BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KONSULTAN
Konsultan profesional merupakan suatu badan usaha perorangan atau
perusahaan yang memiliki keahlian, kecakapan dan bakat khusus dan tersedia
bagi yang memerlukan (klien), dengan imbalan sejumlah upah. Konsultan
profesional memberikan nasehat dan seringkali membantu melaksanakan nasehat
tersebut dengan dan untuk klien (Shenson, 1990)
2.1.1 Kualitas dan Kredibilitas
Beberapa syarat minimal yang dianggap perlu dimiliki dan diperhatikan oleh
konsultan dalam upaya menjaga mutu hasil-hasil pekerjaannya, antara lain
menurut Soeharto (1995):
1. Pendekatan bersifat menyeluruh (comprehensive). Berarti melihat
permasalah dari segala segi. Kemudian menyuguhkan alternatife
pemecahannya.
2. Didasarkan atas kenyataan. Segala sesuatu diusahakan berdasarkan fakta,
bukan perasaan kemudian dikaji ulang akan kebenaran dan akurasinya.
3. Adanya keterkaitan (relevansi) terhadap permasalahan. Kemampuan untuk
mengenal hal-hal yang betul-betul ada hubungannya dengan masalah yang
sedang dibahas dengan menjauhi penjelasan atau keterangan yang tidak
relevan.
4. Kecakapan melihat kedepan. Dapat mengantisipasi dan memperkirakan
akibat dan dampak dari keputusan-keputusan yang diambil.
5. Menguasai perbendaharaan bahas yang diperlukan. Kecakapan merumuskan
dan mengkomunikasikan pendapatnya dengan baik.
6. Bersifat ulet. Konsultan seringkali diserahi tugas yang kompleks. Untuk itu
perlu keuletan dan kepandaian menguraikan tugas tersebut dan menentukan
lingkup yang mempunyai posisi kunci, kemudian mencari cara pendekatan
dan metode yang tepat untuk menanganinya.
7. Kreatif. Dalam banyak hal tidak perlu menunggu, bahkan harus mendahului
menyuguhkan ide atau gagasan yang baru dan segar, untuk menyelesaikan
tugas yang diserahkan kepadanya.
8. Penguasaan teknis secara prima atas disiplin ilmu atau profesi yang
ditawarkan.
2.1.2 Jasa Konsultansi dalam kegiatan Proyek
Jasa Konsultansi dalam kegiatan proyek menurut Soeharto (1995) dapat
dijabarkan sebagai berikut.
1. Menyiapkan paket kerja. Merupakan bagian atau komponen lingkup kerja
proyek, seperti paket pekerjaan arsitektur, engineering, analisis tanah untuk
tiang pancang dan pondasi dan lain-lain. Terdiri dari hasil perhitungan dan
analisis, gambar rancangan, hasil testing dan lain-lain.
2. Survei Salah satau jenis proyek E-MK yang selalu memerlukan survey
adalah membangun jaringan radio telekomunikasi. Untuk proyek industri
sering dibutuhkan survey tenga kerja, misalnya perihal penawaran dan
permintaan tenaga kerja di sekitar daerah proyek yang akan dibangun.
3. Studi dan Penelitian. Studi dan penelitian tidak jarang dibutuhkan untuk
mendukung bagian-bagian tertentu kegiatan proyek. Misalnya bagi lokasi
proyek di daerah terpencil dan belum tersedia data yang cukup, sering kali
pemilik atau kontraktor meminta jasa konsultan untuk mempelajari dan
meneliti keadaan iklim, curah hujan, arah dan kecepatan angin, persediaan
air dan lain-lain.
4. Bantuan Manajemen. Bantuan ini meliputi sebagian atau seluruh lingkup
proyek. Salah satu kegiatan yang telah dipraktekan secara luas adalah
Konsultan Manajemen Konstruksi –KMK (construction management-CM).
Konsultansi menejemen untuk aspek lainnya berupa paket usulan
restrukturisasi organisasi, peningkatan efisiensi dan lain-lain.
5. Program Pelatihan. Untuk memenuhi disipakan program pendidikan dan
pelatihan khusus, mencakup antara lain merekrut, menyeleksi, melatih di
kelas dan di lapangan untuk calon operator dan mekanik.
6. Pengendalian Mutu. Pengendalian mutu merupakan pekerjaan yang tidak
dapat dipisahkan dari suatu kegiatan proyek. Sifat pekerjaannya
memerlukan
prosedur yang khusus, menuntut ketelitian dan pengalaman. Perusahaan
konsultan yang menyediakan jasa dalam bidang tersebut, umumnya telah
melengkapi diri dengan personil yang terlatih dan peralatan yang cukup
sehingga mampu melakukan tugasnya dengan efisiendan terpercaya.
7. Prakomisi, Uji Coba dan Start-up. Bidang konsultansi untuk proyek meliputi
pula pekerja-pekerja inspeksi, prakomisis, uji coba dan start-up
peralatan,bagian instalasi ataupun keseluruhan. Jenis pekerjaan di atas
umumnya amat beragam, dan seringkali memerlukan judgment yang
berbobot dalam mengambil keputusan.
8. Administrasi, Perizinan dan Hukum. Contoh untuk ini adalah pengelolaan
administrasi pinjaman dana (loan administration), mempersiapkan system
akuntansi perusahaan dengan kode akuntansi yang dipakai untuk
pembebanan biaya dalam pengendalian proyek (project cost control),
catatan asset (assetrecord) dan lain lain. Mengenai perizinan, seringkali
menyangkut hal- hal yangberhubungan dengan masalah izin bangunan,
impor barang, pemebebasan beamasuk bagi proyek pemerintah, penggunaan
tenaga asing, izin survei lokasi kedaerah-daerah terpencil, misalnya untuk
mendirikan repeater proyek telekomunikasi dan lain-lain. Sedangkan untk
konsultan hukum umumnya diperlukan untuk memepersiapkan rancangan
kontrak ikatan pembelian (PO) untuk barang barang dengan harga yang
tetinggi, dan pada waktu negoisasi dengan kontraktor utama, kontraktor
ataupun konsultan.
9. Pengadaan Dana. Mengusahakan terpenuhinya jumlah dana untuk proyek
bukan termasuk hal yang rutin untuk sebuah perusahaan. Sumber dana dapat
berasal dari bank, pemilik proyek. Subsidi pemerintah atau institusi
keuangan yang lain.
10. Paket Kerja untuk Konsultan. Berbagai macam paket kerja proyek E-MK
yang diserahkan kepada konsultan untuk mengerjakannya terlihat seperti di
Gambar berikut. Konsultansi butir-butir 1 sampai dengan 6 dikerjakan
padatahap sebelum implementasi fisik, sedangkan 7 sampai dengan 14
umumnya menjelang atau selama implementasi fisik berlangsung.
STUDI KELAYAKAN SURVEI KELAUTAN
1. 8.
2. PENDANAAN 9. REKAYASA NILAI
3. ANALISA DAMPAK INSPEKSI
LINGKUGAN 10.
4. ARSITEK 11. STUDI KELAYAKAN
DESAIN DAN AKUNTANSI
5. ENGINEERING 12.
6. PEMERIKSAAN TANAH 13. AUDIT
7. LATIHAN DAN 14. MANAJEMEN PROYEK
PENDIDIKAN
(CM)
Gambar 2.1 Macam-macam paket kerja bagian lingkup proyek
yang dapat diserahkan kepada konsultan
Sumber :Soeharto, (1995) “Manajemen Proyek”
2.1.3 Jasa Konsultansi dan Lingkup Kegiatannya
Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor : 08 / PRT / M / 2019, yang disebut
perencana / arsitek / konsultan perencana / konsultan ahli adalah perorangan /
badan hukum yang melaksanakan tugas konsultasi dalam bidang perencanaan
karya bangunan atau perencanaan lingkungan beserta kelengkapannya.
Konsultan dibagi menjadi beberapa sub bagian :
1. Konsultan Menejemen Konstruksi
a. Melaksanakan pengendalian pada tahap persiapan, tahap perencanaan,
dan tahap konstruksi, baik di level program maupun pada level
oprasional, dan pngendalian tersebut meliputi pengendalian waktu,
pengendalian biaya, pencapaian sasaran fisik, dan tertib administrasi.
b. Konsultan menejemen konstruksi digunakan untuk pekerjaan :
1. Bangunan bertingkat lebih dari 4 lantai,
2. Bangunan dengan luas total lebih 5000 m2,
3. Bangunan khusus,
4. Bangunan yang melibatkan lebih dari 1 ( satu ) konsultan perencana
maupun pemborong,
5. Bangunan yang dilaksanakan lebih dari 1 ( satu ) tahun anggaran (
multiyear project ).
c. Kegiatan menejemen konstruksi pada tahap persiapan adalah membantu
pengelola / pemilik proyek dalam pengadaan konsultan perencana,
membantu kontrak pekerjaan perencanaan, dsb.
d. Kegiatan pada tahap perencanaan adalah mengevaluasi program
pelaksanaan kegiatan perencanaan oleh konsultan perencana,
memberikan konsultasi kegiatan perencanaan, mengendalikan program
perencanaan, melakukan koordinasi pihak – pihak yang terlibat pada
tahap perencanaan, dan pada saat pelelangan membantu panitia lelang
dalam menyusun Harga Penawaran Sendiri ( HPS ), serta membantu
memberikan penjelasan pekerjaan.
e. Pada tahap pelaksanaan konsultan MK ( Menejemen Konstruksi )
mengevaluasi, mengendalikan, mengawasi, dan menyusun laporan dari
awal proses kegiatan hingga akhir pekerjaan.
2. Konsultan Perencana
Tugas – tugasnya :
a. Membuat skema / konsep pemikiran awal ( maksud dan tujuan ),
b. Membuat desain pra rencana termasuk didalamnya pekerjaan
penyelidikan data lapangan / kondisi tapak / lingkungan, menyusun
usulan kerja ( uraian tentang persyaratan setempat ), dan pengurusan
surat – surat ijin yang diperlukan,
c. Membuat gambar pelaksanaan lapangan, gambar detail dan bestek (uraian
Rencana Kerja dan Syarat2 ),
d. Membuat rencana anggaran biaya,
e. Mengikuti penjelasan gambar rencana dan bestek pekerjaan (aanwijzing)
f. Mengikuti proses pelelangan pekerjaan ( tender ),
g. Melakukan pengawasan berkala ( kesesuaian bestek pada pelaksanaan
pekerjaan di lapangan, dan kesesuaian dari sudut perancangan arsitektur.
3. Konsultan Pengawas
Tugas – tugasnya :
a. Mewakili pihak bouwheer / pemilik dalam segala hal menyangkut
pengawasan dan pemanduan antara kesesuaian gambar – gambar bestek,
syarat – syarat teknis pelaksanaan proyek.
b. Konsultan pengawas juga bertugas sesuai dengan keahliannya
mengawasi seluruh kegiatan konstruksi mulai dari persiapan,
penggunaan, mutu bahan
/ material, pelaksanaan pekerjaan, dan finishing hasil pekerjaan sebelum
diserahkan kepada pembeli proyek ( bowheer ).
2.1.4 Konsultan Manajemen Konstruksi
Menurut Undang-undang No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, yang
dimaksud dengan jasa konstruksi adalah layanan jasa konsultansi konstruksi dan /
atau pekerjaan konstruksi. Konsultansi konstruksi adalah layanan keseluruhan atau
sebagian kegiatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, perancangan,
pengawasan, dan manajemen penyelenggaraan konstruksi suatu bangunan.
Sedagkan pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian kegiatan yang
meliputi pembangunan, pengoperasian, pemeliharaan, pembongkaran, dan
pembangunan kembali suatu bangunan. Badan Usaha Jasa Konstruksi harus
mendapat izin yang disebut Izin Usaha untuk menyelenggarakan kegiatan Jasa
Konstruksi.
Satu bentuk jasa konsultansi yang memiliki hubungan unik dengankegiatan
proyek adalah konsultan manajemen konstruksi – KMK atau dikenal sebagai
construction [Link] rangka mendapatkan kejelasan arti maupun
fungsinya, maka menarik untuk diperhatikan definisi yang dikemukakan oleh
Adrian serta AIA dalam buku Soeharto (1995) berikut ini.
Menurut Adrian:
“Manajemen Konstruksi adalah suatu proses dimana pemilik proyek
membuatikatan kerja dengan agen yang disebut manajer konstruksi, dengan tugas
mengkoordinasikan dan mengkomunikasikan seluruh kegiatan penyelenggaraan
proyek, termasuk studi kelayakan, desain engineering, perencanaan, persiapan
kontrak, konstruksi dan lain-lain kegiatan proyek, dengan tujuan meminimalkan
biaya dan jadwal, serta menjaga mutu proyek.”
Menurut AIA (American Institute of Architects) :
“… mengelola desain dan konstruksi proyek untuk mencapai program arsitektur
dan konstruksi, dengan biaya yang minimal bagi pemilik dan keuntungan yang
wajar bagi (organisasi) peserta yang lain. Tugas utama mengelola desain dan
konstruksi di atas adalah memadukan (integrasi) sebagai kegiatan peserta melalui
perencanaan, organisasi dan pengendalian. Adapun fungsinya adalah bertindak
sebagai agen dari pemilik proyek…”
Meskipun, masih terdapat pandangan yang berbeda, namun definisi -
definisi di atas dapat dianggap sebagai kerangka yang memberikan pengertian
dasar tentang arti dan fungsi manajemen konstruksi. Bertitik tolak dari definisi -
definisidi atas maka arti dan fungsi CM serta dampak kehadirannya, dapat
diuraikan lebih lanjut sebagai berikut (Soeharto,1995).
1. Tidak Terbatas Konstruksi.
Meskipun lingkup kegiatan sering diasosiasikan dengan istilah yang dipakainya
yaitu “konstruksi”, tetapi sesungguhnya mencakup spectrum yang lebih luas,
yaitu keseluruhan penyelenggaraan proyek, mulai dari pelayanan
prakonstruksi, yang dilanjutkan pada tahap konstruksi, sampai dengan masalah-
masalah setelah konstruksi.
2. Agen Mewakili Kepentingan Pemilik.
Fungsi Konsultan Manajemen Konstruksi yang amat penting dan membedakan
dari kontraktor atau konsultan lainnya, adalah Konsultan Manajemen
Konstruksi bertindak sebagai agen yang dalam kegiatannya harus selalu
“memperjuangkan” kepentingan pemilik.
3. KMP Tidak Mengerjakan Paket.
Meskipun lingkup kerja Konsultan Manajemen Konstruksi meliputi berbagai
aspek kegiatan terentang mulai dari prakonstruksi smapai penutupan proyek,
tetapi pada dasarnya Konsultan Manajemen Konstruksi tidak mengerjakan
sendiri paket kerja yang merupakan komponen lingkup proyek, seperti
arsitektur, engineering, maupun konstruksi. Pekerjaan – pekerjaan tersebut
berikut integritas dan keandalan hasil-hasilnya, tetap merupakan tugas dan
tanggung jawab dari para konsultan professional dan kontraktor yang
bersangkutan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan timbulnya
pertentangan kepentingan (conflict of interest) antara Konsultan Manajemen
Konstruksi dengan pemilik.
4. Bermanfaat Bagi Peserta Lain.
Bila dilihat dari fungsi Konsultan Manajemen Konstruksi, yaitu
mengkoordinasikan pekerjaan peserta proyek dan meningkatkan kualitas
pekerjaan - pekerjaan yang erat kaitannya dengan mereka, maka mudah
dimengerti bila keberhasilan pelaksanaan tugas Konsultan Manajemen
Konstruksi tergantung sekali atas kerjasama yang diperoleh dari peserta -
peserta tersebut. Juga bila diingat bahwa sebagaian dari lingkup kerja
Konsultan Manajemen Konstruksi, dulu atau bahkan sampai “lahan” dari
konsultan lain, maka pendekatannya harus hati-hati, dengan menunjukkan
bahwa dengan kehadiran Konsultan Manajemen Konstruksi, berbagai
manfaatakan diperoleh, selain untuk pemilik juga untuk peserta lainnya
seperti Arsitek, Konsultan Engineering dan lain-lain, Kontraktor Utama dan
atau Kontraktor.
2.2 PERANAN.
2.2.1 Pengertian Peranan Secara Umum
Pengertian peranan menurut Soekanto, (2002;243) adalah sebagai berikut.
“Peranan merupakan aspek dinamisi kedudukan (status).Apabila seseorang
melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya, maka ia
menjalankan suatu peranan”. Konsep tentang peran (role) menurut Komarudin
(1994:768) dalam buku “Ensiklopedia Manajemen” mengungkapkan sebagai
berikut.
1. Bagian dari tugas utama yang harus dilakukan oleh manajemen.
2. Pola perilaku yang diharapkan dapat menyertai suatu status
3. Bagian suatu fungsi seseorang dalam kelompok ata pranata.
4. Fungsi yang diharapkan dari seseorang atau menjadi karakteristik yang ada
padanya,
5. Fungsi setiap variable dalam hubungan sebab akibat.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa peranan
adalah suatu penilaian tentang sejauh mana fungsi dari seseorang dalam
menunjang kegiatan usaha dalam pencapaian tujuan yang telah direncanakan.
2.2.2 Peranan Konsultan Manajemen Konstruksi
Peranan Manajemen Konstruksi dalam Industri Konstruksi adalah untuk
mengkoordinasikan dan mengkomunikasikan seluruh proses konstruksi. Sebagai
manajer proyek konstruksi akan menangani semua tahap konstruksi proyek. Pada
tahap pra-konstruksi, MK akan melakukan semua yang diperlukan studi kelayakan
dan penelitian. Setelah spesifikasi arsitektur dan tujuan penjadwalan yang
didefinisikan dengan baik, pekerjaan dilanjutkan oleh pembangun dan kontraktor
untuk memulai membangun actual di bawah pengawasan yang ketat oleh MK.
Menekankan pada independen dari para profesional lain yang terlibat dalam
konstruksi. netralitas ini memungkinkan untuk secara objektif dan tidak memihak
menyarankan klien pada pilihan consultans dan kontraktor, yang memungkinkan
klien untuk mendapatkan manfaat maksimal.
([Link]
Peranan MK pada tahapn proyek konstruksi dapat dibagi menjadi :
1. Agency Construction Manajement (ACM).
Pada sistim ini konsultan manajemen konstruksi mendapat tugas dari pihak
pemilik dan berfungsi sebagai koordinator “penghubung” (interface) antara
perancangan dan pelaksanaan serta antar para kontraktor. Konsultan MK
dapat mulai dilibatkan mulai dari fase perencanaan tetapi tidak menjamin
waktu penyelesaian proyek, biaya total serta mutu bangunan. Pihak pemilik
mengadakan ikatan kontrak langsung dengan beberapa kontraktor sesuai
dengan paket-paket pekerjaan yang telah disiapkan.
2. Extended Service Construction Manajemen (ESCM)
Jasa konsultan MK dapat diberikan oleh pihak perencana atau pihak
kontraktor. Apabila perencana melakukan jasa Manajemen Konstruksi, akan
terjadi “konflik-kepentingan” karena peninjauan terhadap proses
perancangan tersebut dilakukan oleh konsultan perencana itu sendiri,
sehingga hal ini akan menjadi suatu kelemahan pada sistim ini Pada type
yang lain kemungkinan melakukan jasa Manajemen Konstruksi berdasarkan
permintaan Pemilik ESCM/ KONTRAKTOR.
3. Owner Construction Management (OCM)
Dalam hal ini pemilik mengembangkan bagian manajemen konstruksi
profesional yang bertanggungjawab terhadap manajemen proyek yang
dilaksanakan
4. Guaranted Maximum Price Construction Management (GMPCM)
Konsultan ini bertindak lebih kearah kontraktor umum daripada sebagai
wakil pemilik. Disini konsultan GMPCM tidak melakukan pekerjaan
konstruksi tetapi bertanggungjawab kepada pemilik mengenai waktu, biaya
dan mutu. Jadi dalam Surat Perjanjian Kerja/ Kontrak konsultan
GMPCM tipe ini bertindak sebagai pemberi kerja terhadap para kontraktor
(sub kontraktor).
2.2.3 Fungsi Manajemen Konstruksi.
Penerapan fungsi - fungsi manajemen (perencanaan, pelaksanaan dan
penerapan) secara sistimtis pada suatu proyek dengan mengunkan sumber daya
yang ada secara efktif dan efsien akan mendapatkan hasil atau tercapai tujuan
proyek secara optimal.
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah menentukan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana
mengerjakannya. Ini berarti menyangkut pengambilan keputusan berhadapan
dengan pilihan-pilihan.
2. Mengorganisasi (Organizing)
Fungsi ini berkaitan dengan usaha untuk menetapkan jenis-jenis kegiatan yang
dituntut untuk mencapai suatu tujuan tertentu, mengelompokkan kegiatan-kegiatan
tersebut berdasarkan jenisnya supaya lebih mudah ditangani oleh bawahan.
3. Penempatan Orang (Staffing)
Fungsi ini menyangkut usaha untuk mengembangkan dan menempatkan orang-
orang yang tepat di dalam berbagai jenis pekerjaan yang sudah didisain lebih awal
dalam organisasi.
4. Mengarahkan (Directing)
Fungsi ini biasa juga disebut supervisi. Ini menyangkut pembinaan motivasi dan
pemberian bimbingan kepada bawahan untuk mencapai tujuan utama.
5. Mengontrol (Controlling)
Fungsi ini dijalankan untuk menjamin bahwa perencaan bisa diwujudkan secara
pasti. Ada banyak alat-alat analisa untuk suatu proses kontrol yang efektiv. Proses
kontrol pada dasarnya selalu memuat unsur: perencanaan yang diterapkan, analisa
atas deviasi atau penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, dan menentukan
langkah-langkah yang perlu untuk dikoreksi.
Manajemen Konstruksi meliputi mutu fisik konstruksi, biaya dan waktu.
manajemen material dan manjemen tenaga kerja yang akan lebih ditekankan. Hal
itu dikarenakan manajemen perecanaan berperan hanya 20% dan sisanya
manajemen pelaksanaan termasuk didalamnya pengendalian biaya dan waktu
proyek.
Manajemen Konstruksi memiliki beberapa fungsi antara lain :
1. Sebagai Quality Control untuk menjaga kesesuaian antara perencanaan dan
pelaksanaan.
2. Mengantisipasi terjdinya perubahan kondisi lapngan yang tidak pasti dan
mengatasi kendala terbatasnya waktu pelaksanaan
3. Memantau prestasi dan kemajuan proyek yang telah dicpai, hal itu dilakukan
dengan opname (laporan) harian, mingguan dan bulanan.
4. Hasil evaluasi dpat dijadikan tindakan pengmbilan keptusan terhadap masalah-
masalah yang terjadi di lapangan.
5. Fungsi manajerial dari manajemen merupakan sistem informasi yang baikuntuk
menganalisis performa dilapangan