry reports (2015) doi:10.1007/s11920-015-0589-6
Grimes et al. "Preparedness and resilience of student nurses in Northern
Queensland Australia for disasters" International journal of disaster risk
reduction (2020) doi:10.1016/[Link].2020.101585
Kim and Kim "Factors affecting household disaster preparedness in South Korea"
Plos one (2022) doi:10.1371/[Link].0275540
Adams et al. "Community Advantage and Individual Self-Efficacy Promote
Disaster Preparedness: A Multilevel Model among Persons with Disabilities"
International journal of environmental research and public health (2019)
doi:10.3390/ijerph16152779
Ferreira et al. "Explaining Disaster and Pandemic Preparedness at the Nexus of
Personal Resilience and Social Vulnerability: An Exploratory Study"
Disaster medicine and public health preparedness (2023)
doi:10.1017/dmp.2023.78
Kim and Kim "Factors affecting household disaster preparedness in South Korea"
Plos one (2022) doi:10.1371/[Link].0275540
Emaliyawati et al. "The Effect of Disaster Education of Increasing Earthquake
Disaster Preparedness: A Narrative Review" Jurnal keperawatan
komprehensif (2022) doi:10.33755/jkk.v8i4.407
Guo et al. "Individual Disaster Preparedness in Drought-and-Flood-Prone Villages
in Northwest China: Impact of Place, Out-Migration and Community"
International journal of environmental research and public health (2021)
doi:10.3390/ijerph18041649
Atreya et al. "Adoption of flood preparedness actions: A household level study in
rural communities in Tabasco, Mexico" International journal of disaster risk
reduction (2017) doi:10.1016/[Link].2017.05.025
LAMPIRA
N
BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI
Nama :Dwi Putri Kurniawati
NPM :2026010065
Prodi :Ilmu Keperawatan
Judul Skripsi :Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan Kesiapsiagaan
Bencana Pada Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu
RT 08 RW 03 Kota Bengkulu
Pembimbing I : Ns. Fernalia.,[Link].,[Link]
Mater
No Paraf
Tanggal i Keterangan
. Pembimbing I
(BAB)
Bengkulu, 2024
Pembimbing I
Ns. Fernalia.,[Link].,[Link]
BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI
Nama : Dwi Putri Kurniawati
NPM : 2026010065
Prodi : Ilmu Keperawatan
Judul Skripsi : Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan Kesiapsiagaan
Bencana Pada Keluarga Di Kampung Segana Jenggalu
RT 08 RW 03 Kota Bengkulu
Pembimbing II : [Link] Rahmawati.,[Link].,[Link]
Tangga Materi Paraf
No. Keterangan
l (BAB) Pembimbing II
Bengkulu, 2024
Pembimbing II
[Link] Rahmawati.,[Link].,[Link]
DOKUMENTASI