0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan96 halaman

LKPD RME dan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa

Diunggah oleh

Widia Tri Wahyuni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan96 halaman

LKPD RME dan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa

Diunggah oleh

Widia Tri Wahyuni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

EFEKTIVITAS LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

BERBASIS REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME)


TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
MATEMATIS SISWA
KELAS V DI MIS GUPPI 13 TASIK MALAYA

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 (S1)
Dalam Ilmu Tarbiyah

Oleh :
VIONA ROSALINA PUTRI UTAMI
NIM : 19591246

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH


IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI CURUP
2023/2024

i
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dasar pokok dari suatu bangsa adalah pendidikan. Pada dasarnya

pendidikan merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik

untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan

tertentu. Interaksi antara pendidik dengan peserta didik dapat dilihat dari

proses dan sistem pembelajaran yang dirancang dan diterapkan di dalam

kelas. Agar tercipta mutu pembelajaran yang lebih baik.

Pendidikan merupakan bimbingan atau pertolongan yang diberikan

dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi

dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi

dalam arti mental.1 Salah satu indikator kemajuan suatu bangsa dapat

dilihat dari pendidikan di suatu bangsa tersebut. Semakin baik tingkat

pendidikan suatu negara, semakin baik juga sumber daya manusianya.

Sehingga, antara pendidikan dan kemajuan suatu bangsa merupakan satu

kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberinya

awalan “pe” dan akhiran “an”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara dan

1
[Link] Rosdiana, Dasar-Dasar Kependidikan(Medan: Gema Ihsani, 2015), h. 10.

1
2

sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani,

yaitu “paedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak.

Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan

“education” yang berarti efektivitas atau bimbingan. Dalam Istilah lain

“Ta‟lim” yang berarti pengajaran dan “ta‟dib” yang berarti melatih.2

Di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan

terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran

agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan, yang diperlukan dirinya,

segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan peserta didik untuk

memimpin perkembangan potensi jasmani dan rohaninya ke arah

kesempurnaannya. 3

Pembelajaran merupakan suatu proses, cara perbuatan menjadikan

orang untuk belajar. Proses pembelajaran mengandung serangkaian

aktifitas antara guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang

berlangsung untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi dalam belajar

mengajar tidak hanya hubungan antara guru dan siswa, melainkan

interaksi belajar yang tidak hanya menyampaikan materi pelajaran

melainkan juga menanamkan pengaplikasianya dalam kehidupan sehari-

2
Ibid, hal. 11.

3
Ibid, hal. 12.
3

hari yang dijalani oleh siswa khusunya pada pembelajaran matematika.

Matematika merupakan subjek yang sangat penting dalam sistem

pendidikan di seluruh dunia, negara yang mengabaikan pendidikan

matematika sebagai prioritas utama akan tertinggal dari kemajuan segala

bidang (terutama sains dan teknologi), dibanding negara lainnya yang

memberikan tempat bagi matematika sebagai subjek yang sangat penting.

Untuk itu pemberian pelajaran matematika dirasa akan sangat berguna

untuk diterapkan dalam berbagai keperluan.

Matematika adalah salah satu pengetahuan dasar yang mempunyai

kontribusi dalam proses kehidupan dan mempunyai peranan penting dalam

berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Matematika

menjadi salah satu ilmu yang mendasari efektivitas ilmu pengetahuan dan

teknologi. Matematika juga mempunyai peran penting dalam

perkembangan berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu, matematika

menjadi suatu ilmu yang penting untuk diajarkan. Belajar matematika

membentuk siswa untuk dapat berhitung, berlogika, dan lebih jauhnya

matematika dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan

yang ada di lingkungan sekitar. Namun berbanding terbalik dengan

implementasinya, tujuan pembelajaran masih jauh dari yang diharapkan.

Matematika masih dianggap sulit dan kurang diminati peserta didik.

Seperti halnya Abdurrahman menyatakan bahwa dari sekian banyak mata


4

pelajaran yang diajarkan, matematika selalu menjadi bidang yang dalam

perspektif peserta didik yang peling rumit dan sulit dipahami.4

Namun kenyataannya masih banyak siswa yang beranggapan

bahwa matematika adalah pelajaran yang menakutkan dan sulit, hal ini

karena matematika diajarkan sebagai sesuatu yang abstrak, monoton, dan

tidak menarik. Maka dari itu guru berkewajiban mengubah anggapan para

siswa, dengan menciptakan suatu iklim belajar siswa aktif dan tidak

adanya dominasi dari pihak guru pada saat pembelajaran.5

Model pembelajaran Realistic Mathematics Education adalah

model yang bertitik tolak dari hal-hal yang 'real' bagi siswa, menekankan

keterampilan berdiskusi dan berkerjasama, berargumentasi dengan teman

sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri dan pada akhirnya

menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara

individu maupun kelompok. Agar proses pemecahan masalah yang

dilakukan dalam Realistic Mathematics Education dapat tercapai dengan

maksimal maka dapat dilakukan dengan pembelajaran membentuk

kelompok.6

Berdasarkan hasil observasi di lapangan proses pembelajaran

selama ini memusatkan siswa untuk menghafalkan informasi yang

disampaikan di kelas. Siswa kurang didorong untuk mengembangkan pola

4
Abdurrahman, 2003 pendidikan bagi anak berkesulitan belajar, Jakarta : Rineka Cipta,h.
36.
5
SetyoWinarni Endang, Matematika Untuk PGSDV (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2016),h.113.
6
Asrina Mulyati, Pengaruh Pendekatan RME Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah
Siswa Pada Materi Operasi Hitung Campuran Di Kelas IV SD IT Adzkia I Padang, ISSN 2355-
4185(p), 2548-8546(e), Vol. 4, No. 1, April 2017. h. 91.
5

pikirnya. Otak siswa dipaksakan untuk mengingat berbagai informasi

tanpa dituntut untuk menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Hal

ini mengakibatkan siswa mahir dalam hal teori namun masih kesusahan

dalam hal aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan pemecahan masalah menjadi penting diajarkan pada

siswa karena dengan kemampuan tersebut, siswa dapat menyelesaikan

berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat

menganalisis serta mengkomunikasikan berbagai strategi pemecahan

masalah tersebut. Semakin dini kemampuan tersebut diajarkan pada siswa,

tentunya akan berdampak positif bagi perkembangan siswa. Hal ini untuk

membekali siswa agar tetap eksis di masa revolusi 4.0. 7

Pemecahan masalah merupakan suatu proses untuk mengatasi

kesulitan yang dihadapi untuk mencapai suatu tujuan yang hendak

dicapai.8 Memecahkan suatu masalah matematika itu bisa merupakan

kegiatan menyelesaikan soal cerita, menyelesaikan soal yang tidak rutin,

mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari atau keadaan

lain. Dalam dunia pendidikan khususnya siswa, mereka akan menghadapi

masalah jika materi pembelajaran dengan soal atau pertanyaan-pertanyaan

yang berkaitan dengan soal cerita yang berkaitan denga kehidupan sehari-

hari. Pertanyaan tersebut menjadi masalah bagi siswa apabila pertanyaan

7
Rani Irmawati, Aisyah Rahayu, Siti Ratnasari “analisis kemampuan pemecahan masalah
siswa dalam menyelesaikan soal higher order thinking skills (hots)” Journal of Educational
Integration and Development Volume 1, Nomor 4, 2021 hal 247.
8
Syamsinat,gusnia k, asmawati, andi kamal ahmad, “model pembelajaran problem based
learning (pbl) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa” jurnal matematis
education (juli 2023) hal 92.
6

itu harus dipahami dan merupakan tantangan yang harus dipecahkan

namun mereka sulit untuk memecahkannya.

Beberapa penelitian mengenai permasalahan matematis yaitu

menunjukkan bahwa dalam penyenlesaian masalah dibutuhkan beberapa

langkah pemebelajaran agar pemecahan masalah matematis dapat evektif,

langkah-langkah tersebut meliputi beberapa konsep kegiatan

pembelajaran meliputi kemampuan siswa untuk mengelola pemikiran agar

bisa memecahkan masalah matematis.9 Menurut Peneliti Ruseffendi suatu

persoalan itu merupakan masalah bagi seseorang jika: (1) persoalan itu

tidak dikenalnya, maksudnya ialah siswa belum memiliki prosedur atau

algoritma tertentu untuk menyelesaikannya, (2) siswa harus mampu

menyelesaikannya, baik kesiapan mentalnya maupun pengetahuan-nya,

terlepas dari apakah ia sampai atau tidak pada jawabannya, dan (3) sesuatu

merupakan permasalahan baginya, bila ia ada niat untuk

menyelesaikannya.10 Kemudian Menurut peneliti Polya ada empat langkah

yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah yaitu: (1) memahami

masalah, (2) merencanakan pemecahan masalah, (3) menyelesaikan

masalah sesuai rencana yang telah direncanakan, (4) memeriksa kembali


11
hasil yang diperoleh (looking back). Dipihak lain Hudojo menyatakan

bahwa pemecahan masalah mem-punyai fungsi penting dalam kegiatan

belajar mengajar matematika, sebab melalui pemecahan masalah siswa

9
Husnudar, dkk, “Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis Siswa”, Jurnal Didaktik Matematika, ISSN
2355-418, 2014.
10
Hardika Saputra, ” Kemampuan Pemahaman Matematis” (2012).
11
Suherman E “pembelajaran matematika kontemporer” bandungJICA. 2001 hal 91.
7

dapat melatih dan mengintegrasikan konsep-konsep, teorema-teorema dan

keterampilan yang telah dipelajarinya sebelumnya untuk memecahkan


12
masalah. sedangkan menurut peneliti R,Elvira dan surya Kemampuan

pemecahan masalah matematis merupakan suatu aktivitas kognitif yang

kompleks, sebagai proses untuk mengatasi suatu masalah yang ditemui

dan untuk menyelesaikannya diperlukan sejumlah strategi. Melatih siswa

dengan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika bukan hanya

sekedar mengharapkan siswa dapat menyelesaikan soal atau masalah yang

diberikan, namun diharapkan kebiasaaan dalam melakukan proses

pemecahan masalah membuatnya mampu menjalani hidup yang penuh

kompleksitas permasalan.13

Kemampuan pemecahan masalah matematis termasuk dalam

kategori berpikir tingkat tinggi yang memerlukan kesiapan, pengetahuan,

kemampuan, serta kreativitas dalam pembelajarannya. Kemampuan

pemecahan masalah matematis siswa dapat dikembangkan melalui diskusi

dan latihan soal. Pemecahan masalah dilakukan dengan memahami

permasalahan terlebih dahulu melalui penalaran, kemudian menyusun

rencana penyelesaian, melaksanakan rencana, serta memeriksa proses dan

hasil.

Berdasarkan uraian di atas, kemampuan pemecahan masalah

khususnya dalam matematika tidak secara instan dapat dikuasai oleh siswa.

12
Hamima tan “ kemampuan pemecahan masalah matematika” (medan: researchgate,
2019.) hal 160.
13
Edy surya, feria andriana putri, muktar” improving mathematical problem-solving
ability and self-confidence of high school students through contextual learning model” jurnal on
mamhematucs education. Volume 8, No. 1, January 2017, pp. 85-94
8

Dalam pemecahan masalah siswa melibatkan berbagai ide, informasi, dan

strategi yang dapat diperoleh melalui kegiatan komunikasi. Selain itu,

dengan kemampuan pemecahan masalah diharapkan siswa dapat

memahami masalah matematika melalui analisis ide, informasi, dan

strategi untuk memecahkan masalah, serta dapat mengemukakannya

secara tepat, singkat, dan logis. Dengan demikian, kemampuan pemecahan

masalah matematis penting untuk diajarkan karena hampir semua siswa

memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lemah. Siswa tidak

mampu membaca soal dengan benar, siswa kesulitan dalam membaca

konsep yang ada pada soal, sehingga siswa juga kesulitan dalam

menentukan penyelesaian yang tepat. Selain itu, rata-rata siswa tidak

memeriksa kembali solusinya. Jika ada beberapa siswa yang melakukan

pemeriksaan ulang, maka yang diperiksa hanya perhitungannya saja,

bukan keakuratan prosedur yang digunakannya. Kenyataan yang diperoleh

bahwa pemahaman relasional dan keterampilan pemecahan masalah siswa

masih tergolong lemah, hal ini bisa disebabkan oleh fokus pembelajaran

yang masih berpusat pada rendahnya keterampilan berpikir yang hanya

bersifat prosedural dan kurang mengandung tantangan.14

Sebuah kajian dalam penelitian Arsaythamby & Zubainur

menunjukkan bahwa pembelajaran matematika di Indonesia kebanyakan

berpusat pada guru, bersifat mekanistik, dan dipraktikkan secara

konvensional. Pembelajaran tersebut mengakibatkan kemampuan siswa

14
IL Irsal (2017) Junior High School Students’ Understanding and Problem Solving Skills
on the Topics of Line and Angles
9

sulit untuk berkembang secara maksimal.15 Oleh karena itu dalam proses

pemecahan masalah matematis dibutuhkan metode dan media

pembelajaran yang dapat diterima dan mudah dipahami oleh siswa serta

dapat diterapkan oleh guru sabagai langkah dalam peningkatan

kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematis dibutuhkan

media pembelajaran salah satunya yaitu Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD) yang menjadi penunjang utama dalam preses belajar mengajar

didalam dunia pendidikan terutama Sekolah Dasar.

Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) adalah salah satu jenis

perangkat pembelajaran yang dapat membantu peserta didik memahami

materi dengan muda. LKPD juga akan bermanfaat bagi peserta didik

karena dapat membuat pembelajaran yang dilakukan menjadi menarik,

memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar mandiri, dan

mempermudah dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus

dikuasai terutama dalam kegiatanpembelajaran matematika.

Kurangnya kaitan antara pembelajaran matematika yang dilakukan

di sekolah dengan kehidupan sehari-hari peserta didikdan dunia nyata

mengakibatkan peserta didik cenderung menganggap bahwa matematika

merupakan pelajaran yang sulit. Dalam upaya meningkatkan

kemampuan pemahaman peserta didik perlu dipertimbangkan keputusan

pembelajaran yang akan diterapkandi kelas.

15
Arsaythamby, V., & Zubainur, C. M. (2014). How a realistic mathematics educational
approach affect students’ activities in primary schools?. Procedia-Social and Behavioral
Sciences,
10

Berdasarkan hasil observasi di MIS GUPPI Tasikmalaya pada 15-

16 Desember 2022, ditemukan bahwa pembelajaran masih berpusat pada

guru, sehingga kemampuan pemecahan masalah siswa masih kurang baik

terutama melalui aspek observasi yang dilakukan meliputi memahami dan

tidak memahami pembelajaran dalam pemecahan masalah matematis

didapatkan data bahwa yang memahami hanyalah 9 orang dari 32 siswa

yang dilakukan observasi. Ketika guru memberikan soal latihan berupa

soal cerita, siswa menjawabnya secara singkat tanpa alur yang jelas dan

saat ditanya mengenai hasil pekerjaannya, jawaban siswa terpaku pada

hasil tanpa memahami proses menemukan jawaban seperti berikut :

Gambar 1.1
Jawaban siswa terhadap soal latihan

Hal tersebut membuktikan bahwa siswa belum memahami solusi

dari permasalahan yang diberikan dan siswa belum dapat mengemukakan

gagasan yang diperoleh untuk memecahkan masalah tersebut. Hal inilah

yang menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan

kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematis.


11

Hasil wawancara guru kelas V di sekolah tersebut menunjukkan

bahwa saat pembelajaran matematika siswa tidak dapat memahami

maksud soal. Siswa mengalami kesulitan untuk memahami soal

matematika dalam bentuk cerita karena siswa belum terbiasa

menyelesaikan permasalahan secara runtut dan siswa hanya mementingkan

hasil akhir tanpa memahami proses menemukan jawaban. Saat menjawab

soal, siswa terpaku pada rumus dan hasil akhir tanpa memahami maksud

dari jawaban yang ditulisnya. Dalam hal ini, pemecahan masalah

matematis menjadi hal yang penting untuk dikuasai.

Berdasarkan analisis hasil observasi dan wawancara di atas, dapat

disintesiskan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di

MIS GUPPI belum dikembangkan secara maksimal. Kemampuan

pemecahan masalah matematis pada siswa ini tidak dapat berkembang

dengan sendirinya, namun diperlukan peran serta dari guru. Dengan

demikian, perlu adanya upaya untuk membelajarkan kemampuan

pemecahan masalah matematis tersebut khususnya di MIS GUPPI.

Upaya yang dilakukan tidak lepas dari peran guru sebagai

fasilitator bagi siswa. Guru sebagai fasilitator berperan memberikan

fasilitas untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam hal

ini, guru bukan lagi menjadi sumber utama belajar siswa. Oleh karena itu

Guru dituntut untuk menghadirkan strategi pembelajaran yang

berorientasi pada aktivitas peserta didik, guru hanya bertindak sebagai

fasilitator, motivator dan manager yang baik dalam kegiatan


12

pembelajaran di kelas.16 Guru harus mampu menyediakan berbagai

sumber belajar bagi siswa agar siswa dapat mengembangkan kemampuan

pemecahan masalah matematis. Salah satu sumber belajar yang dapat

digunakan untuk mengembangkan kemampuan tersebut adalah melalui

LKPD. Sementara di MIS GUPPI, belum tersedia LKPD yang dapat

menunjang kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Salah satu

sumber belajar yang tersedia adalah buku pelajaran. Hasil wawancara

dengan beberapa siswa kelas V sekolah dasar di MIS GUPPI diperoleh

bahwa buku yang tersedia di sekolah pun masih kurang memadai. Buku

yang tersedia masih sangat terbatas dan memiliki tampilan yang kurang

menarik bagi siswa seperti banyak buku yang tidak memiliki warna dan

buku yang sudah lama sehingga ada beberapa buku yang sudah tidak utuh.

Berdasarkan paparan di atas, diperlukan suatu upaya untuk

memenuhi kebutuhan siswa dan guru. Salah satu upaya tersebut dapat

dilakukan dengan mengembangkan bahan ajar berupa LKPD yang

digunakan untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah

matematis siswa. LKPD yang digunakan sebagai alat penunjang

pembelajaran. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) adalah salah satu

alternatif dalam upaya memahamkan peserta didik terhadap suatu materi

pelajaran. Lembar Kerja Peserta Didik merupakan lembar kegiatan

berdasarkan kompetensi yang akan dicapai serta dilengkapi tahapan-

tahapan yang dikerjakan dalam menyelesaikan suatu masalah yang

16
elita et al ,”jurnal matematika dan pendidikan matematika mathline” hal 113
13

disajikan. LKPD dipilih karena pendidik bisa mendesain sendiri bahan ajar

sesuai dengan kondisi peserta didiknya.17 LKPD dapat disusun sedemikian

rupa dengan salah satu tujuannya untuk membangun pengetahuan peserta

didik itu sendiri.

Manfaat LKPD adalah sebagai sarana mengaktifkan siswa dalam

proses pembelajaran, membantu siswa dalam mengembangkan konsep,

melatih siswa dalam menemukan dan mengembangkan ketrampilan proses,

sebagai pedoman pendidik dan siswa dalam melaksanakan proses

pembelajaran, membantu siswa memperoleh catatan tentang materi yang


18
dipelajari melalui kegiatan belajar. Sehingga LKPD digunakan untuk

memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, bagi siswa akan

belajar secara mandiri dan belajar secara memahami konsep dari materinya.

LKPD yang berbasis Realistic Mathematics Educations (RME)

yang memuat permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari

siswa. Realistic mathematics education (RME) ini juga dianggap sebagai

model yang sangat menjanjikan untuk meningkatkan kualitas

pembelajaran matematika dan lebih relevan bagi siswa di Indonesia.19

Meng LKPD berbasis alistic mathematics education (RME) musti

disiapkan untuk meningkatkan minat pemecahan masalah matematis bagi

siswa karena konten dalam buku pelajaran difokuskan pada lingkungan


17
Theresia Monika Siahaan, “Efektivitas Lembar Kerja Peserta didik Berbasis
Pendekatan Realistic Mathematics Education”. MES: Journal of Mathematics Education and
Science Universitas HKBP Nomensen. Vol. 5, No. 2, 2020, h. 52.
18
Andi Prastowo. 2014. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta:Diva
Press.
19
Fauzan, A., Slettenhaar, D., & Plomp, T. (2002). Traditional mathematics education vs.
realistic mathematics education: Hoping for changes. In Proceedings of the 3rd International
Mathematics Education and Society Conference (pp. 1-4).
14

sekitar siswa sehingga lebih dekat dengan siswa. Realistic mathematics

education (RME) dalam LKPD ini disajikan dalam bentuk berbagai

permasalahan sehari-hari yang disesuaikan dengan lingkungan sekitar

siswa. Hal tersebut sejalan dengan penelitian oleh Sembiring yang

mengatakan bahwa model realistic mathematics education memiliki

karakteristik siswa aktif belajar dan memiliki konteks yang terkait

langsung dengan lingkungan siswa.20

Pembelajaran menggunakan LKPD berbasis RME dipilih dan

dirasa tepat karena konsep dunia nyata menjadi dasar pelaksanaannya.

Peserta didik terlebih dahulu pernah mengetahui atau telah memiliki

pengalaman sebelumnya terhadap materi yang akan dijelaskan sehingga

peserta didik mampu mengkonstuksi sendiri pengetahuannya menjadi

pembelajaran yang bermakna. LKPD berbasis RME akan memuat masalah

matematis yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari karena pada

dasarnya siswa yang akan lebih cepat memahami sesuatu jika dikaitkan

dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan siswa. Selanjutnya

peserta didik membuat model matematika yang sesuai dengan masalah

sebelumnya. Kemudian akan ada instruksi untuk berdiskusi mengenai

pemecahan masalah sehingga peserta didik aktif dan memberikan

kontribusi dalam pembelajaran. Adanya suatu upaya tersebut, diharapkan

mampu menjadi solusi yang tepat dan efektif dalam rangka meningkatkan

kemampuan pemecahan masalah peserta didik.

20
Sembiring, R. K., Hoogland, K., & Dolk, M. L. A. M. (Eds.). (2010). A decade of PMRI
in Indonesia. Bandung.
15

Selanjutnya Tri Andari dan Eva Komsiatun dalam penelitiannya

menyatakan bahwa LKPD Berbasis Pendekatan Realistic Mathematics

Education Untuk Meningkatkan Kemampuan Matematis Peserta didik

yang dikembangkan dinyatakan layak dalam meningkatkan kemampuan

pemecahan matematis peserta didik.21 Berdasarkan pemaparan masalah

tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul

“Efektivitas Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) Terhadap Kemampuan Pemecahan

Masalah Matematis Siswa kelas V di MIS GUPPI 13 Tasik Malaya.”

B. Identifikasi Masalah

1. Belum adanya keterkaitan materi yang dipelajari dengan kehidupan

nyata dalam pembelajaran.

2. Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa belum diajarkan

secara maksimal, siswa kesulitan dalam memahami solusi dari

permasalahan yang diberikan khususnya pada soal cerita.

3. Belum adanya LKPD berbasis Realistic Mathematics Education

(RME) untuk kelas V di MIS GUPPI Tasik malaya yang

menggunakan langkah-langkah menarik dalam meningkatkan

kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

21
Tri Andari dan Eva Komsiatun, “Efektivitas Lks Berbasis Pendekatan Realistic
Mathematics Education Untuk Meningkatkan Kemampuan Matematis Peserta didik”. Aksioma
Jurnal Pendidikan Matematika FKIP Univ. Muhammadiyah. Vol. 7, No. 1, 2018, h. 159.
16

C. Batasan Masalah

Agar penelitian terarah dan tidak terlalu meluas sehingga

sistematika sesuai dengan aturan ilmiah, maka batasan masalah dalam

penelitian ini, adalah

1. Penelitian ini hanya melakukan penelitian pada Peserta didik

kelas V di MIS GUPPI 13 Tasik Malaya.

2. Tahapan-tahapan atau langkah-langkah aktivitas pendidik dan

siswa selama pembelajaran berlangsung.22 Pembelajaran

menggunakan Lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis

Realistic Mathematics Education (RME).

3. Penelitian Lembar kerja peserta didik (LKPD) yang digunakan

berbasis Realistic Mathematics Education (RME) materi

volume bangun ruang di kelas V sekolah dasar untuk

meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis

Siswa.

4. Indikator pemecahan masalah matematis yang diharapkan

dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Polya dan

disesuaikan dengan tahapan perkembangan siswa kelas V

sekolah dasar.23 Tujuan pemecahan masalah matematis adalah

siswa mampu memahami masalah, menyusun rencana,

22
Wahyu widada “sintaks model pembelajaran matematika berdasarkan perkembangan
kognitif peserta didik” Pendidikan Matematika FKIP Universitas Bengkulu 2016.

23
Polya, G. (1973). How to solve it: A new aspect of mathematics method 2nd edition.
Princeton, New Jersey: Princenton University Press.
17

melaksanakan rencana, dan mengecek kembali apa yang sudah

dilakukan.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan

yang perlu diteliti dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimana penerapan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)


Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) Terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis siswa?

2. Apakah penggunaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)


Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) Efektif
Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
kelas V di MIS GUPPI 13 Tasik Malaya?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui efektivitas Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis

Realistic Mathematics Education (RME) Terhadap Kemampuan

Pemecahan Masalah Matematis Siswa kelas V di MIS GUPPI 13 Tasik

Malaya.

2. Mengetahui gambaran kemampuan pemecahan masalah matematis

setelah penerapan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis

Realistic Mathematics Education (RME) pada kelas V MIS GUPPI 13


18

Tasik Malaya.

F. Manfaat Penelitian

Berdasakan hasil penelitian ini, maka diharapkan akan memberikan

manfaat baik itu secara teoretis maupun praktis.

Adapun secara teoretis manfaatnya yaitu :

1. Dalam rangka memperluas wawasan ilmu pengetahuan tentang

keefektivan LKPD untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

khususnya yang berkaitan dengan LKPD dalam pembelajaran

matematika.

2. Menjadi sumbangsih pemikiran dan bahan acuan bagi yang

memiliki keperluan dalam rangka mengembangkan untuk

meningkatan yang lebih mendalam tentang LKPD pembelajaran

matematika.

Adapun secara praktis, yakni:

1. Untuk peserta didik, sebagai stimulasi berfikir untuk dapat

memberikan pemahaman yang bermakna bagi peserta didik.

2. Untuk pendidik, merupakan bahan tambahan dan inovasi baru

dalam pembelajaran yang lebih aktif dan bermakna.

3. Untuk sekolah, dalam supervisi sebagai bahan pertimbangan

dalam upaya menaikkan kualitas pembelajaran di sekolah.


19

4. Untuk Prodi, dapat memberikan masukan kepada program studi

dalam rangka meningkatkan kualitas perkuliahan.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pemecahan Masalah

1. Pengertian efektivitas

Efektivitas berasal dari kata dasar “efektif”. Dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia efektif berarti: (1) ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya,

kesannya), (2) manjur atau mujarab, (3) dapat membawa hasil, berhasil guna.

Sedangkan Efektivitas berarti: (1) keadaan berpengaruh: hal berkesan, (2)

kemanjuran, kemujaraban, (3) keberhasilan usaha atau tindakan. Secara

Etimologis kata Efektif sering diartikan sebagai mencapai sasaran yang di

inginkan (Producing desired result), Berdampak menyenangkan (Hafing a

pleasing effect), bersifat aktual atau nyata (Actual and Real).1 Keefektifan

adalah ketetapan sasaran dari suatu proses yang berlangsung untuk tujuan

yang telah ditetapkn sebelumnya.2

Efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana

apa yang telah direncanakan dapat tercapai, semakin banyak rencana yang

dapat dicapai, berarti semakin efektif pula kegiatan tersebut. Keefektifan

dalam pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan

1
Umam, Khairul. 2010. “Perilaku Organisas” Bandung : Pustaka Setia.
2
Soetopo, Hendayat. 2010. “Perilaku Organisasi” Bandung: Rosda
20
21

proses belajar mengajar. Berdasarkan pengertian efektivitas di atas, maka

yang dimaksud efektivitas pada penelitian ini adalah ukuran keberhasilan

dari suatu usaha.3

Pembelajaran berasal dari kata dasar “belajar”. Belajar merupakan

suatu proses perolehan, pengasimilasian dan penginternalisasian masukan

kognitif, metodik atau perilaku untuk digunakan secara efektif saat

diperlukan.4 Belajar adalah proses yang dilakukan oleh individu untuk

memperoleh perubahan tingkah laku yang menetap, baik yang dapat diamati

maupun yang tidak dapat diamati secara langsung yang terjadi sebagai suatu

hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan.5

Pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan

peserta didik, dimana keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intensif

dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan sebelumnya.6

Pembelajaran merupakan proses, cara, dan perbuatan yang diatur

sedemikian rupa sehingga tercipta hubungan timbal balik antara siswa dan

guru untuk mencapai tujuan tertentu.

Setelah memperhatikan uraian mengenai pengertian efektivitas dan

pengertian pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas

3
Mukhlish, Mawir. 2012. “Keefektifan Pendekatan Realistic Mathematics Education
(RME) dalam Pembelajaran Matematika pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Mengkedek
Kabupaten Tana Toraja”. Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: Universitas Muhammadiyah
Makassar.
4
Daryanto. 2013. Inovasi Pembelajaran Efektif. Bandung: Yrama Widya.
5
Roziqin, Muhammad Zainur. 2007. Moral Pendidikan di Era Globa; Pergeseran Pola
Interaksi Guru-Murid di Era Global. Malang : Averroes Press.
6
Trianto. 2018. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Jakarta: Kharisma
Putra Grafika
22

pembelajaran adalah ukuran keberhasilan dari suatu kegiatan yang sengaja

dilaksanakan untuk menciptakan suasana belajar bagi siswa.

Efektivitas pembelajaran dapat diketahui dengan memperhatikan

beberapa indikator. Adapun yang menjadi indikator efektivitas pembelajaran

matematika ditinjau dari tiga aspek, yaitu:

a). Ketuntasan Hasil Belajar

Ketuntasan belajar dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang telah

mencapai atau memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang

ditentukan oleh sekolah yang bersangkutan.

Ketuntasan belajar dapat dilihat dari hasil belajar yang telah

mencapai ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar ini dilihat dari:

1) Siswa memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 72 yang

ditentukan oleh sekolah.

2) Ketuntasan klasikal belajar siswa dikatakan tuntas apabila mencapai


75%.

3) Hasil belajar siswa dikatakan efektif jika rata-rata gain ternormalisasi

minimal berada dalam kategori sedang atau lebih 0,29.

b). Aktivitas Belajar Siswa

Aktivitas belajar adalah interaksi siswa dengan guru dan siswa

dengan siswa sehingga menghasilkan perubahan akademik, sikap, tingkah

laku dan keterampilan yang dapat diamati melalui perhatian siswa,

kesungguhan siswa, kedisiplinan siswa, dan kerjasama siswa dalam

kelompok.

Aktivitas siswa dalam penelitian ini berada pada kategori baik apabila
23

sekurang-kurangnya 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran

matematika (Borich dalam Manehat, 2014: 28) dengan menerapkan

pendekatan Realistic Mathematics Education (RME).

c). Respons Siswa

Respons Siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

tanggapan siswa terhadap pembelajaran matematika yang dilaksanakan

dengan menerapkan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME).

Pendekatan pembelajaran yang baik dan efektif membuat siswa akan

merespon secara positif setelah mereka mengikuti kegiatan pembelajaran

matematika.

Angket dirancang untuk mengetahui respons siswa terhadap

pembelajaran matematika dengan menerapkan pendekatan Realistic

Mathematics Education (RME). Teknik yang digunakan untuk memperoleh

data respons siswa tersebut adalah dengan membagikan angket kepada

siswa setelah pertemuan terakhir untuk diisi sesuai dengan petunjuk yang

diberikan. Nabih (Hamka, 2015: 8) menyatakan bahwa respons siswa

terhadap pembelajaran dikatakan positif apabila rata-rata persentase respons

siswa minimal 75 %.

Suatu pembelajaran dikatakan efektif jika minimal dua dari tiga

aspek tersebut telah terpenuhi, dengan syarat aspek ketuntasan belajar siswa

secara klasikal terpenuhi.


24

B. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

1. Pengertian Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Menurut Depdiknas LKPD adalah lembaran-lembaran memuat

kegiatan yang musti dilaksankan peserta didik seperti petunjuk, tahapan-

tahapan dalam rangka mengerjakan suatu kegiatan dengan berfokus pada

Kompetensi Dasar (KD) yang akan digapai. Singkatnya, lembar kerja

peserta didik ialah kumpulan lembaran tugas maupun kegiatan yang musti

diselesaikan oleh peserta didik.7

Trianto lebih spesifik menjelaskan Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD) yang merupakan acuan peserta didik yang dipakai dalam rangka

mengembangkan segala aspek pembelajaran yang memuat acuan

penyelesaian masalah yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang

termuat dalam indikator.8

Widjajanti menjelaskan bahwa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dikembangkan oleh

pendidik sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran. LKPD yang

disusun dapat dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kondisi dan

situasi kegiatan pembelajaran yang akan dihadapi.9

Disimpulkan, LKPD adalah bahan ajar yang berisikan materi,

kegiatan, tugas yang memberikan langkah tahapan yang harus dilalui


7
Rozaliafransi dkk, ”Efektivitas Lembar Kerja Peserta Didik Berbasis Pendekatan
Saintifik Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Materi Dunia Tumbuhan”
Universitas Riau, Indonesia, 2015, hal 6.
8
[Link]-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Jakarta :Prestasi Pustaka
9
Endang Widjajanti, Makalah: “Pelatihan Penyususnan LKS Mata Pelajaran Kimia
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Bagi Pendidik SMK/MAK di Ruang Sidang
Kimia Kualitas Lembar Kerja Peserta didik “ Yogyakarta: FMIPA UNY, 2008, h. 1.
25

peserta didik sehingga melibatkan peserta didik dalam penyelesaiannya

masalah dalam rangka mencapai kompetensi yang akan dicapai dalam

belajar.

2. Fungsi dan Komponen Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Secara garis besar, fungsi LKPD yaitu (1) membantu pendidik

dalam menyusun rencana pembelajaran, (2) mengoptimalkan peserta didik

dalam proses belajar mengajar, (3) mengarahkan peserta didik memahami

penjelasan sehingga mampu membuat catatan sendiri, (4) menambha

wawasan dan keingintahuan peserta didik melalui pembelajaran

bersistematis, (5) Membiasakan kegiatan yang menstimulasi dalam

kemampuan dalam setiap proses yang dilalui, (6) membantu peserta didik

aktif dalam mengembangkan konsep.10

3. Unsur-unsur LKPD

Dilihat dari bagian penyusunnya, LKPD memuat 8 unsur yaitu

judul, kompetensi dasar yang akan dicapai, waktu penyelesaian,

peralatan/bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, informasi

singkat, langkah kerja, tugas yang harus dilakukan, dan laporan yang harus

diselesaikan. Jadi, penelitian ini memuat semua unsur yang dilihat dari

struktur maupun format dari LKPD.11

LKPD memiliki karakteristik yaitu memiliki tampilan yang

menarik, materi yang jelas, menggunakan bahasa dengan ketentuan

10
Wulandari, “Pengaruh Problem-Based Learning terhadap hasil belajar ditinjau dari
motivasi belajar PLC di SMK”, Jurnal Pendidikan Vokasi Vol. 3 No. 2, h. 188.
11
Andi Prastowo, Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, h. 208
26

EYD,dan memiliki kebermanfaatan untuk digunakan12. Sedangkan

keunggulan LKPD yaitu menghadirkan pembelajaran yang efektif dan

lebih mudah. Selain itu LKPD dapat disusun sendiri oleh pendidik

berdasarkan potensi peserta didik sebagai subjek utama. Oleh karena itu

komponen materi, keadaan peserta didik, lingkungan maupun keefektifan

pendidik dalam tercapai atau tidaknya tujuan yang diinginkan.

C. Realistic Mathematic Education (RME)

1. Pengertian dan karakteristik Realistic Mathematic Education (RME)

Pembelajaran matematika realistik adalah hasil pemikiran dari Hans

Frudenthal yakni matematika adalah serangkaian aktivitas manusia yang

bersifat strukturalis yang terlalu berorientasi pada system personal

matematika.13 Hans Freudenthal adalah seorang tokoh yang melahirkan

(Realistic Matemathics Education), yang berasal dari Belanda.

RME merupakan pembelajaran yang memuat konteks dunia nyata

sebagai topik pembelajaran. Freudenthal menyatakan bahwa matematika

akan lebih baik diajarkan dengan menautkan realitas yang relevan dengan

pengalaman peserta didik dan masyarakat.14

12
Susanti, puspa djuwita, osa juarsa “Efektivitas Lembar Kerja Peserta Didik (Lkpd)
Berbasis Contextual Teaching And Learning (Ctl) pada Pembelajaran Tematik Terpadu Siswa
Kelas Iv”, jurnal pembelajaran dan pengajaran pendidikan dasar 2021, hal 173
13
Muhammad Nur, “Realistic Mathematics Education (RME)”, pelatiahn TOT pendidik
pelajaran SLTP dan MTs dari enam provinsi pada 20 juni-16 juli di pusat Pendidikan dan Pelatihan
di wilayah IV Surabaya, Direktorat SLTP, Dirjen Pendidikan Dasar dan menengah
Depdiknas, 2001, h. 1.
14
Suryanto dkk. 2010. Sejarah Pendidikan-Matematika Realistik Indonesia
(PMRI) .Yogykarta,
27

Menurut Ahmad & Nasution dalam Maimunah (2019:134) Realistic

mathematics education (RME) merupakan suatu pendekatan pembelajaran

khusus pada bidang matematika. RME memiliki ciri khas yang dapat

menjadikan peserta didik sebagai pembelajar aktif dan memudahkan

peserta didik untuk memahami persoalan matematika secara nyata.

Grevemeijer menyatakan bahwa RME (Realistic Matemathics

Education) berakar pada suatu kegiatan berupa matematisasi (interpretasi

Frudenthal).15 Suryanto menyatakan bahwa RME (Realistic Matemathics

Education) terdiri atas lima dasar yang merupakan karakteristik RME

(Realistic Matemathics Education).

1) Menggunakan Konteks

Konteks tersebut adalah lingkungan nyata peserta didik. Masalah

kontekstual dapat diajukan di awal pembelajaran bertujuan agar memacu

peserta didik dalam menemukan konsep, definisi atau pengetahuan dan

kerangka pemecahan masalah tersebut.

2) Menggunakan Model

Model yang dibuat bertujuan untuk membantu menyampaikan

sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkrit. Model itu dapat berupa konkrit

seperti benda dan semi konkrit yaitu gambar atau skema yang diharapkan

dapat meningkatkan hal yang konkrit sampai abstrak.

3) Menggunakan Kontribusi Peserta didik

4) Menggunakan kegiatan Interaktif

15
Kaeno Gravemeijer. 1994. Developing “Reaistic Mathematics Education” Nederlands:
Utrecht University, h. 83.
28

5) Intertwinning (Keterkaitan topik).16

Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

Realistic Mathematics Education (RME) adalah suatu pendekatan

pembelajaran matematika yang dilaksanakan dengan menempatkan realita

dan lingkungan peserta didik sebagai inti awal pembelajaran. Realita yang

dimaksud yaitu hal nyata yang dapat diamati peserta didik melalui

membayangkan, sedangkan lingkungan adalah tempat peserta didik berada,

baik lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

2. Langkah-langkah Realistic Mathematics Education (RME)

Menurut Shoimin, langkah-langkah pembelajaran matematika

realistic adalah sebagai berikut:

1) Memahami Masalah Konstektual

Guru memberikan masalah (soal) konstektual dan siswa dimnta

untuk memahami masalah tersebut. Guru menjelaskan soal atau masalah

dengan memberikan petunjuk/saran seperlunya (terbatas) terhadap bagian-

bagian tertentu yang dipahami siswa. Pada langkah ini, karakteristik RME

yang diterapkan adalah karakteristik pertama. Selain itu, pemberian

masalah konstektual berarti memberi peluang terlaksananya prinsip

pertama dari RME.

2) Menyelesaikan Masalah Konstektual

Siswa secara individu disuruh menyelesaikan masalah konstektual

pada buku siswa atau LKS dengan caranya sendiri. Cara pemecahan dan
16
Adi Suryanto dkk. 2010.” Evaluasi Pembelajaran di Sd Cetakan” 5. Banten: Universitas
Terbuka. h.33.
29

jawaban masalah yang berbeda lebih diutamakan. Guru memotivasi siswa

untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan pertanyaan soal.

Misalnya: bagaimana kamu tahu ini, bagaimana caranya, mengapa kamu

berpikir seperti itu, dan lain-lain. Pada tahap ini siswa dibimbing untuk

menemukan kembali tentang ide atau konsep definisi dari soal matematika.

Di samping itu pada tahap ini, siswa juga diarahkan untuk membentuk dan

menggunakan model sendiri untuk membentuk dan menggunakannya guna

memudahkan menyelesaikan masalah (soal).

3) Membandingkan dan Mendiskusikan Jawaban

Siswa diminta untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban

mereka dalam kelompok kecil. Setelah itu, hasil dari diskusi itu

dibandingkan pada diskusi kelas dipimpin oleh guru. Pada tahap ini

digunakan siswa untuk melatih keberanian mengemukakan pendapat,

meskipun berbeda dengan teman lain atau bahkan gurunya. Karekteristik

RME yang muncul pada tahap ini adalah penggunaan ide atau konstribusi

siswa, sebagai upaya untuk mengaktifkan siswa melalui optimulasi

interaksi antara siswa dan siswa, antara guru dan siswa dan antara siswa

dan sumber belajar.

4) Menarik Kesimpulan

Berdasarkan hasil diskusi kelompok dan diskusi kelas dilakukan,

guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan tentang konsep,


30

definisi, teorema, prinsip atau prosedur matematika yang terkait dengan

masalah konstektual yang baru diselesaikan. Karakteristik RME yang

muncul pada langkah ini adalah menggunakan interaksi guru dan siswa.

Sementara Wijaya mengemukakan langkah-langkah realistic

mathematics education (RME) sebagai berikut : 17

a) Diawali dengan masalah dunia nyata.

b) Mengidentifikasi konsep matematika yang relevan dengan

masalah, lalu mengorganisir masalah sesuai dengan konsep

matematika.

c) Secara bertahap meninggalkan situasi dunia nyata melalui proses

perumusan asumsi, generalisasi, dan formalisasi. Proses ini

bertujuan untuk menerjemahkan masalah dunia nyata ke dalam

masalah matematika yang representatif.

d) Menyelesaikan masalah matematika.

e) Menerjemahkan kembali solusi matematis ke dalam solusi nyata,

termasuk mengidentifikasi keterbatasan dari solusi.

Berdasarkan uraian pendapat mengenai tahap-tahap RME, dapat

disintesiskan langkah-langkah realistic mathematics education dimulai

dengan siswa diberikan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari,

kemudian siswa memecahkan masalah tersebut, dan kemudian

mengorganisasikan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki ke

17
Wijaya, A. (2012). Pendidikan matematika realistik: Suatu alternatif pendekatan
pembelajaran matematika. Yogyakarta: Graha Ilmu.
31

dalam proses pemecahan masalah. Siswa aktif melakukan kegiatan dalam

pembelajaran dan guru hanya berperan sebagai fasilitator yang membantu

siswa menyelesaikan permasalahan.

D. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics

Education (RME)

Sesuai dengan permasalahan yang dipaparkan sebelumnya, maka

LKPD berbasis Realistic Mathematics Education (RME) akan mendorong

peserta didik untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang sudah

dimilikinya dengan informasi baru yang penerapannya dalam konteks

kehidupan sehari-hari. Model pembelajaran ini mengaitkan materi yang

dipelajari dengan situasi dunia nyata peserta didik khususnya dalam

pembelajaran matematika.

Realistic Mathematics Education (RME) adalah suatu pendekatan

pembelajaran matematika yang dilaksanakan dengan menempatkan realita

dan lingkungan peserta didik sebagai inti awal pembelajaran. Peserta Didik

dibimbing untuk menemukan konsep sendiri. Setelah peserta didik

memahami konsep, peserta didik kembali diberikan masalah realistik agar

peserta didik dapat melihat manfaat matematika.

Selain disusun berdasarkan prinsip, karakteristik serta langkah-

langkah, pendekatan pendidikan matematika realistik Lembar Kerja Peserta

Didik (LKPD) berbasis pendidikan matematika realistik ini juga

dikembangkan dengan kurikulum 2013 dan dengan memperhatikan faktor-


32

faktor dalam mengembangkan bahan ajar, yaitu (a) Kecermatan isi, (b)

Ketepatan cakupan isi, (c) Ketercernaan bahan ajar dan pemaparan yang

logis, (d) Penggunaan bahasa, (e) Perwajahan, (f) Ilustrasi, dan (g)

Kelengkapan Komponen

Karakteristik di dalam LKPD berbasis Realistic Mathematics

Education (RME) harus memuat judul, langkah kegiatan, hasil kegiatan,

pertanyaan, kesimpulan dan soal penerapan. Hal inilah yang akan

ditekankan pada isi LKPD. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis

Realistic Mathematics Education (RME) ini memuat lima karakteristik

dalam pembelajaran yang mampu membantu peserta didik mengkonstruksi

pengetahuan dengan melakukan kegiatan pembelajaran yang aktif dan

bermakna melalui bahan ajar LKPD berbasis Realistic Mathematics

Education (RME) yakni perencanaan, apersepsi, proses belajar mengajar

dan tahap akhir yaitu mengolah dan menganalisis informasi yang

didapatkan serta membuat kesimpulan.18

Berikut langkah-langkah LKPD berbasis RME dalam penelitian ini

yaitu sebagai berikut:

1) Pembelajaran dimulai dengan memberikan masalah kontekstual

bagi peserta didik berdasarkan pengalaman dan kapasitas

pengetahuannya. Diharapkan peserta didik dapat berkontribusi

langsung dalam pembelajaran yang bermakna.

18
Yusuf Hartono. 2010. Pendekatan Matematika Realistik. Jakarta: Dikti Bahan Ajar PJJ
33

2) Masalah kontekstual musti sejalan dengan tujuan yang akan dicapai

dalam pembelajaran.

3) Peserta didik diarahkan untuk membentuk model-model matematika

sesuai kemampuannya.

4) Pembelajaran dapat berlangsung dengan interaktif, dimana peserta

didik mampu menjabarkan konsep dan mengemukakan pendapat

terhadap respon atas maslaah kontekstual yang diberikan,

memahami jawaban dari temannya (peserta didik lain), menyatakan

setuju dan ketidaksetujuan, mencari alternatif pemecahan yang lain

serta melakukan refleksi pada setiap tahap yang dilalui.

E. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis

a. Pengertian Pemecahan Masalah Matematis

Tujuan dari proses pembelajaran adalah perolehan kemampuan.

Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan yang telah dideskripsikan

secara khusus dan dinyatakan dalam istilah-istilah tingkah laku. Untuk

memperoleh kemampuan tersebut tidak lepas dari masalah. Dalam

pembelajaran matematika, berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran

ditandai dengan adanya kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang

dihadapi. Pembelajaran matematika bukan hanya sekedar menyelesaikan

soal yang sudah dimengerti cara dan prosedurnya oleh siswa, tetapi

pembelajaran matematika juga menyajikan soal sebagai suatu masalah.

Krulik & Rudrick menyatakan “A problem is “a situation, quantitative or


34

otherwise, that confronts an individual or group of individuals, that

requires resolution, and for which the individual sees no apparent or

obvious means or path to obtaining a solution”19Masalah merupakan

sebuah situasi, kuantitatif atau sebaliknya, yang berhadapan langsung

dengan individu atau kelompok yang membutuhkan penyelesaian dimana

individu atau kelompok tersebut tidak menemukan cara yang jelas untuk

mempperoleh solusi. Sementara Tomas menyatakan “A problem can be

describe as a situation or predicament with no obvious solution or a

question that you are not able to answer at that moment”.20 Masalah dapat

didefinisikan sebagai suatu situasi atau kesulitan tanpa suatu solusi yang

jelas. Masalah juga dapat dideskripsikan sebagai suatu pertanyaan yang

tidak dapat dijawab pada saat itu. Masalah merupakan situasi yang tidak

diinginkan dan harus diselesaikan.

Ada berbagai permasalahan dalam pembelajaran matematika.

Beberapa sumber mengklasifikasikan masalah menjadi masalah rutin dan

tidak rutin21. Masalah rutin merupakan situasi dimana adaptasi masalah

serupa yang pernah diselesaikan atau penggunaan rumus dibutuhkan untuk

memahami situasi yang baru. Sementara masalah non rutin merupakan

situasi permaslahan yang didasarkan pada kehidupan sehari-hari. Masalah

non rutin ini mendorong siswa untuk mengembangkan cara dan strategi

19
Krulik, S., & Rudnick, J. A. (1987). Problem solving: A handbook for teachers (2nd ed.).
Boston, Massachusetts: Allyn and Bacon.
20
Tomas, S. (1999). Creative problem-solving: An approach to generating ideas. Hospital
materiel management quarterly, 20(4), 33-45
21
Anderson, J. (2009). Mathematics curriculum development and the role of problem
solving. In ACSA Conference (pp. 1-8).
35

pemecahan maslaah yang unik. Sejalan dengan pendapat tersebut, Zakaria

juga mengemukakkan masalah dalam matematika dikalsifikasikan menjadi

2 jenis, yakni:22

1) Masalah rutin

Masalah rutin merupakan masalah berbentuk latihan yang

berulang-ulang yang melibatkan langkah-langkah dalam

penyelesaiannya.

2) Masalah yang tidak rutin

Masalah yang tidak rutin dibedakan menjadi 2, yaitu:

a) Masalah proses, yaitu masalah yang memerlukan

perkembangan strategi untuk memahami suatu masalah dan

menilai langkah penyelesaian masalah tersebut

b) masalah yang berbentuk teka teki, yaitu masalah yang

memberikan peluang kepada siswa untuk melibatkan diri dalam

pemecahan masalah tersebut.

Sementara Marsigit menyatakan persoalan matematika secara garis

besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu persoalan yang berhubungan dengan

kehidupan sehari-hari dan persoalan matematika. Persoalan yang

berhubungan dengan kehidupan sehari-hari merupakan permasalahan yang

memerlukan matematika untuk memecahkannya. Matematika digunakan

sebagai alat, bukan sebagai tujuan. Berbeda dengan persoalan sehari-hari,

22
Zakaria, E. (2007). Trend pengajaran dan pembelajaran matematik. Kuala Lumpur,
Malaysia: PRIN-AD, SDN, BHD.
36

persoalan matematika menekankan aspek matematika dan proses untuk

penyelesaiannya.23

Suatu permasalahan memerlukan penyelesaian atau pemecahan,

begitu juga dengan masalah dalam pembelajaran matematika. BSNP

mengemukakan pemecahan masalah merupakan kompetensi strategik yang

ditunjukkan siswa dalam memahami, memilih pendekatan dan strategi

pemecahan, dan menyelesaikan model untuk menyelesaikan masalah.

Sementara itu, Abdurrahman mendefinisikan pemecahan masalah sebagai

aplikasi dari konsep dan keterampilan.24 Artinya, suatu permasalahan dapat

dipecahkan menggunakan konsep yang telah diperoleh atau menggunakan

keterampilan yang dikuasai. Pemecahan masalah merupakan satu-satunya

jenis kelompok keterampilan berpikir terbesar yang digunakan guru untuk

mengajarkan siswanya cara berpikir.

Dengan pemecahan masalah, siswa diharapkan dapat memecahkan

masalah tidak hanya dalam kelas tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut didukung dalam NCTM yang menyatakan “By learning

problem solving in mathematics, students should acquire ways of thinking,

habits of persistence and curiosity, and confidence in unfamiliar situations

that will serve well outside the mathematics classroom. In everyday life

and in workplace, being a good problem solver can lead to great

23
Marsigit. (2012). Kajian penelitian (review jurnal internasional) pendidikan matematika.
Universitas Negeri Yogyakarta.
24
Abdurrahman, M. (2003). Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka
Cipta
37

advantages”.25 Dengan mempelajari pemecahan masalah dalam

matematika, siswa seharusnya dapat belajar mengenai cara berpikir, rasa

ingin tahu, dan kepercayaan diri pada situasi yang tidak biasa di luar kelas.

Menjadi seorang pemecah masalah yang baik akan memperoleh banyak

keuntungan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam dunia kerja nantinya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disintetiskan bahwa pemecahan

masalah, khususnya pemecahan masalah matematis merupakan suatu

proses yang melibatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi untuk

memahami, memilih strategi pemecahan, dan menyelesaikan masalah

(rutin maupun tidak rutin) secara runtut yang terdapat di dalam

pembelajaran matematika. Melatih siswa dengan pemecahan masalah,

khususnya dalam pembelajaran matematika bukan hanya sekedar siswa

dapat menyelesaikan masalah yang diberikan, namun juga menumbuhkan

kebiasaan dalam melakukan proses pemecahan masalah sehingga siswa

mampu menjalani hidup yang penuh dengan kompleksitas permasalahan.

b. Indikator Pemecahan Masalah Matematis

Pemecahan masalah matematis merupakan suatu proses yang

melibatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi untuk memahami, memilih

strategi pemecahan, dan menyelesaikan masalah (rutin maupun tidak rutin)

secara runtut dalam pembelajaran matematika. Dengan mengerjakan soal

latihan akan sangat membantu siswa untuk belajar tentang konsep,


25
NCTM. (2000). Executive summary: Principles and standards for school. Reston, VA:
Author.
38

karakteristik dan prosedur yang nantinya dapat diimplementasikan ke

dalam upaya memecahkan masalah matematika.26

Kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki siswa saat belajar

matematika di sekolah akan menjadi modal untuk menghadapi kehidupan

di masa yang akan datang dalam memecahkan berbagai permasalahan

yang dihadapi di kehidupan nyata. Fadillah menyatakan semakin banyak

masalah yang dapat diselesaikan oleh seseorang, maka akan semakin

banyak kemampuan yang dapat membantunya untuk mengarungi hidupnya

sehari-hari27. Oleh karena itu, kemampuan pemecahan masalah penting

diajarkan bagi siswa.

Pemecahan masalah penting untuk dikembangkan secara perlahan

dan terus menerus dari TK hingga pendidikan tinggi. Dalam pembelajaran

di kelas, pemecahan masalah tidak hanya berfungsi sebagai pendekatan,

tetapi juga sebagai sebuah tujuan. Polya menyatakan “to know

mathematics is to solve problems”. Untuk memahami matematika adalah

dengan memecahkan masalah. Kemampuan pemecahan masalah masing-

masing siswa berbeda dan dapat diukur melalui berbagai cara. NCTM

menekankan pemakaian berbagai strategi untuk memecahkan masalah

seperti memanipulasi, mencoba- coba, menebak dan mengecek, mendaftar

berbagai kemungkinan, mengumpulkan dan mengorganisasi data dalam

26
Suryatin, S., & Sugiman, S. (2019). Comic book for improving the elementary school
students' mathematical problem solving skills and self-confidence. Jurnal Prima Edukasia, 7(1),
58-72.
27
Fadillah, S. (2009). Kemampuan pemecahan masalah matematis dalam pembelajaran
matematika. In Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA
FakultasMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (Vol. 16).
39

tabel, mencari suatu pol dari tabel, menggambar suatu diagram, dan

bekerja mundur. Berbagai strategi tersebut dapat diterapkan dalam

pemecahan masalah untuk selanjutnya diukur menggunakan indikator

yang telah ditetapkan.

Ada berbagai indikator pemecahan masalah yang dikemukakan

oleh ahli. Sumarmo mengemukakan ada empat indikator dalam pemecahan

masalah, yaitu siswa dapat:28

1) siswa dapat mengidentifikasikan apa yang diketahui dan

ditanyakan dari soal dengan lengkap dan tepat.

2) Siswa dapat menggunakan rumus yang sesuai (dalam penerapan)

dan menyusun informasi baru dengan tepat.

3) Siswa dapat mensubtitusi nilai yang diketahui dalam rumus dan

menghitung penyelesaian dengan tepat.

4) Siswa dapat menafsirkan solusi yang diperoleh dengan tepat.

Keempat indikator tersebut pada dasarnya memuat identifikasi

masalah, perencanaan penyelesaian, hingga pemaparan hasil atau jawaban.

Sementara BSNP mengemukakan indikator dalam pemecahan masalah

matematika yaitu siswa mampu menunjukkan pemahaman masalah,

mengorganisasi data dan menulis informasi yang relevan dalam

pemecahan masalah, menyajikan masalah secara matematika dalam

berbagai bentuk, memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah

28
Sumarmo, U. (2003). Daya dan disposisi matematik: Apa, mengapa dan bagaimana
dikembangkan pada siswa sekolah dasar dan menengah. Makalah disajikan pada Seminar Sehari
Jurusan matematika ITB.
40

secara tepat, mengembangkan strategi pemecahan masalah, membuat dan

menafsirkan model matematika dari suatu masalah, serta mampu

menyelesaikan masalah matematika yang tidak rutin.29

Masalah tidak rutin digunakan sebagai indikator karena masalah

tidak rutin memerlukan perkembangan strategi untuk memahami dan

menilai langkah penyelesaian masalah tersebut. Selain itu, masalah tidak

rutin juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk melibatkan diri

dalam pemecahan masalah tersebut. Hal tersebut sejalan dengan

pernyataan Clark bahwa “mathematical problem solving is central to

mathematics learning. It involves the acquisition and application of

mathematics concepts and skills in a wide range of situations, including

non-routine, open-ended and real-world problems”.30 Pemecahan masalah

matematika merupakan pusat dari pembelajaran matematika dimana

pemecahan masalah ini melibatkan penerimaan dan penerapan konsep dan

kemampuan matematika dalam berbagai macam situasi, termasuk

permasalahan tidak rutin, open ended dan masalah dalam kehidupan nyata.

Pemecahan masalah merupakan kegiatan heuristik. Heuristik dalam

hal ini merupakan cara menujukan pemikiran seseorang dalam melakukan

proses pemecahan masalah sampai masalah tersebut berhasil dipecahkan.

Proses pemecahan masalah sampai masalah tersebut dipecahkan

memerlukan langkah-langkah penyelesaian. Ada beberapa langkah yang

29
BSNP. (2007). Standar isi kurikulum KTSP. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
30
Clark, A. (2009). Problem solving in singapore math. Boston, Massachusetts: Houghton
Mifflin Harcourt Publisher.
41

dapat dilakukan oleh siswa dalam melakukan pemecahan masalah

heuristik.31

Sebagaimana diungkapkan oleh Polya, langkah-langkah

pemecahan masalah terdiri dari memahami masalah (understanding the

problem), menyusun rencana (devising a plan), melaksanakan rencana

(carrying out the plan), dan melakukan pengecekan (looking back).32

Diawali dengan memahami masalah yang disajikan, kemudian siswa

menyusun rencana penyelesaian melalui berbagai strategi sesuai dengan

kreativitas masing-masing siswa. Selanjutnya rencana tersebut

dilaksanakan dan diakhir dilakukan pengecekan kembali rencana yang

sudah dilakukan.

Sementara Krulik & Rudnick menyatakan langkah pemecahan

masalah diawali dari membaca (read), eksplorasi (explore), memilih

strategi (select a strategy), memecahkan (solve), dan meninjau dan

mengulas kembali (review and extend).33

Pada dasarnya pendapat mengenai langkah pemecahan masalah

yang diungkapkan di atas memiliki alur yang sama. Diawali dengan

memahami masalah, menyusun strategi penyelesaian, melaksanakan

penyelesaian, dan meninjau kembali. Dalam memahami masalah, siswa

melakukan identifikasi apa yang diketahui pada soal dan apa yang

31
Carson, J. (2007). A problem with problem solving: Teaching thinking without teaching
knowledge. The mathematics educator, 17(2), 7-14.
32
Polya, G. (1973). How to solve it: A new aspect of mathematics method 2nd edition.
Princeton, New Jersey: Princenton University Press.
33
Krulik, S., & Rudnick, J. A. (1987). Problem solving: A handbook for teachers (2nd ed.).
Boston, Massachusetts: Allyn and Bacon.
42

ditanyakan. Menyusun strategi penyelesaian berarti siswa melakukan

perencanaan penyelesaian dengan memilih strategi penyelesaian.

Pemilihan strategi ini dilakukan dengan mengintegrasikan pengetahuan

dan pengalam yang dimiliki. Selanjutnya, melaksanakan penyelesaian

berarti siswa menjalankan strategi penyelesaian yang dipilih untuk

membuktikan apakah strategi tersebut sudah tepat. Kemudian hasilnya

diperiksa kembali untuk memastikan jika strategi yang dipilih memang

sudah tepat.

Langkah-langkah pemecahan masalah yang telah diungkapkan

tersebut dapat dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui tingkat

kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dalam hal ini, siswa

dikatakan memiliki kemampuan pemecahan masalah apabila siswa mampu

memahami masalah yang diberikan, hingga menemukan penyelesaian.

Berdasarkan pendapat mengenai indikator pemecahan masalah

matematis, dapat disintesiskan bahwa indikator pemecahan masalah

matematis yang diharapkan dalam penelitian ini mengacu pada pendapat

Polya dan disesuaikan dengan tahapan perkembangan siswa kelas V

sekolah dasar. Indikator pemecahan masalah matematis tersebut adalah

siswa mampu memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan

rencana, dan mengecek kembali apa yang sudah dilakukan.

Dalam penelitian ini, kemampuan pemecahan masalah matematis

siswa kelas V sekolah dasar diukur menggunakan tes bentuk uraian. Tes

uraian atau dikenal dengan tes esay tidak memberikan kesempatan pada
43

siswa untuk berspekulasi. Tes ini digunakan untuk mengetahui sejauh

mana siswa memahami permasalahan yang dihadirkan melalui soal.

Jawaban yang ditulis dengan menguraikan, menjelaskan, membandingkan

atau memberikan alasan menggunakan kalimat yang lebih mudah

dipahami.

Soal esay yang disusun dalam penelitian ini mengacu pada

indikator yang ditetapkan. Adapun pedoman penilaian kemampuan

pemecahan masalah yang digunakan diadaptasi dari Mawadah & Anisah

disesuaikan dengan kebutuhan penilaian dalam penelitian ini.34 Penilaian

tersebut memuat 4 aspek yang terdiri dari memahami masalah (identifikasi

apa yang diketahui dan ditanyakan), merencanakan pemecahan masalah

(menggunakan rumus yang sesuai dan informasi yang diketahui untuk

menyusun informasi yang baru), menyelesaikan masalah

(mensubstitusikan nilai yang diketahui dalam rumus dan menghitung

penyelesaian masalah), serta menafsirkan solusi yang diperoleh.

F. Kajian Penelitian yang Relevan

a. Skripsi oleh Delsi Jusmiati mahasiswa universitas islam negeri Sumatra

utara yang berjudul “Pengaruh pendekatan pembelajaran matematika

realistik terhadap kemampuan berpikir kreatif pada pokok bahasan

lingkaran kelas viii [Link]-ittihadiyah (mamiyai) Kec. Medan area”.

34
Mawaddah, S., & Anisah, H. (2015). Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa
pada pembelajaran matematika dengan menggunakag) di smpn model pembelajaran generatif
(generative learning) di smp. EDU-MAT, 3(2).
44

Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan matematika untuk mereka

yang diajar menggunakan RME lebih tinggi daripada mereka

menggunakan pendekatan konvensional. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa Pendekatan pembelajaran matematika realistik berpengaruh baik

terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Hal ini dibuktikan dengan

melihat rata-rata nilai yang dicapai siswa adalah 78,21. Dimana nilai

tertinggi adalah 99. Siswa yang masih berada dibawah KKM hanya ada 5

siswa dari 30 siswa. Hal ini jelas lebih baik dibandingkan sebelum diberi

perlakuan. Sedangkan pembelajaran ekspositori kurang berpengaruh

terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Hal ini dibuktikan dengan

melihat rata-rata nilai yang dicapai siswa hanya sekitar 61,23. Dimana

nilai tertinggi adalah 75. Siswa yang berada dibawah KKM ada sebanyak

22 siswa dari 26 siswa. Hal ini jelas bahwa pembelajaran ekspositori

kurang berpengaruh pada proses pembelajaran berpikir kreatif.

Pendekatan pembelajaran matematika realistik berpengaruh lebih

baik terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa dibandingkan dengan

pembelajaran ekspositori. Hal ini terlihat dari hasil penelitian bahwa

terdapat perbedaan signifikan antara kemampuan berpikir kreatif siswa

yang diajarkan dengan pembelajaran matematika realistik dengan

pembelajaran ekspositori. Hal ini dapat dilihat melalui rata-rata nilai post

test yang di peroleh siswa dikelas eksperimen dan kontrol berturut- turut

yaitu 77,5 dan 48,91. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Delsi

Jusmiati yaitu sama-sama menggunakan model pembelajaran RME


45

sedangkan perbedaan dengan penelitian ini yakni terdapat pada variabel

penelitian Delsi Jusmiati meningkatkan kemampuan berpikir kreatif

siswa sedangkan peneliti terhadap kemampuan masalah matematis siswa.

b. Penelitian yang dilakukan oleh Adityawarman Hidayat, Indra Irawan

(2017) dengan judul, “Efektivitas LKS Berbasis RME Dengan

Pendekatan Problem Solving Untuk Meningkatkan Kemampuan

Pemecahan Masalah Matematis Peserta Didik”. Relevansi studi ini

dengan studi yang akan dilakukan adalah LKPD berbasis RME yang

sama dengan penelitian ini dan produk yang dikembangkan sekaligus

menjadi salah satu wadah untuk mengukur kemampuan matematis

peserta didik. Hasil penelitian terdahulu yaitu menghasilkan suatu produk

LKPD yang memenuhi kriteria valid dan praktis. Perbedaan dengan studi

yang akan dilakukan terletak pada jenis penelitian yang digunakan

dimana studi terdahulu menggunakan model R&D dengan dan penelitian

ini menguji kefektifan LKPD dengan model kuantitatif. Selain itu subjek

penelitian di kelas III SD sedangkan yang dalam penelitian ini adalah di

kelas IV SD.

c. Penelitian yang dilakukan oleh Nur Atika, Zubaidah Amir MZ (2016)

Dengan Judul “Efektivitas LKS Berbasis Pendekatan RME Untuk

Menumbuh Kembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Peserta

Didik.” Relevansi studi ini dengan studi yang akan dilakukan adalah studi

terdahulu menggunakan RME sebagai dasar penelitian LKPD untuk

menstimulasi kemampuan berfikir matematis peserta didik. Perbedaan


46

studi yang akan dilakukan terletak pada materi yaitu dimana penelitian

terdahulu menggunakan materi segitiga sementara untuk studi yang akan

dilakukan menggunakan materi volume bangun ruang. Selain itu pada

penelitian terdahulu menggunakan berfikir kritis matematis sebagai hasil

dari LKPD sedangkan studi yang akan dilakukan untuk meningkatkan

kemampuan pemecahan matematis siswa.

G. Karangka Berpikir

Berdasarkan latar belakang masalah dalam penelitian ini, bahwa

Matematika sebagai salah satu ilmu yang mendasari perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi tentunya tidak hanya membekali siswa dengan

kemampuan untuk berhitung saja, namun juga melibatkan nalar dan

analisis dalam pemecahan masalah serta berkomunikasi dengan dan

melalui matematika. Siswa membutuhkan kemampuan pemecahan

masalah dan komunikasi matematis sebagai bekal dimasa depan agar dapat

terus eksis dan bersaing menghadapi perkembangan zaman. Sementara itu,

guru juga membutuhkan bahan ajar yang sesuai untuk menunjang

kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Bahan ajar tersebut

dapat berupa LKPD. LKPD dalam penelitian ini merupakan LKPD

berbasis realistic mathematics education (RME).

LKPD berbasis RME merupakan LKPD yang menggunakan

pendekatan matematika realistis melalui hal-hal bersifat nyata dan

pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Masalah-masalah


47

realistic digunakan sebagai sumber munculnya konsep-konsep matematika

atau pengetahuan matematika formal yang dapat mendorong aktivitas

penyelesaian masalah, mencari masalah, dan mengorganisasi pokok

persoalan. Selain itu, pendekatan RME mencerminkan suatu pandangan

senagai sebuah subject matter, bagaimana siswa belajar matematika, dan

bagaimana matematika seharusnya diajarkan.

Berdasarkan uraian di atas diasumsikan bahwa penggunaan

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics

Education (RME) efektif terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah

Matematis Peserta didik kelas V di MIS GUPPI 13 Tasik Malaya.

H. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah

penelitian, dimana seperti yang diketahui rumusan masalah penelitian

dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.35 Dikatakan sementara karena jawaban

yang diberikan didasarkan teori yang relevan, belum didasarkan dengan

fakta- fakta yang diperoleh melalui pengumpulan data. Hipotesis sementara

disini dapat berwujud positif atau negatif. Hipotesis pada penelitian ini

dirumuskan menjadi Ha (Hipotesis Alternatif) dan Ho (Hipotesis Nol) yaitu

sebagai berikut:

1) Ha : Penggunaan LKPD berbasis RME sangatlah efektif

terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah

35
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2016), 96.
48

matematis siswa.

2) H0 : Penggunaan LKPD Berbasis RME tidak efektif

dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah

matematis siswa.
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan

spesifikasi penelitian ini terletak pada desain penelitian eksperimen yang

digunakan dalam penelitian ini adalah One Group Pretest-Posttest Design.

Desain penelitian ini melihat perbedaan nilai pretes maupun postes pada

satu kelompok atau satu kelas sebelum dan sesudah diberikan perlakuan.

Pretes dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki oleh

peserta didik, sedangkan postes dilakukan untuk mengetahui kemampuan

akhir peserta didik dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah

matematis. Sugiyono menggambarkan desain penelitian tersebut dalam

model tabel sebagai berikut:

Tabel 3.1 :
Desain Penelitian One-Group Pretest-Postest Design

Sebelum Perlakuan Setelah

O1 X O2

Sumber: Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.

Keterangan :

O1 : Pretest yang diberikan pada kelas eksperimen

49
50

O2 : Posttest yang diberikan pada kelas eksperimen

X : Perlakuan kelas eksperimen (pembelajaran menggunakan

LKPD berbasis RME)

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di MIS GUPPI No. 13 Tasik Malaya

yang beralamat di jalan Pemancar TVRI, Kelurahan Tasik Malaya,

Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong

2. Waktu Penelitian

Adapun waktu penelitian ini dilaksanakan dalam waktu kurang lebih

terhitung dari

C. Variabel Penelitian

Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik

perhatian suatu penelitian Menurut Sugiyono variabel bebas adalah

variabel yang memperngaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya

atau timbulnya variabel terikat. Sedangkan variabel terikat sendiri

merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena

adanya variabel bebas.1

Pada penelitian ini terdapat 2 variabel yang digunakan yaitu variabel

1
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta,
2019),
51

bebas dan variabel terikat.

a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah LKPD berbasis RME

b. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan pemecahan

masalah matematis.

D. Variabel Operasional

1. LKPD berbasis realistic mathematics education (RME) memuat materi

matematika volume bangun ruang untuk kelas V semester 2 sekolah dasar.

LKPD ini disesuaikan dengan karakteristik perkembangan dan kondisi

lingkungan sekitar siswa kelas. Permasalahan yang digunakan merupakan

permasalahan nyata yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. b.

2. Pemecahan masalah matematis merupakan suatu proses yang melibatkan

keterampilan berpikir tingkat tinggi untuk memahami, memilih strategi

pemecahan, dan menyelesaikan masalah (rutin maupun tidak rutin) secara

runtut yang terdapat di dalam pembelajaran matematika. Pemecahan

masalah matematis dalam penelitian ini diukur mengacu pada indikator

pemecahan masalah matematis, yaitu siswa mampu memahami masalah,

menyusun rencana, melaksanakan rencana, dan mengecek kembali apa

yang sudah dilakukan.

E. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi merupakan sebuah wilayah atau cakupan yang terdiri dari


52

subyek atau obyek yang memiliki kualitas dan juga karakteristik berbeda-

beda sehingga ditetapkan oleh peneliti agar dapat dipelajari dan kemudian

dapat ditarik kesimpulannya. Populasi bukan orang, tetapi juga objek dan

benda-benda yang lain. Populasi juga bukan merupakan jumlah orang

tetapi juga merupakan karakter atau sifat yang dimiliki oleh subjek atau

objek itu dalam satu kawasan tertentu. Jadi, populasi penelitian ini adalah

seluruhsiswa kelas V MIS GUPPI Tasikmalaya Tahun Pelajaran 2023/2024

yang berjumlah 26 siswa.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel

adalah sebagai bagian dari populasi yang diteliti oleh peneliti, karena

sebagian maka jumlah sampel selalu lebih kecil dari pada jumlah populasi.

Namun ada pertimbangan yang harus diperhatikan dalam menetapan

sampel penelitian, diantaranya adalah untuk memperoleh hasil penelitian

yang sebenarnya, apabila jumlah populasinya kurang dari 100, maka

sebaiknya seluruh populasi dijadikan sampel, sehingga penelitiannya

dinamakan penelitian populasi.2 Untuk pemberian sampel dalam penelitian

ini adalah menggunakan teknik sampel jenuh. Sampel jenuh yaitu teknik

penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.3 Karena dengan

menggunakan teknik sampling jenuh penelitian dilakukan dengan

melibatkan seluruh sampel atau populasi yang diteliti sehingga hasil

penelitian yang didapat akan cenderung lebih akurat dibandingkan dengan

2
Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian (Yogyakarta: Teras, 2009), 92-95.
3
Sugiono, Statistik untuk Penelitian (Bandung, Alfabeta, 2012) , 68.
53

metode pengambilan sampel hanya sebagian dari populasi saja. Jadi

berdasarkan teknik penarikan sampel tersebut, maka ditetapkan yang

menjadi sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas V MIS GUPPI 13

Tasik Malaya.

F. Jenis Data

Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah Data

kuantitatif. Data ini dapat berupa jumlah skor yang dihasilkan dari hasil

Pretest Posttest untuk penilaian efektifitas produk dalam meningkatkan

kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik melalui LKPD

dan hasil respon peserta didik terhadap LKPD berbasis RME.

Berdasarkan sumber data tersebut, penelitian ini memakai data

utama yaitu data yang dihasilkan langsung dari hasil tes kemampuan

pemecahan masalah berupa soal Pretest dan Posttest, angket respon guru

dan siswa beserta observasi untuk mengukur keefektifan LKPD.

G. Instrumen Pengumpulan Data

Adapun data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara:

1. Tes

Tes dapat didefenisikan sebagai serangkaian pertanyaan dalam rangka

mengetahui sejauh mana kemampuan seseorang dalam memahami pertanyaan

yang dimuat. Pada penelitian ini, tes akan diberikan kepada peserta didik pada

saat ujicoba produk dilakukan di kelas. Adapun soal yang diberikan akan
54

memuat kompetensi yang harus dicapai dalam pemecahan masalah matematis.

Sebelum memulai ujicoba, terlebih dahulu memberikan lembar Pretest dan

akhir pembelajaran dengan lembar Posttest untuk dijawab peserta didik yang

selanjutnya digunakan untuk mengetahui kefektifan kemampuan pemecahan

masalah peserta didik sehingga dapat memeuhi kriteria efektifitas produk

LKPD berbasis RME.

Soal tes tertulis uraian terdiri dari pre test dan post test yang digunakan

untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

Instrumen soal tes tertulis uraian kemampuan pemecahan masalah matematis

ini disusun berdasarkan kisi-kisi yang dikembangkan pada tabel 9 sebagai

berikut. Adapun soal pre test dan post test kemampuan pemecahan masalah

matematis siswa terlampir.

Tabel 3.2.
Kisi-kisi Soal Tes Tertulis (Pre test dan Post test)
Pemecahan Masalah Matematis Siswa

Nomor butir
No Aspek Indikator
pertanyaan

Siswa dapat
mengidentifikasi apa yang
Memahami
1 diketahui dan ditanyakan
masalah
dari soal dengan lengkap dan
tepat
Siswa dapat menggunakan
Merencanakan
rumus yang sesuai (dalam
2 cara
penerapan) dan menyusun 1, 2 (pre test)
penyelesaian
informasi baru dengan tepat dan 1, 2 (post
test)
Siswa dapat mensubstitusi
nilai yang diketahui dalam
Melaksanakan
3 rumus dan menghitung
rencana
penyelesaiannya dengan
55

tepat
Siswa dapat menafsirkan
Memeriksa
4 solusi yang diperoleh
kembali
dengan tepat
∑ 4

2. Kuisioner

Kuisioner atau angket adalah media untuk mengumpulkan informasi

berupa pertanyaan atau pernyataan yang disampaikan kepada responden yang

dijawab secara tertulis.4 Adapun kuisioner berupa lembar respon. Dalam

kuisioner akan memuat masing-masing aspek penting yang sesuai dengan

indicator yang ingin dinilai berdasarkan skala perhitungan masing-masing

pernyataan.

a. Angket Respon Guru

Angket respon guru yang digunakan adalah angket semi terbuka. angket

respon guru juga diperlukan untuk mengetahui tanggapan guru tentang LKPD

berbasis realistic mathematics education (RME). Proses pengisian angket

dilakukan setelah kegiatan pembelajaran selesai. Adapun kisi-kisi angket

respon guru disajikan pada tabel 3.3 dan angket respon guru terlampir

Tabel 3.3.
Kisi-kisi Angket Respon Guru
Nomor Jumlah
No Sub Variabel Indikator
Item Item
1 Tampilan Kejelasan teks 1 1
modul Kejelasan gambar 2 1
Kemenarikan gambar 3 1

4
Hamzah dkk. 2014. Variabel Penelitian dalam Pendidikan dan Pembelajaran. Jakarta :
Ina Publikatama, h. 159.
56

Kesesuaian teks dan 4, 5 2


gambar dengan materi
pembelajaran
2 Penyajian Penyajian materi 6 1
materi Kemudahan memahami 7 1
materi
Ketepatan sistematika 8 1
penyajian materi
Kejelasan kalimat 9 1
Kejelasan simbol dan 10 1
lambang
Kejelasan istilah 11 1
Kesesuaian contoh dengan 12 1
materi
3 Kebahasaan Bahasa yang digunakan 13, 14, 15, 6
komunikatif 16, 17, 18
4 Manfaat Kemudahan belajar 19 1
Katertarikan 20 1
menggunakan LKPD
berbasis realistic
mathematics education
(RME)
∑ 20

b. Angket Respon Siswa

Angket respon siswa yang digunakan adalah angket tertutup. Angket

respon siswa digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa tentang

pembelajaran mengguakan modul berbasis realistic mathematics education

(RME). Adapun kisi-kisi angket respon siswa disajikan pada tabel 3.4 dan

angket respon siswa terlampir.


57

Tabel 3.4
Kisi-kisi Angket Respon Siswa
No Sub Indikator Nomor Jumlah
Variabel Item Item
1 Materi/isi Isi LKPD berbasis realistic 3, 4 2
mathematics education
(RME)
2 Tampilan Tampilan LKPD berbasis 5, 6, 7, 8 4
realistic mathematics
education (RME)
3 Tanggapan Tanggapan siswa mengenai 1, 2, 10, 6
siswa LKPD berbasis realistic 11, 12, 13
mathematics education
(RME)
∑ 13

3. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara

mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan

yang sedang berlangsung.5 Observasi adalah metode atau cara- cara

menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah

laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok aktivitas guru

dan siswa secara langsung. Observasi digunakan pada saat melakukan need

analysis. Pedoman observasi ini digunakan untuk mengetahui bagaimana

proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan selama kegiatan

pembelajaran untuk mengetahui keterkaitan antara proses pembelajaran

dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Adapun kisi-kisi

pedoman observasi kegiatan pembelajaran disajikan dalam tabel 3.5 dan

pedoman observasi berikut.

5
Sudaryono, Metodologi Penelitian (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2017), 21.
58

Tabel 3.5.

Kisi-kisi Pedoman Observasi Kegiatan Pembelajaranrme

Nomor Jumlah
No Sub Variabel Indikator
Item Item
1 Perencanaan Persiapan pembelajaran 1, 2 2
2 Pelaksanaan Pembelajaran matematika 3 1
Model/metode 4 1
pembelajaran yang
diterapkan tentang
volume bangun
ruang
Penggunaan bahan ajar / 5, 6 2
LKPD berbasis realistic
mathematics education
(RME) dalam proses
pembelajaran
Fasilitasi kemampuan 7 1
pemecahan masalah
matematis siswa dengan
memperhatikan kaidah
pemecahan masalah
berbasis realistic
mathematics education
(RME)
Fasilitasi kemampuan 8 1
komunikasi siswa
3 Evaluasi Evaluasi/penilaian proses 9 1
pembelajaran pembelajaran
Evaluasi/penilaian 10 1
kemampuan pemecahan
masalah siswa
Evaluasi/penilaian 11 1
kemampuan komunikasi
siswa
Refleksi proses 12, 13 2
pembelajaran
∑ 13

H. Teknik Analisis Data

1. Analisis data kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi


matematis
59

Data penilaian kemampuan pemecahan masalah matematis kemudian

dianalisis untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan. Hal ini dilakukan

dengan melihat hasil pre test dan post test. Hake mengemukakan bahwa

absolute gain diperoleh dari nilai rerata post test dikurangi nilai rerata pre test

dan standard gain dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut.6


XPosttest−XPretest
𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑑 𝑔𝑎𝑖𝑛 <𝑔> =
X−XPretest
Keterangan:
XPosttest = Nilai rata-rata post test
XPretest = Nilai rata-rata pre test
X = Nilai maksimal

Nilai standard gain yang diperoleh kemudian di imterpretasikan

sesuai dengan kriteria nilai gain. Kriteria nilai standard gain yang

dihasilkandapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 3.6. Kriteria Nilai Gain


No Persentase Interpretasi
1. g ≥ 0,7 Tinggi
2. 0,3 ≤ g < 0,7 Sedang
3. g < 0,3 Rendah

Berdasarkan hasil penghitungan nilai gain, selanjutnya

diklasifikasikan berdasarkan tabel kriteria. Jika nilai gain kurang dari 0,3

maka peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis termasuk

rendah. Jika nilai gain sama atau lebih dari 0,3 dan kurang dari 0,7, maka

termasuk kategori sedang. Jika nilai gain sama atau lebih dari 0,7 maka

termasuk kategori tinggi.

6
Hake, R. R. (1998). Interactive-engagement versus traditional methode: a six- thousand-
student survey of mechanics test data for introductory physics course. American Journal of
60

2. Teknik Analisis Keefektifan Lembar Kerja Peserta Didik

Analisis data keefektifan produk menggunakan teknik uji-t (t-test).

Sebelum dilakukan uji-t, maka dilakukan uji prasyarat analisis. Uji

prasyarat analisis tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1) Uji Prasyarat

(a) Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji sebaran data

berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini, uji normalitas

data menggunakan Shapiro-Wilk karena sampel nya 26 (kurang dari

50) dengan taraf signifikansi sebesar 5%. Perhitungan uji normalitas

dengan bantuan program Statistical Product and Service Solutions

(SPSS) versi 16.

Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah ada data

sampel berdistribusi normal dan tidak. Rumus yang digunakan

dalam uji ini adalah uji chi-kuadrat sebagai berikut:7

Keterangan:

Χ2 : Nilai normalitas hitung


fo : Frekuensi yang diperoleh dari data penelitian
fe : Frekuensi yang diharapkan

Menentukan X2 tabel dengan dk = k -1 dan taraf signifikan 5% atau

0,05 kaidah keputusan:

7
Sugiyono, Statiska Untuk Penelitian (Bandung: Alfabeta, 2015), 107.
61

jika X2 > X2 maka data berdistribusi tidak normal

jika X2< X2 maka data berdistribusi normal.

(b) Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui homogen atau

tidaknya sampel yang dipilih secara acak dari populasi. Dalam

penelitian ini uji homogenitas menggunakan Uji F (Levene’s Test)

dicari dengan bantuan program SPSS versi 22. Data sampel homogen

apabila perolehan signifikansi > 0,05. Sebaliknya, apabila

signifikansi < 0,05 data sampel tidak homogen.

2) Uji Hipotesis

(a) Uji t dua sampel berpasangan (paired sample t test)

Uji hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kemampuan

pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan modul

berbasis realistic mathematics education (RME). Uji-

t digunakan untuk mengetahui masing-masing sumbangan

variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat,

menggunakan uji masingmasing koefisien regresi variabel bebas

apakah mempunyai pengaruh yang bermakna atau tidak terhadap

variabel terikat8. Teknik analisis tersebut dicari dengan bantuan

program SPSS versi 16 dengan taraf signifikansi 0,05. Setelah

dilakukan uji prasyarat analisis yang hasilnya normal dan

8
Sugiyono, uji-t dalam salimun, (Jakarta 2021), h.573.
62

homogen, maka digunakan teknik analisis paired sample t-test.

Ho : Tidak ada peningkatan yang signifikan pada kemampuan

pemecahan masalah matematis siswa sebelum dan sesudah

menggunakan modul berbasis realistic mathematics education

(RME).

Ha : Ada peningkatan yang signifikan pada kemampuan

pemecahan masalah matematis siswa sebelum dan sesudah

menggunakan modul berbasis realistic mathematics education

(RME).

Ho diterima apabila Sig > 0,05, atau thitung < ttabel

Ho ditolak apabila Sig < 0,05 atau thitung > ttabel9

3. Analisis data respon siswa terhadap LKPD berbasis RME

Data respons siswa terhadap pembelajaran dianalisis dengan melihat

persentase dari respons siswa. Presentase ini dapat dihitung dengan rumus:

f
P= x 100 %
N

Keterangan :

P : Persentase respons banyak siswa yang memberikan respons

positif terhadap kategori yang ditanyakan dalam angket

f : Siswa yang memberikan respons positif terhadap kategori yang

ditanyakan dalam angket.

9
Riduwan dan Sunarto, Pengantar Statistika Untuk Penelitian (Bandung: Alfabeta, 2009),
120.
63

N : Banyaknya siswa yang mengisi angket.

Respons siswa yang dimaksudkan disini adalah tanggapan siswa

terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dengan LKPD berbasis RME

diterapkan dalam hal respons siswa jika lebih besar dari 74%.
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Penelitian

1. Profil MIS GUPPI 13 Tasik Malaya1

MIS GUPPI 13 Tasik Malaya adalah salah satu pendidikan dengan

jenjang SD di Desa Tasik Malaya, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten

Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Indonesia. Dalam menjalankan

kegiatannya, MIS GUPPI 13 Tasik Malaya berada dibawah naungan

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama.

MIS GUPPI 13 Tasik Malaya adalah sekolah swasta. Mempunyai

185 siswa aktif pada tahun 2023-2024. Pembelajaran di MIS GUPPI 13

Tasik Malaya Melaksanakan pembelajaran selama 6 hari dalam satu

minggu dan dimulai pukul 07.30 wib sampai dengan 13.00 wib. Adapun

pelajaran yang diberikan meliputi semua mata pelajaran wajib sesuai

kurikulum dan tambahan nilai-nilai agama.

MIS GUPPI 13 Tasik Malaya memiliki staf pengajar guru yang

kompeten pada bidang pelajarannya sehingga berkualitas dan menjadi

salah satu yang terbaik di kabupaten Rejang Lebong. Tersedia juga

berbagai fasilitas sekolah seperti ruang kelas yang nyaman,

perpustakaan, lapangan olah raga, dan lainnya. MIS GUPPI 13 Tasik

1
Tata Usaha Sekolah, 4 Januari 2024, MIS GUPPI 13 Tasik Malaya
64
65

Malaya memiliki akreditas B, dengan NSM (nomor statistik madrasah)

111217020005.

2. Keadaan Guru Mis Guppi No.13 Tasik Malaya

Tabel 4.1
Daftar Tenaga Pengajar Mis Guppi No.13 Tasik Malaya
No Nama Pangkat/Gol Jabatan Ket

1 Mustakim,[Link].I Penata/III.C Guru Muda


2 Endang Suriaji,[Link] Pembina/IV.a Guru
Madya/Ahli
Madya
3 Sri Wahyuni Pembina/IV.a Guru
Sihombing,[Link],[Link] Madya/Ahli
Madya
4 Mardiah,SPd.I Penata/III.C Guru Muda
5 Rika Novita,[Link] [Link].C Guru Muda
6 Sutinah,[Link].I Penata Muda Guru Pertama
[Link].b
7 Arham Efendi,[Link].I Penata Muda Guru Pertama
[Link].b
8 Robiah Indarni,[Link].I Pengatur Tenaga
Muda/II.a Pendidik
9 Mirwan Hadi GTY
Saputra,[Link].I
10 Desi Weliyana,[Link] - GTY
12 Ari Junindo,[Link] - GTY
13 Novi Ardila ,[Link] - GTY
14 Amanatusania,[Link] - GTY

3. Keadaan Siswa MIS GUPPI No.13 Tasik Malaya


Tabel 4.2
Jumlah Siswa MIS GUPPI No.13 Tasik Malaya Tahun Pelajaran
2023/20224
No Kelas Laki-Laki Perempuan Jumlah Ket
1. I.A 09 08 17
2. I.B 08 09 17
66

3. II.A 07 11 18
4. II.B 09 10 19
5. III. A 12 5 17
6. III. B 11 12 23
7. IV 11 13 24
8. V 12 14 26
9. VI 11 13 24
JUMLAH 90 95 185

B. Hasil Penelitian

Dalam hasil data penelitian yang dilakukan mengenai “Efektivitas

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics

Education (RME) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis

Siswa Kelas V Di MIS GUPPI 13 Tasik Malaya”, dapat dijabarkan sebagai

berikut :

1. Pelaksanaan penerapan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) Terhadap

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis siswa

Dalam pelaksanaan penerapan Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME)

Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis siswa tentu

harus memiliki kemampuan interaktif yang bagus agar dalam

penerapannya dapat diterima dan dipahami oleh siswa dengan

seksama serta mencapai target yang ingin dicapai melalui metode

Realistic Mathematics Education (RME) maka peneliti melakukan


67

kegiatan penerapan yang dimulai dengan langkah-langkah seperti

berikut :

1. Memberi pemahaman tentang masalah kontekstual

guru memberi soal pembelajaran matematis kemudian

meminta siswa untuk memahami masalah kontekstual yang ada

pada soal pembelajaran yang telah diberikan dengan

mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari siwa. Dengan

mengaitkan permasalahan yang ada dengan kehidupan sehari-

hari maka masalah yang diberikan dapat dengan mudah

dipahami oleh siswa.

2. Menyusun langkah penyelesaian masalah kontekstual

Setelah mengetahui masalah kontekstual yang terdapat di

dalam soal yang telah diberikan, siswa kemudian menyusun

langkah penyelesaian yang juga dikaitkan dengan penyelesaian

masalah sehari-hari siswa. Bila mana permasalahan tersebut

terjadi dalam kehidupan siswa maka langkah penyelesaian dapat

dengan mudah pula disusun oleh siswa, setelah mengetahui

langkah penyelesaian barulah siswa melaksanakan penyelesaian

soal dengan semaksimal mungkin.

3. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban

Tentunya setelah mengetahui langkah penyelesaian dan

kemudian didapatilah hasil penyelesaian maka siswa diminta

untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban yang telah


68

didapat dengan teman-teman yang ada didalam kelas. Setelah

jawaban terhadap soal yang ada tersebut dibandingkan satu sama

lain maka terjadilah diskusi interaktif antara siswa agar

menemukan jawaban terbaik dari setiap jawaban yang telah

mereka buat. Dengan demikian maka hasil akhir yang ingin

dicapai dapat terwujudkan.

4. Menarik kesimpulan

Setelah melewati langkah-langkah penerapan yang telah

dilaksanakan mulai dari memahami masalah kontekstual,

mengetahui langkah-langkah penyelesaian, serta mendiskusikan

dan membandingkan jawaban langkah terpenting dari penerapan

ini yaitu penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan haruslah

melewati diskusi yang penjang terlebih dahulu sampai setiap

siswa benar-benar memahami soal dan langkah-langkah

penyelesaian yang tepat dan benar.

Langkah-langkah diatas diterapkan pada saat pertemuan

pembelajaran yang nantinya guru yang memantau proses

penerapan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) diminta untuk mengisi lembar

observasi guna menilai proses penerapan dan isi dari Lkpd serta

teori yang digunakan sudah baik atau tidak. Hal tersebut dapat

diketahui dengan melihat hasil observasi sebagai berikut :


69

a) Hasil Lembar Observasi Kegiatan Guru pada Pertemuan 1

Table 4.5
Hasil Lembar Observasi Kegiatan Guru Pada Pertemuan 1
Poin Penilaian
No Indikator yang diamati Observer
P1 P2
1 Guru membuat perangkat pembelajaran 3 3
2 Guru menyiapkan media pembelajaran 3 3
3 Guru memberikan suatu permasalahan pada siswa 3 3
Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk
mememukan solusi atas permasalahan yang
4 diberikan 3 2
Guru mengaitkan berbagai pengetahuan yang telah
diberikan pada siswa dalam proses memecahkan
5 masalah 3 3
Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk
menggunakan berbagai sumber belajar dalam
6 mencari jawaban 3 3
Guru melakukan kegiatan pembelajaran yang
mengarahkan siswa untuk mengembangkan
7 kemampuan komunikasi matematis 3 3
Guru mengarahkan siswa dalam menentukan model
8 matematika dari permasalahan yang disajikan 2 2
Guru melakukan kegiatan pembelajaran yang
mengarahkan siswa untuk mengembangkan
9 kemampuan pemecahan masalah matematis 3 3
Guru membimbing siswa menyusun rencana
10 penyelesaian masalah 3 3
Guru membimbing siswa untuk memahami masalah
11 dalam melakukan rencana penyelesaian masalah 3 3
Guru melaksanakan evaluasi/penilaian proses
12 pembelajaran secara keseluruhan 3 2
Guru melaksanakan evaluasi/penilaian terhadap
13 kemampuan pemecahan masalah matematis 3 3
14 Guru memberikan refleksi pembelajaran 3 2
15 Guru menutup proses pembelajaran 2 3
Jumlah 43 41
Rata-rata 42
Kriteria Baik
Sumber excel windows 2010.
70

Berdasarkan lembar observasi aktivitas guru yang

menunjukkan bahwa nilai observasi pada pertemuan ke 1 sebesar 42,

dengan jumlah observer 1 sebesar 43 dan observer 2 41 dan rata- rata

yang diperoleh yaitu 42. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan guru

mengajar menggunakan Strategi pembelajaran Realistic mathematics

education (RME) adalah Baik karena indikator yang menjadi pedoman

dalam pembelajaran tercapai.

b) Hasil Lembar Observasi Kegiatan Guru pada Pertemuan 2

Table 4.6
Hasil Lembar Observasi Guru Pada Pertemuan 2
Poin Penilaian
Observer
No Indikator yang diamati
P1 P2

1 Guru membuat perangkat pembelajaran 3 3

2 Guru menyiapkan media pembelajaran 3 3


Guru memberikan suatu permasalahan pada
3 siswa 3 3
Guru memberikan kesempatan pada siswa
untuk mememukan solusi atas permasalahan
4 yang diberikan 3 2
Guru mengaitkan berbagai pengetahuan yang
telah diberikan pada siswa dalam proses
5 memecahkan masalah 3 3
Guru memberikan kesempatan pada siswa
untuk menggunakan berbagai sumber belajar
6 dalam mencari jawaban 3 3
Guru melakukan kegiatan pembelajaran yang
mengarahkan siswa untuk mengembangkan
7 kemampuan komunikasi matematis 3 3
Guru mengarahkan siswa dalam menentukan
model matematika dari permasalahan yang
8 disajikan 3 1
71

Guru melakukan kegiatan pembelajaran yang


mengarahkan siswa untuk mengembangkan
9 kemampuan pemecahan masalah matematis 3 3
Guru membimbing siswa menyusun rencana
10 penyelesaian masalah 3 3
Guru membimbing siswa untuk memahami
masalah dalam melakukan rencana
11 penyelesaian masalah 3 3
Guru melaksanakan evaluasi/penilaian proses
12 pembelajaran secara keseluruhan 3 3
Guru melaksanakan evaluasi/penilaian
terhadap kemampuan pemecahan masalah
13 matematis 3 3

14 Guru memberikan refleksi pembelajaran 3 2

15 Guru menutup proses pembelajaran 3 3

Jumlah 45 43

Rata-rata 44

Kriteria Baik
Sumber excel windows 2010

Berdasarkan tabel observasi aktivitas guru yang

menunjukkan bahwa nilai observasi pada pertemuan ke 2 sebesar

44 dengan jumlah observer 1 sebesar 45 dan observer 2 43 dan rata-

rata yang diperoleh yaitu 44. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan

guru mengajar menggunakan Strategi Pembelajaran Realistic

mathematics education (RME) adalah Baik.

Penerapan pembelajaran menggunakan Lembar Kerja

Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education

(RME) kepada peserta didik harus dilakukan dengan maksimal

dan penuh interaktif agar peserta didik mudah memahami apa


72

yang disampaikan oleh guru. Setelah penerapan pembelajaran

selesai dilanjutkan dengan pemberian soal Posttest kepada peserta

didik untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan

masalah matematis peserta didik.

2. Keefektifan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis

Realistic Mathematics Education (RME) Terhadap

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa kelas V di

MIS GUPPI 13 Tasik Malaya.

Untuk mengetahui kefektifan Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME)

Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa kelas

V di MIS GUPPI 13 Tasik Malaya dilakukan test Pre test dan Post

test dengan soal sebanyak 2 soal dalam setiap test tentang balok

dan kubus yang telah menjadi materi pembelajaran dikelas V di

MIS GUPPI 13 Tasik Malaya. Kemudian pada saat penerapan peneliti

melakukan observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran selama 2

kali pertemuan, dengan dilakukan oleh 2 orang observer yaitu wali

kelas IV Mis Guppi No.13 Tasikmalaya Endang Suriaji,[Link] dan

Sri Wahyuni Sihombing,[Link],[Link] dengan mengisi lembar

observasi guru dan lembar angket respon siswa. Dengan hasil

penelitian sebagai berikut :


73

a) Hasil Pretest

Tabel 4.3
Hasil Pretest
No Nama Peserta Didik KKM Nilai
1 AF 72 75
2 AF 72 58
3 AAW 72 42
4 AP 72 75
5 DF 72 66
6 DAK 72 66
7 EP 72 66
8 FAS 72 58
9 FDP 72 50
10 IDR 72 50
11 IDP 72 66
12 JA 72 75
13 KSP 72 58
14 LDH 72 66
15 MA 72 66
16 MHS 72 66
17 NRT 72 58
18 ODR 72 83
19 PF 72 50
20 RJ 72 66
21 RHK 72 66
22 RIS 72 50
23 RDS 72 50
24 RNA 72 66
25 SP 72 42
26 ZKTB 72 58
Sumber excel windows 2010

Hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil


dengan nilai sebagai berikut.
Table 4.4
74

Distribusi Hasil Pretest

Descriptive Statistics
Std.
N Minimum Maximum Sum Mean Deviation
Nilai Siswa 26 42 83 1592 61.23 10.378
Valid N 26
(listwise)
Sumber IBM Statistic 22.

Dari tabel diatas dapat dilihat nilai tertinggi dua peserta didik

dengan nilai 83 dan nilai terendah satu orang dengan nilai 42. Dari

hasil Pretest ada 22 peserta didik tidak tuntas karena nilai dibawah

KKM dengan nilai KKM 72, dan 4 peserta didik tuntas dengan nilai

di atas KKM. Kemudian jumlah nilai yaitu 1.592 dan nilai rata-rata

Pretest 61.23. Setelah Pretest dilaksanakan kemudian dilakukan

penerapan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) kepada peserta didik. Pada saat

penerapan pembelajaran peneliti meminta guru sebagai observer untuk

mengisi lembar observasi guru.

b) Hasil Posttest

Tabel 4.7
Hasil Posttest
No Nama Peserta Didik KKM Nilai
1 AF 72 99
2 AF 72 83
3 AAW 72 66
4 AP 72 83
5 DF 72 75
75

6 DAK 72 75
7 EP 72 99
8 FAS 72 75
9 FDP 72 83
10 IDR 72 66
11 IDP 72 75
12 JA 72 75
13 KSP 72 66
14 LDH 72 91
15 MA 72 83
16 MHS 72 91
17 NRT 72 75
18 ODR 72 91
19 PF 72 75
20 RJ 72 75
21 RHK 72 66
22 RIS 72 91
23 RDS 72 75
24 RNA 72 66
25 SP 72 58
26 ZKTB 72 75
Sumber excel windows 2010

Dari tabel diatas dapat dilihat nilai tertinggi dua peserta didik

dengan nilai 99 dan nilai terendah satu orang dengan nilai 58. Dari

hasil Pretest ada 6 peserta didik tidak tuntas karena nilai dibawah

KKM dengan nilai KKM 72, dan 20 peserta didik tuntas dengan nilai

di atas KKM. Kemudian jumlah nilai yaitu 2.032 dan nilai rata-rata

Pretest 78.15. Setelah dibandingkan dengan hasil Pretest maka dapat

disimpulkan bahwa terjadi peningkatan secara signifikan dengan kata

lain Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) sangat mampu meningkatkan


76

kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah matematis.

c) Hasil Angket Respon Guru

Tabel 4.8
Angket Respon Guru

Poin Penilaian
No Indikator yang diamati angket respon guru
P1 P2
Teks atau tulisan dalam LKPD terbaca
4 3
1 dengan jelas
Gambar yang disajikan dalam LKPD
4 4
2 jelas dan berwarna
Gambar yang disajikan dalam LKPD
4 4
3 menarik
Gambar yang disajikan dalam LKPD
4 4
4 relevan dengan materi pembelajaran
Teks dan gambar yang ada dalam LKPD
3 4
5 sesuai dengan materi pembelajaran
Materi yang disajikan dalam LKPD
4 3
6 jelas
Materi dalam LKPD mudah untuk
4 4
7 dipahami
Materi yang disajikan dalam LKPD
4 4
8 disusun secara runtut dan sistematis
Kalimat yang digunakan dalam LKPD
3 3
9 jelas dan tidak bertele-tele
Simbol dan lambang yang digunakan
4 4
10 dalam LKPD tercetak jelas
Istilah yang digunakan dalam LKPD
4 3
11 jelas
Contoh-contoh yang terdapat dalam
LKPD sesuai dengan isi materi 4 4
12 pembelajaran
Bahasa yang digunakan dalam LKPD
3 3
13 efektif dan efisien
Bahasa yang digunakan dalam LKPD
4 4
14 sesuai dengan EYD
Bahasa yang digunakan dalam LKPD
3 3
15 sesuai dengan karakteristik siswa
Penggunaan tanda baca dalam LKPD
4 4
16 sesuai
77

Penggunaan istilah dalam LKPD


3 4
17 bersifat komunikatif
Informasi yang disampaikan dalam
LKPD menggunakan bahasa yang jelas 4 3
18 dan mudah dipahami
LKPD ini user friendly atau mudah
3 4
19 untuk digunakan
Bapak/Ibu tertarik untuk menggunakan
LKPD berbasis realistic mathematics 4 4
20 education (RME)
74 73
Nilai Maksimum 80
Rata-Rata 73,5
Predikat BAIK
Sumber excel windows 2010.

Dari tabel angket respon guru diatas dapat disimpulkan

bahwa dari 20 pertanyaan yang di ajukan maka didapatkan nilai

rata rata 73,5 dari nilai maksimum 80 dengan predikat baik. Oleh

karena itu Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) sangat efektif digunakan untuk

meningkatkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan

masalah sistematis berdasarkan perspektif guru yang memberikan

pembelajaraan kepada peserta didik.

d) Hasil Angket Respon Siswa

Tabel 4.9
Hasil Angket Siswa
No Nama positif Negative
1 AF 10 3
2 AF 10 3
3 AAW 11 2
4 AP 13 0
78

5 DF 11 2
6 DAK 12 1
7 EP 10 3
8 FAS 11 2
9 FDP 10 3
10 IDR 11 2
11 IDP 11 2
12 JA 12 1
13 KSP 12 1
14 LDH 13 0
15 MA 13 0
16 MHS 13 0
17 NRT 13 0
18 ODR 12 1
19 PF 10 3
20 RJ 11 2
21 RHK 13 0
22 RIS 13 0
23 RDS 11 2
24 RNA 12 1
25 SP 11 2
26 ZKTB 12 1
Jumlah 301 37
Maximum 338
89,23% 10,77%
Sumber excel windows 2010

Dari tabel angket respon siswa diatas, melalui 13

pertanyaan positif dan negatif yang di ajukan maka didapatkan

tanggapan positif sebanyak 301 atau 89,23%, tanggapan dari 338

pernyataan dan yang memberikan tanggapan negatif sebanyak

10,77%, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa peserta didik

menerima dengan baik Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) dalam upaya

menyelesaikan masalah matematis.


79

Dari hasil data yang didapat di atas maka dilakukan

berbagai uji untuk mengetahui keefektifan Lembar Kerja Peserta

Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME)

sebagai berikut :

a. Uji Normalitas

Uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan teknik

One Sample Shapiro Wilk pada Statistik IMB 22, karena daya yang

digunakan dari subjek yang sama dengan jumlah yang sama.

Dengan pertimbangan dasar pengambilan keputusan uji normalitas

seperti berikut :

1) Jika nilai Sig. > 0.05, maka data berdistribusi normal

2) Jika nilai Sig. < 0.005, maka data tidak berdistribusi normal

Tabel 4.10
Hasil Uji Normalitas
Shapiro Wilk

Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig.
Pretest 0,933 26 0,089
Posttest 0,948 26 0,211
Sumber IBM Statistic 22.

Berdasarkan hasil uji output One-Sample Shapiro-Wilk Test

data SPPS diatas, dapat diketahui bahwa nilai signifikan Sig.

Pretest adalah sebesar 0,089. Maka sesuai dengan dasar

pengambilan keputusan dalam uji normalitas, maka dapat


80

disimpulkan bahwa nilai Sig. 0,089 > 0,05 dengan kesimpulan

bahwa data tersebut berdistribusi normal sedangkan nilai sig.

Posttest .0,211 > 0,05 dengan kesimpulan data tersebut

berdistribusi normal Dengan demikian, asumsi persyaratan uji

normalitas data sudah terpenuhi dengan peningkatan pada nilai

sig post tes yaitu 0,211 dibandingkan pada nilai Pretest 0,089

maka dapat disimpulkan bahwa penerapan Lembar Kerja Peserta

Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME)

Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa

kelas V di MIS GUPPI 13 Tasik Malaya mengalami peningkatan.

b. Uji Homogenitas
Setelah hasil penelitian dan data terdistribusi dengan baik,

langkah selanjutnya adalah uji homogenitas. Apa yang dimaksud

dengan uji homogenitas pada variasi dua atau lebih distribusi.

Berdasarkan faktor pengambilan keputusan berikut :

1) Jika Sig. > 0,05, varians setiap sampel identik (homogen).

2) Jika Sig. < 0,05, varians masing-masing sampel tidak sama


(tidak homogen).
Table 4.11
Hasil Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
hasil nilai Pretest dan Posttest
Levene
Statistic df1 df2 Sig.
,011 1 50 ,916
Sumber IBM Statistic 22.
81

Berdasarkan hasil dari tabel diatas dapat diketahui

bahwa nilai signifikan (Sig.) variabel kemampuan pemecahan

masalah matematis siswa 0,916. Karena nilai signifikan 0,916 >

0,05 maka dapat disimpulkan bahwa varian data kemampuan

Pemecahan masalah matematis adalah sama atau homogen.

c. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dengan Paired

Sample T Test yang merupakan salah satu bagian dari analisis

statistik parametrik. Pedoman mendasar pada bagian analisis

statistik parametrik menyatakan bahwa data penelitian harus

berdistribusi normal sebagai syarat utama. Tabel 4.3

menampilkan data penelitian yang berdistribusi normal. Uji T

dengan sampel berpasangan, seperti terlihat pada tabel dibawah

ini.

Tabel 4.12
T Test
Paired Samples Statistics
Std. Std. Error
Mean N Deviation Mean
Pair 1 PRE TEST 61,23 26 10,378 2,035
POST TEST 78,15 26 11,359 2,228

Sumber IBM Statistic 22.

Pada tabel diatas dapat dilihat nilai rata-rata (mean) dari

nilai Pretest adalah sebesar 61,23 dan nilai simpangan

baku/standar devisian (Sdt. Devisian) adalah sebesar 10.378,


82

sedangkan pada Posttest nilai rata- rata(mean) adalah sebesar

78,15 dan nilai simpangan baku/standar devisian (Sdt. Devisian)

adalah 11.359 Karena nilai rata-rata belajar pada Pretest

61,23 < Posttest 78,15 maka secara deskriptif dapat disimpulkan

bahwa ada perbedaan yang terdapat pada rata-rata Pemecahan

Masalah Matematis Siswa kelas V di MIS GUPPI 13 Tasik

Malaya Pretest dan Posttest.

Table 4.13
Paired Sample T Test

Paired Samples Test

Paired Differences

Std. 95%
Erro Confidence

Std. r Interval of the Sig.


Deviati Mea Difference (2-
Mean on n Lower Upper t df tailed)
Pair Pre test - -
1 Posttest -13,692 9,019 1,769 -17,335 -10,049 7,74 25 ,000
1

M Statistic 22.

Pedoman pengambilan keputusan Uji Paired Sample t Test adalah

sebagai berikut :

1) Jika nilai signifikansi (2-tailed) < 0.05, maka Ho ditolak dan Ha

diterima.

2) Jika nilai signifikansi (2-tailed) > 0,05, maka Ho diterima dan Ha

ditolak.
83

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa nilai signifikan (Sig.)

(2- tailed) adalah sebesar 0,000. Dengan ketentuan jika nilai signifikan

0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa rata-rata antara kemampuan berpikir kritis Pretest

dan Posttest peserta didik yang berarti terdapat perbedaan signifikan

kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa menggunakan

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics

Education (RME) pada kelas V di Mis Guppi No.13 Tasikmalaya.

Selain membandingkan antara nilai signifikan (Sig.) dengan

0.05, yaitu dengan cara membandingkan antara t hitung dan t tabel.

Adapun dasar keputusan sebagai berikut :

1) Jika nilai 𝑡ℎ 𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

2) Jika nilai 𝑡ℎ 𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Berdasarkan tabel output Paired Sample T Test tabel (4.13)

dapat diketahui bahwa 𝑡h𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 b e r n i l a i n e g a ti f yaitu sebesar -7.741. Nilai

rata-rata kemampuan berpikir kritis Pretest lebih rendah dari pada nilai

Posttest adalah yang menyebabkan 𝑡h 𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 b e rn ila i n e g a tif dapat

bermakna positif. Dalam konteks kasus seperti ini maka 𝑡h𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 n e g a tif

dapat bermakna positif. Sehingga nilai 𝑡ℎ 𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 m e n ja d i 7 .7 4 1 d a n n ila i d f

= 25. T tabel diperoleh dari jumlah peserta didik (n) = 26 dengan

derajat kebebasan (df) = n-2 atau 26-2 = 24. Hasil yang diperoleh t tabel

sebesar 1,711. Karena pada pengujian ini 𝑡h𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡tabel (7.741 > 1.711)

maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan


84

antara Pretest dan Posttest. Hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima

artinya bahwa rata-rata skor peserta didik kelas Pretest dan Posttest

tidak sama dengan skor kelas Posttest yang dalam kemampuan

pemecahan masalah matematis siswa menggunakan Lembar Kerja

Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan Penggunaan

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics

Education (RME) pada kelas V di Mis Guppi No.13 Tasikmalaya

adalah efektif.

C. Pembahasan

Pelaksanaan penelitian ini dalam rangka mengetahui efektif atau

tidak efektifnya Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) dalam upaya pemecahan masalah

matematis siswa kelas V MIS GUPPI 13 Tasik Malaya diawali dengan

persiapan penelitian yaitu waktu dan tempat penelitian, kemudian

mempersiapkan instrument Observasi ,angket dan tes yang sebelumnya

telah di validkan oleh ahli pakar (validator) terlebih dahulu. Teknik

pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan observasi,

angket dan tes. Menggunakan soal tes berupa soal uraian Pretest , Posttest

dan angket. Kemudian bagian terakhir dokumentasi.

Dalam proses analisis data penelitian ini terlebih dahulu harus


85

mengetahui ketentuan ketuntasan belajar yang telah ditetapkan oleh

sekolah mulai dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), ketuntasaan

Klasikal, dan Rata-rata Gain, ketiga komponen ini haruslah menjadi

pedoman utama agar tolak ukur dalam pelaksanaan pembelajaran dapat

terrealisasikan dengan baik. Dlam penelitian ini peneliti terlebih dahulu

melakukan uji normalitas, uji homogeny dan uji hipotesis dengan bantuan

program SPPS. Sedangkan uji hipotesis dengan menggunakan Uji Paired

Sample Test dengan bantuan program SPPS serta uji t dengan

menggunakan rumus untuk mengetahui hasil 𝑡ℎ 𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 dan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙. Dengan

langkah-langkah untuk mengetahui kefektifan maka didapat kesimpulan

bahwa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic mathematic

Realistic (RME) adalah efektif Berdasarkan pada uraian secara umum

tersebut, maka LKPD berbasis Realistic Mathematics Education (RME)

untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta

didik yang telah dikembangkan dan diuji cobakan dapat memenuhi kriteria

dan masuk pada kategori sangat valid, sangat praktis dan cukup efektif.

Hal ini sejalan dengan penelitian Adityawarman Hidayat dan Indra

Irawan (2017) menunjukan bahwa hasil pengembangan LKS berbasis RME

dengan pendekatan pemecahan masalah dinyatakan sangat valid, sangat

praktis dan efektif untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah

matematis siswa. Maimunah, Nur Izzati dan Alona Dwinata (2019) dalam

penelitian pengembangan LKPD berbasis RME dengan konteks

kemaritiman yang sangat valid, praktis dan efektif untuk melatih


86

kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik.

Begitu juga Nur Atika dan Zubaidah Amir MZ (2016 ) juga

menyatakan bahwa dalam penelitiannya pengembangan LKS matematika

berbasis pendekatan RME pada materi pokok segitiga menunjukkan

bahwa LKS yang dikembangkan layak dan praktis dalam

menumbuhkembangkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.

Selanjutnya Tri Astari (2017) penelitian pengembangan Lembar Kerja

Siswa (LKS) berbasis pendekatan realistik yang layak dan efektif untuk

menigkatkan hasil belajar peserta didik di kelas IV. Berdasarkan hal itu

maka peneliti akan membahas hasil penelitian sebagai berikut :

1. Pelaksanaan penerapan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) Terhadap

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis siswa

Dalam penelitian ini, penulis bertindak sebagai pengajar pada kelas

yang belum diberi perlakuan. Sebelum mengajar, siswa diberi Pretest (tes

awal) dengan 2 soal essai dengan hasil siswa yang tidak tuntas atau di

bawah KKM yaitu sebanyak 22 peserta didik dan yang tuntas hanya 4

peserta didik dikarenakan kemampuan pemecahan masalah matematis

peserta didik masih sangat kurang. Setelah mengetahui awal kemampuan

siswa , selanjutnya guru menjelaskan materi dengan menggunakan Lembar

Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education

(RME) untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memecahkan maslah


87

matematis.

Pada saat pelaksanaan penerapan pembelajaran menggunakan

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics

Education (RME) guru yang diminta mengamati proses pembelajaran yang

dilakukan peneliti mengisi lembar observasi untuk menilai sejauh mana

proses pembelajaran dilakukan dengan baik atau tidak. Selain pengisian

lembar observasi guru yang mengamati dan siswa yang mengikuti

pembelajaran diminta juga untuk mengisi angket respon terhadap Lembar

Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education

(RME) untuk mengetahui pendapat mereka tentang pembelajaran yang

telah berlangsung.

Pada pertemuan akhir siswa diberi Posttest (tes akhir) dengan soal

2 essai. Sesuai dengan indikator kemampuan pemecahan masalah

matematis yaitu siswa mampu memahami masalah, menyusun rencana,

melaksanakan rencana, dan mengecek kembali apa yang sudah dilakukan.

Adapun indikator yang pertama yaitu mampu memahami masalah,

dinyatakan dari hasil Pretest (tes awal) bahwa peserta didik belum bisa

menjawab soal dengan benar dan tepat yang sesuai dengan soal

yang diberikan. Kemudian berdasarkan hasil data Posttest dikelas yang

sudah diberikan perlakuan atau penerapan Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) niliai tertinggi

yaitu kategori tinggi sebanyak 9 orang (35%), siswa yang memiliki


88

kategori sedang sebanyak 10 orang (39%), dan siswa yang memiliki

kategori rendah sebanyak 7 orang (26%) dan memperoleh rata-rata 78.15.

Perbandingan data hasil Pretest dan Posttest dapat dilihat pada

kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menggunakan Lembar

Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education

(RME) dibandingkan dengan menggunakan media pembelajaran lainnya.

Berdasarkan hasil yang didapat diatas maka dapat disimpulkan

bahwa terdapat perbedaan secara signifikan terhadap tes yang telah

dilakukan. Pre test (tes awal) menunjukan bahwa 95% atau sebanyak 23

siswa kelas V MIS GUPPI 13 Tasik Malaya tidak mampu menjawab soal

dengan baik dikarenakan mereka belum memahami permasalahan serta

jalan penyelesaian atas permasalahan yang ada. Namun setalah peneliti

melakukan penerapan pembelajaran menggunakan Lembar Kerja Peserta

Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) terhadap

siswa kelas V MIS GUPPI 13 Tasik Malaya kemampuan siswa dalam

memcahkan masalah meningkat secara signifikan yang pada pre test

kemamopan pemecahan masalah pada siswa hanyalah 7% kemudian

meningkat hingga mencapai 74% atau sebanyak 19 siswa dari 26 dapat

memahami permasalahan dan menemukan penyelesaian dengan sangat

baik. Dengan kesimpulan akhir penerapan Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) dalam upaya

pemecahan masalah matematis sangatlah optimal atau dapat dikatakan

efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis.


89

2. Keefektifan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) Terhadap Kemampuan Pemecahan

Masalah Matematis Siswa kelas V di MIS GUPPI 13 Tasik Malaya.

Pelaksanaan penerapan pembelajaran menggunakan Lembar Kerja

Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME)

melalui proses mulai dari penyebaran soal Pretest, lembar observasi guru,

angket respon guru, angket respon siswa dan kemudian dilanjutkan dengan

penyebaran soal Posttest, maka dilakukanlah uji ke efektifan Lembar Kerja

Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME)

menggunakan berbagai proses pula.

Uji normalitas yang dilakukan terhadap proses pembelajaran dan

sebaran soal Pretest dan Posttest untuk mengetahui sebaran data yang

digunakan berdistribusi normal atau tidak. Distribusi normal adalah

distribusi atau sebaran data acak kontinu yang berbentuk lonceng dan

simetris, dimana frekuensi terbesar maupun rata-rata dari data berada pada

titik tengah. Urgensi dari data berdistribusi normal antara lain agar mampu

meningkatkan objektivitas penilaian dan meminimalisir bias estimasi

sampel terhadap populasi.2

Sebaran soal Pretest dan Posttest dan media penelitian lainnya yang

telah di uji dan dapat disimpulkan bahwa sebaran data tersebut

2
Sakti prabowo, “pengantar uji normalitas didalam sebuah penelitian untuk mengetahui
sebaran data yang akan diteliti layak atau tidak dilakukan tindakan penelitian”, Jurnal Of Primary
Education, Vol 1,No 3, Desember 2020, pp. 265-282
90

berdistribusi normal maka angkah selanjutnya yaitu perlakuan uji

homogenitas. Uji homogenitas adalah prosedur uji statistik yang bertujuan

untuk menunjukkan bahwa dua atau lebih kelompok sampel data diambil

dari populasi yang memiliki varians yang sama. Oleh karena itu didapati

bahwa terdapat signifikansi terhadap sampel yang akan diuji oleh peneliti.

Berdasarkan penyajian data dan analisis data yang dilakukan oleh

peneliti, menunjukkan bahwa hasilnya berdistribusi normal dan homogen.

Selanjutnya peneliti menggunakan uji-t one sampel untuk mencari

efektivitas Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) terhadap kemampuan pemecahan masalah

matematis siswa kelas v MIS GUPPI 13 Tasik malaya. Berdasarkan hasil

pengujian one sampel test diperoleh thitung sebesar 7,741. Kemudian

konferensikan pada tabel nukilan nilai “t” taraf signifikan 5% sebesar 1,711,

diketahui bahwa thitung ≥ ttabel yaitu 7,741 ≥ 1,711. Berdasarkan

pengujian hipotesis ketentuan yang berlaku maka Ha diterima dan Ho

ditolak, yang berarti bahwa terdapat kefektivan terhadap penerapan

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics

Education (RME) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis

siswa kelas v MIS GUPPI 13 Tasik Malaya.


BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1. Pada kegiatan pertemuan dan kedua pelaksanaan pembelajaran

menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) terhadap kemampuan pemecahan

masalah matematis siswa kelas V MIS GUPPI 13 Tasik Malaya,

menunjukkan bahwa kegiatan atau aktivitas guru dan siswa dalam

pembelajaran adalah sangat baik. Pada pelaksanaan pembelajaran

menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) terdapat empat tahap dalam

pembelajaran, yaitu Pemberian Masalah Kontekstual, penyelesaian

masalah kontekstual, mendiskusikan penyelesaian maslah kontektual

matematis, dan menarik kesimpulam atas permasalahan dalam

pemecahan masalah matematis.

2. Berdasarkan penyebaran angket respon guru dan angket respon siswa

didapatkan hasil akhir yaitu dari 26 siswa yang memiliki respon positif

terhadap Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic

Mathematics Education (RME) yaitu sebanyak 89.23% dan angket

91
92

respon guru yang memberikan penilaian dengan rata-rata 73,5 dari nilai

maksimum 80 menunjukan bahwa sis sangat merespon positif dengan

diterapkannya pembelajaran menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) dengan kata

lain siswa dan guru berpendapat bahwa pembelajaran yang berlangsung

sangatlah efektif.

3. Berdasarkan penyajian data dan analisi data yang dilakukan oleh

peneliti menunjukan bahwa hasil pengujian one sampel test diperoleh

thitung sebesar 7,741. Kemudian konferensikan pada tabel nukilan nilai

“t” taraf signifikan 5% sebesar 1,711, diketahui bahwa thitung ≥ ttabel

yaitu 7,741 ≥ 1,711. Berdasarkan pengujian hipotesis ketentuan yang

berlaku maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang berarti bahwa terdapat

kefektivan terhadap penerapan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Berbasis Realistic Mathematics Education (RME) terhadap kemampuan

pemecahan masalah matematis siswa kelas v MIS GUPPI 13 Tasik

Malaya.

B. Saran

Setelah pelaksanaan penelitian tentang efektivitas Lembar Kerja

Peserta Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME)

terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas v MIS

GUPPI 13 Tasik Malaya, penulis akan memberikan saran-saran sebagai

berikut :
93

1. Bagi pendidik, mengharapkan supaya untuk terus mendukung

kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Lembar Kerja Peserta

Didik (LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME)

agar siswa dapat aktif dan antusias dalam meningkatkan

kemampuan pemecahan masalah matematis.

2. Bagi peserta didik, diharapkan siswa lebih giat selama proses

pembelajaran guna mempertinggi kualitas pembelajaran dan

mendapatkan hasil yang maksimal.

3. Bagi pembaca atau peneliti lain, diharapkan hasil penelitin ini

dapat memberitahukan mengenai Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD) Berbasis Realistic Mathematics Education (RME)

terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dan

penelitian ini dapat dijakan sebagai referensi.


94

DAFTAR PUSTAKA

Adi Suryanto dkk. (2010). Evaluasi Pembelajaran di Sd Cetakan 5. Banten:

Universitas Terbuka.

Adjie, N dan Maulana. (2006). Pemecahan Masalah Matematika. Bandung: UPI

Pres.

Andari T dan Komsiatun E. (2018). Efektivitas Lks Berbasis Pendekatan Realistic

Mathematics Education Untuk Meningkatkan Kemampuan Matematis

Peserta didik. Aksioma Jurnal Pendidikan Matematika FKIP Univ.

Muhammadiyah, 7 (1), 159.

Anita Diah Mawarni, Wahyu Adi, dan Sri Sumaryati. (2015). Efektivitas LKPD

Akuntansi Materi Jurnal Penyesuaian menggunakan Software Exe sebagai

Sarana Peserta didik Belajar Mandiri Kelas XI IPS SMA Negeri 7

Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015”. Jurnal “Tata Arta” UNS, 1 (2),175.

Depag. (1995). Alquran dan Tafsirnya Jilid 2. Yogyakarta: PT Bina Bakti Wakaf.

Depdiknas. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Ke-

Empat . Jakarta: Gramedia Pustaka.

Didyal, Y. Emphasis On Problem Solving in Mathematics Texbooks from Two

Different Reform Movements” Johor Baru: Universiti Teknologi Malaysia,

2005: 70.

Fadillah, Syarifah. (2009). Prosiding Seminar Nasional: Kemampuan Pemecahan

Masalah Matematis Dalam Pembelajaran Matematika” Universitas Negeri

Yogyakarta 2009: 53.


95

Falah S, Hartono, Yulianti I. (2017). Efektivitas Lembar Kerja Listrik Dinamis

Berbasis POE (Predict-Observe-Explain) untuk Meningkatkan Penalaran

dan Pemahaman Konsep Peserta didik.” Unnes Physic Education Journal

2(6), 97.

Gusti Lanang Agung Kartika Putra dan I Dewa Kd Tastra. .(2014). Efektivitas

Media Pembelajaran dengan Model ADDIE pada Pembelajaran Bahasa

Inggris di SDN 1 Selat. E-Jurnal Edutech Universitas Pendidikan Ganesha,

2 (1), 4.

Hake R.R. (1999). Analyzing Change/Gain Scores. Indiana: Indiana University.

Hamzah dkk. (2014). Variabel Penelitian dalam Pendidikan dan

Pembelajaran. Jakarta : Ina Publikatama.

Hartono, Y. (2010). Pendekatan Matematika Realistik. Jakarta: Dikti Bahan Ajar

PJJ PGSD.

Hendriana dan Sumarmo, (2017). Hardskill dan Soft Skill Matematiak Peserta

didik. Bandung: Revika Aditama.

Hidayat A dan Irawan I. (2017). Efektivitas LKS Berbasis RME dengan

Pendekatan Problem Solving Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan

Masalah Matematis Peserta didik.. Journal Cendekia: Jurnal Pendidikan

Matematika 1(2), 54.

Mujiasih. (2011). Melatih Kreativitas Daya Nalar Peserta didik Melalui Model

Pembelajaran RME. Jurnal Pendidikan MIPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Kependidikan IAIN Walisongo Semarang, 2011:119.

Anda mungkin juga menyukai