RABIES
No. Dokumen : 800/ /PKM CL/Kes. 5.1
No. Revisi : 00
SOP
Tanggal Terbit : Januari 2023
Halaman : 1/5
Nurul Huda, SKM
UPT PUSKESMAS
19731223200003 2
CUGUNG LALANG
001
Rabies adalah penyakit infeksi akut sistem saraf pusat yang
1. Pengertian
disebabkan oleh virus rabies yang termasuk genus Lyssa-virus,
family Rhabdoviridae dan menginfeksi manusia melalui gigitan
hewan yang terinfeksi (anjing, monyet, kucing, serigala,
kelelawar)
No. ICPC II : A77 Viral disease other/NOS
No. ICD X : A82.9 Rabies, Unspecified
Sebagai acuan petugas dalam penanganan pasien dengan Rabies
2. Tujuan
SK Kepala UPT Puskesmas Cugung Lalang No: 800/ /UPT PKM
3. Kebijakan
CL/Kes.5.1 Tentang Pelayanan klinis
4. Referensi 1. Undang Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan
2. Permenkes RI Nomer 5 Tahun 2014 Tentang Panduan Praktek
Klinik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
Keputusan Menteri Kesehatan [Link].01.07/MENKES/1186/
2022 [Link] Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer
5. Prosedur/ Alat dan Bahan :
Langkah-langkah 1. ATK
2. Rekam Medis
3. Pen Ligh
4. Stetoskop
5. Tensi meter
6. Cairan desinfektan
7. Serum Anti Rabies
8. Vaksin Anti Rabies
Petugas : Dokter, Perawat dan Bidan yang mendapatkan
Pendelegasian Wewenang
Langkah Langkah :
1. Petugas melakukan anamnesis (Subjective)
Hasil Anamnesis
a. Keluhan
1) Stadium prodromal Gejala awal berupa demam,
malaise, mual dan rasa nyeri di tenggorokan
selama beberapa hari.
2) Stadium sensoris Penderita merasa nyeri, merasa
panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka
kemudian disusul dengan gejala cemas, dan reaksi
yang berlebihan terhadap rangsang sensoris.
3) Stadium eksitasi Tonus otot dan aktivitas simpatis
menjadi meninggi dan gejala hiperhidrosis,
hipersalivasi, hiperlakrimasi, dan pupil dilatasi.
Hal yang sangat khas pada stadium ini adalah
munculnya macam-macam fobia seperti hidrofobia.
Kontraksi otot faring dan otot pernapasan dapat
ditimbulkan oleh rangsangan sensoris misalnya
dengan meniupkan udara ke muka penderita. Pada
stadium ini dapat terjadi apneu, sianosis,
konvulsan, dan takikardia. Tindak tanduk
penderita tidak rasional kadang maniakal disertai
dengan responsif. Gejala eksitasi terus berlangsung
sampai penderita meninggal.
4) Stadium paralisis Sebagian besar penderita rabies
meninggal dalam stadium sebelumnya, namun
kadang ditemukan pasien yang tidak menunjukkan
gejala eksitasi melainkan paresis otot yang terjadi
secara progresif karena gangguan pada medulla
spinalis.
b. Anamnesis penderita terdapat riwayat tergigit,
tercakar atau kontak dengan anjing, kucing, atau
binatang lainnya yang:
Positif rabies (hasil pemeriksaan otak hewan
tersangka).
Mati dalam waktu 10 hari sejak menggigit bukan
dibunuh).
Tak dapat diobservasi setelah menggigit (dibunuh,
lari, dan sebagainya).
Tersangka rabies (hewan berubah sifat, malas
makan, dan lain-lain).
c. Masa inkubasi rabies 3-4 bulan (95%), bervariasi
antara 7 hari-7 tahun. Lamanya masa inkubasi
dipengaruhi oleh dalam dan besarnya luka gigitan, dan
lokasi luka gigitan (jauh dekatnya ke sistem saraf
pusat, derajat patogenitas virus dan persarafan daerah
luka gigitan). Luka pada kepala inkubasi 25-48 hari,
dan pada ekstremitas 46-78 hari.
d. Faktor Risiko: -
2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang (Objective)
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang
Sederhana
a. Pemeriksaan Fisik
1. Pada saat pemeriksaan, luka gigitan mungkin
sudah sembuh bahkan mungkin telah dilupakan.
2. Pada pemeriksaan dapat ditemukan gatal dan
parestesia pada luka bekas gigitan yang sudah
sembuh (50%), mioedema (menetap selama
perjalanan penyakit).
3. Jika sudah terjadi disfungsi batang otak maka
terdapat: hiperventilasi, hipoksia, hipersalivasi,
kejang, disfungsi saraf otonom, sindroma
abnormalitas ADH, paralitik/paralisis flaksid.
4. Pada stadium lanjut dapat berakibat koma dan
kematian.
5. Tanda patognomonis Encephalitis Rabies: agitasi,
kesadaran fluktuatif, demam tinggi yang persisten,
nyeri pada faring terkadang seperti rasa tercekik
(inspiratoris spasme), hipersalivasi, kejang,
hidrofobia dan aerofobia.
b. Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium kurang bermakna.
3. Petugas menegakan Diagnosis (Assessment)
a. Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan dengan riwayat gigitan (+) dan
hewan yang menggigit mati dalam 1 minggu. Gejala
fase awal tidak khas: gejala flu, malaise, anoreksia,
kadang ditemukan parestesia pada daerah gigitan.
Gejala lanjutan: agitasi, kesadaran fluktuatif, demam
tinggi yang persisten, nyeri pada faring terkadang
seperti rasa tercekik (inspiratoris spasme),
hipersalivasi, kejang, hidrofobia dan aerofobia.
b. Diagnosis Banding
1. Tetanus.
2. Ensefalitis.
3. lntoksikasi obat-obat.
4. Japanese encephalitis.
5. Herpes simplex.
6. Ensefalitis post-vaksinasi.
c. Komplikasi
1. Gangguan hipotalamus: diabetes insipidus,
disfungsi otonomik yang menyebabkan hipertensi,
hipotensi, hipo/hipertermia, aritmia dan henti
jantung.
2. Kejang dapat lokal atau generalisata, sering
bersamaan dengan aritmia dan dyspneu.
4. Petugas merencanakan Penatalaksanaan Komprehensif
(Plan)
a. Penatalaksanaan
1. Isolasi pasien penting segera setelah diagnosis
ditegakkan untuk menghindari rangsangan-
rangsangan yang bisa menimbulkan spasme otot
ataupun untuk mencegah penularan.
2. Fase awal: Luka gigitan harus segera dicuci dengan
air sabun (detergen) 5-10 menit kemudian dibilas
dengan air bersih, dilakukan debridement dan
diberikan desinfektan seperti alkohol 40-70%,
tinktura yodii atau larutan ephiran, Jika terkena
selaput lendir seperti mata, hidung atau mulut,
maka cucilah kawasan tersebut dengan air lebih
lama; pencegahan dilakukan dengan pembersihan
luka dan vaksinasi.
3. Fase lanjut: tidak ada terapi untuk penderita rabies
yang sudah menunjukkan gejala rabies,
penanganan hanya berupa tindakan suportif dalam
penanganan gagal jantung dan gagal nafas.
4. Pemberian Serum Anti Rabies (SAR) Bila serum
heterolog (berasal dari serum kuda) Dosis 40 IU/
kgBB disuntikkan infiltrasi pada luka sebanyak-
banyaknya, sisanya disuntikkan secara IM. Skin test
perlu dilakukan terlebih dahulu. Bila serum
homolog (berasal dari serum manusia) dengan
dosis 20 IU/ kgBB, dengan cara yang sama.
5. Pemberian serum dapat dikombinasikan dengan
Vaksin Anti Rabies (VAR) pada hari pertama
kunjungan.
6. Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dalam waktu
10 hari infeksi yang dikenal sebagai post-exposure
prophylaxis atau “PEP”VAR secara IM pada otot
deltoid atau anterolateral paha dengan dosis 0,5 ml
pada hari 0, 3, 7,14, 28 (regimen Essen atau
rekomendasi WHO), atau pemberian VAR 0,5 ml
pada hari 0, 7, 21 (regimen Zagreb/rekomendasi
Depkes RI).
7. Pada orang yang sudah mendapat vaksin rabies
dalam waktu 5 tahun terakhir, bila digigit binatang
tersangka rabies, vaksin cukup diberikan 2 dosis
pada hari 0 dan 3, namun bila gigitan berat vaksin
diberikan lengkap.
8. Pada luka gigitan yang parah, gigitan di daerah
leher ke atas, pada jari tangan dan genitalia
diberikan SAR 20 IU/kgBB dosis tunggal. Cara
pemberian SAR adalah setengah dosis infiltrasi
pada sekitar luka dan setengah dosis IM pada
tempat yang berlainan dengan suntikan SAR,
diberikan pada hari yang sama dengan dosis
pertama SAR.
b. Konseling dan Edukasi
1. Keluarga ikut membantu dalam halpenderita
rabies yang sudah menunjukan gejala rabies untuk
segera dibawa untuk penanganan segera ke
fasilitas kesehatan. Pada pasien yang digigit hewan
tersangka rabies, keluarga harus menyarankan
pasien untuk vaksinasi.
2. Laporkan kasus Rabies ke dinas kesehatan
setempat.
c. Kriteria Rujukan
1. Penderita rabies yang sudah menunjukkan gejala
rabies.
2. Dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder
yang memiliki dokter spesialis neurolog.
6. Bagan Alir Petugas
Petugas melakukan
melakukan
pemeriksaan fisik
anamnesa
dan penunjang
Petugas
Petugas
merencanakan menegakkan
penatalaksanaan diagnosa
7. Hal-hal Yang perlu
Diperhatikan
1. pelayanan umum
8. Unit Terkait
2. pelayanan ugd
1. Rekam Medis
9. Dokumen Terkait
2. Inform Consent
10. Rekaman histori
perubahan Tanggal mulai
NO Yang diubah Isi Perubahan
diberlakukan