0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan20 halaman

Analisis Ayak dalam Pengolahan Mineral

Diunggah oleh

Hadrian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan20 halaman

Analisis Ayak dalam Pengolahan Mineral

Diunggah oleh

Hadrian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN


PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertambangan adalah kegiatan pengambilan mineral, minyak, gas, dan


batubara dari dalam bumi. Secara sederhana pertambangan adalah suatu kegiatan yang
dilakukan dengan penggalian ke dalam tanah untuk mendapatkan sesuatu yang berupa
hasil tambang (mineral, minyak dan batubara). Dalam kegiatan pertambangan dapat
memanfaakan tanah yang terdapat dalam kawasan hutan, pada prinsipnya harus sesuai
dengan fungsi dan peruntukkannya, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan
penggunaannya yang menyimpang dengan fungsi. Pertambangan yaitu sebagian atau
seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengolahan, dan penguasaan
mineral atau batu bara yang meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan konstruksi, penggalian, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan
pengangkutan penjualan, serta kegiatan pasca penambangan (Yulian, 2020).
Analisis ayak, atau sieving analysis, adalah metode yang digunakan untuk
menentukan distribusi ukuran partikel dalam suatu sampel material melalui proses
penyaringan berjenjang. Dalam proses ini, material dilewatkan melalui serangkaian
ayakan (sieves) dengan ukuran mesh berbeda, yang disusun dari yang terbesar hingga
terkecil. Partikel-partikel material akan terpisah berdasarkan ukurannya saat melewati
setiap ayakan, sehingga didapatkan berat partikel yang tertahan di masing-masing
ukuran mesh. Proses pemilahan bahan banyak dilakukan untuk memisahkan material
sesuai ukuran. Perkembangan teknologi dan upaya peningkatan produktivitas
mendorong pemanfaatan peralatan mekanis (Mujianto dan Rahmi., 2019).
Pengayakan sangat penting dilakukan untuk pengoptimalan proses selanjutnya.
Langkah-langkah dalam analisis ayak dimulai dari persiapan dan pengeringan sampel,
dilanjutkan dengan menimbang berat total material yang akan dianalisis. Kemudian,
sampel ditempatkan di atas susunan ayakan dan digoyangkan menggunakan mesin
shaker untuk memastikan partikel yang lebih kecil melewati ayakan di atasnya hingga
mencapai ayakan dengan ukuran mesh yang tepat. Setiap kategori yang keluar dari
ayakan mempunyai ukuran yang seragam. pemisah kontaminan yang ukurannya
berbeda dengan bahan baku. Pengayakan memudahkan kita untuk mendapatkan pasir
dengan ukuran yang seragam (Sulaksono dan Mastiko., 2020).
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 62
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

1.2 Maksud dan Tujuan Praktikum

1.2.1 Maksud
Adapun maksud dari praktikum ini agar praktikan dapat mengenal, mengetahui
dan menguasai ilmu tentang pengolahan bahan galian dengan cara sieving, mekanisme
dan cara kerja pengayakan.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
a. Memahami mekanisme pengayakan dan cara kerja alat;
b. Mengetahui berat tertahan material di tiap mesh.

1.3 Alat dan Bahan

1.3.1 Alat
a. Sieve Shaker;
b. Talang;
c. Kuas (3 inch);
d. Mistar;
e. Timbangan;
f. Perlengkapan Safety (Masker, Kacamata Safety, Helm Safety, dan Kaos
Tangan);
g. Jas Laboratorium;
h. Lap Kain.
1.3.2 Bahan
a. Kantong Sample A4 (5 Lembar);
b. Sample Batubara 1 Kg;
c. ATM.

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 63
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kominusi

Pengolahan mineral adalah suatu rangkaian proses teknik dan fisik yang
digunakan untuk mengubah bijih mineral mentah menjadi produk bernilai tinggi yang
siap digunakan dalam industri. Proses ini melibatkan sejumlah tahap penting yang
bertujuan untuk memisahkan mineral berharga dari material yang tidak diinginkan
atau buangan, meningkatkan konsentrasi mineral berharga, dan menghasilkan produk
akhir yang memenuhi persyaratan kualitas dan spesifikasi tertentu. Dalam pengolahan
mineral, bijih mentah dapat berupa berbagai jenis material, termasuk logam (seperti
emas, tembaga, dan besi), mineral industri (seperti pasir silika dan batu kapur), serta
mineral energi (seperti batu bara dan minyak bumi). Proses ini menjadi sangat penting
dalam mendukung berbagai sektor industri, termasuk pertambangan, metalurgi,
konstruksi, dan manufaktur. Kominusi adalah tahap awal dalam pengolahan mineral
yang melibatkan penghancuran bijih mineral mentah menjadi ukuran yang lebih kecil.
Tujuan utama dari kominusi adalah untuk memfasilitasi pemisahan mineral berharga
dari batuan pengotor (gangue) yang mengelilingi mereka dan meningkatkan luas
permukaan butir mineral. Kominusi dapat dicapai melalui berbagai teknik seperti
penghancuran (crushing) dan penggilingan (grinding) menggunakan peralatan seperti
jaw crusher, cone crusher, ball mill, atau SAG mill. Kominusi bertujuan untuk
menghancurkan bijih mineral menjadi ukuran yang lebih kecil, sementara benefisiasi
bertujuan untuk memisahkan mineral berharga dari material pengotor dan
meningkatkan kualitas mineral (Prameswara, dkk).
Tujuan utama dari pengolahan mineral adalah untuk menghasilkan produk
akhir yang memenuhi persyaratan kualitas, keberlanjutan, dan ekonomi. Proses ini
dapat mencakup sejumlah operasi seperti kominusi (penghancuran dan pengecilan
ukuran), benefisiasi (pemisahan dan pemurnian mineral berharga), pengendalian
ukuran butir, dan manajemen limbah untuk memaksimalkan nilai dari bijih mineral
yang diolah dan mengurangi dampak lingkungan yang mungkin timbul. Selama
beberapa dekade terakhir, teknologi dan praktik pengolahan mineral telah berkembang
pesat, memungkinkan industri ini untuk lebih efisien dalam ekstraksi dan penggunaan
sumber daya mineral alam. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 64
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

pengolahan mineral menjadi kunci dalam memahami bagaimana mineral berperan


dalam mendukung perkembangan ekonomi global dan bagaimana industri ini
berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Adapun tahapan dari kominusi sebagai
berikut:
1. Prymary Crushing
Pada proses ini adalah proses pertama di mana material yang dimasukkan
masih berupa bongkah yang besar yang langsung diambil dari lapangan yang
bisa mencapai ukuran 84x60 inch yang nantinya hasil dari proses ini akan
mendapatkan material sampai berukuran 4 inch.
2. Secondary Crushing
Tahapan ini adalah tahapan kedua, proses ini merupakan lanjutan dari proses
primary crusher yang dimana hasilnya di masukkan ke alat hingga dapat
memperoleh bahan galian yang berukuran lebih kecil sampai 0,4 inch.
3. Fine Crushing
Pada proses ini di mana hasil dari secondary crushing diperkecil lagi
ukurannya hingga benar-benar halus, bertujuan untuk memudahkan proses
selanjutnya seperti pemisahan mineral berharga dengan pengotornya.
Kominusi merupakan proses yang sangat penting dalam industri pengolahan
mineral, di mana material bijih atau batuan dipecah menjadi partikel-partikel kecil
untuk memudahkan proses pemisahan mineral berharga dari material pengotornya
(gangue). Proses ini memiliki sejumlah kelebihan yang memberikan kontribusi
signifikan terhadap efisiensi pengolahan mineral. Salah satu keunggulan utamanya
adalah kemampuan untuk meningkatkan luas permukaan material secara drastis.
Ketika ukuran partikel bijih semakin kecil, luas permukaan yang tersedia untuk reaksi
kimia atau proses fisik meningkat secara signifikan, memungkinkan proses-proses
lanjutan, seperti flotasi, leaching, atau pemisahan gravitasi, berlangsung lebih cepat
dan lebih efisien. Misalnya, dalam proses leaching, material yang lebih halus akan
lebih mudah bereaksi dengan pelarut kimia, seperti sianida pada pengolahan emas,
sehingga meningkatkan laju ekstraksi logam dari bijih. Kegiatan pengolahan mineral
dapat memiliki dampak negatif pada lingkungan jika tidak dilakukan dengan benar
(Prameswara, dkk., 2024).
Selain itu, kominusi juga berperan penting dalam mempermudah pemisahan
mineral berharga dari material pengotornya. Pada umumnya, mineral berharga

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 65
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

terperangkap di dalam matriks material pengotor yang sulit dipisahkan secara fisik
dalam keadaan utuh. Dengan kominusi, mineral berharga dapat dilepaskan dari
material pengotor tersebut, sehingga memudahkan proses pemisahan fisik atau kimia.
Ukuran partikel yang lebih kecil memudahkan partikel mineral berharga untuk
dipisahkan dengan metode seperti flotasi, di mana partikel-partikel kecil dapat lebih
mudah menempel pada gelembung udara dan terapung, sementara material pengotor
tetap berada di bagian bawah. Fleksibilitas alat kominusi juga menjadi keunggulan
lain, di mana berbagai jenis alat peremukan dan penggilingan dapat digunakan sesuai
dengan sifat material yang diproses. Alat seperti jaw crusher, gyratory crusher, ball
mill, dan SAG mill dapat dipilih berdasarkan kekerasan, kelembaban, dan ukuran
partikel material, memungkinkan pengolahan bijih yang lebih efisien dengan hasil
yang optimal.

Gambar 2.1 Proses Kominusi


Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, proses kominusi juga memiliki
sejumlah kekurangan yang perlu diperhatikan, terutama dari sisi konsumsi energi.
Kominusi merupakan proses yang sangat memakan energi, di mana sekitar 50-70%
dari total energi yang digunakan di pabrik pengolahan mineral dihabiskan untuk
menghancurkan bijih menjadi partikel yang lebih kecil. Hal ini menjadikannya salah
satu tahap paling boros energi dalam keseluruhan proses pengolahan mineral. Semakin
kecil ukuran partikel yang diinginkan, semakin besar energi yang diperlukan untuk
mencapainya, yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional secara signifikan.

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 66
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

Selain energi, biaya operasional juga dipengaruhi oleh frekuensi perawatan alat
kominusi. Peralatan seperti ball mill, SAG mill, dan cone crusher sering mengalami
keausan karena material yang diproses umumnya bersifat keras dan abrasif.
Komponen-komponen seperti grinding media (bola baja atau batang logam) dan liner
(pelapis alat) harus diganti secara berkala, yang menambah biaya perawatan dan
mengurangi efisiensi keseluruhan proses. Tingginya angka produksi di Indonesia akan
berdampak pada peningkatan jumlah tailing dari pengolahan suatu material.
Sementara tailing sendiri adalah limbah yang tidak dapat dihindari kehadirannya
dalam proses pengolahan hasil pertambangan (Tanjung, dkk., 2022).

Gambar 2.2 Kominusi

Kekurangan lainnya adalah risiko over grinding, yaitu ketika partikel menjadi
terlalu halus akibat proses penggilingan yang berlebihan. Partikel halus ini dapat
mengurangi efisiensi pada tahap pemisahan berikutnya. Dalam proses flotasi,
misalnya, partikel yang terlalu kecil memiliki massa yang terlalu rendah untuk
menempel dengan baik pada gelembung udara, sehingga tidak dapat diangkat ke
permukaan dan akhirnya terbuang bersama dengan tailing. Hal ini tidak hanya
mengurangi hasil mineral berharga, tetapi juga menyebabkan pemborosan energi dan
bahan baku. Selain itu, over grinding dapat menyebabkan partikel halus mengisi pori-
pori material dalam proses leaching, yang memperlambat laju penetrasi pelarut kimia
dan menurunkan efisiensi ekstraksi. Proses kominusi juga menimbulkan masalah
lingkungan dan kesehatan. Salah satu efek samping dari peremukan dan penggilingan
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 67
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

adalah produksi debu dalam jumlah besar, terutama dalam kondisi kering. Debu ini
bisa mencemari lingkungan dan menimbulkan risiko kesehatan bagi para pekerja,
seperti gangguan pernapasan atau penyakit paru-paru. Oleh karena itu, pengendalian
debu, seperti penggunaan sistem penyedot debu atau penyemprotan air, sangat
diperlukan, meskipun ini juga meningkatkan biaya operasional. Selain itu, ukuran
partikel yang tidak merata dapat menjadi masalah dalam pengolahan mineral. Jika
ukuran partikel terlalu bervariasi, dengan campuran partikel halus dan kasar, hal ini
bisa mengganggu proses pemisahan, karena sebagian proses pemisahan fisik dan
kimia, seperti flotasi atau konsentrasi gravitasi, memerlukan partikel dengan ukuran
seragam untuk hasil yang optimal.
Material tertentu, terutama yang sangat keras atau memiliki kadar air yang
tinggi, juga dapat menimbulkan tantangan tersendiri dalam proses kominusi. Material
yang sangat keras, seperti bijih besi atau silika, memerlukan energi dan peralatan yang
lebih besar dan kuat untuk dihancurkan. Alat-alat penghancur seperti SAG mill dan
jaw crusher mungkin mengalami keausan lebih cepat saat menghancurkan material
keras ini, sehingga meningkatkan biaya perawatan dan penggantian suku cadang. Di
sisi lain, material yang basah atau lembap sering kali menyebabkan alat penghancur
menjadi tersumbat atau material menjadi lengket, yang mengganggu aliran material
dalam proses kominusi dan memperlambat proses produksi secara keseluruhan.
Dengan demikian, meskipun kominusi merupakan proses yang sangat penting dan
esensial dalam pengolahan mineral, efisiensi energi dan pengendalian proses menjadi
faktor kunci untuk memaksimalkan keuntungan. Dalam jangka panjang, upaya untuk
mengurangi konsumsi energi dan menghindari over grinding menjadi fokus utama
inovasi dalam teknologi peremukan dan penggilingan. Beberapa pendekatan inovatif,
seperti penggunaan teknologi penggilingan berenergi rendah atau peralatan yang lebih
tahan aus, terus dikembangkan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ada. Selain
itu, penerapan kontrol otomatis dan sistem pengukuran real-time juga dapat membantu
dalam mengoptimalkan proses kominusi, sehingga dapat mengurangi biaya dan
meningkatkan efisiensi secara keseluruhan (Prameswara, dkk.).

2.2 Pengayakan

Pengayakan adalah metode pemisahan partikel yang sangat umum dalam


berbagai industri untuk memisahkan material berdasarkan ukurannya. Prinsip dasar

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 68
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

pengayakan adalah melewatkan material melalui serangkaian ayakan atau saringan


dengan ukuran lubang (mesh) yang berbeda-beda. Ayakan dengan ukuran mesh yang
besar akan memungkinkan partikel yang lebih besar untuk lolos, sementara ayakan
yang lebih kecil hanya akan meloloskan partikel berukuran kecil. Pengayakan
merupakan salah satu metode utama untuk mengklasifikasikan material menjadi
beberapa ukuran yang berbeda, baik sebagai langkah persiapan untuk proses lanjutan,
maupun untuk memastikan bahwa bahan baku atau produk akhir memiliki ukuran
partikel yang seragam sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Dalam proses pengayakan,
material yang akan dianalisis ditempatkan pada susunan ayakan bertingkat, dengan
mesh terbesar di bagian atas dan mesh terkecil di bagian bawah. Material tersebut
kemudian digoyangkan baik secara manual atau dengan menggunakan mesin shaker,
yang dirancang khusus untuk menggetarkan ayakan sehingga partikel-partikel terpisah
secara efisien berdasarkan ukuran. Partikel-partikel yang lebih kecil akan melewati
mesh yang lebih besar, kemudian turun melalui mesh yang semakin kecil hingga
mencapai ayakan yang ukurannya sesuai dengan diameter partikel. Partikel yang
ukurannya lebih besar dari mesh di atas ayakan tersebut akan tertahan, sementara
partikel yang lebih kecil akan terus turun ke ayakan yang berada di bawahnya. Dengan
cara ini, setiap tingkat ayakan menahan partikel dengan ukuran yang berbeda,
memungkinkan pengguna untuk mengukur distribusi partikel dalam sampel secara
akurat. Pengayakan adalah sebuah cara pengelompokan butiran yang akan dipisahkan
menjadi satu atau beberapa kelompok. Pengayakan merupakan pemisahan berbagai
campuran partikel kasar dan halus dengan menggunakan ayakan. Proses pengayakan
juga digunakan sebagai pembersih dan pemisah yang ukurannya berbeda dengan
bahan baku. Selain itu, pengayakan juga memudahkan kita untuk mendapatkan serbuk
dengan ukuran yang seragam (Sateria, dkk., 2019).
Hasil dari proses pengayakan adalah distribusi ukuran partikel yang dapat
disajikan dalam bentuk tabel atau grafik. Misalnya, berat partikel yang tertahan pada
setiap ayakan dapat ditimbang, lalu dibandingkan dengan berat total material awal
untuk mendapatkan persentase dari setiap fraksi ukuran. Grafik distribusi partikel ini
biasanya menggambarkan ukuran partikel pada sumbu x dan persentase kumulatif
partikel pada sumbu y, yang memberi gambaran visual mengenai sebaran ukuran
partikel dalam sampel. Distribusi ini membantu dalam menentukan seberapa banyak
partikel yang berada dalam rentang ukuran tertentu.

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 69
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

Gambar 2.3 Sieve shaker

Pengayakan adalah langkah yang penting dalam berbagai aplikasi industri. Di


industri pertambangan dan pengolahan mineral, pengayakan digunakan untuk
memisahkan bijih atau batuan berdasarkan ukuran, sehingga material dapat diproses
lebih lanjut dengan efisien. Dalam industri konstruksi, material seperti pasir, batu
pecah, atau semen perlu disaring agar sesuai dengan standar yang diperlukan untuk
memastikan kekuatan dan stabilitas struktur bangunan. Di sektor pangan, ukuran
partikel dari bahan baku seperti tepung juga memengaruhi kualitas akhir produk
makanan. Dalam farmasi, bahan-bahan aktif dalam bentuk bubuk perlu dipastikan
memiliki ukuran partikel yang seragam untuk menjamin stabilitas dan efektivitas obat.
Beberapa faktor memengaruhi hasil pengayakan, seperti ukuran dan bentuk partikel,
tingkat kelembaban material, kecepatan dan waktu pengayakan, serta kualitas dan
kondisi ayakan itu sendiri. Bentuk partikel yang tidak seragam dapat menyebabkan
material tertentu menyangkut pada lubang ayakan atau menyulitkan pemisahan.
Kelembaban dapat membuat partikel menggumpal, sehingga sulit untuk melewati
mesh ayakan, dan akhirnya mempengaruhi akurasi hasil pengayakan. Oleh karena itu,
pengayakan sering kali dilakukan dalam kondisi kering dan menggunakan shaker yang
diatur pada frekuensi dan durasi tertentu agar partikel terdistribusi dan terpisah dengan
optimal. Selain dalam keadaan kering, metode ayak juga bisa dilakukan dalam keadaan
basah di mana pada proses ini material yang akan di ayak berada dalam air atau dalam
keadaan terendam (Algifary, dkk., 2023).

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 70
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

Secara keseluruhan, pengayakan adalah teknik sederhana namun sangat


berguna dan efektif untuk menentukan ukuran partikel dalam suatu sampel material.
Selain memastikan kontrol kualitas pada bahan baku dan produk akhir, hasil analisis
pengayakan juga membantu industri dalam merancang dan mengoptimalkan proses
lanjutan yang lebih efisien. Di berbagai bidang industri, hasil pengayakan menjadi
acuan penting dalam penentuan ukuran partikel yang dibutuhkan untuk mencapai
kualitas dan fungsi yang diinginkan pada produk, sehingga peran pengayakan menjadi
esensial dalam proses produksi dan pengembangan material industri.

Gambar 2.4 Bagian sieve shaker

2.3 Analisis ayakan

Analisis ayak adalah metode standar yang digunakan untuk mengetahui


distribusi ukuran partikel dalam suatu sampel material. Melalui proses penyaringan
atau pengayakan yang bertingkat, metode ini memungkinkan pemisahan partikel
berdasarkan ukurannya secara bertahap, dari yang terbesar hingga terkecil. Dalam
proses ini, serangkaian ayakan atau saringan (sieves) dengan ukuran mesh yang
berbeda disusun, dimulai dari mesh dengan ukuran lubang yang paling besar di bagian
atas hingga yang paling kecil di bagian bawah. Saat material disaring, partikel yang
berukuran lebih kecil dari lubang mesh pada ayakan tertentu akan melewati ayakan
tersebut dan turun ke tingkat ayakan berikutnya, sementara partikel yang lebih besar
akan tertahan di atasnya. Proses ini menghasilkan fraksi-fraksi partikel yang tertahan

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 71
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

pada masing-masing tingkat ayakan, yang kemudian dianalisis lebih lanjut untuk
menentukan distribusi ukuran partikel dalam sampel. Tujuan utama dari analisis ayak
adalah untuk memperoleh data distribusi ukuran partikel yang akurat dan terperinci.
Ukuran partikel memiliki dampak yang signifikan terhadap sifat fisik dan kimia dari
suatu material, seperti kekuatan, kecepatan reaksi, porositas, dan kestabilan. Karena
itu, analisis ayak sangat diperlukan di berbagai sektor industri, termasuk
pertambangan, konstruksi, farmasi, dan pangan. Dalam industri pertambangan,
misalnya, distribusi ukuran partikel penting untuk memastikan bahwa bijih yang
diekstraksi dapat diolah dengan efisien pada tahap-tahap pemisahan logam berikutnya.
Dalam konstruksi, distribusi ukuran partikel pada material seperti pasir atau batu split
menentukan karakteristik beton atau aspal yang dihasilkan, sehingga memastikan
kualitas dan daya tahan produk konstruksi. Di industri farmasi, ukuran partikel bahan
aktif obat yang seragam penting untuk menjamin homogenitas, stabilitas, dan
efektivitas obat dalam tubuh.
Proses analisis ayak terdiri dari beberapa tahap. Pertama, material yang akan
diuji biasanya dikeringkan untuk menghindari penggumpalan partikel yang dapat
mengganggu aliran melalui ayakan dan menghasilkan distribusi ukuran yang tidak
akurat. Setelah dikeringkan, sampel tersebut ditimbang untuk mengetahui berat total
material yang akan dianalisis. Material kemudian ditempatkan pada susunan ayakan
yang diatur secara bertingkat berdasarkan ukuran mesh, dengan mesh terbesar di
bagian atas hingga yang terkecil di bagian bawah. Susunan ayakan ini lalu
digoyangkan, baik secara manual maupun menggunakan mesin shaker khusus, yang
akan menggetarkan susunan ayakan secara konstan dalam waktu tertentu. Getaran ini
bertujuan untuk memastikan bahwa partikel yang lebih kecil dapat melewati lubang
mesh dengan lebih efektif, sedangkan partikel yang lebih besar akan tetap tertahan di
ayakan atas. Dengan demikian dapat dipisahkan antara partikel lolos ayakan (butiran
halus) dan yang tertinggal di ayakan (butiran kasar). Ukuran butiran tertentu yang
masih dapat melintasi ayakan dinyatakan sebagai butiran batas (Cahyono, dkk., 2019).
Setelah proses pengayakan selesai, setiap fraksi partikel yang tertahan di setiap
ayakan kemudian ditimbang kembali untuk mengetahui beratnya. Distribusi ukuran
partikel dari sampel kemudian dihitung berdasarkan berat fraksi yang tertahan di
masing-masing ayakan, biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase terhadap total
berat awal. Hasil analisis ayak ini umumnya disajikan dalam bentuk tabel atau grafik

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 72
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

distribusi ukuran partikel. Grafik tersebut biasanya menampilkan ukuran partikel pada
sumbu x dan persentase kumulatif pada sumbu y, sehingga pengguna dapat dengan
mudah memahami sebaran ukuran partikel dalam sampel tersebut. Sebagai contoh,
grafik ini dapat menunjukkan persentase kumulatif partikel yang lebih kecil dari
ukuran tertentu, yang sangat berguna untuk menentukan rentang ukuran yang sesuai
dengan kebutuhan industri atau proses selanjutnya.

Gambar 2.5 Ukuran mesh ayakan

Analisis ayak memiliki banyak aplikasi praktis yang penting. Dalam industri
pertambangan, distribusi ukuran partikel sangat berpengaruh terhadap efektivitas
proses pengolahan bijih, seperti flotasi atau pemisahan magnetik, yang memerlukan
ukuran partikel tertentu agar hasilnya optimal. Di bidang konstruksi, kualitas pasir dan
batu split sangat bergantung pada distribusi ukuran partikel yang terkontrol, yang akan
memengaruhi daya tahan beton atau campuran aspal yang dihasilkan. Dalam industri
pangan, distribusi ukuran partikel juga dapat mempengaruhi tekstur dan kualitas
produk akhir, seperti dalam pembuatan tepung atau bubuk kopi. Sementara itu, di
sektor farmasi, distribusi ukuran partikel yang seragam dalam bahan aktif obat
memastikan bahwa obat tersebut dapat dilarutkan dengan baik dalam tubuh, yang
sangat penting untuk efektivitas dan keamanannya.
Keakuratan hasil analisis ayak dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk
bentuk dan sifat partikel, waktu dan intensitas pengayakan, serta kondisi dan kualitas
ayakan yang digunakan. Partikel yang memiliki bentuk tidak seragam atau kasar dapat
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 73
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

sulit untuk melewati lubang mesh, sehingga mungkin saja tertahan di atas mesh yang
sebenarnya lebih besar dari ukuran partikel tersebut. Tingkat kelembaban juga
memainkan peran penting, karena material yang terlalu lembab dapat menggumpal,
sehingga sulit untuk mengalir melalui ayakan secara efisien. Oleh karena itu,
pengayakan biasanya dilakukan dalam kondisi kering untuk mencegah hal ini. Selain
itu, pengaturan waktu pengayakan dan frekuensi getaran dari mesin shaker juga
penting untuk memastikan bahwa partikel dapat tersebar dan terpisah dengan optimal
tanpa menyebabkan over-grinding atau penghancuran partikel.

Gambar 2.6 Mekanisme pengayakan material

Secara keseluruhan, analisis ayak adalah teknik yang sederhana namun sangat
berguna untuk memperoleh informasi penting mengenai distribusi ukuran partikel
dalam sampel material. Dengan informasi ini, berbagai industri dapat memastikan
bahwa material yang digunakan atau diproduksi memiliki kualitas dan karakteristik
yang sesuai dengan standar dan kebutuhan proses. Selain itu, analisis ayak juga dapat
membantu dalam penelitian dan pengembangan produk, karena distribusi ukuran
partikel adalah parameter yang sangat berpengaruh pada karakteristik material. Bagi
berbagai bidang industri, dari pertambangan hingga farmasi, analisis ayak telah
menjadi salah satu teknik yang penting untuk mendukung kontrol kualitas,
meningkatkan efisiensi, dan mencapai standar produk yang diinginkan.
Analisis ayak, meskipun banyak digunakan untuk menentukan distribusi
ukuran partikel dalam material, memiliki beberapa kekurangan yang dapat
APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA
09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 74
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

memengaruhi hasilnya, terutama dalam kondisi tertentu. Salah satu kelemahan utama
adalah ketidakakuratan metode ini untuk partikel yang sangat halus atau sangat kasar;
partikel halus cenderung menempel dan sulit lolos dari ayakan, sedangkan partikel
kasar dapat merusak atau menghalangi mesh ayakan. Selain itu, partikel dengan bentuk
yang tidak bulat, seperti pipih atau lonjong, sering kali tidak dapat melewati mesh
ayakan sesuai dengan ukuran sebenarnya, yang dapat menyebabkan hasil distribusi
ukuran yang tidak akurat. Analisis ayak juga memerlukan waktu pengayakan yang
relatif lama, terutama jika dilakukan secara manual atau jika membutuhkan
pengayakan berulang untuk hasil stabil. Ini bisa menjadi kendala dalam operasi yang
memerlukan hasil cepat, di mana metode lain, seperti analisis laser diffraction, lebih
efisien untuk mengukur partikel yang lebih kecil. Material dengan tingkat kelembaban
tinggi juga dapat menggumpal dan menyumbat ayakan, sehingga menurunkan akurasi
hasil dan mengharuskan pengeringan awal yang menambah waktu serta biaya proses.
Selain itu, ayakan rentan terhadap kerusakan akibat material abrasif atau tajam yang
mengakibatkan ketidakakuratan, dan sisa material yang tertinggal dari analisis
sebelumnya dapat menyebabkan kontaminasi bila ayakan tidak dibersihkan dengan
baik. Keterbatasan dalam pengendalian kondisi pengayakan juga menjadi masalah,
terutama jika pengayakan dilakukan secara manual atau dengan shaker sederhana
tanpa pengaturan intensitas presisi, yang bisa menyebabkan variasi hasil. Pada sampel
dengan komposisi beragam, seperti berbagai densitas atau sifat permukaan, analisis
ayak mungkin tidak menunjukkan distribusi partikel yang representatif, karena
partikel yang lebih ringan atau kasar mungkin lebih lama tertahan di ayakan. Mesin
pengayakan model rotary merupakan mesin yang dirancang dapat membantu
melaksanakan tugas sebagai pengayakan material yang sudah dihaluskan dengan
sangat cepat dan mudah. Mesin ini akan dirancang dapat memisahkan antara yang
halus dan kasar yang masih menjadi satu, mesin ini ditenagai menggunakan motor
listrik dengan dilengkapi pengaturan kecepatan yang diinginkan dan dapat hasil
pengayakan maksimal sesuai yang diinginkan (Alfian, dkk., 2021).

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 75
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Prosedur Kerja

1. Pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan.

Gambar 3.1 Menyiapkan alat dan bahan


2. Kemudian sampel batubara di masukkan ke dalam ayakan.

Gambar 3.2 Memasukkan sampel ke dalam ayakan

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 76
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

3. Ayakan yang berisi sampel kemudian di goyangkan menggunakan alat sieve


shaker (10 – 15 menit).

Gambar 3.3 Pemisahan ukuran butir pada material


4. Sampel yang telah di pisahkan berdasarkan ukuran butir, kemudian di timbang
di masing-masing ukuran mesh (35, 60, 100, 150, 200, dan -200).

Gambar 3.4 Menimbang material

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 77
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel 4.1 Tabel Pengamatan

BERAT TERTAHAN (gr)


UKURAN MESH
10 Menit 15 Menit

+35 685,7 660,2

-35/+60 97,2 128,4

-60/+100 84,2 111,7

-100/+150 58 78,5

-150/+200 47,2 48,1

-200 77,1 84,8

TOTAL 1049,4 1111,7

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 78
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

Tabel 4.2 Hasil pengolahan data pengayakan 10 menit


Log Log % Log %
% Berat % Berat
Ukuran Fraksi Berat % Ukuran Berat Berat
Tertahan Lolos
mesh (mm) tertahan Fraksi Tertahan Lolos
Kumulatif Kumulatif
Kumulatif Kumulatif

35 0,42 685,7 65,34 65,34 34,63 1,54 1,81 1,53

60 0,25 97,2 9,26 74,6 25,37 1,77 1,87 1,4

100 0,14 84,2 8,02 82,62 17,35 2 1,91 1,23

150 0,1 58 5,52 88,14 11,83 2,17 1,94 1,07

200 0,07 47,2 4,49 92,63 7,34 2,3 1,96 0,86

-200 0 77,1 7,34 99,97 0 2,3 1,99 -

Total - 1049,4 99,97 503,3 96,52 - 11,48 6,09

Grafik 4.1 Pengayakan selama 10 menit

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 79
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK

Tabel 4.2 Hasil pengolahan data pengayakan 15 menit


Log Log % Log %
% Berat % Berat
Ukuran Fraksi Berat % Ukuran Berat Berat
Tertahan Lolos
mesh (mm) tertahan Fraksi Tertahan Lolos
Kumulatif Kumulatif
Kumulatif Kumulatif

35 0,42 660,2 59,38 59,38 40,58 1,54 1,77 1,6

60 0,25 128,4 11,54 70,92 29,04 1,77 1,85 1,46

100 0,14 111,7 10,04 80,96 19 2 1,9 1,27

150 0,1 78,5 7,06 88,02 11,94 2,17 1,94 1,07

200 0,07 48,1 4,32 92,34 7,62 2,3 1,96 0,88

-200 0 84,8 7,62 99,96 0 2,3 1,99 -

Total - 1111,7 99,96 491,58 108,18 - 11,41 6,28

Grafik 4.2 Pengayakan selama 15 menit

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 80
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA ANALISIS AYAK
4.2 Pembahasan

1. Pengolahan Data P80 Pengayakan 10 menit


Y = 6,6503x – 7,1893
P80 = 6,6503x – 7,1893
6,6503x = 80 + 7,1893
X = 87,1893 / 6,6503 = 13,11 mm
2. Pengolahan Data P80 Pengayakan 15 menit
Y = 7,8349x – 9,392
P80 = 7,8349x – 9,392
7,8349x = 80 + 9,392
X = 89,392/ 7,8349 = 11,4 mm
3. Pengolahan Data Berat Hilang Pengayakan 10 menit
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1216gr – 1049,4gr) / 1216gr x (100%) = 13,7 %
4. Pengolahan Data Berat Hilang Pengayakan 15 menit
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1216 gr – 1111,7 gr) / 1216 gr x (100%) = 8,57 %

APRIYANA NINGSIH HADRIAN PAUDI PATTA


09320210134 09320220236
Analisis Ayak - 81

Anda mungkin juga menyukai