Hakikat dan Karakteristik Matematika
Hakikat dan Karakteristik Matematika
LANDASAN TEORI
A. Hakikat Matematika
1. Pengertian Matematika
manthanein atau mathemata yang berarti “belajar atau hal yang dipelajari” (things
that are learned). Dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang
intelegensi”.14
penekanannya pada knowing how, yaitu pelajar dipandang sebagai makhluk yang
lingkungannya. Hal ini berbeda dengan pengertian knowing that yang dianut oleh
kaum absolutis, dimana pelajar dipandang sebagai makhluk yang pasif dan
13
Heruman, Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2008), hal. 1
14
Moch. Masykur Ag dan Abdul Halim Fathani, Matematical Intelligence, (Jogjakarta:
Ar- Ruzz media,2008), hal.42
15
Abdul Halim Fathani, MATEMATIKA HAKIKAT & LOGIKA (Jakarta: AR-RUZZ
MEDIA, 2009), hal.18
13
14
pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang berhubungan dengan
perubahan dan ruang tak lebih resmi, orang mungkin mengatakan bahwa
dalam filosofi matematika. Berpijak dari uraian tersebut, secara umum definisi
16
Abdul Halim Fathani, MATEMATIKA HAKIKAT & LOGIKA (Jakarta: AR-RUZZ
MEDIA, 2009), hal.19
17
Ibid., hal.21
15
karena beberapa hal seperti matematika memuat cara pembuktian yang sahih
(valid), rumus-rumus atau aturan yang umum atau sifat penalaran matematika
yang sistematis.
matematika adalah bahasa simbol yang bersifat artifisial, yang baru memiliki arti
Penalaran yang logis dan efisien serta perbendaharaan ide-ide dan pola-
pola yang kreatif dan menakjubkan, maka matematika sering pula disebut sebagai
dengan logika dan ilmu pasti yang juga berasal dari pemikiran manusia sehingga
18
Abdul Halim Fathani, MATEMATIKA HAKIKAT & LOGIKA ....., hal.23
16
memotivasi pikiran manusia untuk berpikir secara logis, sistematis, dan kreatif.
angka, dan perhitungan yang disusun secara rinci dengan aturan tertentu yang
menghasilkan suatu arti yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan dan
dan pandangan, yang mana antara matematikawan yang satu dengan yang lainnya
memiliki pemahaman dan argumen yang berbeda untuk mendeskripsikan apa dan
melebar ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang, ke atas dan ke bawah.
Hemat penulis, justru hal inilah yang sebenarnya dapat menunjukkan ke-
19
Moch. Masykur Ag dan Abdul Halim Fathani, Matematical Intelligence...., hal.42
17
mereka, maka kita dapat menyebut objek matematika secara lebih tepat sebagai
objek mental atau pikiran. Ada empat objek kajian matematika yaitu :
1. Fakta
matematika lainnya. Sementara relasi adalah hubungan antara dua atau lebih
elemen.
3. Konsep
4. Prinsip
Prinsip adalah objek matematika, yang terdiri atas beberapa fakta, konsep
kesepakatan atau konvensi yang penting. Dengan simbol dan istilah yang
pernyataan pangkal yang tidak perlu pembuktian) dan konsep primitif (pengertian
20
Abdul Halim Fathani, MATEMATIKA HAKIKAT & LOGIKA ...., hal.59
21
Ibid., hal.66
18
berpangkal dari hal yang bersifat umum, diterapkan atau diarahkan kepada hal
konsistensi. Hal ini juga dikatakan bahwa setiap sistem dan strukturnya tersebut
baik yang berupa huruf ataupun yang berupa tidak huruf. Rangkaian simbol-
bilangan, juga tanda + belum tentu operasi tambah untuk dua bilangan. Makna
terbentuknya model itu. Jadi secara umum huruf dan tanda dalam matematika 𝑥 +
𝑦 = 𝑧, masih kosong dari arti, terserah pada yang akan memanfaatkan model itu,
22
Abdul Halim Fathani, MATEMATIKA HAKIKAT & LOGIKA ...., hal.69
19
kosongnya arti symbol maupun tanda dalam model-model matematika itu justru
pembicaraan. Benar atau salah ataupun ada tidaknya penyelesaian suatu model
1. Pengertian Belajar
tersebut dapat diartikan bahwa belajar adalah suatu proses pertembuhan dalam diri
23
[Link], Kiat Pendidikan Matematika Indonesia, Jakarta: [Link]
Matematika, 2000, hal.16
24
Abdul Halim Fathani, MATEMATIKA HAKIKAT & LOGIKA..., hal.71
20
Ada beberapa definisi tentang belajar, antara lain dapat diuraikan sebagai
berikut :
as a result of experience.
practice.
Dari ketiga definisi di atas, maka dapat diterangkan bahwa belajar itu
meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik, kalau si subjek
perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan
tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Sehingga pengertian belajar
dapat didefinisikan sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
25
Dr. Sulistyorini,[Link], Evaluasi Pendidikan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan,
(Yogyakarta: Teras,2009), hal.5
26
Sardiman A.M, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada, 2007), hal.20
21
memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
lain:
mencoba membuat kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan pada diri
seseorang agar memiliki pengetahuan, sikap, tingkah laku melalui latihan baik
latihan yang penuh dengan tantangan atau melalui berbagai pengalaman yang
telah terjadi dan itu semua akan menjadi berkesan dalam hidup.
2. Pengertian Mengajar
kepada anak didik.29 Mengajar juga merupakan suatu proses interaksi antara guru
27
Indah Komsiyah,[Link],[Link], Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta,: Teras,2012),
hal.2
28
Ibid., hal.2
29
Sardiman A.M, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2007), hal.47
22
keterampilan, dan sikap yang dipilih oleh guru hendaknya relevan dengan tujuan
dari pelajaran yang diberikan dan sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki
kesempatan kepada yang diajar untuk mencari, bertanya, menebak, menalar dan
bahkan berdebat.30
dilakukan oleh pendidik kepada anak didik tentang pelajaran matematika agar
matematika berjalan lancar, jadi sebagai pendidik dituntut untuk paham makna
C. Hasil Belajar
Pendapat lain mengatakan bahwa hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-
30
Herman Hudojo, Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di
Depan Kelas, (Surabaya: Usaha Nasional, 1979), hal.9
31
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar ..., hal. 11
32
Nana Sudjana, Penilaian Hasil dan Proses Belajar Mengajar, (Bandung :Remaja
Rosdakarya Offset,1991), hal.22
33
Agus Suprijono, Cooperative Learning ..., hal.5
23
keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-
cita, masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah
memecahkan masalah.
34
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2005), hal. 22
35
Muhammad Thobrani dan Arif Mustofa, Belajar dan Pembelajaran, (jogjakarta: Ar-
Ruzz Media, 2013), hal 22
24
jasmani.
(mengorganisasikan, merencanakan).36
informasi, pengertian dan sikap. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu
oleh para pakar pendidikan sebagaimana tersebut diatas tidak dilihat secara
keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. Artinya,
36
Agus Suprijono, Cooperatif Learning ..., hal.6
37
Muhammad Thobrani dan Arif Mustofa, Belajar dan ..., hal 24
25
Secara global yang mempengaruhi hasil belajar siswa dapat kita bedakan
a. Faktor internal siswa, yakni keadaan atau kondis jasmani dan rohani siswa
1) Aspek fisiologis
mengikuti pelajaran.
2) Aspek psikologis
kuantitas dan kualitas perolehan hasil belajar siswa. Secara umum yang
sikap siswa, (c) bakat siswa, (d) minat siswa, (e) motivasi.
eksternal siswa terdiri atas dua macam yaitu faktor lingkungan sosial dan
c. Faktor pendekatan belajar, faktor pendekatan belajar adalah jenis upaya belajar
siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk
38
Agus Suprijono, Cooperatif Learning teori...,hal. 5
39
Muhibin Syaah, Psikologi Belajar, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal.145
26
Tabel berlanjut......
40
Abin Syamsuddin Makmum, Psikologi Kependidikan Perangkat Sistem Pengajaran
Modul, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hal. 167
27
B. Afektif
- Penerimaan - Bersikap menerima/ Menyetujui - Pertanyaan/
atau Sebaliknya Tes/skala
- Bersedia terlibat/ Partisipasi/ Sikap
- Sambutan Memanfaatkan atau Sebaliknya - Tugas/
- Memandang penting/ observasi/tes
- Penghargan/ Bernilai/berfaedah/Indah/harmo - Skala
Apresiasi nis/ penlialain/
Kagum atau tugas/
- Internalisasi/ Sebaliknya observasi
Pendalaman - Mengakui/ Mempercayai/ - Skala sikap/
Meyakinkan atau Sebaliknya Tugas
- Karakterisasi/ eskpresi/
penghayatan - Melembagakan/ Menjelmakan proyektif
Dalam pribadi dan perilakunya - Observasi/
sehari-hari tugas expresif
/ proyektif
C. Psikomotorik
- Keterampilan/ - Koordinasi mata, - Tugas/
Bergerak/ Tangan dan kaki Observasi/
Bertindak Tes tindakan
- Kerampilan - Gerak, mimik, ucapan - Tugas/
eskpresi verbal Observasi/
dan non verbal Tes tindakan
laku pada seseorang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak
mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku memiliki unsur subjektif dan unsur
motoris. Unsur subjektif adalah unsur rohaniah sedangkan unsur motoris adalah
unsur jasmaniah. Bahwa seseorang sedang berpikir dapat dilihat dari raut
Tingkah laku manusia terdiri dari sejumlah aspek. Hasil belajar akan
tampak pada setiap perubahan pada aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu
41
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hal. 30
28
(e) apresiasi, (f) emosional, (g) hubungan sosial, (h) jasmani, (i) etis atau budi
pendidikan disebut juga evaluasi hasil belajar, adapun tahapan evaluasi hasil
belajar adaah sebagai berikut: (a) persiapan, (b) penyusunan instrumen evaluasi,
(c) pengolahan hasil penilaian, (d) penafsiran hasil penelitian, (e) pelaporan dan
kesimpulan bahwa hasil belajar matematika adalah merupakan tolak ukur atau
belajar yang dapat diukur melalui tes. Sehingga dengann adanya hasil belajar
tersebut guru dapat mengetahui kemampuan belajar untuk setiap siswa dengan
mudah.
di Belanda pada tahun 1973. Realistic mathematics education (RME) telah lama
42
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar...,hal. 30
43
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006),
hal.209
29
manusia. Ini berarti matematika harus sudah dimengerti dan sudah dipahami oleh
World”, yaitu dunia nyata. Banyak pihak yang menganggap bahwa realistic
sebenarnya berasal dari bahasa Belanda “Zich Realiseren” yang berarti “untuk
koneksi dengan dunia nyata (real world), tetapi lebih mengacu pada fokus
pengajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang real bagi siswa, menekankan
(student inventing sebagai kebalikan dari teacher telling) dan pada akhirnya
44
Ariyadi Wijaya, Pendidikan Matematika Realistik Suatu Pendekatan Pembelajaran
Matematika. (Yogyakarta: Graha Ilmu., 2012), Hal.20
30
maupun kelompok.45
berupa permasalahan yang dapat dibayangkan oleh siswa, selanjutnya dengan hal-
hal semi konkrit berupa gambar-gambar, denah ataupun grafik, dan pada akhirnya
45
Supardi, Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistik Terhadap Hasil Belajar
Matematika Ditinjau Dari Motivasi Belajar, Jurnal Matematika FTMIPA Universitas Indraprasta
PGRI Jakarta, hal. 245
46
Ariyadi Wijaya. [Link] Matematika Realistik Suatu Pendekatan
Pembelajaran Matematika. Yogyakarta:Graha Ilmu. Hal.20
31
menuju pada konsep pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa berupa
lambang-lambang.
Bahasa Algoritma
Matematika
Diuraikan Diselesaikan
Soal-soal Kontektual
mencoba menguraikan dengan bahasa dan simbol yang dibuat sendiri, kemudian
menyelesaikan soal tersebut. Dalam proses ini setiap orang dapat menggunakan
cara mereka sendiri dan berbeda dengan orang lain. Dalam metematisasi vertikal
kita juga mulai dari soal-soal kontektual, tetapi dalam jangka panjang kita dapat
47
Sutarto Hadi, Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya, (Banjarmasin:
PBSI, 2005), hal.20
32
soal konstektual.
yaitu:48
matematika lebih difokuskan pada tubian (drill) dan penghafalan rumus saja,
digunakan.
didasarkan pada teori himpunan dan game yang bisa dikategorikan ke dalam
d. Realistic, yaitu pendekatan yang menggunakan suatu situasi dunia nyata atau
48
Sutarto Hadi, Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya, (Banjarmasin:
PBSI, 2005), hal.20
33
2. Karakteristik RME
yaitu:50
pembelajaran matematika. Konteks tidak harus berupa maslah dunia nyata namun
bisa dalam bentuk permainan, penggunaan alat peraga, atau situasi lain selama hal
49
Sutarto Hadi, Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya, (Banjarmasin:
PBSI, 2005), hal.21
50
Ariyadi Wijaya, Pendidikan Matematika Realistik Suatu Pendekatan Pembelajaran
Matematika, (Yogyakarta:Graha Ilmu2012), Hal.21
34
matematika.
dimana dunia nyata tidak hanya sebagai sumber matematisasi tetapi juga sebagai
Dunia Nyata
Abstrak dan
formalisasi
dari sistem formal. Fenomena konsep terjadi dalam dunia nyata siswa. Inti dari
51
Sutarto Hadi, Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya..., hal.19
35
matematika, yang merupakan jembatan bagi siswa untuk membuat sendiri model-
model dari situasi nyata ke abstrak atau dari situasi informal ke formal.
yangbesar dalam proses pembelajaran diharapkan datang dari siswa, bukan dari
guru. Artinya semua pikiran atau pendapat siswa sangat diperhatikan dan
dihargai.52
d. Interaktivitas
antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, serta siswa dengan perangkat
52
Ariyadi Wijaya, Pendidikan Matematika Realistik Suatu Pendekatan Pembelajaran
Matematika......., Hal.23
36
siswa.
e. Keterkaitan
yang memiliki keterkaitan. Oleh karena itu konsep matematika siswa tidak
mampu membangun atau dapat mengenal lebih dari satu konsep matematika
secara bersamaan.53
antara lain:54
yang dikontruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa, tidak hanya oleh
53
Ariyadi Wijaya, Pendidikan Matematika Realistik Suatu Pendekatan Pembelajaran
Matematika......., Hal.24
54
Suwarsono,.Pendidikan Matematika di Indonesia. (Jakarta: Depdiknas, 2001)
37
dan operasional kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau
masalah tidak harus tunggal, dan tidak harus sama antara orang yang satu
mempelajari matematika orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk
a. Karena terbiasa diberi informasi terlebih dahulu maka peserta didik masih
melakukan evaluasi.
d. Membutuhkan alat peraga yang sesuai pada pembelajaran pada saat itu.
55
Yulia Romadiastri, Peningkatan Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Peserta
Didik Kelas VII Melalui Pendekatan Matematik Realistik, Laporan Penelitian Individu IAIN
Walisongo Semarang, hlm.23
38
Himpunan
F. Materi Himpunan
1. Pengertian Himpunan
dengan jelas, sehingga dengan tepat dapat diketahui objek yang termasuk
Contoh :
B, X, dan sebagainya. Anggota himpunan ditulis diantara dua kurung kurawal {},
dan antara anggota yang satu dengan yang lainnya dipisahkan dengan tanda koma.
Contoh:
A adalah himpunan bilangan asli yang kurang dari 6. Kalimat tersebut dapat
ditulis: A = {1,2,3,4,5} .
Jika anggota suatu himpunan tidak bisa didaftar satu persatu karena terlalu
banyak anggotanya maka beberapa anggota ditulis dan dilanjutkan dengan tanda
Contoh:
A={1,2,3,4,5,...}.
56
Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni, Matematika Konsep dan Aplikasinya, (Jakarta: Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hal.173
40
b. Himpunan Semesta
S
1
2
3
4
Contoh:
a. {2, 3, 5, 7}
Penyelesaian :
himpunan A adalah
57
Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni, Matematika Konsep dan Aplikasinya, (Jakarta: Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hal.169-170
58
Prof. Dr Suparman Darmawijaya, Pengantar Analisis Real, (Semarang:Jurusan
Matematika Fakultas Matematika dan IPA,2006 ), Hlm. 4.
41
S = {bilangan cacah}.
3. Operasi Himpunan
a. Irisan
Contoh:
maka:𝐴 ∩ 𝐵 = {3,4}.
b. Gabungan
sebagai berikut:
𝐴 ∪ 𝐵 = {𝑥|𝑥 ∈ 𝐴 ∨ 𝑥 ∈ 𝐵}
59
Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni, Matematika Konsep dan Aplikasinya, (Jakarta: Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hal.177
60
Ibid., hal.179-180
42
Contoh:
Maka: 𝐴 ∪ 𝐵 = {1,2,3,4,5,6}
c. Komplemen
𝐴𝑐 = {𝑥|𝑥 ∈ 𝑆 ∧ 𝑥 ∉ 𝐴}
A).61
d. Selisih
semua anggota dari A tetapi bukan anggota dari B. Selisih himpunan A dan B
Catatan:
𝐴 − 𝐵 = {𝑥|𝑥 ∈ 𝐴, 𝑥 ∉ 𝐵}
𝐵 − 𝐴 = {𝑥|𝑥 ∈ 𝐵, 𝑥 ∉ 𝐴}62
61
Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni, Matematika Konsep dan Aplikasinya, (Jakarta: Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hal.182
62
Ibid., hal.181
43
G. Penelitian Terdahulu
oleh :
Matematika Materi Bangun Datar Persegi dan Persegi Panjang Pada siswa
matematika siswa dengan nilai uji t 4.179 > 2.000, 4.179 > 2.660 dan
63
Aziz Taufiqul, Pengaruh Pendekatan Realistik Mathematics Education,
Ekstrakulikuler, dan Jenis kelamin terhadap Hasil Belajar Matematika Materi Bangun Datar
Persegi dan Persegi Panjang Pada siswa kelas VII SMPN 1 Boyolangu Tulungagung Tahun
Ajaran 2013/2014, (Tulungagung: tidak diterbitkan,2014), [Link]
64
Renni Eka Ratnasari, Pengaruh Pendekatan RME Terhadap Hasil Belajar Materi
Dimensi Tiga Pada Siswa Kelas X MA Unggulan Bandung Tulungagung Tahun Ajaran 2012-
2013, (Tulungagung: tidak diterbitkan, 2013), hal. XV
44
perhitugan yaitu diperoleh nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 4,67 dan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 pada taraf signifikasi
menggunakan quasi eksperimen. Dengan hasil t-hitung 4,71 dan t-tabel pada
No Persamaan Perbedaan
1 Sama-sama menggunakan Materi yang digunakan adalah
pendekatan Realistic bangun datar persegi dan persegi
Mathematics Education panjang.
Sama-sama membahas tentang Peneliti menggunakan uji regresi 3
hasil belajar prediktor dengan uji t dan uji F
sedangkan penelitian sekarang
hanya menggunakan uji t
2 Sama-sama menggunakan Materi yang digunakan adalah
pendekatan Realistic dimensi tiga
Mathematics Education. Kelas yang digunakan dalam
Sama-sama membahas tentang penelitian terdahulu kelas X
hasil belajar sedangkan sekarang kelas VII.
3 Sama-sama menggunakan Penelitian terdahulu membahas
pendekatan Realistic kemampuan berpikir kreatif
Mathematics Education. sedangkan sekarang membahas
hasil belajar.
65
Ria Hardiyati, Pengaruh Pendekatan Realistic Mathematics Education terhadap
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa, (Jakarta: tidak diterbitkan, 2014), hal.i
45
H. Kerangka Berpikir
(X) atau independent variable, dan hasil belajar matematika (Y) merupakan
SISWA
MATERI
Pembelajaran
Pendekatan RME Konvensional