0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan29 halaman

Proses Crushing dalam Pengolahan Mineral

Diunggah oleh

Hadrian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan29 halaman

Proses Crushing dalam Pengolahan Mineral

Diunggah oleh

Hadrian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN


PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertambangan adalah kegiatan pengambilan mineral, minyak, gas, dan


batubara dari dalam bumi. Secara sederhana pertambangan adalah suatu kegiatan yang
dilakukan dengan penggalian ke dalam tanah untuk mendapatkan sesuatu yang berupa
hasil tambang (mineral, minyak dan batubara). Dalam kegiatan pertambangan dapat
memanfaakan tanah yang terdapat dalam kawasan hutan, pada prinsipnya harus sesuai
dengan fungsi dan peruntukkannya, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan
penggunaannya yang menyimpang dengan fungsi. Pertambangan yaitu sebagian atau
seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengolahan, dan penguasaan
mineral atau batu bara yang meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan konstruksi, penggalian, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan
pengangkutan penjualan, serta kegiatan pasca penambangan (Yulian, 2020).
Dalam proses pengolahan mineral, proses awal yang pertama dilakukan adalah
crushing. Crushing merupakan proses pengecilan ukuran ore atau bijih yang
didapat dari proses penambangan mineral. Proses dari crushing sendiri menggunakan
beberapa jenis alat. Indikator atau ukuran pemisahan dari setiap alat ini pun akan
berbeda-beda sesuai keinginan dan hasil dari pengecilan ore yang dinginkan. Alat dari
proses ini disebut crusher. Crusher akan mengecilkan ukuran ore dengan metode yang
beragam sesuai dengan crusher yang digunakan. Proses crushing ini produk akan
dimasukkan lalu dihancurkan menggunakan mata pisau hingga kecil sesuai dengan
lubang jaringnya dan hasil material hasil crushing tersebut akan langsung jatuh ke
penampungan yang terdapat di bagian bawah (Kaswadi., dkk., 2022).
Crusher adalah mesin yang dirancang untuk mengurangi ukuran atau
mengubah bentuk bahan galian sehingga dapat lebih mudah untuk di pisahkan dari
mineral pengotor dan mineral berharga. Bahan galian yang di olah biasanya
berdiameter 100 cm di olah menjadi ukuran diameter 20-25 cm bahkan bisa 2,5 cm
Kemampuan kerja dari unit crushing plant sangat mempengaruhi besarnya produksi,
untuk meningkatkan kualitas andesit dilakukan evaluasi kinerja crushing plant dengan
memperhatikan hambatan-hambatan yang terjadi pada alat crushing plant seperti
faktor alat dan faktor manusia (Eliansyah dan Sriyanti., 2021).
AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
Crushing - 9
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

1.2 Maksud dan Tujuan Praktikum

1.2.1 Maksud dari praktikum ini agar praktikan dapat mengenal, mengetahui dan
menguasai ilmu tentang pengolahan bahan galian dengan cara crushing, mekanisme
dan cara kerja peremukan.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
a. Memahami mekanisme peremukan dan cara kerja alat remuk;
b. Mengetahui distribusi ukuran butir sample dari proses crushing.

1.3 Alat dan Bahan

1.3.1 Alat
a. Jaw Crusher;
b. Double Roll Crushing;
c. Sieve Shaker;
d. Talang;
e. Kuas (3 inch);
f. Mistar;
g. Timbangan;
h. Perlengkapan Safety (Masker, Kacamata Safety, Helm Safety, dan Kaos
Tangan);
i. Jas Laboratorium;
j. Lap Kain;
1.3.2 Bahan
a. Kantong Sample A4 (5 Lembar);
b. Sample Batubara 2 Kg;
c. ATM.

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 10
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kominusi

Pengolahan mineral adalah suatu rangkaian proses teknik dan fisik yang
digunakan untuk mengubah bijih mineral mentah menjadi produk bernilai tinggi yang
siap digunakan dalam industri. Proses ini melibatkan sejumlah tahap penting yang
bertujuan untuk memisahkan mineral berharga dari material yang tidak diinginkan
atau buangan, meningkatkan konsentrasi mineral berharga, dan menghasilkan produk
akhir yang memenuhi persyaratan kualitas dan spesifikasi tertentu. Dalam pengolahan
mineral, bijih mentah dapat berupa berbagai jenis material, termasuk logam (seperti
emas, tembaga, dan besi), mineral industri (seperti pasir silika dan batu kapur), serta
mineral energi (seperti batu bara dan minyak bumi). Proses ini menjadi sangat penting
dalam mendukung berbagai sektor industri, termasuk pertambangan, metalurgi,
konstruksi, dan manufaktur.
Kominusi adalah tahap awal dalam pengolahan mineral yang melibatkan
penghancuran bijih mineral mentah menjadi ukuran yang lebih kecil. Tujuan utama
dari kominusi adalah untuk memfasilitasi pemisahan mineral berharga dari batuan
pengotor (gangue) yang mengelilingi mereka dan meningkatkan luas permukaan butir
mineral. Kominusi dapat dicapai melalui berbagai teknik seperti penghancuran
(crushing) dan penggilingan (grinding) menggunakan peralatan seperti jaw crusher,
cone crusher, ball mill, atau SAG mill. Kominusi bertujuan untuk menghancurkan
bijih mineral menjadi ukuran yang lebih kecil, sementara benefisiasi bertujuan untuk
memisahkan mineral berharga dari material pengotor dan meningkatkan kualitas
mineral (Prameswara, dkk., 2020).
Tujuan utama dari pengolahan mineral adalah untuk menghasilkan produk
akhir yang memenuhi persyaratan kualitas, keberlanjutan, dan ekonomi. Proses ini
dapat mencakup sejumlah operasi seperti kominusi (penghancuran dan pengecilan
ukuran), benefisiasi (pemisahan dan pemurnian mineral berharga), pengendalian
ukuran butir, dan manajemen limbah untuk memaksimalkan nilai dari bijih mineral
yang diolah dan mengurangi dampak lingkungan yang mungkin timbul. Selama
beberapa dekade terakhir, teknologi dan praktik pengolahan mineral telah berkembang
pesat, memungkinkan industri ini untuk lebih efisien dalam ekstraksi dan penggunaan
AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
Crushing - 11
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

sumber daya mineral alam. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang
pengolahan mineral menjadi kunci dalam memahami bagaimana mineral berperan
dalam mendukung perkembangan ekonomi global dan bagaimana industri ini
berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Adapun tahapan dari kominusi sebagai
berikut:
1. Prymary Crushing
Pada proses ini adalah proses pertama di mana material yang dimasukkan
masih berupa bongkah yang besar yang langsung diambil dari lapangan yang
bisa mencapai ukuran 84x60 inch yang nantinya hasil dari proses ini akan
mendapatkan material sampai berukuran 4 inch.
2. Secondary Crushing
Tahapan ini adalah tahapan kedua, proses ini merupakan lanjutan dari proses
primary crusher yang dimana hasilnya di masukkan ke alat hingga dapat
memperoleh bahan galian yang berukuran lebih kecil sampai 0,4 inch.
3. Fine Crushing
Pada proses ini di mana hasil dari secondary crushing diperkecil lagi
ukurannya hingga benar-benar halus, bertujuan untuk memudahkan proses
selanjutnya seperti pemisahan mineral berharga dengan pengotornya.
Kominusi merupakan proses yang sangat penting dalam industri pengolahan
mineral, di mana material bijih atau batuan dipecah menjadi partikel-partikel kecil
untuk memudahkan proses pemisahan mineral berharga dari material pengotornya
(gangue). Proses ini memiliki sejumlah kelebihan yang memberikan kontribusi
signifikan terhadap efisiensi pengolahan mineral. Salah satu keunggulan utamanya
adalah kemampuan untuk meningkatkan luas permukaan material secara drastis.
Ketika ukuran partikel bijih semakin kecil, luas permukaan yang tersedia untuk reaksi
kimia atau proses fisik meningkat secara signifikan, memungkinkan proses-proses
lanjutan, seperti flotasi, leaching, atau pemisahan gravitasi, berlangsung lebih cepat
dan lebih efisien. Misalnya, dalam proses leaching, material yang lebih halus akan
lebih mudah bereaksi dengan pelarut kimia, seperti sianida pada pengolahan emas,
sehingga meningkatkan laju ekstraksi logam dari bijih.
Selain itu, kominusi juga berperan penting dalam mempermudah pemisahan
mineral berharga dari material pengotornya. Pada umumnya, mineral berharga
terperangkap di dalam matriks material pengotor yang sulit dipisahkan secara fisik

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 12
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

dalam keadaan utuh. Dengan kominusi, mineral berharga dapat dilepaskan dari
material pengotor tersebut, sehingga memudahkan proses pemisahan fisik atau kimia.
Ukuran partikel yang lebih kecil memudahkan partikel mineral berharga untuk
dipisahkan dengan metode seperti flotasi, di mana partikel-partikel kecil dapat lebih
mudah menempel pada gelembung udara dan terapung, sementara material pengotor
tetap berada di bagian bawah. Fleksibilitas alat kominusi juga menjadi keunggulan
lain, di mana berbagai jenis alat peremukan dan penggilingan dapat digunakan sesuai
dengan sifat material yang diproses. Alat seperti jaw crusher, gyratory crusher, ball
mill, dan SAG mill dapat dipilih berdasarkan kekerasan, kelembaban, dan ukuran
partikel material, memungkinkan pengolahan bijih yang lebih efisien dengan hasil
yang optimal.
Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, proses kominusi juga memiliki
sejumlah kekurangan yang perlu diperhatikan, terutama dari sisi konsumsi energi.
Kominusi merupakan proses yang sangat memakan energi, di mana sekitar 50-70%
dari total energi yang digunakan di pabrik pengolahan mineral dihabiskan untuk
menghancurkan bijih menjadi partikel yang lebih kecil. Hal ini menjadikannya salah
satu tahap paling boros energi dalam keseluruhan proses pengolahan mineral. Semakin
kecil ukuran partikel yang diinginkan, semakin besar energi yang diperlukan untuk
mencapainya, yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional secara signifikan.
Selain energi, biaya operasional juga dipengaruhi oleh frekuensi perawatan alat
kominusi. Peralatan seperti ball mill, SAG mill, dan cone crusher sering mengalami
keausan karena material yang diproses umumnya bersifat keras dan abrasif.
Komponen-komponen seperti grinding media (bola baja atau batang logam) dan liner
(pelapis alat) harus diganti secara berkala, yang menambah biaya perawatan dan
mengurangi efisiensi keseluruhan proses.
Kekurangan lainnya adalah risiko over grinding, yaitu ketika partikel menjadi
terlalu halus akibat proses penggilingan yang berlebihan. Partikel halus ini dapat
mengurangi efisiensi pada tahap pemisahan berikutnya. Dalam proses flotasi,
misalnya, partikel yang terlalu kecil memiliki massa yang terlalu rendah untuk
menempel dengan baik pada gelembung udara, sehingga tidak dapat diangkat ke
permukaan dan akhirnya terbuang bersama dengan tailing. Hal ini tidak hanya
mengurangi hasil mineral berharga, tetapi juga menyebabkan pemborosan energi dan
bahan baku. Selain itu, over grinding dapat menyebabkan partikel halus mengisi pori-

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 13
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

pori material dalam proses leaching, yang memperlambat laju penetrasi pelarut kimia
dan menurunkan efisiensi ekstraksi.
Proses kominusi juga menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan. Salah
satu efek samping dari peremukan dan penggilingan adalah produksi debu dalam
jumlah besar, terutama dalam kondisi kering. Debu ini bisa mencemari lingkungan dan
menimbulkan risiko kesehatan bagi para pekerja, seperti gangguan pernapasan atau
penyakit paru-paru. Oleh karena itu, pengendalian debu, seperti penggunaan sistem
penyedot debu atau penyemprotan air, sangat diperlukan, meskipun ini juga
meningkatkan biaya operasional. Selain itu, ukuran partikel yang tidak merata dapat
menjadi masalah dalam pengolahan mineral. Jika ukuran partikel terlalu bervariasi,
dengan campuran partikel halus dan kasar, hal ini bisa mengganggu proses pemisahan,
karena sebagian proses pemisahan fisik dan kimia, seperti flotasi atau konsentrasi
gravitasi, memerlukan partikel dengan ukuran seragam untuk hasil yang optimal.
Material tertentu, terutama yang sangat keras atau memiliki kadar air yang
tinggi, juga dapat menimbulkan tantangan tersendiri dalam proses kominusi. Material
yang sangat keras, seperti bijih besi atau silika, memerlukan energi dan peralatan yang
lebih besar dan kuat untuk dihancurkan. Alat-alat penghancur seperti SAG mill dan
jaw crusher mungkin mengalami keausan lebih cepat saat menghancurkan material
keras ini, sehingga meningkatkan biaya perawatan dan penggantian suku cadang. Di
sisi lain, material yang basah atau lembap sering kali menyebabkan alat penghancur
menjadi tersumbat atau material menjadi lengket, yang mengganggu aliran material
dalam proses kominusi dan memperlambat proses produksi secara keseluruhan.
Dengan demikian, meskipun kominusi merupakan proses yang sangat penting
dan esensial dalam pengolahan mineral, efisiensi energi dan pengendalian proses
menjadi faktor kunci untuk memaksimalkan keuntungan. Dalam jangka panjang,
upaya untuk mengurangi konsumsi energi dan menghindari over grinding menjadi
fokus utama inovasi dalam teknologi peremukan dan penggilingan.
Beberapa pendekatan inovatif, seperti penggunaan teknologi penggilingan
berenergi rendah atau peralatan yang lebih tahan aus, terus dikembangkan untuk
mengatasi tantangan-tantangan yang ada. Selain itu, penerapan kontrol otomatis dan
sistem pengukuran real-time juga dapat membantu dalam mengoptimalkan proses
kominusi, sehingga dapat mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi secara
keseluruhan.

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 14
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

2.2 Crushing

Crusher merupakan mesin yang dirancang untuk mengurangi besar batu ke


batu yang lebih kecil seperti kerikil atau debu batu. Crusher dapat digunakan untuk
mengurangi ukuran atau mengubah bentuk bahan tambang sehingga dapat diolah lebih
lanjut. Crusher merupakan alat yang digunakan dalam proses crushing, Crushing
merupakan proses yang bertujuan untuk meliberasi mineral yang diinginkan dari
mineral pengotornya. Crushing biasanya dilakukan dengan proses kering, dan dibagi
menjadi tiga tahap, yaitu Prymary crushing, secondary crushing, dan fine crushing.
Ada beberapa istilah yang dikenal dalam kominusi. Gape adalah ukuran yang
menunjukkan besar bukaan untuk feed pada sebuah jaw crusher. Angle of nip (Sudut
jepit), pada jaw crusher didefinisikan sebagai besar sudut yang dibentuk antara kedua
jaw, sementara pada roll crusher, sudut jepit adalah besar sudut yang dibentuk antara
tangen dari permukaan roll yang kontak dengan material. Kemampuan sebuah crusher
didefinisikan dengan reduction ratio, yaitu rasio yang menunjukkan perbandingan
antara ukuran mineral yang masuk, dengan ukuran mineral yang keluar. Kemudian ada
80% Reduction Ratio (RR80), yaitu rasio antara ukuran screen dimana 80% material
bisa masuk dan ukuran screen dimana 80% produk bisa keluar. Material dapat
diremukkan oleh alat peremuk dengan suatu mekanisme peremukan antara pukulan
(impact), tekanan (pressure) atau kombinasi antara pukulan dan tekanan. Produksi
hasil peremukan dengan menggunakan alat peremuk pada operasi peremukan berkisar
dari kilogram/jam untuk tujuan tertentu sampai dengan ratusan ton per jam untuk
pengecilan ukuran material yang dipersiapkan proses metalurgi ekstraksi. Alat
peremuk terdapat dalam berbagai ukuran dan kapasitas dari 0,2 ton/jam sampai dengan
50 ton/jam. Salah satu alat peremuk yang digunakan untuk memperoleh ukuran
material yang dapat dimanfaatkan oleh konsumen adalah jaw crusher (Sumarjono,
dkk., 2024).
Kelebihan utama dari crushing terletak pada kemampuannya untuk
mengurangi ukuran material secara signifikan, yang memungkinkan proses lanjutan
seperti penggilingan (grinding) dan pemisahan mineral berjalan dengan lebih efisien.
Pengurangan ukuran ini sangat penting, terutama karena material mentah yang diambil
langsung dari tambang biasanya berbentuk bongkahan besar yang sulit diolah dalam
kondisi asli. Dengan melakukan crushing, material dapat diubah menjadi ukuran yang
lebih kecil, sehingga mudah untuk diangkut, disimpan, dan diproses. Misalnya, dalam
AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
Crushing - 15
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

proses ekstraksi logam, semakin kecil ukuran partikel bijih, semakin besar luas
permukaan yang tersedia untuk reaksi kimia dengan pelarut, seperti pada proses
leaching, yang akhirnya dapat meningkatkan efisiensi ekstraksi logam dari bijih.
Selain itu, crushing juga memungkinkan pemisahan mineral berharga dari
material pengotor atau gangue lebih efektif. Ketika ukuran partikel lebih kecil, mineral
berharga yang terjebak dalam struktur batuan atau bijih akan lebih mudah dilepaskan,
memungkinkan pemisahan fisik atau kimia menjadi lebih efisien. Misalnya, dalam
proses flotasi, partikel yang lebih kecil dapat lebih mudah menempel pada gelembung
udara dan naik ke permukaan untuk dipisahkan, sementara material pengotor tetap di
bagian bawah. Selain itu, alat-alat yang digunakan dalam proses crushing, seperti jaw
crusher, cone crusher, gyratory crusher, dan impact crusher, menawarkan fleksibilitas
yang tinggi dalam penggunaannya. Setiap jenis alat dapat disesuaikan dengan
karakteristik material yang diolah, seperti kekerasan, ukuran, dan kapasitas produksi
yang diinginkan, menjadikannya sangat efisien dalam berbagai aplikasi di industri
pertambangan dan pengolahan mineral.
Namun, kekurangan dari crushing juga cukup signifikan dan perlu
diperhatikan dalam perencanaan dan operasional pengolahan mineral. Salah satu
kekurangan utama adalah konsumsi energi yang sangat besar. Proses crushing,
terutama untuk material yang keras seperti bijih besi, membutuhkan energi yang sangat
tinggi untuk menghancurkan material menjadi ukuran yang diinginkan. Penggunaan
alat-alat seperti jaw crusher atau gyratory crusher memerlukan tenaga yang besar,
terutama dalam primary crushing di mana bongkahan material masih sangat besar dan
keras. Hal ini menyebabkan crushing menjadi salah satu tahap dengan konsumsi energi
tertinggi dalam keseluruhan proses pengolahan mineral, yang pada akhirnya
meningkatkan biaya operasional. Pengelolaan energi yang buruk dapat menyebabkan
biaya pengolahan menjadi jauh lebih mahal dibandingkan dengan potensi keuntungan
yang dihasilkan dari material yang diolah.
Selain konsumsi energi yang tinggi, crushing juga menimbulkan masalah
keausan alat yang cukup serius. Alat-alat seperti jaw crusher, cone crusher, atau
impact crusher bekerja dengan cara menerapkan tekanan dan gesekan pada material
keras, sehingga komponen alat tersebut, seperti grinding media (bola atau batang
logam) dan liner (pelapis dinding alat), cenderung cepat aus. Keausan ini memerlukan
penggantian suku cadang secara berkala dan perawatan rutin, yang meningkatkan

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 16
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

biaya pemeliharaan dan mengurangi waktu operasional (down time). Selain itu,
material keras seperti bijih besi atau batu silika cenderung menyebabkan alat
mengalami keausan lebih cepat dibandingkan material yang lebih lunak, seperti batu
kapur, sehingga memperburuk masalah keausan ini.
Salah satu risiko lainnya dalam proses crushing adalah over grinding, yaitu
ketika material dihancurkan menjadi partikel yang terlalu halus. Over grinding dapat
berdampak buruk pada efisiensi proses lanjutan, seperti flotasi atau konsentrasi
gravitasi. Partikel yang terlalu halus sering kali tidak diinginkan karena lebih sulit
dipisahkan, terutama dalam proses flotasi, di mana partikel halus tidak memiliki cukup
massa untuk menempel pada gelembung udara dan mengapung ke permukaan.
Akibatnya, mineral berharga bisa hilang bersama tailing, yang berarti terjadi
pemborosan material berharga dan penurunan efisiensi pengolahan. Selain itu, partikel
yang sangat halus juga dapat menyumbat pori-pori material di dalam proses leaching,
memperlambat laju reaksi kimia antara pelarut dan bijih, serta mengurangi laju
ekstraksi logam dari bijih.

2.3 Jaw crusher

Proses peremukan (crushing) merupakan satu tahapan pengolahan bahan


galian untuk mengurangi/memperkecil ukuran material. Pengecilan ukuran material
tersebut menggunakan berbagai macam peralatan misalnya; jaw crusher, gyratory
crusher, roll crusher, impact crusher (crushing), ball mill, rod mill (grinding). Tujuan
pengecilan material tersebut adalah untuk memperoleh ukuran material yang
diinginkan sesuai dengan pemanfaatannya atau dipersiapkan untuk kebutuhan ukuran
material yang dibutuhkan pada proses pengolahan selanjutnya. Pengecilan ukuran
material dapat melalui beberapa tahap untuk memperoleh ukuran material yang
dibutuhkan, yang dikenal dengan primary crushing, secondary crushing dan tertiary
crushing. Crushing adalah suatu proses yang menyeluruh dalam pengolahan bahan
galian dengan batas preparasi ore untuk penyiapan proses hilir dalam pengolahan
bahan galian, merupakan tahapan pengecilan ukuran material setelah operasi
pembongkaran alat mekanis maupun peledakan (blasting).
Jaw crusher adalah alat yang banyak digunakan untuk mengecilkan ukuran
material pada tahap awal (primary crushing) pada skala industri mesin, metalurgi dan
paduan. Peremuk rahang adalah nama lain dari jaw crusher, rahang yang dimiliki alat

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 17
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

tersebut terdiri 2 rahang yaitu fixed jaw dan swing jaw. Proses peremukan material
yang dilakukan dengan menggunakan jaw crusher merupakan suatu proses yang
sederhana. Material umpan (feed) yang akan diperkecil ukurannya dimasukkan ke
dalam alat tersebut akan terjepit di antara dua rahang tersebut dan mengalami
kompresi. Material yang dapat diremukkan oleh proses dengan alat peremuk ini adalah
batuan dari tingkat kekerasan medium hard (sedang) sampai dengan extremely hard
(sangat keras)
Penghancur rahang (jaw crusher) adalah jenis peralatan mekanis yang
digunakan dalam industri pertambangan dan konstruksi untuk menghancurkan batu
dan material besar menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Penghancur rahang
bekerja dengan menggunakan rahang yang bergerak dan rahang yang tetap untuk
menghancurkan dan menggiling batu. Material dimasukkan ke dalam penghancur
rahang oleh pengumpan yang bergetar, kemudian dihancurkan di antara kedua rahang.

Gambar 2.1 Jaw Crusher

Penghancur rahang terdiri dari beberapa bagian, termasuk rahang tetap, rahang
bergerak, dan pelat toggle. Rahang tetap dipasang pada rangka penghancur rahang,
dan rahang bergerak dipasang pada pitman. Pitman adalah komponen bergerak yang
terhubung ke pelat toggle dengan serangkaian tuas. Pelat toggle bertanggung jawab
untuk menyalurkan daya dari pitman ke rahang bergerak. Rahang yang bergerak
dipasang pada poros eksentrik, yang memungkinkannya bergerak ke atas dan ke bawah
dalam gerakan melingkar. Saat rahang bergerak ke bawah, material dihancurkan oleh
AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA
09320220236
Crushing - 18
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

rahang yang tetap. Material kemudian dikeluarkan dari bagian bawah penghancur
rahang, dan siap untuk diproses lebih lanjut, Kapasitas nyata dan kapasitas desain alat
peremuk berbeda. Kapasitas nyata didasarkan pada sistem produksi yang digunakan
dan hasil pengambilan produk sampel sedangkan kapasitas desain adalah kapasitas
produksi yang seharusnya dapat dicapai alat peremuk setelah diuji oleh pabrik
pembuatnya, semakin besar hambatan yang terjadi maka akan semakin menurunkan
produksi dari unit peremuk (Novalisae., Aprilia dan Pitria., 2024).
Kelebihan dari jaw crusher dibandingkan dengan alat peremuk lain adalah
kemudahan dalam perawatan dan perbaikan, kapasitas besar, kesederhanaan struktur
dan mekanik, konsumsi energi dan biaya operasional rendah, tetapi, kekurangan alat
tersebut adalah rendahnya efisiensi penggunaan dari input energi yang dibutuhkan
untuk proses meremukkan material (10% dari input energi), input energi yang
digunakan banyak berubah menjadi bising dan panas. Konsumsi energi selama operasi
pengecilan ukuran material juga tergantung pada sifat mekanik (uniaxial compressive
strength dan modulus elastisitas). Operasi peremukan material dilakukan untuk
memperkecil ukuran material dari ukuran meter sampai ukuran yang sangat kecil (fine
crushing) dalam ukuran µm. Prediksi mengenai distribusi ukuran produk memerlukan
penanganan secara mendalam dan masih banyak yang belum dipahami mengenai
karakteristik operasional jaw crusher.

2.4 Double roll crusher

Double roll crusher adalah roll crusher yang mempunyai 2 buah roller, dengan
sumbu yang sejajar pada bidang horizontal yang sama. Double Roll crusher ini
digunakan untuk menghancurkan material menengah atau lebih rendah kekerasan dan
batu dengan media atau kekakuan yang lebih rendah dalam seleksi tambang, bahan
kimia, semen dan bahan bangunan industri production. Roll penghancur memiliki
pengurangan rasio maksimum teoritis 4:1. Jika partikel 2 inci diumpankan ke crusher
roll ukuran terkecil absolut yang bisa diharapkan dari crusher adalah 1/2 inci.
Gulung crusher hanya akan menghancurkan materi ke ukuran partikel
minimum sekitar 10 Mesh (2 mm). Sebuah crusher roll meremukkan menggunakan
kompresi, dengan dua gulungan berputar sekitar poros, terhadap kesenjangan antara
gulungan. Kesenjangan antara gulungan diatur ke ukuran yang diinginkan produk,
dengan kesadaran bahwa partikel pakan terbesar hanya dapat 4 kali dimensi

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 19
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

kesenjangan. Partikel-partikel yang ditarik ke kesenjangan antara gulungan dengan


gerakan mereka berputar dan sudut gesekan terbentuk antara gulungan dan partikel,
yang disebut sudut nip.
Dua gulungan memaksa partikel antara permukaan mereka berputar ke daerah
kesenjangan yang lebih kecil, dan patah tulang dari gaya tekan yang disajikan oleh
gulungan berputar. Beberapa keuntungan utama penghancur gulungan mereka
memberikan distribusi produk ukuran yang sangat baik dan mereka menghasilkan
debu yang sangat sedikit atau denda. Crusher Rolls secara efektif digunakan dalam
mineral menghancurkan mana bijih tidak terlalu kasar dan mereka juga digunakan
dalam pertambangan skala produksi yang lebih kecil lebih bijih logam abrasif, seperti
emas.
Batubara mungkin adalah pengguna terbesar crusher roll, saat ini, meskipun.
Tambang batubara akan menggunakan crusher roll, baik roll tunggal atau roll ganda,
sebagai penghancur utama, mengurangi batubara ROM. Kinerja mesin roller crusher
ini sangat dipengaruhi oleh jenis / kualitas gigi-gigi gilasnya, ukuran shaft dan ukuran
rodanya (Drum), yang semuanya harus disesuaikan dengan raw material dan target
kapasitas produksi, dan kecepatan double roller crusher (Saputra, dkk., 2021).

Gambar 2.2 Double Roll Crusher

Double roll crusher adalah alat yang sangat penting dalam industri pengolahan
material, memiliki berbagai kelebihan yang menjadikannya pilihan yang efektif untuk
berbagai aplikasi. Salah satu keunggulan utamanya adalah efisiensi tinggi. Alat ini

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 20
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

dirancang untuk menghancurkan material dalam jumlah besar dengan kecepatan yang
signifikan, sehingga meningkatkan produktivitas pabrik secara keseluruhan. Proses
penghancuran berlangsung dengan terus-menerus, memungkinkan operasi
berkelanjutan tanpa perlu sering berhenti untuk perawatan atau penggantian suku
cadang. Ini sangat berharga dalam lingkungan industri di mana waktu adalah uang.
Selain efisiensi, ukuran partikel yang dihasilkan oleh double roll crusher juga
dapat dikontrol dengan sangat baik. Dengan kemampuan untuk menyesuaikan jarak
antara kedua rol, pengguna dapat menentukan ukuran produk akhir dengan tepat. Hal
ini sangat penting dalam banyak aplikasi, seperti pengolahan mineral, di mana ukuran
partikel yang konsisten dapat mempengaruhi efektivitas proses berikutnya, seperti
penggilingan atau penyaringan. Dengan ukuran partikel yang seragam, juga dapat
mengurangi pemborosan material dan meningkatkan kualitas produk akhir,
menjadikannya lebih mudah untuk memenuhi standar spesifikasi.
Fleksibilitas operasional merupakan keunggulan lain dari alat ini. Sistem
pengaturan jarak yang mudah memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan ukuran
produk sesuai dengan kebutuhan spesifik dari material yang diproses. Ini membuat
double roll crusher sangat versatile, dapat digunakan dalam berbagai industri seperti
pertambangan, konstruksi, dan daur ulang. Selain itu, dalam banyak kasus, alat ini
memiliki konsumsi energi yang relatif rendah dibandingkan dengan jenis crusher
lainnya. Hal ini tidak hanya mengurangi biaya operasional tetapi juga membuatnya
lebih ramah lingkungan, terutama di industri yang berusaha untuk mengurangi jejak
karbon mereka. Desain sederhana dari double roll crusher juga berkontribusi pada
kemudahan perawatan. Bagian-bagian mesin biasanya mudah diakses, sehingga
teknisi dapat melakukan pemeriksaan dan perawatan rutin dengan cepat dan efisien.
Kemudahan dalam mengganti suku cadang yang aus juga membantu mengurangi
waktu henti mesin, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas keseluruhan.
Namun, meskipun memiliki banyak kelebihan, double roll crusher juga
memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan. Salah satu batasan utamanya
adalah ketidak cocokan untuk material berukuran besar. Alat ini tidak dirancang untuk
memproses material yang terlalu besar tanpa melakukan pre-crushing terlebih dahulu,
yang dapat menambah waktu dan biaya dalam proses. Jika material yang masuk
berukuran terlalu besar, itu dapat memperlambat seluruh proses penghancuran dan
mempengaruhi efisiensi operasional. Kemampuan double roll crusher untuk

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 21
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

menghancurkan material yang sangat keras atau abrasif juga terbatas. Dalam kasus
seperti itu, rol dapat mengalami keausan lebih cepat dan memerlukan penggantian
yang lebih sering. Risiko kerusakan pada rol menjadi semakin tinggi jika material yang
diproses tidak dikelola dengan benar. Kinerja alat ini sangat bergantung pada
pengaturan kecepatan dan tekanan yang tepat; kesalahan dalam pengaturan ini dapat
mengakibatkan hasil yang tidak optimal, termasuk ukuran partikel yang tidak sesuai
dan efisiensi penghancuran yang rendah.
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah kebisingan yang dihasilkan selama
proses penghancuran. Operasi double roll crusher dapat menghasilkan suara bising
yang signifikan, yang mungkin menjadi masalah di area industri tertentu. Untuk
mengatasi hal ini, perusahaan mungkin perlu menerapkan langkah-langkah
pengendalian kebisingan tambahan, yang bisa menambah biaya operasional.
Terakhir, meskipun alat ini efisien, pemakaian suku cadang harus diperhatikan.
Rol dan bantalan akan mengalami keausan seiring waktu, dan perlu diganti secara
berkala, yang dapat menambah biaya pemeliharaan. Selain itu, ada risiko bahwa proses
penghancuran dapat menyebabkan perubahan sifat fisik material, yang dapat
mempengaruhi kualitas produk akhir.
Dengan memahami kelebihan dan kekurangan double roll crusher secara
mendetail, pengguna dapat membuat keputusan yang lebih baik mengenai
penggunaannya dalam berbagai aplikasi industri. Pemilihan yang tepat dan
pengoperasian yang optimal akan membantu memaksimalkan keuntungan dari alat ini.

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 22
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Prosedur Kerja

1. Pertama yang dilakukan adalah menyipkan alat dan bahan.

Gambar 3.1 Menyiapkan alat dan bahan


2. Menyiapkan 2 Kg sampel batubara menggunakan timbangan.

Gambar 3.2 Menimbang sampel batubara

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 23
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

3. Sampel diperkecil ukurannya menggunakan palu hingga muat ke dalam alat


jaw crusher.

Gambar 3.3 Memperkecil ukuran batubara


4. Sampel Batu Bara 2 Kg dimasukkan ke dalam hooper dan atur gape pada jaw
crusher (2 cm dan 1 cm), lalu jalankan alat jaw crusher kemudian
konsentratnya akan keluar melalui bagian bawah alat jaw crusher.

Gambar 3.4 Memasukkan sampel ke alat jaw crusher

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 24
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

5. Setelah itu, konsentrat di masukkan ke dalam ayakan dengan ukuran ayakan


yang digunakan antara lain 4, 8, 10, 14 dan -20 Mesh.

Gambar 3.5 Konsentrat di masukkan ke ayakan


6. Setelah tahap pemisahan konsentrat berdasarkan ukuran mesh, pisahkan
material sesuai dengan ukuran ayakan dan timbang masing-masing berat
tertahan dari setiap ukuran ayakan.

Gambar 3.6 Mengukur berat konsentrat

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 25
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel 4.1 Tabel Pengamatan


BERAT TERTAHAN (gr)
UKURAN MESH
JC 2 cm JC 1 cm DRC 2 cm DRC 1 cm

+4 600 91,56 700 500

-4/+8 158,44 300 76,61 200,50

-8/+10 41,84 118,21 46,79 61,26

-10/+14 44,23 101,26 46,50 49,24

-14/+20 43,37 94,06 45,71 44,62

-20 76,65 153,76 54,84 59,49

TOTAL 1200,53 1094,85 1209,45 1151,09

4.1.1 Jaw crusher 2 cm


1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
600
4 = × 100 % = 49,97%
1200,53
158,44
8 = × 100 % = 13,19%
1200,53
41,48
10 = × 100 % = 3,48%
1200,53
44,23
14 = × 100 % = 3,68%
1200,53
43,37
20 = × 100 % = 3,61%
1200,53
76,65
-20 = × 100 % = 6,38%
1200,53

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 26
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

2. %Berat Tertahan Kumulatif


% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 49,97 = 49,97%
8 = 49,97 + 13,19 = 63,16%
10 = 63,16 + 3,48 = 66,64%
14 = 66,64 + 3,68 = 70,32%
20 = 70,32 + 3,61 = 73,93%
-20= 73,93 + 6,38 = 80,31%
3. % Berat Lolos Kumulatif
% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 80,31 - 49,97 = 30,34%
8 = 80,31 - 63,16 = 17,15%
10 = 80,31 - 66,64 = 13,67%
14 = 80,31 - 70,32 = 9,99%
20 = 80,31 - 73,93 = 6,38%
-20 = 80,31 - 80,31 = 0%

Tabel 4.2 Hasil pengolahan data jaw crusher 2 cm


% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif

4 4,76 600 49,97 49,97 30,34

8 2,38 158,44 13,19 63,16 17,15

10 2 41,84 3,48 66,64 13,67

14 1,41 44,23 3,48 70,32 9,99

20 0,84 43,37 3,61 73,93 6,38

-20 0 76,65 6,38 80,31 0

Total - 1200,53 80,31 404,33 77,53

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 27
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Gambar 4.1 Grafik Jaw Crusher Gape 2 cm

4.1.2 Jaw crusher 1 cm


1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
91,56
4 = × 100 % = 8,36%
1094,85
300
8 = × 100 % = 27,40%
1094,85
118,21
10 = × 100 % = 10,79%
1094,85
101,26
14 = × 100 % = 9,24%
1094,85
94,06
20 = × 100 % = 8,59%
1094,85
153,76
-20 = × 100 % = 14,04%
1094,85

2. %Berat Tertahan Kumulatif


% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 8,36 = 8,36%
8 = 8,36 + 27,40 = 35,76%
10 = 35,76 + 10,79 = 46,55%
14 = 46,55 + 9,24 = 55,79%
20 = 55,79 + 8,59 = 64,38%
-20= 64,38 + 14,04 = 78,42%

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 28
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

3. % Berat Lolos Kumulatif


% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 64,38 - 8,36 = 70,06%
8 = 64,38 - 35,76 = 42,66%
10 = 64,38 - 46,55 = 31,87%
14 = 64,38 - 55,79 = 22,63%
20 = 64,38 - 64,38 = 14,04%
-20 = 64,38 - 78,42 = 0%

Tabel 4.3 Hasil pengolahan data jaw crusher 1 cm


% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif

4 4,76 91,56 8,36 8,36 70,06

8 2,38 300 27,40 35,76 42,66

10 2 118,21 10,79 46,55 31,87

14 1,41 101,26 9,24 55,79 22,63

20 0,84 94,06 8,59 64,38 14,04

-20 0 153,76 14,04 78,42 0

Total - 1094,85 78,42 289,29 181,26

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 29
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Gambar 4.2 Grafik Jaw Crusher Gape 1 cm

4.1.3 Double Roll Crusher 2 cm


1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
700
4 = × 100 % = 57,87%
1209,45
79,61
8 = × 100 % = 6,58%
1209,45
46,79
10 = × 100 % = 3,88%
1209,45
46,50
14 = × 100 % = 3,84%
1209,45
45,71
20 = × 100 % = 3,77%
1209,45
54,84
-20 = × 100 % = 4,53%
1209,45

2. %Berat Tertahan Kumulatif


% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 57,87 = 57,87%
8 = 8,36 + 6,58 = 64,45%
10 = 35,76 + 3,88 = 68,33%
14 = 46,55 + 3,84 = 72,17%
20 = 55,79 + 3,77 = 75,94%
-20= 64,38 + 4,53 = 80,47%

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 30
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

3. % Berat Lolos Kumulatif


% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 80,47 - 57,87 = 22,6%
8 = 80,47 - 64,45 = 16,45%
10 = 80,47 - 68,33 = 12,14%
14 = 80,47 - 72,17 = 8,3%
20 = 80,47 - 75,94 = 4,53%
-20 = 80,47 - 80,47 = 0%

Tabel 4.4 Hasil pengolahan data double roll crusher 2 cm


% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif

4 4,76 700 57,87 57,87 22,6

8 2,38 79,61 6,58 64,45 16,45

10 2 46,79 3,88 68,33 12,14

14 1,41 46,50 3,84 72,17 8,3

20 0,84 45,71 3,77 75,94 4,53

-20 0 54,84 4,53 80,47 0

Total - 1209,45 80,47 419,23 64,02

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 31
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Gambar 4.3 Grafik Double Roll Crusher Gape 2 cm

4.1.4 Double Roll Crusher 1 cm


1. %Fraksi
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛
% Fraksi = × 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
500
4 = × 100 % = 43,43%
1151,09
200,50
8 = × 100 % = 17,41%
1151,09
61,26
10 = × 100 % = 5,32%
1151,09
49,24
14 = × 100 % = 4,27%
1151,09
44,62
20 = × 100 % = 3,87%
1151,09
59,49
-20 = × 100 % = 5,16%
1151,09

2. %Berat Tertahan Kumulatif


% Berat Tertahan Kumulatif = % Berat Tertahan + % Fraksi
4 = 0 + 43,43 = 43,43%
8 = 43,43 + 17,41 = 60,84%
10 = 60,84 + 5,32 = 66,16%
14 = 66,16 + 4,27 = 70,43%
20 = 70,43 + 3,87 = 74,3%
-20= 74,3 + 5,16 = 79,46%

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 32
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

3. % Berat Lolos Kumulatif


% Berat Lolos Kumulatif = Total %Fraksi - %Berat Tertahan Kumulatif
4 = 79,46 - 43,43 = 36,03%
8 = 79,46 - 60,84 = 18,62%
10 = 79,46 - 66,16 = 13,3%
14 = 79,46 - 70,43 = 9,03%
20 = 79,46 - 74,3 = 5,16%
-20 = 79,46 - 79,46 = 0%

Tabel 4.5 Hasil pengolahan data double roll crusher 1 cm


% Berat % Berat
Fraksi Berat
Ukuran % Fraksi Tertahan Lolos
(mm) tertahan
Kumulatif Kumulatif

4 4,76 500 43,43 43,43 36,03

8 2,38 200,50 17,41 60,84 18,62

10 2 61,26 5,32 66,16 13,3

14 1,41 49,24 4,27 70,43 9,03

20 0,84 44,62 3,87 74,3 5,16

-20 0 59,49 5,16 79,46 0

Total - 1151,09 79,46 394,62 82,14

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 33
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Gambar 4.4 Grafik Double Roll Crusher Gape 1 cm

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 34
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING
4.2 Pembahasan

1. Pengolahan Data P80 Jaw Crusher 2 cm


Y = 5,3626x – 5,8473
P80 = 5,3626x – 5,8473
5,3626x = 80 + 5,8473
X = 85,8473 / 5,3626 = 16 mm
2. Pengolahan Data P80 Jaw Crusher 1 cm
Y = 12,726x – 14,33
P80 = 12,726x – 14,33
12,726x = 80 + 14,33
X = 94,33/ 14,33 = 7,41 mm
3. Pengolahan Data P80 Roll Crusher 2 cm
Y = 4,36x – 4,59
P80 = 4,36x – 4,59
4,36x = 80 + 4,59
X = 84,59/ 4,59 = 19,4 mm
4. Pengolahan Data P80 Roll Crusher 1 cm
Y = 6,4229x – 8,79
P80 = 6,4229x – 8,79
6,4229x = 80 + 8,79
X = 88,79 / 8,79= 13,82 mm
5. Pengolahan Data RR80 Roll Crusher 2 cm
RR80 = P80 JC / P80 RC
RR80 = 16/ 19,4= 0,82 mm
6. Pengolahan Data RR80 Roll Crusher 1 cm
RR80 = P80 JC / P80 RC
RR80 = 7,41 / 13,82 = 0,53 mm
7. Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 2 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236gr – 1200,53gr) / 1236gr x (100%) = 2,86 %
8. Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 1 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236 gr – 1094,85 gr) / 1236 gr x (100%) = 11,41 %

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 35
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

9. Pengolahan Data Berat Hilang Roll Crusher 2 cm


Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236 gr – 1209,45 gr) / 1236 gr x (100%) = 2,14%
10. Pengolahan Data Berat Hilang Roll Crusher 1 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
Berat Hilang = (1236 gr – 1151,09 gr) / 1236 gr x (100%) = 6,86 %

AGUNG DWI SURYA PUTRA S.T HADRIAN PAUDI PATTA


09320220236
Crushing - 36
2.2 GRINDING

Anda mungkin juga menyukai