0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan22 halaman

Proses Dewatering dalam Pertambangan

cariko di jurnal jng ko kopas saja pakk...wkwkwkw

Diunggah oleh

Hadrian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan22 halaman

Proses Dewatering dalam Pertambangan

cariko di jurnal jng ko kopas saja pakk...wkwkwkw

Diunggah oleh

Hadrian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN


PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertambangan adalah kegiatan pengambilan mineral, minyak, gas dan batubara


dari dalam bumi. Secara sederhana pertambangan adalah suatu kegiatan yang
dilakukan dengan penggalian ke dalam tanah untuk mendapatkan sesuatu yang berupa
hasil tambang (mineral, minyak dan batubara). Dalam kegiatan pertambangan dapat
memanfaatkan tanah yang terdapat dalam kawasan hutan, pada prinsipnya harus sesuai
dengan fungsi dan peruntukkannya, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan
penggunaannya yang menyimpang dengan fungsi. Pertambangan yaitu sebagian atau
seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengolahan dan penguasaan
mineral atau batu bara yang meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan konstruksi, penggalian, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan
pengangkutan penjualan, serta kegiatan pasca penambangan (Yulian, 2020).
Dewatering merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi kandungan
air yang ada pada konsentrat yang diperoleh dengan proses basah, misalnya proses
konsentrasi gravitasi dan floitasi. Operasi pengeringan bahan diperlukan setelah proses
konsentrasi mineral agar kapasitas material selama transportasi dapat di minimalisir.
Selain pengeringan sebuah konsentrat atau material, dewatering juga biasa dikenal di
penambangan untuk mengurangi air yang menggenang di lokasi tambang. Untuk itu
diperlukan sebuah sistem penyaliran di area penambangan yang sesuai dengan
persyaratan teknis, sehingga air hujan dll, dapat dikontrol (Adnyano dkk, 2020).
Dalam mekanisme kerja proses dewatering dalam upaya penghilangan atau
pengurangan kadar air pada material dapat memanfaatkan perbedaan densitas antara
material dengan air hingga material dapat mengendap di dasar tangki, memanfaatkan
gaya sentrifugal yang menyebabkan air merembes keluar sedangkan material tetap
tertahan atau menggunakan temperatur tinggi untuk menguapkan air pada material.
Setelah proses pengurangan kadar air didapatkan informasi mengenai berat material
setelah proses dewatering dengan waktu tertentu, menunjukkan pengurangan kadar air
yang berangsur-angsur, dengan data tersebut dapat ditentukan besar nilai dari kadar air
(moisture content) material dengan hasil pengurangan berat awal dan berat akhir
material banding berat awal yang kemudian dikali dengan 100% (Patta, 2024).
NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA
09320210275 09320220236
Dewatering - 105
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

1.2 Maksud dan Tujuan Praktikum

1.2.1 Maksud
Adapun maksud dari praktikum ini agar praktikan dapat mengenal, mengetahui
dan menguasai ilmu tentang pengolahan bahan galian dengan cara dewatering,
mekanisme dan cara kerja alat dewatering.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
a. Memahami mekanisme dewatering untuk menurunkan kadar air;
b. Mengetahui nilai moisture content pada material.

1.3 Alat dan Bahan

1.3.1 Alat
a. Oven;
b. Talang;
c. Cawan;
d. Neraca Analitik;
e. Perlengkapan Safety (Masker, Kacamata Safety, Helm Safety, dan Kaos
Tangan);
f. Jas Laboratorium;
g. Lap Kain.
1.3.2 Bahan
a. Sampel Pasir Besi 300 g;
b. Sampel Batubara 300 g;
c. ATM.

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 106
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dewatering

Dewatering adalah proses yang bertujuan untuk menghilangkan atau


mengurangi kandungan air dari material padat atau slurry (campuran material padat
dan cair) dalam berbagai industri. Dalam pengolahan bahan galian, dewatering
merupakan tahap penting yang dilakukan untuk memisahkan air dari hasil tambang
seperti konsentrat dan tailing. Tujuan utama dari dewatering adalah untuk
meningkatkan efisiensi transportasi, mengurangi berat material, mempermudah
penanganan dan mempersiapkan material untuk tahap pengolahan selanjutnya, seperti
peleburan atau pengeringan. Proses ini juga membantu meminimalkan volume limbah
cair yang memerlukan pengelolaan lebih lanjut, sehingga mendukung pengelolaan
lingkungan yang lebih baik (Imamuddin dkk, 2018).

Gambar 2.1 Alat penyaring slurry

Pada prinsipnya, dewatering memanfaatkan teknik mekanis, gravitasi atau


termal untuk memisahkan cairan dari padatan. Metode dewatering yang paling umum
meliputi thickening, filtrasi dan pengeringan termal. Thickening adalah proses
pengentalan material yang dilakukan menggunakan gaya gravitasi. Dalam alat yang
disebut thickener, slurry dialirkan ke dalam tangki besar, di mana partikel padat yang
lebih berat akan mengendap di dasar tangki, sementara air jernih akan mengalir keluar
NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA
09320210275 09320220236
Dewatering - 107
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

sebagai overflow. Thickening cocok untuk mengolah slurry dengan konsentrasi


material yang rendah. Setelah thickening, material dengan kadar air lebih rendah dapat
diproses lebih lanjut melalui filtrasi, di mana alat seperti filter press atau vacuum filter
digunakan untuk memisahkan air dari material padat menggunakan tekanan atau
vakum. Filtrasi sering digunakan untuk menghasilkan material dengan kadar air yang
sangat rendah, tergantung pada kebutuhan industri. Jika diperlukan, tahap selanjutnya
adalah pengeringan termal. Dalam proses ini, sisa air yang tidak dapat dihilangkan
melalui thickening atau filtrasi diuapkan menggunakan panas. Pengeringan termal
biasanya dilakukan menggunakan alat seperti rotary dryer atau fluidized bed dryer,
yang memanfaatkan panas untuk menguapkan air hingga mencapai kadar kelembaban
yang diinginkan. Metode ini sangat efektif untuk memastikan material benar-benar
kering, terutama jika akan digunakan untuk proses lanjutan seperti peleburan atau
produksi barang jadi. Namun, pengeringan termal membutuhkan energi yang besar,
sehingga penggunaannya harus direncanakan dengan efisiensi tinggi untuk
menghindari pemborosan sumber daya (Ihsanuddin dkk, 2020).

Gambar 2.2 Alat press material

Dewatering tidak hanya penting dalam pengolahan bahan galian, tetapi juga
memiliki dampak besar terhadap pengelolaan lingkungan. Dalam pengolahan tailing
misalnya, dewatering dilakukan untuk mengurangi volume limbah cair yang harus
disimpan di tailing storage facility (TSF). Tailing yang telah mengalami dewatering
cenderung lebih stabil secara fisik dan lebih mudah dikelola dibandingkan tailing yang

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 108
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

masih berupa slurry encer. Hal ini penting untuk mengurangi risiko bocornya limbah
cair ke lingkungan sekitar. Efisiensi dewatering sangat dipengaruhi oleh sifat material,
konsentrasi slurry, serta jenis peralatan yang digunakan. Material dengan partikel
halus, seperti tanah liat atau mineral dengan ukuran mikron, sering kali memerlukan
waktu yang lebih lama untuk ter-dewatering dibandingkan material dengan partikel
kasar. Selain itu, slurry dengan konsentrasi padatan rendah (kandungan air tinggi)
membutuhkan proses thickening yang lebih lama atau penggunaan alat berkapasitas
besar untuk meningkatkan efisiensi. Oleh karena itu, pengaturan konsentrasi material
dan pemilihan metode dewatering yang sesuai sangat penting untuk memastikan
keberhasilan proses ini.

Gambar 2.3 Alat sentrifuge


Secara keseluruhan, dewatering adalah proses yang tidak hanya berfungsi
untuk meningkatkan efisiensi operasional dalam pengolahan bahan galian, juga untuk
mendukung keberlanjutan lingkungan. Dengan menghilangkan air dari material,
proses ini membantu mengurangi beban transportasi, mempermudah melakukan
penyimpanan dan mempersiapkan material untuk langkah pengolahan berikutnya.
Kombinasi metode thickening, filtrasi dan pengeringan termal memungkinkan proses
dewatering berjalan optimal, memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang
signifikan bagi industri pengolahan bahan galian, sehingga pada proses berikutnya
dapat meminimalisir penggunaan sumber daya dan energi untuk mencapai hasil yang
optimal.

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 109
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

2.2 Konsentrasi Material

Konsentrasi material dalam slurry memiliki pengaruh yang signifikan terhadap


proses dewatering, baik dari segi efisiensi maupun metode yang digunakan.
Konsentrasi material mengacu pada persentase berat padatan dalam campuran air dan
material, yang pada dasarnya menggambarkan sejauh mana material tersebut terlarut
dalam air. Semakin tinggi konsentrasi material, semakin padat slurry tersebut dan
sebaliknya, semakin rendah konsentrasi material, semakin cair slurry tersebut. Pada
konsentrasi material yang rendah (dengan kadar air tinggi), proses dewatering dimulai
dengan pengentalan atau thickening. Dalam tahap ini, slurry dialirkan ke dalam
thickener, di mana proses pengendapan terjadi secara gravitasi. Partikel padat yang
lebih berat mengendap ke dasar, sementara air jernih yang lebih ringan akan mengalir
ke atas sebagai overflow. Namun, jika konsentrasi material terlalu rendah, proses
pengendapan ini bisa memakan waktu lebih lama karena air masih dominan, sehingga
membutuhkan area thickener yang lebih luas dan lebih banyak waktu untuk
mendapatkan konsentrasi padatan yang diinginkan. Oleh karena itu, pengaturan
jumlah bahan yang dimasukkan ke dalam slurry sangat penting untuk mencapai
keseimbangan antara kandungan air dan padatan (Nuryoto 2023).
Pada konsentrasi material yang lebih tinggi, proses dewatering memerlukan
metode lanjutan seperti filtrasi. Di tahap ini, material yang sudah terenkapsulasi dalam
slurry kental diproses menggunakan alat seperti filter press atau vacuum filter. Metode
ini menggunakan tekanan untuk memisahkan air dari padatan yang lebih padat.
Namun, pada konsentrasi yang lebih tinggi, potensi masalah muncul karena slurry
yang terlalu kental dapat menyebabkan alat filtrasi tersumbat, sehingga mempengaruhi
efisiensi dan durasi proses. Dalam kondisi ini, diperlukan perhatian lebih pada desain
peralatan dewatering yang harus mampu menangani slurry yang lebih padat tanpa
mengalami hambatan atau penurunan kinerja. Konsentrasi material juga
mempengaruhi proses pengeringan termal. Ketika material memiliki konsentrasi
tinggi, pengeringan termal dengan menggunakan rotary dryer atau fluidized bed dryer
menjadi cara yang efektif untuk mengurangi kadar air. Namun, pengeringan pada
material dengan konsentrasi sangat tinggi membutuhkan lebih banyak energi karena
air yang tersisa lebih sulit untuk diuapkan. Selain itu, konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan material menjadi lebih sulit dibentuk atau dicetak, sehingga peralatan
pengering harus disesuaikan untuk menangani tingkat viskositas yang lebih tinggi.
NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA
09320210275 09320220236
Dewatering - 110
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

Secara keseluruhan, hubungan antara konsentrasi material dan proses


dewatering sangat penting karena konsentrasi padatan dalam slurry menentukan jenis
peralatan dan teknik yang akan digunakan untuk menghilangkan air. Jika konsentrasi
material terlalu rendah, maka proses thickening harus lebih lama dan memerlukan area
yang lebih besar. Di sisi lain, pada konsentrasi yang tinggi, proses filtrasi dan
pengeringan memerlukan kontrol yang lebih ketat untuk mencegah peralatan
tersumbat dan memastikan efisiensi energi. Oleh karena itu, pengaturan konsentrasi
material yang optimal sangat penting untuk keberhasilan dewatering yang efektif dan
efisien, serta untuk menjaga kelancaran proses pengolahan bahan galian
secara keseluruhan.

2.3 Metode dan Tahapan Dewatering

Proses dewatering sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kadar bahan


mineral, mempermudah transportasi, serta dapat mendukung efisiensi proses
selanjutnya yang membutuhkan peleburan lebih lanjut. Namun beberapa bahan galian
tidak memerlukan peleburan, cukup hanya mengurangi atau menghilangkan kadar air
pada bahan galian tersebut. Dalam menentukan metode dewatering yang tepat untuk
pengolahan bahan galian, terdapat sejumlah faktor yang harus diperhatikan. Salah satu
faktor utama adalah sifat fisik material, seperti ukuran partikel, densitas dan kadar air
awal. Material dengan partikel halus, seperti lumpur atau lempung, biasanya
memerlukan metode khusus, seperti filtrasi vakum atau centrifuge, karena sifatnya
yang sulit dipisahkan dari air. Selain itu, sifat kimia material juga penting, terutama
jika material mengandung mineral berharga yang harus dijaga agar tidak hilang selama
proses. Jenis material yang akan di dewatering, seperti konsentrat, tailing atau lumpur,
juga menentukan metode yang digunakan. Misalnya, konsentrat logam memerlukan
kadar air rendah untuk mendukung proses peleburan, sedangkan tailing lebih fokus
pada stabilitas fisik untuk penyimpanan yang aman (Trijayanti dkk, 2022).
Adapun metode yang umum digunakan dalam proses dewatering untuk
mengurangi kadar air pada suatu material atau lokasi yakni:
1. Sedimentasi (settling), di mana dalam sedimentasi, partikel-partikel yang
lebih berat dibandingkan air akan tenggelam akibat gaya gravitasi. Proses
ini dipengaruhi oleh ukuran partikel, densitas material, viskositas cairan
dan waktu pengendapan. Untuk mempercepat proses sedimentasi, bahan

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 111
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

kimia flokulan atau koagulan sering ditambahkan agar partikel-partikel


kecil membentuk gumpalan yang lebih besar sehingga lebih cepat
mengendap.
2. Filtrasi, di mana pada proses filtrasi bekerja dengan memaksa cairan
melewati media berpori seperti kain, membran atau mesh, yang
memungkinkan air lewat tetapi menahan partikel padat. Filter press,
misalnya menggunakan plat-plat berlapis kain filter yang ditekan dengan
tekanan tinggi untuk memisahkan air. Vacuum filter memanfaatkan
tekanan vakum untuk menarik cairan melalui media filter, meninggalkan
residu padat di permukaan.
3. Pengeringan termal (thermal drying), proses ini menggunakan panas yang
dihasilkan dari pembakaran bahan bakar atau listrik untuk menguapkan air.
Rotary dryer adalah salah satu alat populer yang menggunakan tabung
berputar yang dipanaskan, di mana material terus bergerak agar kering
secara merata. Fluidized bed dryer menggunakan aliran udara panas untuk
membuat suatu partikel dapat melayang, sehingga meningkatkan efisiensi
pengeringan.
4. Pengurasan (dewatering screens), yakni menggunakan getaran untuk
memisahkan air dari padatan. Layar berpori memungkinkan air mengalir
keluar sementara material padat tetap berada di permukaan layar. Cyclones
juga sering digunakan sebagai bagian dari proses ini, di mana campuran air
dan mineral diputar dengan kecepatan tinggi dalam alat berbentuk kerucut,
memanfaatkan gaya sentrifugal untuk memisahkan partikel.
5. Centrifugation, menggunakan kecepatan putaran tinggi untuk menciptakan
gaya sentrifugal yang secara efektif memisahkan air dari padatan. Decanter
centrifuge, misalnya memiliki drum berputar horizontal yang membagi
material menjadi tiga fase: air, lumpur dan padatan kering. Basket
centrifuge menggunakan keranjang berlubang untuk menahan partikel
padat sementara air didorong keluar.
6. Penggunaan pompa atau saluran drainase, air yang terkumpul di area
tambang sering dipindahkan dengan menggunakan pompa dewatering atau
saluran drainase. Sistem drainase biasanya dirancang untuk mengarahkan
air gravitasi keluar dari area tambang, sedangkan pompa digunakan untuk

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 112
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

air di lokasi yang lebih dalam. Sistem ini juga dilengkapi dengan
perangkap lumpur untuk mencegah partikel padat masuk ke pompa.
7. Penggunaan geotextile dewatering bags, kantong geotekstil adalah alat
yang terdiri dari kain sintetis berpori yang memungkinkan air keluar tetapi
menahan partikel padat di dalamnya. Bahan yang dimasukkan ke dalam
kantong ini biasanya berupa lumpur atau tailing. Seiring waktu, air keluar
melalui pori-pori kain, meninggalkan residu padat yang dapat dibuang atau
dimanfaatkan.
Tujuan dewatering juga memengaruhi metode yang dipilih. Jika material akan
diangkut, pengurangan kadar air harus cukup signifikan untuk menekan biaya
transportasi. Sebaliknya, jika material akan diproses lebih lanjut, seperti peleburan
atau penggilingan, tingkat pengeringan yang lebih tinggi diperlukan. Kondisi
lingkungan di lokasi tambang, termasuk ketersediaan air, iklim dan regulasi
lingkungan, menjadi faktor tambahan yang memengaruhi pilihan metode. Misalnya,
di lokasi dengan curah hujan tinggi, diperlukan sistem yang mampu mengelola kadar
air dengan lebih efisien. Efisiensi metode dewatering juga perlu diperhatikan, baik dari
segi kecepatan proses maupun kapasitas produksi. Biaya operasional, seperti investasi
awal alat, konsumsi energi dan kebutuhan bahan kimia harus diperhitungkan untuk
memastikan proses berjalan secara ekonomis.
Selain itu, aspek pemeliharaan dan kompleksitas operasional juga
memengaruhi kelancaran penggunaan metode tertentu. Misalnya, peralatan seperti
centrifuge membutuhkan operator terampil dan pemeliharaan rutin untuk menjamin
kinerjanya. Faktor terakhir yang tidak kalah penting adalah ketersediaan teknologi dan
keamanan material hasil dewatering. Metode seperti thickener, filter press, centrifuge
atau belt press dapat dipilih berdasarkan kebutuhan spesifik operasi. Untuk mencapai
hasil yang optimal, sering kali digunakan kombinasi beberapa metode, misalnya
menggunakan thickener untuk pemisahan awal dan dilanjutkan dengan filter press
untuk pengeringan lanjutan. Dengan mempertimbangkan semua aspek ini, proses
dewatering dapat berjalan efisien, ekonomis dan berkontribusi pada keberlanjutan
pengolahan bahan galian.
Proses dewatering ini bertujuan untuk memisahkan air dari padatan sehingga
produk akhir memiliki kadar air yang sesuai standar, mempermudah transportasi,
mengurangi volume limbah cair dan mempersiapkan material untuk tahap selanjutnya

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 113
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

seperti pengeringan atau peleburan. Berikut adalah tahapan utama dalam proses
dewatering:
1. Thickening (pengentalan), mengurangi kandungan air pada slurry
(campuran air dan material) dengan meningkatkan konsentrasi padatan.
Slurry dimasukkan ke dalam thickener (alat berbentuk tangki besar),
partikel padatan mengendap karena gravitasi.
2. Filtration (penyaringan), menghilangkan air lebih lanjut dari lumpur hasil
thickener. Di mana dalam proses ini menggunakan media filter untuk
menahan material. Lumpur dialirkan ke filter (misalnya belt filter, vacuum
filter atau pressure filter). Air dipisahkan melalui media filter,
menghasilkan padatan yang lebih kering (filter cake).
3. Drying (pengeringan), pengeringan dilakukan dengan udara panas (rotary
dryer dan fluidized bed dryer) atau pemanasan langsung. Suhu dan waktu
pengeringan disesuaikan dengan karakteristik material.
4. Tailing dewatering, mengelola limbah cair (tailing) dengan mengurangi
kandungan air sebelum pembuangan atau penyimpanan. tailing biasanya
diproses melalui tailings thickener, filter press atau geotextile dewatering
bags.
Proses dewatering harus dirancang dan diatur sesuai dengan karakteristik
material dan kebutuhan operasi untuk mencapai hasil yang optimal. Di mana keadaan
material sudah benar-benar kering atau kadar air sudah sangat minim dan juga tidak
mengubah sifat fisik dan kimianya.

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Proses Dewatering

Proses dewatering pada pengolahan bahan galian dipengaruhi oleh berbagai


faktor yang menentukan efisiensi pemisahan air dari padatan. Berikut adalah faktor-
faktor utama yang memengaruhi proses dewatering:
1. Karakteristik material, partikel yang lebih halus cenderung lebih sulit di
dewatering karena memiliki luas permukaan yang lebih besar, sehingga
air lebih banyak terikat. Sedangkan Material dengan partikel kasar lebih
mudah terpisah dari air. Partikel berbentuk bulat lebih mudah mengendap
daripada partikel berbentuk pipih atau bersudut. Material dengan densitas
tinggi mengendap lebih cepat, mempercepat proses dewatering.

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 114
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

2. Kandungan air awal (moisture content), semakin tinggi kandungan air


awal dalam slurry atau lumpur, semakin lama proses dewatering. Proses
pengentalan atau penambahan bahan kimia dapat membantu mengurangi
kandungan air sebelum tahap filtrasi atau sentrifugasi.
3. Komposisi mineral. Mineral yang memiliki sifat hidrofilik (mudah
menyerap air) seperti lempung atau mineral tanah liat sulit di dewatering.
Sebaliknya, mineral dengan sifat hidrofobik (tidak menyerap air) lebih
mudah dipisahkan dari air.
4. Jenis dan kinerja alat dewatering, efisiensi alat seperti thickener, filter
press atau centrifuge memengaruhi hasil akhir. Pemilihan alat harus sesuai
dengan jenis material dan kadar air yang diinginkan. Desain alat seperti
Ukuran, kapasitas dan konfigurasi alat juga memengaruhi efektivitas
pemisahan air. Serta Tekanan, kecepatan putaran (centrifuge) dan durasi
proses memainkan peran penting.
5. Penggunaan bahan kimia, penambahan bahan kimia seperti: Flocculants,
mempercepat pengendapan partikel kecil dengan membentuk gumpalan.
Coagulants, membantu partikel lebih kecil bergabung menjadi partikel
yang lebih besar. Surfactants, mengurangi tegangan permukaan air,
sehingga mempercepat pelepasan air. Pemilihan jenis dan dosis bahan
kimia sangat memengaruhi efisiensi proses.
6. Suhu. Suhu yang lebih tinggi dapat mengurangi viskositas air,
mempermudah pemisahan air dari padatan. Namun, suhu yang terlalu
tinggi dapat memengaruhi stabilitas material dan alat.
7. Kadar slurry, konsentrasi slurry (rasio padatan terhadap air), slurry dengan
konsentrasi padatan tinggi lebih efisien dalam dewatering karena
mengurangi volume air yang harus dipisahkan. Slurry yang terlalu encer
membutuhkan proses tambahan untuk pengentalan.
Efisiensi dewatering sangat bergantung pada pemahaman terhadap sifat
material, alat yang digunakan dan kondisi operasional. Dengan mengoptimalkan
faktor-faktor ini, proses dewatering dapat berjalan lebih efektif, menghasilkan padatan
dengan kadar air rendah dan mengurangi dampak lingkungan. Sehingga material yang
dihasilkan sesuai dengan apa yang dibutuhkan untuk melanjutkan ke proses
selanjutnya (Permatasari dkk, 2019).

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 115
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

2.4 Kekurangan dan Kelebihan Dewatering

Dewatering adalah salah satu langkah kunci dalam pengolahan bahan galian
yang bertujuan untuk mengurangi kadar air dari material hasil tambang atau proses
pengolahan sebelumnya. Proses ini sering digunakan baik pada konsentrat, tailing,
maupun material lumpur (slurry) untuk mempersiapkannya sebelum penyimpanan,
pengangkutan atau proses lebih lanjut seperti pemurnian atau peleburan. Proses
dewatering dapat dilakukan menggunakan metode gravitasi, mekanis atau termal.
Namun proses dewatering juga memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan
selama proses pengurangan kadar air pada material, baik itu berasal dari karakteristik
material tersebut, dari performa alat, metode yang digunakan ataupun kondisi
lingkungan akan mempengaruhi hasil akhir dari proses penurunan kadar air.
2.4.1 Kelebihan
1. Efisiensi dalam pengangkutan, pengurangan kadar air menghasilkan material
yang lebih padat dan stabil, sehingga bobot dan volume material berkurang
signifikan. Hal ini berdampak langsung pada penghematan biaya transportasi,
terutama untuk pengangkutan dalam jarak jauh.
2. Peningkatan produktivitas proses selanjutnya, material yang memiliki kadar air
rendah lebih mudah diolah dalam tahapan berikutnya, seperti peleburan pada
logam atau penggilingan pada mineral lainnya. Kadar air yang terlalu tinggi
dapat mengganggu efisiensi proses tersebut.
3. Pengurangan dampak lingkungan, air yang dipisahkan melalui dewatering
sering kali dikumpulkan untuk diolah ulang sehingga dapat digunakan kembali
dalam proses pengolahan tambang. Hal ini mengurangi penggunaan air baru
dari lingkungan, yang penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem di
sekitar lokasi tambang.
4. Peningkatan kualitas produk akhir, produk yang memiliki kadar air rendah
cenderung lebih stabil, baik dalam hal kualitas fisik maupun kimia, sehingga
dapat meningkatkan nilai jual di pasar. Misalnya, konsentrat logam seperti
emas atau tembaga yang dikeringkan lebih diminati oleh pembeli.
5. Keamanan penyimpanan tailing, tailing yang telah melalui proses dewatering
lebih stabil dan aman untuk disimpan dalam fasilitas penyimpanan. Dengan
kadar air rendah, risiko keruntuhan atau pencemaran dari tailing dapat
diminimalkan.
NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA
09320210275 09320220236
Dewatering - 116
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

6. Potensi pemulihan air, air yang dipisahkan dari material dapat diolah dan
digunakan kembali, misalnya untuk kebutuhan operasi tambang atau sebagai
cairan proses dalam tahap pengolahan bahan galian lainnya.
7. Mengurangi risiko kerusakan infrastruktur, material basah, terutama yang
memiliki sifat cair, dapat merusak peralatan atau infrastruktur penyimpanan
karena sifat abrasif-nya. Material kering lebih aman untuk ditangani dan
mengurangi keausan pada peralatan.
2.4.2 Kekurangan
1. Investasi dan operasional yang mahal, dewatering memerlukan peralatan
khusus seperti thickener, filter press, belt press atau centrifuge, yang harganya
cukup mahal. Selain itu, biaya operasional untuk menjalankan peralatan ini,
termasuk biaya tenaga kerja dan bahan kimia yang digunakan juga tinggi.
2. Konsumsi energi yang tinggi, beberapa metode seperti pengeringan termal atau
penggunaan alat mekanis, memerlukan konsumsi energi yang besar. Hal ini
dapat meningkatkan biaya operasional tambang secara keseluruhan.
3. Risiko kehilangan material berharga, dalam proses dewatering terutama yang
melibatkan lumpur halus, material berharga seperti logam atau mineral dapat
terbuang bersama air yang dibuang jika tidak dilakukan dengan hati-hati.
Contohnya, partikel halus emas atau tembaga dapat terbawa oleh filtrasi atau
aliran air.
4. Kesulitan pengolahan lumpur halus, lumpur halus dengan ukuran partikel
sangat kecil (contohnya fraksi lempung) memiliki sifat fisik yang membuatnya
sulit untuk di dewatering. Lumpur ini cenderung mempertahankan air lebih
kuat sehingga memerlukan teknologi khusus untuk pengeringan yang optimal.
5. Kompleksitas dalam operasional dan pemeliharaan, peralatan dewatering
membutuhkan pengoperasian yang terampil dan pemeliharaan yang teratur.
Masalah seperti penyumbatan filter, keausan pada komponen atau kerusakan
mekanis sering terjadi jika tidak dikelola dengan baik.
6. Limbah air yang harus diolah, air hasil dewatering sering kali mengandung zat
kimia atau mineral beracun dari proses sebelumnya, sehingga memerlukan
pengolahan lanjutan sebelum bisa dibuang atau digunakan kembali.
Pengolahan air ini juga menambah biaya operasional. Namun jika tidak diolah
dengan baik akan mempengaruhi lingkungan sekitar.

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 117
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

7. Efisiensi yang terbatas pada material tertentu, beberapa material memiliki


struktur atau sifat fisik yang membuat proses dewatering menjadi tidak efisien.
Contohnya, tailing dari tambang nikel yang mengandung lumpur halus sering
kali memerlukan waktu atau teknologi tambahan untuk mengurangi kadar air
secara signifikan.
Proses dewatering memiliki peran penting dalam memastikan efisiensi dan
keberlanjutan pengolahan bahan galian. Meski memiliki banyak keunggulan, seperti
pengurangan dampak lingkungan, penghematan biaya transportasi dan peningkatan
kualitas produk, tantangan yang melibatkan biaya tinggi, konsumsi energi dan
pengelolaan limbah air harus diatasi dengan perencanaan yang baik. Pemilihan metode
dan peralatan dewatering yang tepat menjadi kunci untuk mencapai hasil yang optimal
dalam proses ini.
Untuk meminimalisir kekurangan dalam proses dewatering, sejumlah langkah
dapat dilakukan baik pada tahap perencanaan, operasional, maupun pemeliharaan.
Pemilihan metode dewatering yang sesuai dengan sifat fisik dan kimia material sangat
penting. Kombinasi beberapa metode, seperti thickener untuk pemisahan awal dan
filter press untuk pengeringan lanjutan dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi
kehilangan material berharga. Pengelolaan air juga menjadi aspek krusial, dengan
memaksimalkan pemulihan air menggunakan teknologi seperti clarifier dan
memastikan air limbah diolah sebelum dibuang ke lingkungan. Selain itu, efisiensi
biaya operasional dapat ditingkatkan dengan menggunakan bahan kimia secara
optimal, mengadopsi teknologi hemat energi, serta menjaga pemeliharaan peralatan
secara rutin untuk mencegah kerusakan. Pelatihan operator juga diperlukan untuk
memastikan pengoperasian alat berlangsung dengan benar. Pengurangan kehilangan
material berharga dilakukan melalui pengendalian partikel halus dan optimasi proses
flotasi serta koagulasi. Dalam hal dampak lingkungan, penting untuk menyimpan
tailing yang telah mengalami dewatering secara aman untuk mengurangi risiko
pencemaran, serta melakukan monitoring kualitas lingkungan secara berkala.
Penyesuaian proses dewatering berdasarkan variasi material dan adopsi teknologi
terbaru juga dapat membantu meningkatkan efisiensi dan mengatasi keterbatasan yang
ada. Dengan pendekatan holistik ini, kekurangan proses dewatering dapat
diminimalkan, sehingga mendukung efisiensi operasional, penghematan biaya dan
keberlanjutan pengolahan bahan galian.

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 118
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Prosedur Kerja

1. Pertama yang dilakukan yakni menyiapkan sampel yang akan di olah.

Gambar 3.1 Menyiapkan sampel


2. Menimbang pasir besi dan batubara seberat 300 gr.

Gambar 3.2 Menimbang batubara

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 119
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

Gambar 3.3 Menimbang pasir besi


3. Mulai memasukkan material ke dalam oven dengan suhu 120° (selama 10, 20,
dan 30 menit).

Gambar 3.3 Mulai proses drying

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 120
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

4. Setelah di oven material kemudian di timbang untuk mengetahui berat material


setelah di oven.

Gambar 3.4 Menimbang material

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 121
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan

Berat Awal Temperatur Waktu Berat Akhir


No
(gram) (°C) (menit) (gram)

120° 10 280,57 gr

300 gr 120° 20 276,55 gr


1.
(batubara)
120° 30 272,91 gr

120° 10 249,94 gr
300 gr
2. 120° 20 246,25 gr
(pasir besi)
120° 30 242,84 gr

Tabel 4.2 Hasil Pengolahan Data

Berat Awal Temperatur Waktu Berat Akhir


No MC (%)
(gram) (°C) (menit) (gram)

120° 10 280,57 gr 6,47 %

300 gr 120° 20 276,55 gr 7,81 %


1.
(batubara)
120° 30 272,91 gr 9,03 %

120° 10 249,94 gr 16,68 %


300 gr
2. 120° 20 246,25 gr 17,91 %
(pasir besi)
120° 30 242,84 gr 19,05 %

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 122
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

Gambar 4.1 Diagram pengolahan batubara

Gambar 4.2 Diagram pengolahan pasir besi

4.1.1 Pengolahan data batubara

1. Pengolahan data sampel batubara 10 menit


Berat Awal−Berat Akhir 300−280,57
MC(%) = × 100% = × 100% = 6,47%
Berat Awal 300

2. Pengolahan data sampel batubara 20 menit


Berat Awal−Berat Akhir 300−276,55
MC(%) = × 100% = × 100% = 7,81%
Berat Awal 300

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 123
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING

3. Pengolahan data sampel batubara 30 menit


Berat Awal−Berat Akhir 300−272,91
MC(%) = × 100% = × 100% = 9,03%
Berat Awal 300

4.1.2 Pengolahan data pasir besi


1. Pengolahan data sampel pasir besi 10 menit
Berat Awal−Berat Akhir 300−249,94
MC(%) = × 100% = × 100% = 16,68%
Berat Awal 300

2. Pengolahan data sampel pasir besi 20 menit


Berat Awal−Berat Akhir 300−246,25
MC(%) = × 100% = × 100% = 17,91%
Berat Awal 300

3. Pengolahan data sampel pasir besi 30 menit


Berat Awal−Berat Akhir 300−242,84
MC(%) = × 100% = × 100% = 19,05%
Berat Awal 300

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 124
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA DEWATERING
4.2 Pembahasan

4.2.1 Batubara
Setelah batubara di oven dengan berat awal 300 gram pada temperatur 120°
dan durasi waktu pemanggangan selama 10 , 20 dan 30 menit. Maka didapatkan hasil
pada pemanggangan selama 10 menit berat dari batubara berkurang dari 300 gram
menjadi 280,57 gram, pada pemanggangan 20 menit berat batubara berkurang menjadi
276,55 gram dan pada pemanggangan 30 menit berat batubara berkurang menjadi
272,91 gram. Dengan berat batubara yang berangsur-angsur berkurang menandakan
terjadinya pengurangan kadar air selama pemanggangan dan dapat diketahui kadar air
(moisture content) batubara pada pemanggangan selama10 menit moisture content-
nya 6,47%, pada pemanggangan selama 20 menit moisture content-nya 7,81% dan
pada pemanggangan selam 30 menit moisture content-nya 9,03%.
4.2.2 Pasir besi
Setelah pasir besi di oven dengan berat awal 300 gram pada temperatur 120°
dan durasi waktu pemanggangan selama 10 , 20 dan 30 menit. Maka didapatkan hasil
pada pemanggangan selama 10 menit berat dari pasir besi berkurang dari 300 gram
menjadi 249,94 gram, pada pemanggangan 20 menit berat pasir besi berkurang
menjadi 246,25 gram dan pada pemanggangan 30 menit berat pasir besi berkurang
menjadi 242,84 gram. Dengan berat pasir besi yang berangsur-angsur berkurang
menandakan terjadinya pengurangan kadar air selama pemanggangan dan dapat
diketahui kadar air (moisture content) pasir besi pada pemanggangan selama10 menit
moisture content-nya 16,68%, pada pemanggangan selama 20 menit moisture content-
nya 17,91% dan pada pemanggangan selam 30 menit moisture content-nya 19,05%.

NUR KHAERA FAJRIATI HADRIAN PAUDI PATTA


09320210275 09320220236
Dewatering - 125
2.6 SAMPLING

Anda mungkin juga menyukai