0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan22 halaman

Pengujian Sifat Fisik Semen Portland

Diunggah oleh

Astarth Alpenliebe
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan22 halaman

Pengujian Sifat Fisik Semen Portland

Diunggah oleh

Astarth Alpenliebe
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGUJIAN SIFAT FISIK SEMEN

Supporting lecturer:
Qomariah, BS. , MT
NIP. 196204241993032001

GROUP 2

1. FATHIR BRILIAN SYAH 24410304020063

CIVIL ENGINEERING DEPARTMENT


D-IV CONSTRUCTION ENGINEERING MANAGEMENT
STUDY PROGRAM
MALANG STATE POLYTECHNIC
2024
DAFTAR ISI

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
a) Sejarah Semen
Pada awalnya semen dikenal di Mesir sekitar tahun 500 SM untuk pembuatan
piramida, dimana semen digunakan pada saat itu sebagai pengisi ruang kosong diantara
celah-celah tumpukan batu. Semen yang dibuat oleh bangsa Mesir merupakan kalsinasi
gypsum yang tidak murni, sedangkan kalsinasi batu kapur mulai digunakan pada zaman
Romawi. Berikutnya bangsa yunani membuat semen dengan cara mengambil tanah
vulkanik yang berasal dari pulau Santoris yang kemudian dikenal dengan Santoris
cement.
Bangsa Romawi mengambil material vulkanik di gunung vesuvius di lembah Napples
sebagai semen yang kemudian dikenal dengan Pozzolana cement berasal dari nama
sebuah kota di Italia, Puzzolia.
Pembuatan semen pertama kali dilakukan dengan cara membakar campuran tanah
liat dan batu kapur. Pada tahun 1824, orang Inggris bernama Joseph Aspdin yang
mencoba membuat semen dari kalsinasi campuran tanah liat dan batu kapur yang
dihaluskan, digiling dan dibakar menjadi lelehan dalam tungku, sehingga terjadi
penguraian batu kapur (CaCO3) menjadi batu tohor (CaO) serta karbondioksida (CO2).
Batuan kapur tohor (CaO) bereaksi[21] dengan senyawa-senyawa lain membentuk
klinker yang kemudian sebagai portland.

b) Pengertian Semen
Semen berasal dari bahasa latin caementum yang berarti bahan perekat. Secara
sederhana, definisi semen adalah bahan perekat atau lem, yang bisa merekatkan bahan
bahan material lain seperti batu bata dan batu koral hingga bisa membentuk sebuah
bangunan. Sedangkan dalam pengertian secara umum semen diartikan sebagai bahan
perekat yang memiliki sifat mampu mengikat bahan bahan padat menjadi satu kesatuan
yang kompak dan kuat (Bonardo Pangaribuan, 2013).
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 15-2049-2004, semen
portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling terak (clinker)
portland terutama yang terdiri dari kalsium silikat ([Link]₂) yang bersifat hidrolis dan
digiling bersama sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal
senyawa kalsium sulfat ([Link]₂O) dan boleh ditambah dengan bahan tambahan lain.

3
Hidrolis berarti sangat senang bereaksi dengan air, senyawa yang bersifat hidrolis akan
bereaksi dengan air secara cepat. Semen portland bersifat hidrolis karena di dalamnya
terkandung kalsium silikat (xCaO.SiO2) dan kalsium sulfat (CaSO4.xH2O) yang bersifat
hidrolis dan sangat cepat bereaksi dengan air. Reaksi semen dengan air berlangsung
secara irreversible, artinya hanya dapat terjadi satu kali dan tidak bisa kembali lagi
ke kondisi semula.

c) Jenis-Jenis Semen
Beberapa jenis semen diantaranya sebagai berikut:
- Semen Portland Tipe I.
Dikenal sebagai Ordinary Portland Cement (OPC) yang merupakan semen hidrolisis yang
dipergunakan secara luas untuk konstruksi umum, seperti konstruksi bangunan yang tidak
memerlukan persyaratan khusus, seperti perumahan, bangunan, jembatan, gedung-gedung
bertingkat, jalan raya dan landasan pacu.
- Semen Portland Tipe II.
Dikenal sebagai semen yang mempunyai ketahanan terhadap sulfat dan panah hidrasi
sedang. Contohnya untuk bangunan pinggir laut, dermaga, tanah rawa, beton massa,
bendungan dan saluran irigasi.
- Semen Portland Tipe III.
Merupakan semen yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bangunan yang
memerlukan kekuatan tekan awal yang tinggi setelah proses pengecoran dilakukan dan
memerlukan penyelesaian secepat mungkin. Contohnya digunakan untuk pembuatan
bangunan tingkat tinggi, bandar udara dan jalan raya.
.- Semen Portland Tipe V.
Semen ini dipakai untuk konstruksi bangunan-bangunan pada air/tanah yang mengandung
sulfat tinggi dan sangat cocok untuk konstruksi dalam air, instalasi pengolahan limbah
pabrik, jembatan, pembangkit tenaga nuklir, pelabuhan dan terowongan.
- Special Blended Cement (SBC).
Semen ini merupakan semen khusus yang diciptakan untuk pembangunan mega proyek
jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) dan cocok digunakan untuk bangunan di
lingkungan air laut. Dikemas dalam bentuk curah.
- Portland Pozzolana Cement (PPC).
Semen hidrolisis yang dibuat dengan menggiling terak, gypsum dan pozzolan. Digunakan
untuk bangunan umum dan bangunan yang memerlukan ketahanan sulfat dan panas

4
hidrasi sedang. Misalnya jalan raya, jembatan, perumahan, dermaga, bendungan, beton
massa, bangunan irigasi dan fondasi pelat penuh.
d) Fungsi Semen
a. Sifat Fisika Semen
1) Hidrasi Semen
Hidrasi pada semen[79] terjadi jika ada kontak antara mineral alam dalam semen
dengan air. Faktor-faktor yang mempengaruhi rekasi hidrasi diantaranya jumlah
air[80] yang ditambahkan, temperatur, kehalusan semen dan bahan tambahan.
Faktorfaktor tersebut yang akan mengakibatkan terbentuknya pasta semen yang mana
dalam jangka waktu[81] tertentu akan mengalami pengerasan.
2) Panas Hidrasi
Panas hidrasi adalah panas yang dihasilkan oleh reaksi hidrasi (reaksi eksoterm)[82]
apabila semen dicampur dengan air.
3) Setting time dan Hardening
Setting time[83] sangat dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban relatif. Setting
time akan menurun jika klinker tidak terbakar sempurna, partikel semen halus,
tingginya kandungan alumina, alkali dan soda kasutik. Setting time akan meningkat
jika klinker dibakar pada temperatur yang sangat tinggi, partikel semen kasar,
gypsum yang ditambahkan berlebih, tingginya kadar silika, Natrium Klorida (NaCl)
[84], Barium Klorida (BaCl2), Sulfida (SO3), senyawa sulfat dan air sadah.
4) False set
False set merupakan hasil dari dehidrasi gypsum yang disebabkan karena
pemanasan berlebih. False set merupakan proses pengerasan semen yang tidak
normal apabila air ditambahkan ke dalam semen, sehingga dalam beberapa menit
pengerasan segera terjadi. Pengerasan ini terjadi karena adanya CaSO4.1/2H2O
dalam semen. Plastisitas akan diperoleh apabila campuran tersebut diaduk kembali.
False set[85] dapat dihindari dengan mengatur temperatur semen saat penggilingan di
dalam Cement Mill agar gypsum tidak berubah menjadi CaSO4.1/2H2O, selain itu
gypsum yang digunakan harus cukup kuat dan belum di dehidrasi.
5) Kuat tekan
Kuat tekan adalah kemampuan suatu material menahan beban. Kuat tekan sangat
diperlukan dalam menetukan mix design dari beton untuk suatu konstruksi tertentu.
Nilai kuat tekan akan meningkat[86] jika nilai Lime Saturation Factor (LSF) tinggi,
nilai alumina Ratio rendah, nilai silica Ratio tinggi, kandungan SO3 rendah, dan
tingkat kehalusan semen tinggi.

5
6) Kelembaban
Semen mudah menyerap[87] uap air dan CO2
[88] dari udara selama penyimpanan atau
pengangkutan. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya kualitas[89] semen.
7) Penyusutan
Ada tiga macam penyusutan yang terjadi pada pasta semen dalam campuran beton,
yaitu Hidration Shrinkage, Drying Shrinkage[90] dan Carbonation Shrinkage. Yang
paling mempengaruhi keretakan beton adalah Drying Shrinkage. Penyusutan terjadi
karena[91] adanya penguapan air bebas dari pasta semen selama proses Setting time
dan Hardening.
8) Daya Tahan Semen terhadap Asam dan Sulfat
Pada umumnya daya tahan semen terhadap asam lemah, sehingga mudah
terdekomposisi atau terurai oleh asam-asam kuat seperti asam klorida (HCl) dan
asam sulfat (H2SO4).
9) Kehalusan (Blaine)
[92]
Semakin halus semen, panas hidrasi, kebutuhan air satu per satuan berat semen akan
semakain tinggi, serta reaksi hidrasi akan semakin cepat.
10) Napa soil
Penambahan Napa soil menyebabkan tingginya kadar SiO2, Al2O3, Fe2O3 dalam
semen, sedangkan komposisi lain dalam semen seperti CaO, MgO, dan SO3
menurun.[93]
b. Sifat Kimia Semen
1) Hilang Pijar (LOI)[94]
Pada semen sifat ini disebabkan karena terjadinya penguapan air kristal yang berasal
dari gypsum serta penguapan CO2.
2) Silica Ratio (SR)[95]
Perubahan Silica Ratio dapat menyebabkan perubahan pada pembentukan Coating
pada Burning Zone dan Burnability Clinker. Silica Ratio yang rendah dapat
menyebabkan Raw meal mudah dibakar, temperatur klinkerisasi rendah, cenderung
membentuk ring coating dalam Kiln apalagi bila Lime Saturation Factor (LSF)
rendah, kekuatan awal tinggi tetapi dengan pertambahan waktu sedikit sekali
kenaiknannya, dan C3S banyak.
3) Alumina Ratio (AR)
Jika nilai alumnia ratio (AR) tinggi, maka akan menurunkan silica ratio (SR), sehingga

6
akan menghasilkan[96] semen dengan waktu pengikatan yang cepat. Jika Alumina Ratio
(AR) rendah maka akan menyebabkan semen yang dihasilkan tahan terhadap sulfat
yang tinggi, mudah dibakar, temperatur klinkerisasi lebih rendah, reaksi klinkerisasi
lebih cepat, fasa cair banyak dan resitensi terhadap uap air laut serta senyawa[97] kimia
tinggi.

B. Standar Pengujian Sifat Fisik


Kode standar pengujian semen adalah IS 4031. Sementara itu, beberapa
pengujian umum yang dilakukan pada semen, antara lain:
1. Uji kuat tekan
2. Uji kehalusan,
3. Uji panas hidrasi
4. , Uji ketahanan,
5. Uji waktu pengikatan.

7
BAB II
PENGUJIAN SEMEN

A. Pengujian Kehalusan Semen Portland


1. Alat
a. Saringan No. 100 dan No. 200 dan PAN sesuai menurut standar ASTM,
b. Neraca analitik kapasitas maksimum 2000 gram dengan ketelitian 0,1 %,
c. Kuas dengan ukuran tangkai dan bulu kusa yang sesuai untuk keperluan ini,
d. Cawan,
e. Alat Pengaduk.
2. Bahan
a. Semen portland ( merk Merah Putih) sebanyak 50 gram.
3. Proses
a. Masukan benda uji semen ke dalam saringan No. 100 yang terletak di atas
saringan 200 No. 200 dan dipasang PAN dibawahnya,
b. Goyangkan saringan ini perlahan-lahan, sehingga bagian benda uji yang
tertahan kelihatan bebas dari pertikel-partikel halus (pekerjaan ini dilakukan
antara 3 sampai 4 menit).
c. Tutuplah saringan dan lepaskan PAN, ketok saringan perlahan-lahan
dengan tangkai kuas sampai abu yang menempel terlepas dari saringan.
d. Bersihkan sisi bagian bawah saringan dengan kuas, kosongkan PAN dan
bersihkan dengan kain kemudian pasang kembali.
e. Ambilah tutup saringan dengan hati-hati, bila ada partikel kasar yang
menempel pada tutup kembalikan ke dalam saringan.
f. Lanjutkan penyaringan dengan menggoyang-goyangkan saringan perlahan-
lahan selama 9 menit.
g. Tutuplah saringan, penyaringan dilanjutkan selama 1 menit dengan cara
menggerakan saringan ke depan dan ke belakang dengan posisi sedikit
dimiringkan. Kecepatan gerakan kira-kira 150 kali permenit, setiap 25 kali
gerakan putar saringan kira-kira 60 deg . Pekerjaan ini dilakukan di atas
kertas putih, bila ada partikel yang keluar dari saringan dan atau PAN serta
tertampung di atas kertas, kembalikan ke dalam saringan. Pekerjaan

8
dihentikan setelah benda uji tidak lebih dari 0,05 gram lewat saringan dalam
waktu penyaringan selama 1 menit.
h. Timbang benda uji yang tertahan di atas masing-masing saringan No. 100
dan No. 200, kemudian hitung dan nyatakan dalam prosentase berat
terhadap benda uji semula.
4. Hasil pengujian
Hasil pengujian didapat dengan melalui proses praktikum untuk
mendapat data dan di substitusikan dalam rumus :
A
(F)= x 100%
B
Dengan :
F = Kehalusan semen portland
A = Berat benda uji yang tertahan diatas masing-masing saringan No. 100 dan
No. 200
B = Berat benda uji semula
Data dari percobaan :
Berat Pan Saringan 100 Saringan 200

Sebelum 301,8 g 330,6 g 327,2 g


Setelah 346,6 g 330,8 g 330 g
Perhitungan data A :
Pan : 346,6 g - 301,8g = 44,8 g
Saringan 100 : 330,6 g - 330,8 g = 0,2 g
Saringan 200 : 330 g - 327,2 g = 2,8 g
Total = 47,8 g
Data B : 50 g ( didapat dari berat benda uji semula)
Sehingga :
47 , 0 g
F= x 100%
50 g
= 95,6 g
5. Analisa dibandingkan dengan data standar

9
B. Pengujian Berat Jenis Semen Portland
1. Alat
a. 1 Botol Le Chatelier
b. 2 Thermometer
c. 1 Bejana Baja
d. 2 Cawan
e. Neraca Analitik
2. Bahan
a. Semen portland ( merk Merah Putih) sebanyak 64 gram.
b. Air suling
f. Kerosin bebas air atau naptha dengan berat jenis 62 API ( American
Petrolium Institute)
3. Proses
a. Isi botol Le Chatelier dengan kerosin atau naptha sampai antara skala 0 dan 1,
bagian dalam botol di atas permukaan cairan dikeringkan,
b. Masukan botol ke dalam bak air dengan suhu konstan dalam waktu yang
cukup lama untuk menghindari variasi suhu botol lebih besar dari 0,2° C,
c. Setelah suhu air sama dengan suhu cairan dalam botol, baca skala pada botol
(V1),
d. Masukan benda uji sedikit demi sedikit ke dalam botol, usahakan jangan
sampai terjadi ada semen yang menempel pada dinding dalam botol di atas
cairan,
e. Setelah semua benda uji dimasukan, putar botol dengan posisi miring secara
perlahan-lahan sampai gelembung udara tidak timbul lagi pada permukaan
cairan,
f. Ulangi pekerjaan pada poin b. Setelah suhu air sama dengan suhu cairan
dalam botol, baca skala pada botol (V2).

10
4. Hasil pengujian
Hasil pengujian didapat dengan melalui proses praktikum untuk
mendapat data dan di substitusikan dalam rumus :

Berat Semen
Berat Jenis Semen= xd
(V 2−v 1)
Dengan :
V1 = Pembacaan pertama pada skala botol
V2 = Pembacaan kedua pada skala botol
(V1-V2) = Isi cairan yang dipindahkan oleh semen dengan berat tertentu
d = Berat isi air pada suhu 4" C (1 gr/cm³)
Data dari percobaan :
Percobaan V1 V2 Saringan 200
Pertama 0.3 mm 22.2 mm 327,2 g
Kedua 0,2 mm 21,8 mm 330 g
Data Berat Semen : 64 g
Data berat isi air pada suhu 4 C (d) : 1 gr/cm³
Perhitungan percobaan pertama :
64 g
Berat Jenis Semen= x1
(22 , 2 mm−0 ,3 mm)
= 2,922

Perhitungan percobaan kedua :


64 g
Berat Jenis Semen= x1
(21 , 8 mm−0 , 2mm)
= 2,963
Cari Selisih dari kedua percobaan :
=2,963 - 2,922 = 0.041 ( Tidak memenuhi standar yang diijinkan)

5. Analisa dibandingkan dengan data standar

11
C. Pengujian Konsistensi Normal Semen Portland
1. Alat
a. Neraca, dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh yang ditimbang,
b. Gelas ukur 200 ml, dengan ketelitian 1 (satu) ml,
c. 1 set alat Vicat yang terdiri dari alat Vicat dan cincin konik (cinical ring),
d. Stopwatch,
e. Sendok perata (spatula),
f. Alat pengaduk,
g. Sarung tangan karet,
h. Air suling sebanyak ± 300 cm³.
2. Bahan
a. Semen Portland ( merk Merah Putih) sebanyak 300 gram
b. Air suling sebanyak 28%
3. Proses
a. Masukan air pencampur berupa air suling sebanyak 28% dari berat benda uji
ke dalam mangkok alat pengaduk,
b. Masukan benda uji ke dalam mangkok pengaduk dan diamkan selama 30
detik,
c. Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan (140±5) rpm, selama 30 detik,
d. Hentikan mesin pengaduk selama 15 detik, sementara itu bersihkan pasta yang
menempel di pinggir mangkok,
e. Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan (285 ± 10) rpm selama 1 menit,
f. Buatlah pasta berbentuk seperti bola dengan tangan yang menggunakan
sarung tangan, kemudian dilemparkan 6 (enam) kali dari satu tangan ketangan
yang lain dengan jarak kira-kira 15 cm,
g. Pegang bola pasta dengan satu tangan, kemudian tekankan ke dalam cincin
konik yang dipegang dengan tangan lain melalui lobang besar, sehingga cincin
konik penuh dengan pasta,
h. Kelebihan pasta pada cincin konik diratakan dengan sendok perata yang
digerakan dalam posisi miring terhadap permukaan cincin,

12
i. Letakan pelat kaca pada lubang besar cincin konik, kemudian balikan,
ratakan dan licinkan kelebihan pasta pada lobang kecil cincin konik dengan
sendok perata,
j. Letakan cincik konik dibawah jarum besar alat Vicat, dan kontakan jarum
tepat pada bagian tengah permukaan pasta,
k. Jatuhkan jarum dan catat penurunan yang berlangsung selama 30 detik.
4. Hasil pengujian
Hasil pengujian didapat dengan melalui proses praktikum untuk
mendapat data dan di substitusikan dalam rumus :
Berat Air
Konsistensi= x 100%
Berat Semen
Data dari percobaan :
Berat Pan Saringan 100 Saringan 200

Sebelum 301,8 g 330,6 g 327,2 g


Setelah 346,6 g 330,8 g 330 g
Perhitungan data A :
Pan : 346,6 g - 301,8g = 44,8 g
Saringan 100 : 330,6 g - 330,8 g = 0,2 g
Saringan 200 : 330 g - 327,2 g = 2,8 g
Total = 47,8 g
Data B : 50 g ( didapat dari berat benda uji semula)
Sehingga :
47 , 0 g
F= x 100%
50 g
= 95,6 g

5. Analisa dibandingkan dengan data standar

D. Pengujian Waktu Pengikatan Semen Portland


1. Alat
a. Neraca, dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh yang ditimbang,
b. Gelas ukur isi 500 ml atau 1000 ml, dengan ketelitian 1 (satu) ml,
c. 1 (satu) set alat Vicat yang dilengkapi dengan:
- Batang Jarum pada ujung plunyer berdiameter 17,5 ± 0,5 mm, untuk
menentukan konsistensi normal,

13
Berat batang + plunyer = 400 plus/minus 0.5 gram,
- Jarum Vicat dari baja tahan karat dengan diameter 2 plus/minus 0 ,05 mm,
- Cincin konik dari kuningan sebagai cetakan dengan diameter 76 plus/minus 0.5
mm, dan tinggi 40 plus/minus 1 mm, dengan permukaan bagian dalam harus rata
dan licin,
- Kaca datar, tebal 3 (tiga) mm,
- Alat pemadat atau penumbuk, ukuran 13 * 25 * 120mm,
d. Stopwatch,
e. Sendok perata (spatula),
f. Alat pengaduk,
g. Sarung tangan karet,
h. Air suling sebanyak kurang lebih 300 cm ^ 3,
I. Cawan.
2. Bahan
a. Semen portland (merk Merah Putih) sebanyak 300 gram,
b. Air suling sebanyak 25% atau
c.
3. Proses
a. Masukan air pencampur berupa air suling yang banyaknya sesuai dengan jumlah air
untuk mencapai konsistensi normal ke dalam alat pengaduk,
b. Masukan benda uji ke dalam mangkok pengaduk dan diamkan selama 30 detik,
c. Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan (140±5) rpm, selama 30 detik,
d. Hentikan mesin pengaduk selama 15 detik, sementara itu bersihkan pasta yang
menempel di pinggir mangkok,
e. Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan (285 ± 10) rpm selama 1 (satu) menit,
f. Buatlah pasta berbentuk seperti bola dengan tangan yang menggunakan sarung
tangan, kemudian dilemparkan 6 (enam) kali dari satu tangan ketangan yang lain
dengan jarak kira-kira 15 cm,
g. Pegang bola pasta dengan satu tangan, kemudian tekankan ke dalam cincin konik
yang dipegang dengan tangan lain melalui lobang besar, sehingga cincin konik
penuh dengan pasta,
h. Kelebihan pasta pada cincin konik diratakan dengan sendok perata yang digerakan
dalam posisi miring terhadap permukaan cincin,
i. Letakan pelat kaca pada lobang besar cincin konik, kemudian balikan, ratakan dan
licinkan kelebihan pasta pada lobang kecil cincin konik dengan sendok perata,

14
j. Letakan cincik konik dibawah jarum kecil alat Vicat, dan kontakan jarum tepat pada
bagian tengah permukaan pasta,
k. Jatuhkan jarum setiap 15 menit sampai mencapai penurunan di bawah 25 mm, setiap
menjatuhkan jarum catatlah penurunan yang berlangsung selama 30 detik. Jarak
antara titik-titik setiap menjatuhkan jarum adalah 1/2 cm dan jarak titik dari pinggir
cincin konik tidak boleh kurang dari 1 cm.

4. Hasil pengujian
Hasil pengujian didapat dengan melalui proses praktikum untuk
mendapat data sebagai berikut :
No. Waktu Penurunan Jam

1. 30 detik 44 mm 07.50
2. 30 detik 44 mm 08.06
3. 30 detik 44 mm 08.22
4. 30 detik 39 mm 08.39
5. 30 detik 39 mm 08.54
6. 30 detik 30 mm 09.11
7. 30 detik 22 mm 09.25
8. 30 detik 15 mm 09.28
9. 30 detik 6 mm 09.29
10. 30 detik 4 mm 0.31

Waktu percobaan :
= 09.29 - 07.50
= 1 Jam 39 Menit
(Memenuhi standar waktu pengikatan yaitu 45 menit sampai paling lambat 10 jam)
5. Analisa dibandingkan dengan data standar

15
E. Pengujian Kekekalan Semen Portland Dengan Kue Rebus
1. Alat
a. Neraca, dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh yang ditimbang,
b. Gelas ukur isi 500 ml atau 1000 ml, dengan ketelitian 1 (satu) ml,
c. Kaca datar, tebal 3 (tiga) mm dengan ukuran 15 x 15 cm,
d. Stopwatch,
e. Sendok perata (spatula),
f. Alat pengaduk,
g. Sarung tangan karet,
h. Air suling sebanyak ± 300 cm³,
i. Cawan.
2. Bahan
a. Semen portland ( merk Merah Putih) sebanyak 650 gram.
b. Air suling sebanyak 25% atau
3. Proses
a. Masukan air pencampur berupa air suling yang banyaknya sesuai dengan
jumlah air untuk mencapai konsistensi normal ke dalam alat pengaduk,
b. Masukan benda uji ke dalam mangkok pengaduk dan diamkan selama 30
detik,
c. Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan (140 ± 5) rpm, selama 30 detik,
d. Hentikan mesin pengaduk selama 15 detik, sementara itu bersihkan pasta yang
menempel di pinggir mangkok,
e. Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan (285 ± 10) rpm selama 1 (satu)
menit,
f. Ambil pasta sekepal tangan dan letakan di atas plat kaca,
g. Bentuk pasta tersebut seperti kue (lihat gambar) dengan diameter 12 cm dan
tinggi dibagian tengahnya 13 mm dengan mengecil tebalnya kebagian pinggir,
h. Diamkan kue tersebut di ruang lembab selama 24 jam,

16
i. Masukan kue tersebut ke dalam air, kemudian air tersebut dididihkan
(waktu pendidihan 30 menit) dan kue terus direbus selama 3 jam,
j. Setelah itu angkat kue tersebut dan perhatikan keadaan fisiknya, apakah
terjadi perubahan bentuk misalnya retak, pecah atau menunjukan
perubahan bentuk lain.

4. Hasil pengujian
Hasil pengujian didapat dengan melalui proses praktikum untuk
mendapat hasil sebagai berikut :
1. Setelah dilakukan perebusan, Kue Rebus tidak mengalami perrubahan
bentuk dan,
2. Kue Rebus mengeluarkan kapur dengan jumlah yang lumayan banyak yang
berarti jenis semen yang digunakan ( merk Merah Putih) memiliki jumlah
kandungan kapur yang lumayan banyak.

5. Analisa dibandingkan dengan data standar

17
F. Pengujian Kekuatan Tekan Mortar Semen Portland
1. Alat
a. Neraca, dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh yang ditimbang.
b. Gelas ukur isi 500 ml atau 1000 ml, dengan ketelitian 1 (satu) ml.
c. Stopwatch.
d. Sendok perata (spatula).
e. Alat pengaduk.
f. Sarung tangan karet.
g. Air suling sebanyak ± 500 cm³.
h. Cawan.
i. Cetakan kubus 5 x 5 x 5 cm, dan Alat penumbuk/pemadat.
j. Pasir Silika/ Ottawa.
k. Meja Leleh (Flow Table).
2. Bahan
a. Semen portland ( merk Merah Putih) sebanyak 500 gram.
b. Air Suling sebanyak 30%
c. Pasir silika/ottawa sebanyak 1375 gram
3. Proses
a. Masukan air pencampur berupa air suling sebanyak 30% dari berat semen ke dalam
mangkok alat pengaduk,
b. Masukan benda uji semen sebanyak 500 gram ke dalam mangkok pengaduk,
c. Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan (140±5) rpm, selama 30 detik,
d. Masukan pasir silika/ ottawa sebanyak 1375 gram secara perlahan-lahan sambil
mesin pengaduk dijalankan dengan kecepatan (145±5) rpm, selama 30 detik,
e. Hentikan mesin pengaduk, kemudian naikan kecepatan putaran menjadi (285 ± 10)
rpm dan jalankan selama 30 detik,

18
f. Hentikan mesin pengaduk, dan segera bersihkan mortar yang menempel pada
pinggiran mangkok selama 15 detik, kemudian biarkan mortar selama 75 detik,
g. Aduklah mortar dalam mesin pengaduk dengan kecepatan pengaduk (285±10) rpm,
selama 1 (satu) menit,
h. Lakukan percobaan leleh dengan mengisikan mortar ke dalam cincin yang terletak di
atas meja leleh, cincin diisi dalam 2 (dua) lapis, dimana setiap lapis dipadatkan
dengan cara menumbuk sebanyak 20 kali. Ratakan permukaan mortar dengan sendok
perata dan angkatlah cincin kemudian, getarkan meja leleh sebanyak 25 kali selama
15 detik,
i. Ukurlah diameter leleh, sekurang-kurangnya pada 4 (empat) tempat dan ambil harga
rata-rata. Diameter leleh harus antara 100-115% dari diameter semula. Apabila
diameter leleh yang disyaratkan belum didapat, ulangi langkah- langkah di atas (dari
butir a sampai dengan i) dengan merubah kadar air,
j. Setelah diameter leleh yang disyaratkan didapat, mortar dimasukan ke dalam
mangkok pengaduk dan jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan (285±10) rpm
selama 15 detik,
k. 30 detik setelah selesai pengadukan, cetaklah mortar dengan cetakan kubus 15 x 15 x
15 cm, cetakan diisi dalam 2 (dua) lapis dimana setiap lapis dipadatkan dengan
penumbuk sebanyak 32 kali dalam 4 (empat) putaran (lihat gambar). Keseluruhan
waktu yang dipergunakan untuk mencetak mortar tidak boleh lebih dari 2 (dua)
menit,
l. Ratakan permukaan mortar dengan sendok perata, kemudian simpan di dalam Moist
cabinet selama 24 jam,
m. Bukalah cetakan dan rendamlah mortar dalam air bersih, kemudian periksalah
kekuatan tekan mortar dengan mesin tekan sesuai dengan umur yang diinginkan,
biasanya pada umur 3, 7 dan 28 hari.

4. Hasil pengujian
Hasil pengujian didapat dengan melalui proses praktikum untuk
mendapat data dan di substitusikan dalam rumus :
P
Kekuatan Tekan Mortar = ( kg/cm²)
A
Dengan :
P = Beban maksimum ( kg )
A = Luas permukaan benda uji ( cm² )

19
Data dari percobaan :
Percobaan Berat Luas permukaan Beban maksimum

Uji 1 272,8 g 25 cm² 29 kN


Uji 2 294,5 g 25 cm² 43 kN
Uji 3 279,5 g 25 cm² 33 kN

Perhitungan data percobaan 1 :


29 x 100
Kekuatan Tekan Mortar = ( kg/cm²)
25 cm²
= 116 kg
Perhitungan data percobaan 2 :
43 x 100
Kekuatan Tekan Mortar = ( kg/cm²)
25 cm ²
= 172 kg
Perhitungan data percobaan 3 :
33 x 100
Kekuatan Tekan Mortar = ( kg/cm²)
25 cm²
= 132 kg
116+172+132
Total = = 140 kg/cm²
3

5. Analisa dibandingkan dengan data standar

20
BAB III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
B. Kualitas
C. Saran

21
Daftar Pustaka
1. [Link]
2. [Link]
%20PRASETYADI_T.KIM%[Link]
3.

22

Anda mungkin juga menyukai