0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Syarat Administrasi Pemborongan Pekerjaan

Diunggah oleh

pt.yuliaqila jaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Syarat Administrasi Pemborongan Pekerjaan

Diunggah oleh

pt.yuliaqila jaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

SYARAT – SYARAT ADMINISTRASI

PASAL 1. PERATURAN UMUM

1.1. Disamping rencana kerja dan syarat-syarat ini, maka syarat-syarat


umum yang berlaku dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah :
a. Keppres Nomor : 80 tahun 2003 beserta lampiran-lampirannya.
b. Peraturan-peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan instansi teknis
yang berwenang sehingga :
1. Pelaksanaan pekerjaan memenuhi persyaratan
standar/normalisasi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Pemakaian bahan-bahan, peralatan, kwalitas hasil kerja harus
sesuai dengan standar yang berlaku di Indonesia.
3. Penggunaan mesin/peralatan harus sesuai dengan peralatan
standar yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat
mesin/peralatan yang tersebut.

1.2. Pemborong harus mentaati dengan tertib segala peraturan hukum yang
berlaku dan semua syarat-syarat yang berhubungan dengan
pelaksanaan yang dikeluarkan Jawatan Keselamatan Kerja.

1.3. Apabila ada beberapa hal dari persyaratan umum yang dituliskan
kembali dalam RKS ini, berarti hanya memintakan perhatian khusus dan
tidak supplemen yang ada. Tetapi apabila ada ketentuan yang
berlainan, maka yang berlaku adalah ketentuan dalam RKS ini.

PASAL 2. SURAT PERJANJIAN PEMBORONGAN

2.1. Untuk melaksanakan pekerjaan maka Pemberi Tugas dan Kontraktor


akan membuat Surat Perjanjian Pemborongan (Kontrak) yang ditanda-
tangani oleh kedua pihak.

2.2. Pada Surat Perjanjian Pemborongan (Kontrak) dilampirkan dokumen


sebagai berikut :
a. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)
b. Surat Pernyataan Kesanggupan
c. Pengumuman Pemenang
d. Surat Penetapan Pemenang
e. Surat Usulan Penetapan Pemenang
f. Berita Acara Penelitian Berkas Penawaran
g. Berita Acara Pembukaan Surat Penawaran
h. Surat Penawaran dan lampiran-lampirannya
i. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan
j. Rencana Kerja dan Syarat-syarat serta gambar rencana kerja.

2.3. Dokumen Surat Perjanjian Pemborong dibuat dalam rangkap 6 (enam),


2 rangkap asli dengan menggunakan materai dan 4 rangkap dengan
tandatangan asli tanpa materai.

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 1
PASAL 3. PEMBORONG BAWAHAN (SUB KONTRAKTOR)

3.1. Untuk pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan khusus, Pemborong dapat


mengadakan hubungan kerja dengan Pemborong Spesialis (khusus)
yang benar-benar ahli dibidangnya dengan sepengetahuan dan seijin
tertulis dari pemberi Tugas.

3.2. Didalam pemeliharaan Sub kontraktor Pemborong harus berpedoman


pada :
a. Keppres Nomor : 80 tahun 2003
b. Peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan instansi teknis yang ada
kaitannya dengan pekerjaan ini.

3.3. Pemborong bertanggung jawab penuh atas hasil kerja Sub Kontraktor
sebagaimana tersebut dalam ayat 3.1. pasal ini.

PASAL 4. RKS, GAMBAR DAN PETUNJUK-PETUNJUK

4.1. RKS dan Gambar Rencana Pekerjaan berlaku sebagai dasar pedoman
untuk melaksanakan pekerjaan.

4.2. Apabila terdapat perbedaan antara gambar-gambar dan ketentuan


dalam RKS ini, maka tahap pertama ketentuan RKS inilah yang mengikat
selama dalam proses pelelangan dan akan diputuskan dalam rapat
koordinasi pada saat pelaksanaan pekerjaan berlangsung.

4.3. Pemborong harus menyediakan sedikitnya 1 (satu) set copy gambar-


gambar dan RKS ditempat pekerjaan dalam keadaan tetap rapih dan
bersih yang dapat dilihat setiap saat oleh Pemberi Tugas atau Pengawas
Lapangan.

PASAL 5. PEMAKAIAN UKURAN DAN GAMBAR KERJA

5.1. Apabila dianggap perlu, Pemborong harus membuat gambar kerja (shop
drawing) pelaksanaan untuk pekerjaan ini. Gambar-gambar tersebut
sebelum dilaksanakan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Pengawas Lapangan.

5.2. Pemborong bertanggung jawab atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan


menurut ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar
rencana/gambar kerja dan RKS ini.

5.3. Pemborong wajib mencocokkan ukuran-ukuran satu sama lain dan


memberitahukan kepada Pengawas Lapangan apabila terdapat
perbedaan antara gambar-gambar, RKS maupun terhadap situasi di
lapangan.

5.4. Pengambilan ukuran yang keliru dalam pelaksanaan menjadi tanggung


jawab Pemborong. Oleh karena itu Pemborong wajib mengadakan
pemeriksaan menyeluruh terhadap gambar yang ada.

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 2
PASAL 6. HAK DAN KEWAJIBAN PEMBORONG

6.1. Pemborong tidak diperbolehkan mengalihkan seluruh hak dan


kewajibannya atas pekerjaan yang menjadi tugasnya kepada pihak lain
(sub letting), tanpa ijin tertulis dari Pemberi Tugas.
6.2. Pemborong wajib mempelajari dan mentaati semua ketentuan yang
berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan ini yang tercantum didalam
undang-undang, persyaratan umum dan supplemennya, persyaratan
standar yang berlaku, serta persyaratan lain yang dikeluarkan oleh
instansi teknis berwenang.

6.3. Pemborong wajib mentaati keputusan dan petunjuk-petunjuk dari


Pemberi Tugas yang ditunjuk oleh Pemberi Tugas dan Pengawas
Lapangan sepanjang hal tersebut tidak menyimpang dari RKS dan
Gambar-gambarnya.

6.4. Pemborong dapat meminta penjelasan kepada Pengawas Lapangan atau


pihak lain yang ditunjuk oleh Pemberi Tugas bilamana menurut
pendapatnya, ada bagian-bagian Dokumen Surat Perjanjian Pemborong
atau hal-hal lain yang kurang jelas.

PASAL 7. TANGGUNG JAWAB PEMBORONG

7.1. Pemborong harus bertanggung jawab atas kwalitas pekerjaan sesuai


dengan ketentuan-ketentuan dalam RKS dan Gambar-gambarnya.

7.2. Kehadiran Pengawas Lapangan selaku wakil Pemberi Tugas untuk


melihat, mengawasi, menegur dan memberi nasehat tidaklah
mengurangi tanggung jawab penuh tersebut diatas.

7.3. Pemborong bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang timbul


akibat pelaksanaan pekerjaan. Pemborong berkewajiban memperbaiki
kerusakan tersebut dengan biaya Pemborong sendiri.

7.4. Bilamana terjadi gangguan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan


pekerjaan, maka Pemborong wajib memberikan saran-saran perbaikan
untuk segenap pihak melalui Pengawas Pekerjaan. Apabila hal ini tidak
dilakukan, Pemborong bertanggung jawab atas kerusakan yang timbul.

7.5. Pemborong bertanggung jawab atas keselamatan tenaga kerja yang


dikerahkan dalam pelaksanaan pekerjaan.

7.6. Segala biaya yang timbul akibat kelalaian Pemborong dalam


melaksanaan pekerjaan menjadi tanggung jawab Pemborong.

7.7. Apabila pekerjaan telah selesai, Pemborong harus segera mengangkut


bekas bongkaran dan sisa-sisa bahan bangunan yang sudah tidak

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 3
dipergunakan lagi keluar lokasi pekerjaan. Segala pembiayaannya
menjadi tanggung jawab Pemborong.

7.8. Pemborong harus bertanggung jawab atas alat-alat yang digunakan


terhadap kemungkinan timbulnya klaim dan tuntutan ganti rugi serta
biaya-biaya yang diperlukan untuk hal tersebut.

7.9. Pemborong bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan yang


dilaksanakannya selama 5 tahun.

7.10. Pemborong harus membuat gambar perubahan (as Build Drawing)


sebanyak 3 (tiga) rangkap.

PASAL 8. PERIZINAN

8.1. Semua perizinan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini harus
diurus oleh Pemberi Tugas dengan biaya ditangggung oleh Pemborong
Kecuali ( IMB ).

8.2. Pemeriksaan pengujian dan lain-lain beserta keterangan resminya


(Certificate) yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini harus
diurus oleh Pemborong atas tanggungan dan biaya Pemborong.

PASAL 9. PERSONALIA PEMBORONG

9.1. Pimpinan harian pelaksanaan pekerjaaan oleh Pemborong harus


diserahkan kepada Penangung jawab lapangan yang ahli dan
berpengalaman, serta bisa dan mendapat wewenang penuh untuk
memutuskan segala persoalan Pemborong ditempat pekerjaan.

9.2. Pemborong harus membuat bagan organisasi pekerjaan lengkap dengan


nama-nama petugasnya.

9.3. Sebelum melaksanakan pekerjaan dimulai, calon-calon penanggung


jawab lapangan dan pembantu-pembantunya harus sudah diajukan
disertai Foto copy KTP nya kepada Pengawas Pekerjaan untuk
dipertimbangkan.
Pekerjaan baru dapat dimulai setelah calon-calon tersebut disetujui oleh
Pengawas Lapangan. Keterlambatan permulaan pekerjaan yang
diakibatkan oleh Pemborong dalam hal ini menjadi tanggung jawab
Pemborong.

9.4. Penanggung jawab lapangan wajib berada ditempat pekerjaan selama


jam-jam kerja dan setiap saat yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan atau pada setiap waktu yang dianggap perlu oleh Pengawas
Lapangan.

9.5. Penanggung jawab lapangan mewakili Pemborong ditempat pekerjaan


semua langka dan tindakannya dianggap sebagai langka dan tindakan
Pemborong.

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 4
9.6. Petunjuk dan perintah hubungan didalam pelaksanaan pekerjaan
disampaikan kepada Pemborong melalui Penanggung jawab Lapangan.

PASAL 10. RESIKO UPAH DAN HARGA

10.1. Pada dasarnya dalam melaksanakan pekerjaan, fluktuasi upah, harga


bahan dan harga peralatan menjadi resiko Pemborong.

10.2. Tuntutan atas kenaikan harga borongan hanya diizinkan apabila


Pemerintah mengeluarkan peraturan tentang kenaikan harga borongan
yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan atau upah dalam jangka
waktu pelaksanaan tertentu.

10.3. Jika terjadi hal demikian seperti disebutkan dalam angka 11.2. maka
perhitungan harga dilakukan menurut peraturan tersebut.

PASAL 11. PERMULAAN PEKERJAAN

11.1. Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender setelah penandatangan


Surat Perjanjian Pemborongan (Kontrak), Pemborong harus sudah mulai
melaksanakan pekerjaann dalam arti kata yang nyata.

11.2. Sebelum pekerjaan dimulai, harus diadakan pertemuan antara Pemberi


Tugas, Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Kontraktor
Pelaksana dan dihadiri oleh Direktur dan Staf Teknik yang bertanggung
jawab.

PASAL 12. PENGAWAS

12.1. Pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh Pengawas


Lapangan/Konsultan Pengawas yang ditunjuk.

12.2. Pada setiap saat Pengawas Lapangan maupun petugas-petugas yang


ditunjuk oleh Pemberi Tugas harus mudah untuk mengawasi/memeriksa
dan menguji bahan dan peralatan yang digunakan.
Pemborong harus menyediakan segala fasilitas yang diperlukan untuk
hal tersebut.

12.3. Penyimpangan-penyimpangan pekerjaan yang telah terlanjur


dilaksanakan tapi luput dari pengamatan Pengawas Lapangan, adalah
menjadi tanggung jawab Pemborong, pekerjaan tersebut jika perlu harus
segera diperbaiki sebagian atau seluruhnya.

12.4. Wewenang dalam memberikan keputusan yang berada ditangan


Pengawas Lapangan adalah terbatas pada soal-soal yang jelas
tercantum dalam RKS dan gambar. Penyimpangan dari padanya harus
seizin tertulis dari Pemberi Tugas.

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 5
PASAL 13. LAPORAN-LAPORAN

13.1. Pemborong harus membuat catatan-catatan yang dapat memberikan


gambaran singkat dan jelas mengenai :
a. Taraf berlangsungnya pekerjaan
b. Pekerjaan dilaksanakan oleh Sub Pemborong
c. Catatan dan perintah Pengawas Pekerjaan yang telah disampaikan
secara tertulis
d. Hal ikhwal mengenai bahan-bahan dan peralatan-peralatan (yang
masuk, yang dipakai maupun yang ditolak).
e. Lain-lain termasuk pekerjaan tambah kurang

13.2. Dari catatan-catatan pada angka 14.1. tersebut diatas sebagai masukan
untuk Konsultan Pengawas sebagai bahan pembuatan laporan harian,
mingguan dan bulanan yang dibuat dalam rangkap 4 (empat) dan selalu
berada ditempat pekerjaan agar dapat diteliti kembali setiap saat
diperlukan.

PASAL 14. FOTO DOKUMENTASI

14.1. Pemborong wajib membuat foto tentang kemajuan pekerjaan.


Foto-foto tersebut diambil pada saat sebelum lokasi dikerjakan, selama
pelaksanaan dan setelah pekerjaan berakhir.

14.2. Waktu dan cara pengambilan diusahakan sedemikian rupa agar foto-foto
tersebut dapat memberikan gambaran tentang tahapan kemajuan
pekerjaan.

14.3. Foto-foto dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dengan ukuran kartupos dan
berwarna, serta dimasukan dalam album secara terpisah dan diserahkan
kepada pemberi tugas pada masa berakhirnya pekerjaan.
Segala biaya yang dikeluarkan untuk keperluan ini ditanggung
sepenuhnya oleh Pemborong.

14.4. Setiap pengambilan termyn, Pemborong harus melampirkan foto-foto


sesuai dengan kemajuan pekerjaan dan dijilid rapi dalam rangkap 2
(dua).

PASAL 15. FORCE MAJEURE

15.1. Yang dianggap force majeure adalah kejadian-kejadian diluar kekuasaan


Pemborong yang dapat berpengaruh langsung terhadap pelaksanaan
pekerjaan seperti gempa bumi, banjir, hura-hara dan sebagainya.

15.2. Pemborong harus melaporkan secara tertulis segala kejadian dan akibat
force majeure dimaksud yang timbul dan berpengaruh langsung
terhadap pekerjaan kepada Pengawas Pekerjaan/Pemberi Tugas dalam
waktu 14 (empat belas) hari hari dari hari terjadinya Kahar dengan
menyertakan pernyataan keadaan Kahar dari instansi yang berwenang.

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 6
15.3. Jika dalam waktu sebagaimana dinyatakan dalam angka 16.2.
dilampaui, maka Pemborong kehilangan haknya untuk mengajukan
tuntutan/klaim dan lain sebagainya sehubungan dengan pasal ini.

PASAL 16. PENJAGAAN DAN KEAMANAN

16.1. Pemborong wajib mengadakan penjagaan keamanan terus-menerus


selama berlangsungnya pekerjaan atas bahan, peralatan, mesin dan alat
kerja yang disimpan ditempat pekerjaan (gudang, kantor dan los kerja).
Kehilangan yang diakibatkan karena kelalaian penjagaan menjadi
tanggung jawab Pemborong.

16.2. Selama berlangsung pekerjaan, semua yang menjadi tanggung jawab


Pemborong harus dirawat dengan baik dan bilamana perlu mengadakan
perbaikan-perbaikan.

16.3. Dalam menjaga keamanan dan ketertiban, Pemborong harus mengikuti


petunjuk dan koordinasi dan petugas keamanan setempat.

PASAL 17. KECELAKAAN DAN PPPK

17.1. Jika terjadi kecelakaan yang berhubungan dengan pelaksanaan


pekerjaan ini menjadi tanggung jawab Pemborong dan Pemborong wajib
mengambil segala tindakan guna kepentingan si korban atau para
korban.

17.2. Kontrak PPK dengan isinya yang selalu lengkap harus tetap berada pada
ditempat pekerjaan selama pekerjaan berlangsung.

17.3. Sebelum pekerjaan dimulai, Pemborong harus menunjukkan tanda bukti


pelunasan Asuransi Tenaga Kerja JAMSOSTEK kepada pemberi tugas.

PASAL 18. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN

Pekerjaan harus dapat diselesaikan secara keseluruhan paling lambat dalam


90 (sembilan puluh) hari kalender terhitung sejak dikeluarkannya Surat
Perintah Mulai Kerja.

PASAL 19. PENYERAHAN PEKERJAAN

19.1. Rencana tanggal penyerahan pertama maupun penyerahan kedua harus


diajukan kepada Pemberi Tugas selambat-lambatnya 3 (tiga) hari
kalender sebelum tanggal penyerahan dimaksud.
19.2. Sebelum penyerahan pekerjaan dilakukan, Pengawas Lapangan akan
mengadakan pemeriksaan dapat dilakukan lebih dari satu kali, sampai

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 7
memuaskan Pemberi Tugas yang selanjutnya menetapkan tanggal
penyerahan pekerjaan.

19.3. Pada saat pemeriksaan maupun penyerahan pekerjaan akan dibuat


Berita Acara, yaitu Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan untuk
penyerahan pertama/kedua.

PASAL 20. MASA PEMELIHARAAN

20.1. Jangka waktu pemeliharaan pekerjaan ditetapkan selama 180 (seratus


delapan puluh) hari kalender terhitung sejak penyerahan pertama
pekerjaan.

20.2. Didalam jangka waktu pemeliharaan, Pemborong wajib memperbaiki


bangunan/instalasi yang rusak atas tanggungan dan biaya Pemborong
sampai hal tersebut diterima baik oleh Pemberi Tugas.

PASAL 21. PENILAIAN PRESTASI PEKERJAAN

21.1. Pemborong harus minta kepada Pengawas Pekerjaan untuk menilai


pekerjaan yang telah diselesaikan (prestasi pekerjaan) jika penilaian ini
merupakan keharusan atau syarat melanjutkan pekerjaan.

21.2. Yang dapat dianggap sebagai prestasi pekerjaan adalah pekerjaan-


pekerjaan yang telah dilaksanakan dan telah dinilai baik oleh Pengawas
Lapangan.

PASAL 22. KELAMBATAN DAN PERPANJANGAN WAKTU

22.1. Kelalaian Pemborong atau Sub Pemborong dalam melaksanakan


pekerjaan dan memperbaiki kerusakan-kerusakan akibat kesalahan
Pemborong tidak dapat dijadikan alasan untuk perpanjangan waktu.

22.2. Kelambatan akibat dari tindakan Pemberi Tugas dan keadaan Force
Majeure dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan perpanjangan
waktu setelah dinilai dengan seksama atas permintaan dari Pemborong.

22.3. Permohonan perpanjangan waktu tersebut harus diajukan oleh


Pemborong selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender setelah
terjadinya peristiwa-peristiwa dimaksud, jika tidak diajukan dalam
jangka waktu tersebut maka dianggap tidak ada permohonan
perpanjangan waktu.

PASAL 23. PERATURAN PEMBAYARAN

23.1. Pembayaran dari biaya pemborongan akan dilakukan dengan cara


angsuran terhadap jumlah biaya.

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 8
23.2. Pembayaran angsuran akan diatur dan disesuaikan dengan prestasi
pekerjaan berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan. Besarnya
tiap angsuran akan diatur dalam Surat Perjanjian Pemborongan/Kontrak.

PASAL 24. PEMBAYARAN KEPADA SUB PEMBORONG

24.1. Sub Pemborong dibayarkan oleh Pemborong untuk bagian-bagian


pekerjaan yang ditugaskan kepadanya.

24.2. Pemborong harus membayar pada waktunya dan bila diminta harus
menunjukan bukti pembayaran tersebut kepada Pengawas Lapangan.

24.3. Sehubungan dengan uraian dalam angka 25.2. diatas, apabila diminta
maka Pemborong pada saat setiap mengajukan permohonan untuk
mendapatkan pembayaran angsuran diwajibkan menyampaikan cash
flow kepada Pengawas Pekerjaan/Pemberi Tugas.

PASAL 25. PENUNDAAN PEMBAYARAN

25.1. Pembayaran angsuran biaya borongan dapat ditangguhkan bilamana :


a. Terjadi kesalahan-kesalahan pelaksanaan, hasil yang kurang
memuaskan, kerusakan-kerusakan yang tidak/belum diperbaiki.
b. Keraguan Pemberi Tugas atas tidak seimbangnya antara besarnya
pembayaran dengan volume pekerjaan yang telah dilaksanakan.
c. Belum memenuhi salah satu atau lebih ketentuan-ketentuan
administratif.

PASAL 26. DENDA-DENDA

26.1. Denda Kelambatan.


Bilamana jangka waktu pelaksanaan pekerjaan untuk penyerahan
pertama dilampaui, maka Pemborong akan dikenakan denda sebesar 2
% (dua perseribu) dari harga borongan untuk setiap hari kelambatan
sampai jumlah maksimal 10% (sepuluh perseratus) dari harga
borongan.

26.2. Denda Kelalaian.


Bilamana Pemborong melakukan kelalaian, maka kepada Pemborong
akan dikenakan denda sebesar 1 %. (satu perseribu) dari harga
borongan untuk setiap kelalaian sampai jumlah setinggi-tingginya 5 %
(lima perseratus) dari harga borongan.

26.3. Disamping itu Pemborong dibebankan pula menanggung biaya


pengawasan akibat dilampauinya jangka waktu penyerahan pertama
tersebut sebesar :

Jumlah biaya pengawasan


Rp. ______________________ setiap hari
Jumlah hari pengawasan

26.4. Pemborong juga menanggung biaya pengawasan akibat kerja lembur


sebesar:

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 9
1 Jam Jumlah biaya pengawasan
_________________ x ______________________ setiap jam
7 jam (kerja sehari) Jumlah hari pengawasan

26.5. Pelaksanaan pembayaran denda terhadap Pemborong akan dilakukan


bersamaan dengan pembayaran pekerjaan angsuran (termyn).

PASAL 27. PEKERJAAN TAMBAH KURANG

27.1. Pekerjaan tambah kurang dapat dilaksanakan setelah Pemborong


menerima perintah tertulis dari Pemberi Tugas.

27.2. Perhitungan biaya pekerjaan tambah dan pekerjaan kurang didasarkan


atas dasar harga satuan pekerjaan, harga upah serta bahan dan
peralatan yang dilampirkan Pemborong dalam Surat Penawarannya.

27.3. Dalam hal Pemborong mengadakan perubahan-perubahan didalam


pelaksanaan pekerjaan atau bagian-bagian yang lain akan tetapi tidak
atas perintah tertulis dari Pemberi Tugas, maka hal ini tidak dapat
dipakai sebagai alasan untuk mengadakan perhitungan-perhitungan
pekerjaan tambah kurang.

PASAL 28. PERSELISIHAN

28.1. Apabila timbul perselisihan dalam pelaksanaan pekerjaan, maka pada


dasarnya perselisihan ini akan diselesaikan secara musyawarah.

28.2. Perselisihan yang menyangkut bidang teknis akan diselesaikan secara


musyawarah oleh suatu Dewan Arbitrase yang terdiri dari :
a. Seorang wakil dari Pemberi Tugas
b. Seorang wakil dari Pemborong
c. Seorang yang ditunjuk/dipilih oleh kedua belah pihak yang tersebut
terdahulu.
Hasil dari keputusan dewan ini mengikat untuk kedua belah pihak
berselisih.

28.3. Apabila perselisihan tidak dapat diselesaikan oleh Badan Arbitrase


tersebut, maka akan diselesaikan melalui Pengadilan Negeri Sorong.

PASAL 29. PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA

29.1. Pemberi Tugas dapat memutuskan hubungan perjanjian pekerjaan


secara sepihak apabila Pemberi Tugas menganggap Pemborong tidak
mampu lagi menyelesaikan pekerjaan sebagaimana mestinya seperti
yang tercantum dalam Surat Perjanjian Pemborongan.

29.2. Pemborong mengabaikan peringatan tertulis dari Pemberi Tugas


sehingga dengan mengabaikan dan kelalaiannya itu pekerjaan terkena
akibatnya.

PASAL 30. KETENTUAN-KETENTUAN LAIN

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 10
30.1. Pada prinsipnya Pemborong harus mengizinkan pihak-pihak lain yang
ditugaskan oleh Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas untuk bekerja
pada waktu dan tempat yang sama.

30.2. Jam kerja adalah mulai pk. 08.00 sampai dengan pk. 17.00 untuk setiap
harinya, kecuali hari Minggu dan hari libur resmi jika Pemborong
menghendaki lain, maka Pemborong harus mengajukan permohonan
secara tertulis kepada Pemberi Tugas/Konsultan Pengawas.

30.3. Bahan-bahan sisa pekerjaan yang tidak dipakai dan akan dikeluarkan
dari lokasi pekerjaan harus dimintakan ijin kepada Konsultan Pengawas.

30.4. Untuk kelancaran mekanisme surat menyurat, maka surat-surat


Pemborong yang ditujukan kepada Pemberi Tugas atau siapa saja di
lingkungan Kantor Badan Pengelola Keuangan yang ada kaitannya
dengan pekerjaan ini, diserahkan melalui Konsultan Pengawas.

RKS KARANTINA IKAN


SORONG. / II - 11

Anda mungkin juga menyukai